24 Juni 2014

politik identitas

Masalah identitas dalam berkehidupan berbangsa akhirakhir  ini menjadi hal yang problematis. Hal ini semakin rumit ketika ruang sosial menjadi medan terbuka dari segala bentuk intervensi. Semenjak ruang kehidupan dipenuhi dengan keragaman kelompok, maka identitas sebagai modal sosial bisa menjadi nilai yang bermuatan ganda. Dalam hal ini, kaitannya dengan upaya konstruksi sosial, identitas bisa mempersatukan perpecahan kelompok atau sebaliknya, justru membelah persatuan masyarakat, apalagi dalam kaitannya dengan era globalisasi saat ini.

Politik identitas

Bice Maiguasha, seorang doktor ilmu politik, pernah menuliskan bahwa globalisasi sebagai ciri kemajuan memiliki dampak terhadap mengemukanya kelompokkelompok di bawah negara yang massif dalam menunjukkan aspirasi akan hal identitas politik. Hal ini dapat ditandai dengan kemunculan kelompokkelompok yang mengidentikkan diri atas ikatan etnosentris keagamaan, gerakan feminisme maupun masyarakat adat.

Dalam hal pengakuan, kamajemukan identitas yang mengemuka, apalagi frame etnisitas yang majemuk, berdampak terhadap identitas kebangsaan sebagai ikatan kolektiv. Kedaulatan negara yang mengalami kekeroposan di konteks ini mengakibatkan kemunculan kelompokkelompok identitas baru untuk menciptkan ikatan baru yang berbau subjektiv. Fenomena demikian disebabkan negara tak mampu menjamin semisal hak keamanan dan keberlangsungan hidup dalam kehidupan bernegara.

Terhadap kekosongan itulah ruang sosial mengalami banyak intervensi. Keroposnya kedaulatan negara mengakibatkan politik identitas yang menghendaki pengakuan memanfaat ruang publik sebagai mediator untuk mengakses identitasnya. Pada tingkatan yang paling ekstrim, pertemuan berbagai identitas di ruang publik sering kali mengalami persitegangan sehingga kerap kali melibatkan aksi kekerasan.

Politik pengakuan oleh Linklater adalah gejala kemunculan kelompok identitas untuk mendapatkan pengakuan publik. Apalagi dalam aras pengidentifikasian kelompok, ikatan sosial maupun kebudayaan kerap bermain atas dasar logika “penyertaan” dan “penolakkan” Negara misalnya, mengharuskan penerapan model ini. Apalagi dalam pembacaan Linklater, semenjak kemunculannya, negara mengalami keadaan problematis ketika merumuskan identitas apa yang harus diterima maupun yang harus dimasukkan dalam kategori “the other” Dalam logika inilah pengertian warga negara dan bukan warga negara dijabarkan. Hal ini juga diterapkan dalam “internal other” yaitu kelompok minoritas yang hidup di bawah batasbatas negara tetapi dibatasi dalam partisipasi dan identitas politik.

Kekerasan

Nasionalisme sebagai pengorganisasian pikiran dan perilaku, disinyalir adalah pemicu dari adanya “politik kepemilikan” setidaknya itu yang diomongkan oleh Chipkin. Nasionalisme ketika masuk dalam kategori identitas nasional, dalam kerjanya menundukkan kemajemukan identitas yang bernaung di bawah negara. Hal ini krusial apabila penerjemahannya dikontekskan pada negara yang memiliki ragam identitas, Indonesia misalnya.

Dari cara inilah dalam mengatasi kekosongan kontrolnya, negara membangun identitas bersama dengan menyisihkan keragaman identitas. Melalui mekanisme ini pula negara atas ketunggalan identitas mengorganisir dan mengontrol warganya. Dalam konteks praktik kebudayaan dan politik, pembatasan terhadap peranperan sosial kelompok identitas atas negara, menjadi pemicu terjadinya kekerasan. Apalagi kaitannya terhadap politisasi identitas, negara yang kerap menggelontorkan identitas nasional atas nama nasionalisme kerap mengeliminir “the other” untuk menjaga “status kepemilikan”.

Sehingga maraknya aksiaksi kekerasan atas nama identitas akhirakhir ini adalah output dari cara negara dalam memberlakukan kelompokkelompok identitas. Gejala ini juga disitir oleh Amrtya Sen bahwa dijalankannya politik ketunggalan identitas, justru mencadi pemicu kemunculan aksiaksi kekerasan dalam konteks kehidupan bernegara.

Masih menurut Sen, kekerasan yang kerap muncul akibat tidak tersalurkannya mekanisme yang mengakui kemajemukan identitas. Pengkerangkengan keberagaman atas dunia berdasarkan ikatan sempit justru mereduksi kenyataan dari keberagaman. Dan di sinilah masalahnya, cara pandang ini tidak saja di alami oleh negara tetapi juga oleh warganya. Sehingga kenapa negara kerap gagal mengatasi kekerasan, oleh karena penguatan terhadap civil society selama ini kerap jarang dilakukan.

Nampaknya, persoalan identitas ini menjadi isu yang problematis ditenggarai oleh capaian paradigma kutural yang hari ini masih jauh terbelakang oleh masyarakat antara format negara yang mengusung demokrasi sebagai cara menyelenggarakan kekuasaannya. Sedangkan dalam prinsipnya, penyelenggaraan demokrasi, perbedaaan adalah hal yang krusial untuk dipahami sebagai medio dalam menyatakan kepentingan identitas tertentu. Tetapi di sisi lain, paradigma kultural yang terpahami dalam kesadaran masyarakat masih saja menuntut adanya otoritas yang menentukan seperti apa identitas yang harus diterima untuk hidup bersampingan. Masyarakat masih belum mandiri dalam memahami seperti apa identitas yang beragam dihadapi dalam kenyataan sosial yang mereka tinggali. Sehingga negara yang di satu sisi adalah penyulut api tindak kekerasan identitas juga memiliki nilai ganda untuk memberikan asupan dalam rangka penguatan civil society. Maka dari itu adalah tugas berat bagi negara dalam hal penyelenggaraan kekuasaannya disamping ia sendiri sebagai kekuasaan yang menjadi embrio dalam kekerasan identitas yang sering kali dialami.


