22 Februari 2015

madah tigapuluhempat

Media massa banyak mengubah dunia, juga membuat manusia bisa takjub. Tapi sebenarnya dunia tidak berubah sepenuhnya, yang sebenarnya berubah adalah persepsi tentang dunia. Dan ketakjuban atas itu, dari dampak media yang memperpanjang jangkauan manusia, ditunjukkan Luther berabadabad lalu saat pembaharu kristen itu dibincang hampir di sudutsudut Eropa.

Ketakjubannya ia tulis; "Adalah suatu misteri bagiku, bagaimana tesisku...tersebar ke banyak tempat. Padahal semuanya khusus ditujukan bagi kalangan akademik kita di sini.."

Begitulah ia takjub dan barangkali juga heran.

"Di sini" dalam tulisan Luther saat itu adalah sepetak tanah atau ruang tempat lingkungan akademik gereja menghabiskan waktunya,  dan "kita" adalah batas yang ia tujukan kepada kelompok yang akrab dengan debat teologi dan kosmologi. Tapi dalam ungkapan yang sama ada yang melompati batas, ada yang jebol saat itu. Dalam keheranannya itu makna "di sini" juga berarti di manamana. "Di sini" juga bermakna "menyebar ke manamana."

Tulisan itu sebenarnya ia tujukan bagi Paus saat itu. Suatu surat yang tak menyangka dan diduga sebelumnya atas menyebarnya pemikiranpemikirannya. Barangkali ada kekhawatiran dalam benak Luther, sebab karyanya yang merupakan 95 tesis tentang ajaran kristiani, yang ia tulis untuk kalangan terdidik, justru menyebar tanpa bisa dikontrol. 95 tesis yang awalnya digantung di pintu gereja itu tibatiba jadi konsumsi massal. Dari sudut pintu gereja Wittenberg akhirnya menjelma hampir seluruh Eropa.

Kesaksian Luther ini adalah penanda betapa cepatnya penyebaran informasi saat seorang bernama Johannes Gutenberg berhasil menemukan sebuah alat yang disebut mesin cetak saat itu. Ķala itu arti mesin tidak sama jika kita menyebut mesin saat ini, tapi di tahun 1455 Gutenberg sudah mampu menciptakan 42 line bible dengan mesin sederhananya. Sebab itulah, melalui Gutenberg Bible tak lagi berupa kumpulan perkamen yang ditulis tangan. Di tahun yang sama Gutenberg membuat Bible pertama yang dicetak.

Hingga Eropa pelanpelan mulai menemukan keyakinan baru. Gereja sebagai institusi yang hak terhadap ilmu pengetahuan menjadi surut dan luntur. Temboktembok gereja mulai kehilangan arti sebagai batas yang ilahi. Sontak, yang di anggap ilahi bukan saja milik gereja. Yang jebol akhirnya tak dapat dibendung, yang akademik jadi milik umum. Sejak saat itu, saat di mulai dari Jerman hingga ke negerinegeri lainnya, Luther menjadi semacam mentari di ufuk jauh; membawa iman baru di manamana.

Dan dalam sejarah akhirnya kita bisa tahu, sebuah mesin cetak bisa menerbitkan dua hal; kegamangan dan pembaharuan.

Padri agama di saatsaat Eropa beranjak naik, barangkali juga tak menyangka. Seperti Luther, mereka akhirnya harus menerima keadaan yang selama ini dijaga akhirnya harus lancung; merebaknya kontroversi. Saat itu, dari 95 tesis yang ditulis Luther, tradisi kristiani mulai guyah. Banyak iman yang mulai menyelisih seperti perdebatan menyakngkut dosadosa yang bisa ditebus atau tidak. Juga kritikannya terhadap John Tetzel, teolog saat itu yang menghimpun pundipundi melalui surat aflat. Syahdan, sontak kegamangan itu menuai pembaruan disudut lainnya.

Tapi itu di abadabad 16 saat mesin cetak merombak tatanan informatif masyarakat Eropa. Kegamangan padri agama akhirnya berubah menjadi hilangnya kharisma gereja, dan munculnya kaum intelektual baru. Pengetahuan di sini juga ternyata tak selamanya kukuh di atas otoritas teologi. Bukan saja sabda tuhan yang bisa membangun iman yang tanpa cela, mesin cetak justru jauh lebih dahsyat, bukan saja menggetarkan iman yang lama dipugar sejarah, tetapi juga menjadi pemicu suatu gerakan baru saat itu; humanisme.

