02 November 2017

Alwy Rachman: Membaca sama dengan Mendengarkan

Eike belakangan ini berusaha merenung-renungkan perkataan seorang budayawan sekaligus sosok penting bagi keberlangsungan pelbagai komunitas Literasi di Makassar, Alwy Rachman, pasca launcing dan diskusi buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf tempo waktu di Dialektika Cafe. Saat itu Alwy Rachman mengatakan membaca adalah mendengarkan, suatu pengertian yang tidak biasa bagi eike. Bagaimana mungkin, membaca yang identik menggunakan indera penglihatan harus diartikan sama dengan mendengarkan, aktifitas yang lebih banyak melibatkan telinga. Kata yang secara literer di pengertian Alwy Rachman, seketika sepadan dengan bunyi.

Apakah ini sama berartinya bahwa tradisi literasi yang mendasarkan dirinya pada tradisi tulisan tidak berdampak signifikan terhadap masyarakat tinimbang tradisi lisan? Ataukah membaca sebenarnya tidak seperti pengertian hari ini yang hanya menyasar dimensi kognitif daripada mendengarkan yang lebih radikal menelusup hingga dimensi kejiwaan manusia? Atau jangan-jangan pengertian dari Alwy Rahcman yang dikatakannya malam itu adalah suatu strategi membaca untuk menemukan arti mendalam dari karangan yang kala itu berkaitan dengan buku Tutur Jiwa Sulhan Yusuf?

Namun ada clue yang dibeberkan Alwy Rahcman malam itu berkaitan dengan pengertian membaca. Membaca sama artinya dengan mendengarkan hanya bisa terlaksana jika melibatkan kepercayaan. Alwy Rachman mendaku, kepercayaan adalah kunci dari mendengarkan. Mendengarkan kata Alwy Rachman adalah pemberian kepercayaan kepada orang yang akan kita dengarkan suaranya. Dengan kata lain, tanpa kepercayaan sebelumnya, sulit bagi orang-orang mau mendengarkan perkataan dari orang lain.

Eike kira ilustrasinya juga dapat dipahami melalui aktifitas mendengarkan itu sendiri yang ikut menghadirkan orang yang bertutur sebagai wujud pentingnya. Berbeda dari membaca, mendengarkan mengharuskan kehadiran sang sosok sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk menerbitkan pemahaman.

Suara dari sang sosok sangat menentukan dalam suasana mendengarkan, seperti sepenting “wajah” sang sosok sebagai bagian dari dasar pemaknaan. Mimik muka, gesture tubuh, warna wajah, pandangan mata, gerakan bibir adalah unsur fundamental dalam hal ini. Dengan kata lain, mendengarkan berarti sekaligus mau menerima personalitas sang sosok sebagai sumber pemahaman.

Sementara membaca, memiliki konteks pemaknaan yang berbeda. Membaca bukan mendasarkan dirinya pada bunyi teks, melainkan teks itu sendiri sebagai unsur terpentingnya. Artinya, teks tanpa bunyilah yang ditangkap di saat membaca. Di saat demikian, berarti pemaknaan atas suatu teks adalah suatu pengertian tanpa harus mengikutkan personalitas sang penutur atau sang sosok di balik teks. Dalam literasi kesusastraan kontemporer, sang penutur menjadi absen pasca teks diciptakan. Sang pengarang sudah mati kata Roland Barthes.

Itulah sebabnya mengapa Alwy Rachman lebih memilih cara membaca dengan mendengarkan “suara” penuturnya. Membaca yang baik adalah dengan cara mendengarkan sang penuturnya langsung. Membaca sama artinya dengan mendengarkan karena kita mau percaya kepada budi pekerti sang penutur. Tidak sekadar percaya kepada kata-kata, daku Alwy Rachman.

Dengan strategi demikian, eike menganggap Alwy Rachman sebenarnya sedang menghidupkan kembali strategi penuturan yang ditemukan dalam tradisi kelisanan. Melalui cara itu, seperti yang dikatakannya, Alwy Rachman dengan sendirinya menyeleksi kata-kata melalui kategorisasi mana kata yang hanya sekadar bunyi tanpa arti, dan yang mana sebenarnya-benarnya bunyi yang membawa pengertian mendalam.

Akhir 2016, demi kepentingan penelitian, eike sempat bertemu Ammatoa, pemimpin masyarakat hukum adat Kajang di Bulukumba. Seperti diketahui sebelumnya, tradisi lisan masih kukuh dipegang masyarakat hukum adat Kajang. Seperti yang dinyatakan Ammatoa kepada eike saat itu, tulisan memudahkan orang akan mengalami kelumpuhan ingatan di suatu titik hidupnya. Tulisan membuat rongga ingatan manusia menjadi tidak fleksibel, tidak berisi, mudah pecah, begitu kira-kira maknanya.

Pasang ri Kajang dikatakan Ammatoa dituruntemurunkan melalui ingatan berdasarkan pengucapan, bukan tulisan. Itulah sebabnya, tidak akan kita temukan selembar pun kitab Pasang ri Kajang selain daripada tersimpan dalam ingatan orang-orang Kajang.

Penuturan lisan dalam masyarakat hukum adat Kajang dengan begitu menduduki posisi penting dalam merawat ingatan. Lisan yang bersandar pada bunyi dan pendengaran sebagai media epistemiknya, merupakan dua hal yang secara kultural mampu mempertahankan komunitasnya melalui suatu kekerabatan tanpa jarak komunikasi yang renggang secara tempat dan waktu seperti masyarakat hari ini.

Orang-orang Kajang berbeda dari masyarakat hari ini yang sehari-harinya mengandalkan tulisan untuk berkomunikasi. Teks menjadi penting saat ini, sebagaimana pentingnya lisan dalam masyarakat era sebelumnya. Secara ambivalen teks memang mampu merenggang sampai batas waktu dan tempat yang panjang. Namun, akibat kehilangan sang sosok dan sifatnya yang mampu memperpanjang usia dan menembus batas-batas fisik, teks malah memperpendek daya ingat. Ingatan orang-orang modern malah mengkerut ibarat kulit jeruk yang mengering.

Sayangnya, di samping itu, cara masyarakat memberlakukan teks hari ini serta merta dengan cara memutus mata rantai pemakanaan yang menghubungkan teks dengan sang penuturnya. Sosok di balik teks diberlakukan tanpa melihat ia sebagai unsur utama dalam menangkap makna di balik teks.

