08 Mei 2015

madah limapuluhtiga

Namun aku tak bisa menghakimi situasiku sendiri; aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menantang keabadian dan karena itu aku tak mengerti apaapa. Aku tak kehilangan apaapa: meski banyak hal seharusnya kurindukan, seperti rasa manzanilla atau waktu yang kuhabiskan berenang di sungai kecil di dekat Cadis saat musim panas tiba- sayangnya kematian telah mengeruhkan segalanya.

Seperti itulah Sartre menulis bait dalam cerita pendeknya, The Wall. Cerita pendek yang diterbitkan di 1933. Ungkapan itu  adalah ungkapan Ibbieta, salah satu tokoh yang genting menghadapi waktu ekseskusi kematiannya. Ibbieta tak sendiri, ia bersama dua tokoh lainnya yang mengalami hal yang sama untuk ditembak mati; Juan dan Tom. Diceritakan di sana, baik Ibietta, Juan dan Tom adalah tahanan yang tanpa melalui peradilan harus menerima keputusan eksekusi mati. Kesalahannya masingmasing adalah menyembunyikan tokoh pemberontak, terlibat gerakan subversif  dan merupakan bagian keluarga dari seorang pengagum anarki.

Melalui tiga tokoh ini, nampaknya Sartre berusaha menyampir pandangan eksistensialisnya dalam kaitannya dengan kematian. Di cerpen yang lumayan panjang itu, dari sikap tokohtokohnya, saya bisa menangkap suatu sikap eksistensial bagaimana manusia tengah menghadapi batasanbatasan keberadaannya. Suatu sikap yang menyadari bahwa kebebasan secara eksistensial berhadapan langsung dengan keadaan yang tak dapat dilampauinya. Pertama, Sartre mengangkat metafora tahanan sebagai keadaan yang melingkupi eksistensi, dengan tembok sebagai perbatasan antara kebebasan dan keterpenjaraan. Dan yang ke dua adalah kematian itu sendiri.

Kematian, biar bagaimanapun adalah kepastian yang tak bisa disisihkan dalam belantara nasib manusia. Ia bisa saja terselip dalam suatu momen hidup yang tak disangkasangka. Datang diantara beragam pengalaman yang rupamacam dan dengan suatu kekuatan purba memutus semua mata rantai tepat di tengahtengah ketidaktahuan kita. Kemudian pergi membawa keberadaan kita dan hanya menyisakan tubuh yang tertinggal waktu. Sebab itulah kematian adalah ihwal yang misterium. Fenomena yang tak memiliki riwayat identitas. Datang dan kemudian tetiba pergi. Kematian memanglah kematian.
   
Tapi bagaimanakah jika ujung dari keberadaan kita sudah merupakan terang yang benderang. Di mana suatu pagi yang belum biru seluruh adalah akhir dengan harus melalui cara letusan pelor panas. Begitulah nasib tiga tokoh yang diungkap Sartre dalam ceritanya; ditembak mati. Takdir yang harus diputuskan tanpa pengadilan. Kematian yang harus di lalui di suatu pagi.  Sementara sebelumnya tersisa satu malam sebagai waktu yang tersisa jelang eksekusi.

Dan di dalam masa penantian itu, waktu adalah medium eksistensi untuk dihayati tiap momennya. Di sanalah kesadaran terhadap waktu nampak di dalam penghayatan, menjadikannya bagian yang dikontruksi kembali untuk diselami. Di situasi itu, barangkali manusia menjadi mahluk yang berbeda, menjadi mahluk yang mewaktu.

Seperti itulah yang dialami oleh Ibbieta dalam menunggu kematiannya. Di malam menjelang kematiannya, dengan segenap kesadarannya, waktu dikonstruksinya menjadi totalitas yang menegasi liniearitas spasial. Waktu dimasukinya dengan aliran kesadaran penuh yang dibentangnya dengan seluruh totalitasnya. Dalam keadaan ini ada dua hal yang menjadi ciri eksistensi manusia; kecemasan dan ketakutan. Tetapi hanya kecemasanlah yang mengindikasikan esensialitas manusia sebagai penanda kebebasannya.

Mengacu dalam pemikiran Heidegger tentang kecemasan, adalah keadaan paling dasar dari perasaan yang tak memiliki kejelasan atas objeknya. “Objek rasa cemas bukanlah mengada di dunia ini. Karena itu rasa cemas pada hakikatnya tidak memiliki isi persoalan”  ungkapnya. Melalui ciri ini, kecemasan merupakan perasaan yang berbeda dari ketakutan yang menjadi bagian dari keseharian. Ketakutan selalu mengandaikan kepastian yang tampak benderang sebagai konsekusensi atas tindakan, sementara kecemasan adalah peristiwa yang tak mampu memproyeksi keadaan apa yang dihadapi; suatu keadaan di hadapan ketidakpastian yang tak terjelaskan; suatu misterium tanpa dasar. Sebab itulah kematian yang di hadapi, walaupun sudah merupakan suatu peristiwa yang akan di hadapi, tetap merupakan ihwal yang tak memiliki isi. Dan “sesuatu yang tak memiliki isi” itulah yang dihadapi Ibbieta.

