04 Agustus 2017

Karl Marx di Dean Street Soho

"Penulis boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya." Karl Marx
 
Salah satu olok-olok, atau bahkan ironi bagi Karl Marx barangkali datang dari suatu nama jalan; Dean Street. Panjangnya kurang lebih 400 yard. Di peta, letaknya di antara Oxford Street dengan  Shaftesbury Avenue. Di situ tidak berbeda dengan jalan-jalan di Soho, London: banyak toko-toko mentereng, klub-klub malam, bar, restoran, penjual-penjual kembang, toko pernak-pernik dlsb. Singkatnya bilangan itu adalah salah satu pusat keramaian di London. Tempat kelas borjuis, kelas yang menjadi sasaran kritik Marx, berbelanja.

Di jalan itulah Marx pernah tinggal. Menghabiskan kurang lebih waktu enam tahun hidup dengan miskin.

Sekarang, sebaliknya, Dean Street adalah salah satu jalan paling konsumtif di London. Sebagai salah satu pusat perbelanjaan, Soho adalah salah satu destinasi kaum borjuis era kiwari.

Tapi, sebelum Soho menjadi seperti sekarang, di situlah Marx menulis catatan awal Das Capital yang menginspirasi itu. Di rumah yang sekarang ditilap gedung-gedung mentereng.

Di kala Marx hidup, di Dean Street yang kumuh itu, tidak ada satupun orang borjuis yang bakal menginjakkan kakinya di sana.

Begitulah, setelah diusir dari Jerman, Marx pergi  ke pemukiman buruh di Brussels, namun Marx ditangkap polisi dan dibuang ke Prancis. Semenjak diusir dari Prancis, Marx akhirnya tiba di London, yang akhirnya kehabisan uang dan diusir dari kediaman sebelumnya di Camberwell.

Akhirnya Marx tiba di gang yang kala itu banyak ditinggali kelas pekerja. Ketika itu sekira tahun 1850an, kali pertama  Marx menempati rumah tempat yang disebutnya banyak mengalami kemalangan.

Di rumah itulah Marx kehilangan anak bungsu dan seorang putrinya akibat kelaparan dan diterpa penyakit. Di rumah itu pula barang-barang Marx termasuk pakaian, sepatu, dan mantelnya disita karena utang yang menumpuk.
  
“Aku telah mengalami segala jenis permusuhan,” tulisnya pada Engels suatu waktu, “tapi kini, untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Hidup miskin suatu soal lain, tapi di saat kehilangan buah hati tercinta? Bukankah itu lebih daripada penderitaan?

Tapi kemalangan Marx juga barangkali adalah kemalangan kelas pekerja yang selalu disuarakannya. Di rumah itu, selain menulis catatan-catatan perdana Das Capital, lahir The Class Struggle in France, serta Der 18te Brumaire des Louis Bonaparte.

Di rumah ketika Marx bukan saja nampak sebagai seorang pemikir, tapi juga sebagai seorang ayah yang senang menuliskan karangan cerita untuk anak-anaknya. Menjadi seorang kepala keluarga yang bisa berperan selayaknya teman bagi anak-anaknya.

Pekerjaan yang mungkin agak berbeda ketika masih tinggal di tempat sebelumnya, ketika pertama kali datang ke London; membelikan  dan membacakan novel kepada anaknya di usia yang masih sangat muda.

Bukan saja membacakan karangan sastra, ketika masih tinggal di Grafton Terrace, Mohr, begitu panggilan anak-anaknya terhadap Marx, kadang bermain “kuda-kudaan” seperti yang dikatakan Eleanor, anaknya, “Dengan duduk di pundaknya, memegangi rambutnya yang lebat, hitam dan beberapa yang sudah menguban”.

Namun, Marx yang diliputi kemiskinan –seperti yang sudah menjadi profilnya—adalah pemikir yang disiplin secara intelektual. Mengenal Marx berarti mengenal seseorang yang dari muda memiliki gairah terhadap hampir seluruh disiplin keilmuan; filsafat, politik, hukum, sejarah, seni, musik, sastra. Itu termasuk banyak membaca dan menerjemahkan buku-buku.

Saat muda, Marx sempat menulis tentang perasaannya ketika tiba di Berlin, “begitu tiba di Berlin, aku memutuskan segala ikatan yang ada dengan handai taulan, jarang berkunjung dan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam ilmu pengetahuan dan kesenian”. Betapa Marx menjadi orang yang soliter.

Di sini Marx mau bilang betapa konsentrasinya hanya untuk ilmu pengetahuan dan seni, sampai-sampai harus menjadi orang yang menarik diri dari hiruk pikuk.

Sebagai seorang penulis, energi Marx bisa jadi lahir dari suatu niat yang jarang ditemukan dari penulis yang melihat hubungan antara karya dengan dirinya sebagai jaringan yang menguntungkan. Selama delapan jam, di London, Marx menghabiskan waktunya di British Museum, menulis berbagai bahan yang akan dirampungkannya dalam karya-karya monumentalnya. Pergi di saat pagi belum begitu panas, dan pulang di pukul sembilan malam dengan ditambah mengurung diri di kamarnya selama hampir lima jam hanya untuk menulis.

“Penulis”, kata Marx, “boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya."

