11 Maret 2015

madah empatpuluhsembilan

Ketika akal menemukan dirinya bangkit, dunia tampak terang. Yang semula samar dan terselubung dibalik tirai mitos, jadi transparan. Dunia akhirnya terkuak dengan pengetahuan yang menjadi jembatan. Kant, di era renaisans menyebutnya pencerahan.

Tapi dengan semangat pencerahan, Kant juga membangun kritik terhadap nalar pencerahan yang superior. Kritisismenya akhirnya menyingkap cacat inheren dalam akal. Ternyata akal, yang begitu superior membuka terang, tak selamanya jadi bohlam yang sempurna. Akal yang selalu ingin menjelaskan lengkap fenomena, ternyata juga retak. Yang ditangkap hanyalah lapisan fenomena yang tampak dengan cahayanya yang redup. Akal ternyata tak mampu menangkap noumenadas ding an sich, inti kenyataan yang sesungguhnya.

Sebab itulah Kant tak percaya suatu yang metafisis seperti subtansi bendabenda. Akal tak bisa menjangkau itu. Akal justru adalah jembatan atas keyakinan Kant yang agonistik itu. Tiada yang metafisis dibalik daya akal. Yang murni dalam metafisika ternyata adalah sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibuktikan. Lewat etika transedental Kant, metafisika untuk kali kedua dibungkam.

Tapi itu Kant. Dengan agnotismenya. Dengan kecurigaan akal murninya.

Yang berbeda datang dari filsuf Iran kontemporer, Murthada Muthahhari. Dalam ceramahnya yang dibukukan dengan nama Mas'aleye Syenokh, Kant dikritik. Dan dalam  kritikannya itu, bukan saja Kant, seluruh pandangan yang skeptik terhadap kemungkinan epistemologi dikritiknya.

Muthahhari sebenarnya tidak tepat jika disebut filsuf per se. Sebab tidak seperti filsuf umumnya yang memang menyelisih dari otoritas teks agama. Itulah mengapa dalam ceramahnya itu ia memulai perbincangannya dengan soalsoal epistemologi dari al quran. Di sinilah beda itu tampak.

Dan beda itu sebenarnya memang adalah sesuatu yang disengaja Muthahhari. Soal epistemologinya adalah suatu rancang bangun yang ia susun untuk membuktikan rapuhnya pemikiran asing.

Dalam skema itu, "asing" adalah berarti produk pikiran yang mencerminkan semangat sekuler. Ini berarti maksud Muthahhari merupakan ungkapan yang merujuk pada tempat yang jauh di sana, yakni suatu masa di mana sekularisasi adalah semangat yang massal disambut suka cita. "Asing" adalah penanda suatu produk pikiran yang tumbuh saat yang sakral disingkirkan. Dengan kata lain, pemikiran yang tidak tumbuh dengan semangat yang mengafirmasi theos. Dengan Itulah, kritisisme Muthahhari berarti punya maksud tak ringan: membuktikan kokohnya pemikiran islam.

Dan dari cara pandang yang quranik, Muthahhari menyebut epistemologi yang dibincangkannya adalah epistemologi islam. Lalu dari ceramah mas'aleye syenokh, suatu pandangan khas islam dibentangkannya. Islam sebagai suatu cara pandang, akhirnya jadi suatu paradigma.

Sebenarnya, ceramah yang ia sampaikan di tahun 1970 itu adalah ceramah yang juga politis. Ceramah yang juga punya arti emansipasi. Sebab dalam ceramah tentang pengetahuan yang dibincang saat itu, punya maksud membangun kesadaran politis.

Karena itulah ceramahceramahnya dilarang. Rezim saat itu melihat Murthahhari sebagai ancaman politik, sebab di tahuntahun yang genting saat itu, suatu perkumpulan dianggap subversif. Saat itu, Iran memang mengalami gejolak politik, dan Murthada salah satu orang yang memicunya.

Di masamasa yang genting itu, sebenarnya Muthahhari tidak sendiri. Ceramahceramahnya adalah bagian dari skenario besar yang kala itu dirancang: revolusi. Dan dari sebagian yang lain, yang diisi oleh tokoh muda Iran, juga punya andil: Ali Syariati.

