Archive for 2012

Kampus yang Jumpalitan

07 Oktober 2012 Comments Off

Kampus sedang tunggang langgang. Kampus mendapati dirinya dalam keadaan terburu-buru. Kebijakan diambil tanpa pikir panjang, tanpa dialog, yang penting bagaimana bisa menang. Gedung dipertinggi otak dijepit di ketiak. Di dalamnya, budaya pencerahan berlahan-lahan jumpalitan; terguling-guling. Tenaga pengajarnya malas mengembangkan seni kemanusiaan lewat diskursus-kreatif. Mahasiswanya demam tinggi; biasanya jika orang sedang terkena demam akut, jadinya senang meracau, ngomong sembarangan. Kawan, seisi kampus dalam kondisi bahaya!

Bahaya pertama, mari kita lihat situasinya, lingkungan yang paling dekat dari kita; teman-teman kita. Adakah mereka yang resah? Jika tidak, maka itu sebuah kesalahan. Seorang mahasiswa harus memiliki ide besar, ide tentang perubahan. Ide besar ini bagi seorang mahasiswa dalam aktivitasnya, selalu dijadikan teropong untuk memandang situasi yang dihadapinya. Jika situasi tidak selaras dengan harapan yang datang dari ide besarnya, maka dari sana datang keresahan. Dari keresahan itulah mahasiswa mengambil jarak dengan situasi untuk merekayasa situasi lingkungannya. 

Ide besar dalam pengertian ilmiah sering disinonimkan dengan ideology. Dalam ideology ada tiga susun elemen pembentuknya. Salah satu elemen di dalamnya adalah pedoman bagaimana cara memberlakukan manusia. Cara pemberlakuan kita terhadap sesama pasti bergantung dari pengetahuan yang kita miliki tentang apa itu manusia. Jika manusia dipahami seperi benda mati, maka cara kita memberikan pemberlakuan terhadapnya sudah tentu sebagaimana benda mati diperlakukan; seenaknya saja.

Pendidikan sekarang bisa kita analisis dengan menggunakan unsur yang pertama dari ideologi. Pemberlakuan terhadap manusia (peserta didik) di forum kelas bisa menjadi sampelnya. Dari sisi transfer pengetahuan; metode yang digunakan dalam pertemuan masih menggunakan pendekatan fatalism: pendekatan pedagogi. Pendekatan pedagogi contohnya bisa kita lihat pada penerapan di sekolah-sekolah tingkat awal, semisal taman kanak-kanak. Untuk menanamkan pengetahauan kepada anak-anak kelas, guru-gurunya kerap menggunakan cara menyuap.  Dialog yang terjadi adalah dialog yang searah. Tidak ada dialog yang timbal balik. Komunikasi yang terbangun sifatnya menegaskan adanya tingkatan kelas, yang mana guru sebagai “google” yang maha tahu. Dalam keadaan seperti situasi ini, anak-anak diartikan sebagai wadah yang kosong.

Situasi di atas sangat wajar jika kejadiannya terjadi pada kelas anak-anak TK. Tetapi ini adalah masalah besar; kejadiaannya ada pada jenjang perguruan tinggi. Mahasiswa bukan lagi anak kecil yang mengetahui realitas dunia melalui transmisi bahasa ibu. Di mana mahasiswa jika kita maknai sebagai terma kata kerja maka di dalamnya termuati pengertian yang aktif. Sehingga dalam kenyataannya mahasiswa berposisi sebagai agen yang turut bertanggung jawab terhadap situasi yang dihadapinya. Sikap bertanggung jawab terhadap situasi sudah pasti lahir dari kepemilikan akan seperangkat pengetahuan yang dimiliki.

Bahaya yang kedua adalah ada pada tenaga pengajarnya. Tenaga pengajar sekarang adalah produk dari sistem yang telah berkuasa selama tiga puluh tahun lebih. Mereka selama hidup menjalani rutinitas yang telah dikelola oleh penguasa sekehendak hati. Penguasa selama itu punya satu cara efektif dalam mengontrol warganya agar bisa disesuaikan dengan tipe masyarakat yang diinginkan, yakni kontrol pemikiran.

Pemikiran terkadang dalam sebuah sistem dianggap berbahaya jika di sana ada gagasan yang mengusung ide-ide perubahan.  Pemikiran yang demikian adalah tipe pikiran yang menampik adanya stagnansi. Pemikiran yang stagnan biasanya merupakan pikiran yang selalu terhenti pada titik yang dianggap final, di sana tak ada gagasan tentang  pembaharuan. Dari pikiran seperti inilah yang dalam tinjauan psikologis adalah pikiran yang sakit.

Kemutlakan kekuasaan bisa berarti stabilitas. Negara dengan kekuasaannya dalam merencanakan stabilitas agar tidak goyah biasa punya seribu satu cara untuk menegakkan keseragaman pikiran. Maka pendidikan harus mengikut kehendak kuasa. Dan di sana, dari apa yang kita sebut pendidikan, sebuah agenda tengah dibangun secara pelan-pelan; rekayasa sosial. Menciptakan hidup yang dikontrol langsung oleh kekuasaan. Dan malangnya, tenaga pengajar kita telah dididik di bawah sistem besar itu. Sistem besar dengan agenda utamanya; keseragaman.

Keseragaman inilah yang akhirnya menjalar pada ruang edukasi. Secara pelan-pelan tersimpan dibawah alam bawah sadar dan masuk melalui jejaring sistem pendidikan. Hingga akhirnya kita pun tahu, semenjak berseragam sekolah dasar hingga jenjang tinggi pendidikan, kita punya sebuah masalah besar; pikiran yang disusun rapi dibawah tema  keseragaman.

Mahasiswa sekarang tumbuh berkembangnya tepat ditengah ruang kebudayaan virtual. Di sana ada dunia yang dibangun di atas citra imagi dan hasrat. Dunia di mana identitas selalu diungkapan dengan hasrat yang defenitif: belanja. Maka sebuah perayaan akan makna sebuah identitas adalah hal yang tak lagi disandarkan pada sebuah ide yang besar.

Di tengah situasi itu, ada waktu yang dikelola. Ada ruang yang memediasi kehendak. Di sana makna waktu adalah perayaan yang ditandai dengan makna konsumtif. Di mana pemanfaatan waktu senggang adalah bagaimana ruang batin diarahkan pada perangkap eksterior: mall. Di tempat inilah gegap gempita perjuangan dikebiri dan dikangkangi. Di mana pada Mall bukan saja bangunan dengan etalase mentereng, lebih daripada itu, disana sebuah simbol telah tegak sebagai petanda akan matinya  kemerdekaan subjek.

