16 Februari 2015

madah duapuluhtujuh

Suatu kota bisa jadi ruang yang begitu bising, tetapi barangkali justru asing. 

Kota, sudah jadi bagian dari sebuah skema kemajuan. Sejak suatu tempat tersentuh perencanaan pembangunan, maka di saat yang bersamaan di sana ada maksud untuk membangun keramaian. Tapi keramaian suatu kota, justru bukan dalam arti soliditas yang kolektif, melainkan justru adalah penanda betapa keterasingan adalah suatu hal yang kronik.

Suatu kota memang membikin asing. Suatu kota memang tak hendak untuk membangun suatu hidup yang hening.

Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah menyitir suatu hal yang subtil; keheningan dan kesepian. Kota menurut Heidegger adalah tempat yang tak mampu mencandra keheningan. Justru di desa, tempat di mana langit menjadi ruang yang bersih dari polusi, dan tanah yang lapang dengan ilalang, adalah dunia tempat keheningan akrab ditemui.

Keheningan disebutnya adalah kekuatan asli yang khas dari manusia. Sesuatu yang tak pernah mengisolasi diri manusia. Dengan keheningan, filsuf bertubuh gempal itu menyebut keheningan adalah media yang mampu memproyeksikan eksistensi. Keheningan adalah ruang yang beririsan dengan hakikat segala sesuatu. Suatu wesen, suatu inti.

Sebab itulah, Heidegger katakan orangorang kota sering heran terhadap orangorang petani, ibuibu pekebun, anakanak penggembala, yang hidup betah dengan lama jauh dari suara gemuruh kota. Oleh karena, di sana, di lerenglereng gunung, pinggir pesisir, di tengahtengah sabana padi yang kemuning, keheningan datang dan akrab membentuk sebuah identitas; masyarakat yang arif.

Barangkali inilah yang ingin dicapai para filsuf atau sufi. Suatu sikap yang tanpa pretensi dalam menjalani suatu nasib. Suatu mental yang disebut Nietzsche sebagai kearifan yang tak sombong terhadap alam kenyataan. Yakni tindak hidup aktif tanpa ingin memanipulasi alam kenyataan yang dihadapi. Suatu sikap yang hanif terhadap alam yang akbar.

Orangorang kota sepertinya tak sanggup untuk melakoni hidup tanpa pretensi. Sebab, hidup di dalam kota serba terencana, serba sistematis. Suatu hidup yang dibentuk oleh rasio yang instrumentalistik. Dari rasio instrumentalistik kenyataan diatur dan diprediksi atas efektifitas, efisiensi dan ketepatan. Maka itulah suatu kenyataan sudah harus fix dalam perencanaan yang matang. Sebagai suatu rencana yang matang, hidup akan menjadi arena yang saklek atas ketatnya rel yang telah ditarik lurus.

Sosiolog Prancis Emhile Durkheim melihat yang saklek itu sebagai penanda kota. Ia menyebutkan berawal dari bergesernya ikatan kultural menjadi normatif, solidaritas juga berubah. Ikatan solidaritas menjadi renggang oleh terciptanya spesialisasi yang menghancurkan gotong royong. Yang kolektif tibatiba dihancurkan atas solidaritas organis. Sehingga komunitas yang dipersatukan oleh ikatan komunal bersama, menjadi tatanan yang diatur atas individualitas. Akibatnya, pribadi desa dihapus menjelma pribadipribadi yang otonom.

Dari itu ada dua hal dalam kota; rasionalitas dan individualitas. Perencanaan dan pembagian kerja. Dari itulah kota tampak cekatan dalam merencanakan sebuah skenario. Di dalam suatu skenario tentu ada rasio yang istrumental mengefektifkan suatu rencana. Juga suatu rencana agar dapat efisien, maka suatu pembagian kerja mesti dilakukan. Dengannya, akhirnya kota menjadi tempat agenda pasar diberlangsungkan, kekuasaan diselenggarakan, dan kebudayaan dipertaruhkan.

Memang kota adalah manifestasi sebuah agenda dijalankan. Pusatpusat didirikan; kantorkantor, sekolah, rumah sakit, rumahrumah mewah, malmal, pusat hiburan, kebugaran, rukoruko, diskotik, pabrikpabrik dsb. Tapi di balik berdirinya temboktembok pusat, di sana juga menyisihkan dan membangun yang lain; kenangan dan keasingan.

