09 Juni 2014

dialog imajiner bersama Machiavelli

Suatu ketika di malam awal Juni saatsaat lembayung makin padat. Juni yang mengawali kemarau Juni yang biasanya panas, saya berusaha membangun imajinasi. Tentang sebuah perbincangan dengan seorang realis, orang yang pernah hidup sekitar akhir abad pertengahan. Seorang dari Florence Itali; Niccolo Machiavelli.

Saya membayangkan malam awal Juni itu dua bulan setelah hari kelahirannya, duduk bersama orang yang kerap dikutuk berkat gagasannya yang tanpa moral itu. Di mana saya dengannya bertemu di saatsaat karirnya sebagai penasihat politik mendekati anti klimaks. Pada pinggiran selatan kota Florence saya dengannya bersua. Ketika Itali sedang dalam invasi Spanyol.

Saya: Kenapa anda tampak murung? Apakah ini karena Itali sedang dalam masa-masa kritis?

Niccolo: (Sambil tersenyum) Saya memang murung? Lebih mudah bagi saya kematian seorang ayah daripada kehilangan warisan..Mari anak muda..(sambil memberikan segelas anggur) bagaimana anda bisa sampai kesini? Ini masa kritis..

Saya: terima kasih (sambil mengambil anggur darinya), ini memang masa kritis, tetapi bertemu dengan anda saat seperti ini adalah hal yang mengagumkan.

Niccolo: Apakah anda bercanda? Lantas apa yang membuatmu kemari?

Saya: Diri anda. (Dia tampak terkejut, raut mukanya sungguh jauh dari ekspresi pikirannya yang konon berbahaya, saat itu dia kelihatan gagah) Diri andalah tujuan saya..

Niccolo: Saya berharap kau mengerti maksud tujuanmu berbicara denganku. Saat seperti ini semua orang menjadi bodoh saat mengutarakan pikirannya.

Saya: Maksud anda?

Niccolo: Coba kau bayangkan, untuk sejenak, diantara orangorang itu, adakah yang tampak jujur berucap? (Niccolo menunjuk dengan pandangan matanya) Hampir semuanya tampak berbohong..

Saya: Ada apa dengan mereka. Maksudmu mereka ini adalah orang yang sedang berbohong?

Niccolo: Tidak ada yang salah dengan orangorang ini. Kecuali mereka tahu maksud pembicaraan mereka.

Saya: Sebenarnya ada apa dengan mereka? Barangkali saya telah melewatkan sesuatu?

Niccolo: Sudah saya katakan tadi, ini masa kritis, masa yang guyah. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dibicarakan. Bukan dengan hanya bicara tentang masalah intim mereka, pujapuji mereka terhadap gereja, anakanak, ladangladang..

Saya: Lantas apa yang layak saat seperti sekarang menurutmu?

Niccolo: Manusia yang baik adalah warga yang membincang keutamaankeutamaan ibu pertiwinya, bukan sebaliknya.

Saya: Maksud anda negeri ini? Itali maksud anda?

Niccolo: Artinya kau pahami maksudku. Negara ini sedang di ambang kehancuran. Mereka lebih sudi selain dari apa yang mereka wariskan.

Saya: Bisakah anda menerangkan maksudmu? Jujur, saya tidak paham..

Niccolo: Kematian, saat orang mati, saat mereka ditinggal pergi, mereka berpurapura murung, berputus harapan dengan rasa sakit yang amat. Lantas sebenarnya pikiran mereka tidak demikian. Justru akan kembali seperti biasanya, memikirkan dengan apa hidup harus berjalan. Memikirkan apa isi perut mereka.

30 Mei 2014

membangun dunia

Seingat saya pada beberapa tahun yang lampau, saat kegiatan di salah satu kampus di sebuah forum diskusi, saya ditanya, pada saat yang tak diduga. Perihal buku yang saya terbitkan:Jejak Dunia Yang Retak, pernyataan yang fundamen, atau tepatnya pertanyaan yang elementer. Saya ditanyai tentang mengapa saya menulis buku ini, atau lebih dasariah lagi, mengapa saya menulis?

Di waktu itu, di saat saya disuguhi pertanyaan demikian, diktum Sokrates tentang pada situasi tertentu terkadang pertanyaan jauh lebih berbahaya dari pada sebuah jawaban, saya alami. Pertanyaan yang tidak saya taksir datangnya itu memang berbahaya. Apalagi menyangkut hal yang elementer. Sebab bertanya, berarti membuka peluang untuk menggugat tatanan, memberikan ruang untuk membongkar apa yang sudah mapan. Dan itu berarti mengganggu kebakuan yang stabil, mengganggu apa yang sudah terkunci rapat dalam benak. Memang pertanyaan itu sungguh membikin saya terkejut.

Untuk menjawab itu, apalagi dalam situasi sebagai pembicara, mewajibkan saya harus tepat memberikan jawaban kepada penanya. Ketepatannya bukan jenis presisi pada ilmu eksak yang harus sama persis antara hasil pembilangan dengan apa yang dibilangkan, melainkan melampaui itu, pasalnya ini pertanyaan yang cenderung filosofis, mengapa saya menulis? Ketepatannya adalah antara jawaban saya dengan ekspektasi yang diinginkan adalah ruang yang menghendaki sipenanya terpuaskan secara maknawi. Apalagi ini masalah nilai, sesuatu yang tidak bisa dihitung berdasar penggaris kuantitatif. Ini tentang berpengaruhkah jawaban saya terhadap pengalaman sipenanya kelak.

