09 Februari 2015

Media Massa dan Kemunculan Generasi Pop Culture

Marthin Luther
Tokoh pencetus Protestanisme dalam ajaran Kristiani


Marthin Luther, di abad 16 terheran-heran dan takjub 95 Tesisnya  menyebar luas. Sebelumnya, pandangan teologinya itu ia tempelkan di pintu gereja kastil di Wittenberg. Keheranannya itu ia ungkapkan kepada Paus melalui suratnya menyatakan betapa cepatnya tulisan-tulisannya menjadi diskusi publik luas. 

“Adalah suatu misteri bagiku” demikian ia menulis, “bagaimana tesisku…tersebar ke banyak tempat. Padahal semuanya khusus ditujukan bagi kalangan kita di sini...” Ketakjuban Luther ini sesungguhnya ungkapan betapa cepatnya perubahan ditimbulkan mesin media cetak.  95 tesis awalnya  ia tujukan hanya untuk kalangan gereja, justru tak disadarinya menyebar pesat hampir di seluruh Eropa. Sontak mulai saat itu, sejarah mencatat, Luther menjadi orang yang menerbitkan pemahaman baru atas keyakinan agama yang dianut Eropa.

Sesungguhnya apa yang terjadi dari cerita singkat di atas, menunjukkan, saat itu penemuan mesin cetak Gutenberg menjadi penanda revolusi informasi pertama selama manusia mengembangkan peradabannya. Penemuan mesin cetak Gutenberg menandakan berubahnya aksebilitas informasi yang secara massif mendorong berlangsungnya tranmisi informasi, pengetahuan, pemikiran dan pendapat dengan cara yang tak pernah dijumpai sebelumnya. Perubahan ini tidak saja menimbulkan perubahan penyebaran informasi yang berskala luas, tetapi juga melahirkan bentuk-bentuk interaksi baru dalam sejarah masyarakat.

Sementara di abad 21, ketakjuban Luther 5 abad lalu, untuk hari ini, nampaknya justru menjadi keresahan bagi kita. Kecanggihan media informasi bukan lagi sebatas arena pertukaran informasi, tetapi malah menciptakan penumpukan informasi. Hal ini demikian menyulitkan  sebab kurang dan cepatnya perjalanan waktu. Asas up to date  sebaran informasi telah mendorong kecepatan sebagai hal penting untuk mentranmisikan informasi ke segala penjuru. 

Dengan begitu, kecepatan waktu menjadi determinan bernilai tidaknya sebuah informasi. Implikasi dari itu adalah betapa banyaknya informasi yang berdatangan dan silih berganti tanpa menyisakan ruang untuk dicerna dengan selektif. Akibatnya, semakin banyak informasi menumpuk dan tak sempat diseleksi dicerna. Tumpukan informasi jadi kian membusuk sebab tidak ada upaya produktif mengelolanya.

Hal inilah yang dianggap oleh  Paul Virilio, seorang pemikir postmordernis, sebagai dromotology informasi, yang merujuk pada hilangnya waktu untuk mengelola informasi. Dromotology juga diandaikan oleh Virilio sebagai situasi bagaimana media informasi dijalankan dengan asas kecepatan dalam menyajikan informasi. Arus cepat informasi, selain memberikan tumpukan informasi, sebagai implikasi lanjutannya adalah, hilangnya daya penangkapan terhadap informasi. Informasi kehilangan kebermaknaan berkat kehilangan waktu refleksi.

Sementara dalam hal lahirnya bentuk-bentuk baru interaksi manusia, kecanggihan media komunikasi mengubah dunia sosial menjadi dunia miskin interaksi. Hal ini diterangkan Baudrillard melalui konsep pembalikan realitas yang dilakukan media informasi. 

Melalui kemajuan media informasi, manusia dibawa oleh realitas semu yang dibilangkan Baudrillard sebagai simulacrum yang mengaburkan batas-batas antara dunia nyata dan yang virtual. Kehadiran internet dan membludaknya pengguna internet adalah penanda bagaimana simulacrum justru telah mengambil fungsi-fungsi kenyataan. Hilangnya basis kenyataan di benak manusia yang beralih kepada simulacrum, akhirnya menarik basis sosial manusia dari yang nyata menuju yang virtual.

Kemunculan Generasi Pop Culture

Generasi budaya pop atau masyarakat pop culture ditandai dengan pergeseran cara berinteraksi terhadap simbol-simbol kebudayaan. Budaya pop selalu merupakan hasil dari industri budaya yang diperankan oleh media informasi dalam mengubah pemaknaan terhadap unsur-unsur kebudayaan. Dalam hal ini, budaya pop adalah hasil massifikasi budaya yang bersifat rendahan dan massal. Dengan artinya yang demikian, budaya pop adalah lawan dari budaya tinggi atau budaya canon (high culture).

Budaya populer seperti dimisalkan Adorno, seorang pemikir mazhab Frankfurt, juga disebut sebagai hasil dari industri budaya. Industri budaya dalam kategori Adorno adalah kebudayaan yang diproduksi atas prinsip-prinsip komoditas dan pasar. Melalui pemetaannya, budaya pop dimasukkannya sebagai budaya yang mempunyai standar kualitas, mutu dan estetika yang rendah.

Dalam kaitannya dengan produksi budaya, budaya populer dikatakannya sebagai hasil karsa dan cipta dari sekelompok elit maupun golongan yang memiliki kepentingan ekonomi. Dengan  diciptakannya produk-produk kebudayaan dengan selera massal, maka dampak kulturalnya adalah lahirnya generasi budaya pop dengan nilai-nilai kebudayaan rendah dan massal.