Humanisme inilah yang sepertinya jadi sesak bagi teolog saat itu. Sebab manusia justru adalah hamba yang harus melayani tuhan dalam kolonikoloni. Sejarawan Swiss, Jacob Burckhard, menukil suatu keadaan sejarah saat itu ketika manusia yang hidup dan mengenali dirinya sebagai ras, rakyat, keluarga atau kolektif. Dan di tengahtengah itulah seraut iman disusun atas sabdasabda yang membangun kehidupan religi. Tapi kemudian humanisme itu datang, individu sebagai segenggam kesadaran beriringan waktu menghancurkan ikatan yang terbina berabadabad lamanya. Dogma terganti rasio dan kolektifisme menjadi individualisme.

madah tigapuluhtiga

Ada cara bagaimana kita bisa mengukur kebahagiaan. Bentham, filsuf Inggris abad 18, meyakininya dengan cara yang kuantitatif, yang disebutnya "kalkulus kebahagiaan." Resep yang digunakannya sederhana; kebahagiaan sama dengan kepuasaan dikurangi kepedihan. Ini artinya, kebahagiaan berarti merunut sebanyak hal ihwal kepuasaan serta dikurangi dengan masalah yang membuat pedih. Hasilnya, itulah kebahagiaan anda.

Di abad 18, semangatnya itu ia tulis dalam karyanya yang hanya berupa pembukaan sebanyak 300 halaman; Introduction

Dalam Introduction, Ia juga mengusulkan untuk menulis daftar yang terdiri dari ragam kepuasankepuasan dan kepedihan. Di sini kita diajak untuk mengingatingat halhal yang membuat diri puas sekaligus hahal yang menjengkelkan. Setelah itu dicatat, dari daftar yang panjang berisi kumpulan kepuasan dan kepedihan itu disebutnya dengan istilah yang unik; katalog kepuasan.

Sebuah perhitungankah ini? Pengelolahan angkakah ini? Bentham hidup di Inggris. Di abad 18 pasca rasionalisme disingkirkan. Empirisme tumbuh berkembang di Britania, juga sains. Bermula dari itu cara berpikir Inggris nampaknya berubah. Segalanya mesti terukur. Juga kebahagiaan.

Bentham memiliki prinsip kepuasan berdasarkan utility. Di masanya, utility bukan berarti kegunaan dari sesuatu, melainkan kepuasan dari sesuatu. Dan kepuasaan dalam arti satisfaction sinonim dengan keuntungan, kepuasan, keunggulan, kebaikan atau kebahagiaan dari suatu objek.

Dan dari katalog kepuasaan yang disusun Bentham, peringkatnya mudah ditebak; kekayaan dan kekuasaan adalah daftar teratas kepuasan. Sementara kebalikannya, kesengsaraan dan ketidaknyamanan adalah urutan teratas kepedihan.

Sepertinya ada yang tak pernah berubah dari dahulu tentang kekayaan dan kekuasaan. Marx barangkali adalah orang yang telah menaksir, kepuasan terhadap kekayaan dan kekuasaan adalah mata rantai yang bisa mendatangkan derita di ujung lainnya. Masyarakat dapat kaya, tapi kemiskinan tidak mesti dibiarkan begitu saja. Sebab kepuasan terhadap kekayaan tidak selamanya menjadi ukuran yang defenitif. Juga kekuasaan, yakni selama manusia mampu membangun kehidupannya, kekuasaan adalah poros yang banyak menelan korban.

Tapi ada yang bisa saja fatal dalam filosofi kebahagiaan Bentham. Konsekuensinya adalah kepuasaan hanya diukur atas logika kuantitas. Satu kepuasaan seorang pelukis pasca menghasilkan karya lukisan akan sama dengan satu kepuasaan ibu rumah tangga yang memenangkan arisan. Secara kuantitatif dua kepuasaan itu akan jadi berbeda dalam ukuran yang kualitatif.

Sebab itulah Bentham bisa salah dalam mengukur kebahagiaan. Yang luput darinya adalah persamaam yang dibangunnya antara kepuasaan dan kebahagiaan. Juga dalam karyanya itu, kepuasan nampaknya akan semakin menjemukkan oleh sebab repotnya skala dan unsurunsur yang diperhitungkan yang disertakan dalam mengukur kepuasaan.

