17 September 2013

Disintegrasi Umat Beragama di Hadapan Pancasila*

Agama melalui kaca mata Sosiolog Prancis, Emile Durkheim, adalah fakta empiris. Walaupun tidak juga sepenuhnya benar. Namun apa yang dibilangkan Durkheim bisa kita pahami dalam kaca mata seorang pengamat yang memposisikan diri di hadapan dunia empiris. Ini berarti, agama sebagai kenyataan yang diinderai merupakan fakta yang bisa kita amati. Apa yang teramati bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan norma-norma, pranata-pranata, maupun simbol-simbol yang melatarbelakangi sikap hidup maupun perilaku orang-orang beragama.

Secara inheren, agama adalah fitrah. Agama adalah kecenderungan yang dilahirkan dari nilai-nilai fitri. Atau secara filosofis, agama terkandung di dalam setiap hati manusia yang bersih. Dari sana sumber asal perilaku hidup manusia. Bahkan, dari hati yang bersih sumber keutamaan sifat manusia. Perilaku utama inilah yang dalam bahasa agama disebut Ahlak. Dalam kaca mata Durkheim, akhlak dalam situasi seorang sosiolog ditangkap sebagai fakta sosial; sikap hidup orang-orang beragama.

Namun sudahkah sikap kolektif orang-orang beragama saat ini mencerminkan akhlak yang sepadan dalam pengertian keagamaan? Yakni sikap yang mencerminkan saling menghormati perbedaan antara sesama. Sehingga kaitannya terhadap toleransi antara keyakinan umat beragama, di mana kenyataan sosial begitu jamak dan memerlukan pemahaman etis dalam menyikapi perbedaan, bisa saling berdampingan dalam kehidupan bernegara.

Perbincangan ini sangat memerlukan kehati-hatian daripada sikap emoh untuk membuka ruang dialog oleh karena menyangkut keberlangsungan hak-hak berkeyakinan. Maka dari pada itu, apa yang menjadi trending topic beberapa waktu yang lalu mengenai empat pilar kebangsaan adalah keniscayaan untuk memberikan ruang tenggang rasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi di seberang yang lain, munculnya gerakan keagamaan yang mengatasnamakan keyakinan golongan menjadi anomali dalam integrasi masyarakat di hadapan nilai universal Pancasila.

Kenyataan Empirik; Maraknya Fundamentalisme Keagamaan

Dalam terminolgi kehidupan berbangsa dan bernegara, fundamentalisme keagamaan dimaknai dalam konotasinya yang hard. Dikatakan demikian dikarenakan sepanjang kehidupan bernegara, dalam caruk kemaruknya situasi masyarakat, maraknya kehadiran gerakan keagamaan yang menghendaki pembaharuan sebahagian besarnya tampil dengan sikap-sikap intoleran dan keras. Sikap demikian tidak saja terjadi pada level sosiologis masyarakat, melainkan jauh lebih berbahaya pada tingkatan pemikiran. Atau secara episteme sikap kemasyarakatan yang intoleran demikian justru berawal dari cara berpikir yang intoleran. 

Ilustrasi cara berpikir intoleran selalu marak dengan sikap tertutup terhadap ruang dialogis maupun sikap kukuh terhadap kebenaran yang beragam. Dalam pengertian ini, cara berpikir demikian adalah cara pandang yang selalu menegasi, atau membenarkan pendapat subjektif tanpa mediasi dialog yang terbuka.

Secara budaya, sikap tertutup dan enggan untuk salah ini pada dasarnya paradoks dengan situasi alam pemikiran di jaman keterbukaan pendapat. Jauh daripada itu, golongan ini bisa berwujud pada pendakuan atas nama suku, ras dan terlebih-lebih agama. Secara psikologis, menurut Komaruddin Hidayat, orang-orang atau kelompok yang enggan untuk mendialogkan keyakinannya adalah orang-orang yang mengalami gangguan psikologis. Dalam bahasa ilmu psikologi modern saat ini, gejala demikian disebut infantile; atau sikap hidup kekanak-kanakan.

Dalam konteks sejarah negara sampai dewasa ini, kita tak perlu segan untuk menyebutkan deret panjang fenomena empirik yang mencerminkan sikap intoleran seperti disebutkan sebelumnya. Yang mana marak diberitakan jejaring media massa sehari-harinya di hadapan kita. Sehingga sudah lumrah di mata kita kelompok yang dalam terminologi pemikiran keagamaan disebut dengan golongan takfiri, adalah pathologi yang harus disembuhkan. Sehingga apa yang menjadi isu-isu disintegrasi di bangsa ini dapat diminimalisir sedemikian rupa. Dan juga Pancasila sebagai pengayom dapat kukuh di tengah-tengah kehidupan kita

Panca Sila sebagai Pengayom Umat Beragama

Saya membayangkan saat ini seperti apa  jika kelompok-kelompok intoleran seperti kelompok takfiri diperhadapkan di hadapan Pancasila sebagai world view bernegara? Hampir merupakaan jawaban apriori bahwasannya keyakinan yang dianut oleh mereka adalah agama harus mengatasi negara. Atau dalam bahasa sederhananya, agamalah satu-satunya keyakinan yang harus dipegang sebagai pedoman hidup, di mana negara harus dibentuk berdasarkan defenisi dari apa yang mereka anut. Barangkali orang-orang demikian lupa, bahwa kita hidup pada sebuah negara dan  situasi masyarakat  yang berwajah jamak; plural. Apalagi Indonesia adalah negara yang di dalamnya banyak heterogenitas nilai, budaya, suku, adat, ras dan agama. Dan juga kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa agama adalah sisi dengan dimensi yang tunggal. Dalam agama apapun sebenar benarnya keyakinan adalah keyakinan yang lahir dari asas kesalingpengertian dan dialog. Di mana keyakinan adalah hikmat keberagaman yang disadur dari saringan banyak pemikiran.

