03 Februari 2015

madah limabelas

Pk ingin pulang, dicarinya tuhan dan dalam pencariannya ia membikin geger seantero penjuru. Setidaknya itu yang menjadi jalan cerita dari Pk. Dari film yang dibintangi Amir Khan itu sekali lagi menunjukan, bahwa tuhan memang adalah urusan yang bisa pelik. Tidak saja dibangsabangsa lain, pun juga di India, Pk sepertinya ingin kembali mengingatkan tentang urusan tuhan tidak bisa diurus dengan kepala yang kering dan jiwa yang sarat emosi.

Itulah sebabnya, tuhan dalam benak Pk adalah sudah mirip sesuatu yang jamak dimiliki banyak orang. Ia menganggap tuhan bukan kepunyaan segelintir orang. Maka dicarinya tuhan ke tiaptiap sudut, didatanginya orangorang, rumahrumah ibadah, hingga akhirnya dia tahu rupanya tuhan bisa berbedabeda. Maka mulailah dia bersikukuh untuk mencari tuhan yang bisa memulangkannya dari setiap tuhan yang ia temui. Gilakah ia? Pk memang berarti gila, semua orang menganggapnya gila, tapi Pk sebagai orang yang ingin pulang sebenarnya adalah orang yang berpikir rasional.

“Tuhan manakah yang harus aku percayai?” Ungkapnya kepada Tapaswi, pemuka agama yang konon dapat berkomunikasi dengan tuhan. “menurutku tuhan itu ada dua” ungkapnya lagi. Dan dari dialog bersama Tapaswi  itu Pk membuka kembali makna tuhan yang berbeda; tuhan yang mencipta dan tuhan yang diciptakan.

Tuhan yang mencipta menurutnya adalah tuhan yang tak  pernah dapat diketahui, tak dapat dijangkau. Tuhan seperti inilah yang sulit diringkus dalam bahasa yang hanif. Ibnu Arabi menyebutnya sebagai misteri dari misteri yang misteri. Ini artinya tuhan yang mencipta adalah tuhan yang dalam ungkapan ibrahim dihadapan Firaun diilustrasikan sebagai yang ada di  barat maupun yang di timur.

Sementara tuhan yang dicipta adalah tuhan yang dalam benak. Tuhan yang oleh PK disebutnya seperti Taspawi, yakni tuhan yang berpurapura, pembohong, berpihak pada orang kaya, pemberi harapan palsu dan mengabaikan kaum miskin. Tuhan yang demikian disebutnya tuhan yang kembar, tuhan yang identik dengan prasangka manusia. 

Rasarasanya Pk benar, selama ini tuhan menjadi simbol seperti yang sudah identik dengan manusia. Hingga hidup dan menjadi tradisi dalam setiap ajaran agama. Hingga yang ada adalah agama yang dipertuhan kekuasaan, pujapuji dan rasa yang superior. Agama demikianlah yang barangkali selama ini kita jalani sampai sudah seperti benar selalu. Agama yang demikianlah yang sepertinya menjadi sumber persoalan. Sehingga film ini juga ingin menyindir; agama yang bertuhan dengan tuhan mirip Taspawi lebih baik tanggalkan segera.

Demikianlah film ini dipuji sekaligus kontoversial. Dikatakan di mana film ini dibuat malah banyak menyinggung agamaagama. Menyinggungkah film ini?  Tetapi film yang dikatakan kontroversial di india itu memang memantik keyakinan kita yang antik. Rasarasanya wajar jika india bisa melahirkan karya film yang demikian. Sebab India adalah bangsa yang terlahir dari pertikaian atas agama. Dari sejarahnya kita tahu, tanah bekas koloni inggris itu akhirnya harus pecah akibat sentimen agama; India dan Pakistan. Dan dalam arti yang kritis film ini juga sebagai kritik, yakni agama bukan saja soal iman yang dibatasi rumah ibadah, tetapi juga soal manusia yang tak berumah.

