30 Desember 2013

Kaum Digital Natives

Di zaman modern seperti sekarang, dengan penggunaan media komunikasi dan teknologi secara massif, terutama di kota-kota besar saat ini, hadir golongan muda yang disebut sebagai kaum digital Natives. Istilah ini merujuk pada lapisan muda masyarakat yang semenjak kecil dididik dan dibesarkan serta terbiasa dengan alat teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital. Seperti lapisan masyarakat di berbagai dunia lain, kaum digital natives lebih peka dengan konsep kemajuan yang di tawarkan oleh era informasi seperti sekarang ini. Mereka bermain games, mengoleksi lagu-lagu dalam format mp3, duduk berjam-jam di depan laptop, sebagian sibuk ber-BBM-an, dan tentu saja sebagaian besarnya mahir dan pandai berselancar dalam dunia maya.

Kaum Digital Natives secara karakter berbeda dengan golongan yang secara umur di atas mereka. Anak-anak muda yang dibesarkan di dalam era digital lebih peka dan cekatan dalam merespon kemajuan teknologi dibandingkan dengan golongan yang disebut dengan  digital immigrant. Sementara yang tua cenderung lebih lamban  dan secara kebudayaan masih dalam tinggkatan yang berorientasi kebelakang.  Lebih jauh, kaum digital natives lebih mendahulukan “citra” dibandingkan “teks”, lebih senang “bermain” daripada “serius” serta lebih mengedepankan “aksi” daripada “pengetahuan”.

Ledakan Informasi

Konsekuensi secara kebudayaan dari kemunculan generasi digital natives akhirnya akan berdampak pada gejala budaya yang bertentangan dengan budaya adihulung. Yang mana gejala kebudayaan yang dimaksudkan disini adalah apa yang dalam kajian cultural studies disebut dengan budaya populer. Kebudayaan populer atau pop culture adalah nampakan budaya kontemporer yang dibentuk berdasarkan logika media yang cenderung mengandalkan massa sebagai sokongannya. Contoh yang paling memungkinkan untuk melacak gejala kebudayaan generasi digital natives adalah kegandrungan terhadap alat komunikasi elektronik yang sudah identik dengan mode of life sehari-hari. Dimana hampir secara massal kita jumpai pada keseharian,  bagaimana dalam pergaulan sehari-hari generasi digital natives banyak menggunakan alat-alat super canggih dalam menunjang aktivitasnya.

Memang tak bisa kita tolak banyak manfaat dari penggunaan alat-alat super canggih yang dalam kenyataan hidup memudahkan kita dalam seluruh aktivitas kehidupan saat ini. Tak bisa kita bayangkan kehidupan ini, jika alat-alat canggih yang sering digunakan hilang dari pengalaman sehari-hari. Tak bisa kita sangsikan alat-alat demikian memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dengan super cepat, dimana jarak tak lagi relevan untuk dijadikan ukuran. Pun juga hal demikian membuat masyarakat bisa dengan cepat mengetahui perkembangan dunia hanya dengan sekali berselancar dengan alat komunikasi yang dimiliki.

Namun dari semua kemajuan yang di rasakan oleh pengguna alat-alat canggih seperti smartphonegadgetI padtablet, laptop dsb, di tengah perkembangan informasi yang melimpah ruah serta dinamika jaman yang semakin cepat, membuat orang-orang yang demikian menjadi serba dangkal. Memang jaman tak bisa ditolak bahwa telah terjadi pergeseran menyikapi masalah-masalah yang dihadapi. Masyarakat dituntut untuk selaras dengan kemajuan jaman yang serba canggih dan serba cepat. Namun  keadaan yang memprihatinkan adalah masyarakat kehilangan ruang refleksvitas untuk mendaur secara seksama masalah-masalah hidup yang dialami.

Minimnya atau hilangnya ruang intropeksi ini pada akhirnya akan berdampak pada penumpukan informasi yang tak sanggup untuk dikelola. Begitu banyak dari sekeliling masyarakat bertebaran pengetahuan dan informasi yang diterima dari seluruh penjuru. Bahkan dengan bantuan alat-alat canggih yang dapat mengakses informasi dengan cepat pada akhirnya membuat masyarakat tak lagi memiliki waktu untuk mendaur ulang informasi yang diterimanya untuk dimanfaatkan pada kehidupan nyata. Akibat dari situasi seperti ini berdampak pada gejala depresi yang menekan kondisi psikologis masyarakat. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, gejala demikian disebut dengan implosive, yakni meledaknya secara internal seluruh informasi yang ada pada sistem memori seseorang, yang mana efek ledakannya bukan mengarah keluar sebagaimana ledakan eksplosive, melainkan jauh masuk pada sistem diri manusia diakibatkan menumpuknya informasi yang tertanam pada seseorang.

Dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadi sekumpulan orang yang cepat menanggapi persoalan hidup dengan cara reaksioner. Di mana dalam merespon perubahan sosio kebudayaan, masyarakat kehilangan daya sublimasi terhadap kemajuan yang mendadak di hadapi. Akhirnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat maju dengan aksesoris alat-alat canggih tetapi secara psikis mengalami regresi akibat ketidakmampuan dalam mengelolah seluruh informasi yang diterimanya.