Sulit membayangkan suatu ikhtiar yang begitu mendalam terhadap pemahamannya atas penghargaannya terhadap suatu karya pemikiran. Suatu keyakinan yang ditulisnya ketika masih menjadi mahasiswa, ketika Hegel menjadi salah satu bacaan dan tokoh yang diikutinya, dan ketika surat-surat romantisnya masih dia tuliskan kepada Jenny, kekasihnya.

Pemahaman literasi semacam ini tidak mungkin lahir jika Marx tidak memahami hakikat kerja itu sendiri. Kerja, seperti yang diterangkannya, adalah suatu rangkaian usaha perealisasian diri menjadi mahluk yang  bebas. Kerja hanya mungkin terjadi jika manusia memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, kerja disebutnya hanya alat yang mengalienasi manusia.

Karya adalah manifes ide manusia. Hasil realisasi dirinya sendiri. Sesuatu yang disebutnya mesti dikorbankan segala hal daripadanya.

Itulah sebabnya,  berkarya—dalam hal ini menulis—merupakan suatu pekerjaan yang mengutamakan tingkat lebih daripada hasrat rendah manusiawi. Sesuatu yang tak mungkin mampu diperkirakan harganya.

Di titik ini Marx lebih dari sebuah nama. Marx adalah suatu model. Bahkan suatu pemahaman.

Tapi, jika di Soho degup kapitalisme yang bagai olok-olok itu tak pernah berhenti, dengan itu Marx sebagai pemahaman, akan juga senantiasa hadir bersamaan menjadi semacam antitesa. Selama ketika dua buah ruangan di jalan Dean Street dihiliri turis-turis dari berbagai penjuru.

---

*Sebagian besar kutipan disadur dan diambil dari sastraalibi.blogspot.co.id., dari blog pribadi Ronny Agustinus (penerjemah buku-buku dari penerbit alternatif Marjin Kiri)

01 Agustus 2017

Pramoedya Membakar Sampah




“Perang, kekuasaan, kekayaan, seperti unggun api dalam kegelapan dan orang berterbangan untuk mati tumpas di dalamnya.”

“Sejarah saya sejarah perampasan.”

--Pramoedya Ananta Toer

Sampai masa tuanya, Pramoedya Ananta Toer masih meneruskan kebiasaan membakar sampah di pagi dan sore hari. Bahkan kebiasaan ini sudah dilakoninya semenjak ia kecil. Sudah semenjak jaman pendudukan Jepang.

Di rumahnya di Bojonggede, kebiasaan itu dilakukannya dengan bebas. Maklum, di rumah sebelumnya, di Utan Kayu, Pram kurang leluasa melakukannya akibat khawatir mengganggu tetangga.

Di Utan Kayu, sering kali warga setempat melihatnya berjongkok sambil menatap berlama-lama api yang membakar habis sampah.

“Sebagai tetangga, kebiasaan dia itu selalu membakar sampah dengan bertelanjang dada, dan merokok. Sampah siapa saja selalu dikumpulkan, lalu dibakar. Itu yang saya ingat betul”, ungkap Erry Ryana Hardjapamekas, tetangga Pram saat di Utan Kayu.

Potret Pram ketika sedang membakar sampah pernah saya lihat di majalah dewasa Playboy Indonesia. Potret itu menampilkan tubuh Pram yang kurus dibalut kaus oblong berwarna putih polos. Rambutnya memutih dengan kaca mata yang bertengger di atas hidungnya. Tangan kanannya mengapit sebatang rokok. Kala itu dia berjongkok menggunakan sarung bermotif kotak-kotak.

Kebiasaan Pram ini sebetulnya adalah rutinitas yang dimulainya sejak pagi belum merekah. Sejak pukul dua dini hari Pram bangun. Membaca koran dan memilih-milih berita yang menurutnya layak disimpan. Kliping memang pekerjaan di hampir seumur hidup Pram semenjak bekerja di kantor Domei. Bahkan dari kebiasaannya itu ia memiliki rencana membuat ensiklopedia Indonesia. Pekerjaan yang akhirnya tidak pernah rampung sampai akhir hayatnya.

Sebelumnya, di waktu yang hampir bersamaan, Pram membuat catatan dari koran yang dibacanya. Dengan menggunakan mesin tik, rutinitas itu dilakukannya hingga pagi. Pukul tujuh kemudian ia beristirahat, setelah membaca koran pagi.

Membakar sampah bagi Pram mungkin memang peristiwa yang subtil. Bahkan sublim. Di situ apapun yang dijilati api bakal menguap menjadi asap. Menghilang mengapung di udara. Persis perwatakan dunia yang menggambarkan suatu proses perubahan.

“Untuk meluapkan emosi. Apalagi dia bakar sampah sampai habis tak bersisa. Itu kepuasaan buat dia,” kata Astuti Ananta Toer, putri keempat Pram.

Keakraban dengan api tidak secara kebetulan dekat dengan hidup Pram. Orde baru banyak membakar buku-bukunya. Dan  jika bukunya lolos dari pantauan pemerintah, orang-orang mesti sembunyi-sembunyi membacanya.

Dua bagian Panggil Aku Kartini, dan dua bagian Gadis Pantai adalah beberapa contoh dari karya Pram yang dihanguskan api orde baru.

Dalam hal ini, bagi Pram, api bisa memiliki arti yang jauh lebih kompleks. Ketika naskah-naskahnya dibakar, itu berarti sama halnya melarangnya menggunakan pikiran-pikirannya. Api secara harfiah memiliki daya untuk membuat beda antara terang dengan gelap, tapi justru nyala pijarnya secara kontradiktif membakar habis tanpa sisa segala apa yang disentuhnya.