Richard Schoch menyebutkan bagaimana Bentham menulis kerumitan dalam mengukur kepuasaan dengan hukum persamaannya atas unsurunsur yang diperhitungkan. “Ini lebih rumit dari pada sekedar menaruh mereka dari skala..kita harus mengetahui beragam hal dari mereka; aspekaspek yang membahagiakan, situasi yang mempengaruhi, dan bagaimana mereka berhubungan satu dengan lainnya.” Syahdan, untuk pekerjaan mengukur kebahagiaan yang repot itu, Bentham mempercayakannya kepada politisi. Richard Schoch menyebutnya pemerintah.

Menurut Bentham, pemerintah harus punya tanggung jawab untuk mengurusi kebahagiaan dengan memperhatikan keadaan yang dipersiapkan untuk menunjang warganya mencari kepuasan sebanyakbanyaknya. Kepuasaan, oleh Bentham, atas keadaan yang diciptakan pemerintah, harus mengingat satu hal; keamanan. Pemerintah harus punya tanggung jawab menciptakan keamanan, tanpa keamanan kepuasan tak dapat dimungkinkan. Dan Bentham percaya, tanpa keamanan seorang pun tak dapat menemukan kebahagiaan.

Sama halnya Hobbes, Bentham sangat percaya jika manusia dibiarkan mengejar tanpa batas kepuasannya, maka perang bakal terjadi. Bellum omnia omnes, perang semua terhadap semua. Itulah mengapa perlu ada pemerintah yang mengatur kebahagiaan banyak orang.

21 Februari 2015

madah tigapuluhdua

Undian itu dilakukan dengan sut. Lingsang dan pasukannya mendapat kehormatan jadi ujung barisan yang akan memasuki Kutaraja dari selatan. Di belakangnya akan menyusul pasukan Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca…

Begitulah prosesi awal perang dikisahkan dalam Arok Dedes. Membaca fragmen cerita itu, kita akan segera tahu, tentang sebuah peristiwa jatuhnya kekuasaan seorang raja sekitar 1220 masehi. Saat itu, di Nusantara, dikisahkan Pramoedya Ananta Toer, Tunggul Ametung akhirnya mati bersimbah darah. Dan dalam lakon rajaraja, bersimbah darah berarti cara heroik untuk mati.

Tapi, di luar itu sebenarnya ada peristiwa yang lebih heroik. Jauh di luar jangkauan raja Tunggul Ametung, sebuah skenario kekuasaan sesungguhnya telah disusun rapi jauh hari tanpa sisa adegan yang kosong. Melalui tangan Buto Ijo, Arok, melalui peran yang panjang akhirnya menjelma kekuatan yang menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung.

Dan dari serangan itu, sejarah akhirnya mencatat, di saat itulah kudeta pertama terjadi di Nusantara.

Jika ada kekuasaan yang diceritakan tanpa menyisihkan intrik, barangkali Pramlah orangnya. Dalam Arok Dedes, sebuah naskah yang ia tulis di pulau Buru, barangkali ingin menjangkau ruang kesadaran banyak orang, bahwa kekuasaan sebenarnya dibangun bukan dengan cara yang langgeng dan sepi muslihat. Kekuasaan justru di tangan Pram, dikisahkannya adalah poros yang mudah keropos oleh intrik.

Melalui kisah Arok Dedes, Pram barangkali ingin membuka suatu tafsiran baru di sekitar kekuasaan. Bahwa, kekuasaan sesungguhnya adalah sesuatu yang tak stabil dan mudah retak. Di sini ada yang nampaknya sama sekali menyelisih dari adat kebiasaan. Apalagi dominasi cara memandang kekuasaan yang selalu ditautkan dengan hal ihwal berbau teos. Kekuasaan, seperti yang ditampilkan Pram dalam lakon Arok Dedes, adalah kekuasaan berwajah politik, bukan yang mitologik dan teologik. Artinya, kekuasaan itu mudah dihimpun juga diguyah selama intrik diberlangsungkan.

Juga bahwa politik sebenarnya adalah bagaimana kekuataan harus disusun dan dirombak. Yakni kekuatan bilamana ingin berhasil, selama disusun dan dirombak harus bermain pada semua lingkaran kelompok. Dan dalam lakon politik suatu rencana harus menyeimbangkan kekuatan di antara beragam kepentingan di sekitar kekuasaan.

Dengan cara itulah Arok memainkan perencanaannya. Seorang pemuda pelajar yang berhasil menghimpun kawula dan elit terdidik, serta kekuatan militer untuk menggerakkan sebuah perlawan terhadap Tunggul Ametung.