Apa yang kita hadapi sekarang sudah sepatutnya disadari sebagai gejala kebudayaan yang bisa membawa kondisi masyarakat kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Salah satunya adalah kecenderungan masyarakat yang kehilangan ruang edukasi oleh sebab telah habis dilahap oleh seluruh yang berbau entertainment.

Pernah terbit dalam kolom opini Harian Fajar 261213


22 November 2013

Menulis Kembang Api

Menulis barangkali adalah pekerjaan yang berat. Dalam aktivitas itu ada situasi yang mengharuskan kita untuk membayangkan sesuatu. Di sana ada usaha untuk membangun, menyusun ataupun menata sebuah ide, gagasan. Oleh sebab itulah akhirakhir ini saya kerap kali gagal dalam usaha untuk menulis tentang sesuatu. Dan inilah faktanya; saya belakangan ini mengalami regresi dalam minat maupun menemukan gagasan. Dalam bahasa yang sering saya pakai; saya kehilangan gagasan yang mirip kembang api, kejutan percik api seperti dalam ledakan.

Bagaimana saya harus menyebutnya; kejutan percik api dalam ledakan. Di mana kembang api selalu punya daya gugah, memukau dan barang tentu mengagetkan. Kembang  api, kita mafhum, selalu diawali dengan letusan dan diakhiri dengan ledakan. Kembang api, pasca ledakan pertama selalu disusul dengan ledakan yang kedua, ketiga, keempat, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya padam, lenggang kemudian disusul dengan sunyi.

Kejutan dalam ledakan. Dan kembang api punya itu, daya kejut yang mirip pegas. Menghentak. Dan di sana selalu ada kontinyuitas. Ledakan yang saling bersusulan dengan pola ledakan yang berbeda, sementara pada setiap ledakannya selalu punya jedah; renggang waktu kosong  sepersekian detik untuk disusul dengan ledakan selanjutnya. Dengan begitu pada kembang api, yang biasa membuat saya terkagetkaget punya dua hal; kontinyuitas dan ruang jedah.

Dan itulah sebabnya saya mengandaikan  menulis adalah pekerjaan yang berat. Karena menulis berarti menjadi seperti kembang api. Di sana saya butuh daya pijarpijar ide yang berjalin, situasi merangkai antara ledakan satu gagasan dengan gagasan lain. Rangkaian yang berkelanjutan.  Yang mana dalam situasi yang eksplosif itu selalu mengantarkan pada situasi yang saling susul menyusul; ruang jedah. Dan dua hal ini yang akhirakhir ini tak saya alami.

Tentang perihal yang dialami; pengalaman, adalah peristiwa yang mensyaratkan adanya situasi yang sadar dalam sesuatu. Yaitu situasi yang  dengan kenyataan, antara kita dengan alam kenyataan, tentang diri yang berkesadaran dengan dunia semesta. Barangkali pengalaman yang saya andaikan  di sini dekat dengan pengertian yang bermakna eksitensialis. Yakni pengalaman akan diri atas kenyataan, dengan turut serta kesadaran yang bergumul di dalamnya. Sehingga harus saya katakan di sini, pengalaman jenis ini, di saatsaat belakangan ini, juga jarang saya alami.

Menulis juga menurut saya adalah tindak aktif dalam kesunyian. Dalam menulis, yang saya sebut laku kembang api itu, yang mengharuskan dua hal; kontinyuitas dan ruang untuk jedah, bisa berarti juga adalah laku sebagaimana seorang pesuluk. Yang berjalan di atas jalan kesunyian dalam tata ruang yang ramai. Sunyi bukan selamanya bermakna sepi. Sebab kesepian adalah keadaan yang tragis, sebab kesepian berarti segalanya hilang menanggalkan kita dalam kesendirian. 

Sedangkan sunyi adalah kesendirian yang bermakna sesuatu yang memiliki kendali, yang mana kitalah yang memilih untuk menanggalkan segalanya. Maka kesunyian adalah peristiwa yang dahsyat di mana dunia hanyalah kenyataan yang bisa saja kita tanggalkan sewaktu waktu. Maka menulis adalah laku yang memilih untuk masuk dalam keadaan yang subtil, tata galaksi yang hening di antara hiruk pikuk untuk sunyi. Dan pada titik inilah menulis bisa berarti tempuh jalan suluk yang berima antara kesunyian dan keramaian.

Menulis dalam pengalaman saya juga berarti adalah agama. Sebagaimana yang dibilangkan oleh Alfred North Whitehead, agama selalu bermula dari kesunyian. Gauthama, seorang budhis diawali dengan kesunyian di bawah pohon bodhi, dan di sanalah ajaran budha bermula. Ibrahim, seorang rasul yang hanif, mengawali agamanya dalam kesunyian dikala bulan menggelantung. Dalam sunyilah Ibrahim mencari tuhannya. 

Dan Islam, jikalau Sang Rasul Muhammad bin Abdullah tidak melakukan laku sunyi di Gua Hira, bisa jadi Islam akan tiada besar hingga sekarang. Maka barangkali tepat jika saya katakan bahwa menulis adalah agama. Sebab dalam menulis seseorang harus mampu memasuki ruang yang saya sebutkan tadi; ruang sunyi.


