08 November 2016

Jika Mini Market Tak Diduga-duga Menjual Buku


Oscar Wilde
Novelis, dramawan, penyair, dan cerpenis asal Irlandia. 
Dikenal dengan selera humornya yang cerdas, ia merupakan salah satu penulis drama yang paling sukses pada akhir Era Victoria di London. 
Salah satu karyanya yang banyak dibaca adalah The Picture Of Dorian Gray

SEMINGGU lalu, saya baru saja membeli buku. Di sebuah toko sebelah rumah. Kenyataannya saya tidak benar-benar ingin membeli buku. Awalnya hanya ingin membeli keperluan mandi sehari-hari. Kemudian satu buah map buat menaruh surat-surat penting.

Tapi tiba-tiba mata saya tertuju pada satu etalase khusus yang menyediakan buku. Tanpa pikir panjang saya bergegas. Melihat-lihat. Dari rak atas sampai rak bawah, juga sebaliknya.

Saat itu hal aneh terlintas di dalam benak. Rasa-rasanya, toko yang hampir mirip mini market ini kok bisa menjual buku-buku. Setahu saya, di manapun mini market atau sejenisnya, tak ada yang menjual buku-buku.

Sepintas banyak buku-buku agama dijual. Beberapa novel, juga buku motivasi. Sampai akhirnya ada satu buku membuat saya tertarik. Tanpa diduga-duga mata saya mengeja satu nama akbar di dunia sufisme: Nasruddin Khodja.

Nama Nasruddin Khodja membuat saya lebih serius menyisir deretan bermacam-macam judul buku. Mungkin saja ada nama-nama besar sekaliber tokoh yang dikenal “bahlul” itu.

Sembari meniatkan bakal membelinya, saya tersentak sebuah buku lain bersampul cokelat.

Tak disangka, di situ tertera nama-nama seperti Leon Tolstoy, Oscar Wilde, O. Henri, Guy de Maupassant, Saki (H.H. Munro), dan dua nama lagi; Charles Perrault, H.C. Andersen. Harapan saya benar.

Dan, tak memerlukan waktu lama. Sekali menghitung jumlah uang di kantung, cukup membeli dua buku yang dahsyat itu. Tentu dengan resiko bakal lebih banyak pengeluaran. Namun, apa boleh dibilang, buku ditukar dengan uang yang setimpal tak jadi soal. Malah banyak manfaatnya.

Saya mulai menduga-duga, jika mini market seperti ini banyak berdiri, bisa jadi tak pernah lagi kita mendengar  statistik minat baca rendah di negara ini. Saya percaya, minat baca yang rendah bukan karena malasnya orang-orang membaca buku, tapi karena minimnya akses mendapatkan buku.

Coba bayangkan jika kios-kios di pinggir jalan menyediakan buku-buku buat dibaca. Bengkel motor, penjual gorengan, atau warung kopi yang dijaga nenek-nenek. Dan semuanya disediakan dibaca cuma-cuma, yakin dan percaya pasti ada yang bakal membacanya.

Ketika menyadari “keanehan” di toko sebelah rumah (walaupun mungkin di kota-kota maju tidak demikian) saya berkeyakinan kalau pemilik mini market yang saya tak tahu siapa orangnya, memiliki kepedulian terhadap ilmu pengetahuan. Walaupun buku bukan item utama di mini market itu.

Kepedulian terhadap ilmu pengetahuan berarti peduli dengan peradaban. Alangkah menariknya kalau kesadaran ini diyakini semua orang. Seperti termasuk pemilik mini market di atas.

Selain mini market, di kabupaten saya hanya baru ada --kalau tidak salah ingat—dua toko buku. Selain perpustakaan daerah yang tidak menarik, juga ada satu perpustakaan komunitas. Bila dipikir-pikir, sarana yang macam demikian belum bisa berbuat apa-apa terhadap kemajuan manusia di sini.

Jika saya berkunjung ke warkop, sangat jarang saya temui koran. Ini berbanding terbalik dengan minat anak muda dengan dunia maya. Koran sudah jarang dibaca. Toh kalau ada hanya orang-orang tertentu saja. Sementara dunia maya lebih banyak jadi perhatian.

Namun sayang, segala yang dilihat di dalam dunia maya belum bisa jadi apa-apa. Barangkali ada kategori yang dimaksud dengan pembaca pasif, yakni pembaca berita yang tidak punya kemampuan menilai baik buruknya informasi. Atau pembaca negatif, yakni pembaca yang hanya melihat judul tanpa mau tahu isi beritanya. Atau mungkin saja ada pembaca bodoh yang selalu menyebar berita-berita hoax membikin bingung masyarakat.

Memang di zaman sekarang kemampuan literasi bukan saja soal seberapa jauh menyerap informasi, melainkan bagaimana seorang pembaca bisa juga menerapkan kaidah-kaidah kebenaran di dalam apa yang dibacanya. Juga akan lebih baik jika itu dilanjutkan dengan menuliskannya kembali.