Barangkali, Pram juga ingin bermaksud bahwa politik sebenarnya adalah keadaan yang tanpa pusat. Sebab kekuatan sebenaranya bisa muncul dari mana saja selagi sebuah keadaan terlampau sesak oleh himpitan kekuasaan. Dan yang dibutuhkan sebenarnya adalah inisiatif yang cemerlang dalam bertindak dan membaca situasi yang serba mungkin.

Bila itu yang dimaksudkan, inisiatif sebenarnya adalah peran yang timbul tanpa lepas dari situasi yang kongkrit. Dalam arti ini, sebuah inisiatif lahir dari seorang subjek politik.

Slavoj Zizek, seorang filsuf abad 21, menyebut subjek politik adalah seseorang yang berperan radikal yang menerka keadaan dari segala ketermungkinan yang ada. Suatu yang disebut Zizek adalah “peran istimewa,” yakni suatu kemampuan dalam mengubah yang serba mungkin menjadi kekuatan yang menggerakkan. 

Dan Arok adalah orang yang melihat itu, menyusun dan memprediksi kekuatan mana yang kosong dan dapat ia manfaatkan menjadi kekuatannya. Ia seperti Sang Pangeran yang ditulis Machiavelli, orang yang menunggu dan bersikap di antara virtue dan fortuna.

Lakon kisah yang ditulis Pram ini, juga sebenarnya adalah bagaimana ia menjadi suara yang dibungkam di tengahtengah kekuasaan. Di pulau Buru, sebuah naskah sastra politik ditulis dengan kesadaran yang kental terhadap prosesi keberlangsungan sebuah kekuasaan saat itu. 

20 Februari 2015

madah tigapuluhsatu

Ludwig Nietzsche barangkali tak pernah menyangka, anaknya, yang ia persiapkan untuk menjadi seorang pendeta, suatu hari nanti akan mencipta kekalutan. Anaknya suatu hari nanti dengan niat yang mengebugebu, bersuara; tuhan telah mati. Sontak seluruh Eropa tersentak, seseorang telah membunuh tuhan. Seseorang telah membuat kalut orang beriman. Tuhan telah mati.

Dalam suatu metaforanya: "kemanakah tuhan?" Ia berteriak, "kubilang kepada kalian kita sudah membunuhnya. Kamu dan saya. Semua kita adalah pembunuhnya."

Nietzsche orang yang membenci moralitas budak itu, tentu tahu apa konsekuensi perkataannya. Tuhan yang telah mati berarti sama halnya menghapus iman yang mapan tanpa cacat. Tuhan yang dibunuh sama halnya membuat lubang besar dijantung keyakinan religius. Membunuh tuhan berarti meninggalkan segalanya dalam keburaman. Tak ada yang terang yang ditinggal Nietzsche selain kecacatan. Bahkan tak ada yang jelas; sebuah nihilisme.

Dan dari lubang yang ditinggalkannya itu, ia sadar, bahwa tuhan bukan segalanya.

Tuhan, yang diyakini, telah benarbenar tiada. Nietzsche ingin sebuah jalan tanpa tuhan, tanpa halhal transendental. Sebuah jalan yang tak ramai sesak oleh sabdasabda dan juga doadoa. Nietzsche ingin jalan yang milik manusia. Sebuah sikap non homo religious.

Dengannya Nietzsche ingin melabuh pada dunia yang bersih dari iman yang hipokrit. Suatu iman yang meneguhkan nilainilai kudus di suatu mimbar, tetapi membuat risau kemanusiaan atas nasib yang abai. Kepadanyalah segala iman dibunuh. Hidup sebenarnya adalah ziarah panjang yang tanpa hujung, tanpa pagar iman yang kudus.

Kepada yang ilahi ia menulis: "kita telah menonggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang..dan tak ada daratan lagi!"

Sebuah sikap atheismekah ini? Nampaknya ini yang sulit. Sebab Nietzsche menolak sebuah kategori yang serta merta ditautkan pada segala. Juga pada kebenaran. Apalagi suatu keimanan.

Kategori berarti di dalamnya mengandung suatu nilai. Berarti di sana sudah ada ukuran yang siap di letakkan. Dan menilai artinya membangun ukuranukuran. Namun, suatu ukuran bisa cacat ketika itu sudah selalu benar dan menyalahkan yang lain. Dengan kecatatan demikian, atas hak apa seseorang punya wewenang dalam menilai yang lain.