Seperti awal bahasa saya, menulis berarti menjadi kembang api; di dalamnya ada konstruksi, ledakan yang susul menyusul, ruang jedah, kemudian kepukauan kemudian akhirnya adalah hening. Dan memang kembang api adalah kejadian tentang ledakan dan kejutan; semuanya pasti takjub. Dalam keheningan.


07 November 2013

Bencana

Ada masa yang patut kita berikan rasa yang tinggi, namun juga ada situasi yang membuat dada kita sesak bukan main. Beberapa waktu yang lalu sebuah kabar bisa berarti sebuah bencana. Apalagi jika kabar yang sayup didengar bertolak dari lingkungan yang akademis; kampus. Tempat yang mafhum kita tahu dari sana harapan bisa ditandai dengan gelora pujapuji. Tempat pengetahuan bersemai seiring silih berganti hari.

Namun bencana tidaklah bermata, ia datang begitu tibatiba, menyulut tanpa tatakrama. Dan memang bencana adalah sesuatu yang memiliki kekutan massif. Seperti yang sudahsudah, bencana memanglah massif, tak tanggungtanggung, melabrak seluruh tanpa pamrih, tak mengenal aturanaturan, kampus sekalipun.

Namun bencana apakah yang saya maksudkan disini? Patutkah kita menyebutnya bencana? Tentang situasi yang tak didugaduga seperti beliung yang datang serempak. Seperti tsunami yang menyisir bersih tanpa didahului tandatanda sebelumnya. Ataukah wabah penyakit yang menghapus nyawa ribuan orang di suatu tempat.  Barangkali adalah salah saya, kamu, dia, mereka, bapak itu, ibu yang disana, tuan polisi, ataukah bapakbapak yang terhormat serta organorgan yang seringkali tumbuh tenggelam, yang menjadi sebab bencana itu dapat terjadi.

Memang bencana adalah sulit untuk dihindari. Namun jika bencana itu bersemayam didalam kampus maka itu suatu hal yang patut kita risaukan. Bisakah kita menebak tentang kemelut api yang melahap lapar? Juga tawuran yang seringkali menjadi trend bagi kita? Ataukah kelupaan kita bahwa kampus semestinya tempat manusia unggul untuk menolak diam? Ataukah suasana pencerahan sudah tercuri di saat kita sedang memperbincangkannya? Atau kita purapura tuli dan buta tanpa kita pernah tahu dari mana datang sumber suara dan kesan yang harus kita tangkap?

Bencana memang menyesakkan dada. Apalagi yang baru saja dialami. Ditengah tengah tempat kita belajar. Di saat baru saja kita mendeklarasikan sumpah di delapan puluh tiga tahun yang lalu. Dan barangkali memang kita tak pernah tahu apa sebenarnya sumpah itu jika diperhadapkan dengan sektarianisme yang kalap kita belabela.

Bencana juga bisa kita pahami sebagai alam yang hendak berkata, kepada sesiapa saja yang tumbuh diatasnya. Bahwa alam tak selamanya berdiam diri menerima aksi, ia bereaksi. Sebagaimana bencana, barangkali dari apa yang UNM lalui akhirakhir ini adalah bahasa yang hendak didengarkan, bahwa di dalamnya semuanya tak dalam situasi yang baikbaik saja. 


12 Oktober 2013

Antara Jurnalisme dan Filsafat

Konon sikap jurnalis dan filsuf cenderung berbeda terutama memperlakukan kebenaran.

Di tangan  jurnalis kebenaran menjadi pesan informatif. Bagi filsuf kebenaran diberlakukan lebih reflektif. Jurnalis sigap terhadap kenyataan, sementara seorang filsuf justru tenang di hadapan kenyataan.

Seorang jurnalis, menjadikan dunia faktual sebagai titik tolak pena dan kertasnya. Sementara bagi seorang filsuf, dunia faktual tidak lebih penting dibanding dunia abstrak-teoritik sebagai dunia kerjanya.

Dengan kata lain, kesigapan wartawan menjadikan kenyataan luar (fakta) sebagai sumber berita. Sedangkan dunia dalam (makna) merupakan medan “kabar” bagi pikiran reflektif seorang filsuf.

Tetapi apa sesungguhnya hubungan di antara keduanya? Apa sebenarnya sumbangsih keduanya terhadap kehidupan manusia di saat seperti ini?

Sikap filsuf dan seorang jurnalis boleh jadi berbeda menghadapi kebenaran. Namun ada kenyataan yang tidak bisa disanksikan: keduanya didorong hasrat yang sama untuk mengungkap kebenaran.

Dengan kata lain, keduanya sama-sama bekerja dalam perkara yang sama. Seorang filsuf sudah tentu mendedah dan mendaur kebenaran, maka seorang jurnalis, seperti kata Bill Kovach, seorang veteran jurnalis Amerika Serikat, bertugas melayani kepentingan publik dengan melaporkan kebenaran.

