17 September 2013

Mayangmayang Kenyataan; Sebuah Anamnesia*

| |
I've got a picture in my head (in my head)
It's me and you , we are in bed (we are in bed)
You'll always be there when I call (when I call)
You'll always be there most of all. (all, all, all)
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like….

---(Hollywood, The Cranberries)

Ada yang paradoks tentang dunia pengalaman manusia. Suatu keadaan yang terjungkal dari porosnya, terjadinya pembalikkan secara massif antara yang semu dengan yang nyata, antara penampakan dan kenyataan, antara yang sejati dan palsu, bahwa realitas era sekarang sesuatu yang sulit dipilah berdasarkan intensitas kedalamannya.

Tak bisa akhirnya kita sanksi, dari apa yang kita alami, dunia tindakan kita adalah dunia yang berada pada tepian batasbatas antara yang imagi dan keyataaan. Sehingga dampak daripadanya terlampau sulit untuk kita bedakan dan candrai. Oleh sebab begitu besarnya determinasi kemajuan dunia tekhnologi informasi, yang begitu besar pengaruhnya pada sikapsikap yang akan kita jalani. Di mana era digital tengah melanda dan mengambil alih kenyataan kita yang sebenarnya.

Oleh media massa, dengan seluruh muatan fungsinya, akhirnya menempatkan dunia pada kenyataan yang dikehendakinya. Bahwa kenyataan adalah apa yang dapat dilipat, ditekuk, dan dimapatkan. Sehingga dunia kehilangan ukuran yang sebenarnya, seperti ruang, waktu, kedalaman dan keluasan akhirnya harus mangut pada logika era digital. Yang mana seluruh ukuran mengalami perubahan secara intens, ketika yang “di sana” bisa berarti yang “di sini”, yang “lampau” bisa dimaknai sebagai “kekinian”, yang “permukaan” akhirnya  bermakna “kedalaman” dan yang “tersembunyi” pada kenyataannya diterima sebagai “Kenyataan”.

Media massa memang bukanlah sekedar medio penyampai realitas, atau apa yang kita sebutkan sebagai pesan, makna, pun juga informasi dan berita. Oleh sebab dia juga tak bisa kita katakan sebagai jendela kenyataan, karena media juga dalam makna ideologisnya adalah institusi yang tak sekedar menyembunyikan kenyataan, melainkan jauh daripadanya menciptakan realitas baru. Sehingga dalam sifatnya yang demikian, media massa adalah perpanjangan tangan dari sebuah sistem yang jauh melampaui, keterjalinan yang turut memproduksi kenyataan dalam sebuah konstruksi kepentingan.

Lalu bagaimanakah yang dimaksudkan dari apa yang disebut sebagai konstruksi kepentingan? Sebuah tatanan yang mapan, yang mampu mencipta dan mendaur kenyataan? Sehingga realitas dapat dibentuk berdasarkan apa yang menjadi ukuran mesin hasrat? Lantas apa yang dibilangkan sebagai mesin hasrat? Sistem struktur yang mengambil alih proses penciptaan budaya dari yang adihulung menjadi budaya yang rendahan? Dimana maknamakna kemudian terlucuti dari ihwal yang sakral, yang ideal, menjadi sesuatu yang banal, dangkal dan tak bermakna.

***
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like.

Kenyataan sekarang adalah dunia yang merupakan hasil olahan produksi mesin kapital. Keterjalinan darinya kita anggapkan sebagai momok yang begitu ideologis. Dalam analisa Marxian situasi ideologis ini adalah peralihan dari kesadaran menuju keterselubungan di dalam dunia. Sehingga seakanakan kesadaran yang sering kita terima sebagai kebenaran hanyalah bentuk ilutif dari situasi yang demikian. Lebih daripadanya kita mengimani kebenaran yang kita sadari adalah murni sebagai episteme, yakni kebenaran sejati. Namun sebenarnya dari apa yang kita prediksikan sebagai segenggam kebenaran tak lebih daripada sebuah doxa, ihwal segala yang tak murni, bukan yang sejati; sesuatu yang menipu.

Doxa, atau segala yang bukan sejati, hakiki, bukan saja sejumput istilah perlawanan dari episteme (penegetahuan hakiki) melainkan gejala yang menjangkiti tampakan kebudayaan kita. Oleh media massa, dengan totalitas daya hegemoniknya, juga turut bertanggung jawab dalam membangun realitas kebudayaan dewasa ini. Daya virtual yang super canggih, oleh media massa tengah bekerja merangsek kehidupan kita dengan membangun citra, kesan dan imagi dari yang diproduksinya. Maka daripadanya dunia nyata dan maya adalah dua peririsan yang tak bertepi.

Kebudayaan populer (produser barang, film, musik, fashion, media, tontonan, seni) sebagai residu atau budaya dangkal, sesungguhnya adalah produk orisinal yang didasari olen imagi yang diproduksi oleh mesin hasrat kapital. Kapitalisme kebudayaan (industrialisasi, konsumerisme)  atau suguhan citra yang nampak dari budaya populer, sesungguhnya adalah mode kebudayaan yang mengekstase di atas citra permukaan. Yang mana turut mensituasikan adanya pemujaan terhadap bungkusan daripada isi. Sehingga kita kehilangan pesona kedalaman dibandingkan dari pada perayaan terhadap permukaan.

