17 April 2015
15 April 2015
Fiksi Lotus
Beberapa hari yang lalu saya datang
ke sebuah toko buku. Maksud kedatangan saya ke sana tentu ingin membeli buku.
Kedatangan saya ke toko buku ini sebenarnya terbilang jarang, sebab saya lebih
senang mendatangi tokotoko buku kecil yang lebih gampang saya datangi. Saya
datang ke sana dengan satu alasan: buku yang saya cari hanya ada di toko buku
itu. Alasan saya ini sejatinya hanya dugaan belaka. Tapi hitunghitungan sudah
lama saya tak menyambangi toko buku yang dimaksud, maka saya datang juga ke
sana.
Awal cerita kenapa saya datang ke
toko buku itu, karena hasil percakapan via BBM dengan seorang penjaja buku
online. Suatu waktu, via display picture BBMnya, terpampang gambar buku: fiksi
lotus judulnya. Itu saya tahu setelah beberapa kali picture zoom saya lakukan.
Dari gambar itu, saya tahu itu buku sastra. Tapi apakah itu kumpulan sajak,
cerita pendek ataukah novel saya tidak tahu. Tapi setelah saya tanyakan kepada
pemiliknya, buku itu ternyata adalah kumpulan cerita pendek dari
sastrawansatrawan dunia, sebab tak lama kemudian ia mengirim namanama yang
menjadi penulis buku itu. Dan dari entri nama yang dicantumkannya, terbersit
seketika dalam benak: saya harus segera membacanya.
Saya sebenarnya awam tentang dunia
sastra. Basic keilmuan saya adalah ilmu sosial, sosiologi tepatnya. Jadi,
tentang sastra, ibarat ilmu yang baru pertama kali saya kenali. Sebab itulah
saya tak mengenal seluk beluk sastra, perkembangan sastra, aliranaliran sastra,
bentukbentuk sastra dan seluruh pilahpilah keilmuan susastra. Juga tentu saya
juga tak begitu banyak tahu tentang namanama sastrawan dunia, pun jika ada
belum tentu saya pernah membaca karyakaryanya. Tapi dari namanama yang
dikirimkan oleh penjaja buku itu, yang menjadi entri dari buku bersampul
warnawarni itu, saya mengenal beberapa nama dari orangorang yang kerap menyebut
namanama semisal, Ernest Hemingway, O Henry, Frans Kafka, Naguib Mahfouz, J.P
Satre, Anton Chekov dsb. Dan dari namanama merekalah hati saya digerakkan agar
segera membaca buku itu.
Tapi malang. Di waktu itu, si
penjaja buku tak bermaksud menjual buku itu. Justru Ia hanya bermaksud
memajangnya menjadi DP BBMnya. Tapi karena sudah sering saya membeli
bukubukunya, saya akhirnya menanyakan berapakah harga bukunya. Siapa tau saja
ia berubah pikiran agar menjualnya. Malang tetaplah malang, sebab ia bersikukuh
untuk tidak menjualnya, ia bermaksud hanya menjadikannya koleksi pribadi. Tapi
komunikasi bisa mengubah seluruh hal termasuk dalam transaksi ekonomi. Apalagi
jenis transaksi saya dengan penjaja buku ini selama ini terbilang dialogis.
Artinya keputusan bisa saja berubah, tergantung komunikasi yang dibicarakan.
Dan akhirnya, dari perbincangan via BBM itu, ia mengubah sikapnya dengan
bersedia menjual bukunya dengan kesepakatan harga yang ditetapkannya.
Hanya saja dari harga yang
ditetapkannya, saya agak berat dengan nominal yang diberikannya. Dengan
beberapa kali permintaan harga baru yang sedikit lebih murah pun ia tak
bergeming. Maka dari beberapa kali percobaan negoisasi yang tak mulus,
transaksi akhirnya gagal. Harga yang diharapkan kedua pihak tak kunjung
disepakati. Tapi dari negoisasi yang tak
berhasil itu, disarankanlah kepada saya untuk mencarinya ke toko buku yang ia
katakan. Dari sarannya itu, maka saya
menuju ke toko buku yang dimaksud.
Dan kesialan yang kedua untuk tidak
ingin dikatakan malang, di toko buku itu, buku yang susah payah saya
negoisasikan sebelumnya ternyata kosong. Dari deretan panjang rak buku sastra,
beratusratus buku di sana, mata saya gagal menemukannya. Apa daya, barangkali
indera tak mampu menyapu bersih setiap sudut rak buku, maka tibalah saya di
depan mesin pencari dengan keyakinan tak ada yang bisa lolos dari jangkauan
sistem informasi. Berbekal setengah iman yang tersisa, diketiklah judul buku itu:
fiksi lotus. Dan itulah kesialan yang sesungguhnya: stock kosong. Dan kesialan
manalagikah yang engkau dustakan: berada di toko buku terbesar, di antara jubel
riburibu buku, tetapi satu ekslempar
buku yang diinginkan tak juga ditemukan. Nampaknya malaikat buku tak
sudi meridhaiku.
