29 Juli 2017

madah lima puluh tujuh

Yang hilang belakangan ini saya kira adalah keagenan yang dimiliki setiap orang. Keagenan saya kira penting. Di situ “aku-diri” mengaktual. Dengan kata lain, keagenan adalah sifat otonom “aku-diri” untuk bebas menentukan pilihan-pilihannya. Namun, rasa-rasanya menjadi agen yang sadar diri di waktu ketika menguatnya tekanan kelompok menjadi agak riskan akibat tidak adanya penghargaan terhadap individu. Orang-orang akan  merasa kurang enak  jika tidak mengikuti pilihan-pilihan kelompok yang sering kali mengeliminasi hak-hak pribadinya.  Ya, kebanyakan dari kita masih khawatir jika merasa berbeda. Takut jika memilih jalan yang berlainan dari kebanyakan. Barangkali ini akibat telah lama kemerdekaan individu disingkirkan dari pemahaman kita. Kita lebih sering diingatkan tentang kebaikan kelompok, keutamaan bersama, dan juga kemuliaan kelompok, tinimbang keberadaan individu. Bahkan, telah lama hidup kita dibentuk oleh kokohnya sistem. Kuatnya otoritas, dan  ajegnya kebersamaan. Sehingga yang terjadi adalah jika ada kecenderungan-kecenderungan yang berbeda bermunculan maka akan mati sebelum berkembang. Seakan-akan diri kita tidak memiliki arti sejauh menjadi diri pribadi. Kita hanya disebut bermakna jika diri kita diartikan sebagai bagian dari kawanan. Tubuh diri kita mesti menjadi bagian tubuh kawanan. Tubuh masyarakat. Mentalitas kawanan saya kira merupakan watak pribadi yang menjadi ciri umum kita. Kebanyakan kita bagai kawanan anjing-anjing yang hanya mengikuti insting alam untuk hidup berkelompok. Di luar dari itu, jika kita seorang diri, kita malah merasa terasing, merasa bukan apa-apa. Tanpa daya. Makanya, eksesnya terhadap kehidupan kita, hampir semua yang kita miliki adalah ciri khas kelompok; selera, minat, hobi, cara berpikir, atau bahkan hidup kita sendiri. rasa-rasanya kita belum bisa menjadi pribadi yang otonom. “Aku-diri” yang berani memilih cara sendiri, pilihan sendiri. Bukankan kita ini dilahirkan sendiri-sendiri. itu artinya hidup kita punya jalan dan caranya sendiri. Otak kita tumbuh sendiri, di kepala kita sendiri. makanya, seharusnya keunikan diri kita juga harus dihargai. Kemerdekaan individu. Dengan begitu tanggung jawab menjadi jelas artinya. Secara etis segala konsekuensi moral mau tidak mau menjadi tanggungan kita sendiri. Bukan tanggungan kelompok. Menjadi aneh rasanya, jika kita mau disebut individu yang bertanggung jawab tetapi sebelumnya kita tidak diberikan ruang untu memilih sendiri. Bagaimana mungkin seseorang harus dimintai tanggung jawabnya jika dia tidak memiliki kebebasan? Maka itu semuanya harus dimulai dari diri pribadi. Seorang yang sadar diri. Dari situlah keagenan muncul. Yakni rasa keharusan untuk bertindak. Mau melakukan sesuatu dengan kemerdekaannya. Dan mau bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.

Chester Bennington dan Beberapa Masalah di Sekitar Kita

Bila mereka berkata
Siapa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?
Di langit sejuta bintang
Berkedip, berkedip
Siapa yang peduli kapan waktu seseorang habis?
Bila sesaat itulah kita
Kita lebih cepat, lebih cepat
Sipa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?*

Dia mati. Kamis, 20 Juli lalu. Tewas di rumah pribadinya, di Palos Verdes Estates Los Angeles. Tak lama setelah itu beritanya viral. Banyak penggemarnya dibuat mendung matanya. Siapa menduga dia mati dengan cara yang tragis: gantung diri.

Kabarnya dia tertekan. Ingatan kelam masa kecilnya menyeruak dalam benak. Tumbuh dan berkembang biak bagai kanker. Trauma itu disebutnya begitu menjijikkan. Banyak laporan menyebut ia depresi. Barangkali ia kalah, atau lelah, karena itu ia bunuh diri. Namun, siapa yang tahu pasti?

Yang pasti Chester Bennington, vokalis Linkin Park itu, satu dari banyak orang yang mati bunuh diri di tengah keadaan mayarakat yang dikepung ketidakacuhan.

Tapi, depresi memang soal kejiwaan. Soal individual. Hanya saja, tidak ada soal sekarang yang bisa dicabut dari konteks sosialnya. Kalau begitu, bagaimana depresi itu bisa terjadi dan kemudian langgeng, tidak semata-mata soal pribadi. Mengingat bentuk kehidupan mutakhir, depresi tidak bisa tidak dicabut dari konteks sehari-hari era kiwari.

Itu artinya, depresi, seperti juga bunuh diri, adalah konsekuensi kehidupan sosial yang diancam sepi dan boyak.

Banyak sebab seseorang atau masyarakat mengalami depresi. Mutakhir, media sosial semakin totaliter jadi sebab asal muasal depresi. Juga sebelumnya adalah kekosongan di antara meregangnya relasi sosial yang disebabkan individualisme dan  syakwasangka. Situasi kultural yang mengakibatkan kekeroposan pemaknaan atas jati diri, juga merupakan biang keladi terjadinya depresi.

“Totalitarianisme” media sosial dapat diasalkan kepada fenomena masyarakat yang sehari-harinya bersinggungan dengan dunia virtual. Media sosial telah menjadi semacam jaringan sistem yang mengintervensi di hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Bahkan, pengalaman atas ruang dan waktu  kehilangan nilai ontologisnya akibat diringsek habis oleh apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai simulakrum.