Sang sosok memang bagian periperi dalam tradisi literasi masyarakat modern. Dia bukan pusat, apalagi sumber pemahaman. Makna dengan sendirinya dalam masyarakat sekarang tidak sama dengan kehadiran sang sosok sebagai lawan bicaranya. Dalam tradisi filsafat dan religiusitas, sang sosok seperti jiwa dan Tuhan tidak sendirinya hadir dalam usaha pencarian makna. Hidup seperti proyek pencarian pribadi, tidak harus melibatkan siapa-siapa di dalamnya.

Dalam wacana Deridean, misalnya, sang sosok hanyalah pecahan jejak yang tidak merujuk kepada siapa-siapa. Jika diibaratkan makna, arti dari suatu teks hanyalah menyisakan keterpautan dengan teks yang lain. Ibarat kamus, satu kata membutuhkan kata lainnya untuk menjelaskan dirinya. Dengan kata lain, makna suatu kata tidak pernah ada, selain hanya jalinan penandaan yang tak berujung merujuk kepada teks-teks baru. Sang sosok artinya, tidak pernah ada dalam praktik penandaan Deridean.

Sementara mendengarkan, yang akhir-akhir ini hanya bisa menangkap fhonem (bunyi), bukanlah praktik mendengarkan seperti yang diharapkan Alwy Rachman. Teks hanya sekedar teks, bunyi-bunyian yang lewat begitu saja. Bunyi-bunyian teks yang belakangan dapat ditemukan dalam dunia politik, misalnya, hanya suara bising tanpa kedalaman, tanpa gagasan, dan tanpa bobot.

Dengan maksud lain, mendengarkan sebagai strategi membaca adalah kritik terhadap bunyi-bunyian teks tanpa gagasan. Mendengarkan adalah cara suara ditransformasikan untuk memilih dan memilah bobot dari bunyi-bunyi pelbagai teks selama ini. Lewat aktifitas mendengarkan, kita mampu menelusuri siapa yang layak didengarkan, diterima dan ditolak akibat hanya menghasilkan bunyi yang banal.

Teks menurut eike dalam pemahaman Alwy Rachman, mesti disuarakan, dan didengarkan dalam-dalam. Ibarat wahyu dalam tradisi kenabian, Tuhan lebih memilih “bersuara” dalam kehanifan jiwa nabi-nabinya. Bukan memilih cara lain yang bisa saja berbeda dari “suara” Tuhan.

Sebab itulah bunyi suara sebenarnya begitu penting dibanding teks. Bukan saja penting, namun juga tinggi. Tiada sebenarnya “suara” ilahi ketimbang ia berbicara melalui ketinggiannya sebagai sang sosok, dan “bunyinya” yang ditangkap bagi jiwa-jiwa yang hanif.

Mendengarkan dengan kata lain, mau menempatkan sang jiwa manusia kepada suatu titik yang rendah, hanif, tanpa embel-embel kebesaran. Hanya dengan cara itulah suara mampu menembusi jiwa sang pendengar (pembaca). Hanya melalui itulah pemahaman dapat terbit. Melalui suatu kepercayaan. Melalui suatu pencerahan.

01 November 2017

Literasi Sampai Hati!

Tidak ada percakapan seperti belakangan ini yang getol dibicarakan selain dari pada literasi. Sulit dipastikan siapa yang memulainya menjadi percakapan publik sekaligus untuk menandai semenjak kapan literasi menjadi omongan banyak kelompok masyarakat. Namun, selain elit sastrawan dan ilmuwan yang selama ini secara terbatas menyokong pembicaraan ini melalui kelompok-kelompok kecil terbatas, literasi itu sendiri sudah semakin luas dibicarakan di hampir semua level masyarakat selama kurang lebih tiga tahun belakangan ini.

Tak bisa dimungkiri, belakangan literasi juga masuk menjadi isu utama bagi kalangan mahasiswa. Walaupun agak fatal dan terlambat, literasi memang mau tidak mau harus didorong ibarat gerbong tua agar mampu berjalan cepat dan berdampak efektif terhadap berubahnya paras pengetahuan kita.

Disebut agak fatal menurut pengalaman eike, akibat literasi diberlakukan sebagai tema baru dan bukan senyawa yang mudah menyatu dengan dunia akademik kemahasiswaan. Padahal, literasi sebagai suatu tradisi keilmuan adalah pekerjaan yang inheren dalam dunia perguruan tinggi. Dengan kata lain, dua kemampuan dasar dari literasi, yakni kemampuan mengolah informasi bacaan dan mengolah tulisan, adalah pekerjaan utama dalam dunia pendidikan tinggi.

Riset, seminar, workshop, diskusi, pembukuan, penerbitan, dan pengabdian adalah kerja ekslusif yang hanya ditemukan dalam dunia pendidikan tinggi yang kesemuanya ditopang oleh literasi sebagai modal utamanya. Disebut ekslusif karena bukan dalam dunia lain-lah kerja-kerja diskursif itu ditemukan. Itu artinya, sebenarnya literasi adalah pemahaman dan kebiasaan yang khas dari pendidikan perguruan tinggi.

Dikatakan agak terlambat karena seharusnya mahasiswa-lah garda paling depan yang menyuarakan literasi sebagai pekerjaan pokok pendidikan. Mahasiswa jika dilihat dari profesinya, adalah kelas masyarakat yang paling mungkin menunjang literasi untuk dikampanyekan. Selain disebabkan literasi yang sebenarnya adalah pekerjaan utamanya, juga hampir  keseluruhan waktu mahasiswa itu sendiri melibatkan literasi untuk menunjang kerja-kerja ilmiahnya.

Beberapa hari lalu, eike diundang suatu organisasi kemahasiswaan untuk membicarakan peran literasi dalam membangun gerakan mahasiswa. Menurut eike agak naif dan sekaligus ambisius jika melihat keterkaitan tema dengan realitas faktual tradisi keilmuan mahasiswa hari ini. Kenapa disebut naif, karena alasan di atas tadi, bahwa masih mengandaikan literasi sebagai bukan bagian dari pengalaman menjadi mahasiswa. Dalam konteks ini, literasi hanya dianggap sebagai penunjang, ibarat serabut akar yang bukan akar tunggal.

Artinya, literasi hanya dipahami secara teknis-metodelogis, bukan tradisi hidup yang membentuk pengalaman kultural perguruan tinggi.

Padahal, yang diharap literasi harus menjadi sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Analoginya sepenting oksigen yang mau tidak mau menjadi kebutuhan biologis tubuh agar dapat bertahan hidup.