Sedang di alam yang silam, waktu senggang adalah dasar dari terbentuknya kebudayaan. Di sana waktu yang dimiliki ditandai dengan usaha pembentukan karakter. Lewat dialog serta upaya reflektif. Makna waktu termuati dengan aktifitas yang produktif. Di sana, pada alaf yang silam, waktu senggang (skolae), bisa berarti usaha pembebasan manusia.


Jejak Dunia yang Retak, Buku Kritis ala Mahasiswa UNM

13 September 2012 Comments Off


PROFESI-UNM.ORG - “Aku telah menemukannya. Ya, aku telah menemukannya. Di sini, bahwa dunia hanya mimpi-mimpi belaka.” Itulah salah satu potongan bait musikalisasi puisi yang dibawakan Teater Complen Bantaeng saat jadi pembuka acara launching dan bedah buku “Jejak Dunia yang Retak” di Aula Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM), Senin (10/9/2012) malam.

Jejak Dunia yang Retak adalah sebuah buku karya penulis-penulis muda UNM, Asran Salam (mahasiswa FIP), Bahrul Amsal (mahasiswa FIS), Muchniar AZ (Mahasiswa FMIPA), Mustaqim (mahasiswa PPs UNM). Buku yang mengurai sisi lain kehidupan umat manusia beserta interaksinya ini dikupas tuntas oleh Sulhan Yusuf (Penggiat Literasi Sulsel), Sabara ( Editor, Litbang Depag Intim) dan Syafiuddin Al Mughny. (PR III UVRI Makassar).

Syaifuddin pada kesempatannya itu mengulas, Jejak Dunia yang retak lahir dengan mencoba memberikan gambaran manusia dan dunia saat ini. Lebih lanjut, ia menguraikan buku ini penuh dengan kritikan tajam dari para penulis muda. “Mengingatkan saya tetang post-modernisme. Banyak negara termasuk negeri ini, bukan hanya retak tapi sudah berkeping-keping,” ungkap Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Veteran RI (UVRI) Makassar ini.

Sementara itu, Sulhan Yusuf mengatakan, penulis mengangkat sesuatu yang remeh menjadi tulisan yang unik dengan penuh kritikan. “Teman-teman ini mengajak kita untuk ikut resah melihat dunia saat ini,” beber penggiat literasi Sulawesi Selatan ini. (*)

*Reporter: Khaerul Mustaan

LDSI Al Muntazhar; Iman R[evolusi] yang Alegoris

22 Agustus 2012 Comments Off

Sesungguhnya agama Allah  tidak akan bisa dikenali dari pribadi-pribadi, tetapi akan dapat dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengetahui siapa penganutnya. [Imam Ali Bin Abi Thalib]

Kehidupan umat manusia dalam waktu sekarang tengah di dominasi oleh kebudayaan barat yang berdiri diatas alur logika paham materialistik. Kehidupan ini di tandai dengan penyimpangan dalam aspek-aspek kehidupan, terutama pada sisi akidah dan akhlak. Dalam aspek akidah penyimpangan ditandai dengan penyembahan terhadap sains yang berlebihan yang turut serta menggeser sendi-sendi tauhid. Sementara pada aspek akhlak, penyimpangan terjadi dalam berbagai bentuk, terutama tindak tanduk kezaliman dan kekerasan yang biasa di lakukan pada orang-orang lemah dan teraniaya.

Negara-negara barat , eropa dan Amerika sejak abad XVI, telah membuang keyakinan-keyakinan agama yang sacral. Mereka menolak semua itu dan hanya kepada ilmu pengetahuan, dan kepercayaan ini telah mencapai tingkat yang amat tinggi. Bahkan sejak abad 18-19 ilmu pengetahuan telah menjadi semacam tuhan baru bagi mereka. Mereka percaya ilmu pengetahuan dapat memeberikan ketetapan-ketetapan yang sangat kuat dan tidak terdapat sedikit pun keraguan dan kebatilan di dalamnya. Disamping mempertuhankan ilmu pengetahuan, mereka pun telah menetapkan tuhan-tuhan baru , yakni produksi, harta benda dan kesenangan hidup.

Dari model penghambaan terhadap tuhan-tuhan baru tersebut membawa umat manusia pada kondisi yang jauh dari spirit tauhid. Dampak dari itu manusia mengalami kekeringan dalam memaknai hidup dan kehidupan. Keresahan massal dan kegelisahan pun menjadi fenomena global yang tak dapat lagi di pungkiri. Manusia pun mencapai titik kegersangan yang akut, lelah disebabkan berubah-ubahnya tuhan-tuhan yang kerap kali tidak tetap. Padahal setiap manusia membutuhkan ketenangan dan ketentraman

Dari fakta yang dihadapi, sebagai suatu system hidup baik pemikiran, konsep-konsep, perilaku dan kenyataan hidup, umat manusia mengalami kondisi yang di istlahkan oleh Sayyid Quthub sebagai jahiliah modern. Beliau berpendapat, jahiliah bukanlah fase tertentu dalam sejarah, melainkan suatu system hidup yang setiap saat dapat timbul baik pada masa lalu, masa kini maupun masa datang.

 Bertolak dari pandangan di atas, peradaban yang tengah berada dalam kehidupan yang carut marut tak tentu arah maka diperlukan upaya yang serius untuk turut serta memperbaiki fenomena umat manusia yang telah di jelaskan di atas. Dakwah dan seruan terhadap Islam sebagai ajaran yang mutlak dan universal adalah hal yang mendesak untuk di lakukan. Apalagi dalam kehidupan kemasyarakatan kekinian,  individu maupun masyarakat  modern tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendasar baik di tingkatan kita sebagai individu, keluarga maupun masyarakat.

Dengan itu maka dakwah bukan lagi sebagai keharusan yang bertolak dari peristiwa-peristiwa yang kita saksikan, melainkan dakwah adalah tugas kemanusiaan yang mesti di aktualkan baik sebagai individu maupun perkelompok. Dakwah sebagai paradigma maupun praktik adalah suatu kewajiban bagi setiap umat muslim. Dakwah bukan saja tugas individu melainkan tugas kolektif yang harus di kerjakan sejalan dengan pengetahuan yang di miliki. Banyak pendapat bahwa Dakwah adalah kelanjutan dari iman. Dengan perkataan lain dakwah adalah kelanjutan logis dari iman yang dimiliki atau wujud nyata dari iman.

