20 Februari 2016

kala kala jangan kalah

Kala belum jadi. Saya memilih tidur. Ngantuk tibatiba datang menyergap. Maklum pagi tadi saya harus keluar lebih awal. Setelah pulang, akibat kekenyangan membuat mata saya berat.
Kali ini Kala saya tangguhkan sampai malam. Sengaja saya tidur saja, biar malam jauh lebih fit mengerjakannya. Apalagi sampai siang belum ada tulisan yang masuk.

Minggu lalu, pasca kelas menulis PI, sudah ada tulisan yang siap pakai. Cuman baru satu esai. Kala biasa memuat dua esai. Terkadang juga beberapa puisi, itupun kalau memang dua esai tidak mencukupi kolom yang tersedia.

Satu esai, dimuat minimal 500-700 kata. Kadang ada esai yang bisa dimuat lantaran sampai 1000an kata. Implikasinya, satu esai yang lain harus tidak lebih dari 700 kata. Kalau format tulisannya pas, maka tak jadi soal. Kala terbit dengan dua esai seperti biasa.

Kala buletin debutan. Karena masih baru, Kala masih mencari pola. Entah aspek wacananya sampai teknis penerbitannya. Sampai detik ini, Kala sudah terbit empat pekan. Selama ini polanya sudah mulai kelihatan. Pertama, perhatian model tulisan selain esai, juga cerpen. Juga puisi. Kedua, nanti setiap jelang kelas PI dibuka baru Kala siap edar.

Pola kedua terjadi akibat tulisan jarang masuk lebih awal. Padahal setiap pekan redaksi Kala terbuka lebar bagi setiap tulisan kelas menulis PI. Namun, entah sampai saat ini meja redaksi Kala sepi tulisan. Kalau yang ini maklum, Kala bukan buletin prestisius. Juga memang barangkali tak ada yang tertarik mengirimkan tulisan.

Konsep awal Kala adalah media kolektif. Tujuan dasarnya menampung tulisan kelas menulis PI. Jadi secara kolektif tak ada soal dari mana sumber tulisan Kala. Itu bisa diambil dari tulisan kawankawan. Yang jadi problem adalah hampir semua kawankawan banyak menulis jenis tulisan freewriting. Sementara yang dikhususkan merupakan tulisan jenis esai. Atau suatu tulisan yang fokus membahas satu tema dengan menyertakan sudut pandang tertentu.

Jenis freewriting gandrung akhirakhir ini. Temanya bisa macammacam. Gaya maupun bentuk penulisannya juga demikian. Kelebihan jenis tulisan ini bisa mengeksplore banyak hal dari satu tema yang menjadi pintu masuk. Prinsipnya mengalir bagai air. Biarkan ceritamu yang menuntunmu. Karenanya, akan sulit bertahan atas satu ide yang akan digubah. Walaupun bebas, tulisan bukan sama sekali menanggalkan aturan main penulisan. Fleksibel, salah satu kuncinya.

Kala bisa memuat jenis tulisan macam freewriting bila satu esai sudah terpenuhi. Kalau belum akan ditunggu sampai masuk ke meja redaksi. Waktu deadline biasanya sampai jam 10 pagi. Pernah di pekan keempat, esai yang masuk hanya satu judul. Sementara esai yang kedua nanti datang jelang masa injurytime. Karena saat itu malah menyisakan kolom kosong, mau tak mau itu jadi tugas redaksi mengisinya.

Tadi siang ada omongan kalau Kala hanya beredar di kalangan internal. Itu bisa jadi soal atau malah sebaliknya. Kala jadi soal kalau peredarannya belum bisa keluar dari komunitas. Justru jadi serius kalau belum bisa menjadi wacana. Ukuran redaksi, Kala bisa berhasil salah satunya kalau posisi Kala menjadi topik omongan. Sebaliknya tidak jadi masalah, karena Kala bukan apaapa. Makanya bukan soal kalau Kala hanya beredar di seputar kawankawan.

Sampai malam ini masih satu esai yang masuk. Kala butuh dua esai. Kalau besok pagi belum terpenuhi dua esai, sudah jadi tugas redaksi mensiasatinya. Redaksi memang harus punya banyak akal, apalagi misal tulisan yang kurang.

Sekarang saya habis makan. Janji sebelumnya malam ini baru urus Kala. Seperti biasa harus lebih dulu mengedit tulisan. Setelah itu baru sesi urus layout. Terakhir tinggal save kemudian siap naik cetak besok siang.

Tapi, seperti yang saya bilang, sampai saat ini masih satu esai yang layak terbit. Redaksi harus bersabar sampai besok. Kalau memang belum ada, jujur terpaksa redaksi harus pakai jurus ke 977. Kadang di keadaan yang kepepet, jurus itu penting. Sama pentingnya, Kala harus tetap terbit di akhir pekan. Kala jangan Kalah.


19 Februari 2016

yang disenangi atau yang diketahui, atau malah keduaduanya

Kalau sakit kepala begini susah memikirkan apa yang bisa ditulis. Berat pikir soalsoal yang kritis. Padahal niat menulis hari ini harus direalisasi. Dua hari belakangan memang saya tidak menulis apaapa. Terakhir saya sempat menulis soal konsistensi penulis, terutama bagaimana meneruskan kebiasaan menulis.