Eike mengatakan cenderung ambisius karena tidak sebelumnya melihat prasyarat-prasyarat materialnya untuk dikatakan literasi sebagai salah satu faktor dalam menentukan maju tidaknya suatu gerakan kultural kemahasiswaan. Sudah sejauh apakah sarana dan prasarana yang selama ini menunjang agar literasi menjadi kebiasaan bagi mahasiswa. Sudah tersediakah buku-buku, hasil riset, hasil diskusi, video-video inovasi, film dokumenter, makalah, jurna-jurnal, dlsb., yang memudahkan mahasiswa ketika membutuhkan data-data berkaitan dengan tugas-tugas akademiknya?

Dalam kesempatan itu, eike katakan saja, bahwa literasi adalah gerakan mahasiswa itu sendiri. Dia tidak bisa dipahami sebagai hanya penunjang yang bergerak di luar dari pengalaman gerakan mahasiswa, melainkan inti atau substansi yang melekat atau bahkan, ya itu tadi, gerakan itu sendiri.

Itu berarti, literasi dalam skema gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan berbasis kultural. Dia mesti bergerak dari bawah dan hidup dari bawah. Dia mesti lahir dari rahim kehidupan sehari-hari mahasiswa itu sendiri.

Itulah sebabnya, eike kurang lebih dari tiga tahun lalu berusaha sebisa mungkin mengkampanyekan literasi sebagai isu kolektif untuk siapa pun agar mau memahami betapa pentingnya membaca dan menulis.

Namun, bukan saja itu membaca dan menulis hanyalah lapis kesekian dari literasi, lapis setelahnya adalah bagaimana menghubungkan dan mengontekstualisasikan beragam pengetahuan dari lapis sebelumnya bagi kehidupan kongkrit masyarakat. Membaca dan menulis, dengan kata lain bukan aktifitas mandiri tanpa sangkutpautnya terhadap nasib ril masyarakat, melainkan merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk ikut membangun masyarakat.

Berkaitan dengan pilihan literasi sebagai tema utama bagi eike selama ini, juga merupakan kritik kultural atas tradisi gerakan kemahasiswaan yang diidentikkan dengan model gerakan ekstraparlementariat. Malangnya, model gerakan ini mempersempit dirinya hanya sebatas jalan raya sebagai ruang pengajuan kritiknya. Sementara jalan raya, kita tahu adalah tempat paling ribut saat ini. Di situ tidak mungkin mendengarkan suara kebenaran. Bising.

Model gerakan jalan raya, sejauh eike ketahui sebenarnya bukan medan asyik untuk mengajukan kritik. Logika tindakan demonstrasi, dari pengalaman eike memang bukan untuk dijadikan sebagai sarana kritik, tapi dia memiliki harapan yang jauh lebih besar dari pemahaman sebagian mahasiswa saat ini, yakni untuk mengubah kebijakan publik.

Itulah sebabnya, barang siapa ingin menggelar aksi demonstrasi mesti memiliki kekuatan yang lumayan dan jauh lebih besar dari yang diketahui selama ini. Kita Harus memiliki gagasan yang kokoh, napas dan semangat yang panjang, strategi dan pengalaman yang sudah teruji, serta jaringan yang kuat dan menyentuh seluruh lini kepentingan, dan bukan saja jumlah massa yang besar.

Juga nampaknya ada yang salah dari paradigma gerakan mahasiswa saat ini. Aksi demonstrasi pada titik tertentu sudah dianggap satu-satunya cara dan tujuan dari kritik. Mayoritas mahasiswa agaknya lupa, demonstrasi hanyalah alat, dan demonstrasi adalah implikasi dari gerakan kultural yang menjadi sumber dan basis gerakannya.

Gerakan kultural itulah yang menurut eike adalah literasi. Melalui literasi, intropeksi panjang dilakukan, juga sekaligus suatu cara menyusun kembali kekuatan intelektual yang belakangan terabaikan. Artinya, literasi menjadi sarana inkubasi seluruh modal simbolik, kultural, kapital, dan struktural dari apa yang dipunyai gerakan mahasiswa untuk diperbarui dan diremajakan.

Harus diakui model gerakan ini cenderung reformis, atau bahkan agak evolusionis. Literasi memang bukan tipe gerakan massa rakyat yang revolusioner. Makanya dia agak kurang disukai bagi mahasiswa yang menyenangi tindakan-tindakan serba praktis dan cepat. Tapi apa boleh buat, untuk kebutuhan jangka panjang kita butuh tulisan yang revolusioner, bacaan dari buku-buku yang revolusioner, dan juga kesabaran yang jauh lebih revolusioner dari apa yang dirasakan selama ini. Ini memang perubahan pola, dari aksi menuju literasi.

Memang, ini gerakan literasi sampai hati!

22 Oktober 2017

Trinitrotoluena

Belakangan eike sulit mengucapkan kata “sensitif”, apalagi kalau itu ditambahi imbuhan dan akhiran seperti menjadi “ke-sensitiv-an”. Lidah eike sulit mendesiskan bunyi “e” kemudian “i” di waktu yang hampir bersamaan, sekaligus bunyi “a” di akhir katanya. Peralihan bunyi itulah yang membuat lidah eike sulit mengejanya. Tidak mulus, tidak lincah, bahkan.

Hal yang sama apabila eike mengucapkan kata “kreatifitas” menjadi “ke-kreatif-an”. Lidah eike seperti sulit diajak “bergoyang” dari bunyi “e”, “a”, “i”yang berubah seketika.

Akhirnya eike mencari kata-kata yang mirip gejalanya dari dua kata di atas semisal kata “pemimpin” menjadi sulit ketika diubah ke bentuk “ke-pemimpin-an”, kata “aktif” menjadi “ke-aktiv-an”, atau terma “kritis” berganti menjadi “ke-kritis-an”, atau yang paling sulit eike katakan: “eike cinta je!”

Baiklah, yang terakhir itu bukan sulit diucapkan, tapi ah, puki mak! Betapa kompleks sekaligus rumitnya konsekuensi dan arti dari kalimat yang terakhir itu. Apalagi itu terjadi pada hubungan Je dengan doi yang sampai sekarang tidak sensitif menangkap gelagat perasaan Je terhadapnya.

Tapi, lupakan soal perasaan, apalagi perasaan yang mudah sensitif belakangan ini.

Kembali ke soal utamanya. Bagi eike, nampaknya ini bukan soal tongue twister belaka, melainkan kebiasaan.

Bekangan eike sering menyaksikan terutama mahasiswa ketika bersusah payah mengucapkan kata ilmiah nan asing. Kadang juga mereka sampai harus menekuk leher hanya untuk mengucapkan satu dua nama tokoh asing yang baru pertama kali mereka ucapkan dengan benar. Bagi eike ini tanda-tanda bagaimana pengalaman terhadap bahasa tidak terbangun dengan baik. Memang, kemampuan mengucapkan kata dengan baik berbanding lurus dengan sejauh apa mereka akrab dengan budaya literasi.