Saya masih ingat betul salah satu bunyi sila dalam Pancasila; Persatuan Indonesia, yang dari padanya terkandung pesan kunci tentang toleransi dalam perbedaan. Sehingga kenapa bukannya kesatuan, melainkan persatuan yang diterakan sebagai redaksinya, sebab kesatuan berarti peleburan dan penghilangan segala pada ketunggalan. Barangkali itu sebab term persatuan  dalam sila ketiga lebih utama dipakai sebagai penanda keutuhan, bukan karena yang lain, setidaknya persatuan tidak mengharuskan penghilangan ataupun pemberangusan. Oleh sebab term persatuan berarti kebijaksanaan perbedaan dalam semarak keragaman. 

---

Pernah dimuat pada harian Fajar kolom Opini, 13 September 2013

Mayangmayang Kenyataan; Sebuah Anamnesia*

I've got a picture in my head (in my head)
It's me and you , we are in bed (we are in bed)
You'll always be there when I call (when I call)
You'll always be there most of all. (all, all, all)
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like….

---(Hollywood, The Cranberries)

Ada yang paradoks tentang dunia pengalaman manusia. Suatu keadaan yang terjungkal dari porosnya, terjadinya pembalikkan secara massif antara yang semu dengan yang nyata, antara penampakan dan kenyataan, antara yang sejati dan palsu, bahwa realitas era sekarang sesuatu yang sulit dipilah berdasarkan intensitas kedalamannya.

Tak bisa akhirnya kita sanksi, dari apa yang kita alami, dunia tindakan kita adalah dunia yang berada pada tepian batasbatas antara yang imagi dan keyataaan. Sehingga dampak daripadanya terlampau sulit untuk kita bedakan dan candrai. Oleh sebab begitu besarnya determinasi kemajuan dunia tekhnologi informasi, yang begitu besar pengaruhnya pada sikapsikap yang akan kita jalani. Di mana era digital tengah melanda dan mengambil alih kenyataan kita yang sebenarnya.

Oleh media massa, dengan seluruh muatan fungsinya, akhirnya menempatkan dunia pada kenyataan yang dikehendakinya. Bahwa kenyataan adalah apa yang dapat dilipat, ditekuk, dan dimapatkan. Sehingga dunia kehilangan ukuran yang sebenarnya, seperti ruang, waktu, kedalaman dan keluasan akhirnya harus mangut pada logika era digital. Yang mana seluruh ukuran mengalami perubahan secara intens, ketika yang “di sana” bisa berarti yang “di sini”, yang “lampau” bisa dimaknai sebagai “kekinian”, yang “permukaan” akhirnya  bermakna “kedalaman” dan yang “tersembunyi” pada kenyataannya diterima sebagai “Kenyataan”.

Media massa memang bukanlah sekedar medio penyampai realitas, atau apa yang kita sebutkan sebagai pesan, makna, pun juga informasi dan berita. Oleh sebab dia juga tak bisa kita katakan sebagai jendela kenyataan, karena media juga dalam makna ideologisnya adalah institusi yang tak sekedar menyembunyikan kenyataan, melainkan jauh daripadanya menciptakan realitas baru. Sehingga dalam sifatnya yang demikian, media massa adalah perpanjangan tangan dari sebuah sistem yang jauh melampaui, keterjalinan yang turut memproduksi kenyataan dalam sebuah konstruksi kepentingan.

Lalu bagaimanakah yang dimaksudkan dari apa yang disebut sebagai konstruksi kepentingan? Sebuah tatanan yang mapan, yang mampu mencipta dan mendaur kenyataan? Sehingga realitas dapat dibentuk berdasarkan apa yang menjadi ukuran mesin hasrat? Lantas apa yang dibilangkan sebagai mesin hasrat? Sistem struktur yang mengambil alih proses penciptaan budaya dari yang adihulung menjadi budaya yang rendahan? Dimana maknamakna kemudian terlucuti dari ihwal yang sakral, yang ideal, menjadi sesuatu yang banal, dangkal dan tak bermakna.

***
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like.

Kenyataan sekarang adalah dunia yang merupakan hasil olahan produksi mesin kapital. Keterjalinan darinya kita anggapkan sebagai momok yang begitu ideologis. Dalam analisa Marxian situasi ideologis ini adalah peralihan dari kesadaran menuju keterselubungan di dalam dunia. Sehingga seakanakan kesadaran yang sering kita terima sebagai kebenaran hanyalah bentuk ilutif dari situasi yang demikian. Lebih daripadanya kita mengimani kebenaran yang kita sadari adalah murni sebagai episteme, yakni kebenaran sejati. Namun sebenarnya dari apa yang kita prediksikan sebagai segenggam kebenaran tak lebih daripada sebuah doxa, ihwal segala yang tak murni, bukan yang sejati; sesuatu yang menipu.

Doxa, atau segala yang bukan sejati, hakiki, bukan saja sejumput istilah perlawanan dari episteme (penegetahuan hakiki) melainkan gejala yang menjangkiti tampakan kebudayaan kita. Oleh media massa, dengan totalitas daya hegemoniknya, juga turut bertanggung jawab dalam membangun realitas kebudayaan dewasa ini. Daya virtual yang super canggih, oleh media massa tengah bekerja merangsek kehidupan kita dengan membangun citra, kesan dan imagi dari yang diproduksinya. Maka daripadanya dunia nyata dan maya adalah dua peririsan yang tak bertepi.

Kebudayaan populer (produser barang, film, musik, fashion, media, tontonan, seni) sebagai residu atau budaya dangkal, sesungguhnya adalah produk orisinal yang didasari olen imagi yang diproduksi oleh mesin hasrat kapital. Kapitalisme kebudayaan (industrialisasi, konsumerisme)  atau suguhan citra yang nampak dari budaya populer, sesungguhnya adalah mode kebudayaan yang mengekstase di atas citra permukaan. Yang mana turut mensituasikan adanya pemujaan terhadap bungkusan daripada isi. Sehingga kita kehilangan pesona kedalaman dibandingkan dari pada perayaan terhadap permukaan.