Sebab itulah saya selalu senang sekaligus miris mendengar "ujung aspal pondok gede", lagu Iwan Fals itu. Dalam lagu itu ia bicara tentang perubahan, ia bicara tentang suatu rencana pembangunan, suatu keserakahan kota yang menyisihkan "wajah murung pribumi" dan "suara langkah hewan bernyanyi."

Dalam lagu itu ada yang dihidupkan sekaligus hilang begitu saja. Saya menjadi orang yang tibatiba sadar masa lalu, sadar terhadap kenangan masa kecil. Suatu saat ketika saya bermain di tanah lapang dan halaman masjid yang berdiri tak jauh dari rumah. Suatu sudut ruang atas kenangan yang sudah menjadi samarsamar sekarang. Suatu kenangan yang lamat dalam waktu dan hilang dalam ruang. Karena itulah sesuatu tempat bisa menjadi asing dari suatu kenangan.

Iwan Fals pandai sekali menuliskan momen semacam itu; tanah yang dulu tempat pepohonan tumbuh, pondok rumah yang berdiri hingga senja berganti malam, ruang mesjid tempat bermain, akhirnya menjadikan tanah tempat kenangan dibentuk, digilas "sebuah rencana dari serakahnya kota."

Sebab itulah kota menjadi tempat yang ramai dan bising. Sebab itulah orangorang kota sekaligus kesepian dan juga sebenarnya asing.


15 Februari 2015

madah duapuluhenam


Jika ada yang berubah dari zaman ini, barangkali adalah bagaimana cara kita mengkonsumsi. Dahulu saat kita mengkonsumsi, barangbarang tak begitu massif beredar. Produk yang dipampang tak begitu menarik perhatian. Dahulu, barangbarang juga masih santun kita konsumsi. Namun sekarang konsumsi sudah menjadi mode. Sekarang disekitar kita, hampir semua adalah barangbarang yang identik dalam iklan. Sekarang, hampir semua tibatiba kita konsumsi. Dan tak disadari, sekarang kita makin rakus menghabisi diri sendiri.

Kapitalisme memang banyak mengubah kenyataan saat ini. Dahulu Marx menyebut kapitalisme bisa besar sebab modus produksinya. Tapi saat ini justru kapitalisme berubah. Kapitalisme bermethamorfosis. Perubahan itu, sebut saja bagaimana ia membangun imajinasi untuk mengkonsumsi tanpa henti. Perubahan itu sebut saja sebagai modus baru kapitalisme; mode of consumption.

Perubahan dari kapitalisme dari mode of production ke mode of consumption sebenarnya adalah pembilangan Baudrillard. Berbeda dari Marx yang hidup di awal tumbuhnya kapitalisme, yang ditandakan oleh banyaknya buruh yang dihisap. Baudrillard hidup di zaman kita, saat buruh dan barangbarang produksi sama banyaknya. Atau bahkan justru jauh berbeda; barangbarang yang bergelimangan.

Karena itulah zaman ini ramai dengan barangbarang. Kapitalisme semakin massif menciptakan pasar. Kapitalisme semakin canggih menciptakan barangbarang. Kapitalisme banyak mendorong kita untuk mengkonsumsi tanpa berhenti. Karena itulah konsumsi sudah jadi cara kita mengekspresikan diri kita. Dalam kapitalisme, cogito tidak berhenti pada tindak berpikir. Dalam kapitalisme, cogito diteruskan menjadi tindak konsumsi. Aku belanja maka aku ada. 

Zizek menyebut tindak konsumtif itu sebagai budaya yang massal dijumpai. Jika yang banyak berubah dari cara kapitalisme saat ini, barangkali adalah cara kapitalisme yang ampuh untuk menaruh pengaruhnya sebagai bagian yang identik dari tindak kebudayaan kita. Kapitalisme tak segansegan mengadopsi kritikan yang ditujukan kepadanya untuk diolah menjadi senjata ampuh. Cara ampuh itu, dalam mekanisme Zizek, disebutkannya sebagai kapitalisme kultural.

