17 Februari 2016

Bukan Pahlawan

Di halaman terakhir, Tempo Makassar (Rabu, 17 Februari) menurunkan berita olahraga; Konsistensi Ronaldo. Tak terlalu panjang, dituliskan di situ, Ronaldo disebut konsisten membobol jala gawang lawan. Di tulis sejak dipimpin Zizou, nama kecil Zinedine Zidane, pemain berambut klimis ini selalu mencetak lebih dari satu gol.

Ronaldo punya catatan enam pertandingan terakhir sejak diasuh Zidane dengan mencetak tujuh gol. Kalau dirataratakan, Ronaldo mencetak 1,16 gol dalam setiap pertandingan. Sebelumnya, pria Portugal ini mencatatkan namanya di papan skor saat berlaga kontra Athletic Bilbao. Tak tanggungtanggung dua gol diciptakannya pada laga di kandang Real Madrid, Santiago Barnabeu, akhir pekan lalu.

Pun kalau disebut masalah Ronaldo mulai tumpul di dua laga sebelumnya, sebenarnya yang dituntut darinya hanya soal konsistensi. Ini yang harus dibuktikannya saat laga melawan AS Roma nanti malam.

Sekarang, saya pikir bukan saja Ronaldo yang dituntut konsisten, tapi juga bagi orang yang berikrar ambil jalan literasi. Seorang penulis harus punya konsistensi dalam profesinya. Mulai dari idenya sampai ujung penanya.

Pikiran merupakan modal utama penulis. Juga imajinasi. Yang terakhir malah penting bagi pengarang semisal penulis cerita dan naskah. Tapi umumnya, entah penulis fiksi atau nonfiksi, harus menjaga modalnya agar terus bergerak. Pikiran bergeraklah yang menunjang sorang penulis bisa melahirkan karyakarya bernasnya.

Setiap orang punya pikiran yang selalu bergerak. Objeknya macammacam, bisa soal harga sembako yang mahal, sewa kontrakan yang menunggak, sampai harga saham yang tidak stabil. Bentuknya juga beraneka ragam, bisa yang abstrak atau malah yang kongkrit. Atau malah punya warna yang beragam, dimulai dari kuning sampai hijau. Macammacam.

Tapi, gerak pikiran penulis tidak berjalan begitu saja. Seperti umumnya, dia bergerak dari satu soal ke soal lain, hanya saja pikiran penulis tidak berhenti kepada suatu soal, justru dia membuat soal. Di tingkat ini suatu soal dipersoalkan kembali, suatu masalah dipikirkan ulang. Bahkan jawaban atas suatu soal adalah soal itu sendiri.

Cara berpikir yang demikian dengan sendirinya tak pernah punya muara. Dia bergerak terus sampai tak berhingga. Mengalir kepada cerukceruk landai, sampai tak ada ujung. Tujuannya akhirnya bukan suatu final, bukan suatu titik, melainkan bergerak itu sendiri.

Akhirnya konsistensi hanya soal seberapa sering bergerak. Pikiran yang stagnan pantangan bagi penulis. Caranya bergerak punya banyak macam, membaca sudah pasti gerakan pertama. Bentuknya bisa macammacam, membaca apa saja, mulai dari model tulisan ecekecek sampai tulisan super ilmiah.

Ronaldo barangkali superhero bagi Real Madrid. Setiap penampilannya ditunggu jutaan mata. Saking heronya, ekspektasi orangorang selalu berharap agar dia rajin mencetak banyak gol. Kalau perlu golgol spektakuler.

Penulis berbeda dengan pesepakbola. Tidak ada hero semacam Ronaldo, atau mesias seperti Lionel Messi. Penulis bukan pahlawan. Dia tidak bisa diperlakukan seperti seorang hero. Tulisannya bukan datang memecahkan soal. Niatnya, malah mengajak bikin soal. Tulisan penulis membuat orang berpolemik. Mau menyoal halhal jadi wacana.

Karena bukan pahlawan, tindak tulis penulis membutuhkan keberlanjutan. Perlu ada gerak terus menerus. Soal yang dihadapi senantiasa diputuskan dan terus berlangsung. Penulis tak bisa menuntaskan segala soal dengan sekali pukul. Tak ada tulisan yang bisa melumat segala sekali habis. Karena itulah selalu ada tulisan pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

16 Februari 2016

Bunker di Kala Deras Hujan

Kalau hujan tiba, bunker jadi mirip tenda pengungsi. Bocor sanasini. Kami sering khawatir kalau hujan tiba, apalagi disertai angin kencang. Soalnya, atap seng sudah banyak lepas pakunya. Sekali tiup, lubang seketika. Untung itu belum terjadi. Kami masih beruntung. Untuk kesekian kalinya.

Kalau dulu, bunker sering kebanjiran. Maklum, tanah yang ditempati agak rendah dibanding daerah sekitar. Apalagi ketika rumahrumah mulai meninggikan lantainya, praktis air tergenang begitu saja tanpa bisa keluar. Ditambah memang tak ada selokan yang bisa dijadikan saluran air. Kalau sudah begini tunggu saja. Banjir.

