16 February 2019

Sadar Diri dan Obrolan Sederhana dari Sebuah Cerpen


GNOTHI SEAUTON. Setelah membaca cerpen ini* kali kedua --semenjak beberapa tahun lalu—saya baru menyadari cerpen ini merefleksikan keadaan masyarakat sekarang, terutama ketika saling bertemu.

Sudah jarang terlihta --dan juga pergaulan diri sendiri--masyarakat sekarang yang saling terbuka satu sama lain ketika berada di dalam komunitasnya. Tapi, jangan dulu komunitas terdekatnya, di dalam keluarga saja sekarang malah seperti tidak saling mengenal. Maksudnya, sudah pasti saling mengenal, saling tahu sesama keluarga inti, namun tidak untuk hal-hal yang personal dan fundamen. Interaksi tetap berjalan, hanya saja tidak saling menjiwai.

Cerpen ini menariknya menawarkan insight yang mesti dipikirkan. Pertama, seperti yang saya bilang di atas, yakni tentang "kedekatan" dengan orang-orang terdekat. Kedua, mengenai keterbukaan. Coba ingat-ingat, kapan terakhir kita ngobrol bersama saribatangta, tentang segala ihwal, tentang ceruk-beruknya kehidupan, yang saling mengerti, saling menguatkan antar keduanya. Ini menyerupai saat kita mendapatkan teman bicara yang menjadi kawan kritis, bicara curhat saling membantu jiwa masing-masing.

Ketiga, kalau tidak ada ditemukan yang saya sebut di atas, bisa jadi teman ngopi Anda hanya sekadar teman semeja. Bukan kawan kritis yang mampu mengajak Anda berbenah diri. Kalau yang seperti ini, berarti pertemanan Anda tidak berkualitas. Ternyata teman Anda cuma selevel kaleng-kaleng.

Belakangan banyak saya menyaksikan orang-orang ketika saling bertemu hanya berkutat di soal politik, pekerjaan, atau masalah perempuan. Tidak pernah sama sekali ada pergaulan yang bebas terbuka tapi seperti saya sebut di atas. Mungkin bisa Anda katakan, "ah tidak juga, mungkin itu hanya perasaan Anda saja. Saya sejauh ini baik-baik, kok." "Saya selama bergaul santai-santai, kok. Tidak usah terlalu serius dipikirkan. Ini hanya dunia, bung."

Tepat. Ini memang  perasaan saya. Dunia sekarang memang selalu dilihat dari aspek rasional dan seperti Barat, materialistik. Tapi, justru karena itu, semuanya hendak diukur, ditimbang, dan dinilai sesuai isi kepala Anda, bukan isi hati Anda. Sederhananya, semuanya mesti berdasarkan asas untung rugi. Itulah sebabnya,  banyak pertemanan hanya sekadar sambil lalu. Kualitas relasinya mentok tanpa bisa lebih dalam lagi. Hanya sekadar kumpul-kumpul belaka.

Di cerpen ii, Puthut EA juga mengisyaratkan satu hal: manusia modern yang dirundung kemendesakan rutinitas mesti sekali-sekali menengok dirinya. Issengi alenu. Begitu sering diingatkan orang tua-orang tua di kampung. Frase ini mengingatkan  saya kepada kuil Apolo di Delphi Yunani yang tertulis di atas gerbangnya: "gnothi seauton" (kenali dirimu).

Kalau di konteks masyarakat Yunani, frase ini berarti tahulah dirimu di hadapan dewa-dewa. Engkau mahluk terbatas yang mesti menghormati dewa-dewa. Jangan sekali-kali melawan takdirmu sebagai manusia fana.

Tapi, untuk konteks sekarang, perkataan ini lebih kurang sama dengan arti di atas. Kita mesti tahu diri. Siapa dan apakah kita ini sebenarnya.

Malangnya, selama kita tidak tahu diri, sering berdiskusiki menjadi ajang saling serang. Seolah-olah Anda adalah satu-satunya yang benar. Kalau sudah begini, sudah tidak patut dibilang obrolan, tapi kampanye.

Omong-omong, hanya itu yang ingin saya katakan.

--

* Cerpen berjudul Obrolan Sederhana Karangan Puthut EA dalam bukunya Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, terbitan Insist Press

10 February 2019

Taste of Cherry: Memaknai Kehidupan Melalui Kematian


TASTE OF CHERRY. Taste of Cherry (1997) adalah film yang lurus nan monoton. Jalan ceritanya bahkan lambat. Tapi di balik itu, tidak ada adegan yang sia-sia dari film besutan Abbas Kiarostami ini.