Kapitalisme kultural adalah strategi yang benarbenar jitu memberi kompensasi atas rasa bersalah pasca mengkonsumsi. Konsumsi barangbarang dalam model kapitalisme kultural, akan nampak seperti seorang yang arif dan bijak dalam bertransaksi. Modus transaksi ini menempatkan dimensi sosial sebagai bagian yang inheren dalam tindak tukar menukar. Saya teringat iklan sebuah merk minuman, yang sekali bertransaksi sama halnya sudah membantu sebuah desa dibagian Indonesia timur sana. Ini sudah mirip aturan islam, bahwa di dalam hartamu sebenarnya mengandung hak orangorang kecil.

Sebuah tindak religiuskah itu? Yang pasti, ketika dahulu pusatpusat belanja masih sama sepinya dengan rumah ibadah, tindak konsumsi masih diukur dengan faedahnya sebuah barangbarang. Tapi, ketika barangbarang begitu bergelimang, barangbarang dipakai tiada habisnya. Barangbarang seperti ada yang dikandung di dalamnya. Barangbarang menjadi benda yang mengandung yang gaib, sesuatu yang mistis. Marx menyebutnya; fethisisme komoditas.

Maka memiliki barangbarang yang mengandung unsur gaib sama halnya bertindak atas yang sprituil. Memiliki bendabenda yang diproyeksikan pasar, sama artinya dengan sebuah sikap yang arif. Di sana ada diri yang mengalami sesuatu yang impersonal. Di sana,  di dalam yang impersonal, pengalaman konsumsi adalah pengalaman terhadap sesuatu yang transenden. Dan dari barangbarang konsumtif adalah media yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan. Sebab itulah kita tak hentihenti berkonsumsi. Sebab itulah ini sudah mirip agama.

Dalam agama ada konsep syirik. Teologi memandang syirik sebagai keadaan mempersekutukan sang teos. Di dalam syirik, sang teos sama sejajarnya dengan wujud yang lain dalam ibadah. Sebab itu syirik dilarang agama.  Tapi syirik juga punya makna yang berbeda. Barangkali ini arti syirik yang lain. Setidaknya dalam artinya di luar makna doktrin teologi. Syirik yang lain itu jika bendabenda pasar dikonsumsi oleh sebab sesuatu yang fethis, sesuatu yang gaib di dalamnya. Syirik yang lain itu, jika barang yang dimiliki sudah mirip tuhan; suatu entitas yang dipuji dan bahkan dipuja. Ingat, sekali lagi ini adalah model syirik yang lain.

Erich Fromm, menyebut syirik yang lain itu sama halnya jika manusia memberhalakan hasil cipta tangan manusia sendiri. Fromm membilangkannya sebagai apa saja semisal barangbarang, bendabenda ataupun objekobjek yang dipertuhankan. Menurut Fromm, berhalaberhala itu, tak disadari akhirnya menjadi inheren dalam sejarah atau bahkan menjadi cara manusia berbudaya. Malangnya, sebab dia adalah budaya, melaluinyalah kita menemukenali diri sebagai manusia yang beradab, manusia yang otentik. Lewat aktivitas demikianlah kita berarti sebagai manusia yang betulbetul ada. Dan budaya apa yang paling massif di saat ini? Baudrillard menyebutnya budaya konsumsi.

13 Februari 2015

madah duapuluhlima

Buruh atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apaapa selain tenaga. Tak memiliki apaapa selain otot. Dalam sistem yang terlanjur memuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan dihisap. Mereka mengalami suasana yang asing dari mesinmesin, dari barangbarang, juga dari sesama. Suasana alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja yang satusatunya adalah milik buruh, justru jadi kepunyaan tuan pemodal. Dengan upah, tuantuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan; menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem yang kapitalistik, buruh tak selamanya berarti pribadi yang individual. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum. Sebab itulah sebuah kaum berarti ada yang massal dibalik sistem  yang kapital. Karena itulah ada yang berbau kolektiv di dalam urat nadi industrialisasi. Di dalamnya, yang massal di hisap dan ditindas. Di dalamnya,  buruh kerdil secara massal menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Tapi di dalam tatanan yang akbar itu, justru mengandung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Marx itu memang kejam. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrikpabrik. Tapi zaman sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem yang tunggal, melainkan jamak menjadi srtruktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun. Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuantuan kapital.

