27 Februari 2015

madah tigapuluhdelapan

"Tidak ada misi yang lebih rumit, lebih gawat, daripada pergulatan orang dengan jiwanya sendiri.."

Begitulah ungkapan Duong  Thu Huong. Tulisannya dalam Beyond Illusions, begitu menggetarkan. Dalam katakatanya itu ada getir, sekaligus tentu saja, getar.

Di tahuntahun komunisme berjaya di Vietnam, getir sekaligus getar itu menjadi hal yang menjulang dalam sorak sorai revolusi tanpa batas. Tapi juga, akhirnya harus redup untuk sebuah jalan yang telah ditetakkan partai: realisme sosialis.

Di Vietnam, seperti negerinegeri ketika komunisme akbar dipuja, sastra dan seni hanya berarti bahwa realisme sosialis adalah satusatunya ekspresi yang mampu membangun kebudayaan yang luhur. Maka, akhirnya itu jadi kebijakan, partai mengambil alih, dan sastra serta seni hanya bisa bicara dua hal: revolusi dan aturanaturan sastra partai.

Tapi pernah suatu saat partai sadar dan berbenah. Di tahun 1987, pasca perang yang amuk dengan pihak sekutu, partai mengambil cara yang tak lazim. Melalui pidato Nguyen Van Linh, ketua partai saat itu, kaum sastrawan dan intelektual dihimbau terlibat secara bebas dan kritis untuk membangun dan menangani Vietnam yang ambruk akibat perang. Akhirnya katup  dibuka, dan segera saja suarasuara yang sembunyi dari radar kekuasaan, menguap kemanamana.

Suasana itu akhirnya menyediakan suatu kondisi seperti yang diungkap Linh, dalam Beyond Illusions, kepada suaminya "kita tidak hidup untuk menyenangkan hati orang lain. Kita hidup sesuai dengan keyakinan kita." Linh menyebut itu dalam arti yang ideal, dalam arti bagaimana seharusnya tugas seorang penulis: jujur terhadap kenyataan.

Vietnam sebelum itu adalah suatu negeri yang diproyeksi dan dicanang revolusi, negeri yang mengolokngolok tuantuan tanah. Di Vietnam kala itu, seperti negeri yang membebaskan seluruh tanah untuk dikelola komunekomune. Tak ada tanah yang berbasis pribadi. Tiada yang berbau individual. Tanah di masa itu adalah saatsaat di mana padi adalah juga urusan negara.

Sontak proyek land reform itu menjadi semacam mantra yang membebaskan, tapi juga sebenarnya menghisap tumbal. Pembebasan tanah jadi program yang massif dari revolusi yang sedang berjalan. Tanah yang dikelola komune, adalah penyamarataan seperti yang dilakukan Mao di China. Tapi land reform justru bukan imune, justru banyak yang sakit, banyak yang justru kelaparan. 

Yang jadi tumbal, yang jadi sakit, adalah orangorang yang kehilangan tanahnya dan harus bekerja dengan tanah yang kering. Bahkan berita pun dibuatbuat, seperti ditulis Duong dalam novel ke duanya, penuh kebohongan "para pemimpin komune memerintahkan kami ke sini untuk dipotret, untuk korannya para tukang foto itu.

Orangrang dikibuli dengan gambargambar padi berlatar subur dan petani yang bahagia bekerja, namun sebenarnya itu hanyalah bagian kecil dari keadaan yang sebenarnya. Yang sebenarnya tak ada tanah subur yang dibebaskan. Yang ada hanyalah pengerahan besarbesaran petani ke bidangbidang tanah yang tak menghasilkan panen apaapa. Yang ada hanya berita manipulatif yang disebarkan demi menyangga revolusi.

Sebab itulah akhirnya di suasana bebas itu  banyak yang berani bersuara atas kebohongankebohongan kemajuan revolusi. Sastrawan menulis syair juga novel, seniman membangun panggung dan kaum cendikia mengungkap kenyataan. Demi suatu yang luhur: kejujuran atas yang terjadi.

Drastis tak ada lagi beritaberita kebohongan tentang kemajuan yang dipesan partai. Tak ada lagi ungkapan yang memujimuji revolusi.

Tapi suarasuara yang kritis nampaknya justru menjadi gema yang menyulut panas kekuasaan. Kritik berbalik arah terhadap partai yang diamdiam memang menilap kekayaan. Akhirnya banyak yang marah seperti tuantuan kepala partai yang menimbun harta. Sehingga jika kekuasaan jadi gerah, maka selanjutnya kita tahu, yang ada adalah pembungkaman. Sebab itulah kritik seperti memang hanya suara yang seperti uap. Cepat hilang. Sempat panas kemudian hilang tanpa sisasisa, oleh kekuasaan.