Kami sering dibuat kesal kalau tetangga sebelah membuang sampah sembarangan. Jengkel sampai diubunubun ketika sampahnya dibuang begitu saja di teras depan bunker. Soal ini kami sering menegur bahkan sering kali melibatkan emosi, tapi tetap saja, yang namanya mental yang rusak pasti akan lewat begitu saja tanpa perhatian. Kami menduga, hal ini sudah jadi karakter yang sulit diubah. Persis orangorang yang tak tahu malu mengotori lingkungan tanpa rasa bertanggung jawab.

Saya kira di kota ini masih banyak orangorang yang semacam itu. Warga kota yang tak tahu hak dan kewajibannya sebagai masyarakat. Makanya agak susah memang mau berubah secara seksama, kalau masih ada orang yang tak tahu diri dan tak tahu malu. Bagaimana kota mau disebut bersih, semnentara mental warganya masih bersikap primitif. Anti peradaban.

Sekarang bunker lumayan aman. Banjir sudah bukan masalah. Jalan masuk air sudah dibuatkan penghalang. Di pintu depan sudah ada tembok yang menghalangi laju air. Jadi kalau pun masuk tidak akan sampai di ruang tengah, tempat penghuninya beraktifitas.

Satusatunya yang bikin waswas soal seng bocor itu tadi. Kalau hujan tak henti mendera, air yang masuk malah bisa bikin repot. Bukan apanya, karena kami tidur di satusatunya ruangan yang terpakai, kalau air merembes, otomatis tak ada tempat lain untuk pindah. Masalah ini sebenarnya kerap terjadi di dua minggu terakhir. Tepatnya kalau hujan lagi garanggarangnya.

Karena tak mau dikudeta oleh air bocor, solusi satusatunya adalah mentalangi air dengan kotak kue bekas. Di bunker, entah datang dari mana, banyak kotakkotak bekas kue yang tak terpakai. Kalau diingatingat kembali, kotakkotak itu bekas kegiatan yang kerap dilakukan di bunker. Biasanya adaada saja yang datang membawa makanan dengan memakai kotakkotak plastik. Ukurannya macammacam. Ada yang setinggi tiga sentimeter sampai lima sepuluh sentimeter. Belum lagi bekasbekas ricecooker yang rusak. Semuanya dipakai mewadahi air yang jatuh.

Kepada bendabenda itulah keberlangsungan aktivitas kami bergantung. Kalau sudah malam dan jam tidur, dan hujan deras melanda, bendabenda itu jadi benda paling penting. Untuk sementara bisa menunda air yang bisa merembes masuk.

Makanya harapan kami salah satunya jangan sampai hujan berjamjam lamanya. Kami bisa dibuat tidak tidur akibat air yang tak cukup ditampung. Apalagi tak ada yang mau bangun hanya untuk mengecek tampungan kotak jika penuh. Apabila sudah pulas, jangankan bangun untuk membukakan pintu apabila ada yang pulang larut malam, menengok kotak yang penuh air saja ogah.

Bunker punya lima ruangan. Dua ruangan kamar, satu ruangan tamu, satu bagian dapur plus kamar mandi, dan ruangan utama yang kami jadikan pusat aktivitas. Seharihari di bunker hanya menggunakan dua ruangan. Selain kamar mandi, yang terpakai hanya ruang tengah dan dapur. Selebihnya tak terurus. Penghuninya radarada malas mau pakai ruangan yang lain, padahal bisa dibersihkan dan ditempati.

Sekarang hujan belum juga reda. Bunyibunyi air yang menetes jadi irama sahutmenyahut. Kami satu persatu mulai kantuk. Kotakkotak penadah sudah dipasang dari tadi. Posisinya sudah pas. Tak bakalan meleset dari seng di atasnya yang bocor. Ada lebih dari lima titik kebocoran. Hitunghitungannya, kalau sampai pagi hujan belum reda, dengan dua kali tetes tiap detiknya, dan kotak kecil penadah yang tidak terlalu besar, maka dalam waktu kurang lebih lima jam, prediksinya air akan merembes di sekira jam empat atau lima subuh. Dugaan saya, orang yang tidur paling ujung tak jauh dari titik kebocoran, adalah orang yang lebih awal bangun di subuh nanti.

Mudahmudahan prediksi saya tepat. Masalahnya kalau hitunganhitungannya meleset, kejadiannya bisa lebih cepat terjadi. Kasihan orang yang tidur paling ujung. Bisabisa belum lama menutup mata, karpetnya jadi basah. Kalau saya punya tempat yang paling strategis. Selain paling ujung, tempat saya paling jauh dari sumber rembesan air. Di saat begini, saya paling berterimakasih menjadi senior. Di manamana senior punya kemudahan. Yang yunior maklum itu. Apalagi urusan tempat tidur. Hidup senioritas.

Baiklah saya sudahi dulu. Saya mau tidur saja. Senior tidak pernah bersalah..

catatan kelas menulis PI pekan 4

Bisa dibilang tak ada yang problematis di kelas menulis PI. Pun kalau ada hanya soal beda cerpen dan esai. Itu juga sudah terang. Cuman beberapa tulisan punya kesan ambigu. Entah esai entah cerpen. Tapi Muchniart bilang, esai punya dua ragam; esai deskriptif dan esai tajuk. Esai deskriptif tulisan yang bergerak dengan narasi, menggambarkan suatu keadaan, bendabenda, peristiwa, atau kondisi kejiwaan. Esai tajuk, tulisan yang memuat sudut pandang penulisnya atas suatu topik soal. Sedang cerpen jelas, tulisan yang memuat keberadaan tokoh, plot, sudut pandang dsb.