Maka saya jawab saja sesuai dengan harapan mudahmudahan ia mengerti. Mudahmudahan jawaban saya memberikan peluang untuk memahami. Seingat saya jawabannya seperti ini, dengan sedikit retoris: menulis saya andaikan perlakuan mencipta, tepatnya mencipta sesuatu, dalam inggris sesuatu adalah thing, dan dalam makna ini adalah bisa jadi segala hal. Singkat yang ingin saya bilang,  saya ingin menulis dengan mencipta sesuatu. Keinginan saya membangun dunia. Lewat tulisan.

 Jawaban saya dikala itu barangkali cenderung mendekati analogi. Dan memang karya tulis di mata saya cenderung analog dengan makna dunia. Teks bagi saya sama halnya susun bata yang dibangun untuk mendirikan dunia hunian yang tentu sifatnya privativ. Dalam rumah, sayalah empu yang bebas memanfaatkan bilah ruang yang ada. Jadi teks disini, dalam pengertian saya adalah rumah yang intim dengan saya. Di sana tak ada otoritas selain saya, apalagi ada hirarki yang bertingkat untuk menguasai.

Mudahmudahan dia mengerti, tentang maksud saya yang ingin membangun dunia, dari teks, dari alam pikiran saya. Yang mana di sanalah saya meneguhkan eksistensi saya. Dari sana saya ada, paling tidak dalam dunia yang saya bangun. Sehingga ini berarti saya dalam situasi yang bebas. Barangkali ini bermaksud katarsis, tetapi ini bukan pelarian, sebab orang yang berlari cenderung tak punya bekal yang ia bawa. Sementara ini tidak, saya punya teks yang sekehendak hati bisa saya pilih, yang merupakan modal saya untuk berjarak dengan dunia ril, pada saat saya sedang membangun dunia teks saya.

Mudahmudahan ia mengerti kenapa saya membangun dunia dari teks. Jikalau saya menjawab kembali, seingat saya seperti ini jawaban yang diutarakan kala itu: dunia, tempat yang kita huni, pusat seluruh kehidupan bekerja, adalah hunian yang penuh sesak. Penuh dengan hiruk pikuk. Setiap darinya ramai oleh segala hal. Sementara saya, terkadang membutuhkan tempat yang berbeda, barangkali sebuah tempat yang sunyi. Dititik ini, dunia sebagai konteks hidup, saya tolak, untuk pergi dari penuh sesak yang amat. Dan saya memilih teks. Untuk disusun menjadi dunia pribadi saya. Ini mirip dengan seorang diri yang membangun rumah jauh di atas gunung yang tinggi. Untuk mencari hunian yang senyap. Tempat yang tak dilalui lintasanlintasan penat yang tak berujung. Kirakira begitu gambarannya.

Kalau hal ini dia sudah mengerti, itu berarti dia juga paham tentang dunia apa yang saya maksud. Hunian yang penuh dengan kepadatan dan kompleksitas yang akut. Yang mana dari dunia itu saya bangun tembok pemisah. Karena dengan membangunnya, itu berarti satu hal. Yakni saya ingin terpisah sekaligus bersamasama. Terpisah dari kompeksitas yang akut, bersama dalam arti, saya juga tak sepenuhnya pergi. Ini barangkali seperti yang dibilangkan Gramsci: bersamasama sekaligus menentang.

Jika sedikit rumit dipahami, begini maksud saya: dunia yang saya tolak adalah dunia yang sudah terlanjur terpancang kuasa. Tatanan yang di dalamnya sudah terlanjur tersubtitusi dengan kekuasaan. Kekuasaan yang repetitif merepsesi kekerasan, kekejian, ketakutan, keangkeran dsb. Disini jika tatanan cenderung bermakna harmonis, maka kekuasaan dalam pengertian ini bermakna dan bekerja merusak apa yang dibutuhkan oleh tatanan: keberaturan. Sehingga, akhirnya tatanan menjadi medan yang chaotik, hunian yang penuh dengan potensialitas kehancuran.

Dunia itulah yang ingin saya tentang dengan membangun dunia dari teks. Dunia semacam itulah yang kerap saya hindarkan. Melalui teks, melalui dunia baru yang saya bangun.

Mudahmudahan sipenanya paham dari maksud saya. Jika toh tidak, bukankah saya tak pernah mengajaknya untuk mengenali hasil dunia saya. Bagaimana dengan anda?[]

08 April 2014

Dunia Pasca Manusia

Dunia sebagai suatu entitas, di era posthuman, telah menjadi semesta yang transparan. Dalam sejarah kebudayaan manusia, yang mysterium dari dunia dikuak, dibongkar dan dimanipulasi. Sisi mysterium dari dunia, pada akhirnya, seperti dibilangkan Karen Amstrong, telah menjadi ihwal yang profan, dunia yang mengalami desakralisasi. 

Melalui penemuan-penemuan sains dan teknologi, realitas cosmos yang akbar dihormati, akhirnya takluk di hadapan alatalat teknis. Dunia menjadi medan yang mudah diringkus dengan bantuan alatalat super canggih. 

Dalam peradaban awal masyarakat, teknologi merupakan ungkapan buah pikir manusia untuk mengatasi alam. Namun, seiring perjalanannya --seperti tampak sekarang-- teknologi tidak lagi dinyatakan hanya dalam rangka survival  di tengah alam raya, melainkan menjadi praxis teknis yang mengambil alih dan menghancurkan sistem esensialitas kebudayaan kemanusiaan.

Perubahan dalam rangka survival menjadi praxis teknis seperti diungkapan Heidegger karena kemajuan teknologi mengalami intitusionalisasi berdasarkan alam pikiran sains. Sehingga pada awalnya teknologi yang menurut Heidegger adalah suatu  yang bermakna poiesis  berubah menjadi pekerjaan teknis positivistik belaka. Akibatnya, dunia dalam bingkai teknik dinyatakan Heiddeger hanya dilihat sebagai satuan “adaada”  yang teknologis. 

