Langsung ke konten utama

madah tujuhbelas

Tulisan ini dibuat saat azan berkumandang. Magrib tepatnya. Pada sebuah warung kopi di suatu sore yang padat. Berduyunduyun pengendara pulang dan pergi memadati jalanjalan paska hujan. Di sana, pada jalan yang tetiba becek, tetiba saja ramai dan juga abai. Ramai, saya teringat ceritacerita tentang masa di mana azan membahana, seluruhnya siap tanggal, ada yang hendak dituju; masjid. Dan seketika ramai. Tapi juga abai, sebab dijalanjalan, khalayak harus gegas dalam duyun keburuan. Di kota, di suatu magrib, sepertinya kebal dari suara semacam azan. Justru kota disuatu magrib, adalah penting untuk terus bergerak.

Masjid bisa tegak berdiri diantara jubeljubel bangunan. Menjadi pusat bagi peribadah. Menjadi tempat yang ilahi untuk dijumpa. Tapi yang kudus nampaknya tidak selamanya kepunyaan masjid. Sepertinya bangunan yang menandai hijrah nabi berabadabad lalu, tidak selamanya kukuh sebagai bangunan yang memiliki pengaruh.

Konon, tujuan masjid adalah pusat perubahan. Dari hidup nabi ada maksud bahwa masjid adalah tempat segalanya diselesaikan. Di masjid, yang umum disoal, yang mendesak diselesaikan. Masjid diabadabad lalu memang memiliki peran sosial. Sebab itulah hal pertama yang dilakukan nabi paska hijrah adalah membangun masjid. Melalui masjid, nabi menerka waktu dan membangun kebudayaan, serta juga sejarah. Umat diberdayakan, dan terkaan nabi tak pernah meleset, sejarah mencatat, hingga akhirnya dari sanalah peradaban madani bermula, tempat di mana Bilal berkumandang.

Itu Bilal, dan itu zaman nabi. Sekarang sudah jauh berbeda. Masjid tidak lagi sebagai pusat kebudayaan. Pun juga tidak seperti zaman cordoba saat masjidmasjid tegak untuk perkembangan ilmu. Di jaman itu juga sejarah mencatat, masjid menjadi corong peradaban. Kini, masjid tersisih dari peradaban, seperti ditinggal diamdiam oleh iman yang naik turun.

Saya teringat sebuah kisah tentang azan. Tentang seorang perempuan yang ingin masuk islam tapi akhirnya enggan karena suara azan. Perempuan itu sanksi,  sebab azan yang ia dengar adalah dengung suara yang cempreng. "Itukah panggilan umat islam?" ujarnya di saat bersamaan waktu belajar tentang islam. "Tapi mengapa seperti itu cara memanggilnya, bukankah islam itu indah. Tapi jika itu yang disebut panggilan beribadah, sepertinya islam nampak buruk." Begitulah kirakira ceritanya. Akhirnya perempuan itu, yang tengah mempersiapkan diri memeluk islam,  membatalkan niatnya beralih keyakinan, sebab hanya karena mendengar suara azan yang buruk.

Saya tidak mengatakan bahwa ada yang bersuara azan dengan asalasalan. Hanya nampaknya itu yang terjadi. Azan sepertinya menjadi kalimah yang banal, yang diulangulang dan nampak kehilangan sesuatu yang religius. Walau barangkali ada gaung yang menyeru berkalikali, tetapi dia menjadi suara yang ditilap keramaian dan bising.

Masjid yang sekarang adalah bangunan yang sudah tersentuh sesuatu yang artifisial. Yang artifisial sebenarnya bisa datang dari yang dibilangkan Weber sebagai rasionalitas, hingga perlu ada pengaturan atas dasar pengukuran yang rigid dan ajek. Upaya pengaturan inilah, yang rasional membentuk sebuah orde; birokrasi. Weber juga tak lupa menyebutkan birokratisasi ini selalu punya kaitan atas dasar perhitungan yang efesien dan efektif. Dan seperti itulah yang disebut birokrasi, yang rasional punya tata tertib dan baku.