Hanya dengan cara itu kemampuan literasi seseorang (masyarakat) bakal berkembang. Seperti juga, jika di samping rumahmu berdiri mini market yang menyediakan buku buat dibaca. Akan lebih menarik bukan?

07 November 2016

pemandangan

Kalau kau melihat bebek-bebek mengecipak air selokan yang terbelah mengaliri rerumputan. Rumput yang basah diterpa sinar kuning mentari. Seorang ibu dan anaknya yang menuruni setapak pergi ke sekolah. Di atas nun jauh, rumah-rumah bersusun-susun dari bawah ke atas. Di belakangnya punggung gunung tertutupi kabut bagai kapas basah.

Suara truk-truk meraung-raung memintasi jalan berbukit. Masih tersisa suaranya bertalu bagai badai petir. Angin bergerak di antara lereng bukit dan berbalik berkelok-kelok hilang di ujung mata.

Cemara menjulang tinggi di bawah mentari meninggi. Jalan yang menapak di bawahnya tersisa tanah yang longsor. Warnanya kecokelatan, mengering disapu kilatan cahaya mentari.

Pagi yang masih diiringi kabut. Tipis melayang-layang berarak kemudian pergi di balik pepohonan. Ayam-ayam sedari tadi berkokok, bersahutan sambung menyambung dari barat sampai selatan.

Pohon jambu habis dipanjati anak-anak. Buahnya kemarin sore dibawa pergi. Anak-anak berkopiah sepulang mengaji, bergerombolan. Menginjaki pagar bambu mengangkat tangan di sela-sela ranting yang tak rimbun.

Di satu rumah kulit sapi dijemur berhari-hari. Kulitnya diikat tali berwarna hijau, ditelentangkan kuat-kuat di dinding sebelah selatan. Menghadap matahari.

Sapi kemarin sore tidak nampak di sebelah rumah. Padang rumput luas sekarang hanya diisi ayam-ayam yang berkeliaran. Berputar-putar mencari makan. Di balik rerumputan dibuat basah embun.

Matahari sudah meninggi. Pakaian yang basah digantung menyerupai bendera-bendera, berwarna warni. Ada celana berwarna merah, di sebelahnya pakaian daster berbintik cokelat, ada baju berwarna hitam, sarung kotak-kotak, baju berwarna hijau, biru, macam-macam. Seperti umbul-umbul di hari kemerdekaan.

Seorang anak muda mendorong gerobak. Seorang bapak mengais sampah. Di dekatnya tumpukan kayu balok ditutupi terpal biru. Rumah yang setengah jadi. Batu merahnya membentuk sepetak ruangan beratap seng.

Pohon kelapa berdiri mirip kuas lebat. Buahnya hijau muda. Tapi di ujung daunnya sudah berwarna sedikit abu-abu kecokelatan. Nyiur melambai-lambai ditiup dingin angin.

Pohon pisang berkumpul tumbuh bersama. Hijau seperti tersembunyi di depan bukit di belakangnya. Dua tandang pisang bergantung diterpa sinar matahari. Warnanya antara kuning kehijauan. Sementara di bawahnya daun kering cokelat pucat bergelantung lunglai setengah kokoh.

Semakin lama suara-suara semakin ramai. Suara motor menderu berkejaran. Sesekali truk-truk datang membalas dengan suara yang tak kalah nyaring. Di lereng-lereng bebukitan memecah lorong dari bidang tanah kemerahan.

Tak kalah suara burung-burung bekicau. Tanpa terlihat suaranya balas membalas, mengisi jedah suara-suara mesin yang berputar. Kadang sesekali muncul bertebangan melewati segaris lurus di bawah atap masjid. Melompati satu tali ke temali lainnya.

05 November 2016

Kiat Menjadi Aktivis Setengah Hati

Jika kamu mahasiswa atau pernah menjadi mahasiswa, “aktivis” merupakan kata yang sedap-sedap geli di telinga. Kedengarannya bikin keder. Aktivis jika dilihat, bikin orang jadi was-was. Perkataannya banyak mengandung ilmu-ilmu, tindakannya, masya Allah, dahsyat betul. Ucapannya kritis, tapi kadang tidak untuk sikapnya. Nah, ini yang bikin geli.

Di kampus, aktivis tidak seperti kutukan Ibunda Malin Kundang, bisa jadi batu sekedipan mata. Jika ditelusuri, aktivis hakikatnya rangkaian proses panjang mahasiswa unyu-unyu menjadi mahasiswa serba tanggung. Mulai dari nilai akademik pas-pasan sampai urusan percintaan yang ditinggal selingkuhan. Semuanya bagai kue cucur dibelah dua. Setengah-setengah.

Aktivis mahasiswa tidak semuanya idealis. Ada juga yang sok-sok jadi pahlawan. Kadang mulutnya serba hakiki, tapi di kantor-kantor pemerintahan, hatinya berubah hello kitty. Kadang di ruang kuliah dosen jadi bulan-bulanan teori yang njelimet-njelimet, namun sayang di jalan raya tahunya hanya minta-minta sumbangan.

Bisa dibilang di zaman sekarang aktivis tulen bin idealis hanya bisa dihitung jari. Ibaratnya bagai mencari perawan di rumah-rumah bordir. Dapat satu hilang seribu orang.