Membaca adalah kunci. Eike kira itu asal usul persoalannya. Tradisi membaca akan membuat kita akrab dengan dunia kata-kata. Semakin luas dan dalam bacaan kita, semakin banyak dan ahli kita dalam suatu tema. Dengan kata lain, semakin banyak kita bertemu-kenal kata melalui membaca, semakin familiar dan mudah kata itu diucapkan.

Tapi, eike pikir ini bukan hanya soal semakin fasih tidaknya kata itu diucapkan, namun juga seberapa pahamkah kata itu dalam pemahaman seseorang. Kadang, dua hal ini tidak langsung beririsan, walaupun dalam kasus-kasus tertentu dua hal ini sangat sulit dipisahkan.

Artinya tradisi bertutur itu ikut berperan penting. Budaya menyatakan pendapat yang tidak berkembang baik dengan kata lain adalah salah satu faktor yang menyebabkan mengapa masih sering ditemukan kegagapan pengucapan kata-kata atau kalimat asing. Namun, ini bukan sekadar kata-kata itu memang asing secara literer, atau diserap dari bahasa asing, melainkan lagi-lagi seberapa akrabkah kita kepada istilah-istilah itu sendiri melalui tradisi ilmu pengetahuan.

Memang sulit ditampik, banyak kata-kata kita yang diserap melalui pelbagai bahasa asing. Arab, Portugis, Belanda, Inggris, dan bahkan Cina adalah beberapa bangsa yang dari sana ada banyak kata kita berasal.

Kalau ditelisik, bahasa Cina misalnya, banyak perbendaharaan katanya dapat dilacak sampai ke bidang kuliner, terutama yang berkaitan dengan dapur dan makanan. Kata “sate”, “bakmi”, “bakpia”, dan “pangsit”, misalnya, adalah beberapa di antaranya yang hari ini masih dipakai sebagai bahasa sehari-hari yang berasal dari negeri Tiongkok.

Kata-kata Arab, Potugis, bahkan dua negara terakhir, Belanda dan Inggris, juga dapat kita temui kata serapannya dalam bidang pendidikan, perdagangan, pemerintahan, dan politik yang mencerminkan betapa pengalaman hidup kita sebagai manusia Indonesia sangat lekat dengan kata asing dari pelbagai latar belakang kebangsaan.

Itu artinya, sudah sejak awal kita akrab dan bahkan menggunakan pelbagai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Nampaknya pengamatan eike yang berkaitan dengan tidak akrabnya kaum terpelajar terhadap istilah maupun kata teknis asing yang sering dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan, adalah sesuatu yang mesti kita waspadai. Bisa jadi itu adalah gejala kaum terpelajar era kekinian yang semakin jauh dari tradisi ilmiah.

Padahal, melalui dunia semacam itu, artikulasi dan penafsiran tentang kenyataan akan menjadi semakin beragam dan berbeda-beda. Tidak bisa dimungkiri, melalui beragam bahasa asing dan istilah teknis, banyak fenomena yang secara gamblang terjelaskan melalui kata bersangkutan ketika dipakai. Juga banyak pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ditemukan pemaknaannya lewat bahasa nasional, atau bahkan daerah, yang hanya bisa diwakili melalui bahasa asing.

Fenomena ini eike kira adalah akibat dari dunia yang semakin hari semakin “ter-modern-kan”. Suatu pengalaman hidup manusia yang tidak lagi sesederhana seperti ungkapan kata-kata dalam bahasa daerah, misalnya, yang berasal dari pengalaman masyarakat silam.

Dunia pengalaman manusia hari ini, yang semakin kompleks dan berkembang, mau tidak mau –tanpa mengkerdilkan peran bahasa lokal—sedikit banyaknya hanya bisa tersampaikan secara global melalui bahasa ilmu pengetahuan yang hari ini didominasi oleh kata-kata asing.

Tapi ada satu fenomena menarik berkaitan dengan penggunaan bahasa asing dalam dunia komunikasi sehari-hari. Banyak ditemukan anak-anak muda kelas menengah yang sehari-harinya mencampuradukkan dua bahasa dalam satu pengucapan ketika berbicara. Dengan maksud sebagai penanda “intelek” dan “meng-global”,  fenomena ini disebut Joss Wibisono sebagai keminggris-minggrisan. Fenomena ini seperti dinyatakan Joss Wibisono adalah gejala melemahnya nasionalisme bahasa. Dengan kata lain,  ini sebenarnya adalah suatu petunjuk bahwa kita tidak lagi pede ketika menggunakan bahasa Indonesia sebagai penghargaan terhadap nasionalisme.

Eike kira dari fenomena ini bukan berarti bahwa kaum terpelajar tidak mesti mengakrabkan diri dengan bahasa asing, namun sebenarnya dari itu adalah bagaimana pengalaman atas bahasa melalui mengenal dan akrab kepada kata-kata asing menjadi medan pembelajaran untuk memperluas pemahaman dan wawasan berpikir. Di titik ini, luasnya bahasa sama luasnya dengan cara berpikir seseorang.

Sampai di sini eike berandai-andai, kalau ada penelitian mutakhir yang melihat perubahan bentuk panjang-tebalnya lidah masyarakat Indonesia berdasarkan generasi, eike mengira lidah manusia Indonesia dari masa ke masa mengalami evolusi panjang akibat sering banyaknya menggunakan kata-kata (istilah) asing (sulit) dalam percakapan sehari-hari. Semua itu tergantung sulit dan terbiasanya kita menggunakan bahasa dan kata asing, tentunya. 

Baiklah, sulitkah lidah Je mengucapkan kata “trinitrotoluena”?