Manusia

Kuasakah engkau menciptakan tuhan? ...maka diamlah wahai segala tuhan! Tapi, yang pasti engkau dapat menciptakan superman. .

Memang manusia mahluk yang tak lengkap. Di balik sejarah, yang tak lengkap itu berusaha dipikirkan, untuk kemudian dirumuskan pada satu pengertian yang umum dan ajeg. Sejarah memang wadah yang bisa kita dalami, di sana manusia selalu disusun dalam pengertian yang esensial; mahluk yang rasional, mahluk sprituil, mahluk kerja dsb. Tentang manusia, dalam sejarah, apa yang telah dirumuskan untuk menambal yang kurang itu memang hanya menyisahkan tekateki, lubang yang tak pernah tertutupi.

Manusia bisa saja menciptakan segala hal. Dengan demikian manusia meneguhkan eksistensinya. Eksistensi yang tak utuh itu dalam sistem politik, kebebasan individu dan kolektif dijabarkan, bagaimana kekuasaan harus diterjemahkan untuk kebahagiaan banyak orang. Untuk itu, juga mekanisme ekonomi dirancang, ikhtiar untuk membuat sistem yang egaliter. Demikian budaya dan hukum turut diciptakan dalam rangka memenuhi kekosongan yang menganga itu. Tetapi apa yang akhirnya didapati, hasil yang kerap kali gagal memenuhi kekosongan: krisis eksistensi.

Sepertinya, usaha inilah, yang dalam sejarah manusia dikritik Nietzsche: keinginan untuk menutupi lubang yang tak pernah dijawab sejarah. Tapi di mana ada usaha untuk membangun yang universal, selalu di situ bersembunyi ego penaklukan. Dan pada titik inilah Nietzsche menggerutu, bahwa manusia bukanlah realitas yang mudah ditetapkan begitu saja.

Di masa dulu, di Yunani, Aristoteles pernah memberikan terang tentang manusia. "Manusia adalah hewan tak berbulu berkaki dua" Begitu ia menyebutnya. Kemudian tak lama datang Diogenes, pelopor filsafat sinisme, menunjukan cela dalam defenisi Aristoteles. Sembari mendemonstrasikan manusia menurut Aristoteles, Diogenes menunjukkan ayam yang sudah dicabuti bulunya sebagai maksud dari Aristoteles. "Inilah manusia menurut Aristoteles," seru Diogenes. 

Dalam peristiwa ini barangkali ada yang tak sepenuhnya bisa dipahami Aristoteles, yakni dalam cara untuk merumuskan ketetapan yang aksiomatis biasanya selalu gagal dalam meraba sesuatu yang kerap berubah. Dan ini yang juga sudah diwantiwanti oleh Ibnu Sina, untuk membangun defenisi yang utuh adalah pekerjaan yang sulit bagi seorang logikus.

Upaya yang hendak dirumuskan tentang mahluk yang bernama manusia, barangkali adalah mekanisme yang lahir dari sifat lemah dan inferior. Yang mana sesungguhnya itu dilakukan untuk menutupi kekurangan yang di miliki. Tapi sekonyongkonyong usaha ditegakkan justru adalah indikasi dari kekosongan yang semakin menganga lebar. Barangkali ini yang dimaksudkan Feurbach, filsuf yang getol menyerang agama, sesungguhnya adalah manusia yang gagal menetapkan "kesempurnaan" untuk dirinya, sehingga "yang kuat", "yang bahagia", "yang ideal" adalah sifat dasar manusia untuk menciptakan alienasinya sendiri.

Untuk itulah, dari alienasinya, lubang yang tak pernah tuntas dalam sejarah, manusia berkeinginan untuk mengenal tuhan. Tapi apakah tuhan adalah jenis superioritas yang mudah dicapai? Sekiranya iya, Firaunlah manusia pertama yang berhasil menggenggam "superior" sebagai sifat dasarnya, memproklamirkan bahwa ialah tuhan yang punya kuasa terhadap segala hal. Bisa saja Firaun, raja yang digugat Musa itu berhasil, namun sejarah sudah punya jawabannya: tuhan bukanlah kekuasaan yang bisa diperlakukan seenak hati.

Disinilah bahayanya, orangorang yang miskin kualitas eksistensi, dengan agama, dengan atas nama yang ilahiat berkeinginan merubah jalannya banyak hal, termasuk penyelenggaraan pemerintahan dunia. Bukankah tuhan tak mampu dicipta dalam iman yang miskin, dalam diri yang rapuh? Maka berbahayanya jika orangorang yang berkhidmat dalam organisasi, tak kuasa dalam mencipta tuhan justru menjadikan "yang lain" harus takluk atas nama pemurnian.

Kitalah yang barangkali telah membunuh tuhan? Dalam ungkapan Nietzche, disana ada kenyataan yang sulit kita sanggah, bahwa tuhan adalah entitas yang seringkali kita bunuh berulangulang. Di zaman ini, ditengah krisis eksistensi, eskalasi fundamentalisme yang turut mencampakkannya, atas pemurnian. Dan memang pemurnian terkadang mengenyahkan jalan tengah, sebab jalan tengah itu berarti kompromi, artinya ada unsur yang sudah terkontaminasi, ada ruang yang telah tercemari.