02 Februari 2015

madah empatbelas

Sering kali kita ditimpa masalah; gunung meletus, pertengkaran dan keangkuhan, naiknya harga bbm, banjir bandang, terlilit hutang, pesawat jatuh, naiknya harga barangbarang, air bah, terorisme, perang etnis, pemerintahan korup, pemimpin yang tak adil, pembunuhan, perkosaan, penculikan, kelaparan, pembantaian massal, huruhara politik, penggusuran, pengkianatan, sunami, angin ribut, kebakaran. Juga kemiskinan, tipu muslihat, penyakit menular, kebohongan, kecelakaan beruntun, kelaparan.

Barangkali hampir semua hidup kita sudah bagian dari semua itu.  Dan juga bisa jadi kita yang hidup di suatu sore dengan kopi secangkir, malah menjadi sumber semua masalah di pagi yang dirundung kesibukan. Hidup memang seperti jejaring labalaba di mana semuanya menjadi sistemik dan berangsurangsur. Tak ada yang terpisah dan mandiri dari tempat kita berpijak. Kata pepatah cina; kepakan kelelawar di sini, membahana angin beliung di sana.

Ada juga ungkapan, hidup itu seperti suara gema, ketika engkau teriak, pantulannya lambat laun kembali juga. Takdirkah itu? Sepertinya ini yang jadi soal. Takdir itu kejadian setelah pengamatan. Atau keadaan yang jelas setelah kejadian. Gema, yang bakal mendatangi sumber suara itu bukan takdir. Gema sebagai suara yang bakal datang itu sudah bisa kita ketahui. Ini artinya, gema, sebenarnya persis hukum kausal. Apa menyebabkan apa, siapa mengakibatkan siapa.

Lalu masihkah yang disebut masalah harus kita sebut sebagai “keputusan yang sudah diputuskan?” Takdir sebagai keadaan yang terputuskan sejak awal disebut fatalistik, sementara takdir sebagai kemungkinankemungkinan yang sulit kita duga adalah  seperti gema; sesuatu yang dari kita dan akan datang masanya ia kembali. Ini berarti takdir tak selamanya sudah digariskan, melainkan diluruskan. Dalam arti luruslah, apa yang menjadi masalah dibenarkan. Ini berarti apaapa yang nampak bermasalah dapat diubah.

Namun rasarasanya itu sulit, ternyata ada banyak jejaring yang juga kusut. Sepertinya masalah bukan saja soal individual tetapi juga sosial. Itulah mengapa masalah mesti ditangkal sejak awal. Sebab garis lurus sulit dibentang jika dari awal tak ada semisal penggaris yang dipedomani. Maka wajarlah jika masalah sosial sudah terlalu banyak karena garis lurus tak pernah dibentangkan. Toh jika ada garis yang ingin ditarik, justru penggarisnya malah tak lurus.

01 Februari 2015

madah tigabelas

Sepertinya ada yang diamdiam terus membayangi di balik tegaknya intitusi masyarakat. Terus mengendus dari dalam dan merusak dengan cara yang tak kasat mata. Pelanpelan menjangkiti seperti hasrat yang tak pernah lengkap dan puas. Lamatlamat yang tak pernah puas itu membangun sebuah hirarki. Yang tak pernah puas itu biasa dieja  dalam arti yang sama dengan satu hal; kekuasaan.

Dan kekuasaan yang diamdiam bekerja itu punya dua  sikap yang jadi watak dalam setiap yang berbau birokrasi; Firaun dan Bal'am. Firaun, seperti yang diulangulang dalam sejarah adalah penguasa yang menilap tuhan. Atau nyaris menghabisi tuhan, sebab dalam quran diceritakan ia justru berkoar: aku adalah tuhan yang dapat  mencabut nafas dan mampu menghilangkan nyawa. Sementara Bal'am kita tahu, ia orang yang menyokong Firaun, dengan dalilnya, dengan argumentasi ilmunya. Diceritakan melalui sejarah, dengan dalildalil ilmunyalah, Firaun membangun kerajaannya.

Tetapi adakah itu sudah cukup? Nampaknya sejarah selalu menyisakan tempat untuk yang lain; Qarun. Dalam islam, terutama yang digambarkan Ali Syariati, Qarun adalah simbol antagonisme kelas ekonomi atas, golongan pemilik modal yang kehilangan sentimennya terhadap masyarakat tertindas.