Lewat mereka berdualah di tahuntahun itu, di bawah suatu rejim yang menggeliat dengan kekuasaan yang tanpa batas, pembangunan paradigma revolusi disusun. Seluruhnya dibincang dengan tafsir politik agar punya makna yang kongkrit. Islam dengan lidah dua orang itu akhirnya jadi ajaran yang tidak sematamata metafisis, tetapi menjadi lebih runcing, menjadi lebih kritis.

10 Maret 2015

madah empatpuluhdelapan

Konon dari waktu senggang muncul kebudayaan. Konon dari inti kesunyian menerbitkan wahyu bagi para nabi. Juga konon, kerja, di zaman sekarang adalah penanda kemanusiaan yang ambruk.

Kerja sebenarnya adalah suatu yang luhur. Bila Hegel membilangkannya sebagai proses idealisasi ruh yang bergerak tanpa pamrih dalam tubuh, Marx, orang yang mencelanya itu, meyakininya sebagai modus eksistensi ril manusia. Hegel dan juga Marx melihat kerja sebagai bentuk to becoming: cara manusia berada.

Tapi cara to becoming, bagaimana kerja di zaman ini sudah jadi sesuatu yang ambruk. Orang dipaksa untuk bekerja. Itulah mengapa dari yang terpaksa menimbulkan alienasi Sebab kebebasan tercerabut persis seperti baut yang membuat suatu perangkat jadi hancur. Kebebasan yang jadi tanda keutuhan, dalam sistem kerja yang dipaksa itulah yang jadi soal.

Akhirnya manusia, dengan kerja yang terpaksa jadi dekaden. Manusia, justru bukan menjadi mahluk yang luhur, melainkan hancur dalam sistem yang di cela sejarah: kapitalisme. Di dalamnya, yang sebelumnya luhur jadi lebur dan menguap jadi kapital yang berlipat ganda. Manusia menjadi asing dalam kerja. Industri jadi sistem kukuh yang untung.

Joseph Pieper melihat kerja yang sudah tak.luhur itu seperti sistem agama. Menurutnya, di alam modern, terutama kaum urban yang didorong untuk dapat terus bekerja, kerja per se telah dikultuskan. "Kerja sudah seperti doa" sebutnya. Artinya, kerja begitu dimutlakkan dalam zaman yang didorong oleh sistem yang penuh daya saing.

Dan di dunia itu, kerja sudah identik dengan cara yang teknis. Akhirnya kerja jadi kehilangan keluhuran. Kerja menjadi kehilangan sakralitasnya sebagai pemenuhan eksistensi jiwa manusia. Sebab kerja berarti usaha yang rutin, otomatis dan mekanis, maka kerja kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang ditandai dengan cengkrama dan waktu kolektif.

Itulah mengapa krisis eksistensi terjadi. Kerja jadi penjara eksistensi. Kerja jadi rutin yang mencuri kesadaran manusia.

Kehilangan yang luhur akibat kerja yang rutin dan yang sesak di jantung krisis eksistensi, bagi Pieper bisa ditampik dengan cara menghidupkan waktu senggang.

Di Yunani purba, waktu senggang ditandai dengan suatu yang luhur: theorea. Theorea yang dari sana terma teori dilahirkan, sebenarnya adalah suatu sikap "melihat" dan "memandang" suatu yang tetap dalam cosmos. 

Cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.

Sebab itulah berpikir berarti mencari ketetapan yang sama dengan ketetapan alam. Aristoteles menyebutnya dengan kaidah kesesuaian partikular akal manusia dengan alam universitas cosmos. Singkatnya, berpikir selalu adalah usaha untuk menyeleraskan yang ada dalam nous dengan cosmos.

Habermas melihat aktivitas theorea itu dalam peradaban Yunani dengan sendirinya bermaksud praxis. 

Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam praktiknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.

