17 Desember 2016

Catatan KLPI Pekan 41

Saya harus jujur, catatan ini dibuat dalam keadaan tergesa-gesa. Itupun tidak seperti biasanya. Catatan ini dibuat ketika KLPI Pekan 42 akan digelar. Tepatnya sehari sebelumnya.

Pekan 41 barangkali cermin KLPI di waktu belakangan. Di catatan sebelumnya sudah ada pembacaan tentang situasi belakangan. Catatan itu sedikitnya berusaha menggambarkan situasi kekinian KLPI.

Catatan kali ini hanya mau sedikit menyoal problem yang digelontorkan Akmal. Sebelumnya Akmal membawa tulisan berupa resensi buku Calabai. Tulisan ini sudah terbit di Kalaliterasi.com beberapa tempo lalu.

Sembari forum yang hanya diisi tiga orang membahas karya tulis yang dibawa Akmal, juga sedikit mengulas pertanyaan yang dikemukakannya.  Bagaimana memulai menulis cerpen? Bagaimana cara membuka paragraf tanpa kehilangan daya pikat bagi pembaca? Bagaimana cerpen yang baik itu? Kira-kira begitu pertanyaan Akmal.

Pertanyaan Akmal ini sebenarnya harus dijawab kawan-kawan yang sering membuat cerpen. Tepatnya seorang pengarang. Bukan kawan-kawan yang sering kali menulis esai dibanding sastra.

Tapi apa boleh dibilang, pertanyaan itu kadung dilempar Akmal. Harus ada yang menjawabnya. Setidaknya forum mempunyai sesuatu yang akan dibahas.

Ketika itu, jawaban yang diberikan kepada Akmal hanya seadanya. Barangkali tidak bernilai penting, tapi ini diambil dari pengalaman ketika seseorang menulis cerpen.

Maka jawabannya kurang lebih begini (setelah ditambah-tambahkan di waktu tulisan ini dibuat): Mengarang cerpen berarti menghidupkan peristiwa. Peristiwa itu tidak mesti merupakan peristiwa epik. Keadaan sehari-hari terdiri dari beragam peristiwa; kita bisa melihat seorang penjual sayur yang bermain judi setelah dagangannya laku di sebuah emperan, Anak muda yang berhasrat ke Jakarta untuk mendapatkan tanda tangan artis idolanya, Seorang ayah yang menjual ginjalnya untuk membelikan gadget terbaru buat anaknya, atau diproduksinya mobil canggih yang bisa menyelam di bawah air, dsb. Macam-macam. Banyak hal yang bisa menginspirasi seseorang menulis cerpennya.

Konon membuka paragraf awal cerpen harus berdasarkan common sense. Sulit rasanya membuat kalimat pembuka jika itu tidak didasarkan berdasarkan fakta nyata. Orang akan merasa itu dilebih-lebihkan. Makanya, hampir semua cerpenis mengawali cerpennya dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti. Kalimat yang dekat dengan kehidupan nyata orang banyak.

Tapi, prinsip di atas hanyalah satu prinsip. Masih banyak prinsip lain ketika kita ingin membuka cerpen dengan kalimat yang menarik minat pembaca. Misalnya, dengan menggunakan kalimat-kalimat  metafora, atau sarkas.

Peristiwa dalam cerpen sebisa mungkin peristiwa tunggal. Kita tidak ingin membuat novel yang memiliki banyak plot. Cerpen lebih sederhana  dari novel. Tapi, banyak yang bilang menulis cerpen jauh lebih sulit akibat batasannya yang minim dibanding novel.

Itulah sebabnya, tidak banyak cerpen memuat beragam peristiwa.

Satu hal yang penting, karena cerpen memuat peristiwa, bukan berarti hukum sebab akibat terlepas dari sana. Kita tidak ingin menulis suatu cerita yang tidak memiliki asal usul. Setiap tokoh setidaknya memiliki asal usul. Apalagi jika diceritakan tokoh utamanya seorang pembunuh, sebisa mungkin sebab kenapa sang tokoh utama menjadi pembunuh mesti dijelaskan.

Prinsip sebab akibat ini begitu penting karena dia mengikat dimensi waktu dalam keseluruhan cerpen. Sebab akibat menjadi semakin penting jika cerita disusun menjadi alur maju mundur, atau sebaliknya. Kita tidak ingin pembaca dibuat bingung kan, ketika berusaha memainkan laur cerita?

14 Desember 2016

Muhammad bin Abdullah

Ketika menyampaikan materi di pelatihan menulis, di hadapan mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM, saya katakan menulis adalah peristiwa dahsyat yang pernah ada dalam sejarah manusia. Menulis hakikatnya tindakan revolusioner.

Bagaimana itu dijelaskan? Saya menganggap peralihan ide menjadi aksara tinanda peristiwa maha dahsyat. Ide, yang kesannya abstrak, juga dikenal sebagai gagasan, ketika berubah wujud kongkrit, ialah aktivitas melintas batas.

Dari ide yang abstrak itu, menjelma karya tulis, hanya bisa dilakukan dari tindakan revolusioner. Menulis, itu berarti menjebol batas dunia, dimulai dari gagasan menjadi tindakan manusiawi.

Saya kira tidak ada peristiwa paling menggemparkan ketika Muhammad menyebut satu ucapan: iqra. Melalui peristiwa historik itu, ada dunia dijebol, ada batas diseberangi. Dihinggapi rasa takjub, lisan Muhammad menyebut kalimah Tuhan itu: iqra, iqra, iqra...

Hingga akhirnya, hanya di bibir Muhammadlah, yang ilahiat bertransformasi. Dari lisannya yang pertama, Muhammad membaca alam ketuhanan, suatu alam ilahiat. Di titik ini yang ada hanyalah kefanaan, dan Muhammad hanyalah noktah kecil yang mencandrai alam maha dahsyat yang diliputi cahaya spiritual tak terbatas. 

Iqra kedua, dari mata batinnya, Rasulullah membaca jagad alam raya, masayarakat, dan sejarahnya. Membaca hukum-hukum perkembangannya. Sebab-sebab perubahannya, dan bagamaina alam semesta dibentuk dan berkembang dalam titimangsa sejarah.

Di lisan yang ketiga, iqra membawa Rasulullah menukik berbalik membaca dirinya. Semesta yang disebut alam micro cosmos.

Itulah sebabnya, tiada peristiwa paling agung melebihi Rasullullah ketika dihinggapi anugerah pencerahan yang melibatkan tiga lapis dunia sekaligus.

Saya kira, kurang lebih tindakan demikianlah dialami setiap orang-orang yang menulis. Dia menjadi seperti Muhammad kala mendapatkan wahyu. Menembusi tiga alam sekaligus, dan kemudian dari hati yang takjub menulis apa yang dia pikir, lihat, dan rasakan.

Saya menganggap tiga aktivitas manusiawi itu sebenarnya mewakili tiga alam kenyataan. Yang dipikirkan menandai "aku membaca" alam-alam abstrak, sebagaimana Muhammad melintasi alam ketuhanan-mistikal. Yang dilihat, itu berarti cara manusia menggunakan inderanya mencandrai alam pengalamannya, dunia sekitarnya. Terakhir, yang dirasakan, merupakan refleksi manusia membaca kenyataan dirinya.