Dan dari kesialan yang serupa
durian runtuh itu adalah, betapa lugunya saya untuk tetap datang ke toko buku
itu setelah sebelumnya dikatakan oleh si penjaja buku, bahwa ia juga pernah
mencarinya di toko buku yang sama dan ia pun tak berhasil menemukannya. Dan dua
kali lipat rasanya sebab dikatakannya bahwa kejadian itu sudah setahun yang
lalu terjadi. Artinya sebenarnya saya tak perlu datang untuk mencarinya, sebab
ia sebelumnya sudah melakukannya. Tapi itu satu tahun yang lalu, tentu banyak
kemungkinan bisa terjadi, misalnya buku itu sebenarnya masih ada dan luput dari
pencariannya. Bisa juga, seeksemplar yang luput dari pencariannya masih ada
tersisa dan tak ada yang sudi membelinya. Atau yang paling mungkin: buku itu
dicetak ulang.
Syahdan, keluguan dan kemalangan
saya di toko buku besar itu saya konversi saja dengan membeli beberapa buku
yang lain. Buku yang saya beli masih bergenre buku sastra dan sebuah buku
filsafat. Tepat sampai di sini, perasaan yang telah dikonversi menjadi duka
kembali. Pasalnya, bila bertahuntahun yang lalu masih saya temukan dua tiga rak
khusus untuk bukubuku filsafat, justru di waktu sekarang yang tersisa hanyalah
setengah dari satu rak buku. Dan, penanda tempat buku filsafat yang biasanya
diterakan di atas rak buku, juga lenyap di antara rak yang lain. Anehnya,
beberapa buku filsafat yang tersisa di simpan begitu saja di bagian bukubuku
agama. Di situlah letaknya, setengah dari rak kelompok bukubuku agama.
Seandainya setengah rak itu paralel
dengan arti sebagian pengetahuan antara iman agama adalah filsafat, maka hati
saya tak mencelos. Tapi keadaan itu justru lain: ini tinanda bahwa filsafat
tengah tersingkir dari konstelasi produksi pengetahuan. Buktinya, walaupun
tidak disertai bukti kuat, adalah berkurangnya bukubuku filsafat di pasaran
mainstream. Ini artinya produksi pengetahuan yang berbau filosofis sudah sangat
jarang dilakukan. Dan malangnya, ini juga hampir berlaku bagi buku dengan genre
yang lain.
Maka, di toko buku yang megah itu,
saya hanya bisa bergumam dalam hati: maka kesialan mana lagikah yang engkau
dustakan.
25 Maret 2015
madah limapuluhsatu
Tahun 1984, suatu tempat di
Jerman Timur.
Rumah Dreyman disusupi.
Hampir setiap sudut rumahnya penuh kabelkabel tersembunyi di balik dinding. Di
vas bunga, di balik pintu, terminal listrik, belakang lemari, di bawah tempat tidur,
bahkan di dalam kamar mandi. Praktis setiap sudut jadi suatu proyek
pengintaian. Ruang tempat tinggal Dreyman jadi pusat perhatian negara. Di bawah
pengintaian, Dreyman jadi manusia yang transparan. Gerak geriknya jadi bahan
amatan dari objek kekuasaan. Tapi ia tak tahu.
Sementara di suatu sudut
rumah, di mana kabelkabel itu berpusat, empat sampai lima monitor tak pernah
padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap setiap bunyi. Dan seseorang
dengan taat mengawasi gerakgerik Dreyman dari ruang kotak itu. Mencatat setiap
detil yang mencurigakan. Memasukkannya dalam laporanlaporan setiap hal yang
dialami Dreyman. Pria yang taat itu akhirnya mulai mempelajari Dreyman dengan
membangun jadwal aktivitasnya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.
Dosa Dreyman hanya satu, ia
terlahir sebagai seorang penulis.
Di negerinya Jerman Timur,
yang berhaluan komunisme, setiap huruf harus mengikuti intruksi negara. Negara
tempat Dreyman tinggal punya kebijakan, bahwa setiap proyek pencerahan harus memuati
maksud seperti yang dikehendaki negara. Seluruh proses pembudayaan mesti
selaras dengan semangat revolusi komunisme. Ini berarti, setiap tulisan yang
lahir dari lidah setiap penulis, harus berbicara tentang hal ihwal revolusi;
semangat kaum proletar, pandangan realism, kemajuan partai, pabrikpabrik yang
dinasionalisasikan, dan tentu komunisme sebagai pandangan
universal.
Sebelumnya diintai, ia
adalah seorang sastrawan dan penulis naskah teater yang tak begitu dicurigai
negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak mengandung unsurunsur
seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia di mata petinggipetinggi partai
adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan untuk mendorong kebudayaan
negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia dipandang sebagai salah satu seniman
yang diberikan kebebasan untuk berkarya sesuai dengan pandanganpandangan
komunisme.