Beberapa waktu belakangan memang ada naskah tentang cerpen Puthut EA. Sudah hampir dua minggu terbengkalai. Saya heran mengapa belum bisa dituntaskan. Dua kali saya mencobanya, tapi selalu gagal. Dua kali juga, di saat ingin menyelesaikannya justru tulisan lain yang jadi. Kebiasaan ini malah sering dialami. Menulis halhal yang sebelumnya tak diduga.

Saya pikir kalau begitu saya bukan orang yang bisa konsisten mengawal ide menjadi tulisan yang utuh. Kadang memang  suatu ide bisa saya tulis dalam jangka waktu yang lama. Terutama itu kaitannya dengan tulisan yang agak formal. Jadi kalau hari pertama saya mengerjakan bagian pendahuluan, hari itu bisa saya tunda dan menyambungnya di hari lain. Dan, di hari lain, tidak susah kalau tulisan itu saya lanjutkan kembali.

Agak berbeda dengan beberapa tulisan saya yang agak nyantai. Maksudnya tulisan yang punya konten pengalaman seharihari. Belakangan itu bisa saya tuliskan tidak lebih dari tiga jam. Mengalir begitu saja. Tanpa ada yang berat kalau dituliskan. Saya berkeyakinan kalau itu karena yang saya tulis adalah soal yang dekat dari diri saya. Sesuatu yang memang saya ketahui betul. Pengalaman di mana memang saya terlibat di dalamnya.

Belakangan saya ingat, barangkali ini yang dimaksud free writing.  Gaya menulis yang mengalir begitu saja, tanpa mau di skak mat aturanaaturan yang mengikat. Sampai sekarang saya belum paham betul apa itu free writing. Sebagai suatu konsep atau gaya alternatif kepenulisan, saya kira ini patut dibincangkan. Diomongin.

Makanya, saya sadar kenapa tulisan soal cerpen Puthut EA tidak kelarkelar. Mungkin saya belum begitu akrab dengan gaya bercerita Puthut EA, bagaimana dia sering membangun cerita, seperti apa plot yang dipakainya, dan konflik apa yang sering muncul di cerpencerpennya. Atau, memang saya belum begitu menghayati cerpen yang saya sitir. Ini yang mungkin jadi penting: saya harus menghidupkan seluruh indera, membangun suatu kerangka seperti yang ada dalam cerpennya. Seolaholah saya berada di dalamnya. Bahkan terlibat di dalam ceritanya.

Itu juga yang dialami salah satu naskah sebelumnya. Jauh sebelumnya, saya sedang menulis ihwal Luis Borges, pengarang fenomenal dari benua Amerika.  Tulisan prematur ini, bahkan sudah hampir tiga bulan tak diutak atik. Tergeletak begitu saja tanpa pernah berkembang menjadi tulisan yang fixed. Sampai di sini kesimpulannya sama; saya belum menghayati Luis Borges sampai ke karyakaryanya.

Sampai di sini ada prinsip, yang dalilnya dirumuskan menjadi “menulislah apa yang kau ketahui” vs “menulislah apa yang kau senangi.” Yang pertama penerapannya banyak ditemui dalam tulisantulisan yang mengandung nuansa research; biasa digolongkan tulisantulisan nonfiksi. Sementara yang kedua,  biasa ditemui dalam tulisan yang berbau pengalaman. Yang pertama sering ditulis oleh ilmuwan, peneliti, ahliahli profesi, atau kaum teknokrat, sedangkan yang kedua banyak dialami oleh pengarang, sastrawan, budayawan, maupun seniman.

Saya agak ragu kalau ada penggolongan semacam yang saya bikin di atas. Jadi itu tidak usah ditanggapi serius. Penggolongan itu hanya sebatas yang saya tahu. Tidak ada data informasi yang bisa dijadikan ukuran. Apalagi kedua golongan di atas bisa saling menyampir, filosofi gaya pertama bisa diterapkan kepada gaya penulisan kedua, atau sebaliknya.

Namun, kalau mau dipikirpikir, dua filosofi di atas tidak bertolakbelakang. Bisa jadi itu hanya soal tahapan belaka. Janganjangan memang yang satu tak bisa dilakukan kalau prinsip sebelumnya belum terpenuhi. Artinya,  banyak hal yang diketahui, tapi tidak semua disenangi. Begitu juga banyak yang disenangi, tapi belum tentu diketahui. Jadinya kalau mau menulis hal ihwal yang disenangi, pasti itu juga yang diketahui. Sebaliknya, kalau ingin menulis dari yang diketahui, usahakanlah itu juga yang disenangi.

Rasarasanya, itu yang dialami oleh dua naskah saya. Belum terbangun rasa suka dan cukup informasi. Saya harus menyenanginya dulu sebelum diteruskan lagi. Pun kalau ada itu tidak bulat. Masih setengah hati. Ibarat kekasih, saya harus tulus  menyukainya. Kalau sudah begitu pasti saya akan senang dan akan mencari tahu seluruh kaitan tentangnya. Kesimpulan saya ini besar kemungkinan benar. Itu yang saya rasakan.

Prinsip ini sebenarnya saya dapat dari sebuah postcard  di FB. Di waktuyang agak sudah lama. Saya pikir ada benarnya. Banyak hal yang sulit dilakukan lantaran tidak disenangi. Banyak pekerjaan yang tersendat begitu saja akibat terpaksa dilakukan. Bisa juga karena idealideal yang dipancang di atas tiang harapan, tapi malah sebaliknya terbatasi. Di titik ini saya kira orangorang sering merasa berat merealisasikan tujuannya karena terlalu tinggi mengharapkan hasil. Orangorang kadang lupa, proses jauh lebih penting daripada hasil.