Dalam sejarah, pasca Rasulullah dihinggapi ketakjuban atas anugerah yang diberikan kepadanya, sejarah akhirnya mulai dibangun.

Tak bisa ditampik, iqra yang dilisankan Muhammad menjadi sokongan pergerakannya. Di bawah naungan cahaya ilahiat, mata Rasulullah berusaha menyasar yang jahil. Jika penyimpangan itu gelap di hadapannya, Rasulullah bersuara.

Karena itulah kita mengenal al Qur'an dan hadis. Ucapan-ucapan Rasulullah ketika meluruskan peristiwa yang melenceng. Atau memberikan jalan keluar dari kejumudan umat saat itu.

Dan, dari situ, apa tindakan luar biasa yang menyokong wahyu dan hadis Nabi? Rasulullah menggenapkan wahyu dengan tradisi literasi.

Ali bin Abi thalib, menantu sekaligus murid setianya, serta beberapa sahabat lainnya, mengambil tindakan bersama mengabadikan ucapan-ucapan Rasulullah. Menulis kala itu tidak sekadar pekerjaan sepele, melainkan itu cara ucapan Rasulullah menembus lintasan generasi ke depan.

Tidak bisa dibayangkan apa jadinya era kiwari jika ucapan Rasulullah terhapus lipatan waktu sejarah. Barangkali kekosongan, barangkali kejumudan.

Maka penulisan ucapan (dan tindakan) Rasulullah merupakan peristiwa sejarah yang harus terus dihidupkan. Terutama suatu metode yang ditunjukkannya: menulis yang disokong kerja sama kolektif.

Penulisan hadis Nabi, ibrah tanpa batas. Kita tahu dalam sejarah, proses pengabadian itu ditunjang dari tindakan kolektif. Rasulullah sebagai pipa pertama wahyu, dan sahabat-sahabatnya sebagai kaki-kaki yang menyokong penulisan itu dapat terjadi.

Itu artinya, dimulai dari Rasulullah, tindakan tulis menulis menjadi kolektif di tangan sahabat-sahabatnya. Saya menganggap peristiwa ini bukan berarti Rasulullah tidak bisa menuliskan sendiri ucapan-ucapannya, tapi ini satu usaha memperkenalkan suatu pola kerja sama yang dibina solidaritas yang kuat.

Hingga akhirnya, peristiwa literatif itu menumbuhi kecambah setiap peristiwa sejarah. Melalui al Qur'an dan hadis-hadisnya, perkembangan umat manusia mengambil inspirasinya.

Sampai di sini, ketika saat menyampaikan pelatihan pagi itu, saya berpikir mungkin inilah cara saya menyatakan hari kelahirannya. Melalui maksud demikianlah setidaknya saya menyatakan niat berusaha belajar mencintainya.

Bahkan perasaan saya kala menyatakan cinta kepada Rasululullah, tindakan yang membutuhkan keberanian. Mencintainya berarti berani menyatakan diri untuk mengabdi kepada apa yang telah disabdakannya. Berani mengubah kenyataan seperti yang Rasulullah tunjukkan.

Era sekarang, bagi orang-orang yang ditakdirkan menjadi penulis, berarti harus bersiap-siap hidup dalam keterasingan. Kesepian nasib seorang penulis. Seperti Pramoednya Ananta Toer, misalnya, pribadi yang disingkirkan bangsanya. Menjalani kehidupan soliter hampir sebagian masa hidupnya.

Penulis saya kira mirip kehidupan nabi-nabi, atau mungkin Rasulullah, yang dikucilkan keluarga dan masyarakatnya. Sebagaimana Rasulullah, saya merasa seorang penulis bakal merasakan kesulitan-kesulitan. Sebagaimana Rasulullah, kadang seorang penulis banyak menanggung derita.

Itulah sebabnya, saya menganggap menulis adalah tindakan berani. Sebagaimana mencintai Rasulullah, menulis, di baliknya membawa pesan besar. Suatu ikhtiar menyampaikan maksud kepada entah siapa.

Alkisah, tersebutlah usaha sahabat-sahabat ingin mengetahui siapakah orang yang paling dicintai Rasulullah. "Bukan kalian wahai Fulan bin Fulan," begitu kira-kira ucapan manusia agung itu, "orang-orang yang saya cintai adalah mereka-mereka yang tidak pernah hidup denganku, mendengar suara dan tidak pernah melihatku, tapi karena itu mereka mencintaiku. Kepada merekalah orang-orang itu aku cintai." Begitulah jawaban Rasulullah ketika itu.

Syahdan, saya kira orang paling berani adalah Rasulullah. Tiada ucapan paling berani dan mengharukan selain bertaruh menaruh cinta kepada orang-orang yang belum sempat dikenalnya.

Shalawat kepadamu wahai junjunganku.

13 Desember 2016

Keberanian Seorang Penulis dan Semua Cara Boleh

Menulis hakikatnya tindakan revolusioner. Maksudnya, peralihan dari ide menjadi karya tulis merupakan peristiwa dahsyat. Itu sebabnya, tak banyak yang berani menulis. Banyak yang tidak mampu menanggung peristiwa dahsyat tersebut. Makanya tidak sedikit memilih hanya berkata-kata. Atau bahkan diam.

Karena menulis tindakan revolusioner, hanya orang-orang berani yang melakukannya. Kenapa demikian? Karena memilih menjadi penulis, berarti memilih menjadi pribadi yang soliter. Pribadi yang kerap sendiri.

Bagaimana itu dijelaskan? Pertama, era kiwari, bangsa kita sedikit melahirkan penulis-penulis. Jika disebutkan minat baca bangsa ini rendah, itu juga bermakna sedikitnya penulis-penulis bermunculan tiap generasi. Kedua, bangsa ini bukan bangsa yang ramah kepada penulis. Ketiga, coba cari orang-orang di sekitarmu, adakah dia seorang penulis? Atau rajin dan senang menulis?

Lantas bagaimanakah menjadi seorang pemberani? Menjadi seorang penulis?

***

Anda seorang mahasiswa. Mahasiswa memiliki beban historis. Sejarah mahasiwa, sejauh dipahami dalam konteks kemerdekaan, berkaitan langsung dengan tulis-menulis. Dengan cara itu, sejarah Indonesia dibentuk. Gagasan-gagasan disemai. Bahkan melalui tulisan, bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya.

Sekarang, Anda sudah merdeka. Yang tinggal hanya sebilah tongkat estafet perjuangan pahlawan-pahlawan. Senjata Anda bukan bambu runcing, juga senjata api berpopor kayu. Anda punya pena dan kertas, bahkan alat canggih berupa laptop. Itulah senjata Anda. Melawan siapa? Melawan diri Anda. Beranikah Anda menulis?

Pertama-tama, Anda seorang pemberani karena memilih menjadi mahasiswa. Otomatis keberanian sudah Anda punyai. Itu modal utama Anda. Sekarang apa yang mesti dilakukan?

