13 December 2018

Banu di antara cerpen-cerpen Eka Kurniawan


Agak aneh merasakan sensasi membacakan cerpen kepada bayi yang belum genap empat bulan. Pengalaman ini saya alami langsung ketika sudah empat hari berturut-berturut membacakan Banu cerpen-cerpen karangan Eka Kurniawan.

Cerpen-cerpen itu saya comot bebas begitu saja dari rak buku. Kebetulan Corat-Coret di Toilet-lah yang pertama kali digapai tangan saya. Walaupun jauh di alam bawah sadar, nama Eka Kurniawan sudah menjadi canon sastra kiwari. Ini tidak lebih dari betapa –sadar tidak sadar- karangan Eka Kurniawan, terutama Cantik Itu Luka, sedikit banyak mengubah persepsi saya tentang –khususnya- moralitas manusia.

Seperti diketahui Cantik Itu Luka adalah karangan yang kompleks meriwayatkan sejarah Indonesia mulai masa penjajahan sampai rezim orde baru. Dengan menggunakan berbagai macam teknik canggih –menginovasikan teknik tutur lisan, peristiwa sejarah politik, cerita-cerita rakyat, realisme magis, dan permainan plot yang sulit diterka— karangan  ini menyuguhkan kisah generasi satu keluarga saat melalui berbagai peristiwa politik, masa kolonialisme yang panjang dan kemerdekaan dari negeri yang bernama Halimunda.

Uniknya, kisah ini bermula dan bertumpu dari sosok seorang perempuan dan diakhiri pula oleh nasib seorang perempuan. Melalui kisah dari perempuan dan berakhir kepada perempuan itulah banyak tokoh-tokoh unik dan aneh yang berhasil mencerminkan betapa kebaikan dan keburukan bukanlah sesuatu yang ajeg dan dapat dikukuhkan fix oleh suatu rezim kekuasaan.

Bahkan, bercerita tentang suatu peristiwa sejarah, novel ini sangat berhasil menyusupkan sejenis premis ke dalam benak pembacanya bahwa kebenaran sejarah bukanlah ayat-ayat suci sebagaimana diciptakan Tuhan. Sejarah adalah rekam jejak kekecewaan dan harapan manusia, yang dengan kata lain, karena sifatnya yang demikian sangat wajar untuk dibicarakan dan dikritisi.

Dengan kata lain, sejarah adalah sejarah:  ia berasal dari bawah kaki dan dikerjakan tangan manusia, dan karena itu adalah sangat mungkin untuk diubah, dibangun, direncanakan dan diperjuangkan sama-sama.

Kembali ke soal anak saya, Banu. Barangkali memang bukan waktunya untuk Banu mendengarkan cerita-cerita yang sejak semula tidak pernah dibayangkan penulisnya diceritakan untuk seorang bayi. Untuk anak-anak saja tidak apalagi bagi seorag bayi.

Makanya hal ini membuat saya berspekulasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah ada pengaruh signifikan bagi Banu ketika dibacakan cerpen-cerpen seperti karangan Eka –ini juga berlaku bagi karangan sastrawan  lain.  Jika ada, dalam bentuk apa pengaruh itu dapat dilihat? Bagaimana cara mengenalinya? Dan di saat kapan pengaruh itu dapat diidentifikasi?
 
Belum lagi jika pengaruh itu melibatkan unsur penilaian  baik-buruk di dalamnya. Apakah membacakan cerpen itu baik bagi perkembangan pikiran Banu, kejiwaannya? Jika baik, seperti apa kebaikan itu dialami bagi Banu? Lantas kalau malah sebaliknya, sedemikian burukkah efek yang bakal ditimbulkan dari kebiasaan ini? Apakah buruk bagi Banu berarti akan berdampak fatal bagi perkembangan kejiwaannya?

Dari pertanyaan spekulatif itu membawa saya kepada satu keadaan. Saya sesungguhnya sedang terjebak dalam eksperimen sederhana. Dan kelinci percobaanya adalah Banu, anak saya sendiri –maafkan saya bapakmu ini, nak.