Sebab itulah Nietzsche mencurigai klaimklaim kebenaran; kebudayaan, tradisi, sains, moral atau bahkan agama. Bukankah sebenarnya kebenaran hanyalah dasar yang dibangun atas dasar perspektif? Kebenaran tiada lain hanyalah sudut pandang yang lahir dari situasi yang berbeda. Bahkan soal iman dan keyakinan.

Maka itu Nietzsche menginginkan iman yang lain. Iman yang telah dipugar dari bangunan keagamaan yang tak pernah gamang. Da sagen, sikap yang optimis ditengah ketiadaan nilainilai. Suatu arung tanpa ilahi. Bentang jalan panjang yang kepunyaan manusia sendiri.

Di sanalah manusia menerka hidup yang tak pernah lengkap atas titik akhir. Berjalan dengan lurus di dalam arus yang tak pernah diam. Bukan hidup yang terperangkap oleh nilainilai yang membuat diri semakin asing. Sebab adakalanya hidup sudah selalu fix oleh penafsir yang memancang batas. Maka di situlah sebuah kehendak sebuah arung dihujam, tepat pada iman hidup yang sudah selalu final.

Bukankah “Kita sudah membakar jembatan di belakang..dan tak ada daratan lagi"

19 Februari 2015

madah tigapuluh

Betapa mudahnya hukum ditegakkan, tapi betapa sulitnya keadilan ditemukan.

Barangkali karena itulah Socrates mati. Sebab tak ada keadilan di dalam suara terbanyak. Kita tahu,  pengadilan yang menjatuhi hukuman mati bagi filsuf itu, tak pernah mengakui aktifitas Socartes; berfilsafat.

Di Yunani, di saat itu, betapa mudahnya keadilan dipermak. Apakah adil itu? Pertanyaan seperti ini adalah penanda bagaimana keadilan memang tak selamanya jelas. Dalam pengadilan itu, yang menolak argumentasi pembelaan dari Socrates, memutuskan keadilan diberlangsungkan dengan cara suara terbanyak.

Apakah adil itu? Pertanyaan ini barangkali adalah pertanyaan yang memang tak sepenuhnya tuntas. Di saat ketika Socrates hidup, betapa banyaknya kaum sophis, golongan yang pandai membangun opini atas argumentasinya yang menyesatkan. Keadilan memang tak sepenuhnya dapat dijelaskan, sebab tak ada yang disebut kebenaran yang pasti, Phiro mengyakininya demikian. Kebenaran yang pasti sulit dijangkau. Kita, manusia tak bisa menyentuhnya. Kebenaran suatu yang misterium.

Sebab itulah Socrates bangkit melawan. Sebab di Yunani, saat itu sesat pikir jadi massal. Keadaan jadi simpang siur akibat kaburnya ukuranukuran. Filsafat bukan berarti keahlian yang tanpa hormat. Filsafat harus sampai pada satu simpul kebenaran. Kaum sophis salah. Kebenaran pasti ada, sebab itulah filsafat harus mencarinya.

Tapi, bagi banyak orang terutama orangorang kaya, kaum sophis sangat berguna. Keahlian mereka dalam menyusun argumentasi yang alot sangat dibutuhkan. Sebab di waktuwaktu tertentu, argumentasi mereka digunakan untuk berdagang. Retorika mereka sangat tepat untuk menarik perhatian orang. Dalam sejarah Yunani, mereka banyak ditemukan dirumahrumah orang kaya.

Itulah mengapa Socrates membenci kaum sophis. Keahlian yang mereka miliki justru membuat manusia tak hormat terhadap kebijaksanaan. "Aku bukanlah orang yang bijak, tetapi aku mencintai kebijaksanaan." Sepertinya sebab itulah ia tak ingin disebut sophis walau arti dari kata itu sebenarnya suatu yang baik; bijaksana. Tapi, karena orangorang yang menjual kebijaksanaan di pintupintu orang kaya, kata itu jadi cacat. Kata itu jadi rusak.

Di negeri ini, sebagai suatu yang sophis banyak sekali ditemukan. Bahasa kebenaran jadi kabur oleh ketidaklogisan katakata. Dalam hukum, bahasa menjadi medium yang mendua. Bahasa seperti ungkapan kaum sophis, tak mampu menyampaikan apaapa. Bahasa justru menjadi penjara dari apa yang ingin disampaikan. Bahasa tak bisa membawa manusia menjadi lebih tahu. Karena itulah tak ada yang bisa menangkap maksud. Tak ada yang bisa dirumuskan. Juga keadilan.

