13 Desember 2018

Banu di Antara Cerpen-Cerpen Eka Kurniawan


Judul : Corat-coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  April 2014
Tebal: 130 halaman
ISBN: 978-602-03-0386-4

AGAK aneh merasakan sensasi membacakan cerpen kepada bayi yang belum genap empat bulan. Pengalaman ini saya alami langsung ketika sudah empat hari berturut-berturut membacakan Banu cerpen-cerpen karangan Eka Kurniawan.

Cerpen-cerpen itu saya comot bebas begitu saja dari rak buku. Kebetulan Corat-Coret di Toilet-lah yang pertama kali digapai tangan saya. Walaupun jauh di alam bawah sadar, nama Eka Kurniawan sudah menjadi canon sastra kiwari. Ini tidak lebih dari betapa –sadar tidak sadar- karangan Eka Kurniawan, terutama Cantik Itu Luka, sedikit banyak mengubah persepsi saya tentang –khususnya- moralitas manusia.

Seperti diketahui Cantik Itu Luka adalah karangan yang kompleks meriwayatkan sejarah Indonesia mulai masa penjajahan sampai rezim orde baru. Dengan menggunakan berbagai macam teknik canggih –menginovasikan teknik tutur lisan, peristiwa sejarah politik, cerita rakyat, realisme magis, dan permainan plot yang sulit diterka— karangan  ini menyuguhkan kisah generasi satu keluarga saat melalui berbagai peristiwa politik, masa kolonialisme yang panjang dan kemerdekaan dari negeri yang bernama Halimunda.

Uniknya, kisah ini bermula dan bertumpu dari sosok seorang perempuan dan diakhiri pula oleh nasib seorang perempuan. Melalui kisah dari perempuan, dan berakhir kepada perempuan itulah banyak tokoh-tokoh unik dan aneh yang berhasil mencerminkan betapa kebaikan dan keburukan bukanlah sesuatu yang ajeg apalagi dapat dikukuhkan fix oleh suatu rezim kekuasaan.

Bahkan, bercerita tentang suatu peristiwa sejarah, novel ini sangat berhasil menyusupkan sejenis premis ke dalam benak pembacanya bahwa kebenaran sejarah bukanlah ayat-ayat suci sebagaimana diciptakan Tuhan. Sejarah adalah rekam jejak kekecewaan dan harapan manusia, yang dengan kata lain, karena sifatnya yang demikian sangat wajar untuk dibicarakan dan digugat.

Itu artinya, sejarah adalah sejarah:  ia berasal dari bawah kaki dan dikerjakan tangan manusia, dan karena itu adalah sangat mungkin untuk diubah, dibangun, direncanakan dan diperjuangkan sama-sama.

Kembali ke soal anak saya, Banu. Barangkali memang bukan waktunya untuk Banu mendengarkan cerita-cerita yang sejak semula tidak pernah dibayangkan penulisnya diceritakan untuk seorang bayi. Untuk anak-anak saja tidak apalagi bagi seorang bayi.

Makanya hal ini membuat saya berspekulasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah ada pengaruh signifikan bagi Banu ketika dibacakan cerpen-cerpen seperti karangan Eka –ini juga berlaku bagi karangan sastrawan  lain.  Jika ada, dalam bentuk apa pengaruh itu dapat dilihat? Bagaimana cara mengenalinya? Dan di saat kapan pengaruh itu dapat diidentifikasi?

Belum lagi jika pengaruh itu melibatkan unsur baik-buruk di dalamnya. Apakah membacakan cerpen itu baik bagi perkembangan pikiran Banu, kejiwaannya? Jika baik, seperti apa kebaikan itu dialami bagi Banu? Lantas kalau malah sebaliknya, sedemikian burukkah efek yang bakal ditimbulkan dari kebiasaan ini? Apakah buruk bagi Banu berarti akan berdampak fatal bagi perkembangan kejiwaannya?

Dari pertanyaan spekulatif itu membawa saya kepada satu keadaan. Saya sesungguhnya sedang terjebak dalam eksperimen sederhana. Dan kelinci percobaanya adalah Banu, anak saya sendiri –maafkan bapakmu ini, nak.

Mungkin saja telah banyak penelitian yang berhasil mengungkapkan dampak dari seperti yang saya lakukan. Bahkan, di negara-negara maju konon sejak awal anak-anak sudah diakrabkan dengan cerita maupun kisah berupa legenda, sejarah, fabel, biografi, cerita anak, teka-teki, folk klor, mitos, dan karangan sastrawan kanon agar ikut membentuk kepribadian sang anak.

Beberapa waktu lampau, ketika salah satu stasiun televisi menayangkan perlombaan dai cilik, saya tertegun melihat anak-anak kecil yang belum berusia di atas lima tahun sudah mampu menghapal sejumlah juz Al Quran. Ketika orang tuanya ditanya kenapa hal itu bisa terjadi, mereka menjawab ketika masih dalam kandungan setiap subuh sang anak sudah dibaca-dengarkan Al Quran.