Mungkin saja telah banyak penelitian yang berhasil mengungkapkan dampak dari seperti yang saya lakukan. Bahkan, di negara-negara maju konon sejak awal anak-anak sudah diakrabkan dengan cerita maupun kisah berupa legenda, sejarah, fabel, biografi, cerita anak, teka-teki, folk klor, mitos-mitos, dan karangan sastrawan kanon agar ikut membentuk kepribadian sang anak.

Beberapa waktu lampau, ketika salah satu stasiun televisi menayangkan perlombaan dai cilik, saya tertegun melihat anak-anak kecil yang belum berusia di atas lima tahun sudah mampu menghapal sejumlah juz Al Quran. Ketika orang tuanya ditanya kenapa hal itu bisa terjadi, mereka menjawab ketika masih dalam kandungan setiap subuh sang anak sudah dibaca-dengarkan Al Quran.

Itulah mengapa ketika sang anak dituntun menghapal ayat-ayat suci Al Quran, dengan mudah kebiasaan yang sudah rutin dilakukan ketika janin masih seukuran buah belimbing, banyak membantu daya ingat anak-anak mereka. Dengan gampang, di acara itu si orang tua  tanpa banyak kesulitan menjelaskan bahwa sebenarnya ini hanya soal kebiasaan saja.

Saat mendengar penuturan itu Banu masih berusia sekitar lima bulanan. Diusia seperti itu, Banu masih sebesar buah mangga. Segera hal yang sama juga ingin saya lakukan. Tapi sial, menyadari kebiasaan buruk mengenai tradisi membaca Al Quran, hal itu buru-buru layu sebelum berkembang. Praktis hanya berhenti menjadi niat belaka.

Lantaran memang Banu bukan disiapkan demi acara dai cilik, kebiasaan mendengarkan Al Quran saya serahkan diambil alih ibunya saja.

Dengan rasa bersalah bukan menjadi ayah yang demikian relijius, dan hanya mampu bermodalkan surah-surah pendek, kegiatan memperdengarkan Banu dengan hal-hal baik saya tukar dengan membacakannya cerpen-cerpen di saat ini.

Tapi sampai di sini hal-hal ganjil mulai bermunculan. Terutama ketika itu berhubungan dengan tema cerita pendek Eka. Cerpen pertama yang saya bacakan kepada Banu adalah Corat-Coret di Toilet: cerpen yang demikian mengasyikkan menceritakan nasib toilet yang menjadi panggung aspirasi. Alih-alih melihat toilet sebagai ruang marginal, cerpen ini  malah mengambil sisi lain dari dinding toilet.

Melalui toilet itu dengan dari mahasiswa yang beragam latar belakang pilihan politiknya –dari kiri, punk, mahasiswa hedonis, ayam kampus, sampai mahasiswa pro orba—membuat dinding toilet menjadi arena aspirasi, kritikan, kekecewaan, harapan, celetuk nyeleneh terhadap rezim orba saat itu yang dikenal otoriter dan kejam.

Ditulis menggunakan spidol, arang, bulpen, dan bahkan lipstik komentar-komentar yang menyerempet kekuasaan di dinding itu menyerupai wahana politik di gedung parlemen. Tanpa di sadari, di ruang gelap toilet, demokrasi malah demikian tegak dan tanpa sensor.

Uniknya walaupun coretan di dinding toilet itu ditulis oleh orang-orang yang tidak saling ketemu dan tidak saling kenal, tetap saja mereka diikat dalam satu rangkaian wacana yang mengundang komentar satu sama lain demikian panjang memenuhi dinding toilet.

Jika melihat konteks gerakan reformasi 98, nampaknya kejadian berbalas komentar di toilet dalam cerpen ini seolah-olah menunjukkan bagaimana bekerjanya wacana penumbangan orba sebelum peristiwa 98 yang semula saling terserak, terpencar, dan hanya mengemuka di ruang-ruang sempit di luar jangkauan intel-intel orba, akhirnya berhasil menjadi kumpulan tekad dan gagasan yang searah dan padu yang berhasil menjatuhkan kekuasaan 3 dekade lamanya
 
Bagi siapa saja yang membaca cerpen ini pasti menangkap aroma politik dan subversif di dalamnya. Malah terasa kental dan demikian telanjang.
 