Imbas tuntutan yang berbeda, sangat sedikit nama-nama, taruhlah seorang filsuf atau sebaliknya, seorang jurnalis, yang bergerak di antara irisan dunia filsafat dan jurnalisme.

Filsafat kadang menilai realitas sebagai medan kompleks di balik kenyataan yang sederhana. Atau sebaliknya, di balik kenyataan sederhana tersembunyi fenomena kompleks.

Sedangkan di mata seorang  jurnalis, entah berupa kenyataan sederhana atau kompleks, jika itu adalah kebenaran, keduanya mau tidak mau mesti dikabarkan.

Barangkali hanya Jean Paul Sartre atau Albert Camus, yang berani mengabdi di dalam dunia yang berbeda itu.

Keduanya di masa pasca Perang Dunia ke-2, kerap menulis di media massa Perancis. Sartre maupun Camus memperagakan praktik jurnalisme sebagai medium manyatakan gagasan filosofisnya. Atau, Hannah Arendt melaporkan hasil reportasenya menyangkut kekejaman Nazi melalui wawancaranya terhadap Adolf Eichmann, sekitar 1960-an. Selebihnya tak banyak nama filsuf yang mau melibatkan diri pada kegiatan jurnalisme, atau sebaliknya.

Tetapi apakah keduanya tak bisa didamaikan di mana keduanya justru bisa saling memberikan arti satu sama lain? Mengingat praktik jurnalisme sudah dicontohkan Plato dari 2500 tahun yang lalu?
Karangan Platon, Dialog¸ sadar tidak sadar adalah hasil reportase. Ia merekam detik-detik terakhir Socrates menjelang kematian. Dari reportase Platon itu, yang mewakili suara Socrates, dunia bisa paham tentang risiko kebenaran: kematian.

Selain kematian, apa sesungguhnya risiko jurnalisme dan filsafat yang lain? Apa maksud kejujuran bagi keduanya. Apa pesan bisa kita peroleh dari kematian seorang Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, misalnya, setelah nyawanya direnggut orang-orang tidak dikenal? Apakah kita harus bersedih hati dari kematian seorang jurnalis ataukah seorang filsuf? Ketika kebenaran pada akhirnya tak pernah sampai kepada khalayak?




JURNALISME dunia yang memperjuangkan kebenaran adalah dunia yang mengedepankan akurasi atas fakta-fakta temuan. Sebuah informasi harus bernilai objektif seperti terjadi di lapangan. Demikan karena jurnalisme mengharamkan interest pribadi. Opini adalah barang haram yang merusak nilai sebuah informasi. Maka dari itu seorang jurnalis harus mengerti tentang batas antara kepentingan pribadi dengan objektifitas suatu temuan lapangan.

Sementara filsafat tidak berhenti sampai batas dunia faktual kegiatan jurnalistik. Sang filsuf tidak ingin begitu saja menerima kenyataan apa adanya seperti di mata seorang jurnalis. Pekerjaan filsuf justru masuk di balik penampakan fenomena.

Artinya, seorang filsuf akan menimbang fenomena dari sudut pandang tertentu. Ia bekerja berdasarkan kategori-kategori logis yang bisa saja berbeda dari fenomena di hadapannya. Dari pengertian inilah barangkali Marx berangkat: tugas seorang filsuf bukan sekedar menangkap kenyataan, melainkan turut mengubahnya.




AWALNYA melalui tulisan ini saya ingin menulis sesuatu berkaitan dengan media massa. Tentang posisi media massa di keberbagaian kepentingan politik dan pasar. Namun, apalah dikata, terkadang sulit mengapresiasi ide-ide ke dalam lembaran bahasa yang layak. Apalagi, belakangan muncul kekhawatiran terhadap kekuatan kata. Kata-kata di era deru deras revolusi komunikasi, malah acapkali sulit dipertanggungjawabkan.

Maka saya akhiri saja tulisan ini walaupun nawaitu tulisan ini belum dapat terealisasi.

01 Oktober 2013

Di Ambang Kenyataan; Beban atau Peluang?

Martin Heidegger, dengan pemikiran ontologinya yang rumit, pernah memaktubkan gejala mendasar dan problematis, pada metafisika Barat- dengan seluruh totalitasnya sudah lupa- terhadap Ada. Di suatu waktu ia berkata, kita lupa terhadap sesuatu yang sederhana namum begitu fundamental; Ada. Yang terlupakan adalah entitas yang mendasari adaan yang lain. Sesuatu yang mengendap pada dasar kenyataan yang nampak, metafisika Barat dengan seluruh tradisinya terjangkiti penyakit yang segera harus dibersihkan dari kategorikategori yang dianggap gagal membaca kenyataan. Demikian sehingga telah membawa manusia melupakan dasar keberadaannya.

Semenjak Parmenides sampai Sokrates, Platon hingga Kant; metafisika sebagai filsafat awal, tengah mengalami kecemasan. Filsafat guyah dari sendisendinya. Yang dahulu deskripsi tentang Ada menjadi anasir utama akhirnya harus terpinggirkan. Kemungkinan manusia untuk mendapati dan menggapai Ada; kenyataan sublim, akhirnya mengalami jalan yang buntu. Manusia akhirnya tergugat, bahwa manusia bukanlah mahluk yang mampu mengatasi kenyataan.

