11 Maret 2015

madah empatpuluhsembilan

Ketika akal menemukan dirinya bangkit, dunia tampak terang. Yang semula samar dan terselubung dibalik tirai mitos, jadi transparan. Dunia akhirnya terkuak dengan pengetahuan yang menjadi jembatan. Kant, di era renaisans menyebutnya pencerahan.

Tapi dengan semangat pencerahan, Kant juga membangun kritik terhadap nalar pencerahan yang superior. Kritisismenya akhirnya menyingkap cacat inheren dalam akal. Ternyata akal, yang begitu superior membuka terang, tak selamanya jadi bohlam yang sempurna. Akal yang selalu ingin menjelaskan lengkap fenomena, ternyata juga retak. Yang ditangkap hanyalah lapisan fenomena yang tampak dengan cahayanya yang redup. Akal ternyata tak mampu menangkap noumenadas ding an sich, inti kenyataan yang sesungguhnya.

Sebab itulah Kant tak percaya suatu yang metafisis seperti subtansi bendabenda. Akal tak bisa menjangkau itu. Akal justru adalah jembatan atas keyakinan Kant yang agonistik itu. Tiada yang metafisis dibalik daya akal. Yang murni dalam metafisika ternyata adalah sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibuktikan. Lewat etika transedental Kant, metafisika untuk kali kedua dibungkam.

Tapi itu Kant. Dengan agnotismenya. Dengan kecurigaan akal murninya.

Yang berbeda datang dari filsuf Iran kontemporer, Murthada Muthahhari. Dalam ceramahnya yang dibukukan dengan nama Mas'aleye Syenokh, Kant dikritik. Dan dalam  kritikannya itu, bukan saja Kant, seluruh pandangan yang skeptik terhadap kemungkinan epistemologi dikritiknya.

Muthahhari sebenarnya tidak tepat jika disebut filsuf per se. Sebab tidak seperti filsuf umumnya yang memang menyelisih dari otoritas teks agama. Itulah mengapa dalam ceramahnya itu ia memulai perbincangannya dengan soalsoal epistemologi dari al quran. Di sinilah beda itu tampak.

Dan beda itu sebenarnya memang adalah sesuatu yang disengaja Muthahhari. Soal epistemologinya adalah suatu rancang bangun yang ia susun untuk membuktikan rapuhnya pemikiran asing.

Dalam skema itu, "asing" adalah berarti produk pikiran yang mencerminkan semangat sekuler. Ini berarti maksud Muthahhari merupakan ungkapan yang merujuk pada tempat yang jauh di sana, yakni suatu masa di mana sekularisasi adalah semangat yang massal disambut suka cita. "Asing" adalah penanda suatu produk pikiran yang tumbuh saat yang sakral disingkirkan. Dengan kata lain, pemikiran yang tidak tumbuh dengan semangat yang mengafirmasi theos. Dengan Itulah, kritisisme Muthahhari berarti punya maksud tak ringan: membuktikan kokohnya pemikiran islam.

Dan dari cara pandang yang quranik, Muthahhari menyebut epistemologi yang dibincangkannya adalah epistemologi islam. Lalu dari ceramah mas'aleye syenokh, suatu pandangan khas islam dibentangkannya. Islam sebagai suatu cara pandang, akhirnya jadi suatu paradigma.

Sebenarnya, ceramah yang ia sampaikan di tahun 1970 itu adalah ceramah yang juga politis. Ceramah yang juga punya arti emansipasi. Sebab dalam ceramah tentang pengetahuan yang dibincang saat itu, punya maksud membangun kesadaran politis.

Karena itulah ceramahceramahnya dilarang. Rezim saat itu melihat Murthahhari sebagai ancaman politik, sebab di tahuntahun yang genting saat itu, suatu perkumpulan dianggap subversif. Saat itu, Iran memang mengalami gejolak politik, dan Murthada salah satu orang yang memicunya.

Di masamasa yang genting itu, sebenarnya Muthahhari tidak sendiri. Ceramahceramahnya adalah bagian dari skenario besar yang kala itu dirancang: revolusi. Dan dari sebagian yang lain, yang diisi oleh tokoh muda Iran, juga punya andil: Ali Syariati.

Lewat mereka berdualah di tahuntahun itu, di bawah suatu rejim yang menggeliat dengan kekuasaan yang tanpa batas, pembangunan paradigma revolusi disusun. Seluruhnya dibincang dengan tafsir politik agar punya makna yang kongkrit. Islam dengan lidah dua orang itu akhirnya jadi ajaran yang tidak sematamata metafisis, tetapi menjadi lebih runcing, menjadi lebih kritis.

10 Maret 2015

madah empatpuluhdelapan

Konon dari waktu senggang muncul kebudayaan. Konon dari inti kesunyian menerbitkan wahyu bagi para nabi. Juga konon, kerja, di zaman sekarang adalah penanda kemanusiaan yang ambruk.