Dakwah sebagai pengejawantahan dari iman yang dimiliki tidak saja bergerak pada tataran individu melainkan penting kiranya iman ini di tafsirkan pada kehidupan berkelompok atau organisasi. Sebab dakwah bukanlah kerja yang disertai dengan komitmen individu melainkan komitemen kelompok ataupun organisasi. Pemahaman ini dapat di wujudkan melalui tiga tahapan. Pertama, Iman yang dinyatakan dalam diri sendiri dengan cara masing-masing orang atau individu mengusahakan dirinya untuk menjadi wujud nyata dari iman yang dimilikinya. Wujud nyata yang di maksud adalah baik dari segi pemikiran, sikap dan perilaku. 

Kedua, iman yang dinyatakan dengan mengajak dan menyeru manusia kepada ajaran yang di anggap benar serta menjelaskan keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki. Seruan ini penting kiranya jikalau iman sudah menjadi inheren dalam diri individu dengan cara ia telah menunjukan keistimewaan dan keutamaan iman terhadap dirinya sendiri. Jadi pada tahap kedua ini mulai terjadi pelebaran teritori penerapan iman yang di yakini, bukan saja terhadap diri tetapi juga terhadap orang sekitar.

Ketiga,Iman yang dipahami dan yang diyakini dinyatakan dengan tujuan mengokohkan iman tersebut sebagai system hidup bagi umat manusia. Upaya ini harus di lakukan dengan usaha kolektif bukan saja sebagai tugas individu dengan segala potensi dan upaya yang ada.

Dari sinilah dakwah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, bahkan dakwah itu sendiri adalah subtantif yang menjadi fitrah dari manusia. Namun jika melihat tugas-tugas dakwah yang banyak mengalami hambatan dan tantangan di zaman sekarang ini, maka dakwah bukan saja harus dilakukan dengan inisiasi individu atupun kelompok melainkan perlu kiranya memiliki wadah yang secara sistematis, terorganisir  dan revolusioner agar kiranya gagasan-gagasan universal yang diyakini menjadi jalan bagi ikhtiar ummat manusia.[]


Dialogi Tafsir atas Masyarakat dan sejarah: Ulasan terhadap Karya Murtadha Muthahhari

20 Agustus 2012 Comments Off

Paradigma adalah gambaran fundamental mengenai masalah pokok dalam ilmu tertentu. Paradigma membantu dalam menentukan apa yang mesti dikaji, pertanyaan apa yang mesti diajukan, bagaimana cara mengajukannya, dan apa aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh.[1] 

Paradigma sesungguhnya mencakup pengertian yang bersifat ontologis yang darinya sebuah objek menjadi fundamental dalam penentuan skala pengetahuan. Pelacakan terhadap status objek yang hendak dikaji pada gilirannya akan mengarahkan persoalan-persoalan pada penisbahan tentang metodologi apa yang pas untuk digunakan.

“Paradigma” sebagai sebuah diskursus wacana dan keilmuan, utamanya dipopulerkan oleh Thomas Samuel Kuhn (1922-1996), seorang pemikir Amerika. Walaupun pandangan-pandangannya menyangkut paradigma bernasib marginal dalam ilmu sosiologi, namun di dalamnya terdapat pemikiran besar bahwa ilmu tak pernah terlepas dari konteks dimana ia dimunculkan. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1962, The Struktrure of Scientific Revolutions, Kuhn menerangkan bahwa sebuah ilmu tidaklah berkembang secara kumulatif  sebagaimana yang umum dipersepsikan. Walaupun Kuhn mengakui bahwa akumulasi memang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi perubahan besar justeru terjadi akibat revolusi dalam ilmu pengetahuan. Ilmu mendapatkan tantangannya jika terjadi anomali terhadap status kebenaran yang berdampak pada krisis terhadap keberadaan ilmu dalam menyikapi suatu diskursus. Krisis ini akan berakhir dengan terjadinya revolusi pengetahuan.

Sebagaimana peta yang memiliki fungsi deskriptif terhadap wilayah yang diterangkannya, sebuah paradigma juga memiliki informasi-informasi berupa pernyataan-pernyataan normatif serta nilai etis dalam fungsi ke-peta-annya. Fungsi ke-peta-an sebuah paradigma bertujuan memediasi manusia dalam menentukan tujuan hidupnya. Menurut Murtadha Muthahhari, seorang filusuf Iran, paradigma bisa disejajarkan dengan konsep “pandangan dunia”. Murthahhari melihat adanya sinergitas antara pandangan dunia dengan wacana epistemologis dalam membentuk ideologi.[2]

Menurut George Ritzer, seorang sosiolog, ilmu-ilmu sosial paling tidak mengandung empat komponen paradigma. Pertama, eksemplar. Hal ini mengacu pada karya-karya tokoh yang dijadikan rujukan bagi penganut paradigma tertentu. Kedua, gambaran masalah pokok. Yakni status ontologis dari permasalahan yang dituju. Ketiga, metode. Yakni sikap metodis dan metode yang hendak diterapkan oleh penganut paradigma. Keempat, teori. Yakni perspektif teoritis dalam menerangkan permasalahan-permasalahan.[3]

Betapapun ilmu-ilmu sosial telah memandirikan dirinya dari pernyataan-pernyataan filosofis semenjak sains menubuatkan diri sebagai ilmu yang menerangkan segalanya, namun pada kenyataannya, dalam sejumlah grand theory, ilmu-ilmu sosial tetap memiliki pijakan asumsi filosofis yang terkandung dalam teori-teori yang dikemukakannya. Asumsi-asumsi ini hendak menerangkan realitas yang dihadapinya, yakni kedudukan human nature (manusia), society (masyarakat), dan rasional eksplanation sebagai model yang universal dalam menyusun paradigmanya. Jika sebuah teori tidak memiliki kandungan tiga elemen paradigma tersebut, maka ada kemungkinan teori-teori yang datang darinya tidak pula memilki kekuatan argumentatif untuk mempertahankan bangunan teoritisnya. Dengan demikian, seluruh teori pasti turut mewakili paradigma yang dibawanya.

Dalam kaitannya dengan tiga elemen paradigma tadi, khususnya aspek society, maka jika kita membangun sejenis eksposisi maka kita akan menemukan sejumlah pertanyaan: Apakah masyarakat itu? Apakah yang mendorong hingga terbentuknya masyarakat? Apakah individu memiliki posisi sentral dalam pembentukan masyarakat atau sebaliknya? Apakah penentu masyarakat berkisar dari jiwanya sendiri ataukah berdasarkan faktor eksternal dalam menentukan gerak sejarahnya?

Asal Usul Masyarakat

Masyarakat selalu menjadi studi yang kompleks. Studi atas masyarakat bisa ditelusuri akar sejarahnya dari dokumen-dokumen Yunani klasik, terutama dalam buku Politics karangan Aristoteles. Di situ konsep masyarakat yang dikemukakan Aristoteles memiliki kaitan erat dengan konsep negara. Konsep masyarakat dalam pengertian aristotelian merujuk pada negara kota yang khusus lahir sebagai pencitraan hukum moral.