Pieper menyebut itu sebagai keadaan yang kontemplatif. Di dalam keadaan itu manusia kembali dapat keluar dari penjara rutin untuk bersentuhan denga totalitas realitas. Di saat itulah, bagi Pieper terbentuk suatu relasi yang fundamental antara manusia dengan kenyataan yang melingkupinya. Di sinilah waktu yang total berarti pembebasan.

Waktu senggang yang dimerdekakan dengan nuansa yang kontemplatif, adalah cara Socrates mengajak masyarakat Athena dengan maksud menjaga nous agar terus hidup. Sebab ia tahu, nous yang mati adalah kesiasian yang mubasir. Waktu yang bernuansa liberatif dan diisi dengan pemenuhan edukatif inilah yang menjadi asal sekolah.

Sekolah awalnya suatu tindak kemerdekaan dengan memproduksi waktu menjadi produktif. Sekolah adalah peluang untuk mencandra cosmos dengan berpikir yang kontemplatif. Dari sini, sekolah adalah medan nalar untuk beroperasi dengan baik. Dan dari aktivitas inilah peradaban muncul.

Tapi seperti juga kerja yang merenggut kebebasan, sekolah di zaman sekarang bisa jadi adalah tempat kebebasan dibantai. Di sana, juga barangkali tempat kekuasaan bereksperimen dengan kebijakankebijakannya. Sekolah akhirnya laboratorium  tempat kepatuhan dicipta dan mangut jadi rutin. Akhirnya sekolah seperti kata suatu buku, adalah candu masyarakat.

Di sini bukan saja agama jadi candu, melainkan juga sekolah. Akhirnya di saat sekarang ada dua hal yang jadi ambruk; kerja dan sekolah. Kerja sebagai rutin yang mencuri kebebasan dan sekolah yang mencuri pendidikan.

Tapi, anehnya yang dicuri itu malah tak jadi soal genting. Barangkali memang ini karena sekolah kita dulu sudah dari awal mencuri pengetahuan kita. Jadi tak ada yang dianggap masalah apalagi hilang.

09 Maret 2015

madah empatpuluhtujuh

Hari ini hari kepunyaan perempuan. 8 Maret, dengan serentak, perempuan tetiba ditempatkan pada suatu titik yang agung. International womens day memang punya gema seruan yang lantang.

Perempuan dalam 8 Maret adalah suara emansipatif untuk merebut posisi yang sewajarnya dalam sejarah. Hari ini pasti banyak yang kembali menengok jenis kelamin yang berabadabad disingkirkan dari pentas cosmos. Hari ini, entah itu pria juga wanita, bersuara dalam satu intonasi yang kuat: hidup perempuan.

Yang sewajarnya dalam sejarah bagi perempuan, sebenaranya adalah deret peristiwa kelam yang tak pernah stabil untuk kukuh pada relasi yang sejajar.

Di mulai dalam sejarah pengetahuan, perempuan sudah selalu dipandang sebagai mahluk yang tak lengkap. Di Yunani purba, filsuffilsuf yang galibnya adalah kaum lakilaki sudah mengukuhkan pandangan semacam itu. Perempuan seperti mahluk yang keluar dari lintasan cosmos yang semestinya. Itulah mengapa, perempuan dianggap pelengkap dari susunan hirarki tatanan alam yang maskulin.

Dalam agama, yang kelam bagi perempuan sudah jadi titik yang tak bisa digugat. Titik itu sudah merupakan kepastian yang semakin mapan dilegitimasi oleh teks. Bahkan semenjak awal penciptaan, perempuan adalah sumber tulah. Bahkan kehidupan manusia adalah ulah perempuan yang menyebabkan penderitaan jadi tak berkesudahan.

Tapi sejarah adalah putaran waktu yang tak pernah stagnan. Sejarah adalah kompeksitas waktu dan ruang yang saling mengisi. Di dalamnya peristiwa terbentuk. Di dalamnya selalu ada yang kumulatif. Dari keterbelakangan perempuan, waktu dipelajari dan ruang dijinakkan. Yang asing dikenali. Perempuan yang terbelakang akhirnya sadar bahwa dunia yang dihuni adalah tempat bersama untuk diisi.