Banyak penulis memulai dirinya menjadi seorang pembaca. Ini hukum pasti. Bahkan di antaranya menjadikan ini kebutuhan. Sulit rasanya mau menulis jika tidak disokong tradisi membaca. Penulis handal pasti seorang pembaca tulen.

Kedua, perluas aktivitas Anda. Seorang penulis kadang seorang yang menyukai pertukaran pemikiran. Ini seringkali ditemukan di dalam komunitas-komunitas. Kalau melihat sejarah pemuda-pemudi, banyak di antaranya ditopang organisasi-organisasi kemahasiswaan. Dari sana, ide-ide yang semula mengendap dalam kesadaran dapat ditransformasikan, didiskusikan, bahkan didebatkan.

Ketiga perbanyak latihan menulis. Hal ini berseiringan dengan daya jelajah bacaan Anda. Semakin banyak bacaan Anda, semakin banyak latihan dijadikan contoh. Menulis itu bukan bakat yang menentukan, justru latihanlah kuncinya.

***

Esai, opini, dan artikel, menurut saya bukan suatu hal yang penting dibedakan. Esensi tiga nama ini sama. Entah esai, opini, atau artikel, karya tulis yang memiliki bentuk yang sama. Jika hendak dibedakan, ketiganya berbeda akibat kadar keilmiahan di dalamnya.

Yang paling utama adalah bagaimana menulis tanpa kehilangan cara yang paling nyaman. Entah esai yang mengutamakan refleksi, opini yang mengutamakan pendapat pribadi, atau artikel yang mengedepankan analisis data-data, cara ketika dituliskan tergantung bagaimana Anda menyatakannya.

Ini berarti, cara menulis yang paling baik adalah cara Anda sendiri. Walaupun banyak di antaranya menulis adalah cara meniru gaya seseorang, tapi itu hanya berarti sementara.  Setiap penulis memang di awal membina karir memiliki patron tempat dia mengidentifikasi diri. Tapi, seiring perkembangan, dirinyalah yang menjadi patron itu sendiri.

Setiap penulis memiliki sidik jarinya masing-masing, kata Alwy Rachman, seorang scholar ilmu budaya. Artinya, tak ada yang menyerupainya. Melalui sidik jari itulah setiap penulis membangun kepribadiannya. Menemukan dirinya, dan akhirnya menetapkan cara dan gaya menulisnya. Itu juga berarti setiap penulis memiliki karakternya masing-masing.

Jadi jika ada pertanyaan bagaimana metode paling baik ketika menulis esai, atau opini, misalnya? Itu berarti bagaimana cara Anda mengenal diri pribadi. Melalui ilmu budaya mutakhir, yang disebut diri, aku, bukanlah entitas yang ajeg.

Aku-diri adalah identitas yang mempertautkan beragam pengalaman. Aku-diri, identitas yang dibentuk pertukaran gagasan, nilai, kebiasaan, dan tradisi. Aku-diri hakikatnya, identitas yang senantiasa berkembang. Identitas yang personal dan khas.

Sehingga metode apa yang paling baik ketika membangun karya tulis? Katakan, semua cara baik. Setiap orang memiliki caranya masing-masing. Sebagaimana identitas diri, gaya seorang menulis mengikuti keunikan seseorang. Jadi jika ada cara menulis paling baik, maka katakan, “cara saya yang terbaik.”

Satu-satunya cara menulis hanya dengan melakukannya. Teori berlebihan kadang tidak berfaedah banyak. Akhirnya, pilihlah judulmu, mulailah dari sana. 


*Disampaiakan saat pelatihan menulis Pendidikan Sejarah UNM

11 Desember 2016

Catatan KLPI Pekan 40

Ini catatan KLPI ke-40. Bila mengikuti kalender kelas, Catatan KLPI sudah lebih dari 40 catatan. Tapi, kawan-kawan yang terlibat dari awal pasti tahu, Catatan KLPI baru dimulai ketika kelas sesi dua dibuka.

Ketika itu ada kebutuhan merekam perkembangan dinamika kelas dari tiap minggu. Selain mengambil catatan visual berupa foto-foto, segala hal penting yang terjadi dalam kelas mesti juga dibuatkan catatan reportasenya. Ke depan, yakin dan percaya, catatan semacam ini akan sangat berguna. Tentu sebagai alat ukur dan evaluasi.

Pekan 39 dimulai pukul tiga sore. Tidak seperti pertemuan sebelumnya yang membuka kelas lebih awal. Mengingat perkembangan kelas hanya dihadiri tidak lebih dari lima orang, akhirnya waktu yang digunakan tidak lebih banyak dari pertemuan biasanya.

Bahan kritik di titik ini, semakin sedikit waktu dibutuhkan ketika menjalankan kelas, itu berarti kualitas belajar juga semakin minim. Selain kuantitas, tidak tersedianya waktu berdampak terhadap tidak maksimalnya mekanisme kelas yang selama ini dilakukan.

Akhirnya, di pekan 40, kelas tidak menjalankan mekanisme belajar sebagaimana mestinya.
Akibat kawan-kawan tidak membawa karya tulis, pekan 39 hanya diisi beberapa pokok diskusi. Dengan diselingi obrolan ringan beragam topik mengemuka. Mulai dari kasus Ahok hingga perkembangan wacana dalam dunia maya.

Situasi di atas hakikatnya akibat berkurangnya kuantitas kawan-kawan yang selama ini ikut terlibat KLPI. Tidak dimungkiri, berkurangnya kuantitas mempengaruhi animo sebagian kawan-kawan mengikuti kelanjutan kelas tiap pekannya.

Selama ini kuantitas KLPI tidak menjadi soal yang penting. KLPI tidak mendasarkan perkembangannya kepada kuantitas. Dan itu yang terjadi selama ini. Sampai detik ini, KLPI masih terus berjalan walaupun hanya dihadiri segelintir orang. Tiap pekannya.

Namun, ketika suasana itu berlarut-larut, mesti ada yang mengajukan pertanyaan. Kenapa suasana ini dapat terjadi? Apa sebabnya?

Apabila ditelisik, situasi KLPI mengalami apa yang disebutkan dalam ilmu psikologi sebagai titik jenuh. Titik jenuh situasi ketika suatu rangkaian proses telah melewati tahap produktif. Andaikan air panas, titik jenuh, keadaan air pasca titik didih.

Titik jenuh terjadi akibat hilangnya motivasi dan konsolidasi. Imbasnya, orang yang mengalami titik jenuh merasa tidak ada ikatan terhadap aktivitas yang sering dilakukan.

Gejala ini disebabkan seseorang mengalami gangguan konsentrasi dibanding keadaan sebelumnya. Hilangnya konsentrasi berimbas seseorang kehilangan titik fokus.

KLPI bisa dibilang kelas menulis yang tidak pernah libur. Di tiap pekan KLPI terus berjalan. Andaikan kendaraan bermotor, KLPI tidak pernah berhenti melintasi jalan raya. Tanpa henti kecuali itu dibutuhkan.