Baiklah. Jika kamu sekarang masih lalu-lalang di koridor kampus, pulang pergi dari kos-kosan menuju rumah dosen mengurus nilai susulan. Masih dipusingkan tugas tanpa tahu apa artinya? Berikut sejarah singkat bagaimana rangkaian proses mahasiswa yang baru lepas masa puber bisa menjadi aktivis mahasiswa harapan bapak-bapak di parlemen itu.

Pertama, kampus adalah tempat berlangsungnya diskursus. Segala macam cabang keilmuan diolah di dalamnya. Mulai dari ilmu copet hingga ilmu teologi. Semuanya ada. Nah, bagai lampu neon buat laron-laron di musim hujan, dinamika keilmuan macam demikian bikin mahasiswa-mahasiswa haus ilmu langsung menemukan sumber mata airnya. Bagai oase di tengah gurun sahara. Mereka berkumpul dan bepikir. Mereka kemudian berdiskusi dengan seorang super senior sebagai pusat diskusinya.

Aktivis, biasanya muncul dari proses seperti ini. Dia sejatinya bukan orang yang paling getol mencari ilmu. Sebenarnya dia ikut berdiskusi hanya karena ingin menemani sahabatnya yang memang senang ikut diskusi kelompok. Hitung-hitung karena tidak ada kerjaan sekalian dia ikut nimbrung. Mumpung ada rokok gratis.

Kedua, semakin dia menemani sahabatnya mengikuti kajian, sang calon aktivis ini mulai mengenal istilah-istilah asing. Suatu waktu dia mendengar nama-nama asing yang sering disebut-sebut melebihi dari nama presidennya sendiri. Bahkan nama yang kerap disebut bikin dosen bingung tujuh keliling. Tak tahu dari bangsa mana nama-nama yang seringkali disebutnya.

Semakin lama banyak forum diskusi yang dia jumpai. Makin tahu pula sang calon aktivis mengetahui kampus bukan sekadar tempat kuliah belaka. Ternyata di kampus, isi kepala bukan hak birokrasi semata, namun juga tugas diri pribadi untuk mau membuatnya makin cemerlang.

Setelah itu di waktu lain, kalau lagi kongkow dengan teman-temannya, terutama ketika dengan cewek-cewek kece saat menunggu antrian di studio film, dari mulutnya sambil ngobrol diselipkan istilah ilmiah dari buku-buku yang tak pernah ditemui dosen yang bikin jidat berkerut. Semula, ngerumpi asyik masyuk soal artis-artis yang ditinggal pergi idola, tetiba berubah jadi khotbah kuliah enam es ka es.

Dari seringnya calon aktivis ikut diskusi, dia mulai mengenal orang-orang “besar” yang sering nongkrong di kampusnya. Seringkali kalau lagi asyik bolos kuliah, dia malah ditemukan di kantin bersama orang-orang “besar” pura-pura berdiskusi sambil menyeruput kopi gratis. Tentu kali ini masih ikut-ikutan.

Di kantin, akibat sering ngopi bersama senior-senior aktivis, pengetahuan sang calon aktivis mulai terbuka. Wawasannya melebar, pengetahuannya sedikit demi sedikit semakin dalam. Dia mulai tahu kalau dunia ternyata tidak seperti yang dia saksikan.

Tak disangka, dunia tempat dia hidup, atau bahkan kampus tempat dia belajar, tanpa disadarinya penuh dengan benang kusut. Segalanya dibuat berdasarkan kepentingan segolongan orang atau apalah-apalah. Yang dia tahu dunia sekarang harus diselamatkan dari entah apa dan siapa. Pokoknya harus diselamatkan lahir batin.

12 Oktober 2016

7 hal kamu rasakan saat kembali membaca tulisan lawasmu

Jika kamu sedang belajar menjadi penulis, bisa jadi banyak kertas kerja dari karya pikiranmu yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Jika itu sudah berjubel di deskstop laptopmu, kamu mungkin saja mengalami perasaan bermacammacam seperti di bawah ini ketika membaca kembali tulisan lamamu.

Pertama, merasa asing. Ini seperti saat kamu mengalami tidur panjang dan tibatiba terbangun di suatu pulau antah berantah. Yang kamu temui adalah tempat yang sama sekali baru. Perbendaharaan ingatanmu tidak pernah membayangkan dan menemukan tempat seperti yang tibatiba kamu tempati. Di pulau itulah kamu merasakan semuanya jadi berbeda. Dan, kamu seketika sama sekali tidak mengenal siapa dirimu sebenarnya.

Ya, seperti itulah pertamatama jika kamu memiliki karya tulis yang ditinggalkan berlamalama dan membacanya kembali. Segalanya nampak berbeda. Tibatiba tulisanmu jadi seperti pulau yang asing. Kamu tidak mengenalinya, dan sebaliknya, kamu tidak mengenal “dirimu” yang pernah menulisnya.