Dan di belahan dunia lain, kematian nampaknya semakin karib bersampingan, semakin akrab. Justru disaat pemurnian adalah cara praktis untuk menuntut perbaikan, kematian menjadi tumbal dari keyakinan yang rapuh. Disana peluru adalah hakim yang berlagak adil, dan pucuk senjata adalah antitesa dari kehidupan yang beragam. Tetapi manusia yang tak utuh harus percaya satu hal, "yang ideal", "yang ilahiat" bukanlah lahir dalam alam yang murni, ia lahir di sini, di tengah kehidupan yang guyah sendisendinya, untuk tahu bahwa manusia punya harap, seperti harapan yang sebenarnya tak ada, tapi karena banyak yang membuka jalan ke sana, maka ia layak kita tempuh. Bahwa di sini, dalam kehidupan yang jamak, manusia hanyalah mahluk yang selalu beriktiar utuh.

16 Juni 2014

filsafat

Konon filsafat adalah ilmu yang punya dampak praktis. Dahulu maksud yang praksis itu ditemukan dalam theorea. Theorea dikenal dengan sikap pikiran yang terbuka terhadap kebajikan, sebuah sikap pikir yang tertib untuk mencandrai nous, untuk melihat cosmos yang akbar, atau dengan kata lain, theorea adalah sebuah jalan untuk menjadi bajik, menjadi hanif dihadapan macrocosmos.

Dengan theorea, manusia diajak untuk menghindari doxa, dalam pengertian Plato adalah kebenaran yang tak sahih, kenyataan yang cenderung berubah, pernyataan yang kerap kali tak bisa diyakini. Dengan theorea, manusia diajarkan jalan bios theoritikos, sebuah sikap hidup yang mengolah jiwa pada keabadian, pada yang stabil, sesuatu yang tetap. Sehingga dengannya manusia diarahkan untuk hidup bijaksana, untuk mencapai otonomi. Dengannya, otomatis bermaksud praxis.

Juga theorea ada dalam agama-agama kuno. Yunani misalnya, ada theoros, seorang wakil, atau bisa jadi seorang utusan polis, untuk dikirim pada acara agama, untuk mengalami peristiwa transendental,  di mana dengan maksud "memandang" peristiwa yang jauh melampaui fisik, untuk dibaca, untuk diterjemahkan. Di saat demikian, saat theoros memandang nous yang sakral, ia mengalami theorea, proses pengalaman membebaskan nafsu yang fana, situasi emansipasi atas bagian diri yang berubah-ubah. Orang Yunani kala itu, menyebut laku itu khatarsis: pembebasan diri dari dorongan yang fana.

Artinya filsafat juga punya maksud khatarsis. Dengan pengertian ini filsafat berkehendak membebaskan manusia dari dorongan-dorongan fana dengan mengajak pada kenyataan yang tetap, kepada peristiwa yang stabil. Sehingga saat demikian ada batas antara ada dan waktu, antara yang tetap dan yang berubah-ubah, antara kepastian dan keraguan. Pasalnya, sesuatu yang kerap berubah sering kali cenderung pupus dimakan usia, juga yang berubah adalah berarti belum lengkap, tidak utuh. Sementara ada itu sendiri adalah kenyataan yang selalu tampak, sesuatu yang melingkupi segalanya, hal yang stabil, lengkap, sesuatu yang pasti.

Namun biasanya filsafat punya maksud berbeda, tidak saja bermaksud praktis. Setidaknya dalam doktrin Marx. Marx, dengan pemikirannya yang radikal itu, hendak meluluhlantahkan yang diyakini stabil, bangunan yang cenderung menghindari perubahan. Dalam benak Marx, filsafat yang meneguhkan sesuatu itu stabil berarti ia salah kaprah. Justru kenyataan di mata filsafat adalah inti yang saling bertentangan, keadaan yang mengalami tegangan tiada henti.

Filsafat dengan maksud mengokohkan realitas yang tetap, berarti anti perubahan, bahkan anti kemanusiaan. Baginya filsafat adalah kewajiban untuk mengubah kenyataan dengan cara mengkoreksinya melalui sikap, buan pikiran. Filsafat tidak hanya menafsirkan dunia, melainkan turut membentuknya, ujarnya di suatu waktu. Marx memiliki keteguhan dalam pandangannya ini, yakni filsafat harus juga punya tanggung jawab terhadap kemanusiaan.

Di sini, barangkali Marx berkeinginan untuk memupuskan harapan filsafat yang hanya milik segelintir orang. Sebab, filsafat, dalam bentang peristiwa sejarah adalah pekerjaan orang-orang kaya. Aktivitas yang hanya dimiliki bangsawan atas waktu luang yang dimiliki. Sebut saja Des Cartes, dari atas tempat tidurnya, di saat ia bergumul dengan waktu luangnya, ia mendapatkan titik terang dari kebingungannya: cogito ergo sum. Juga Kant, yang ketat soal waktu, banyak merumuskan pikirannya dari pondok sunyi yang ia tinggali.

Dalam masamasa seperti ini, kita membutuhkan filsafat yang hidup dijantung kehidupan masyarakat. Setidaknya filsafat yang lahir dari keluh kesah dan optimisme, antara rasa emoh dan keinginan untuk merombak. Sebab jaman sekarang, adalah masa yang sulit ditaklukkan dengan hanya mengandalkan asumsiasumsi yang spekulatif. Filsafat harus tahu dan mengerti inti kenyataan yang kita hadapi, kenyataan yang kerap berubah dan bersitegang terus menerus. Filsafat jenis inilah yang kita harapkan, bukan jenis fisafat yang lahir dari hujan yang ritmis, melainkan filsafat yang tumbuh di tengah badai yang amuk.

15 Juni 2014

Politik

Ada asumsi tentang politik, seingat saya dari Herman Broch, bahwa politik berarti merawat komunitas. Ini artinya politik paralel dengan kehidupan kolektif, yang di dalamnya sudah pasti punya misi edukasi, kerja membangun. Juga dalam komunitas sudah tentu mensyaratkan adanya pusat. Kolektivitas berarti "kita" sebagai pusat. Dalam "kita" berarti ada peneguhan terhadap identitas, terhadap simbol, untuk dijadikan garis batas terhadap yang lain.

