Memang agak terdengar klise jika agama disebut candu. Marx
menyebutnya opium, zat yang memiliki kemampuan untuk membalikkan dan
menghancurkan kesadaran. Bahkan memiliki efek halusinatif dan
"menyenangkan". Mengapa Marx mengambil metafora opium untuk menggambarkan
ekses negatif agama? Kemungkinannya ada dua. Pertama di abad Marx hidup, opium
massif diperdagangkan sebagai komoditi. Di Nusantara sendiri opium malah
diperdagangkan di bawah pemerintah Kolonial Belanda dengan pajak tertentu. Kala itu opium memang menjadi konsumsi elit bangsawan dan
sekaligus massa rakyat sebagai bahan untuk mendapatkan sensasi khayali dan
menghilangkan rasa lelah bagi buruh upahan. Penggunaan yang massif ini
--menurut James R. Rush dalam buku Opium of Java, yang membawa masuk opium ke
Nusantara adalah saudagar-saudaar Arab-- memiliki efek keuntungan bagi yang
memperdagangkannya. Kedua, yakni karena efek opium itu sendiri yang membuat
pemakainya menjadi halusinatif dan "menyenangkan." Dengan arti ini maka
agama berubah fungsinya menjadi alat dagang dan menipu. Dua hal yang belakangan
banyak terjadi di negeri ini. Agama dengan dimensi demikian, akhirnya
menghilangkan unsur spiritualitas ke ambang kehancuran. Nilai sakral agama
hanyalah gelembung mudah pecah akibat berubahnya agama menjadi komoditi
ekonomi. Tesis Max Weber yang mengatakan paralelnya semangat kapitalisme dan
etika agama, menandai suatu pembacaan yang setidaknya memberikan analasis bahwa
agama ketika bersimbiosis menjadi alat dagang, mampu mengubah orientasi ukhrawi
agama menjadi lebih “kekinian” dan “duniawi”. Memang agama dengan proporsional tidak
mengelakkan dunia sebagai kutub yang mesti diperjuangkan mati-matian, melainkan
melalui kacamata bahwa “dalam yang duniawi ada yang bernilai akhirat” atau “di
dalam yang ukrawi tersimpan yang duniawi”, agama menekankan pentingnya
penekanan nilai sakral ke dalam seluruh aktifitas yang berbau keduniaan atau
sebaliknya. Pemahaman di atas tidak mungkin terwujud jika menggunakan alat
berpikir yang dikotomis. Jika hitam, maka mustahil putih, dan sebaliknya, putih
berarti sudah pasti hitam. Melainkan, suatu cara pandang “meliputi”, atau
seperti yang digunakan dalam etika sufistik, yakni tidak ada pemisahan antara “yang
sakral” dengan “yang profan”. Sekarang, malangnya agama malah dipahami dan dihayati
seperti cara kita melihat warna hitam putih. Ketika seseorang memutuskan
memilih putih, maka tiada peluang bagi dirinya untuk memilih hitam. Agama yang
berubah ekonomis, saya kira sudah dicontohkan dengan baik oleh kasus bas-bos
First Travel. Agama menjadi alat dagang dengan memanfaatkan kebutuhan beribadah
orang banyak. Di sini saya kira, memanfaatkan kebutuhan agama orang banyak
adalah sala satu dosa yang tidak gampang untuk dimaafkan. Bukankah
memperdagangkan agama sama halnya mempermainkan agama setara seperti benda
komoditi yang gampang diperjual belikan? Satu hal lagi, terbongkarnya kelompok
Saracen baru-baru ini oleh kepolisian, mengindikasikan agama di waktu tertentu
bukannya memberikan manfaat meningkatkan ruhani dan pemahaman kegamaan
masyarakat, melainkan dijadikan sebagai alat agitasi dan pemecah umat dengan
hoax yang disebarkan bebas. Malangnya, di atas kebodohan sebagian orang, hoax
bermuatan SARA, malah tumbuh subur dibagikan dengan maksud membela-bela
seseorang atau kelompok tertentu. Agama akhirnya dengan begitu menjadi rendah
nilainya, bukan menjadi penguat kesadaran, tanggung jawab, melainkan sudah
seperti candu, ya candu, membuat orang kehilangan konsentrasi. Kehilangan
kesadaran. Kalau sudah begitu siapa yang diuntungkan coba?
26 Agustus 2017
22 Agustus 2017
Pedro Paramo dan Hantu-Hantu Abadi Juan Rulfo
Di sini di mana udara terasa begitu ganjil, suara-suara itu kudengar jauh lebih jelas. Suara-suara itu ada dalam diriku, begitu nyaring dan bising (Juan Preciado)
Saya membutuhkan
lebih banyak konsentrasi membaca Pedro Paramo (terbitan Gambang, terjemahan
Lutfi Mardiansyah) akibat setting ceritanya yang tanpa disadari seketika
berubah begitu saja (bahkan saat menulis tulisan ini saya juga masih membaca
untuk kedua kalinya). Tehnik penceritaan yang mirip lorong waktu ini, yakni penceritaan
yang hampir bersamaan dan juga bolak balik antara masa sekarang dan masa lalu
dengan intens, membuat gaya penceritaan Juan Rulfo mesti dibaca dengan
hati-hati dan lebih teliti. Perubahan konteks cerita dengan tokoh-tokoh yang
kurang lebih berjumlah 20, membuat cerita menjadi tumpang tindih sekaligus
menjadi acak. Alur yang demikian mengingatkan saya kepada gaya penceritaan yang
menjadi khas dari sastra Amerika Latin terutama yang ditemukan dalam Seratus
Tahun Kesunyian-nya Marquez (Pedro Paramo disebut-sebut teks yang paling
menentukan dan mempengaruhi banyak penulis Amerika Latin setelahnya, semisal
Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, dan Marquez sendiri [disebutkan di situs
berita Independent, tanpa Pedro Paramo tak akan lahir Seratus Tahun Kesunyian]).
