Saturday, August 18, 2018 in ,

The Motive: Cara Busuk Menjadi Penulis

Jika Anda ingin menjadi penulis dengan cara picik, saya sarankan bergegas menonton film besutan Manuel Martín Cuenca ini. Film ini menyediakan trik busuk sekaligus “berbahaya” ketika Anda tidak punya ide apa-apa.

Rumusnya sederhana: cukup menulis setiap kejadian dari apa saja yang Anda lihat dan dengarkan di sekitar Anda. Lalu apanya yang picik dan berbahaya?

The Motive berpusat kepada kehidupan Alvaro (Javier Gutiérrez), suami dengan istri seorang penulis best seller yang memutuskan hidup sendiri dengan menyewa flat sederhana di suatu sudut kota Sevilla.

Ia mengambil keputusan pasca memergoki Amanda (María León), istrinya, berselingkuh di suatu malam buta. Tapi, selingkuh alasan kesekian bagi Alvaro. Ia minggat karena iri sekaligus ingin fokus menulis suatu karya yang disebutnya karangan “sastra tinggi.”

Lalu apa karangan “sastra tinggi” yang diandaikan Alvaro?

Tiada lain tiada bukan adalah hasil karya yang ia ramu setelah memanipulasi perilaku-perilaku tetangganya. Bagi Alvaro, sastra tinggi adalah fiksi yang benar-benar bermuara dari kehidupan nyata. Saking nyatanya, Alvaro menciptakan konflik setelah “merekayasa” pengalaman hidup tetangga flatnya.

Di titik ini, menarik menelusuri pribadi Alvaro yang ambisius sekaligus tidak punya bakat menulis. Sebagai pribadi yang diselimuti iri hati kepada istrinya setelah meraih penghargaan karangan best seller, Alvaro menjelma menjadi pribadi yang  menafikan sisi kemanusiaan demi mencapai tujuannya.

Dari ceruk hasrat inilah Alvaro “membajak” tetangga flatnya dengan menyusun skenario yang ia inginkan. Di sini, ia menjadi seorang pengamat yang jeli mencatat setiap pribadi tetangganya. Mengkaplingnya menjadi karakter yang benar-benar hidup dalam karangannya.

Melalui prinsip sederhana menulis setiap kejadian dari apa saja yang ia lihat dan dengarkan, ia sekaligus memosisikan diri sebagai “psikolog behavioris” yang mencatat setiap respons tindakan dari stimulus yang ia ciptakan.

Pertama, ia memanipulasi perilaku dan perasaan Portera (Adelfa Calvo), seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal yang miskin kasih sayang dengan mengajaknya bercinta. Melihat bagaimana gelagat dan sikapnya pasca ditiduri, mencatatnya sebagai bahan salah satu karakter novelnya.

Kedua, ia menyusun skenario bersama Portera agar dapat masuk ke kehidupan Montero (Rafael Téllez), seorang pria uzur bekas tentara yang tertutup dan memiliki pistol tua yang ia sembunyikan di berangkas rahasianya.

Ketiga, ia menggunakan keahliannya sebagai notaris untuk pura-pura membantu masalah keuangan Irene (Adriana Paz) dan Enrique (Tenoch Huerta), sepasang suami istri imigran dari Meksiko.

Sosok Javier Gutiérrez dalam film ini sangat apik memerankan pribadi Alvaro yang dingin serta tidak tanggung-tanggung melakukan apa pun demi menghasilkan karangan bernas.

Ia seorang idealis dengan rencana-rencana yang disusun sepresisi mungkin agar dapat sesuai dengan ekspektasi karangannya. Sangat berbeda dengan istrinya yang lebih mengikuti arus pasar dalam menulis.

Perbedaan ideologi kepenulisan Alvaro dengan istrinya Amanda, mengingatkan saya mengenai sejarah kesastraan tanah air yang banyak menghasilkan polemik kebudayaan. Semua itu seakan-akan diafirmasi melalui posisi ideologi kepenulisan Alvaro yang cenderung realis dan Amanda yang lebih populer.