Dampak nyata simulakrum, selain mengubah kenyataan menjadi pencitraan, juga memberikan dampak negatif berupa terganggunya tatanan sosiopsikis masyarakat. Akibat besarnya kesenjangan antara dunia citraan dengan realitas yang sebenarnya, orang-orang yang terjebak simulakrum akan sulit membedakan antara kenyataan dengan fantasi. Imbas dari itulah seringkali terjadi banyak gangguan mental. Contoh dari semua itu adalah menguatnya individualisme naif yang dinyatakan dengan merebaknya budaya selfie dan narsistik.

Dari sisi lain, kekosongan dalam relasi sosial dibilangkan Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis sebagai peristiwa anomali. Yakni hilangnya peran sumber-sumber nilai untuk memberikan pemaknaan terhadap kelangsungan hubungan antara individu. Di situasi ini, agama, norma-norma, dan juga etika, menjadi mandul mengawal agenda-agenda perubahan masyarakat.

Jalin kelindan beragam nilai kebudayaan, juga melahirkan ekses negatif berupa  hilangnya otonomi atas “aku”.  Manusia di hadapan kebudayaan yang cair, dibuat sulit menentukan jati dirinya. “Aku” otonom ihwal yang sulit dicapai. Itulah sebabnya, krisis eksistensial melanda. “Aku” sebagai basis kendali kehilangan pusat dan keseimbangan di tengah deru “massa-budaya”.

Mengacu kepada Sigmund Freud,  orang-orang yang depresi juga besar pengaruhnya akibat kehilangan objek yang dicintai. Kehilangan cinta juga berarti hilangnya hubungan kebermaknaan di antara dua person. Dengan kata lain, raibnya cinta sama artinya dengan hilangnya “saluran” yang “emansipatif” dan inspiratif.

Itulah sebabnya, pembebasan secara emansipatif, membutuhkan cinta sebagai kekuatan pendorongnya. Kekuatan inspiratifnya. Pembebasan emansipatif tanpa cinta bakal membuat seseorang menjadi tiranik. Sebaliknya cinta tanpa pembebasan justru mengubah manusia menjadi budak.

Hilangnya hubungan kerelaan atas nama cinta juga mengakibatkan kesepian. Lubang yang ditinggalkan kesepian tidak jarang membuat orang akhirnya berduka. Tenggelam dalam dislokasi perasaan yang mengancam jiwanya. Dan kemudian larut di dalamnya.

Barangkali, akibat kedukaan, dan hilangnya perhatian antara sesama membuat orang-orang yang depresi menjadi lebih rentan. Tidak ada tempat untuk berbagi, tiada wadah untuk saling bertukar pengalaman. Terisolasinya masyarakat lantaran individualisme naif, menjadi salah satu sebab mengapa persoalan depresi menjadi masalah yang tidak kalah penting.

Dengan konteks demikian, situasi di atas sama dengan keadaan alienatif yang dialami seorang individu karena keterasingan dari dan terhadap sesamanya. Karena itu situasi ini jauh lebih berbahaya, oleh sebab, selain depresi yang menyebabkan hilangnya kontrol terhadap kesadaran, alienasi yang dialami seseorang juga berakibat keterasingan dari dirinya sendiri melalui dirinya itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa penting membangun relasi kebermaknaan sesama anggota masyarakat. Menghidupkannya dengan cara membangun perhatian dan kesetiaan berbasis nilai kemanusiaan tinimbang ikatan yang dibentuk moral masyarakat kapitalistik era kiwari. Melalui itu, hubungan dialogis dapat terbangun lebih dari sekadar sarana interaksi yang bersifat kebendaan dan instrumentalistik. Lebih jauh daripada itu, agar supaya kebudayaan manusia tidak semata-mata hanya bersifat produktif semata, tetapi juga reflektif-kontemplatif. 

Di sisi lain juga penting melihat hubungan relasional yang memerdekakan individu dari kekuatan di luar dari dirinya berupa institusi masyarakat yang sering kali menjadi rezim totaliter. Dengan kata lain, individu tidak ditotalisasi oleh rezim intitusi untuk menemukan kreatifitas dan kebebasannya yang berbasis keagenan yang dipunyainya, begitu juga sebaliknya, agar masyarakat tidak dikontrol secara sepihak oleh superioritas keagenan individu.

Tegangan dan tekanan yang terlalu besar dari tirani masyarakat, berupa misal intervensi nilai-nilai kolektif terhadap individu, sedikit banyak akan membuat keagenan individu berupa kebebasan dan kreatifitas menjadi sulit berkembang, atau bahkan akan mengalami pemenjaraan. Namun, kemerdekaan individu bukan berarti segalanya di dalam masyarakat. Kemerdekaan individu juga mesti mempertimbangkan tegangannya terhadap sistem nilai yang dikandung di dalam masyarakat itu sendiri agar terbangun alam kehidupan yang seimbang.

Syahdan, depresi tentu dapat dihindari apabila tekanan-tekanan sosial dapat dimerdekakan melalui basis-basis emansipatif dan edukatif yang dimiliki masyarakat itu sendiri. Basis emansipatif dan edukatif berupa misal, komunitas bakat dan minat, kelompok kreatifitas kepemudaan, organisasi kemahasiswaan, sampai lembaga study club, dapat menjadi saluran pembebasan dari sirkulasi sosial-psikis-mental yang seharusnya bekerja dengan baik dalam tubuh masyarakat itu sendiri. 