Tetapi apakah sesuatu yang harus kita tampik, tentang pemujaan terhadap iconicon populer? Terhadap kesan yang terbangun di dalam dunia layar? Oleh sebab disana ada pembebasan hasrat yang terpendam melalui saluransaluran semisal mencintai iconicon K POP? Apakah memuja alatalat canggih semisal I Pad adalah bentuk dari kemunduran kebudayaan? Walaupun sesungguhnya disana ada kiblat yang bergengsi, tentang kehidupan yang glamour dan hingar binggar.

Sesungguhnya adalah situasi yang begitu malang. Hidup diantara batasbatas yang tak jelas antara kehakikian dan kesemuan, oleh karena modernisme adalah kiblat yang dibaliknya membawa pesan kolonialisme. Dimana dari modernisme, semuanya kerap kali berubahubah begitu pesat dan gesit atas nama kemajuan dan kepopuleran. Dimana tak ada yang tetap, dan budaya populer memanglah pemujaan terhadap kegilaan yang akut. Adalah budaya populer merupakan  budaya Skizofrenia dari yang diistilahkan oleh Deluze, yakni situasi kehampaan dari kedalaman makna dari hancur dan kesimpang siuran sistem penandaan. Sehingga kita lebih bersedih hati menyaksikan icon pop kita mengalami gosip yang tak benar muasalnya, dibandingkan dengan hilangnya lokalitas dan keotentikan budaya di tengahtengah kita.

Dan akhirnya adalah masyarakat konsumtif sebagai tatanan dari situasi yang diproduksi oleh konstruksi kepentingan (kapitalisme, Industrialisasi, konsumerisme) untuk dasar akumulatif. Bukan saja akumulasi modal sebagai alas gerak kapitalisme, melainkan juga makna turut diakumulatifkan sebagai cara memproduksi hasrat konsumtif. Kita telah sampai pada masa kegilaan, kata Guattari, sebuah konstruk kehidupan yang timpang, bukan saja masyarakat kapitalis, melainkan juga kehidupan kebudayaan yang simpang siur. Maka, daripadanya kenyataan budaya akhirnya terselubungi dengan cangkang keras fantasi citra imaginer.

Pop Culture; Peluang atau Beban?

Sesungguhnya realitas kebudayaan yang kita hadapi sekarang adalah diskursus yang panjang, tak dan belum sampai pada batasbatasnya yang paling jauh. Sehingga membuka peluang bagi kita untuk dibincang dan dipersoalkan. Sebab kebudayaan adalah entitas yang harus kita maknai sebagai ihwal yang fluid, pembicaraan yang cair serta terbuka. Atau dengan kata lain ada cela yang bisa kita intipkan darinya untuk kita masuki. Sehingga standar antara yang adihulung dan yang dangkal bisa kita batasi dalam batasbatasnya yang moralistis.

Budaya populer sebagai fenomena kebudayaan yang dilahirkan dari industri kebudayaan massal, adalah fenomenon yang memiliki kepentingan ideologi pasar. Cara bekerja dari budaya populer itu sendiri mensyaratkan keabaian kritisisme untuk budaya yang diterima secara massal. Oleh karena budaya populer selalu beroperasi melalui cara berpikir populer, yakni budaya yang dipengaruhi oleh film, musik, tontonan dan seni hiburan sehingga mematikan fungsifungsi asas kebutuhan dibandingkan dengan nalar gengsi.

Betapa di era kemajuan seperti sekarang ini, budaya populer adalah new religion yang tentu memiliki ritual untuk membudidayakan dan memurnikan ajarannya. Selama ia menjadi stimulus dari gejala semisal shopping mall, life style, cara hidup glamour sampai hingar bingar diskotik, maka ia menjadi agama baru yang merebak pesat di dewasa ini. Maka telisik mendalam perlu kita lakukan untuk membersihkan gejala kebudayaan yang berimplikasi kepada hilangnya budaya lokal yang bersifat adihulung.

Namun dari semua itu, pada kenyataannya jika budaya populer adalah hasil dari transpalansi kebudayaan pada masyarakat terjajah, apakah tiadakah konsep dan praktik kebudayaan tandingan sebagai counter hegemony dalam mendeteritorialisasikan kebudayaan budaya populer itu sendiri. Setidaknya pada stadium yang paling minimal, perlu ada usaha kesadaran yang intens dan demokratisasi gerakan kebudayaan yang perlu dipancangkan sebagai usaha emansipasi dan pembebasan untuk keluar dari massifisitas budaya populer sebagai bentuk selubung kolonialisasi baru. Sehingga fantasifantasi kebudayaan massal yang hanya berupa mayangmayang kenyataan bisa ditiadakan. Setidaknya seperti dengan cara penggal lagu diatas, bahwa ini dan di sini bukanlah Hollywood![]

…This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like !, Like !, Like…!

---

Disampaikan pada Intermediate Training BEM FIP UNM, 13-15 September 2013.

29 Agustus 2013

Madah: Mayangmayang Cerita yang Tertunda

Madah oh madah.. Mungkinkah sesuatu itu berasal dari alam yang sebenarnya tiada?

Banyak kisah bermula dari sana, dari apa yang kita sebut legenda ataupun mitos, bahkan Agama sekalipun; awal mula semesta alam adalah sabda. Diyakini bahwa dari sana bermulanya segala sesuatu. Setidaknya harus ada penjelasan yang menetapkan sebab dari awal segala sesuatu. Dimana ketika sebab mulai merunut kejadiankejadian, barangkali pada peritiwa itulah kita mengenal situasi yang menyertakan waktu. Dan di sanalah alaf ruang berima serta waktu dalam membentuk sejarah.