Pengetahuan di atas penting. Terutama bagi penulis pemula.

Selain itu ada soal teknis yang mulai harus dipertimbangkan. Hubungannya dengan jumlah kawankawan yang terlibat. Dua mekanisme forum yang sering dijalankan; menarasikan karya tulis dan kritik karya tulis. Cara bekerjanya di forum, yang pertama kawankawan akan diberikan kesempatan mendeskripsikan tulisannya, mulai dari motivasi dasar menulis sampai isi tulisan. Kritik karya tulis, sesi yang dipakai untuk mengintrogasi tulisan kawankawan secara bergilir.

Masalahnya, dua mekanisme ini tak efektif seiring dengan bertambahnya jumlah anggota. Terutama mekanisme yang kedua. Waktu tak lagi memadai untuk memberikan kesempatan kawankawan dapat berbicara atas tulisan yang dikritik. Apalagi yang akan jadi objek tulisan yang sekira 20 jumlahnya. Hitunghitungannya; dua jam diskusi dibagi dua sesi, dan sesi terakhir harus saling mengintrogasi tulisan, rasarasanya tak cukup.

Problem ini jadi agak genting dua pekan belakangan. Banyak tulisan yang tak sempat diulas. Di sisi lain, saya pribadi ingin menaruh perhatian lebih kepada kawankawan yang masih baru. Bukan soal tulisan saja, melainkan perhatian yang bisa mendongkrak semangat mereka agar terus menulis. Saya pribadi berkeinginan peserta yang terlibat punya tradisi menulis yang baik, intens, dan kontinyu. Tiga hal ini saya kira harus jadi targer terutama anggota baru.

Makanya, mulai pekan sebelumnya, tulisan yang ingin diintrogasi sudah harus diupload minimal sehari sebelum kelas dibuka. Aturan ini disepakati untuk meminimalisir kekurangan mekanisme yang dipakai selama ini. Juga, dengan cara dipublish di media sosial, kritik dapat berlangsung lama dan terbuka bagi siapa pun yang membacanya. Sekopnya yang lebih luas inilah yang diharapkan dapat merangsang perbaikan demi perbaikan tulisan yang masuk.

Ada saran dari Sulhan Yusuf, lebih efektif kalau tulisan dipublish saja di grup Paradigma Institute. Tujuannya agar lebih mudah mengidentifikasi tulisantulisan yang masuk. Juga agar kawankawan tidak ribet mondarmandir dari wall satu ke wall lainnya. Saya kira ini harus segera dilakukan.

Kala, mini buletin kelas menulis PI sudah sebulan terbit. Empat pekan tanpa jeda. Ini bukan prestasi. Agaknya sudah mulai menemukan sejumlah tantangan. Pertama dimulai dari alat produksi yang masih belum jelas, sampai soal penulis yang mau menghibahkan tulisannya. Selama ini Kala masih khusyuk saya tekuni. Tiap akhir pekan harus mengumpulkan dan mengedit tulisan. Tapi, tantangannya tulisan minim masuk. Kecuali sejumlah karya sastra yang dikirim oleh beberapa penulis (bahkan ada penulis dari Jeneponto yang mengirim langsung), esai yang jadi tulisan halaman pertama dan kedua jadi minim.

Pekan keempat, selain Ishak, tak ada yang mau mengirim tulisan. Untung ada sejumlah esai Muhajir yang mau disumbangkan. Akhirnya masalah sedikit beres dengan menyisakan satu kolom lowong. Ini celah kritisnya, tulisan macam apa yang panjangnya pas dimuat di situ. Sampai siang kolom itu tidak terisi. Masalah belum selesai betul.

Waktu hampir pukul tigabelas, kolom yang kosong masih terpampang. Tidak mungkin Kala terbit dengan menyisakan satu kolom yang bolong. Berharap tulisan dari kawankawan tidak mungkin. Lagian ini hanya satu kolom kecil dari setengah halaman yang belum terisi. Toh kalau diminta jangan sampai kepanjangan. Tanpa pikir lama, saya ambil sikap. Saya tulis sebisanya. Esai pendek yang mencukupi kolom yang tersisa. Tak banyak selang waktu jadilah tulisan bertajuk Pentingnya Kesadaran Berbahasa. Kala siap cetak. Masalah Beres.

Selama empat pekan Kala dicetak pakai print dan beberapa lembar kertas panjang. Setiba di lokasi percetakan (sebenarnya sekretariat L****) print kurang maksimal. Kertas pun ternyata tak ada. Karena kepepet karton pun dipakai sebagai bahan cetakan. Tak ada rotan akar pun jadi. Tak jadi soal, sebentar juga akan digandakan lewat mesin foto kopi. Makanya hasil cetakan Kala pekan ini di bawah standar. Copyannya juga kurang maksimal.