Ali Syariati juga menyebut nama yang lain. Dari telusur filsafat sejarahnya, Ali Syariati menyebut satu nama; Qabil, yakni simbol masyarakat dominan yang mengagungkan hak kepemilikan pribadi atas penguasaan yang publik. Qabil, digambarkannya sebagai simpul yang merangkul dari apa yang ia sebut trinitarianisme sosial; Firaun, Bal'am dan Qarun.

Sebuah narasikah ini? Nampaknya ini tidak sekedar sejarah yang berasal dari negerinegeri seribu satu malam. Apalagi deskripsi dari teksteks yang sering dikutipkutip. Syariati tidak hendak membangun pemahaman yang teologis atas masyarakat, melainkan sebuah pandangan yang sosiologis. Ia rasarasanya resah bahwa dalam kehidupan masyarakat, yang disebut watak, sifat yang mendasari sebuah peran, bisa menjadi sebuah kangker dalam  tubuh masyarakat; ganas dan merusak.

Ini berarti tabiat maupun watak bukan keberadaan yang sui generis. Bukan hakikat yang ahistoris dan di luar sejarah. Tidak seperti subtansi yang sudah dimaktub dalam lauh mahfus. Seperti sesuatu zat yang ada dengan sendirinya. Ia justru dibentuk dan dicipta dalam sejarah. Ditempa dalam lingkungan, diciptakan dari pergulatan dan pengalaman atas kenyataan. Ia -dalam prosesnya- terus mengalami perubahan yang tiada hujung.

Dalam arti inilah tabiat watak tidak sepenuhnya perihal yang sudah jadi. Untuk itulah kita seharusnya tak harus percaya betul terhadap masyarakat di luar sana. Sebab nampaknya memang tabiat selalu mengikuti keadaan sosial; baik buruknya sudah seperti lempung lumpur yang dibentuk. Atau janganjangan memang betul bahwa manusia sebenarnya adalah mahuk antisosial.

Di sini kita boleh saja mengiyakan Hobbes dengan pandangan etisnya bahwa manusia disebut etis bila sejauhjauhnya ia bisa memenuhi keinginan individualnya. Tindak etis ini disebut pemeliharaan diri. Tindak etis ini disebut egoisme. Dari sinilah yang antisosial itu muncul dan meraup segala yang ada. Tapi Hobbes tahu jika yang individual dipertemukan ke dalam yang sosial; bellum omnes contra omnia. Maka yang ada adalah perang yang semua melawan yang semua; homo homini lupus.

Memang sepertinya itulah yang terjadi di sekitar kita. Situasi yang timpang sana timpang sini. Yang punya kuasa justru nampak seperti serigala; menindas, menghambat dan memaksamaksa. Sementara di bawahnya justru seperti dibilang Pram, menjilat, mengembik atau malah penghambaan. Jadi bukannya kita harus mafhum terhadap alur masyarakat yang mencipta “kangker” yang tak pernah sembuhsembuh, melainkan kenapa seluruh watak yang pernah ada dalam sejarah masih tetap bertahan hingga kini. Adakah ini memang seperti hilir sungai yang baik hilir dan muaranya sudah tercemari.  Apakah memang yang individual sudah seperti yang sosial; bellum omnes contra omnia. Perang di sana sini. Meraup segala hal selagi sempat dan mampu.

31 Januari 2015

madah duabelas

Daniel Bell pernah menyeru, dalam bukunya; ideologi telah mati. Dan ini tidak sepenuhnya salah, sebab dia berbicara tentang jatuhnya sosialisme dan keyakinankeyakinan politik peninggalan abad sembian belas. Seruan ini pernah gaung di pertengahan enam puluhan, tetapi hingga saat ini nampaknya pernyataan sosiolog itu masih terasa benarnya. Namun nampaknya ia menyebut ideologi yang lain. Ia menyebut  ideologi yang pernah dianut hampir sepertiga kawasan dunia. Kini, dunia telah berganti rupa. Ia sepertinya salah memperhitungkan, bahwa ada yang lain, dan juga sebenarnya adalah ideologi. Kapitalisme yang tak pernah matimati itu, kini di sini, dengan kemasan yang dibungkus menarik; iklan.

