07 April 2013

Chavez


Chavez kritis. Ia bernapas meradang. Kemudian, di pembaringannya ia mangkat. Di usia 58.

Chavez bersusah payah melawan kanker: sakit yang menggerogoti sisa usianya. Beberapa kali operasi berjalan. Dokter terbaik berjibaku. Di rumah sakit Kuba, tempat sekutunya domisili, Castro, menjadi tempat terakhir sebelum akhirnya ia dipulangkan. Venezuela.

Dari atas dipan bilik rumah sakit militer ia masih memimpin rakyatnya. Instruksi-instruksi: bagaimana pun juga pemerintahan harus tetap bergerak. Negara, institusi politik yang ia kuasai tak mengenal ampun. Batapa pun sakit, negara adalah segalanya.

Namun, Selasa di suatu sore, 16.25, waktu berubah genting. Sesuatu mesti dikabarkan. Maduro, wakil Chaves mengumumkan: ”Kami telah menerima sebuah informasi yang paling tragis dan memilukan. Hari ini, pukul 04.25 sore, Presiden Hugo Chavez Frias meninggal dunia.” Suaranya tersedak, wakil presiden itu menangis. Selang detik kemudian Venezuela berkabung.
Chavez telah tiada.

kepergiannya tiada meninggalkan sesuatu selain dua hal: sosialisme dan negaranya tercinta.
Venezuela, seperti halnya negeri-negeri pewaris sosialisme: kesetiaan rakyat, pemerintahan demokratis, dan setiap inci tanah kemerdekaan, mau tak mau memiliki agenda total. Ketika Chavez memerdekakan Venezuela dari komparador kapitalis, sosialisme harus sampai ke rumahrumah warga. Tiada lagi warga melarat. Sosialisme satu-satunya juru selamat.

Syahdan, kolektivisme bukanlah prinsip yang nihil. Chavez belajar dari pengalaman masa lalunya. Kolektivitas adalah sisi terang yang mengatasi kemiskinan. Gagasan ini ia rawat semenjak dari militer. Baginya, militer bukan garis diametral yang menjauh dari entitas tempat mengabdi: rakyat. Militer dipahami sebagai sosialisme yang mengacung moncong senapan kepada penjarah tanah air. Militer sesungguhnya sosialisme berseragam. Ia  mekanisme pertahanan negara menghadapi ancaman apapun. Termasuk jenderal-jenderal sayap kanan berpolah korup. Chavez meyakini militer yang korup adalah musuh kemanusiaan.

Dari sosialisme jenis demikianlah ia hendak menata kembali Venezuela. Kemudian: kudeta militer dikerahkan. Walau akhirnya ia mengumumkan;

”Kamerad, sayang sekali untuk saat ini misi yang kami rancang gagal dijalankan di ibu kota. Beberapa di antara kita yang berada di Caracas tidak merebut kekuasaan. Di manapun kalian berada, kalian telah melakukan hal terbaik, tetapi sekarang adalah masa untuk merenung. Kesempatan baru akan muncul dan negara ini harus diarahkan ke masa depan yang lebih baik.”

Ia gagal.

Ia menunggu sembari menyusun rencana lain.

Venezuela dikeruk aksi pemerintahan korup. Oligarkhi kian liat. Agen-agen neolib bercokol di pemerintahan. Minyak melimpah, namun kemiskinan kian meluas. Saat-saat seperti ini revolusi satu-satunya jalan.

Kini, permasalahannya berbeda. Sosialisme bukan semata-mata rumusan mengelola negara. Bukan jargon yang harus dikhatamkan begitu rupa. Sosialisme tidak bakal tumbuh di tanah kering. Sosialisme tidakuntuk dijiplak.

Dengan kata lain, tidak seperti bangsa phobia perubahan, revolusi harus berangkat dari ingatan terdalam sejarahnya sendiri. Dan sosialisme, pada tafsirnya yang lain, di mana Chavez telah gagal memiliki isyarat: marxisme sudah uzur.

Itulah sebab, sosialisme dibersihkan dari kekolotan Leninisme. Apa yang menjadi aturan pakai, revolusi Venezuela kembali dengan tema besar: Revolusi Bolivarian. Dan akhirnya, dari partai, serempak sosialisme yang dinspirasi revolusi Bolivarian menjadi pekerjaan 24 jam. Kemudian dimulailah agenda besar itu: penyejahteraan berkala.

Hingga kini pasca pengumuman itu, 4000 lebih dewan-dewan komunal menemukan kenyataan, dan bisa jadi masalah; Chavez betul-betul mati.

Spekulasi di balik kematiannya bermunculan. Chavez diracun. Agen CIA dalangnya. Itu asumsi kalangan internal pemerintahan Venezuela. Walau demikian, umur Chavez tak sepanjang sosialismenya. Tanpa Chavez setelahnya, Revolusi Bolivarian bakal dirundung ujian.

Revolusi di manapun adalah batas antara ”yang konservatif” dengan ”yang revolusioner”. Revolusi bagai gerbong yang membutuhkan masinis. Apapun skenarionya mesti ada seseorang berdiri di depan menyisihkan lengan baju. Dan semuanya harus percaya. Tetapi kepercayaan bukanlah tanpa risiko, terlebih ketika sang masinis mangkat tanpa usul pengganti.

Walaupun demikian, bagi negeri-negeri sosialis keyakinan terhadap sosialisme ibarat jubah yang membutuhkan sosok, sekalipun ia sudah mangkat. Sosialisme dan sosok mesti abadi. Ia kedap perubahan.

Seperti Lenin maupun Mao, di Venezuela, sosialisme mau tak mau harus menjadi tubuh yang awet. Tujuannya kelak agar ingatan tak mudah disalib lupa. Sebagai simbol sebagai monumen ingatan. Di negeri sosialisme setiap pemimpin sesungguhnya berumur panjang.