Kemungkinan besar, situasi demikianlah menyebabkan KLPI mengalami titik jenuh. Berjalan terus menerus tanpa mengalami peningkatan. Hingga akhirnya kehilangan motivasi.

Tapi, seperti juga dikatakan ilmu psikologi, titik jenuh hanya bersifat sementara. Bahkan titik jenuh bagian alamiah dari suatu proses.

09 Desember 2016

Menggeledah Motif-Motif Berpikir Masyarakat Sibernetik

Berpikir, harkat manusia. Itulah sebab, berpikir menandai keunikan manusia. Tiada yang menyerupainya.

Itulah juga, manusia diyakini mahluk bermartabat. Berpikir membuat harkat tegak. Bekerja meneruskan ide-idenya, manusia bermartabat.

Tiada zaman seperti sekarang menempatkan harkat manusia serendah-rendahnya: era sibernetik. Selain kemajuan pencapaian kebudayaan manusia, secara paradoks, zaman sibernetik, diam-diam mensituasikan cara berpikir manusia menjadi lebih dramatik.

Bagaimana itu mungkin? Pertama, era sibernetik menengarai dan menopang perubahan konfigurasi interaksi manusia. Kedua, mutakhir, era sibernetik mau tidak mau membuat jalinan komunikasi semakin kompleks dan sulit diantisipasi.

Ketiga, imbasnya, motivasi berpikir ikut berubah seiring pertukaran informasi dari beragam budaya dan kebiasaan. Keempat, peralihan dunia nyata secara virtual, mengubah antara “yang nyata” dan “yang semu” tak dapat lagi dibedakan secara esensil.

Akhirnya, belum pernah ada kekacauan begitu massif seperti sekarang. Ketika teknologi informasi bergerak mengambil alih “otonomi” manusia. Kekacauan ini, sekaligus membuat cara pandang baru apakah kebebasan manusia dimungkinkan di tengah kepungan teknologi informasi.

Martabat manusia semakin kritis akibat syaraf sensorik dan motorik menjadi lumpuh. Kelumpuhan ini bersamaan “mesin-mesin” canggih melucuti medan kerja manusia di banyak bidang.

Misalnya, dari era mesin uap, hingga kiwari, teknologi komputasi mesin-mesin robotik,  pelan-pelan mengubah kemampuan gerak otak dan otot manusia menjadi tidak berfaedah. Otot dan otak, tak mampu berkembang alamiah sebagaimana alam menyediakannya.

Atas asumsi ini, satu dua pernyataan kritis bisa diajukan: bagaimanakah kemampuan berpikir manusia di era sibernetik? Apakah cara berpikir di era sibernetik masih mewakili motif-motif manusiawi ketika kemudahan segala informasi dimungkinkan? Lantas, bagaimanakah kebebasan di era sibernetik, terutama dalam dunia virtual, dengan asumsi tiada kebebasan tanpa otonomi manusia?

***

Perkembangan informasi seharusnya turut meningkatkan kemampuan analisis masyarakat. Secara kebudayaan, di samping kemajuan kemampuan literatif, semakin banyak mencerna informasi dengan sendirinya mengembangkan cara berpikir masyarakat menjadi terbuka. Kalaupun itu tidak dimungkinkan, perlu diimbangi proses edukasi bertahap seiring semakin majunya cara masyarakat mendapatkan informasi.

Tapi secara kontradiktif, informasi yang dikonsumsi tanpa melibatkan pertimbangan-pertimbangan kritis, di era keterbukaan cyberspace tidak sedikit pun memberikan ruang kontemplatif di dalamnya. Semakin banyaknya lintasan informasi, mengakibatkan ambivalensi manusia yang tidak mampu menemukan relasi makna terhadapnya.

Sisi lain, ketidakmampuan menelaah kompleksitas informasi, malah menghadirkan keinginan menggebu-gebu menjadi agen perubahan. Caranya, menyebar informasi nonkebenaran sebagai wacana keyakinan mayoritas. Jika sudah demikian, hasrat berbagi informasi, diyakini paralel bagian dari tanggung jawab sosial.

Itu imbas sifat keterbukaan dunia virtual, mengakibatkan orang-orang menjadi subjek sekaligus objek informasi. Sebagai subjek, orang-orang mampu mereproduksi kepentingannya melalui sebaran informasi. Sebagai objek, informasi yang banyak beredar membuat masyarakat kehilangan prinsip-prinsip otonominya.

Jean Baudrillard menyatakan keberlimpahan arus informasi yang mendikte masyarakat ke tingkat ekstrim bisa sampai mengalami implosif. Implosif, mengandaikan sifat ledakan yang mengarah ke dalam suatu pusat. Berbeda dari eksplosif, arah ledakan ke dalam, bukan merusak apa saja di luarnya, melainkan masuk merusak tatanan pusat yang terbentuk sebelumnya.

Berdasarkan analisis Baudrillard, tekanan arus informasi, tidak mampu diantisipasi dan dikelola, akan berdampak kritis terhadap kesadaran.  Menumpuknya informasi berdampak ledakan implosif di dalam kesadaran. Kepungan informasi dan minimnya kemampuan mendaur ulang informasi, sebab utama ledakan implosif terjadi.

Di tahap ini, kesadaran bukan lagi entitas utuh yang mampu  membangun reflektifitas terhadap informasi. Juga, kesadaran kehilangan daya pikirnya, sehingga secara psikis, diambil alih sisi emosional yang guyah. Hilangnya terang kesadaran, meluasnya emosionalitas sampai menyasar aspek-aspek kognitif, bagi kemampuan berpikir, berdampak hilangnya otonomi kesadaran itu sendiri.


Proses deotonomisasi kesadaran akibat kepungan informasi, otomatis menggiring masyarakat kepada cara berpikir dangkal, semu. Baudrillard mendenotasikan ini sebagai kesadaran yang dibentuk dan diambil alih simulakrum, kesadaran yang bergerak atas makna artifisial dunia maya.

Pengertian simulakrum, yang dibentuk cyberspace, adalah duplikasi kenyataan dunia virtual atas permainan canggih simbol-simbol. Simulakrum, dengan kata lain, dunia fana virtual yang mengambil alih kenyataan dunia ril.

Kaitan kemampuan berpikir masyarakat sibernetik, duplikasi simbol-simbol dan kecanggihan logika algoritma, membuat manusia terdehumanisasi. Kemampuan berpikir manusia menjadi lemah. Kerja-kerja analitik, eksplanatif, deskripsi, kritis, akhirnya hanyalah pengandaian saat menggunakan mesin-mesin cyber canggih dan mutakhir. Toh jika ada, kemampuan berpikir mandiri, sudah diwakili mesin canggih berkat kemampuan artifisial inteligennya.

Syahdan, berkat dahsyatnya centang perenang beragam informasi, berpikir bukan lagi usaha primer manusia. Alasannya sungguh sederhana: tiada yang bisa dipikirkan lagi. Semuanya telah tersedia di dalam jaringan informasi sibernetik.