Perubahan sosial ditimbulkan dari kelahiran generasi budaya pop ini, secara berangsur-angsur menghidupkan nilai-nilai baru yang secara tidak langsung bertentangan dengan budaya canon. Dapat kita ambil contoh dalam hal ini adalah generasi muda yang sudah banyak melupakan nilai adat istiadatnya dibandingkan dengan nilai-nilai baru yang diberikan budaya populer. Demam korean pop belakangan ini adalah salah satu ilustrasi bagaimana budaya pop mengambil alih peran nilai-nilai lokal dalam keyakinan dan bersikap anak-anak muda saat ini. Perubahan nilai-nilai kultural ini juga ditunjukan bukan saja oleh budaya pop, melainkan juga keadaan zaman yang telah menghilangkan batas-batas kutural dengan dampak-dampak globalisasi.

Anak muda yang dimaksudkan di sini adalah seperti yang diungkapkan Talcott Parsons, yakni bukanlah semat-mata kategori biologis, melainkan suatu kategori dari produk sosial yang dibentuk dan dapat berubah sewaktu-waktu. Dalam arti ini, anak muda dapat dikategorikan sebagai klasifikasi kultural yang ditandai dengan perlibatannya di dalam perubahan nilai-nilai yang dihadapinya.  Ini berarti dampak budaya populer juga berarti turut membentuk dan juga dapat mendeskripsikan perubahan-perubahan yang menyertai segmentasi dari anak-anak muda yang terlibat di dalamnya.

Perubahan yang paling dapat diamati di dalamnya seperti yang ditujukan oleh Hebdige, yakni kemunculan identifikasi anak muda yang didasari oleh presentasinya teradap konsumen fesyen, gaya dan berbagai aktivitas waktu senggang yang suka bermain-main. Apa yang ditunjukkan Hebdige sebenarnya adalah kemunculan suatu model kehidupan sosial baru yang keluar dari batas-batas normatif seperti yang ditunjukkan oleh budaya populer. 

Kemunculan model kehidupan populer ini sebenarnya masih dalam kaitannya terhadap seperti apa anak-anak muda yang tumbuh dari industri budaya populer menata dan menciptakan sendiri simbol-simbol kulturalnya yang berbeda dari budaya yang dianut sebagai aturan normatif.

Penciptaan kembali nilai-nilai baru yang sesuai dengan selera anak muda ini dijelaskan oleh Hebdige sebagai brikolase. Konsep ini mengacu kepada penataan kembali dan kontekstualisasi ulang benda-benda untuk mengomunikasikan makna-makna yang bisa diterima oleh kalangan anak muda itu sendiri. Artinya, produk-produk kutural yang selama ini dimaknai sebagai peninggalan budaya dan dikenal sebagai simbol-simbol tradisi masyarakat terdahulu, diubah dan dinyatakan kembali dengan cara yang baru dan trendi. Dalam kasus hijabers misalnya, dapat dikategorikan sebagai elemen anak muda yang mempraktekkan produk-produk kultural dan agama tidak sebatas simbol-simbol tradisi dan religius, melainkan justru diubah menjadi produk yang mengandung nilai trendi dan modis.

Dalam aspek demikianlah budaya populer mengalami reposisi tidak sekedar produk daur ulang kebudayaan, tetapi justru menjadi budaya baru yang tercipta dan dianut oleh anak-anak muda sekarang. Yang malang dari hal itu, penyebaran nilai-nilai baru ini juga didukung oleh industri kebudayaan yang disokong oleh media informasi dan komunikasi. 

Penyebaran ini juga ditandai dengan lahirnya produk-produk budaya populer berupa sinetron, film dan lagu-lagu yang mengangkat tema-tema anak muda sebagai komoditi dalam menciptakan pasar di kalangan anak muda. Karena hal inilah mengapa di sisi lain, secara ideologis budaya populer menciptakan pemaknaan yang bertahan lama mengenai standar selera kebudayaan yang bertentangan dengan budaya canon.

Lahirnya generasi budaya populer, selain merombak tatanan kebudayaan lama, juga menandai terjadinya perubahan segmentasi di dalam formasi masyarakat. Apabila mengacu pada variasi hubungan antara individu, kelompok sampai organisasi seperti yang diutarakan Ritzer, maka perubahan sosial yang ditimbulkan oleh budaya populer akan nampak dari lahirnya komunitas-komunitas yang memiliki ikatan solidaritas berdasarkan selera dan minat terhadap salah satu trend ciptaan pasar. 

Nampak jelas di sini, ikatan kultural berdasarkan nilai, tujuan, prinsip hidup dan cita-cita digeser perkembangannya dengan kehadiran kelompok atau komunitas masyarakat semisal hijabers, K-pop, perkumpulan motor, supporter sepak bola, peminat binatang dsb, yang memiliki pemanfaatan terhadap waktu dan ruang yang berbeda dari anggota masyarakat umumnya.

Dalam arti komunitas yang memiliki pemaknaan berbeda terhadap ruang dan waktu dari masyarakat umumnya, komunitas-komunitas disatukan selera dan minat ini melihat ruang dan waktu dalam arti yang nonideologis. Berbeda dengan golongan masyarakat yang terikat terhadap organisasi-organasisasi perjuangan, komunitas-komunitas ini justru melabrak adanya distingsi ideologis dan nonideologis yang biasanya dibangun oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu terhadap tempat-tempat yang berbau kapital. Hal ini disebabkan karena dalam persoalan nilai dan prinsip hidup, komunitas populer tidak lagi memandang nilai-nilai yang bermuatan ideologis relevan terhadap konteks zaman yang dihadapi.