Namun apa yang sebenarnya diyakini sebagai kenyataan yang sublim; ihwal segala yang mendasar, sesuatu yang bagianbagian turut di dalamnya, yang sebenarnya dipahami sebagai ia yang sesungguhnya tak telibat dalam sesuatu. Soal yang tak berubahubah diantara nampakannampakan yang silih berganti. Atau sesuatu yang lain di mana semua bergantung padanya, dan tiada perubahan mensifatinya, sesuatu yang dibilangkan sebagai pusat,  subtansi. Lantas apakah kenyataan yang guyah ini, tak pejal adalah kenyataan yang satusatunya,  sehingga daripadanya bersandar seluruh totalitas keberadaan lainnya dan akhirnya menampik perihal yang tetap, universal, sehingga kita harus beralih pada situasi yang tak menentu.

Dimulai dari Kant, di tanganya semuanya berbalik. Kenyataan; realitas hakiki, sebagai yang tak berubah harus ditinggalkan sebagai bentuk keterbatasan manusia. Oleh sebab, ihwal yang subtantif hanyalah kesan yang berada diseberang kesadaran, sesuatu yang tak menampil kejelasan. Selubung adaan yang tak mengenal identitas, yang di balik kenyataan, semesta yang tak dikenali oleh apa yang ia terakan sebagai noumena. Sehingga mulailah batas dipancangkan oleh kesan yang diwartakan; manusia dengan  cogitonya tak mampu menyeberangi lebih jauh, fasih untuk memberikan prediksi pada sesuatu yang tak dikenali. Manusia, dengan akalnya punya batasan.

Sebelumnya, Immanuel Kant, seorang filsuf rasionalis yang saleh, yang taat dalam soal waktu itu, ternyata dibangunkan dari tidurnya yang berkepanjangan. Oleh Hume, filsuf empirisme Inggris menghentak kesadaran rasionalis Kant. Dia dibangunkan pada kenyaataan yang berbeda, tentang asumsi yang lain daripada sebelumnya, bahwa tiada keberadaan yang universal, sesuatu inti yang tetap dan absolut, suatu subtansi, oleh sebab kenyataan adalah suatu yang mengalir tak tetap. Bahwa apa yang disebut dasar kenyaatan, yang prime adalah pengetahuan yang tak bisa dilacak muasal keberadaannya. Dan seperti apa yang pernah diwartakan berabadabad yang lalu, oleh Heraklitos, di mana kita tak bisa melangkahkan kaki untuk kedua kalinya pada aliran sungai yang sama.

I freely admit that remembrance of David Hume was the very thing that many years first interrupted my dogmatic slumber and gave a completely different direction to my researches in the field of speculative philosophy ((prolegomena, 1997;10), Donny Gahral Adian)   
     
David Hume, dengan prinsipnya nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu, memanglah seperti sebilah godam. Ia menghantam tepat dijantung seluruh asumsi filosofis yang menetapkan keyakinan terhadap subtansi, yang universal, bahkan yang ilahi dengan mengembalikannya pada kesan yang primer yakni sensibility. Sensibility adalah fakultas yang utama dalam mencandra kenyataan, berupa bendabenda, hubunganhubungan, kualitas, kuantitas, modalitas dsb, sebab sensibilitylah kesan yang paling kuat menangkap objekobjek. Dengan keyakinannya demikian, daripadanya ia menolak bayangbayang yang bernaung di dalam benak imaji manusia. Dengan tegas prinsip tiada kesan sesuatu pun dalam pikiran yang tiada berawal dahulu pada penampakan inderawi akhirnya ditotalitaskan.

Darimana akhirnya permulaan itu? Tentang padanan kenyataan adalah apa yang terinderai. Mengenai perihal yang menolak ideide platonian itu? Atau kategori yang dianggap nyata adalah apa yang dipersentuhi oleh kesan indrawi kita? Sesungguhnya asumsiasumsi demikian adalah bentuk yang tak jauh dari apa yang dibilangkan oleh Aristoteles. Di umur 18 ia menjadi murid Plato, belajar giat di Academia dan setelahnya menjadi orang yang menolak apa yang pernah diterimanya. Aristoteles merombak gagasan Platon tentang subtansi yang bersemayam di alam Archetype, alam bentukbentuk; alam yang di luar alam indrawi. Sebab Platon memiliki iman terhadap dua dunia, yakni dunia yang diendapi ketakmenentuan, cenderung berubahubah, dan akhirnya semata semu, dan yang ideal, immortalitas bentukbentuk, dunia idea, tempat jiwa pada waktu ia total mengetahui. Darinya Platon, menolak yang semu dan menerima subtansi yang sesungguhnya adalah apa yang ada di luar sana, dunia idea.

Tetapi bukankah, yang subtansi adalah apa yang nyata di hadapan mata. Dan bukankah ia adalah perihal yang tak jauh dari tangkapan retina kita. Subtansi adalah apa yang menyatu pada tampilan kongkrit bendabenda, bukan pula seperti apa yang ada di dunia idea. Melainkan merupakan adalah apa yang menampakkan benda itu dapat dimungkinkan, yakni subtansi sebagai bagian dari morph dan hyle  yang berpeluang untuk diaktuskan, yakni berupa potensi. Daripanyalah subtansi akhirnya bukanlah esensi yang berada di langitlangit Platonian, melainkan padu rapat pada bendabenda.  