Yang juga mesti diperhatikan kembali, ihwal pertofolio kawankawan. Sampai saat ini hanya baru Ali dan Ari yang punya. Kawankawan yang lain barangkali lupa. Jangan sampai abai. Ada niat, kumpulan tulisan yang dipertofoliokan menjadi bahan penilaian sejauh mana kemampuan menulis berkembang. Bukan dibandingkan dengan tulisan sesama peserta, melainkan tulisan kawankawan sendiri di tiap minggunya. Ini cukup adil. Lawan kawankawan adalah kawankawan sendiri. Di tiap tulisannya.

Terakhir, kelas diumumkan kembali gelar di sekretariat PI. Seperti biasa kelas dibuka jam tiga siang.

Sore datang dan lalu jelang. Kala jalan padat, mukamuka tirus lenggang dan pulang. Sepersekian malam datang. Langit jadi gelap. Di masingmasing bilik, tinta masih basah. Jangan hilang asa, tilik satusatu. Tulis jangan siasia…


15 Februari 2016

pentingnya kesadaran berbahasa

Elemen penting hidup itu bahasa. Tanpa bahasa tidak ada kesalingpengertian. Tidak ada makna yang bisa dipertukartangkapkan. Bahasa kalau mau dibilang adalah elemen sosial yang mengikat identitas menjadi satu kesatuan.

Bangsa Indonesia sudah membuktikan itu. Anakanak muda yang sadar bahasa saat itu melihat bahwa perjuangan tidak saja membangun tujuan dan citacita yang sama, tapi harus dimulai dari cara pengungkapan yang sama melalui bahasa. Karena saat itu hampir semua komunikasi dipertemukan oleh bahasa Melayu, maka bahasa itu dipilih sebagai bahasa pemersatu.

Akan sulit membayangkan Bangsa Indonesia bisa merasai kemerdekaan tanpa kesadaran bahasa. Kala itu kalau saja kelompokk elompok daerah masih berpendirian dengan bahasa lokalnya, mustahil kemerdekaan dapat ditempuh. Kemerdekaan akan sulit diucapkan dalam ikatan bahasa yang sama. Karena itulah bahasa bisa dipakai sebagai kait pemersatu. Bahkan sebagai alat perjuangan.

Pekerja bahasa orang yang paling sering pakai bahasa untuk berjuang. Berbeda dari profesi lain, pekerja bahasa punya semacam kesadaran yang mampu menyulap bahasa jadi lain. Sebut saja misalnya Pramoedya Ananta Toer, yang punya kemampuan membangun sejarah Indonesia dari bahasa yang ditulisnya jadi novel.

Tidak sekedar menulis, lewat bahasa, Pramoedya ingin menunjukkan bahwa betapapun perjuangan telah berlalu, di dalam bahasa tak ada kata selesai. Di dalam bahasa tersemat kesadaran yang bisa terus ditarik jauh ke kedepan selama orang masih ingin membaca. Karena itulah muncul frase yang banyak dikutip orang, menulis itu bekerja untuk keabadian.

Harusnya bukan sekedar tulisan yang jadi perhatian. Orang sering salah kaprah ketika menulis berarti sudah berkerja dalam keabadian. Tapi, makna, pesan apa yang ditulis. Pram bukan mau bilang menulislah, perbanyak hurufmu sepanjangpanjangnya, karena itu kau akan abadi! Bukan, sesunguhnya bukan itu, melainkan makna apa yang bisa kau pertahankan di dalam sanubari orangorang. Pesan apa yang bisa membangun kesadaran orangorang. Bukan panjang tulisan yang mudah hilang.

14 Februari 2016

athaya

Ini foto tiga tahun lalu. Yang saya pangku ini ponakan saya. Athaya namanya. Saat gambar ini diambil pas waktu idhul fitri. Saat itu dia masih berumur sekira tiga empat bulan.

Punya ponakan itu sama dengan memiliki anak sendiri. Bedanya belum punya bini saja. Seperti anak sendiri, saya suka mengendongnya. Menciumnya sambil menggodanya agar tertawa. Menciumnya lagi, menggodanya lagi. Menciumnya lagi menggodanya lagi. Membuatnya tertawa. Gemas.

Entah mengapa saya jadi suka dengar bayi tertawa. Padahal seumurumur saya seperti kebal dari bayi. Kadang saya heran, kalau kebanyakan orang suka anak kecil, saya malah menganggapnya biasa saja. Tapi semenjak Athaya lahir, tumbuh dan mulai menggerakkan mulutnya, malah saya mulai berubah. Suka mendengarnya tertawa.

Saat Athaya lahir dia sontak jadi pusat perhatian. Maklum di rumah dia cucu sekaligus ponakan pertama. Sedikitsedikit tak ada yang lepas dari dia. Athaya langsung jadi magnet. Banyak orang berdatangan melihatnya. Memberikannya bingkisan. Mulai dari perlengkapan bayi sampai biskuitbiskuit ringan. Saya ikut senang. Biskuitnya bisa saya makan.

Kehadiran Faeyza Athaya juga langsung mengingatkan saya kala bayi. Diamdiam berusaha mengingat masa lalu saat masih bulanan. Apa yang dilakukan saat tidur. Kalau bangun. Saat pipis tibatiba. Juga saat menangis tanpa sebab. Apakah saya juga begitu. Soalnya waktu cepat berlalu. Momenmomen semacam itu agak susah mengetahuinya.