Geografi Ruang dan Waktu Masyarakat Pop Culture

Mengacu dari Giddens bahwa aktivitas manusia dapat dilihat dari distribusinya terhadap ruang, maka suatu aktivitas sosial dengan sendirinya akan mengikuti bagaimana ruang di terjemahkan berdasarkan pemanfaatannya terhadap kepentingan masyarakat yang berlaku. Begitu pula dengan waktu, geografi waktu ditunjukan oleh Chris Barker sebagai pemetaan terhadap aktivitas masyarakat di dalam ruang berdasarkan lintasan waktu dalam melakukan kegiatannya. Melalui pengertian ini, generasi pop culture  banyak menggunakan waktu dan ruang secara konsumtif demi asas kemanfaatan yang mereka yakini.

Kegiatan yang bersifat konsumtif tidak lepas dari ruang yang terkontruksikan secara kapital oleh modernisme. Sebagaimana ruang dalam pengertian Massey, seorang sosiologi inggris, bukanlah tempat yang kosong dari kontruksi sosial. Ini berarti ruang sosial yang diminati publik, tidak terlepas dari perlibatan pertukaran simbol-simbol kapital dan kultural di dalamnya. Bila pengamatan kita tujukan kepada komunitas-komunitas, atau masyarakat secara umum, secara berangsur-angsur telah ditundukkan oleh ruang dan waktu yang dipopulerkan oleh budaya populer. Akibatnya, aktivitas sosial semisal dimana harus melakukan refresing, makan, mendapatkan hiburan, interaksi, melakukan pertemuan dan hal-hal lainnya tidaklah dimungkinkan tanpa keteribatan tempat-tempat yang berdimensi konsumtif.

Aktivitas sosial yang dilakukan oleh masyarakat yang terpopulerkan sebenarnya tidak lepas dari bagaimana media informasi melalui iklan membajak pemaknaan atas kesan-kesan yang telah dipopulerkan. Iklan dengan cara yang telah dijelaskan oleh Baudrillard, malah memberikan efek yang impresif terhadap penikmatnya sehingga kesan yang ditangkap sering kali tidak sesuai kaidah-kaidah rasional. Dengan cara demikianlah, iklan, melalui media informasi dan komunikasi, menjadi bagian dari unsur yang menciptakan selera populer seperti yang dijelaskan Adorno sebagai industri kebudayaan.

Perlu juga diingat bahwa budaya populer dapat tegak karena adanya yang disebut fantasi populer. Yasraf Amir Piliang menyebutkan fantasi populer diciptakan berdasarkan imajinasi populer yang bekerja dengan cara berpikir populer, wacana komunikasi populer, ritual popuer dan simbo-simbol populer. Melalui empat elementasi inilah budaya populer disebutkan Yasraf menggiring masyarakat kepada ideologi populerisme, yakni sebuah perayaan terhadap citra ketimbang kedalaman makna, bungkus daripada isi, penampilan ketimbang esensi dan popularitas daripada intelektualitas.

Dunia sosial yang telah dikuasi oleh ideologi populisme, selain mengakibatkan budaya konsumtif, juga akan menghasilkan kebudayaan yang tidak otentik. Telah disebutkan sebelumnya bahwa lahirnya generasi budaya pop selain merombak tatanan nilai-nilai yang normatif di masyarakat, juga sadar atau tidak merupakan hasil dari daur industri kebudayaan. Di dalam kebudayaan yang dipengaruhi oleh konsumerisme dan budaya populer, masalah identitas sangatlah penting sebab pada kenyataannya, identitas sampai gaya hidup yang dilakukan sebenarnya adalah hasil dari kontruksi sekelompok orang demi kepentingan ekonomi. Pada titik inilah identitas kebudayaan yang dihayati dan dijalankan bisa menjadi identitas kebudayaan yang semu dan tidak otentik sebab merupakan penemuan dan dibentuk dari luar kekuasaan masyarakat.

Sementara itu budaya yang otentik adalah budaya yang bukan hasil konstruksi dari pihak luar, yang menerapkan standar nilai yang tidak merujuk kepada kebiasan hidup masyarakat tertentu. Kebudayaan yang otentik adalah kebudayaan yang lahir dari pencarian akan akar, asal usul, dan dunia di mana suku, ras, agama dan bangsa menetap. Budaya otentik adalah budaya yang tidak menghambat perkembangan identitas masyarakat di dalamnya, dan juga adalah budaya yang lahir dari lapisan grass root dan tumbuh berkembang bersamaan dengan perkembangan masyarakatnya.

--

Sumber Bacaan
  1. Sosiologi Perubahan Sosial. Piotr Sztompka. Prenada. 2008.
  2. Cultural Studies; Teori dan Praktek. Chris Barker.Bentang. Yogyakarta.2005.
  3. Dunia Yang dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Yasraf Amir Piliang. Matahari. Bandung. 2011.
  4. Lubang Hitam Kebudayaan. Hikmat Budiman. Kanisius. Yogyakarta. 2006.
  5. Lifestyle Ectasy, Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Editor Idi Subandy Ibrahim. Jalasutra. Tanpa tahun.
  6. Masyarakat Konsumsi. Jean Baudrillard. Kreasi Wacana. 2013.
  7. Jurnal Prisma. LP3S.

