26 Februari 2016

kala bunker harus impor beras

Kali ini mau bilang apa lagi? Musim paceklik datang. Bunker diserang kelaparan. Lumbung beras kosong. Melompong.

Sudah dua hari tandatanda itu tercium. Kantung plastik tempat beras disimpan jauh lebih kresek bunyinya. Kalau tong kosong nyaring bunyinya, bunyi kresekkresek tanda beras menipis.

Seperti Indonesia, bunker kurang tanggap menghadapi keadaan. Tidak ada langkah taktis diambil untuk mengantisipasi. Orangorang dì bunker sibuk urusan masingmasing. Soal perut jadi terbengkalai. Kalau ini situasi perang, tak perlu kongkalikong dengan sekutu, bunker dengan mudah ditaklukkan.

Dua hari belakangan, bunker dikunjungi mantan penghuni lama. Pertama, Andank. Dia sudah anumerta. Sudah pindah medan juang. Dia datang di bunker karena urus keluarganya yang sakit. Di bunker dia menginap dua malam. Urusan perut Andank yang tanggung. Penghuni bunker selamat.

Andank tibatiba harus pulang. Sepupu yang dirujuknya di rumah sakit, di waktu shubuh meninggal dunia. Pagipagi buta dia ditelpon. Dia harus segera ke rumah sakit. Pagi itu juga dia kembali ke Majene. Mengantar sepupunya pulang.

Kami sebenarnya masih rindu. Tapi boleh buat apa? Keadaan mengharuskan Andank segera pulang. Padahal kami lama tak berkoloni bersama. Dulu dia salah satu teman koloni. Hidup susah versi kaum miskin mahasiswa. Punya duit makan bersama. Krisis datang utang bersamasama.

Setelahnya di hari berikutnya, Ilman datang. Dia juga bagian koloni. Sekarang sudah bukan. Dia sudah punya bene. Juga sudah punya anak. Tidak mungkin bertahan hidup di bunker. Pagipagi dia datang. Tak disangkasangka.

Yang bikin senang, dia mentraktir seluruh penghuni bunker sebungkus nasi kuning. Ini kebiasaannya dari dulu kalau punya fulus lebih. Barangkali dia kasihan dengan penghuni bunker. Maklum dia juga pernah mengalami keadaan yang sama. Karena itulah dia menyelamatkan kami semenjak pagi dengan nasi kuning. Untuk sementara aman. Kami kenyang.

Ilman tak lama di bunker. Siangnya dia pulang menjemput istrinya. Kami tenang saja, lagian itu sudah jadi tugasnya. Karena kenyang kami sulit bergerak. Ilman pulang dengan pahala yang besar. Membahagiakan orangorang yang paceklik.

Tak tahu bintang apa yang jatuh. Selama dua hari bunker bisa bertahan. Selalu saja ada yang bisa dikunyah bikin perut penuh.

Cuman malang, perut yang kenyang bikin akal jadi pendek. Kami kurang responsif menangkal musim paceklik. Baru tadi siang kami sadar, lumbung beras ternyata hampa tanpa sebiji pun beras. Celaka tiga belas, kami sedikit panik. Ke mana bunker harus mengimpor beras. Negaranegara yang kami target disinyalir sudah memboikot bunker. Toh kalau ada, negara yang bersangkutan juga paceklik.

Saya tak tahu tadi siang apakah beberapa penghuni bunker sudah makan. Saya dan Ridho keluar lebih awal. Sementara yang lain memilih tinggal seperti cacing di bunker. Malamnya saya langsung ke daerah Tamalanrea mau dengar diskusi soal pemikiran Simone de Beauvoir. Sebelum jam duabelas saya memilih pulang. Di perjalanan pikiran saya melayanglayang ke bunker, pasti saat tiba penanak nasi masih kosong.

Saking paceklik, di FB, Muhajir sudah posting foto penanak nasi dengan buku Nietzsche karangan St Sunardi. Katanya kalau belum terisi beras, besok dia punya tulisan soal penanak nasi yang kosong dan juga Nietzsche dalam satu esai. Logika apa yang mau dia pakai, Nietzsche dan penanak nasi dalam satu tema. Saya tak tahu. Entahlah. Kita tunggu saja apa besok tulisannya nongol di lini masa FB.

Tapi sejak sampai di bunker, Ujhe tibatiba datang. Entah negara mana dia kunjungi. Di tangannya ada sekantung beras. Saya taksir tak cukup satu liter. Yang lain bilang, bisa ditaktisi dengan memperbanyak gorengan untuk menutupi keterbatasan nasi yang masak. Jahir yang sibuk lapakan dengan gesit langsung menanaknya. Kami senang, bisa bertahan satu malam.

Sekarang kami sedang menunggu nasi masak. Ada rapat dadakan sempat terjadi. Agendanya soal impor beras. Bunker harus menggalakkan kerja sama dengan negaranegara tetangga. Ini penting. Juga genting.

Saat kami menunggu nasi, di kepala masingmasing sudah menyusun rute kerja sama. Negara apa saja yang akan kami kunjungi. Besok pagi, agenda pertama di bunker, sebelum lapakan dibuka, semua harus bergerak ke negara kaya beras. Kalau perlu kita perang demi keberlangsungan dapur bunker. Biar bagaimana pun penanak nasi tak boleh kosong. Sangat tidak mungkin nanti kami menanak bukubuku. Kami masih waras, buku itu makanan rohani. Kalau beras makanan biologis.

Tapi, tunggu dulu, kampret!! Omongomong ternyata penanak nasi tidak dalam kondisi on. Jahir lupa menekannya. Puki mak!!!


24 Februari 2016

Subjek Sinis

Kalau percaya terhadap pikiran Marx, di bawah kekuasaan kaum pemodal tersemat ideologi yang menipu. Di balik ideologi, suatu rekayasa dibuat demi meraup kewenangan penuh. Ideologi ditaruh untuk mengelabui. Realitas yang terang jadi abuabu. Orangorang yang hidup di bawahnya tak banyak tahu, kalau mereka bekerja hanya untuk menopang satu kekuasaan tetap bertahan.