The Motive walaupun minim konflik, dibesarkan melalui rasa penasaran yang dipupuk dari perhatian para penontonya. Setidaknya, ketika kita bersetia mengikuti jalan pikiran Alvaro saat mengembangkan jalan cerita karangannya dengan pura-pura berperan baik di hadapan tetangga flatnya.

Dari titik ini, menarik mendalami hasrat Alvaro yang mengorbankan setiap waktunya agar dapat bersabar menunggu respons tindakan kehidupan di sekitarnya. Sampai-sampai ia tidak ambil pusing mengenai nasib tetangganya agar mendapatkan “konflik” ciptaan setelah merekayasa kehidupan mereka.

Bagi Alvaro, konflik yang betul-betul konflik adalah masalah-masalah tetangganya yang ia ciptakan. Itu yang ia rasa sebagai inti karangannya. Itulah sebabnya didorong hasratnya yang besar, ia rela menghancurkan kehidupan harmonis tetangganya.

Hampir semua adegan demi adegan The Motive berpusat kepada sosok Alvaro dan kehidupannya. Nyaris tidak banyak adegan yang memberikan ruang lebih bagi karakter lain.

Toh, jika ada,itu hanya dijelaskan secara sepintas melalui dialog-dialog Alvaro dengan Portera ketika ia ingin mendalami latar kehidupan tetangganya. Bisa dikatakan, The Motive adalah film yang hanya berpusat kepada satu narasi yang tentunya diperankan Alvaro.

Itulah sebabnya dapat dipahami mengapa film yang dirilis dengan judul El Autor ketika ditayangkan pada Festival Film Toronto 2017 ini menggunakan The Motive sebagai judul lainnya. Dari judulnya sudah dapat ditebak bagaimana hasrat yang diperankan Alvaro menjadi postulat dasar yang menggerakkan jalan cerita fim ini.

Berkat kemampuan akting Javier Gutiérrez dan Adelva Calvo yang mampu meghidupkan karakter Alvaro dan Portera secara berani, membuat mereka diganjar penghargaan aktor terbaik dan aktris pendukung terbaik pada Goya Award 2017, suatu ajang penghargaan film nasional utama di Spanyol.

Syahdan, dari sekian banyak film yang mengangkat dunia tulis menulis, The Motive menurut saya cocok untuk dijadikan tontonan reflektif untuk menakar seberapa busuk niat ataupun cara kita saat menulis.


Data Film:
Sutradara: Manuel Martín Cuenca
Penulis skenario: Manuel Martín Cuenca, Alejandro Hernández
Genre: Komedi, Drama
Pemain: Javier Gutiérrez, María León, Antonio de la Torre, Adriana Paz, Tenoch Huerta, Bald Adelfa, José Carlos Carmona
Durasi: 112 menit
Produksi: Icónica Producciones
Tanggal rilis: 2017
Rating: 6,8/10 (IMDb), 60% (Rotten Tomatoes)
Sumber gambar: IMDb


--

Telah dimuat di Karepe.com

Monday, August 6, 2018

Pad Man: Melawan Kemiskinan dengan Pembalut

Lakshmikant Chauhan dilanda kegalauan setiap istrinya memasuki masa haid. Gayatri, Istrinya, lebih memilih memakai kain lap sebagai pembalut. Kegalauan Lakshmi semakin menjadi-jadi lantaran setiap kali haid, setiap itu pula istrinya menggunakan kain yang sama sebagai penggantinya. Hingga suatu hari, dengan uang pinjaman, Lakshmi membelikan pembalut untuk istrinya. Bukannya berterima kasih, lantaran mahal, Gayatri malah menolak pembalut pemberian suaminya.

Didorong kegundahan melihat polah istrinya dan kehidupan yang dililit kemiskinan, Lakshmi bereksperimen membuat pembalut dari mesin sederhana yang diciptakannya sendiri. Setelah melalui beberapa percobaan Lakshmi kembali membujuk istrinya menggunakan pembalut buatannya. Tidak diduga sebelumnya, untuk kesekian kalinya, istri Lakshmi menolaknya.