Walaupun demikian, dalam menempatkan masyarakat sebagai kajian utamanya, baik oleh Thomas Hobbes, Adam Smith, Karl Marx, sampai Max Weber dan Alfred Scutz, teori kemasyarakatan tak pernah lepas dari bias intervensi ideologis, pengaruh gejolak ekonomi, maupun tarik-ulur kekuasaan politik.Pemilahan antara kepentingan ideologis dan ilmu pengetahuan terlihat pada positivisme Comte yang menekankan sosiologi sebagai puncak dari ilmu-ilmu haruslah bersih dari tendensi subjek.[4]

Pasca perang dunia kedua, Amerika Serikat sebagai negara adikuasa banyak membentuk lembaga-lembaga penelitian sosial. Ilmuwan-ilmuwan sosial diberdayakan untuk membangun teori-teori sosial dalam rangka kepentingan politik dan ekonomi Amerika. Sejumlah ilmuwan sosial juga dikirim ke wilayah-wilayah strategis negara dunia ketiga untuk melakukan penelitian (pengamatan). Hal ini bertujuan untuk menjadikan negara dunia ketiga sebagai bumper bagi keadikuasaan Amerika.[5]

Dalam pandangan eropasentris, masyarakat dilihat sebagai perwujudan yang tidak berbeda dengan organisme menurut tinjauan ilmu-ilmu alam. Hal ini ada kaitannya dengan pandangan-pandangan evolusi darwinis, seperti yang dikatakan Herbert Spencer. Menurut Spencer, keilmuan abad ke-19 masih didominasi oleh ilmu-ilmu alam, sehingga studi kemasyarakatan masih menjadi anasir studi kealaman. Di sini masyarakat digambarkan sebagaimana mahluk hidup yang ditunjang oleh sel-sel dasar sebagai elan vitalnya. 

Masyarakat seperti kesatuan tubuh manusia yang terdiri dari otot dan bagian-bagian tubuh sebagai unsur pembentuk jasad. Masyarakat yang dipandang dari perspektif hukum biologis, menyebabkan konsepsi yang terbangun senantiasa bersifat determinis dan linear.

Berbeda dengan Spencer, Emile Durkheim melihat masyarakat sebagai fakta sosial. Durkheim menilai bahwa masyarakat adalah ungkapan yang dicitrakan dari norma-normanya, adat-istiadatnya, serta nilai-nilai yang diturunkan secara turun-temurun lewat tradisi. Kata Durkheim, seorang sosiolog harus meneliti fakta sosial, bukan interaksi pelakunya. Jadi, jika Durkheim ditanya, kenapa seorang ibu bisa membunuh anaknya sendiri hanya karena ia merasa tak sanggup menghidupinya? Maka perspektif durkheimian akan menjawab: “hal itu terjadi karena nilai-nilai yang ada telah rusak!” Murtadha Muthahhari memandang bahwa masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok manusia yang hidupnya mengandung sejumlah nilai, norma-norma, adat-istiadat, dan tradisi.[6]

Durkheim menggambarkan masyarakat sebagai “tatanan moral”. Konsepsi ini diungkapkan lewat penjelasannya tentang “conscience collective dan “reperesentations collective”. Masyarakat dalam pandangan Durkheim tidak lebih spesifik dari entitas yang bersifat supra-personal yang misterius. Karena itu, dalam pandangan ini, Durkheim dianggap gagal dalam penekanannya terhadap spesifikasi personal yang menjalani situasi material dalam aktifitas sehari-hari.[7] Pandangan Durkheim yang terlalu membawa masyarakat pada level yang sulit dinilai kekongkritannya, memiliki dampak serius pada perkembangan ilmu-ilmu sosial.

Masyarakat harus dilihat dari pembentuknya, yakni individu itu sendiri, bagaimana mereka berinteraksi satu dengan lainnya. Masyarakat harus dinilai dari interaksi orang-orang yang ada di dalamnya, bagaimana mereka membentuk kelompok-kelompoknya, dan seperti apa proses interaksi yang terbangun di dalamnya. Pendapat tersebut dikemukakan Simmel dengan pandangannya yang empiristis. Kata Simmel, masyarakat seharusnya dibawa pada penelitian yang bisa diobservasi langsung, bukan nilai dan pranata yang ada di dalamnya yang abstrak dan sulit diukur berdasarkan pengalaman langsung.

Pandangan Simmel yang bercorak aritotelean tersebut berbeda dengan para sosiolog Jerman semisal Weber dan Marx yang sibuk dengan tema-tema besar. Tingkat analisis Simmel terletak pada penekanannya terhadap kejadian pada skala yang lebih kecil. Berbeda dari para pendahulunya, sosiolog yang menginspirasi lahirnya mazhab Chicago ini, lebih menilik masyarakat pada penggambaran individu melalui tindakan dan interaksinya.[8]Teori Simmel tersebut mewakili pandangan menyangkut status ontologis masyarakat yang dititik-beratkan pada kehadiran individu-individunya. Masyarakat dalam hal ini hanyalah keterwakilan dari individu yang membentuk kelompok sebagai dasar pemenuhan sesuatu yang bersifat kolektif.

Dalam memahami masyarakat, setidaknya ada tiga pandangan yang mengemuka: Pertama, yang melihat masyarakat sebagai gerak yang secara fitrawi terbentuk dari kecenderungan individu untuk mengaktualkan potensi sosialitanya, yang dimotivasi oleh fitrah dalam dirinya sendiri. Kedua, yang melihat masyarakat sebagai fenomena yang didatangkan untuk menjawab ketidakmampuan individu untuk berproses di dalam alam, sehingga untuk bisa bertahan hidup, maka manusia dengan terpaksa bermasyarakat. Pandangan ini melihat individu sebagai faktor yang inferior, dan menemukan identitas superiornya hanya jika harus menerima fenomena kemasyarakatan dengan desakan. Ketiga, yang melihat masyarakat hanyalah sebatas fenomena individual yang dimotivasi berdasar kalkulasi pilihan rasionalnya. Artinya, seorang individu bisa saja memilih hendak bermasyarakat ataukah tidak, selama hal itu membawa keuntungan baginya.

