04 Februari 2015

madah tujuhbelas

Tulisan ini dibuat saat azan berkumandang. Magrib tepatnya. Pada sebuah warung kopi di suatu sore yang padat. Berduyunduyun pengendara pulang dan pergi memadati jalanjalan paska hujan. Di sana, pada jalan yang tetiba becek, tetiba saja ramai dan juga abai. Ramai, saya teringat ceritacerita tentang masa di mana azan membahana, seluruhnya siap tanggal, ada yang hendak dituju; masjid. Dan seketika ramai. Tapi juga abai, sebab dijalanjalan, khalayak harus gegas dalam duyun keburuan. Di kota, di suatu magrib, sepertinya kebal dari suara semacam azan. Justru kota disuatu magrib, adalah penting untuk terus bergerak.

Masjid bisa tegak berdiri diantara jubeljubel bangunan. Menjadi pusat bagi peribadah. Menjadi tempat yang ilahi untuk dijumpa. Tapi yang kudus nampaknya tidak selamanya kepunyaan masjid. Sepertinya bangunan yang menandai hijrah nabi berabadabad lalu, tidak selamanya kukuh sebagai bangunan yang memiliki pengaruh.

Konon, tujuan masjid adalah pusat perubahan. Dari hidup nabi ada maksud bahwa masjid adalah tempat segalanya diselesaikan. Di masjid, yang umum disoal, yang mendesak diselesaikan. Masjid diabadabad lalu memang memiliki peran sosial. Sebab itulah hal pertama yang dilakukan nabi paska hijrah adalah membangun masjid. Melalui masjid, nabi menerka waktu dan membangun kebudayaan, serta juga sejarah. Umat diberdayakan, dan terkaan nabi tak pernah meleset, sejarah mencatat, hingga akhirnya dari sanalah peradaban madani bermula, tempat di mana Bilal berkumandang.

Itu Bilal, dan itu zaman nabi. Sekarang sudah jauh berbeda. Masjid tidak lagi sebagai pusat kebudayaan. Pun juga tidak seperti zaman cordoba saat masjidmasjid tegak untuk perkembangan ilmu. Di jaman itu juga sejarah mencatat, masjid menjadi corong peradaban. Kini, masjid tersisih dari peradaban, seperti ditinggal diamdiam oleh iman yang naik turun.

Saya teringat sebuah kisah tentang azan. Tentang seorang perempuan yang ingin masuk islam tapi akhirnya enggan karena suara azan. Perempuan itu sanksi,  sebab azan yang ia dengar adalah dengung suara yang cempreng. "Itukah panggilan umat islam?" ujarnya di saat bersamaan waktu belajar tentang islam. "Tapi mengapa seperti itu cara memanggilnya, bukankah islam itu indah. Tapi jika itu yang disebut panggilan beribadah, sepertinya islam nampak buruk." Begitulah kirakira ceritanya. Akhirnya perempuan itu, yang tengah mempersiapkan diri memeluk islam,  membatalkan niatnya beralih keyakinan, sebab hanya karena mendengar suara azan yang buruk.

Saya tidak mengatakan bahwa ada yang bersuara azan dengan asalasalan. Hanya nampaknya itu yang terjadi. Azan sepertinya menjadi kalimah yang banal, yang diulangulang dan nampak kehilangan sesuatu yang religius. Walau barangkali ada gaung yang menyeru berkalikali, tetapi dia menjadi suara yang ditilap keramaian dan bising.

Masjid yang sekarang adalah bangunan yang sudah tersentuh sesuatu yang artifisial. Yang artifisial sebenarnya bisa datang dari yang dibilangkan Weber sebagai rasionalitas, hingga perlu ada pengaturan atas dasar pengukuran yang rigid dan ajek. Upaya pengaturan inilah, yang rasional membentuk sebuah orde; birokrasi. Weber juga tak lupa menyebutkan birokratisasi ini selalu punya kaitan atas dasar perhitungan yang efesien dan efektif. Dan seperti itulah yang disebut birokrasi, yang rasional punya tata tertib dan baku.