Suara yang sempat menjulang saatsaat itu, sudah tentu suara getar Duong Thu Huong. Perempuan yang sempat diusir dari partai ini akhirnya juga menanggung nasib sebagai seorang yang diasingkan. Tulisantulisannya menjadikannya sebagai orang yang karib dengan penjara tanpa pengadilan. Dan dari situ tahun 1990 ia didepak dari partai komunis Vietnam.

Tapi novelnovelnya, juga Beyond Illusions, sebenarnya getir yang memotret sebuah negeri yang dimanipulasi dengan rencanarencana partai. Suatu hal yang ia sebut "memandang menembus topengtopeng," saat semuanya bersuara berdasarkan pesanan partai. Saat banyak yang hanya mengumbar kesenangan rakyat dari sejumlah beritaberita, ceritacerita yang dipelintir dari kenyataan sebenarnya.

Saat itulah Duong menulis "kita kaum intelektual, misi kita bukannya memupukmupuk kebanggaan rakyat kita, melainkan meninjau sedalamdalamnya cacat dan kelemahannya yang fatal, untuk menemukan dan menunjukkannya lebih awal dari yang lainlain."

Karena itulah Duong menulis keadaan yang getir di negerinya sendiri.  Tapi sampai di sini saya tidak tahu, apakah tulisan Duong  di negeri ini juga dapat membuat orang bergulat dengan jiwanya sendiri.


26 Februari 2015

madah tigapuluhtujuh

"Masalah manusia adalah yang paling penting dari segala masalah"

Begitulah Ali Syariati memandang sebuah persoalan. Dimulai dari manusia dan menuju manusia. Sebab "agamaagama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau tuhan." Jika ia pernah mengatakan "dari mana kita mesti mulai?", maka soal utamanya bisa jadi adalah manusia.

Nampaknya humanisme tidak selamanya milik barat. Ali Syariati, kawan karib Sartre ini, juga punya cara membilangkan humanismenya dengan daya yang meletupletup. Humanismenya, yang meletupletup itu, ia sebut sebagai "mahluk bidimensional, rekan Allah, sahabatNya, pemegang amanatNya dan murid utamaNya... yang dikaruniai misi agung agar dilaksanakannya di muka bumi."

Dengan begitu, manusia yang bidimensional diyakininya sebagai orangorang yang punya misi khusus, orangorang yang datang di muka bumi untuk menyelenggarakan suatu adab hidup. Suatu yang ia sebut misi agung.

Tapi, misi agung, di abad dua puluh satu, adalah misi yang bisa jadi soal sebenarnya. Agama, yang juga punya semangat humanisme, nampaknya seperti yang dibilang Syariati, justru adalah "agama-agama yang merendahkan manusia." Manusia bukan titik koordinat semua garis bermula. Ia hanyalah satu garis dari titik yang berpusat dari tuhan.

Di abadabad yang lalu, di hadapan keyakinan dominan gereja, pusat itu dirubuhkan. Dan hingga kini, pusat telah berbeda. Manusia menjadi poros, sehingga dari sanalah semua soal dan jawaban disusun.

Tapi, sekali lagi ini abad dua puluh satu. Agama punya jawaban yang juga tak pernah surut. Semangat yang tak surut itu muncul dengan wajah yang tak ingin kusam di abad kemajuan ini: fundamentalisme.

Dengan itulah misi agung dipandang memang mesti agung. Tak ada yang boleh mencemari yang asal dan dasar, itulah sebabnya tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Manusia, mahluk yang memang sumber kesalahan itu, tak punya hak untuk membangun sebuah dunia. Apalagi menjamin segala isinya.

Maka itulah kita tak pernah salah memahami Will Durant, agama memang punya seribu nyawa. Dengan nyawa yang tak kurangkurang, sebuah keyakinan dipupuk diladang yang semakin luas. Dunia harus kembali kepada asal di mana agama pertama kali datang. Segala yang berubah bisa jadi ikhtiar yang melenceng dari rencana awal. Sejarah harus disusun kembali. Agama harus menjadi panglima di segala yang telah melenceng.

Walaupun kita juga tahu, di dalam narasi sejarah, agama dengan semangat yang ingin kembali ke asal, malah juga harus menilap nyawa yang lain: manusia.