03 Maret 2013

batas

Apa yang datang kelak pada akhir dari penghayatan tentang 'ada'? 

Konon katanya, agama bermula dari kesunyian. Konon, agama merupakan titik akhir dari pen-sunyi-an. Ataukah konklusi dari penghayatan. Bentuk keinsyafan dari ego yang ditangguhkan. Yang mana cikal ujungnya berakhir kesadaran. Bilamana disana kesadaran harus tangguh pada yang tak terkenali, sehingga batas darinya harus memaklumkan ada rendah hati. 

Jikalau agama adalah citra kesunyian, namun ia pun harus memahami kenyataan yang lain dari keberadaannya. Perihal alam yang berbeda dari dirinya; alam rimba ektensia, alam lain yang bermaterialkan konkrit. Yang selanjutnya ia mau tak mau harus berhadapan dan mendapati dirinya pada dunia yang begitu kontras. Pada titik inilah agama terkadang harus bersilangan dengan hal yang fana; alam duniawi.

Dunia yang sekarang bukan lagi dunia yang sama ketika pertama kali agama datang. Dunia sekarang merupakan dunia dengan adabadab yang berbeda. Tempat yang menghapus bentukbentuk ke-abadi-an. Kita barangkali telah khatam, dimana agama selalu menyusun dunianya yang menampik sesuatu yang tak tetap. Selalu datang dengan cogitan yang meneguhkan 'ada', dengan penyingkiran terhadap yang badani. Yang mana badani merupakan episentrum dari hirukpikuk yang mendatangkan dosa. 

Dari sinilah barangkali datangnya soal. Pada tepian antara sunyi-abadi dengan ramaipikuk-badani, agama harus menjatuhkan palunya bilamana keduanya harus dipilih. Antara badani ataukah abadi, antara dunia ekstensia ataukah kesunyian, antara absolut ataukah kefanaan. Antara keangkuhan-kesunyian ataukah kerendahhatian pada alam yang tak pernah tetap? 

02 Maret 2013

peng-alam-an

Setahuku waktu adalah ukuran jarak. Perluasan antara keduanya; ruang. Yang mana keduanya bisa jadi saling bersilangan. Dari sanalah ruang datang. Ruang bisa saja terberi begitu saja, atau bagaimana kehendak untuk menempati. Dari kehendaklah isyarat tentang waktu terkadang menyisakan tuai; peng-alam-an. 


Waktu adalah batas peng-alam-an, dan ruang adalah monumentnya. Dan kita, pada apa yang dimiliki, mempunyai inti yang sublim. Tentang yang membatasi kita dari ekstensia lain; potensi pikir. Berawal dari sanalah datang segala lainnya. Dan peng-alam-an adalah residu yang membatu. Bisa jadi guna jikalau terbagikan. 

Bicara peng-alam-an, ada Iqbal, dengan scribnya tentang semesta yang tak kenal konklusi. Bahwa alam bukanlah rentetan event yang selesai, bukan kesimpulan dari kreasi Tuhan. Melainkan waktu yang menubuh pada pikiran manusia. Yang mana kita adalah 'usaha' Tuhan yang hendak meng-ada. Darinya Tuhan hendak berbagi peng-alaman.

Namun tak selamanya murni mendatangkan kesucian. 


Terkadang kemurnian bisa jadi pilar yang membatasi. Mendatangkan bakhil pada situasi yang primordial. Sebut saja Agama, kuasa politik, ras beserta klaim lainnya yang bisa kita deret pada alam kenyataan. 


Peng-alam-an adalah waktu yang menubuh ruang. Namun pula, kadang ia menjadi hal yang menyisakan lampau. Pada titik ini kadang peng-alam-an mesti men-tabik, pada apa yang akan datang. Dan disana sejumlah alam yang asing dikehendaki untuk dijamah?.

Pare, sela waktu 010313

07 Oktober 2012

Kampus yang Jumpalitan

Kampus sedang tunggang langgang. Kampus mendapati dirinya dalam keadaan terburu-buru. Kebijakan diambil tanpa pikir panjang, tanpa dialog, yang penting bagaimana bisa menang. Gedung dipertinggi otak dijepit di ketiak. Di dalamnya, budaya pencerahan berlahan-lahan jumpalitan; terguling-guling. Tenaga pengajarnya malas mengembangkan seni kemanusiaan lewat diskursus-kreatif. Mahasiswanya demam tinggi; biasanya jika orang sedang terkena demam akut, jadinya senang meracau, ngomong sembarangan. Kawan, seisi kampus dalam kondisi bahaya!

Bahaya pertama, mari kita lihat situasinya, lingkungan yang paling dekat dari kita; teman-teman kita. Adakah mereka yang resah? Jika tidak, maka itu sebuah kesalahan. Seorang mahasiswa harus memiliki ide besar, ide tentang perubahan. Ide besar ini bagi seorang mahasiswa dalam aktivitasnya, selalu dijadikan teropong untuk memandang situasi yang dihadapinya. Jika situasi tidak selaras dengan harapan yang datang dari ide besarnya, maka dari sana datang keresahan. Dari keresahan itulah mahasiswa mengambil jarak dengan situasi untuk merekayasa situasi lingkungannya. 

Ide besar dalam pengertian ilmiah sering disinonimkan dengan ideology. Dalam ideology ada tiga susun elemen pembentuknya. Salah satu elemen di dalamnya adalah pedoman bagaimana cara memberlakukan manusia. Cara pemberlakuan kita terhadap sesama pasti bergantung dari pengetahuan yang kita miliki tentang apa itu manusia. Jika manusia dipahami seperi benda mati, maka cara kita memberikan pemberlakuan terhadapnya sudah tentu sebagaimana benda mati diperlakukan; seenaknya saja.