Begitulah secuplik cerita film Pad Man yang dibintangi Akshay Kumar dan Sonam Kapoor adaptasi kisah nyata Arunachalam Muruganantham, aktivis sosial yang kini menjadi pengusaha di India. Film yang disutradai R. Balki ini mengisahkan suatu tema unik yang selama ini menjadi tabu dan hanya dibicarakan diam-diam oleh perempuan-perempuan India: menstruasi.

Penyakit dan Selimut kemiskinan

Tulang punggung film ini ada pada harapan Arunachalam Muruganantham (diperankan Akshay Kumar sebagai Lakshmikant Chauhan) agar istrinya (diperankan Radhika Apte sebagai Gayatri), termasuk perempuan-perempuan India memerhatikan kesehatan ketika tiba masa haid dengan menggunakan pembalut yang lebih higienis daripada kain lap. Harapan Muruganantham bukan tanpa sebab karena memakai kain lap saat menstruasi dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit hingga mengancam rahim perempuan terserang virus dari kain yang kotor.

Menurut laman berita BBC, survei 2011 yang dilakukan AC Nielsen oleh pemerintah India, menemukan bahwa hanya 12 % wanita di seluruh India menggunakan pembalut wanita. Sementara menurut data USAID dalam artikel yang ditulis Abijan Barua di laman KBR.id, sekitar 80 persen perempuan India hanya menggunakan potongan kain ketika menstruasi. Selama berkali-kali kain itu tetap dipakai dengan dicuci menggunakan air dingin, dan dipakai ketika masih lembab. Ini menyebabkan infeksi dan luka berkembang biak.

Hal itulah yang menyebabkan, seperti dikutip dari  Detik Healt, 70 persen dari semua penyakit reproduksi di India disebabkan kebersihan menstruasi yang buruk. Bahkan ada yang sampai berujung kematian. Hal ini karena selain menggunakan kain lap, perempuan-perempuan India, juga menggunakan pasir, daun, serbuk gergaji, bahkan abu sebagai pengganti pembalut.

Fenomena di atas seperti tampak dari adegan-adegan Padman, hanyalah efek dari situasi ekonomi masyarakat miskin India. Perempuan-perempuan di India, sengaja menggunakan kain lap karena tidak mampu membeli pembalut akibat selimut kemiskinan.

Di tengah-tengah keadaan ekonomi yang buruk, Pad Man dengan terang mengangkat pula kehidupan budaya perempuan India yang disekap pandangan dunia tradisional. Seperti diperagakan melalui adegan-adegannya, selama mens, perempuan-perempuan di desa Muruganantham harus menjalani suatu prosesi unik berupa hidup terpisah di beranda khusus menyerupai sepetak kamar. Kamar itu disusun dari sekat-sekat kayu menyerupai penjara yang diisi satu tempat tidur khusus dan tali jemuran untuk mengeringkan pakaian dan kain lap pembalut.

Kebiasaan di atas menurut  aktivis perempuan, Swapna Tripathi, dikutip dari artikel Abijan Barua dalam situs KBR.id, karena pola pikir tradisional yang menyebut para perempuan seharusnya merasa malu jika sedang mens sehingga harus tinggal terpisah.

Bahkan rasa malu karena masa haid berdampak pula kepada dunia pendidikan, terutama bagi para remaja perempuan. Esai Istri pangeran Harry, Meghan Markle seperti dilaporkan Tabloid Bintang dari laman Time mengungkapkan, perempuan-perempuan remaja yang telah memasuki masa haid merasa malu karena menganggap tubuh mereka dihuni mahluk jahat dan menjadi “kotor” ketika haid. Akibat hal ini banyak perempuan-perempuan remaja yang tidak ingin bersekolah saat haid.

Pemberdayaan perempuan

Hanya karena menstruasi istrinya, Arunachalam Muruganantham yang diperankan Akshay Kumar mengembangkan teknologi sederhana berupa mesin pembuat pembalut. Tidak lama setelah bertemu Rhea (Sonam Kapoor) yang mengikutkan alat temuannya pada ajang inovasi teknologi, seperti dikisahkan, Lakshmi berhasil menyabet penghargaan presiden berkat mesin temuannya.