Namun, dalam masamasa yang penuh dengan eufimisme, politik bisa bermaksud lain. Politik justru berarti mengkerdilkan pihak yang berada di seberang. Kita menjadi emoh terhadap yang lain, sementara identitas kelompok adalah sanjungan yang berdiri atas kesadaran tanpa argumentasi.

Di sinilah politik berubah haluan menjadi mitos. Mitos, seperti kita tahu adalah pengetahuan yang tak punya asal usul, sejenis kesadaran yang tak memiliki basis kenyataan tetapi diyakini dan diteguhkan kebenarannya dari otoritas yang berlangsung. Dan mitos adalah petanda dari ketiadaan rasionalitas yang argumentatif. Maka politik yang didatangkan dari alam yang irasional adalah mitos yang digaungkan dan dipertahankan untuk keberlangsungan orang banyak.

Sehingga wajar sampai akhirnya tampak alami, iklim politik yang kehilangan wibawa. Suasana partisipan yang melanggengkan irasionalitas, sebab tak ada yang bisa dikatakan baik dalam alam yang irasional. Namun akhirnya wajar kita maklumkan, tentang citra yang dikontruksi, kebesaran yang dibentuk, prestasi yang dipaksakan untuk menutupi jumud yang sebenarnya nampak enggan diakui.

Jika sudah demikian "kita" sebagai pusat dari kolektivitas kerap akhirnya dirawat dengan dasar yang temaram. Kesadaran temaram, kata Broch adalah jenis pengetahuan yang instingtif. Atau tipe pengetahuan yang tidak melibatkan sisi historis sebagai bahan baku pertimbangan. Itu artinya politik yang dibangun dengan kesadaran temaram berarti hubungan yang tentatif-temporal. Hubungan yang tidak diukur dari pertimbangan yang matang. Apalagi tidak membawa aspek sejarah di dalamnya. Jadi wajar bila tibatiba saja kita sudah diperhadapkan dengan ikatanikatan yang membingungkan. Oleh karena di sana tak ada keputusan yang masuk akal untuk dipertanggungjawabkan.

Bila politik adalah merawat komunitas, maka di sana ada ruang yang membangun kesadaran, tentu dengan mempertimbangkan etika dalam proses keberlangsungannya. Di sana juga ada keberlangsungan yang terus menerus di antara relasi untuk mencerahkan. Yang juga diharapkan sebenarnya adalah proses politik yang menjunjung nilai etis dan komunikasi yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak sekedar informasi yang tanpa diketahui asal usul kehadirannya. Sebab di luar informasi yang bertanggung jawab adalah omongkosong.


09 Juni 2014

dialog imajiner bersama Machiavelli

Suatu ketika di malam awal Juni saatsaat lembayung makin padat. Juni yang mengawali kemarau Juni yang biasanya panas, saya berusaha membangun imajinasi. Tentang sebuah perbincangan dengan seorang realis, orang yang pernah hidup sekitar akhir abad pertengahan. Seorang dari Florence Itali; Niccolo Machiavelli.

Saya membayangkan malam awal Juni itu dua bulan setelah hari kelahirannya, duduk bersama orang yang kerap dikutuk berkat gagasannya yang tanpa moral itu. Di mana saya dengannya bertemu di saatsaat karirnya sebagai penasihat politik mendekati anti klimaks. Pada pinggiran selatan kota Florence saya dengannya bersua. Ketika Itali sedang dalam invasi Spanyol.

Saya: Kenapa anda tampak murung? Apakah ini karena Itali sedang dalam masa-masa kritis?

Niccolo: (Sambil tersenyum) Saya memang murung? Lebih mudah bagi saya kematian seorang ayah daripada kehilangan warisan..Mari anak muda..(sambil memberikan segelas anggur) bagaimana anda bisa sampai kesini? Ini masa kritis..

Saya: terima kasih (sambil mengambil anggur darinya), ini memang masa kritis, tetapi bertemu dengan anda saat seperti ini adalah hal yang mengagumkan.

Niccolo: Apakah anda bercanda? Lantas apa yang membuatmu kemari?

Saya: Diri anda. (Dia tampak terkejut, raut mukanya sungguh jauh dari ekspresi pikirannya yang konon berbahaya, saat itu dia kelihatan gagah) Diri andalah tujuan saya..

Niccolo: Saya berharap kau mengerti maksud tujuanmu berbicara denganku. Saat seperti ini semua orang menjadi bodoh saat mengutarakan pikirannya.

Saya: Maksud anda?

Niccolo: Coba kau bayangkan, untuk sejenak, diantara orangorang itu, adakah yang tampak jujur berucap? (Niccolo menunjuk dengan pandangan matanya) Hampir semuanya tampak berbohong..

Saya: Ada apa dengan mereka. Maksudmu mereka ini adalah orang yang sedang berbohong?

Niccolo: Tidak ada yang salah dengan orangorang ini. Kecuali mereka tahu maksud pembicaraan mereka.

Saya: Sebenarnya ada apa dengan mereka? Barangkali saya telah melewatkan sesuatu?

Niccolo: Sudah saya katakan tadi, ini masa kritis, masa yang guyah. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dibicarakan. Bukan dengan hanya bicara tentang masalah intim mereka, pujapuji mereka terhadap gereja, anakanak, ladangladang..

Saya: Lantas apa yang layak saat seperti sekarang menurutmu?

Niccolo: Manusia yang baik adalah warga yang membincang keutamaankeutamaan ibu pertiwinya, bukan sebaliknya.

Saya: Maksud anda negeri ini? Itali maksud anda?