20 Oktober 2017

Pribumi

Tidak ada pengetahuan yang bebas nilai. Demikianlah yang didakukan aliran sosiologi mazhab Frankfurt. Setiap pengetahuan mencerminkan kebutuhan sosialnya. Kebutuhan praktisnya. Dalil ini sekaligus kritik mendasar terhadap positivisme logis, suatu aliran pemikiran yang berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mesti bebas nilai. Harus objektif. Seperti apa yang ditampakkan di dalam kenyataan. Tapi, adakah kenyataan yang sebenarnya-benarnya bebas dari infiltrasi pengetahuan manusia. Dengan kata lain kenyataan yang murni tanpa bias pandangan manusia. Kenyataan objektif yang didamba-dambakan dalam sains modern? Tepat melalui pertanyaan inilah, eike kira pemahaman kita terhadap suatu segala adalah medan yang sarat kepentingan. Ketika kita mempersepsi sesuatu, menilai sesuatu, pengetahuan bukanlah kapas putih tanpa muatan noda. Setiap fakta yang kita terima, sudah dari awal dibentuk oleh keyakinan kita. Kitalah yang menghendaki fakta itu berdasarkan apa yang ingin kita terima. Manusialah yang menarasikan kenyataannya. Dengan kata lain tidak ada kenyataan yang benar-benar das ding an sich. Yang nyata tanpa persentuhannya dengan pikiran manusia. Di titik itulah eike berkeyakinan, setiap aktifitas berpikir sudah selalu mengandung motif bawaan manusia. Ibarat teori kesadaran Sigmun Freud, di belakang kesadaran, bersembunyi kepentingan hasrat libidinal. Suatu hasrat untuk memuaskan dirinya. Itulah sebabnya, menurut eike setiap pengetahuan dengan sendirinya adalah sesuatu yang bersifat ideologis. Kolonialisme eike kira adalah contoh bagaimana pengetahuan malah justru menjadi kedok untuk menjajah suatu negeri. Kita pernah mendengar dikotomi Barat yang superior dan Timur yang inferior. Masyarakat Barat yang tercerahkan dan kehidupan orang-orang Timur yang tidak berkebudayaan. Atas dasar kebudayaan, pengetahuan berkepentingan untuk menyesuaikan yang Timur mesti menjadi Barat. Yang pribumi harus menjadi masyarakat sebagaimana idealitas nilai-nilai Barat. Nampaknya kolonialisme lebih pas kedengarannya dengan apa yang diistilahkan sebagai westernisasi. Suatu terma yang pernah banyak disebut-sebut dalam ilmu-ilmu sosial untuk menandai berubahnya apa-apa yang berbau pribumi menjadi Barat. Apa-apa yang masih asing menjadi modern. Belakangan kata pribumi menjadi kesohor. Pribumi menjadi salah satu kata teknis sekaligus magis dalam pidato politik Anies Baswedan pasca dilantik sebagai gubernur baru Jakarta. Setelah itu publik gempar, pribumi menjadi gonjang-ganjing. Eike kira, kata pribumi di situ bisa ditafsirkan dengan bebas. Segala kemungkinan tindakan hermeneutika dari itu sah-sah saja diterima. Kita bisa memulainya dari keseluruhan konteks pidato Anies dan melihat apa pesan keseluruhan dari pidatonya. Atau memperlebar konteks kata itu kepada setting situasi yang jauh lebih besar, sejarah kolonialisme di bangsa ini misalnya. Atau bisa juga dilihat dari sisi konteks pertarungan politik sebelum pidato itu dibacakan. Dan, mungkin saja maknanya juga akan berbeda jika kata itu ditafsirkan seperti Anies memaknai kata itu. Dengan cara demikian, eike kira semua motif yang digunakan untuk menafsirkan diksi itu mau tidak mau dipengaruhi oleh beragam sudut penafsiran. Dan, dari tindakan itu sudah barang tentu secara moral etik berlaku kepentingan sang penafsir. Dengan kata lain, di balik kegiatan berpikir, atau usaha untuk mengartikan suatu teks, sang penafsir akan membawa kepentingan teoritik dan kebutuhan praktisnya itu sendiri. Orang-orang eike kira banyak lupa. Sekarang Anies diterima atau tidak diterima adalah juga seorang politikus. Kata-katanya serba licin. Mudah rubuh oleh bahkan kata-katanya sendiri. Artinya tidak ada yang bisa dipegang dari itu. Kata-kata dari mulut politikus ibarat gerakan akrobat: bergerak dan berubah terus menerus. Tidak stabil. Itulah mengapa jangan mudah percaya apa-apa yang diutarakan seorang politikus. Di balik setiap kata politikus senantiasa digerakkan arus pemikiran tertentu. Dan, tiada pemikiran yang tidak berpihak. Tidak berkepentingan. Hatta, seluruh pengetahuan mewakili kecenderungan dunia di mana dia lahir, dibentuk, dan dikemukakan. Tiada pengetahuan yang tidak berimplikasi secara politis. Dengan kata lain, untuk apa dan siapa pengetahuan itu diwakili?

19 Oktober 2017

5 Lagu Mahasiswa-Perjuangan yang Tidak Lagi Akrab di Telinga Generasi Mahasiswa Zaman Now

Tidak bisa dimungkiri, karakter, kecenderungan, dan cara pandang mahasiswa era kiwari jauh berbeda dari dua generasi sebelumnya. Perbedaan ini sangat terasa dari perubahan kehidupan kultural yang mereka lakonkan.

Terutama generasi Z, cara mereka menjalani hidup jauh lebih variatif dan unik. Seperti hasil riset dari Tirto.id, jika ditilik, dari segi fesyen, mahasiswa-generasi Z lebih menyukai membeli produk di mal-mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang dirasa lebih mewakili selera berbusana mereka. Sehari generasi ini bisa menghabiskan tiga sampai lima jam mengakses internet melalui gawai canggih mereka. Jika hendak memenuhi hajat perut, generasi Z gampag ditemui di tempat makan siap saji semisal KFC, Pizza Hut, atau pun McD.

Pilihan liburan dan hiburan generasi Z juga mengalami perubahan. Generasi Z banyak menghabiskan uangnya di tempat-tempat wisata alam semisal gunung atau pun pantai. Mengenai hiburan di bidang musik, generasi Z senang mendengarkan musik-musik pop dari mancanegara atau dari tanah air sendiri. Bahkan, untuk urusan film, streaming adalah salah satu cara mereka menikmati film-film yang sedang naik daun. Dan yang paling mencolok, generasi Z senang menghabiskan waktu mereka dengan game  online atau berbasis aplikasi melalui gawai kece mereka.

Eike punya pengalaman subjektif berkaitan dengan tradisi intelektualisme yang generasi Z perankan di dalam kampus. Terkhusus pengalaman atas lagu-lagu mahasiswa-perjuangan yang di zaman eike masih saban hari terdengar di sekretariat-sekretariat kemahasiswaan, kini sudah sangat jarang eike temu-dengarkan.

Memang jika diperhatikan, 5 lima daftar lagu mahasiswa perjuangan di bawah ini sudah tidak lagi menjadi bagian dari idealisme, pengalaman, dan kebudayaan intelektualisme mahasiswa zaman now.