Itulah mengapa Ali Syariati yakin, masalah yang sebenarnya bukanlah soalsoal metafisis di atas kepala manusia, melainkan apa yang ada dalam benak manusia itu sendiri. Ini artinya, apa yang menjadi soal sebenarnya adalah benak yang mudah muncul di dalamnya prasangka atas dunia yang jamak.

Dan agama, yang sebenarnya bermula dari yang sunyi, di abad dua puluh satu, tak bisa juga memandang "misi agung di muka bumi," sebagai perjuangan santun di bentang  lalu lalang orangorang. Nampaknya, agama yang sunyi, seperti wahyu pertama kali turun di gua hira, visi yang turun di pohon bodhi, juga drama kesunyian nabinabi tak sempat menyentuh, seperti  yang A.N. Whitehead bilang: Tuhan Sang Sahabat.

24 Februari 2015

Madah Tigapuluhenam

Belakangan ini ada yang mencolok di dalam layar kaca; India dan Korea. Di layar kaca kita, India dan Korea akrab melalui drama dan sinetron. Nampaknya ada yang terasa aneh, sebab lebih dulu Malaysia lebih awal kita tonton berjamjam melalui kartun Upin dan Ipin itu. Tapi siapa yang bakal menonton kartun yang kental dialek Malaysia itu selain anakanak. Dan dari ceritacerita itu, saya banyak mendengar anakanak yang tumbuh bersamaan dengan kartun yang diimpor itu, lebih fasih dialek Malaysia dari pada bahasa ibunya.

Adakah yang salah dari itu?

Tapi kita sebenarnya harus waswas. Zaman global seperti sekarang, banyak yang menjebol batas. Hingga terkadang sampai sulit kita bendung. Akhirnya banyak hal yang harus dilindungi dari sesuatu yang berbau "luar." Banyak hal yang mesti dipertahankan, juga budaya.

Saya rasa, dari "yang luar"  itu bukan saja sudah bisa bikin waswas hati kita, tetapi juga makin jadijadi setiap hari. Sebab di ruang paling pribadi, kita sulit mengenal apa yang masih asli bagi kita. Apa yang masih genuine, atau yang disebut sebagai identitas otentik, belakangan ini akhirnya menjadi sesuatu yang penting. Atau bahkan sebenarnya genting. Sebab nampaknya yang asli, akhirakhir ini merupakan sesuatu yang sulit kita defenisikan.

Soekarno, yang getol menjunjung revolusi itu, di waktu Indonesia masih mendorong semangat antikolonialisme, melihat "yang luar" sebagai ancaman serius bagi kepribadian bangsa. Di saat perjuangan belum jauh ditinggalkan di belakang sejarah, budaya Indonesia yang defenitif harus berarti menolak impor produkproduk kebudayaan luar.

Kita pernah mendengar Soekarno berkoar tentang tidak ada lagi yang "bitelbitelans" untuk mengucapkan budaya yang asli negeri sendiri. "Bitelbitelans" waktu itu adalah musuh budaya nasional yang bisa  merangsek masuk dari luar. Musik di zaman Soekarno adalah masamasa emas saat suara John Lenon melintasi batas Inggris. Saat gambar Marelyn Monroe jadi posterposter dibioskopbioskop.

Di zamannya, Soekarno menolak musik yang berbau Barat. Terutama yang lahir dari rahim budaya kapitalisme. Sebab itulah mengapa ia melarang anakanak muda terpengaruh bandband semacam The Beatles. Karena barangkali bapak revolusi itu sadar, kolonialisme juga punya strategi selain perang, yakni melalui genderang telinga yang  gandrung segala bebunyian yang western.

Tapi apa sebenarnya arti "Barat" dan "Timur" sekarang sebenarnya juga adalah ihwal yang mudah retak. Apalagi jika kita ingin menunjuk dengan tepat apa sebenarnya identitas budaya yang asli dan origin. Sebab di zaman sekarang, jika kita menunjuk "Barat," maka di sana tak ada yang sebenarnya betulbetul Barat. Juga "Timur" adalah yang hari ini sepertinya bukan lagi timur.

Identitas memang bukan medan yang pejal. Justru Lacan menyebutnya sebagai sesuatu kesalahan pasca fase cermin, sehingga identitas yang dianggap real adalah sesuatu yang sedari awal sudah rusak. Sebab itulah tak ada yang otentik pada identitas selain merupakan rangkaian panjang untuk mengisi kekosongan. Jika sudah demikian, maka identitas adalah sesuatu yang merupakan hasil interaksi dan aksi. Hasil meminjam dan meneguhkan yang diproses menjadi sesuatu yang ingin kita sebut origin.