Begitu juga yang dialami oleh Tom; suatu kesadaran yang dimunculkan semenjak ia merenungi waktu sebagai selaput tipis yang akan membawanya pada kematian. Nampaknya di dalam cerpen ini, watak yang paling menunjukan bagaimana kesadaran eksitensial di narasikan Sartre adalah pada tokoh ini; seorang aktivis yang terlibat dengan gerakan pemberontakan. Di masa penantian di dalam penjara, pasca perbincangannya dengan Ibieta menyangkut kematian, melalui kecemasannya ia mengajukan pertanyaan; benarkah bahwa semua hal dalam hidup ini akan berakhir?

Di cerita itu tak ada jawaban untuk pertanyaan yang diajukan Tom. Sepertinya hal itu dibiarkan menganga tanpa dialog dari Ibbietta yang bisa saja dijawabnya. Dialog itu mengibaratkan suatu perbincangan yang siasia, tanpa arti, sebab barangkali “akhir” bukanlah pokok yang menjadi soal utamanya.  Dari filsafat Sartre kita bisa tahu, “akhir” sama saja sebagai suatu batas yang secara paradoksal menganggap “permulaan” sebagai titik muasal manusia.

Karena itulah dalam cerita itu, Sartre mengawali setting cerita dengan ketiga tokoh yang begitu saja dilempar ke dalam ruangan besar sebagai penjara bagi mereka. Melalui narasi semacam itu, manusia ingin digambarkan oleh sahabat Albert Camus   ini sebagai mahluk yang “terlempar” begitu saja ke dunia tanpa niat sebagai dasarnya.  Ada dengan “terlempar” begitu saja, tanpa asalusul, tanpa riwayat. Semacam kehadiran yang tidak didasari oleh basis metafisika seperti agamaagama dengan menyebutkan asal muasal dari suatu peristiwa dua manusia asal yakni Adam maupun Hawa.

Tidak seperti agamaagama yang menyertakan asalasul sebagai riwayat kehadiran dalam sejarah, Sartre mengandaikan dengan demikian tak ada alasan untuk mengkhawatirkan  suatu akhir, termasuk kematian. Sebab “kematian menyingkirkan semua makna dari kehidupan” sebutnya. Maka itulah eksistensilah yang harus menjadi pusat mengada manusia,  bukan kematian itu sendiri.

28 April 2015

madah limapuluhdua


Tak saya duga sebelumnya, di Soho, pusat perbelanjaan di tengah London yang terkenal itu, ada dua tempat yang secara historis mengingatkan kita pada komunisme. Di pusat perbelanjaan itu, yang banyak menjual produk merekmerek terkenal dunia, terdapat sebuah gedung yang pernah ditinggali Marx semasa di Inggris. Juga sebuah restoran Cina yang menggantung perkataan pimpinan revolusi negeri Tiongkok, Mao, di depan pintu masuknya sebagai semboyan barangkali, "barang siapa tak kuat memakan cabe, maka dia bukanlah seorang yang revolusioner". Ini suatu yang unik, juga sesuatu yang sesungguhnya kontras.

Soho di kota London, dari masa lalu adalah tempat dengan sejarah yang panjang. Tapi ringkasnya, di sana dulunya adalah tempat tinggal kaum pekerja. Di Inggris ketika revolusi industri pecah dan bergaung besar, saya kira tempat itu adalah tempat yang tak berpenanda kemakmuran. Seperti tempat kumuh umumnya, Soho pastinya adalah tempat yang tak terawat, tempat yang kotor dan tak terurus.

Di tempat itulah Marx tinggal selama di Inggris. Melarat dan kemudian mati. Dan di situlah kontrasnya, di mana Soho yang dulunya adalah tempat kumuh kelas pekerja, kelas yang dibela komunisme, kini adalah tempat pusat perbelanjaan yang glamour,  tempat di mana kiblat suatu gaya hidup kelas atas.

Di tempat yang glamour itu, nampaknya kehidupan tak pernah berhenti. Seperti tempat hiburan lainnya, di Soho, orangorang datang dan berkumpul untuk menghimpun sekaligus melepas hasrat untuk mengkonsumsi. Mengisi bangunanbangunan tinggi dan pulang dengan hati yang tak sungsang.

Saya tak pernah ke Soho, tapi dari fotofoto yang saya lihat melalui jejaring internet, saya bisa tahu bagaimana suatu ruang yang muram dapat dengan cepat berubah total menjadi tempat yang tak pernah berhenti menyedot kapital.

Mungkin penjelasan tentang ihwal itu adalah bagaimana betapa kuatnya pertukaran modal dapat menjadi sumbu suatu perubahan. Ruang biar bagaimanapun, seperti yang dibilangkan Levebre adalah keberadaan yang termuati kepentingan di dalamnya. Ruang biar bagaimanapun, di saat kapital begitu gesit berputar, adalah media yang sungguhsungguh dahsyat menggerakkan urbanisasi.