Niccolo: Artinya kau pahami maksudku. Negara ini sedang di ambang kehancuran. Mereka lebih sudi selain dari apa yang mereka wariskan.

Saya: Bisakah anda menerangkan maksudmu? Jujur, saya tidak paham..

Niccolo: Kematian, saat orang mati, saat mereka ditinggal pergi, mereka berpurapura murung, berputus harapan dengan rasa sakit yang amat. Lantas sebenarnya pikiran mereka tidak demikian. Justru akan kembali seperti biasanya, memikirkan dengan apa hidup harus berjalan. Memikirkan apa isi perut mereka.

30 Mei 2014

membangun dunia

Seingat saya pada beberapa tahun yang lampau, saat kegiatan di salah satu kampus di sebuah forum diskusi, saya ditanya, pada saat yang tak diduga. Perihal buku yang saya terbitkan:Jejak Dunia Yang Retak, pernyataan yang fundamen, atau tepatnya pertanyaan yang elementer. Saya ditanyai tentang mengapa saya menulis buku ini, atau lebih dasariah lagi, mengapa saya menulis?

Di waktu itu, di saat saya disuguhi pertanyaan demikian, diktum Sokrates tentang pada situasi tertentu terkadang pertanyaan jauh lebih berbahaya dari pada sebuah jawaban, saya alami. Pertanyaan yang tidak saya taksir datangnya itu memang berbahaya. Apalagi menyangkut hal yang elementer. Sebab bertanya, berarti membuka peluang untuk menggugat tatanan, memberikan ruang untuk membongkar apa yang sudah mapan. Dan itu berarti mengganggu kebakuan yang stabil, mengganggu apa yang sudah terkunci rapat dalam benak. Memang pertanyaan itu sungguh membikin saya terkejut.

Untuk menjawab itu, apalagi dalam situasi sebagai pembicara, mewajibkan saya harus tepat memberikan jawaban kepada penanya. Ketepatannya bukan jenis presisi pada ilmu eksak yang harus sama persis antara hasil pembilangan dengan apa yang dibilangkan, melainkan melampaui itu, pasalnya ini pertanyaan yang cenderung filosofis, mengapa saya menulis? Ketepatannya adalah antara jawaban saya dengan ekspektasi yang diinginkan adalah ruang yang menghendaki sipenanya terpuaskan secara maknawi. Apalagi ini masalah nilai, sesuatu yang tidak bisa dihitung berdasar penggaris kuantitatif. Ini tentang berpengaruhkah jawaban saya terhadap pengalaman sipenanya kelak.

Maka saya jawab saja sesuai dengan harapan mudahmudahan ia mengerti. Mudahmudahan jawaban saya memberikan peluang untuk memahami. Seingat saya jawabannya seperti ini, dengan sedikit retoris: menulis saya andaikan perlakuan mencipta, tepatnya mencipta sesuatu, dalam inggris sesuatu adalah thing, dan dalam makna ini adalah bisa jadi segala hal. Singkat yang ingin saya bilang,  saya ingin menulis dengan mencipta sesuatu. Keinginan saya membangun dunia. Lewat tulisan.

 Jawaban saya dikala itu barangkali cenderung mendekati analogi. Dan memang karya tulis di mata saya cenderung analog dengan makna dunia. Teks bagi saya sama halnya susun bata yang dibangun untuk mendirikan dunia hunian yang tentu sifatnya privativ. Dalam rumah, sayalah empu yang bebas memanfaatkan bilah ruang yang ada. Jadi teks disini, dalam pengertian saya adalah rumah yang intim dengan saya. Di sana tak ada otoritas selain saya, apalagi ada hirarki yang bertingkat untuk menguasai.

Mudahmudahan dia mengerti, tentang maksud saya yang ingin membangun dunia, dari teks, dari alam pikiran saya. Yang mana di sanalah saya meneguhkan eksistensi saya. Dari sana saya ada, paling tidak dalam dunia yang saya bangun. Sehingga ini berarti saya dalam situasi yang bebas. Barangkali ini bermaksud katarsis, tetapi ini bukan pelarian, sebab orang yang berlari cenderung tak punya bekal yang ia bawa. Sementara ini tidak, saya punya teks yang sekehendak hati bisa saya pilih, yang merupakan modal saya untuk berjarak dengan dunia ril, pada saat saya sedang membangun dunia teks saya.

Mudahmudahan ia mengerti kenapa saya membangun dunia dari teks. Jikalau saya menjawab kembali, seingat saya seperti ini jawaban yang diutarakan kala itu: dunia, tempat yang kita huni, pusat seluruh kehidupan bekerja, adalah hunian yang penuh sesak. Penuh dengan hiruk pikuk. Setiap darinya ramai oleh segala hal. Sementara saya, terkadang membutuhkan tempat yang berbeda, barangkali sebuah tempat yang sunyi. Dititik ini, dunia sebagai konteks hidup, saya tolak, untuk pergi dari penuh sesak yang amat. Dan saya memilih teks. Untuk disusun menjadi dunia pribadi saya. Ini mirip dengan seorang diri yang membangun rumah jauh di atas gunung yang tinggi. Untuk mencari hunian yang senyap. Tempat yang tak dilalui lintasanlintasan penat yang tak berujung. Kirakira begitu gambarannya.

Kalau hal ini dia sudah mengerti, itu berarti dia juga paham tentang dunia apa yang saya maksud. Hunian yang penuh dengan kepadatan dan kompleksitas yang akut. Yang mana dari dunia itu saya bangun tembok pemisah. Karena dengan membangunnya, itu berarti satu hal. Yakni saya ingin terpisah sekaligus bersamasama. Terpisah dari kompeksitas yang akut, bersama dalam arti, saya juga tak sepenuhnya pergi. Ini barangkali seperti yang dibilangkan Gramsci: bersamasama sekaligus menentang.