Menurut Durkheim, masyarakat berada di luar individu dan sifatnya memaksa. Individu harus mengikuti anjuran serta pakem-pakem yang sudah diterima secara turun-temurun dalam tradisi masyarakat, suka ataupun tidak. Dalam perspektif Marx, masyarakat merupakan realitas utama dibandingkan dengan individu. Individu hanya menjadi anasir sekunder bila diperhadapkan dengan masyarakat. Penekanan Marx terhadap kolektivisme menyebabkan hak-hak individu menjadi tidak penting. Terkadang memang masyarakat memiliki kekuatan memaksa yang sifatnya sedemikian impulsif, sehingga individu tak berdaya menolak atau berkilah untuk tidak menerimanya. Mekanisme ini terjaring melalui representasi nilai-nilai yang tercitrakan pada aturan-aturan semisal simbol-simbol yang dikonvensi pemaknaannya berasarkan kehendak umum.[9]

Pada sisi lain, terdapat pula pandangan yang lebih menekankan aspek individu yang sedemikian rupa lebih penting dari kolektivitas. Kalaupun ada yang namanya kepentingan umum, itu tidak lain merupakan perwujudan dari kehendak individu-individu. Masyarakat dipandang sekadar sebagai fenomena sekunder. Pandangan semacam ini kita kenal dengan sebutan individualisme. Prinsip individualisme dapat kita lihat contohnya pada bangunan ideologi dan operasi ekonomi kapitalisme.

Kalau kita mencermati jalan cerita film V for Vendetta[10], di situ tampak tokoh V yang berhasil membentuk masyarakatnya berdasarkan kemauan umum walaupun awalnya ia hanya bekerja seorang diri. Kisah ini, memberikan pengertian bahwasannya seorang individu memiliki kemerdekaan diri yang terlepas dari kesadaran mayarakatnya untuk turut  membentuk kesadaran orang banyak. Pandangan ini berbeda dari pandangan tadi yang tidak melihat hakikat manusia yang notabene memiliki ikhtiar untuk merespon sesuatu, apakah hendak menerima ataupun menolaknya. Walaupun masyarakat memiliki sejumlah kehendak bersama, bukan berarti bahwa individu turut larut di dalamnya dengan terpaksa sehingga kehilangan identitasnya. Seorang individu tetap memiliki kehendak bebas untuk memilih keluar dari batas-batas paksaan yang ada di masyarakat.
          
Masyarakat dan Peran Agency

Marxisme meyakini bahwa datangnya sejarah berasal dari kelas pekerja yang merebut kekuasaan dari kepemilikan barang-barang kaum borjuis. Menurut mereka, sejarah bermula dari masyarakat komunal yang diatur berdasarkan hukum-hukum tradisional hingga berevolusi menjadi masyarakat komunis. Masyarakat komunis adalah masyarakat tanpa kelas yang lahir dari konsekuensi perjuangan kaum buruh. Gerak sejarah ini diyakini bisa terealisasi dengan adanya desakan kelas pekerja melalui revolusi proletariat.

Jika pandangan marxian menempatkan revolusi sebagai penentu jalannya sejarah, maka August Comte memandang sainslah yang akan menentukan sejarah. Tahap akhir dari sejarah manusia menurut Comte, akan sampai pada keadaan dimana masyarakat menjunjung tinggi sains sebagai satu-satunya jalan menjawab segala kebutuhan manusia. Tahapan sejarah comtean ini diawali dari tahap teologis, dimana manusia dan corak kehidupannya masih berdasarkan keyakinan takhayul dan mistis. Pada berkembangan selanjutnya, masuk pada tahap hukum evolusi kesadaran, dimana masyarakat sampai pada tingkatan yang bercorak metafisis. Di sini kesadaran masyarakat berusaha keluar dari kungkungan teologis yang tidak mendewasakan kesadaran. Usaha pendewasaan akal budi, akan berkembang hingga manusia benar-benar matang, dengan sains sebagai faktor penopangnya. Pada tingkatan inilah masyarakat mengalami kemajuan signifikan.

Teori marxian dan comtean menyangkut kepastian sejarah, mendasari asumsi-asumsinya pada dua narasi besar yang mewarnai jatuh bangunnya paradigma filsafat Barat, yakni platonisme dan aristotelian. Kedua narasi besar ini seringkali terlibat persitegangan. Platonisme dengan pandangannya yang bercorak absolut terhadap keberadaan ide, memberikan penekanan yang besar terhadap ide daripada keberadaan yang bersifat inderawi. Keberadaan yang hanya mampu dicerap oleh inderawi, bagi Plato, hanyalah doxa yang bersifat semu dan tak sempurna. Sementara itu, dalam pandangan Aristoteles, dunia ide yang dideskripsikan Plato hanyalah hasil abstraksi dari objek-objek eksternal. Abstraksi yang terjadi bermula dari persentuhan alam inderawi dengan alam eksternal yang dialami oleh manusia.[11]

Pandangan marxian menghendaki ketiadaan peran agency dalam mengawal dan mempolarisasi struktur, dimana struktur memiliki peran sentral dalam mengarahkan gerak sejarah. Agency dipandang sebagai faktor yang tidak dominan dalam rentetan kejadian yang dapat mempengaruhi jalan dan berkembangnya sejarah. Di sini sejarah dipahami sebagai suatu proses penciptaan dan pemuasan kebutuhan-kebutuhan manusia secara terus-menerus. Penciptaan kebutuhan dimediasi oleh aktivitas kerja dalam hubungannya dengan alam. Dengan demikian, sejarah merupakan materialisasi upaya manusia dalam memenuhi segala aspek fundamental kehidupannya.[12]

Kekitaan

Ulrich Beck, seorang ilmuan sosial, melihat masyarakat beserta institusi dan struktur sosialnya telah bergerak secara radikal dari masyarakat tradisional menuju masyarakat pra-modern, kemudian menuju masyarakat super-modern. Dalam masyarakat tradisional, struktur beserta pengalaman kemasyarakatan bersifat “kekitaan”. Di sini masyarakat terintegrasi secara vertikal dan horisontal. Individu tradisional terbentuk dan dibentuk dalam nilai-nilai komunal. Masyarakat yang terbangun berdasarkan “kekitaan” tidak menyerahkan dirinya pada institusi. Individu tahu dan sadar bahwa dirinya adalah bagian utama dari “kekitaan”.

