I've got a picture in my head (in
my head)
It's me and you , we are in bed (we
are in bed)
You'll always be there when I call
(when I call)
You'll always be there most of all.
(all, all, all)
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like,
Like, Like….
---(Hollywood, The Cranberries)
Ada yang paradoks tentang dunia pengalaman manusia. Suatu keadaan yang terjungkal dari porosnya, terjadinya pembalikkan secara
massif antara yang semu dengan yang nyata, antara penampakan dan kenyataan,
antara yang sejati dan palsu, bahwa realitas era sekarang sesuatu yang sulit dipilah berdasarkan intensitas kedalamannya.
Tak bisa akhirnya kita sanksi, dari apa yang kita alami, dunia tindakan
kita adalah dunia yang berada pada tepian batasbatas antara
yang imagi dan keyataaan. Sehingga dampak daripadanya terlampau sulit
untuk kita bedakan dan candrai. Oleh sebab begitu besarnya determinasi kemajuan
dunia tekhnologi informasi, yang begitu besar pengaruhnya pada sikapsikap yang
akan kita jalani. Di mana era digital tengah melanda dan mengambil alih
kenyataan kita yang sebenarnya.
Oleh media massa, dengan seluruh
muatan fungsinya, akhirnya menempatkan dunia pada kenyataan yang
dikehendakinya. Bahwa kenyataan adalah apa yang dapat dilipat, ditekuk, dan
dimapatkan. Sehingga dunia kehilangan ukuran yang sebenarnya, seperti ruang,
waktu, kedalaman dan keluasan akhirnya harus mangut pada logika era digital.
Yang mana seluruh ukuran mengalami perubahan secara intens, ketika yang “di
sana” bisa berarti yang “di sini”, yang “lampau” bisa dimaknai sebagai
“kekinian”, yang “permukaan” akhirnya bermakna “kedalaman” dan yang
“tersembunyi” pada kenyataannya diterima sebagai “Kenyataan”.
Media massa memang bukanlah sekedar medio penyampai realitas, atau apa yang
kita sebutkan sebagai pesan, makna, pun juga informasi dan berita. Oleh sebab
dia juga tak bisa kita katakan sebagai jendela kenyataan, karena media juga
dalam makna ideologisnya adalah institusi yang tak sekedar menyembunyikan
kenyataan, melainkan jauh daripadanya menciptakan realitas baru. Sehingga dalam
sifatnya yang demikian, media massa adalah perpanjangan tangan dari sebuah
sistem yang jauh melampaui, keterjalinan yang turut memproduksi kenyataan dalam
sebuah konstruksi kepentingan.
Lalu bagaimanakah yang dimaksudkan
dari apa yang disebut sebagai konstruksi kepentingan? Sebuah tatanan yang mapan,
yang mampu mencipta dan mendaur kenyataan? Sehingga realitas dapat dibentuk
berdasarkan apa yang menjadi ukuran mesin hasrat? Lantas apa yang dibilangkan
sebagai mesin hasrat? Sistem struktur yang mengambil alih proses penciptaan
budaya dari yang adihulung menjadi budaya yang rendahan? Dimana maknamakna
kemudian terlucuti dari ihwal yang sakral, yang ideal, menjadi sesuatu yang
banal, dangkal dan tak bermakna.
***
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like,
Like, Like.
Kenyataan sekarang adalah dunia yang merupakan hasil olahan produksi mesin
kapital. Keterjalinan darinya kita anggapkan sebagai momok yang begitu
ideologis. Dalam analisa Marxian situasi ideologis ini adalah peralihan dari
kesadaran menuju keterselubungan di dalam dunia. Sehingga seakanakan kesadaran
yang sering kita terima sebagai kebenaran hanyalah bentuk ilutif dari situasi
yang demikian. Lebih daripadanya kita mengimani kebenaran yang kita sadari
adalah murni sebagai episteme, yakni kebenaran sejati. Namun sebenarnya
dari apa yang kita prediksikan sebagai segenggam kebenaran tak lebih daripada
sebuah doxa, ihwal segala yang tak murni, bukan yang sejati; sesuatu
yang menipu.
Doxa, atau segala yang bukan sejati, hakiki, bukan saja sejumput istilah
perlawanan dari episteme (penegetahuan hakiki) melainkan gejala yang
menjangkiti tampakan kebudayaan kita. Oleh media massa, dengan totalitas daya
hegemoniknya, juga turut bertanggung jawab dalam membangun realitas kebudayaan
dewasa ini. Daya virtual yang super canggih, oleh media massa tengah bekerja
merangsek kehidupan kita dengan membangun citra, kesan dan imagi dari yang
diproduksinya. Maka daripadanya dunia nyata dan maya adalah dua peririsan yang
tak bertepi.
Kebudayaan populer (produser barang, film, musik, fashion, media,
tontonan, seni) sebagai residu atau budaya dangkal, sesungguhnya adalah produk
orisinal yang didasari olen imagi yang diproduksi oleh mesin hasrat kapital.
Kapitalisme kebudayaan (industrialisasi, konsumerisme) atau suguhan citra
yang nampak dari budaya populer, sesungguhnya adalah mode kebudayaan yang
mengekstase di atas citra permukaan. Yang mana turut mensituasikan adanya
pemujaan terhadap bungkusan daripada isi. Sehingga kita kehilangan pesona
kedalaman dibandingkan dari pada perayaan terhadap permukaan.