Seperti dirimu, awal mulanya adalah penggalpengal kata. Yang dalam runutannya ada rentang yang mesti kau lewati. Diantara yang silih datang dan pergi. Diantara perulangan putaran waktu, ketika peristiwa kerap kali menjadi suatu yang penting. 

Dan memang sejarah adalah gores panjang yang merunut kejadian dengan toreh pesanpesan pada pinggiran untuk memberikan asumsi dari apa yang bisa kita terima. Engkau kerap muncul diantara peristiwa dari yang datang dan pergi. 

Di tengahtengah itulah engkau muncul untuk kunamai. Engkau ada ditengah titianmangsa yang kerap berlalu begitu saja. Tanpa embelembel, tanpa ada niat, kunamai engkau Madah. Engkau keluar begitu saja. Sebuah nama yang belakangan saya tahu artinya bermakna “pesan”.

Semenjak kemunculanmu, ada kehendak untuk menyempurnakanmu dalam cerita yang kubentuk lengkap menyerupai pahatan patung yang sudah jadi. Setidaknya semenjak kehadiranmu, engkau diniatkan untuk tak berumur panjang. 

Dalam satsra, ceritera yang demikian dikenal dengan akronim cerpen. Sebuah cerita yang tak terbilang untuk panjangpanjang, sebab engkau memang diniatkan demikian. Namun barangkali sebuah ceritera kadangkala menghendaki yang lain, selagi engkau tak pupus dalam ide seorang penulis. Engkau dalam kepalaku menuntut untuk menyusun gugus ceritera. Dan di sinilah masalahnya, engkau menjadi tokoh yang ingin hidup panjang dalam ruang pikiranku. 

Sehingga terbesitlah ide itu. Ide yang mayangmayang tersimpan dalam kehendakku untuk mejadikanmu sebuah cerita yang panjang, sebuah novel. Maka mulailah kutetapkan settingan kehidupan untukmu. Tetapi merunut kejadiankeajadian jauh lebih sulit jika hendak dikalimatisasikan dalam bentuk yang hendak paripurna. Sebab mengkalimatisasi  sebuah peristiwa yang panjang sama halnya memasuki sebuah dunia yang begitu menghendaki konstruksi yang kuat. 

Dan juga menulis  sebuah novel sama halnya membangun dunia yang sungguh berbeda, oleh karena ia berurusan dengan sesuatu yang khayali; imagi. Dan yang khayal adalah seperti benda yang begitu halus, cair dan tak padat; sesuatu yang tak terikat bentuk yang pasti; sesuatu yang kesannya berubahubah.

Tahukah engkau Madah, tentang konstruksi yang berdiri di atas pasir?

Sastra adalah semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona. Setidaknya itu kalimat pengertian yang saya pahami tentang sastra. 

21 Agustus 2013

Tentang “Kani Kosen sebuah Revolusi” karya Kobayashi Takiji




Ayo, pergi ke neraka”Dua orang nelayan memandangi kota Hakodate yang dikelilingi laut, sambil menggeliatkan badan dan perpegang pada besi pegangan tangan di dek kapal. Nelayan itu pun kemudian, sambil meludah membuang rokok yang sudah dihisapnya hingga tersisa seukuran lebar jarinya…

Apa yang memungkinkan sebuah karya sastra memiliki sensibilitas di antara batasbatas peristiwa dari yang datang dan yang pergi? Sehingga mampu melampaui kejadiankejadian yang merentang di putaran orbit kehidupan manusia? 

Pertanyaan ini adalah sebuah eksposisi yang baik untuk jauh masuk pada kisaran fundamental dari apa yang diendapkan dalam sebuah karya satra; soalsoal manusia. Sastra yang baik adalah karya sartra yang lahir dari jantung subjektifitas manusia, susun bangun kata yang terbangun dari kekayaan batin sebuah kejadian, sebuah peristiwa. 

Seperti dalam pengertian yang diberikan Ignas Kleden; seorang sastrawan beda betul dengan profesi, taruhlah seorang wartawan. Seorang sastrawan memiliki konsep dunia yang berbeda, dunia kenyataan yang jauh menelikung dari kesan dunia yang umum; kekayaan dunia subjektif.  Dunia subjektif adalah ruang yang sarat  lipatanlipatan unsur batiniah.  Sehingga kenyataan yang benar bukanlah usaha observasi yang menuntut kemapatan antara ide dengan kenyataan, melainkan sesuatu yang maknawi, kedalaman dunia yang dihayati. Maka seorang sastrawan tidaklah berjuang dengan dunia luar, melainkan sebuah pergelutan tentang dunia batin. 

Seorang sastrawan memiliki stage yang berbeda dengan seorang wartawan. Jika seorang wartawan menghadapi kenyataan dunia empirik, maka seorang sastrawan justru berbalik ke dalam memasuki rimba makna pengalaman seharihari. 

Maka apa yang menjadi nilai juang dari seorang sastrawan adalah kedalaman makna yang dintodusir kepada khalayak, atau bagaimana khalayak mampu masuk pada ruang kesadaran terdalam; ruang pemaknaan. Dan tentu tak sama dengan seorang wartawan yang dituntut untuk menemukan kebenaran warta yang diperjuangkan dari dunia luar untuk diinformasikan.

Barangkali itulah ihwal penting dalam karya Kobayashi Takiji, seorang komunis Jepang; Kani Kosen, sebuah revolusi. Karya sastra yang lahir dikitaran waktu 1929. 

Novel ini berkisah tentang kehidupan para buruh pabrik kapal pengangkut kepiting yang dipapar kehidupan ekonomi yang malaise. Jepang yang sedang dihinggapi shihonshugi; kapitalisme.  Keresahan tumpah ruah, pengangguran tak terbendung dan kemiskinan adalah sakit yang tak terhindarkan.