Dalam masyarakat modern yang ditandai dengan peneguhan yang tinggi terhadap subjektvitas, terjadi pergeseran dari kesadaran “kekitaan” menuju kebebasan individu dan otonomi personal. Individu mengambil peran sentral dalam keberlangsungan kehidupan. Dengan begitu, terjadi peralihan dari masyarakat “kita” menjadi masyarakat “aku”. Sementara itu, pada masyarakat super-modern, “aku” tidak lagi disandarkan pada institusi negara. Kebebasan individu dan otonomi personal beranjak kepada institusi-institusi baru yang lebih luas. Kesadaran tidak lagi merujuk pada kesadaran komunal maupun negara, melainkan pada sistem informasi dan teknologi yang sedang berkembang. Di sini masyarakat mendapati dirinya menjadi bagian yang terintergrasi dalam sistem teknologi dan informasi yang abstrak. Hal ini disebut Jean Baudrilard sebagai simulacrum, yaitu realitas kedua yang menggantikan realitas sejati melalui penciptaan realitas semu dengan sistem penandaan semiotik melalui simbol-simbol.[13]

Bila kita menyakini konsepsi masyarakat sebagai penjaga individu-individu melalui pencitraannya sebagaimana sosok “ibu”[14], maka masyarakat sebagai sebuah panggilan moral adalah konsepsi yang nonsense. Masyarakat dengan kediriannya seperti sekarang ini adalah jenis masyarakat yang penuh dengan apatisme yang melihat jalannya sejarah secara given tanpa kehendak mengubah jalannya sejarah. Pandangan-pandangan menyangkut filsafat sejarah, baik yang memandang sejarah sebagai produk materialisasi ide ataukah idealisasi materi, sungguh telah mendapatkan tantangan episteme dalam kaitannya dengan proses jalannya sejarah manusia dewasa ini. []

Daftar Bacaan

Cambell, Tom, 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius.
Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Hardiman, F. Budi, 2004. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat dan Sejarah: Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya. Bandung: Mizan.
————————–, 2001. Mengenal Epistemologi. Jakarta: Lentera.
Piliang, Yasraf A., 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Kanisius.
Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Wibowo, Edi dan Tangkilisan, Hessel Nogi S, 2004. Kebijakan Publik Pro Civil Society. Yogyakarta: YPAPI.

[1]     Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana, apindeks.
[2]     Muthahhari, Murtadha, 2001. Mengenal Epistemologi. Jakarta: Lentera, hal. 18.
[3]     Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana, hal. 118.
[4]     Hardiman, F. Budi, 2004. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
[5]     Wibowo, Edi dan Tangkilisan, Hessel Nogi S, 2004. Kebijakan Publik Pro Civil Society. Yogyakarta: YPAPI.
[6]     Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat dan Sejarah: Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya. Bandung: Mizan, hal 15.
[7]     Cambell, Tom, 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius, hal. 179.
[8]     Ritzer, George, op.cit., hal. 45.
[9]     Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat…, op.cit., hal 34.
[10]    Film yang diangkat berdasarkan novel David Llyod dan dibintangi Natalie Portman dan Hugo Weaving.
[11]    Hardiman, F. Budi, op.cit., hal. 24.
[12]    Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. Jakarta: Universitas Indonesia Press, hal. 27.
[13]    Piliang, Yasraf A., 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Kanisius, hal. 58.
[14]    Seperti yang termuat dalam Khittah Perjuangan HMI (MPO) pada bab Wawasan Sosial.


Muhammad Iqbal

Comments Off

Berbicara masalah Islam dan pemikiran tokoh-tokohnya, seberapapun lamanya tidaklah cukup untuk membahasnya. Mengingat begitu banyak sekali kajian-kajian Islam berikut pemikiran-pemikiran para tokohnya, yang telah berhasil mengukir sejarah dan melahirkan peradaban baru bagi umat Islam. Salah satu tokoh di antara sekian banyak tokoh dalam khazanah pemikiran Islam adalah Muhammad Iqbal. Seorang penyair yang dikenal pula sebagai seorang filosof maupun mistikus abad 20

Muhammad Iqbal adalah sosok besar dalam khazanah kebudayaan Islam. Pemikirannya dikemasnya dalam bentuk puisi, dan itu membuatnya abadi. Muhammad Iqbal, lahir 9 November 1877 di Punjab India. Dia adalah seorang filsuf, pemikir, cendekiawan, ahli perundangan, reformis, politikus, dan yang terutama: penyair. Dia berjuang untuk kemajuan umat Islam dan menjadi “Bapa Spiritual” Pakistan.

Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara dalam keluarga Kashmir. Ayahandanya Syaikh Nur Muhammad memiliki kedekatan dengan kalangan Sufi. Karena kesalehan dan kecerdasannya, penjahit yang cukup berhasil ini dikenal memiliki perasaan mistis yang dalam serta rasa keingintahuan ilmiah yang tinggi. Tak heran, jika Nur Muhammad dijuluki kawan-kawannya dengan sebutan "sang filosof tanpa guru". Ibunda Iqbal, Imam Bibi, juga dikenal sangat religius. Ia membekali kelima anaknya, tiga putri dan dua putra, dengan pendidikan dasar dan disiplin keislaman yang kuat. Di bawah bimbingan kedua orangtuanya yang taat inilah Iqbal tumbuh dan dibesarkan. Kelak di kemudian hari, Iqbal sering berkata bahwa pandangan dunianya tidaklah dibangun melalui spekulasi filosofis, tetapi diwarisi dari kedua orangtuanya tersebut. 

Setelah dewasa ia masuk Government College di Lahore di mana dia belajar filsafat, sastra Inggris dan Arab dan memperoleh gelar Bachelor of Arts, lulus cum laude. Pada 1905, Iqbal pergi ke Inggris untuk belajar di Trinity College, Cambridge University, dan juga belajar ilmu hukum di Lincoln Inn. Dia meraih gelar Bachelor of Arts dari Cambridge University tahun 1907, dan meraih gelaran Ph.D. di bidang filsafat dari Fakulti Filsafat di Ludwig-Maximilians University di Munich di tahun yang sama. Gelaran doktoralnya ini diraihnya dengan disertasi The Development of Metaphysics in Persian dengan bimbingan Prof Dr Friedrich Hommel.

Iqbal adalah seorang pemikir yang hidup dalam kondisi dimana negaranya sedang dalam kondisi terjajah. Pada kondisi inilah Muhammad Iqbal banyak mencetuskan konsep politik yang kelak mengilhami berdirinya negara Pakistan. Berkat aktifitas politiknya, sepulang dari Eropa Ia bergabung dalam Partai Liga Muslim India, melalui partai inilah ia menjalankan aktivitas politiknya. Iqbal juga memiliki pandangan politik yang khas yaitu; gigih menentang nasionalisme yang mengedepankan sentiment etnis dan kesukuan (ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentiment nasionalisme. Iqbal memiliki pemikiran politik yang dinamis menyangkut pemerintahan Islam, baginya Islam dan politik bukanlah dua entitas yang dikotomis melainkan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Salah satu pemikirannya yakni umat Islam haruslah memiliki negara sendiri, hal demikian sangatlah wajar jika kita melihat bahwa dalam konteks dimana Iqbal berada India memiliki dua keyakinan yang saling berseteru yakni Islam dan Hindu.