Nasib Pram ibarat suatu ironi ketika di satu sisi api kekuasaan melumat dirinya, sekaligus di sisi lain mengangkat namanya menjadi pokok dalam benak setiap pembacanya.

Atau sebaliknya, hasil yang malah diraihnya hingga akhir hidupnya ibarat olok-olok bagi buah tangan dan pijar api pikirannya. Karya-karyanya dipuja di luar bangsanya sendiri, tapi tidak sebaliknya. 

Itulah barangkali peristiwa membakar sampah, di masa tua Pram menjadi semacam adegan yang dramatis. Berlama-lama di hadapan lidah api, menatap terang sekaligus menghayati benda-benda yang hilang di dalamnya.

Suatu permenungankah itu? Yakni suatu sikap puncak dari pengalaman hidup yang getir di hadapan nasib yang penuh ironi? Atau mungkin suatu suwung?

Yang pasti seperti yang ia katakan, sudah tak ada lagi hal apapun yang diinginkannya. Tidak ada apa-apa. Sejarah saya sejarah perampasan, katanya ketika di wawancara Playboy.

Begitu juga dendam. Atas perlakuan kekuasaan orde baru terhadapnya, dia hanya mengatakan ibarat latihan olahraga. Mungkin seperti permainan. Kalah ya kalah, menang ya menang. Yang utama apa yang ditemukan dari permainan, tubuh dan jiwa menjadi lebih kokoh. Dendam hanya merusak keduanya

Karena itu untuk apa memelihara dendam. Memelihara api dalam benak, apalagi dalam jiwa.

Api jika berarti bagi Pram mungkin dapat disebut sebagai suatu alat untuk melangkah ke alam baka. Sesuatu yang diartikan secara eskatologis. Seperti sampah, tubuhnya akan hilang ditelan di dalamnya.

Seperti pengakuan sahabatnya yang juga penerjemah Das Capital, Oey Hay Djoen, mengatakan, Pram sempat berpesan kelak ketika ia mangkat, jasadnya minta dibakar dan abunya ditebarkan ke penjuru bumi persada.

Namun seperti yang telah terjadi, jasadnya dikuburkan  di TPU Karet Bivak dengan diiringi banyak orang, terutama kaum muda, yang saat itu melepasnya dengan lagu perjuangan mahasiswa Darah Juang.

29 Juli 2017

madah lima puluh tujuh

Yang hilang belakangan ini saya kira adalah keagenan yang dimiliki setiap orang. Keagenan saya kira penting. Di situ “aku-diri” mengaktual. Dengan kata lain, keagenan adalah sifat otonom “aku-diri” untuk bebas menentukan pilihan-pilihannya. Namun, rasa-rasanya menjadi agen yang sadar diri di waktu ketika menguatnya tekanan kelompok menjadi agak riskan akibat tidak adanya penghargaan terhadap individu. Orang-orang akan  merasa kurang enak  jika tidak mengikuti pilihan-pilihan kelompok yang sering kali mengeliminasi hak-hak pribadinya.  Ya, kebanyakan dari kita masih khawatir jika merasa berbeda. Takut jika memilih jalan yang berlainan dari kebanyakan. Barangkali ini akibat telah lama kemerdekaan individu disingkirkan dari pemahaman kita. Kita lebih sering diingatkan tentang kebaikan kelompok, keutamaan bersama, dan juga kemuliaan kelompok, tinimbang keberadaan individu. Bahkan, telah lama hidup kita dibentuk oleh kokohnya sistem. Kuatnya otoritas, dan  ajegnya kebersamaan. Sehingga yang terjadi adalah jika ada kecenderungan-kecenderungan yang berbeda bermunculan maka akan mati sebelum berkembang. Seakan-akan diri kita tidak memiliki arti sejauh menjadi diri pribadi. Kita hanya disebut bermakna jika diri kita diartikan sebagai bagian dari kawanan. Tubuh diri kita mesti menjadi bagian tubuh kawanan. Tubuh masyarakat. Mentalitas kawanan saya kira merupakan watak pribadi yang menjadi ciri umum kita. Kebanyakan kita bagai kawanan anjing-anjing yang hanya mengikuti insting alam untuk hidup berkelompok. Di luar dari itu, jika kita seorang diri, kita malah merasa terasing, merasa bukan apa-apa. Tanpa daya. Makanya, eksesnya terhadap kehidupan kita, hampir semua yang kita miliki adalah ciri khas kelompok; selera, minat, hobi, cara berpikir, atau bahkan hidup kita sendiri. rasa-rasanya kita belum bisa menjadi pribadi yang otonom. “Aku-diri” yang berani memilih cara sendiri, pilihan sendiri. Bukankan kita ini dilahirkan sendiri-sendiri. itu artinya hidup kita punya jalan dan caranya sendiri. Otak kita tumbuh sendiri, di kepala kita sendiri. makanya, seharusnya keunikan diri kita juga harus dihargai. Kemerdekaan individu. Dengan begitu tanggung jawab menjadi jelas artinya. Secara etis segala konsekuensi moral mau tidak mau menjadi tanggungan kita sendiri. Bukan tanggungan kelompok. Menjadi aneh rasanya, jika kita mau disebut individu yang bertanggung jawab tetapi sebelumnya kita tidak diberikan ruang untu memilih sendiri. Bagaimana mungkin seseorang harus dimintai tanggung jawabnya jika dia tidak memiliki kebebasan? Maka itu semuanya harus dimulai dari diri pribadi. Seorang yang sadar diri. Dari situlah keagenan muncul. Yakni rasa keharusan untuk bertindak. Mau melakukan sesuatu dengan kemerdekaannya. Dan mau bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.