Jepang di masamasa itu, tak beda dari situasi negaranegara yang dihinggapi kuasa modal. Kapitalisme, kita tahu dipenghujung abad 20 adalah keyakinan yang akbar untuk dipuja. Semacam key of life bagi zaman yang sedang bergerak cepat. Kapitalisme dengan segala rukunrukunnya menjanjikan ilustrasi kehidupan yang tak untuk didiami dengan  sejarah umat manusia yang menghendaki ketidakpastian. 

Kapitalisme dengan dukungan kelas burujiajinya di Jepang mengerti, Jepang adalah gugusan pulau yang menyimpan banyak potensi.

Maka di sana, di Jepang; matra sosial mengalami ketegangan antara kelas pekerja dan kelas pemodal, kelompok miskin versus kelompok kaya, kelompok politik fasistis militeristis versus politik proletariat, kalangan intelektual melawan kaum kapital. 

Singkatnya, di Jepang suasana di tahuntahun itu adalah suasana zaman yang sedang dilanda krisis berkepanjangan.  

Namun sebuah ilustrasi bukanlah kenyataan. Ia hanya kesan dari yang hendak digambarkan. Dan kapitalisme seperti citra gambar yang tak selamanya sempurna untuk dimengerti, bahkan di Jepang sekalipun. Juga modernisasi yang dikehendaki pada akhirnya harus mendapati kenyataan yang berbeda; kehidupan ekonomi yang karut marut. Pada kenyataan masyarakat demikianlah Kobayashi menangkap hal yang tunggal dari rahim kapitalisme; alienasi.  

Kobayashi adalah seorang komunis. Ia mati dalam keadaan muda, 29. Kani Kosen; Sebuah Revolusi, adalah karya sastra yang ditulisnya pada usia 26, empat tahun kemudian ia merengang nyawa; disiksa kepolisian Jepang. Pada saat Kani Kosen ditulis, barangkali Kobayashi tak menduga, tulisan yang ia dedikasikan untuk para buruh kapal pengangkut itu, 80 tahun kemudian,  menjadi bacaan yang banyak dikonsumsi di Jepang terutama di kalangan anakanak muda.

Nampaknya karya yang sempat dilarang beredar oleh militer Jepang seperti mengikuti inangnya; komunisme,  memiliki umur yang panjang. Dan kita tahu sebuah karya sastra adalah kejujuran yang mendahului kenyataan. 

Kani Kosen adalah bahasa transparan yang menangkap esensialitas yang terkandung dalam pengalaman kaum buruh Jepang yang dikeruk oleh sistem monopolis. Itulah mengapa seperti bahasa anakanak muda yang besar di era yang berbeda, ketika membaca Kani Kosen, "kami tak melihat ada komunisme dalam Kani Kosen, yang kami saksikan adalah penderitaan dari ketidakadilan yang merajalela." 

Atau dengan bahasa lain, dalam Kani Kosen, buku yang tidak terlalu tebal itu, bukan diperuntukan dengan sensibilitas ideologi tertentu, melainkan tentang humanisme. Dengan esensialitas yang terkandung dalam karangannya, Kobayashi hendak jujur terhadap kenyataan, Kani Kosen adalah sastra yang mengandung soalsoal kemanusiaan yang selalu didaur oleh bulatan waktu.

Dalam kata pengantar edisi terjemahan, I Ketut Surajaya, guru besar sejarah Jepang menuliskan;  sejarah tak mungkin terulang, tetapi suasana bathin suatu masyarakat dapat berdaur ulang dalam analogi zeitgeist sosial budaya, politik dan ekonomi. Dan di sinilah keutamaannya, sebuah ideologi tidak selamanya diterjemahkan dalam bahasa yang mengharuskan adanya mobilisasi massa, barisanbarisan panjang barikade, atau sloganslogan yang antikemapanan melainkan dapat hadir dalam bentuknya yang lain; suasana batin.

Dan di sinilah kemungkinannya sebuah karya sastra dapat diterima, ia berbicara dalam bahasanya yang paling halus menyentuh sisi kemanusiaan manusia. Dalam kandungannya, sastra adalah bahasa yang mendahului esensi sebab bahasanya bermain pada batasbatas universalitas. Maka di manapun ketika kenyataan mengalami situasi yang monolog, maka sastra adalah pisau yang mengiris peririsan kulit kenyataan yang mengalami kebekuan.

Setidaknya sifat bahasa sastra yang selalu menolak untuk merambah partikularitas, menunda kenyataan dan sebuah korpus yang terbuka untuk selalu mengalami penafsiran, sehingga seperti “Kani Kosen sebuah Revolusi” tulisan yang lahir dari seorang anak muda Jepang, dan karyakarya sastra lainnya, selama berbicara secara transparan, merekam jejakjejak yang tak terpantau kekuasaan dan mengangkatnya kepermukaan, maka di sanalah keadilan dan kemanusiaan adalah dua hal yang selalu didamba.

28 Juli 2013

Alain Badiou dan Hasrat Kebenaran


Lahir di Maroko pada 17 januari 1937. Pada kisaran tahun 60an mengeluarkan novel dengan judul Almagestes (1964) dan Portulans (1967). Badiou dikenal sebagai seorang filsuf Marxian. Banyak dari artikel yang diterbitkannya kental dengan kerangka Althuserian. Badiou, seperti filsuffilsuf yang terlibat aksi demontrasi di tahun 1968, sempat dilarang untuk memperkenalkan pikiranpikirannya untuk kalangan mahasiswa Prancis karena dianggap berbahaya bagi umum.

Pada tahun 1988, dunia internasional mulai mengenal namanya ketika ia menerbitkan tulisan utuhnya dengan judul L’etre et l’evenement ( Ada dan Peristiwa). Di tahun 1989 bersama Derrida dan Lyotard mendirikan College Internationale de Philosophie. Menjadi professor emeritus pada tahun 1999 di ENS dan mendirikan pusat pengkajian internasional tentang filsafat Prancis kontemporer.