Itulah sebabnya, menyadari hal ini, yang ganjil tadi itu menyadarkan saya apakah faedahnya bagi Banu "mendengar" cerita yang lumayan tebal unsur politiknya. "Kesadaran" macam apa yang hinggap dalam "pemahamannya"? Mengingat ia belum mengerti apa-apa, semakin aneh melihat dampaknya ke depan kelak ketika ia dewasa dari endapan cerita politik yang pernah di "dengarnya"?

Saya tahu Banu belum mampu melakukan itu semua, tapi ini demikian menyenangkan bagi kami berdua.

Di sisi lain secara bersamaan, sebaliknya, cerpen yang saya bacakan ini ikut andil membentuk ulang pemahaman mengenai sisi-sisi yang belum saya temukan ketika pertama kali membacanya.

Berturut-turut secara acak saya membacakan juga Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, dan Rayuan Dusta untuk Marietje. Dari judulnya saja tiga cerpen ini sudah sangat tidak selaras diperdengarkan bagi anak-anak apalagi bayi.

Singkatnya, Peter Pan bercerita tentang seorang gadis  bernama Tuan Putri yang memiliki kekasih aktivis berhaluan kiri. Kekasihnya ini memiliki kebiasaan mencuri ribuan buku dari mana saja dan menyukai menyebarkan selebaran berbau provokatif. Ia juga seorang penyair yang sering mengkritik pemerintah melalui puisinya. Peter Pan demikian ia akhirnya diringkus dan hilang tanpa diketahui di mana ia berada. Sang Tuan Putri akhirnya hanya menikahi sang aktivis dengan diwakili puisi-puisinya.

Kisah Dongeng Sebelum Bercinta menyerupai kisah 1001 malam. Diceritakan Alamanda di tiap malam berhasil menunda percintaan dengan suaminya dengan cara mendongengkan Alice Adventures in Wonderland. Ia menikah setelah dijodohkan orang tuanya. Sebelum cerita berakhir mereka bersepakat tak akan memulai malam pertamanya. Akibat itu sang suami sering merasa dongkol dan mengalami mimpi basah lantaran tak mampu menahan hasrat bercintanya. Tanpa disadari sang suami, kelakuan Alamanda menunda percintaan melalui berdongeng adalah strategi mengulur waktu demi menyembunyikan satu fakta sederhana: Alamanda tidak lagi perawan setelah melalui malam-malam panas dengan mantannya.

Sementara Rayuan Dusta untuk Maritje merupakan cerita berseting awal abad 19 di tanah Hindia Belanda. Kala itu pendudukan bangsa Belanda di Hindia Belanda banyak diikuti pemuda-pemuda lajang sebagai pasukannya. Mereka rela berpergian jauh sampai ke tanah Nusantara bukan saja dimotivasi untuk perang, tapi juga sekadar mencari pekerjaan setelah tersiar kabar berlimpahnya hasil-hasil bumi di tanah jajahan.

Di dalam keadaan inilah tokoh Aku sebagai pasukan yang ingin hidup berpasangan di tanah jajahan terdorong mengajak kekasihnya untuk menyusulnya. Uniknya sang Aku tidak ingin mencari pasangan dari gadis pribumi yang dinilainya rendahan dan barbar. Sang Aku ingin mempertahankan kemurnian rasnya dengan cara memiliki pasangan yang juga berbangsa sama.
  
Akhirnya suatu waktu lewat surat rayuan datanglah kekasih sang Aku dari jauh dari tanah Belanda. Namun apa daya, seperti dijanjikan negeri yang kaya raya itu malah sedang berkecamuk perang. Bukan negeri tenang dengan kemakmuran tiada tara. Di balik itu, bukannya demi negaranya apalagi sang ratu Belanda, si aku berperang terlebih karena motif kekasihnya. Ia berperang demi perempuan.