Iklan yang disebut sebagai media yang mengagungagungkan objek oleh Baudrillard, memang sudah menggusur apa yang kita yakini. Simulakrum yang disebutnya sebagai realitas virtual yang semu sepertinya sudah kita anggap sebagai kenyataan. Ini persis dengan mahluk gua Plato; yang nyata adalah apa yang menjadi bayangbayang dari pantulan diri kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa konsumsi adalah peristiwa yang lebih mirip seperti ibadah; ada sesuatu yang diagungagungkan.

Di saat demikianlah, yang agung kita terima sebagai yang keramat. Di sana ada yang fethis, sesuatu yang sakral. Dan di mana ada yang sakral berarti itu sesuatu yang personal, yang pribadi.  Sebab itulah F. Burkhardt menyebut masyarakat konsumsi adalah peristiwa akbar yang sedang mencari sesuatu yang personal dari barangbarang, sesuatu yang membahagiakan dan menyenangkan

Iklan memang sakral dan telah melampaui sesuatu yang rasional. Melalui iklan, yang nyata ditaklukkan sementara di dalamnya yang fantasi ditegakkan. Objekobjek yang kongkrit, padat, pejal, terbatas dan gampang habis dengan mudah menjadi benda yang dibangun atas jejaring tanda dan penandaan. Yang kongkrit akhirnya nirbatas, dibentuk oleh simbol, cap, dan makna yang virtual. Dari apa yang disebut sebagai totalitas penandaan, iklan memang mujarab membangun keterlibatan melalui tindak konsumsi; jual beli.

Dibalik jual belilah justru sebuah pasar tegak. Marx menggambarkan bagaimana sebuah industri bisa tegak dan lurus berdiri dengan sesuatu yang ”awalnya kongkrit akirnya menguap ke angkasa.” Memang Marx tak menyebut langsung “semula yang padat akhirnya menguap” sebagai sebuah tindak pertukaran, tetapi sekarang, zaman modern memang telah banyak mengubah “yang kongkrit menguap ke angkasa.” Di dalam industri ada buruh, manusia yang kongkrit dengan pekerjaannya yang sentuhbersentuhan dengan bendabenda yang material, ada produksi yang bersumber dari yang kongkrit, tenaga dari kalori yang juga kongkrit, tetapi di pasar “yang kongkrit meluap mengangkasa.” 

Dan itulah yang sepertinya banyak kita konsumsi; suatu simbol, “yang telah menguap ke angkasa.” Sesuatu yang anganangan, ihwal yang imajinatif. Maka sepertinya saat demikianlah, yang rasional malah nampak seperti ungkapan atas yang irasional. Dari sanalah jual beli bisa berarti sikap yang bukan apaapa selain kegilaan yang dianggap masuk akal.

29 Januari 2015

madah sebelas

Agama adalah usaha manusia dalam membangun suatu kosmos yang keramat. Ini bahasa yang dipakai Berger untuk membangun pengertian agama. Dan nampaknya tidak sepenuhnya salah. Ia melanjutkan, “keramat adalah suatu kualitas misterius dan menakjubkan”. Artinya, agama adalah pengalaman terhadap yang keramat, dan yang disebut pengalaman sepertinya adalah sebuah sikap yang tidak berjarak; menyatu.

Namun sepertinya dalam mengalamatkan yang mana keramat justru kita bisa semenamena. Atau bahkan salah kaprah. Justru yang keramat akhirakhir ini malah  nampak menjadi sebuah sikap yang klenik. Yang keramat bukan lagi sebagai sebuah misterium dan hal yang menakjubkan, tetapi sebaliknya adalah sebuah sikap yang banal.

Ini berarti sepertinya agama yang keramat itu sudah merupakan salah kaprah. Agama yang banal. Agama yang kehilangan semangat dan misterianya. Agama yang bukan pengalaman.

Kosmos yang keramat sebenarnya adalah apa yang ditegakkan dengan cara yang transenden. Sebuah ihwal yang nonmanusiawi. Dengan yang transenden itulah, yang nonmanusiawi mengatasi dan meliputi. Melalui inilah yang keramat tampil dengan bentuknya yang menguasai. Tetapi yang menguasai ini adalah sebuah keadaan yang sarat tekateki; sebuah misterium.