Pada saat itulah yang kudus berbaur dengan yang duniawi. Masjid sekaligus menjadi tempat yang rasional bekerja, juga sudah seperti birokrasi; renovasi menara, perbaikan pagar, jumlah kas masjid, berapa jumlah jamaah dan segala yang berbau hitunghitungan. Karena itulah barangkali banyak yang hitunghitungan datang ke masjid. Sebab di sana sudah seperti pasar yang ramai karena kapital. Juga seperti suatu sore dan entah sampai kapan kesibukan yang tidak hentihentinya berputar. Bunyibunyi deru mesin yang menilap ilahi.

Di kota, masjid sudah seperti bangunan yang tak dihinggapi yang ilahi. Begitu juga azan, bukan lagi suara yang keluar dari rongga Bilal, yang konon mendayu dan bertalutalu saat senja sudah di ufuk. Di kota, apapun itu, adalah deru mesin yang tak hentihenti bekerja.


Postingan populer dari blog ini

Empat Penjara Ali Syariati

Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indonesia ALI Syariati membilangkan, manusia dalam masyarakat selalu dirundung soal. Terutama bagi yang disebutnya empat penjara manusia. Bagai katak dalam tempurung, bagi yang tidak mampu mengenali empat penjara, dan berusaha untuk keluar membebaskan diri, maka secara eksistensial manusia hanya menjadi benda-benda yang tergeletak begitu saja di hamparan realitas. Itulah sebabnya, manusia mesti “menjadi”. Human is becoming . Begitu pendakuan Ali Syariati. Kemampuan “menjadi” ini sekaligus menjadi dasar penjelasan filsafat gerak Ali Syariati. Manusia, bukan benda-benda yang kehabisan ruang, berhenti dalam satu akhir. Dengan kata lain, manusia mesti melampaui perbatasan materialnya, menjangkau ruang di balik “ruang”; alam potensial yang mengandung beragam kemungkinan. Alam material manusia dalam peradaban manusia senantiasa membentuk konfigu...

Mengapa Aku Begitu Pandai: Solilokui Seorang Nietzsche

Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama,  Januari 2019 Tebal: xiv+124 halaman ISBN: 978-602-52645-3-5 Belum lama ini aku berdiri di jembatan itu di malam berwarna cokelat. Dari kejauhan terdengar sebuah lagu: Setetes emas, ia mengembang Memenuhi permukaan yang bergetar. Gondola, cahaya, musik— mabuk ia berenang ke kemurungan … jiwaku, instrumen berdawai, dijamah tangan tak kasatmata menyanyi untuk dirinya sendiri menjawab lagu gondola, dan bergetar karena kebahagiaan berkelap-kelip. —Adakah yang mendengarkan?   :dalam Ecce Homo Kepandaian Nietzsche dikatakan Setyo Wibowo, seorang pakar Nitzsche, bukanlah hal mudah. Ia menyebut kepandaian Nietzsche berkorelasi dengan rasa kasihannya kepada orang-orang. Nietzsche khawatir jika ada orang mengetahui kepandaiannya berarti betapa sengsaranya orang itu. Orang yang memaham...

Memahami Seni Memahami (catatan ringkas Seni Memahami F. Budi Hardiman)

Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman   SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat yang mendesak di kehidupan saat ini.  Pertimbanganya tentu buku ini memberikan peluang bagi pembaca untuk mendapatkan pemahaman bagaimana  “memahami”  bukan sekadar urusan sederhana belaka. Apalagi, ketika beragam perbedaan kerap muncul,  “seni memahami”  dirasa perlu dibaca siapa saja terutama yang kritis melihat situasi sosial sebagai medan yang mudah retak .  Seni memahami , walaupun itu buku filsafat, bisa diterapkan di dalam cara pandang kita terhadap interaksi antar umat manusia sehari-hari.   Hal ini juga seperti yang disampaikan Budiman, buku ini berusaha memberikan suatu pengertian baru tentang relasi antara manusia yang mengalami disorientasi komunikasi di alam demokrasi abad 21.  Begitu pula fenomena fundamentalisme dan kasus-kasus kekerasan atas agama dan ras, yang ...