Tapi semenjak kedatangan Gerd Wiesler, agen matamata Jerman Timur, di suatu
pertunjukannya, semuanya berubah. Dari atas balkon pertunjukan, Gerd
Wiesler mengamati dengan teliti Dreyman di tempatnya ia menyaksikan teater yang
merupakan hasil garapan tulisannya. Dari pengamatan Wiesler di atas balkon,
Dreyman disimpulkan sebagai orang yang tak sepenuhnya bersih. Dari gerak
tubuh, mimik wajah, bahkan setiap detil yang dimiliki Dreyman yang di
amati Wiesler, kesimpulannya adalah Dreyman adalah orang yang mesti dicurigai sebagai
tersangka yang berbahaya. Dia bukan seniman yang lurus, melainkan ada sesuatu
yang selama ini disembunyikan.
Tapi
Wiesler perlu bukti yang menguatkan kecurigaannya. Biar bagaimanapun kecurigaan
tak bisa dijadikan modal untuk menuntut orang tanpa datadata yang jelas dan
akurat. Sebab itulah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol dan diselipkan alatalat
yang merekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia
dicurigai sebagai musuh negara.
Akhirnya
tiap detik dari Dreyman adalah jadi bahan amatan negara. Setiap yang
dilakukannya jadi catatan terperinci Wiesler berdasarkan waktu dan tempat di
mana itu terjadi. Wiesler harus bisa mengajukan bukti kepada petinggi partai
bahwa Dreyman sebenarnya adalah seniman yang diamdiam mengkritisi komunisme.
Tapi Wiesler butuh waktu untuk suatu bukti yang gamblang.
Sampai di
sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang sama
seperti Georg Dreyman. Seorang penulis naskah yang dimatamatai negara oleh
sebab dicurigai memiliki maksud tersembunyi yang tak sesuai dengan paham
negara.
Di film itu
ada dua hal yang akhirnya menjadi genting; kebebasan berekspresi dan kontrol
negara. Dua hal ini yang menjadi sisi antagonis di film drama Jerman itu.
Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan Dreyman dan kontrol negara yang
merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau besar. Dua hal ini, dalam
konteks negara dan kebebasan berekspresi menjadi dua anasir yang seringkali
berhadaphadapan. Tapi jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali
adalah Wiesler itu sendiri, seorang yang telaten mematamatai Dreyman.
Wiesler,
di kehidupan seharihari seperti yang kita alami, tak jauh berbeda dengan
pekerja pemerintah yang memiliki pengabdian total terhadap negaranya. Taat dan
setia menjalankan tugas. Di Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen matamata
yang berdedikasi tinggi dan idealis menjalankan tugasnya. Orangnya tepat waktu
dan jernih mengamati halhal detail. Dan selama mematamatai Dreyman sang penulis
drama, ia juga menulis laporan pengamatannya tanpa unsurunsur dramatik.
Ia
mengamati, mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.
Tapi
Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama pengamatannya, justru ia
tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol,
apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya tanpa
sepengetahuan. Ia ingin tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi
apa daya, melalui buku yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang
dimatamatainya. Kekuatan sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan
seseorang, begitu juga Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai
melindungi Dreyman dari atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas
pengarang itu. Begitu seterusnya.
Das Leben
der Anderen barangkali film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan
menggunakan cara yang bisa dibilang melankolik; drama. Tapi itu sepertinya
pembacaan yang terlalu jauh, sebab tak ada kesan dalam film itu yang
mengarahkan kepada pengertian yang mengungkapungkap sejarah. Sebab pula di film
itu tak menyebut cerita yang pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin
disebut demikian, film itu hanya bicara plot orangorang yang hidup di situasi
yang cekam dan kontrol negara yang terlampau totaliter.
Dan
Dreyman merasakan, juga barangkali orangorang yang terbiasa hidup dengan
kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara
tak bisa merebut hal yang paling intim dari mahluk bernama manusia; kebebasan
berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi
senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.
21 Maret 2015
Airmatadarah dalam Tekad
Saya sebenarnya tak mengerti betul sastra, apalagi puisi. Puisi,
yang kental dengan simbolisme itu seringkali membuat saya bingung. Sebab,
dengan material katakatanya yang simbolis juga metafor tak pernah stabil
merujuk pada satu pengertian yang pasti. Puisi, dengan gaya penuturan yang
demikian, akhirnya hanya menjadi katakata yang pias makna di hadapan saya.
Puisi, dengan katakatanya yang metafor, sepengetahuan saya adalah cara untuk menangkap kenyataan yang tanpa tirai. Dengan kata, puisi ingin merekam apaapa yang murni. Puisi, jika disebut sebagai potret kemurnian, adalah media yang mengungkapkan katakata menjadi baitbait yang gamit.