Perubahan yang paling mendasar dari kenyataan di atas adalah beralihnya keterlibatan teknologi terhadap kebudayaan manusia yang semula bersifat live centered menjadi power centered.

Dalam keadaan demikianlah manusia akhirnya mengalami miskonsepsi terhadap makna hidupnya. Teknologi rupanya sudah mengalienasi manusia dari pusaran eksistensinya oleh mesinmesin (Marxisme), masyarakat menjadi manusia dangkal satu dimensi (Marcuse), manusia mengalami kehampaan kasih sayang (Eric Fromm), tereduksi menjadi manusia teknik (Gabriel Marcel) dan di imingimingi oleh hasrat fantasi simulacrum (Baudrilard).

Dalam konteks inilah kita sepatutnya mendalami buku karangan Budi Hartanto: Dunia Pasca Manusia, Menjelajahi Tema-Tema Kontemporer Filsafat Teknologi, untuk memahami kesejatian dari penggunaan artefakartefak teknologi. Sehingga autentifikasi terhadap esensi kemanusiaan tidak mengalami objektivikasi dari melimpah ruahnya alatalat canggih di sekitar kita. Demikian juga dalam aspek kultural, agar manusia tidak mendapati dirinya sebagai subjek yang tenggelam dalam absurditas nilainilai kebudayaan teknis. 

Buku ini diawali dengan memasukkan pemikiran John Ihde, seorang filsuf berhaluan postfenomenologi sebagai jalan masuk untuk memperantarai pembaca dalam melihat posisi teknologi terhadap relasinya dengan tubuh. Yang mana teknologi dijelaskan melalui tindak ilmu yang filosofis sebagai instrumen untuk memediasi manusia terhadap dunia sebagai kesatuan subjek. 

Dari kegiatan manusia bersama dengan teknologi, secara singkat Hartanto menjelaskan pendekatan postfenomenologi dalam melihat relasi manusia dengan empat relasi yang ada dalam pemikiran John Ihde. 

Hubungan yang dimaksudkan di sini adalah hubungan kemenubuhan, hubungan hermeneutis, hubungan alteritas, dan hubungan latar belakang. Menurut saya empat konsep relasi inilah yang memberikan karakter khas dalam pemikiran John Ihde yang diklaim sebagai kelanjutan dari filsafat fenomenologi. 

Yang menarik dari ulasan ini, melalui teknologi, manusia dikatakan mengalami suatu pengalaman eksistensial. Asumsi ini dapat ditemukan dengan penjelasannya mengenai struktur relasional manusia. Melalui kategorisasi relasi kemenubuhan, nampak bahwa manusia mampu melampaui keterbatansannya dalam berinteraksi dengan dunia. Dalam kondisi demikianlah, dalam pembacaannya, manusia mengalami perluasan persepi dalam memahami kenyataan.

Walaupun demikian, melalui pembahasan ini, dalam dimensi poiseis, teknologi ditempatkan sebagai mitra eksistensi yang harus diapresiasi kehadirannya. Oleh karena sifatnya yang eksistensial, instrument teknologi di sini dipandang sebagai bagian dari kesatuan subjek dari tubuh itu sendiri. Sehingga pada aspek ini, untuk melihat teknologi secara kritis akhirnya harus tanggal oleh nuansa pragmatis dalam pandangan Ihde. Bila nuansa kritik hendak diajukan di sini, maka subbab ini harus dibaca dengan tindak baca yang ideologis.     

Masih dalam bab ini, Hartanto juga mengangkat persitegangan antara beberapa pandangan filsafat menyangkut entitas jiwa. Melalui konteks perdebatan tokoh yang dikemukakan, diskursus  mengenai jiwa, sayangnya masih dibaca  dalam matriks pemikiran barat. Sehingga melalui proposisiproposisi  yang terbangun, jiwa mengalami materialisasi dari sifatnya yang metafisis. 

Konsekuensi dari tindak baca demikian, jiwa akhirnya dipandang sebagai subtansi yang meruang dan dapat disaintiskan. Di samping juga nampak sisi berat sebelah dari segi ulasannya dengan tidak memasukkan wacana filsuf Timur maupun Islam di dalam pembahasannya. 

Walaupun demikian, secara garis besar usaha Hartanto dalam mengatasi kelemahan pandanganpandangan yang diangkatnya bisa kita simak dalam pemikiran John Ihde, terutama dalam soal dualitas jiwa dan tubuh dengan pendekatan postfenomenologi.

Kesadaran, dalam perkembangan diskursus ilmuilmu modern, tidak lagi menjadi medan kekuasaan dari ilmuilmu filsafat. Di masa kontemporer, hak paten yang dahulu dimiliki oleh filsafat mengalami liberalisasi yang memungkinkan bagi ilmuilmu lain untuk dipersoalkan. Desakralisasi ini dapat ditemukan pada ilmuilmu semisal psikologi (ilmu kognitif), biologi (neurosains) dan ilmu komputer. 

Dimungkinkannya peluang ilmuilmu kontemporer yang berwatak sains dalam membincang kesadaran, akhirnya menemukan soalsoal yang jauh lebih kompleks dan sophisticated, semisal diskursus tentang artificial intelligence (AI) dan rasionalitas robotis. 

Berkenaan dengan tematema ini, di dalam buku ini oleh Hartanto, dibahas di bawah tema “Tubuh dan Rasionalitas.”

Kesadaran dalam kaitannya dengan AI setidaknya menjadi perbincangan yang problematis. Dalam ulasannya, Hartanto memperlihatkan kemungkinankemungkinan kemajuan teknologi yang merampas otoritas manusia seperti yang dapat disaksikan dalam kisahkisah fiksi sains semisal dalam film HAL 9000SkynetColossus, The Matrix maupun I Robot.