Ideologi sudah dirumuskan Marx dengan defenisi yang terang: kesadaran palsu. Dalam kalimat yang lain, ideologi adalah sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang menipu namun tetap melakukannya. Lakilaki tahu kalau rokok berbahaya secara medik, tapi kesadaran atas mode bilang lain. Lakilaki akan macho sembari menghisap rokok. Perempuan muda sadar kalau mau dapat tubuh indah, salah satu caranya lewat operasi plastik. Operasi plastik butuh banyak uang, tapi atas keindahan semuanya rela dilakukan. Ideologi disebut ideologi karena punya selimut kepalsuan. Atas nama mode dan keindahan, rokok dan operasi plastik diakui sebagai cara hidup yang normal.

Marx bilang, ideologi bekerja di dalam masyarakat. Lewat analisisnya masyarakat tersubordinasi atas kepemilikan dibidang ekonomi. Melalui jejaring hubungan produksi, masyarakat diesklusikan sampai ke titik alienatif. Namun, sejauh Marx menempatkan perhatiannya kepada masyarakat, analisisnya mengalami jalan buntu untuk mengeksplisitkan cara bekerja ideologi di tingkat individu. Apalagi soal bagaimanakah ideologi mempengaruhi kesadaran individu dalam waktu relatif lama.

Dititik itulah Zlavoj Zizek mengisi kekosongan analisis Marx. Bahkan memberikan pengertian lebih maju tentang ideologi. Bagi Zizek, yang ilutif dari ideologi bukan dari aspek “kesadaran,” melainkan “tindakan.” Karena itulah seorang lakilaki tetap merokok walaupun tahu dampak rokok terhadap kesehatan. Juga perempuanperempuan yang tetap menyiksa diri dengan program diet ketat, walaupun itu menyakitkan. Ideologi menjadi begitu kokoh akibat bekerja sampai kepada tindakan untuk berbuat, bukan sekedar pengetahuan tentang tindakan. Analisis Zizek ini dimungkinkan mengetahuinya melalui unit analisis yang dia ambil dari teori subjek yang dimiliki Lacan.

Ada tiga bentuk tatanan untuk memasuki pemahaman Lacanaian, yang menyituasikan posisi individu ditingkatan mental dan perilaku. Pertama, tatanan imajiner, kedua simbolik dan ketiga The Real. Di tahapan imajiner, perkembangan kesadaran manusia dilalui dengan cara yang salah. Terutama di tahap ini, sang aku mengalami fase cermin yang memberikan citra distorsi yang bukan aku. Melalui gambaran dalam cermin, sang aku mengira apa yang di dalam cermin adalah pantulan diri yang sebenarnya, padahal itu hanyalah pantulan yang tidak mewakili sang aku. Di tahap inilah, sang aku mengalami pembentukan diri dari aku yang salah.

Disorientasi yang dialami "sang aku" kala fase cermin, juga dialami saat "aku" mengalami fase simbolik. Fase simbolik berupa tatanan bahasa, logika, simbol, sosial maupun budaya merupakan tatanan yang dibentuk atas dasar diferensiasi. “Ibu” hanya bisa dipahami sebagai lawan dari “Ayah,” sementara “Ibu” sebagai tatanan makna yang lain tidak dimungkinkan sejauh itu tidak diperlawankan dari “Ayah.” Tatanan simbolik sama halnya fase cermin, adalah situasi perkembangan yang mengarahkan keterputusan terhadap “aku” yang sejati. Lantas di manakah “aku” yang sejati? Apakah mungkin memiliki “aku” yang murni jika semenjak awal,  kesadaran bermula dari “aku” yang terdistorsi?

Agak sulit mau bilang kalau “aku” sejati sudah dimiliki dari awal, tapi selalu ada keterasingan primordial akibat dari fase cermin. Keterasingan yang primordial ini selalu menyangkal pembingkaian yang diberikan tatanan simbolik sebagai modus dari pengertianpengertian yang diterima. Kecenderungan untuk mengelak inilah yang dimaksud The Real, suatu mekanisme penolakan dalam diri agar tidak takluk atas defenisidefenisi disekitar sang diri. Di celah inilah, The Real selalu melakukan perlawanan terhadap segala upaya pendisiplinan yang diberikan tatanan simbolik.

Namun sayang, kemungkinan melakukan perlawanan tak pernah diajukan di dalam situasi yang disebut nonideologis. Padahal Zizek bilang melalui penolakanpenolakan yang dimiliki The Real-lah suatu perlawanan dimungkinkan. Kaum pekerja bisa melakukan perlawanan hanya dengan keluar dari stigma simbolik yang inklud di dalamnya kekuasaan, dengan cara mencarinya dari kemungkinankemungkinan yang diberikan The Real. Kaum perempuan hanya bisa melawan dominasi tatanan patriarki hanya karena penolakan yang diberikan The Real agar tidak disituasikan ke dalam posisi yang subordinat.

Kemungkinan yang tidak ditemukan itulah yang disebut Zizek sebagai subjek sinisme. Subjek sinis diandaikan sebagai subjek yang berada dalam relasi ideologis yang mengetahui jejaring kekuasaan tengah berlangsung, namun malah terlibat dan ikut dengan wacana yang diberikan oleh kekuasaan.  Boleh dikata dari pengertian inilah pengertian dasar ideologi yang diwacanakan Marx yakni “mengetahui namun tetap dilakukan.” Terangnya, subjek sinis itu orang yang mengetahui realitas yang terdistorsi, tapi tetap berpegang pada situasi yang salah dan tidak menolaknya.

Subjek sinis banyak ditemui diberbagai bidang kehidupan. Di bidang politik, dia bisa disematkan kepada politisi yang tahu betul situasi perpolitikan yang salah, namun tidak menolak untuk memperbaiki, atau malah ikut terlibat di dalamnya. Seorang guru yang tahu kalau di sekolahnya ada penggelapan uang, namun ikut mendiamkan karena tahu uang yang dimaksud sudah terlebih dahulu dinikmatinya. Bisa juga mahasiswa yang punya kesadaran kritis untuk melawan ketidakadilan, namun sering berbuat tidak senonoh terhadap adikadik yuniornya. Atau seorang agamawan yang sadar banyak terjadi kemaksiatan, namun diam saja tanpa pernah mengajukan kritik terhadap kezaliman yang terjadi.