Sebuah penghisapankah ini? Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalisme sama halnya menjual jasa pada sistem yang berlapislapis. Kerja dengan sistem yang tidak seperti abad industri awal, berarti tidak selamanya bersentuhan langsung dengan mesinmesin pabrik. Kerja, dengan zaman yang baru, adalah bagaimana tenaga ditiap waktunya dihitung hingga akhir bulan. Tenaga diganti dengan keahlian, otot diganti dengan pikiran.

Itulah sebabnya kerja menjadi mekanisme dalam sistem kapital. Tapi Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem yang kapital, kerja menjadi alienatif. Sehingga kita paham apa arti Marx mencela kapitalisme yang mengkerdilkan manusia.

Kerja, bagi Marx adalah modus eksistensial. Kerja adalah cara manusia mengelola nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kapitalisme memang kejam. Kerja yang manusiawi menjadi yang nonmanusiawi. Buruh yang tak memiliki apaapa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. "Wahai kaum buruh sedunia bersatulah." Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginpirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak matimati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuantuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti; di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

madah duapuluhempat

Gandhi, orang tua yang ringkih itu, barangkali tak menyangka, bahwa manusia bisa cepat berubah hanya dengan sebuah fanatisme. Gandhi, yang melakukan gebrakan di India, akhirnya tersungkur oleh tembakan, bukan dari musuh yang dikecamnya, justru dari orang yang gigih membela pandanganpandangannya. Di suatu waktu saat ia keluar menemui kumpulan orang yang menunggunya dalam suatu acara doa, tibatiba terjadilah insiden itu. Fanatisme membunuh dua korban; ingatan sang penembak dan tentu Gandhi sang penganjur perubahan.

Aksi penembakan itu membuat kita sadar bahwa betapa rentannya sebuah ide yang diperjuangkan bisa mendatangkan luka, atau bahkan kematian.

Di India, saatsaat sebuah ide diperjuangkan adalah masamasa yang kritis. Ketika sebuah ide menuntut kepastian akan sebuah komitmen. Tapi Gandhi tahu, ideide pembebasannya tak ingin membawa India pada kepemimpinan yang berdiri atas nama keyakinan, sebab dia menyaksikan sebuah keadaan yang jamak, orangorang yang menyembah banyak tuhan. Maka itulah ia tak hendak membawa sebuah ide untuk mengakui satu kelompok kepercayaan. Apalagi ini adalah urusan negara, bukan seperti urusan semacam parade yang sebentar saja bubar. Negara membutuhkan ide yang universal, bukan yang fanatik.

Tapi India  harus mengenang kehilangan Bapunya yang kharismatik itu. Orang yang setia dengan cara persuasif dalam menggugat kesewenanwenangan. Dari itu justru yang menggugat juga berarti menggugah.

Itu kejadian yang jauh di India. Di negeri kita, sejarah yang hampir sama juga terjadi. Yakni betapa susahnya membangun ide menyeluruh yang bisa mengikat keseluruhan tanpa menanggalkan sesuatu yang khas dari partikularitas. Soekarno sudah pasti tahu itu, sebab Indonesia bukan kepunyaan segelintir kelompok. Sebab negeri ini adalah jerih dan payah orangorang banyak. Ada pemikiran yang dikuras dan tenaga yang dikorbankan. Maka itu ia perlu dialog, maka itu ia perlu diskusi panjang.

Dan gagasan universal itu dibincang, para tokoh berdebat panjang. Kritik dan pertukaran pikiran tibatiba ramai. Namun suatu hal tak pernah luput bahwa semuanya demi negeri bukan kelompok. Dan ide universal itu bernama pancasila. Ide universal yang merangkum partikularitas Indonesia.

Tapi adakah pembunuhan di sana? Seperti yang di alami Gandhi? Nampaknya bisa iya, tapi sudah pasti tidak. Sejarah kita menuliskan, bahwa tak ada orang seperti Nathuram Godse yang berkepala penuh fanatisme dengan pistol ditangannya dan nekat membunuh seorang semisal Bung Karno. Tapi banyak yang harus dibunuh saat harihari perumusan yang melibatkan para tokoh untuk mencari ide yang universal. Mereka pasti yakin, sebuah ide universal yang melingkupi, harus mampu menyisihkan ego apapun di dalamnya. Sebab betapa bahayanya sebuah fanatisme. Betapa berisikonya sebuah ide tanpa akal panjang.