Lantas siapakah yang dimaksud Barat di zaman revolusi Soekarno? Atau apa yang betulbetul Barat di zaman itu? Nampaknya tak mudah menangkap jelas batas "Timur" dan "Barat". Tapi, di mata Soekarno, "Barat" adalah orangorang yang datang masuk ingin menguasai segala yang dimiliki bangsa ini.  

Barangkali budaya memang ruang terbuka untuk didialogkan. Tapi kita juga mesti sadar, ada yang hilang jika di layar kaca, apa yang kita tonton adalah canoncanon budaya yang importir. Sementara di balik itu, akhirnya kita juga akan sulit menemukan sejarah identitas diri yang sebenarnya bersamaan dengan tumbuhnya halhal baru yang bukan berasal dari perut kebudayaan kita.

Syahdan, apa yang sebenarnya membuat kita waswas, saya pikir oleh sebab yang origin hari ini sudah banyak dibajak. Tapi jauh dari itu, pertanyaannya masih sama, apa yang sebenarnya origin dari kita?

23 Februari 2015

madah tigapuluhlima

Tak semua pendidikan itu bermaksud luhur. Juga tak semua kaum terdidik itu berbudi baik.

Barangkali jika pendidikan diartikan sebagai diskursus wacana yang tak sepi dari kekuasaan, maka pendidikan sudah persis seperti kancah politik. Foucault, seorang poststrukturalis, melihatnya sebagai medan yang selalu dibentuk dan diarahkan berdasarkan hasrat kekuasaan yang inheren di dalamnya. Di mana ada keinginan untuk berpengetahuan, maka di sana juga ada hasrat atas kekuasaan.

Saat demikian, yang luhur jadi lumpur. Yang bermaksud menciptakan manusia yang bermartabat justru menyisihkan budi dan pekerti. Kekuasaan memang merusak yang agung, sebab di alam manusia, yang agung adalah sebaliknya; hasrat kekuasaan.

Orang yang paham betul dengan praktik pendidikan semacam itu barangkali adalah Paulo Friere, seorang filsuf pendidikan. Dari pengamatannya di Brazil, pendidikan yang identik dengan kekuasaan jamak diresahkan. Tetapi keresahan yang jamak bagi Friere sama halnya sebagai masalah yang fatal. Keresahan, di saat pendidikan tumpul membacanya adalah aib kemanusiaan yang harus segera diselesaikan.

Sebab itulah keresahan harus diterjemahkan menjadi kesadaran. Di mana-mana, juga di Brazil, kesadaran merupakan batu pijak pertama untuk membuka selubung soal. Maka Friere menguak lapisan kesadaran berdasarkan kepekaan masyarakat terhadap kenyataan yang melingkupi.

Diperkenalkanlah tiga lapis kesadaran itu; mistikal, naif dan kritis. Yang fatal bagi Friere adalah kesadaran yang menganggap keadaan adalah suatu yang kodrati. Situasi yang kosong dari kehendak manusia, sebab semuanya telah diatur dan bekerja dengan sendirinya. Kesadaran macam ini juga menganggap alam dan keadaan manusia adalah cosmos yang natural, serta jernih atas hasrat penguasaan. Itulah mengapa ia disebut kesadaran mistis dan juga naif.

Tapi ternyata tidak. Alam manusia bukanlah cosmos yang sunyi dari hiruk pikuk. Kebudayaan dicipta, kehidupan bersama dibentuk, sampai akhirnya sebuah sistem bersama berlanjut berlamalama. Tanpa disadari, berkat kemampuan manusia, cosmos yang natural akhirnya berubah cultural. Ini berarti di dalamnya silih berkelindan kepentingan. Mencipta, menata dan mempertahankan adalah tiga hal yang menjadi motifnya. Dan kekuasaan adalah alat paling ampuh untuk mencapai itu.

Saat demikian, di dalam pendidikan, kekuasaan menjadi alat yang diamdiam merangsek kesadaran menjadi tabiat yang bisa dijinakkan. Louis Althusser menyebut ihwal itu sebagai gejala yang ditimbulkan ideological state apparatus, yang membajak kesadaran melalui institusi pendidikan. Tujuannya adalah menyisihkan kesadaran kritis, sebab di mata kekuasaan kesadaran kritis bisa mendatangkan krisis.