Fenomena kecerdasan yang dapat dicangkokkan ke dalam mesinmesin canggih akhirnya mengalami perdebatan menyangkut makna kecerdasan yang dialami manusia. Terutama dalam makna kesadaran itu sendiri, apakah kesadaran yang dialami oleh mesinmesin sama halnya dengan kesadaran yang dialami oleh manusia? apakah AI dengan kecerdasannya mampu mengerti sebagaimana manusia mengerti? Dan mungkinkah peranperan manusia dapat tergantikan dengan AI? Di dalam pembahsan ini juga, dikemukan kemungkinan mesinmesin yang mampu berpikir selayaknya manusia sebagaimana yang ditampilkan pada permaianan catur.

Dalam diskursus filosofis, kesadaran adalah salah satu syarat dimungkinkannya kebebasan. Maka atas dasar itu,  hal ini juga menjadi soal fundamental mengenai mesinmesin yang memiliki kecerdasan. Fenomena ini menjadi problematis jika kita menerima  asumsi bahwa kesadaran adalah salah satu syarat dari adanya kebebasan. 

Kemajuan teknologi yang saat ini banyak mengubah penampilan dunia, pada akhirnya juga menjadi tema yang turut dibincang dalam isuisu filosofis saat ini. Apatah lagi dalam persentuhan terhadap dunia, manusia banyak menggunakan instrument teknologi dalam setiap aktivitasnya. 

Sebagaimana dikutipkan dalam buku ini, Bambang Sugiharto menyatakan bahwa teknologi saat ini sudah sedemikian inheren dalam diri manusia (hal x, kata pengantar). Sehingga perlu reorientasi yang memadai untuk mengubah secara maknawi dari cara menggunakan alatalat teknologi yang sering kali banyak membawa manusia pada situasi yang teralienasi.

Di bawah tema “Etika Teknologi” yang menjadi bagian terakhir dalam buku ini, pembaca akan disuguhkan pandangan filosofis menyangkut teknologi. Heidegger misalnya, adalah salah satu filsuf yang memberikan perhatian terhadap makna teknologi sebagai moda memproduksi kenyataan yang memiliki dimensi penyingkapan. Sehingga dalam pengertian ini, teknologi menjadi kegiatan refleksi-filosofis yang menjadi bagian dari pengalaman manusia.

Tetapi dari argumentasi demikian, menjadi berbeda apabila hal ini disaksikan dalam kenyataan empiris sekarang. Dari sudut etis misalnya, instrumen teknologi sudah sedemikian rupa banyak berperan sebagai pusat yang menggeser peran subjektivitas manusia. Begitu juga dalam hal kekuasaan, teknologi sudah tampil sebagai kesatuan sistem yang massif dalam hal intensinya terhadap kehidupan manusia. Maka dari sifatnya yang demikian, teknologi sebagai sebuah sistem dan manusia sebagai subjek yang memiliki kedaulatan, dalam hal pengaruhnya terhadap kebudayaan menjadi masalah yang serius dibincangkan dalam bab ini.

Teknologi yang berevolusi bersamaan dengan sains dalam masyarakat pascaindustri, dalam stadium yang minimal, selain sifat progresivnya, dalam sisi yang lain, banyak menyisakan residu yang tak tangungtangung bagi kemanusiaan. Atas dasar ini, banyak pihak terutama agama yang memberikan respon negatif terhadap massifikasi yang inheren dalam teknologi.  Penolakan ini semakin kuat akibat sifat ilmiah dalam sains yang banyak bersentuhan dengan ihwal yang dimata agama adalah sesuatu yang sakral. Oleh karena coraknya yang  ilmiah dan siifat negativitas penemuan sains dan teknologi terhadap halhal yang tabu dalam pemahaman religius, maka agama pada akhirnya harus memasuki medan perbincangan yang selama ini dihindarinya.

Medan sains yang sarat dengan visi saintisme, dalam paradigma agama menjadi hal yang ditolak karena sifatnya yang materialis. Saintisme dalam buku ini dijelaskan sebagai cara pandang yang melihat kenyataan hanya pada batasbatas material-aksidental. Sementara dalam soal kebenaran, saintisme hanya mengakui kaidah ilmiah sebagai satusatunya cara untuk mendapati kebenaran. Dengan karakter demikian, saintisme yang mengendap dalam sains, menuai kritikannya dari pandangan agama.

Kritikan agama terhadap saintisme terutama ditujukan terhadap paradigma sains yang bersifat profan. Dalam pengertian ini, nilai ontologi sains yang menggeser peran tuhan dalam soal epistemik adalah persoalan yang begitu mendasar. Darwinisme misalnya, adalah salah satu alur pemikiran yang dimaksudkan oleh Hartanto di dalam ulasannya pada tema “Agama Mengkritik Saintisme”.

Di dalam ulasan ini, Hartanto turut mengemukakan pandangan filsafat parenial yang memberikan visi berbeda berkenaan dengan sifat sains yang saintis. Filsafat parenial yang umumnya adalah medan yang mampu mempertemukan kebenaran yang terserak oleh wacana dominan, dalam pengertian bahwa kebenaran adalah pengetahuan suci yang dimiliki oleh tradisi pemikiranpemikiran agama, adalah sanggahan terhadap sains yang mengklaim bahwa kebenaran ilmiah juga dimiliki oleh wacana yang bersumber dari tradisi keagamaan dan kebudayaan.