Akhirnya dengan cara pandang demikian, kita menerima kenyataan berdasarkan kategorikategori yang menyelubungi kenyataan. Dengan merangkak naik ke atas dan mengukurnya dengan prediksiprdiksi yang terukur. Oleh aturanaturan subtansi, universal, tak berubahubah dan pejal. Dengan penalaran yang rigoris; sebuah cara pikir yang sistematis dan tertata. Tetapi apa hak kita dari kenyataan yang kita berikat predikasi, mengenai ukuranukuran yang sebenarnya tak mampu ditinjau secara total? Dan itulah yang disebut dengan kenyataan Ada? Bukankah itu adalah konstruksi metafisika yang tergenang di dalam anti metafisika? Dan di sinilah Heidegger membawa pikirannya menjauh dari selubung yang belum keluar dari dikotomi terhadap kenyataan.

Bahwa kenyataan adalah dunia alam beserta dengan seluruh isinya, seluruh peristiwa yang di alami. Sesuatu yang tunggal dan tak terbelahbelah, yang dialami, kemudian digeluti dan dihayati. Yang oleh ia disebut dengan lebenswelt, kehidupan yang dikesani tanpa tedeng alingaling pretensi susun yang mengkontruksi kenyataan. Sebuah kenyataan yang present dan bukan representasi pikiran. Dari padanya kemudian kenyataan adalah bukan yang berdiri di atas konstruksi bangunan pemikiran yang penuh dengan indikatorindikator, melainkan hidup yang teralami, ada di dalam dunia.

Maka lupa itu dipecahkan dengan Dasein ( da: di sana, sein: ada) keberadaan satusatunya yang mampu mempertanyakan kembali Ada. Dengan cara  menjadikannya sebagai bentuk penyingkapan terhadap Ada. Sebab hanya manusialah yang memiliki kesadaran untuk menggugat fenomena dengan cara menyikapinya; sebuah sikap yang dan dalam dunia, dengan cara bertanya di hadapan Ada. Namun kesadaran seperti apakah, yang tidak tercemari dikotomi yang memilahmilah? Bukankah sebelumnya kesadaran adalah hal yang menegasikan kenyataan di bawah superioritas ego yang berpikir? Dengan membelahnya menjadi kenyataan yang dipikirkan dengan Aku yang berpikir? Sebab kenyataan di mata Dasein adalah aku yang di tengah dan dalam dunia. Yang mafhum bahwa tiada objek selama tak berintensi dengan kesadaran dan sebaliknya tiada kesadaran yang terpaut dengan objek, atau dengan kata lain kesadaran adalah keterjalinan yang intensif.

Dalam totalitas kesadaran yang terpaut dengan bendabendalah manusia akhirnya menemu kenali kembali kenyataan yang sebelumnya tunduk di bawah hukum kategorikategori. Hingga akhirnya keberadaan dapat terjangkau dengan  cara menyertakan kesadaran yang mendistingsi adaanadaan yang terberi. Karena Dasein sebagai faktisitasi dari Ada adalah ego yang mampu memberikan dasar bagi keberadaannya. Sebab bukan apa sesungguhnya Ada itu (what is being) yang mendasari, melainkan apa makna ber-Ada sesungguhnya (What it means to be).To be continue…

18 September 2013

Budaya dan Bahasa Kita

Beberapa waktu yang lalu kita di hebohkan oleh hiruk pikuk pemberitaan media massa dari tayangan yang tak biasa. Tayangan yang dapat di unduh di youtube ini memutar rekaman video Vicky terkait dengan pertunangannya dengan artis papan atas Zaskia Gotik, penyanyi dangdut yang dikenal dengan goyang itiknya. Dalam video yang berdurasi hampir satu menit itu memuat bahasa Vicky yang  terdengar janggal dan aneh.

Video yang banyak menyedot perhatian masyarakat itu, nampak Vicky mencampuradukkan kosa kata inggris dan Indonesia tanpa memperhatikan struktur atau kaidah bahasa formal yang sering di gunakan. Dalam video itu kata-kata semisal kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisisasi, statusisasi kemakmuran, dan labil ekonomi digunakan Vicky tanpa di dahului mengenal konteks pembicaraannya. Bahasa-bahasa demikian dicampur adukkan begitu saja sehingga terkesan intelektual dan cerdas.

Goenawan Mohammad, seorang budayawan, menyebutkan dalam akun twitternya bahwa gejala bahasa yang tampak dari video Vicky dan Zaskia gotik adalah gumpalan gunung es yang mengendap dari faktor kemalasan bahasa dalam menelaah dan menerjemahkan kata asing. Sehingga dari apa yang di katakan oleh GM membukakan sebuah fenomena kebudayaan yang hari ini sering menjadi mode kehidupan masyarakat kita; budaya latah. Namun dalam apa yang di maktubkan oleh Deleuze dan Guattari, filsuf kontemporer Prancis, dalam fenomena seperti yang ditampilkan dalam video Vicky disebut dengan gejala skizofrenia. Gejala kebudayaan yang kehilangan penandaan dan simpang siurnya makna untuk terpahami dikarenakan abnormalitas dan pelanggaran terhadap apa yang menjadi aturannya terutama pemutarbalikan bahasa.