Apa yang diperjuangkan Gandhi di india dan Founding Father di negeri ini, sering disebut sebagai ideologi. Sebuah ide yang menjaring dan mampu mengikat keseluruhan dari bagianbagian. Di negeri ini bagianbagian itu begitu jamak. Banyak yang berbeda dan tak bisa serta merta dibayangkan sama. Maka itu, ideologi, atau pancasila, sebenarnya adalah ide yang fleksibel sekaligus ketat. Fleksibel berhadapan dengan kejamakan dan ketat sebagai panduan.

Tapi, ideologi juga bisa menyulut emosi seperti yang ditunjukkan Nathuram Godse. Tak bisa dibayangkan bagaimana India di kepala Godse yang pengikut hindu garis keras itu. Atau bagaimana pula India yang dikehendakinya dengan cara membunuh orang yang disebut Bapu itu. Tapi barangkali bisa kita tebak, kepala yang penuh dengan keyakinan yang fanatis, akan tak siap menerima beragamnya perbedaan. Kepala yang penuh ide yang sempit sudah pasti memiliki jiwa yang sempit.

12 Februari 2015

madah duapuluhtiga

Konon, di Yunani purba, tubuh merupakan wakil kebaikan dan keuletan. Ia adalah penanda supremasi manusia. Olimpiade, misalnya,  yang dilakukan selama empat tahun sekali di lereng Gunung Olimpus, merupakan pemujaan terhadap tubuh yang ideal. 

Bahkan dalam filsafat, Aristippus, teman Socrates, mengidealkan tubuh sebagai ajaran etika. "Kesenangan tubuh jauh lebih baik dari kesenangan jiwa." Di Yunani sepertinya, tiada jiwa yang ideal tanpa tubuh yang ideal.

Itulah  ada adagium yang akrab; mens sana in corpore sano, di balik tubuh yang kuat, ada jiwa yang sehat. Di balik seratserat otot yang padu, terdapat jiwa yang utuh.

Namun itu di Yunani, suatu masa ketika tubuh ditempatkan sebagai ekspresi atas yang ideal, yang dipuja dan dipuji. Sesuatu yang sempurna.

Bagi sebagian orang ada keyakinan tubuh adalah medium kejahatan. Tubuh sudah terlanjur dianggap musuh kemurnian. Tubuh adalah ruang yang gelap dan tak harus dicandra. Dari itu, tubuh dijauhi. Dari itu, tubuh diasingkan.

Di Yunani sendiri, sebelumnya ada Platon. Ia berpendapat tubuh adalah kuburan jiwa. Jiwa diandaikannya sebagai entitas ideal yang murni, yang disebutnya hidup dalam archetype. Di sana adalah kebebasan sejati, jiwa hidup bebas dan tiada batas. Namun jiwa mengalami keturunan dan terperangkap dalam tubuh. Jiwa, yang semula hidup bebas akhirnya terpenjara dan terkurung. Dan tubuh adalah dunia yang gelap bagi jiwa; bayangbayang.

Maka itu tubuh dipandang nisbi dan membelenggu. Tanda nisbi pada tubuh, yakni sesuatu yang mengalami spasial. Tanda pembelengguan pada  tubuh, yakni ia meruang dan itu berarti ada jarak dan terbatas. Oleh sebab itulah, tubuh tak memberikan kebebasan. Oleh sebab itulah jiwa mesti dibebaskan. 

Platon memang memiliki pandangan yang tak sepenuhnya mewakili keyakinan umum Yunani. Pandangannya yang diimplisitkan dalam filsafatnya tak juga dapat dikatakan adalah produk kehidupan Yunani. 

Namun Platon tak bisa lepas dari tubuh sebagai modus keyakinannya dieksplisitkan. Sebut saja tumos, salah satu bagian tubuh yang ia sebutkan dalam menjelaskan arete sebagai jalan keutamaan. Tubuh nampaknya, dalam pikiran Platon adalah apa yang disebut Socrates sebagai perangkap jiwa; kelemahan yang terus menerus memotong, mengganggu, memecahmecah dan menghalangi manusia dari kebenaran.

Barangkali sebab itulah tubuh dianggap bertentangan dengan kehendak jiwa. Barangkali inilah maksudnya; yang utama bagi Platon adalah jiwa. Yang ideal bagi Platon adalah unsur yang tak dapat dibagi; sesuatu yang tak berkekurangan; sesuatu yang disebut ultim. Atau apa yang disebut yang real. 