Ini berarti domestifikasi yang dialami perempuan mulai digugat. Rumah yang dipandang domestik ditarik secara sosiologis dan politik untuk dijabarkan menjadi yang publik. Apa yang biasanya tersembunyi dibalik pintupintu rumah akhirnya diperbincangkan. Penindasan perempuan yang dirasakan bukan lagi harus diendapkan dalam kuburan jiwa, tapi harus diangkat ketitik terang perdebatan.

Situasi itu sebenarnya awalnya didorong dari industrialisasi yang begitu besar merombak tatanan masyarakat feodal. Kehadiran tatanan yang menarik pekerjapekerja untuk keluar rumah, akhirnya menempatkan perempuan pada tempat domestik.

A Vindication of the Right of Woman, merekam suasana itu dengan terkurungnya perempuan borjuis di dalam rumah tanpa pekerjaan. Di abad 18, perempuan kelas menengah yang sudah menikah dengan para profesional dan pengusaha yang kaya, merasakan betul bagaimana aturan "perumahan," jadi sebab keterbelakangan perempuan.

Artinya, kekayaan yang dimiliki perempuanperempuan kelas menengah justru berdampak negatif terhadap keadaan yang mereka alami. Itulah sebabnya kekayaan yang melimpah, membuat perempuan borjuis abad 18, diibaratkan "penganggur yang tak produktif." Mary Wollstonecraft menggambaran itu dengan analog burung cantik yang dikurung dalam sangkar.

Tapi, yang dalam sangkar, menurut Wollstonecfraft harus keluar dari situasi yang memenjarakan. Di waktu itu, Rosseau punya karya Emile tentang pendidikan. Di dalamnya betapa perempuan ditundukkan oleh opresi nalar yang hanya dimiliki lakilaki. Bagi Rosseau, lakilaki yang rasional adalah tepat untuk perempuan yang emosional. Dan perempuan yang emosional dalam pendidikan harus dididik dengan kepatuhan, kesabaran, kelenturan dan ketulusan.

Itulah mengapa Wollstonescraft bersuara: perempuan juga harus terdidik dengan semangat yang sama dengan lakilaki. Yakni dengan merayakan nalar. Perempuan bukanlah mahluk determinis yang disekap emosi, tapi juga mahluk yang punya daya pikir untuk maju. Wollstonecraft menyebut itu dengan agen nalar yang memiliki tujuan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa tekanan superioritas intelektual lakilaki.

Melalui itulah, perempuan di abadaabad itu keluar dari domestifikasi dan melalui pendidikan mendorong katup tungku yang menekan eksistensi perempuan. Akhirnya perempuan keluar berpolitik menuntut hakhak publiknya. Bersuara atas opresi yang dialami. Organorgan pun terbentuk. Dan mereka berjuang.

08 Maret 2015

madah empatpuluhenam

Nun jauh di atas langit sana, terbuka kitab lauh mahfus, tempat segala informasi tersimpan. Tapi di sini, ada media massa. Pusat segala informasi menyebar.

Ini abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

Ada penelitian dari antropolog Amerika, Edmund Carpenter namanya. Melaluinya, kita bisa tahu sebuah kebudayaan bisa hilang oleh karena alatalat canggih berupa semisal radio ataupun televisi.

Di Sio, suatu daerah Irian di timut jauh, suatu budaya pelanpelan tersapu. Adat yang dijunjung sebagai simbolsimbol kebudayaan hilang. Carpenter menuli s itu dengan cermat: "Ketika kami kembali ke Sio, aku tidak lagi mengenal tempat itu. Beberapa rumah telah dibangun lain. Mereka sekarang berpakaian seperti orang Eropa dan perilaku mereka juga berubah. Mereka bereaksi lain. Sebagian mereka menghilang, berangkat ke pusat pemerintahan. Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka dan berubah menjadi individu yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dan tidak lagi menjadi bagian dunia mereka sebelumnya. Teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka."