22 Februari 2016

catatan kelas menulis PI pekan 5

Awalnya agak ragu kelas menulis PI tidak jadi digelar. Tibatiba hujan datang. Deras. Tapi, selama berlangsung, kelas PI tidak pernah bolong. Sudah hampir tujuh bulan kelas dibuka. Sekarang, yang diuji konsisten. Juga disiplin.

Semangat bisa datang, bisa lapuk, bahkan hilang. Kali ini biar bagaimana pun kelas tak boleh gagal. Pasca hujan reda, gegas berangkat. Semangat masih ada, tidak bisa hilang.

Di sekretariat PI, sudah berkumpul beberapa mata. Melingkar seperti sudah sering. Banyak kertas berhamburan. Curiga, kelas sudah dibuka dari awal. Perbincangan sudah alot. Terkaannya, soal tulisan salahsatu peserta.

Sebelumnya, Kala dilipatgandakan. Dengan print sewaan. Juga dicopy. Kala sudah terbit lima pekan. Kali ini menurunkan tulisan Sandra Ramli. Dia tulis soal isu yang sedang dirundung pro dan kontra. LGBT. Begitu juga soal homofhobia. Baru kali ini Kala menurunkan tulisan yang sedang happening. Biasanya hanya tulisan yang tak punya kaitan dengan isuisu di masyarakat. Ini suatu kemajuan bagi Kala.

Kedua karya Muchniart AZ. Katanya Muchniart pulang sebelum kelas dimulai. Ada urusan mendesak. Esai yang dimuat mengomongkan lifestyle kaum muda. Dia pakai analisis Giddens, yang menyampir zaman yang bak Juggernaut. Lari tunggang langgang tanpa kendali. Normanorma bergerak tanpa arah. Sementara suatu pegangan tak kunjung jelas. Begitulah rasarasanya inti yang ditulis.

Di halaman terakhir Kala mengajukan satu polemik. Seperti yang sudahsudah dari sejarah sastra Tanah Air. Soal identitas kebangsaan. Apakah identitas harus selalu bagian dari tradisi masa lalu atau ini soal visi ke depan. Perdebatan mainnya di soal itu: keinginan merumuskan tradisi sebagai identitas, atau sebaliknya jauh lebih maju, identitas juga harus menggamit apa yang di depan, suatu tatanan yang modern.

Polemik kebudayaan setidaknya juga jadi wacana kembali. Biar bagaimana pun ini bagian dari sejarah selama ini. Aspek ini yang ingin disuarakan tulisan ketiga Kala. Walaupun tulisannya dadakan. Tapi redaksi punya mau, kalau bisa ini juga jadi topik gosip kawankawan di PI.

Karena telat, baru hampir pukul lima kelas di buka. Saya yang jadi ketua kelas buka seperti biasa. Saya jelaskan mekanisme kelas. Soalnya saya melihat muka baru. Di kelas selama ini selalu ada peserta baru, walau belum tentu bisa bertahan. Ini maklum, bukan yang utama. Yang penting mereka tahu, kami konsisten.  Juga disiplin.

Omongomong disiplin, ini mungkin penyakitnya. Kesepakan bilang pukul tiga, namun kerap molor. Saya khawatir ini jadi akut, terutama peserta yang sering telat tiba. Saya juga begitu, kurang disiplin. Tapi, bicara konsisten, kawankawan sudah membuktikannya. Ini prestasi. Salut.

Di kelas tulisan begitu banyak. Melebihi jumlah peserta. Banyak titipan. Bahkan Ari membawa dua tulisan: satu esai satu puisi.  Beberapa yang lain cerpen. Ada juga puisi. Saya sendiri sejenis Esai. Sementara K Uly dan Ishak yang saya kira esai murni.

Mekanisme pertama dimulai: menarasikan tulisan. Saya memulai. Yang saya bawa tulisan bertajuk “Bukan Pahlawan.” Isinya bisa di telusuri di lini masa FB, atau blog saya. Kemudian Arhi, dia bawa esai apresiasi karya Sulhan Yusuf. Sandra Ramli bilang dia bawa cerpen, tajuknya menarik: “Mengantar ke Vihara Menuju Lahore.” Jalan ceritanya fresh. Juga tulisan Kak Uly yang menyitir soal parenting. Tulisannya sudah muat di Tempo Jum’at lalu. Bisa di baca di lini masa FB beliau. Banyak yang ingin membacanya. Saya duga karena tak sempat beli korannya.

Setelahnya Rahmi, tak tanggungtanggung ternyata membawa dua tulisan. Cerpen dan Puisi. Saya tak sempat membacanya. Pikir saya bisa nanti. Di sebelahnya Jusnawati, kali ini dia hanya bawa puisi “Noktah Kita” Ada tafsir berkembang di forum, kalau itu tentang seseorang yang ditinggal pergi, atau seseorang yang lekas beranjak tapi di hadapannya masih dunia yang abuabu. Ada enggan yang menarik agar tetap di tempat, tapi keinginan mau pergi malah semakin besar.

Muhajir yang datang agak telat juga bawa karangan fiksi. Dia bawa cerpen. Saya juga belum baca. Katanya nanti diupload di FB. Dia punya alasan kalau tulisannya dikerjakan di waktu yang mepet, makanya belum sempat diedit. Kita tunggu saja diposting di blognya. Pasca itu ada Ishak. Dia konsisten tulis esai. Juga seperti dia bilang pada tema yang dia sukai, soal kebiasaannya: mendaki gunung.

Ishak tulis beberapa nama yang sudah menaklukkan gununggunung tinggi. Bahkan juga Khadijah, istri Muhammad. Tulisannya bilang Khadijah sering tahanust, suatu kebiasaan menyepi di bebukitan tinggi. Ini juga sekaligus aktifitas spiritual. Suatu yang sudah jadi tradisi. Dia juga singgung Soe Hok Gie, adik Arief Budiman, sosiolog yang terkenal itu. Dalam tulisannya, Gie mendaki sebagai bagian aktifitas politik, bahkan bentuk nasionalisme. Karena itu Ishak mendaku kalau pegiat alam yang gandrung bagi anakanak muda, jangan sampai hanya bagian dari soal yang sering merusak alam. Bisa dibilang hanya aktifitas gagahgagahan.