Chester Bennington dan Beberapa Masalah di Sekitar Kita

Bila mereka berkata
Siapa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?
Di langit sejuta bintang
Berkedip, berkedip
Siapa yang peduli kapan waktu seseorang habis?
Bila sesaat itulah kita
Kita lebih cepat, lebih cepat
Sipa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?*

Dia mati. Kamis, 20 Juli lalu. Tewas di rumah pribadinya, di Palos Verdes Estates Los Angeles. Tak lama setelah itu beritanya viral. Banyak penggemarnya dibuat mendung matanya. Siapa menduga dia mati dengan cara yang tragis: gantung diri.

Kabarnya dia tertekan. Ingatan kelam masa kecilnya menyeruak dalam benak. Tumbuh dan berkembang biak bagai kanker. Trauma itu disebutnya begitu menjijikkan. Banyak laporan menyebut ia depresi. Barangkali ia kalah, atau lelah, karena itu ia bunuh diri. Namun, siapa yang tahu pasti?

Yang pasti Chester Bennington, vokalis Linkin Park itu, satu dari banyak orang yang mati bunuh diri di tengah keadaan mayarakat yang dikepung ketidakacuhan.

Tapi, depresi memang soal kejiwaan. Soal individual. Hanya saja, tidak ada soal sekarang yang bisa dicabut dari konteks sosialnya. Kalau begitu, bagaimana depresi itu bisa terjadi dan kemudian langgeng, tidak semata-mata soal pribadi. Mengingat bentuk kehidupan mutakhir, depresi tidak bisa tidak dicabut dari konteks sehari-hari era kiwari.

Itu artinya, depresi, seperti juga bunuh diri, adalah konsekuensi kehidupan sosial yang diancam sepi dan boyak.

Banyak sebab seseorang atau masyarakat mengalami depresi. Mutakhir, media sosial semakin totaliter jadi sebab asal muasal depresi. Juga sebelumnya adalah kekosongan di antara meregangnya relasi sosial yang disebabkan individualisme dan  syakwasangka. Situasi kultural yang mengakibatkan kekeroposan pemaknaan atas jati diri, juga merupakan biang keladi terjadinya depresi.

“Totalitarianisme” media sosial dapat diasalkan kepada fenomena masyarakat yang sehari-harinya bersinggungan dengan dunia virtual. Media sosial telah menjadi semacam jaringan sistem yang mengintervensi di hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Bahkan, pengalaman atas ruang dan waktu  kehilangan nilai ontologisnya akibat diringsek habis oleh apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai simulakrum.

Dampak nyata simulakrum, selain mengubah kenyataan menjadi pencitraan, juga memberikan dampak negatif berupa terganggunya tatanan sosiopsikis masyarakat. Akibat besarnya kesenjangan antara dunia citraan dengan realitas yang sebenarnya, orang-orang yang terjebak simulakrum akan sulit membedakan antara kenyataan dengan fantasi. Imbas dari itulah seringkali terjadi banyak gangguan mental. Contoh dari semua itu adalah menguatnya individualisme naif yang dinyatakan dengan merebaknya budaya selfie dan narsistik.

Dari sisi lain, kekosongan dalam relasi sosial dibilangkan Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis sebagai peristiwa anomali. Yakni hilangnya peran sumber-sumber nilai untuk memberikan pemaknaan terhadap kelangsungan hubungan antara individu. Di situasi ini, agama, norma-norma, dan juga etika, menjadi mandul mengawal agenda-agenda perubahan masyarakat.

Jalin kelindan beragam nilai kebudayaan, juga melahirkan ekses negatif berupa  hilangnya otonomi atas “aku”.  Manusia di hadapan kebudayaan yang cair, dibuat sulit menentukan jati dirinya. “Aku” otonom ihwal yang sulit dicapai. Itulah sebabnya, krisis eksistensial melanda. “Aku” sebagai basis kendali kehilangan pusat dan keseimbangan di tengah deru “massa-budaya”.

Mengacu kepada Sigmund Freud,  orang-orang yang depresi juga besar pengaruhnya akibat kehilangan objek yang dicintai. Kehilangan cinta juga berarti hilangnya hubungan kebermaknaan di antara dua person. Dengan kata lain, raibnya cinta sama artinya dengan hilangnya “saluran” yang “emansipatif” dan inspiratif.

Itulah sebabnya, pembebasan secara emansipatif, membutuhkan cinta sebagai kekuatan pendorongnya. Kekuatan inspiratifnya. Pembebasan emansipatif tanpa cinta bakal membuat seseorang menjadi tiranik. Sebaliknya cinta tanpa pembebasan justru mengubah manusia menjadi budak.

Hilangnya hubungan kerelaan atas nama cinta juga mengakibatkan kesepian. Lubang yang ditinggalkan kesepian tidak jarang membuat orang akhirnya berduka. Tenggelam dalam dislokasi perasaan yang mengancam jiwanya. Dan kemudian larut di dalamnya.