Sebab itulah dua naskah tadi saya biarkan saja dulu. Tak apa lama dia mengendap, sembari menunggu saya senang melanjutkannya. Saya kira ini yang memang penting, mengerjakan sesuatu karena senang melakukannya. Bukan desakkan suatu tuntutan. Saya harus akrab dengannya. Akhirnya saya juga mulai mengerti mengapa tesis saya tersendasendat;  dia prematur akibat tidak disertai rasa senang didalamnya. Seperti dua naskah sebelumnya, saya juga harus menyenanginya, sama halnya tulisan saya yang lain.


18 Februari 2016

Kritik atas Frankfurt School


Herbert Marcuse
Salah satu pendiri Mazhab Frankfurt
Dikenal melalui bukunya ”One Dimensional Man”



PERTAMA, kritik hak milik  ekonomi politik Marx yang mengalami pergeseran dari motif kelas menjadi motif psikologi. Pendasaran segregasi kelas yang menjadi acuan marxisme dalam menelusuri motifmotif penguasaan, di tangan pemikirMazhab Frankfurt malah mengalami penurunan ketajaman dalam menganalisis keadaan objektif masyarakat. Apabila Marx melihat asalusul penindasan secara objektif ditemukan dalam pembagian kelas masyarakat, di mana penguasaan alat produksi oleh kaum borjuasi menjadi sumber penghisapan, melalui cara pandang Mazhab Frankfurt malah dikembalikan kepada unsurunsur subjektif berupa dorongandorongan intrinsik manusia. Akibatnya, kritik Marx yang semula ditujukan kepada analisaanalisa idealistik, justru di tangan Mazhab Frankfurt terjadi repetisi atas apa yang telah Marx kritik sebelumnya.

Kedua, dalam kajian Mazhab frankfurt, pendasaran marxisme terhadap kelas buruh tak lagi mendapatkan tekanan seperti yang diharapkan Marx. Telah diketahui sebelumnya, pendakuan Marx bahwa setiap kelas bertindak atas dasar kepentingannya, dan kepentingannya ditentukan oleh situasi objektifnya,  menjadi semacam pintu masuk untuk memahami pertentangan kelas yang terjadi di dalam masyarakat kapitalis. Melalui cara ini berdasarkan kepentingan objektif yang ditentukan oleh kedudukan kelas, menuntut suatu sikap mawas diri demi menjaga eksistensi masingmasing kelas. Karena sikap inilah terjadi pertentangan kelas yang menjadi inti dari gerak masyarakat. Sebab itulah seperti yang ditekankan di dalam Manisfesto Komunis perlunya kesadaran kelas untuk mempertahankan kepentingan kelas buruh yang banyak mengalami tekanan dari kelas di atasnya. Sikap konservatif kelas borjuis yang merupakan konsekuensi dari kedudukan objektifnya di masyarakat, mau tak mau harus berhadapan langsung dengan kelas pekerja yang memiliki semangat progresif dan revoulusioner akibat dari kepentingan kelas yang bertahan di antara keduanya.

Sementara itu, akibat pembacaan yang meluas, serta beragam teoritisi yang terlibat di dalamnya, Mazhab Frankfurt  sulit mendefenitifkan keberpihakannya kepada kelas pekerja seperti dalam pemikiran Marx. Perhatianya yang meluas terhadap musik, budaya, media massa, mode, dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya, mengakibatkan sulitnya mempertahankan pembacaan sekaligus kritik ekopol marxian yang menjadi cara pandang utama dalam tradisi marxis. Akibat lunturnya kepercayaan Mazhab Frankfurt kepada kelas pekerja, di saat yang bersamaan bergerak memasuki segmentasi kelaskelas yang lain semisal kaum radikal terdidik di kampuskampus sebagai agen perubahan.

Ketiga, penyematan label revisionisme yang diberikan pemikir marxis ortodoks, membuat Mazhab Frankurt sulit mendapatkan simpati dari gerakan kiri yang masih percaya terhadap metode pembacaan ekopol Marx. Walaupun dikatakan oleh para tokohnya bahwa usaha yang dikerjakan Mazhab Frankfurt merupakan bagian dari usaha krirtik yang pernah dilakukan Marx terhadap kapitalisme, tetap saja di luar pandangan mereka, mazhab Frankurt dinyatakan sebagai suatu aliran yang keluar dari tradisi pemikiran marxis.