Pada saat itulah yang kudus berbaur dengan yang duniawi. Masjid sekaligus menjadi tempat yang rasional bekerja, juga sudah seperti birokrasi; renovasi menara, perbaikan pagar, jumlah kas masjid, berapa jumlah jamaah dan segala yang berbau hitunghitungan. Karena itulah barangkali banyak yang hitunghitungan datang ke masjid. Sebab di sana sudah seperti pasar yang ramai karena kapital. Juga seperti suatu sore dan entah sampai kapan kesibukan yang tidak hentihentinya berputar. Bunyibunyi deru mesin yang menilap ilahi.

Di kota, masjid sudah seperti bangunan yang tak dihinggapi yang ilahi. Begitu juga azan, bukan lagi suara yang keluar dari rongga Bilal, yang konon mendayu dan bertalutalu saat senja sudah di ufuk. Di kota, apapun itu, adalah deru mesin yang tak hentihenti bekerja.


03 Februari 2015

Digital Native dan Perubahan Sosial

Era media massa, keterbatasan akibat jarak, waktu, efek maupun daya jangkau pesan, menjadi penting dan harus dipecahkan. Hal ini dikarenakan bakal mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dan interaksi masyarakat. Namun, semakin kompleks kemajuan zaman, ruang dan waktu, alat tekhnologi komunikasi canggih akhirnya mampu mengatasi hambatan-hambatan yang ditemui manusia, sekaligus secara radikal berpengaruh terhadap cara masyarakat menjalani kehidupan bersama.

Di kota-kota besar, meningkatnya presentase penggunaan alat komunikasi dan teknologi, berdampak massif secara kultural terutama bagi kaum muda. Di kota-kota besar, media komunikasi canggih mendorong dan mensituasikan secara intens pola komunikasi sehari-hari kaum muda. Dengan dalih mengefesienkan waktu dan jarak tempuh, alat komunikasi canggih sudah menjadi bagian inheren dari seluruh aktivitas kaum muda.

Dalam era informasi, lahir kaum digital native yang menandai perubahan paras masyarakat imbas terintegrasinya alat-alat teknologi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Istilah ini merujuk pada lapisan muda masyarakat yang semenjak kecil dididik, dibesarkan, serta terbiasa dengan alat teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital. 

Secara kultural kaum digital native berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka bermain games, mengoleksi lagu-lagu dalam format mp3, duduk berjam-jam di depan laptop, sebagian sibuk ber-BBM-an, dan tentu saja sebagaian besarnya mahir dan pandai berselancar dalam dunia maya. Berbeda dari generasi sebelumnya, generasi digital native lebih adaptatif terhadap inovasi-inovasi yang ditemukan di era digital.

Kemajuan alat teknologi komunikasi memang berdampak radikal mengubah cara menjalani kehidupan digital native saat ini. Kehidupan berbasis teknologi dan alat komunikasi digital, ditandai dengan percepatan dan akumulasi waktu dan jarak melebihi cara-cara sebelumnya.

Era yang melipat waktu dan jarak atas dasar efisiensi dan efektifitas, mengharuskan informasi dapat terus bergerak melintasi batas-batas geografi dan waktu. Informasi sebagai faktor penggerak masyarakat memang berfungsi sebagai modal sosial dominan masa sekarang yang dimanfaatkan generasi digital native agar banyak menunjang seluruh aktivitasnya.

Berbeda dari itu, generasi sebelumnya, justru banyak mengalami hambatan-hambatan memahami dan menjalani kehidupan di era sekarang berkat tidak seimbangnya modal pengetahuan dengan kemajuan saat ini. 

Fenomena cultural lag yang merujuk kepada tersisihkannya generasi tua dari proses perubahan, merupakan tanda betapa teknologi informasi berpengaruh besar terhadap terjadinya perubahan yang tak mampu diadaptasikan generasi sebelumnya. Artinya kemajuan alat komunikasi dan teknologi canggih tak mampu diterima melalui cara hidup generasi sebelumnya akibat latar pengetahuan yang berbeda.

Kesenjangan kebudayaan yang dialami generasi tua, malah disambut dengan terbuka oleh kaum digital native berkat kapasitas pengetahuan yang inovatif. Hal ini karena teknologi informasi telah banyak mengubah dan mempengaruhi tatanan psikosfer kaum digital native.