Maka itu yang lain hanyalah bayangbayang; yang lain adalah semu; yang lain adalah palsu; dan yang lain adalah pantulan dari yang substansi. Jika yang lain sudah seperti pantulan, barangkali wajar saja yang lain akhirnya sesuatu yang tak layak diutamakan.

Dengan demikianlah tubuh dilabeli dan diberikan arti yang defenitif; sesuatu yang rendah dan tak berarti. Juga dalam agama, tubuh adalah elemen yang tak selamanya bersih dari sumbersumber petaka. Tubuh dalam agama, sama dengan arti pengutamaan atas jiwa. Tubuh dalam agama, sama berarti adalah bagian yang ditundukkan atas superioritas jiwa.

Tapi ada sebuah keyakinan; firman telah menjadi daging. Ini ada dalam maksud seperti yang dimiliki Kristiani, yakni tuhan menjadi manusia. Keilahian dimanusiakan dan ini juga berarti sebaliknya, segala "kedagingannya", kemanusiaan diilahikan. 

Sebuah tubuhkah daging itu? Yang pasti ada kisah disaat perjamuan terakhir; “Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memotong-motongnya, lalu memberikan kepada murid-muridnya dan berkata; ambillah, makanlah, inilah tubuhku. Sesudah itu ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata; minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab ini darahku.” (Matius 26: 26-27)

Dalam itu, ada sebuah peristiwa menyangkut tubuh yang disucikan. Daging, yang nampaknya dianggap tak memiliki apaapa diubah menjadi hal yang mitis, bahkan ilahiat. Tubuh dalam perjamuan itu ibarat suatu bagian yang tak terpisah dari yang ilahiat. Dalam kisah itu, sang juru selamat berkata; “ambillah, makanlah, inilah tubuhku.” Ada yang ditranformasikan disitu, bahkan ada yang tidak sekedar diubah di situ, melainkan dicipta, yakni yang dalam Platon adalah "kuburan jiwa", justru menjadi bagian yang kudus.

Sementara yang kudus dalam tubuh, hari ini, justru perayaan atas tubuh yang lain, yakni tubuh yang tak pernah disentuh yang kudus. Yang ilahiat, atau yang kudus, hari ini juga ditranformasi. Namun, bukankah saat ini kita samasama tahu apa arti tubuh dalam pasar? Bahkan apa arti tubuh dalam kekuasaan? Hari ini tubuh yang ditranformasi, entah itu pasar atau kekuasaan atau lainnya, adalah tubuh yang bukan milik kita. Tubuh yang tanpa pribadi.

11 Februari 2015

madah duapuluhdua

Tahun 1998 Indonesia kritis. Krisis moneter membikin negara guyah. Pemerintah bingung oleh keadaan ekonomi yang tak kunjung membaik. Harga barangbarang naik. Politik akhirnya jadi ribut. Rakyat pun mengamuk ke jalanjalan. Demonstrasi di manamana, dan akhirnya mei, sang rejim turun tahta.

Sementara jauh di daratan eropa, sebuah buku terbit dan menimbulkan gempar. The Third Way, The Renewal of Social Democracy. Giddens, sosiolog Inggris itu sumber kegemparannya. Bukunya, yang berisi tentang argumenargumen pembaruan demokrasi, sepertinya terbit di saat yang tepat. Eropa dan Amerika, yang saat itu sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi zaman milenium baru seperti menemukan obat mujarabnya.

Maka sontak Giddens diundang. Seminarseminar mengulas isi bukunya. Ada kasakkusuk Tony Blair, perdana menteri Inggris saat itu, mempertemukannya sampai ke hadapan presiden Clinton. Dan pertemuan itu punya maksud mengulas isi buku yang gempar itu. Dan pasca itu, Stryker Mcguire mengungkapkan, bukan saja Bill Clinton, berkat bukunya, Giddens bisa masuk ke kantorkantor presiden hampir di seluruh dunia.

Tapi kita tak tahu, apakah ia juga datang ke Indonesia di saat pasca krisis. Masuk di istana negara sampai bercengkrama sebentar dengan tuan presiden beserta jajaran menterinya. Dan dimulailah perbincangan serius antara elit kekuasaan dan seorang sosiolog untuk membincang bukunya. Sebab buku yang disinyalir banyak mengubah wajah eropa juga amerika itu, bisa saja, juga dapat mengubah jalan sejarah indonesia. Namun itu hanya andaiandai.