Barangkali, akibat kedukaan, dan hilangnya perhatian antara sesama membuat orang-orang yang depresi menjadi lebih rentan. Tidak ada tempat untuk berbagi, tiada wadah untuk saling bertukar pengalaman. Terisolasinya masyarakat lantaran individualisme naif, menjadi salah satu sebab mengapa persoalan depresi menjadi masalah yang tidak kalah penting.

Dengan konteks demikian, situasi di atas sama dengan keadaan alienatif yang dialami seorang individu karena keterasingan dari dan terhadap sesamanya. Karena itu situasi ini jauh lebih berbahaya, oleh sebab, selain depresi yang menyebabkan hilangnya kontrol terhadap kesadaran, alienasi yang dialami seseorang juga berakibat keterasingan dari dirinya sendiri melalui dirinya itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa penting membangun relasi kebermaknaan sesama anggota masyarakat. Menghidupkannya dengan cara membangun perhatian dan kesetiaan berbasis nilai kemanusiaan tinimbang ikatan yang dibentuk moral masyarakat kapitalistik era kiwari. Melalui itu, hubungan dialogis dapat terbangun lebih dari sekadar sarana interaksi yang bersifat kebendaan dan instrumentalistik. Lebih jauh daripada itu, agar supaya kebudayaan manusia tidak semata-mata hanya bersifat produktif semata, tetapi juga reflektif-kontemplatif. 

Di sisi lain juga penting melihat hubungan relasional yang memerdekakan individu dari kekuatan di luar dari dirinya berupa institusi masyarakat yang sering kali menjadi rezim totaliter. Dengan kata lain, individu tidak ditotalisasi oleh rezim intitusi untuk menemukan kreatifitas dan kebebasannya yang berbasis keagenan yang dipunyainya, begitu juga sebaliknya, agar masyarakat tidak dikontrol secara sepihak oleh superioritas keagenan individu.

Tegangan dan tekanan yang terlalu besar dari tirani masyarakat, berupa misal intervensi nilai-nilai kolektif terhadap individu, sedikit banyak akan membuat keagenan individu berupa kebebasan dan kreatifitas menjadi sulit berkembang, atau bahkan akan mengalami pemenjaraan. Namun, kemerdekaan individu bukan berarti segalanya di dalam masyarakat. Kemerdekaan individu juga mesti mempertimbangkan tegangannya terhadap sistem nilai yang dikandung di dalam masyarakat itu sendiri agar terbangun alam kehidupan yang seimbang.

Syahdan, depresi tentu dapat dihindari apabila tekanan-tekanan sosial dapat dimerdekakan melalui basis-basis emansipatif dan edukatif yang dimiliki masyarakat itu sendiri. Basis emansipatif dan edukatif berupa misal, komunitas bakat dan minat, kelompok kreatifitas kepemudaan, organisasi kemahasiswaan, sampai lembaga study club, dapat menjadi saluran pembebasan dari sirkulasi sosial-psikis-mental yang seharusnya bekerja dengan baik dalam tubuh masyarakat itu sendiri. 