Pernyataan di atas sesungguhnya menunjukan pembacaan Alvin Toffler terhadap peradaban gelombang ketiga saat ini. Peralihan gelombang peradaban ini ditandai dengan semakin berkembangnya teknologi alat komunikasi. Dari analisisnya, Toffler mendaku setiap media tekhnologi yang berkembang akan berdampak terhadap perubahan empat sistem tatanan yang saling terkait. Pertama, lingkungan teknologi-teknosfer yang akan berdampak terhadap, kedua, lingkungan infosfer, yakni budaya pertukaran informasi di antara masyarakat.

Kedua persinggungan dua lingkungan sebelumnya akan mengubah, ketiga, wajah sosiosfer sebagai teksture kehidupan sosial. Tatanan sosiosfer yang terhubung dari pola-pola pertukaran interaksi antara masyarakat akan membentuk, keempat, tatanan psikosfer yang ditandai dengan perubahan bagaimana cara kita berpikir, merasa dan berperilaku.

Perbedaan tatanan psikosfer dan sosiosfer dari generasi terdahulu dengan kaum digital natives mencirikan perubahan diberbagai aspek kehidupan. Dalam aspek kebudayaan, kaum digital natives mendorong percepatan massifikasi budaya populer yang merupakan lawan dari budaya canon. Media massa yang mereproduksi budaya populer di kalangan kaum digital natives, justru mengambil alih peran budaya canon di dalam proses simbolik tatanan interaksi komunikasi. Penghargaan terhadap budaya asing dibandingkan budaya adihulung yang diproyeksikan kepada praktik-praktik kehidupan generasi digital natives, merupakan faktor keberlanjutan dari berubahnya tatanan sosial masyarakat.

Proses perubahan serupa seperti diceritakan Edmund Carpenter, seorang antropolog Amerika yang mengisahkan pengaruh teknologi terhadap perubahan kebudayaan orang Irian. Dalam penelitiannya di Sio, ia datang dan memperkenalkan alat-alat teknologi komunikasi modern- kamera, tape recorder dsb. Setelah beberapa bulan kemudian ia meninggalkan tempat itu. Ketika ia kembali, ia dikejutkan oleh perubahan cara hidup orang Irian yang mengalami perubahan kultural secara radikal.

madah enambelas

Bagi negerinegeri bekas jajahan, atau yang disebut Spivak negeri pascakolonial, memiliki penyakit yang tak bisa tanggal begitu saja pasca merdeka. Tapi juga sebaliknya, sudah dianggap mujarab untuk menerabas keterbelakangan; developmentalisme.

Developmentalisme, atau yang sering dieja pembangunanisme, bagi negeri seperti Indonesia, barangkali sudah seperti mantra untuk berubah. Dengan susun rancang berkala, ada harap yang tak ingin selalu tiarap.

Tapi pembangunanisme tidak saja sekedar menjadi jalur kemajuan kala itu, ia lambat laun malah justru jadi tulah. Sebab pembangunanisme sama artinya dengan sebuah rejim yang telah memimpin dengan tiranis. Sebagai tulah, pembangunanisme, kata yang juga seperti mantra kemajuan itu, dianggap sebagai sumber segala petaka yang tak sudahsudah.

Tapi itu setelah kita tahu maksud tersembunyi dari pembangunanisme. Dulu, saat negeri masih hijau, dedaunan meranggas musim, orangorang mendayuh becak, pembangunanisme adalah sebuah langkah yang taktis. Negeri yang masih luas tanahnya kala itu, menjadi bagian dari strategi kemajuan. Taktis berarti negeri ini perlu cara yang cepat mengejar ketertinggalan. Negeri ini harus lepas dari pengertian sebagai negara dunia ketiga.

Maka dimulailah perubahan besarbesaran. Negeri yang semula teduh jadi bising. Tempattempat yang asing jadi ramai. Daerahdaerah yang terpencil pelanpelan didatangi, disulap jadi hunian baru. Dengan aktivitas bangun negeri, kala itu pembangunan adalah salah satu cara yang ampuh untuk ditempuh.

Kala itu seperti ada yang memimpin impian agar tidak ingin diejek bangsa lain. Orde yang tak kenal kadaluarsa saat itu memang menjadi panglima pembangunan. Dan tujuannya nampak jelas dari rencana yang kala itu sudah memang disiapkan; repelita. Dengan pembangunan macam itulah negeri ini hendak dibangun, bertahap dan bertahap.