Apalagi dua setting waktu yang intens berubah seketika, dan berpusat pada dua
tokoh yang berbeda dengan masing-masing tokoh tambahan di cerita yang berbeda
pula, pelan-pelan akan menguak isi cerita yang sebenarnya akan membuat kaget
pembacanya. Dengan cara ini, Pedro Paramo adalah novel yang menyimpan
teka-tekinya sejak awal ketika membacanya. Pedro Paramo dibuka dengan kisah
Juan Preciado, seorang pemuda yang ditinggal mati ibunya yang di saat terakhir
hidupnya, berpesan kepadanya untuk mencari ayahnya di suatu tempat bernama
Comala. Comala adalah tempat nun jauh yang tak pernah didatangi Juan Preciado,
namun karena amanah terakhir ibunya, maka itu dilakukannya juga. Sampai di
sini, setting ceritanya membawa imajinanasi saya tentang kisah yang akan menceritakan
perjalanan Juan Preciado ke Comala untuk menjalankan misi mencari ayahnya. Di
perjalanan, dia bertemu seseorang yang menunggangi keledai bernama Abundio,
yang menceritakan seperti apa Comala, tempat yang akan dituju Juan Preciado (di
perjalanan bersama Juan Preciado, Comala dikisahkan Abundio sebagai tempat yang
sangat panas, kota yang “bertengger di atas bara api bumi, tepat di atas mulut
neraka”, metaforanya menarik: “ketika orang-orang di sana mati [Comala] dan
pergi ke neraka, mereka yang mati itu akan datang kembali untuk meminta
selimut”—bayangkan betapa panasnya Comala dibandingkan neraka). Dan, dari mulut
Abundio-lah, Juan Preciado tahu, bahwa Pedro Paramo, yang dinyatakan oleh
ibunya sebagai ayahnya, yang menjadi tujuan pencariannya, telah mati
bertahun-tahun yang lalu. Di sinilah imajinsai pembaca seketika stuck, tetapi
sekaligus teka-tekinya itu sendiri. Sebelum sempat kita mengetahui siapa Pedro
Paramo, bagaimana keperawakannya, bagaimana ia hidup, kenapa ia harus dicari,
tiba-tiba dinyatakan sudah mati bertahun-tahun lalu. Lantas untuk apa kisah
Juan Preciado dilanjutkan? Nah, justru di sinilah petualangan Juan Preciado
sebenarnya akan dimulai. Setelah sebelumnya misi kisahnya adalah mencari Pedro
Paramo yang disangka masih hidup, tiba-tiba mundur bertahun-tahun lalu di kota
Comala. Setelah Pedro Paramo dinyatakan mati oleh Abundio, dan sudah terlanjur
tiba di Comala –dikisahkan semenjak Juan Preciado sampai di Comala,
keheranannya mencuat melihat suasana kota yang tak biasa. Kota itu adalah
tempat yang sepi dan tak berpenghuni, bahkan sudah lama ditinggalkan
penduduknya-- Juan Preciado menyempatkan singgah sekaligus istirahat di tempat
yang direkomendasikan Abundio. Rumah itu adalah rumah Eduviges, seorang
perempuan tua yang mengenal ibu Juan Preciado di masa lalu, dan Pedro Paramo
itu sendiri. Dikisahkan, Eduviges sudah menanti kedatangan Juan Preciado dan
mengetahui kedatangannya melalui informasi ibunya (bagaimana ia bisa tahu,
bukankah ibu Juan Preciado sudah meninggal?). Melalui perbincangan dengan
Eduviges di rumahnya, tersibak kenyataan aneh bahwa lelaki yang bertemu dengan
Juan Preciado di perjalanan yang bernama Abundio ternyata adalah roh
gentayangan, dan seseorang yang tuli di masa hidupnya. Di sinilah letak titik
yang membuat saya mengerutkan jidat. Jadi ternyata orang yang berbicara selama
perjalanan dan mengatakan Pedro Paramo sudah meninggal kepada Juan Preciado
adalah sesosok hantu? Hantu yang mengabarkan kematian? Pantas ketika Juan tiba
di Comala kecurigaannya mencuat, Comala adalah kota yang sepi dan sudah lama
ditinggalkan penghuninya. Lantas, kejutan selanjutnya adalah Eduviges itu
sendiri. Ketika Juan Preciado tersadar dari waktu istirahatnya di pagi hari,
seorang wanita datang menemuinya. Dari wanita bernama Damiana inilah Juan
Preciado juga mengetahui, Eduviges yang mengajaknya berbicara dan menawarkannya
ruangan tempat tidur semalam, yang ternyata bekas ruangan orang terbunuh,
adalah juga sesosok hantu bergentayangan. Ya, Eduviges sesosok hantu, roh yang
bergentayangan. “Evudiges yang malang. Pasti dia masih bergentayangan seperti
jiwa yang tersesat,” kata Damiana. Dan semakin ke sini, kisah Pedro Paramo
menyadarkan saya ternyata Comala adalah kota hantu—termasuk Damiana sendiri.
Kota yang berisikan roh-roh yang bergentayangan tepatnya. Melalui roh
bergentayangan inilah, yang mencuat dan mengendap dan bersuara di sekitar
tembok-tembok mati, penglihatan dan di telinga Juan Presciao kisah Pedro
Paramo, satu persatu terkuak. Tanpa disadari sebelumnya, kisah yang dikuak melalui
plot yang maju mundur di antara
tokoh-tokoh yang banyak bermunculan tanpa latar belakang yang cukup (bahkan
dalam dialog-dialognya unsur kemewaktuan masa lalu dan masa sekarang banyak
berlaku dalam satu paragraf sekaligus), sebenarnya adalah gema dari kota,
cinta, sejarah, kemiskinan, pencurian, pemerkosaan, skandal dan penderitaan
masyarakat miskinnya, orang-orangnya, dan Pedro Paramo itu sendiri. "Kota
ini penuh dengan gema… Seperti mereka terjebak di balik dinding atau di bawah
batu-batuan ketika Anda berjalan, Anda merasa seperti seseorang di belakang
Anda, melangkah dalam langkah Anda, Anda mendengar gemeresak.. Dan orang
tertawa… Tawa yang terdengar habis… Dan suara-suara yang aus oleh tahun.” Pedro
Paramo bisa dibilang adalah kisah sejarah suatu kota dengan masyarakatnya yang
terjerat skandal yang berpusat kepada Pedro Paramo sebagai orang berpengaruh di
Comala. Dengan gaya kepemimpinannya yang culas, penuh tipu muslihat, acuh tak
acuh, Pedro Paramo “memimpin” kota Comala menuju masa-masa depresinya. Melalui
figurnyalah novel ini mengetengahkan asal-usul sejarah Comala dan penduduknya
yang dibentuk dengan perampasan, pemerkosaan, korupsi, dan cinta yang rumit.