Filsafat di mata Badiou perlu untuk disembuhkan. Filsafat harus melampaui dirinya dan bahasa, sehingga perlu kembali direposisi ke dalam tempatnya semula. Yang mana filsafat harus dikeluarkan dari kemorosotannya sampai harus menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Di mana Badiou ingin mengembalikan filsafat, kebenaran, dan subyek sebagai usaha untuk memahami kenyataan dengan cara yang kritis, sistematis dan radikal.

Bagi Badiou hal yang paling esensial untuk dihidupkan kembali dalam batang tubuh filsafat adalah hasratnya untuk kebenaran. Dalam hasrat kebenaran, filsafat memiliki 4 elementasi; yang pertama adalah revolt (pemberontakan), logis (logika), universalitas dan resiko.

Keempat elementasi ini yang terkandung dalam hasrat kebenaran fisafat harus mampu mengambil tempat pada dunia yang menyingkirkan filsafat sampai pada wilayah pinggiran. Katanya pada suatu tulisannya, dunia saat ini sudah seharusnya membutuhkan filsafat untuk menyelesaikan masalahmasalah yang terkandung disekitaran manusia.

Dalam pembacaannya, semenjak kemunculannya, filsafat adalah ikhtiar yang datang dalam merespon keyakinankeyakinan terdahulu, dimana filsafat adalah bentuk pemberontakan (revolt) di tengahtengah masyarakat untuk mencapai kebenaran murni dengan urutan argumentasi yang logis (logika). Dalam mengatasi keterbelakangan pemikiran yang terdahulu, filsafat menggunakan susunan logika baru untuk mengatasi ketidakadilan yang dimunculkan oleh keyakinankeyakinan sebelumnya.

Dengan cara seperti itu, dengan susunan logis untuk mengatasi keadaan, filsafat akan menyentuh wilayah universal yang berputar pada pengalamanpengalaman konkrit manusia. Dimana disituasi demikian, komitmen menjadi aras yang membawa filsafat pada pengambilanpengambilan keputusan yang keluar dari pengandaianpengandaian umum. Dengan modelnya seperti itu maka dalam filsafat juga disertai resiko yang mengikutinya.

Untuk memulai proyek filsafatnya, Badiou bertolak dari pemikiran Permanides tentang soal ketunggalan dan kejamakan. Bagi Permanides Ada selalu menegasi ketiadaan, sehingga mustahil Ada dan ketiadaan dimungkinkan dalam perwujudannya. Dalam pengandaian ini, asumsi ontologis  Permanides yang merentang dalam diktum rasionalisme dan empirisme disanksikan dengan teori logika himpunan yang dipreferensikan Badiou. Dengan ilustrasi teori himpunan, Badiou berusaha keluar dari genangan cacat yang di yakininya sebagai bentuk pemikiran pseudonetral yang menggejala pada kasus ontologi, dengan membilangkan bahwa Ada dan tiada adalah dimungkinkan dengan keadaan yang berhubungan. Dengan begitu dalam menjawab Ada dan Banyak bisa ditenggarai.

Badiou juga dikenal sebagai pemikir yang serius membincang ontology politik. Baginya situasi politik yang ditawarkan oleh demokrasi liberal saat ini tidak memungkinkan lagi untuk diikuti. Oleh sebab subjek masih dalam situasi yang terpinggirkan. Pemikiran ini berawal dari pemikirannya yang masih percaya terhadap komunisme sebagai antitesa yang mempunyai ideide dasar tentang subjek yang revolusioner.

Mengenai itu, dalam tesisnya tentang hypothesis komunisme, Badiou menawarkan proyek pemikirannya yang bertolak pada “situasi yang tak terlabeli”.  Dalam memperkenalkan pemikirannya, Badiou memberikan eksposisinya dengan mempertanyakan bagaimana manusia harus berada dan pada situasi bagaimanakah manusia berpolitik?

Dari sejenis eksposisi seperti itu, Pemikir Maoist ini memperkenalkan konsep event yang berbeda dengan kejadian politik yang ada dalam situasi poltik demokrasi liberal. Negara dengan konsep kekuasaannya tengah runtuh karena berada pada susunan yang terepresentasi oleh kekuasaan itu sendiri. Baginya subjek, yakni elemen yang mengatasi keberadaannya dari situasi yang melingkupinya harus menggunakan fungsi kesetaaraan dalam rangka mengenal event. Event dalam kacamata Badiou adalah Event, menurut Badiou, adalah momen politik, sebuah momen pemutus yang hanya bisa diraih oleh aktivitas politik – yang membedakannya dengan aktivitas politisi. Event adalah “yang mungkin”, yang keberadaannya telah terpresentasikan. Ia merujuk pada situasi yang luar biasa, yang tak dapat dikalkulasi, dan yang mengubah keadaan secara keseluruhan. Manusia yang mengarahkan perhatian pada Event disebut subjek militan.

Tentang subjek militan, diterangkan disana bahwa event adalah pusat perhatian yang harus dibentuk oleh subjek. Dimana event mengandaikan situasi yang keluar dari logika simbolik yang dibentuk oleh Negara. Oleh karena Negara adalah keberadaan yang dibenci sekaligus dibutuhkan. Maka dari itu, demokrasi sejatinya adalah pemusatan kekuatan subjek militan yang bergerak melintasi pemikiran yang beregerak pada logika demokrasi yang cacat.

Dengan begitu subjek militan haruslah mampu mengatasi situasi yang tercipta dari kekuasaan Negara. Bagi Badiou situasi militant hanya bisa tercipta oleh subjek militant dengan mencipta kebaruan yang mengatasi kebenaran yang selalu nampak pada permukaan kekuasaan Negara. Oleh sebab, politik demokrasi liberal selalu menunda datangnya kebaruan. Maka dari itu, kebaruan adalah momen politik yang harus dihadirkan oleh subjek militan itu sendiri.