Tapi justru kata tanpa tirai bisa bikin kenyataan jadi asing. Sastrawan menurut saya adalah orang yang punya semacam kemampuan membuat bahasa jadi lain. Katakata di tangan sastrawan menjadi bahan yang dilucuti dari penggunaan yang sudah umum. Di tangan sastrawan, katakata dibersihkan dari ruang tuturan umum yang sering membuat kata jadi banal. Katakata, di tangan sastrawan, seperti ditasbihkan kembali untuk dipakai seperti pertama kali dipergunakan menjadi kata yang perawan, kata yang binal.
Dengan kemampuan itulah sastrawan jadi orangorang yang punya kekuatan seperti al kheimist, yakni orangorang yang punya kemampuan khusus untuk merubah sampah jadi emas. Melalui kemampuan khusus itulah, katakata yang sudah digunakan di tengah umum, yang kerap dipakai berulangulang hingga rombeng, jadi kata yang murni dan baru.
Sebab itu barangkali, katakata puitis seorang sastrawan bisa membikin sesuatu nampak jernih. Dengannya, kita dihadapan teks jadi orang baru yang lahir kembali. Di dalam filsafat, terutama fenomenologi, kita disebut menjadi seorang pemula.
Dengan menjadi seorang pemulalah kenyataan jadi nampak baru. Dunia jadi bendabenda yang tak ternamai dan transparan sehingga tak ada yang lain selain ketakjuban. Dari ketakjuban itulah lewat kata puitik sisi primordial disentuh.
Lewat katakata puisi, seorang sastrawan punya misi yang subtil, misi yang primordial. Dengan katakata, sisi afeksi setiap kita disepur dan dimurnikan kembali. Ini seperti mirip kata Lenin, yakni sastrawan memiliki tugas mengarsitekturi untuk membangun jiwa.
Kamis kemarin saya diberikan hadiah buku sehimpun puisi. Lengkap dengan tandatangan penulisnya. Buku yang tak sepenuhnya saya mengerti itu diberi judul airmatadarah. Saya tak tahu apa takdir buku itu diberi judul yang menurut saya tragedik. Yang mana airmata jika umum dipahami adalah serangkaian dari tindak kejiwaan yang misterium: sedih, bahagia, rindu, benci, marah, gundah dsb, adalah sisi dunia yang tak tembus. Airmata, dari takdir judul buku ini, adalah frasa misterius yang sulit saya tembus untuk menangkap maksud yang dikandungnya.
Dan di judul itu, darahlah yang jadi sisi paling sulit saya tebak. Dengan satu kata airmatadarah, saya menjadi orang yang nampak asing dihadapan kata itu. Darah, yang biologis dari tubuh kita, justru jadi sesuatu yang lain di judul itu. Darah yang identik dengan warna merah gelap itu, barangkali bisa jadi lambang suatu arti: pengorbanan.
Tapi sudah saya katakan airmatadarah adalah kata puitis yang jadi asing, makanya ia jadi frasa yang tragedik bagi saya. Juga kata itu menurut saya sudah dilucuti jadi suatu yang baru, maka itulah ia memang seperti kata yang baru pertama kali digunakan untuk merujuk kepada suatu pengertian, tetapi apa?
Dan biarlah itu jadi ruang kosong yang tak bertuan. Dengan begitu makna judul airmatadarah bebas untuk diberikan maksud oleh sesiapa pun. Bahkan sang penulis tak punya kuasa untuk membangun jalur rel makna di situ. Makna, ataupun maksud, dengan begitu jadi bebas tak bertuan. Dengan iman seperti ini, sang penulis memang sudah mati seperti didaku Roland Barthes.
Dari tulisan ini jika saya diberikan pilihan untuk menunjuk satu pusi yang saya senangi, maka saya akan memilih Tekad sebagai puisi pilihan saya. Di puisi itu, seperti ada sebuah pertaruhan tentang sebuah akhir dari masa kini yang jadi titik permulaan. Ini seperti dua orang yang terlibat perjanjian untuk sebuah bukti di masa depan. Ini persis hukum kontradiksi Gramsci, bersamasama sekaligus menentang. Ini seperti dua anak manusia yang membusung dada di mana mereka saling menentang di saat kebersamaan kian mengental, tentang suatu akhir yang disebut masa depan.
Kutunggu wartamu di masa datang
Joloklah bulan
Genggamlah surya
Lukisilah pelangi
Cungkillah gunung
Barulah kau tergolong:
Pemahat masa depan
Di puisi ini, jika ini sebuah tafsir, ada sebuah kabar yang
bermakna penantian untuk dapat dibuktikan. Tapi di hamparan waktu yang panjang,
ketika suatu ruang pertaruhan di mulai, ada beberapa hal yang mesti dapat
diatasi. Bulan, surya, pelangi dan gunung, adalah
diksi yang dipilih untuk menunjuk suatu hal yang mesti ditaklukkan, yang
sekaligus menunjuk pada bendabenda yang tinggi dan besar. Dan sebelum diksi itu
diletakkan, katakata joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah,
adalah pilihan kata yang menunjuk kepada suatu sikap yang mencerminkan kehendak
penaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar itu.
Joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, sebenarnya adalah
katakata yang akrab ditelinga kita seharihari. Banyak pekerjaan seharihari yang
menggunakan katakata itu untuk mencerminkan usaha dari setiap pekerjaan yang
dilakukan. Dari katakata kerja itu, kita bisa mengerti bahwa dari pekerjaan
yang dinamai dengan kata itu, manusia membutuhkan suatu modalitas untuk memulai
usahanya. Dan barangkali judul puisi itu; tekad, adalah modalitas yang
dimaksudkan itu.
Dari sinilah saya menyenangi puisi ini. Tekad, tanpa menyebut
kehendak, adalah unsur awal dari terciptanya sesuatu yang lahir dari cipta
manusia. Dengan tekad, manusia merealisasikan dirinya untuk hidup kongkrit.
Dengan tekad, jika meminjam Hegel ataupun Marx adalah awal dari perealisasian
diri atas kerja.
Tekad, seperti mengajak sesiapa untuk berjudi dengan waktu. Di
puisi itu, waktu jadi satusatunya yang tetap, yang tak berubah dari nasib yang
dipertaruhkan. Di ujung puisi itu, dengan tekad, dengan usaha yang telah
menaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar, barulah seseorang disebut pemahat
masa depan. Di sini kata pemahat, adalah cermin yang mengamit makna kerja,
suatu tindak yang sama dengan jolok, genggam, lukis dan cungkil. Artinya, jika
ini layak disebut tafsir, adalah suatu usaha yang tak pernah selesai. Yakni
tindakan terus menerus untuk memahat masa yang akan datang.
Sehimpun airmatadarah adalah buku sekumpulan puisi pertama dari
Sulhan Yusuf. Tapi di dalamnya, seratus tiga puisi adalah puisipuisi yang bukan
pertama kali ditulisnya. Jika bisa dibilang, dari kumpulan puisi yang sebanyak
itu, adalah juga cermin yang memantulkan gejolak kejiwaan yang sedang dihadapi
dari peristiwaperistiwa sehariharinya. Saya tak tahu puisi apa yang ditulis pertama
kali oleh Sulhan Yusuf yang mencerminkan pergulatan batin yang sangat. Tapi
kita berharap puisipuisinya akan terus lahir seiring banyaknya pengalaman hidup
yang dilaluinya
Dengan maksud yang tragedik, jika masa yang datang dalam Tekad itu
dihadapkan kembali kepada Sulhan Yusuf, maka orang yang seharihari dinisbahkan
sebagai mentor oleh saya itu, telah dikutuk untuk dapat terus menulis. Dan
kutukan menjadi seorang penulis yang akrab dengan aksara, adalah pekerjaan yang
getir sekaligus murung. Melalui dua hal inilah, masa depan diukir dan
diabadikan. Namun mudahmudahan, getir dan kemurungan itu hanyalah hal yang
nampak di dalam tulisantulisannya.
Syahdan, airmatadarah adalah buku puisi yang layak untuk dimiliki.
Setidaknya dengan puisi, lewat buku ini kita diantar untuk menjadi seorang
pemula. Orangorang yang kembali menengok dunia keseharian dengan cara yang
berbeda.
11 Maret 2015
madah limapuluh
ADA kisah tentang Pak Hamid
yang risau. Atau sebenarnya ia takut.
Sebelumnya datang kabar nun jauh dari Papua. Anak bungsunya bakal menikah. Dari
tempatnya yang jauh dari anaknya tinggal, tidak terbersit bahagia di mukanya.
Yang ada justru tanda suatu soal berat. Anaknya akan menikahi perempuan berbeda
agama. Usut punya usut, dari pengalaman anaknya yang lain, setiap pasca menikah
dengan pasangan beda iman, anaknya pindah keyakinan.
Sebab itulah air mukanya jadi
murung. Kabar yang ia terima seperti air jebol merusak apa saja. Anaknya yang
dibesarkannya bertahun-tahun kini jadi orang yang bikin hatinya gulana.
Membikin hatinya runyam.
Bagi sebahagian orang agama adalah
pilihan. Tapi bagi Pak Hamid, yang namanya agama tidak mesti diganggu gugat. Ia
setua tradisi turun temurun. Itulah sebab, agama jadi soal penting. Bertahun-tahun
anaknya dididik sesuai agama tradisi, walaupun memang istrinya seorang muallaf.
Tapi malang, justru di saat akan membangun rumah tangga, anaknya bakal
berpindah keyakinan.
Tapi apa yang sesungguhnya
dikhawatirkan Pak Hamid, sebuah label agamakah? Atau suatu yang lain. Sesuatu semisal,
kebenaran yang hakiki.