***

Berpikir sepanjang kerja manusiawi, tidak bisa dielakkan usaha yang netral. Sejauh berdasarkan hukum-hukum logis-objektif, berpikir akan mewakili fungsi-fungsi rasionalnya. Dengan kerja demikian, berpikir dikatakan media manusia mengafirmasi kebenaran.

Namun di era sibernetik, masyarakat bukan kesatuan konvensional. Era masyarakat terbuka, beragam informasi membuat masyarakat mudah mengkonfigurasikan diri melalui isi dan jenis informasi. Masyarakat tidak permanen berhubungan lagi atas suku, ras, agama, atau bahkan kekuatan-kekuatan pemersatu seperti diyakini selama ini.

Akibat beragam jenis informasi, keutuhan masyarakat ditentukan sejauh tingkat pemahaman dan penarikan kesimpulan kebenaran suatu informasi. Juga, perbedaan informasi, ikut menentukan karakter keberagaman dan selera masing-masing kelompok masyarakat.

Itulah sebabnya, informasi di era sibernetik tidak sekadar kabar yang memenuhi ruang publik masyarakat. Melainkan menjadi wacana yang terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Bahkan, sebagai kekuatan sosial baru, arus besar informasi sehari-hari, bisa menjadi kekuatan konsensus atau sebaliknya, mampu memicu pembelahan masyarakat.

Contoh paling terang kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Media informasi masif digunakan golongan tertentu memicu integritas secara spontanik. Walaupun informasi memintasi lini masa tanpa ada keakuratan dan kebenaran, yang juga tidak melibatkan fungsi kontrol, akhirnya menjadi sarana pemersatu kepentingan berbeda.

Sebaliknya, informasi yang sama menjadi kekuatan pemecah tanpa disertai konfirmasi kritis terhadap wacana yang berkembang.

Dari kasus di atas, setidaknya ada tiga pembacaan kritis bisa diajukan. Pertama, berita-berita tersebar masif melalui dunia maya, mampu mengkonsolidasikan beragam kepentingan berbeda melalui justifikasi-justifikasi teologis. Akibatnya, perbedaan selama ini menganga atas dasar pilihan politik, ekonomi, kebudayaan, maupun gender, menjadi lebur di bawah seruan-seruan bernada sentimen agama.

Ini mengindikasikan, perkembangan berita atau informasi (baca: kebenaran), tidak dikelola hanya berdasarkan cara kerja berpikir objektif atas fakta verifikatif belaka. Di kasus Ahok, anehnya, penarikan kesimpulan sudah didahului justifikasi-justifikasi motif kepentingan tertentu. Selain itu, sentimen agama, justru menjadi anasir kepentingan yang mengaburkan kecemerlangan berpikir.

Kedua, atas dasar kebutuhan integritas, justifikasi teologis melucuti aktivitas berpikir sebagai jalur kekuasaan. Memanfaatkan rasa sentimentalisme sempit, berpikir dalam arena kekuasaan dilakukan demi tujuan politis. Jelas sekali, berpikir rasional senantiasa mengedepankan dimensi etik, sebaliknya justru dikendalikan kekuatan politik agama di bawah rejim kekuatan massa. 

Ketiga, berpikir dalam tatanan relasi benar-salah, merupakan dorongan tersembunyi imperatif moral tertentu. Pengajuan yang dibilangkan Nietzsche, setiap pengetahuan didasarkan motif tertentu, merupakan sarana memahami bahwa tidak semua aktivitas berpikir murni didorong hasrat rasional.

Bagi Nietzsche, semua usaha rasional manusia mencari kebenaran tidak serta merta berkat dorongan kebenaran semata. Lebih sublim dari itu, dorongan berpikir manusia ternyata digerakkan motif moral: keengganan dikatakan salah.

Artinya, ini bukan soal apakah benar adalah benar, salah adalah salah. Tapi, keinginan untuk menjadi absolut. Tanpa cacat. Hasrat terpendam manusia mau menjadi kebenaran mutlak itu sendiri.

Keinginan menjadi absolut inilah yang menjadi motif utama manusia berpikir. Kebenaran yang “letaknya” di luar kesadaran manusia hanyalah faktor kedua. Imbasnya, secara moral, dorongan absolutisme ini menolak  segala cacat kesalahan yang sebenarnya bagian sifatnya manusiawi.

Jika diamati, sebagai analogi, mengapa orang reaksioner dan konservatif, misalnya, sulit mendialogkan kebenaran? Jawabannya bukan dalam kaitan kesadaran benar-salah, bukan dalam makna mencari kebenaran, tapi mereka enggan dikatakan salah. Ini bukan urusan rasional semata. Kata Nietzsche, itu persoalan “ingin-tidak ingin.” Moral .

Dalam konteks demikian, berpikir bukan serta merta usaha rasional melibatkan hukum-hukum logis semata. Berpikir tidak sekadar mencari terang antara persilangan kebenaran (truth) dan opini (doxa). Sejauh ditempatkan dalam hubungan-hubungan ril masyarakat, berpikir menjadi pekerjaan yang berpihak pada motivasi tertentu. 

Itu artinya, di era keterbukaan informasi, berpikir tidak sekadar usaha fitrawi manusia demi mencapai kebenaran, tapi juga sebagai konsekuensi langsung dari motif-motif tersembunyi  yang menjadi dasar terdalamnya.

***

Melalui ilmu psikologi, motif (latin: movere) dimengerti sebagai penggerak atau kekuatan pendorong organisme. Bahkan motif, tidak saja kekuatan inheren dalam suatu organisme. Bagi manusia, di dalam masyarakat, motif sering dipengaruhi faktor dari luar dirinya.

Dua jenis motif secara umum dalam ilmu psikologi: Pertama, motif fisiologis. Dorongan ini berkaitan dengan cara manusia mempertahankan eksistensi biologisnya. Tubuh biologis manusia senantiasa mendorong untuk makan, minum, dorongan seksual, ataupun dorongan untuk menghirup udara segar. 

Tubuh manusia mau tidak mau secara alami mencari keperluan menutupi “cela” kekosongan dirinya. Dorongan fisiologis bersifat internal dan mendesak berkat tubuh membutuhkan energi. Karena itulah motif ini juga disebut motif primer, atau motif dasar manusia.

Kedua motif sosial. Motif ini terjadi akibat interaksi di masyarakat. Artinya, motif sosial ditentukan dari seperti apa hubungan-hubungan di dalam masyarakat itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan tulisan ini, motif sosial dibagi menjadi empat.

Pertama, motif kekuasaan. Kekuasaan sejauh melibatkan kesadaran dalam hubungan masyarakat, tidak akan menghasilkan ekses negatif. Misalnya, kesadaran hubungan seorang hamba terhadap Tuhan yang Mahasegala. 

Namun,dalam relasi masyarakat, dua kekuatan sering mengalami kekuasaan secara hirarkis. Dan, akibat bersifat hirarkis, kekuasaan meniscayakan suatu hubungan dominatif.  Di saat demikianlah, kaitannya dengan berpikir, tidak semua pengetahuan murni tanpa tercemari kekuasaan.