08 Februari 2015

madah duapuluh

Layla dan Majnun
Kisah cinta legendaris karangan Nizami


CINTA, seperti di waktu sekarang, zaman yang sudah tercemar sanasini, tidak seperti Layla dan Majnun melihatnya; sesuatu yang menggelora, sesuatu yang hendak digambarkan bahasa tetapi seperti tak sempat diucapkan dalam kosa kata yang hanif. Juga tidak seperti bagaimana ahli suluk menggambarkan cinta sebagai jalan tanpa pamrih dan absennya ego untuk menuju yang baka. Justru cinta, untuk seperti sekarang kalau tidak ditafsirkan dalam hasrat, malah menjadi hal yang justru mengerikan; pembunuhan.

Peradaban seperti yang dibilang Sigmund Freud, Psikoanalisis Austria, ibarat kekang kendali kuda yang diikat kusir. Peradaban di mata Freud tak sekalipun memberikan peluang di luar rasio dapat eksis. Tak ada lini kehidupan lolos dari rasionalitas. Manusia ditundukkan atas inisiasi rasio yang  menjadi cara kerja peradaban. Nietzsche menyebutnya, zaman yang dikerdilkan. Kebudayaan yang memuja formalisme seperti yang diinginkan manusia sebagai animal rationale. Kebudayaan yang disebutnya bermental budak ini, adalah kebudayaan yang lemah dan tak berpengharapan.

Di dalam situasi demikianlah, cinta begitu  tragis ditampakkan akhirakhir ini. Cinta seperti yang disaksikan, justru menjadi bukti bahwa kematian sesungguhnya nampak tak bisa jauh dari sisi cinta yang misterium.

Dalam sejarah Yunani purba, riwayat cinta yang misterium memang mengikutsertakan kematian seperti yang ditampakkan Socrates. Cinta dalam alam pikiran Yunani, diperlihatkan Socrates sebagai bagian yang inheren dalam apa yang disebut filsafat.  “Aku bukanlah orang yang sepenuhnya bijaksana, “ ucapnya suatu waktu, “tetapi aku lebih mencintai kebijaksanaan.” Cinta, di mata orang  paling bijaksana di Yunani itu, adalah seperti dua hujung titik yang mengguratkan garis; sebuah lintasan proses. Bahkan cinta yang dia lihat sebagai sikap yang “lemah” dihadapan “kuasa kebenaran yang misterium” adalah sikap hidup yang tak berkesudahan.

Tetapi akhirnya ia harus mati dari sistem yang menganut suara terbanyak sebagai hukum. Socrates dinyatakan mengganggu tatanan teos dengan memperkenalkan tuhan baru. Juga yang paling dihindari adalah ia menyesatkan jiwa anakanak muda. Maka di suatu penjara di kota Athena, ia menenggak racun cemara. Namun jauh hari ia memang sudah siap “orang yang mengikuti jalan filsafat dengan cara yang benar sesungguhnya telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi maut dan menjalani kematian.”

Tetapi bagaimana kita harus menangkap sesuatu yang sublim dari cinta yang berakhir tragis? Belakangan ini, cinta, yang diklaim univesal itu, malah nampak menjadi timbunan purba manusia yang merusak dan destruktif. Cinta malah ditafsirkan bersamaan dengan egosentrisme yang kronik. Hingga akhirnya, cinta yang akut harus menilap nyawa dari yang seharusnya cinta hidupi.

Nampaknya apa yang disebut Freud sebagai insting kematian tak selamanya mampu dikontrol. Peradaban yang semula adalah mekanisme pendisiplinan terhadapa hasrat bawaan manusia, harus risau terhadap cinta; perasaan halus yang lolos disadap peradaban. 

Cinta, perasaan yang sulit diberikan ruang yang defenitif itu, sepertinya adalah saluran dari insting kematian yang diamdiam bekerja. Pelanpelan mengambil peran yang merusak dan mengguyah segalanya. Cinta dengan wajahnya yang lebih mirip insting kematian itulah yang banyak menggusur pengharapan dan pengorbanan. Cinta yang demikian itulah yang banyak menerkam korban dan bukan pengorbanan. Cinta yang demikian itulah cinta yang beriringan dengan kematian. 

Cinta dan kematian memang dua hal yang berbeda, tetapi betapa mudahnya dua hal itu ditemukan dalam tragedi manusia yang kronik.



Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa pembunuhan dilahirkan dalam cinta destuktif, hingga akhirnya menilap gampang nyawa. Tetapi memang itulah yang tersebar di mediamedia tentang betapa seringnya sepasang manusia harus saling memunggungi hingga berakhir pembunuhan. Walaupun tidak seperti bagaimana Romeo dan Juliet melihat cinta sebagai ujung jalan abadi. Dari apa yang saya saksikan di mediamedia, cinta sungguh jauh dari kisahkisah semisal Socrates maupun Layla dan Majnun. Di mediamedia, cinta mengambil paksa nyawa sepertinya adalah cinta yang tragis, cinta yang miskin sekaligus angkuh.


07 Februari 2015

madah sembilanbelas

Sepertinya kita harus kembali mencurigai semangat Pencerahan. Seperti yang dibilangkan Adorno dan Horkeimer, Pencerahan adalah kata yang juga punya cacat. Semangat Pencerahan, seperti yang dibayangkan Kant, nampaknya tak selamanya adalah prinsip yang  sempurna. Sebagai sebuah peristiwa sejarah, pencerahan harus maklum, waktu adalah hakim yang tak pernah pandang bulu. Dalam sejarah, Pencerahan tidak bisa lagi dibayangkan seperti saat di awal kelahirannya, sebab pencerahan yang di dalamnya ada "aku" yang tegak dan otonom juga ternyata bermakna sesuatu yang lain; cogito yang soliter.