Khalik yang datang lebih awal menulis semacam prosa liris. Saya bilang tulisannya semacam aktifitas bathin yang gundah. Yang ditulis saat suatu perkara datang. Ini soal hati. Makanya hanya Khalik yang tahu persis gambaran karyanya. Di penyampaiannya, pasal Khalik adalah suatu yang sedang dia alami. Bahkan dia menulisnya di selasela yang mepet. Dia tulis di pagi ini. Katanya jam sembilan pagi. Dia merasa harus menulis sesuatu.

Jika mau mengangkat perkara, di sesi kedua masih soal penyakit lama. Ihwal EYD. Ini soal yang tak kunjung tuntas. Tapi, sekaligus langsung diwantiwanti. Bahaya kalau penyakit lama tak kunjung sembuh.  Kak Uly banyak sitir kebiasaan buruk jangan sampai menghambat perkembangan kualitas menulis. Halhal tekhnis harus segera diungsikan. Besokbesok sudah harus omong perkara konten. Ide. Kalau perlu gagasan.

Dari situ kritik dimulai. Banyak tulisan yang diintograsi. Bahkan penggeledahan semakin butuh ruang. Saya jauhjauh hari bilang tak ada tulisan yang cakap dan sempurna. Semua punya salah. Makanya setiap tulisan harus  dicurigai bersalah. Setiap tulisan punya cacat. Saya pikir itu yang mampu mendasari kami dalam melakukan kritik. Tapi, istilah kami, menggeledah. Setiap penulis tersangkanya.

Kelas hari ini tak ramai sedia biasanya. Banya kawankawan yang berhalangan datang. Beberapanya agak sakit. Yang lain tak ada kabar. Entah. Mungkin hujan jadi batu sandungnya. Cuaca memang bisa jadi penjara. Atau memang info datang tak sempat menyebar. Saya harap ini bisa diminimalisir kalau kawankawan saling bikin anjuran. Bisa mengingatkan satu dengan yang lain.

Makanya grup Paradigma Institute harus jadi pusat. Dunia kongkret sering membangun jarak. Waktu bisa ditempuh lama. Jauh dekatnya bisa ambil waktu. Di dunia maya, justru itu hilang. Dunia maya bisa melipat segalanya, juga waktu, apalagi ruang. Itulah kenapa, tulisan lebih baik di kirim ke sana. Di grup yang sudah lama ada. Ini penting, biar kawankawan di waktu tertentu bisa lebih leluasa berkomentar tentang apa saja. Tulisan akhirnya bisa lebih sempurna dikritik.

Yang baru dari kelas kali ini ada pembacaan puisi. Ridho yang memulainya. Puisinya sempat jadi obrolan. Rahmi bilang tidak menemukan estetika di dalamnya. Kritik Rahmi membuka wacana: yang mana disebut estetis dalam puisi. Apakah puisi gelap lebih indah dibanding puisi semacam Ridho tulis. Puisi Ridho dalam wacana tertentu dibilang puisi pamflet. Saya mengistilahkannya tadi puisi jalan raya, bukan puisi panggung. Tapi diskusi tak sempat panjang. Waktu mepet. Azan berkumandang. Kami pulang.

---

NB: Pekan depan kelasnya masih di sekretariat PI. 


21 Februari 2016

Dari Mana Membangun Kritik Sastra


Sejarah kebudayaan Indonesia, tidak sedikit yang bilang sama halnya sejarah perkembangan sastra. Kebudayaan dan Sastra, di sejarah awal Indonesia bisa saling menyampir. Saling mengisi. Atau bahkan sulit dibedakan. Yang terakhir akibat pandangan yang bilang kalau sastra adalah cermin kebudayaan masyarakat. Sastra tidak berbeda dengan norma atau tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat, sehingga kalau mau bilang kebudayaan suatu masyarakat, berarti harus mengikutkan sastra di dalamnya.

Ada juga penolakan bahwa sastra merupakan perkembangan yang khas dari kebudayaan. Sastra menempati posisi yang unggul dari hanya sekedar tatanan nilai anutan masyarakat. Justru sastra memiliki kekebalan dari cemar kebudayaan. Sastra-lah yang membentuk nilainilai. Posisinya melampaui yang manifes.

Karena itulah lahir kritik sastra. Suatu cabang ilmu sastra yang lahir untuk memilah baik buruknya suatu karya sastra. Atau memberikan justifikasi suatu karya dapat disebut sastra atau bukan.

Kritik sastra, di Indonesia disebutsebut tidak berkembang baik seperti di dunia barat. Kritik sastra banyak nian bersentuhan dengan politik. Malah politik lebih dominan daripada sastra itu sendiri. akibatnya, pertumbuhan sastra di Tanah Air tak bisa lepas dari variabel apa dan di mana dia tumbuh.

Tapi perkembangan yang demikian, justru memberikan dampak yang berkepanjangan terhadap perkembangan sastra selanjutnya. Perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Sanusi Pane, Manikebu dengan Lekra, dan yang paling dekat dari kita antara Komunitas Salihara dengan Boemi Putra, merupakan titiktitik sejarah yang terus membangun garis pemisah antara pelbagai pandangan sastra yang berkembang.

Sejarah sastra Indonesia pada hakikatnya adalah pertanyaan besar yang selama ini masih relevan diperbincangkan: dari mana datangnya kebudayaan Indonesia? Atau pertanyaan paling prinsipilnya yakni apa sebenarnya kebudayaan Indonesia itu?

Dua pertanyaan besar inilah yang sampai saat ini terus mendasari kritik sastra bahkan sampai membentuk suatu pola pemikiran yang khas dan jamak Namun , bagaimana sebenarnya kritik sastra itu bermula? Dari perkembangannya ada dua bentuk kritik sastra. Kalau mau pakai bahasa sederhana, yang pertama kritik yang menaruh perhatian terhadap isi, dan yang kedua cenderung memberikan perhatian kepada bentuk.

Dua pola ini punya sejarah panjang. Di mulai dari kritik Platon terhadap sumber keilmuan selain filsafat. Bisa dibilang kritik sastra disulutdari perendahan Platon terhadap sastra daripada filsafat. Konteksnya punya variabel macammacam. Variabel pertama diacu dari pandangan Platon tentang Philosofer-King.Platon, melalui  konteks negara Polisnya, memberikan kepercayaan hanya kepada filsuf sebagai kelas ideal. Selain filsuf tak ada profesi yang palig agung. Hanya filsuf-lah yang mampu memimpin, sebab dia punya kualitas ideal sebagai manusia.