Tetapi apakah sesuatu yang harus kita tampik, tentang pemujaan terhadap iconicon populer? Terhadap kesan yang terbangun di dalam dunia layar? Oleh sebab disana ada pembebasan hasrat yang terpendam melalui saluransaluran semisal mencintai iconicon K POP? Apakah memuja alatalat canggih semisal I Pad adalah bentuk dari kemunduran kebudayaan? Walaupun sesungguhnya disana ada kiblat yang bergengsi, tentang kehidupan yang glamour dan hingar binggar.

Sesungguhnya adalah situasi yang begitu malang. Hidup diantara batasbatas yang tak jelas antara kehakikian dan kesemuan, oleh karena modernisme adalah kiblat yang dibaliknya membawa pesan kolonialisme. Dimana dari modernisme, semuanya kerap kali berubahubah begitu pesat dan gesit atas nama kemajuan dan kepopuleran. Dimana tak ada yang tetap, dan budaya populer memanglah pemujaan terhadap kegilaan yang akut. Adalah budaya populer merupakan  budaya Skizofrenia dari yang diistilahkan oleh Deluze, yakni situasi kehampaan dari kedalaman makna dari hancur dan kesimpang siuran sistem penandaan. Sehingga kita lebih bersedih hati menyaksikan icon pop kita mengalami gosip yang tak benar muasalnya, dibandingkan dengan hilangnya lokalitas dan keotentikan budaya di tengahtengah kita.

Dan akhirnya adalah masyarakat konsumtif sebagai tatanan dari situasi yang diproduksi oleh konstruksi kepentingan (kapitalisme, Industrialisasi, konsumerisme) untuk dasar akumulatif. Bukan saja akumulasi modal sebagai alas gerak kapitalisme, melainkan juga makna turut diakumulatifkan sebagai cara memproduksi hasrat konsumtif. Kita telah sampai pada masa kegilaan, kata Guattari, sebuah konstruk kehidupan yang timpang, bukan saja masyarakat kapitalis, melainkan juga kehidupan kebudayaan yang simpang siur. Maka, daripadanya kenyataan budaya akhirnya terselubungi dengan cangkang keras fantasi citra imaginer.

Pop Culture; Peluang atau Beban?

Sesungguhnya realitas kebudayaan yang kita hadapi sekarang adalah diskursus yang panjang, tak dan belum sampai pada batasbatasnya yang paling jauh. Sehingga membuka peluang bagi kita untuk dibincang dan dipersoalkan. Sebab kebudayaan adalah entitas yang harus kita maknai sebagai ihwal yang fluid, pembicaraan yang cair serta terbuka. Atau dengan kata lain ada cela yang bisa kita intipkan darinya untuk kita masuki. Sehingga standar antara yang adihulung dan yang dangkal bisa kita batasi dalam batasbatasnya yang moralistis.

Budaya populer sebagai fenomena kebudayaan yang dilahirkan dari industri kebudayaan massal, adalah fenomenon yang memiliki kepentingan ideologi pasar. Cara bekerja dari budaya populer itu sendiri mensyaratkan keabaian kritisisme untuk budaya yang diterima secara massal. Oleh karena budaya populer selalu beroperasi melalui cara berpikir populer, yakni budaya yang dipengaruhi oleh film, musik, tontonan dan seni hiburan sehingga mematikan fungsifungsi asas kebutuhan dibandingkan dengan nalar gengsi.

Betapa di era kemajuan seperti sekarang ini, budaya populer adalah new religion yang tentu memiliki ritual untuk membudidayakan dan memurnikan ajarannya. Selama ia menjadi stimulus dari gejala semisal shopping mall, life style, cara hidup glamour sampai hingar bingar diskotik, maka ia menjadi agama baru yang merebak pesat di dewasa ini. Maka telisik mendalam perlu kita lakukan untuk membersihkan gejala kebudayaan yang berimplikasi kepada hilangnya budaya lokal yang bersifat adihulung.

Namun dari semua itu, pada kenyataannya jika budaya populer adalah hasil dari transpalansi kebudayaan pada masyarakat terjajah, apakah tiadakah konsep dan praktik kebudayaan tandingan sebagai counter hegemony dalam mendeteritorialisasikan kebudayaan budaya populer itu sendiri. Setidaknya pada stadium yang paling minimal, perlu ada usaha kesadaran yang intens dan demokratisasi gerakan kebudayaan yang perlu dipancangkan sebagai usaha emansipasi dan pembebasan untuk keluar dari massifisitas budaya populer sebagai bentuk selubung kolonialisasi baru. Sehingga fantasifantasi kebudayaan massal yang hanya berupa mayangmayang kenyataan bisa ditiadakan. Setidaknya seperti dengan cara penggal lagu diatas, bahwa ini dan di sini bukanlah Hollywood![]

…This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like !, Like !, Like…!

---

Disampaikan pada Intermediate Training BEM FIP UNM, 13-15 September 2013.

Almanak