Kedua, motif dominasi. Keadaan dominatif, melibatkan kekuasaan di dalamnya. Dominasi seseorang seringkali berarti akibat pengaruh kewenangan. Kewenangan berbasis kekuasaan, secara imperatif menyingkirkan peluang-peluang yang disinyalir dapat mengubah kekuatan dominatif sebelumnya.

Motif dominasi acapkali berlangsung  ketika dua kepentingan menjalin interaksi. Bahkan, motif dominatif sering terjadi akibat kekuatan minoritas yang ditekan dan dilemahkan.

Tujuan akhir situasi dominatif tidak serta sekadar menekan pihak minoritas. Keadaan mendominasi acap terjadi untuk mengintrodusir nilai-nilai tertentu. Kadang juga, selain memaksakan tujuan tertentu, yakni menghendaki suasana menjadi stabil, status quo.

Ketiga, motif agresi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresi, perasaan marah atau tindakan kasar akibat kegagalan atau kekecewaan dari tujuan. Secara antropologik, agresi berarti perbuatan bermusuhan berupa penyerangan fisik ataupun psikis terhadap pihak lain.

Motif agresi benderang jika ada pihak menyerang pihak lain akibat kegagalan atau perasaan kecewa saat kalah bersaing.  Agresi muncul imbas terhambatnya tujuan yang diharapkan.

Motif agresi terjadi ketika sikap rendah diri begitu kuat mengikat pelaku. Pelaku agresi, dari skala luas, ikur berlaku dalam relasi bangsa-bangsa. Banyak bangsa bertindak agresif bukan karena memiliki kekuatan. Dari aspek psikososial, bangsa agresor tiada lain bangsa yang rendah diri.

Apabila meneropong relasi agresor dan korban agresi, motif agresi malah menjadi cara menutupi kekerdilan diri pelaku. Itulah sebabnya, dalam politik, misalnya, agresi marak terjadi. Bahkan agresi dianggap strategi politik. Itu berarti, banyak pihak yang kalah bersaing.

Keempat, motif ekshibisi (pamer). Motif ini sinonim narsisme. Yakni harapan tindakan diri menjadi pusat perhatian. Dengan menonjol-nonjolkan diri, motif ekshibisi dalam arti tertentu, usaha seseorang untuk mendapatkan pencitraan khalayak umum.

Pepatah “tong kosong, nyaring bunyinya” dalam arti lain, pencitraan tanpa mengikutkan prestasi. Sering kali mengedepankan eksistensi diri walaupun tidak memiliki makna apa-apa.

Dunia virtual, dunia narsisme. Banyak bersuara tanpa melibatkan makna. Banyak menonjolkan diri tanpa pernah berprestasi.

***

Hakikat berpikir sebenarnya peristiwa cerlang, anugerah manusia. Tanpa berpikir, manusia jauh dari kesejatian: kebenaran.

Sudah dikatakan sebelumnya, aktivitas berpikir tidak bisa keluar dari hubungan ril masyarakat. Itulah mengapa, berpikir bukan lagi sekadar pemuas fitrah rasa ingin tahu. Kiwari, berpikir sudah menjadi pelayan langsung kepentingan tertentu.

Jika meminjam analisis Frankfurt Schooll tentang relasi rasio instrumental dan tujuan-tujuan ekonomisnya, berpikir di era sibernetik, terutama dalam dunia virtual, menjadi aktivitas motif-motif tersembunyi memanfaatkan arus perkembangan informasi dan komunikasi.

Era virtual, mengedepankan pencitraan dari pada isi, adalah kemajuan yang dikepung hiperrealitas di mana-mana. Pendapat ini tidak berlebihan, dikatakan hampir setiap waktu, realitas ril dicetak dan dibentuk di dalam screen smartphone.  Berdasarkan cara kerja dunia virtual, dunia ril mengalami defisit pemaknaan dibanding simulakra dunia maya.

Seperti dijelaskan sebelumnya, simulakra (simulakrum), yang dibilangkan Jean Baudrillard, dunia simbolik yang membalikkan kenyataan melalui pencitraan dunia maya. Simulakrum memiliki kemampuan memalsukan kenyataan dengan membuat kenyataan baru. Melaui permainan penandaan, dunia baru yang diciptakan simukakrum jauh lebih kompleks dan bersifat imajinatif.

Kemampuan simulakrum, juga mampu mengambil alih kenyataan dalam kesadaran. Simulakrum berupa dunia tiruan, mengintodusir imajinasi simbolik dunia virtual dalam kesadaran. Melalui cara pembalikkan kesadaran memahami dunia virtual, simulakrum mengambil alih realitas.

Diambil alihnya realitas ril menjadi realitas virtual tidak sendirinya menghalangi motif-motif  manusia untuk terus eksis. Malah motif-motif manusia mengalami peralihan dengan cara kerja yang lebih berbahaya ketika berada dalam dunia virtual.

Melalui konteks berpikir adalah representasi motif-motif tersembunyi, eksistensi “diri” dalam dunia virtual mampu menjadi diri yang lain. Diri virtual, berbeda dari diri dunia ril. Diri dunia ril, eksistensi yang diikat hukum realitas. Eksistensi nyata dalam realitas material-sosiologis.

Diri virtual merupakan representasi diri ril berupa profil akun dunia virtual. Diri virtual bukan saja representasi diri ril, namun mampu mengubah sejumlah data diri berdasarkan motif tertentu. Berbeda, diri virtual dibentuk oleh sejumlah bit sebagai satuan “atomiknya”. Dengan sejumlah bit inilah diri virtual “hidup” dalam dunia virtual.

Artinya, peralihan diri ril menjadi diri virtual hanyalah perubahan modus eksistensi. Bahkan, peralihan ini mampu mengkalilipatduakan diri virtual menjadi entitas tak terbatas.

Seperti yang dibilangkan Turkle dalam Hikmat Budiman (Kekuasaan dan Kebebasan dalam Cyberspace), identitas dalam jaringan cyberspace telah menghancurkan identitas sebagai kesatuan tunggal yang terikat fisik biologis. Identitas diri virtual dunia maya, entitas multifaset, protean, karena seseorang mampu berganti identitas sesuka hati.

Hukum-hukum hampir luput dari diri virtual. Akibatnya, kebebasan diri dunia virtual, membuatnya mampu berbuat apa saja. Selama itu dilakukan di balik citra simbolik, tindakan diri virtual menjadi identitas yang sulit diantisipasi pertanggungjawabannya.

Para hacker, sebagai contoh, salah satu figur yang digerakkan motif  tertentu, terkadang memiliki agenda terselubung merusak sistem ketahanan suatu base informasi. Tanpa identitas terikat tubuh biologis, para hacker memperantai motifnya melalui diri virtual.

Media sosial, contoh mutakhir betapa motif-motif agresi, misalnya, begitu gampang bekerja di balik identitas maya. Tindakan kekerasan simbolik begitu gampang terjadi dengan menyudutkan pihak lain. Melalui meme, quote, maupun video, sarana yang kerap dipakai dalam menyalurkan hasrat agresi.