Bagi orang kasmaran, yang pernah surat menyurat dengan kekasihnya, dan mendapati suratsurat cintanya di saat hari tuanya, pasti mengalami perasaan yang sama seperti di atas. Dan kemudian pasti berbeda. Dia bakal terkagumkagum dengan surat yang pernah ditulisnya bertahuntahun lampau saat masih muda, kala menggebugebu disulut api cinta. Pasti, di hatinya yang paling pencil, merasakan perasaan yang tak mungkin digambarkan. Kenangannya membuat ia menjadi orang yang sama sekali baru.

Kedua, kamu akan merasakan halhal yang tidak pernah kamu sangkakan bahwa kamu pernah menulis karya yang luar biasa. Kalau yang satu ini akibat betapa dahsyatnya dirimu berkembang dari penulis pemula menjadi orang yang betulbetul ingin menulis.  Dari kondisimu sekarang, tulisan lama yang kamu baca kembali menjadi penanda betapa dirimu telah banyak berubah. Dari tulisanmu itu, kamu bisa mengetahui dirimu tengah menjadi orang yang hebat.

Tulisan lama yang kamu baca kembali, seperti orang tua yang membaca kembali suratsurat cintanya, dapat menghidupkan kembali suasana yang terekam di dalam tulisanmu. Di saat demikianlah kamu bakal kembali menjumpai ingatanmu yang mungkin samarsamar mulai terhapus dalam ingatan. Bahkan, dari tulisan yang kamu baca, juga membawamu mengenang peristiwa apa saja yang terjadi di sekitar tulisanmu, dalam kondisi apa kamu menulis, dan di saat kapan kamu menulisnya. Tulisanmu jadi “mesin” lorong waktu.

Ketiga, kamu bakal tersenyum diamdiam. Keadaan ini dialami jika kamu sebelumnya sudah melewati tahap di atas. Kamu bakal tersenyum diamdiam ketika mengingat kembali salah satu tulisanmu ternyata dibuat saat kamu bermaksud mengejek kawankawanmu. Atau, kamu tibatiba tersenyum akibat tulisanmu pernah dibuat di saat menunggu istri kawan kamu melahirkan di tengah malam buta. Juga mungkin di antara tulisanmu, ada di antaranya ditulis karena merasa benci kepada seseorang. Ya, begitulah. Tulisanmu bisa menjadi “kawan baik” di saat kamu membacanya, dan dia mampu membuatmu tersenyum kecil saat beberapa lelucon terasa garing.

Keempat, tulisanmu bisa saja membuatmu menjadi orang yang bodoh. Ini akibat kamu pernah menulis tulisan yang canggih, ketika membacanya kembali kamu dibuat seperti orang yang seketika seperti tak tahu apaapa. Apalagi jika tulisan yang pernah kamu susun menyertakan berbagai macam kutipan dari berbagai literatur. Di saat itulah membaca kembali tulisanmu seperti membaca buku karangan pemikir terkenal. Kamu dibuat menjadi bukan siapasiapa. Kamu seperti orang yang baru pertama kali belajar mencari tahu apa yang kamu tidak ketahui sebelumnya.

Kelima adalah kamu bisa saja merasakan kekonyolan dari tulisanmu yang amburadul. Suasana ini ibarat kamu seperti seorang pangeran yang diwarisi  kerajaan yang hampir bubar dan kehilangan semua penasehatpenasehatmu. Kamu memiliki kebesaran diwarisi gen pemimpin dari leluhur nenek moyang, tapi tak tahu harus berbuat apa akibat kerajaan yang diterpa krisis. Perasaan macam itulah yang kamu rasakan jika menemukan kembali tulisanmu yang masih kacau balau, mulai dari ejaannya, tanda bacanya, dan juga kalimatkalimat yang menyusun argumentasimu.

Tulisan lamamu yang amburadul, juga akan membuatmu menyadari bahwa kamu awalnya adalah seorang yang susah payah menulis hanya demi membuat satu kalimat yang enak dibaca. Tulisanmu yang amburadul, juga akan membuatmu tahu bahwa menulis itu ternyata membutuhkan proses panjang dari waktu ke waktu.

Keenam, dari tulisan lamamu kamu mungkin akan merasakan dari tulisanmu waktu ternyata tidak mainmain mendera ingatanmu. Kamu bakal dibuat terkagetkaget, ternyata tulisanmu telah menjadi dirimu yang bermacammacam. Waktu akhirnya membuat dirimu pernah “menjadi ini”, “menjadi itu”, atau mungkin “menjadi macammacam”. Tulisanmu ternyata diamdiam menjadi salah satu nyawamu yang tak pernah ajeg. Kamu ternyata bisa berubah menjadi siapa saja, apa saja.

Terakhir, tulisanmu bakal membuatmu sedih. Ya, karena nanti kamu akan mulai berpikir di sudut malam, kelak jika kamu tiada, apa yang akan terjadi dengan tulisantulisanmu. Jika kamu telah mangkir, siapa yang bakal merawat tulisantulisanmu. Bagaimanakah nasib karya pikirmu? Akankah dia bernasib sama denganmu?

