03 Mei 2013

Huru Hara Kampus; Refleksi Pasca 2 Mei

| |
Kampus tengah tunggang langgang. Kampus mendapati dirinya sedang dalam keadaan terburu-buru. Kebijakan diambil tanpa pikir panjang, tanpa dialog, yang penting bagaimana bisa menang. Gedung dipertinggi otak dijepit diketiak. Didalamnya, formasi budaya pencerahan berlahan-lahan sedang jumpalitan; terguling-guling. Tenaga pengajarnya malas mengembangkan seni kemanusiaan lewat diskursus-diskursus. Mahasiswanya terlebih sedang  dalam demam tinggi; biasanya jika orang sedang terkena demam akut, maka jadinya senang meracau, ngomong sembarangan. Kawan! seisi kampus tengah dalam kondisi bahaya.

Bahaya pertama, mari kita lihat situasinya; ruang budaya kampus atau lingkungan yang paling dekat dari kita; teman-teman kita. Adakah dari mereka yang resah? Jika tidak, maka itu sebuah kesalahan. Sebab seorang mahasiswa harus memiliki ide besar, ide tentang perubahan. Ide besar ini bagi seorang mahasiswa dalam aktivitasnya, selalu dijadikan teropong untuk memandang situasi yang dihadapinya. Jika situasi tidak selaras dengan harapan yang datang dari ide besarnya, maka dari sana datang keresahan. Dari keresahan inilah mahasiswa mengambil jarak dengan situasi untuk merekayasa situasi lingkungannya.

Ide besar dalam pengertian ilmiah sering disinonimkan dengan ideology. ideology ada tiga susun elemen pembentuknya. Salah satu elemen didalamnya adalah unsur yang memberikan pedoman bagaimana cara memberlakukan manusia. Cara pemberlakuan kita terhadap sesama pasti bergantung dari pengetahuan yang kita miliki tentang apa itu manusia. Jika manusia kita pahami dalam batasan seperi benda mati, maka cara kita memberikan pemberlakuan terhadapnya sudah tentu sebagaimana benda mati diperlakukan; seenaknya saja,


Pendidikan sekarang bisa kita analisis dengan menggunakan unsur yang pertama dari ideologi. Pemberlakuan terhadap manusia (peserta didik) di forum kelas bisa menjadi sampelnya. Dari sisi transfer pengetahuan; metode yang digunakan dalam ruang pertemuan masih kerap jatuh pada pendekatan fatalism, yakni pendekatan pedagogi. Pendekatan pedagogi contohnya bisa kita lihat pada penerapan disekolah-sekolah tingkat awal semisal taman kanak-kanak. Untuk menanamkan pengetahauan kepada anak-anak kelas, guru-gurunya kerap menggunakan cara menyuap.  Dialog yang terjadi adalah dialog yang searah. Tidak ada dialog yang timbal balik. Komunikasi yang terbangun sifatnya menegaskan adanya tingkatan kelas, yang mana guru sebagai “google” yang maha tahu. Dalam keadaan seperti situasi ini, anak-anak diartikan sebagai wadah yang kosong .

Situasi diatas sangat wajar jika kejadiannya terjadi pada situasi kelas anak-anak TK. Tetapi itu adalah masalah besar; kejadiaannya ada pada jenjang perguruan tinggi. Mahasiswa bukan lagi anak kecil yang mengetahui realitas dunia melalui transmisi bahasa ibu. Dimana mahasiswa jika kita maknai sebagai terma kata kerja maka didalamnya termuati pengertian yang aktif. Sehingga dalam kenyataannya mahasiswa berposisi sebagai agen yang turut bertanggung jawab terhadap situasi yang dihadapinya. Sikap bertanggung jawab terhadap situasi sudah pasti lahir dari kepemilikan akan seperangkat pengetahuan yang dimiliki.

Bahaya yang kedua adalah ada pada tenaga pengajar yang dimiliki. Tenaga pengajar sekarang adalah produk dari sistem yang telah berkuasa selama tiga puluh tahun lebih. Mereka selama hidup menjalani rutinitas yang telah dikelola oleh penguasa sekehendak hati. Penguasa selama itu punya satu cara efektif dalam mengontrol warganya agar bisa disesuaikan dengan tipe masyarakat yang diinginkan, yakni kontrol pemikiran.

Pemikiran terkadang dalam sebuah sistem dianggap berbahaya jika disana ada gagasan yang mengusung ide-ide perubahan.  Pemikiran yang demikian adalah tipe pikiran yang menampik adanya stagnasi. Pemikiran yang stagnan biasanya merupakan pikiran yang selalu berkubang pada titik yang dianggap selesai, di sana tak ada gagasan akan  pembaharuan. Dari pikiran seperti inilah yang dalam tinjauan psikologis adalah pikiran yang sakit.

Kemutlakan pada kekuasaan bisa berarti stabilitas. Negara dengan kekuasaannya dalam merencanakan stabilitas agar tidak goyah biasa punya seribu satu cara untuk menegakkan keseragaman pikiran. Maka pendidikan harus mengikut pada kehendak kuasa. Dan disana, dari apa yang kita sebut pendidikan, sebuah agenda tengah dibangun secara pelan-pelan; rekayasa sosial. Menciptakan hidup yang dikontrol langsung oleh kekuasaan. Dan malangya, tenaga pengajar kita telah dididik dibawah sistem besar itu. Sistem besar dengan agenda utamanya; keseragaman.

Keseragaman inilah yang akhirnya menjalar pada ruang edukasi. Secara pelan-pelan tersimpan dibawah alam bawah sadar dan masuk melalui jejaring sistem pendidikan. Hingga akhirnya kita pun tahu, semenjak berseragam sekolah dasar hingga jenjang tinggi pendidikan, kita punya sebuah masalah besar; pikiran yang disusun rapi dibawah tema  keseragaman.

Bahaya yang ketiga, moda gerakan kampus yang tak mampu mengimbangi percepatan situasi sosial. Dalam konteks kehidupan sekarang, mobilisasi peranperan sosial begitu pesat. Hal ini didorong dengan perkembangan masyarakat yang begitu cepat memobilisasi ruang dan waktu dalam mengadaptasikan situasi hidup yang dijalani. Dimana hal ini turut didukung dengan perkembangan kemajuan teknologi informasi yang pesat berkembang. Hal ini berdampak pada informasi yang begitu deras mengalir tanpa ada waktu untuk memasuki aspek terdalam dalam suatu informasi yang diterima. Akhirnya informasi yang kerap dikomsumsi merupakan informasi sampah dari hilangnya kemampuan untuk mencerna kebenaran yang termuati dalam suatu berita.

Bahaya keempat, bila kita mengamati secara seksama dari hakikat kenyataan sosial, maka banyak kita temukan dimana terjadi pembalikan dari situasi kebangsaan yang merajut kekerasan dimanamana . Maraknya distopia kian membawa perpecahan dimana-mana dengan terbentuknya lingkaran dendam antara golongan. Situasi kebangsaan demikian tak pelak juga menggiring aktivisme kampus pada situasi yang sama. Maka tak heran, dalam situasi yang kehilangan orientasi, gerakan kampus pun mengalami pembusukan dengan penciri yang begitu gamblang bisa kita temukan; kekerasan jalanan.

Apa yang baru saja kita lalui sebagai penanda kebudayaan sebuah bangsa, yakni hari pendidikan, yang tersaksikan melalui media massa,  membuat kita prihatin terhadap masa depan kampus sebagai institusi pendidikan.[]