Keadilan memang suatu yang harus dicari dan diperjuangkan. Di negeri semacam ini, keyakinan sophisme memang tak seperti di Yunani era Socrates yang terang benderang ditemukan. Juga keyakinan mereka tentang kemustahilan ditemukannya kebenaran, tak membuat jemu orangorang mencarinya. Di sini, ditempattempat keadilan ditegakkan justru disaat yang bersamaan, keadilan disembunyikan. Atau yang lebih malang adalah keadilan dibungkam.

18 Februari 2015

madah duapuluhsembilan

Louis Althusser, filsuf marxis Perancis yang akhinya gila itu memiliki keyakinan, filsafat seharusnya menjadi tajam. Filsafat seharusnya memiliki sumbangsih. Filsafat harus menjadi senjata revolusi. Bukunya yang dituliskannya dengan judul "Filsafat Sebagai Senjata Revolusi", nampaknya teguh mengikuti bahasa Marx; filsafat tidak sekedar menafsir dunia, melainkan mengubahnya.

Saya agak sulit membayangkan, filsafat yang ditandai sebagi ilmu yang abstrak dapat jauh menyentuh halhal yang kongkrit, yakni suatu kehidupan praktis. Dalam hal ini malah mendorong suatu perubahan masyarakat; revolusi.

Tapi, di mata orangorang semacam Louis Althusser, atau yang teguh dengan marxisme, itu adalah hal yang mesti. Filsafat tidak seperti ungkapan Hegel yang berpretensi atas gerak ruh yang menyejarah dalam alam. Dalam marxisme, jusru sejarah adalah milik manusia kongkrit. Sejarah adalah milik orangorang yang ingin keluar dari tindihan beban kerja. Dalam sejarah sebenarnya adalah perubahan yang dicipta kaum pekerja. Dan di sanalah filsafat bekerja, di antara orangorang yang dihimpit beban kerja.

Sebab itulah filsafat diperuntukkan untuk kaum pekerja. Bukan untuk orangorang yang banyak memiliki waktu luang dan dengan enteng berpikir akan halhal yang jauh di atas batasbatas imajinasi. Filsafat demikian disebut Marx adalah pemikiran yang berjalan dengan halhal yang abstrak, filsafat yang berjalan dengan kepala. Filsafat yang untuk kaum pekerja harus diawali dari penyelidikan kongkrit. Dari hidup seharihari. Dari masalahmasalah praktis. Filsafat ini punya nama; materialisme historis.

Dengan demikianlah Louis Althusser menganjurkan sebuah cara berpikir yang historis. Yakni penyelidikan atas asalusul kehidupan yang dialami dan dijalani. Suatu cara materialisme untuk mengubah sejarah. Suatu filsafat emansipatif. Suatu filsafat revolusioner sebagai senjata perubahan.

Dalam arti itulah filsafat memiliki dengan sendirinya suatu tanggung jawab. Kata Alain Badiou suatu resiko. Resiko sebagai suatu konsekuensi atas sudut pandang. Dengan begitu filsafat menjadi konsekuen.

Filsafat yang konsekuen itu barangkali dapat kita temukan dalam kisah seorang Socrates, filsuf yang mati dengan menanggung resiko sudut pandang yang ia teguhi. Di sana, di suatu sudut penjara kota Athena ia membuktikan ucapannya; berfilsafat berarti bersiap menanggung mati dikemudian kelak.

Melalui cara pandang yang diperjuangkannya, akhirnya Socrates mati dengan cara yang teguh; keyakinannya ia pertahankan hingga racun cemara merenggutnya bersamaan dengan kematiannya.

Dan tak ada yang lebih puitis dari berbicara tentang kebenaran. Frase ini pernah diucap Gie. Anak muda yang resah sekaligus risau atas keadaan di sekitarnya. Kerisauannya kita tahu, ia tuliskan dalam catatan yang akan terkenal kelak; "Catatan Seorang Demonstran."

Melalui catatancatatanya kita akhirnya bisa tahu bahwa Gie adalah orang yang mudah risau. Sebab ia menanggung sebuah cara pandang yang konsekuen terhadap keyakinannya. Cara pandangnyalah yang sebenarnya membuatnya harus bersikap demikian teliti terhadap keadaan di sekitar. Dan dari sanalah ia menulis catatancatatannya. Dari keresahan.