Ada keprihatinan dalam ucapan Carpenter, tapi juga sebenarnya adalah ketakutan atas hilangnya yang primordial. Sebelum laporan itu dapat ia tuliskan, beberapa waktu sebelumnya ia datang memperkenalkan alatalat teknologi yang menghubungkan orangorang dengan perubahan di luar. Tape, camera, proyektor beberapa alat yang dibawanya. Dan selama ia tinggalkan tempat itu, dan kemudian datang kembali, maka tahulah ia betapa berubahnya orangorang dengan alat elektronik yang dipunyai.

Keprihatinannya itu ia tulis dengan katakata "tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuannya," dan barangkali ketakutannya ia ungkapkan dalam katakatanya "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka." Dua hal ini memang perlu dikhawatirkan, sebab di luar sana, kebudayaankebudayaan besar telah banyak menghabisi apa yang kita sebut budaya lokal.

Di Sio itu telah terjadi dan Carpenter menulisnya. Tapi di sekitar kita, tak perlu seorang Carpenter untuk mengatakan bahwa semakin hari ada yang semakin alienatif dari identitas kultural kita.

Marx menyebut alienasi melalui titikkoordinatnya pada produkproduk di dalam sistem ekonomi. Manusia terasing dari ciptaannya sendiri sehingga ia menjadi mahluk yang jauh dari ciptaannya. Begitu juga manusia dapat terasing dari lingkungan sosialnya dengan hilangnya solidarity time yang semakin minim. Sehingga dari produk ciptaannya dan juga dari lingkungan hidupnya, manusia jadi mahluk yang tercerabut dari nilai kemanusiaannya.

Tapi, dari kasus Carpenter sebenarnya berbeda. Juga di sekeliling kita. Tak ada yang berjarak dari produkproduk ciptaan manusia. Teknologi sudah seperti inti dalam setiap aktifitas kita. Alatalat canggih begitu sering kita temui dan akrab dengannya. Juga tak ada yang terasing dari lingkungannya, sebab tak ada ruang sedikit pun yang kosong dari bentuk komunikasi. Media komunikasi justru sudah masuk sampai pada ruang yang privativ dan menghubungkan kesendirian dengan keramaian dunia virtual. Artinya, tak ada yang kosong dari produk ciptaan dan komunikasi. Tak ada yang lepas dari teknologi.

Tapi justru disitulah masalahnya. Carpenter sendiri menulisnya dengan nada yang miris "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan," Yang teralienasi bukan sebab terpaut jarak antara manusia dengan ciptaannya, tetapi keakraban yang intim dengannya justru makin menjadikan kita tersingkirkan dari pusat kemanusiaan. Dengan kata yang lain, keterasingan kita sesungguhnya adalah hilangnya identitas kultural tempat kita menemukan diri yang yang sebenarnya.

Teknologi komunikasi memang sumber soal. Dan informasi yang dikandung di dalamnya bisa berarti dua hal: imprealisme dan kebisuan.

Horkheimer menyebut imperialisme dengan industri budaya. Melalui yang ia sebut kapitalisme kebudayaan itu, suatu agenda massal tengah berjalan membangun suatu sistem tunggal. Yang tunggal itu dalam soal selera kebudayaan adalah jenis selera massal yang membuat modal dapat terus berputar. Di era sekarang, selera sudah tentu bukan lagi urusan pribadi yang terlepas dari bagian informasi massal. Di dalam informasi yang diproduksi, bukan cuma selera, cara berpikir pun sudah jadi cetak biru logika pasar. Dan dari sanalah bermula identitas yang lenyap dibalik tayangan yang dipermak media. Seluruhnya adalah cermin dunia barat.

Sebab itulah Herbert Marcuse  menyebutnya one dimensional man, yakni tipe kepribadian yang tunggal atas kesamaan cara pandang dan selera yang dicipta. Maka, dengan cara itu mekanisme penyegaraman bekerja untuk mengadopsi satu identitas yang dominan. Di saat itulah yang lokal hilang tersapu budayabudaya raksasa. Di saat itulah kebisuan budaya sebenarnya terjadi, sebab lidah kebudayaan kita lebih peka segala yang berbau “luar.”