Lebih dari pada itu, sifat kebenaran yang dimiliki oleh visi parenialisme yang transendental, memiliki nilai ontologis yang tinggi jika dibandingkan dengan kebenaran dalam sains. Oleh karena sifatnya yang transedental, maka klaim universalitas mengenai kebenaran yang inheren dalam sains akhirnya digugat dan mulai dipertanyakan. Untuk menjawab soal ini, Hartanto mengangkat pandangan Seyyed Hossein Nasr tentang sains suci yang mensyaratkan keberadaan metode sains yang bersumber dari kebijaksaan agama dan kebudayaan.  

Seperti yang diungkapkan, kritikan terhadap sains juga dikemukakan oleh pandangan yang bersumber dari pemikiran feminisme. Watak sains yang destruktiv adalah pencitraan maskulinitas yang berdampak pada kerusakan ekosistem kehidupan manusia. Pembangunan reaktor nuklir, penggerusan alam, pendirian pabrikpabrik industri, adalah beberapa contoh betapa kemajuan yang ditopang oleh sains banyak merusak tatanan alam kehidupan manusia dengan limbahlimbah industri yang dihasilkan. Tindak sains yang bersifat maskulin dan destruktiv seperti ini, dalam pandangan feminisme ditenggarai oleh paradigma sains yang bersifat bias gender oleh karena dominasi cara berpikir lakilaki.

Sebagai penutup, setelah dibuka dengan prawacana yang menarik dari Alfathri Adlin dalam kata pengantarnya, saya kira juga ditutup dengan nuansa permenungan yang sarat dalam bagian postscrib buku ini. Dalam penutupnya, Hartanto melanjutkan refleksi filosofis yang merupakan lanjutan dari prawacana buku ini. Sehingga ada kontinyuitas antara yang menjadi subtansi dari prawacana dengan yang termaktub dalam penutup buku ini.

Dalam penutupnya, digambarkan ada hubungan yang ambigu antara relasi manusia dengan keberadaan alatalat teknologi. Di dunia empiris, begitu banyak masyarakat yang terbuai dengan eksistensi artefak teknologi. Walaupun dalam pandangan filosofis teknologi sebagai sebuah modus eksistensi dalam mengelola alam adalah suatu cara yang inheren dalam tata hidup manusia, namun teknologi sebagai wujud artefak banyak memberikan dampak serius terhadap kehidupan seharihari.    

Sebagai bagian dari kebudayaan, teknologi yang mulanya adalah teknik untuk  bertahan hidup, secara evolutiv justru menjadi sistem otonom yang berbalik menghancurkan situasi hidup manusia itu sendiri. Teknologi dipandang sebagai perihal yang apriori harus dimiliki, sementara dalam kandungannya teknologi bisa bermakna sebagai alatalat yang mengurung eksistensi manusia. jika demikian maka, keberlangsungan manusia bisa terancam oleh hirukpikuk teknologi sisekitarnya.

Pada akhirnya teknologi dan keberadaan manusia dihadapan sejarah adalah tanda tanya bagi masa depan umat manusia. Dengan semakin canggihnya perkembangan teknologi saat ini, apakah kelak nantinya manusia mampu mengatasi sejarah ataukah sebaliknya, teknologilah yang mengambil peran dalam menentukan jalan dan arah sejarah? Saya kira menyangkut keadaan saat ini, yang hampir segala lini teknologi sudah menjadi hal yang apriori bagi kehidupan manusia, buku ini pantas untuk kita miliki dalam mengisi rutin yang semakin ajeg kita jalani. Setidaknya disaat kita asing di antara dunia yang semakin rumit. []  


30 Desember 2013


30 Desember 2013

Kaum Digital Natives

Di zaman modern seperti sekarang, dengan penggunaan media komunikasi dan teknologi secara massif, terutama di kota-kota besar saat ini, hadir golongan muda yang disebut sebagai kaum digital Natives. Istilah ini merujuk pada lapisan muda masyarakat yang semenjak kecil dididik dan dibesarkan serta terbiasa dengan alat teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital. Seperti lapisan masyarakat di berbagai dunia lain, kaum digital natives lebih peka dengan konsep kemajuan yang di tawarkan oleh era informasi seperti sekarang ini. Mereka bermain games, mengoleksi lagu-lagu dalam format mp3, duduk berjam-jam di depan laptop, sebagian sibuk ber-BBM-an, dan tentu saja sebagaian besarnya mahir dan pandai berselancar dalam dunia maya.

Kaum Digital Natives secara karakter berbeda dengan golongan yang secara umur di atas mereka. Anak-anak muda yang dibesarkan di dalam era digital lebih peka dan cekatan dalam merespon kemajuan teknologi dibandingkan dengan golongan yang disebut dengan  digital immigrant. Sementara yang tua cenderung lebih lamban  dan secara kebudayaan masih dalam tinggkatan yang berorientasi kebelakang.  Lebih jauh, kaum digital natives lebih mendahulukan “citra” dibandingkan “teks”, lebih senang “bermain” daripada “serius” serta lebih mengedepankan “aksi” daripada “pengetahuan”.

Ledakan Informasi

Konsekuensi secara kebudayaan dari kemunculan generasi digital natives akhirnya akan berdampak pada gejala budaya yang bertentangan dengan budaya adihulung. Yang mana gejala kebudayaan yang dimaksudkan disini adalah apa yang dalam kajian cultural studies disebut dengan budaya populer. Kebudayaan populer atau pop culture adalah nampakan budaya kontemporer yang dibentuk berdasarkan logika media yang cenderung mengandalkan massa sebagai sokongannya. Contoh yang paling memungkinkan untuk melacak gejala kebudayaan generasi digital natives adalah kegandrungan terhadap alat komunikasi elektronik yang sudah identik dengan mode of life sehari-hari. Dimana hampir secara massal kita jumpai pada keseharian,  bagaimana dalam pergaulan sehari-hari generasi digital natives banyak menggunakan alat-alat super canggih dalam menunjang aktivitasnya.

