14 Februari 2016

athaya

Ini foto tiga tahun lalu. Yang saya pangku ini ponakan saya. Athaya namanya. Saat gambar ini diambil pas waktu idhul fitri. Saat itu dia masih berumur sekira tiga empat bulan.

Punya ponakan itu sama dengan memiliki anak sendiri. Bedanya belum punya bini saja. Seperti anak sendiri, saya suka mengendongnya. Menciumnya sambil menggodanya agar tertawa. Menciumnya lagi, menggodanya lagi. Menciumnya lagi menggodanya lagi. Membuatnya tertawa. Gemas.

Entah mengapa saya jadi suka dengar bayi tertawa. Padahal seumurumur saya seperti kebal dari bayi. Kadang saya heran, kalau kebanyakan orang suka anak kecil, saya malah menganggapnya biasa saja. Tapi semenjak Athaya lahir, tumbuh dan mulai menggerakkan mulutnya, malah saya mulai berubah. Suka mendengarnya tertawa.

Saat Athaya lahir dia sontak jadi pusat perhatian. Maklum di rumah dia cucu sekaligus ponakan pertama. Sedikitsedikit tak ada yang lepas dari dia. Athaya langsung jadi magnet. Banyak orang berdatangan melihatnya. Memberikannya bingkisan. Mulai dari perlengkapan bayi sampai biskuitbiskuit ringan. Saya ikut senang. Biskuitnya bisa saya makan.

Kehadiran Faeyza Athaya juga langsung mengingatkan saya kala bayi. Diamdiam berusaha mengingat masa lalu saat masih bulanan. Apa yang dilakukan saat tidur. Kalau bangun. Saat pipis tibatiba. Juga saat menangis tanpa sebab. Apakah saya juga begitu. Soalnya waktu cepat berlalu. Momenmomen semacam itu agak susah mengetahuinya.

Makanya selain bertanya ke mamak, saya langsung bukabuka album foto. Cari tahu kala masih jabang bayi. Di situ masih ada beberapa gambar saya masih kecil. Ada satu gambar saat saya telungkup sambil menatap ke arah kamera. Saat duduk sambil memegang bola. Saat berpose seragam TK. Berdiri berseragam SD. Dan juga kala SMP. Sampai di sini tak ada sekalipun foto saya seperti Athaya yang masih seumur minggu. Yang ada hanya saat sekira empat sampai lima bulan.

Rasa ingin tahu saya gagal karena tak punya gambar yang merekam saat masih sebayibayinya. Makanya anakanak sekarang bisa bahagia akibat kemajuan teknologi. Dulu kamera jadi barang langka. Makanya tidak semua momen bisa langsung diabadikan. Sekarang sedikitsedikit jika mau bisa langsung dijepret. Cukup dengan smartphone gambar sudah bisa diambil.

Sekarang umur Thaya, begitu kami memanggilnya, sudah berumur tiga tahun jalan empat. Dia jadi anak yang suka bermain. Lari ke sana kemari. Lompat sana jungkir sini. Kalau saya datang dia suka mengajak main putri duyung. Saya heran dari mana dia lihat. Curiga, saya kira dari film yang sering dia tonton. Kalau sudah begitu kursi sofa berubah jadi markas tempat persembunyian. Saya ikut saja sebagai lumbalumbanya.

Athaya sangat suka bersepeda. Di umurnya yang sekarang dia begitu aktif. Kalau bukan sepeda, dia pergi di bawah meja setrika mengambil tumpukan mainannya. Menghamburnya di lantai dan mulai mengambil mainan yang disukanya. Kalau yang ini masih untung dibanding dia menemukan bulpen atau pensil mencoret seluruh tembok rumah. Mamak biasa hanya geleng gemas ditaruhnya. Kami melihatnya sebagai pertumbuhan kreativitasnya.

Akibatnya, Thaya sudah pandai mewarnai gambargambar. Karena itu, ayah dan bundanya sering menghadiahkannya buku gambar plus pensil warna. Selain untuk mengalihkannya dari tembok yang sudah penuh, dia bisa mulai mengenali bentukbentuk gambar yang bisa diwarnainya. Sekarang kalau dihitunghitung, sudah banyak gambar diwarnainya.

Thaya sekarang juga sudah diikutkan PAUD. Selain sepupunya, Thaya sudah banyak bertemu anakanak seusianya. Bermain dan belajar. Mewarnai dan menggambar. Pergi jam sembilan pulang ketika duhur datang. Dengan tas kecilnya penuh makanan ringan plus buku gambar, Thaya sering pergi diantar ance'nya.