Di negeri kita, yang krisis itu jika perbedaan atas pandangan dominan muncul dan menggebrak tatanan yang mayor. Perbedaan selalu dianggap aib untuk membangun pemahaman. Perbedaan jika demikian adalah cemar yang merusak keadaan yang stabil. Di negeri ini, yang stabil berarti pendidikan yang membangun keseragaman yang tunggal. Sikap demikian disebut Friere sebagai sikap yang intoleran, ”Ada suatu kecenderungan kuat yang mendorong kita untuk menyatakan bahwa apa yang berbeda adalah inferior. Inilah sikap tidak toleran, yakni kecenderungan menentang perbedaan.” Ungkapnya di suatu waktu.

Intoleran itulah sebenarnya yang kerap akut bagi kaum terdidik. Juga kaum pendidik. Dua pelaku itu sebenarnya adalah titik koordinat kritik Friere. Yakni di kelaskelaslah intoleransi itu ternyata bersemai subur. Di sekolahsekolahlah penyeragaman itu bermula. Dan di kampuskampuslah pembungkaman itu dirawat. Hingga akhirnya, pendidikan yang bagi Friere adalah alat membaca keadaan, menjadi tumpul dan mandul mencipta perubahan.

Pendidikan bagi Friere adalah harus sekaligus tindakan politis. Yang politis bagi Friere adalah humanisme. Semangat humanisme dalam pendidikan disebutnya sebagai usaha untuk mencapai manusia yang seutuhnya. Dan menjadi manusia seutuhnya adalah membebaskan manusia dari tipu daya kekuasaan. Itulah mengapa pendidikan harus membebaskan. Itulah sebabnya pendidikan harus mau diajak membincang perubahan.

Tapi sudah dikatakan tidak semua pendidikan bermaksud luhur. Juga tak semua kaum terdidik berperingai baik.

Pendidikan yang tak bermaksud luhur di negeri ini adalah pendidikan yang menganut filosofi tukang pembuat meubel. Taruhlah sebangun almari. Tukang, bagaimanapun sudah punya rencana. Yang dihadapinya sudah merupakan benda mati yang siap dikonstruksi berdasarkan keinginan. Melalui proses tertentu, material kayu diolahnya atas bayangan almari dalam benaknya. Syahdan, jelang akhir, almari, yang ada dalam benaknya juga menjelma di hadapannya. Almari di dalam benak tukang meubel adalah sudah selalu keinginannya yang ingin direalisasi.


Galibnya, pendidikan akan lebih humanis jika seandainya seperti seorang petani. Di sawah, seorang petani menghadapi alam yang tumbuh. Padi yang ia tanam mau tak mau adalah tumbuhan yang tak mampu ia paksa untuk segera tumbuh dan berkembang. Seorang petani harus sabar terhadap padi dihadapannya. Di depannya padi adalah tumbuhan yang punya masa dan musim. Sebab itu ia tak bisa memaksa kehendaknya untuk segera melawan musim. Maka, satusatunya jalan, di dalam kesabarannya, yang ia lakukan adalah membersihkan penghalangpenghalang dan memberikan pupuk yang dapat membuat padi tumbuh dengan subur. Sebab ia sadar, padi, tak bisa dipaksa, apalagi dibentuk.


22 Februari 2015

madah tigapuluhempat

Media massa banyak mengubah dunia, juga membuat manusia bisa takjub. Tapi sebenarnya dunia tidak berubah sepenuhnya, yang sebenarnya berubah adalah persepsi tentang dunia. Dan ketakjuban atas itu, dari dampak media yang memperpanjang jangkauan manusia, ditunjukkan Luther berabadabad lalu saat pembaharu kristen itu dibincang hampir di sudutsudut Eropa.

Ketakjubannya ia tulis; "Adalah suatu misteri bagiku, bagaimana tesisku...tersebar ke banyak tempat. Padahal semuanya khusus ditujukan bagi kalangan akademik kita di sini.."

Begitulah ia takjub dan barangkali juga heran.

"Di sini" dalam tulisan Luther saat itu adalah sepetak tanah atau ruang tempat lingkungan akademik gereja menghabiskan waktunya,  dan "kita" adalah batas yang ia tujukan kepada kelompok yang akrab dengan debat teologi dan kosmologi. Tapi dalam ungkapan yang sama ada yang melompati batas, ada yang jebol saat itu. Dalam keheranannya itu makna "di sini" juga berarti di manamana. "Di sini" juga bermakna "menyebar ke manamana."