Di negeri ini, suatu label sering
kali memakan korban. Apalagi label yang telah mapan dalam memori kolektif
masyarakat. Dalam sejarah Indonesia, label abadi yang terus dipugar dan melekat
kuat tak pernah keluar dari dua hal: agama dan komunisme.
Dengan dua label itulah, sejarah
Indonesia dinarasikan sesuai tafsir kekuasaan. Hingga akhirnya, label itu menjadi
artefak mengakar kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.
Label dianggap penting oleh sebab
suatu pengertian dapat dirujuk. Kasus Indonesia, label dipakai untuk
kepentingan identifikasi. Dengan begitu suatu golongan dapat dengan mudah
dikelompokkan berdasarkan kesamaan dan cirinya. Jika sudah demikian, suatu rencana
akan lebih mudah diatur dan dikerjakan.
Tapi suatu identifikasi juga
terkadang jadi sumber pelecehan. Dan dari sanalah datang korban. Sebab
pelabelan dengan maksud membangun batas seringkali mempertautkan hal ihwal
subtil: hasrat untuk benar.
Nietzsche, filsuf akhir abad 19 menyebut
perkara hasrat yang timbul semacam itu sebenarnya adalah soal moral. Yakni
kebenaran yang selalu jadi tujuan moral orang-orang.
Artinya, jika ada yang selalu
menggebu-gebu menunjuk kebenaran melalui telunjuknya, maka itu berarti bukan
soal kebenaran, tetapi justru posisi moralnya, kedudukannya.
Dari sanalah Nietzsche menyebut itu
sebagai hasrat berkuasa. Yakni keinginan untuk mengambil posisi yang layak dan
tak tergugat. Dari Nietzsche, soal-soal kebenaran tak selamanya jadi perkara
yang murni demi kebenaran. Tapi di baliknya motif, ada maksud inheren dari
wacana kekuasaan.
Ini berarti kebenaran atau hal
ihwal yang berputar di sekitarnya adalah sesuatu yang politis. Apalagi
menyangkut pengakuan. Dalam politik pengakuan itu penting, sebab dari situlah sumber
kekuasaan. Tanpa pengakuan kekuasaan tak dapat stabil berdiri.
Barangkali karena label itu
penting. Barangkali memang label itu harus ada. Pak Hamid resah, karena soal
label itu penting. Apalagi ini soal agama, soal iman.
Agama memang bisa mendatangkan
kasak-kusuk. Di mana kita pernah kisruh hanya soal suatu identitas perlu atau
tidak dicantumkan. Di negeri ini, di saat awal pemerintahan Jokowi memimpin,
masalah tentang pencantuman label agama dalam kartu identitas jadi perbincangan
nasional. Soalnya suatu label identitas selama ini jadi sumber diskriminasi.
Dengan suatu label, suatu golongan dapat bersuara lantang dan suatu golongan
harus tiarap bersembunyi.
Di negeri ini, memang soal label
jadi perkara sensitif. Label seperti sebelumnya dinyatakan adalah soal
pengakuan. Tapi terkadang pengakuan atas posisi, jabatan, kekuasaan secara
bersamaan malah sering menundukkan yang lain. Mungkin, dengan itulah negara
ingin menghapus label identitas. Biar bagaimana pun suatu label tak selamanya
mampu mewakili keanekaragaman di baliknya.
Ini berarti secara tidak langsung
negara ingin menghapus cara berpikir dominatif. Dengan kata lain, keyakinan mayoritas tidak mesti menundukkan keyakinan minoritas.
Namun ini sebenarnya kisah Pak
Hamid yang risau mempersoalkan keyakinan putranya. Sebab dia tahu, suatu label
tidak dengan mudah dapat berganti begitu saja. Agama putranya berarti pula
agaama dirinya yang sudah lama menjadi label turun temurun. Walaupun akhirnya,
rasa gundahnya tak bisa serta merta menghindar dari suatu kenyataan. Dengan kata
lain yang namanya agama, tidak selamanya berkedudukan sebagai agama pemberian
generasi sebelumnya.
Apa boleh buat raut muka Pak Hamid
adalah jawabannya. Putranya telah memilih.
madah empatpuluhsembilan
Ketika akal menemukan
dirinya bangkit, dunia tampak terang. Yang semula samar dan terselubung dibalik
tirai mitos, jadi transparan. Dunia akhirnya terkuak dengan pengetahuan yang
menjadi jembatan. Kant, di era renaisans menyebutnya pencerahan.
Tapi dengan semangat
pencerahan, Kant juga membangun kritik terhadap nalar pencerahan yang superior.
Kritisismenya akhirnya menyingkap cacat inheren dalam akal. Ternyata akal, yang
begitu superior membuka terang, tak selamanya jadi bohlam yang sempurna. Akal
yang selalu ingin menjelaskan lengkap fenomena, ternyata juga retak. Yang
ditangkap hanyalah lapisan fenomena yang tampak dengan cahayanya yang redup.