Baik Socrates atau pula Gie, mungkin tidak seperti yang dikehendaki Althusser, bahwa konsekuensi dan keresahan dari suatu pandangan tidak berhenti pada suatu ruangan gelap penjara dan bukubuku catatan. Filsafat harus jauh menaksir yang tak pernah tersentuh oleh capaian perubahan manapun. Dalam marxisme, keyakinan demikian mereka sebut sebagai hukum dialektis.

Oleh cara demikianlah filsafat menjadi ilmu yang bekerja dalam sejarah. Mao menyebutkannya dengan cara berpikir dua tahap: pencerapan dan pengamatan. Dengan cara demikian, Mao menyepakati suatu keyakinan purba dalam ilmuilmu; teori dan praktik adalah dua hal yang tak bisa ditanggalkan salah satunya.

Sebab itulah fisafat yang disebut Althusser sebagai senjata revolusi yang ilmiah. Ini berarti seluruh asumsi filsafat harus diujicobakan dalam kehidupan praktis. Ini berarti filsafat juga mesti dipraksiskan. Dengan kata lain, filsafat sebagai senjata revolusi adalah jenis ilmu yang menjawab kebutuhan praktik seharihari. Ilmu yang menutupi kekurangan seharihari.

Tapi kata Alain Badiou filsafat hari ini sedang mati suri. Di kehidupan seharihari ia diserang sanasini oleh alam yang tak jemujemu menawarkan kebebasan, kesimpangsiuran, ketidaklogisan dan keacuhan terhadap komitmen. Filsafat menjadi ilmu yang tersisihkan dari kehidupan yang tak bertujuan. Filsafat kata Badiou harus dibangkitkan. Filsafat harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Filsafat ia sebut sedang sakit bahkan sekarat. "Tapi saya yakin dunia," ungkapnya di suatu waktu, "sedang berkata pada filsafat: "bangkit dan berjalanlah!"

Hanya saja bagaimana ia harus dibangkitkan? Jika ingin disebut sebagai senjata revolusi? Jika Socrates, barangkali ia akan menuruni keramaian dan bertanya kepada banyak orang akan segala hal ikhwal, seperti saat ia berkeliling di Agora untuk berdiskusi dengan siapa saja. Atau seperti Gie yang memilih jalan memutar untuk menyimpannya dalam bentuk refleksi pemikiran; menulis catatancatatan. Atau seperti marxisme yang menganjurkan cara praksis revolusioner gerakan massa. Atau di luar dari semua itu, bahwa seperti keyakinan Heidegger; berjalanlah sebagaimana anak kecil untuk pertama kalinya melihat alam yang asing.

17 Februari 2015

madah duapuluhdelapan

Orang itu lapar dan butuh tempat tidur. Jean Valjean, mantan napi yang nasibnya sudah buntung itu hanya butuh rumah dan makanan. Ia sudah berjalan jauh dari kotakota. Dimasukinya sebuah penginapan, namun ditolak. Juga  ketukannya terhadap pintupintu rumah yang lain menolaknya. Jean Valjean merana. Harapannya pupus. Semua pintu mengharamkan bantuan kepadanya.

Namun di suatu malam, di saat gundah dan lapar jadi sangat, ketika hampir semua pintu tak menyambutnya, di dekat pojok katedral ia bertemu seorang perempuan. "Sudahkah kau mengetuk rumah di ujung sana," perempuan tua itu menunjuk  sebuah rumah di suatu sudut dekat rumah mewah. "Belum," jawab Jean Valjean ketus. "Pergi dan ketuklah," perempuan tua itu menyarankan. Jean Valjean akhirnya beranjak dari kursi tempatnya tidur. Ditujunya sebuah rumah yang ternyata milik seorang uskup tua. Dan dari perbincangan singkat itu, di dalam sebuah rumah uskup, sebuah nasib akan bermula. Jean Valjean akan menjelma. Jean Valjean akan berubah.

Prancis di abad 18, memang mudah membikin orang menjadi sengsara. Apalagi mantan napi yang belum bebas penuh, seperti Jean Valjean, tokoh protagonis dalam novel termasyur Victor Hugo; Les Miserables. Sesiapa pun yang terlanjur menjadi masyarakat miskin, pengangguran, berpenyakitan tanpa pengharapan akan mengerti satu keyakinan; bersiap dikucilkan.

