09 April 2013

Sikap Nilai HMI

| |
Merujuk pada Anthony Giddens. Saat ini kita berpacu dalam “dunia yang tunggang langgang”, terbirit-birit, berputar pada poros yang sama. Saat ini, dunia mengalami percepatan dan penyempitan, mode kehidupan berubah kemudian mengalami keterperosokan dalam lingkaran dendam dan kebencian yang menuai distopia dimana-mana. Situasi kontemporer ini terasa ketika kita memperhatikan dengan seksama kehidupan berbangsa. Indonesia sebagai entitas kebangsaan yang berpijak pada pancasila sebagai gugus moral dalam menjalankan praktik kehidupan yang menjelma dalam daily politics, situasi yang terbilang sebagai pembalikan dalam tubuh kebangsaan kita. Dimana-mana kekerasan mengambil bentuk dalam peristiwa yang berbeda, menggandakan diri dalam proses politik, perpecahan terajut dalam proses yang kian hari kian menggrogoti tubuh bangsa.

Konkatenasi ini akhirnya menyentuh salah satu penopang dari sebuah bangsa, yaitu kaum muda, sebagai generasi yang hampir memakan porsi terbesar dalam jumlah, tentunya kaum muda juga berperan dalam menentukan masa depan sebuah bangsa. Tidaklah berlebihan kalau situasi kontemporer saat ini “merusak” para kaum muda dengan proses politik, kaum muda terjebak dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk ikut campur tangan dalam kondisi perpolitikan yang keropos. Indonesia mengalami pembusukan, kaki-kaki bangsa yang di topang oleh kesamaan identitas, kesatuan bahasa, dan visi kedepan yang ditopang oleh moralitas yang mengejewantah dalam pancasila, semua ini mengalami kemunduran ketika imperatif moral dalam konstitusi akhirnya menemui kebuntuan, ketika konstitusi di rombak dengan amandemen, kekeroposan ini terbukti ketika langgam kebangsaan di gantikan dengan langgam komunal. Etnisitas menjadi perekat dalam mengatasi kekosongan, jarak yang panjang antara bangsa dan orang-orang yang membayangkan diri sebagai bagian dari sebuah bangsa.

Dalam kondisi politik yang tidak bersandar pada moralitas konstitusi, kehidupan politik menjadi sangat liquid dalam artian bahwa semangat untuk menegakkan politik dengan ideologi sudah berhenti. Francis Fukuyama dalam hal ini membilangkannya kedalam kematian sejarah, tidak berlebihan bahwa situasi tanpa gagasan besar atau pikiran mengenai perubahan untuk mewujudkan sebuah tatanan akhirnya melahirkan peradaban yang sentimentil dan hanya merayakan permukaan. Moment kesementaraan dalam politik ini terjadi dalam tubuh bangsa kita sendiri, pancasila sebagai totalitas dalam menjalankan politik di pinggirkan. Peminggiran ideologi seperti ini berakibat pada melemahnya komitmen kebangsaan dan konstitusi kehilangan landasan moralnya, amandemen menghasilkan penghapusan nilai dan identitas menjadi kososng, masuknya gejala internasionalisme dalam berbagai bentuk pada akhirnya memperparah pengeroposan yang terjalin dari dalam.

Henri Lefebvre pernah merumuskan sebuah adagium, bahwa pada dasarnya tidak ada ruang yang absen dari politik, menilik dengan cara seperti ini untuk melihat kenyataan politik di Indonesia adalah baru, ruang-ruang politik kita dijejali hanya dengan kesemuan pada permukaan, politik tidak menjadi semacam senjata untuk menaklukkan masa depan, politik absen pada nilai. Politik hanya menjadi hingar-bingar dan perayaan yang sementara. Mari kita arahkan politik sebagai senjata ideologis pada kaum muda, bahwa mereka memasuki ruang-ruang politik pada segala level, tetapi mereka di rusak oleh mekanisme politik dan menghablur dalam permainan yang tidak tahu dimana ujung-pangkalnya.

HMI MPO sejak awal merumuskan politik berdasarkan nilai. Hal ini terbaca dalam traktat ideologisnya yang bernama Khittah Perjuangan. Terangkum dalam tafsirnya dan visi kedepan yang mengharuskan untuk di laksanakan. Bila merujuk pada pendekatan Luhman, maka boleh dibahasakan HMI MPO adalah entitas yang selayaknya autopoietic. Konsep autopoietik ini merujuk kepada diversitas-diversitas sistem-sistem dari sel biologis. Struktur yang di dalamnya plasma-plasma menjadi pusat dari sel-sel. Metafora ini, menjelaskan bahwa HMI MPO sebagai tatanan organik, dari model seperti ini, kami hendak membawa para pembaca kepada cara pandang yang bertugas secara fungisional untuk melihat HMI MPO sebagai sebuah batang tubuh organisasi. Bila kaca mata ini kita gunakan, maka dengan serta merta akan memberikan kepada kita pandangan yang sifatnya dialektis, sebab pada pandangan Luhman, sebuah organisasi dengan segala diversitasnya akan saling mengalami proses pengaruh-mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya pada tingkatan maupun bagiannya.

Sebagai sebuah plasma yang inheren dengan sub-sub sistemnya, maka HMI MPO tentunya memiliki sistem dasar yang menjadi fungsi integritas bagi jaringan kerja sistem-sistemnya. Islam sebagai plasma dasar, di dalam habitus organisasi yang memiliki fungsi sebagai gugusan system of thought bagi organisasi, bisa jadi mengalami proses konvergensi dengan tata gugus pemikiran lain yang berasal dari luar batasannya. Jika perihal ini terjadi, Islam sebagai autopoietic telah menagalami kondisi self organizing. Self organizing adalah bentuk pengorganisasian tentang bentuk diri yang melakukan dua model kerja sekaligus. Model kerja yang pertama, yakni Islam dalam pengertian HMI MPO akan melakukan proses pembatasan sistem-sistemnya dan kedua menerapkan pengorganisasian strukrur internalnya sendiri. HMI MPO lahir dalam sebuah alur konjuktural sejarah. Kaum muda menjadi subjek bagi Khittah Perjuangan. Segala praktik hidup di dasarkan pada aksioma yang telah di bangun dari landasan ini, terutama bagaimana menafsirkan keindonesiaan dan kebangsaan dalam bingkai ideologi islam, menyelamatkan kaki-kaki bangsa kita dari kehancuran dan menjadikan Islam sebagai karunia bagi semua yang ada dimuka bumi adalah tugas terpenting, dimana saat ini dignitas tidak lagi digenggam dalam tangan dan kedaulatan terampas. []

Tulisan ini pernah dimuat di pbhmi.net


Almanak