Ruang, di dalam pandangan Levebre sebenarnya adalah realitas yang sesungguhnya tak suci dari perbuatan manusia. Ini artinya ruang adalah realitas yang diproduksi manusia secara sosial. Di dalam pengertian ini, ruang berarti realitas yang secara kontinyu terbentuk atas dasar modalitas yang terus menerus dipertukarkan.Di saat itulah ruang akhirnya menjadi entitas yang sarat kepentingan. Di saat itulah ruang terus diproduksi berdasarkan imajinasi yang menyertainya.

Sebab itulah Levebre menyebutnya ruang yang telah dipolitisasi. Dalam istilah sosiolog Prancis itu, ruang yang telah diberlakukan demikian disebutnya sebagai ruang abstrak. Sebagaimana di dalam konteks masyarakat kapitalisme lanjutan, ruang abstrak disituasikan menjadi pengetahuan yang berciri ideologis sehingga mengaburkan kondisi alienatif yang terjadi pada level praktik. Di sanalah ruang akhirnya disituasikan dalam alam imaji sebelum menjadi peta kognisi bagi ruang kongkrit.

Barangkali itulah yang terjadi di sana. Di soho ruang yang berwajah muram, tempat kumuh kelas pekerja tinggal, berubah menjadi ruang pusat kapital berputar. Juga, di Soho, urbanisasi begitu gencar mengubah pusat menjadi betulbetul "pusat". Dan di Soho, pusat itu adalah kiblat suatu gaya glamour ditegakkan.

Syahdan, apa yang terjadi di Soho juga menjadi tren pembangunan di manamana. Terutama di dunia berkembang yang pesat membangun sentralsentral perubahan dengan menyulap daerahdaerah menjadi ramai. Di mana dengan satu rumus yakni keramaian yang bisa menjalankan roda pertukaran sehingga kapital terus diakumulasi. Melalui cara itu maka infrastruktur dibangun, jalanjalan diperbaiki, gedunggedung ditambah dan simsalabim suatu tempat menjadi ruang yang dikapitalkan.

20 April 2015

Malaikat Buku-Buku


Lukisan Jibril (Arab)/Gabriel (Inggris) dari Abad 12

FILSUF muslim menyebutkan segala yang ada memiliki malaikatnya masingmasing. Misalnya, untuk urusan wahyu ada malaikat Jibril, urusan rezeki ada malaikat Mikail, untuk soal nasib ada Mungkar dan Nakir. Di Islam, sepuluh malaikat dan tugastugasnya wajib diketahui, walaupun disebutkan oleh beberapa literatur bahwa jumlah malaikat sebanyak bintangbintang di langit.

Jika demikian, saya berandaiandai ada juga malaikat buku. Namanya adalah malaikat Al Alim. Tugas utamanya adalah menjaga bukubuku agar dapat terawat dengan baik. Tujuannya agar bukubuku tak punah hingga akhir zaman. Selain itu, tugasnya adalah mencatat seluruh nama dan jenis buku yang ada di muka bumi. Seharihari, tugas lainnya adalah mengatur peredaran bukubuku di dunia. 

Tugas malaikat buku tak kalah berat dari malaikat Mikail yang mengatur setiap rezeki seluruh mahluk di setiap sudut mayapada. Berbeda dari itu, malaikat Al Alim mengatur dan mencatat siapasiapa yang menggunakan buku setiap detiknya. Di saat demikianlah ia harus terus mengawasi peredaran dan penggunaan buku di tiap tangan manusia.

Karena ia malaikat buku, ia sering kali mengunjungi tempat bukubuku disimpan. Dan tempat yang paling pertama ia kunj
ungi sejak ayam berkokok di awal pagi adalah rakrak buku. Di situ, dijelaskan dari tutur lisan ahliahli makrifat, ia akan mencatat bukubuku apa saja yang sudah dibaca, yang akan, dan yang belum dibaca. Untuk buku yang sudah dibaca, konon akan dicantumkannya satu bintang di buku catatannya yang bernama Al Kitabul Al Akbar. Bila belum, maka akan dibiarkannya kosong. Begitu  seterusnya dari amanah yang menjadi tugasnya.

Tempat yang paling disenangi malaikat Al Alim selain tokotoko buku adalah perpustakaan. Di sanalah waktu terbanyak ia habiskan. Sebab, di tempat inilah banyak bukubuku tersimpan dan beredar sehingga ia harus segera mencatatnya. Dari kitabkitab kuna malaikat Al Alim punya kolom khusus untuk bukubuku perpustakaan. Terutama untuk kolom bukubuku yang tak pernah sehari pun keluar beredar. Untuk bukubuku ini ia berikan tanda khusus. Dalam kitab itu disebutkan tanda itu berupa tanda seru. Konon tanda seru ini akan ia perlihatkan kepada Tuhan pemilik bukubuku, bahwa betapa malasnya umat manusia membacanya.