Cermin Kebudayaan

Ada yang menarik dalam tulisan Marwan Mas Guru Besar Ilmu Hukum 45 beberapa waktu yang lalu yang termuat di harian Tribun Timur Makassar(12 september 2013),. Tulisan yang menyoroti bahasa-bahasa sandi dalam kasus korupsi “dagang sapi” yang sampai hari ini masih dalam tahap penyelidikan. Dan juga beberapa kasus serupa yang kerap kali mendatangkan kesalahan analisis di akibatkan oleh penggunaan bahasa yang simpang siur. Sementara bahasa kita ketahui adalah salah satu matra kebudayaan yang begitu fundamental untuk membentuk struktur pengetahuan. Di mana dalam jaman keterbukaan seperti sekarang penggunaan bahasa demikian menjadi cermin sejauh mana kebudayaan kita bergerak.

Penggunaan bahasa Skizofrenik seperti apa yang di soroti oleh Marwan Mas dimana menggejala pada bidang hukum, juga di alami pada bidang politik. Banyak contoh yang bisa kita angkat dalam fenomena perpolitikan yang mana diketahui bersama sering kali menggunakan teknik pemutarbalikkan bahasa untuk mengangkat citra dari orang-orang yang bergelut dalam dinamika politik. Tetapi sesungguhnya dua elemen kehidupan seperti bidang hukum dan politik sebenaranya adalah tolok ukur kebudayaan kita dalam mengapresiasi bahasa sebagai bahan baku komunikasi yang mengedepankan etika komunikasi.  Pertanyaannya sekarang apakah bahasa yang selama ini kita pakai adalah fenomena kebudayaan yang mencerminkan sejauh mana kita memaknai tingkat penghayatan etika komunikasi ataukah jauh dari itu kita justru terjebak pada gejala kebudayaan skizofrenik yang mengalami pendangkalan makna bahasa.

Gejala seperti ini juga dapat kita temukan pada level grassroot  terutama pada kehidupan anak-anak muda sekarang. Bahasa slang semisal cemungud, kepo, cius dsb, adalah gejala kebudayaan kita yang tengah mengalami proses pendangkalan. Fenomena seperti ini bisa jadi menjadi indikator bahasa Indonesia mengalami kemandegkan dalam merespon kemajuan zaman yang serba cepat dan kompleks. Sehingga bisa saja bahasa seperti demikian mengacaukan konstalasi pengetahuan  yang menjadi isi dalam komunikasi.

Hilangnya Ontentisitas

Apa yang sebenarnya terjadi dalam alam bahasa kita, sebenarnya adalah gejala yang dipengaruhi oleh alam kebudayaan kontemporer seperti sekarang ini. Penggunaan bahasa yang tumpang tindih secara pemaknaan (skizofrenik) merupakan dampak dari budaya populer yang marak kita saksikan.

Budaya populer sederhananya bisa kita maknai dalam pengertian gejala kebudayaan yang menjadikan pasar sebagai ukurannya. Atau kepopuleran sebagai asasnya. Fenomena Miss World yang ditolak oleh sebahagian kalangan bisa jadi karena efek populer yang diberikan oleh penyelenggaraan perempuan sejagad ini. Dengan hadirnya pegelaran seperti Miss Word, maka makna otentik dari sebuah nilai kebudayaan bisa saja akan hilang.

Misalnya makna cantik dimata seorang bisa saja di visualisasikan berdasarkan kecantikan yang disuguhkan oleh apa yang dimunculkan dari pegelaran Miss World. Sementara kecantikan versi budaya lokal tak selama harus dimaknai sebagai orang-orang yang pandai berpose di layar kaca.

Bahasa dan kebudayaan memanglah dua matra yang mencerminkan sejauh mana tingkat otentisitas masyarakat dalam mempertahankan identitas local widom-nya. Yang mana kita ketahui salah satu indikator kebudayaan adalah intelektualitas masyarakatnya dalam penggunaan bahasa sebagai media komunikasinya. Sebab bagaimanapun bahasa adalah cermin dari keseluruhan pengalaman si pemakainya. Sehingga fenomena kebahasaan yang di bahasakan sebelumnya bisa berdampak pada hilangnya budaya lokal yang menjadi identitas sebuah masyarakat. Maka benarlah statement yang sering kita dengarkan bahwa bahasa sebenarnya adalah tolok ukur dunia kebudayaan sebuah masyarakat. Bahwa bahasa sesungguhnya adalah cermin dunia .[]

17 September 2013

Hingar Bingar Politik

Apa yang marak terjadi jika kita berada di tengah-tengah sebuah parade sirkus? Ilustrasi yang dimungkinkan untuk kita bayangkan pada situasi seperti itu adalah pemandangan tentang hewan-hewan yang mangut pada pawang, aktraksi-aktraksi ekstrim, loncatan-loncatan akrobatik, serta polah badut-badut gemuk yang mengundang tawa. Lebih dari padanya kita dibawa pada suasana yang melampaui: decak kagum penonton, kembang api yang semarak serta gemerlap hingar bingar.