Sudah hampir dua bulan saya tak melihatnya. Saya dengar dari mamak, Thaya sering bertanya tentang dua omnya, saya dan Fajar. Kalau malam begini dia pasti sudah berlari sanasini, bongkar apa saja yang bisa dijadikan mainan. Kadang berlari ke dapur membuka almari mengambil makanan ringannya. Biasanya wafer coklat atau minuman susu kotak. Kalau dia begitu pasti memberikan satu kepada saya, kadang sambil bermain dia duduk sembari mengunyah dengan ceritanya tentang Jarwo dan motor bututnya. Dan, saya senyamsenyum sendiri memakan habis semua makanannya tanpa sadar.

Gila Foto

Seperti sudah saya bilang, di Bunker, kami sering gelar lapakan. Ngopi sambil berdiskusi ringan. Kadang membuka laptop dan menulis. Yang lain membaca sambil malasmalasan.

Ini pagi saya terjaga lebih awal. Biasanya langsung ke belakang, membuka pintu keluar sekedar cari udara. Ternyata ini pagi cerah, tak mendung. Agak lama saya menatap langit. Biru, tak berawan.

Sontak saya pikir; segera buka lapakan. Tapi urung saya lakukan akibat beberapa motor mengambil tempat lapakan. Maklum kali ini bertambah Ilham, dia punya motor gede. Dia parkir saja semalam di situ, tepat lapakan sering digelar.

Dua hari belakangan Makassar diguyur hujan. Praktis Bunker tak buka lapakan. Ridho yang kerap juga lebih awal lapakan urung lakukan. Justru dia memilih bergua di dalam dengan bacaannya. Sedang yang lain pulas lanjut tidur sampai tengah siang.

Toh di hari kedua Makassar dikerubung hujan, lapakan nekat digelar Ridho. Pikirnya tak bakal hujan menyambangi. Langit masih mendung, belum hujan betul. Saya yang melihatnya agak ragu. Saya sanksi, janganjangan bakal diguyur. Makanya saya tak buruburu keluar lapakan. Lihat dan menunggu, pikir saya lebih baik.

Sebenarnya saya ingin sekali lapakan. Dudukduduk sambil lihatlihat buah karsen yang matang. Kalau sebulat merah ditangkap mata, tak banyak omong langsung disambet. Maklum karsen buah kenangan bagi saya. Kala kecil saya sering cari kersen sampai saku baju dikerumuni semut. Kalau itu terjadi, saking banyaknya buah manis itu  pecah begitu saja di saku baju. Sekarang justru itu terulang, cari karsen kala pagi atau sore datang, tapi tanpa saku baju yang dikerubungi semut.

Tak jelas siapa yang menanam pohon karsen di situ. Mungkin secara alami tumbuh begitu saja. Tepat di pintu masuk Bunker. Semenjak saya kembali domisili di Bunker, pohon itu sudah tegak berdiri. Buahbuahnya sudah banyak bermunculan. Belum matang. Tak lama lagi bakal masak, merah.

Makanya kalau sudah merah, itu jadi rebutan. Ada prinsip diamdiam disepakati; kalah mata kalah uang. Siapa cepat dia dapat. Prinsip ini akan jadi kompetitif kalau semua penghuni Bunker punya niat yang sama memanen karsen. Seperti yang sudahsudah, saya sering kalah saing, Ridho jauh lebih tinggi dari saya. Dia punyai tungkai lengan yang panjang. Yang lain malah pake kayu. Saya tak mau kalah memilih langsung memanjat.

Siang ini kami manfaatkan akhir pekan dengan lapakan. Di bawah pohon karsen yang belum matang buahnya. Semenjak yang lain bangun langsung ambil posisi. Ilham langung bergegas membeli penganan, saya titip langsung beberapa bungkus kopi sachet. Ini Sabtu yang betulbetul cerah.

Sudah hampir satu pekan beberapa tulisan saya berhenti di jalan. Niat saya hari ini akan rampung. Kemarin sore dengan tergesagesa saya harus selesaikan satu esai untuk perteman di Be Smart Coffee. Malamnya harus saya presentasekan. Untung dapat rampung sebelum kegiatan. Saya print dan saya copy segera mungkin. Akhirnya beres.

Sekarang tinggal satu esai soal cerpen Puthut EA. Kalau mau dibilang, tinggal empatpuluh persen rampung. Cuman kalau lapakan digelar, perhatian jadi pecahpecah akibat gosipgosip yang berseliweran. Adaada saja yang dibicarakan. Mulai dari kondisi bunker yang kritis, dompet yang kembang kempis, harga buku yang jadi mahalmahal, sampai agendaagenda kerja di bunker. Semuanya dihampar begitu saja sembari lapakan. Punya urus kalau itu hanya sekedar ngocahongoceh.

Belum lama saya menulis, masalah datang lagi. Ini ulah Muhajir dan Ujhe. Entah setan apa yang kangkangi kepala mereka siangsiang. Tibatiba mereka berubah jadi model plus fotografer dadakan. Bergantian saling ambil gambar. Duduk sana duduk sini cari latar yang cocok. Putar sana putar sini seperti orang kesurupan. Begitu sambil ketawaketiwi. Mirip orang gila.