Tapi apa daya, semuanya lancung. Justru harapan yang ditambat lamatlamat meleset. Di sinilah tulah itu bermula. Ideide yang semula adalah bagian dari teori perubahan malah bermetamorphosis menjadi ideologi. Akhirnya yang dibangun boleh saja maju, tapi  ada tempat yang tanpa didugaduga jadi tak steril; kekuasaan. Maka mulailah yang telah jadi ideologi itu dicobakan sebagai semacam liturgi, yakni perayaan terhadap kekayaan.

Karena itulah pembangunanisme malah nampak menjadi tirani yang tanpa hati. Disebutkan oleh M. Dawam Raharjo, pembangunanisme malah banyak menyedot kekuasaan untuk menjadi tempat jalan masuknya kepentingan kapital. Dan memanglah demikian, sebab, jauhjauh hari, pembangunanisme adalah proyek negaranegara maju dalam rangka membangun pengaruh bagi negaranegara yang ingin berkembang.

Hingga akhirnya malang untuk kita, semenjak orde yang hampir abadi itu berkuasa, pembangunanisme diterapkan kesegala hal, juga terutama ekonomi dan sosial.

Apa daya rejim yang tiranis akhirnya mentok juga. Pembangunan tak disangkasangka menilap banyak rupiah, utangutang bertumpuk, harga pangan jatuh dan ekonomi mandek. Hingga akhirnya badai krisis datang. Negara tibatiba guyah. Rakyat mengamuk. Dan yang tirani akhirnya tumbang.

Namun adakah yang berubah? Sepertinya tidak semua. Yang ada adalah pemerintahan yang meneruskan noktah sejarah kelam. Pembangunanisme diganti dengan statistik kemiskinan yang dianggap berkurang tiap tahun. Harapan diganti demokrasi. Justru kemudian pembangunanisme malah berwujud negeri yang berubah haluan; negeri paling demokratis.

madah limabelas

Pk ingin pulang, dicarinya tuhan dan dalam pencariannya ia membikin geger seantero penjuru. Setidaknya itu yang menjadi jalan cerita dari Pk. Dari film yang dibintangi Amir Khan itu sekali lagi menunjukan, bahwa tuhan memang adalah urusan yang bisa pelik. Tidak saja dibangsabangsa lain, pun juga di India, Pk sepertinya ingin kembali mengingatkan tentang urusan tuhan tidak bisa diurus dengan kepala yang kering dan jiwa yang sarat emosi.

Itulah sebabnya, tuhan dalam benak Pk adalah sudah mirip sesuatu yang jamak dimiliki banyak orang. Ia menganggap tuhan bukan kepunyaan segelintir orang. Maka dicarinya tuhan ke tiaptiap sudut, didatanginya orangorang, rumahrumah ibadah, hingga akhirnya dia tahu rupanya tuhan bisa berbedabeda. Maka mulailah dia bersikukuh untuk mencari tuhan yang bisa memulangkannya dari setiap tuhan yang ia temui. Gilakah ia? Pk memang berarti gila, semua orang menganggapnya gila, tapi Pk sebagai orang yang ingin pulang sebenarnya adalah orang yang berpikir rasional.

“Tuhan manakah yang harus aku percayai?” Ungkapnya kepada Tapaswi, pemuka agama yang konon dapat berkomunikasi dengan tuhan. “menurutku tuhan itu ada dua” ungkapnya lagi. Dan dari dialog bersama Tapaswi  itu Pk membuka kembali makna tuhan yang berbeda; tuhan yang mencipta dan tuhan yang diciptakan.

Tuhan yang mencipta menurutnya adalah tuhan yang tak  pernah dapat diketahui, tak dapat dijangkau. Tuhan seperti inilah yang sulit diringkus dalam bahasa yang hanif. Ibnu Arabi menyebutnya sebagai misteri dari misteri yang misteri. Ini artinya tuhan yang mencipta adalah tuhan yang dalam ungkapan ibrahim dihadapan Firaun diilustrasikan sebagai yang ada di  barat maupun yang di timur.

Sementara tuhan yang dicipta adalah tuhan yang dalam benak. Tuhan yang oleh PK disebutnya seperti Taspawi, yakni tuhan yang berpurapura, pembohong, berpihak pada orang kaya, pemberi harapan palsu dan mengabaikan kaum miskin. Tuhan yang demikian disebutnya tuhan yang kembar, tuhan yang identik dengan prasangka manusia. 