Tetapi apakah sesuatu yang harus kita tampik, tentang pemujaan terhadap
iconicon populer? Terhadap kesan yang terbangun di dalam dunia layar? Oleh
sebab disana ada pembebasan hasrat yang terpendam melalui saluransaluran
semisal mencintai iconicon K POP? Apakah memuja alatalat canggih semisal I
Pad adalah bentuk dari kemunduran kebudayaan? Walaupun sesungguhnya disana
ada kiblat yang bergengsi, tentang kehidupan yang glamour dan hingar binggar.
Sesungguhnya adalah situasi yang begitu malang. Hidup diantara batasbatas yang
tak jelas antara kehakikian dan kesemuan, oleh karena modernisme adalah kiblat
yang dibaliknya membawa pesan kolonialisme. Dimana dari modernisme, semuanya
kerap kali berubahubah begitu pesat dan gesit atas nama kemajuan dan
kepopuleran. Dimana tak ada yang tetap, dan budaya populer memanglah pemujaan
terhadap kegilaan yang akut. Adalah budaya populer merupakan
budaya Skizofrenia dari yang diistilahkan oleh Deluze, yakni situasi
kehampaan dari kedalaman makna dari hancur dan kesimpang siuran sistem
penandaan. Sehingga kita lebih bersedih hati menyaksikan icon pop kita
mengalami gosip yang tak benar muasalnya, dibandingkan dengan hilangnya
lokalitas dan keotentikan budaya di tengahtengah kita.
Dan akhirnya adalah masyarakat konsumtif sebagai tatanan dari situasi yang
diproduksi oleh konstruksi kepentingan (kapitalisme, Industrialisasi,
konsumerisme) untuk dasar akumulatif. Bukan saja akumulasi modal sebagai alas
gerak kapitalisme, melainkan juga makna turut diakumulatifkan sebagai cara
memproduksi hasrat konsumtif. Kita telah sampai pada masa kegilaan, kata
Guattari, sebuah konstruk kehidupan yang timpang, bukan saja masyarakat
kapitalis, melainkan juga kehidupan kebudayaan yang simpang siur. Maka,
daripadanya kenyataan budaya akhirnya terselubungi dengan cangkang keras
fantasi citra imaginer.
Pop Culture; Peluang atau Beban?
Sesungguhnya realitas kebudayaan
yang kita hadapi sekarang adalah diskursus yang panjang, tak dan belum sampai
pada batasbatasnya yang paling jauh. Sehingga membuka peluang bagi kita untuk
dibincang dan dipersoalkan. Sebab kebudayaan adalah entitas yang harus kita
maknai sebagai ihwal yang fluid, pembicaraan yang cair serta terbuka.
Atau dengan kata lain ada cela yang bisa kita intipkan darinya untuk kita
masuki. Sehingga standar antara yang adihulung dan yang dangkal bisa kita
batasi dalam batasbatasnya yang moralistis.
Budaya populer sebagai fenomena kebudayaan yang dilahirkan dari industri
kebudayaan massal, adalah fenomenon yang memiliki kepentingan ideologi pasar. Cara bekerja dari budaya populer itu
sendiri mensyaratkan keabaian kritisisme untuk budaya yang diterima secara
massal. Oleh karena budaya populer selalu beroperasi melalui cara berpikir
populer, yakni budaya yang dipengaruhi oleh film, musik, tontonan dan seni
hiburan sehingga mematikan fungsifungsi asas kebutuhan dibandingkan dengan
nalar gengsi.
Betapa di era kemajuan seperti sekarang ini, budaya populer adalah new
religion yang tentu memiliki ritual untuk membudidayakan dan memurnikan
ajarannya. Selama ia menjadi stimulus dari gejala semisal shopping mall,
life style, cara hidup glamour sampai hingar bingar diskotik, maka ia menjadi
agama baru yang merebak pesat di dewasa ini. Maka telisik mendalam perlu kita
lakukan untuk membersihkan gejala kebudayaan yang berimplikasi kepada hilangnya
budaya lokal yang bersifat adihulung.
Namun dari semua itu, pada kenyataannya jika budaya populer adalah hasil dari
transpalansi kebudayaan pada masyarakat terjajah, apakah tiadakah konsep dan
praktik kebudayaan tandingan sebagai counter hegemony dalam
mendeteritorialisasikan kebudayaan budaya populer itu sendiri. Setidaknya pada
stadium yang paling minimal, perlu ada usaha kesadaran yang intens dan
demokratisasi gerakan kebudayaan yang perlu dipancangkan sebagai usaha
emansipasi dan pembebasan untuk keluar dari massifisitas budaya populer sebagai
bentuk selubung kolonialisasi baru. Sehingga fantasifantasi kebudayaan massal
yang hanya berupa mayangmayang kenyataan bisa ditiadakan. Setidaknya seperti
dengan cara penggal lagu diatas, bahwa ini dan di sini bukanlah Hollywood![]
…This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not
Hollywood, Like !, Like !, Like…!
---
Disampaikan pada Intermediate
Training BEM FIP UNM, 13-15 September 2013.