Ketiga cerita belakangan memiliki suara  yang hampir mirip, sama-sama menyuarakan betapa runyamnya yang namanya kebebasan. Kebebasan betapa pun ia adalah hak dasar dan inheren dalam setiap jiwa manusia. Kebebasan akan mudah hilang jika tidak memiliki keberanian menjaganya. 

Itulah sebabnya, kebebasan yang direnggut dari tangan sendiri dan tanpa perlawanan disebut sebagai penindasan. Di masing-masing cerita di atas premis ini ditunjukkan secara tersembunyi, tapi justru malah mudah merasakannya karena pengalaman serupa adalah pengalaman yang dialami bangsa sendiri.
 
Dengan isu berat itu, saya hanya membacakannya tanpa henti tanpa menunggu Banu memintanya. Apalagi mengintrupsinya untuk berhenti. Dengan kata lain, aktivitas ini sedikit banyak bukan berarti demi Banu semata, namun juga kenikmatan bagi saya ketika menyarikannya untuk diri pribadi.

Sering saya mengatakan setiap laki-laki itu memiliki dua perempuan yang dibenci dan disukainya sekaligus. Perempuan pertama adalah perempuan ideal di setiap benak laki-laki. Perempuan ini sering banyak mengisi imajinasi laki-laki untuk melihat perempuan kedua, yakni perempuan kongkrit yang ada di hadapan si laki-laki. 

Jika perempuan kekasih si laki-laki yang ada di hadapannya itu jelek maka ia membencinya melalui kaca mata perempuan ideal dalam benaknya. Sebaliknya jika rupawan, maka ia sesungguhnya sedang mencintai dua perempuan sekakigus.

Sebagaimana perempuan, di mata seorang laki-laki, terutama ketika telah menjadi seorang ayah, ia sesungguhnya sedang berhadapan dengan dua anak sekaligus. Anak pertama adalah anak biologis yang dilahirkannya melalui rahim perempuan istrinya, dan yang kedua adalah sang anak dalam rahim benak sang bapak. Anak dalam benak sang bapak setiap kali adalah idealisasi dari semangat, harapan, nilai, gagasan, dan cita-cita yang berkaitan dengan masa depan sang anak. Walaupun demikian, kadang, anak yang kedua, tidak pernah akan lahir dan mati begitu saja seiring berkembangnya sang anak biologis lantaran dibiarkan begitu saja.

Tapi ada juga ketika sang anak dalam benak dilahirkan, dirawat dan dibesarkan melalui tubuh anak biologis. Di saat ini, dengan kata lain, sang anak biologis dilihat dari anak dalam benak sang ayah. Dengan kata lain lagi,  si anak biologis tumbuh berkembang dibesarkan dalam terang semangat, cita-cita dan harapan sang anak ideal, anak dalam benak sang ayah.

Syahdan, seperti anak-anak lainnya, Banu adalah suatu proses panjang menyangkut dialog, tarik ulur, negoisasi, tawar-menawar, dan bahkan kompromi antara saya (tentu juga ibunya) dan dirinya sendiri dalam hal membesarkan anak. Proses ini akan banyak melibatkan energi dan pemahaman, dan seiring waktu akan tiba saatnya semua itu menunjukkan hasil. Suatu perjudian besar memang.  

09 December 2018

Robinson Crusoe dan Kehidupan Liar di Pulau Harapan


KEHIDUPAN LIAR. Semalam, dengan terengah-engah, saya baru saja menyelesaikan novel klasik karangan Michael Tournier: Kehidupan Liar. Pasca itu saya berusaha menuliskan apa saja yang bisa saya ungkap dari novel yang mengasyikkan ini. Walaupun begitu, tulisan yang saya bikin belum rampung juga. Karena diserang kantuk, draf yang baru dua halaman itu saya simpan belaka untuk nanti dilanjutkan kembali.

Kehidupan Liar becerita tentang Robinson Crusoe, seorang pria yang terdampar di pulau tak berpenghuni akibat kapal yang ditumpanginya karam dihantam gugusan batu karang di sekitar perairan Chili.

Selama tiga puluh tahun --sesuatu yang tidak diketahuinya-- ia bersama Vendredi, pria keturunan suku Indian yang diselamatkan Robinson dari upacara pengorbanan kematian, menjalani cara hidup yang demikian asing dari peradaban manusia ---saat itu abad 18.