---

*Petikan dan terjemahan dari lagu One More Light, Linkin Park

---

Telah terbit di Kalaliterasi.com

20 Juli 2017

Gabo dan Kisah-Kisah Penculikan-nya

Membaca karangan fiksi sudah pasti akan mendorong pembacanya merasakan betapa kejadian-kejadian yang dibacanya bukan seratus persen dari kenyataan yang sedang dan sudah terjadi. Dengan kata lain, apa yang ditemuinya hanyalah hasil akal-akalan sang sastrawan. Bermain-main dengan imajinasi: itulah makna sastranya. Namun apa jadinya jika ada laporan berupa karya nonfiksi yang mengandung unsur-unsur sastra? Dengan kata lain suatu hasil dari kerja jurnalisme? Itulah sebabnya, ketika membaca Kisah-Kisah Penculikan (News of a Kidnapping) karya Gabo –nama panggilan Gabriel Garcia Marquez- seolah-olah membaca karangan sastra. Padahal, karya ini merupkan karya jurnalisme Marquez yang dikerjakannya selama tiga tahun bersama dua asisten yang membantunya –Luzangela Artega seorang jurnalis yang membantunya dalam melacak fakta-fakta sulit yang detail, dan Margarita Marquez Caballero, sepupu dan sekertaris pribadinya ketika mengelola transkip dan memverifikasi bahan-bahan kasar rumit, yang dikatakan Marquez bakal menegelamkan mereka. Saya berkeyakinan karena latar belakangnya juga sebagai seorang sastrawan (di masa hidupnya Gabo juga seorang reporter), sehingga membaca karya tangannya ini seperti didorong dengan motivasi yang sama ketika membaca karangan fiksinya. Saya seakan-akan terbenam dalam alur penceritaan jurnalistiknya yang seolah-olah hasil rekaan imajinasinya. Dengan dorongan inilah sehingga saya dapat menghabiskan seluruh laporan Marquez yang diterjemahkan dan diterbitkan penerbit Circa di tahun 2016 kemarin –News of a Kidnapping sendiri pertama kali terbit di tahun 1996 dan setahun kemudian dengan versi Inggrisnya. Kisah-Kisah Penculikan –disebutkan Marquez adalah karyanya “yang paling sedih dan sulit dalam hidupnya”—adalah  cerita 10 warga Kolombia yang diculik oleh kartel Madellin (pimpinan Pablo Escobar, seorang gembong narkoba di era 80 dan 90-an) yang di antaranya delapan jurnalis dan tiga lainnya merupakan tokoh politik, salah satu di antaranya merupakan anak presiden. Dengan tujuan politis, Pablo Escobar sebagai dalang utama dari penculikan ini menginginkan suatu cara agar Kolombia tidak meneken perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat. Kisah yang dituliskan dengan akses terhadap tokoh-tokoh penting yang jarang dipunyai seorang reporter sekaliber Marquez, dibangun dengan pendekatan yang hampir sama dengan teknik metafora, penyingkapan karakter, dan penggunaan teknik penceritaan seperti dalam karya fiksinya, dan semua itu tidak ditemukan dengan sekali dua kali pengalaman reportase. Buku ini juga mengetengahkan dengan gamblang bagaimana keadaan politik yang dialami warga Kolombia tidak semata-mata dunia yang terpisah dan bahkan mendapatkan tegangan dan intervensi yang intensif dari kelompok-kelompok penyelundup obat bius. Apalagi dengan kehadiran Pablo Escobar, musuh nomor satu Kolombia saat itu, membikin keputusan-kepustusan politik mau tidak mau harus ikut memperhitungkan keberdaan orang-orang semacam Escobar. Khususnya Medellin, tempat yang dinyatakan sebagai kawasan paling berbahaya di Kolombia, bahkan dunia, yakni akibat betapa banyaknya kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di sana, dan dengan nama Escobar yang “harum” akibat kedekatannya dengan masyarakat tingkat bawah, membuat pihak pemerintah dalam mengambil jalan ketika hendak memutuskan menyelamatkan para sandera menimbulkan perhitungan yang mendalam. Di balik kisah semacam itulah Marquez menggambarkan bukan saja peristiwa ketika para sandera mengalami penculikan, tapi juga saat-saat ketika ia menerangkan betapa rumitnya kecemasan, kesabaran, kepusingan, kehati-hatian, dan waktu yang dilalui pihak pemerintah –terutama presiden dengan timnya—saat menentukan langkah-langkah antisipasi yang mesti diambil di tengah-tengah konstelasi politik yang terjadi. Kehebatan Marquez juga nampak ketika dia memiliki “keleluasan” dalam menggambarkan pihak penculik di saat menjalankan tugas mereka ketika menjaga sandera selama berbulan-bulan. Dan, tentu bagaimana dia menuliskan betapa peliknya perasaan manusiawi yang dialami penjaga para sandera di tengah-tengah tugas berat mereka. Terutama terhadap pihak-pihak yang disebutnya protagonis, kisah yang ditulisnya ini dikerjakannya bersamaan dengan perasaannya yang disebutnya frustasi akibat “tahu bahwa tak satupun dari mereka yang akan menemukan tempat di koran lebih dari sekadar cerminan pudar tentang horor yang harus mereka tanggung dalam kehidupan nyata”. Dari semua itu rangkaian wawancara yang dilakukannya merupakan “pengalaman manusiawi yang memilukan hati dan tak terlupakan”. Pelajaran yang paling berharga dari jurnalisme Gabo ini adalah menyadari betapa di saat membaca hasil kerjanya yang luar biasa ini, saya masih bisa menangkap hampir secara utuh kejadian yang sudah lampau terjadi melalui narasi yang dibangunnya. Ikut tenggelam dalam suasana psikologis para korban, dan melihat sisi manusiawi yang lain dari seorang penjahat sekaliber Pablo Escobar dan gerombolan kartelnya.  