Tapi sebelumnya, di pekan yang sama, saat "jalan ketiga" terbit, sebuah majalah Inggris mengeluarkan ulasannya. Dalam alinea pembukanya: "This book is aswesomely magisterial and in some way disturbingly vacuous." Dalam kalimat itu nampaknya ada yang mengagumkan juga sekaligus kosong. Selanjutnya, sontak tak ada pujipujian atas buku itu. Tak ada yang dirasa spesial. Buku itu hanya vacuous; kosong.

The Ekonomist nampaknya tak puas, sebab memang dalam buku itu tak ada resep yang pasti tentang apa yang disebut "jalan ketiga." Dan memang Giddens tak menyebut jalan pasti diantara pasca jatuhnya sosialisme dan berbahayanya pasar bebas. Dalam buku itu Giddens hanya mengulas bagaimana perlunya jalan baru atas kemajuan yang semakin berisiko.  Ia hanya memberikan anjuran bagaimana seharusnya pemerintahan sebuah negara bersikap atas perubahan tatanan ekonomi dunia yang cepat berubah. Toh jika perlu resep pasti, ia hanya sampai pada sebuah kalimat yang semacam ini; kita hanya perlu mengarahkan juggernaut yang larinya sudah tak terkontrol itu.

Bukan kapitalisme apalagi sosialisme. Lantas? Itulah masalahnya. Giddens nampak mengambang diantara dua model ideologi dunia itu. Sebab tak ada harapan dari jatuhnya sosialisme Soviet. Juga liberalisme pasar tak sepenuhnya bisa diandalkan. Maka itu dia diundang untuk memperkenalkan jalan pikiran yang berkelit antara kebebasan pasar dan intervensi negara. Dan dari bukunya yang tak menyebut apa yang pasti dari jalan ketiga itu, nampaknya berhasil mengubah wajah Eropa dan Amerika. 

Banyak tafsir dan kritik pasca buku itu terbit. Tapi akhirnya Giddens membalasnya dengan mengeluarkan buku untuk menjawab kritikan yang ditujukan kepadanya. Artinya “jalan ketiga” yang ia perkenalkan masih ambigu di mata dunia, juga pengkritiknya. Namun kita mesti mengingat, “jalan ketiga” Giddens sesungguhnya bukan menawarkan alternatif diantara sosialisme dan kapitalisme. Sebab di mata Giddens, dua ide besar itu, adalah hasil pencerahan yang tak sepenuhnya bisa membikin sejarah sebuah negara membaik. Eksperimen sosialisme justru runtuh, dan ini berarti tak ada harapan di dalamnya. Kapitalisme? Malah mengabaikan kolektifisme yang dimakan pasar bebas.

Dalam konteks inilah sepertinya kita harus berhatihati membaca “jalan ketiga.” Karena didalamnya, asumsiasumsi yang dituliskannya sungguh seperti tak memiliki dasar teoritis di mana ia berdiri. Bukan sosialisme?, bukan kapitalisme? Ataukah ini yang dimaksud Pos? sebuah bentuk pemikiran baru atas masyarakat yang keluar dari logika antara individualisme dan kolektivisme? Nampaknya kita hanya bisa menafsir. Nampaknya memang butuh kejelasan. Sebab barangkali isi bukunya bisa memberikan arah baru tentang konsep seperti apakah yang konteks dengan keadaan masyarakat seperti negeri ini. 

10 Februari 2015

madah keduapuluhsatu

Suatu waktu, perempuan boleh jadi sudah seperti tulah. Dalam agama, tulah itu bersumber dari telaga surga. Ada versi, dari sanalah sumber itu bermula: perempuan jadi biang kerok atas nasib warisan. 

Maka dari itu, perempuan harus diberi peringatan. Perempuan harus diatur, diproyeksikan untuk keseimbangan tatanan. Sebab jika tidak, banyak yang tercemari, banyak yang jadi korban. Karena itulah dia tulah.