Ini saya sertakan gambarnya. Hajir yang super narsis jadi modelnya, dan Ujhe yang bak fotografer profesional miring sanasini cari angel yang paling pas.

---

Nb: Kalau kalian lihat fotofoto keren dua orang yang belum mandi ini di fb atau bbm, percayalah itu asli editan. Ini bagaimana proses produksinya...

Catatan Kecil Tentang Mhor

Karl Marx lebih dari sebuah nama. Karl Marx adalah sebuah pemahaman. Perspektif. Kita tahu, sejak dia menggedor dunia dengan pikirannya, suatu tatanan tidak sekadar utopis. Masyarakat tanpa segregasi, yang jadi utopia sosialis tradisional, di tangan Marx  jadi ilmiah. Itu disebutnya komunisme.

5 Mei 1818, Marx lahir di Trier. Kota di perbatasan barat Jerman, waktu itu termasuk Prussia. Besar dari rahim Yahudi, kemudian berpindah agama; protestan. Konon rasa “emoh” Marx terhadap agama karena pilihan masa lalu orang tuanya yang gampang berpindah keyakinan. Kuliah hukum agar melanjutkan pekerjaan sang ayah, notaris. Karl Marx muda tidak terlalu tertarik hukum. Dia berminat jadi penyair. Terutama dilihat dari surat kepada ayahnya yang ditulisnya di bulan November selama studinya di Berlin tahun 1837.

Ketika saya membaca surat Marx yang ditulis tanggal 10-11 itu, sejak muda Marx telah membangun disiplin keilmuan yang ketat. Dia bercerita pengalaman keilmuannya kepada ayahnya. Bagaimana dia juga berkembara dengan puisipuisi liris sampai soalsaal filosofis, terutama tesistesis Hegel.

Marx tulis, “begitu tiba di Berlin, aku memutuskan segala ikatan yang ada dengan handai taulan, jarang berkunjung dan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam ilmu pengetahuan dan kesenian”1 Di sini Marx mau bilang betapa konsentrasinya hanya untuk ilmu pengetahuan dan seni, sampaisampai harus menjadi orang yang menarik diri dari hiruk pikuk.

Membaca surat Marx berarti membaca gairah seorang muda berusia 19 tahun yang disiplin belajar ilmu hukum, membaca banyak buku, dan menerjemahkan beberapa buku. Sejarah seni, musik, sejarah Jerman, dan puisi untuk menyebut beberapa disiplin di antaranya, yang menarik perhatiannya. Dan, seperti yang ditulisnya, ada dorongan untuk bergelut dengan filsafat. Akibatnya, Marx muda tumbuh tanpa tanggungtanggung, menjadi seorang intelektual.

Agak sulit menemukan kebiasaan Marx muda di situasi sekarang. Mau menulis surat panjang kepada seorang ayah. Menceritakan pengalaman belajarnya di tanah jauh. Menceritakan tokoh apa saja yang telah dibahasnya. Buku apa saja yang telah dibuatkan catatannya. Kritiknya terhadap pemikiran Hegel. Dan rasa rindunya kepada Jenny, kekasihnya.

Yang membaca tulisantulisan awal Marx setidaknya tahu, bahwa suatu pilihan intelektual butuh pertimbangan yang matang. Tak ada jalan panjang tanpa bekal yang ditimang, matangmatang. Jauh hari saat menyelesaikan studinya di Gymnasium, dia sudah pikir panjang ihwal tekad yang dipilihnya. Dia tulis “karenanya, kita mesti dengan serius memeriksa apakah kita telah betulbetul terinspirasi dalam pilihan profesi kita, apakah suara hati menyetujuinya, ataukah inspirasi lain adalah khayalan, dan apa yang kita kira panggilan sang dewa sebetulnya merupakan tipu daya atas diri sendiri. Namun bagaimana kita bisa mengenali  ini kecuali dengan melacak sumber inspirasi itu sendiri?”2

Kita mesti serius memeriksa apa yang menjadi pilihan. Begitu ucap Marx muda. Bahwa menjadi pengembara butuh keseriusan lebih dari yang dikira. Saya pikir, secara biografis, seorang penimbang adalah orang yang tahu apa yang dibutuhkannya. Apa yang harus menjadi tujuannya. Tujuan mesti dipilah apakah itu suara hati atau hanya tipuan sesat belaka. Di masa mudanya Marx sudah memalu niatnya dari yang dia sebut “kerja bagi umat manusia.” “Karenanya, kita tak akan merasa kecil, terbatas, atau merasakan kegembiraan yang egois. Kebahagiaan kita akan jadi milik banyak orang.”3

Kalau kita membaca habis esai pendek yang jadi tugas akhir Gymnasiumnya itu, akan terlihat bahwa Marx sedang dalam masa yang tegang. Bisa dibilang diumurnya yang baru 17 itu, Marx muda sudah mulai membangun komitmen atas profesi yang kelak dijalani. Akan sangat jauh berbeda dengan anak usia muda saat ini yang lebih memilih cara yang fleksibel dalam memilih. Marx muda sudah berpikir berat. Dia sudah mulai membangun kesadaran atas nasib masyarakatnya. Dan, atas posisi itulah yang nanti akan menjadikannya pemikir sosial berpengaruh.