---

*sebagian kutipan yang ada dalam tulisan ini diambil dari tulisan Marquez yang menjadi pendahuluan dari bukunya yang diterjemahkan dan diterbitkan penerbit Circa


19 Juli 2017

Narasi Imajinasi-sains Nirwan Ahmad Arsuka

Bagaimana mungkin dunia pada hakikatnya adalah narasi?

Tapi, begitulah yang dibilangkan Nirwan Ahmad Arsuka di suatu diskusi menjelang ramadan di Cafe Dialektika yang digelar Paradigma Institute Makassar. Dunia jika dikuak intinya, tiada lain adalah narasi.  Segala sistem pengetahuan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, dibangun di atas sebuah narasi. Melalui “lidah” manusia, alam semesta mewujudkan dirinya melalui kisah.

Atau dengan kata lain, sepanjang manusia menciptakan narasi tentang hidupnya, maka sebenarnya itu adalah cara alam semesta mengungkapkan dirinya di hadapan manusia.

Suatu puitika-kah ini?

Meminjam kategori waktu Heidegger tentang destitute time, manusia di sepanjang sejarahnya selalu berusaha untuk menemukan orisinalitas dirinya di hadapan alam semesta yang melingkupinya. Segala upaya ilmu pengetahuan, yang juga dikatakan Nirwan sebagai percakapan dengan semesta, merupakan bentuk dasariah manusia menemukan relasi eksistensial antara dirinya dengan seluruh eksistensi yang mengitarinya.

Sesungguhnya apa yang dikatakan Nirwan sebagai percakapan dengan semesta merupakan pemapatan atas sejarah panjang manusia ketika mengekspresikan dirinya. Di dalam waktu, dengan waktu, dan melalui waktu, manusia “menyelam” di antara dan di dalamnya. Mencari hubungan kebermaknaan di antara relasi yang mereka ciptakan sendiri melalui konfirmasi dan afirmasi terhadap alam semesta demi menunjang kehidupannya.

Diperantai imajinasi, dimulai dari pemikir paling awal, sejarah kebudayaan manusia bergerak di antara pemahaman bahwa alam semesta memiliki archetype berupa air, udara, api, atom, hingga kebudayaan modern menyebutnya gelombang, demi mencari hakikat alam semesta di dalam kebudayaannya.

Dengan kata lain, percakapan dengan semesta adalah pekerjaan yang sudah dan sedang berlangsung hingga kini.

Kekuatan imajinasi, belakangan banyak ditemukan di setiap kebudayaan-kebudayaan masyarakat. Dimulai dari peradaban kuno Sumeria hingga abad modern, imajinasi adalah kekuatan paling fondasional yang membentuk kehidupan bersama.

Kaitannya imajinasi dalam narasi, dikatakan Nirwan juga dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan epos I la Galigo-nya. I la Galigo dalam konteks masyarakat Sulawesi Selatan merupakan satuan pengetahuan kosmologi manusia Bugis untuk mengidentifikasikan dirinya dengan alam semesta. Melalui I la Galigo, alam semesta diimajinasikan dan diposisikan sebagai sistem penjelas bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Itulah sebabnya, Nirwan mengatakan, peradaban yang tidak ditopang dengan narasi lambat laun akan berbalik punah. Tidak ada peradaban di mana pun tanpa narasi sebagai inti fondasionalnya.

Kebudayaan yang ditopang dengan pendidikan jika mesti direvolusi, dikatakan Nirwan juga mesti menempatkan narasi sebagai faktor utama agar manusia dapat bergerak maju. Bahkan Nirwan menyatakan bahwa kemampuan membuat dan memahami narasilah yang mesti dikembangkan di dalam sistem pendidikan. Melalui narasi, manusia diberikan peluang untuk mengembangkan imajinasinya. Bahkan, melalui imajinasi, manusia mampu menemukan dan menciptakan kenyataan baru demi mengatasi hambatan-hambatan yang dialaminya.

***

Malam itu, diskusi yang dikemas untuk memberikan apresiasi terhadap bukunya yang terbit beberapa tempo yang lalu, banyak menarik perhatian anak-anak muda Makassar yang banyak berkiprah dalam dunia literasi dan filsafat.

Salah satu yang menarik dari pokok diskusi Nirwan adalah konsep tiga dunia (Three Words) yang diperkenalkan Karl Popper di tahun 1978. Pidato yang dibacakan di Universitas Michigan itu membentangkan tiga tingkatan tatanan dunia secara ontologis berkenaan dengan dunia pengalaman manusia.

Berdasarkan pemahaman Karl Popper, dunia pertama adalah dunia fisik manusia yang terbentang di dalam medium ruang dan waktu. Segala apa yang tampak secara fisik merupakan bagian dari dunia pertama. Dunia kedua adalah dunia mental yang dimiliki manusia dalam perasaan dan dan proses berpikirnya. Sementara dunia ketiga adalah dunia objektif segala hasil pemikirian manusia berupa tamsil dari dunia seni, teknologi, filsafat dan agama.

Ketiga dunia ini disebutkan Popper saling berinteraksi dan saling memediasi sebagaimana misalnya dunia pertama hanya bisa berinteraksi dengan dunia ketiga melalui dunia kedua. Itu artinya, peran mediasi bahasa, yang dinyatakan sebagai objektifikasi mental manusia dari dunia kedua dan dunia objektif dunia ketiga sangatlah mendasar.

Itulah sebabnya Nirwan sangat menekankan betapa pentingnya sastrawan, atau orang yang bergerak dalam dunia bahasa banyak-banyak menggunakan pendekatan dunia ketiga ketika mengeksplorasi karya-karya pemikirannya. Dengan mengeksplorasi dunia ketiga, akan banyak memungkinkan bahasa selain menjadi medium pemaknaan, juga mampu memberikan kesan lahiriah yang bukan saja retoris estetis, tetapi juga mengandung kedalaman makna yang berbobot.