Kerja sebenarnya adalah suatu yang luhur. Bila Hegel membilangkannya sebagai proses idealisasi ruh yang bergerak tanpa pamrih dalam tubuh, Marx, orang yang mencelanya itu, meyakininya sebagai modus eksistensi ril manusia. Hegel dan juga Marx melihat kerja sebagai bentuk to becoming: cara manusia berada.

Tapi cara to becoming, bagaimana kerja di zaman ini sudah jadi sesuatu yang ambruk. Orang dipaksa untuk bekerja. Itulah mengapa dari yang terpaksa menimbulkan alienasi Sebab kebebasan tercerabut persis seperti baut yang membuat suatu perangkat jadi hancur. Kebebasan yang jadi tanda keutuhan, dalam sistem kerja yang dipaksa itulah yang jadi soal.

Akhirnya manusia, dengan kerja yang terpaksa jadi dekaden. Manusia, justru bukan menjadi mahluk yang luhur, melainkan hancur dalam sistem yang di cela sejarah: kapitalisme. Di dalamnya, yang sebelumnya luhur jadi lebur dan menguap jadi kapital yang berlipat ganda. Manusia menjadi asing dalam kerja. Industri jadi sistem kukuh yang untung.

Joseph Pieper melihat kerja yang sudah tak.luhur itu seperti sistem agama. Menurutnya, di alam modern, terutama kaum urban yang didorong untuk dapat terus bekerja, kerja per se telah dikultuskan. "Kerja sudah seperti doa" sebutnya. Artinya, kerja begitu dimutlakkan dalam zaman yang didorong oleh sistem yang penuh daya saing.

Dan di dunia itu, kerja sudah identik dengan cara yang teknis. Akhirnya kerja jadi kehilangan keluhuran. Kerja menjadi kehilangan sakralitasnya sebagai pemenuhan eksistensi jiwa manusia. Sebab kerja berarti usaha yang rutin, otomatis dan mekanis, maka kerja kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang ditandai dengan cengkrama dan waktu kolektif.

Itulah mengapa krisis eksistensi terjadi. Kerja jadi penjara eksistensi. Kerja jadi rutin yang mencuri kesadaran manusia.

Kehilangan yang luhur akibat kerja yang rutin dan yang sesak di jantung krisis eksistensi, bagi Pieper bisa ditampik dengan cara menghidupkan waktu senggang.

Di Yunani purba, waktu senggang ditandai dengan suatu yang luhur: theorea. Theorea yang dari sana terma teori dilahirkan, sebenarnya adalah suatu sikap "melihat" dan "memandang" suatu yang tetap dalam cosmos. 

Cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.

Sebab itulah berpikir berarti mencari ketetapan yang sama dengan ketetapan alam. Aristoteles menyebutnya dengan kaidah kesesuaian partikular akal manusia dengan alam universitas cosmos. Singkatnya, berpikir selalu adalah usaha untuk menyeleraskan yang ada dalam nous dengan cosmos.

Habermas melihat aktivitas theorea itu dalam peradaban Yunani dengan sendirinya bermaksud praxis. 

Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam praktiknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.

Pieper menyebut itu sebagai keadaan yang kontemplatif. Di dalam keadaan itu manusia kembali dapat keluar dari penjara rutin untuk bersentuhan denga totalitas realitas. Di saat itulah, bagi Pieper terbentuk suatu relasi yang fundamental antara manusia dengan kenyataan yang melingkupinya. Di sinilah waktu yang total berarti pembebasan.

Waktu senggang yang dimerdekakan dengan nuansa yang kontemplatif, adalah cara Socrates mengajak masyarakat Athena dengan maksud menjaga nous agar terus hidup. Sebab ia tahu, nous yang mati adalah kesiasian yang mubasir. Waktu yang bernuansa liberatif dan diisi dengan pemenuhan edukatif inilah yang menjadi asal sekolah.

Sekolah awalnya suatu tindak kemerdekaan dengan memproduksi waktu menjadi produktif. Sekolah adalah peluang untuk mencandra cosmos dengan berpikir yang kontemplatif. Dari sini, sekolah adalah medan nalar untuk beroperasi dengan baik. Dan dari aktivitas inilah peradaban muncul.

Tapi seperti juga kerja yang merenggut kebebasan, sekolah di zaman sekarang bisa jadi adalah tempat kebebasan dibantai. Di sana, juga barangkali tempat kekuasaan bereksperimen dengan kebijakankebijakannya. Sekolah akhirnya laboratorium  tempat kepatuhan dicipta dan mangut jadi rutin. Akhirnya sekolah seperti kata suatu buku, adalah candu masyarakat.

Di sini bukan saja agama jadi candu, melainkan juga sekolah. Akhirnya di saat sekarang ada dua hal yang jadi ambruk; kerja dan sekolah. Kerja sebagai rutin yang mencuri kebebasan dan sekolah yang mencuri pendidikan.

Tapi, anehnya yang dicuri itu malah tak jadi soal genting. Barangkali memang ini karena sekolah kita dulu sudah dari awal mencuri pengetahuan kita. Jadi tak ada yang dianggap masalah apalagi hilang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...