Saya pribadi sulit membayangkan pemikiran Marx muda yang menulis “…petunjuk utama yang mesti mengarahkan kita dalam pilihan profesi adalah kesejahteraan umat manusia dan penyempurnaan diri kita sendiri. tak boleh dipandang bahwa kedua kepentingan itu berselisih, bahwa yang satu akan menghancurkan yang lain. Justru sebaliknya, kodrat manusia telah terbangun sedemikian rupa sehingga ia hanya bisa meraih kesempurnaan dirinya dengan cara bekerja bagi penyempurnaan sesamanya.”4

Mari membayangkan kesadaran macam apa yang mendasari Marx muda menulis demikian. Di situ dia sudah berpikir keselarasan antara yang individual dan yang sosial dalam hubungannya dengan masyarakat banyak. Makanya tidak terlalu salah kalau kita mau menyebut bibit awal perhatian Marx terhadap hukum dialektika masyarakat dimulainya dari periode ini.  Bahkan dalam perspektif humanisme, Marx muda sudah menunjukkan karakter dasar manusia sebagai mahluk sosial. Karena hanya dengan cara itulah dia bilang manusia hanya sempurna bila ada hubungan kerja sama antara sesamanya. Dalam konteks ini saya mau bilang, perspektif humanisme yang akan mendasari pemikiranpemikiran Marx selanjutnya, sudah disebutnya secara eksplisit di usia 17 tahun. Di usia muda dia sudah mulai membentuk kesadaran sosialnya.

Marx muda dengan begitu tumbuh menjadi pembaca yang evaluatif. Anak muda yang diskursif. Dan juga kritis. Itu ditunjukkannya saat tergabung dengan Young Hegelian saat di Berlin. Di saat inilah dia menjadi pembaca yang taat. Dari yang ditulis Nyoto dalam Marxisme: Ilmu dan Amal, bahkan Marx tidak menyusun bukubuku di dalam lemari menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya.5

Di Berlin Marx tidak membaca Hegel secara sentimentil. Walaupun awalnya Hegel disebutsebut sebagai guru revolusi, itu tidak menjadikan pemikirannya layak diterima begitu saja. Melalui Feurbach, murid yang pernah berguru dari Hegel, Marx menemukan cela pemikiran yang menjadi jalan lain dalam memahami kenyataan.

Atas kritik Feurbach terhadap Hegel, Marx merumuskan eksposisi berupa pertanyaan atas klaim roh absolut Hegel. Bagaimanakah cara memahami yang absolut, yang dianggap rasional, padahal yang rasional hanyalah dalam subjek pemikir, padahal dunia tak seperti yang dibayangkan. Kata lain, bagaimanakah memahami yang roh yang absolut dalam filsafat Hegel, sementara baik Hegel sendiri adalah pemikir yang subjektif.

Di bagian itulah ada frasa yang sering diucapkan, “Hegel berjalan dengan terbalik, dia berjalan dengan kepalanya” yang menjadi semacam statement sentimentil untuk mengkritik dasar pemikiran Hegel. Marx dengan kesadaran baru atas filsafat Hegel, menemukan suatu cara berfilsafat yang berbeda dengan filsuf umumnya. Kesadaran itu bisa dikalimatisasi menjadi “Hegel hanya merumuskan pikiran, filsafat harusnya merumuskan kenyataan.” Dari kesadaran macam inilah kelak filsafat Marx hanya mungkin dipahami sebagai bagian yang tidak sekadar merepetisi situasi masyarakat menjadi rumusrumus filsafat, melainkan masuk ke dalam dan mengubahnya secara langsung. Banyak orang bilang, di tangan Marx, filsafat menjadi praksis.

Mengenal Marx berarti juga mengikutkan satu persona yang karib menjadi sahabatnya. Semenjak mendapatkan tekanan saat memimpin harian koran yang liberal dan progresif, Marx pindah ke Paris. Di Paris dia bertemu tokohtokoh sosialis Prancis semisal Proudhon dan juga tokoh sosialis yang juga pelarian dari Jerman. Dan tentu  satu persona, sang “jenderal” panggilan keluarga anakanak Marx terhadap sahabatnya yang karib; Friedrich Engels.