Itulah mengapa ketika sang anak dituntun menghapal ayat-ayat suci Al Quran, dengan mudah kebiasaan yang sudah rutin dilakukan ketika janin masih seukuran buah belimbing, banyak membantu daya ingat anak-anak mereka. Dengan gampang, di acara itu si orang tua  tanpa banyak kesulitan menjelaskan bahwa sebenarnya ini hanya soal kebiasaan saja.

Saat mendengar penuturan itu Banu masih berbentuk janin berusia sekitar lima bulanan. Diusia seperti itu, Banu masih sebesar buah mangga. Segera hal yang sama juga ingin saya lakukan. Tapi sial, menyadari kebiasaan buruk mengenai tradisi membaca Al Quran, hal itu buru-buru layu sebelum berkembang. Praktis hanya berhenti menjadi niat belaka.

Lantaran memang Banu bukan disiapkan demi acara dai cilik, kebiasaan mendengarkan Al Quran saya serahkan diambil alih ibunya saja.

Dengan rasa bersalah bukan menjadi ayah yang demikian relijius, dan hanya mampu bermodalkan surah-surah pendek, kegiatan memperdengarkan Banu dengan hal-hal baik saya tukar dengan membacakannya cerpen-cerpen di saat ini.

Tapi sampai di sini hal-hal ganjil mulai bermunculan. Terutama ketika itu berhubungan dengan tema cerita pendek Eka. Cerpen pertama yang saya bacakan kepada Banu adalah Corat-Coret di Toilet: cerpen yang demikian mengasyikkan menceritakan nasib toilet yang menjadi panggung aspirasi. Alih-alih melihat toilet sebagai ruang marginal, cerpen ini  malah mengambil sisi lain dari dinding toilet.

Melalui toilet itu dengan dari mahasiswa yang beragam latar belakang pilihan politiknya –dari kiri, punk, mahasiswa hedonis, ayam kampus, sampai mahasiswa pro orba—membuat dinding toilet menjadi arena aspirasi, kritikan, kekecewaan, harapan, celetuk nyeleneh terhadap rezim orba saat itu yang dikenal otoriter dan kejam.

Ditulis menggunakan spidol, arang, bulpen, dan bahkan lipstik komentar-komentar yang menyerempet kekuasaan di dinding itu menyerupai wahana politik di gedung parlemen. Tanpa disadari, di ruang gelap toilet, demokrasi malah demikian tegak dan tanpa sensor.

Uniknya walaupun coretan di dinding toilet itu ditulis oleh orang-orang yang tidak saling ketemu dan tidak saling kenal, tetap saja mereka diikat dalam satu rangkaian wacana yang mengundang komentar satu sama lain demikian panjang memenuhi dinding toilet.

Jika melihat konteks gerakan reformasi 98, nampaknya kejadian berbalas komentar di toilet dalam cerpen ini seolah-olah menunjukkan bagaimana bekerjanya wacana penumbangan orba sebelum peristiwa 98 yang semula saling terserak, terpencar, dan hanya mengemuka di ruang-ruang sempit di luar jangkauan intel-intel orba, akhirnya berhasil menjadi kumpulan tekad dan gagasan yang searah dan padu yang berhasil menjatuhkan kekuasaan 3 dekade lamanya

Bagi siapa saja yang membaca cerpen ini pasti menangkap aroma politik dan subversif di dalamnya. Malah terasa kental dan demikian telanjang.

Itulah sebabnya, menyadari hal ini, yang ganjil tadi itu menyadarkan saya apakah faedahnya bagi Banu "mendengar" cerita yang lumayan tebal unsur politiknya. "Kesadaran" macam apa yang hinggap dalam "pemahamannya"? Mengingat ia belum mengerti apa-apa, semakin aneh melihat dampaknya ke depan kelak ketika ia dewasa dari endapan cerita politik yang pernah "didengarnya"

Saya tahu Banu belum mampu melakukan itu semua, tapi ini demikian menyenangkan bagi kami berdua.

Di sisi lain secara bersamaan, sebaliknya, cerpen yang saya bacakan ini ikut andil membentuk ulang pemahaman mengenai sisi-sisi yang belum saya temukan ketika pertama kali membacanya.

Berturut-turut secara acak saya membacakan juga Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, dan Rayuan Dusta untuk Marietje. Dari judulnya saja tiga cerpen ini sudah sangat tidak selaras diperdengarkan bagi anak-anak apalagi bayi.

Singkatnya, Peter Pan bercerita tentang seorang gadis  bernama Tuan Putri yang memiliki kekasih aktivis berhaluan kiri. Kekasihnya ini memiliki kebiasaan mencuri ribuan buku dari mana saja dan menyukai menyebarkan selebaran berbau provokatif. Ia juga seorang penyair yang sering mengkritik pemerintah melalui puisinya. Peter Pan demikian ia akhirnya diringkus dan hilang tanpa diketahui di mana ia berada. Sang Tuan Putri akhirnya hanya menikahi sang aktivis dengan diwakili puisi-puisinya.