Di perpustakaan, selain mencatat peredaran buku, ia juga mencatat orangorang yang berada di dalam perpustakaan berdasarkan aktivitasnya terhadap buku. Secara umum aktivitas orang di perpustakaan ia bagi menjadi tiga golongan. Pertama, orangorang yang duduk tenang membaca buku. Kedua adalah golongan yang menggunakan perpustakaan hanya untuk dudukduduk bersenda gurau, dan yang ketiga adalah mereka yang meminjam dan datang untuk mengembalikan buku. Dari tiga kelompok ini, golongan ke dua adalah  jenis manusia yang dibenci malaikat  Al Alim.

Selain di perpustakaan, ada tempat lain yang sering dikunjungi malaikat buku. Tempat itu adalah rumahrumah yang memiliki perpustakaan pribadi. Di rumah yang memiliki rakrak buku itu, disebutkan dalam hadishadis agama terdahulu bahwa di tempat itulah Al Alim senang berlamalama, sebab ia sangat suka dengan bebauan rumahrumah yang menyimpan bukubuku. 

Bahkan dari salah satu kitab yang mengulas malaikat Al Alim beserta kemuliaannya, diselasela kunjungannya di rumahrumah demikian, ia sering kali membuka bukubuku yang ia senangi untuk dibaca. Dalam suatu riwayat, jika sang pemilik buku tibatiba tidak sengaja akan memergokinya, malaikat buku dengan sekejap cahaya akan segera mengubah wujudnya menjadi capung atau kupukupu.

Dari seluruh tugas Al Alim dengan bukubuku, tugas terberatnya adalah menjaga agar ilmu dapat terus abadi di muka bumi. Sebab itulah malaikat buku sangat mencintai orangorang yang berilmu, apalagi orangorang yang sangat menghargai buku. Pasalnya, malaikat yang sangat disenangi Jibril ini, melihat korelasi ilmu ditentukan dari sikap perlakuan orang terhadap buku. 

Menurut sahibul riwayat, dari seluruh manusia yang dikutuk Al Alim adalah orangorang yang tak menghargai ilmu. Dan orangorang seperti itu, dari pertama diciptakannya manusia, malaikat buku sudah tahu bahwa orang yang demikian adalah orang yang tak mencintai buku. Itulah mengapa di akhir dunia nanti, Al Alim akan banyak melaporkan orangorang dengan jenis ini.

Tetapi ada suatu riwayat lain yang mengulas tentang orangorang yang dihinakan oleh Malaikat Al Alim. Disebutkan di sana adalah orangorang munafikun yang berilmu dan memiliki buku berjubel tapi tak pernah dirawatnya dan dibacanya. Juga orangorang yang senang membuang bukubuku apalagi membakarnya. Apalagi jika ada pemerintahan tertentu yang menggunakan kekuasaannya untuk melarang peredaran bukubuku bagi masyarakat. Kepada merekalah malaikat Al Alim akan langsung mencatatnya di kitab al akbarnya dengan label: terhina.

Syahdan, disebutkan oleh riwayat itu pula, malaikat buku seringkali dapat ditemui bagi orangorang yang membawa buku ke manamanapun ia pergi. Di situ ditulis, syarat utamanya hanyalah satu: cintailah buku. Dengan begitu, kita dapat menjumpainya jika beruntung. Sudahkah anda bertemu dengannya?

15 April 2015

Fiksi Lotus


Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah toko buku. Maksud kedatangan saya ke sana tentu ingin membeli buku. Kedatangan saya ke toko buku ini sebenarnya terbilang jarang, sebab saya lebih senang mendatangi tokotoko buku kecil yang lebih gampang saya datangi. Saya datang ke sana dengan satu alasan: buku yang saya cari hanya ada di toko buku itu. Alasan saya ini sejatinya hanya dugaan belaka. Tapi hitunghitungan sudah lama saya tak menyambangi toko buku yang dimaksud, maka saya datang juga ke sana.

Awal cerita kenapa saya datang ke toko buku itu, karena hasil percakapan via BBM dengan seorang penjaja buku online. Suatu waktu, via display picture BBMnya, terpampang gambar buku: fiksi lotus judulnya. Itu saya tahu setelah beberapa kali picture zoom saya lakukan. Dari gambar itu, saya tahu itu buku sastra. Tapi apakah itu kumpulan sajak, cerita pendek ataukah novel saya tidak tahu. Tapi setelah saya tanyakan kepada pemiliknya, buku itu ternyata adalah kumpulan cerita pendek dari sastrawansatrawan dunia, sebab tak lama kemudian ia mengirim namanama yang menjadi penulis buku itu. Dan dari entri nama yang dicantumkannya, terbersit seketika dalam benak: saya harus segera membacanya.

Saya sebenarnya awam tentang dunia sastra. Basic keilmuan saya adalah ilmu sosial, sosiologi tepatnya. Jadi, tentang sastra, ibarat ilmu yang baru pertama kali saya kenali. Sebab itulah saya tak mengenal seluk beluk sastra, perkembangan sastra, aliranaliran sastra, bentukbentuk sastra dan seluruh pilahpilah keilmuan susastra. Juga tentu saya juga tak begitu banyak tahu tentang namanama sastrawan dunia, pun jika ada belum tentu saya pernah membaca karyakaryanya. Tapi dari namanama yang dikirimkan oleh penjaja buku itu, yang menjadi entri dari buku bersampul warnawarni itu, saya mengenal beberapa nama dari orangorang yang kerap menyebut namanama semisal, Ernest Hemingway, O Henry, Frans Kafka, Naguib Mahfouz, J.P Satre, Anton Chekov dsb. Dan dari namanama merekalah hati saya digerakkan agar segera membaca buku itu.