Hubungan dialektis, menurut Nirwan adalah kunci dari interaksi antara kategori-kategori yang bersifat fisikal dengan dunia imajinasi ketika ingin menghasilkan dunia ketiga, dunia objektif dalam pemikiran Karl Popper. Dengan kata lain, Nirwan mengatakan dunia yang baik adalah dunia yang senantiasa dibangun dengan imajinasi yang senantiasa berkembang untuk jauh lebih luas dari kenyataan.

Dari hubungan semacam inilah, yakni ketika setiap imajinasi berkembang lebih jauh dari kenyataan yang terjadi, maka perubahan dimungkinkan terjadi.

Gairah untuk menaklukkan kenyataan melalui imajinasi, dinarasikan Nirwan sebagaimana Karaeng Pattingalloang di beberapa abad lalu ketika ingin memesan bola dunia dari Keluarga Bleau di tahun 1644 dari dataran Eropa yang tidak pernah dibayangkan pembuatnya sekalipun. Dalam kasus Karaeng Pattingalloang, imajinasi tentang bola dunia yang belum pernah dipikirkan menduduki posisi yang sentral ketika “mengintervensi” dan “menciptakan” kenyataan baru.

Dengan kata lain, imajinasi yang dipercakapkan Nirwan bukan sekadar sekumpulan gambaran konseptual tentang sesuatu yang dipunyai manusia tentang kenyataan tertentu, melainkan upaya pelampauan kenyataan untuk mendorong terjadinya kenyataan baru dengan cara memperkarakan batasan-batasan yang selama ini diciptakan sendiri oleh umat manusia.

Artinya, kalau bisa dikatakan tidak ada yang tidak mungkin selama itu mampu dimajinasikan sejauh alam pikiran manusia. Bukankah kenyataan selalu dimulai dari narasi?

---

Terbit juga di Kalaliterasi.com

15 Juli 2017

The Heart is a Lonely Hunter, Carson Mc Cullers

Nasib adalah kesunyian masing-masing. Chairil Anwar

Di New York Café, Jake Blount, dengan mulutnya yang sering kali berbau gin atau bir, bakal menemukan pendengarnya yang paling setia: Dari mulutnya dia sering kali  membicarakan dunia yang tidak adil, pikirannya, sistem kapitalisme di mana pun selalu membuat orang-orang mengalami kehidupan yang terlunta-lunta. Membaca The Heart is a Lonely Hunter adalah membaca kisah orang-orang yang kesepian. Hidup di suatu kawasan yang terpinggirkan. Kehidupan masyarakat di kepung pabrik-pabrik. Perbedaan ras, dan pekerjaan yang menyita waktu tidak lebih dari 12 Dollar. Begitulah kisahnya. Segalanya di mulai dari jiwa-jiwa kesepian yang saling berinteraksi di sebuah kafé kecil di pinggiran kota. Kisah orang-orang yang terkucil dari lingkungannya. Suara-suara yang sering kali dipinggirkan begitu saja. Jake Blount seorang sosialis yang tidak diketahui asal usulnya, Biff Brannon sang pemilik kafe yang ditinggal istrinya yang mengalami kesepian kasih sayang, John Singer sang bisu yang kerap dianggap orang paling tenang tempat semua orang merasa dipedulikan, Mick Kelly gadis 12 tahun yang tumbuh dengan gaya tomboy dan tidak pernah jauh dari dua adiknya, Spiros Antonapoulus si Yunani yang gila, dan Benedict Copeland, dokter kulit hitam yang hidup di masa yang salah. Setiap jiwa adalah pemburu-pemburu kesunyian. Carson Mc Cullers menarik siapa pun yang membaca novel ini dengan tanpa terhindari dari jiwa yang selama ini terabaikan. Kita barangkali merasai sehari-hari tak ada yang luput dari pembicaraan, setiap kepala memilih mengutarakan semua isi kepalanya. Mengatakannya berulang-ulang, kepada semua orang. Tanpa henti-henti. Akhirnya semuanya sesak, dan setiap orang merasa telah menemukan kehidupan yang mampu menyelesaikan persoalan. Namun tanpa kita sadari tidak semuanya berharga. Di titik itu, saya merasa lebih baik bisu seperti nasib yang dialami John Singer. Lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena itulah sosok seperti Singer menjadi semacam pusat bagi orang-orang yang ditimpa kesepian. Seperti Mick Kelly, seorang gadis yang merasa Singer adalah orang yang tepat ketika ia ingin menyampaikan setiap maksud yang terpendam di kepalanya. John Singer yang bisu bagi Jake Blount dan Benedict Copeland yang memercayai dunia mesti dibersihkan dengan setiap ide di kepala mereka, adalah ceruk dalam yang bisa diisi oleh benda apa saja. Tanpa suara ketika setiap benda masuk ke dalamnya. Juga bagi seorang seperti Briff Brannon, orang semacam Singer merupakan jenis manusia yang layak dijadikan seorang pendengar setia. Tapi ketika setiap orang menemukan pendengarnya masing-masing, tidak seluruhnya mampu mengusir setiap kesepian yang dialami masing-masing. Setiap pembicaraan yang dilakukan seperti menelan sendiri maksudnya dengan akhirnya meninggalkan kekosongan yang masih menganga. Pada akhirnya tidak semua bisa menemukan suatu pegangan. Semua pada asalnya harus menemukan sendiri “suara” dari dalam yang selama ini tergeletak entah di mana.  Novel ini telah menceritakan pertemanan atau mungkin semacam persahabatan yang ganjil antara orang-orang yang dirundung soal, yakni orang-orang yang membutuhkan perhatian ketika mereka memberikan perhatian kepada yang lain. Tidak semua yang memberikan perhatian seolah-olah adalah orang yang nampak bijak, tapi di balik perhatian masing-masing bersembunyi soal yang tak gampang untuk dibicarakan. Selalu ada bahasa yang sulit diucapkan. Walaupun novel ini bukan novel politik, tapi sesungguhnya ada bagian-bagian kecil dari obrolan yang mengikutkan pandangan politik atas suatu nasib umat manusia. Apalagi jika itu ditemukan dari tokoh Dokter Copeland yang sampai-sampai mencita-citakan pembebasan kaum negro dengan memberikan nama anak keduanya tokoh komunis dunia, Karl Marx. Juga seorang Blount, pekerja paruh waktu di komedi keliling yang memiliki pandangan-pandangan sosialis yang akut. Namun tetap saja, betapa pun dunia dihardik dari pikiran-pikiran yang kalut, kabut kesepian masih saja menjadi tembok pemisah antara setiap orang. Juga setiap tokoh di novel ini. Seperti dalam kutipan sinopsisnya kisah orang-orang yang merasa bersinggungan satu sama lain tapi tidak tidak terkait dan menyerah pada kenyataan atas kesendirian yang dirasakan. Jiwa yang terasing, tak didenagr dengungnya, juga keberadaannya. Nasib memang kesunyian masing-masing, kata Chairil Anwar.