Iqbal juga sangat dipengaruhi oleh Jalaluddin Rumi, Mistikus asal persia. Ia juga pengagum berat Friedrich Nietzsche, Henri Bergson dan Goethe. Bahkan Iqbal menjadikan Rumi sebagai “panduannya”. Nietzsche dan Bergson sangat mempengaruhi Iqbal khususnya konsepnya tentang hidup sebagai kehendak kreatif yang terus bergerak menuju realisasi. Manusia sebagai kehendak kreatif tidak bisa dibelenggu oleh hukum mekanis maupun takdir sebagai rencana Tuhan terhadap manusia yang ditetapkan sebelum penciptaan. Namun semangat relegius Iqbal menyelamatkannya dari sikap atheisme yang dianut Nitzsche sebagai konsekuensi kebebasan kreatif manusia. Iqbal masih mempertahankan Tuhan dan mengemukakan argumentasi yang bisa mendamaikan kemahakuasaan Tuhan dengan kebebasan manusia.

Iqbal juga menolak konsep Nitzsche maupun Bergson tentang kehendak sebagai sesuatu yang buta, khaotis, tanpa tujuan. Iqbal mengatakan bagaimanapun orang sadar bahwa dalam kehendaknya ia memiliki tujuan karena kalau tidak buat apa ia berkehendak, namun Iqbal menolak tujuan sebagai tujuan yang bukan ditetapkan oleh manusia sendiri melainkan oleh takdir atau hukum evolusionistik.

Pemikiran Iqbal juga dapat kita kenali pada pengkajiannya tentang manusia terkhusus pada konsep ego yang ia tawarkan. Dalam pemikirannya tentang ego, Iqbal memberikan peristilahan yang lain. Khudi adalah istilah yang bagi Iqbal selaras dengan pemaknaan ego yang kerap kali dipakai sebagai terma kunci para sufi. Menurut Iqbal, khudi, arti harfiahnya ego atau self atau individualitas, merupakan suatu kesatuan yang riil atau nyata, adalah pusat dan landasan dari semua kehidupan, merupakan suatu iradah kreatif yang terarah secara rasional. Arti terarah secara rasional, menjelaskan bahwa hidup bukanlah suatu arus tak terbentuk, melainkan suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur, suatu kegiatan sintesis yang melingkupi serta memusatkan kecenderungan-kecenderungan yang bercerai-berai dari organisme yang hidup ke arah suatu tujuan konstruktif. Ego bagi Iqbal adalah kausalitas pribadi yang bebas. Ia mengambil bagian dalam kehidupan dan kebebasan Ego mutlak. Sementara itu, aliran kausalitas dari alam mengalir ke dalam ego dan dari ego ke alam. Karena itu, ego dihidupkan oleh ketegangan interaktif dengan lingkungan. Dalam keadaan inilah Ego Mutlak membiarkan munculnya ego relatif yang sanggup berprakarsa sendiri dan membatasi kebebasan ini atas kemauan bebasnya sendiri. Menurut Iqbal, nasib sesuatu tidak ditentukan oleh sesuatu yang bekerja di luar. Takdir adalah pencapaian batin oleh sesuatu, yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat direalisasikan yang terletak pada kedalaman sifatnya. Pemikiran ini sekaligus menjadi bantahan terhadap pemikiran Nitzsche yang memandang ego manusia hanya ditujukan pada ekses kekuasaan.

Menyangkut metafisika, Iqbal pun menceburkan diri untuk bergabung bersama para filsuf untuk mencurahkan diri terhadap pengkajian terhadap masalah ketuhanan. Filsafat ketuhanan Iqbal berbeda dengan filsafat ketuhanan kontemplatif karena Iqbal berangkat dari filsafat manusia yang menekankan pengetahuan langsung tentang keberadaan ego atau diri yang bebas-kreatif. Menurut Iqbal manusia bukanlah benda statis tetapi suatu aktivitas gerak dinamis-kreatif yang terus merindu akan kesempurnaan. Baginya Cintalah yang mendorong manusia untuk melakukan penyempurnaan diri lewat proses intuitif yang mampu membawa manusia menjadi manusia yang sempurna. Iqbal menawarkan tiga tahapan yang mesti dilewati manusia untuk melakukan proses penyempurnaan. Pertama, setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar tunduk kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum ilahiah. Kedua, belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan dirinya melalui rasa takut dan cinta kepada Tuhan seraya tidak bergantung pada dunia. Ketiga, menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai kesempurnaan spiritual (Insan Kamil).

Dari sudut yang lain, Iqbal adalah negarawan yang gigih mengecam alam pemikiran barat yang dinilainya sebagai pemikiran yang menyeret manusia hanya berkutat pada dimensi material. Salah satu kecamannya menyangkut budaya Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti spiritual dan jauh dari norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh buruk budaya Barat. Ia juga sangat prihatin terhadap masyarakat India yang disatu sisi mendapatkan jajahan oleh koloni Inggris dan di sisi lain mendapati hampir sebahagian besar masih banyak masyarakat India yang tidak mampu memahami isi kandungan al qur’an lebih disebabkan oleh masih kentalnya ajaran hindu yang dikonsumsi oleh muslim India.

Iqbal adalah seorang yang gigih dalam menawarkan konsep pemikiran Islam sebagai alternativ untuk kemajuan manusia yang hidup dalam alam pemikiran barat. Banyak belajar di Negeri barat tak membuatnya lupa akan api Islam yang menempatkannya sebagai pemikir yang patut diberikan apresiasi yang tinggi, apalagi banyak pemikirannya yang senantiasa menjadikan dia sebagai tokoh yang mengintrepetasikan Islam sebagai ajaran yang futurustik dan dinamis. Ia memberikan pelabelan Islam tak seperti ajaran agama yang lain. Baginya Islam bukanlah ajaran yang fatalistik dimana memberikan kepasrahan bagi penganutnya sebagaimana ajaran mistisisme timur lainnya dan juga bukan sebuah ajaran yang hanya berbicara sebatas dimensi material belaka sebagaimana pemikiran barat yang materialistik. Akhirnya bukanlah Iqbal jika kita membicarakannya tanpa menghadirkan sisi mistisisme dari dirinya. Sebagaimana didalam perkataannya “Jadilah manusia-Tuhan, kandunglah rahasia dalammu”.[]

Merawat Keberanian Anak Muda[1]

19 Juni 2012 Comments Off

Prolog
Eko Prasetyo[2]



Barangsiapa diam di hadapan kezaliman maka dia menjadi seolah-olah seorang iblis
(Rasulullah SAW)

Hal terbaik yang dapat anda lakukan untuk orang lain bukan sekedar berbagi kekayaan Anda, melainkan membuatnya menyadari kekayaan dirinya (Benjamin Disraeli)

Kita tahu apa yang paling berharga di masa muda. Petualangan dan keberanian. Nyala keberanian itu yang membawa Che Guevara menuju Kuba. Bersama Fidel Castro dilintasi lautan dan belantara hutan untuk sebuah cita-cita yang mungkin agak nekad: kekuasaan yang bersendi keadilan. Dunia sebut perjuangan itu sebagai sosialisme. Sebagian dengan antusias memberinya julukan komunisme. Apapun itu kini Kuba berdiri dengan penuh martabat: angka melek hurufnya paling tinggi, jaminan kesehatan penduduk paling ampuh dan yang terpenting minim hutang luar negeri. Castro tua itu masih menyimpan bara semangat anak muda; diejeknya Obama dan dipujinya Hugo Chavez.