Setelah menolak alat temuannya dikomersilkan dan diberi hak paten, dalam adegan, Lakshmi justru berkeinginan setiap perempuan dapat memiliki alat yang sama secara gratis. Mulai dari itulah, pelan-pelan bersama Rhea, Lakshmi mengembangkan mesinnya dengan melibatkan dan melatih perempuan-perempuan di desanya membuat pembalut.

Apa yang diusahakan secara kolektif dalam adegan-adegan film ini bersama perempuan-perempuan di desanya sebenarnya adalah usaha kritis untuk memberdayakan perempuan. Di samping mengkampanyekan bahwa masa menstruasi adalah hal yang normal, pemberdayaan perempuan melalui pabrik mini yang mereka ciptakan ikut serta membantu perekonomian keluarga-keluarga miskin di desanya dengan cara menjual pembalut buatan sendiri dengan harga yang lebih terjangkau.

Dari desa untuk dunia

Usaha Muruganantham bukan tanpa hambatan. Ketika pertama kali membuat pembalut ia ditentang istrinya sendiri karena ikut campur urusan perempuan. Perlu diketahui, di India, karena tradisi sangat tabu membicarakan masalah menstruasi apalagi bagi lelaki. Menstruasi dianggap tema pembicaraan yang tidak layak dibicarakan secara publik sekalipun dalam skala rumah tangga.

Itulah sebabnya, akibat sikap Muruganantham yang “keras kepala” ingin mencari solusi pengganti kain lap sebagai pembalut harus merelakan rumah tangganya hancur ditinggalkan istrinya. Bahkan, karena membuat malu keluarga besarnya, ia akhirnya harus pergi meninggalkan desanya setelah dihakimi secara sosial.

Tapi, niat Muruganantham sudah kepalang di atas ubun-ubun, usahanya membuat pembalut menarik minat dunia setelah ia berhasil memenangkan penghargaan inovasi dari presiden India. Diundanglah ia oleh PBB untuk membicarakan temuannya sekaligus perlawanannya melawan penyakit reproduksi yang disebabkan ketakutan menggunakan pembalut.

Berkat usahanya melawan mitos dan ketakutan seputar penggunaan pembalut, perlahan-lahan, dari desa ke desa, seiring berjalannya waktu mesin-mesin itu dapat menyebar ke 1.300 desa di 23 negara bagian.

Kini lelaki yang masuk 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia menurut majalah Time 2014 lalu telah memproduksi alat temuannya untuk disebarkan bagi 104 negara-negara miskin termasuk Kenya, Nigeria, Mauritius, Philipina, dan Bangladesh.

Berkat tindakannya ini, Muruganantham digelari sebagai “pahlawan”. “Jika di Amerika punya Superman, Batman, atau Spiderman. Maka di India ada Padman,” Ungkap Amitabh Bachchan yang muncul sebagai cameo.




Data Film:

Sutradara : R. Balki

Genre : Biografi, drama, komedi

Cast : Akshay Kumar, Sonam Kapoor, Radhika Apte

Durasi : 140 menit

Tahun rilis : 2018

Studio : Grazing Goat Pictures

Rating : 8.2/10 (IMDb), 100% (Rotten Tomatoes)

---
telah terbit di kalaliterasi.com
sumber gambar: indiaglitz.com

Monday, July 23, 2018 in

Prasangka dalam Hermeneutika Gadamer


Perlu diketahui sebelumnya, prasangka dalam hermeneutika Gadamer bersifat netral sejauh itu dipahami sebagai perantara pemahaman manusia untuk memahami keadaan dan dunianya.

Bahkan dalam pikiran Gadamer prasangka memiliki kedudukan yang siginifikan lantaran tidak ada pemahaman yang terlepas dari prasangka. Prasangka dalam hermeneutika Gadamer, dari sifatnya demikian adalah “kaca mata” bagi seseorang untuk mengenali dan menggali dunia kehidupannya.