Sementara seorang sastrawan, adalah tukang replika. Kata Platon, sastra hanya mengimitasi imitasi. Hanya mengulang apa yang sudah terulang. Tidak sejati. Bentuk yang dicandra sastrawan hanya bayangbayang. Sastrawan hanya mereplikasi replika dari bentukbentuk ideal. Lewat panggung, puisi hanya numpang dibacakan, lewat panggung, teater hanya mengulang. Panggung tidak langsung, dia dunia kedua. Palsu. Begitu kirakira pandangan Platon.

Karena itulah Platon emoh terhadap sastra. Di mata Platon sastra menduduki posisi nomor dua dalam hirarki keilmuannya setelah filsafat. Sebab intinya, sastra hanya bermain pada gaya bahasa, isi kadang kabur akibat bahasa yang mendua. Sastra hanya berusaha rethoris saja.

Tapi, Platon tidak  bisa selamanya jumawa. Aristoteles punya cara pandang lain. Muridnya, melalui rhetorika, membangun kritik. Sastra justru membantu, tidak selamanya yang ideal (universal), jadi titik pusat. Partikularia (kenyataan) mampu juga membawa manusia kepada suatu nilai. Lewat suatu gaya bahasa yang indah, justru kebenaran akan mudah diterima.

Kirakira begitulah awalnya, kritik sastra dimulai. Dua nama besar ini agak susah mau disingkirkan. Juga, perkembangan sastra Indonesia. Agak susah bila tidak dikatakan sejarah sastra sebenarnya sejarah persitegangan.

20 Februari 2016

kala kala jangan kalah

Kala belum jadi. Saya memilih tidur. Ngantuk tibatiba datang menyergap. Maklum pagi tadi saya harus keluar lebih awal. Setelah pulang, akibat kekenyangan membuat mata saya berat.
Kali ini Kala saya tangguhkan sampai malam. Sengaja saya tidur saja, biar malam jauh lebih fit mengerjakannya. Apalagi sampai siang belum ada tulisan yang masuk.

Minggu lalu, pasca kelas menulis PI, sudah ada tulisan yang siap pakai. Cuman baru satu esai. Kala biasa memuat dua esai. Terkadang juga beberapa puisi, itupun kalau memang dua esai tidak mencukupi kolom yang tersedia.

Satu esai, dimuat minimal 500-700 kata. Kadang ada esai yang bisa dimuat lantaran sampai 1000an kata. Implikasinya, satu esai yang lain harus tidak lebih dari 700 kata. Kalau format tulisannya pas, maka tak jadi soal. Kala terbit dengan dua esai seperti biasa.

Kala buletin debutan. Karena masih baru, Kala masih mencari pola. Entah aspek wacananya sampai teknis penerbitannya. Sampai detik ini, Kala sudah terbit empat pekan. Selama ini polanya sudah mulai kelihatan. Pertama, perhatian model tulisan selain esai, juga cerpen. Juga puisi. Kedua, nanti setiap jelang kelas PI dibuka baru Kala siap edar.

Pola kedua terjadi akibat tulisan jarang masuk lebih awal. Padahal setiap pekan redaksi Kala terbuka lebar bagi setiap tulisan kelas menulis PI. Namun, entah sampai saat ini meja redaksi Kala sepi tulisan. Kalau yang ini maklum, Kala bukan buletin prestisius. Juga memang barangkali tak ada yang tertarik mengirimkan tulisan.

Konsep awal Kala adalah media kolektif. Tujuan dasarnya menampung tulisan kelas menulis PI. Jadi secara kolektif tak ada soal dari mana sumber tulisan Kala. Itu bisa diambil dari tulisan kawankawan. Yang jadi problem adalah hampir semua kawankawan banyak menulis jenis tulisan freewriting. Sementara yang dikhususkan merupakan tulisan jenis esai. Atau suatu tulisan yang fokus membahas satu tema dengan menyertakan sudut pandang tertentu.

Jenis freewriting gandrung akhirakhir ini. Temanya bisa macammacam. Gaya maupun bentuk penulisannya juga demikian. Kelebihan jenis tulisan ini bisa mengeksplore banyak hal dari satu tema yang menjadi pintu masuk. Prinsipnya mengalir bagai air. Biarkan ceritamu yang menuntunmu. Karenanya, akan sulit bertahan atas satu ide yang akan digubah. Walaupun bebas, tulisan bukan sama sekali menanggalkan aturan main penulisan. Fleksibel, salah satu kuncinya.

Kala bisa memuat jenis tulisan macam freewriting bila satu esai sudah terpenuhi. Kalau belum akan ditunggu sampai masuk ke meja redaksi. Waktu deadline biasanya sampai jam 10 pagi. Pernah di pekan keempat, esai yang masuk hanya satu judul. Sementara esai yang kedua nanti datang jelang masa injurytime. Karena saat itu malah menyisakan kolom kosong, mau tak mau itu jadi tugas redaksi mengisinya.

Tadi siang ada omongan kalau Kala hanya beredar di kalangan internal. Itu bisa jadi soal atau malah sebaliknya. Kala jadi soal kalau peredarannya belum bisa keluar dari komunitas. Justru jadi serius kalau belum bisa menjadi wacana. Ukuran redaksi, Kala bisa berhasil salah satunya kalau posisi Kala menjadi topik omongan. Sebaliknya tidak jadi masalah, karena Kala bukan apaapa. Makanya bukan soal kalau Kala hanya beredar di seputar kawankawan.

Sampai malam ini masih satu esai yang masuk. Kala butuh dua esai. Kalau besok pagi belum terpenuhi dua esai, sudah jadi tugas redaksi mensiasatinya. Redaksi memang harus punya banyak akal, apalagi misal tulisan yang kurang.

Sekarang saya habis makan. Janji sebelumnya malam ini baru urus Kala. Seperti biasa harus lebih dulu mengedit tulisan. Setelah itu baru sesi urus layout. Terakhir tinggal save kemudian siap naik cetak besok siang.

Tapi, seperti yang saya bilang, sampai saat ini masih satu esai yang layak terbit. Redaksi harus bersabar sampai besok. Kalau memang belum ada, jujur terpaksa redaksi harus pakai jurus ke 977. Kadang di keadaan yang kepepet, jurus itu penting. Sama pentingnya, Kala harus tetap terbit di akhir pekan. Kala jangan Kalah.