Maka itulah ada yang mesti prihatin. Kebudayaan memang  suatu yang tak selamanya pejal dan tetap. Juga identitas kultural yang dari sana kita bisa menerka asalusul suatu origin. Sebab kita akhirnya bisa menyesal di saat identitas yang origin justru adalah suatu yang sudah semenjak awal tercuri dari lingkungan kita. Seperti orangorang Sio yang yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dari lingkungan kolektivnya. “Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka,” Sebut Antropolog Amerika itu.

Ini memang abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

07 Maret 2015

madah empatpuluhlima

"Saya belajar dari Maxim Gorki yang betulbetul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semuanya berubah dan bergerak" Pramoedya Ananta Toer.

Semenjak rumahnya kedatangan orangorang asing. Syahdan, semua berubah menjadi berbeda: dunia dipandang sebagai tempat di mana niat mesti diperjuangkan. Pelagia Vlassov menjadi perempuan yang berubah. Ia menjadi seorang ibu yang tegar hadapi dunia yang karutmarut.

Semangatnya membuncah penuh getar untuk bertindak. Perempuan yang awalnya jadi korban kekerasan rumah tangga akhirnya tahu, bahwa perempuan tidak dinubuatkan untuk mengembik.

Dunia yang dilihatnya hanyalah keadaan yang sudah terlembakan berabadabad lamanya, dengan kekerasan, kemiskinan, kerja rodi, mabukmabukkan, sontak berubah. Di balik matanya yang biru: dunia memang tak seharusnya menjadi kalap.

Keadaan itu berubah semenjak anaknya, yang aktivis buruh, menjadikan rumahnya tempat pertemuan tersembunyi. Anaknya, Pavel, memang seorang aktivis buruh. Bersama temantemannya, dirumah sudut perkampungan di atas sebuah tanggul, perbincangan Pavel bersama temantemannya menyadarkan Pelagia Vlassov tentang arti sebenarnya keadaan yang mereka alami.

Saat itu memang Rusia adalah negeri yang sedang menyambut awal abad dua puluh. Sebagaima Eropa, industrialisasi gencar. Sulingsuling pabrik ditiap paginya sudah bunyi membangunkan kaum buruh untuk bekerja. Asapasap mengepul membungbung. Di bawahnya, kaum pekerja harus bangun dengan tuntutan kerja atas tenaga yang mereka miliki.

Dengan cara itulah Pelagia hidup. Wanita empat puluh tahunan dengan tubuh yang sedikit bungkuk harus bekerja dengan suaminya yang berperangai kasar sebagai montir di sebuah pabrik. Juga anaknya Pavel yang pendiam.

Begitulah Maxim Gorki dalam novelnya, Ibunda, membangun sebuah sketsa cerita. Suatu kehidupan seorang Ibu dan anaknya yang sadar untuk memotong rantai nasib yang tak melar berabadabad. Di ceritanya itu, Gorki, melalui Pelagia, ingin membilangkan bahwa seorang ibu yang memiliki satu bilik di dalam rumah, juga bisa turut mengambil sikap perjuangan atas keadaan yang timpang.

Sebab itulah barangkali Pram terkagumkagum. Gorki nampak mengguncang tiang pancang suatu rumah, dan membuatnya berubah dan bergetar.

"Rumah" dalam kalimat Pram bisa berarti banyak hal. Tapi, sebagai suatu tempat di mana kesadaran dan tubuh dipertautkan, rumah adalah ruang tempat semuanya mesti sejenak rehat. Di sana, di rumah, kita berhenti untuk bertindak, sebab fungsi rumah adalah tempat tenaga dan pikiran dipupuk. Rumah, adalah ruang yang dibangun untuk menyediakan tempat aman dan rasa tentram ditemukan. Di rumah, semuanya akhirnya jadi normal.