Pendidikan sekarang bisa kita analisis dengan menggunakan unsur yang pertama dari ideologi. Pemberlakuan terhadap manusia (peserta didik) di forum kelas bisa menjadi sampelnya. Dari sisi transfer pengetahuan; metode yang digunakan dalam pertemuan masih menggunakan pendekatan fatalism: pendekatan pedagogi. Pendekatan pedagogi contohnya bisa kita lihat pada penerapan di sekolah-sekolah tingkat awal, semisal taman kanak-kanak. Untuk menanamkan pengetahauan kepada anak-anak kelas, guru-gurunya kerap menggunakan cara menyuap.  Dialog yang terjadi adalah dialog yang searah. Tidak ada dialog yang timbal balik. Komunikasi yang terbangun sifatnya menegaskan adanya tingkatan kelas, yang mana guru sebagai “google” yang maha tahu. Dalam keadaan seperti situasi ini, anak-anak diartikan sebagai wadah yang kosong.

Situasi di atas sangat wajar jika kejadiannya terjadi pada kelas anak-anak TK. Tetapi ini adalah masalah besar; kejadiaannya ada pada jenjang perguruan tinggi. Mahasiswa bukan lagi anak kecil yang mengetahui realitas dunia melalui transmisi bahasa ibu. Di mana mahasiswa jika kita maknai sebagai terma kata kerja maka di dalamnya termuati pengertian yang aktif. Sehingga dalam kenyataannya mahasiswa berposisi sebagai agen yang turut bertanggung jawab terhadap situasi yang dihadapinya. Sikap bertanggung jawab terhadap situasi sudah pasti lahir dari kepemilikan akan seperangkat pengetahuan yang dimiliki.

Bahaya yang kedua adalah ada pada tenaga pengajarnya. Tenaga pengajar sekarang adalah produk dari sistem yang telah berkuasa selama tiga puluh tahun lebih. Mereka selama hidup menjalani rutinitas yang telah dikelola oleh penguasa sekehendak hati. Penguasa selama itu punya satu cara efektif dalam mengontrol warganya agar bisa disesuaikan dengan tipe masyarakat yang diinginkan, yakni kontrol pemikiran.

Pemikiran terkadang dalam sebuah sistem dianggap berbahaya jika di sana ada gagasan yang mengusung ide-ide perubahan.  Pemikiran yang demikian adalah tipe pikiran yang menampik adanya stagnansi. Pemikiran yang stagnan biasanya merupakan pikiran yang selalu terhenti pada titik yang dianggap final, di sana tak ada gagasan tentang  pembaharuan. Dari pikiran seperti inilah yang dalam tinjauan psikologis adalah pikiran yang sakit.

Kemutlakan kekuasaan bisa berarti stabilitas. Negara dengan kekuasaannya dalam merencanakan stabilitas agar tidak goyah biasa punya seribu satu cara untuk menegakkan keseragaman pikiran. Maka pendidikan harus mengikut kehendak kuasa. Dan di sana, dari apa yang kita sebut pendidikan, sebuah agenda tengah dibangun secara pelan-pelan; rekayasa sosial. Menciptakan hidup yang dikontrol langsung oleh kekuasaan. Dan malangnya, tenaga pengajar kita telah dididik di bawah sistem besar itu. Sistem besar dengan agenda utamanya; keseragaman.

Keseragaman inilah yang akhirnya menjalar pada ruang edukasi. Secara pelan-pelan tersimpan dibawah alam bawah sadar dan masuk melalui jejaring sistem pendidikan. Hingga akhirnya kita pun tahu, semenjak berseragam sekolah dasar hingga jenjang tinggi pendidikan, kita punya sebuah masalah besar; pikiran yang disusun rapi dibawah tema  keseragaman.

Mahasiswa sekarang tumbuh berkembangnya tepat ditengah ruang kebudayaan virtual. Di sana ada dunia yang dibangun di atas citra imagi dan hasrat. Dunia di mana identitas selalu diungkapan dengan hasrat yang defenitif: belanja. Maka sebuah perayaan akan makna sebuah identitas adalah hal yang tak lagi disandarkan pada sebuah ide yang besar.

Di tengah situasi itu, ada waktu yang dikelola. Ada ruang yang memediasi kehendak. Di sana makna waktu adalah perayaan yang ditandai dengan makna konsumtif. Di mana pemanfaatan waktu senggang adalah bagaimana ruang batin diarahkan pada perangkap eksterior: mall. Di tempat inilah gegap gempita perjuangan dikebiri dan dikangkangi. Di mana pada Mall bukan saja bangunan dengan etalase mentereng, lebih daripada itu, disana sebuah simbol telah tegak sebagai petanda akan matinya  kemerdekaan subjek.

Sedang di alam yang silam, waktu senggang adalah dasar dari terbentuknya kebudayaan. Di sana waktu yang dimiliki ditandai dengan usaha pembentukan karakter. Lewat dialog serta upaya reflektif. Makna waktu termuati dengan aktifitas yang produktif. Di sana, pada alaf yang silam, waktu senggang (skolae), bisa berarti usaha pembebasan manusia.


13 September 2012

Jejak Dunia yang Retak, Buku Kritis ala Mahasiswa UNM


PROFESI-UNM.ORG - “Aku telah menemukannya. Ya, aku telah menemukannya. Di sini, bahwa dunia hanya mimpi-mimpi belaka.” Itulah salah satu potongan bait musikalisasi puisi yang dibawakan Teater Complen Bantaeng saat jadi pembuka acara launching dan bedah buku “Jejak Dunia yang Retak” di Aula Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM), Senin (10/9/2012) malam.