Melalui Juan Preciado, novel Pedro Paramo tersirat kisah seseorang anak yang
mencari asal-usulnya yang berpusat dari bapaknya yang “misterius”, tetapi juga
pencarian itu harus berakhir ke dalam kematian ayah yang sebenarnya bukan
tujuan pencarian itu sendiri. Juan Preciado nyatanya memulai pencarian bukan
dari siapa sebenaranya Pedro Paramo, melainkan membuka sejarahnya sendiri
melalui kematian yang secara "kebetulan" melalui Pedro Paramo. Dengan
kata lain, jika ingin mencari asal-usul, titik permulaannya bukanlah mencarinya
kedalam sejarah orang-orang tertentu, tapi ke dalam kematian (akhir) itu
sendiri sebagai suatu peristiwa yang menyejarah. Pedro Paramo novel yang di
satu sisi mengaburkan atau bahkan mencampuradukkan dimensi waktu dan ruang
lingkup kehidupan orang-orangnya, sehingga nampak seperti waktu yang abadi
tanpa mengenal batas-batas masa lalu dan sekarang. Dialog-dialognya tumpang
tindih, berlapis-lapis seiring pergantian kata ganti orang. Gaya penceritaan
yang demikian seolah-olah membuat semacam pemahaman, bahwa kenangan suatu
tempat hanya akan bertahan dengan kenangan itu sendiri melalui penceritaan
terus menerus yang melintasi ruang dan waktu, walaupun orang-orang datang silih
berganti. Mati ataupun hidup. Orang yang masih menginjakkan kakinya di bumi,
atau sudah bergentayangan seperti hantu-hantu di Comala. Dengan kata lain, Pedro
Paramo dibangun bukan saja dari suara-suara orang-orang yang masih hidup,
melainkan juga gema suara orang-orang yang sudah mati melalui cara yang
menajubkan tetapi juga aneh: tokoh-tokohnya yang hidup dikisahkan telah mati,
dan sekaligus yang mati diceritakan masih hidup. Ya, cerita Pedro Paramo
dibangun dari hantu-hantu yang bercerita tentang kenangannya di suatu kota yang
tidak bisa mereka tinggalkan (Juan Preciado sendiri juga adalah sesosok hantu
ketika ia menyadari melihat tubuhnya terkubur di suatu pemakaman [jadi semenjak
awal cerita Juan Preciado adalah juga sesosok hantu]). Akhirnya, dengan begitu
antara kematian dan kehidupan menjadi tidak jelas batasnya, yang membuat
seluruh apa yang ditinggalkan di Comala termasuk arwah yang bergentayangan di dalamnya,
menjadi penduduk kota hantu yang abadi. Tersesat di dalamnya, selama-lamanya.
20 Agustus 2017
Cannery Row, John Steinbeck
Betapa berharganya seorang John
Steinbeck bagi warga Ocean View Avenue sehingga mengubah namanya menjadi
Cannery Row. Ini dilakukan atas penghormatan terhadap Steinbeck yang mengambil
Ocean View Avenue sebagai latar cerita novelnya ini (akan sangat membanggakan kalau hal ini juga dilakukan terhadap sastrawan-sastrawan kita di Indonesia). Jika ingin tahu di daerah
mana Ocean View Avenue berada, maka bukalah peta via goggle map, letaknya
berada di kota Monterey, California, Amerika Serikat. Cannery Row adalah daerah
pesisir menghadap laut, kawasan pemukiman yang berisikan orang-orang yang hidup
dari hasil lautan. Mungkin sebagian besar warga Cannery Row akrab dengan perahu-perahu
nelayan, desir angin asin, air pasang, dan tentu ikan-ikan yang menjadi
penghasilan keuangan mereka. Sesekali menyesap bir atau wiski ketika angin
dingin melanda. Atau membuka lebar-lebar pintu atau jendela ketika matahari
sedang terik-teriknya. “Cannery Row di Monterey California adalah puisi,” tulis
Steinbeck, “kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan, cahaya, nada, kebiasaan,
nostalgia, dan mimpi. Cannery Row adalah kerumunan dan hamburan orang-orang,
kaleng dan besi dan karat dan serpihan kayu, aspal yang mengelupas dan tanah
yang penuh rumput dan timbunan sampah, pabrik-pabrik pengalengan sarden dan
dibangun dari pintu-pintu lipat besi, tempat-tempat kumuh, restoran-restoran,
rumah pelacuran, dan toko-toko kelontong kecil yang berdesak-desakkan, laboratorium,
dan rumah-rumah kumuh.” Itu sebagian kalimat pembuka novel yang diterjemahkan
Eka Kurniawan. Seperti gado-gado, seluruh kesan bercampur baur. Puisi dan
kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan dan cahaya, nada dan kebiasaan, dan
nostalgia dan mimpi, yang semuanya memberikan semacam kesan Cannery Row
adalah tempat yang unik dan antik. Ya, Cannery Row adalah cerita orang-orang
pinggiran, dan yang dianggap tak berguna, namun masih memiliki hati yang luas
seperti lautan yang melingkupi daerah mereka. Orang-orang yang sama yang ditulis
Steinbeck sebagai germo, tukang tipu, judi, pelacur, anak haram jadah, tapi
jika dilihat dari lubang yang lain adalah “para santo, dan malaikat dan
orang-orang suci.” Cerita masyarakat kelas kedua. Cannery Row punya Le Chong,
yang diceritakan memiliki toko kelontong ketika segala kebutuhan dapat segera
terpenuhi, toko serba ada yang tak pernah memberikan diskon walaupun barang
dagangannya telah digigit tikus-tikus pengganggu. Cannery Row punya Doc, lelaki
tua yang gandrung dengan hewan laut, yang sering dicarinya di sekitar pesisir pantai California, pria aneh yang sering menyalurkan pesanan berkilo-kilo hewan laut
ke universitas-universitas, laboratoriun, bahkan museum, juga seseorang yang
menempati Western Biological, gedung yang befungsi sebagai laboratorium tempat menyimpan benda-benda aneh, segala jenis binatang-binatang laut, zat-zat