Tapi kata Pram, Gorki datang untuk mengguncangkannya. Tiangtiangnya tiba untuk digetarkan agar semua berubah dan nampak berbeda. Rumah, dalam arti stage yang sudah selalu kokoh bagi landasan pandangan dan keyakinan kita, akhirnya barangkali memang mesti dipugar. Sebab, yang kokoh biasanya akan kehilangan sesuatu yang bisa membuat orang bisa peka. Yang kokoh, kadangkadang memang tak selamanya sudah sempurna.

Maka itulah suatu guncangan bisa membuat semuanya berubah. Dalam Ibunda, Pelagia mengalami itu dari pertemuan anaknya Pavel dengan temantemannya. Di saat ia menjamu tamutamu anaknya, terbukalah pintu rumah jiwanya. Ia banyak mendengar kata asing dan pemikiran asing yang nampak baru dan membingungkan.

06 Maret 2015

Hegemoni

Hegemoni sebagai suatu ide berasal dari bahasa Yunani purba eugemonia yang merujuk pada kekuasaan negara-negara besar yang menguasai keadaan negara-negara disekitarnya dengan dominasi posisi. Dalam Prakteknya, kekuasaan atasa negara di contohkan oleh negara Athena dan Sparta pada masa Yunani purba.

Sebagai suatu istilah, hegemoni diperkenalkan Antonio Gramsci, seorang pemikir marxis Itali untuk merujuk pada keadaan kekuasaan kaum dominan yang menguasai kesadaran masyarakat dengan cara-cara non kekerasan.

Batas-batas ide: dari defenisi yang diberikan Gramsci, hegemoni berarti sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Hegemoni dalam penggunaan konseptualnya mengarahkan penggunannya untuk melihat gejala penggunaan kekuasaan dalam negara dengan segala instrument kekuasaan berupa institusi, kebijakan, aturan dan praktiknya dalam mempengaruhi masyarakat.

Hegemoni sebagai konsep adalah konsep atribut yang menerangkan ciri-ciri praktik kekuasaan baik negara ataupun di dalam institusi-institusi lainnya.

Tiga skala tingkatan hegemoni menurut Gramsci. Pertama, hegemoni integral (total): ditandai dengan afiliasi massa yang mendekati totalitas. Dalam situasi ini, kekuasaan sangat dominan dalam mendikte seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Contoh keadaan ini adalah ketika eksternalitas gereja yang dominan dalam menguasai masyarakat abad pertehangan dengan kepemimpinan religius.

Kedua, hegemoni yang merosot (decadent): dekaden hegemoni adalah keadaan kekuasaan negara yang tidak sepenuhnya dapat menguasai secara total objek hegemoni, oleh karena adanya perlawanan-perlawanan dari pihak-pihak yang memiliki pemikiran yang tak selaras dengan subjek hegemoni.  Dalam konteks pudarnya ikatan politik dan kekuasaan negara, lepasnya Timor-Timur dari NKRI merupakan salah satu contoh untuk model ini.


madah empatpuluhempat

Dari yang ditayangkan, tentang Gus Dur, Lukman Hakim, mengungkapkan bahwa hal pertama yang diingatnya saat dilantik menjadi menteri agama adalah guyon presiden RI ke 4 yang sering "ngelantur" itu. Di Mata Najwa edisi 4 Maret, Lukman Hakim menceritakan kembali guyon Gus Dur. Dalam guyon itu, Gus Dur menyampaikan bahwa Departemen Agama sebenarnya sama halnya dengan pasar. Semua lengkap tersedia, banyak orang lalu lalang termasuk transaksi pertukaran jual beli, kecuali satu hal yang tidak ada. "Apa Gus?" Tanya Menteri Agama menyelidik. "Agama" Ungkap Gus Dur.

Bukankah itu juga sebenarnya Satir. Suatu yang paradoks dengan maksud menyinggung.

Dari guyon itu, ada maksud yang bisa kita tangkap: intitusi agama tak selamanya sudah agamamis, bahkan lenyap. Di guyon itu, humor menjadi visualisasi membangun imajinasi. Dan Gus Dur lewat guyonnya tentang "yang hilang di departemen agama adalah agama" telah membangun sebuah pesan imajinatif: ada yang mesti di perbaiki di intitusi keagamaan itu.