Rasarasanya Pk benar, selama ini tuhan menjadi simbol seperti yang sudah identik dengan manusia. Hingga hidup dan menjadi tradisi dalam setiap ajaran agama. Hingga yang ada adalah agama yang dipertuhan kekuasaan, pujapuji dan rasa yang superior. Agama demikianlah yang barangkali selama ini kita jalani sampai sudah seperti benar selalu. Agama yang demikianlah yang sepertinya menjadi sumber persoalan. Sehingga film ini juga ingin menyindir; agama yang bertuhan dengan tuhan mirip Taspawi lebih baik tanggalkan segera.

Demikianlah film ini dipuji sekaligus kontoversial. Dikatakan di mana film ini dibuat malah banyak menyinggung agamaagama. Menyinggungkah film ini?  Tetapi film yang dikatakan kontroversial di india itu memang memantik keyakinan kita yang antik. Rasarasanya wajar jika india bisa melahirkan karya film yang demikian. Sebab India adalah bangsa yang terlahir dari pertikaian atas agama. Dari sejarahnya kita tahu, tanah bekas koloni inggris itu akhirnya harus pecah akibat sentimen agama; India dan Pakistan. Dan dalam arti yang kritis film ini juga sebagai kritik, yakni agama bukan saja soal iman yang dibatasi rumah ibadah, tetapi juga soal manusia yang tak berumah.

02 Februari 2015

madah empatbelas

Sering kali kita ditimpa masalah; gunung meletus, pertengkaran dan keangkuhan, naiknya harga bbm, banjir bandang, terlilit hutang, pesawat jatuh, naiknya harga barangbarang, air bah, terorisme, perang etnis, pemerintahan korup, pemimpin yang tak adil, pembunuhan, perkosaan, penculikan, kelaparan, pembantaian massal, huruhara politik, penggusuran, pengkianatan, sunami, angin ribut, kebakaran. Juga kemiskinan, tipu muslihat, penyakit menular, kebohongan, kecelakaan beruntun, kelaparan.

Barangkali hampir semua hidup kita sudah bagian dari semua itu.  Dan juga bisa jadi kita yang hidup di suatu sore dengan kopi secangkir, malah menjadi sumber semua masalah di pagi yang dirundung kesibukan. Hidup memang seperti jejaring labalaba di mana semuanya menjadi sistemik dan berangsurangsur. Tak ada yang terpisah dan mandiri dari tempat kita berpijak. Kata pepatah cina; kepakan kelelawar di sini, membahana angin beliung di sana.

Ada juga ungkapan, hidup itu seperti suara gema, ketika engkau teriak, pantulannya lambat laun kembali juga. Takdirkah itu? Sepertinya ini yang jadi soal. Takdir itu kejadian setelah pengamatan. Atau keadaan yang jelas setelah kejadian. Gema, yang bakal mendatangi sumber suara itu bukan takdir. Gema sebagai suara yang bakal datang itu sudah bisa kita ketahui. Ini artinya, gema, sebenarnya persis hukum kausal. Apa menyebabkan apa, siapa mengakibatkan siapa.

Lalu masihkah yang disebut masalah harus kita sebut sebagai “keputusan yang sudah diputuskan?” Takdir sebagai keadaan yang terputuskan sejak awal disebut fatalistik, sementara takdir sebagai kemungkinankemungkinan yang sulit kita duga adalah  seperti gema; sesuatu yang dari kita dan akan datang masanya ia kembali. Ini berarti takdir tak selamanya sudah digariskan, melainkan diluruskan. Dalam arti luruslah, apa yang menjadi masalah dibenarkan. Ini berarti apaapa yang nampak bermasalah dapat diubah.

Namun rasarasanya itu sulit, ternyata ada banyak jejaring yang juga kusut. Sepertinya masalah bukan saja soal individual tetapi juga sosial. Itulah mengapa masalah mesti ditangkal sejak awal. Sebab garis lurus sulit dibentang jika dari awal tak ada semisal penggaris yang dipedomani. Maka wajarlah jika masalah sosial sudah terlalu banyak karena garis lurus tak pernah dibentangkan. Toh jika ada garis yang ingin ditarik, justru penggarisnya malah tak lurus.