Memang tak bisa kita tolak banyak manfaat dari penggunaan alat-alat super canggih yang dalam kenyataan hidup memudahkan kita dalam seluruh aktivitas kehidupan saat ini. Tak bisa kita bayangkan kehidupan ini, jika alat-alat canggih yang sering digunakan hilang dari pengalaman sehari-hari. Tak bisa kita sangsikan alat-alat demikian memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dengan super cepat, dimana jarak tak lagi relevan untuk dijadikan ukuran. Pun juga hal demikian membuat masyarakat bisa dengan cepat mengetahui perkembangan dunia hanya dengan sekali berselancar dengan alat komunikasi yang dimiliki.

Namun dari semua kemajuan yang di rasakan oleh pengguna alat-alat canggih seperti smartphonegadgetI padtablet, laptop dsb, di tengah perkembangan informasi yang melimpah ruah serta dinamika jaman yang semakin cepat, membuat orang-orang yang demikian menjadi serba dangkal. Memang jaman tak bisa ditolak bahwa telah terjadi pergeseran menyikapi masalah-masalah yang dihadapi. Masyarakat dituntut untuk selaras dengan kemajuan jaman yang serba canggih dan serba cepat. Namun  keadaan yang memprihatinkan adalah masyarakat kehilangan ruang refleksvitas untuk mendaur secara seksama masalah-masalah hidup yang dialami.

Minimnya atau hilangnya ruang intropeksi ini pada akhirnya akan berdampak pada penumpukan informasi yang tak sanggup untuk dikelola. Begitu banyak dari sekeliling masyarakat bertebaran pengetahuan dan informasi yang diterima dari seluruh penjuru. Bahkan dengan bantuan alat-alat canggih yang dapat mengakses informasi dengan cepat pada akhirnya membuat masyarakat tak lagi memiliki waktu untuk mendaur ulang informasi yang diterimanya untuk dimanfaatkan pada kehidupan nyata. Akibat dari situasi seperti ini berdampak pada gejala depresi yang menekan kondisi psikologis masyarakat. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, gejala demikian disebut dengan implosive, yakni meledaknya secara internal seluruh informasi yang ada pada sistem memori seseorang, yang mana efek ledakannya bukan mengarah keluar sebagaimana ledakan eksplosive, melainkan jauh masuk pada sistem diri manusia diakibatkan menumpuknya informasi yang tertanam pada seseorang.

Dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadi sekumpulan orang yang cepat menanggapi persoalan hidup dengan cara reaksioner. Di mana dalam merespon perubahan sosio kebudayaan, masyarakat kehilangan daya sublimasi terhadap kemajuan yang mendadak di hadapi. Akhirnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat maju dengan aksesoris alat-alat canggih tetapi secara psikis mengalami regresi akibat ketidakmampuan dalam mengelolah seluruh informasi yang diterimanya.

Apa yang kita hadapi sekarang sudah sepatutnya disadari sebagai gejala kebudayaan yang bisa membawa kondisi masyarakat kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Salah satunya adalah kecenderungan masyarakat yang kehilangan ruang edukasi oleh sebab telah habis dilahap oleh seluruh yang berbau entertainment.

Pernah terbit dalam kolom opini Harian Fajar 261213


22 November 2013

Menulis Kembang Api

Menulis barangkali adalah pekerjaan yang berat. Dalam aktivitas itu ada situasi yang mengharuskan kita untuk membayangkan sesuatu. Di sana ada usaha untuk membangun, menyusun ataupun menata sebuah ide, gagasan. Oleh sebab itulah akhirakhir ini saya kerap kali gagal dalam usaha untuk menulis tentang sesuatu. Dan inilah faktanya; saya belakangan ini mengalami regresi dalam minat maupun menemukan gagasan. Dalam bahasa yang sering saya pakai; saya kehilangan gagasan yang mirip kembang api, kejutan percik api seperti dalam ledakan.

Bagaimana saya harus menyebutnya; kejutan percik api dalam ledakan. Di mana kembang api selalu punya daya gugah, memukau dan barang tentu mengagetkan. Kembang  api, kita mafhum, selalu diawali dengan letusan dan diakhiri dengan ledakan. Kembang api, pasca ledakan pertama selalu disusul dengan ledakan yang kedua, ketiga, keempat, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya padam, lenggang kemudian disusul dengan sunyi.

Kejutan dalam ledakan. Dan kembang api punya itu, daya kejut yang mirip pegas. Menghentak. Dan di sana selalu ada kontinyuitas. Ledakan yang saling bersusulan dengan pola ledakan yang berbeda, sementara pada setiap ledakannya selalu punya jedah; renggang waktu kosong  sepersekian detik untuk disusul dengan ledakan selanjutnya. Dengan begitu pada kembang api, yang biasa membuat saya terkagetkaget punya dua hal; kontinyuitas dan ruang jedah.

Dan itulah sebabnya saya mengandaikan  menulis adalah pekerjaan yang berat. Karena menulis berarti menjadi seperti kembang api. Di sana saya butuh daya pijarpijar ide yang berjalin, situasi merangkai antara ledakan satu gagasan dengan gagasan lain. Rangkaian yang berkelanjutan.  Yang mana dalam situasi yang eksplosif itu selalu mengantarkan pada situasi yang saling susul menyusul; ruang jedah. Dan dua hal ini yang akhirakhir ini tak saya alami.