  

20 Mei 2017

Agama atau "Agama"?

Ketika Ali Syariati mengomentari pengertian agama yang dinyatakan Emile Durkheim sebagai semangat kebangsaan dan kolektif masyarakat yang ditransformasikan ke dalam simbol-simbol, ritus, dan tradisi keagamaan, sosiolog abad 20 ini juga menunjukkan dua kategori agama yang sering tampil dalam sejarah masyarakat. Bahkan menurut Ali Syariati, di antaranya, dua kategori agama ini sering mengalami pertentangan dan perlawanan. Dengan kata lain, pertentangan yang sering dihadapi agama bukanlah entitas di luar dirinya sendiri, melainkan antara agama melawan agama.

Sebagai seorang sosiolog, Ali Syariati meradikalkan pembagian agama berdasarkan fungsi kritik dan transformatifnya di dalam masyarakat. Artinya, sejauh fungsi normatif agama tidak memberikan kontribusi dan mendorong perubahan sosial, maka agama itu menjadi paham yang dekaden dan disfungsional.

Selain itu, fungsi kritik dan transformatif dari agama, secara teoritik akan memberikan perbedaan fondasional terhadap paham-paham yang berbeda yang pernah ada dalam masyarakat, yang juga memiliki kepentingan yang sama sebagai semesta makna yang mengatur kehidupan kolektif masyarakat.

Kategori ini dirumuskan Ali Syariati berdasarkan pengalaman sejarah dan sosiologis saat pertama kali Islam datang di tanah Arab. Situasi kesejarahan ini, bertolak dari kehidupan Muhammad sebagai agen sadar yang mengubah nilai dan motif-motif individual masyarakat Arab menjadi gerakan kolektif dalam konteks transformasi sosial.

Islam yang pertama kali dibawa Muhammad merupakan agama yang mengandung fungsi kritik dan transformatif sekaligus. Dua fungsi ini secara evaluatif bekerja sebagaimana ideologi menilai dan memutuskan apa yang benar dan seharusnya dilakukan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan tujuan diciptakannya kehidupan bersama.

Islam awal Muhammad, berdasarkan fungsi kritiknya banyak mengguyah sendi-sendi masyarakat yang tidak adil akibat spirit egaliterianismenya. Ketidakadilan, penyembahan berhala, barbarianisme, diktatur kesukuan, dan dehumanisasi adalah perhatian utama Islam awal Muhammad yang ditransformasikan secara radikal untuk menciptakan kehidupan yang jauh lebih beradab.

Islam awal Muhammad, akibat sifatnya yang demikian, secara konfrontatif berhadapan dengan tradisi dan adat kebiasaan yang telah lama menjadi sistem paradigma dan tindakan masyarakat Arab.

Paradigma Arab jahiliah yang saat itu berciri feodal, "kapitalistik", dan arogan, mau tidak mau diradikalkan dengan ajaran kemanusiaan yang dikandung Islam awal. Konfrontasi ini tidak sekadar konsekuen terhadap perubahan paradigma lama masyarakat Arab, tapi juga mengubah aspek praktis dari cara hidup masyarakat jahiliah Arab saat itu.

Kritik yang dinyatakan dalam Islam awal Muhammad, dengan kata lain bukan saja alih-alih merevolusi secara elementer alam berpikir masyarakat Arab, namun juga mengubah tatanan kepentingan kehidupan sosio-politik-ekonomi saat itu.

Itulah sebabnya, mengapa perlawanan dari pemuka suku-suku saat itu tidak terlalu memusingkan apa dan bagaimana ajaran Islam awal yang dibawa Muhammad, konsep ketuhanan macam apa yang dikemukakan saat itu, dan bagaimana tata cara menjalankan agama yang dibawa, melainkan mereka lebih khawatir terhadap dampak praktis Islam yang mengguncang otoritas politik kesukuan dan kepentingan ekonomi yang saat itu dijadikan sebagai sumber-sumber prestise dan pendapatan.

Islam awal Muhammad ini dalam matriks agama Ali Syariati disebut sebagai agama revolusioner. Agama revolusioner, secara sosiologis dinyatakan Ali Syariati sebagai agama pembebasan yang secara organik mendorong penganutnya untuk berpikir dan bergerak maju mengubah pengalaman kolektif yang sebelumnya dekaden menjadi "modern".

Sementara di sisi lain, keterangan agama melawan agama, mesti dipahami melalui konteks sejarah masyarakat yang secara politis dikuasai oleh agama yang hipokrit.