beracun, obat-obatan yang sulit diketahui untuk apa menyimpannya, dan
benda-benda yang diawetkan di dalam stoples yang berisikan ramuan khusus. Doc
memiliki Franky seorang bocah gangguan mental yang hanya mau tinggal
bersamanya di sebuah lemari yang disenanginya. Cannery Row memiliki Dora Flood, perawan tua berumur 50 tahun dengan gadis-gadis peliharaanya. Si induk semang yang
memiliki gaya etika seperti orang terhormat dari rumah pelacuran bernama Bear
Flag Restauran dengan insting bisnis yang memukau, yang membantu tagihan-tagihan
toko kelontong di sekitar Cannery Row. Di Bear Flag, siapa pun bisa memesan
segelas bir dengan memakan sandwich –suatu
istilah bagi orang-orang dewasa yang sering berdatangan di Bear Flag. Di
Cannery Row ada Mr. dan Mrs. Molly, pasangan suami istri yang menjalani hari
tuanya dengan tinggal di dalam pipa ketel uap bekas yang dibuang begitu saja di
hamparan tanah kosong. Dengan jeli mereka menyulap pipa-pipa bekas sebagai
tempat tinggal bagi gelandangan-gelandangan dengan cara menyewakannya. Di
Cannery Row tinggal juga Henry, pria yang senang melukis menggunakan kulit
kacang, tapi lebih suka membuat perahu sepanjang sepuluh tahun dan tak pernah
dibawanya berlayar karena selalu dibongkarnya untuk dibuat kembali dari awal. Dan,
Cannery Row juga memiliki Mack, seorang pemimpin dari segerombolan yang ia sebut anak-anak, yang
mempunyai kejeniusan seorang pengangguran untuk bertahan hidup dari keacuhan
Cannery Row, dengan rela bekerja apa saja melalui tipuan-tipuan handalnya. Mack
tinggal di sebuah bangunan tak terawat yang mirip gudang—setelah dipinjamkan
oleh Le Chong dengan sedikit tipuan yang cerdik-- bersama Hazel, seorang pemuda
26 tahun yang pernah bersekolah di sekolah tempat anak-anak bermasalah. Hazel memiliki kecakapan berbicara yang bisa memancing obrolan dengan menjebak lawan
bicaranya tapi tak memahami dengan baik apa yang seringkali diomongkan, bersama
Eddie, seseorang batender pengganti di sebuah pub bernama La Ida yang sering
kali mengumpulkan sisa-sisa bir, wiski, scotch, anggur, rum, gin, atau minuman
apapun yang tidak dihabiskan dari para pelanggan di bawah meja kerjanya untuk
dibawa pulang agar dapat diminum bersama lainnya, bersama Hughie yang memiliki
sedikit kecerdasan ketika memanfaatkan barang-barang bekas yang dipungutnya
entah di mana dan mampu diubahnya menjadi tempat tidur sederhana yang tidak
dipunyai teman-temannya, bersama Jones seseorang yang rela bekerja apa saja
untuk membantu kelompoknya agar dapat menikmati hari-hari tanpa harus
kelaparan, dan anggota terakhir, Gay,
pria yang memiliki kecakapan bak montir berbakat yang mampu menyulap seonggok
truk yang ditinggal begitu saja menjadi alat transportasi menguntungkan
bagi mereka. Mereka semua tingga di tempat bernama Palace Flophouse yang
dipermak menjadi tempat tinggal seadanya dari barang-barang rongsokan. Di
Cannery Row mereka semua saling bersinggungan, sehari-hari bertukar sapa, di
antara bising dan busuknya tempat tinggal yang asin dibawa angin laut. Tapi,
selalu ada saat-saat kebaikan entah muncul dari mana yang membuat satu dengan
lainnya harus memberikan yang terbaik untuk menunjukkan simpati dan tentu,
kebaikan itu sendiri. Dan, kebaikan itu adalah pesta sederhana yang menyatukan
mereka di bawah suatu persahabatan di malam hari yang dirancang oleh Mack
beserta gerombolannya. “Si Doc itu sahabat sialan yang baik hati, ia akan
memberi kalian seperempat galon setiap waktu. Ketika tak sengaja aku terluka
ia menyiapkan perban baru setiap hari. Sahabat sialan yang baik hati.” “Aku
telah berpikir sangat lama… apa yang akan kita lakukan untuknya—sesuatu yang
manis. Sesuatu yang ia suka.” Kemudian rencananya ini menyebar dari mulut ke
mulut seperti rambatan angin yang menyelinap ke setiap jendela untuk memberikan
kejutan terhadap Doc–dan akhirnya adalah pesta dan kebahagiaan bagi mereka bersama.
Sangat jarang menemukan orang semacam Mack, apalagi seorang gelandangan yang
memiliki hati murni untuk membalas kebaikan seseorang dengan sesuatu harta yang tidak ia
miliki di sepanjang hidupnya. Di mana-mana suatu pesta perayaan
seringkali dilakukan oleh orang-orang berduit, orang-orang yang memiliki akses
yang besar terhadap kemeriahan dan keberlimpahan. Dengan tujuan kegembiraan
yang seringkali malah sebagai ajang pamer diri ketika mampu mengambil langkah
keberhasilan yang tak dapat orang lain tiru. Dengan kata lain suatu pesta yang
tak berfaedah, bukan sebagai ajang simpati dan terima kasih. Tapi, Pesta Mack ini
bukanlah pesta yang meriah, namun cukup untuk menarik setiap dari mereka menyiapkan
waktu dan kado khusus untuk menunjukkan kebaikan satu persatu di antara mereka.
Suatu pesta yang sebenarnya adalah balas budi bagi kehidupan mereka, yang
memiliki orang-orang yang rela melalukan apa saja demi suatu kebaikan yang
dapat dikenang bersama. Pada akhirnya suatu pesta yang dikerjakan bersama-sama
tanpa bersembunyi dari kenyataan pahit
dan kere, yang mereka alami sehari-hari. Suatu kebaikan yang akan
dibicarakan dan dibagi di sisa usia warga Cannery Row.