23 Juli 2013

Biopolitik Giorgio Agamben

Lahir pada tahun 1942. Seorang filsuf politik Itali. Pemikir yang memadukan ciri khas sastrawi dalam memediasi pemikiran filsafatnya yang terkadang rumit dan khas. Agamben menjadi pemikir yang menginspirasi dunia internasional dengan pemikirannya mengenai konsep biopolotiknya dan konsepnya tentang “pengungsi.”

Agamben dibesarkan dalam tradisi pemikiran Heidegger dan Hegel. Bahkan ia beberapa kali terlibat dalam kelas Heidegger yang membincang persoalanpersoalan yang mengendap dan belum terselesaikan dalam pemikiran Hegel dan Heraklitus.

Ia mendapatkan gelar doktoralnya dengan menyelesaikan karya yang membahas pemikiran politik Simon Weil. Dan mengajar dibanyak universitas terutama Prancis, Swiss, Itali dan As.

Pemikiran Agamben ditampakkan oleh komentatornya sebagai pemikir yang mengurungkan tata sistematis. Cenderung menghindari endapan enigmatik pada satu kumpulan yang rigoris dan berpencarpencar secara spiral. Seperti Filsuf kontemporer lainnya, pemikirannya mesti dipahami dalam logika yang bersebelahan dengan teksteks yang ditulisnya. Atau dengan kata lain, kita diajak untuk memasuki kawah makna yang tersembunyi di balik teksteks yang bermunculan.

Hampir beberapa ide dasar Agamben dipengaruhi oleh Hannah Arendt, Heidegger, Carl Schmidt, Aristoteles dan Hegel. Terutama pada konsep bahasa dan metafisika dan konsep biopolitiknya.
Dalam salah satu eksposisinya, Agamben, memberikan preferensi baru dalam menafsirkan konsep manusia dalam kaitannya dengan bahasa sebagai mahluk yang terlabeli sebagai zone politikon. 

Pengandaian ini akhirnya harus kembali mempertegas konsep manusia dari beragam penafsiran yang apolitis. Dalam konteks inilah Agamben memperkenalkan konsep biopolitiknya yang didasari dari pembahasannya terhadap manusia dan atributatribut politik dan hak asasinya.

Dalam Language and Death, Agamben mengangkat pertanyaan mendasar tentang hubungan filsafat dan puisi dengan menanyakan apakah puisi memungkinkan pengalaman yang berbeda dari bahasa dibandingkan dengan dalam filsafat tentang "suara pengalaman yang tak terkatakan". Pada pertanyaan ini Agamben menelusuri penggunaan bahasa dalam filsafat dan Puisi dalam menengahi konsep dalam saat permunculannya. Dengan begitu Agamben masuk pada persoalan imanensi dan trasendensi yakni tentang keterbatasan dan ketakterbatasan.

Dalam lingkup politik, Agamben merumuskan biopolitiknya dengan banyak menyoroti soalsoal hak asasi manusia yang dilihatnya sebagai label yang tersusun dari jalinan kekuasaan dalam hal politik. Dapat juga dikatakan filsafat politik Agamben, adalah filsafat seharihari (bare life). Pada lingkup inilah ia memperkenalkan konsep “pengungsi” dalam gagasan politiknya terhadap pemberlakuan makna kedaulatan pada manusia.

Dalam era kontemporer sekarang dimana hampir 12 juta manusia yang menjadi pengungsi di beberapa kawasan bahkan di negaranya sendiri, pemikiran politik pemikir yang menyenangi puisi ini memiliki relevansinya. Ia menerangkan bahwa politik saat ini membawa konsekuensi yang mengeleminasi kedaulatan manusia yang seutuhnya.

Dalam pemikirannya, ia menolak rumusan manusia yang terlanjur terberi dari konsepkonsep terdahulu yang dianggapnya terlalu membawa manusia pada dimensi yang apolitik. Bagi Agamben manusia dalam kaitanya dengan “dare life” adalah manusia yang terekontruksi oleh dimensi kekuasaan yang mendeterminasi. Pada sudut pandang inilah Agamben mengambil titik tolak mengenai manusia yang “telanjang”. Dalam konsep ini maka ia mulai merumuskan hakhak manusia sebagai mahluk politik dan mahluk yang natural.

Agamben mengilustrasikan bahwa ada semacam persitegangan antara hak asasi manusia dan kekuasaan. Dalam negaranegara maju, kekuasaan cenderung mengakui hakhak manusia dalam lingkup kewarganegaraan, semantara di tengahtengah masyarakat otoriter kekuasaan cenderung mengebiri hakhak manusia dalam kedaulatannya. Dengan begini, ada ambilavalensi terhadap konsepkonsep yang ditumbuhkan dalam pemikiran politik modern sekarang.

Maka dari itu Agamben merumuskan hakhak menjadi dua dimensi dalam kaitannya dengan konsep manusianya. Menurutnya manusia memiliki hakhak dasar yang dalam terminologi politik belum tentu diakui. Dari sini kita bisa memahami konsep “pengungsi” yang terkenal itu. Ia membilangkan pada kasus pengungsi ada hakhak dasar manusia yang terhambat dengan terminologiterminologi politik. Pada kasus pengungsi hakhak untuk hidup menjadi hal yang absurd ketika mereka kehilangan kewarganegaraannya.

Dua dimensi hak manusia yang diperkenalkan Agamben yakni; hak pasif dan hak aktif. Masih menurut pembagiannya, hak pasif manusia adalah apa yang secara natural dimiliki oleh manusia dalam konsep “keterlanjangannya” yang paling purba. Dalam kaitannya dengan hak politik, manusia dirumuskan dalam terminologi kewarganageraan yang jika kewarganegaraan hilang maka hakhak yang mengikutinya pun akan terabaikan. Pada dimensi hak aktiflah manusia diharuskan untuk menuntut hakhak kewarganegaraannya yang terabaikan pada dimensi perpolitikan.