Tapi, berbahagialah. Halhal yang kamu rasakan ketika membaca kembali tulisan lamamu akan membuatmu belajar mencintai apa yang telah kamu lakukan. Tulisantulisanmu. Karya pikirmu. Tersenyumlah, karena tulisan lamamu bisa saja seperti yang dikatakan Marx: “cintalah yang pertama mengajarkan manusia untuk percaya pada dunia di luar dirinya.” 

08 Oktober 2016

Catatan KLPI Pekan 31 (sekaligus Pekan 29 dan 30)

Dua pekan belakangan, catatan KLPI absen dari yang selama ini dilakukan. Sesungguhnya banyak yang bisa diceritakan, tapi apa daya jika dua pekan sebelumnya, saya sebagai penyuguh catatan ini berhalangan terlibat. Padahal, jika ketua kelas punya lain kesibukan, harapannya peran ini bisa digantikan oleh kawankawan. Namun itu tidak terjadi, walaupun pernah sekali Muhajir mengambil peran yang sama di pekan 24.

Begitu pula di dalam teknis mekanisme forum. Sudah semenjak lama jika ketua kelas tak dapat ikut terlibat, maka harus ada kesadaran dari kawankawan mau mengambil peran kepemimpinan saat menyelenggarakan kelas. Aturan ini dibuat agar tidak ada patronase di dalam KLPI. Semua berjalan karena sistem yang bekerja berdasarkan fungsi, bukan status.

Di pertemuan terakhir kemarin (pekan 31), kelas banyak belajar dari karya kawankawan yang bergenre nonfiksi. Memang belakangan, banyak di antara kawankawan yang sering menyetor tulisan bergenre cerpen. Termasuk dua kawan baru, Arni dan adiknya, Riska.

Walaupun begitu, dari tulisan Arni dan Riska, kembali memantik perbincangan soal unsurunsur intrinsik dalam karya cerpen. Seperti sudah dijelaskan dalam catatancatan sebelumnya, suatu karya cerpen disebut cerpen jika memuat setidaknya tiga unsur intrinsik di dalamnya, yakni tokoh, plot, dan konflik. Pengetahuan ini penting, setidaknya memberikan kepada kawankawan pemahaman dasar untuk mengenali jenisjenis genre di dalam karya sastra.

Hal lain turut jadi omongan adalah soal tindak verbal yang kadang masuk menyusupi tindak menulis. Banyak ditemukan dari karya kawankawan, sulit memisahkan kebiasaan ucapan verbal dengan tindak berbahasa di dalam menulis. Mesti dipahami, aturan main berbahasa baik verbal atawa tulisan punya hukumnya masingmasing. Contoh kasus bunyi bahasa “bank” untuk menyebut tempat penyimpanan uang, berbeda dengan “Bang” kalau merujuk panggilan kepada orang yang lebih tua. Walaupun bunyinya sama, tapi itu tidak berlaku ketika dituliskan.

Hal demikian juga berlaku di dalam tindak verbal masyarakat Bugis-Makassar yang memiliki ciri khas dialek tertentu. Kadang kata yang berakhiran “n”, ditambahkan “g” sebagai penekanannya. Begitu pula katakata yang tidak seharusnya ditambahkan “h” di belakangnya, justru digenapi sebagai aturan berbahasanya. Aturan main ucapan verbal semacam ini yang tanpa disengaja dan disadari, mengambil kesadaran penulis di saat menulis karyanya.

Kelas kali ini juga turut membahas karya Ilyas. Ilyas di kesempatan kemarin membawa cerpen yang sudah lama di tulisnya di medio bulan Juli. Bahkan, dari pernyataannya, cerpen bersangkutan sempat dikirim ke salah satu media cetak di Makassar, namun gagal diterbitkan. Akibatnya, Ilyas penasaran apa yang membuat karya tulisnya itu tidak dimuat dan selanjutnya membawanya ke kelas untuk didiskusikan.

Dari penelusuran bersama, ditemukan ada beberapa poin yang luput dari perhatian Ilyas. Pertama adalah ada ejaan yang kurang memerhatikan EBI. Kedua, --dan ini sifatnya subjektif, menurut saya— gaya penulisan yang dibuat Ilyas tidak seperti cerpencerpen yang sering dimuat di koran yang dimaksud. Sementara, cara membangun cerita Ilyas sering memakai tehnik memenggal yang memotong adegan demi adegan penceritaan. Konsekuensi dari gaya bercerita demikian membuat pembaca sering tidak utuh menangkap keseluruhan peristiwa yang berada di balik penceritaan narator.

Dan, yang paling utama, barangkali tema cerpen Ilyas yang kurang menyentuh aspekaspek aktual yang sering kali menjadi bagian hidup manusia. Apa yang diceritakan Ilyas adalah seorang anak kecil yang berjualan jalangkote akibat kehidupan ekonomi orang tuanya yang di bawah ratarata, memang adalah kasus yang bisa dialami banyak orang, tapi dari waktu tulisan itu hendak diterbitkan bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang sedang menjadi perhatian redaktur koran terkait. Kalau yang ini, kita mesti paham, kadang suatu karya bisa bagus, tapi redaktur desktop tempat kita tuju memiliki cara pandang yang lain.