Baca selengkapnya »

Asketisme Leo Tolstoy

19 Mei 2012 Comments Off

AWALNYA melimpah, selebihnya hidup dalam asketisme.

Setidaknya itu yang dialami Leo Tolstoy. Bak seorang manusia suci mengalami sebuah pergolakan batin. Barangkali ia rindu pada apa yang menjadi harapan semua orang yakni hidup di dalam rahmat Tuhan.  

Tapi, terkadang kerinduan membutuhkan satu pengorbanan besar di mana hidup harus dipandang dengan cara tak biasa. Leo Tolstoy mengalami pengalaman batin mendorong ia menanggalkan segalanya:  gelar, status sosial bahkan berhektar-hektar tanah yang ia miliki.

Transformasi hidup kerap dimulai dari kegoncahan iman. Hingga akhirnya suatu pilihan mesti dibayar dengan harga yang mahal. Keberanian mengubah bukan berarti tanpa risiko. Dalam hal ini Leo Tolstoy meninggalkan kemapanan hidup demi menemukan ihwal yang subtil dalam kehidupan.

Syahdan, ia hidup dikepung harta benda tak terhingga. Ia menjadi tuan tanah dengan ratusan petani pekerja. Hidup di dalam rumah bak istana raja.  Lengkap dengan lakon hidup teratur di dalamnya.
Namun ia menemui batu besar dalam dirinya. Sebuah pertanyaan mendasar yang belum mampu ia tuturkan dalam deret argumentasi yang teoritik. Ia menulis;

”Pertanyaan -yang memenuhi benakku pada usia 50 tahun membuatku hampir bunuh diri- adalah pertanyaan paling sederhana…”

Dalam satu tarikan napas:

”…yang tertanam di dalam jiwa setiap orang, mulai anak yang bodoh hingga orang dewasa yang paling bijak. Itu adalah pertanyaan tanpa jawaban yang tak bisa ditangung seorangpun sebagaimana kuketahui dari pengalaman. Pertanyaan itu adalah apa yang akan terjadi dari apa yang kulakukan hari ini atau yang akan kulakukan besok? Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?”

Di usia 50 ia terdorong keluar dari pemikiran mapan. Pemikiran yang dimulai pada masa kanak-kanak berupa iman Kristen ortodoks. Masa kecil yang disokong sakramen-sakramen upacara misa dan puasa-puasa ketat.

Dengan kata lain, di usia 50 ia mengambil jedah. Dengan pertanyaan ini, ia menampik hidup untuk sebuah jawaban yang entah. Sebuah permulaan yang meneruskan satu sikap hidup yang bakal mengubah segalanya.

Hidup dalam ukuran seorang Tolstoy; menulis, meminum anggur, pesta dansa, dan wanita, di mana hidup sebagai seorang muda dijalani dengan pandangan hidup anti kristus. Menjadi seorang pada tahun-tahun di mana menghabiskan waktu di meja judi adalah kehidupan yang dinilai normal namun sekaligus menjemukkan;

”…aku tak bisa memikirkan tahun-tahun itu tanpa kengerian, perasaan muak sekaligus kepiluan. Aku telah membunuh banyak lelaki….aku kalah dalam permainan kartu, memeras tenaga para petani, menjatuhkan mereka dalam hukuman…Aku menipu, merampok, berzina…dan orang-orang sezamanku dianggap dan menganggapku sebagai orang yang termasuk bermoral.”

Namun interupsi itu datang. “Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?” Sebuah pilihan untuk hijrah.

Hijrah? Mungkin adalah keniscayaan gerak. Proses yang harus dialami seluruh manusia. Di mana konsekuensinya adalah sebuah jalan tak punya ujung. Dan di sana ada pilihan. Maka seorang Tolstoy mengerti; hidup adalah perjalanan yang dirunut untuk dilangkahi. Ia, seorang tua, bermula dari sebuah pertanyaan yang eksplosiv; apa hujung dari apa yang kita sebut sebagai hidup?




ADA adagium masyur dari Socrates; hidup tak terperiksa adalah hidup yang tak patut dijalani.  Dan mungkin saja di suatu waktu,  kita mendapati kenyataan yang tak bisa kita duga sebelumnya, kemudian membuat kita terhenyak. Berusaha melihat secara terbuka untuk mencari jalan keluar dari apa yang terjadi. Dan di sini, pada titik ini, barangkali adagium dari Socrates kemudian berlaku. Di mana sebuah permenungan kemudian menjadi aktifitas yang menuntut laku sunyi; refleksi diri.

Namun, di mana zaman tengah tumbuh melesat, melakoni hidup seperti orang-orang soliter menjadi kian sulit. Di luar sana, pada apa yang kita katakan sebagai kehidupan, sedang terburu buru membawa dirinya pada titik entah. Di mana waktu dan ruang dimobilisasi sedemikian cepat, sehingga membuat hidup menjadi hal yang begitu cepat menguap.  Barangkali itulah hukum modernitas, segala begitu cepat berlalu, semuanya begitu licin dipertahankan.

Dari diri Tolstoy kita bisa belajar harta benda, status sosial, dan kekuasaan tak membuatnya harus takluk. Suatu waktu ia bakal tahu, apa yang ia miliki bisa menjerumuskannya pada situasi yang mencuri kedaulatannya.

Setidaknya dari seorang Tolstoy maupun Socrates kita bisa belajar, modernitas atau zaman yang ugalugalan ini, dengan percepatan komoditas, mobilisasi waktu, pemapatan ruang,  di mana terjadi pembalikan pada seluruh tatanan nilai, membuat kita harus tahu dan percaya tentang satu hal; di luar sana, nilai kedaulatan kita sebagai manusia tengah direcoki.[] 

Podcast: Babanuroom Channel