1. Apa Guna- Wiji Thukul/Sanggar Satu Bumi/Jaker

Lagu ini diambil dari puisi Wiji Thukul yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu. Di masa-masa eike menjadi mahasiswa, lagu ini kerap dipakai untuk menyindir-nyindir golongan mahasiswa yang masuk kategori “pembelajar tanpa aksi”. Yang menarik dan sekaligus asyik dari lagu ini ketika dinyanyikan adalah pesannya yang lugas tanpa bersembunyi dibalik kata-kata yang bersayap. Kemungkinan ini karena sifat puisi Wiji Thukul yang memang lugas membahasakan pesan puisinya itu sendiri.

Belakangan lagu ini diaransemen ulang oleh anak Wiji Thukul yang tergabung dalam band indi Merah Bercerita.

2. Darah Juang- Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Saat Pramoedya Ananta Toer dikebumikan, sejumlah mahasiswa mengiringi jazad sastrawan yang dimusuhi Orba dengan lagu ini. Ada juga versi yang mengatakan di saat dikebumikan malah lagu Internasionale-lah yang mengiringinya.

Di tahun 1991, John Tobing, Dadang Juliantara, dan Boediman Sudjatmiko adalah nama-nama yang melahirkan lagu ini yang saat itu adalah anggota dari Partai Rakyat Demokratik, organisasi mahasiswa kiri yang bercita-cita melawan rezim represif Orde Baru.

Berdasarkan pengalaman eike, Darah Juang adalah lagu yang paling sering menjadi pilihan utama ketika musim ospek dilakukan. Lagu ini juga kerap dikumandangkan jika mahasiswa “turun aksi” di jalanan. Bagi sebagaian mahasiswa lagu ini bahkan punya arti tersendiri, tapi bukan untuk dipakai memikat mahasiswi baru yang “unyu-unyu” itu, loh…

3. Kesaksian- Kantata Takwa

Lagu  yang liriknya ditulis oleh W.S Rendra ini menurut eike adalah lagu perjuangan yang besar pengaruhnya terhadap emosi pendengarnya. Walaupun bukan sepenuhnya bercerita tetang kematian, jika lagu ini dinyanyikan dalam momen-momen mengenang mahasiswa, aktivis, maupun orang-orang semisal pejuang kemanusiaan yang mati secara tidak adil di bawah kekuasaan yang tiranik,  mampu membuat pendengarnya berlinang air mata. Melalui suara Iwan Fals, walaupun bukan diciptakan oleh kelompok mahasiswa tertentu, lagu ini kudu wajib dihapal bagi Je yang mendaku sebagai agen perubahan.

4. Pembebasan a.k.a “Buruh Tani” – Syafi’I Kemamang aktivis PRD

Inilah salah satu lagu mahasiswa-perjuangan yang lahir dan ikut dinyanyikan sebelum dan sesudah reformasi. Lagu ini diciptakan Safi’i Kemamang, seorang aktivis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur.

Seperti dinyatakan penulisnya, lagu ini memiliki semangat untuk menyatukan elemen pergerakan dari pihak mahasiswa, buruh, kaum tani, dan golongan miskin kota, yang menjadi pihak paling tertindas dari kebijakan rezim Orba saat itu.

Seperti halnya lagu Darah Juang, lagu ini diciptakan dalam rangka untuk menyemangati perjuangan rakyat dan mahasiswa.

5. Internasionale- Eugene Pottier

Jika ada lagu yang mewakili kelas tertindas nan papa, Internasionale-lah lagunya. Bagi kawan-kawan berhaluan pemikiran kiri, lagu ini bukan sekadar lagu, melainkan suatu paradigma kelas yang dinotasikan melalui musik. Lagu ini diciptakan Eugene Pottier, seorang penyair proletariat, tukang kayu dan sekaligus anggota Komune Perancis di tahun 1871. Eugene menciptakan sajaknya  untuk menyemangati perjuangan kelas pekerja di masa-masa Eropa, terkhusus Perancis mengalami pergolakan sosial. Uni Soviet pernah menjadikan lagu ini sebagai lagu kebangsaannya dari tahun 1922-1940.

Yang menarik dari lagu ini adalah beragamnya versi setelah diterjemahkan melalui bermacam-macam bahasa. Di Indonesia lagu ini diterjemahkan Ki Hajar Dewantara melalui bahasa Belanda. Walaupun demikian, terjemahan Ki Hajar Dewantara banyak menuai kritik dari kaum komunis internasional lantaran menghilangkan semangat proletariat yang sangat kental dari bahasa aslinya.

Itulah lima lagu mahasiswa-perjuangan yang secara organik menjadi penyemangat dan ikut mewarnai perjuangan mahasiswa dan golongan masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Sekarang apa boleh buat, PDI perjuangan memang sudah berubah!