---

*Petikan dan terjemahan dari lagu One More Light, Linkin Park

---

Telah terbit di Kalaliterasi.com

20 Juli 2017

Gabo dan Kisah-Kisah Penculikan-nya

Membaca karangan fiksi sudah pasti akan mendorong pembacanya merasakan betapa kejadian-kejadian yang dibacanya bukan seratus persen dari kenyataan yang sedang dan sudah terjadi. Dengan kata lain, apa yang ditemuinya hanyalah hasil akal-akalan sang sastrawan. Bermain-main dengan imajinasi: itulah makna sastranya. Namun apa jadinya jika ada laporan berupa karya nonfiksi yang mengandung unsur-unsur sastra? Dengan kata lain suatu hasil dari kerja jurnalisme? Itulah sebabnya, ketika membaca Kisah-Kisah Penculikan (News of a Kidnapping) karya Gabo –nama panggilan Gabriel Garcia Marquez- seolah-olah membaca karangan sastra. Padahal, karya ini merupkan karya jurnalisme Marquez yang dikerjakannya selama tiga tahun bersama dua asisten yang membantunya –Luzangela Artega seorang jurnalis yang membantunya dalam melacak fakta-fakta sulit yang detail, dan Margarita Marquez Caballero, sepupu dan sekertaris pribadinya ketika mengelola transkip dan memverifikasi bahan-bahan kasar rumit, yang dikatakan Marquez bakal menegelamkan mereka. Saya berkeyakinan karena latar belakangnya juga sebagai seorang sastrawan (di masa hidupnya Gabo juga seorang reporter), sehingga membaca karya tangannya ini seperti didorong dengan motivasi yang sama ketika membaca karangan fiksinya. Saya seakan-akan terbenam dalam alur penceritaan jurnalistiknya yang seolah-olah hasil rekaan imajinasinya. Dengan dorongan inilah sehingga saya dapat menghabiskan seluruh laporan Marquez yang diterjemahkan dan diterbitkan penerbit Circa di tahun 2016 kemarin –News of a Kidnapping sendiri pertama kali terbit di tahun 1996 dan setahun kemudian dengan versi Inggrisnya. Kisah-Kisah Penculikan –disebutkan Marquez adalah karyanya “yang paling sedih dan sulit dalam hidupnya”—adalah  cerita 10 warga Kolombia yang diculik oleh kartel Madellin (pimpinan Pablo Escobar, seorang gembong narkoba di era 80 dan 90-an) yang di antaranya delapan jurnalis dan tiga lainnya merupakan tokoh politik, salah satu di antaranya merupakan anak presiden. Dengan tujuan politis, Pablo Escobar sebagai dalang utama dari penculikan ini menginginkan suatu cara agar Kolombia tidak meneken perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat. Kisah yang dituliskan dengan akses terhadap tokoh-tokoh penting yang jarang dipunyai seorang reporter sekaliber Marquez, dibangun dengan pendekatan yang hampir sama dengan teknik metafora, penyingkapan karakter, dan penggunaan teknik penceritaan seperti dalam karya fiksinya, dan semua itu tidak ditemukan dengan sekali dua kali pengalaman reportase. Buku ini juga mengetengahkan dengan gamblang bagaimana keadaan politik yang dialami warga Kolombia tidak semata-mata dunia yang terpisah dan bahkan mendapatkan tegangan dan intervensi yang intensif dari kelompok-kelompok penyelundup obat bius. Apalagi dengan kehadiran Pablo Escobar, musuh nomor satu Kolombia saat itu, membikin keputusan-kepustusan politik mau tidak mau harus ikut memperhitungkan keberdaan orang-orang semacam Escobar. Khususnya Medellin, tempat yang dinyatakan sebagai kawasan paling berbahaya di Kolombia, bahkan dunia, yakni akibat betapa banyaknya kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di sana, dan dengan nama Escobar yang “harum” akibat kedekatannya dengan masyarakat tingkat bawah, membuat pihak pemerintah dalam mengambil jalan ketika hendak memutuskan menyelamatkan para sandera menimbulkan perhitungan yang mendalam. Di balik kisah semacam itulah Marquez menggambarkan bukan saja peristiwa ketika para sandera mengalami penculikan, tapi juga saat-saat ketika ia menerangkan betapa rumitnya kecemasan, kesabaran, kepusingan, kehati-hatian, dan waktu yang dilalui pihak pemerintah –terutama presiden dengan timnya—saat menentukan langkah-langkah antisipasi yang mesti diambil di tengah-tengah konstelasi politik yang terjadi. Kehebatan Marquez juga nampak ketika dia memiliki “keleluasan” dalam menggambarkan pihak penculik di saat menjalankan tugas mereka ketika menjaga sandera selama berbulan-bulan. Dan, tentu bagaimana dia menuliskan betapa peliknya perasaan manusiawi yang dialami penjaga para sandera di tengah-tengah tugas berat mereka. Terutama terhadap pihak-pihak yang disebutnya protagonis, kisah yang ditulisnya ini dikerjakannya bersamaan dengan perasaannya yang disebutnya frustasi akibat “tahu bahwa tak satupun dari mereka yang akan menemukan tempat di koran lebih dari sekadar cerminan pudar tentang horor yang harus mereka tanggung dalam kehidupan nyata”. Dari semua itu rangkaian wawancara yang dilakukannya merupakan “pengalaman manusiawi yang memilukan hati dan tak terlupakan”. Pelajaran yang paling berharga dari jurnalisme Gabo ini adalah menyadari betapa di saat membaca hasil kerjanya yang luar biasa ini, saya masih bisa menangkap hampir secara utuh kejadian yang sudah lampau terjadi melalui narasi yang dibangunnya. Ikut tenggelam dalam suasana psikologis para korban, dan melihat sisi manusiawi yang lain dari seorang penjahat sekaliber Pablo Escobar dan gerombolan kartelnya.  

---

*sebagian kutipan yang ada dalam tulisan ini diambil dari tulisan Marquez yang menjadi pendahuluan dari bukunya yang diterjemahkan dan diterbitkan penerbit Circa


19 Juli 2017

Narasi Imajinasi-sains Nirwan Ahmad Arsuka

Bagaimana mungkin dunia pada hakikatnya adalah narasi?

Tapi, begitulah yang dibilangkan Nirwan Ahmad Arsuka di suatu diskusi menjelang ramadan di Cafe Dialektika yang digelar Paradigma Institute Makassar. Dunia jika dikuak intinya, tiada lain adalah narasi.  Segala sistem pengetahuan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, dibangun di atas sebuah narasi. Melalui “lidah” manusia, alam semesta mewujudkan dirinya melalui kisah.

Atau dengan kata lain, sepanjang manusia menciptakan narasi tentang hidupnya, maka sebenarnya itu adalah cara alam semesta mengungkapkan dirinya di hadapan manusia.

Suatu puitika-kah ini?

Meminjam kategori waktu Heidegger tentang destitute time, manusia di sepanjang sejarahnya selalu berusaha untuk menemukan orisinalitas dirinya di hadapan alam semesta yang melingkupinya. Segala upaya ilmu pengetahuan, yang juga dikatakan Nirwan sebagai percakapan dengan semesta, merupakan bentuk dasariah manusia menemukan relasi eksistensial antara dirinya dengan seluruh eksistensi yang mengitarinya.

Sesungguhnya apa yang dikatakan Nirwan sebagai percakapan dengan semesta merupakan pemapatan atas sejarah panjang manusia ketika mengekspresikan dirinya. Di dalam waktu, dengan waktu, dan melalui waktu, manusia “menyelam” di antara dan di dalamnya. Mencari hubungan kebermaknaan di antara relasi yang mereka ciptakan sendiri melalui konfirmasi dan afirmasi terhadap alam semesta demi menunjang kehidupannya.