Tapi malang. Di waktu itu, si penjaja buku tak bermaksud menjual buku itu. Justru Ia hanya bermaksud memajangnya menjadi DP BBMnya. Tapi karena sudah sering saya membeli bukubukunya, saya akhirnya menanyakan berapakah harga bukunya. Siapa tau saja ia berubah pikiran agar menjualnya. Malang tetaplah malang, sebab ia bersikukuh untuk tidak menjualnya, ia bermaksud hanya menjadikannya koleksi pribadi. Tapi komunikasi bisa mengubah seluruh hal termasuk dalam transaksi ekonomi. Apalagi jenis transaksi saya dengan penjaja buku ini selama ini terbilang dialogis. Artinya keputusan bisa saja berubah, tergantung komunikasi yang dibicarakan. Dan akhirnya, dari perbincangan via BBM itu, ia mengubah sikapnya dengan bersedia menjual bukunya dengan kesepakatan harga yang ditetapkannya.

Hanya saja dari harga yang ditetapkannya, saya agak berat dengan nominal yang diberikannya. Dengan beberapa kali permintaan harga baru yang sedikit lebih murah pun ia tak bergeming. Maka dari beberapa kali percobaan negoisasi yang tak mulus, transaksi akhirnya gagal. Harga yang diharapkan kedua pihak tak kunjung disepakati.  Tapi dari negoisasi yang tak berhasil itu, disarankanlah kepada saya untuk mencarinya ke toko buku yang ia katakan. Dari sarannya  itu, maka saya menuju ke toko buku yang dimaksud.

Dan kesialan yang kedua untuk tidak ingin dikatakan malang, di toko buku itu, buku yang susah payah saya negoisasikan sebelumnya ternyata kosong. Dari deretan panjang rak buku sastra, beratusratus buku di sana, mata saya gagal menemukannya. Apa daya, barangkali indera tak mampu menyapu bersih setiap sudut rak buku, maka tibalah saya di depan mesin pencari dengan keyakinan tak ada yang bisa lolos dari jangkauan sistem informasi. Berbekal setengah iman yang tersisa, diketiklah judul buku itu: fiksi lotus. Dan itulah kesialan yang sesungguhnya: stock kosong. Dan kesialan manalagikah yang engkau dustakan: berada di toko buku terbesar, di antara jubel riburibu buku, tetapi satu ekslempar  buku yang diinginkan tak juga ditemukan. Nampaknya malaikat buku tak sudi  meridhaiku.

Dan dari kesialan yang serupa durian runtuh itu adalah, betapa lugunya saya untuk tetap datang ke toko buku itu setelah sebelumnya dikatakan oleh si penjaja buku, bahwa ia juga pernah mencarinya di toko buku yang sama dan ia pun tak berhasil menemukannya. Dan dua kali lipat rasanya sebab dikatakannya bahwa kejadian itu sudah setahun yang lalu terjadi. Artinya sebenarnya saya tak perlu datang untuk mencarinya, sebab ia sebelumnya sudah melakukannya. Tapi itu satu tahun yang lalu, tentu banyak kemungkinan bisa terjadi, misalnya buku itu sebenarnya masih ada dan luput dari pencariannya. Bisa juga, seeksemplar yang luput dari pencariannya masih ada tersisa dan tak ada yang sudi membelinya. Atau yang paling mungkin: buku itu dicetak ulang.

Syahdan, keluguan dan kemalangan saya di toko buku besar itu saya konversi saja dengan membeli beberapa buku yang lain. Buku yang saya beli masih bergenre buku sastra dan sebuah buku filsafat. Tepat sampai di sini, perasaan yang telah dikonversi menjadi duka kembali. Pasalnya, bila bertahuntahun yang lalu masih saya temukan dua tiga rak khusus untuk bukubuku filsafat, justru di waktu sekarang yang tersisa hanyalah setengah dari satu rak buku. Dan, penanda tempat buku filsafat yang biasanya diterakan di atas rak buku, juga lenyap di antara rak yang lain. Anehnya, beberapa buku filsafat yang tersisa di simpan begitu saja di bagian bukubuku agama. Di situlah letaknya, setengah dari rak kelompok bukubuku agama.

Seandainya setengah rak itu paralel dengan arti sebagian pengetahuan antara iman agama adalah filsafat, maka hati saya tak mencelos. Tapi keadaan itu justru lain: ini tinanda bahwa filsafat tengah tersingkir dari konstelasi produksi pengetahuan. Buktinya, walaupun tidak disertai bukti kuat, adalah berkurangnya bukubuku filsafat di pasaran mainstream. Ini artinya produksi pengetahuan yang berbau filosofis sudah sangat jarang dilakukan. Dan malangnya, ini juga hampir berlaku bagi buku dengan genre yang lain.