Dari sini kita patut menyebut Gus Dur sebagai tokoh besar. Tapi sesungguhnya ia besar bukan karena guyonnya. Di Mata Najwa, yang akbar dari Gus Dur di beri tajuk "Belajar Dari Gus Dur." Yang besar dari Gus Dur adalah sikap terbuka dan toleransinya. Di Mata Najwa edisi 4 Maret itu kita diajak belajar yang akbar dari Gus Dus itu.

Barangkali memang itulah yang kita butuhkan untuk membangun hidup yang selaras, yakni menyatakan sikap penghargaan atas yang berbeda. Gus Dur besar sebab ia bisa melihat hal yang abai dari sikap kita yang kurang sreg jika tak sama. Toleransi sebagai sebuah sikap, bukanlah membiarkan sesuatu bisa terjadi dengan melepaskan keikutsertaan, melainkan sikap yang menerima dengan ikut terlibat di dalam lingkungan yang memang sudah berbeda.

Dengan kata lain suatu sikap koeksistensi. Sebab itulah Gus Dur dijuluki bapak pluralisme.
Pluralisme memang kata dengan konsep yang justru juga perlu dijaga. Di negeri ini, pluralisme adalah konsep yang galibnya jadi haram untuk dikonsumsi atau apalagi dijadikan akidah. Bagi sebahagian orang, konsep itu sama halnya dengan pengakuan atas kebenaran yang jamak, sebab kebenaran semula hanya satu. Dan sebab itulah mesti dijaga agar tak mendua.

Di sini ada yang sepertinya luput: pluralisme sebenarnya adalah terma yang mengakui kejamakan, bukan sekaligus adanya penyamaan kebenaran. Yakni realitas yang plural dan tak mungkin sama, adalah keadaan yang sui generis. Sebab justru pengakuan terhadap perbedaan, berarti di saat yang sama memang ada yang tak mungkin dapat disepadankan atau disamakan. Di saat inilah pluralisme sungguh berbeda dengan sinkretisme.

Sebabnyalah banyak yang mungkin salah menduga, bahwa pluralisme sebenaranya bukanlah terma yang punya misi penyatuan memaknai kebenaran. Justru, pluralisme jika disebut sebagai misi, sebenarnya adalah cara melihat kebenaran, entah itu agama, ras, etnis maupun budaya. Pluralisme lebih pantas jika disebut pengakuan sosiologis dibandingkan akidah sebagai kosa kata penghubung perbedaan.

Rasarasanya konsep inilah yang sebenarnya penting dibangun. Sebab di luar sana, betapa sesaknya pandanganpandangan tertentu yang memilin perbedaan menjadi satu jenis dan bentuk. Mungkin hidup dengan cara yang teologik mesti ditinjau kembali di era yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Karena dunia dengan kemajuannya memang banyak berubah, dan di saat demikianlah bagaimana cara pandang terhadap sesuatu harus terus direnovasi dan diperbaharui.

Dalam hal ini Soroush pemikir Iran memiliki ca ra pandang tentang kebenaran: dari banyaknya kebenarankebenaran yang terserak, mustahil mereka bertentangan. Dan cara Gus Dur mengatasi pertentangan yang kerap dihadapi adalah melalui guyon.

Guyon biar bagaimanapun tak selalu berarti tanpa keseriusan. Juga tak selamanya tanpa maksud yang lugas.

Gus Dur pasti punya banyak cara menyampaikan maksud pembicaraan dengan cara normal dan bijak. Sebagai seorang pemikir, akalnya bisa runut membangun pembicaraan yang pantas. Tapi ia memilih humor. Ia memilih guyon. Bentuk komunikasi yang sebenarnya adalah model sederhana dalam membuka apa yang sudah terlanjur serius.

Sebab itulah dengan guyon, di negeri sendiri, yang seriusserius tapi tak diurus mesti digetarkan. Barangkali ini sikap akbar Gus Dur yang lain. Cara bersikap di antara keadaan yang purapura serius tapi kurus dari kebenaran. Dan Gus Dur tahu cara membongkarnya; humor.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...