Robinson awal mula menghadapi banyak masalah di hari-hari pertama di pulau itu. Hal paling pertama dipikirkannya adalah bagaimana cara meninggalkan pulau yang tak dikenalinya itu.

Setelah gagal menurunkan perahu di perairan yang dibuatnya (ia membuatnya jauh dari bibir pantai --sesuatu yang tidak pernah dilakukan pelaut mana pun), ia mengalami depresi berat lantaran berpikir akan terkurung sendirian tanpa bekal apa-apa dalam waktu yang lama.

Di titik ini Tournier dengan piawainya menggambarkan keadaan jiwa Robinson yang kalah dengan nasibnya itu (bayangkan jika Anda adalah Robinson terjebak dan mengetahui tidak akan mampu keluar lagi dari pulau asing itu).

Pertama-tama Robinson cukup yakin dengan keputusannya dapat membuatnya keluar dari pulau itu dengan membuat perahu. Berhari-hari dengan keyakinan yang sama, dengan peralatan sederhana, ia menghabiskan seluruh energi dan upayanya agar perahu itu dapat rampung.

Namun, setelah perahu itu jadi, betapa kagetnya ia ketika menyadari perahu yang dibuatnya dibikin jauh dari bibir pantai (ini semua karena Robinson mengikuti kisah Nabi Nuh yang ia baca di dalam injil yang ditemukannya di dalam bangkai kapal La Virginie kapal yang ditumpanginya sebelumnya --Nabi Nuh tidak perlu membawa perahunya sampai ke pantai. Cukup ia menunggu banjir bandang seperti dijanjikan Tuhan kepadanya).

Dengan mengandalkan sisa-sisa semangat yang masih ada, Robinson mengganjal kayu gelondongan di bawah perut perahu dan berusaha mendorongnya sampai ke pinggir pantai. Walaupun begitu apa daya, perahu yang beratnya 500 kg itu tidak bergeser sama sekali.

Tak habis akal Robinson membuat parit dari bibir pantai hingga ke lokasi perahu itu berada. Ia menggali dan menggali. Setelah mengkalkulasi lamanya waktu untuk pekerjaan itu, ia akan menghabiskan waktu puluhan tahun hanya untuk sebuah parit. Suatu pekerjaan yang sia-sia belaka.

Setelah semua usaha itu hancur total Robinson diserang keputusasaan. Robinson yang semula bersemangat pada akhirnya mengalami gangguan jiwa --gangguan jiwa dalam arti kehilangan pegangan, kekecewaan yang sangat sehingga menerima hidup dengan apa adanya tanpa ada usaha sedikit pun untuk memperjuangkannya (mati enggan hidup pun segan).

Sampai akhirnya di suatu waktu setelah lama bermalas-malasan berendam di dalam kubangan lumpur seperti babi-babi yang dilihatnya dan terserang halusinasi, Robinson mengalami kesadaran baru: ia enggan mati di pulau itu, tapi tidak mungkin juga dapat pergi dari pulau itu. Dengan kata lain ia mesti bekerja, bangkit dan menentukan nasibnya sendiri.

Perkembangan jiwa yang merekah ibarat kuncup bunga di pagi hari membuat Robinson berusaha berdamai dengan pulau itu. Kehidupan liar nan asing yang awalnya ingin ditinggalkannya ia terima apa adanya. Seolah-olah ia diciptakan untuk pulau ini dan Robinson-lah yang diamanahkan untuk merawatnya.

Maka mulai lah Robinson membangun benteng pertahanan, menetapkan lokasi-lokasi sumber makanan, bercocok tanam dan beternak kambing-kambing hutan yang banyak ditemukan di pulau itu.

Dengan cara itu semua Robinson mengangkat dirinya sebagai gubernur pulau itu dan menjadikan setiap tumbuhan adalah penduduknya yang setiap hari diajaknya berbicara. Ia kemudian menetapkan aturan semacam undang-undang bagi seluruh pulau itu. Dan, membuat seragam khusus gubernur untuk dikenakan saat ia berkeliling mengecek pulau itu.