Maka, di toko buku yang megah itu, saya hanya bisa bergumam dalam hati: maka kesialan mana lagikah yang engkau dustakan.

25 Maret 2015

madah limapuluhsatu

Tahun 1984, suatu tempat di Jerman Timur.

Rumah Dreyman disusupi. Hampir setiap sudut rumahnya penuh kabelkabel tersembunyi di balik dinding. Di vas bunga, di balik pintu, terminal listrik, belakang lemari, di bawah tempat tidur, bahkan di dalam kamar mandi. Praktis setiap sudut jadi suatu proyek pengintaian. Ruang tempat tinggal Dreyman jadi pusat perhatian negara. Di bawah pengintaian, Dreyman jadi manusia yang transparan. Gerak geriknya jadi bahan amatan dari objek kekuasaan. Tapi ia tak tahu.

Sementara di suatu sudut rumah, di mana kabelkabel itu berpusat, empat sampai lima monitor tak pernah padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap setiap bunyi. Dan seseorang dengan taat mengawasi gerakgerik Dreyman dari ruang kotak itu. Mencatat setiap detil yang mencurigakan. Memasukkannya dalam laporanlaporan setiap hal yang dialami Dreyman. Pria yang taat itu akhirnya mulai mempelajari Dreyman dengan membangun jadwal aktivitasnya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.

Dosa Dreyman hanya satu, ia terlahir sebagai seorang penulis.

Di negerinya Jerman Timur, yang berhaluan komunisme, setiap huruf harus mengikuti intruksi negara. Negara tempat Dreyman tinggal punya kebijakan, bahwa setiap proyek pencerahan harus memuati maksud seperti yang dikehendaki negara. Seluruh proses pembudayaan mesti selaras dengan semangat revolusi komunisme. Ini berarti, setiap tulisan yang lahir dari lidah setiap penulis, harus berbicara tentang hal ihwal revolusi; semangat kaum proletar, pandangan realism, kemajuan partai, pabrikpabrik yang dinasionalisasikan, dan tentu komunisme sebagai pandangan universal.  

Sebelumnya diintai, ia adalah seorang sastrawan dan penulis naskah teater yang tak begitu dicurigai negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak mengandung unsurunsur seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia di mata petinggipetinggi partai adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan untuk mendorong kebudayaan negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia dipandang sebagai salah satu seniman yang diberikan kebebasan untuk berkarya sesuai dengan pandanganpandangan komunisme.

Tapi semenjak kedatangan Gerd Wiesler, agen matamata Jerman Timur, di suatu pertunjukannya, semuanya berubah. Dari atas balkon pertunjukan,  Gerd Wiesler mengamati dengan teliti Dreyman di tempatnya ia menyaksikan teater yang merupakan hasil garapan tulisannya. Dari pengamatan Wiesler di atas balkon, Dreyman disimpulkan sebagai orang yang tak sepenuhnya bersih.  Dari gerak tubuh, mimik wajah, bahkan setiap detil yang dimiliki Dreyman  yang di amati Wiesler, kesimpulannya adalah Dreyman adalah orang yang mesti dicurigai sebagai tersangka yang berbahaya. Dia bukan seniman yang lurus, melainkan ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.

 Tapi Wiesler perlu bukti yang menguatkan kecurigaannya. Biar bagaimanapun kecurigaan tak bisa dijadikan modal untuk menuntut orang tanpa datadata yang jelas dan akurat. Sebab itulah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol dan diselipkan alatalat yang merekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia dicurigai sebagai musuh negara.

Akhirnya tiap detik dari Dreyman adalah jadi bahan amatan negara. Setiap yang dilakukannya jadi catatan terperinci Wiesler berdasarkan waktu dan tempat di mana itu terjadi. Wiesler harus bisa mengajukan bukti kepada petinggi partai bahwa Dreyman sebenarnya adalah seniman yang diamdiam mengkritisi komunisme. Tapi Wiesler butuh waktu untuk suatu bukti yang gamblang.

Sampai di sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang sama seperti Georg Dreyman. Seorang penulis naskah yang dimatamatai negara oleh sebab dicurigai memiliki maksud tersembunyi yang tak sesuai dengan paham negara.

Di film itu ada dua hal yang akhirnya menjadi genting; kebebasan berekspresi dan kontrol negara. Dua hal ini yang menjadi sisi antagonis di film drama Jerman itu. Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan Dreyman dan kontrol negara yang merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau besar. Dua hal ini, dalam konteks negara dan kebebasan berekspresi menjadi dua anasir yang seringkali berhadaphadapan. Tapi jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali adalah Wiesler itu sendiri, seorang yang telaten mematamatai Dreyman.

Wiesler, di kehidupan seharihari seperti yang kita alami, tak jauh berbeda dengan pekerja pemerintah yang memiliki pengabdian total terhadap negaranya. Taat dan setia menjalankan tugas. Di Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen matamata yang berdedikasi tinggi dan idealis menjalankan tugasnya. Orangnya tepat waktu dan jernih mengamati halhal detail. Dan selama mematamatai Dreyman sang penulis drama, ia juga menulis laporan pengamatannya tanpa unsurunsur dramatik.