Pada pembagian tentang hakhak inilah pemikiran Agamben mendapat relevansinya terhadapa situasi politik internasional. Hal ini dikarenakan di luar sana begitu banyak hakhak manusia yang banyak terabaikan. Dimana manusia menurut Agamben, dalam konsepkonsep moderniatas, manusia diilustrasikan cenderung membawa isuisu yang berkaitan dengan satu ras masyarakat tertentu.

17 Juli 2013

Ramadhan dan Simulakra

Ramadhan telah memasuki hari kedelapan dan hendak memasuki hari kesembilan. Sudah menjadi
tradisi di dalam masyarakat kita jika tiba pada bulan ilahi banyak terjadi perubahan yang serba cepat. Bukan saja masyarakat, komponen-komponen media pun berlomba-lomba menyuguhkan menu ramadhan untuk mencari berkah bulan yang dijanjikan pahala berlipat. 

Dari acara berita hingga sinetron, banyak yang berlomba-lomba menarik minat penonton untuk menaikkan reting siarannya. Iklan-iklan yang sebelumnya tak memiliki kaitannya dengan bulan ramadhan justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Para tokoh-tokoh iklan nampak berbusana muslim, wanitanya indah dengan kerudung warna-warninya, sedang prianya tampan terlihat dengan baju koko plus dengan kopiahnya. 

Stasiun televisi berlari secepat mungkin mempertontonkan kealiman acara-acaranya, menggelar tabligh akbar sampai memperlihatkan orang-orang yang berurai air mata dengan pesan-pesan ustad dadakan. Singkat cerita bila kita menonton tayangan-tayangan yang disuguhkan selama bulan ramadhan, maka kita pun serempak menjadi penonton yang soleha. 

Apa yang terjadi selama bulan ramadhan adalah fenomena unik yang patut kita cermati. Minimal selama bulan ini kita menuntun diri untuk memacu jiwa agar menjadi insan yang bertakwa. Namun kiranya perlu digaris bawahi bahwa fenomena yang kita saksikan dalam sebulan ramadhan di dalam media-media massa adalah fenomena yang berwajah ganda. Disatu sisi ia menyuguhkan religiuitas namun disisi lain ada permainan simbol yang memberikan pemaknaan kedua. Pemaknaan kedua inilah yang dibilangkan oleh Baudrillard sebagai simulakra.

Simulakra dapat diartikan sebagai tanda maupun simbol yang presentasikan media atau budaya tertentu untuk mempersepsikan realitas. Menurut Baudrillard, pada masyarakat modern, kenyataan telah digantikan oleh simulasi kenyataan, yang hanya diwakili oleh simbol dan tanda. Sadar atau tidak, bulan ramadhan telah dipersepsikan melalui media dengan permainan tanda dan simbol yang menjauhkan kita dari realitas yang sebenarnya. 

Penyuguhan media-media telah mengganti persepsi manusia dengan persepsi yang mereka hadirkan. Ramadhan yang seharusnya dilewatkan dengan pemenuhan ibadah bagi kita akhirnya tergantikan oleh kepentingan yang dihadirkan oleh simulakra itu sendiri.

Dunia adalah pergumulan ideologi. Begitu pula ramadhan. Tradisi yang terbangun dalam bulan ramadhan juga menjadi santapan dari ideologi dominan saat ini. Bila dalam masyarakat dulu ramadhan kerap kali di isi dengan peribadatan yang melibatkan spritualitas person dalam kolektivitas zikir yang menisbahkan diri pada capaian akhirat, maka dalam dunia modern sekarang ramadhan hanyalah dimaknai sebagai pertunjukan lahiriah simbol-simbol spritualitas. 

Mall-mall dipenuhi dengan simbol-simbol semisal gambar bintang-masjid, karyawannya dipenuhi dengan identitas keagamaan semu, sementara pembelinya berlomba-lomba melakukan tawaf untuk mencari aksesoris yang berbau agama (islam). Ramadhan telah menjadi simulasi hasrat religiuitas masyarakat yang kering selama sebelas bulan lamanya. Bulan Ramadhan adalah bulan yang melimpah ruahnya modal dengan memanfaatkan hasrat keagamaan masyarakat modern.

Masyarakat pasca modern adalah masyarakat yang tumbuh dari lubang besar traumatis terhadap hal-hal yang berbau transenden. Dimana pada pengkajian budaya, masyarakat sekarang hidup atas nama perayaan terhadap permukaan. Pada bulan ramadhan seperti sekarang semakin banyaknya saluran-saluran yang menyuguhkan simbolitas yang menjauh dari hal-hal subtantif. Maraknya perkumpulan yoga dinegara maju adalah salah satu bukti dari asumsi ini. kelompok-kelompok zikir akbar yang marak dinegeri kita juga tak luput dari permasalahan ini. fenomena inilah yang pada bulan ramadhan dijadikan sebagai ajang untuk meraup keuntungan bagi negara berkuasa melalui penciptaan simulasi-simulasi melalui permainan simbol dan tanda.

Selanjutnya, proses simulasi ini menggiring manusia untuk merasa bahwa mereka memasuki sebuah ruang realitas yang dirasa nyata dan lebih baik padahal sesungguhnya ruang realitas itu hanyalah citra dan khayalan semu semata. Melalui simulasi Ramadhan akhirnya masyarakat digiring pada spritualitas yang berhamba pada modal. Seakan alim namun lalim pada ketakwaan spritualitas. Akhirnya Makna dari religiuitas hanya diukur dengan tanda-tanda atau simbol yang merupakan hasil penciptaan realitas yang semu. Kita dianggap religius ketika sudah berbaju koko, kaum perempuannya dianggap takwa ketika selama bulan ramadhan menggunakan penutup aurat sedang berakhir ramadhan maka akan kembali pada kondisi semula.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...