18 Oktober 2017

Sosiologi Marx
Sampai sekarang, setidak-tidaknya masih ada empat alasan yang menyebabkan pemikiran Marx masih sering dibenci oleh penganut teori sosiologi konservatif. Empat alasan ini pula yang secara teoritik akademik membuat pokok-pokok sosiologi Marx sulit berkembang sebagai teori dominan selain dari teori-teori lainnya. Pertama karena pemikiran Marx masih dikait-kaitkan dengan komunisme sebagai ideologi. Bahkan bagi penganut teori sosiologi konservatif, pemikiran Marx adalah ideologi komunisme itu sendiri. Akibat dinilai sebagai ideologi, pemikiran Marx tidak jauh berbeda dilihat sebagaimana agama yang secara karaktarestik tidak mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebagaimana agama, pemikiran Marx yang dinyatakan sebagai ideologi bukanlah proposisi-proposisi ilmu pengetahuan yang dititikberatkan kepada penelitian empirik masyarakat. Walaupun demikian yang ditolak oleh sosiolog konservatif bukanlah eksistensi ideologi dari pemikiran Marx itu sendiri, tapi ciri-ciri ideologis yang ada dalam cara radikal Marx melihat kenyataan masyarakat. Dimensi inilah yang disinyalir menjadi penolakan dari pemikiran sosiologi Marx, karena secara kritis implikasi dari radikalisasi Marx ketika merumuskan teorinya tiada lain memiliki dampak epistemik yang mampu membuka kedok kepentingan yang bersembunyi di balik mantel teori-teori sosiologi konservatif. Kedua, secara biografis Marx tidak seperti dua pendahulunya, yakni Auguste Comte dan Emile Durkheim yang dilihat sebagai ekonom tinimbang sosiolog. Meski sosiolog awal mengakui nilai penting dimensi ekonomi dari sisi kehidupan manusia, namun mereka melihat ekonomi hanya merupakan satu bagian dari keseluruhan kehidupan sosial masyarakat. Perhatian yang berbeda dari Marx nampak mencolok dari perhatian para sosiolog awal yang menekankan aspek-aspek harmonisasi dari kekacauan dua gejolak revolusi Perancis dan Inggris. Sementara Marx justru tidak terlalu mementingkan kekacauan masyarakat pasca dua revolusi yang dimaksud, melainkan jauh lebih kritis dengan mempertanyakan nilai keadilan yang terselenggara secara timpang akibat sistem kapitalisme pasca revolusi industri di Inggris. Dengan kata lain, Marx ingin mengembangkan suatu dalil penjelas yang menerangkan suatu fenomena khas kemunculan masyarakat pasca industri berupa ekses buruk dari sistem kapitalisme dan bagaimana cara mengubahnya secara radikal. Ketiga, ini salah satu yang paling mencolok karena para sosiolog awal melandasi dasar-dasar teori sosiologinya melalui filsafat Kantian. Sementara Marx membangun sistem pemikirannya melalui cara berpikir yang dikenal dengan nama dialektika. Berbeda dari cara berpikir filsafat Kant yang digerakkan dengan pola linear matematis, hukum sebab-akibat dalam dialektika Hegel, filsuf di mana Marx mengambil dialektika-nya, dipikirkan secara timbal balik dan atau bahkan saling memengaruhi. Artinya secara sederhana, melalui konsep dialektika, hukum sebab-akibat tidak dipahami secara hipotetik, melainkan melingkar dan saling berperan antara sebab bisa menjadi akibat, dan sebaliknya akibat bisa berubah posisi menjadi sebab. Keempat, akibat pemikiran Marx disebut-sebut sebagai biang keladi dari pelbagai kekacauan sosial di belahan dunia ketiga. Di hadapan teori sosiologi konservatif, terutama yang berpandangan struktural fungsional, pokok-pokok sosiologi Marx memiliki dampak yang melebihi kapasitasnya sebagai suatu teori yang secara akademik-etis hanya bertugas memberi pendasaran deskripsional bagi fenomena yang menjadi objek pengamatannya. Sementara teori-teori Marx tidak sebatas akademik-etis menggambarkan dan merumuskan pelbagai gejala sosial yang dinyatakannya melalui kerja ilmiahnya, melainkan secara politik-moral-etik mendorong hadirnya sikap terlibat bagi dan di dalam untuk mengubah fenomena sosial yang dihadapinya. Tepat dititik inilah makna radikal dari ucapan Marx ketika menyindir bentuk idealistik dari pemahaman sosiologi Hegel, filsuf (sosiolog) memiliki tugas bukan sekadar mengintrepetasi kehidupan sosial, melainkan mengubahnya.

16 Oktober 2017

Sosiologi Waktu: Suatu Tilikan Sederhana

Waktu dalam pendakuan Emile Durkheim adalah cermin dari pengalaman kolektif masyarakat. Sebagaimana fakta sosial, waktu bukan semata-mata dimensi subjektif manusia belaka, melainkan dia dibentuk secara bersama-sama seiring pengalaman masyarakat yang ikut menyertainya. Bahkan, waktu tidak saja dapat mengungkapkan irama aktivitas kolektif masyarakat, melainkan juga sebaliknya mengatur aktivitas kolektif masyarakat di dalamnya.

Waktu yang berasal dari kehidupan sosial secara historis-sosiologis memiliki ragam bentuk, terutama yang berkaitan dengan hal ihwal yang prinsipil. Pandangan dunia, sistem religi, sistem ekonomi, sistem pendidikan, serta beragam faktor lainnya adalah hal-hal yang ikut membentuk paras waktu dari masa ke masa, dari satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Waktu reflektif Yunani Kuno

Waktu di Yunani kuno identik dengan skolae. Skolae adalah waktu yang dimaksimalkan demi pencerahan akal budi dan jiwa. Bagi masyarakat Yunani kelas atas --selain budak-- waktu adalah dimensi kemanusiaan yang ikut membentuk paras kebudayaan melalui kerja-kerja diskursif.

Fransiscus Simon, melalui literasi Kebudayaan dan Waktu Senggang-nya, menandai aktivitas diskursif masyarakat Yunani sebagai penopang terbentuknya kebudayaan. Pendakuannya ini diidentikkan sebagai wahana yang dimanfaatkan masyarakat Yunani kuno melalui tindakan reflektif-filosofis dalam kaitannya dengan persoalan urat nadi kehidupan masyarakat.

Kegiatan reflektif-filososfis ini juga yang secara kategoris membedakan pengalaman atas waktu masyarakat Yunani Kuno dengan waktu-waktu yang lainnya. Secara sosiologis penandaan atas waktu reflektif-filososfis ini ditemukan melalui waktu senggang.

Pengalaman atas waktu senggang secara karikatural juga dapat dilihat melalui kehidupan para pemikir Yunani Kuno. Secara ilustratif, orang-orang semisal Socrates, adalah prototype secara sosiologis bagaimana dalam kehidupan sehari-harinya waktu secara senggang dimanfaatkan demi pemenuhan perkembangan akal budi dan jiwanya.

Dilihat dari pengalaman atas waktu, waktu dinyatakan bernilai ketika itu menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki manusia dalam mengupayakan suatu agenda yang membebaskannya dari kegiatan-kegiatan selain berpikir dan berefleksi.

Apabila waktu senggang dimaknai seperti dinyatakan Josep Pieper dalam Kebudayaan dan Waktu Senggang-nya Fransiskus Simon, maka poros dari pengalaman atas waktu itu senantiasa dimotori oleh peran logos yang menjadi kemampuan ekslusif manusia. Aristoteles adalah salah satu pemikir yang menempatkan logos bukan semata-mata sekadar pembeda dari hewan, melainkan dari situ pendasaran kehidupan politik mendapatkan dasar kerjanya.

Artinya, selain wahana penghayatan atas urat nadi kehidupan manusia, waktu senggang dapat memungkinkan dan memaksimalisasi peran logos yang dimiliki manusia untuk membentuk kehidupannya menjadi suatu peradaban dalam kerangka politik.  Dengan kata lain, ditilik melalui kerangka Aristotelian, polis (politik) adalah wahana sekaligus waktu senggang itu sendiri yang memberikan peluang ekspresi kebebasan manusia seperti ditemukan melalui konsep agora dalam konteks masyarakat Yunani kuno.

Waktu suci agama

Di abad pertengahan, pergeseran semangat dan idealisme antroposentrik Yunani kuno diserap dan bahkan nyaris hilang melalui idealisme institusi gereja. Abad pertengahan adalah abad Theosentrik, yang semua keputusan secara sosio-kultural, hukum-epistemologis, dan ekonomi-politik didudukkan dan diputuskan melalui kewenangan agama. Agama sebagai kekuatan totaliter akhirnya mendasari juga pemaknaan atas waktu bagi masyarakat abad pertengahan.