18 Agustus 2017
Sekali Lagi, Filsafat itu Bercakap-Cakap, Bung!
Kemiskinan sejatinya bukanlah sehari tanpa makanan, melainkan sehari tanpa berpikir. Dr. Ali Syariati
Percuma saja mempelajari filsafat
jika masih mengandaikan tindakan subjektif sebagai satu-satu kemungkinan
perubahan. Di mana-mana filsafat tidak dimulai di dalam kamar kosong. Bukan
dimengerti dengan cara memaksa diri ke dalam kubangan kesendirian. Mirip petapa
yang terasing dan mengasingkan diri.
Filsafat lahir dan hidup dengan
cara melibatkan dua atau lebih subjek. filsafat itu kata kuncinya
bercakap-cakap, berdialog. Itulah kenapa filsafat bermakna sahabat, kekasih (philos), yang berarti kita harus mencari sahabat
untuk berbincang-bincang. Dengan begitu lahir cinta (philia) dan dengan sendirinya akan saling mencintai (philein).
Bukankah percakapan yang didasari
rasa cinta di antara dua sahabat dengan sendirinya menimbulkan kebijaksanaan
(sophia). Dengan kata lain, itu berarti kebijaksanaan hanya mungkin terjadi
jika ada saling pengertian di antara dua orang yang berbeda. Saling menghargai
di antara pendapat-pendapat yang berlainan. Ya, kebijaksanaan hanya akan ada
jika ada perbedaan-perbedaan di antara dua orang. Jika tidak, otoriter namanya
jika kebijaksanaan datang dari keseragamaan. Tidak ada maknanya kebijaksanaan
jika di dasarkan atas dasar keterpaksaan.
Dari itu semua, filsafat itu sudah
dari sananya berwatak sosial. Philos yang mengandaikan percakapan di antara dua
orang, dan sophia yang mengandaikan kebijaksanaan menghadapi perbedaan dengan
sendirinya adalah ajaran moral, yaitu suatu anjuran untuk hidup secara serempak
dan gotong royong.
Maka dari itu barang siapa
mempelajari filsafat, tiada dirinya selain menjadi orang yang inklusif terhadap
keragaman. Bukan menjadi orang yang hidup layaknya katak dalam tempurung.
Hidupnya serba terbuka dan ringan menghadapi segala macam
kemungkinan-kemungkinan.
Mempelajari filsafat, berarti
menghindarkan diri menjadi seorang yang individualis. Mempelajari filsafat
berarti mau bekerja sama dengan siapapun sebagai bagian dari jiwa inklusifnya.
Mau menerima pendapat dari luar. Mau membuka diri dan memperbaiki diri menjadi
jauh lebih baik.
Kebenaran merupakan satu-satunya
harapan dan tujuan dari mempelajari filsafat. Bahkan kebenaran adalah hasrat
filsafat. Gairah yang senantiasa haus atas sesuatu. Tapi, kebenaran dalam
filsafat bukan kebenaran yang lahir dari kesendirian. Kebenaran dalam filsafat
diperjuangkan bersama-sama seperti wataknya yang sosial itu.
Itu artinya kebenaran dalam
filsafat selalu hadir dari cara percakapan yang terbuka melalui semangat
kebersamaan. Tidak ada kebenaran filsafat yang lahir dari ruang sunyi dan
gelap. Sampai kapanpun kebenaran dalam filsafat selalu berwajah ceria dan
terang.
Jadi, tanggalkan cara mempelajari
filsafat dengan hanya mengandalkan akal pikiran pribadi. Sampai-sampai tidak
ingin melibatkan diri dari percakapan. Itu terjadi akibat cara berfilsafat yang
mengartikan kebenaran sebagai sesuatu yang lahir dari refleksi pribadi. Itu
akan membuatmu menjadi seorang individu yang senang menyendiri dan
individualis. Filsafat, sekali lagi harus berdua-duaan. Berdialog.
Sekarang, keluarlah dari kamar
kesendirianmu. Cari sahabatmu, teman yang bisa kau panggil bercakap-cakap.
Berdua membincangkan segalanya, sembari menahan diri untuk menghargai perbedaan
di antara kalian. Berdialoglah, dalam keceriaan menyamput fajar kebenaran.
Sekali lagi, atas itu semua
filsafat bukan tindakan subjektif. Bukan berpikir ke dalam diri. Filsafat itu
berpikir ke luar, bekerja sama. Bercakap-cakap.