Ia mengamati, mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.

Tapi Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama pengamatannya, justru ia tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol, apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya tanpa sepengetahuan. Ia ingin tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi apa daya, melalui buku yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang dimatamatainya. Kekuatan sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan seseorang, begitu juga Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai melindungi Dreyman dari atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas pengarang itu. Begitu seterusnya.

Das Leben der Anderen barangkali film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan menggunakan cara yang bisa dibilang melankolik; drama. Tapi itu sepertinya pembacaan yang terlalu jauh, sebab tak ada kesan dalam film itu yang mengarahkan kepada pengertian yang mengungkapungkap sejarah. Sebab pula di film itu tak menyebut cerita yang pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin disebut demikian, film itu hanya bicara plot orangorang yang hidup di situasi yang cekam dan kontrol negara yang terlampau totaliter.

Dan Dreyman merasakan, juga barangkali orangorang yang terbiasa hidup dengan kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara tak bisa merebut hal yang paling intim dari mahluk bernama manusia; kebebasan berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.


21 Maret 2015

Airmatadarah dalam Tekad

Saya sebenarnya tak mengerti betul sastra, apalagi puisi. Puisi, yang kental dengan simbolisme itu seringkali membuat saya bingung. Sebab, dengan material katakatanya yang simbolis juga metafor tak pernah stabil merujuk pada satu pengertian yang pasti. Puisi, dengan gaya penuturan yang demikian, akhirnya hanya menjadi katakata yang pias makna di hadapan saya.

Puisi, dengan katakatanya yang metafor, sepengetahuan saya adalah cara untuk menangkap kenyataan yang tanpa tirai. Dengan kata, puisi ingin merekam apaapa yang murni. Puisi, jika disebut sebagai potret kemurnian, adalah media yang mengungkapkan katakata menjadi baitbait yang gamit.

Tapi justru kata tanpa tirai bisa bikin kenyataan jadi asing. Sastrawan menurut saya adalah orang yang punya semacam kemampuan membuat bahasa jadi lain. Katakata di tangan sastrawan menjadi bahan yang dilucuti dari penggunaan yang sudah umum. Di tangan sastrawan, katakata dibersihkan dari ruang tuturan umum yang sering membuat kata jadi banal. Katakata, di tangan sastrawan, seperti ditasbihkan kembali untuk dipakai seperti pertama kali dipergunakan menjadi kata yang perawan, kata yang binal.

Dengan kemampuan itulah sastrawan jadi orangorang yang punya kekuatan seperti al kheimist, yakni orangorang yang punya kemampuan khusus untuk merubah sampah jadi emas. Melalui kemampuan khusus itulah, katakata yang sudah digunakan di tengah umum, yang kerap dipakai berulangulang hingga rombeng, jadi kata yang murni dan baru.

Sebab itu barangkali, katakata puitis seorang sastrawan bisa membikin sesuatu nampak jernih. Dengannya, kita dihadapan teks jadi orang baru yang lahir kembali. Di dalam filsafat, terutama fenomenologi, kita disebut menjadi seorang pemula.

Dengan menjadi seorang pemulalah kenyataan jadi nampak baru. Dunia jadi bendabenda yang tak ternamai dan transparan sehingga tak ada yang lain selain ketakjuban. Dari ketakjuban itulah lewat kata puitik sisi primordial disentuh.

Lewat katakata puisi, seorang sastrawan punya misi yang subtil, misi yang primordial. Dengan katakata, sisi afeksi setiap kita disepur dan dimurnikan kembali. Ini seperti mirip kata Lenin, yakni sastrawan memiliki tugas mengarsitekturi untuk membangun jiwa.

Kamis kemarin saya diberikan hadiah buku sehimpun puisi. Lengkap dengan tandatangan penulisnya. Buku yang tak sepenuhnya saya mengerti itu diberi judul airmatadarah. Saya tak tahu apa takdir buku itu diberi judul yang menurut saya tragedik. Yang mana airmata jika umum dipahami adalah serangkaian dari tindak kejiwaan yang misterium: sedih, bahagia, rindu, benci, marah, gundah dsb, adalah sisi dunia yang tak tembus. Airmata, dari takdir judul buku ini, adalah frasa misterius yang sulit saya tembus untuk menangkap maksud yang dikandungnya.

Dan di judul itu, darahlah yang jadi sisi paling sulit saya tebak. Dengan satu kata airmatadarah, saya menjadi orang yang nampak asing dihadapan kata itu. Darah, yang biologis dari tubuh kita, justru jadi sesuatu yang lain di judul itu. Darah yang identik dengan warna merah gelap itu, barangkali bisa jadi lambang suatu arti: pengorbanan.

Tapi sudah saya katakan airmatadarah adalah kata puitis yang jadi asing, makanya ia jadi frasa yang tragedik bagi saya. Juga kata itu menurut saya sudah dilucuti jadi suatu yang baru, maka itulah ia memang seperti kata yang baru pertama kali digunakan untuk merujuk kepada suatu pengertian, tetapi apa?