Diperantai imajinasi, dimulai dari pemikir paling awal, sejarah kebudayaan manusia bergerak di antara pemahaman bahwa alam semesta memiliki archetype berupa air, udara, api, atom, hingga kebudayaan modern menyebutnya gelombang, demi mencari hakikat alam semesta di dalam kebudayaannya.

Dengan kata lain, percakapan dengan semesta adalah pekerjaan yang sudah dan sedang berlangsung hingga kini.

Kekuatan imajinasi, belakangan banyak ditemukan di setiap kebudayaan-kebudayaan masyarakat. Dimulai dari peradaban kuno Sumeria hingga abad modern, imajinasi adalah kekuatan paling fondasional yang membentuk kehidupan bersama.

Kaitannya imajinasi dalam narasi, dikatakan Nirwan juga dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan epos I la Galigo-nya. I la Galigo dalam konteks masyarakat Sulawesi Selatan merupakan satuan pengetahuan kosmologi manusia Bugis untuk mengidentifikasikan dirinya dengan alam semesta. Melalui I la Galigo, alam semesta diimajinasikan dan diposisikan sebagai sistem penjelas bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Itulah sebabnya, Nirwan mengatakan, peradaban yang tidak ditopang dengan narasi lambat laun akan berbalik punah. Tidak ada peradaban di mana pun tanpa narasi sebagai inti fondasionalnya.

Kebudayaan yang ditopang dengan pendidikan jika mesti direvolusi, dikatakan Nirwan juga mesti menempatkan narasi sebagai faktor utama agar manusia dapat bergerak maju. Bahkan Nirwan menyatakan bahwa kemampuan membuat dan memahami narasilah yang mesti dikembangkan di dalam sistem pendidikan. Melalui narasi, manusia diberikan peluang untuk mengembangkan imajinasinya. Bahkan, melalui imajinasi, manusia mampu menemukan dan menciptakan kenyataan baru demi mengatasi hambatan-hambatan yang dialaminya.

***

Malam itu, diskusi yang dikemas untuk memberikan apresiasi terhadap bukunya yang terbit beberapa tempo yang lalu, banyak menarik perhatian anak-anak muda Makassar yang banyak berkiprah dalam dunia literasi dan filsafat.

Salah satu yang menarik dari pokok diskusi Nirwan adalah konsep tiga dunia (Three Words) yang diperkenalkan Karl Popper di tahun 1978. Pidato yang dibacakan di Universitas Michigan itu membentangkan tiga tingkatan tatanan dunia secara ontologis berkenaan dengan dunia pengalaman manusia.

Berdasarkan pemahaman Karl Popper, dunia pertama adalah dunia fisik manusia yang terbentang di dalam medium ruang dan waktu. Segala apa yang tampak secara fisik merupakan bagian dari dunia pertama. Dunia kedua adalah dunia mental yang dimiliki manusia dalam perasaan dan dan proses berpikirnya. Sementara dunia ketiga adalah dunia objektif segala hasil pemikirian manusia berupa tamsil dari dunia seni, teknologi, filsafat dan agama.

Ketiga dunia ini disebutkan Popper saling berinteraksi dan saling memediasi sebagaimana misalnya dunia pertama hanya bisa berinteraksi dengan dunia ketiga melalui dunia kedua. Itu artinya, peran mediasi bahasa, yang dinyatakan sebagai objektifikasi mental manusia dari dunia kedua dan dunia objektif dunia ketiga sangatlah mendasar.

Itulah sebabnya Nirwan sangat menekankan betapa pentingnya sastrawan, atau orang yang bergerak dalam dunia bahasa banyak-banyak menggunakan pendekatan dunia ketiga ketika mengeksplorasi karya-karya pemikirannya. Dengan mengeksplorasi dunia ketiga, akan banyak memungkinkan bahasa selain menjadi medium pemaknaan, juga mampu memberikan kesan lahiriah yang bukan saja retoris estetis, tetapi juga mengandung kedalaman makna yang berbobot.

Hubungan dialektis, menurut Nirwan adalah kunci dari interaksi antara kategori-kategori yang bersifat fisikal dengan dunia imajinasi ketika ingin menghasilkan dunia ketiga, dunia objektif dalam pemikiran Karl Popper. Dengan kata lain, Nirwan mengatakan dunia yang baik adalah dunia yang senantiasa dibangun dengan imajinasi yang senantiasa berkembang untuk jauh lebih luas dari kenyataan.

Dari hubungan semacam inilah, yakni ketika setiap imajinasi berkembang lebih jauh dari kenyataan yang terjadi, maka perubahan dimungkinkan terjadi.

Gairah untuk menaklukkan kenyataan melalui imajinasi, dinarasikan Nirwan sebagaimana Karaeng Pattingalloang di beberapa abad lalu ketika ingin memesan bola dunia dari Keluarga Bleau di tahun 1644 dari dataran Eropa yang tidak pernah dibayangkan pembuatnya sekalipun. Dalam kasus Karaeng Pattingalloang, imajinasi tentang bola dunia yang belum pernah dipikirkan menduduki posisi yang sentral ketika “mengintervensi” dan “menciptakan” kenyataan baru.

Dengan kata lain, imajinasi yang dipercakapkan Nirwan bukan sekadar sekumpulan gambaran konseptual tentang sesuatu yang dipunyai manusia tentang kenyataan tertentu, melainkan upaya pelampauan kenyataan untuk mendorong terjadinya kenyataan baru dengan cara memperkarakan batasan-batasan yang selama ini diciptakan sendiri oleh umat manusia.