Karya tulis terakhir yang digeledah adalah buah tangan Hasyim, seorang kawan baru. Hasyim merupakan kawan Ishak Boufakar, juga kuliah mengambil konsentrasi ilmu komunikasi. Mungkin sebab itulah, karya pertama yang dibawanya tidak jauh dari tema ilmu komunikasi. Unsur entristik inilah yang kuat mendominasi karya esai yang dibuatnya.

Seperti kawankawan sering kali mendaku ketika baru pertama kali menulis, tulisan Hasyim tidak nampak seorang yang baru pertama kali menulis. Struktur kalimatnya terukur, pun argumentasinya dibuat logis. Begitu juga tatanan bahasanya normal sebagaimana karangan esai dibuat, tidak banyak mendayudayu juga tidak nampak ilmiah. Santai menggunakan bahasa populer. Namun, seperti sering kali terjadi, juga sebagaimana kawankawan lainnya, Hasyim masih sulit menghindari kesalahan ejaan yang selayaknya dipahami sebagai kaidah berbahasa selama ini.

Pasca karya tulis Hasyim digeledah, kelas akhirnya membubarkan diri.

***

Kelas sebelumnya juga kedatangan Muhary Wahyu Nurba, sastrawan yang belakangan sedang mempersiapkan diri memerankan satu karakter di Silariang, film yang mengambil latar belakang masyarakat Bugis-Makassar.

Hasil informasi yang berhasil dikumpulkan, banyak hal yang disampaikan pengasuh kolom sastra di harian Lombok Pos ini. Termasuk bagaimana mempersiapkan karya cerpen yang baik dan mampu menembus meja redaksi media cetak. Juga, seperti apa sikap yang harus dimiliki seorang ketika mengambil kepenulisan sebagai pilihan berkarya.

29 September 2016

Filsafat Indomie Mi Goreng

Seharusnya siapa pun Anda berterima kasihlah kepada makanan satu ini: Mi Goreng Indomie Instan. Makanan paling instan di jaman serba instan.

Ini bukan iklan. Tapi sekadar memfilsafati makanan sejuta umat ini. Makudnya, dari makanan remeh temeh ini, apakah ada sesuatu yang substantif tinimbang sekadar merasai gurihnya minyak sayur dan bumbunya yang asinasin sedap itu.

Ya. Kita ingin mencari keugaharian dari makanan seharihari ini. Sesuatu yang utama. Yang falsafati.

Lantas, bagaimana caranya menemukan keutamaan dari makanan yang paling banyak dicecap mahasiswa ini. Mari dibahas satu dua tiga hal.

Pertama dari cara dibuatnya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengandung kontradiksi? Jika belum, coba Anda membuatnya. Kadang melalui praktik, beberapa hal akhirnya nampak terang.

Jika sudah, dapatkah Anda menemukannya? Ya, tepat sekali. Mi goreng ini hanya namanya saja mi goreng, sebab saat Anda membuatnya ternyata dengan cara direbus. Bukankah itu kontradiksi? Sesuatu yang bertentangan dari caranya diciptakan? Bukankah lebih baik disebut saja mi rebus?

Kadang memang sesuatu nampak utama jika dalam prosesnya penuh pertentangan. Termasuk mi goreng ini, mengajarkan kepada kita terkadang hidup penuh pertentangan. Bukankah dari proses yang demikian kontradiktif itu, justru mengandung keugaharian?

Bukankah sesuatu akan nampak terang jika di dalamnya diperlukan pertentangan. Baik akan nampak baik jika ada keburukan. Terang hanya bisa dimengerti jika ada kegelapan. Begitu juga Anda menjadi jelek karena saya tampak gagah?

Jangan kecewa! Contoh di atas hanya mau menjelaskan dari mi goreng ini kita bisa belajar bahwa hidup itu penuh perbedaan. Tampak kontradiksi, tapi menyimpan keugaharian.

Kedua, dari komposisinya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengajarkan perlunya hidup seimbang. Bagaimana itu mungkin? Begini, jika anda penikmat mi goreng, maka Anda akan cepat memahaminya.

Ketika Anda selesai merebusnya, apa yang Anda lakukan? "Menyampur bumbubumbunya". Benar sekali. Tanpa penyampuran bumbubumbunya, Anda tidak akan menemukan kenikmatan rasanya. Hanya dari cara itulah Anda menemukan rasa nikmat. Hanya dengan keseimbangan bumbubumbunya.

Pelajaran yang kedua, ternyata mi goreng ini tersirat ajaran yang dahsyat. Yakni, dalam hidup ini dibutuhkan keseimbangan. Coba Anda bayangkan jika tidak ada keseimbangan dalam hidup Anda? Yakin dan percaya, hidup Anda bakal hancur lebur.

Kemudian, dari keseimbangan itu, tidak mungkin terjadi tanpa ada keterlibatan macammacam unsur. Mi goreng ini mengajarkan bahwa dengan minyak bumbu, bubuk cabe, dan kecap manis, kenikmatan dapat dimungkinkan.