Secara konseptual Gadamer membagi dua jenis prasangka: pertama, prasangka yang legitim dan yang kedua, prasangka yang tidak legitim. Dua jenis prasangka ini mesti didudukkan ke dalam konsep Gadamer tentang otoritas dan tradisi.

Bagi Gadamer otoritas dan tradisi adalah dua komponen prasangka. Dengan kata lain tindakan memahami, dalam hal ini prasangka, berarti tindakan yang tidak mungkin lepas dari tradisi dan otoritas yang menyertainya. Pemahaman manusia dalam memahami sesuatu selalu dipengaruhi otoritas dan tradisi tertentu.

Gadamer mengambil contoh fenomena masyarakat Abad Pertengahan yang digerakkan otoritas dan tradisi Kekristenan di dalam membentuk horizon pemahaman masyarakat. Kasus Galileo, misalnya, adalah contoh bagaimana faktor otoritas dan tradisi Kekristenan melihat penemuan-penemuan Galileo sebagai hal yang menyimpang dari kepercayaan umum masyarakat gerejani.

Dari tilikan kebudayaan lokal, prasangka dapat ditemukan dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat berupa mitos asal usul, pandangan cksmologi, dan eskatologi  yang menjadi elemen dasar masyarakat ketika merepresentasikan kehidupannya. Melalui semua itu masyarakat mengidentifikasi serta mengelola interaksinya demi menunjang keseimbangan di dalamnya.

Sebagai misal masyarakat Bugis Makassar yang memprasangkai asal usul manusia dan kebudayaan pertama dari mitos I lagaligo. Atau juga masayarakat adat Kajang di bulukumba yang meyakini kebudayaan mereka dimulai dari kehadiran seorang yang bernama Ammatoa sebagai manusia pertama di dunia. Melalui kedua narasi mitos ini, dua kebudayaan yang disebutkan membangun prasangka yang menjadi sumber pemahaman mereka.

Berangkat dari persoalan otoritas di atas, Gadamer memberikan tilikan bahwa otoritas dan tradisi adalah sumber pemahaman yang menyerupai otoritas rasio di abad Pencerahan. Dengan kata lain, seperti kedudukan sains hari ini sebagai sumber pengetahuan, otoritas dan tradisi bagi Gadamer juga adalah sumber pengetahuan yang melandasi pemahaman manusia.

Tradisi sebagai sumber pengetahuan dicontohkan Gadamer melalui sains itu sendiri sebagai tradisi. Dalam hal ini sains dirawat melalui kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang merupakan kaidah yang memberikan arah bagi proses pencarian kebenaran. Kebiasan-kebiasaan ilmiah ini menurut Gadamer adalah tradisi yang dimiliki sains seperti yang ditunjukkan melalui tradisi riset.

Melalui hal-hal di atas, nampak jelas bahwa hermeneutika Gadamer menjadikan prasangka melalui otoritas dan tradisi sebagai komponen yang senantiasa menyertai pemahaman. Dengan kata lain, melalui prasangka menurut Gadamer justru memungkinkan terjadinya pemahaman. Melalui dua komponen prasangka, yakni otoritas dan tradisi itulah sang pembaca teks mesti membedakan yang mana prasangka yang legitim dan prasangka yang tidak legitim.

Hermeneutika Gadamer adalah jenis hermeneutika produktif dalam pengertian manusia memiliki peluang untuk membentuk pemahaman baru dari teks yang ditafsirkannya. Tujuan ini tidak sama sekali berarti sang penafsir keluar dari otoritas dan tradisi yang melingkupi pemahamannya. Sang penafsir karena bagi Gadamer adalah orang yang hidup di dalam tradisi dan otoritas, tidak mungkin keluar dari kedua komponen pemahaman yang dimaksud. Dengan kata lain, pemahaman bagi Gadamer adalah peleburan dari apa yang dia sebut horizon-horizon tradisi, otoritas, dan penafsir itu sendiri.