Tentang perihal yang dialami; pengalaman, adalah peristiwa yang mensyaratkan adanya situasi yang sadar dalam sesuatu. Yaitu situasi yang  dengan kenyataan, antara kita dengan alam kenyataan, tentang diri yang berkesadaran dengan dunia semesta. Barangkali pengalaman yang saya andaikan  di sini dekat dengan pengertian yang bermakna eksitensialis. Yakni pengalaman akan diri atas kenyataan, dengan turut serta kesadaran yang bergumul di dalamnya. Sehingga harus saya katakan di sini, pengalaman jenis ini, di saatsaat belakangan ini, juga jarang saya alami.

Menulis juga menurut saya adalah tindak aktif dalam kesunyian. Dalam menulis, yang saya sebut laku kembang api itu, yang mengharuskan dua hal; kontinyuitas dan ruang untuk jedah, bisa berarti juga adalah laku sebagaimana seorang pesuluk. Yang berjalan di atas jalan kesunyian dalam tata ruang yang ramai. Sunyi bukan selamanya bermakna sepi. Sebab kesepian adalah keadaan yang tragis, sebab kesepian berarti segalanya hilang menanggalkan kita dalam kesendirian. 

Sedangkan sunyi adalah kesendirian yang bermakna sesuatu yang memiliki kendali, yang mana kitalah yang memilih untuk menanggalkan segalanya. Maka kesunyian adalah peristiwa yang dahsyat di mana dunia hanyalah kenyataan yang bisa saja kita tanggalkan sewaktu waktu. Maka menulis adalah laku yang memilih untuk masuk dalam keadaan yang subtil, tata galaksi yang hening di antara hiruk pikuk untuk sunyi. Dan pada titik inilah menulis bisa berarti tempuh jalan suluk yang berima antara kesunyian dan keramaian.

Menulis dalam pengalaman saya juga berarti adalah agama. Sebagaimana yang dibilangkan oleh Alfred North Whitehead, agama selalu bermula dari kesunyian. Gauthama, seorang budhis diawali dengan kesunyian di bawah pohon bodhi, dan di sanalah ajaran budha bermula. Ibrahim, seorang rasul yang hanif, mengawali agamanya dalam kesunyian dikala bulan menggelantung. Dalam sunyilah Ibrahim mencari tuhannya. 

Dan Islam, jikalau Sang Rasul Muhammad bin Abdullah tidak melakukan laku sunyi di Gua Hira, bisa jadi Islam akan tiada besar hingga sekarang. Maka barangkali tepat jika saya katakan bahwa menulis adalah agama. Sebab dalam menulis seseorang harus mampu memasuki ruang yang saya sebutkan tadi; ruang sunyi.


Seperti awal bahasa saya, menulis berarti menjadi kembang api; di dalamnya ada konstruksi, ledakan yang susul menyusul, ruang jedah, kemudian kepukauan kemudian akhirnya adalah hening. Dan memang kembang api adalah kejadian tentang ledakan dan kejutan; semuanya pasti takjub. Dalam keheningan.


07 November 2013

Bencana

Ada masa yang patut kita berikan rasa yang tinggi, namun juga ada situasi yang membuat dada kita sesak bukan main. Beberapa waktu yang lalu sebuah kabar bisa berarti sebuah bencana. Apalagi jika kabar yang sayup didengar bertolak dari lingkungan yang akademis; kampus. Tempat yang mafhum kita tahu dari sana harapan bisa ditandai dengan gelora pujapuji. Tempat pengetahuan bersemai seiring silih berganti hari.

Namun bencana tidaklah bermata, ia datang begitu tibatiba, menyulut tanpa tatakrama. Dan memang bencana adalah sesuatu yang memiliki kekutan massif. Seperti yang sudahsudah, bencana memanglah massif, tak tanggungtanggung, melabrak seluruh tanpa pamrih, tak mengenal aturanaturan, kampus sekalipun.

Namun bencana apakah yang saya maksudkan disini? Patutkah kita menyebutnya bencana? Tentang situasi yang tak didugaduga seperti beliung yang datang serempak. Seperti tsunami yang menyisir bersih tanpa didahului tandatanda sebelumnya. Ataukah wabah penyakit yang menghapus nyawa ribuan orang di suatu tempat.  Barangkali adalah salah saya, kamu, dia, mereka, bapak itu, ibu yang disana, tuan polisi, ataukah bapakbapak yang terhormat serta organorgan yang seringkali tumbuh tenggelam, yang menjadi sebab bencana itu dapat terjadi.

Memang bencana adalah sulit untuk dihindari. Namun jika bencana itu bersemayam didalam kampus maka itu suatu hal yang patut kita risaukan. Bisakah kita menebak tentang kemelut api yang melahap lapar? Juga tawuran yang seringkali menjadi trend bagi kita? Ataukah kelupaan kita bahwa kampus semestinya tempat manusia unggul untuk menolak diam? Ataukah suasana pencerahan sudah tercuri di saat kita sedang memperbincangkannya? Atau kita purapura tuli dan buta tanpa kita pernah tahu dari mana datang sumber suara dan kesan yang harus kita tangkap?

Bencana memang menyesakkan dada. Apalagi yang baru saja dialami. Ditengah tengah tempat kita belajar. Di saat baru saja kita mendeklarasikan sumpah di delapan puluh tiga tahun yang lalu. Dan barangkali memang kita tak pernah tahu apa sebenarnya sumpah itu jika diperhadapkan dengan sektarianisme yang kalap kita belabela.

Bencana juga bisa kita pahami sebagai alam yang hendak berkata, kepada sesiapa saja yang tumbuh diatasnya. Bahwa alam tak selamanya berdiam diri menerima aksi, ia bereaksi. Sebagaimana bencana, barangkali dari apa yang UNM lalui akhirakhir ini adalah bahasa yang hendak didengarkan, bahwa di dalamnya semuanya tak dalam situasi yang baikbaik saja. 