Jika sedikit rumit dipahami, begini maksud saya: dunia yang saya tolak adalah dunia yang sudah terlanjur terpancang kuasa. Tatanan yang di dalamnya sudah terlanjur tersubtitusi dengan kekuasaan. Kekuasaan yang repetitif merepsesi kekerasan, kekejian, ketakutan, keangkeran dsb. Disini jika tatanan cenderung bermakna harmonis, maka kekuasaan dalam pengertian ini bermakna dan bekerja merusak apa yang dibutuhkan oleh tatanan: keberaturan. Sehingga, akhirnya tatanan menjadi medan yang chaotik, hunian yang penuh dengan potensialitas kehancuran.

Dunia itulah yang ingin saya tentang dengan membangun dunia dari teks. Dunia semacam itulah yang kerap saya hindarkan. Melalui teks, melalui dunia baru yang saya bangun.

Mudahmudahan sipenanya paham dari maksud saya. Jika toh tidak, bukankah saya tak pernah mengajaknya untuk mengenali hasil dunia saya. Bagaimana dengan anda?[]

08 April 2014

Dunia Pasca Manusia

Dunia sebagai suatu entitas, di era posthuman, telah menjadi semesta yang transparan. Dalam sejarah kebudayaan manusia, yang mysterium dari dunia dikuak, dibongkar dan dimanipulasi. Sisi mysterium dari dunia, pada akhirnya, seperti dibilangkan Karen Amstrong, telah menjadi ihwal yang profan, dunia yang mengalami desakralisasi. 

Melalui penemuan-penemuan sains dan teknologi, realitas cosmos yang akbar dihormati, akhirnya takluk di hadapan alatalat teknis. Dunia menjadi medan yang mudah diringkus dengan bantuan alatalat super canggih. 

Dalam peradaban awal masyarakat, teknologi merupakan ungkapan buah pikir manusia untuk mengatasi alam. Namun, seiring perjalanannya --seperti tampak sekarang-- teknologi tidak lagi dinyatakan hanya dalam rangka survival  di tengah alam raya, melainkan menjadi praxis teknis yang mengambil alih dan menghancurkan sistem esensialitas kebudayaan kemanusiaan.

Perubahan dalam rangka survival menjadi praxis teknis seperti diungkapan Heidegger karena kemajuan teknologi mengalami intitusionalisasi berdasarkan alam pikiran sains. Sehingga pada awalnya teknologi yang menurut Heidegger adalah suatu  yang bermakna poiesis  berubah menjadi pekerjaan teknis positivistik belaka. Akibatnya, dunia dalam bingkai teknik dinyatakan Heiddeger hanya dilihat sebagai satuan “adaada”  yang teknologis. 

Perubahan yang paling mendasar dari kenyataan di atas adalah beralihnya keterlibatan teknologi terhadap kebudayaan manusia yang semula bersifat live centered menjadi power centered.

Dalam keadaan demikianlah manusia akhirnya mengalami miskonsepsi terhadap makna hidupnya. Teknologi rupanya sudah mengalienasi manusia dari pusaran eksistensinya oleh mesinmesin (Marxisme), masyarakat menjadi manusia dangkal satu dimensi (Marcuse), manusia mengalami kehampaan kasih sayang (Eric Fromm), tereduksi menjadi manusia teknik (Gabriel Marcel) dan di imingimingi oleh hasrat fantasi simulacrum (Baudrilard).

Dalam konteks inilah kita sepatutnya mendalami buku karangan Budi Hartanto: Dunia Pasca Manusia, Menjelajahi Tema-Tema Kontemporer Filsafat Teknologi, untuk memahami kesejatian dari penggunaan artefakartefak teknologi. Sehingga autentifikasi terhadap esensi kemanusiaan tidak mengalami objektivikasi dari melimpah ruahnya alatalat canggih di sekitar kita. Demikian juga dalam aspek kultural, agar manusia tidak mendapati dirinya sebagai subjek yang tenggelam dalam absurditas nilainilai kebudayaan teknis. 

Buku ini diawali dengan memasukkan pemikiran John Ihde, seorang filsuf berhaluan postfenomenologi sebagai jalan masuk untuk memperantarai pembaca dalam melihat posisi teknologi terhadap relasinya dengan tubuh. Yang mana teknologi dijelaskan melalui tindak ilmu yang filosofis sebagai instrumen untuk memediasi manusia terhadap dunia sebagai kesatuan subjek. 

Dari kegiatan manusia bersama dengan teknologi, secara singkat Hartanto menjelaskan pendekatan postfenomenologi dalam melihat relasi manusia dengan empat relasi yang ada dalam pemikiran John Ihde. 

Hubungan yang dimaksudkan di sini adalah hubungan kemenubuhan, hubungan hermeneutis, hubungan alteritas, dan hubungan latar belakang. Menurut saya empat konsep relasi inilah yang memberikan karakter khas dalam pemikiran John Ihde yang diklaim sebagai kelanjutan dari filsafat fenomenologi. 

Yang menarik dari ulasan ini, melalui teknologi, manusia dikatakan mengalami suatu pengalaman eksistensial. Asumsi ini dapat ditemukan dengan penjelasannya mengenai struktur relasional manusia. Melalui kategorisasi relasi kemenubuhan, nampak bahwa manusia mampu melampaui keterbatansannya dalam berinteraksi dengan dunia. Dalam kondisi demikianlah, dalam pembacaannya, manusia mengalami perluasan persepi dalam memahami kenyataan.

Walaupun demikian, melalui pembahasan ini, dalam dimensi poiseis, teknologi ditempatkan sebagai mitra eksistensi yang harus diapresiasi kehadirannya. Oleh karena sifatnya yang eksistensial, instrument teknologi di sini dipandang sebagai bagian dari kesatuan subjek dari tubuh itu sendiri. Sehingga pada aspek ini, untuk melihat teknologi secara kritis akhirnya harus tanggal oleh nuansa pragmatis dalam pandangan Ihde. Bila nuansa kritik hendak diajukan di sini, maka subbab ini harus dibaca dengan tindak baca yang ideologis.     