15 Agustus 2017
Norwegian Wood, Haruki Murakami
![]() |
Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Jonjon Johana
Tebal: 426 halaman
Tahun terbit: Cetakan ke enam,
Agustus 2015
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
|
CINTA memang misterius. Tak ada yang bisa menebak apa keinginan cinta. Dia universal, namun juga di waktu-waktu tertentu dia hanya mau menyinggahi hati seseorang yang memiliki keistimewaan sendiri. Cinta di lain waktu juga bisa menyeret seseorang kepada tindakan-tindakan di luar nalar, bahkan melawan kebiasaan-kebiasaan umum. Cinta juga mengajak seseorang akan mampu berbuat kepada perilaku-perilaku yang ganjil. Bahkan membuat seseorang depresi. Tapi tidak melulu soal cinta (apakah ini semua soal cinta?), Norwegian Wood milik Murakami juga mampu memberikan sisi lain dari kehidupan anak muda yang sedang di ambang batas antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Dalam konteks masyarakat Jepang tahun 60-an yang kala itu hampir semuanya gandrung dengan lagu-lagu dari (Barat) The Beatles. Namun tentu itu semua —lagi-lagi karena cinta yang mulai membentuk jalan ceritanya tanpa ada yang bakal tahu seperti apa bakal kejadian akhirnya. Semua bermula dari sebuah lagu, dan pada akhirnya kenangan yang paling kuat dari masa remaja mengemuka dan sulit dibendung. Ingatan yang kuat memang akan selalu keluar begitu saja dari sudut kepala jika memang sengaja atau tidak, “disentil” oleh “sesuatu”. Sesuatu itu datang kepada Watanabe melalui Norwegian Wood, lagu yang disukai oleh kekasih mantan pacar sahabatnya. Lagu itu akan menjadi jangkar ingatan yang bakal menghubungkan Matanabe dengan cerita masa lalunya. Novel ini secara interior dituntun oleh ingatan Watanabe seluruhnya. Terutama tentang masa-masa kritis yang dialaminya bersama Naoko dan Midori,dua gadis yang menjadi pusat kehidupan Watanabe. Bukan saja cinta –apakah tepat disebut cinta— melainkan juga sisi psikologis dari akibat-akibat yang tak diduga dari perasaan-perasaan yang tak mampu digambarkan. Perasaan-perasaan itu, yang bakal menjadi kekuatan dari hampir semua cerita di novel ini, adalah jaringan pelik yang menyedot Watanabe, Naoko, dan Midori ke dalam pusaran kejadian-kejadian yang mungkin hanya mereka sendiri mampu merasakannya. Yang paling menentukan dari cerita melalui novel ini adalah kematian orang-orang terdekat Watanabe yang memberikan efek besar, terutama kepada Naoko, orang yang dekat Watanabe yang sebelum kematian (bunuh diri) Kizuki merupakan pacar dari Naoko. Dari sinilah ada semacam perasaan ganjil –dapatkah Anda melakukannya: menjalani hubungan khusus dengan mantan pacar sahabat Anda yang mati bunuh diri?—bagi Watanabe untuk melanjutkan “kisah” yang sempat mengalami guncangan di antara mereka bertiga yang akhirnya membuat Watanabe pun menjalani hubungan yang ganjil dengan Naoko. Gantung diri yang dilakukan Kizuke berdampak traumatis bagi Watanabe dan Naoko. Bagi keduanya, terutama kepada Watanabe, kehilangan Kizuki bukan saja kehilangan teman jalan, melainkan adalah sekaligus teman cerita yang “nyambung” dari sekian banyak teman sekolah Watanabe (walaupun kelak Watanabe akan menemukan temannya yang unik bernama Nagasawa yang juga menyenangi sastra dan senang bermain perempuan di saat perguruan tinggi). Bagi Naoko kematian tanpa sebab Kizuki, juga berdampak mendalam bagi jiwanya sampai akhirnya dia harus pergi ke suatu tempat yang dijadikan sebagai “rumah sakit” khusus untuk memulihkan “perasaan” dan kondisi kejiwaannya. Di saat itulah, ketika di masa penyembuhan Naoko, Watanabe menjadi semakin berarti bagi dirinya, tapi juga semakin krusial bagi keberlanjutan kesembuhan kesehatan Naoko. Kehidupan masa muda yang belum terikat “komitmen” juga membuat Watanabe menjalani hubungan khusus dengan seorang mahasiswi dari kampus tempat mereka belajar. Midori yang disebut Watanabe sebagai gairah yang “hidup”, “berjalan”, dan “dinamis”, dibandingkan Naoko yang “lembut”, “tenang”, dan “dalam” adalah sisi lain yang secara bersamaan tidak bisa tidak mengambil tempat lain dalam jiwa Watanabe. Jadi hubungan yang nampak kompleks ini (di cerita ini juga menampilkan sisi hubungan Nagasawa dengan Hatsumi –Hastumi juga mati bunuh diri), apalagi dengan “hubungan” Watanabe dengan Reiko, orang dekat Naoko di tempat penyembuhan yang juga memiliki sisi hidup yang tak biasa (Reiko seorang perempuan paruh baya yang kehilangan kemampuan bermain pianonya akibat gangguan kejiwaan yang melandanya dan di suatu kisah hidupnya tak disangka-sangka terjebak hubungan seks dengan murid perempuannya yang berumur 14 tahun di saat mengajar piano) , bakal membuat cerita di antara mereka memang benar-benar di luar dari hubungan orang-orang normal. Dan memang novel Murakami ini adalah cerita orang-orang ganjil dengan kebiasaan-kebiasaan yang tampak aneh (di beberapa bagian antara hubungan Watanabe dengan Naoko, dan Watanabe dengan Midori, hubungan mereka akan sampai kepada adegan-adegan seks yang membuat mereka menikmati dan tidak menyesalinya. Dan oh iya, Watanabe adalah tokoh yang digambarkan senang dengan membaca). Namun, dari semua keunikan tokoh-tokohnya, mereka memiliki kesamaan berupa memiliki minat yang sama terhadap sastra dan lagu-lagu barat (Mungkin ini kesukaan Murakami terhadap lagu-lagu dan literatur Barat). Dilema yang ditunjukkan Watanabe adalah akhir cerita setelah kematian Naoko (ya, Naoko akhirnya mati gantung diri di sebuah hutan tanpa sebab yang pasti, seperti Kizuki) adalah teka-teki, apakah akan bertahan dengan kenangan cintanya terhadap Naoko, atau tetap melanjutkan hubungannya dengan Midori, sosok unik yang juga banyak memberikan pengaruh terhadap Watanabe. Tapi, cinta memang misterius. Tak ada yang bisa menebak apa keinginan cinta sampai-sampai menghempaskanmu bersama kesepian yang suram dan cita-cita yang tiba-tiba jatuh berserakan.
10 Agustus 2017
Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Albert Camus, et.al.
"Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya." Oktavio Paz
"Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan." Gabriel Garcia Marques
Saya harus segera menuliskan ini:
menulis itu pekerjaan yang begitu melelahkan, bahkan menyulitkan pikiran.
Perasaan ini seketika saja muncul dalam benak saya ketika membaca buku Menulis
Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, buku yang diterbitkan Oktopus dari
Yogyakarta. Menulis bukan hal gampang seperti yang pernah dikatakan Pramoedya
bahwa jika ingin menulis ya menulis saja. Kalimat ini memang terasa satire
keluar dari orang sekaliber Pram. Apalagi sangat gampang bagi Pram
mengucapkannya dengan beragam pengalaman semasa hidupnya jika dibandingkan
dengan waktu sekarang. Menulis memang di satu sisi bukan bakat yang secara
natural dimiliki oleh kita seperti saat
kita pergi di hutan dan kemudian mampu beradaptasi. Atau seperti anak lembu
yang seketika mampu berjalan sedetik ketika ia keluar dari perut ibunya.