Implikasi kedudukan manusia yang berada dalam sejarah berarti tidak ada pengetahuan yang bersifat objektif selain dia merupakan terbentuk dalam konteks sejarah tertentu. Manusia di dalam sejarah berarti juga kebenaran itu tidak diterima dari luar sejarah, melainkan hasil dari interaksi sang penafsir dengan perjumpaan-perjumpaan yang dialaminya dalam sejarah dan bergerak dalam ruang dan waktu.   


Monday, July 16, 2018 in

Kisah Dawuk: Menggugat dengan Dongeng


Narasi Dawuk dibuka dengan gugatan dari seorang dikenal sebagai tukang kibul: Warto Kemplung. Tokoh pendongeng yang sering mangkal di warung kopi tanpa modal dan lebih mengandalkan hasil “rampasan” rokok dari orang-orang yang berhasil ia pancing untuk mendengarnya. Lalu cerita apa yang dikisahkan Warto Kemplung? Di sinilah awal mula novel ini memainkan rasa penasaran pembacanya.

Tapi, pertama-tama mari kita nilai sedikit siapa Warto Kemplung mengingat narasi novel ini disanggah oleh cerita yang ia kisahkan.

Warto Kemplung adalah seorang bekas TKI yang berhasil memiliki teman seorang pejabat di negeri Jiran tempatnya bekerja. Lantaran kisah-kisah perjuangan yang ia ceritakan, membuatnya dekat dengan mantan majikannya dan berhasil mendapatkan nomor pribadinya. Peristiwa ini terjadi ketika ia menjadi tukang renovasi rumah yang kebetulan adalah rumah sang pejabat. Di sela-sela istirahat Warto Kemplung sering menceritakan cerita-cerita seorang tokoh yang berasal dari negerinya. Saat itulah sang pejabat sering mencuri dengar kisah si Warto dan mulai tertarik mengikuti kisahnya. Itulah awal bagaimana mereka berdua bisa dekat.

Lalu kenapa Kemplung menjadi nama belakang si Warto? Akibat kemahirannya bercerita sampai kadang ceritanya dinilai tidak masuk akal sehingga disangka bohongan belaka. Si pembual, itulah julukan si Warto dengan “Plung” sebagai nama panggilan pendeknya. Warto Si pembual begitulah arti namanya.

Dengan arti nama seperti itu, di sinilah pertaruhan novel ini: seolah-olah kisah Dawuk adalah narasi yang ditopang oleh sejenis rasa tidak percaya dan aura “kebohongan”. Bagaimana mungkin seseorang dapat memercayai cerita dari seorang yang sering kali dianggap sebagai pembohong? Walaupun benar, apakah kebenaran itu akhirnya akan dianggap sebagai kebohongan hanya karena diucapkan oleh seorang yang kredibilatasnya diragukan?

Di titik inilah, novel ini berusaha mengingatkan pembacanya dengan situasi zaman sekarang di mana fakta dan fiksi berbaur sulit dibedakan. Ketika benar dan salah saling mengisi kepercayaan dengan caranya yang tidak pernah dibayangkan.

Dalam pribadi Warto Kemplung kebenaran fakta dan narasi fiksi sulit dipisahkan mengingat kredibilitasnya yang dijuluki si pembual. Walaupun demikian kisah yang diceritakannya merupakan “fakta historis” dari desa Rumbuk Randu. Tapi tetap saja, niat tulusnya untuk mengungkap kebenaran di desanya menjadi muskil mengingat setiap warga Rumbuk Randu “bersepakat” menyembunyikan sejarah yang mereka ketahui bersama.

Dari sudut ini, keberadaan Warto Kemplung ibarat catatan kaki yang mengingatkan pembaca kepada sejarah kelam negeri yang bernama Indonesia yang beberapa dekade dicoba ditutup-tutupi oleh pemerintah. (untuk ini Mahfud Ikhwan menulis: mahluk-mahluk malang dengan kemampuan mengingat sependek ikan sepat.)