Descartes barangkali tak pernah membayangkan, cogito yang ia temukan dalam terang kesadaran itu juga punya arti  yang lain. Cogito yang terang dan jelas itu, justru menjadi cogito yang terasing dari keterlibatan dunia. Aku yang berpikir, sebagai subtansi yang menjadi pusat, sudah dengan sendirinya adalah “aku” yang mengasingkan dunia dari dirinya. Dunia yang disebutnya adalah res ekstensia dihadapan aku yang berpikir, adalah dunia yang  di tempatkan di bawah kendali tanpa perasaan dan emosi. Dunia, di dalam cogito adalah dunia yang ditaklukkan dan dibentuk oleh superioritas “aku yang berpikir.”

Sebab itulah, pencerahan adalah berarti lahirnya “aku berpikir” yang soliter, “aku” yang individual. Charles Taylor menyebutkan, “aku yang soliter” pelanpelan menjadi kosa kata modern yang berarti bagaimana manusia membangun segalanya dengan otentik. “Aku” yang soliter dalam membangun yang otentik adalah aku yang menghilangkan kepercayaan di luar dari selain dirinya. “Aku” dalam kosa kata modern adalah manusia yang menumbuhkan pelanpelan semangat berdikarinya, semangat yang sanksi terhadap otoritas yang lain. 

Membangun yang otentik berarti adalah “aku” yang telah menafsirkan tujuan dan keinginannya yang mandiri dan otonom. Dari itu, “aku” yang soliter dan yang otentik sekaligus adalah “aku” yang mengabaikan “yang kolektiv”, yang “bersamasama.”

Maka di sinilah masalahnya; “aku” yang terbebaskan dari kekuatan eksternalitas, sudah dengan sendirinya adalah “aku” yang antisosial. “Aku” yang tak menyertakan kehadiran yang lain. Sebab, “yang sosial” adalah bagian yang lain, bagian yang tidak termasuk dalam “aku.” Dari sini bisa kita pahami maksud dari semangat individualisme modern, yang sebenarnya memilah “yang sosial” sebagai kenyataan yang tak dapat lagi dibagibagi menjadi kenyataan yang individum. 

Dari sanalah semula yang kolektiv akhirnya diruntuhkan menjadi pecahpecahan yang menjadi satu totalitas yang mandiri; individu. Dengan arti lain, “aku” yang soliter adalah optimum kemanusiaan yang abai terhadap kolektivitas.

Dalam arti itulah kita patut curiga; janganjangan tak ada yang sebenarnya dikatakan sebagai tujuan ideal yang didasarkan dari kehidupan yang kolektif, karena sebenarnya yang kita andaikan kehidupan kolektif, adalah keinginan yang individual? Janganjangan kemanusiaan kita, yang ditujukan atas kepekaan sosial adalah sebenarnya suatu hal yang telah disingkirkan oleh kepentingan individual? Atau janganjangan ikatan kolektif dalam keluarga, masyarakat, negara, kebudayaan, politik, ekonomi dan juga yang lainnya, sebenarnya merupakan kosa kata yang kehilangan kepekaan sosial, kosa kata yang emoh terhadap yang lain?

Sebab itulah, pencerahan atau semangat modern adalah kemunculan “aku” yang mengabaikan komitmen dan kesetiaan. Yang individual adalah optimum kemanusiaan yang bergerak atas prinsip yang rasional. Maka dari yang rasional tak akan mungkin memercayai komitmen, tak memercayai kesetiaan. Karena dari awal, “aku” yang soliter adalah “aku” yang menaklukkan yang lain. Dan jika yang lain telah ditaklukkan, maka komitmen dan kesetian adalah suatu hal yang tak mungkin diasosiasikan kepada yang lain. “Aku” yang modern adalah “aku” yang tanpa melibatkan “aku” dengan sisi emosional.

05 Februari 2015

madah delapanbelas

Demokrasi sebagai kekuatan politik adalah sistem yang sebenarnya tidak selamanya tepat. Terutama bagi negaranegara yang masih menyimpan sisasisa masa lalu. Di negeri seperti indonesia, sisasisa masa lalu itu sudah seperti akar beringin yang tak ingin kehilangan pengaruh; feodalisme, aristokrasi dan mitologi.

Negeri yang tak sepenuhnya demokratis sama artinya dengan negeri yang belum sepenuhnya modern. Modern, kata yang mengandung kemajuan itu, berarti hadirnya subjek sebagai kekuatan yang kukuh. Modern dengan subjeknya yang kukuh, sama halnya seperti Kant menyebutnya sebagai pencerahan. Kant dengan semangat kritismenya, menandai pencerahan sebagai usaha yang mandiri, setelah ia terbangun dari tidur dogmatisnya, ia menyebutnya sebagai pemikiran yang berangkat dari pikiran yang mandiri.

Itu berarti demokrasi setidaknya adalah subjek yang tegak atas pemikirannya, suatu "aku" yang keluar dari ikatan yang totalis. Dalam arti inilah modern sejajar dengan demokrasi, atau demokrasi adalah sistem yang membutuhkan ruang yang modern. Suatu tempat yang tegak dengan semangat atas "aku" yang otonom dan mandiri.

Dengan begitu dengan sendirinya demokrasi menghasilkan kedaulatan. Daulat berarti posisi yang mengalami kemerdekaan bersamaan dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Sebab yang mendaulat adalah subjek "aku" atas "aku." Rakyat atas rakyat dan untuk rakyat. Dan yang daulat berarti juga rakyat yang menyadari dirinya bagian dari yang mendaulat. Tapi bukankah ini mengandung implikasi yang kontardiktif?, walaupun begitu, justru sebenarnya dari sanalah kekuatannya. Demokrasi menjadi tatanan yang mengawasi dan tatanan yang diawasi. Kedaulatan yang daulat adalah kedaulatan yang bersih diri. Jika demikian maka tak ada yang daulat dari selain dirinya sendiri.

