"Masalah manusia adalah
yang paling penting dari segala masalah"
Begitulah Ali Syariati memandang sebuah persoalan. Dimulai dari
manusia dan menuju manusia. Sebab "agamaagama
di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas
dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau
tuhan." Jika ia pernah mengatakan "dari mana kita mesti mulai?", maka soal utamanya bisa jadi
adalah manusia.
Nampaknya humanisme tidak selamanya milik barat. Ali Syariati,
kawan karib Sartre ini, juga punya cara membilangkan humanismenya dengan daya
yang meletupletup. Humanismenya, yang meletupletup itu, ia sebut sebagai "mahluk bidimensional, rekan Allah,
sahabatNya, pemegang amanatNya dan murid utamaNya... yang dikaruniai misi agung
agar dilaksanakannya di muka bumi."
Dengan begitu, manusia yang bidimensional diyakininya sebagai
orangorang yang punya misi khusus, orangorang yang datang di muka bumi untuk
menyelenggarakan suatu adab hidup. Suatu yang ia sebut misi agung.
Tapi, misi agung, di abad dua puluh satu, adalah misi yang bisa jadi soal sebenarnya. Agama, yang juga punya semangat humanisme, nampaknya seperti yang dibilang Syariati, justru adalah "agama-agama yang merendahkan manusia." Manusia bukan titik koordinat semua garis bermula. Ia hanyalah satu garis dari titik yang berpusat dari tuhan.
Di abadabad yang lalu, di hadapan keyakinan dominan gereja, pusat
itu dirubuhkan. Dan hingga kini, pusat telah berbeda. Manusia menjadi poros,
sehingga dari sanalah semua soal dan jawaban disusun.
Tapi, sekali lagi ini abad dua puluh satu. Agama punya jawaban
yang juga tak pernah surut. Semangat yang tak surut itu muncul dengan wajah
yang tak ingin kusam di abad kemajuan ini: fundamentalisme.
Dengan itulah misi agung dipandang memang mesti agung. Tak ada
yang boleh mencemari yang asal dan dasar, itulah sebabnya tak ada campur tangan
manusia di dalamnya. Manusia, mahluk yang memang sumber kesalahan itu, tak
punya hak untuk membangun sebuah dunia. Apalagi menjamin segala isinya.
Maka itulah kita tak pernah salah memahami Will Durant, agama
memang punya seribu nyawa. Dengan nyawa yang tak kurangkurang, sebuah keyakinan
dipupuk diladang yang semakin luas. Dunia harus kembali kepada asal di mana
agama pertama kali datang. Segala yang berubah bisa jadi ikhtiar yang melenceng
dari rencana awal. Sejarah harus disusun kembali. Agama harus menjadi panglima
di segala yang telah melenceng.
Walaupun kita juga tahu, di dalam narasi sejarah, agama dengan
semangat yang ingin kembali ke asal, malah juga harus menilap nyawa yang lain:
manusia.
Itulah mengapa Ali Syariati yakin, masalah yang sebenarnya
bukanlah soalsoal metafisis di atas kepala
manusia, melainkan apa yang ada dalam benak
manusia itu sendiri. Ini artinya, apa yang menjadi soal sebenarnya adalah benak
yang mudah muncul di dalamnya prasangka atas dunia yang jamak.
Dan agama, yang sebenarnya bermula dari yang sunyi, di abad dua
puluh satu, tak bisa juga memandang "misi agung di muka bumi,"
sebagai perjuangan santun di bentang lalu lalang orangorang. Nampaknya, agama yang
sunyi, seperti wahyu pertama kali turun di gua hira, visi yang turun di pohon
bodhi, juga drama kesunyian nabinabi tak sempat menyentuh, seperti yang A.N. Whitehead bilang: Tuhan Sang Sahabat.