Jejak Dunia yang Retak adalah sebuah buku karya penulis-penulis muda UNM, Asran Salam (mahasiswa FIP), Bahrul Amsal (mahasiswa FIS), Muchniar AZ (Mahasiswa FMIPA), Mustaqim (mahasiswa PPs UNM). Buku yang mengurai sisi lain kehidupan umat manusia beserta interaksinya ini dikupas tuntas oleh Sulhan Yusuf (Penggiat Literasi Sulsel), Sabara ( Editor, Litbang Depag Intim) dan Syafiuddin Al Mughny. (PR III UVRI Makassar).

Syaifuddin pada kesempatannya itu mengulas, Jejak Dunia yang retak lahir dengan mencoba memberikan gambaran manusia dan dunia saat ini. Lebih lanjut, ia menguraikan buku ini penuh dengan kritikan tajam dari para penulis muda. “Mengingatkan saya tetang post-modernisme. Banyak negara termasuk negeri ini, bukan hanya retak tapi sudah berkeping-keping,” ungkap Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Veteran RI (UVRI) Makassar ini.

Sementara itu, Sulhan Yusuf mengatakan, penulis mengangkat sesuatu yang remeh menjadi tulisan yang unik dengan penuh kritikan. “Teman-teman ini mengajak kita untuk ikut resah melihat dunia saat ini,” beber penggiat literasi Sulawesi Selatan ini. (*)

*Reporter: Khaerul Mustaan

22 Agustus 2012

LDSI Al Muntazhar; Iman R[evolusi] yang Alegoris

Sesungguhnya agama Allah  tidak akan bisa dikenali dari pribadi-pribadi, tetapi akan dapat dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengetahui siapa penganutnya. [Imam Ali Bin Abi Thalib]

Kehidupan umat manusia dalam waktu sekarang tengah di dominasi oleh kebudayaan barat yang berdiri diatas alur logika paham materialistik. Kehidupan ini di tandai dengan penyimpangan dalam aspek-aspek kehidupan, terutama pada sisi akidah dan akhlak. Dalam aspek akidah penyimpangan ditandai dengan penyembahan terhadap sains yang berlebihan yang turut serta menggeser sendi-sendi tauhid. Sementara pada aspek akhlak, penyimpangan terjadi dalam berbagai bentuk, terutama tindak tanduk kezaliman dan kekerasan yang biasa di lakukan pada orang-orang lemah dan teraniaya.

Negara-negara barat , eropa dan Amerika sejak abad XVI, telah membuang keyakinan-keyakinan agama yang sacral. Mereka menolak semua itu dan hanya kepada ilmu pengetahuan, dan kepercayaan ini telah mencapai tingkat yang amat tinggi. Bahkan sejak abad 18-19 ilmu pengetahuan telah menjadi semacam tuhan baru bagi mereka. Mereka percaya ilmu pengetahuan dapat memeberikan ketetapan-ketetapan yang sangat kuat dan tidak terdapat sedikit pun keraguan dan kebatilan di dalamnya. Disamping mempertuhankan ilmu pengetahuan, mereka pun telah menetapkan tuhan-tuhan baru , yakni produksi, harta benda dan kesenangan hidup.

Dari model penghambaan terhadap tuhan-tuhan baru tersebut membawa umat manusia pada kondisi yang jauh dari spirit tauhid. Dampak dari itu manusia mengalami kekeringan dalam memaknai hidup dan kehidupan. Keresahan massal dan kegelisahan pun menjadi fenomena global yang tak dapat lagi di pungkiri. Manusia pun mencapai titik kegersangan yang akut, lelah disebabkan berubah-ubahnya tuhan-tuhan yang kerap kali tidak tetap. Padahal setiap manusia membutuhkan ketenangan dan ketentraman

Dari fakta yang dihadapi, sebagai suatu system hidup baik pemikiran, konsep-konsep, perilaku dan kenyataan hidup, umat manusia mengalami kondisi yang di istlahkan oleh Sayyid Quthub sebagai jahiliah modern. Beliau berpendapat, jahiliah bukanlah fase tertentu dalam sejarah, melainkan suatu system hidup yang setiap saat dapat timbul baik pada masa lalu, masa kini maupun masa datang.

 Bertolak dari pandangan di atas, peradaban yang tengah berada dalam kehidupan yang carut marut tak tentu arah maka diperlukan upaya yang serius untuk turut serta memperbaiki fenomena umat manusia yang telah di jelaskan di atas. Dakwah dan seruan terhadap Islam sebagai ajaran yang mutlak dan universal adalah hal yang mendesak untuk di lakukan. Apalagi dalam kehidupan kemasyarakatan kekinian,  individu maupun masyarakat  modern tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendasar baik di tingkatan kita sebagai individu, keluarga maupun masyarakat.

Dengan itu maka dakwah bukan lagi sebagai keharusan yang bertolak dari peristiwa-peristiwa yang kita saksikan, melainkan dakwah adalah tugas kemanusiaan yang mesti di aktualkan baik sebagai individu maupun perkelompok. Dakwah sebagai paradigma maupun praktik adalah suatu kewajiban bagi setiap umat muslim. Dakwah bukan saja tugas individu melainkan tugas kolektif yang harus di kerjakan sejalan dengan pengetahuan yang di miliki. Banyak pendapat bahwa Dakwah adalah kelanjutan dari iman. Dengan perkataan lain dakwah adalah kelanjutan logis dari iman yang dimiliki atau wujud nyata dari iman.