19 Februari 2016

yang disenangi atau yang diketahui, atau malah keduaduanya

Kalau sakit kepala begini susah memikirkan apa yang bisa ditulis. Berat pikir soalsoal yang kritis. Padahal niat menulis hari ini harus direalisasi. Dua hari belakangan memang saya tidak menulis apaapa. Terakhir saya sempat menulis soal konsistensi penulis, terutama bagaimana meneruskan kebiasaan menulis.

Beberapa waktu belakangan memang ada naskah tentang cerpen Puthut EA. Sudah hampir dua minggu terbengkalai. Saya heran mengapa belum bisa dituntaskan. Dua kali saya mencobanya, tapi selalu gagal. Dua kali juga, di saat ingin menyelesaikannya justru tulisan lain yang jadi. Kebiasaan ini malah sering dialami. Menulis halhal yang sebelumnya tak diduga.

Saya pikir kalau begitu saya bukan orang yang bisa konsisten mengawal ide menjadi tulisan yang utuh. Kadang memang  suatu ide bisa saya tulis dalam jangka waktu yang lama. Terutama itu kaitannya dengan tulisan yang agak formal. Jadi kalau hari pertama saya mengerjakan bagian pendahuluan, hari itu bisa saya tunda dan menyambungnya di hari lain. Dan, di hari lain, tidak susah kalau tulisan itu saya lanjutkan kembali.

Agak berbeda dengan beberapa tulisan saya yang agak nyantai. Maksudnya tulisan yang punya konten pengalaman seharihari. Belakangan itu bisa saya tuliskan tidak lebih dari tiga jam. Mengalir begitu saja. Tanpa ada yang berat kalau dituliskan. Saya berkeyakinan kalau itu karena yang saya tulis adalah soal yang dekat dari diri saya. Sesuatu yang memang saya ketahui betul. Pengalaman di mana memang saya terlibat di dalamnya.

Belakangan saya ingat, barangkali ini yang dimaksud free writing.  Gaya menulis yang mengalir begitu saja, tanpa mau di skak mat aturanaaturan yang mengikat. Sampai sekarang saya belum paham betul apa itu free writing. Sebagai suatu konsep atau gaya alternatif kepenulisan, saya kira ini patut dibincangkan. Diomongin.

Makanya, saya sadar kenapa tulisan soal cerpen Puthut EA tidak kelarkelar. Mungkin saya belum begitu akrab dengan gaya bercerita Puthut EA, bagaimana dia sering membangun cerita, seperti apa plot yang dipakainya, dan konflik apa yang sering muncul di cerpencerpennya. Atau, memang saya belum begitu menghayati cerpen yang saya sitir. Ini yang mungkin jadi penting: saya harus menghidupkan seluruh indera, membangun suatu kerangka seperti yang ada dalam cerpennya. Seolaholah saya berada di dalamnya. Bahkan terlibat di dalam ceritanya.

Itu juga yang dialami salah satu naskah sebelumnya. Jauh sebelumnya, saya sedang menulis ihwal Luis Borges, pengarang fenomenal dari benua Amerika.  Tulisan prematur ini, bahkan sudah hampir tiga bulan tak diutak atik. Tergeletak begitu saja tanpa pernah berkembang menjadi tulisan yang fixed. Sampai di sini kesimpulannya sama; saya belum menghayati Luis Borges sampai ke karyakaryanya.

Sampai di sini ada prinsip, yang dalilnya dirumuskan menjadi “menulislah apa yang kau ketahui” vs “menulislah apa yang kau senangi.” Yang pertama penerapannya banyak ditemui dalam tulisantulisan yang mengandung nuansa research; biasa digolongkan tulisantulisan nonfiksi. Sementara yang kedua,  biasa ditemui dalam tulisan yang berbau pengalaman. Yang pertama sering ditulis oleh ilmuwan, peneliti, ahliahli profesi, atau kaum teknokrat, sedangkan yang kedua banyak dialami oleh pengarang, sastrawan, budayawan, maupun seniman.

Saya agak ragu kalau ada penggolongan semacam yang saya bikin di atas. Jadi itu tidak usah ditanggapi serius. Penggolongan itu hanya sebatas yang saya tahu. Tidak ada data informasi yang bisa dijadikan ukuran. Apalagi kedua golongan di atas bisa saling menyampir, filosofi gaya pertama bisa diterapkan kepada gaya penulisan kedua, atau sebaliknya.

Namun, kalau mau dipikirpikir, dua filosofi di atas tidak bertolakbelakang. Bisa jadi itu hanya soal tahapan belaka. Janganjangan memang yang satu tak bisa dilakukan kalau prinsip sebelumnya belum terpenuhi. Artinya,  banyak hal yang diketahui, tapi tidak semua disenangi. Begitu juga banyak yang disenangi, tapi belum tentu diketahui. Jadinya kalau mau menulis hal ihwal yang disenangi, pasti itu juga yang diketahui. Sebaliknya, kalau ingin menulis dari yang diketahui, usahakanlah itu juga yang disenangi.

Rasarasanya, itu yang dialami oleh dua naskah saya. Belum terbangun rasa suka dan cukup informasi. Saya harus menyenanginya dulu sebelum diteruskan lagi. Pun kalau ada itu tidak bulat. Masih setengah hati. Ibarat kekasih, saya harus tulus  menyukainya. Kalau sudah begitu pasti saya akan senang dan akan mencari tahu seluruh kaitan tentangnya. Kesimpulan saya ini besar kemungkinan benar. Itu yang saya rasakan.

Prinsip ini sebenarnya saya dapat dari sebuah postcard  di FB. Di waktuyang agak sudah lama. Saya pikir ada benarnya. Banyak hal yang sulit dilakukan lantaran tidak disenangi. Banyak pekerjaan yang tersendat begitu saja akibat terpaksa dilakukan. Bisa juga karena idealideal yang dipancang di atas tiang harapan, tapi malah sebaliknya terbatasi. Di titik ini saya kira orangorang sering merasa berat merealisasikan tujuannya karena terlalu tinggi mengharapkan hasil. Orangorang kadang lupa, proses jauh lebih penting daripada hasil.