Melalui tangan dingin Kiarostami, film ini justru menjadi medan enigmatik. Di sana-sini, di antara ruang kosong dialog-dialognya, Kiarostami malah memberikan banyak kesempatan berpikir. Ia seolah-olah memaksa penonton menjadi filsuf. Menerka-nerka, bertanya-tanya, dan mencari sekaligus menemukan sendiri jawaban melalui dialog-dialog panjang tokoh-tokohnya.

Berkat itu, keunggulan film ini sekaligus mempertegas tidak mendasarkan dirinya kepada alur plot yang rumit. Bukan melalui figur pemeran yang bermain, atau bahkan teknologi sinematografi canggih --yang jarang ditemukan pada film-film Iran. Melainkan kepada bobot isinya yang cenderung mendekati filosofis.

Salah satu tema filsafat sampai sekarang masih menyisakan banyak pertanyaan adalah persoalan hubungan takdir manusia dan perbuatan Tuhan. Selain itu, tema kematian juga merupakan salah satu kamar tertutup dalam filsafat yang belum banyak tersibak jawaban.

Di antara dua tema besar manusia itulah Taste of Cherry mendudukkan posisinya.

Adegan pembuka langsung disuguhi seorang pria diketahui bernama Badii. Ia sedang mengendarai mobil berkeliling di pinggiran Tehran. Rambutnya bergelombang nampak tebal. Raut mukanya seperti menunjukkan sedang mencari-cari sesuatu --atau seseorang.

Tidak lama ia menghendaki seseorang dapat membantunya. Itulah sebabnya ia berkeliling mondar mandir menawarkan satu pekerjaan bagi siapa saja yang bersedia. Syaratnya ia memilih seseorang yang tengah sendiri, kemudian mengajaknya kepada suatu tempat yang sudah ia siapkan.

Di tengah bukit-bukit tandus yang lapang --yang juga lokasi tambang semen, dengan jalan tanah berkelok-kelok berdebu, ia telah menyiapkan satu galian lubang di bawah sebatang kara pohon kering yang ringkih.

Jika ada yang bersedia, di pukul 6 pagi ia meminta seseorang menutup lubang yang dibuatnya. Di situ ketika malam tiba, ia bakal menguburkan dirinya. Mati seorang diri.

Ya, Taste of Cherry seluruhnya bercerita tentang seseorang yang ingin bunuh diri. Lebih tepatnya, mendekati kecenderungan seseorang yang ingin menggenapkan takdir Tuhan. Walaupun di situ, akan kelihatan soal yang sebenarnya: bagaimanakah cara paling pantas mengahadapi ajal? Mestikah ia ditunggu, atau sebaliknya datang menjemputnya?

Dengan telaten pertanyaan ini terus mengintervensi benak penonton. Ia menjadi background dari keseluruhan jalan cerita Taste of Cherry yang diperagakan lambat dan pelan-pelan.

Hanya dengan cara itu, saya mengira film ini tidak akan dipahami dengan cara fatalis, yakni hanya berkutat pada ide klasik bunuh diri tanpa mengikutkan apa motif dan tujuan di balik kecenderungan yang ganjil ini.

Barangkali karena itu, selama Badii, figur utama film ini, menguak maksudnya kepada orang-orang yang berhasil diajaknya, tidak pernah sekalipun menjelaskan detil sebabnya mengapa ia ingin bunuh diri.

Untuk situasi ini, adegan lambat yang mengambang dan cenderung bertele-tele, bahkan menjadi pemegang kendali bertahan tidaknya penonton hingga detik terakhir film.

Dengan kata lain, karena tidak jelasnya motif dasar mengapa Badii ingin mengakhiri hidupnya, membuat orang semakin penasaran, dan menunggunya membuka sendiri apa alasan di balik keinginannya bunuh diri.

Walaupun demikian, urusan mengakhiri hidup bagi Badii tidaklah sederhana. Ia mesti memberikan alasan kuat bagi orang agar bersedia menguburkannya. Biar bagaimanapun tidak ada yang bakal mau membantunya. Walaupun ia sudah menyiapkan imbalan untuk itu.