Di sini, perlu dijelaskan sepintas mengenai tiga tradisi atau pendekatan seputar metode pembacaan terhadap Das Capital Marx yang sampai hari ini masih berlangsung, yang dikemukakan oleh Harry Cleaver. Pertama, tradisi ekonomi politik. Pendekatan tradisi ini mesti dipahami  pada konteks International II berlangsung (1889-1916).  Problemnya berkisar pada persoalan determinasi ekonomi dan teks acuannya, tentu saja, adalah Contribution to a Critique of Political Economy, di mana Marx berbicara tentang relasi ekonomi sebagai basis masyarakat yang darinya muncul bangunan suprastruktur yang bersifat legal politis.  Dalam konteks ini terjadi perdebatan antara Edduart Bernstein dengan Rosa Luxemburg tentang apakah krisis ekonomi yang akan menumbangkan kapitalisme itu niscaya atau tidak. Melalui bukunya Evolutionary Socialism, Bernstein mengajukan pendapat bahwa krisis itu tidak niscaya menghancurkan kapitalisme, krisis itu hanya akan memperlambat akumulasi kapital sementara kaum kapitalis akan dapat mengkonsolidasikan diri menghindari krisis ini. Maka itu bagi Bernstein perjuangan yang mesti dilancarkan melawan kaum kapitalis adalah perjuangan ekonomi seraya menggabungkan diri ke dalam parlemen.

Hasil pembacaan Bernstein atas Kapital ini segera dilawan oleh Rosa Luxemburg dalam Reformasi atau Revolusi (1900) dan Akumulasi Kapital (1913). Luxemburg menyatakan bahwa krisis kapitalisme tak terhindarkan justru, berkebalikan dengan Bernstein, karena akumulasi kapital akan memuncak dalam konflik antar negara. Berdasarkan pengertian ini, Luxemburg memberikan solusi yang berbeda, yakni persiapan revolusi dan penolakan atas sekedar reformasi. Keduanya mewakili posisi dasar pembacaan ekonomi politik atas Das Capital yang akan membayangi para penafsir selanjutnya. Penekanan Bernstein pada reformasi gradual melalui jalur intra-parlementer (dan karenanya lebih dekat dengan tendensi sosial-demokrat) akan diteruskan oleh Karl Kautsky, Rudolf Hilderling, Otto Bauer, Fritz Sternberg, sementara ketidakpercayaan Luxemburg pada perjuangan ekonomi-parlementer dan penekanannya pada revolusi atau jalur ekstra-parlementer akan diteruskan oleh Lenin, Anton Pannekoek dan Paul Mattick.

Sementara di luar konteks internasional kedua, terutama disekitar tahun 1940/50an, berkembang tipe pemikiran yang berusaha mensintesakan kritik ekopol Marx dengan teoriteori yang diajukan Keynes. Tradisi pemikiran ini berkembang di dunia Anglo-Amerika, yakni neo-marxis keynesian. Tokoh-tokohnya adalah Michael Kalecki, Joan Robinson, Paul Sweezy dan Paul Baran. Menurut tradisi ini, pendekatan ekopol Marx yang tertuang dalam Das Capital memiliki beberapa kekurangan terhadap situasi perkembangan kapitalisme. Sebab itulah, mereka berusaha mengkombain dengan memasukkan pembacaan Keynesian terhadap analisis ekopol marxis.  Model pembacaan yang demikian akhirnya menjauhkan tradisi ini dengan sendirinya dari kritik Marx yang bersandar pada suatu analisis yang hanya mencomot beberapa analisis Marx.  Dalam perkembangannya, tradisi inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan kiri baru (new left movement) Eropa di sekira tahun 6oan.

Yang kedua adalah tradisi filsafat. Cleavert membaginya menjadi dua, yakni tradisi yang dikembangkan oleh Louis Althusser bersama muridmuridnya (Balibar hingga Badiou) dan yang kedua adalah revisionisme yang menjadi bagian di dalamnya yakni, Marxisme Barat (Western Marxism): György Lukács, Antonio Gramsci, Karl Korsch—semuanya menekankan pengaruh Hegel dalam Marx, Marxis Neo-Kantian: Galvano, Delavolpe dan Lucio Colletti, Marxis-Hegelianisme: Alexandre Kojéve dan Jean Hyppolite, Marxis-eksistensialisme: JeanPaul Sartre, Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty. Marxisme fenomenologis: Tran Duc Thao dan Karel Kosik, Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin dan Jürgen Habermas.

Oleh Cleaver, pembagian kubu ortodoks dan revisionis ini dijelaskan melalui dua tendensi yang berbeda: sementara Althusser mencoba menghidupkan kembali doktrin diamat (dialectical materialism) melalui pembacaan atas Kapital, Mazhab Frankfurt dan tendensi Marxisme Barat justru mengutamakan peran kebudayaan dalam analisis Marxis. Diamat versus kulturalisme—pertentangan inilah yang menerangkan dasar perbedaan posisi antara Marxis ortodoks dan Marxis revisionis.

Tendensi kulturalisme yang banyak dikembangkan Mazhab Frankfurt disebutkan Cleavert akibat ketokohan Friedrich Polloch. Melalui bukunya Automation, Pollock memperlihatkan adanya kecenderungan akumulasi kapital oleh kapitalisme negara dan negara otoritarian yang menyebabkan perluasan penghisapan kapitalisme di seluruh sendisendi kehidupan masyarakat. Pendektannya yang memperlihatkan perluasan penghisapan kapitalisme dari pabrikpabrik menuju masyarakat yang lebih luas, mengakibatkan adanya indikasi suatu pembacaan masyarakat yang lebih luas dari hanya sekedar penjelasan ekopol marxis. Menurut Cleavert dari sinilah bermula adanya pembacaan kultural yang menjadi pembacaan dominan atas masyarakat di dalam tradisi pemikiran Mazhab Frankfurt.