Sirkus adalah tontonan yang memang menghibur. Namun apa jadinya jika suasana perpolitikan selayaknya penyelenggaraan sirkus, tetapi bukannya menghibur, melainkan justru  tontonan yang sungguh membosankan. 

Politik sejatinya adalah penyelenggraan kekuasaan publik dalam rangka untuk menetapkan tujuan dari suatu kebijakan. Dengan tujuan untuk mengikat kepentingan bersama untuk memenuhi hak-hak dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini, selama politik dijalankan atas etika pemenuhan hak-hak publik, maka suatu pemerintahan telah menyelenggarakan kekuasaannya dengan baik.

Namun kenyataan empirik berkata lain. Apalagi jika kita berada pada momen-momen pilwalkot seperti sekarang ini. Dalam rentang waktu inilah politik menjadi penyelenggaraan yang semarak. Setidaknya itu yang dialami oleh warga Makassar beberapa waktu belakangangan dan yang akan datang. Simbol-simbol politik seakan tampil dengan rakus untuk mengatasi ruang publik yang notabene adalah media yang netral. Simbol-simbol politik telah mengambil alih ruang publik yang bebas, anti hierarkis, anti sistem untuk dijadikan ruang privat yang berbau kepentingan. Seperti sebuah parade sirkus, ada situasi yang dipertontonkan dan diperlihatkan pada konstituen masing-masing.

Sirkus Politik

Secara etimologi sirkus dialihbahasakan dari kata circus yang berarti melingkar. Dalam sejarahnya memang atraksi sirkus selalu diselenggarakan pada ruang yang melingkar. Di masa romawi kuno, sirkus dikenal dengan sebutan circus maximum. Kata maximum di sini berarti ukuran yang hebat dalam pengertian orang-orang yang melakukan atraksi sirkus memiliki keahlian di atas orang kebanyakan. Tujuan dari sirkus setidaknya bisa dimaknai sebagai hiburan semata. Maka dari itu sirkus selalu dinanti-nanti.

Seperti apa yang dibahasakan sebelumnya, di mana penyelenggaraan politik biasanya menggunakan simbol-simbol berupa pamflet undangan untuk mengahadiri sebuah sirkus. Symbol-simbol yang dimaksudkan disini bisa tampil berupa tanda, jargon, tag line, gambar, maupun tulisan, yang mana dalam konsep politik dijadikan sebagai branding untuk menarik simpatisan.

Sebagaimana kita mafhum dalam penyelanggaran politik diperlukan gerak yang dinamis. Untuk itu muncullah jejaring kepentingan yang marak berupa istilah lingkaran inti, ring inti, tim pemenangan, komunitas, simpatisan dan lain sebagainya. Dengan beragam akronim yang gampang dihapal terbentuklah jejaring kepentingan yang melingkar di mana tak jarang saling sikut. Situasi ini tak jarang pula membantai garis-garis kekeluargaan, toleransi, kesukuan maupun agama.

Sementara kita tahu ongkos politik tidaklah sedikit. Semisal penyelenggaran pemilihan pemimpin daerah yang melibatkan sepuluh kandidat. Bisa kita bayangkan betapa besarnya cost yang dikeluarkan dalam rangka pemenangan calon pemimpin. Jika kita perluas pembahasan kita, berapa ongkos yang harus dikeluarkan demi penegakan perpolitkan yang demokratis. Mulai dari perkenalan calon, pengusulan saat kampanye, sampai bagaimana seorang tokoh bisa mendapatkan elektabilitas yang diinginkan.

Apalagi dalam suasana kampanye seperti sekarang ini, atraksi sirkus politik yang paling berbahaya dalam kancah pemilihan adalah money politic. Walaupun belum ada aturan yang jelas untuk mengatur dana-dana kampanye, tetapi trias politik antara pengusaha, elit partai dan birokrasi, bisa memungkinkan kejadian-kejadian yang dikhawatirkan dapat terjadi. Maka dari itu tentang politik yang menjunjung integritas, jujur, dan bersih, seharusnya bukan sekedar ungkapan kosong semata melainkan amanah demokrasi yang harus dijunjung tinggi.

Seperti sulap

Saat seperti ini, di mana kita memasuki masa-masa kampanye pemimpin daerah, banyak program-program yang diperkenalkan dari kandidat untuk menarik konstituen sebanyak-banyaknya. Bila kita merunut semua program yang ada, maka segmentasi yang paling banyak difokuskan oleh para kandidat adalah bagaimana kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan pengelolahan birokrasi yang bersih. Namun term-term yang terpakai semisal pendidikan dan kesehatan gratis, penyediaan dana bergulir, pelayanan publik yang efesien, maupun bantuan-bantuan lainnya, adalah term-term politik yang sudah usang dan ketinggalan. Namun hanya dalam kemasan yang berbeda sehingga nampak merupakan program yang orisinil.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...