Tulisan itu sebenarnya ia tujukan bagi Paus saat itu. Suatu surat yang tak menyangka dan diduga sebelumnya atas menyebarnya pemikiranpemikirannya. Barangkali ada kekhawatiran dalam benak Luther, sebab karyanya yang merupakan 95 tesis tentang ajaran kristiani, yang ia tulis untuk kalangan terdidik, justru menyebar tanpa bisa dikontrol. 95 tesis yang awalnya digantung di pintu gereja itu tibatiba jadi konsumsi massal. Dari sudut pintu gereja Wittenberg akhirnya menjelma hampir seluruh Eropa.

Kesaksian Luther ini adalah penanda betapa cepatnya penyebaran informasi saat seorang bernama Johannes Gutenberg berhasil menemukan sebuah alat yang disebut mesin cetak saat itu. Ķala itu arti mesin tidak sama jika kita menyebut mesin saat ini, tapi di tahun 1455 Gutenberg sudah mampu menciptakan 42 line bible dengan mesin sederhananya. Sebab itulah, melalui Gutenberg Bible tak lagi berupa kumpulan perkamen yang ditulis tangan. Di tahun yang sama Gutenberg membuat Bible pertama yang dicetak.

Hingga Eropa pelanpelan mulai menemukan keyakinan baru. Gereja sebagai institusi yang hak terhadap ilmu pengetahuan menjadi surut dan luntur. Temboktembok gereja mulai kehilangan arti sebagai batas yang ilahi. Sontak, yang di anggap ilahi bukan saja milik gereja. Yang jebol akhirnya tak dapat dibendung, yang akademik jadi milik umum. Sejak saat itu, saat di mulai dari Jerman hingga ke negerinegeri lainnya, Luther menjadi semacam mentari di ufuk jauh; membawa iman baru di manamana.

Dan dalam sejarah akhirnya kita bisa tahu, sebuah mesin cetak bisa menerbitkan dua hal; kegamangan dan pembaharuan.

Padri agama di saatsaat Eropa beranjak naik, barangkali juga tak menyangka. Seperti Luther, mereka akhirnya harus menerima keadaan yang selama ini dijaga akhirnya harus lancung; merebaknya kontroversi. Saat itu, dari 95 tesis yang ditulis Luther, tradisi kristiani mulai guyah. Banyak iman yang mulai menyelisih seperti perdebatan menyakngkut dosadosa yang bisa ditebus atau tidak. Juga kritikannya terhadap John Tetzel, teolog saat itu yang menghimpun pundipundi melalui surat aflat. Syahdan, sontak kegamangan itu menuai pembaruan disudut lainnya.

Tapi itu di abadabad 16 saat mesin cetak merombak tatanan informatif masyarakat Eropa. Kegamangan padri agama akhirnya berubah menjadi hilangnya kharisma gereja, dan munculnya kaum intelektual baru. Pengetahuan di sini juga ternyata tak selamanya kukuh di atas otoritas teologi. Bukan saja sabda tuhan yang bisa membangun iman yang tanpa cela, mesin cetak justru jauh lebih dahsyat, bukan saja menggetarkan iman yang lama dipugar sejarah, tetapi juga menjadi pemicu suatu gerakan baru saat itu; humanisme.

Humanisme inilah yang sepertinya jadi sesak bagi teolog saat itu. Sebab manusia justru adalah hamba yang harus melayani tuhan dalam kolonikoloni. Sejarawan Swiss, Jacob Burckhard, menukil suatu keadaan sejarah saat itu ketika manusia yang hidup dan mengenali dirinya sebagai ras, rakyat, keluarga atau kolektif. Dan di tengahtengah itulah seraut iman disusun atas sabdasabda yang membangun kehidupan religi. Tapi kemudian humanisme itu datang, individu sebagai segenggam kesadaran beriringan waktu menghancurkan ikatan yang terbina berabadabad lamanya. Dogma terganti rasio dan kolektifisme menjadi individualisme.

madah tigapuluhtiga

Ada cara bagaimana kita bisa mengukur kebahagiaan. Bentham, filsuf Inggris abad 18, meyakininya dengan cara yang kuantitatif, yang disebutnya "kalkulus kebahagiaan." Resep yang digunakannya sederhana; kebahagiaan sama dengan kepuasaan dikurangi kepedihan. Ini artinya, kebahagiaan berarti merunut sebanyak hal ihwal kepuasaan serta dikurangi dengan masalah yang membuat pedih. Hasilnya, itulah kebahagiaan anda.