12 Oktober 2013

Antara Jurnalisme dan Filsafat

Konon sikap jurnalis dan filsuf cenderung berbeda terutama memperlakukan kebenaran.

Di tangan  jurnalis kebenaran menjadi pesan informatif. Bagi filsuf kebenaran diberlakukan lebih reflektif. Jurnalis sigap terhadap kenyataan, sementara seorang filsuf justru tenang di hadapan kenyataan.

Seorang jurnalis, menjadikan dunia faktual sebagai titik tolak pena dan kertasnya. Sementara bagi seorang filsuf, dunia faktual tidak lebih penting dibanding dunia abstrak-teoritik sebagai dunia kerjanya.

Dengan kata lain, kesigapan wartawan menjadikan kenyataan luar (fakta) sebagai sumber berita. Sedangkan dunia dalam (makna) merupakan medan “kabar” bagi pikiran reflektif seorang filsuf.

Tetapi apa sesungguhnya hubungan di antara keduanya? Apa sebenarnya sumbangsih keduanya terhadap kehidupan manusia di saat seperti ini?

Sikap filsuf dan seorang jurnalis boleh jadi berbeda menghadapi kebenaran. Namun ada kenyataan yang tidak bisa disanksikan: keduanya didorong hasrat yang sama untuk mengungkap kebenaran.

Dengan kata lain, keduanya sama-sama bekerja dalam perkara yang sama. Seorang filsuf sudah tentu mendedah dan mendaur kebenaran, maka seorang jurnalis, seperti kata Bill Kovach, seorang veteran jurnalis Amerika Serikat, bertugas melayani kepentingan publik dengan melaporkan kebenaran.

Imbas tuntutan yang berbeda, sangat sedikit nama-nama, taruhlah seorang filsuf atau sebaliknya, seorang jurnalis, yang bergerak di antara irisan dunia filsafat dan jurnalisme.

Filsafat kadang menilai realitas sebagai medan kompleks di balik kenyataan yang sederhana. Atau sebaliknya, di balik kenyataan sederhana tersembunyi fenomena kompleks.

Sedangkan di mata seorang  jurnalis, entah berupa kenyataan sederhana atau kompleks, jika itu adalah kebenaran, keduanya mau tidak mau mesti dikabarkan.

Barangkali hanya Jean Paul Sartre atau Albert Camus, yang berani mengabdi di dalam dunia yang berbeda itu.

Keduanya di masa pasca Perang Dunia ke-2, kerap menulis di media massa Perancis. Sartre maupun Camus memperagakan praktik jurnalisme sebagai medium manyatakan gagasan filosofisnya. Atau, Hannah Arendt melaporkan hasil reportasenya menyangkut kekejaman Nazi melalui wawancaranya terhadap Adolf Eichmann, sekitar 1960-an. Selebihnya tak banyak nama filsuf yang mau melibatkan diri pada kegiatan jurnalisme, atau sebaliknya.

Tetapi apakah keduanya tak bisa didamaikan di mana keduanya justru bisa saling memberikan arti satu sama lain? Mengingat praktik jurnalisme sudah dicontohkan Plato dari 2500 tahun yang lalu?
Karangan Platon, Dialog¸ sadar tidak sadar adalah hasil reportase. Ia merekam detik-detik terakhir Socrates menjelang kematian. Dari reportase Platon itu, yang mewakili suara Socrates, dunia bisa paham tentang risiko kebenaran: kematian.

Selain kematian, apa sesungguhnya risiko jurnalisme dan filsafat yang lain? Apa maksud kejujuran bagi keduanya. Apa pesan bisa kita peroleh dari kematian seorang Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, misalnya, setelah nyawanya direnggut orang-orang tidak dikenal? Apakah kita harus bersedih hati dari kematian seorang jurnalis ataukah seorang filsuf? Ketika kebenaran pada akhirnya tak pernah sampai kepada khalayak?




JURNALISME dunia yang memperjuangkan kebenaran adalah dunia yang mengedepankan akurasi atas fakta-fakta temuan. Sebuah informasi harus bernilai objektif seperti terjadi di lapangan. Demikan karena jurnalisme mengharamkan interest pribadi. Opini adalah barang haram yang merusak nilai sebuah informasi. Maka dari itu seorang jurnalis harus mengerti tentang batas antara kepentingan pribadi dengan objektifitas suatu temuan lapangan.

Sementara filsafat tidak berhenti sampai batas dunia faktual kegiatan jurnalistik. Sang filsuf tidak ingin begitu saja menerima kenyataan apa adanya seperti di mata seorang jurnalis. Pekerjaan filsuf justru masuk di balik penampakan fenomena.

Artinya, seorang filsuf akan menimbang fenomena dari sudut pandang tertentu. Ia bekerja berdasarkan kategori-kategori logis yang bisa saja berbeda dari fenomena di hadapannya. Dari pengertian inilah barangkali Marx berangkat: tugas seorang filsuf bukan sekedar menangkap kenyataan, melainkan turut mengubahnya.




AWALNYA melalui tulisan ini saya ingin menulis sesuatu berkaitan dengan media massa. Tentang posisi media massa di keberbagaian kepentingan politik dan pasar. Namun, apalah dikata, terkadang sulit mengapresiasi ide-ide ke dalam lembaran bahasa yang layak. Apalagi, belakangan muncul kekhawatiran terhadap kekuatan kata. Kata-kata di era deru deras revolusi komunikasi, malah acapkali sulit dipertanggungjawabkan.

Maka saya akhiri saja tulisan ini walaupun nawaitu tulisan ini belum dapat terealisasi.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...