Makanya selain bertanya ke mamak, saya langsung bukabuka album foto. Cari tahu kala masih jabang bayi. Di situ masih ada beberapa gambar saya masih kecil. Ada satu gambar saat saya telungkup sambil menatap ke arah kamera. Saat duduk sambil memegang bola. Saat berpose seragam TK. Berdiri berseragam SD. Dan juga kala SMP. Sampai di sini tak ada sekalipun foto saya seperti Athaya yang masih seumur minggu. Yang ada hanya saat sekira empat sampai lima bulan.

Rasa ingin tahu saya gagal karena tak punya gambar yang merekam saat masih sebayibayinya. Makanya anakanak sekarang bisa bahagia akibat kemajuan teknologi. Dulu kamera jadi barang langka. Makanya tidak semua momen bisa langsung diabadikan. Sekarang sedikitsedikit jika mau bisa langsung dijepret. Cukup dengan smartphone gambar sudah bisa diambil.

Sekarang umur Thaya, begitu kami memanggilnya, sudah berumur tiga tahun jalan empat. Dia jadi anak yang suka bermain. Lari ke sana kemari. Lompat sana jungkir sini. Kalau saya datang dia suka mengajak main putri duyung. Saya heran dari mana dia lihat. Curiga, saya kira dari film yang sering dia tonton. Kalau sudah begitu kursi sofa berubah jadi markas tempat persembunyian. Saya ikut saja sebagai lumbalumbanya.

Athaya sangat suka bersepeda. Di umurnya yang sekarang dia begitu aktif. Kalau bukan sepeda, dia pergi di bawah meja setrika mengambil tumpukan mainannya. Menghamburnya di lantai dan mulai mengambil mainan yang disukanya. Kalau yang ini masih untung dibanding dia menemukan bulpen atau pensil mencoret seluruh tembok rumah. Mamak biasa hanya geleng gemas ditaruhnya. Kami melihatnya sebagai pertumbuhan kreativitasnya.

Akibatnya, Thaya sudah pandai mewarnai gambargambar. Karena itu, ayah dan bundanya sering menghadiahkannya buku gambar plus pensil warna. Selain untuk mengalihkannya dari tembok yang sudah penuh, dia bisa mulai mengenali bentukbentuk gambar yang bisa diwarnainya. Sekarang kalau dihitunghitung, sudah banyak gambar diwarnainya.

Thaya sekarang juga sudah diikutkan PAUD. Selain sepupunya, Thaya sudah banyak bertemu anakanak seusianya. Bermain dan belajar. Mewarnai dan menggambar. Pergi jam sembilan pulang ketika duhur datang. Dengan tas kecilnya penuh makanan ringan plus buku gambar, Thaya sering pergi diantar ance'nya.

Sudah hampir dua bulan saya tak melihatnya. Saya dengar dari mamak, Thaya sering bertanya tentang dua omnya, saya dan Fajar. Kalau malam begini dia pasti sudah berlari sanasini, bongkar apa saja yang bisa dijadikan mainan. Kadang berlari ke dapur membuka almari mengambil makanan ringannya. Biasanya wafer coklat atau minuman susu kotak. Kalau dia begitu pasti memberikan satu kepada saya, kadang sambil bermain dia duduk sembari mengunyah dengan ceritanya tentang Jarwo dan motor bututnya. Dan, saya senyamsenyum sendiri memakan habis semua makanannya tanpa sadar.

Gila Foto

Seperti sudah saya bilang, di Bunker, kami sering gelar lapakan. Ngopi sambil berdiskusi ringan. Kadang membuka laptop dan menulis. Yang lain membaca sambil malasmalasan.

Ini pagi saya terjaga lebih awal. Biasanya langsung ke belakang, membuka pintu keluar sekedar cari udara. Ternyata ini pagi cerah, tak mendung. Agak lama saya menatap langit. Biru, tak berawan.

Sontak saya pikir; segera buka lapakan. Tapi urung saya lakukan akibat beberapa motor mengambil tempat lapakan. Maklum kali ini bertambah Ilham, dia punya motor gede. Dia parkir saja semalam di situ, tepat lapakan sering digelar.

Dua hari belakangan Makassar diguyur hujan. Praktis Bunker tak buka lapakan. Ridho yang kerap juga lebih awal lapakan urung lakukan. Justru dia memilih bergua di dalam dengan bacaannya. Sedang yang lain pulas lanjut tidur sampai tengah siang.

Toh di hari kedua Makassar dikerubung hujan, lapakan nekat digelar Ridho. Pikirnya tak bakal hujan menyambangi. Langit masih mendung, belum hujan betul. Saya yang melihatnya agak ragu. Saya sanksi, janganjangan bakal diguyur. Makanya saya tak buruburu keluar lapakan. Lihat dan menunggu, pikir saya lebih baik.

Sebenarnya saya ingin sekali lapakan. Dudukduduk sambil lihatlihat buah karsen yang matang. Kalau sebulat merah ditangkap mata, tak banyak omong langsung disambet. Maklum karsen buah kenangan bagi saya. Kala kecil saya sering cari kersen sampai saku baju dikerumuni semut. Kalau itu terjadi, saking banyaknya buah manis itu  pecah begitu saja di saku baju. Sekarang justru itu terulang, cari karsen kala pagi atau sore datang, tapi tanpa saku baju yang dikerubungi semut.