Begitu pula hidup ini, tanpa pencampuran berbagai macam unsur, kelak hidup menjadi nisbi. Keugaharian hanya bisa jika ada berbagai macam perbedaan yang berjalan seimbang. Melalui cara itulah ideal kehidupan dibuat.

Bahkan, mi goreng ini mengafirmasi Platon --filsuf Yunani purba, yakni kebahagiaan dapat diraih jika "kepala", "dada", dan "di bawah dada" berjalan berseiringan tanpa melewati batasbatasnya. Kebahagiaan adalah bekerjanya sesuatu berdasarkan ciri khasnya masingmasing. Begitu kirakira maksud Platon.

Ketiga, yakni walaupun disebut mi goreng instan, tetap saja ada proses tahapan saat Anda menyajikannya. Pertama, Anda harus membuka bungkusannya, kedua, merebus air, dan terakhir Anda menyajikannya dengan menyampur pelbagai bumbubumbunya. Setelah itu Anda bakal kenyang.

Artinya, tiada yang terjadi dengan cara begitu saja. Semuanya mesti berproses. Bahkan jika Anda ingin cantik seperti Dian Sastro.

Jangan dikira, kecantikan Dian Sastro terjadi begitu saja. Dia cantik karena berproses. Tapi, tunggu dulu, kecantikan yang saya maksud bukan sekadar tampilan fisik belaka. Dian Satro cantik karena dia bisa dikatakan bertalenta. Dia punya karakter. Dan karakter itu datang dari "dalam kepalanya".

Ya, benar sekali. Itulah yang kerap dibilang inner beauty. Kecantikan yang lahir dari "dalam diri". Dan, semua itu butuh proses.

Dian Sastro punya kecerdasan inner beauty karena dia belajar. Banyak mendalami ilmuilmu saat mahasiswa. Mau melahap banyak bukubuku. Dan mau bersabar mendalami apa passionnya.

Bagaimanakah dengan Anda? Hidup sekarang memang banyak yang instan Bung. Tapi, bukan berarti membuat Anda menjadi serba instan pula. Ikuti proses, jalani dengan tekun apa yang menjadi tujuan Anda. Biarkan yang lain serba instan. Sesungguhnya mereka tak dapat apaapa.

Keempat, mie goreng yang Anda makan itu mengajarkan kebohongan. Maksudnya? Begini, jika Anda jeli memerhatikan bungkusan mi goreng Anda, maka apa yang terpampang di bungkusan dengan apa yang Anda sajikan bagai langit dan bumi.

Jika diperhatikan, di bungkusan mi goreng Anda tergambar sajian nikmat lengkap beserta telur setengah matang, dua biji udang rebus, seiris tomat segar, butiran kacang polong, dan sedikit acar beserta irisan bawang merah. Namun itu tidak terjadi saat Anda menyajikannya di rumah. Apa artinya? Itu yang saya maksud kebohongan.

Begitulah, dari mi goreng itu, Anda diajarkan jangan cepat percaya apa yang sedang tampak di hadapan Anda. Apa yang sedang Anda lihat, dengar, dan rasakan. Melainkan kadang apa yang Anda sedang saksikan justru berbeda jauh dari yang sebenarnya terjadi.

Sering Anda menyaksikan begitu nyamannya keindahan sebuah kota, tapi bisa jadi sesungguhnya itu hanya tiupan belaka. Justru di balik itu tersembunyi keadaan yang sebenarnya, pemukiman kumuh, misalnya.

Kadang Anda percaya statistik minat baca yang rendah, padahal yang terjadi tidak demikian. Justru yang Anda baca, punya maksud membuat Anda percaya, bahwa memang minat baca suatu masyarakat betulbetul rendah, padahal jauh panggang dari pada api. Sesungguhnya itu juga belum tentu benar.

Seperti itulah, mi goreng yang sudah berharga duaribu lima ratus ini, secara tersirat menyatakan apa yang tampak belum tentu mewakili apa yang sesungguhnya terjadi.

Terakhir, apa keugaharian yang paling dahsyat dari semua ini? Kesederhanaan. Ya, kesederhanaan. Mi goreng ini mengajarkan walaupun Anda bisa melahap segalanya, punya banyak duit, seorang jutawan, jika Anda memilih makanan ini, maka sebenarnya Anda memilih cara menikmati makanan dengan sederhana.

Tapi, di kondisi lain, jika Anda memilihnya sebagai makanan utama, maka itu bisa jadi tandatanda kehidupan ekonomi Anda sedang dilanda krisis? Baiklah saya kadung lapar. Percayalah.


20 September 2016

Review Kajian Fenomenologi: Jean Paul Sartre (1905-1980)



Jean Paul Sartre
Filsuf eksistensilisme Prancis
Pemikirannya menjadi unik karena menolak
Tuhan sebagai penghambat kebebasan manusia



(Dosen pengampu: Muhammad Ashar, Pengasuh Lembaga Kajian Filsafat Lentera Makassar)

FILSAFAT Jean Paul Sartre bukan sekadar pemikiran yang berkelit di antara asumsiasumsi teoritik belaka. Sartre, sejauh dikenal sebagai  filsuf eksistensialis, merupakan pemikir yang menganjurkan barangsiapa berfilsafat, maka pertamatama yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara manusia bertindak.