Dengan aktivitasnya itu pulau itu ia beri nama Speranza, yang berarti harapan.

Lumayan lama Robinson hidup seorang diri di Pulau Speranza. Sampai ketika ia menyelamatkan Vendredi, pria suku Indian yang kabur dari upaya upacara pengorbanan.

Saat itu Vendredi datang bersama beberapa anggota sukunya beserta seorang dukun. Pulau itu ternyata disinggahi untuk melakukan ritual pembunuhan bagi tersangka yang dianggap sebagai sumber masalah di sukunya. Dipimpin oleh dukun Vendredi ditunjuk tiba-tiba sebagai salah satu tersangka yang baru diketahui setelah sang dukun membaca mantra. Mengetahui hal itu Vendredi berusaha kabur masuk di hutan.

Ternyata kejadian itu diintai Robinson di balik semak-semak. Ia bersembunyi agar mereka tak tahu bahwa pulau yang mereka singgahi ditinggali Robinson. Tak dinyana Vendredi berlari menuju tempat Robinson bersembunyi. Agar tidak sampai ketahuan Robinson menembak dua Indian yang mengejar Vendredi. Vendredi selamat, dan orang Indian yang tersisa memilih kabur lantaran takut.

Sejak itu karena hutang budi --ini benar-benar berhutang karena "budi" kemanusiaan-- Robinson yang telah menyelamatkan nyawanya membuat Vendredi menjadi pembantu Robinson di pulau itu.

Yang menarik bagi saya adalah --selain karakter Vendredi yang menonjol-- semenjak Vendredi diajarkan bahasa Inggris oleh Robinson untuk berkomunikasi, banyak terjadi perubahan bukan saja di dalam diri Vendredi, tapi juga Robinson sendiri.

Cukup unik melihat tarik-menarik antara Robinson dan Vendredi ketika ditinjau dari kebudayaan. Awalnya Vendredi diajarkan banyak hal mengenai aturan hidup yang dibuat Robinson selama tinggal di Speranza. Vendredi menjadi pribadi penurut lantaran nyawanya pernah diselamatkan Robinson.

Sehari-hari Vendredi berkomunikasi dengan bahasa tuannya, yakni Robinson itu sendiri. Bekerja atas inisiatif Robinson. Dan diupah Robinson dengan emas-emas yang sebelumnya berhasil diselamatkan Robinson dari La Virginie. Singkatnya apa pun yang dilakukan Vendredi tidak otentik menunjukkan kemauannya sendiri. Semuanya atas perintah Robinson.

Dengan kata lain, di pulau itu seperti apa pun terasingnya mereka berdua dari peradaban di luarnya, tetap saja ada hubungan kuasa di antaranya. Dalam hal ini Robinson dengan sisa-sisa kebudayaan kulit putihnya, yang menentukan cara hidup Vendredi, dengan Vendredi itu sendiri sebagai bagian dari penduduk kulit berwarna.

Yang tak jauh kala menarik adalah pembalikan relasi di antara keduanya. Momen ini ditandai saat Vendredi tanpa sengaja meluluhlantakkan pulau Speranza berkat pipa rokok yang menyulut nyala mesiu hingga meledak. Ledakan itu menghancurkan seluruh kehidupan yang sudah dibangun Robinson. Seluruhnya rata dengan tanah, termasuk harta simpanan yang Robinson simpan di ceruk gua-gua.

Peristiwa itu ibarat revolusi sosial --saya beranggapan ini sisipan Tournier tentang konsep revolusi yang memformat ulang seluruh sendi-sendi kehidupan-- yang memperbaharui hubungan Robinson dan Vendredi termasuk konsekuensi-konsekuensinya dari itu semua.

Semenjak itu keadaan berubah total. Tidak ada lagi siapa tuan siap pelayan. Ledakan itu merelatifkan dominasi Robinson sehingga hubungannya terhadap Vendredi jauh lebih setara. Ledakan itu juga mengubah cara mereka berdua mengelola pulau itu. Tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan yang perlu dikerjakan Vendredi karena disuruh Robinson.