Menulis, ketika membaca beberapa pengalaman dari penulis-penulis dunia yang
disampaikan buku ini nampak sebagai pekerjaan orang-orang yang mau dan rela
menghabiskan banyak waktunya untuk menghargai gagasan-gagasannya. Sebenarnya pertanyaan
pentingnya apa yang indah dari menulis, ketika di waktu yang bersamaan
seseorang bakal menjalani waktu yang panjang, pinggang yang encok, mata yang
terpapar udara siang malam, debu-debu yang bertebangan, dan kehilangan banyak
energi berbulan-bulan? Apalagi apa yang
bisa didapatkan dari pengalaman seseorang yang sebenarnya tak bisa
dipertukarkan begitu saja. Pengalaman seseorang adalah peristiwa yang unik dan
berbeda. Dia tak bisa dibagi untuk siapapun. Yang bisa dilakukan hanya
menyampaikan cerita atas pengalaman
itu sendiri. Sebab pengalaman hanya mampu terjadi selama sekali. Mungkin karena
itu tidak semua penulis dunia mau menceritakan pengalamannya ketika menulis. Bukan
karena itu adalah peristiwa yang tak memiliki sisi sosial, melainkan menurut
saya pengalaman setiap penulis yang dikenal dunia memiliki sisi lain yang
menyakitkan. Sisi yang mengundang memori yang sudah lama dipendam. Akibatnya,
kita hanya mampu menebak-nebak kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dalam
hati para penulis-penulis besar selain daripada keinginan mereka untuk
bersuara? Barangkali yang indah dari pengalaman menulis penulis dunia adalah –sudah
tentu- adalah kesempatan yang kita miliki untuk membaca karya-karya mereka. Banyak
ragam kemungkinan yang mungkin akan terjadi dari kepala sang penulis dengan
karya yang sudah mereka lahirkan. Berawal dari gagasan sederhana yang mereka
miliki, sudah pasti bakal banyak godaan dan hambatan yang bakal mengganggu
proses kreatif sampai lahir karya mereka –coba kita bayangkan bagaimana seorang
penulis yang harus diusir dari negaranya hanya karena aktifitas menulisnya dan
mendapatkan pelbagai jenis siksa psikologis dan sosial. Selama jarak itu masih
ada, maka penghargaan terhadap karya-karya mereka patut kita hidupkan dengan
cara membacanya, mendiskusikannya, mencatatnya, atau kalau perlu mengkritiknya.
Dengan cara itu maka makna kelestarian dari suatu karya tulis menjadi bukan
saja tanggung jawab seorang penulis, melainkan juga menjadi tugas bersama para
pembacanya. Menulis mungkin saja adalah bagian yang paling intim di hati setiap
penulis. Sebagai suatu keadaan spritual. Paulo Coelho bahkan menyebutkan
dirinya sempat terperangkap di dalam tulisannya sendiri. The Alchemist akhirnya menyelesaikan bagian akhirnya dengan
menuntun penulisnya larut di dalamnya. Kata Coelho, buku itu yang menyelesaikan
sendiri bagian akhirnya. Pengalaman semacam ini yang tidak mungkin dibagi
kepada setiap orang. Pengalaman yang hanya dimiliki satu orang di jagad raya
ini. “Pengalaman manusia yang esensial”, kata Jorge Luis Borges, yakni
pengalaman penulis yang memerlukan kesendirian, dan dia dapat mengambil tempat
di dalamnya. Itulah sebabnya setiap penyair dan filsuf misalnya, kata Foucault,
“tidak terbentuk dengan cara yang sama”. Tapi kata pepatah pengalaman adalah
guru yang paling berharga. Toh jika pengalaman dapat juga dirasakan bagi dua
orang yang berbeda dan tidak saling mengenal, cara Betrand Russell mungkin
patut dicoba: meniru gaya menulis penulis yang disukai. Walaupun dalam waktu
yang lama dia menyebutkan si penulis yang memfoto copy gaya penulis idolanya
akan berhadapan dengan dilema ontensitas dirinya. Di titik inilah maka
seseorang harus siap mengambil sikap untuk mencari gayanya sendiri. Di titik
ini pulalah, toh jika menulis itu indah, maka tidak ada makna apapun yang sama
tentang kata indah itu sendiri. Kemungkinan besar, itu semua akibat setiap
penulis lahir dari kesendiriannya masing-masing.
08 Agustus 2017
Menghayati Bunyi
Ada yang ganjil ketika semalam saya
mulai memejamkan mata. Setelah membuka-buka artikel via dunia maya, saya lekas
ke pembaringan. Segera lampu dipadamkan.
Sebelumnya, saya menengok jam tangan yang tergeletak di dekat kipas angin yang
berputar: sudah hampir pukul 12 malam. Lekas saya hamparkan badan di atas
kasur. Istri saya sudah lebih duluan rebahan.Waktunya untuk tidur.
Tidak lama berselang, terdengar
bunyi-bunyian di atas kepala saya. Tripleks plafon di atas kepala seperti digosok-gosok
sesuatu. Seperti ada yang berjalan di atas plafon kamar.
Tapi, beberapa detik kemudian
bunyinya seperti langkah yang tergesa-gesa. Seolah-olah ada binatang melata
yang berlarian di atasnya. Bunyi kakinya terburu-buru. Kadang pelan, kadang
sebaliknya.
Tokek, pikir saya. Itu pasti tokek.
Sehari sebelumnya memang ada tokek yang menyelinap masuk ke kamar. Tubuhnya lumayan
besar dengan warna keabu-abuan yang sedikit pucat dengan garis-garis berwarna
orange. Garis-garis bergerigi kecil itu teratur sampai di ujung ekornya. Kulitnya
kasap sedangkan kepalanya seperti bentuk kepala cecak, tapi lebih besar seperti
bola pingpong. Agak mirip ujung kepala ular. Matanya besar berwarna abu-abu
kehijauan dengan bintik hitam di tengahnya. Dia lebih banyak diam seperti
menunggu sesuatu. Jika pandangan lepas darinya, dia sudah bergeser beberapa
senti dari tempatnya semula.