01 Februari 2015

madah tigabelas

Sepertinya ada yang diamdiam terus membayangi di balik tegaknya intitusi masyarakat. Terus mengendus dari dalam dan merusak dengan cara yang tak kasat mata. Pelanpelan menjangkiti seperti hasrat yang tak pernah lengkap dan puas. Lamatlamat yang tak pernah puas itu membangun sebuah hirarki. Yang tak pernah puas itu biasa dieja  dalam arti yang sama dengan satu hal; kekuasaan.

Dan kekuasaan yang diamdiam bekerja itu punya dua  sikap yang jadi watak dalam setiap yang berbau birokrasi; Firaun dan Bal'am. Firaun, seperti yang diulangulang dalam sejarah adalah penguasa yang menilap tuhan. Atau nyaris menghabisi tuhan, sebab dalam quran diceritakan ia justru berkoar: aku adalah tuhan yang dapat  mencabut nafas dan mampu menghilangkan nyawa. Sementara Bal'am kita tahu, ia orang yang menyokong Firaun, dengan dalilnya, dengan argumentasi ilmunya. Diceritakan melalui sejarah, dengan dalildalil ilmunyalah, Firaun membangun kerajaannya.

Tetapi adakah itu sudah cukup? Nampaknya sejarah selalu menyisakan tempat untuk yang lain; Qarun. Dalam islam, terutama yang digambarkan Ali Syariati, Qarun adalah simbol antagonisme kelas ekonomi atas, golongan pemilik modal yang kehilangan sentimennya terhadap masyarakat tertindas.

Ali Syariati juga menyebut nama yang lain. Dari telusur filsafat sejarahnya, Ali Syariati menyebut satu nama; Qabil, yakni simbol masyarakat dominan yang mengagungkan hak kepemilikan pribadi atas penguasaan yang publik. Qabil, digambarkannya sebagai simpul yang merangkul dari apa yang ia sebut trinitarianisme sosial; Firaun, Bal'am dan Qarun.

Sebuah narasikah ini? Nampaknya ini tidak sekedar sejarah yang berasal dari negerinegeri seribu satu malam. Apalagi deskripsi dari teksteks yang sering dikutipkutip. Syariati tidak hendak membangun pemahaman yang teologis atas masyarakat, melainkan sebuah pandangan yang sosiologis. Ia rasarasanya resah bahwa dalam kehidupan masyarakat, yang disebut watak, sifat yang mendasari sebuah peran, bisa menjadi sebuah kangker dalam  tubuh masyarakat; ganas dan merusak.

Ini berarti tabiat maupun watak bukan keberadaan yang sui generis. Bukan hakikat yang ahistoris dan di luar sejarah. Tidak seperti subtansi yang sudah dimaktub dalam lauh mahfus. Seperti sesuatu zat yang ada dengan sendirinya. Ia justru dibentuk dan dicipta dalam sejarah. Ditempa dalam lingkungan, diciptakan dari pergulatan dan pengalaman atas kenyataan. Ia -dalam prosesnya- terus mengalami perubahan yang tiada hujung.

Dalam arti inilah tabiat watak tidak sepenuhnya perihal yang sudah jadi. Untuk itulah kita seharusnya tak harus percaya betul terhadap masyarakat di luar sana. Sebab nampaknya memang tabiat selalu mengikuti keadaan sosial; baik buruknya sudah seperti lempung lumpur yang dibentuk. Atau janganjangan memang betul bahwa manusia sebenarnya adalah mahuk antisosial.

Di sini kita boleh saja mengiyakan Hobbes dengan pandangan etisnya bahwa manusia disebut etis bila sejauhjauhnya ia bisa memenuhi keinginan individualnya. Tindak etis ini disebut pemeliharaan diri. Tindak etis ini disebut egoisme. Dari sinilah yang antisosial itu muncul dan meraup segala yang ada. Tapi Hobbes tahu jika yang individual dipertemukan ke dalam yang sosial; bellum omnes contra omnia. Maka yang ada adalah perang yang semua melawan yang semua; homo homini lupus.