Di abad 18, semangatnya itu ia tulis dalam karyanya yang hanya berupa pembukaan sebanyak 300 halaman; Introduction

Dalam Introduction, Ia juga mengusulkan untuk menulis daftar yang terdiri dari ragam kepuasankepuasan dan kepedihan. Di sini kita diajak untuk mengingatingat halhal yang membuat diri puas sekaligus hahal yang menjengkelkan. Setelah itu dicatat, dari daftar yang panjang berisi kumpulan kepuasan dan kepedihan itu disebutnya dengan istilah yang unik; katalog kepuasan.

Sebuah perhitungankah ini? Pengelolahan angkakah ini? Bentham hidup di Inggris. Di abad 18 pasca rasionalisme disingkirkan. Empirisme tumbuh berkembang di Britania, juga sains. Bermula dari itu cara berpikir Inggris nampaknya berubah. Segalanya mesti terukur. Juga kebahagiaan.

Bentham memiliki prinsip kepuasan berdasarkan utility. Di masanya, utility bukan berarti kegunaan dari sesuatu, melainkan kepuasan dari sesuatu. Dan kepuasaan dalam arti satisfaction sinonim dengan keuntungan, kepuasan, keunggulan, kebaikan atau kebahagiaan dari suatu objek.

Dan dari katalog kepuasaan yang disusun Bentham, peringkatnya mudah ditebak; kekayaan dan kekuasaan adalah daftar teratas kepuasan. Sementara kebalikannya, kesengsaraan dan ketidaknyamanan adalah urutan teratas kepedihan.

Sepertinya ada yang tak pernah berubah dari dahulu tentang kekayaan dan kekuasaan. Marx barangkali adalah orang yang telah menaksir, kepuasan terhadap kekayaan dan kekuasaan adalah mata rantai yang bisa mendatangkan derita di ujung lainnya. Masyarakat dapat kaya, tapi kemiskinan tidak mesti dibiarkan begitu saja. Sebab kepuasan terhadap kekayaan tidak selamanya menjadi ukuran yang defenitif. Juga kekuasaan, yakni selama manusia mampu membangun kehidupannya, kekuasaan adalah poros yang banyak menelan korban.

Tapi ada yang bisa saja fatal dalam filosofi kebahagiaan Bentham. Konsekuensinya adalah kepuasaan hanya diukur atas logika kuantitas. Satu kepuasaan seorang pelukis pasca menghasilkan karya lukisan akan sama dengan satu kepuasaan ibu rumah tangga yang memenangkan arisan. Secara kuantitatif dua kepuasaan itu akan jadi berbeda dalam ukuran yang kualitatif.

Sebab itulah Bentham bisa salah dalam mengukur kebahagiaan. Yang luput darinya adalah persamaam yang dibangunnya antara kepuasaan dan kebahagiaan. Juga dalam karyanya itu, kepuasan nampaknya akan semakin menjemukkan oleh sebab repotnya skala dan unsurunsur yang diperhitungkan yang disertakan dalam mengukur kepuasaan.

Richard Schoch menyebutkan bagaimana Bentham menulis kerumitan dalam mengukur kepuasaan dengan hukum persamaannya atas unsurunsur yang diperhitungkan. “Ini lebih rumit dari pada sekedar menaruh mereka dari skala..kita harus mengetahui beragam hal dari mereka; aspekaspek yang membahagiakan, situasi yang mempengaruhi, dan bagaimana mereka berhubungan satu dengan lainnya.” Syahdan, untuk pekerjaan mengukur kebahagiaan yang repot itu, Bentham mempercayakannya kepada politisi. Richard Schoch menyebutnya pemerintah.

Menurut Bentham, pemerintah harus punya tanggung jawab untuk mengurusi kebahagiaan dengan memperhatikan keadaan yang dipersiapkan untuk menunjang warganya mencari kepuasan sebanyakbanyaknya. Kepuasaan, oleh Bentham, atas keadaan yang diciptakan pemerintah, harus mengingat satu hal; keamanan. Pemerintah harus punya tanggung jawab menciptakan keamanan, tanpa keamanan kepuasan tak dapat dimungkinkan. Dan Bentham percaya, tanpa keamanan seorang pun tak dapat menemukan kebahagiaan.

Sama halnya Hobbes, Bentham sangat percaya jika manusia dibiarkan mengejar tanpa batas kepuasannya, maka perang bakal terjadi. Bellum omnia omnes, perang semua terhadap semua. Itulah mengapa perlu ada pemerintah yang mengatur kebahagiaan banyak orang.