Dakwah sebagai pengejawantahan dari iman yang dimiliki tidak saja bergerak pada tataran individu melainkan penting kiranya iman ini di tafsirkan pada kehidupan berkelompok atau organisasi. Sebab dakwah bukanlah kerja yang disertai dengan komitmen individu melainkan komitemen kelompok ataupun organisasi. Pemahaman ini dapat di wujudkan melalui tiga tahapan. Pertama, Iman yang dinyatakan dalam diri sendiri dengan cara masing-masing orang atau individu mengusahakan dirinya untuk menjadi wujud nyata dari iman yang dimilikinya. Wujud nyata yang di maksud adalah baik dari segi pemikiran, sikap dan perilaku. 

Kedua, iman yang dinyatakan dengan mengajak dan menyeru manusia kepada ajaran yang di anggap benar serta menjelaskan keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki. Seruan ini penting kiranya jikalau iman sudah menjadi inheren dalam diri individu dengan cara ia telah menunjukan keistimewaan dan keutamaan iman terhadap dirinya sendiri. Jadi pada tahap kedua ini mulai terjadi pelebaran teritori penerapan iman yang di yakini, bukan saja terhadap diri tetapi juga terhadap orang sekitar.

Ketiga,Iman yang dipahami dan yang diyakini dinyatakan dengan tujuan mengokohkan iman tersebut sebagai system hidup bagi umat manusia. Upaya ini harus di lakukan dengan usaha kolektif bukan saja sebagai tugas individu dengan segala potensi dan upaya yang ada.

Dari sinilah dakwah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, bahkan dakwah itu sendiri adalah subtantif yang menjadi fitrah dari manusia. Namun jika melihat tugas-tugas dakwah yang banyak mengalami hambatan dan tantangan di zaman sekarang ini, maka dakwah bukan saja harus dilakukan dengan inisiasi individu atupun kelompok melainkan perlu kiranya memiliki wadah yang secara sistematis, terorganisir  dan revolusioner agar kiranya gagasan-gagasan universal yang diyakini menjadi jalan bagi ikhtiar ummat manusia.[]


20 Agustus 2012

Dialogi Tafsir atas Masyarakat dan sejarah: Ulasan terhadap Karya Murtadha Muthahhari

Paradigma adalah gambaran fundamental mengenai masalah pokok dalam ilmu tertentu. Paradigma membantu dalam menentukan apa yang mesti dikaji, pertanyaan apa yang mesti diajukan, bagaimana cara mengajukannya, dan apa aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh.[1] 

Paradigma sesungguhnya mencakup pengertian yang bersifat ontologis yang darinya sebuah objek menjadi fundamental dalam penentuan skala pengetahuan. Pelacakan terhadap status objek yang hendak dikaji pada gilirannya akan mengarahkan persoalan-persoalan pada penisbahan tentang metodologi apa yang pas untuk digunakan.

“Paradigma” sebagai sebuah diskursus wacana dan keilmuan, utamanya dipopulerkan oleh Thomas Samuel Kuhn (1922-1996), seorang pemikir Amerika. Walaupun pandangan-pandangannya menyangkut paradigma bernasib marginal dalam ilmu sosiologi, namun di dalamnya terdapat pemikiran besar bahwa ilmu tak pernah terlepas dari konteks dimana ia dimunculkan. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1962, The Struktrure of Scientific Revolutions, Kuhn menerangkan bahwa sebuah ilmu tidaklah berkembang secara kumulatif  sebagaimana yang umum dipersepsikan. Walaupun Kuhn mengakui bahwa akumulasi memang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi perubahan besar justeru terjadi akibat revolusi dalam ilmu pengetahuan. Ilmu mendapatkan tantangannya jika terjadi anomali terhadap status kebenaran yang berdampak pada krisis terhadap keberadaan ilmu dalam menyikapi suatu diskursus. Krisis ini akan berakhir dengan terjadinya revolusi pengetahuan.

Sebagaimana peta yang memiliki fungsi deskriptif terhadap wilayah yang diterangkannya, sebuah paradigma juga memiliki informasi-informasi berupa pernyataan-pernyataan normatif serta nilai etis dalam fungsi ke-peta-annya. Fungsi ke-peta-an sebuah paradigma bertujuan memediasi manusia dalam menentukan tujuan hidupnya. Menurut Murtadha Muthahhari, seorang filusuf Iran, paradigma bisa disejajarkan dengan konsep “pandangan dunia”. Murthahhari melihat adanya sinergitas antara pandangan dunia dengan wacana epistemologis dalam membentuk ideologi.[2]

Menurut George Ritzer, seorang sosiolog, ilmu-ilmu sosial paling tidak mengandung empat komponen paradigma. Pertama, eksemplar. Hal ini mengacu pada karya-karya tokoh yang dijadikan rujukan bagi penganut paradigma tertentu. Kedua, gambaran masalah pokok. Yakni status ontologis dari permasalahan yang dituju. Ketiga, metode. Yakni sikap metodis dan metode yang hendak diterapkan oleh penganut paradigma. Keempat, teori. Yakni perspektif teoritis dalam menerangkan permasalahan-permasalahan.[3]

Betapapun ilmu-ilmu sosial telah memandirikan dirinya dari pernyataan-pernyataan filosofis semenjak sains menubuatkan diri sebagai ilmu yang menerangkan segalanya, namun pada kenyataannya, dalam sejumlah grand theory, ilmu-ilmu sosial tetap memiliki pijakan asumsi filosofis yang terkandung dalam teori-teori yang dikemukakannya. Asumsi-asumsi ini hendak menerangkan realitas yang dihadapinya, yakni kedudukan human nature (manusia), society (masyarakat), dan rasional eksplanation sebagai model yang universal dalam menyusun paradigmanya. Jika sebuah teori tidak memiliki kandungan tiga elemen paradigma tersebut, maka ada kemungkinan teori-teori yang datang darinya tidak pula memilki kekuatan argumentatif untuk mempertahankan bangunan teoritisnya. Dengan demikian, seluruh teori pasti turut mewakili paradigma yang dibawanya.