Tradisi yang ketiga adalah pendekatan politis seperti yang ditokohkan Lenin. Tradisi ini berputar dalam problem perlunya pendekatan secara strategis dan taktis untuk mewadahi perjuangan kaum proletariat.  Seperti yang dituliskannya dalamWhat Is to be Done?, Lenin menganjurkan betapa pentingnya membangun partai payung dengan kemampuan disiplin yang tinggi untuk melakukan perjuangan. Partai garis depan ini, disebutkan Lenin adalah partai yang bertujuan merangkum seluruh gerakangerakan buruh di dunia. Hanya lewat cara inilah Lenin berkeyakinan revolusi dapat dimungkinkan.

Keempat, peralihan penekanan kritik yang diajukan Jurgen Habermas melalui rasionalitas komunikatifnya, memberikan efek yang berbeda dari intuisi marxisme yang semula bersifat radikal dan revolusioner. Pendekatan komunkatif yang diajukan Habermas sebagai jalan keluar persitengangan antara marxisme dan kapitalisme, malah menjadi suatu pendekatan yang mengabaikan unsurunsur di luar dari komunikasi itu sendiri. Pengandaian Habermas bahwa di dalam tindakan komunikasi dengan sendirinya akan menetralkan suatu posisi dan kepentingan, justru tidak bekerja seperti yang diharapkannya di dalam level praktik. Komunikasi yang disebutnya sebagai tindakan praktis, malah justru menguatkan posisi dari awal bagaimana kepentingan kelas borjuis bekerja untuk mendominasi kelas proletariat. Wacanawacana yang dikembangkan kelas borjuis melalui tindakan komunikasi justru kembali melanggengkan kepentingan melalui subordinasi pengetahuan yang dimilikinya.

Kelima, Cakupan dan rentang penelitian yang luas dari orang-orang yang terlibat dalam Mazhab Frankfurt dinilai sebagai perkembangan yang inkonsisten dengan rancangan awal proyek mereka, dan inkonsistensi ini dianggap sebagai kelemahan paling mendasar dari Teori Kritis. Para pendukung Cultural Studies menuduh bahwa terdapat indikasi kesukaan Mazhab Frankfurt pada “budaya tinggi”, walau gagasan Mazhab Frankfurt juga menjadi inspirasi dan dipraktekkan oleh para environmentalis dan teoretisi teknologi dan alam seperti SF Schumacher.

17 Februari 2016

Bukan Pahlawan

Di halaman terakhir, Tempo Makassar (Rabu, 17 Februari) menurunkan berita olahraga; Konsistensi Ronaldo. Tak terlalu panjang, dituliskan di situ, Ronaldo disebut konsisten membobol jala gawang lawan. Di tulis sejak dipimpin Zizou, nama kecil Zinedine Zidane, pemain berambut klimis ini selalu mencetak lebih dari satu gol.

Ronaldo punya catatan enam pertandingan terakhir sejak diasuh Zidane dengan mencetak tujuh gol. Kalau dirataratakan, Ronaldo mencetak 1,16 gol dalam setiap pertandingan. Sebelumnya, pria Portugal ini mencatatkan namanya di papan skor saat berlaga kontra Athletic Bilbao. Tak tanggungtanggung dua gol diciptakannya pada laga di kandang Real Madrid, Santiago Barnabeu, akhir pekan lalu.

Pun kalau disebut masalah Ronaldo mulai tumpul di dua laga sebelumnya, sebenarnya yang dituntut darinya hanya soal konsistensi. Ini yang harus dibuktikannya saat laga melawan AS Roma nanti malam.

Sekarang, saya pikir bukan saja Ronaldo yang dituntut konsisten, tapi juga bagi orang yang berikrar ambil jalan literasi. Seorang penulis harus punya konsistensi dalam profesinya. Mulai dari idenya sampai ujung penanya.

Pikiran merupakan modal utama penulis. Juga imajinasi. Yang terakhir malah penting bagi pengarang semisal penulis cerita dan naskah. Tapi umumnya, entah penulis fiksi atau nonfiksi, harus menjaga modalnya agar terus bergerak. Pikiran bergeraklah yang menunjang sorang penulis bisa melahirkan karyakarya bernasnya.

Setiap orang punya pikiran yang selalu bergerak. Objeknya macammacam, bisa soal harga sembako yang mahal, sewa kontrakan yang menunggak, sampai harga saham yang tidak stabil. Bentuknya juga beraneka ragam, bisa yang abstrak atau malah yang kongkrit. Atau malah punya warna yang beragam, dimulai dari kuning sampai hijau. Macammacam.

Tapi, gerak pikiran penulis tidak berjalan begitu saja. Seperti umumnya, dia bergerak dari satu soal ke soal lain, hanya saja pikiran penulis tidak berhenti kepada suatu soal, justru dia membuat soal. Di tingkat ini suatu soal dipersoalkan kembali, suatu masalah dipikirkan ulang. Bahkan jawaban atas suatu soal adalah soal itu sendiri.

Cara berpikir yang demikian dengan sendirinya tak pernah punya muara. Dia bergerak terus sampai tak berhingga. Mengalir kepada cerukceruk landai, sampai tak ada ujung. Tujuannya akhirnya bukan suatu final, bukan suatu titik, melainkan bergerak itu sendiri.

Akhirnya konsistensi hanya soal seberapa sering bergerak. Pikiran yang stagnan pantangan bagi penulis. Caranya bergerak punya banyak macam, membaca sudah pasti gerakan pertama. Bentuknya bisa macammacam, membaca apa saja, mulai dari model tulisan ecekecek sampai tulisan super ilmiah.