Tapi demokrasi punya cacat. Kekuatannya bisa menyimpang walaupun kedaulatan masih tegak dan berdiri Pertama, demokrasi dalam tatanan yang modern selalu mengandaikan agregasi. Dibalik kekuatannya, yang banyak adalah suara yang mayor. Dan yang mayor diartikan sebagai suara yang mewakili kebaikan umum. Kedua, yang mayor berarti menempatkan minoritas justru sebagai bagian yang periperi, yakni suara atas hakhak yang tak diakui, terpinggirkan.  Dengan arti inilah demokrasi bisa berbahaya, yakni yang mayor, yang banyak, bisa membangun konsensus yang timpang.

Karena itulah demokrasi adalah sistem yang dicela sekaligus dipuja. Demokrasi selalu dianggap jalan terbaik dari politik, sekaligus usaha terburuk dari kesepakatan. Sebab demokrasi dicela bukan karena prosedurnya yang memang ribet, melainkan demokrasi selalu ditandai dengan satu hal; status quo.

Dari itulah demokrasi seperti di Indonesia bisa saja salah kaprah, atau seperti kurang tepat. Status quo dalam sejarah Indonesia selalu menyertai dirinya bersamaan dengan kehadiran semangat feodalistik yang aristokratik. Dan segala hal yang berbau mitos, selalu menjadi daya penjelas diantara berdirinya tatanan yang aristokratik.

Maka dari itu, diantara tegaknya semangat demokrasi, bersamaan dengan usaha memodernkan diri, selalu ada legenda yang dipertahankan. Selalu ada babad yang disertakan. Sampai akhirnya demokrasi yang semula berwajah modern, justru adalah peragaan paham demokrasi yang berbau klenik.

Di indonesia, kenyataan terhadap yang klenik juga mengandung masalah yang pelik. Agama, sebagai suatu anjuran moral, sebagai suatu keyakinan, tidak sepenuhnya merupakan keyakinan yang mengurung diri di bawah kubah. Agama juga punya hasrat untuk memerintah dan bertahta, maka dari itu ia keluar mengatur umat, mengatur rakyat. 

04 Februari 2015

madah tujuhbelas

Tulisan ini dibuat saat azan berkumandang. Magrib tepatnya. Pada sebuah warung kopi di suatu sore yang padat. Berduyunduyun pengendara pulang dan pergi memadati jalanjalan paska hujan. Di sana, pada jalan yang tetiba becek, tetiba saja ramai dan juga abai. Ramai, saya teringat ceritacerita tentang masa di mana azan membahana, seluruhnya siap tanggal, ada yang hendak dituju; masjid. Dan seketika ramai. Tapi juga abai, sebab dijalanjalan, khalayak harus gegas dalam duyun keburuan. Di kota, di suatu magrib, sepertinya kebal dari suara semacam azan. Justru kota disuatu magrib, adalah penting untuk terus bergerak.

Masjid bisa tegak berdiri diantara jubeljubel bangunan. Menjadi pusat bagi peribadah. Menjadi tempat yang ilahi untuk dijumpa. Tapi yang kudus nampaknya tidak selamanya kepunyaan masjid. Sepertinya bangunan yang menandai hijrah nabi berabadabad lalu, tidak selamanya kukuh sebagai bangunan yang memiliki pengaruh.

Konon, tujuan masjid adalah pusat perubahan. Dari hidup nabi ada maksud bahwa masjid adalah tempat segalanya diselesaikan. Di masjid, yang umum disoal, yang mendesak diselesaikan. Masjid diabadabad lalu memang memiliki peran sosial. Sebab itulah hal pertama yang dilakukan nabi paska hijrah adalah membangun masjid. Melalui masjid, nabi menerka waktu dan membangun kebudayaan, serta juga sejarah. Umat diberdayakan, dan terkaan nabi tak pernah meleset, sejarah mencatat, hingga akhirnya dari sanalah peradaban madani bermula, tempat di mana Bilal berkumandang.

Itu Bilal, dan itu zaman nabi. Sekarang sudah jauh berbeda. Masjid tidak lagi sebagai pusat kebudayaan. Pun juga tidak seperti zaman cordoba saat masjidmasjid tegak untuk perkembangan ilmu. Di jaman itu juga sejarah mencatat, masjid menjadi corong peradaban. Kini, masjid tersisih dari peradaban, seperti ditinggal diamdiam oleh iman yang naik turun.

Saya teringat sebuah kisah tentang azan. Tentang seorang perempuan yang ingin masuk islam tapi akhirnya enggan karena suara azan. Perempuan itu sanksi,  sebab azan yang ia dengar adalah dengung suara yang cempreng. "Itukah panggilan umat islam?" ujarnya di saat bersamaan waktu belajar tentang islam. "Tapi mengapa seperti itu cara memanggilnya, bukankah islam itu indah. Tapi jika itu yang disebut panggilan beribadah, sepertinya islam nampak buruk." Begitulah kirakira ceritanya. Akhirnya perempuan itu, yang tengah mempersiapkan diri memeluk islam,  membatalkan niatnya beralih keyakinan, sebab hanya karena mendengar suara azan yang buruk.

Saya tidak mengatakan bahwa ada yang bersuara azan dengan asalasalan. Hanya nampaknya itu yang terjadi. Azan sepertinya menjadi kalimah yang banal, yang diulangulang dan nampak kehilangan sesuatu yang religius. Walau barangkali ada gaung yang menyeru berkalikali, tetapi dia menjadi suara yang ditilap keramaian dan bising.