Inti Dawuk adalah kisah tentang sepasang kekasih ganjil dengan latar belakang hidup yang demikian kontras: Mat Dawuk dan Inayatun. Mat Dawuk digambarkan sebagai pribadi buangan yang sejak kecil dianggap hina penuh celaan dan dianggap tidak ada oleh orang sekampungnya. Tumbuh menjadi anak pendiam dan misterius dengan wajah yang jelek bin mengerikan sehingga tidak ada yang sudi melihatnya. Demikian pula nasibnya yang terbilang jauh lebih jelek dari rupanya. Tapi biarpun begitu ketika dewasa ia menjadi seorang pembunuh dengan kekuatan tubuh kekar.

Sementara Inayatun adalah bunga desa yang lahir dengan paras rupawan. Semenjak kecil menjadi anak idaman semua ibu-ibu di Rumbuk Randu lantaran bukan saja mukanya yang jelita tapi bentuk tubuhnya yang berisi. Biarpun demikian menjelang dewasa, ia menjadi gadis badung yang suka berganti-ganti pacar. Kemudian dikenal sebagai gadis genit yang membuat hampir semua lelaki Rumbuk Randu ingin menidurinya. Inayatun adalah anak seoang tokoh agama di desanya.

Kisah percintaan Mat Dawuk dan Inayatun merupakan kisah yang tidak diinginkan siapa pun di desanya. Di Rumbuk Randu mereka berdua adalah aib yang mesti dienyahkan. Setiap warga Rumbuk Randu ogah menanggung keberadaan mereka berdua lantaran merasa tidak nyaman. Usut punya usut, perkawinan Mat Dawuk dan Inayatun mengulang sebuah kisah kutukan yang selama ini tidak disukai oleh semua warga Rumbuk Randu. Akibat itulah, ditambah dendam dua keturunan dan skenario pembunuhan, Mat Dawuk berusaha mereka binasakan dengan cara penyerbuan di suatu malam yang berdarah.

Melalui mulut Warto Kemplung-lah kisah berdarah nan pilu Mat Dawuk dan Inayatun dari Rumbuk Randu didedahkan. Warto Kemplung yang dinarasikan pengarang sebagai pencerita ulung nampaknya berusaha menghidupkan kekuatan dongeng yang semakin tersingkirkan dengan tradisi tulisan. Melalui kekuatan oral-ah kisah ini mengalir menelusup sampai ke telinga pendengarnya termasuk kepada seorang wartawan lokal bernama Mustofa Abdul Wahab yang dibuat penasaran tentang kisah dari Rumbuk Randu. Menariknya kisah ini selalui diceritakan di warung kopi, tempat kesukaan Warto Kemplung yang belakangan bernama Anwar Tohari.

Novel yang masuk penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, selain ditopang oleh pengisahan melalui cerita lisan, juga memiliki kekuatan suspense melalui kemampuan bercerita Warto Kemplung. Sampai akhirnya seorang bernama Mustofa Abdul Wahab yang seorang wartawan itu mengangkat kisahnya di koran lokal menjadi cerbung dan memunculkan seseorang bernama mengaku Mat dan teka-teki di akhir ceritanya.

Sunday, July 15, 2018 in

Radix Cordix

RADIX CORDIX. Akan lebih menyenangkan melakukan pekerjaan tetek bengek semisal menyemir sepatu, membuat kopi susu, atau melihat aneka produk di online shop walaupun sekadar cuci-cuci mata. Mengembangkan imajinasi ibarat seorang ibu pekerja di pagi hari atau membayangkan diri menjadi orang kaya yang dapat membeli segalanya, rasa-rasanya jauh lebih tidak menggelikan daripada menemukan dua orang di dunia maya berdebat saling menghujat lantaran beda keyakinan.

Setiap waktu meladeni orang-orang keras kepala di dunia maya sepertinya pekerjaan yang paling tidak membahagiakan.

Asu, memang!