Ketika saya mengetik di waktu
malam, seringkali dia tiba-tiba sudah bercokol di tembok sebelah jam dinding berwarna
merah bergambar Mickey Mouse. Kadang dia kaget melihat saya yang seketika menatapnya.
Jika sudah begitu, sontak dia buru-buru melangkah menuju belakang lemari besi
yang tidak jauh di sudut kamar. Saya pikir saya saja yang takut, ternyata dia
juga takut.
Memang di rumah tokek itu sering
kami lihat ketika malam. Tiba-tiba dia biasanya sudah nongol di atas dinding
dapur. Ketika ingin buang hajat, hampir di waktu malam-malam tertentu kami
bakal melihatnya. Ketika pagi tiba, dia sudah kembali ke tempat seringkali ia
bersembunyi. Di belakang lemari kayu di kamar sebelah, mungkin.
Tapi, mana bisa itu tokek. Baru
kali ini saya mengalami kejadian seperti ini. Tidak pernah dia berjalan di atas
plafon. Itu sesuatu yang aneh. Tokek selalu berjalan secara horizontal.
Tubuhnya seringkali merayap melawan hukum gravitasi. Jarang dia melata seperti
kadal, atau biawak.
Apalagi, selama ini saya tidak
pernah mendengar bunyi langkah binatang di atas plafon kamar. Jika memang itu
tokek, mendengar langkah kaki yang berlari semacam itu sepertinya tidak mungkin.
Jarang saya melihat tokek berlarian.
Kalau diingat-ingat, binatang
melata yang pernah saya saksikan berlari itupun salah satunya adalah komodo.
Ya, komodo binatang yang dikategorikan langka itu. Di NTT, pulau komodo
tepatnya, binatang ini bebas berkeliaran di alam terbuka. Bahkan mereka hidup
berdampingan dengan warga setempat. Nah, melalui tayangan Discovery Channel, saya pernah melihat komodo berlari untuk berebut
makanan. Tubuhnya gemuk. Tapi, gesit.
Tokek binatang yang bergerak lamban.
Kaki-kakinya tidak seperti cecak. Apalagi komodo. Membayangkan tokek berlarian
macam itu, kecil kemungkinan.
Lalu,
bunyi apakah di atas sana…
Tikus, mungkin itu tikus! Tapi
suara berlari tikus terlalu cepat jika dibandingkan dengan suara kaki yang
berlari semacam itu. Saya sering mendengar suara tikus berlari. Kecepatannya
tidak seperti bunyi kaki yang barusan saya dengarkan. Ini agak sedikit lambat,
tapi tidak bisa juga dikatakan cepat. Lagian berkali-kali jika tikus rumah yang
berlari, saya sering mendengar suara decitnya pula.
Tapi, kenyataannya memang di rumah
tidak ada tikus seekor pun!
Kalau
bukan bunyi langkah tikus, lantas…
Apakah cecak? Ah, mustahil. Cecak
binatang yang tidak memiliki berat badan seperti dalam pikiran saya. Bunyi kaki
ini seperti binatang yang lebih berat dari cecak yang tambun sekalipun. Toh,
jika cecak berlari, biasanya dia juga mengeluarkan suara decak seperti tikus.
Lagian cecak lebih sering saya
lihat merayap di dinding-dinding rumah. Juga lebih banyak ketika dia
bergelantung secara terbalik di atas plafon-plafon rumah.
Jadi, kalau bukan itu semua,
gerangan apakah yang berbunyi di atas kepala saya?
Agak lama saya menebak-nebak bunyi
langkah kaki di atas plafon kamar. Menimbang-nimbang, berpikir-pikir!
Bunyi-bunyian itu akhirnya membuat
saya agak kesulitan tidur. Dalam gelap, saya masih menebak-nebak. Tokekkah itu?
Apakah tikus? Mungkinkah cecak gemuk?
Bunyi itu sudah lama pergi. Dalam
kamar gelap saya masih membuka mata.
Persoalan bunyi ini membuat saya
agak penasaran.
Nampaknya bunyi ini seolah-olah
membuat pikiran saya agak runyam. Seolah-olah bunyi-bunyian ini harus segera
saya pecahkan.
Tiba-tiba tidak lama, saya jatuh
tertidur…
Subuhnya saya terbangun seketika
akibat suara alarm handphone. Sontak
telinga saya menangkap bunyi dari jauh. Itu bunyi toa masjid. Pak Imam sedang
memimpin shalat shubuh. Sepertinya sudah rakaat terakhir.
Lantas tidak lama setelah itu saya
menujur kamar mandi. Dalam remang-remang, tokek yang biasa saya lihat di
dinding dapur tidak kelihatan. Dia mungkin di belakang lemari kamar sebelah,
pikir saya.
Walaupun begitu, bunyi-bunyian di
atas plafon semalam masih menyimpan tanya di benak saya. Bunyi-bunyi itu
berbeda dengan suara motor tetangga, bunyi air mengalir, bunyi api
penggorengan, suara pesawat terbang, suara kokok ayam, suara kipas angin, anak-anak
yang berlari, desahan angin, suara pembawa acara berita di televisi, bunyi
detak jam di atas dinding, bahkan bunyi suara istri saya, atau bunyi notifikasi
gadget yang seringkali membuat saya
terburu-buru mengangkatnya. Semua bunyi-bunyian itu bisa saya kenali seketika
lantaran terbiasa mendengarnya. Sehari-hari, malah.
Bahkan, semua bunyi yang hinggap di
telinga saya, datang begitu saja tanpa menyisakan penasaran macam begini.
Sekarang, saya tahu bunyi di atas
kepala saya semalam itu memang bunyi langkah binatang? Bunyi langkah yang
ganjil. Tapi…
Puki
mak! Kenapa tiba-tiba saya mau mempersoalkan bunyi-bunyian segala! Bukankah
semua bunyi-bunyian selama ini tidak pernah saya pertanyakan!? Seberapa
pentingkah bunyi-bunyian harus dihayati!?
Keparat!
Tunggu sebentar! Hey, bunyi apa
itu!? Dapatkah Anda mendengarnya, barusan?
---
*Terbit sebelumnya di kalaliterasi.com
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...