Biografi Marx tanpa Engels akan sulit memberikan input yang berarti saat masuk di dalam perjalanan pemikiran Marx. Melalui Engels-lah Marx menemukan fakta objektif sumber keterasingan manusia. Engels yang sebelumnya anak pengusaha tekstil, menemukan terang kenyataan bahwa buruh manusia bukanlah mesin yang harus diperlakukan semenamena. Di pabrik Manchester ketika dia mengepalai suatu bagian tugas ayahnya, kenyataan itu yang membuatnya sadar bahwa tatanan industri yang sedang berkembang banyak berdiri di atas penghisapan kaum buruh. Setelahnya lewat The Holy Family dan setelah German Ideology,  Marx bersama kawan karib ini menjelma menjadi pasangan intelektual bapak sosialisme.

Saya kira dari kekariban Marx dan Engels ada hal yang luput, bahwa barang siapa tengah merancang suatu rumus pemikiran, harus memiliki semacam kawan dialog. Kekariban Marx dan Engels, bagi saya adalah suatu model bagaimana suatu kerja kolektif didasarkan. Marx dan Engels menjadi simbol yang mewakili suatu tindak pikiran filosofis; dialog.

Baik Marx dan Engels, melalui karya intelektual bersama, sama halnya Socrates dan Platon, menghidupkan esensi dari seni berpikir melalui dialog sebagai mekanisme dialektis dalam menemukan jalan keluar atas problem yang dihadapi. Lewat dialog keduanya, diskursus jadi soal yang kolektif, bukan sekedar pemikiran monologis yang selama ini diketahui sebagai inti filsafat. Saya kira dari sini Manifesto Komunis yang disusun keduanya, tidak sekedar seruan kolektif terhadap masyarakat pekerja, melainkan bagaimana suatu karya pemikiran sedari awal sudah harus menunjukkan dimensi kolektifnya.

Banyak yang berharga dari Marx, termasuk sisi lain bahwa Marx bukan saja pemikir yang mudah murung dan keras, tapi juga seperti yang ditulis putrinya Eleanor, bahwa Marx orang yang humoris yang punya  segudang cerita yang bisa membuat orang tertawa.  Seorang ayah yang senang membelikan  dan membacakan novel kepada anaknya di usia yang masih sangat muda. Juga seorang kepala keluarga yang lebih sering jadi teman anakanaknya. Mohr, begitu panggilan anakanaknya terhadap Marx, kadang bermain “kudakudaan” seperti yang ditulis Eleanor “Dengan duduk di pundaknya, memegangi rambutnya yang lebat, hitam dan beberapa yang sudah menguban, saya puas "mengendarainya" berkeliling kebun kecil kami dan mengitari lapangan yang melingkari rumah kami di Grafton Terrace.”6

Marx mati di London 14 Maret 1883. Usianya genap 64 tahun. Dia sakit selama 15 bulan di  akhir hidupnya, akibat radang pernapasan yang membuatnya mengalami brongkhitis akut. Pemakamannya hanya dihadiri sembilan sampai sebelas orang. Tapi pemikirannya saya kira banyak yang jadi pegangan bagi banyak orang. 7

---
  1. Martin Suryajaya, Teks-Teks Kunci Filsafat marx, Resist Book,2016: hlm. 10
  2. ibid, hal 7
  3. ibid
  4. ibid
  5. http://indoprogress.com/2015/07/marx-dan-tauladan-bagi-remaja/
  6. www.marxistsfr.org/indonesia/archive/marx-eleanor/001.htm
  7. https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx

12 Februari 2016

twitt tentang twitter

Tempo hari saya bikin akun twitter baru. Maksudnya akun lama yang diaktifkan kembali. Entah mengapa tibatiba saya ingin main twitter. Kalau dilihat waktunya, twitter saya di buat tahun 2013. Tahun itu saya resmi jadi netizen twitter. Namun, karena saat itu menganggap twitter ribet, saya urung membukanya. Sebabnya sederhana belaka, saya tak paham istilahistilah yang dipakai twitter.

Kala itu membuat twitter hanya untuk mencari wadah agar tulisan diblog bisa diposting. Rencananya selain facebook, twitter akan saya gunakan untuk mengupload tulisan. Namun sayang, karena jarang dibuka, akhirnya tanpa sepengetahuan, akun saya ditangguhkan.

Itu saya tahu ketika ingin memposting tulisan. Tibatiba akun sulit ditembus. Pikir saya barangkali pasword yang saya lupa. Setelah dicoba ulangulang malah tidak mau. Akhirnya jalan lain saya tempuh. Lewat mesin pencari, saya buka jejak rekaman akun saya. Ketika masuk dan loading, malah di situ ditulis akun saya di tangguhkan.

Berbagai hal dilakukan agar akun saya dapat aktif kembali. Mulai dari searching bagaimana cara membuka akun twitter yang terblokir, sampai mencoba kembali berbagai kata yang sering dijadikan pasword. Dicoba berkalikali tidak pernah berhasil. Sampai akhirnya saya malas mengurusinya.