Memanfaatkan kemudahan dunia virtual, motif agresi mudah memakan korban akibat sifatnya yang gampang dilipatduakan. Di permukaan, motif agresi hanya bisa dikenali dari isi pesan yang banyak menggunakan simbol-simbol pelecehan dan diskriminatif.

Yang paling eskalatif, cara berpikir masyarakat diselubungi motif politik secara diam-diam. Melalui berita-berita bernada rasis dan sentimentil, misalnya, cara berpikir objektif menjadi sulit bekerja. Malangnya, ini begitu masif terjadi. Akibatnya, sulit membedakan kebenaran atas rasionalitas, atau hanya sentimentalisme berupa doxa.

Dalam konteks ini, informasi yang beredar hanya menyampaikan “separuh” realitas dari apa yang sebenarnya terjadi. Kebenaran yang diselingi motif politik hanyalah kebenaran yang sudah dipermak berdasarkan kepentingan itu sendiri. 

Motif politik dapat diidentifikasi sejauh berkaitan dengan kekuasaan. Kasus Ahok misalnya, sangat mudah menggeledah motif politik dari cara berpikir yang diwakilkan dari sebaran informasi selama ini.

Dunia virtual juga mampu menggandakan kekuasaan. Kekuasaan dunia virtual ditandai berapa banyak netizen menduplikasi informasi. Semakin luas peredaran satu informasi, luas pula daya jangkau kekuasaan itu sendiri.

Di waktu bersamaan, kekuasaan dalam dunia virtual, seperti narasi Hikmat Budiman (Kekuasaan dan Kebebasan dalam Cyberspace) juga menciptakan ruangnya sendiri dan menetapkan segmentasi, hirarki, dan keterbukaan. Tidak saja itu, kekuasaan dalam dunia virtual, kontradiktif, menciptakan pula kekuasaan tandingan atas kekuasaan lainnya.

Keterbukaan dunia virtual bukan saja menghilangkan sentralisasi dan hirarki, juga menciptakan keadaan dalam terminologi Foucault sebagai teknologi kekuasaan. Teknologi kekuasaan, arti lain, masifnya kekuasaan yang menyebar tanpa batas dan tingkatan berkat dukungan teknologi.

Anehnya, pergerakan kekuasan ini tidak dikontrol berdasarkan prinsip satu pusat. Memanfaatkan sifat eskalatif dunia virtual, kekuasaan dalam dunia virtual bahkan lebih mirip realitas chaotik.

Realitas chaotik dengan sendirinya menyediakan medan tanpa nalar, tanpa keberaturan, tanpa tatanan. Mirip lintasan serba cepat dan ultrakompleks, sulit menegakkan cara berpikir objektif di dalamnya. Saat demikianlah, motif dominatif gampang bekerja. Tanpa ada rambu-rambu, suatu kepentingan dominasi justru mudah bersikap hegemonik.

Motif lain yang bekerja massif di balik diri virtual, adalah motif eksibisi atau narsisme. Realitas virtual tanpa batas menjadi medan narsisme begitu jamak ditemukan. Bahkan kiwari, bagi ilmuwan sosial, narsisme sudah menjadi epidemi modern. Hakikat narsisme merupakan cara seseorang menutupi rasa rendah diri dengan kebesaran semu. Di balik simbol kebesaran-kebesaran nisbi, diri virtual hanya menemukan kekosongan melalui narsisme.

Sigmund Freud menyatakan hakikat narsisme sejatinya merupakan sarana pemuasan libido. Imbas hambatan perkembangan jiwa, narsisme akan berujung kepada sifat megalomaniak.

Dari aspek moral, kebebasan manusia, tidak dimungkinkan sejauh kesadaran manusia banyak diintimidasi kepungan informasi. Eksistensi diri virtual hanyalah subjek kondisional  yang nisbi. Jika melalui identitas maya, kebebasan itu dikatakan kemampuan melewati batas-batas virtual, maka itu sesungguhnya hanyalah kebebasan semu oleh akibat hidup di dalam dunia maya.

Akhirnya, era sibernetik hanya menyisakan kemungkinan kecil berpikir secara bebas dan otonom. Di balik berkembangnya “otak” canggih mesin-mesin informasi komunikasi, dan luasnya jagad informasi, kesadaran manusia mengalami penyusutan. Ini imbas kesadaran di balik informasi dunia virtual, tidak mampu melakukan refleksi kritis demi membangun pemahaman yang memadai.

Kebebasan dengan kata lain, dalam dunia virtual, hanyalah pengandaian semu akibat nisbinya otonomi kesadaran. Kesadaran yang berarti mampu mengalami dan mengelola informasi, mengandaikan kehendak bebas memilih di antara beragam pilihan di dalamnya.

Dan yang patut dikhawatirkan, cara berpikir masyarakat sibernetik senantiasa terancam motif-motif tersembunyi yang merangsek kemandirian berpikir manusia. Berpikir dalam situasi yang terancam, dengan mudah kehilangan fungsi rasionalnya. Imbasnya, kesadaran hanya menjadi medan yang diambil alih segi emosionalitas.

Dari semua itu, kita tidak ingin masyarakat yang dilimpahi beragam informasi, hanya mampu menduplikasi pengetahun tanpa bisa mereproduksinya kembali. Akibat ledakan implosif  yang membuat kesadaran yang tercerabut bahkan hancur berkeping-keping. Ujung dari semua itu, manuasia hanya menjadi objek kosong tanpa makna dari beragam informasi.

Sehingga patut disayangkan, di balik motif berpikir masyarakat sibernetik, orang-orang mencari dan mengelola informasi tanpa melibatkan dasar kebutuhan di dalamnya. Ini semua akibat hilangnya relasi kebermaknaan dari beragam komoditi informasi yang beredar. 

07 Desember 2016

Kampus Tubuh yang Gemuk dan Sebagian Polemik di Dalamnya

Kadang saya merasa kampus sulit membaca denyut intelektual mahasiswa. Yang ada, kampus lebih peka menyemai kepatuhan. Membuat mahasiswa menjadi objek pasif.

Imbasnya, kampus ibarat kerangkeng besi. Aktifitas belajar hanya bagian dari apa yang sering disebut transaksi ekonomi. Bahkan, kebanyakan menyerupai relasi politik. Tidak imbang. Hirarkis.

Ketika di satu sisi kampus diyakini tempat kecendekiawanan, malah "menara gading," predikat pesimistik yang identik dengan ketinggian itu, makin menguat menjadi sifat yang sulit lepas dari dirinya.

Kampus ibarat tubuh gemuk yang khawatir dirinya sulit bergerak, tapi jiwanya sudah lama mati.

Banyak kampus membenahi dirinya. Merenovasi kembali gedung, mempercantik taman, memperluas lahan parkir. Tapi, jarang ada yang mau memperbaiki atmosfernya. Sesuatu yang menyangkut suasana belajar-mengajar.

Itulah sebab, belajar di kampus hanya seperti seorang pegawai negeri yang menjalani rutinitas pekerjaannya. Masuk dalam kelas hanya memenuhi kewajiban. Bukan karena passion ilmu pengetahuan.