Sebab itulah dua naskah tadi saya biarkan saja dulu. Tak apa lama dia mengendap, sembari menunggu saya senang melanjutkannya. Saya kira ini yang memang penting, mengerjakan sesuatu karena senang melakukannya. Bukan desakkan suatu tuntutan. Saya harus akrab dengannya. Akhirnya saya juga mulai mengerti mengapa tesis saya tersendasendat;  dia prematur akibat tidak disertai rasa senang didalamnya. Seperti dua naskah sebelumnya, saya juga harus menyenanginya, sama halnya tulisan saya yang lain.


18 Februari 2016

Kritik atas Frankfurt School


Herbert Marcuse
Salah satu pendiri Mazhab Frankfurt
Dikenal melalui bukunya ”One Dimensional Man”



PERTAMA, kritik hak milik  ekonomi politik Marx yang mengalami pergeseran dari motif kelas menjadi motif psikologi. Pendasaran segregasi kelas yang menjadi acuan marxisme dalam menelusuri motifmotif penguasaan, di tangan pemikirMazhab Frankfurt malah mengalami penurunan ketajaman dalam menganalisis keadaan objektif masyarakat. Apabila Marx melihat asalusul penindasan secara objektif ditemukan dalam pembagian kelas masyarakat, di mana penguasaan alat produksi oleh kaum borjuasi menjadi sumber penghisapan, melalui cara pandang Mazhab Frankfurt malah dikembalikan kepada unsurunsur subjektif berupa dorongandorongan intrinsik manusia. Akibatnya, kritik Marx yang semula ditujukan kepada analisaanalisa idealistik, justru di tangan Mazhab Frankfurt terjadi repetisi atas apa yang telah Marx kritik sebelumnya.

Kedua, dalam kajian Mazhab frankfurt, pendasaran marxisme terhadap kelas buruh tak lagi mendapatkan tekanan seperti yang diharapkan Marx. Telah diketahui sebelumnya, pendakuan Marx bahwa setiap kelas bertindak atas dasar kepentingannya, dan kepentingannya ditentukan oleh situasi objektifnya,  menjadi semacam pintu masuk untuk memahami pertentangan kelas yang terjadi di dalam masyarakat kapitalis. Melalui cara ini berdasarkan kepentingan objektif yang ditentukan oleh kedudukan kelas, menuntut suatu sikap mawas diri demi menjaga eksistensi masingmasing kelas. Karena sikap inilah terjadi pertentangan kelas yang menjadi inti dari gerak masyarakat. Sebab itulah seperti yang ditekankan di dalam Manisfesto Komunis perlunya kesadaran kelas untuk mempertahankan kepentingan kelas buruh yang banyak mengalami tekanan dari kelas di atasnya. Sikap konservatif kelas borjuis yang merupakan konsekuensi dari kedudukan objektifnya di masyarakat, mau tak mau harus berhadapan langsung dengan kelas pekerja yang memiliki semangat progresif dan revoulusioner akibat dari kepentingan kelas yang bertahan di antara keduanya.

Sementara itu, akibat pembacaan yang meluas, serta beragam teoritisi yang terlibat di dalamnya, Mazhab Frankfurt  sulit mendefenitifkan keberpihakannya kepada kelas pekerja seperti dalam pemikiran Marx. Perhatianya yang meluas terhadap musik, budaya, media massa, mode, dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya, mengakibatkan sulitnya mempertahankan pembacaan sekaligus kritik ekopol marxian yang menjadi cara pandang utama dalam tradisi marxis. Akibat lunturnya kepercayaan Mazhab Frankfurt kepada kelas pekerja, di saat yang bersamaan bergerak memasuki segmentasi kelaskelas yang lain semisal kaum radikal terdidik di kampuskampus sebagai agen perubahan.

Ketiga, penyematan label revisionisme yang diberikan pemikir marxis ortodoks, membuat Mazhab Frankurt sulit mendapatkan simpati dari gerakan kiri yang masih percaya terhadap metode pembacaan ekopol Marx. Walaupun dikatakan oleh para tokohnya bahwa usaha yang dikerjakan Mazhab Frankfurt merupakan bagian dari usaha krirtik yang pernah dilakukan Marx terhadap kapitalisme, tetap saja di luar pandangan mereka, mazhab Frankurt dinyatakan sebagai suatu aliran yang keluar dari tradisi pemikiran marxis.

Di sini, perlu dijelaskan sepintas mengenai tiga tradisi atau pendekatan seputar metode pembacaan terhadap Das Capital Marx yang sampai hari ini masih berlangsung, yang dikemukakan oleh Harry Cleaver. Pertama, tradisi ekonomi politik. Pendekatan tradisi ini mesti dipahami  pada konteks International II berlangsung (1889-1916).  Problemnya berkisar pada persoalan determinasi ekonomi dan teks acuannya, tentu saja, adalah Contribution to a Critique of Political Economy, di mana Marx berbicara tentang relasi ekonomi sebagai basis masyarakat yang darinya muncul bangunan suprastruktur yang bersifat legal politis.  Dalam konteks ini terjadi perdebatan antara Edduart Bernstein dengan Rosa Luxemburg tentang apakah krisis ekonomi yang akan menumbangkan kapitalisme itu niscaya atau tidak. Melalui bukunya Evolutionary Socialism, Bernstein mengajukan pendapat bahwa krisis itu tidak niscaya menghancurkan kapitalisme, krisis itu hanya akan memperlambat akumulasi kapital sementara kaum kapitalis akan dapat mengkonsolidasikan diri menghindari krisis ini. Maka itu bagi Bernstein perjuangan yang mesti dilancarkan melawan kaum kapitalis adalah perjuangan ekonomi seraya menggabungkan diri ke dalam parlemen.