Foucault setidaknya mencatat bahwa di abadabad itu, orangorang semacam Jean Valjean, mantan narapidana, kaum miskin, kaum lepra atau tunasusila adalah korban dari kekuasaan. Bahwa mesti ada penertiban terhadap kaum papa, bahwa mesti ada penyingkiran kaum miskin terhadap tatanan masyarakat elit. Eropa saat itu memang sedang membangun sebuah rejim kaum elit, peradaban yang bersih dari orang semacam Jean Valjean.

Tetapi dalam Les Miserables, Victor Hugo menuliskan segurat nasib yang tidak lurus. Kemiskinan yang begitu dalam dialami masyarakat Prancis saat itu, digubahnya dalam kisah perjalanan seorang Jean Valjean yang mantan napi miskin, menjadi seorang walikota pengusaha yang tak abai dengan nasib manusia yang melarat. Dalam Les Miserables, Victor Hugo ingin bercerita bahwa kemiskinan dan kebaikan bisa mengubah banyak hal, termasuk hati seseorang.

Tapi kebaikan seperti apakah yang dimaksudkan oleh Victor Hugo, yang mampu mengubah Jean Valjean dari seorang papa, mantan buron menjadi orang yang berhati emas? Kebaikan itu diungkapkannya pada fragmen cerita saat Jean Valjean tertangkap pasca mencuri alat makan perak uskup yang menampungnya tidur. Di kisah itu dari pengakuan seorang uskup yang tidak diduga Valjean, akhirnya membuatnya tersentak kaget. Suatu yang tak dia bayangkan sebelumnya.

Fragmen ceritanya seperti ini: malam itu, pasca ia bertemu dengan perempuan tua yang menunjukkannya sebuah rumah, Jean Valjean beranjak pergi. Ternyata yang ditunjukinya adalah rumah seorang Uskup. Diketuknya dan tanpa didugaduga, uskup tua itu menyambutnya dengan hangat dan memberinya tumpangan untuk menginap. Tak ada rasa takut dalam hati Uskup itu. Tapi di malam itu, setelah jamuan makan malam, setelah semuanya terlelap, Jean Valjean tak tidur. Di malam buta itu ia bangkit mengambil peralatan makanan perak pastur yang ditemukannya di almari di dalam dapur. Jean Valjean mencurinya dan Dia kabur.

Paginya ketika uskup telah menyadari ditipu mentahmentah. Datang sekumpulan polisi yang membawa serta Jean Valjean. Ternyata ia ditangkap karena dicurigai membawa barang yang dinilai tak sanggup ia miliki. Jean Valjean merana, pikirannya kalut. Baru saja ia mendapatkan kebebasannya, ternyata nasib tak berubah. Ia akan dipenjara lagi. Tetapi saat itu, saat polisi mempertemukan Jean Valjean dengan Uskup, ia justru kaget bukan kepalang. Sang uskup dengan senyum malah menyambutnya. Polisi kaget. Jean Valjean apa lagi.

Ternyata sang uskup malah mengatakan kepada polisi bahwa ia sebenarnya yang memberikan peralatan makan itu kepada Jean Valjean. Bukan seperti dugaan polisi. Sontak karena pengakuan uskup bahwa tak ada barang sesuatu pun yang dicuri Valjean, maka ia dilepaskan. Akhirnya polisi pergi. Yang tinggal adalah Valjean yang merasa heran dan bersalah. Pagi itu ia menemukan kebaikan yang tak pernah diduganya. Jean Valjean gemetar.

Dalam kisah itu ada kebaikan yang janggal atau bahkan tak biasa. Yakni kebaikan hati dari seorang uskup tua terhadap seorang mantan buronan yang mencuri di rumahnya. Kebaikan yang sulit ditafsir oleh hukum moral. Kebaikan ini barangkali yang disebut dalam etika kristiani “jika engkau ditampar pada pipi kiri, maka berikan juga pipi kanannmu.” Suatu kebaikan yang tanpa konteks. Suatu kebaikan yang tak punya sangkut paut oleh pretensi apapun selain kebaikan itu sendiri. Barangkali kebaikan demikianlah kebaikan yang dimaksudkan Kant, ketika kebaikan dilakukan oleh karena tanpa syarat apapun.

Namun, kebaikan sang uskup melepaskan Jean Valjean pada kisah Les Miserables itu, menjadi penanda bagaimana kebaikan mampu mengguyah hati seorang Jean Valjean. Sebab dalam cerita yang konon banyak membuat tangisan saat mencetaknya, pasca kejadian itu Jean Valjean akhirnya menjadi pribadi yang berubah baik. Dari seorang mantan napi menjadi walikota yang punya peka terhadap nasib orangorang kecil.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...