Agama yang hipokrit bukan sekadar konseptualisasi teoritik Ali Syariati belaka. Dengan kata lain, pemilahan tipologi agama hipokrit Ali Syariati dikemukakan atas pengalaman sejarah masyarakat yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang agama legitimasi.

Itu artinya apa yang disebut Ali Syariati sebagai agama legitimasi, memang benar-benar ada dan beroperasi di dalam sejarah masyarakat selama ini.

Sejauh ceramah-ceramahnya, tidak ada defenisi pasti dari apa yang diandaikan Ali Syariati sebagai agama legitimasi. Yang masih samar-samar adalah agama legitimasi sering disinonimkan Syariati dengan keyakinan-keyakinan syirik. Bahkan disebutnya keyakinan inilah yang kerap menggunakan jubah agama demi mengkampanyekan agenda terselubungngnya.

Namun, apabila merujuk kembali dari indikator fungsi kritik dan transformatif dari agama di atas, maka dengan sendirinya akan memberikan pengertian baru atau berbeda tentang agama legitimasi itu. Maksudnya, sejauh agama tidak membawa perubahan apa-apa terhadap kesejahteraan masyarakat, maka itulah yang dimaksudkan Syariati sebagai agama legitimasi.

Bahkan, Syariati menyatakan, berdasarkan cara kerjanya, agama legitimasi sering memanipulasi ajaran agama untuk melanggengkan status quo kekuasaan yang berlaku.

Maka dari itu, berdasarkan tidak adanya fungsi kritis dan transformatif, agama legitimasi justru bertujuan membuat keadaan semakin alienatif dan regresif.

Agama legitimasi, jika dikembalikan kepada fungsinya, adalah agama yang secara paradigmatik mempertahankan dogma dan ajaran-ajaran lama demi memperalat umat dalam kaitannya dengan kepentingan tokoh-tokohnya.

Agama jenis kedua ini secara ontologis bukan entitas yang terpisah dari agama itu sendiri. Melainkan berada dalam agama, dan dikandung di dalamnya. Hal ini sesuai yang dikatakan Syariati, bahwa agama legitimasi kadang dijalankan dengan cara sembunyi-sembunyi dalam agama itu sendiri. Dalam sejarah Islam awal, agama legitimasi identik dengan pengikut nabi yang digolongkan al Quran sebagai golongan munafik.

Agama legitimasi dengan begitu adalah agama yang mendomplengi agama itu sendiri demi tujuan-tujuan individual, dan sekaligus berlawanan dengan misi subtansi agama itu sendiri.

Artinya, jika Islam awal Muhammad mempunyai misi pembebasan masyarakat dari tradisi dan kebudayaan yang alienatif, maka Islam legitimasi adalah agama yang memanfaatkan keadaan alienatif masyarakat demi mempertahankan kepentingan dan keuntungannya di dalam tatanan kepentingan masyarakat.

Sebagai teori sosial, matriks tentang dua wajah agama ini dinyatakan Ali Syariati saling kontradiktif dan senantiasa mengalami tegangan. Bahkan, di dalam kenyataan sejarah, dua agama ini –seperti yang sudah disebutkan di atas—sering berlawanan dan saling merebut posisi, kepentingan, dan manfaat di masyarakat.

Bukan saja itu, dua wajah agama ini, tidak bergerak dan beroperasi dengan sendirinya. Sebagaimana Islam awal dibawa dan digerakkan Muhammad sebagai agen perubahannya, maka agama legitimasi juga memiliki “nabi-nabinya” yang secara konfrontatif menggunakan agama Muhammad demi melegalkan tujuan dan hasrat individualnya.

18 Mei 2017

Ilmu atau Ideologi?


John Locke (1632-1704)
Filsuf berkebangsaan Inggris
Bapak liberalisme, terkenal dengan
konsep Tabula Rasa-nya


ILMU dan ideologi dua hal yang berbeda, walaupun keduanya bisa saling berkelindan. Ilmu ditelusuri dari fakta-faka, ilmiah, dan sifatnya mesti objektif nan bebas nilai.

Sementara ideologi justru berbeda, berkebalikan sifatnya, bisa bukan atas fakta-fakta, sifatnya nonilmiah, dan bertendensi subjektif.

Pengertian umum ini kadang masih diyakini ilmuwan Barat akibat konteks sejarah pemikiran yang mendasarinya. Dominannya cara pandang saintis yang merelatifkan pandangan-pandangan metafisika, sedikit banyak membuat antinomi ini masih berlaku hingga sekarang.

Sebagai contoh, agama yang sebagian besar dibangun dari pandangan metafisis tidak dimungkinkan untuk dijadikan optik atas suatu soal akibat sifatnya yang tidak ilmiah. Bahkan, kecenderungan metafisika yang dimiliki agama disamakan sebagai ideologi yang alih-alih mampu dipertanggungjawabkan sebagai ilmu yang ilmiah daripada sifatnya yang dogmatis.

Titik puncak dari pandangan seperti ini banyak ditemukan di kalangan pemikir abad pencerahan Eropa. Pemikir seperti --untuk menyebut beberapa-- David Hume, John Locke, Sigmund Freud, August Comte, hingga Karl Marx adalah orang-orang yang mengidentikkan pemikirannya dengan penolakkan terhadap segala hal yang berbau metafisika.

Keyakinan terhadap ilmu (sains) yang dipercayai mampu memberikan perubahan, justru mengalami perbedaan mendasar dari pikiran-pikiran Ali Syariati, seorang sosiolog abad 20.

Selain memperkenalkan analisis transformasi masyarakat melalui piramida kebudayaannya, Ali Syariati memberikan pengertian lain tentang ideologi berdasarkan faktor-faktor etimologisnya. Walaupun mengalami simplifikasi --berbeda dengan cara pendefenisian selama ini yang cenderung melihat ideologi dari bagaimana terbentuknya-- cara sederhana ini membantu kita untuk lebih mudah memahami ideologi itu sendiri.