Dalam kaitannya dengan tiga elemen paradigma tadi, khususnya aspek society, maka jika kita membangun sejenis eksposisi maka kita akan menemukan sejumlah pertanyaan: Apakah masyarakat itu? Apakah yang mendorong hingga terbentuknya masyarakat? Apakah individu memiliki posisi sentral dalam pembentukan masyarakat atau sebaliknya? Apakah penentu masyarakat berkisar dari jiwanya sendiri ataukah berdasarkan faktor eksternal dalam menentukan gerak sejarahnya?

Asal Usul Masyarakat

Masyarakat selalu menjadi studi yang kompleks. Studi atas masyarakat bisa ditelusuri akar sejarahnya dari dokumen-dokumen Yunani klasik, terutama dalam buku Politics karangan Aristoteles. Di situ konsep masyarakat yang dikemukakan Aristoteles memiliki kaitan erat dengan konsep negara. Konsep masyarakat dalam pengertian aristotelian merujuk pada negara kota yang khusus lahir sebagai pencitraan hukum moral.

Walaupun demikian, dalam menempatkan masyarakat sebagai kajian utamanya, baik oleh Thomas Hobbes, Adam Smith, Karl Marx, sampai Max Weber dan Alfred Scutz, teori kemasyarakatan tak pernah lepas dari bias intervensi ideologis, pengaruh gejolak ekonomi, maupun tarik-ulur kekuasaan politik.Pemilahan antara kepentingan ideologis dan ilmu pengetahuan terlihat pada positivisme Comte yang menekankan sosiologi sebagai puncak dari ilmu-ilmu haruslah bersih dari tendensi subjek.[4]

Pasca perang dunia kedua, Amerika Serikat sebagai negara adikuasa banyak membentuk lembaga-lembaga penelitian sosial. Ilmuwan-ilmuwan sosial diberdayakan untuk membangun teori-teori sosial dalam rangka kepentingan politik dan ekonomi Amerika. Sejumlah ilmuwan sosial juga dikirim ke wilayah-wilayah strategis negara dunia ketiga untuk melakukan penelitian (pengamatan). Hal ini bertujuan untuk menjadikan negara dunia ketiga sebagai bumper bagi keadikuasaan Amerika.[5]

Dalam pandangan eropasentris, masyarakat dilihat sebagai perwujudan yang tidak berbeda dengan organisme menurut tinjauan ilmu-ilmu alam. Hal ini ada kaitannya dengan pandangan-pandangan evolusi darwinis, seperti yang dikatakan Herbert Spencer. Menurut Spencer, keilmuan abad ke-19 masih didominasi oleh ilmu-ilmu alam, sehingga studi kemasyarakatan masih menjadi anasir studi kealaman. Di sini masyarakat digambarkan sebagaimana mahluk hidup yang ditunjang oleh sel-sel dasar sebagai elan vitalnya. 

Masyarakat seperti kesatuan tubuh manusia yang terdiri dari otot dan bagian-bagian tubuh sebagai unsur pembentuk jasad. Masyarakat yang dipandang dari perspektif hukum biologis, menyebabkan konsepsi yang terbangun senantiasa bersifat determinis dan linear.

Berbeda dengan Spencer, Emile Durkheim melihat masyarakat sebagai fakta sosial. Durkheim menilai bahwa masyarakat adalah ungkapan yang dicitrakan dari norma-normanya, adat-istiadatnya, serta nilai-nilai yang diturunkan secara turun-temurun lewat tradisi. Kata Durkheim, seorang sosiolog harus meneliti fakta sosial, bukan interaksi pelakunya. Jadi, jika Durkheim ditanya, kenapa seorang ibu bisa membunuh anaknya sendiri hanya karena ia merasa tak sanggup menghidupinya? Maka perspektif durkheimian akan menjawab: “hal itu terjadi karena nilai-nilai yang ada telah rusak!” Murtadha Muthahhari memandang bahwa masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok manusia yang hidupnya mengandung sejumlah nilai, norma-norma, adat-istiadat, dan tradisi.[6]

Durkheim menggambarkan masyarakat sebagai “tatanan moral”. Konsepsi ini diungkapkan lewat penjelasannya tentang “conscience collective dan “reperesentations collective”. Masyarakat dalam pandangan Durkheim tidak lebih spesifik dari entitas yang bersifat supra-personal yang misterius. Karena itu, dalam pandangan ini, Durkheim dianggap gagal dalam penekanannya terhadap spesifikasi personal yang menjalani situasi material dalam aktifitas sehari-hari.[7] Pandangan Durkheim yang terlalu membawa masyarakat pada level yang sulit dinilai kekongkritannya, memiliki dampak serius pada perkembangan ilmu-ilmu sosial.

Masyarakat harus dilihat dari pembentuknya, yakni individu itu sendiri, bagaimana mereka berinteraksi satu dengan lainnya. Masyarakat harus dinilai dari interaksi orang-orang yang ada di dalamnya, bagaimana mereka membentuk kelompok-kelompoknya, dan seperti apa proses interaksi yang terbangun di dalamnya. Pendapat tersebut dikemukakan Simmel dengan pandangannya yang empiristis. Kata Simmel, masyarakat seharusnya dibawa pada penelitian yang bisa diobservasi langsung, bukan nilai dan pranata yang ada di dalamnya yang abstrak dan sulit diukur berdasarkan pengalaman langsung.