Masyarakat abad pertengahan dapat diilustrasikan sebagai masyarakat yang mengalami sakralisasi kehidupan melalui nilai-nilai agama.  Perbedaan ini menjadi dominan akibat institusi kekristenan yang secara politik memiliki kewenangan untuk mengatur hajat hidup orang banyak. Melalui agama waktu dikategorisasi berdasarkan waktu suci dan waktu profan yang ditandai dengan keterlibatan “yang ilahi” di dalamnya.

Bukan saja dalam keimanan Kristen, dalam  Islam pun ditemukan pola yang sama berkaitan dengan sakralitas waktu. Melalui pemaknaan waktu suci dan waktu profan, segala aktivitas individual maupun sosial ditentukan. Dalam Fenomenlogi Agama-nya Dhavamony, dinyatakan disitu bahwa puncak pemaknaan atas waktu suci dalam agama dijabarkan melalui ritual-ritual, peribadatan, dan perayaan untuk kembali mengakrabkan diri atau membangun pertalian kebermaknaan dengan “yang suci”.

Kategorisasi waktu suci dan waktu profan dalam agama, berbeda dengan penilaian atas waktu senggang yang ditemukan di masyarakat Yunani kuno. Dalam agama, nilai atas waktu ditentukan berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki oleh waktu itu sendiri untuk memberikan keutuhan atas “yang suci” bagi manusia. Dengan kata lain, waktu dalam semangat dan idealisme agama hanya dianggap bernilai kepada relasinya dengan Tuhan itu sendiri.

Secara kultural, waktu-waktu suci dalam agama dirayakan secara sosial dari hari, bulan, tahun, musim, periode yang sudah ditentukan nilai sakralitasnya dari agama itu sendiri. Inilah yang dibilangkan Durkheim sebagai bagian dari fakta sosial, yakni melalui waktu-waktu tertentu masyarakat diatur berdasarkan makna atas waktu itu sendiri. Hal ini terjadi akibat pentingnya kategori waktu-waktu suci yang mendasarai segala aktivitas masyarakat agar bernilai dan memberikan rasa keutuhan sebagai manusia.

Dilihat dari idealisme yang dikandung dalam agama, kegiatan yang dilakukan secara individual dan maupun sosial melalui waktu suci, adalah suatu tindak religius dalam kerangka ibadah. Berbeda dari pergumulan atas waktu masyarakat Yunani, masyarakat yang diikat melalui sakralitas agama merelatifkan dirinya di hadapan Tuhan melalui peribadatan dalam waktu-waktu suci.

Dengan kata lain, waktu-waktu suci mendiferensiasi waktu senggang yang secara epistemologis-ontologis mengerahkan kerja logos melalui kegiatan reflektif-filosofis, maka melalui waktu suci, secara epistem-ontologis waktu dan segala aktivitas di dalamnya didudukkan di bawah peran wahyu melalui kerangka peribadatan dan perayaan.

Waktu produktif, waktu senggang era modern

Masyarakat modern setidak-tidaknya dapat dikenali dari dua fenomena spesifik, pertama, kemunculan kapitalisme Eropa yang ditandai dari lahirnya kelas menengah baru yang menguasai sektor jasa dan perekonomian menggantikan tatanan masyarakat feodalistik, dan kedua, terjadi desakralisasi agama dari kehidupan masyarakat yang menciptakan suatu bentuk masyarakat sekuler dengan kemunculan paradigma saintifik sebagai dasarnya.

Kemunculan kapitalisme di Eropa  menandai era masyarakat yang terkonfigurasi berdasarkan sistem pembagian kerja atas kepemilikan alat-alat produksi. Munculnya gilda-gilda, bengkel kerja, dan pabrik-pabrik adalah asal muasal perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial yang menjadi prasyarat-prasyarat materialnya. Sementara perubahan politik yang mendelegitimiasi tatanan keagamaan dan kebangsawanan adalah awal baru dari model masyarakat yang mendasarkan pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan dalam melakoni kehidupannya.

Perubahan dari bentuk kehidupan masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial, juga ikut mengubah pengalaman atas waktu itu sendiri. Secara sederhana, dalam masyarakat agraris pemaknaan atas waktu disandarkan kepada musim-musim, periode, atau masa tertentu yang berkaitan dengan pengelolahan tanah, namun semenjak berlakunya tatanan masyarakat industrial yang bertolak dari aktivitas kerja dalam pabrik mengubah siklus waktu berdasarkan jam kerja industrial.

Analisis Jean Baudrillard, mengenai perubahan mode produksi kapitalisme industrial menjadi kapitalisme konsumsi adalah salah satu penanda yang cukup memberikan pemahaman betapa progresifnya kapitalisme berkembang. Progresifitas kapitalisme secara gradual juga mengubah konsep waktu bukan saja sekadar waktu produktif yang ditandai dengan kerja sebagai satu-satunya aktivitas yang bernilai kapital, melainkan tindakan konsumsi yang secara massal menjadi pekerjaan dari ekses melimpahnya barang-barang.

Konsumsi sebagai aktivitas primer dari kapitalisme tingkat lanjut juga disituasikan melalui waktu-waktu tertentu yang dihubungkan dengan perilaku konsumsi sebagai inti aktivitasnya. Dengan cara inilah, waktu senggang dalam setting masyarakat kapitalisme menjadi modus baru dari akumulasi kapital berupa bukan saja modal itu sendiri, melainkan simbol dan konsumsi itu sendiri.

Itulah sebabnya, waktu luang yang dimiliki di luar dari waktu kerja, dalam setting masyarakat kiwari secara massal berkaitan langsung dengan aktivitas konsumsi dengan menghabiskan waktunya di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat plesiran. Itulah juga mengapa banyak tempat-tempat perkotaan memanfaatkan ruang lapang demi membangun pusat perbelanjaan, menjadikan ruang publik sebagai ruang konsumtif bagi warga kotanya.

Singkat cerita, waktu luang dalam benak masyarakat kapitalistik bukan lagi berusaha mengunjungi ruang interior dirinya seperti yang ditunjukkan masyarakat Yunani Kuno demi pengembangan diri, atau melihat waktu melalui dimensi ilahiah dengan ibadah sebagai bentuk perayaannya, melainkan lebih bermakna eksterior  mengunjungi tempat-tempat konsumtif sebagai ibadah kolektif masyarakat konsumer.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...