Lantas bagaimanakah cara menusia berada dengan tindakannya? Sartre mengemukakan bahwa manusia harus senantiasa mendahului esensinya. Maksudnya, manusia harus senantiasa berada tanpa ditundukkan situasi apa pun yang melingkupinya. Itu artinya, situasi yang dihadapi manusia merupakan tiang jeruji kebebasan yang mesti dijebol dan dilampaui.

Akibatnya, manusia adalah mahluk yang memiliki rongga untuk dapat bertindak, bergerak, dan menentukan keberadaannya tanpa kehilangan otentitas yang menjadi khas bagi dirinya. Otentitas yang diandaikan Sartre, hanya bisa dimungkinkan ketika manusia mampu membangun jarak kesadaran antara aku yang bertindak dengan tindakannya itu sendiri dengan tujuan menundukkan hambatanhambatan yang melingkupinya.

Dari pengandaian seperti di atas, maka Sartre juga mendudukkan filsafatnya bukan sekadar pemikiran yang ditilik dari asumsiasumsi filosofis, atau hanya argumenargumen rasional yang dikemukakan secara teoritik belaka, melainkan diturunkannya sampai ke dimensi yang paling fundamen: praktik.

Itulah sebabnya, Sartre bukan saja seorang filsuf. Sartre juga seorang novelis, penulis drama, dan seorang aktifis hak asasi. Yang terakhir ini, sering membuat Sartre terlibat aksiaksi politik selama masa hidupnya. Bahkan bersama Bertrand Russell —filsuf analatik abad 20, menginisiasi berdirinya Mahkamah Internasional yang didirikan untuk memberikan sanksi kepada orangorang yang melakukan kejahatan perang tingkat tinggi.

***

Kesadaran bagi Sartre bukan terisolir sebagaimana yang ditunjukkan Husserl. Walaupun, secara fenomenologi, Husserl berhasil membangun tipologi kesadaran yang terarah terhadap objek, tetapi di dalam konsep kesadaran Husserl, asumsiasumsi idealistik masih begitu kental mengemuka di dalam subjek sebagai satusatunya agen yang mampu membentuk pemahaman.

Pendakuan ini didasarkan atas objek faktual yang tidak diterima sebagai bagian dari fenomena di saat kesadaran membangun pemahamannya. Penolakkan terhadap objek faktual inilah, yang dianggap Sartre, kesadaran intensionalitas Husserl dengan sendirinya mengulang tradisi filsafat yang semula ditampik filsafat fenomenologi.

Dengan kata lain, selain terjebak di dalam solipisme idealistik, penempatan satusatunya subjek sebagai elemen pembangun kesadaran, juga dianggap Sartre masih mengukuhkan kesadaran versi Cartesian. Artinya, dambaan Husserl untuk mau membangun kesadaran yang terlibat dan terarah kepada objek kesadaran, justru di saat yang bersamaan malah mengembalikan pembelahan dualisme subjek-objek yang sebenarnya tidak disadari Husserl.

Sementara Sartre mengandaikan kesadaran sebagai pemahaman yang lahir dari dunia seharihari. Pengertian ini sekaligus menandai kesepakatannya dengan Husserl berkenaan dengan lebenswelt sebagai pijakan fenomenologinya. Walaupun begitu, Sartre memiliki persepsi yang berbeda tentang bagaimana hubungan subjek objek yang diperantarai oleh kesadaran di saat pemahaman itu terbangun.

Itu artinya, tiada kesadaran tanpa dunia. Yakni, setiap kesadaran mengharuskan keberadaan dunia sebagai fondasi epistemiknya. Begitu pula sebaliknya, dunia tidak serta merta tiada jika tiada kesadaran memahaminya. Dengan maksud tanpa terjebak di dalam primasi ego idealistik idealisme dan subjek Cartesian, baik kesadaran dan objek kesadaran adalah satu kesatuan relasional yang tidak terelakkan di dalam pemahaman.

Kritisisme Sartre juga ditunjukan dengan penolakannya terhadap konsep epoche yang didakukan Husserl. Sartre berkeyakinan, dengan pengertian kesadaran melalui caranya bekerja, tidak terlepas dari dunia yang menjadi situasi latar belakang pemahaman manusia dibentuk. Itu artinya, di mana pun kesadaran dibangun, manusia senantiasa melibat dan terlibat oleh keadaan yang ikut membentuk ruang sadarnya.

Kesadaran yang senantiasa terbentuk melalui keterlibatannya di dalam dunia, dinyatakan Sartre sebagai kondisi yang tidak terelakkan bagi manusia. Melalui cara ini, pemahaman yang diklaim bersih dari pengaruh eksternalitas dari luar kesadaran, tidak dapat dimungkinkan akibat asumsi ini bertolak belakang dari conditio humana di mana manusia adalah mahluk yang dibentuk kehidupannya sendiri.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...