Tak jelas siapa yang menanam pohon karsen di situ. Mungkin secara alami tumbuh begitu saja. Tepat di pintu masuk Bunker. Semenjak saya kembali domisili di Bunker, pohon itu sudah tegak berdiri. Buahbuahnya sudah banyak bermunculan. Belum matang. Tak lama lagi bakal masak, merah.

Makanya kalau sudah merah, itu jadi rebutan. Ada prinsip diamdiam disepakati; kalah mata kalah uang. Siapa cepat dia dapat. Prinsip ini akan jadi kompetitif kalau semua penghuni Bunker punya niat yang sama memanen karsen. Seperti yang sudahsudah, saya sering kalah saing, Ridho jauh lebih tinggi dari saya. Dia punyai tungkai lengan yang panjang. Yang lain malah pake kayu. Saya tak mau kalah memilih langsung memanjat.

Siang ini kami manfaatkan akhir pekan dengan lapakan. Di bawah pohon karsen yang belum matang buahnya. Semenjak yang lain bangun langsung ambil posisi. Ilham langung bergegas membeli penganan, saya titip langsung beberapa bungkus kopi sachet. Ini Sabtu yang betulbetul cerah.

Sudah hampir satu pekan beberapa tulisan saya berhenti di jalan. Niat saya hari ini akan rampung. Kemarin sore dengan tergesagesa saya harus selesaikan satu esai untuk perteman di Be Smart Coffee. Malamnya harus saya presentasekan. Untung dapat rampung sebelum kegiatan. Saya print dan saya copy segera mungkin. Akhirnya beres.

Sekarang tinggal satu esai soal cerpen Puthut EA. Kalau mau dibilang, tinggal empatpuluh persen rampung. Cuman kalau lapakan digelar, perhatian jadi pecahpecah akibat gosipgosip yang berseliweran. Adaada saja yang dibicarakan. Mulai dari kondisi bunker yang kritis, dompet yang kembang kempis, harga buku yang jadi mahalmahal, sampai agendaagenda kerja di bunker. Semuanya dihampar begitu saja sembari lapakan. Punya urus kalau itu hanya sekedar ngocahongoceh.

Belum lama saya menulis, masalah datang lagi. Ini ulah Muhajir dan Ujhe. Entah setan apa yang kangkangi kepala mereka siangsiang. Tibatiba mereka berubah jadi model plus fotografer dadakan. Bergantian saling ambil gambar. Duduk sana duduk sini cari latar yang cocok. Putar sana putar sini seperti orang kesurupan. Begitu sambil ketawaketiwi. Mirip orang gila.

Ini saya sertakan gambarnya. Hajir yang super narsis jadi modelnya, dan Ujhe yang bak fotografer profesional miring sanasini cari angel yang paling pas.

---

Nb: Kalau kalian lihat fotofoto keren dua orang yang belum mandi ini di fb atau bbm, percayalah itu asli editan. Ini bagaimana proses produksinya...

Catatan Kecil Tentang Mhor

Karl Marx lebih dari sebuah nama. Karl Marx adalah sebuah pemahaman. Perspektif. Kita tahu, sejak dia menggedor dunia dengan pikirannya, suatu tatanan tidak sekadar utopis. Masyarakat tanpa segregasi, yang jadi utopia sosialis tradisional, di tangan Marx  jadi ilmiah. Itu disebutnya komunisme.

5 Mei 1818, Marx lahir di Trier. Kota di perbatasan barat Jerman, waktu itu termasuk Prussia. Besar dari rahim Yahudi, kemudian berpindah agama; protestan. Konon rasa “emoh” Marx terhadap agama karena pilihan masa lalu orang tuanya yang gampang berpindah keyakinan. Kuliah hukum agar melanjutkan pekerjaan sang ayah, notaris. Karl Marx muda tidak terlalu tertarik hukum. Dia berminat jadi penyair. Terutama dilihat dari surat kepada ayahnya yang ditulisnya di bulan November selama studinya di Berlin tahun 1837.

Ketika saya membaca surat Marx yang ditulis tanggal 10-11 itu, sejak muda Marx telah membangun disiplin keilmuan yang ketat. Dia bercerita pengalaman keilmuannya kepada ayahnya. Bagaimana dia juga berkembara dengan puisipuisi liris sampai soalsaal filosofis, terutama tesistesis Hegel.

Marx tulis, “begitu tiba di Berlin, aku memutuskan segala ikatan yang ada dengan handai taulan, jarang berkunjung dan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam ilmu pengetahuan dan kesenian”1 Di sini Marx mau bilang betapa konsentrasinya hanya untuk ilmu pengetahuan dan seni, sampaisampai harus menjadi orang yang menarik diri dari hiruk pikuk.

Membaca surat Marx berarti membaca gairah seorang muda berusia 19 tahun yang disiplin belajar ilmu hukum, membaca banyak buku, dan menerjemahkan beberapa buku. Sejarah seni, musik, sejarah Jerman, dan puisi untuk menyebut beberapa disiplin di antaranya, yang menarik perhatiannya. Dan, seperti yang ditulisnya, ada dorongan untuk bergelut dengan filsafat. Akibatnya, Marx muda tumbuh tanpa tanggungtanggung, menjadi seorang intelektual.