Memang sepertinya itulah yang terjadi di sekitar kita. Situasi yang timpang sana timpang sini. Yang punya kuasa justru nampak seperti serigala; menindas, menghambat dan memaksamaksa. Sementara di bawahnya justru seperti dibilang Pram, menjilat, mengembik atau malah penghambaan. Jadi bukannya kita harus mafhum terhadap alur masyarakat yang mencipta “kangker” yang tak pernah sembuhsembuh, melainkan kenapa seluruh watak yang pernah ada dalam sejarah masih tetap bertahan hingga kini. Adakah ini memang seperti hilir sungai yang baik hilir dan muaranya sudah tercemari.  Apakah memang yang individual sudah seperti yang sosial; bellum omnes contra omnia. Perang di sana sini. Meraup segala hal selagi sempat dan mampu.

31 Januari 2015

madah duabelas

Daniel Bell pernah menyeru, dalam bukunya; ideologi telah mati. Dan ini tidak sepenuhnya salah, sebab dia berbicara tentang jatuhnya sosialisme dan keyakinankeyakinan politik peninggalan abad sembian belas. Seruan ini pernah gaung di pertengahan enam puluhan, tetapi hingga saat ini nampaknya pernyataan sosiolog itu masih terasa benarnya. Namun nampaknya ia menyebut ideologi yang lain. Ia menyebut  ideologi yang pernah dianut hampir sepertiga kawasan dunia. Kini, dunia telah berganti rupa. Ia sepertinya salah memperhitungkan, bahwa ada yang lain, dan juga sebenarnya adalah ideologi. Kapitalisme yang tak pernah matimati itu, kini di sini, dengan kemasan yang dibungkus menarik; iklan.

Iklan yang disebut sebagai media yang mengagungagungkan objek oleh Baudrillard, memang sudah menggusur apa yang kita yakini. Simulakrum yang disebutnya sebagai realitas virtual yang semu sepertinya sudah kita anggap sebagai kenyataan. Ini persis dengan mahluk gua Plato; yang nyata adalah apa yang menjadi bayangbayang dari pantulan diri kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa konsumsi adalah peristiwa yang lebih mirip seperti ibadah; ada sesuatu yang diagungagungkan.

Di saat demikianlah, yang agung kita terima sebagai yang keramat. Di sana ada yang fethis, sesuatu yang sakral. Dan di mana ada yang sakral berarti itu sesuatu yang personal, yang pribadi.  Sebab itulah F. Burkhardt menyebut masyarakat konsumsi adalah peristiwa akbar yang sedang mencari sesuatu yang personal dari barangbarang, sesuatu yang membahagiakan dan menyenangkan

Iklan memang sakral dan telah melampaui sesuatu yang rasional. Melalui iklan, yang nyata ditaklukkan sementara di dalamnya yang fantasi ditegakkan. Objekobjek yang kongkrit, padat, pejal, terbatas dan gampang habis dengan mudah menjadi benda yang dibangun atas jejaring tanda dan penandaan. Yang kongkrit akhirnya nirbatas, dibentuk oleh simbol, cap, dan makna yang virtual. Dari apa yang disebut sebagai totalitas penandaan, iklan memang mujarab membangun keterlibatan melalui tindak konsumsi; jual beli.

Dibalik jual belilah justru sebuah pasar tegak. Marx menggambarkan bagaimana sebuah industri bisa tegak dan lurus berdiri dengan sesuatu yang ”awalnya kongkrit akirnya menguap ke angkasa.” Memang Marx tak menyebut langsung “semula yang padat akhirnya menguap” sebagai sebuah tindak pertukaran, tetapi sekarang, zaman modern memang telah banyak mengubah “yang kongkrit menguap ke angkasa.” Di dalam industri ada buruh, manusia yang kongkrit dengan pekerjaannya yang sentuhbersentuhan dengan bendabenda yang material, ada produksi yang bersumber dari yang kongkrit, tenaga dari kalori yang juga kongkrit, tetapi di pasar “yang kongkrit meluap mengangkasa.” 

Dan itulah yang sepertinya banyak kita konsumsi; suatu simbol, “yang telah menguap ke angkasa.” Sesuatu yang anganangan, ihwal yang imajinatif. Maka sepertinya saat demikianlah, yang rasional malah nampak seperti ungkapan atas yang irasional. Dari sanalah jual beli bisa berarti sikap yang bukan apaapa selain kegilaan yang dianggap masuk akal.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...