Bertahuntahun saya tinggalkan twitter dan lebih suka main facebook. Main fb itupun hanya sekedar melihatlihat perkembangan status orangorang. Terkadang malah jalanjalan ke dinding orangorang yang menarik perhatian. Selebihnya hanya sekedar upload tulisan via blog.

Jadi nyaris hampir jejak rekam fb hanya memuat tulisantulisan blog. Saya bisa dikata orang yang jarang memuat status. Pikir saya tak ada menariknya bikin status kalau hanya sekedar hanya ingin mendapatkan komentar. Toh kalau iya, saya ingin komentar yang ada tentang tulisantulisan yang diupload.

Saya agak lupa kapan saya membuat akun facebook. Sebab memang bukan saya yang membuatnya. Saat itu belum ada kemauan seperti kebanyakan orang yang ramai gegara booming fb. Tapi entah mengapa seorang teman membuatkan saya akun. Katanya biar tidak ketinggalan jaman. Sejak saat itu akhirnya saya punya akun baru. Sekiranya itu terjadi antara 2007 atau 2008.

Ketika mengoperasikan fb tak ada kesulitan menggunakannya. fb ternyata mudah digunakan. Barangkali tampilannya yang membuat begitu. Saat itu saya juga baru tahu bahwa fb prinsipnya jejaring pertemanan. Dan sewaktuwaktu kita bisa mengungkapkan apa yang dipikir dan dirasakan dalam kolom status.

Karena situs jejaring pertemanan, saya juga mulai mencari mukamuka yang saya kenali. Kalau ada yang dikenali tidak pikir panjang langsung saya ajak berteman. Kadang juga dari nama yang saya ketahui membuat aktivitas itu semakin gampang. Saya tinggal klik dan menunggu dikonfirm. Begitu seterusnya sampai saya capek sendiri.

Semenjak dibuat, akun fb saya sudah punya lebih seribuan teman. Entah teman yang betulbetul teman atau hanya sekedar kenal tampang. Bahkan ada yang semula bukan teman, tapi karena sering mengomentari akhirnya jadi teman. Bahkan tibatiba diajak teman begitu saja. Kalau kenal saya konfirmasi, kalau tidak saya biarkan.

Sampai sekarang ada orangorang yang tidak saya konfimasi. Mereka entah mengapa mengajak saya berteman. Mungkin pernah melihat atau merasa pernah terlibat dalam satu momen dengan saya. Entahlah. Yang pasti adaada saja yang nangkring di daftar tunggu pertemanan.

Saya bukan sombong, tapi pilihpilih teman. Jaman sekarang yang serba transparan saya harus berhatihati pilih teman. Apalagi banyak teman yang anehaneh. Kadang adaada saja yang diposting. Bahkan bawabawa iman segala. Pusing saya.

Yang buat heran, grup yang “sejuta” jumlahnya. Sedikitsedikit grup. Sebentarsebentar grup. Lagilagi grup. Memangya grup bisa bikin bahagia? Justru bikin jengkel. Sedikitsedikit masuk notifikasi yang tidak jelas. Apalagi yang muat situs “tantetante.”

Saya heran saja grup yang segudang itu. Tidak tahu apa manfaatnya. Seakanakan bergabung di grup sudah bisa bikin sesuatu. Orang bikin grup kan dasarnya punya tujuan. Ada maksud. Tapi kalau hanya kumpulkumpul teman buat apa?

Sekarang akun twitter saya telah aktif kembali. Agak kecewa juga setelah sekian lama baru dipulihkan. Sebabnya saya hanya punya sedikit followers. Kata teman twitter beda dengan facebook. Kalau twitter agak susah dapat followers. Kita harus aktif ngetwitt, kalau tidak sepi pengunjung. Apalagi kalau dilihatlihat hanya orangorang “tertentu” yang main twitter. Makanya agak susah mendapatkan followers.

Baiklah mudahmudahan twitter senyaman facebook kala dimainkan. Saat ini saya masih cobacoba mengetahui cara tepat menggunakannya. Berusaha mengikuti kebiasaan orangorang bermain twitter. Juga agar dapat memiliki teman di sana. Apalagi kebiasaan posting tulisan saya. Mudahmudahan selancar facebook. Cao.


10 Februari 2016

yang tinggal dari "geliat atte dalam dua novel"

Jusnawati bilang, tulisannya mengandung dua hal; segi informatif dan evaluatif. Berdasarkan itulah dia membangun perspektif. Di tulisannya, dia banyak omong tentang hal yang patut diketahui, dan yang patut dievaluasi. Ini posisi yang dia tempuh.

Dia memberi tahu, Titisan Cinta Leluhur dan Djarina, dua novel yang patut dibaca. Setidaknya yang senang dengan sejarah suatu kaum. Jusna bilang kalau dia tidak suka baca sejarah. Tapi, dari dua novel yang diresensinya, dia mulai mempertimbangkan minatnya.