Masih dalam bab ini, Hartanto juga mengangkat persitegangan antara beberapa pandangan filsafat menyangkut entitas jiwa. Melalui konteks perdebatan tokoh yang dikemukakan, diskursus  mengenai jiwa, sayangnya masih dibaca  dalam matriks pemikiran barat. Sehingga melalui proposisiproposisi  yang terbangun, jiwa mengalami materialisasi dari sifatnya yang metafisis. 

Konsekuensi dari tindak baca demikian, jiwa akhirnya dipandang sebagai subtansi yang meruang dan dapat disaintiskan. Di samping juga nampak sisi berat sebelah dari segi ulasannya dengan tidak memasukkan wacana filsuf Timur maupun Islam di dalam pembahasannya. 

Walaupun demikian, secara garis besar usaha Hartanto dalam mengatasi kelemahan pandanganpandangan yang diangkatnya bisa kita simak dalam pemikiran John Ihde, terutama dalam soal dualitas jiwa dan tubuh dengan pendekatan postfenomenologi.

Kesadaran, dalam perkembangan diskursus ilmuilmu modern, tidak lagi menjadi medan kekuasaan dari ilmuilmu filsafat. Di masa kontemporer, hak paten yang dahulu dimiliki oleh filsafat mengalami liberalisasi yang memungkinkan bagi ilmuilmu lain untuk dipersoalkan. Desakralisasi ini dapat ditemukan pada ilmuilmu semisal psikologi (ilmu kognitif), biologi (neurosains) dan ilmu komputer. 

Dimungkinkannya peluang ilmuilmu kontemporer yang berwatak sains dalam membincang kesadaran, akhirnya menemukan soalsoal yang jauh lebih kompleks dan sophisticated, semisal diskursus tentang artificial intelligence (AI) dan rasionalitas robotis. 

Berkenaan dengan tematema ini, di dalam buku ini oleh Hartanto, dibahas di bawah tema “Tubuh dan Rasionalitas.”

Kesadaran dalam kaitannya dengan AI setidaknya menjadi perbincangan yang problematis. Dalam ulasannya, Hartanto memperlihatkan kemungkinankemungkinan kemajuan teknologi yang merampas otoritas manusia seperti yang dapat disaksikan dalam kisahkisah fiksi sains semisal dalam film HAL 9000SkynetColossus, The Matrix maupun I Robot.

Fenomena kecerdasan yang dapat dicangkokkan ke dalam mesinmesin canggih akhirnya mengalami perdebatan menyangkut makna kecerdasan yang dialami manusia. Terutama dalam makna kesadaran itu sendiri, apakah kesadaran yang dialami oleh mesinmesin sama halnya dengan kesadaran yang dialami oleh manusia? apakah AI dengan kecerdasannya mampu mengerti sebagaimana manusia mengerti? Dan mungkinkah peranperan manusia dapat tergantikan dengan AI? Di dalam pembahsan ini juga, dikemukan kemungkinan mesinmesin yang mampu berpikir selayaknya manusia sebagaimana yang ditampilkan pada permaianan catur.

Dalam diskursus filosofis, kesadaran adalah salah satu syarat dimungkinkannya kebebasan. Maka atas dasar itu,  hal ini juga menjadi soal fundamental mengenai mesinmesin yang memiliki kecerdasan. Fenomena ini menjadi problematis jika kita menerima  asumsi bahwa kesadaran adalah salah satu syarat dari adanya kebebasan. 

Kemajuan teknologi yang saat ini banyak mengubah penampilan dunia, pada akhirnya juga menjadi tema yang turut dibincang dalam isuisu filosofis saat ini. Apatah lagi dalam persentuhan terhadap dunia, manusia banyak menggunakan instrument teknologi dalam setiap aktivitasnya. 

Sebagaimana dikutipkan dalam buku ini, Bambang Sugiharto menyatakan bahwa teknologi saat ini sudah sedemikian inheren dalam diri manusia (hal x, kata pengantar). Sehingga perlu reorientasi yang memadai untuk mengubah secara maknawi dari cara menggunakan alatalat teknologi yang sering kali banyak membawa manusia pada situasi yang teralienasi.

Di bawah tema “Etika Teknologi” yang menjadi bagian terakhir dalam buku ini, pembaca akan disuguhkan pandangan filosofis menyangkut teknologi. Heidegger misalnya, adalah salah satu filsuf yang memberikan perhatian terhadap makna teknologi sebagai moda memproduksi kenyataan yang memiliki dimensi penyingkapan. Sehingga dalam pengertian ini, teknologi menjadi kegiatan refleksi-filosofis yang menjadi bagian dari pengalaman manusia.

Tetapi dari argumentasi demikian, menjadi berbeda apabila hal ini disaksikan dalam kenyataan empiris sekarang. Dari sudut etis misalnya, instrumen teknologi sudah sedemikian rupa banyak berperan sebagai pusat yang menggeser peran subjektivitas manusia. Begitu juga dalam hal kekuasaan, teknologi sudah tampil sebagai kesatuan sistem yang massif dalam hal intensinya terhadap kehidupan manusia. Maka dari sifatnya yang demikian, teknologi sebagai sebuah sistem dan manusia sebagai subjek yang memiliki kedaulatan, dalam hal pengaruhnya terhadap kebudayaan menjadi masalah yang serius dibincangkan dalam bab ini.