Artinya, kalau bisa dikatakan tidak ada yang tidak mungkin selama itu mampu dimajinasikan sejauh alam pikiran manusia. Bukankah kenyataan selalu dimulai dari narasi?

---

Terbit juga di Kalaliterasi.com

15 Juli 2017

The Heart is a Lonely Hunter, Carson Mc Cullers

Nasib adalah kesunyian masing-masing. Chairil Anwar

Di New York Café, Jake Blount, dengan mulutnya yang sering kali berbau gin atau bir, bakal menemukan pendengarnya yang paling setia: Dari mulutnya dia sering kali  membicarakan dunia yang tidak adil, pikirannya, sistem kapitalisme di mana pun selalu membuat orang-orang mengalami kehidupan yang terlunta-lunta. Membaca The Heart is a Lonely Hunter adalah membaca kisah orang-orang yang kesepian. Hidup di suatu kawasan yang terpinggirkan. Kehidupan masyarakat di kepung pabrik-pabrik. Perbedaan ras, dan pekerjaan yang menyita waktu tidak lebih dari 12 Dollar. Begitulah kisahnya. Segalanya di mulai dari jiwa-jiwa kesepian yang saling berinteraksi di sebuah kafé kecil di pinggiran kota. Kisah orang-orang yang terkucil dari lingkungannya. Suara-suara yang sering kali dipinggirkan begitu saja. Jake Blount seorang sosialis yang tidak diketahui asal usulnya, Biff Brannon sang pemilik kafe yang ditinggal istrinya yang mengalami kesepian kasih sayang, John Singer sang bisu yang kerap dianggap orang paling tenang tempat semua orang merasa dipedulikan, Mick Kelly gadis 12 tahun yang tumbuh dengan gaya tomboy dan tidak pernah jauh dari dua adiknya, Spiros Antonapoulus si Yunani yang gila, dan Benedict Copeland, dokter kulit hitam yang hidup di masa yang salah. Setiap jiwa adalah pemburu-pemburu kesunyian. Carson Mc Cullers menarik siapa pun yang membaca novel ini dengan tanpa terhindari dari jiwa yang selama ini terabaikan. Kita barangkali merasai sehari-hari tak ada yang luput dari pembicaraan, setiap kepala memilih mengutarakan semua isi kepalanya. Mengatakannya berulang-ulang, kepada semua orang. Tanpa henti-henti. Akhirnya semuanya sesak, dan setiap orang merasa telah menemukan kehidupan yang mampu menyelesaikan persoalan. Namun tanpa kita sadari tidak semuanya berharga. Di titik itu, saya merasa lebih baik bisu seperti nasib yang dialami John Singer. Lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena itulah sosok seperti Singer menjadi semacam pusat bagi orang-orang yang ditimpa kesepian. Seperti Mick Kelly, seorang gadis yang merasa Singer adalah orang yang tepat ketika ia ingin menyampaikan setiap maksud yang terpendam di kepalanya. John Singer yang bisu bagi Jake Blount dan Benedict Copeland yang memercayai dunia mesti dibersihkan dengan setiap ide di kepala mereka, adalah ceruk dalam yang bisa diisi oleh benda apa saja. Tanpa suara ketika setiap benda masuk ke dalamnya. Juga bagi seorang seperti Briff Brannon, orang semacam Singer merupakan jenis manusia yang layak dijadikan seorang pendengar setia. Tapi ketika setiap orang menemukan pendengarnya masing-masing, tidak seluruhnya mampu mengusir setiap kesepian yang dialami masing-masing. Setiap pembicaraan yang dilakukan seperti menelan sendiri maksudnya dengan akhirnya meninggalkan kekosongan yang masih menganga. Pada akhirnya tidak semua bisa menemukan suatu pegangan. Semua pada asalnya harus menemukan sendiri “suara” dari dalam yang selama ini tergeletak entah di mana.  Novel ini telah menceritakan pertemanan atau mungkin semacam persahabatan yang ganjil antara orang-orang yang dirundung soal, yakni orang-orang yang membutuhkan perhatian ketika mereka memberikan perhatian kepada yang lain. Tidak semua yang memberikan perhatian seolah-olah adalah orang yang nampak bijak, tapi di balik perhatian masing-masing bersembunyi soal yang tak gampang untuk dibicarakan. Selalu ada bahasa yang sulit diucapkan. Walaupun novel ini bukan novel politik, tapi sesungguhnya ada bagian-bagian kecil dari obrolan yang mengikutkan pandangan politik atas suatu nasib umat manusia. Apalagi jika itu ditemukan dari tokoh Dokter Copeland yang sampai-sampai mencita-citakan pembebasan kaum negro dengan memberikan nama anak keduanya tokoh komunis dunia, Karl Marx. Juga seorang Blount, pekerja paruh waktu di komedi keliling yang memiliki pandangan-pandangan sosialis yang akut. Namun tetap saja, betapa pun dunia dihardik dari pikiran-pikiran yang kalut, kabut kesepian masih saja menjadi tembok pemisah antara setiap orang. Juga setiap tokoh di novel ini. Seperti dalam kutipan sinopsisnya kisah orang-orang yang merasa bersinggungan satu sama lain tapi tidak tidak terkait dan menyerah pada kenyataan atas kesendirian yang dirasakan. Jiwa yang terasing, tak didenagr dengungnya, juga keberadaannya. Nasib memang kesunyian masing-masing, kata Chairil Anwar.

  

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...