Lantas di manakah yang keramat itu salah kaprah? Sepertinya adalah jika yang transenden sudah selalu kita kaitkan dengan lawan dari yang keramat; profan. Yang profan bisa apa saja dan di mana saja. Tetapi yang profan sekarang bisa mewujud seperti bendabenda yang tidak asing bagi kita, kekuasaan, jabatan, tempattempat atau segala hal yang di sana kita membangun sesuatu yang keramat. Dan di saat inilah kita salah kaprah, yaitu mengindentikkan yang profan sebagai sesuatu yang keramat. Di saat inilah barangkali agama bukan lagi sebagai peristiwa yang membangun sesuatu kosmos yang keramat, melainkan sebaliknya menghablurkan segala yang profan.

Lantas bagaimanakah yang keramat itu dapat kita temu kenali? Sepertinya ini yang sulit, sebab yang keramat bukanlah sesuatu yang massal kita temukan. Ia setidaknya adalah keadaan yang tanpa bahasa dan tak disertai rumusrumus pemikiran. Tanpa bahasa bukan berarti katakata yang tak mampu mengidentifikasi, dan tanpa pikiran bukan berarti sesuatu yang lolos dari pertimbangan. Sepertinya ia lebih mirip sebagai sikap yang mengafirmasi dari pada mengkonfirmasi; sebuah sikap sanepa.


28 Januari 2015

madah sepuluh

“Agama adalah suara keluhan orangorang tertindas, jiwa dan dunia yang tak berperasaan, semangat dari kemandegan yang tak berjiwa. Agama adalah candu masyarakat.” (Karl Marx-Enggels, Works)

Agama itu satu dan yang lainnya hanyalah penafsiran. Dan dari tafsir inilah kita membangun keyakinan hingga iman. Dengan kata lain, iman adalah urusan yang tidak sematamata teologis tetapi juga sosiologis. Di dalam yang sosiologis inilah agama yang satu berkelindan dan membangun diri. Dari yang satu menjadi padu.

Padu berarti ada dialog, berarti ada pertukaran antara perbedaan dari yang banyak. Padu mirip dengan sebuah iringan musik; bebunyian yang saling timbul tenggelam, ganti bergantian dari alat musik yang berbeda, tetapi justru di dalamnya membangun keselarasan.  Berpadu berarti harus tahu di mana batasbatas, kapan harus membunyikan alat musik, kapan harus dinaikkan nadanya, dan kapan harus berhenti. Dengan begitulah berpadu berarti mengikutkan yang lain dalam sebuah irama. Ini berarti padu adalah sebuah sikap atas keberadaan yang lain untuk diterima sebagai bagian.

Agama yang padu adalah agama yang sosiologis. Keimanan yang dibangun atas keberagaman yang lain. Agama yang sosiologis adalah agama yang diimani bersamaan diantara iman yang lain. Sebab di dalam tubuh masyarakat, kejamakan adalah wajah yang kerap kita hadapi, dunia yang tak mungkin bisa sama.

Tetapi di waktu yang lain, di luar yang padu selalu muncul hasrat untuk murni. Saat inilah yang murni adalah sikap yang membangun tapal batas. Dengan tapal yang telah berdiri, yang murni siap untuk sigap terhadap yang berbeda. Itulah sebabnya, yang murni identik dengan sikap yang antik: kukuh atas iman yang tunggal.

Ada yang sepertinya jadi soal: manakah agama yang otentik? Dari pertanyaan yang demikian, yang murni menyeleksi iman yang beragam. Agama yang sosiologis dirusak untuk memadatkannya menjadi yang teologis. Mereka barangkali lupa, bahwa memadatkan berarti membikin jadi satu, bukan padu. Itulah mengapa yang murni tak menginginkan perbedaan, sebab yang jamak sama artinya mengaburkan kesatuan. Tetapi apakah itulah yang benar?

Yang murni sepertinya lupa, dunia tak selamanya bisa ditekuk oleh sebait pemahaman. Dunia adalah budaya yang berbeda, kehidupan yang purnaragam, tradisi yang berlainan, sejarah yang tidak sama, atau dengan kata lain, dunia adalah kehidupan yang sulit kita masukkan dalam satu batas defenisi. Disinilah biasanya justru gerakan yang murni, dalam membangun agama yang otentik justru malah membangun yang identik.