Pandangan Simmel yang bercorak aritotelean tersebut berbeda dengan para sosiolog Jerman semisal Weber dan Marx yang sibuk dengan tema-tema besar. Tingkat analisis Simmel terletak pada penekanannya terhadap kejadian pada skala yang lebih kecil. Berbeda dari para pendahulunya, sosiolog yang menginspirasi lahirnya mazhab Chicago ini, lebih menilik masyarakat pada penggambaran individu melalui tindakan dan interaksinya.[8]Teori Simmel tersebut mewakili pandangan menyangkut status ontologis masyarakat yang dititik-beratkan pada kehadiran individu-individunya. Masyarakat dalam hal ini hanyalah keterwakilan dari individu yang membentuk kelompok sebagai dasar pemenuhan sesuatu yang bersifat kolektif.

Dalam memahami masyarakat, setidaknya ada tiga pandangan yang mengemuka: Pertama, yang melihat masyarakat sebagai gerak yang secara fitrawi terbentuk dari kecenderungan individu untuk mengaktualkan potensi sosialitanya, yang dimotivasi oleh fitrah dalam dirinya sendiri. Kedua, yang melihat masyarakat sebagai fenomena yang didatangkan untuk menjawab ketidakmampuan individu untuk berproses di dalam alam, sehingga untuk bisa bertahan hidup, maka manusia dengan terpaksa bermasyarakat. Pandangan ini melihat individu sebagai faktor yang inferior, dan menemukan identitas superiornya hanya jika harus menerima fenomena kemasyarakatan dengan desakan. Ketiga, yang melihat masyarakat hanyalah sebatas fenomena individual yang dimotivasi berdasar kalkulasi pilihan rasionalnya. Artinya, seorang individu bisa saja memilih hendak bermasyarakat ataukah tidak, selama hal itu membawa keuntungan baginya.

Menurut Durkheim, masyarakat berada di luar individu dan sifatnya memaksa. Individu harus mengikuti anjuran serta pakem-pakem yang sudah diterima secara turun-temurun dalam tradisi masyarakat, suka ataupun tidak. Dalam perspektif Marx, masyarakat merupakan realitas utama dibandingkan dengan individu. Individu hanya menjadi anasir sekunder bila diperhadapkan dengan masyarakat. Penekanan Marx terhadap kolektivisme menyebabkan hak-hak individu menjadi tidak penting. Terkadang memang masyarakat memiliki kekuatan memaksa yang sifatnya sedemikian impulsif, sehingga individu tak berdaya menolak atau berkilah untuk tidak menerimanya. Mekanisme ini terjaring melalui representasi nilai-nilai yang tercitrakan pada aturan-aturan semisal simbol-simbol yang dikonvensi pemaknaannya berasarkan kehendak umum.[9]

Pada sisi lain, terdapat pula pandangan yang lebih menekankan aspek individu yang sedemikian rupa lebih penting dari kolektivitas. Kalaupun ada yang namanya kepentingan umum, itu tidak lain merupakan perwujudan dari kehendak individu-individu. Masyarakat dipandang sekadar sebagai fenomena sekunder. Pandangan semacam ini kita kenal dengan sebutan individualisme. Prinsip individualisme dapat kita lihat contohnya pada bangunan ideologi dan operasi ekonomi kapitalisme.

Kalau kita mencermati jalan cerita film V for Vendetta[10], di situ tampak tokoh V yang berhasil membentuk masyarakatnya berdasarkan kemauan umum walaupun awalnya ia hanya bekerja seorang diri. Kisah ini, memberikan pengertian bahwasannya seorang individu memiliki kemerdekaan diri yang terlepas dari kesadaran mayarakatnya untuk turut  membentuk kesadaran orang banyak. Pandangan ini berbeda dari pandangan tadi yang tidak melihat hakikat manusia yang notabene memiliki ikhtiar untuk merespon sesuatu, apakah hendak menerima ataupun menolaknya. Walaupun masyarakat memiliki sejumlah kehendak bersama, bukan berarti bahwa individu turut larut di dalamnya dengan terpaksa sehingga kehilangan identitasnya. Seorang individu tetap memiliki kehendak bebas untuk memilih keluar dari batas-batas paksaan yang ada di masyarakat.
          
Masyarakat dan Peran Agency

Marxisme meyakini bahwa datangnya sejarah berasal dari kelas pekerja yang merebut kekuasaan dari kepemilikan barang-barang kaum borjuis. Menurut mereka, sejarah bermula dari masyarakat komunal yang diatur berdasarkan hukum-hukum tradisional hingga berevolusi menjadi masyarakat komunis. Masyarakat komunis adalah masyarakat tanpa kelas yang lahir dari konsekuensi perjuangan kaum buruh. Gerak sejarah ini diyakini bisa terealisasi dengan adanya desakan kelas pekerja melalui revolusi proletariat.

Jika pandangan marxian menempatkan revolusi sebagai penentu jalannya sejarah, maka August Comte memandang sainslah yang akan menentukan sejarah. Tahap akhir dari sejarah manusia menurut Comte, akan sampai pada keadaan dimana masyarakat menjunjung tinggi sains sebagai satu-satunya jalan menjawab segala kebutuhan manusia. Tahapan sejarah comtean ini diawali dari tahap teologis, dimana manusia dan corak kehidupannya masih berdasarkan keyakinan takhayul dan mistis. Pada berkembangan selanjutnya, masuk pada tahap hukum evolusi kesadaran, dimana masyarakat sampai pada tingkatan yang bercorak metafisis. Di sini kesadaran masyarakat berusaha keluar dari kungkungan teologis yang tidak mendewasakan kesadaran. Usaha pendewasaan akal budi, akan berkembang hingga manusia benar-benar matang, dengan sains sebagai faktor penopangnya. Pada tingkatan inilah masyarakat mengalami kemajuan signifikan.