Agak sulit menemukan kebiasaan Marx muda di situasi sekarang. Mau menulis surat panjang kepada seorang ayah. Menceritakan pengalaman belajarnya di tanah jauh. Menceritakan tokoh apa saja yang telah dibahasnya. Buku apa saja yang telah dibuatkan catatannya. Kritiknya terhadap pemikiran Hegel. Dan rasa rindunya kepada Jenny, kekasihnya.

Yang membaca tulisantulisan awal Marx setidaknya tahu, bahwa suatu pilihan intelektual butuh pertimbangan yang matang. Tak ada jalan panjang tanpa bekal yang ditimang, matangmatang. Jauh hari saat menyelesaikan studinya di Gymnasium, dia sudah pikir panjang ihwal tekad yang dipilihnya. Dia tulis “karenanya, kita mesti dengan serius memeriksa apakah kita telah betulbetul terinspirasi dalam pilihan profesi kita, apakah suara hati menyetujuinya, ataukah inspirasi lain adalah khayalan, dan apa yang kita kira panggilan sang dewa sebetulnya merupakan tipu daya atas diri sendiri. Namun bagaimana kita bisa mengenali  ini kecuali dengan melacak sumber inspirasi itu sendiri?”2

Kita mesti serius memeriksa apa yang menjadi pilihan. Begitu ucap Marx muda. Bahwa menjadi pengembara butuh keseriusan lebih dari yang dikira. Saya pikir, secara biografis, seorang penimbang adalah orang yang tahu apa yang dibutuhkannya. Apa yang harus menjadi tujuannya. Tujuan mesti dipilah apakah itu suara hati atau hanya tipuan sesat belaka. Di masa mudanya Marx sudah memalu niatnya dari yang dia sebut “kerja bagi umat manusia.” “Karenanya, kita tak akan merasa kecil, terbatas, atau merasakan kegembiraan yang egois. Kebahagiaan kita akan jadi milik banyak orang.”3

Kalau kita membaca habis esai pendek yang jadi tugas akhir Gymnasiumnya itu, akan terlihat bahwa Marx sedang dalam masa yang tegang. Bisa dibilang diumurnya yang baru 17 itu, Marx muda sudah mulai membangun komitmen atas profesi yang kelak dijalani. Akan sangat jauh berbeda dengan anak usia muda saat ini yang lebih memilih cara yang fleksibel dalam memilih. Marx muda sudah berpikir berat. Dia sudah mulai membangun kesadaran atas nasib masyarakatnya. Dan, atas posisi itulah yang nanti akan menjadikannya pemikir sosial berpengaruh.

Saya pribadi sulit membayangkan pemikiran Marx muda yang menulis “…petunjuk utama yang mesti mengarahkan kita dalam pilihan profesi adalah kesejahteraan umat manusia dan penyempurnaan diri kita sendiri. tak boleh dipandang bahwa kedua kepentingan itu berselisih, bahwa yang satu akan menghancurkan yang lain. Justru sebaliknya, kodrat manusia telah terbangun sedemikian rupa sehingga ia hanya bisa meraih kesempurnaan dirinya dengan cara bekerja bagi penyempurnaan sesamanya.”4

Mari membayangkan kesadaran macam apa yang mendasari Marx muda menulis demikian. Di situ dia sudah berpikir keselarasan antara yang individual dan yang sosial dalam hubungannya dengan masyarakat banyak. Makanya tidak terlalu salah kalau kita mau menyebut bibit awal perhatian Marx terhadap hukum dialektika masyarakat dimulainya dari periode ini.  Bahkan dalam perspektif humanisme, Marx muda sudah menunjukkan karakter dasar manusia sebagai mahluk sosial. Karena hanya dengan cara itulah dia bilang manusia hanya sempurna bila ada hubungan kerja sama antara sesamanya. Dalam konteks ini saya mau bilang, perspektif humanisme yang akan mendasari pemikiranpemikiran Marx selanjutnya, sudah disebutnya secara eksplisit di usia 17 tahun. Di usia muda dia sudah mulai membentuk kesadaran sosialnya.

Marx muda dengan begitu tumbuh menjadi pembaca yang evaluatif. Anak muda yang diskursif. Dan juga kritis. Itu ditunjukkannya saat tergabung dengan Young Hegelian saat di Berlin. Di saat inilah dia menjadi pembaca yang taat. Dari yang ditulis Nyoto dalam Marxisme: Ilmu dan Amal, bahkan Marx tidak menyusun bukubuku di dalam lemari menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya.5

Di Berlin Marx tidak membaca Hegel secara sentimentil. Walaupun awalnya Hegel disebutsebut sebagai guru revolusi, itu tidak menjadikan pemikirannya layak diterima begitu saja. Melalui Feurbach, murid yang pernah berguru dari Hegel, Marx menemukan cela pemikiran yang menjadi jalan lain dalam memahami kenyataan.