Barangkali ada yang salah dari keinginan untuk murni, bahwa agama yang identik tak selamanya otentik. Begitu juga sebaliknya agama yang otentik bisa jadi hanya identik, tidak murni, bukan sejati.  Dan biasanya sesiapa yang menghendaki pemurnian selalu tampil dengan mengeyahkan dialog; membangun monolog. Saat ituah, iman akhirnya menjadi keyakinan yang berdiri di atas tepi dan juga sepi. Iman semacam itulah sebenarnya iman yang ingin aman, iman yang tanpa menyertakan pendapat yang berbeda.  Sebuah iman yang selalu murung dan gusar, sebuah iman yang emosional. Itulah mengapa agama yang demikian dianggap berbahaya, sebabnya dia persis candu. Maka Marx bisa benar; agama adalah candu masyarakat. Sesuatu yang mandeg, sesuatu yang merusak tatanan.


27 Januari 2015

madah sembilan

Manusia bisa saja bebas dan bertindak merdeka, tetapi sepertinya juga tidak sepenuhnya benar betul. Manusia dengan segala supremasinya harus juga tahu, bahwa dunia tak sepenuhnya bisa ditaklukkan. Dunia punya hukum objektif, dunia punya semacam mekanisme yang sulit ditebak, dan di luar sana, dunia memang begitu cepat berubah.

Nasib atau takdir memang objektif tetapi bagaimana nasib dan juga takdir bekerja adalah perkara yang subjektif.

Dalam keyakinan agama, takdir sudah dinisbahkan kukuh dan tak tersentuh perubahan. Tak ada pergantian apalagi perubahan rencana. Teos sudah sedari awal membangun skenario, hingga telos juga sudah merupakan bagian yang tak bisa diganggu gugat. Segala peristiwa memang sudah terprediksi. Ini berarti sejarah, apa yang telah sudah terjadi, atau bagaimana hari depan di alami, merupakan garis yang telah ditetapkan. Manusia jika sudah hidup, maka hanya tinggal bekerja dan berperilaku seperti peran yang telah disuratkan. Dan di saat demikianlah, takdir memang iman yang sudah selalu diterima tanpa sanksi.

Lantas bagaimanakah “yang subjektif” itu kita tempatkan dihadapan nasib yang determinis? Bagaimanakah kita dapat bersikap? Atau bagaimana mungkin kita keluar dari takdir yang telah lurus didepan sejarah?

Disinilah barangkali manusia bukan lagi sebagai human being, tetapi dalam bahasa eksitensialis adalah human becoming. Manusia sebagai human being adalah keberadaan yang biologis, ditentukan sosiologis dan dibentuk historis. Inilah manusia yang ditentukan keadaankeadaan eksternalitas. Dibentuk dan diolah oleh kekuatan di luar, juga nasib. Maka manusia yang sekedar berada hanyalah keadaan yang tanpa tujuan dan maksud. Mahluk yang pasif dihadapan nasib.

Human becoming sebagai modus eksistensi adalah modus yang diluar nasib. Keadaan yang berkelit dari rangkuman yang diberikan keadaan. Keinginan yang berusaha keluar dari batasanbatasan yang dimiliki. Keadaan ini adalah situasi yang disulut dorongan internal; kehendak. Dengan kehendaklah manusia tidak sekedar being, tetapi juga menjadi. Manusia yang menjadi adalah manusia yang membentuk situasi, sejarahnya dan juga nasibnya.

Human is becoming seperti yang dibilang Syariati adalah manusia yang melampaui empat penjaranya; sejarah, masyarakat, alam dan ego. Di luar dari itulah kehendak berusaha berperan untuk menjadi. Di dalam sejarah, masyarakat, alam dan ego, kita berusaha untuk keluar dari apa yang telah menjadi hukum besi yang kukuh agar keluar dari tembok yang tegak berdiri.

Tetapi benarkah nasib dapat diubah dengan kekuatan kehendak? Perbincangan ini bisa panjang. Barangkali suatu saat dapat saya tulis di sini. Tetapi setidaknya saya telah berupaya untuk menembusi keadaan di luar rutin saya. Seperti malammalam sebelumnya dan selanjutnya; kehendak untuk menulis.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...