21 Februari 2015

madah tigapuluhdua

Undian itu dilakukan dengan sut. Lingsang dan pasukannya mendapat kehormatan jadi ujung barisan yang akan memasuki Kutaraja dari selatan. Di belakangnya akan menyusul pasukan Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca…

Begitulah prosesi awal perang dikisahkan dalam Arok Dedes. Membaca fragmen cerita itu, kita akan segera tahu, tentang sebuah peristiwa jatuhnya kekuasaan seorang raja sekitar 1220 masehi. Saat itu, di Nusantara, dikisahkan Pramoedya Ananta Toer, Tunggul Ametung akhirnya mati bersimbah darah. Dan dalam lakon rajaraja, bersimbah darah berarti cara heroik untuk mati.

Tapi, di luar itu sebenarnya ada peristiwa yang lebih heroik. Jauh di luar jangkauan raja Tunggul Ametung, sebuah skenario kekuasaan sesungguhnya telah disusun rapi jauh hari tanpa sisa adegan yang kosong. Melalui tangan Buto Ijo, Arok, melalui peran yang panjang akhirnya menjelma kekuatan yang menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung.

Dan dari serangan itu, sejarah akhirnya mencatat, di saat itulah kudeta pertama terjadi di Nusantara.

Jika ada kekuasaan yang diceritakan tanpa menyisihkan intrik, barangkali Pramlah orangnya. Dalam Arok Dedes, sebuah naskah yang ia tulis di pulau Buru, barangkali ingin menjangkau ruang kesadaran banyak orang, bahwa kekuasaan sebenarnya dibangun bukan dengan cara yang langgeng dan sepi muslihat. Kekuasaan justru di tangan Pram, dikisahkannya adalah poros yang mudah keropos oleh intrik.

Melalui kisah Arok Dedes, Pram barangkali ingin membuka suatu tafsiran baru di sekitar kekuasaan. Bahwa, kekuasaan sesungguhnya adalah sesuatu yang tak stabil dan mudah retak. Di sini ada yang nampaknya sama sekali menyelisih dari adat kebiasaan. Apalagi dominasi cara memandang kekuasaan yang selalu ditautkan dengan hal ihwal berbau teos. Kekuasaan, seperti yang ditampilkan Pram dalam lakon Arok Dedes, adalah kekuasaan berwajah politik, bukan yang mitologik dan teologik. Artinya, kekuasaan itu mudah dihimpun juga diguyah selama intrik diberlangsungkan.

Juga bahwa politik sebenarnya adalah bagaimana kekuataan harus disusun dan dirombak. Yakni kekuatan bilamana ingin berhasil, selama disusun dan dirombak harus bermain pada semua lingkaran kelompok. Dan dalam lakon politik suatu rencana harus menyeimbangkan kekuatan di antara beragam kepentingan di sekitar kekuasaan.

Dengan cara itulah Arok memainkan perencanaannya. Seorang pemuda pelajar yang berhasil menghimpun kawula dan elit terdidik, serta kekuatan militer untuk menggerakkan sebuah perlawan terhadap Tunggul Ametung.

Barangkali, Pram juga ingin bermaksud bahwa politik sebenarnya adalah keadaan yang tanpa pusat. Sebab kekuatan sebenaranya bisa muncul dari mana saja selagi sebuah keadaan terlampau sesak oleh himpitan kekuasaan. Dan yang dibutuhkan sebenarnya adalah inisiatif yang cemerlang dalam bertindak dan membaca situasi yang serba mungkin.

Bila itu yang dimaksudkan, inisiatif sebenarnya adalah peran yang timbul tanpa lepas dari situasi yang kongkrit. Dalam arti ini, sebuah inisiatif lahir dari seorang subjek politik.

Slavoj Zizek, seorang filsuf abad 21, menyebut subjek politik adalah seseorang yang berperan radikal yang menerka keadaan dari segala ketermungkinan yang ada. Suatu yang disebut Zizek adalah “peran istimewa,” yakni suatu kemampuan dalam mengubah yang serba mungkin menjadi kekuatan yang menggerakkan. 

Dan Arok adalah orang yang melihat itu, menyusun dan memprediksi kekuatan mana yang kosong dan dapat ia manfaatkan menjadi kekuatannya. Ia seperti Sang Pangeran yang ditulis Machiavelli, orang yang menunggu dan bersikap di antara virtue dan fortuna.

Lakon kisah yang ditulis Pram ini, juga sebenarnya adalah bagaimana ia menjadi suara yang dibungkam di tengahtengah kekuasaan. Di pulau Buru, sebuah naskah sastra politik ditulis dengan kesadaran yang kental terhadap prosesi keberlangsungan sebuah kekuasaan saat itu. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...