Dan biarlah itu jadi ruang kosong yang tak bertuan. Dengan begitu makna judul airmatadarah bebas untuk diberikan maksud oleh sesiapa pun. Bahkan sang penulis tak punya kuasa untuk membangun jalur rel makna di situ. Makna, ataupun maksud, dengan begitu jadi bebas tak bertuan. Dengan iman seperti ini, sang penulis memang sudah mati seperti didaku Roland Barthes. 

Dari tulisan ini jika saya diberikan pilihan untuk menunjuk satu pusi yang saya senangi, maka saya akan memilih Tekad sebagai puisi pilihan saya. Di puisi itu, seperti ada sebuah pertaruhan tentang sebuah akhir dari masa kini yang jadi titik permulaan. Ini seperti dua orang yang terlibat perjanjian untuk sebuah bukti di masa depan. Ini persis hukum kontradiksi Gramsci, bersamasama sekaligus menentang. Ini seperti dua anak manusia yang membusung dada di mana mereka saling menentang di saat kebersamaan kian mengental, tentang suatu akhir yang disebut masa depan.

Kutunggu wartamu di masa datang

Joloklah bulan
Genggamlah surya
Lukisilah pelangi
Cungkillah gunung

Barulah kau tergolong:
Pemahat masa depan

Di puisi ini, jika ini sebuah tafsir, ada sebuah kabar yang bermakna penantian untuk dapat dibuktikan. Tapi di hamparan waktu yang panjang, ketika suatu ruang pertaruhan di mulai, ada beberapa hal yang mesti dapat diatasi. Bulan, surya, pelangi dan gunung, adalah diksi yang dipilih untuk menunjuk suatu hal yang mesti ditaklukkan, yang sekaligus menunjuk pada bendabenda yang tinggi dan besar. Dan sebelum diksi itu diletakkan, katakata joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, adalah pilihan kata yang menunjuk kepada suatu sikap yang mencerminkan kehendak penaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar itu.

Joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, sebenarnya adalah katakata yang akrab ditelinga kita seharihari. Banyak pekerjaan seharihari yang menggunakan katakata itu untuk mencerminkan usaha dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Dari katakata kerja itu, kita bisa mengerti bahwa dari pekerjaan yang dinamai dengan kata itu, manusia membutuhkan suatu modalitas untuk memulai usahanya. Dan barangkali judul puisi itu; tekad, adalah modalitas yang dimaksudkan itu.

Dari sinilah saya menyenangi puisi ini. Tekad, tanpa menyebut kehendak, adalah unsur awal dari terciptanya sesuatu yang lahir dari cipta manusia. Dengan tekad, manusia merealisasikan dirinya untuk hidup kongkrit. Dengan tekad, jika meminjam Hegel ataupun Marx adalah awal dari perealisasian diri atas kerja.

Tekad, seperti mengajak sesiapa untuk berjudi dengan waktu. Di puisi itu, waktu jadi satusatunya yang tetap, yang tak berubah dari nasib yang dipertaruhkan. Di ujung puisi itu, dengan tekad, dengan usaha yang telah menaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar, barulah seseorang disebut pemahat masa depan. Di sini kata pemahat, adalah cermin yang mengamit makna kerja, suatu tindak yang sama dengan jolok, genggam, lukis dan cungkil. Artinya, jika ini layak disebut tafsir, adalah suatu usaha yang tak pernah selesai. Yakni tindakan terus menerus untuk memahat masa yang akan datang.

Sehimpun airmatadarah adalah buku sekumpulan puisi pertama dari Sulhan Yusuf. Tapi di dalamnya, seratus tiga puisi adalah puisipuisi yang bukan pertama kali ditulisnya. Jika bisa dibilang, dari kumpulan puisi yang sebanyak itu, adalah juga cermin yang memantulkan gejolak kejiwaan yang sedang dihadapi dari peristiwaperistiwa sehariharinya. Saya tak tahu puisi apa yang ditulis pertama kali oleh Sulhan Yusuf yang mencerminkan pergulatan batin yang sangat. Tapi kita berharap puisipuisinya akan terus lahir seiring banyaknya pengalaman hidup yang dilaluinya

Dengan maksud yang tragedik, jika masa yang datang dalam Tekad itu dihadapkan kembali kepada Sulhan Yusuf, maka orang yang seharihari dinisbahkan sebagai mentor oleh saya itu, telah dikutuk untuk dapat terus menulis. Dan kutukan menjadi seorang penulis yang akrab dengan aksara, adalah pekerjaan yang getir sekaligus murung. Melalui dua hal inilah, masa depan diukir dan diabadikan. Namun mudahmudahan, getir dan kemurungan itu hanyalah hal yang nampak di dalam tulisantulisannya.

Syahdan, airmatadarah adalah buku puisi yang layak untuk dimiliki. Setidaknya dengan puisi, lewat buku ini kita diantar untuk menjadi seorang pemula. Orangorang yang kembali menengok dunia keseharian dengan cara yang berbeda.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...