Teori marxian dan comtean menyangkut kepastian sejarah, mendasari asumsi-asumsinya pada dua narasi besar yang mewarnai jatuh bangunnya paradigma filsafat Barat, yakni platonisme dan aristotelian. Kedua narasi besar ini seringkali terlibat persitegangan. Platonisme dengan pandangannya yang bercorak absolut terhadap keberadaan ide, memberikan penekanan yang besar terhadap ide daripada keberadaan yang bersifat inderawi. Keberadaan yang hanya mampu dicerap oleh inderawi, bagi Plato, hanyalah doxa yang bersifat semu dan tak sempurna. Sementara itu, dalam pandangan Aristoteles, dunia ide yang dideskripsikan Plato hanyalah hasil abstraksi dari objek-objek eksternal. Abstraksi yang terjadi bermula dari persentuhan alam inderawi dengan alam eksternal yang dialami oleh manusia.[11]

Pandangan marxian menghendaki ketiadaan peran agency dalam mengawal dan mempolarisasi struktur, dimana struktur memiliki peran sentral dalam mengarahkan gerak sejarah. Agency dipandang sebagai faktor yang tidak dominan dalam rentetan kejadian yang dapat mempengaruhi jalan dan berkembangnya sejarah. Di sini sejarah dipahami sebagai suatu proses penciptaan dan pemuasan kebutuhan-kebutuhan manusia secara terus-menerus. Penciptaan kebutuhan dimediasi oleh aktivitas kerja dalam hubungannya dengan alam. Dengan demikian, sejarah merupakan materialisasi upaya manusia dalam memenuhi segala aspek fundamental kehidupannya.[12]

Kekitaan

Ulrich Beck, seorang ilmuan sosial, melihat masyarakat beserta institusi dan struktur sosialnya telah bergerak secara radikal dari masyarakat tradisional menuju masyarakat pra-modern, kemudian menuju masyarakat super-modern. Dalam masyarakat tradisional, struktur beserta pengalaman kemasyarakatan bersifat “kekitaan”. Di sini masyarakat terintegrasi secara vertikal dan horisontal. Individu tradisional terbentuk dan dibentuk dalam nilai-nilai komunal. Masyarakat yang terbangun berdasarkan “kekitaan” tidak menyerahkan dirinya pada institusi. Individu tahu dan sadar bahwa dirinya adalah bagian utama dari “kekitaan”.

Dalam masyarakat modern yang ditandai dengan peneguhan yang tinggi terhadap subjektvitas, terjadi pergeseran dari kesadaran “kekitaan” menuju kebebasan individu dan otonomi personal. Individu mengambil peran sentral dalam keberlangsungan kehidupan. Dengan begitu, terjadi peralihan dari masyarakat “kita” menjadi masyarakat “aku”. Sementara itu, pada masyarakat super-modern, “aku” tidak lagi disandarkan pada institusi negara. Kebebasan individu dan otonomi personal beranjak kepada institusi-institusi baru yang lebih luas. Kesadaran tidak lagi merujuk pada kesadaran komunal maupun negara, melainkan pada sistem informasi dan teknologi yang sedang berkembang. Di sini masyarakat mendapati dirinya menjadi bagian yang terintergrasi dalam sistem teknologi dan informasi yang abstrak. Hal ini disebut Jean Baudrilard sebagai simulacrum, yaitu realitas kedua yang menggantikan realitas sejati melalui penciptaan realitas semu dengan sistem penandaan semiotik melalui simbol-simbol.[13]

Bila kita menyakini konsepsi masyarakat sebagai penjaga individu-individu melalui pencitraannya sebagaimana sosok “ibu”[14], maka masyarakat sebagai sebuah panggilan moral adalah konsepsi yang nonsense. Masyarakat dengan kediriannya seperti sekarang ini adalah jenis masyarakat yang penuh dengan apatisme yang melihat jalannya sejarah secara given tanpa kehendak mengubah jalannya sejarah. Pandangan-pandangan menyangkut filsafat sejarah, baik yang memandang sejarah sebagai produk materialisasi ide ataukah idealisasi materi, sungguh telah mendapatkan tantangan episteme dalam kaitannya dengan proses jalannya sejarah manusia dewasa ini. []

Daftar Bacaan

Cambell, Tom, 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius.
Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Hardiman, F. Budi, 2004. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat dan Sejarah: Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya. Bandung: Mizan.
————————–, 2001. Mengenal Epistemologi. Jakarta: Lentera.
Piliang, Yasraf A., 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Kanisius.
Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Wibowo, Edi dan Tangkilisan, Hessel Nogi S, 2004. Kebijakan Publik Pro Civil Society. Yogyakarta: YPAPI.

[1]     Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana, apindeks.
[2]     Muthahhari, Murtadha, 2001. Mengenal Epistemologi. Jakarta: Lentera, hal. 18.
[3]     Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana, hal. 118.
[4]     Hardiman, F. Budi, 2004. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
[5]     Wibowo, Edi dan Tangkilisan, Hessel Nogi S, 2004. Kebijakan Publik Pro Civil Society. Yogyakarta: YPAPI.
[6]     Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat dan Sejarah: Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya. Bandung: Mizan, hal 15.
[7]     Cambell, Tom, 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius, hal. 179.
[8]     Ritzer, George, op.cit., hal. 45.
[9]     Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat…, op.cit., hal 34.
[10]    Film yang diangkat berdasarkan novel David Llyod dan dibintangi Natalie Portman dan Hugo Weaving.
[11]    Hardiman, F. Budi, op.cit., hal. 24.
[12]    Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. Jakarta: Universitas Indonesia Press, hal. 27.
[13]    Piliang, Yasraf A., 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Kanisius, hal. 58.
[14]    Seperti yang termuat dalam Khittah Perjuangan HMI (MPO) pada bab Wawasan Sosial.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...