Akal ternyata tak mampu menangkap noumena; das ding an sich,
inti kenyataan yang sesungguhnya.
Sebab itulah Kant tak
percaya suatu yang metafisis seperti subtansi bendabenda. Akal tak bisa
menjangkau itu. Akal justru adalah jembatan atas keyakinan Kant yang agonistik
itu. Tiada yang metafisis dibalik daya akal. Yang murni dalam metafisika
ternyata adalah sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibuktikan. Lewat etika
transedental Kant, metafisika untuk kali kedua dibungkam.
Tapi itu Kant. Dengan
agnotismenya. Dengan kecurigaan akal murninya.
Yang berbeda datang dari
filsuf Iran kontemporer, Murthada Muthahhari. Dalam ceramahnya yang dibukukan
dengan nama Mas'aleye Syenokh, Kant dikritik. Dan dalam
kritikannya itu, bukan saja Kant, seluruh pandangan yang skeptik terhadap
kemungkinan epistemologi dikritiknya.
Muthahhari sebenarnya tidak
tepat jika disebut filsuf per se. Sebab tidak seperti filsuf umumnya yang
memang menyelisih dari otoritas teks agama. Itulah mengapa dalam ceramahnya itu
ia memulai perbincangannya dengan soalsoal epistemologi dari al quran. Di
sinilah beda itu tampak.
Dan beda itu sebenarnya
memang adalah sesuatu yang disengaja Muthahhari. Soal epistemologinya adalah
suatu rancang bangun yang ia susun untuk membuktikan rapuhnya pemikiran asing.
Dalam skema itu, "asing"
adalah berarti produk pikiran yang mencerminkan semangat sekuler. Ini berarti
maksud Muthahhari merupakan ungkapan yang merujuk pada tempat yang jauh di
sana, yakni suatu masa di mana sekularisasi adalah semangat yang massal
disambut suka cita. "Asing" adalah penanda suatu produk pikiran yang
tumbuh saat yang sakral disingkirkan. Dengan kata lain, pemikiran yang tidak
tumbuh dengan semangat yang mengafirmasi theos. Dengan Itulah, kritisisme
Muthahhari berarti punya maksud tak ringan: membuktikan kokohnya pemikiran
islam.
Dan dari cara pandang yang
quranik, Muthahhari menyebut epistemologi yang dibincangkannya adalah
epistemologi islam. Lalu dari ceramah mas'aleye syenokh, suatu
pandangan khas islam dibentangkannya. Islam sebagai suatu cara pandang,
akhirnya jadi suatu paradigma.
Sebenarnya, ceramah yang ia
sampaikan di tahun 1970 itu adalah ceramah yang juga politis. Ceramah yang juga
punya arti emansipasi. Sebab dalam ceramah tentang pengetahuan yang dibincang
saat itu, punya maksud membangun kesadaran politis.
Karena itulah
ceramahceramahnya dilarang. Rezim saat itu melihat Murthahhari sebagai ancaman
politik, sebab di tahuntahun yang genting saat itu, suatu perkumpulan dianggap
subversif. Saat itu, Iran memang mengalami gejolak politik, dan Murthada salah
satu orang yang memicunya.
Di masamasa yang genting
itu, sebenarnya Muthahhari tidak sendiri. Ceramahceramahnya adalah bagian dari
skenario besar yang kala itu dirancang: revolusi. Dan dari sebagian yang lain,
yang diisi oleh tokoh muda Iran, juga punya andil: Ali Syariati.
Lewat mereka berdualah di
tahuntahun itu, di bawah suatu rejim yang menggeliat dengan kekuasaan yang
tanpa batas, pembangunan paradigma revolusi disusun. Seluruhnya dibincang
dengan tafsir politik agar punya makna yang kongkrit. Islam dengan lidah dua
orang itu akhirnya jadi ajaran yang tidak sematamata metafisis, tetapi menjadi
lebih runcing, menjadi lebih kritis.
10 Maret 2015
madah empatpuluhdelapan
Konon dari waktu senggang muncul
kebudayaan. Konon dari inti kesunyian menerbitkan wahyu bagi para nabi. Juga konon, kerja, di zaman sekarang
adalah penanda kemanusiaan yang ambruk.
Kerja sebenarnya adalah suatu yang
luhur. Bila Hegel membilangkannya sebagai proses idealisasi ruh yang bergerak
tanpa pamrih dalam tubuh, Marx, orang yang mencelanya itu, meyakininya sebagai
modus eksistensi ril manusia. Hegel dan juga Marx melihat kerja sebagai bentuk to becoming:
cara manusia berada.
Tapi cara to becoming,
bagaimana kerja di zaman ini sudah jadi sesuatu yang ambruk. Orang dipaksa
untuk bekerja. Itulah mengapa dari yang terpaksa menimbulkan alienasi Sebab
kebebasan tercerabut persis seperti baut yang membuat suatu perangkat jadi
hancur. Kebebasan yang jadi tanda keutuhan, dalam sistem kerja yang dipaksa
itulah yang jadi soal.