Masjid yang sekarang adalah bangunan yang sudah tersentuh sesuatu yang artifisial. Yang artifisial sebenarnya bisa datang dari yang dibilangkan Weber sebagai rasionalitas, hingga perlu ada pengaturan atas dasar pengukuran yang rigid dan ajek. Upaya pengaturan inilah, yang rasional membentuk sebuah orde; birokrasi. Weber juga tak lupa menyebutkan birokratisasi ini selalu punya kaitan atas dasar perhitungan yang efesien dan efektif. Dan seperti itulah yang disebut birokrasi, yang rasional punya tata tertib dan baku.

Pada saat itulah yang kudus berbaur dengan yang duniawi. Masjid sekaligus menjadi tempat yang rasional bekerja, juga sudah seperti birokrasi; renovasi menara, perbaikan pagar, jumlah kas masjid, berapa jumlah jamaah dan segala yang berbau hitunghitungan. Karena itulah barangkali banyak yang hitunghitungan datang ke masjid. Sebab di sana sudah seperti pasar yang ramai karena kapital. Juga seperti suatu sore dan entah sampai kapan kesibukan yang tidak hentihentinya berputar. Bunyibunyi deru mesin yang menilap ilahi.

Di kota, masjid sudah seperti bangunan yang tak dihinggapi yang ilahi. Begitu juga azan, bukan lagi suara yang keluar dari rongga Bilal, yang konon mendayu dan bertalutalu saat senja sudah di ufuk. Di kota, apapun itu, adalah deru mesin yang tak hentihenti bekerja.


03 Februari 2015

Digital Native dan Perubahan Sosial

Era media massa, keterbatasan akibat jarak, waktu, efek maupun daya jangkau pesan, menjadi penting dan harus dipecahkan. Hal ini dikarenakan bakal mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dan interaksi masyarakat. Namun, semakin kompleks kemajuan zaman, ruang dan waktu, alat tekhnologi komunikasi canggih akhirnya mampu mengatasi hambatan-hambatan yang ditemui manusia, sekaligus secara radikal berpengaruh terhadap cara masyarakat menjalani kehidupan bersama.

Di kota-kota besar, meningkatnya presentase penggunaan alat komunikasi dan teknologi, berdampak massif secara kultural terutama bagi kaum muda. Di kota-kota besar, media komunikasi canggih mendorong dan mensituasikan secara intens pola komunikasi sehari-hari kaum muda. Dengan dalih mengefesienkan waktu dan jarak tempuh, alat komunikasi canggih sudah menjadi bagian inheren dari seluruh aktivitas kaum muda.

Dalam era informasi, lahir kaum digital native yang menandai perubahan paras masyarakat imbas terintegrasinya alat-alat teknologi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Istilah ini merujuk pada lapisan muda masyarakat yang semenjak kecil dididik, dibesarkan, serta terbiasa dengan alat teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital. 

Secara kultural kaum digital native berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka bermain games, mengoleksi lagu-lagu dalam format mp3, duduk berjam-jam di depan laptop, sebagian sibuk ber-BBM-an, dan tentu saja sebagaian besarnya mahir dan pandai berselancar dalam dunia maya. Berbeda dari generasi sebelumnya, generasi digital native lebih adaptatif terhadap inovasi-inovasi yang ditemukan di era digital.

Kemajuan alat teknologi komunikasi memang berdampak radikal mengubah cara menjalani kehidupan digital native saat ini. Kehidupan berbasis teknologi dan alat komunikasi digital, ditandai dengan percepatan dan akumulasi waktu dan jarak melebihi cara-cara sebelumnya.

Era yang melipat waktu dan jarak atas dasar efisiensi dan efektifitas, mengharuskan informasi dapat terus bergerak melintasi batas-batas geografi dan waktu. Informasi sebagai faktor penggerak masyarakat memang berfungsi sebagai modal sosial dominan masa sekarang yang dimanfaatkan generasi digital native agar banyak menunjang seluruh aktivitasnya.

Berbeda dari itu, generasi sebelumnya, justru banyak mengalami hambatan-hambatan memahami dan menjalani kehidupan di era sekarang berkat tidak seimbangnya modal pengetahuan dengan kemajuan saat ini. 

Fenomena cultural lag yang merujuk kepada tersisihkannya generasi tua dari proses perubahan, merupakan tanda betapa teknologi informasi berpengaruh besar terhadap terjadinya perubahan yang tak mampu diadaptasikan generasi sebelumnya. Artinya kemajuan alat komunikasi dan teknologi canggih tak mampu diterima melalui cara hidup generasi sebelumnya akibat latar pengetahuan yang berbeda.

Kesenjangan kebudayaan yang dialami generasi tua, malah disambut dengan terbuka oleh kaum digital native berkat kapasitas pengetahuan yang inovatif. Hal ini karena teknologi informasi telah banyak mengubah dan mempengaruhi tatanan psikosfer kaum digital native.

Pernyataan di atas sesungguhnya menunjukan pembacaan Alvin Toffler terhadap peradaban gelombang ketiga saat ini. Peralihan gelombang peradaban ini ditandai dengan semakin berkembangnya teknologi alat komunikasi. Dari analisisnya, Toffler mendaku setiap media tekhnologi yang berkembang akan berdampak terhadap perubahan empat sistem tatanan yang saling terkait. Pertama, lingkungan teknologi-teknosfer yang akan berdampak terhadap, kedua, lingkungan infosfer, yakni budaya pertukaran informasi di antara masyarakat.