Ronaldo barangkali superhero bagi Real Madrid. Setiap penampilannya ditunggu jutaan mata. Saking heronya, ekspektasi orangorang selalu berharap agar dia rajin mencetak banyak gol. Kalau perlu golgol spektakuler.

Penulis berbeda dengan pesepakbola. Tidak ada hero semacam Ronaldo, atau mesias seperti Lionel Messi. Penulis bukan pahlawan. Dia tidak bisa diperlakukan seperti seorang hero. Tulisannya bukan datang memecahkan soal. Niatnya, malah mengajak bikin soal. Tulisan penulis membuat orang berpolemik. Mau menyoal halhal jadi wacana.

Karena bukan pahlawan, tindak tulis penulis membutuhkan keberlanjutan. Perlu ada gerak terus menerus. Soal yang dihadapi senantiasa diputuskan dan terus berlangsung. Penulis tak bisa menuntaskan segala soal dengan sekali pukul. Tak ada tulisan yang bisa melumat segala sekali habis. Karena itulah selalu ada tulisan pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

16 Februari 2016

Bunker di Kala Deras Hujan

Kalau hujan tiba, bunker jadi mirip tenda pengungsi. Bocor sanasini. Kami sering khawatir kalau hujan tiba, apalagi disertai angin kencang. Soalnya, atap seng sudah banyak lepas pakunya. Sekali tiup, lubang seketika. Untung itu belum terjadi. Kami masih beruntung. Untuk kesekian kalinya.

Kalau dulu, bunker sering kebanjiran. Maklum, tanah yang ditempati agak rendah dibanding daerah sekitar. Apalagi ketika rumahrumah mulai meninggikan lantainya, praktis air tergenang begitu saja tanpa bisa keluar. Ditambah memang tak ada selokan yang bisa dijadikan saluran air. Kalau sudah begini tunggu saja. Banjir.

Kami sering dibuat kesal kalau tetangga sebelah membuang sampah sembarangan. Jengkel sampai diubunubun ketika sampahnya dibuang begitu saja di teras depan bunker. Soal ini kami sering menegur bahkan sering kali melibatkan emosi, tapi tetap saja, yang namanya mental yang rusak pasti akan lewat begitu saja tanpa perhatian. Kami menduga, hal ini sudah jadi karakter yang sulit diubah. Persis orangorang yang tak tahu malu mengotori lingkungan tanpa rasa bertanggung jawab.

Saya kira di kota ini masih banyak orangorang yang semacam itu. Warga kota yang tak tahu hak dan kewajibannya sebagai masyarakat. Makanya agak susah memang mau berubah secara seksama, kalau masih ada orang yang tak tahu diri dan tak tahu malu. Bagaimana kota mau disebut bersih, semnentara mental warganya masih bersikap primitif. Anti peradaban.

Sekarang bunker lumayan aman. Banjir sudah bukan masalah. Jalan masuk air sudah dibuatkan penghalang. Di pintu depan sudah ada tembok yang menghalangi laju air. Jadi kalau pun masuk tidak akan sampai di ruang tengah, tempat penghuninya beraktifitas.

Satusatunya yang bikin waswas soal seng bocor itu tadi. Kalau hujan tak henti mendera, air yang masuk malah bisa bikin repot. Bukan apanya, karena kami tidur di satusatunya ruangan yang terpakai, kalau air merembes, otomatis tak ada tempat lain untuk pindah. Masalah ini sebenarnya kerap terjadi di dua minggu terakhir. Tepatnya kalau hujan lagi garanggarangnya.

Karena tak mau dikudeta oleh air bocor, solusi satusatunya adalah mentalangi air dengan kotak kue bekas. Di bunker, entah datang dari mana, banyak kotakkotak bekas kue yang tak terpakai. Kalau diingatingat kembali, kotakkotak itu bekas kegiatan yang kerap dilakukan di bunker. Biasanya adaada saja yang datang membawa makanan dengan memakai kotakkotak plastik. Ukurannya macammacam. Ada yang setinggi tiga sentimeter sampai lima sepuluh sentimeter. Belum lagi bekasbekas ricecooker yang rusak. Semuanya dipakai mewadahi air yang jatuh.

Kepada bendabenda itulah keberlangsungan aktivitas kami bergantung. Kalau sudah malam dan jam tidur, dan hujan deras melanda, bendabenda itu jadi benda paling penting. Untuk sementara bisa menunda air yang bisa merembes masuk.

Makanya harapan kami salah satunya jangan sampai hujan berjamjam lamanya. Kami bisa dibuat tidak tidur akibat air yang tak cukup ditampung. Apalagi tak ada yang mau bangun hanya untuk mengecek tampungan kotak jika penuh. Apabila sudah pulas, jangankan bangun untuk membukakan pintu apabila ada yang pulang larut malam, menengok kotak yang penuh air saja ogah.

Bunker punya lima ruangan. Dua ruangan kamar, satu ruangan tamu, satu bagian dapur plus kamar mandi, dan ruangan utama yang kami jadikan pusat aktivitas. Seharihari di bunker hanya menggunakan dua ruangan. Selain kamar mandi, yang terpakai hanya ruang tengah dan dapur. Selebihnya tak terurus. Penghuninya radarada malas mau pakai ruangan yang lain, padahal bisa dibersihkan dan ditempati.