Pria pertama yang ia mintai bantuan adalah seorang tentara muda, yang kemudian berhasil melarikan diri setelah diberitahukan apa yang harus ia kerjakan. Ia takut, pertama karena, melihat Badii sebagai sosok yang aneh dan mencurigakan. Kedua, urusannya bakal runyam mengingat pekerjaan mengubur seseorang adalah perkara moral yang berat.

Pria kedua adalah seorang pelajar hawzah yang juga seorang buruh kasar dari Afghanistan. Ia juga menolak ide bunuh diri Badii setelah berdialog cukup panjang sambil menyitir hadis dan ayat-ayat al Quran. Dari perspektif pelajar ini, menyakiti tubuh dengan bunuh diri pantangan besar dalam agama. Bunuh diri, sama halnya tidak bersyukur dengan nikmat Tuhan. Bahkan, siapa yang rela mengakhiri nikmat Tuhan?

Yang terakhir adalah seorang tua bernama Bagheri. Ia biolog yang berkerja sebagai pengajar. Ia bersedia membantu Badii dengan alasan imbalannya dapat membantu anaknya yang sedang sakit.
Melalui Bagheri inilah harapan terakhir Badii merealisasikan keinginannya --yang tidak bakal diketahui lantaran film hanya menyisakan tanda tanya apakah ia akan pergi atau tidak mengubur Badii.

Bobot besar dari film ini adalah tarik ulur antara keinginan Badii bunuh diri dengan orang-orang yang diajak membantunya. Banyak momen puitik melalui dialog Badii terutama dengan dua orang terakhir yang ditemuinya. Kedua-keduanya ibarat menjadi sisi antitesis bagi Badii untuk mempertanyakan ulang niat bunuh dirinya.

Dengan teknik pengambilan gambar dari jauh yang hanya memperlihatkan mobil kecil yang meliuk-liuk di bukit luas, beserta sambil berjalannya dialog, menunjukkan teknik Kiarostami memperluas daya jangkau masalah yang dihadapi Badii juga dapat ikut menjadi problem kontemplatif penonton.

Adegan demi adegan yang dilatari perjalanan menanjak-menurun dan berkelok-kelok berdebu bahkan memberikan kesan metafor yang menggambarkan betapa rumitnya pergulatan yang dihadapi Badii.

Secara khusus film ini akan jauh lebih kaya jika memasukkan unsur-unsur teoritik semisal teori bunuh diri Emile Durkheim, untuk mengelaborasi kemungkinan sebab Badii bunuh diri. Apakah ada anomali dalam struktur kehidupannya --yang sangat tipis akan kelihatan karena tidak ada satu petunjuk pun entah melalui adegan atau dialog yang dipaparkan Badii (walaupun ia sempat menyebut karena tidak bahagia).

Dari sisi tujuan hidup yang segera ingin dicapainya melalui bunuh diri, dapat ditelusuri melalui cara pandang Martin Heidegger, filsuf eksistensialis, menyangkut faktisitas (kematian). Apakah ada kecenderungan "angst" (kecemasan/pribadi cemas) dari Baddi sehingga dapat dilekatkan template Heideggerian.

Yang terakhir dari perspektif filsafat nihilistik Albert Camus. Mungkinkah keseluruhan film ini sangat berbau Camus. Karena di adegan akhir tidak ada sama sekali kepastian apakah Badii walaupun setelah menenggak pil dan pergi menidurkan dirinya di dalam lubang, berakhir kematian. Justru adegan terakhir ditutup dengan langit yang berubah mendung dan gelap kilat menimbul-tenggelamkan wajah Badii yang menatap langit hitam.

Saya kira ketiga pendekatan ini dapat membantu memahami kedalaman film besutan Abbas Kiarostami ini, sineas pertama Iran yang berhasil meraih Oscar beberapa tahun lalu.

Film ini walaupun ada yang menyebutkan bukan tipe untuk semua orang, dengan alur cerita yang sederhana justru membuat semua yang menontonnya dapat tersentak kembali memikirkan hal paling dasariah dari kehidupan ini: takdir kematian.

Data film:
Tahun rilis: Mei 1997
Genre: Drama
Durasi: 95 Menit
Sutradara: Abbas Kiarostami
Aktor: Homayoun Ershadi, Abdolrahman Bagheri, Afshin Khorshid Bakhtiari, Safar Ali Moradi
Negara: Iran