Secara teknis-etimologis, ideologi terbentuk dari dua suku kata: ideo dan logos. Ideo berarti pemikiran, khayalan (dari sinonimitas inilah pengertian ideologi dari cara pandang marxis diambil), konsep, dan atau keyakinan. Sementara logos berarti ilmu, sabda, dan atau pengetahuan. Singkatnya, ideologi berarti penganjur keyakinan yang didasarkan atas pengetahuan tertentu.

Dalam konteks kelas masyarakat, ideologi bisa berarti pemahaman yang subjektif dari golongan tertentu. Menurut Ali Syariati, ideologi bisa diwujudkan tergantung pemahaman yang ditaati oleh suatu kelompok, ras, atau bangsa tertentu.

Dari segi sifatnya, ideologi lebih cenderung menarik penganutnya kepada komitmen tertentu. Bahkan ideologi behubungan langsung dengan ketertarikan yang menyebabkan berubahnya pikiran penganutnya. Hal ini berbeda dengan ilmu yang tidak sama sekali mununtut komitmen apa-apa selain keterkaitan di antara ilmu itu sendiri.

Sebagai contoh, Ali Syariati mencontohkan tidak adanya pengaruh apa-apa dari penemuan hukum gravitasi bagi fisikawan. Hukum objektif yang ditemukan sebagai gaya gravitasi tidak mengubah isi pikiran dan sikap sama sekali dari seorang fisikawan.

Hal ini karena hukum gravitasi adalah hukum objektif sebagaimana pengamatan yang ditemukan atasnya. Pikiran sang fisikawan ibarat cermin yang hanya memantulkan gejala-gejala yang ditemuinya. Dengan kata lain cermin tidak memengaruhi objek, dan sebaliknya, objek tidak mengubah cermin sama sekali.

Melalui kontestasi ilmu demikian, Ali Syariati mengurai dua macam penilaian yang secara kategoris akan memperlihatkan secara dikotomik perbedaan ilmu dan ideologi secara metodelogis.

Pertama, judgement de faite. Model penilaian ini adalah tahap penentuan nilai yang bersifat kategoris. Judgement de faite hanya beroperasi ketika suatu realitas dijelaskan berdasarkan ciri, bentuk, sifat, hubungan, dan modelnya, yang hanya bersifat analitik. Keyakinan ini sering dibangun dengan bunyi proposisi "sesuatu ini adalah...", "itu adalah...", atau "maka ia adalah..."

Judgement de faite dengan begitu hanya bekerja dengan maksud menyatakan fakta sebagaimana fakta itu sendiri tanpa melibatkan penilaian lain di luar dari dirinya.

Model penilaian yang kedua adalah judgement de valeuer. Penilaian ini disebut Ali Syariati sebagai penilaian tentang nilai.

Artinya, penilaian model kedua ini berusaha membangun pertanyaan-pertanyaan atas temuan-temuan dari penilaian tahap sebelumnya. Misalnya, hukum objektif gravitasi sebagai fakta yang dinyatakan sebagai suatu hukum yang mengikat benda-benda di bumi agar tidak melayang ke angkasa, dinilai apakah pengertian itu memiliki dampak etis bagi masyarakat?; baikkah hukum itu?; apa berbahayanya hukum gravitasi?; apa manfaatnya?; apa negatifnya?; dlsb.

Dengan kata lain, judgement de valeur, adalah jenis penilaian yang memperkarakan secara etis dan epistemologis nilai atas faka itu sendiri.

Menurut Ali Syariati dua penilaian ini sering sulit dipisahkan, oleh itu mesti mampu dibedakan.

Sebagai contoh, dalam membincangkan gerakan ekstremis agama, atau fundamentalis agama ataupun pasar di Indonesia, dalam kerangka judgement de faite, maka kita harus menyatakannya dengan cermat seperi apa pengaruhnya terhadap nasionalisme negara, bagaimana dia berkembang, bagaimana gerakan ekstremis agama menguasai cara pandang sebagian masyarakat Indonesia, apa dampaknya mestilah objektif sebagaimana kejadian-kejadian yang sebenarnya.

Dengan kata lain, kita mesti menahan penilaian dan sentimen pribadi ketika menggambarkan keseluruhan fakta yang ada. Ketika hal ini tidak diindahkan, maka itu akan merusak secara objetif dan metodelogis fakta-fakta yang kita temui.

Di tahapan kedua, yakni judgement de valeur, barulah sang pengamat dimungkinkan menguji temuan-temuannya dengan menganalisis, mengevaluasi, dan memutuskan, apakah ektremisme atau fundamentalisme agama memiliki kebaikan, kekuatan positif, ataukah berdampak progresif terhadap kemajuan Indonesia ataukah tidak. Apakah ekstremisme agama memberikan manfaat yang jauh lebih berfaedah; apakah kekuatan itu menguatkan rasa cinta tanah air atau malah sebaliknya?

Tahap pertama (judgement de faite) kita hanya berusaha memaparkan fakta berdasarkan temuan-temuan yang ditemukan, sementara di tahap kedua (judgement de valeur) kita berusaha mengkaji fakta-fakta berdasarkan perangkat nilai dan kebenaran yang mungkin kita terima atau tidak sama sekali dipakai.

Menurut Ali Syariati, di tahap kedualah ilmu berubah menjadi jauh lebih ideologis. Di tahap inilah temuan-temuan itu dikaji dalam konteks apa manfaat teoritis dan praktisnya bagi kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.

Hatta, masih menurut Ali Syariati, ilmu di tahap kedua inilah yang membedakan ideologi dengan jenis pengetahuan lainnya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...