Juga perempuan adalah mahluk yang asing. Sebab kehadirannya bukan sebagai sesuatu yang diinginkan. Kehadirannya adalah suatu yang tak didugaduga dalam cosmos penciptaan; berkat tulang rusuk yang bengkok. Dari "tulang rusuk yang bengkok" itu pengertian dibangun dan tafsir disepakati. Juga dari sanalah perempuan justru akhirnya menjadi tersisihkan. Perempuan, dari tafsir yang menyisihkan itu adalah mahluk yang tak hadir dalam sejarah, hingga akhirnya bukan menjadi bagian dari sejarah.

Tapi itu tafsir sejarah. Tapi itu tafsir agama.

Di negeri ini, perempuan nampaknya ditafsirkan menjadi senjata ampuh untuk mencipta kecacatan. Barangkali ini adalah simptom sejarah bahwa kejatuhan kekuasaan cukup dengan kehadiran perempuan. Dan sepertinya, dalam situasi itu, kita diajak untuk mengingat  hadis rasul; ada tiga hal yang berbahaya, harta, tahta dan wanita. Akhirakhir ini, di sekitar daerah kekuasaan bekerja, tamsil atas apa yang dibilangkan rasul berabadabad yang lalu itu, benarbenar terjadi.

Sepertinya ini adalah ujian tapi juga bisa jadi tragedi. Sebab perempuan sudah jadi komoditi. Dalam skema kapitalisme, perempuan adalah properti yang ditampilkan bersamaan dengan barangbarang. Berkat itulah sebuah iklan misalnya, dapat membuat untung tuantuan besar. Tapi dalam politik malah nampak berbeda. Dalam politik, justru perempuan bisa bikin tuantuan besar malah jadi tersungkur.

Itulah mengapa perempuan bisa jadi tragedi. Di dalam mitologi yunani, malah sebuah perang yang panjang bisa disulut oleh perempuan. Helena barangkali tak sempat menyangka, perang troya yang menyulut dendam dua kerajaan itu bisa bermula dari dirinya. Helena tak menyangka, cintanya yang melintasi batasbatas Yunani hingga ke hati Paris, justru berbuah tulah.

Sebagai tulah, itu juga yang terjadi di negeri ini. Perempuan menjadi tragedi yang jadi sebab kasakkusuk. Dua lembaga negara saling membakar picu senjata. Di mulai dari usaha untuk mengusut penyakit yang kronik, perempuan akhirnya jadi sulut pamungkas yang membuat runyam keadaan. Sehingga dalam politik yang mengusung integritas, perempuan bisabisa jadi sebab rusaknya sebuah identitas.

Tetapi akar masalahnya tidak seperti perang troya yang disulut perempuan. Di perang troya ada Paris, sang anak raja yang menculik Helena, dan di kubu Yunani tentu saja ada Achiles, ksatria yang jadi legenda itu. Di negeri ini, yang terjadi bukan perang antara dua negeri untuk saling menaklukkan. Di negeri ini, justru perang dilakoni oleh dua institusinya, dan tentu saja di perang ini, akar soalnya ada pada tuan presiden sebagai tokoh utamanya.

Lantas bagaimanakah tuan presiden di negeri ini? Atas dua institusinya yang saling gebuk dan gaduh? Soalnya banyak yang risau dan tak sabar menanti gebrakan. Kekuasaan nampaknya sedang tak normal, sehingga negara butuh keputusan yang besar. Namun  sepertinya saat ini tuan presiden juga belum bisa banyak kiprah. Seratus hari kekuasaannya belum banyak jadi tandatanda menuju negeri hebat.

Maka itu kita hanya bisa dibikin geger dan berkasakkusuk. Janganjangan tuan presiden khawatir, janganjangan tuan presiden ragu, janganjangan tuan presiden gamang. Atau janganjangan tuan presiden bimbang, janganjangan tuan presiden… hingga nampaknya pelanpelan tuan presiden kehilangan pesonanya di atas panggung. Sampai kemudian kasakkusuk itu jadi makin besar, sampai semua janganjangan itu bisa berarti janganjangan tuan presiden juga punya perempuan. 


Tapi perempuan tuan presiden ini bukan sumber tragedi apalagi tulah. Perempuan tuan presiden di negeri ini malah bisa saja jadi sumber titah dan malah perintah. Tapi itu hanya kasakkusuk. Tapi itu hanya janganjangan. Apalagi  anganangan. 


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...