Akhirnya manusia, dengan kerja yang
terpaksa jadi dekaden. Manusia, justru bukan menjadi mahluk yang luhur,
melainkan hancur dalam sistem yang di cela sejarah: kapitalisme. Di dalamnya,
yang sebelumnya luhur jadi lebur dan menguap jadi kapital yang berlipat ganda.
Manusia menjadi asing dalam kerja. Industri jadi sistem kukuh yang untung.
Joseph Pieper melihat kerja yang
sudah tak.luhur itu seperti sistem agama. Menurutnya, di alam modern, terutama
kaum urban yang didorong untuk dapat terus bekerja, kerja per se telah
dikultuskan. "Kerja sudah seperti doa" sebutnya. Artinya, kerja
begitu dimutlakkan dalam zaman yang didorong oleh sistem yang penuh daya saing.
Dan di dunia itu, kerja sudah
identik dengan cara yang teknis. Akhirnya kerja jadi kehilangan keluhuran.
Kerja menjadi kehilangan sakralitasnya sebagai pemenuhan eksistensi jiwa
manusia. Sebab kerja berarti usaha yang rutin, otomatis dan mekanis, maka kerja
kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang ditandai dengan cengkrama dan waktu
kolektif.
Itulah mengapa krisis eksistensi
terjadi. Kerja jadi penjara eksistensi. Kerja jadi rutin yang mencuri kesadaran
manusia.
Kehilangan yang luhur akibat kerja
yang rutin dan yang sesak di jantung krisis eksistensi, bagi Pieper bisa
ditampik dengan cara menghidupkan waktu senggang.
Di Yunani purba, waktu senggang
ditandai dengan suatu yang luhur: theorea. Theorea yang dari
sana terma teori dilahirkan, sebenarnya adalah suatu sikap "melihat"
dan "memandang" suatu yang tetap dalam cosmos.
Cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.
Cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.
Sebab itulah berpikir berarti
mencari ketetapan yang sama dengan ketetapan alam. Aristoteles menyebutnya
dengan kaidah kesesuaian partikular akal manusia dengan alam universitas cosmos. Singkatnya,
berpikir selalu adalah usaha untuk menyeleraskan yang ada dalam nous dengan cosmos.
Habermas melihat aktivitas theorea itu dalam
peradaban Yunani dengan sendirinya bermaksud praxis.
Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam praktiknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.
Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam praktiknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.
Pieper menyebut itu sebagai keadaan
yang kontemplatif. Di dalam keadaan itu manusia kembali dapat keluar dari
penjara rutin untuk bersentuhan denga totalitas realitas. Di saat itulah, bagi
Pieper terbentuk suatu relasi yang fundamental antara manusia dengan kenyataan
yang melingkupinya. Di sinilah waktu yang total berarti pembebasan.
Waktu senggang yang dimerdekakan dengan nuansa yang kontemplatif, adalah cara Socrates mengajak masyarakat Athena dengan maksud menjaga nous agar terus hidup. Sebab ia tahu, nous yang mati adalah kesiasian yang mubasir. Waktu yang bernuansa liberatif dan diisi dengan pemenuhan edukatif inilah yang menjadi asal sekolah.
Waktu senggang yang dimerdekakan dengan nuansa yang kontemplatif, adalah cara Socrates mengajak masyarakat Athena dengan maksud menjaga nous agar terus hidup. Sebab ia tahu, nous yang mati adalah kesiasian yang mubasir. Waktu yang bernuansa liberatif dan diisi dengan pemenuhan edukatif inilah yang menjadi asal sekolah.
Sekolah awalnya suatu tindak
kemerdekaan dengan memproduksi waktu menjadi produktif. Sekolah adalah peluang
untuk mencandra cosmos dengan berpikir
yang kontemplatif. Dari sini, sekolah adalah medan nalar untuk beroperasi
dengan baik. Dan dari aktivitas inilah peradaban muncul.
Tapi seperti juga kerja yang
merenggut kebebasan, sekolah di zaman sekarang bisa jadi adalah tempat
kebebasan dibantai. Di sana, juga barangkali tempat kekuasaan bereksperimen
dengan kebijakankebijakannya. Sekolah akhirnya laboratorium tempat
kepatuhan dicipta dan mangut jadi rutin. Akhirnya sekolah seperti kata suatu
buku, adalah candu masyarakat.
Di sini bukan saja agama jadi
candu, melainkan juga sekolah. Akhirnya di saat sekarang ada dua hal yang jadi
ambruk; kerja dan sekolah. Kerja sebagai rutin yang mencuri kebebasan dan
sekolah yang mencuri pendidikan.
Tapi, anehnya yang dicuri itu malah
tak jadi soal genting. Barangkali memang ini karena sekolah kita dulu sudah dari awal mencuri pengetahuan kita. Jadi tak ada yang dianggap
masalah apalagi hilang.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...