Atas kritik Feurbach terhadap Hegel, Marx merumuskan eksposisi berupa pertanyaan atas klaim roh absolut Hegel. Bagaimanakah cara memahami yang absolut, yang dianggap rasional, padahal yang rasional hanyalah dalam subjek pemikir, padahal dunia tak seperti yang dibayangkan. Kata lain, bagaimanakah memahami yang roh yang absolut dalam filsafat Hegel, sementara baik Hegel sendiri adalah pemikir yang subjektif.

Di bagian itulah ada frasa yang sering diucapkan, “Hegel berjalan dengan terbalik, dia berjalan dengan kepalanya” yang menjadi semacam statement sentimentil untuk mengkritik dasar pemikiran Hegel. Marx dengan kesadaran baru atas filsafat Hegel, menemukan suatu cara berfilsafat yang berbeda dengan filsuf umumnya. Kesadaran itu bisa dikalimatisasi menjadi “Hegel hanya merumuskan pikiran, filsafat harusnya merumuskan kenyataan.” Dari kesadaran macam inilah kelak filsafat Marx hanya mungkin dipahami sebagai bagian yang tidak sekadar merepetisi situasi masyarakat menjadi rumusrumus filsafat, melainkan masuk ke dalam dan mengubahnya secara langsung. Banyak orang bilang, di tangan Marx, filsafat menjadi praksis.

Mengenal Marx berarti juga mengikutkan satu persona yang karib menjadi sahabatnya. Semenjak mendapatkan tekanan saat memimpin harian koran yang liberal dan progresif, Marx pindah ke Paris. Di Paris dia bertemu tokohtokoh sosialis Prancis semisal Proudhon dan juga tokoh sosialis yang juga pelarian dari Jerman. Dan tentu  satu persona, sang “jenderal” panggilan keluarga anakanak Marx terhadap sahabatnya yang karib; Friedrich Engels.

Biografi Marx tanpa Engels akan sulit memberikan input yang berarti saat masuk di dalam perjalanan pemikiran Marx. Melalui Engels-lah Marx menemukan fakta objektif sumber keterasingan manusia. Engels yang sebelumnya anak pengusaha tekstil, menemukan terang kenyataan bahwa buruh manusia bukanlah mesin yang harus diperlakukan semenamena. Di pabrik Manchester ketika dia mengepalai suatu bagian tugas ayahnya, kenyataan itu yang membuatnya sadar bahwa tatanan industri yang sedang berkembang banyak berdiri di atas penghisapan kaum buruh. Setelahnya lewat The Holy Family dan setelah German Ideology,  Marx bersama kawan karib ini menjelma menjadi pasangan intelektual bapak sosialisme.

Saya kira dari kekariban Marx dan Engels ada hal yang luput, bahwa barang siapa tengah merancang suatu rumus pemikiran, harus memiliki semacam kawan dialog. Kekariban Marx dan Engels, bagi saya adalah suatu model bagaimana suatu kerja kolektif didasarkan. Marx dan Engels menjadi simbol yang mewakili suatu tindak pikiran filosofis; dialog.

Baik Marx dan Engels, melalui karya intelektual bersama, sama halnya Socrates dan Platon, menghidupkan esensi dari seni berpikir melalui dialog sebagai mekanisme dialektis dalam menemukan jalan keluar atas problem yang dihadapi. Lewat dialog keduanya, diskursus jadi soal yang kolektif, bukan sekedar pemikiran monologis yang selama ini diketahui sebagai inti filsafat. Saya kira dari sini Manifesto Komunis yang disusun keduanya, tidak sekedar seruan kolektif terhadap masyarakat pekerja, melainkan bagaimana suatu karya pemikiran sedari awal sudah harus menunjukkan dimensi kolektifnya.

Banyak yang berharga dari Marx, termasuk sisi lain bahwa Marx bukan saja pemikir yang mudah murung dan keras, tapi juga seperti yang ditulis putrinya Eleanor, bahwa Marx orang yang humoris yang punya  segudang cerita yang bisa membuat orang tertawa.  Seorang ayah yang senang membelikan  dan membacakan novel kepada anaknya di usia yang masih sangat muda. Juga seorang kepala keluarga yang lebih sering jadi teman anakanaknya. Mohr, begitu panggilan anakanaknya terhadap Marx, kadang bermain “kudakudaan” seperti yang ditulis Eleanor “Dengan duduk di pundaknya, memegangi rambutnya yang lebat, hitam dan beberapa yang sudah menguban, saya puas "mengendarainya" berkeliling kebun kecil kami dan mengitari lapangan yang melingkari rumah kami di Grafton Terrace.”6

Marx mati di London 14 Maret 1883. Usianya genap 64 tahun. Dia sakit selama 15 bulan di  akhir hidupnya, akibat radang pernapasan yang membuatnya mengalami brongkhitis akut. Pemakamannya hanya dihadiri sembilan sampai sebelas orang. Tapi pemikirannya saya kira banyak yang jadi pegangan bagi banyak orang. 7

---
  1. Martin Suryajaya, Teks-Teks Kunci Filsafat marx, Resist Book,2016: hlm. 10
  2. ibid, hal 7
  3. ibid
  4. ibid
  5. http://indoprogress.com/2015/07/marx-dan-tauladan-bagi-remaja/
  6. www.marxistsfr.org/indonesia/archive/marx-eleanor/001.htm
  7. https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...