Sekarang hujan belum juga reda. Bunyibunyi air yang menetes jadi irama sahutmenyahut. Kami satu persatu mulai kantuk. Kotakkotak penadah sudah dipasang dari tadi. Posisinya sudah pas. Tak bakalan meleset dari seng di atasnya yang bocor. Ada lebih dari lima titik kebocoran. Hitunghitungannya, kalau sampai pagi hujan belum reda, dengan dua kali tetes tiap detiknya, dan kotak kecil penadah yang tidak terlalu besar, maka dalam waktu kurang lebih lima jam, prediksinya air akan merembes di sekira jam empat atau lima subuh. Dugaan saya, orang yang tidur paling ujung tak jauh dari titik kebocoran, adalah orang yang lebih awal bangun di subuh nanti.

Mudahmudahan prediksi saya tepat. Masalahnya kalau hitunganhitungannya meleset, kejadiannya bisa lebih cepat terjadi. Kasihan orang yang tidur paling ujung. Bisabisa belum lama menutup mata, karpetnya jadi basah. Kalau saya punya tempat yang paling strategis. Selain paling ujung, tempat saya paling jauh dari sumber rembesan air. Di saat begini, saya paling berterimakasih menjadi senior. Di manamana senior punya kemudahan. Yang yunior maklum itu. Apalagi urusan tempat tidur. Hidup senioritas.

Baiklah saya sudahi dulu. Saya mau tidur saja. Senior tidak pernah bersalah..

catatan kelas menulis PI pekan 4

Bisa dibilang tak ada yang problematis di kelas menulis PI. Pun kalau ada hanya soal beda cerpen dan esai. Itu juga sudah terang. Cuman beberapa tulisan punya kesan ambigu. Entah esai entah cerpen. Tapi Muchniart bilang, esai punya dua ragam; esai deskriptif dan esai tajuk. Esai deskriptif tulisan yang bergerak dengan narasi, menggambarkan suatu keadaan, bendabenda, peristiwa, atau kondisi kejiwaan. Esai tajuk, tulisan yang memuat sudut pandang penulisnya atas suatu topik soal. Sedang cerpen jelas, tulisan yang memuat keberadaan tokoh, plot, sudut pandang dsb.

Pengetahuan di atas penting. Terutama bagi penulis pemula.

Selain itu ada soal teknis yang mulai harus dipertimbangkan. Hubungannya dengan jumlah kawankawan yang terlibat. Dua mekanisme forum yang sering dijalankan; menarasikan karya tulis dan kritik karya tulis. Cara bekerjanya di forum, yang pertama kawankawan akan diberikan kesempatan mendeskripsikan tulisannya, mulai dari motivasi dasar menulis sampai isi tulisan. Kritik karya tulis, sesi yang dipakai untuk mengintrogasi tulisan kawankawan secara bergilir.

Masalahnya, dua mekanisme ini tak efektif seiring dengan bertambahnya jumlah anggota. Terutama mekanisme yang kedua. Waktu tak lagi memadai untuk memberikan kesempatan kawankawan dapat berbicara atas tulisan yang dikritik. Apalagi yang akan jadi objek tulisan yang sekira 20 jumlahnya. Hitunghitungannya; dua jam diskusi dibagi dua sesi, dan sesi terakhir harus saling mengintrogasi tulisan, rasarasanya tak cukup.

Problem ini jadi agak genting dua pekan belakangan. Banyak tulisan yang tak sempat diulas. Di sisi lain, saya pribadi ingin menaruh perhatian lebih kepada kawankawan yang masih baru. Bukan soal tulisan saja, melainkan perhatian yang bisa mendongkrak semangat mereka agar terus menulis. Saya pribadi berkeinginan peserta yang terlibat punya tradisi menulis yang baik, intens, dan kontinyu. Tiga hal ini saya kira harus jadi targer terutama anggota baru.

Makanya, mulai pekan sebelumnya, tulisan yang ingin diintrogasi sudah harus diupload minimal sehari sebelum kelas dibuka. Aturan ini disepakati untuk meminimalisir kekurangan mekanisme yang dipakai selama ini. Juga, dengan cara dipublish di media sosial, kritik dapat berlangsung lama dan terbuka bagi siapa pun yang membacanya. Sekopnya yang lebih luas inilah yang diharapkan dapat merangsang perbaikan demi perbaikan tulisan yang masuk.

Ada saran dari Sulhan Yusuf, lebih efektif kalau tulisan dipublish saja di grup Paradigma Institute. Tujuannya agar lebih mudah mengidentifikasi tulisantulisan yang masuk. Juga agar kawankawan tidak ribet mondarmandir dari wall satu ke wall lainnya. Saya kira ini harus segera dilakukan.

Kala, mini buletin kelas menulis PI sudah sebulan terbit. Empat pekan tanpa jeda. Ini bukan prestasi. Agaknya sudah mulai menemukan sejumlah tantangan. Pertama dimulai dari alat produksi yang masih belum jelas, sampai soal penulis yang mau menghibahkan tulisannya. Selama ini Kala masih khusyuk saya tekuni. Tiap akhir pekan harus mengumpulkan dan mengedit tulisan. Tapi, tantangannya tulisan minim masuk. Kecuali sejumlah karya sastra yang dikirim oleh beberapa penulis (bahkan ada penulis dari Jeneponto yang mengirim langsung), esai yang jadi tulisan halaman pertama dan kedua jadi minim.