Hasil pembacaan Bernstein atas Kapital ini segera dilawan oleh Rosa Luxemburg dalam Reformasi atau Revolusi (1900) dan Akumulasi Kapital (1913). Luxemburg menyatakan bahwa krisis kapitalisme tak terhindarkan justru, berkebalikan dengan Bernstein, karena akumulasi kapital akan memuncak dalam konflik antar negara. Berdasarkan pengertian ini, Luxemburg memberikan solusi yang berbeda, yakni persiapan revolusi dan penolakan atas sekedar reformasi. Keduanya mewakili posisi dasar pembacaan ekonomi politik atas Das Capital yang akan membayangi para penafsir selanjutnya. Penekanan Bernstein pada reformasi gradual melalui jalur intra-parlementer (dan karenanya lebih dekat dengan tendensi sosial-demokrat) akan diteruskan oleh Karl Kautsky, Rudolf Hilderling, Otto Bauer, Fritz Sternberg, sementara ketidakpercayaan Luxemburg pada perjuangan ekonomi-parlementer dan penekanannya pada revolusi atau jalur ekstra-parlementer akan diteruskan oleh Lenin, Anton Pannekoek dan Paul Mattick.

Sementara di luar konteks internasional kedua, terutama disekitar tahun 1940/50an, berkembang tipe pemikiran yang berusaha mensintesakan kritik ekopol Marx dengan teoriteori yang diajukan Keynes. Tradisi pemikiran ini berkembang di dunia Anglo-Amerika, yakni neo-marxis keynesian. Tokoh-tokohnya adalah Michael Kalecki, Joan Robinson, Paul Sweezy dan Paul Baran. Menurut tradisi ini, pendekatan ekopol Marx yang tertuang dalam Das Capital memiliki beberapa kekurangan terhadap situasi perkembangan kapitalisme. Sebab itulah, mereka berusaha mengkombain dengan memasukkan pembacaan Keynesian terhadap analisis ekopol marxis.  Model pembacaan yang demikian akhirnya menjauhkan tradisi ini dengan sendirinya dari kritik Marx yang bersandar pada suatu analisis yang hanya mencomot beberapa analisis Marx.  Dalam perkembangannya, tradisi inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan kiri baru (new left movement) Eropa di sekira tahun 6oan.

Yang kedua adalah tradisi filsafat. Cleavert membaginya menjadi dua, yakni tradisi yang dikembangkan oleh Louis Althusser bersama muridmuridnya (Balibar hingga Badiou) dan yang kedua adalah revisionisme yang menjadi bagian di dalamnya yakni, Marxisme Barat (Western Marxism): György Lukács, Antonio Gramsci, Karl Korsch—semuanya menekankan pengaruh Hegel dalam Marx, Marxis Neo-Kantian: Galvano, Delavolpe dan Lucio Colletti, Marxis-Hegelianisme: Alexandre Kojéve dan Jean Hyppolite, Marxis-eksistensialisme: JeanPaul Sartre, Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty. Marxisme fenomenologis: Tran Duc Thao dan Karel Kosik, Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin dan Jürgen Habermas.

Oleh Cleaver, pembagian kubu ortodoks dan revisionis ini dijelaskan melalui dua tendensi yang berbeda: sementara Althusser mencoba menghidupkan kembali doktrin diamat (dialectical materialism) melalui pembacaan atas Kapital, Mazhab Frankfurt dan tendensi Marxisme Barat justru mengutamakan peran kebudayaan dalam analisis Marxis. Diamat versus kulturalisme—pertentangan inilah yang menerangkan dasar perbedaan posisi antara Marxis ortodoks dan Marxis revisionis.

Tendensi kulturalisme yang banyak dikembangkan Mazhab Frankfurt disebutkan Cleavert akibat ketokohan Friedrich Polloch. Melalui bukunya Automation, Pollock memperlihatkan adanya kecenderungan akumulasi kapital oleh kapitalisme negara dan negara otoritarian yang menyebabkan perluasan penghisapan kapitalisme di seluruh sendisendi kehidupan masyarakat. Pendektannya yang memperlihatkan perluasan penghisapan kapitalisme dari pabrikpabrik menuju masyarakat yang lebih luas, mengakibatkan adanya indikasi suatu pembacaan masyarakat yang lebih luas dari hanya sekedar penjelasan ekopol marxis. Menurut Cleavert dari sinilah bermula adanya pembacaan kultural yang menjadi pembacaan dominan atas masyarakat di dalam tradisi pemikiran Mazhab Frankfurt.

Tradisi yang ketiga adalah pendekatan politis seperti yang ditokohkan Lenin. Tradisi ini berputar dalam problem perlunya pendekatan secara strategis dan taktis untuk mewadahi perjuangan kaum proletariat.  Seperti yang dituliskannya dalamWhat Is to be Done?, Lenin menganjurkan betapa pentingnya membangun partai payung dengan kemampuan disiplin yang tinggi untuk melakukan perjuangan. Partai garis depan ini, disebutkan Lenin adalah partai yang bertujuan merangkum seluruh gerakangerakan buruh di dunia. Hanya lewat cara inilah Lenin berkeyakinan revolusi dapat dimungkinkan.

Keempat, peralihan penekanan kritik yang diajukan Jurgen Habermas melalui rasionalitas komunikatifnya, memberikan efek yang berbeda dari intuisi marxisme yang semula bersifat radikal dan revolusioner. Pendekatan komunkatif yang diajukan Habermas sebagai jalan keluar persitengangan antara marxisme dan kapitalisme, malah menjadi suatu pendekatan yang mengabaikan unsurunsur di luar dari komunikasi itu sendiri. Pengandaian Habermas bahwa di dalam tindakan komunikasi dengan sendirinya akan menetralkan suatu posisi dan kepentingan, justru tidak bekerja seperti yang diharapkannya di dalam level praktik. Komunikasi yang disebutnya sebagai tindakan praktis, malah justru menguatkan posisi dari awal bagaimana kepentingan kelas borjuis bekerja untuk mendominasi kelas proletariat. Wacanawacana yang dikembangkan kelas borjuis melalui tindakan komunikasi justru kembali melanggengkan kepentingan melalui subordinasi pengetahuan yang dimilikinya.

Kelima, Cakupan dan rentang penelitian yang luas dari orang-orang yang terlibat dalam Mazhab Frankfurt dinilai sebagai perkembangan yang inkonsisten dengan rancangan awal proyek mereka, dan inkonsistensi ini dianggap sebagai kelemahan paling mendasar dari Teori Kritis. Para pendukung Cultural Studies menuduh bahwa terdapat indikasi kesukaan Mazhab Frankfurt pada “budaya tinggi”, walau gagasan Mazhab Frankfurt juga menjadi inspirasi dan dipraktekkan oleh para environmentalis dan teoretisi teknologi dan alam seperti SF Schumacher.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...