Pemaparan Jusna lumayan banyak. Saya agak kurang perhatikan. Tidak tahu kawankawan yang lain. Banyak suara bising. Motormotor berkejaran. Apalagi mobil yang macet. Tapi ada hal yang saya tangkap. Hubungannya dengan nuansa feminin yang dibilangnya.

Di warkop yang ramai sayupsayup saya dengar Jusna juga bilang kalau Titisan Cinta Leluhur punya judul yang filosofis. Judulnya menarik, ada kesan filosofis. Begitu dia bilang. Tapi dia kritik balik, bahwa dia tidak menemukan kesan yang sama. Seakanakan novel itu bercerita yang lain. Tidak ada kesan titisan cinta leluhur , begitu katanya. Ini kritik pertama.

Kedua Jusna ajukan kepada Djarina. Novel kedua yang diresensinya. Katanya tak relevan antara sinopsis dan isi novel. Di sinopsisnya, Djarina disebut membahas Bantaeng era pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, tapi Jusna tangkap justru disitu tak ada ulasan yang disebut di bagian sinopsis. Jusna ajukan pertanyaan: apakah sinopsis itu ditulis langsung penulisnya atau penerbit bukunya. Ini kritik kedua.

Lanjutan dari kritik kedua. Ini dari saya. Kalau disebut sinopsis mewakili keseluruhan isi novel, Djarina novel yang abai terhadap relevansi ceritanya. Ketika seseorang berdasar sinopsis memilih memiliki bukunya, tapi justru isinya berbeda, nanti disebut penipuan. Bisa jadi. Ini hanya prasangka saja. Sahsah saja.

Tapi yang dibilang Jusna menarik. Dia menemukan unsur feminin di dalam dua novel karangan Atte Maladevi ini. Juga unsur lokalitas. Dia sebut unsur keperempuanan begitu kuat di dalamnya. Ini patut dicontoh, katanya. Terutama yang ditunjukkan tokoh Djarina.

Di sisi lain Andi Reski tidak sepakat. Katanya banyak hal yang bisa diulas. Bukan saja kandungan nilai perempuan. Tapi maskulinitas tokohnya. Bilang Andi Reski, justru tokoh lakilaki dalam novel Titisan Cinta Leluhur juga patut diperhatikan. Justru Djarinah hanya jadi media bagaimana tokohtokoh di sekitarnya dikenal. Terutama maskulinitasnya.

Selanjutnya tentang nama Djarina. Nama yang sama dalam dua novel harus mengandung pertanyaan. Ini Jusna yang soalkan. Dia punya indikasi kalau dua novel Atte saling berhubungan. Itu bisa terjadi kalau ceritanya saling terkait. Atau saling menyahuti. Seperti novel Pram.

Tapi saya bilang bisa juga tidak. Banyak penulis sering gunakan nama yang sama untuk cerita yang beda. Putu Wijaya misalnya, selalu pakai Pak Ami dan Ibu Ami dihampir cerpencerpennya. Juga beberapa cerpen Eka Kurniawan. Ceritanya berbeda dengan nama yang sama.

Ada kemungkinan kalau dua novel Atte berhubungan. Tidak pada ceritanya, tapi latarnya. Dua novelnya dihubungkan sejarah Bantaeng. Tradisi masyarakatnya. Juga bisa jadi tempatnya. Bisa dibilang dua novel Atte dipertemukan oleh konteks yang sama. Ini yang mungkin Jusna maksud. Yang disebut berhubungan. Tapi, entahlah…

Selebihnya diskusi dimulai, agak formal, padahal bukan itu mau saya. Niat awal ini hanya untuk ngobrol ringan tapi berbobot. Atau berbobot sambil santai. Dengan sedikit menyeruput kopi. Atau teh tarik seperti dipesan Itto. Yang lain kopi. Sedang saya teh susu.

Saya jelaskan sebelumnya Bahrulamsal For Literacy hanya ingin mengumpulkan beberapa kawankawan yang senang ngopi. Berdiskusi daripada lowong sembari online tanpa sadar. Lebih baik yang individual dikolektifkan. Waktu senggang jadi ilmu. Kebiasaan jadi pengetahuan. Itulah saya undang Jusnawati untuk diajak ngobrol bersama yang lain. Tentang tulisannya di koran tempo hari.

09 Februari 2016

geliat atte dalam dua novel


mojok a la bunker

Kami punya kebiasan baru di bunker. Bikin lapakan a la orang-orang Jogja. Jadi kalau siang datang cepatcepat kami bangun. Panas. Maklum bunker tanpa plafon. Setelah itu karpet dikeluarkan. Tepat di halaman belakang kami gelar.

Awalnya kebiasaan ini dilakukan oleh Jahir. Dulu jaringan agak susah di bunker. Makanya dia keluar dudukduduk di belakang, pakai matras a la pendaki. Tujuannya agar mudah menemukan jaringan.