Pekan keempat, selain Ishak, tak ada yang mau mengirim tulisan. Untung ada sejumlah esai Muhajir yang mau disumbangkan. Akhirnya masalah sedikit beres dengan menyisakan satu kolom lowong. Ini celah kritisnya, tulisan macam apa yang panjangnya pas dimuat di situ. Sampai siang kolom itu tidak terisi. Masalah belum selesai betul.

Waktu hampir pukul tigabelas, kolom yang kosong masih terpampang. Tidak mungkin Kala terbit dengan menyisakan satu kolom yang bolong. Berharap tulisan dari kawankawan tidak mungkin. Lagian ini hanya satu kolom kecil dari setengah halaman yang belum terisi. Toh kalau diminta jangan sampai kepanjangan. Tanpa pikir lama, saya ambil sikap. Saya tulis sebisanya. Esai pendek yang mencukupi kolom yang tersisa. Tak banyak selang waktu jadilah tulisan bertajuk Pentingnya Kesadaran Berbahasa. Kala siap cetak. Masalah Beres.

Selama empat pekan Kala dicetak pakai print dan beberapa lembar kertas panjang. Setiba di lokasi percetakan (sebenarnya sekretariat L****) print kurang maksimal. Kertas pun ternyata tak ada. Karena kepepet karton pun dipakai sebagai bahan cetakan. Tak ada rotan akar pun jadi. Tak jadi soal, sebentar juga akan digandakan lewat mesin foto kopi. Makanya hasil cetakan Kala pekan ini di bawah standar. Copyannya juga kurang maksimal.

Yang juga mesti diperhatikan kembali, ihwal pertofolio kawankawan. Sampai saat ini hanya baru Ali dan Ari yang punya. Kawankawan yang lain barangkali lupa. Jangan sampai abai. Ada niat, kumpulan tulisan yang dipertofoliokan menjadi bahan penilaian sejauh mana kemampuan menulis berkembang. Bukan dibandingkan dengan tulisan sesama peserta, melainkan tulisan kawankawan sendiri di tiap minggunya. Ini cukup adil. Lawan kawankawan adalah kawankawan sendiri. Di tiap tulisannya.

Terakhir, kelas diumumkan kembali gelar di sekretariat PI. Seperti biasa kelas dibuka jam tiga siang.

Sore datang dan lalu jelang. Kala jalan padat, mukamuka tirus lenggang dan pulang. Sepersekian malam datang. Langit jadi gelap. Di masingmasing bilik, tinta masih basah. Jangan hilang asa, tilik satusatu. Tulis jangan siasia…


15 Februari 2016

pentingnya kesadaran berbahasa

Elemen penting hidup itu bahasa. Tanpa bahasa tidak ada kesalingpengertian. Tidak ada makna yang bisa dipertukartangkapkan. Bahasa kalau mau dibilang adalah elemen sosial yang mengikat identitas menjadi satu kesatuan.

Bangsa Indonesia sudah membuktikan itu. Anakanak muda yang sadar bahasa saat itu melihat bahwa perjuangan tidak saja membangun tujuan dan citacita yang sama, tapi harus dimulai dari cara pengungkapan yang sama melalui bahasa. Karena saat itu hampir semua komunikasi dipertemukan oleh bahasa Melayu, maka bahasa itu dipilih sebagai bahasa pemersatu.

Akan sulit membayangkan Bangsa Indonesia bisa merasai kemerdekaan tanpa kesadaran bahasa. Kala itu kalau saja kelompokk elompok daerah masih berpendirian dengan bahasa lokalnya, mustahil kemerdekaan dapat ditempuh. Kemerdekaan akan sulit diucapkan dalam ikatan bahasa yang sama. Karena itulah bahasa bisa dipakai sebagai kait pemersatu. Bahkan sebagai alat perjuangan.

Pekerja bahasa orang yang paling sering pakai bahasa untuk berjuang. Berbeda dari profesi lain, pekerja bahasa punya semacam kesadaran yang mampu menyulap bahasa jadi lain. Sebut saja misalnya Pramoedya Ananta Toer, yang punya kemampuan membangun sejarah Indonesia dari bahasa yang ditulisnya jadi novel.

Tidak sekedar menulis, lewat bahasa, Pramoedya ingin menunjukkan bahwa betapapun perjuangan telah berlalu, di dalam bahasa tak ada kata selesai. Di dalam bahasa tersemat kesadaran yang bisa terus ditarik jauh ke kedepan selama orang masih ingin membaca. Karena itulah muncul frase yang banyak dikutip orang, menulis itu bekerja untuk keabadian.

Harusnya bukan sekedar tulisan yang jadi perhatian. Orang sering salah kaprah ketika menulis berarti sudah berkerja dalam keabadian. Tapi, makna, pesan apa yang ditulis. Pram bukan mau bilang menulislah, perbanyak hurufmu sepanjangpanjangnya, karena itu kau akan abadi! Bukan, sesunguhnya bukan itu, melainkan makna apa yang bisa kau pertahankan di dalam sanubari orangorang. Pesan apa yang bisa membangun kesadaran orangorang. Bukan panjang tulisan yang mudah hilang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...