Dengan kata lain, keadaan pasca ledakan itu membuat keduanya hidup bebas menentukan apa pun yang mereka sukai.

Vendredi, setelah ledakan menjadi orang bebas. Bahkan dalam keadaan itu identitas kesukuannya banyak memberikan pemahaman baru kepada Robinson. Dalam keadaan ini justru sebaliknya, banyak hal-hal baru diajarkan Vendredi kepada Robinson dari pengalaman hidupnya selama menjadi bagian dari suku Indian.

Misalkan saja, Vendredi mengajarkan pengetahuan kuliner kepada Robinson, sesuatu yang tidak ia temukan dalam hidup orang-orang Eropa. Bagaimana membuat burung bakar tanpa repot-repot mencabuti bulunya dengan membakarnya setelah digulung menggunakan lumpur basah. Bagaimana memanfaatkan getah tanaman manis untuk membuat gula cair dan karamel. Bagaimana membuat makanan kaya rasa dengan mencampur buah-buahan yang berlainan rasa...

Robinson juga ditunjukkan cara membuat panah unik dari batang pohon yang menjadi mainan bagi Vendredi. Cara membuat busurnya, dengan apa ekornya dibuat, dan menggunakan bahan apa untuk membuat mata anak panah agar memiliki laju yang baik ketika di udara...

Di lain waktu dengan memanfaatkan tulang-tulang kambing, Vendredi berhasil membuat takjub Robinson ketika menciptakan alat musik menyerupai harpa. Dan yang tak kalah uniknya berkat kulit kambing yang dikeringkan, Vendredi membuat layang-layang yang dapat diterbangkan untuk memancing ikan.

Singkatnya, Vendredi yang hidup bebas banyak memberikan pengaruh balikan kepada Robinson. Awalnya, Vendredi banyak melakukan hal-hal tetek bengek dari kacamata Robinson, seorang Eropa kulit putih. Namun setelah sederajat, Vendredi-lah yang banyak memberikan hal-hal baru kepada Robinson.

Di titik itu, seolah-olah Tournier sedang mengemukakan suatu keadaan sejati manusia ketika sama-sama menjunjung kesetaraan. Sama-sama hidup bebas tanpa kekangan yang memberikan peluang satu sama lain dapat belajar dan bertukar pemahaman demi mengangakat kehidupan masing-masing.

Tournier dengan kata lain, menurut saya sedang berbicara tentang dialog kebudayaan. Sesuatu yang harus banyak dilakukan di kiwari ini.

Sesungguhnya Kehidupan Liar adalah versi lain dari karangan yang pernah ditulis Daniel Defoe dengan tokoh yang sama (kisah Robinson Crusoe juga pernah diangkat menjadi film). Hanya saja versi Tournier tidak seperti karangan Defoe yang menitikberatkan kisahnya kepada penemuan-penemuan unik Robinson Crusoe selama hidup terasing di dalam pulau.

Melalui sosok Vendredi, Tournier mengambil sisi kejiwaan Robinson selama menghadapi kehidupan asing yang terputus dari dunia luar. Tournier juga menonjolkan sosok Vendredi sendiri sebagai tokoh yang demikian menonjol berkat pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah diketahui Robinson.

Kehidupan Liar versi Tournier juga memiliki ending berbeda dari kisah yang sama. Dikisahkan Robinson bukannya malah memilih keluar meninggalkan Speranza setelah tanpa sengaja sebuah kapal Inggris singgah di pulau itu ---setelah tiga puluh tahun.

Setelah untuk pertama kalinya berinteraksi dengan orang-orang yang diwakili awak-awak kapal yang berperingai buruk selama singgah di Speranza, Robinson meyakini peradaban masyarakatnya bukanlah tipe kehidupan yang diidealkannya. Ia lebih memilih hidup dengan jiwa yang bebas di pulau itu.

Bagaimana dengan Vendredi? Vendredi berkebalikan dengan Robinson. Ia memilih ikut pulang ke dalam kapal meninggalkan Robinson dengan cara melarikan diri di malam hari ketika Robinson sedang tertidur pulas.