Kebiasaan itu juga diikuti Indra, ipar Sabara Nuruddin. Biasanya kalau saya datang bertandang, dia sudah nongkrong di belakang. Pegang hape lengkap dengan headsetnya. Tidurtiduran dengan matras kepunyaan Ujhe.

Selang berapa lama kebiasaan itu ditiru Ridho. Apalagi setelah ia sering tinggal di bunker. Maklum selama ini dia nomaden. Baru kali ini dia betah di bunker. Karena siang panas, dia pun keluar. Ambil matras, digelar kemudian nongkrong sambil menatap gawainya.

Saya yang lama tak tinggal di bunker merasa cara itu bagian dari inovasi. Jauh ketika saya masih tinggal, tidak ada kebiasaan seperti yang dilakukan pemudapemuda tanggung ini. Wajar sebab dulu kamar depan masih berfungsi. Di situ entah kenapa justru ademayem. Tidak seperti ruangan lain, panas. Di sanalah saya sering menghabiskan waktu. Membaca dan tidur sepuasnya.

Sekarang, saat bunker hampir ditelan rumahrumah yang bermunculan, sudah jauh berbeda. Banjir kerap melanda. Sengsengnya semakin lapuk. Kayukayunya makin reyot. Dan, ruang depan yang dulu sering dipakai, sekarang malah lebih mirip gudang. Tak ada yang mau di situ. Gelap.

Satu yang abadi di bunker, panasnya itu tadi. Banyak yang meninggalkan bunker. Tapi panasnya tak mau hilanghilang. Setia seperti nasib melarat penghuninya. Karena itulah Jahir keluar lapakan. Indra nongkrong intimi gawainya. Dan, Ridho lama menghabiskan waktu di situ karena anginnya yang sepoisepoi.

Akhirnya sepulang dari Bulukumba saya tidak langsung ke rumah. Saya singgah di rumah Asrul. Menginap beberapa minggu di sana. Makan dan berak juga di sana. Bahkan kosan Asrul sudah saya anggap rumah.

Tapi ketika datang ke bunker, di halaman belakang sudah ada Ridho pulas tertidur. Saya kira gelandangan yang numpang menepi. Lantas cepatcepat saya ralat. Itu Ridho, kampret apa yang dia bikin di situ. Dia pakai matras di bawahnya. Dan, masyaallah. Tanpa baju tidur mirip orang kelaparan.

Maklum Ridho orangnya kurus. Namun melihatnya tidur di situ asyik juga. Di bawah rindang pohon karsen. Angin yang bertiup seirama awan di atasnya. Langit yang biru muda jadi atapnya. Amboi, plus segelas kopi yang dibuatnya.

Saya masuk ke dalam bunker. Panas. Saya keluar. Saya duduk di sampingnya. Agak lama saya duduk di situ, hanya sekedar cari angin. Tak lama berselang, memang betul kata saya, asyik.

Akhirnya saya memutuskan nginap semalam di bunker. Seperti yang sudahsudah, banyak nyamuk. Juga banyak yang lainnya; Ujhe, Muhajir, Jahir, dan sudah pasti Ridho. Di tambah satu orang lagi karpet dibagi. Posisi diatur. Tidur.

Paginya kami bangun satusatu. Ujhe yang paling dahulu. Kemudian entah Muhajir atau Jahir. Yang terakhir kalau bukan saya ya Ridho. Begitulah. Saya dan Ridho memang seperti partner sekaligus rival. Kalau tidur di dalam kelambu yang sama. Tapi soal mandi, saya sering marahmarah. Ridho mandinya bisa hampir satu jam. Makanya lebih baik saya lebih dulu mandi dibanding dia. Karena itu saya rivalnya.

Saat bangun ternyata bukan pagi. Sudah siang. Bunker berubah oven. Panas. Terbesitlah ide itu. Matras dikeluarkan. Spanduk dibentang jadi alasnya. Di halaman belakang kami berpindah tempat. Dudukduduk sambil ngopi. Sedikitsedikit diskusi tentang kenapa awan bisa terbentuk. Ini pertanyaan Ridho kalau sudah kehabisan kuota internet.

Kebiasaan itu terus berlanjut. Sampai sekarang. Tapi ada sedikit perubahan. Kali ini bukan lagi matras, tapi karpet plastik yang dipakai. Jadinya kami leluasa bergerak. Seperti orang piknik. Itu saya bikin agar banyak menampung orang. Kalau matras hanya bisa diduduki dua orang belaka.

Sekarang saya, Ridho, dan Muhajir, sedang di belakang bunker. Tepat di halamannya yang sempit. Lapakan a la angkringan Jogja. Muhajir bermain gitar flashnya. Ridho memotong kumisnya sambil ngopi, sesekali sambil menatap awan, kenapa dia bisa terbentuk. Dan, Saya, ambil laptop, menulis dan menulis.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...