Teknologi yang berevolusi bersamaan dengan sains dalam masyarakat pascaindustri, dalam stadium yang minimal, selain sifat progresivnya, dalam sisi yang lain, banyak menyisakan residu yang tak tangungtangung bagi kemanusiaan. Atas dasar ini, banyak pihak terutama agama yang memberikan respon negatif terhadap massifikasi yang inheren dalam teknologi.  Penolakan ini semakin kuat akibat sifat ilmiah dalam sains yang banyak bersentuhan dengan ihwal yang dimata agama adalah sesuatu yang sakral. Oleh karena coraknya yang  ilmiah dan siifat negativitas penemuan sains dan teknologi terhadap halhal yang tabu dalam pemahaman religius, maka agama pada akhirnya harus memasuki medan perbincangan yang selama ini dihindarinya.

Medan sains yang sarat dengan visi saintisme, dalam paradigma agama menjadi hal yang ditolak karena sifatnya yang materialis. Saintisme dalam buku ini dijelaskan sebagai cara pandang yang melihat kenyataan hanya pada batasbatas material-aksidental. Sementara dalam soal kebenaran, saintisme hanya mengakui kaidah ilmiah sebagai satusatunya cara untuk mendapati kebenaran. Dengan karakter demikian, saintisme yang mengendap dalam sains, menuai kritikannya dari pandangan agama.

Kritikan agama terhadap saintisme terutama ditujukan terhadap paradigma sains yang bersifat profan. Dalam pengertian ini, nilai ontologi sains yang menggeser peran tuhan dalam soal epistemik adalah persoalan yang begitu mendasar. Darwinisme misalnya, adalah salah satu alur pemikiran yang dimaksudkan oleh Hartanto di dalam ulasannya pada tema “Agama Mengkritik Saintisme”.

Di dalam ulasan ini, Hartanto turut mengemukakan pandangan filsafat parenial yang memberikan visi berbeda berkenaan dengan sifat sains yang saintis. Filsafat parenial yang umumnya adalah medan yang mampu mempertemukan kebenaran yang terserak oleh wacana dominan, dalam pengertian bahwa kebenaran adalah pengetahuan suci yang dimiliki oleh tradisi pemikiranpemikiran agama, adalah sanggahan terhadap sains yang mengklaim bahwa kebenaran ilmiah juga dimiliki oleh wacana yang bersumber dari tradisi keagamaan dan kebudayaan.

Lebih dari pada itu, sifat kebenaran yang dimiliki oleh visi parenialisme yang transendental, memiliki nilai ontologis yang tinggi jika dibandingkan dengan kebenaran dalam sains. Oleh karena sifatnya yang transedental, maka klaim universalitas mengenai kebenaran yang inheren dalam sains akhirnya digugat dan mulai dipertanyakan. Untuk menjawab soal ini, Hartanto mengangkat pandangan Seyyed Hossein Nasr tentang sains suci yang mensyaratkan keberadaan metode sains yang bersumber dari kebijaksaan agama dan kebudayaan.  

Seperti yang diungkapkan, kritikan terhadap sains juga dikemukakan oleh pandangan yang bersumber dari pemikiran feminisme. Watak sains yang destruktiv adalah pencitraan maskulinitas yang berdampak pada kerusakan ekosistem kehidupan manusia. Pembangunan reaktor nuklir, penggerusan alam, pendirian pabrikpabrik industri, adalah beberapa contoh betapa kemajuan yang ditopang oleh sains banyak merusak tatanan alam kehidupan manusia dengan limbahlimbah industri yang dihasilkan. Tindak sains yang bersifat maskulin dan destruktiv seperti ini, dalam pandangan feminisme ditenggarai oleh paradigma sains yang bersifat bias gender oleh karena dominasi cara berpikir lakilaki.

Sebagai penutup, setelah dibuka dengan prawacana yang menarik dari Alfathri Adlin dalam kata pengantarnya, saya kira juga ditutup dengan nuansa permenungan yang sarat dalam bagian postscrib buku ini. Dalam penutupnya, Hartanto melanjutkan refleksi filosofis yang merupakan lanjutan dari prawacana buku ini. Sehingga ada kontinyuitas antara yang menjadi subtansi dari prawacana dengan yang termaktub dalam penutup buku ini.

Dalam penutupnya, digambarkan ada hubungan yang ambigu antara relasi manusia dengan keberadaan alatalat teknologi. Di dunia empiris, begitu banyak masyarakat yang terbuai dengan eksistensi artefak teknologi. Walaupun dalam pandangan filosofis teknologi sebagai sebuah modus eksistensi dalam mengelola alam adalah suatu cara yang inheren dalam tata hidup manusia, namun teknologi sebagai wujud artefak banyak memberikan dampak serius terhadap kehidupan seharihari.    

Sebagai bagian dari kebudayaan, teknologi yang mulanya adalah teknik untuk  bertahan hidup, secara evolutiv justru menjadi sistem otonom yang berbalik menghancurkan situasi hidup manusia itu sendiri. Teknologi dipandang sebagai perihal yang apriori harus dimiliki, sementara dalam kandungannya teknologi bisa bermakna sebagai alatalat yang mengurung eksistensi manusia. jika demikian maka, keberlangsungan manusia bisa terancam oleh hirukpikuk teknologi sisekitarnya.

Pada akhirnya teknologi dan keberadaan manusia dihadapan sejarah adalah tanda tanya bagi masa depan umat manusia. Dengan semakin canggihnya perkembangan teknologi saat ini, apakah kelak nantinya manusia mampu mengatasi sejarah ataukah sebaliknya, teknologilah yang mengambil peran dalam menentukan jalan dan arah sejarah? Saya kira menyangkut keadaan saat ini, yang hampir segala lini teknologi sudah menjadi hal yang apriori bagi kehidupan manusia, buku ini pantas untuk kita miliki dalam mengisi rutin yang semakin ajeg kita jalani. Setidaknya disaat kita asing di antara dunia yang semakin rumit. []  


30 Desember 2013


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...