Kedua persinggungan dua lingkungan sebelumnya akan mengubah, ketiga, wajah sosiosfer sebagai teksture kehidupan sosial. Tatanan sosiosfer yang terhubung dari pola-pola pertukaran interaksi antara masyarakat akan membentuk, keempat, tatanan psikosfer yang ditandai dengan perubahan bagaimana cara kita berpikir, merasa dan berperilaku.

Perbedaan tatanan psikosfer dan sosiosfer dari generasi terdahulu dengan kaum digital natives mencirikan perubahan diberbagai aspek kehidupan. Dalam aspek kebudayaan, kaum digital natives mendorong percepatan massifikasi budaya populer yang merupakan lawan dari budaya canon. Media massa yang mereproduksi budaya populer di kalangan kaum digital natives, justru mengambil alih peran budaya canon di dalam proses simbolik tatanan interaksi komunikasi. Penghargaan terhadap budaya asing dibandingkan budaya adihulung yang diproyeksikan kepada praktik-praktik kehidupan generasi digital natives, merupakan faktor keberlanjutan dari berubahnya tatanan sosial masyarakat.

Proses perubahan serupa seperti diceritakan Edmund Carpenter, seorang antropolog Amerika yang mengisahkan pengaruh teknologi terhadap perubahan kebudayaan orang Irian. Dalam penelitiannya di Sio, ia datang dan memperkenalkan alat-alat teknologi komunikasi modern- kamera, tape recorder dsb. Setelah beberapa bulan kemudian ia meninggalkan tempat itu. Ketika ia kembali, ia dikejutkan oleh perubahan cara hidup orang Irian yang mengalami perubahan kultural secara radikal.

madah enambelas

Bagi negerinegeri bekas jajahan, atau yang disebut Spivak negeri pascakolonial, memiliki penyakit yang tak bisa tanggal begitu saja pasca merdeka. Tapi juga sebaliknya, sudah dianggap mujarab untuk menerabas keterbelakangan; developmentalisme.

Developmentalisme, atau yang sering dieja pembangunanisme, bagi negeri seperti Indonesia, barangkali sudah seperti mantra untuk berubah. Dengan susun rancang berkala, ada harap yang tak ingin selalu tiarap.

Tapi pembangunanisme tidak saja sekedar menjadi jalur kemajuan kala itu, ia lambat laun malah justru jadi tulah. Sebab pembangunanisme sama artinya dengan sebuah rejim yang telah memimpin dengan tiranis. Sebagai tulah, pembangunanisme, kata yang juga seperti mantra kemajuan itu, dianggap sebagai sumber segala petaka yang tak sudahsudah.

Tapi itu setelah kita tahu maksud tersembunyi dari pembangunanisme. Dulu, saat negeri masih hijau, dedaunan meranggas musim, orangorang mendayuh becak, pembangunanisme adalah sebuah langkah yang taktis. Negeri yang masih luas tanahnya kala itu, menjadi bagian dari strategi kemajuan. Taktis berarti negeri ini perlu cara yang cepat mengejar ketertinggalan. Negeri ini harus lepas dari pengertian sebagai negara dunia ketiga.

Maka dimulailah perubahan besarbesaran. Negeri yang semula teduh jadi bising. Tempattempat yang asing jadi ramai. Daerahdaerah yang terpencil pelanpelan didatangi, disulap jadi hunian baru. Dengan aktivitas bangun negeri, kala itu pembangunan adalah salah satu cara yang ampuh untuk ditempuh.

Kala itu seperti ada yang memimpin impian agar tidak ingin diejek bangsa lain. Orde yang tak kenal kadaluarsa saat itu memang menjadi panglima pembangunan. Dan tujuannya nampak jelas dari rencana yang kala itu sudah memang disiapkan; repelita. Dengan pembangunan macam itulah negeri ini hendak dibangun, bertahap dan bertahap.

Tapi apa daya, semuanya lancung. Justru harapan yang ditambat lamatlamat meleset. Di sinilah tulah itu bermula. Ideide yang semula adalah bagian dari teori perubahan malah bermetamorphosis menjadi ideologi. Akhirnya yang dibangun boleh saja maju, tapi  ada tempat yang tanpa didugaduga jadi tak steril; kekuasaan. Maka mulailah yang telah jadi ideologi itu dicobakan sebagai semacam liturgi, yakni perayaan terhadap kekayaan.

Karena itulah pembangunanisme malah nampak menjadi tirani yang tanpa hati. Disebutkan oleh M. Dawam Raharjo, pembangunanisme malah banyak menyedot kekuasaan untuk menjadi tempat jalan masuknya kepentingan kapital. Dan memanglah demikian, sebab, jauhjauh hari, pembangunanisme adalah proyek negaranegara maju dalam rangka membangun pengaruh bagi negaranegara yang ingin berkembang.

Hingga akhirnya malang untuk kita, semenjak orde yang hampir abadi itu berkuasa, pembangunanisme diterapkan kesegala hal, juga terutama ekonomi dan sosial.

Apa daya rejim yang tiranis akhirnya mentok juga. Pembangunan tak disangkasangka menilap banyak rupiah, utangutang bertumpuk, harga pangan jatuh dan ekonomi mandek. Hingga akhirnya badai krisis datang. Negara tibatiba guyah. Rakyat mengamuk. Dan yang tirani akhirnya tumbang.

Namun adakah yang berubah? Sepertinya tidak semua. Yang ada adalah pemerintahan yang meneruskan noktah sejarah kelam. Pembangunanisme diganti dengan statistik kemiskinan yang dianggap berkurang tiap tahun. Harapan diganti demokrasi. Justru kemudian pembangunanisme malah berwujud negeri yang berubah haluan; negeri paling demokratis.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...