Mungkin ada faedahnya meladeni orang-orang keras kepala yang sedikit-sedikit membawa agama sampai di dunia maya. Misalnya bikin sakit hati lawan bicara. Sepertinya ada kepuasaan hakiki jika lawan bicara mati kutu tidak mampu memberikan pendapat balik. Biasanya di titik ini, perbincangan semakin tidak logis. Status saling balas membalas akhirnya menjadi lebar ke mana-mana.


Eike tidak yakin ada faedah dari tindakan netizen yang sehari membesarkan urat leher hanya untuk meyakinkan orang tentang sebiji kebenaran. Walaupun berambisi menjadi nabi menyebar kebenaran, tapi jika itu dilakukan bersama orang-orang keras kepala, maka apa pun itu akan terpental begitu saja. Orang-orang keras kepala sekalipun jika diberikan pernyataan-pernyataan logis akan merasa apa pun yang diberikan kepadanya adalah pernyataan yang tidak layak diindahkan.

Di titik ini ada teori yang disebut Dunning-Kruger effect. Dalam psikologi istilah ini mengacu kepada gejala ilusif orang-orang yang menganggap dirinya sebagai sang ahli. Bahkan, mereka menganggap orang lain tidak berhak mengkonfirmasi keyakinan yang mereka imani. Inti teori ini adalah jika Anda menyatakan kesalahan seseorang, maka mereka semakin yakin bahwa yang mereka yakini akan semakin benar.

Ya. Semakin Anda menunjukkan letak kesalahan mereka, orang-orang keras kepala akan semakin yakin terhadap keimanannya.

Di dunia maya, eike banyak melihat contoh-contoh ini. Sudah sangat gamblang eike kira. Bahkan fenomena ini sudah menjadi seperti yang dinyatakan Tom Nicols sebagai fenomena matinya sang ahli (the death expertise), yakni banyaknya orang yang bermunculan untuk mengemukakan pendapatnya mengomentari pelbagai kejadian hanya dari satu dua buku, wikipedia, atau menurut "om google".

Dari contoh-contoh itu, kebenaran malah semakin kabur ditimpa egoisme, taklid buta dan emosionalisme. Justru yang nampak dipermukaan malah pertunjukkan superioritas kelompok menindas kelompok-kelompok yang berbeda paham. Apalagi di momen-momen politik seperti ini, justru konflik semakin tajam.

Tapi, apa sih tujuan dari hanya selain menampakkan superioritas atas iman, keyakinan, atau bahkan pengetahuan jika hasil dari saling balas komen itu hanya menjauhkan kita dari interaksi yang harmonis. Justru tidak produktif malah.

Banyak di antara kita memang yang tidak pernah dibesarkan dalam momen-momen dialogis. Bergesekan dalam tradisi berpikir. Dan tumbuh dalam lingkungan yang mengedepankan perbedaan. Sehingga, ketika diperhadapkan dalam dunia yang heterogen, orang-orang keras kepala akan merasa terancam dan bahkan akan saling mempertahankan apa yang paling mereka yakini.

Keyakinan sebagian kita memang dipandang sudah fix, complit, dan juga final. Iman ibarat tuhan yang eksis di luar sejarah, lepas dari pengaruh waktu dan tempat. Ia dilihat sebagai entitas yang murni tanpa sentuhan ikhtiar manusia.

Sehingga ibarat gedung yang sudah berdiri kokoh sudah tidak perlu lagi diutak-atik. Namun masalahnya, gedung yang sudah terlanjur berdiri sering kali tidak dibangun dari fondasi yang juga kuat, dari tatakan yang mengakar. Inilah masalahnya, gedung yang punya tiang-tiang tinggi tidak nampak berdiri kuat lantaran fondasi yang mudah guyah.

Tapi, ah sudahlah. Berdiskusi, apalagi berdebat dengan orang-orang yang seringkali jatuh kepada --meminjam istilah Jean Cauvin (dari namanya Calvinisme diambil)-- "radix cordix", justru tidak menerbitkan kesepahaman, apalagi kesalingpengertian. Malah justru kedongkolan. Sontoloyo, memang.

Mari, hanya kopi yang mempersatukan kita!

Literasi populer