Malang ketika itu dianggap keadaan yang normal. Padahal, jika mau berpikir saja sedikit, tidak ada normalitas dalam kampus.

Kampus harus menjadi kawasan berpolemik. Pro dan kontra gagasan. Tentu itu dengan cara demokratis. Diatur dan dilaksanakan dalam arti mengakui hak-hak menyatakan pendapat.

Namun, tidak semua dapat diputuskan demikian. Dosen, orang yang harus menjadi rekan mahasiswa, malah menjadi momok intimidatif. Tidak ada gagasan yang harus didiskusikan. Pokoknya, apa yang dikonfirmasi teks book, itulah kebenarannya.

Tidak semua dosen demikian intimidatif. Apalagi hegemonik. Banyak dosen yang memiliki minat membangun dialog berkelanjutan dengan mahasiswa. Yang prihatin dengan lingkungan kerjanya. Tapi, semua itu harus dikompromikan kembali dengan masa depannya sendiri di dalam kampus.

Akhirnya, ketika ada mahasiswa yang memiliki minat berlebih, menjadi sia-sia. Lembaga kemahasiswaan yang sudah mirip event organizer itu, malah mandul menjemput bakat-bakat kecendekiawanan.

Itulah sebabnya sebagian banyak komunitas alternatif mengambil inisiatif. Mereproduksi kemandegkan kecendekiawanan kampus. Membuat kelas-kelasnya sendiri. Menjadi pengajar dan belajar mandiri.

Dari cara itu, mahasiswa berbasis komunitas mendewasakan diri. Mengasah otaknya. Membuat diri menjadi makin bijaksana.

Sembari mereka tumbuh menjadi mahasiswa kritis, kampus menganggap itu adalah dosa. Perbuatan yang haram dilakukan.

Makanya kecerdasan yang lahir dari komunitas tidak dianggap berpendidikan. Hanya karena tidak sesuai aturan main akademik kampus. Tapi apalah arti sekolah tanpa batas, gali ilmu sampai liang lahat.

Saya kira denyut itu yang harus ditangkap kampus saat ini. Sebagaimana komunitas kreatif mengenali perkembangan kebutuhan mahasiswa di lapangan. Bukan menjadi dalam arti birokratis, jajaran yang mengandaikan jarak dengan mahasiswa.

03 Desember 2016

Catatan KLPI Pekan 39

Kelas menulis KLPI tidak seperti biasanya. Lenggang. Tapi, itu bagian dari rutinitasnya selama ini. Kadang kelas banyak kedatangan kawan-kawan, juga seringkali seperti pekan kemarin, sepi.

Bagi kawan-kawan, kondisi demikian sudah biasa. Yang berbahaya jika KLPI berhenti. Apabila KLPI berhenti, itu artinya dua hal: pertama, tujuan KLPI sudah terealisasi. Kedua, jika menulis dilarang pemerintah.

Yang pertama, barangkali keadaan yang masih jauh, bahkan utopis. Mau mengharapkan semua orang menjadi penulis. Mau mengharapkan semua orang sadar literasi. Kesannya muluk belaka. Tapi, bukankah semua tujuan harus muluk-muluk. Optimis.

Pilihan yang kedua, bukan tidak mungkin bakal terjadi. Bukankah selama ini pemerintah sering kalap jika ada warganya lapakan buku. Menggusur dengan dalih mengganggu keindahan kota.

Di Makassar, ada namanya Pasar Minggu; komunitas yang terdiri dari anak-anak muda kreatif. Berasal dari beragam kelompok dan kecenderungan, tiap pekan berkumpul berdiskusi, menjual buku, membuat handycraff, berpuisi, dsb. Tapi, belakangan mereka digusur satpol PP. Sudah pasti dengan alasan yang sama.

Di kampus UNM, beberapa lapakan buku mahasiswa dilarang beraktivitas. Informasi yang diterima, jualan dan diskusi buku itu tidak memiliki ijin. Sungguh tidak masuk akal. Aktivitas intelektual macam lapakan buku dilarang. Besok-besok ketika membawa buku di dalam kampus bisa jadi dirazia.

Jika mengamati media sosial belakangan, banyak peristiwa serupa terjadi di berbagai daerah. Ini kalau dibenarkan, secara kultural, bangsa ini akan kehilangan generasi emasnya. Secara pendidikan, tidak ada sumber daya memadai. Lima sampai sepuluh tahun ke depan, misalnya, menulis dan membaca buku, menjadi pemandangan yang aneh.

Tapi, kemungkinan kecil bakal terjadi. Tiada bangsa yang mau mengerdilkan dirinya sendiri. semua bangsa pasti ingin penduduknya maju. Dapat bersaing di kancah dunia. Termasuk Indonesia.

Itulah sebabnya, KLPI mau ambil bagian. Membuat Indonesia menjadi bangsa besar. Bangsa yang diperhitungkan, tentunya.

Pekan kemarin, sebelum kelas dimulai, sudah ada diskusi panjang menyampir banyak soal. Pertama-tama, Syarif menunjukkan puisi Danarto yang “hanya” berupa kotak panjang berjumlah tiga segi empat. Dari penjelasan buku yang dibawanya, puisi Danarto disebut puisi akibat susunan segiempat itu juga bermakna. Alasannya, jika puisi adalah juga simbol-simbol bermakna yang dibuat penyairnya, itu berarti “kotak-kotak” buatan Danarto juga pantas disebut syair.

Tapi, apakah kotak-kotak bersusun itu memang memiliki makna? Jika ada, lantas apakah maknanya? Yang pasti, puisi “kotak” yang dibuat Danarto itu memicu pertanyaan apakah puisi itu sebenarnya? Apakah puisi harus diwujudkan dalam bentuk syair, kata-kata? Jika iya, lantas bagaimanakah puisi Danarto itu? Setidaknya, puisi “kotak” Danarto menjadi jalan kembali mempertanyakan pengertian dasar soal puisi.

Diskusi juga menyampir kecenderungan esai berbasis travelling. Omongan ini akibat beberapa kawan-kawan Mapala Syarif, ingin mendokumentasikan catatan perjalanannya berupa esai. Syarif bilang, di Seram, banyak memiliki situs budaya yang melimpah. Sejarah kerajaan-kerajaan Tidore dan kerajaan di sekitarnya. Kebiasan-kebiasaan bergama masyarakat setempat. Perkampungan-perkampungan yang banyak menyimpan mitos-mitos asing. Dan juga, cerita-cerita rakyat seputar Pattimura dan rempah-rempah dari tanah adat istiadatnya.

Apa yang disebutkan Syarif banyak memberikan data-data awal jika mau menulis esai berbasis pengalaman perjalanan. Apalagi, dari tanah kelahiran Syarif, banyak hal yang ingin diketahui khalayak. Ini modal besar seperti yang banyak ditulis bloger-bloger traveling. Intinya, esai hasil pengalaman perjalan seseorang, layak dibaca khalayak akibat banyak menyimpan kisah-kisah unik.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...