Kisah Dongeng Sebelum Bercinta menyerupai kisah 1001 malam. Diceritakan Alamanda di tiap malam berhasil menunda percintaan dengan suaminya dengan cara mendongengkan Alice Adventures in Wonderland. Ia menikah setelah dijodohkan orang tuanya. Sebelum cerita berakhir mereka bersepakat tak akan memulai malam pertamanya. Akibat itu sang suami sering merasa dongkol dan mengalami mimpi basah lantaran tak mampu menahan hasrat bercintanya. Tanpa disadari sang suami, kelakuan Alamanda menunda percintaan melalui berdongeng adalah strategi mengulur waktu demi menyembunyikan satu fakta sederhana: Alamanda tidak lagi perawan setelah melalui malam-malam panas dengan mantannya.

Sementara Rayuan Dusta untuk Maritje merupakan cerita berseting awal abad 19 di tanah Hindia Belanda. Kala itu pendudukan bangsa Belanda di Hindia Belanda banyak diikuti pemuda-pemuda lajang sebagai pasukannya. Mereka rela berpergian jauh sampai ke tanah Nusantara bukan saja dimotivasi untuk perang, tapi juga sekadar mencari pekerjaan setelah tersiar kabar berlimpahnya hasil-hasil bumi di tanah jajahan.

Di dalam keadaan inilah tokoh Aku sebagai pasukan yang ingin hidup berpasangan di tanah jajahan terdorong mengajak kekasihnya untuk menyusulnya. Uniknya sang Aku tidak ingin mencari pasangan dari gadis pribumi yang dinilainya rendahan dan barbar. Sang Aku ingin mempertahankan kemurnian rasnya dengan cara memiliki pasangan yang juga berbangsa sama.

Akhirnya suatu waktu lewat surat rayuan datanglah kekasih sang Aku dari jauh dari tanah Belanda. Namun apa daya, seperti dijanjikan negeri yang kaya raya itu malah sedang berkecamuk perang. Bukan negeri tenang dengan kemakmuran tiada tara. Di balik itu, bukannya demi negaranya apalagi sang ratu Belanda, si aku berperang terlebih karena motif kekasihnya. Ia berperang demi perempuan.

Ketiga cerita belakangan memiliki suara  yang hampir mirip, sama-sama menyuarakan betapa runyamnya yang namanya kebebasan. Kebebasan betapa pun ia adalah hak dasar dan inheren dalam setiap jiwa manusia. Kebebasan akan mudah hilang jika tidak memiliki keberanian menjaganya.

Itulah sebabnya, kebebasan yang direnggut dari tangan sendiri dan tanpa perlawanan disebut sebagai penindasan. Di masing-masing cerita di atas premis ini ditunjukkan secara tersembunyi, tapi justru malah mudah merasakannya karena pengalaman serupa adalah pengalaman yang dialami bangsa sendiri.

Dengan isu berat itu, saya hanya membacakannya tanpa henti tanpa menunggu Banu memintanya. Apalagi mengintrupsinya untuk berhenti. Dengan kata lain, aktivitas ini sedikit banyak bukan berarti demi Banu semata, namun juga kenikmatan bagi saya ketika menyarikannya untuk diri pribadi.

Sering saya mengatakan setiap laki-laki itu memiliki dua perempuan yang dibenci dan disukainya sekaligus. Perempuan pertama adalah perempuan ideal di setiap benak laki-laki. Perempuan ini sering banyak mengisi imajinasi laki-laki untuk melihat perempuan kedua, yakni perempuan kongkrit yang ada di hadapan si laki-laki. 

Jika perempuan kekasih si laki-laki yang ada di hadapannya itu jelek maka ia membencinya melalui kaca mata perempuan ideal dalam benaknya. Sebaliknya jika rupawan, maka ia sesungguhnya sedang mencintai dua perempuan sekakigus.

Sebagaimana perempuan, di mata seorang laki-laki, terutama ketika telah menjadi seorang ayah, ia sesungguhnya sedang berhadapan dengan dua anak sekaligus. Anak pertama adalah anak biologis yang dilahirkannya melalui rahim perempuan istrinya, dan yang kedua adalah sang anak dalam rahim benak sang bapak. Anak dalam benak sang bapak setiap kali adalah idealisasi dari semangat, harapan, nilai, gagasan, dan cita-cita yang berkaitan dengan masa depan sang anak. Walaupun demikian, kadang, anak yang kedua, tidak pernah akan lahir dan mati begitu saja seiring berkembangnya sang anak biologis lantaran dibiarkan begitu saja.

Tapi ada juga ketika sang anak dalam benak dilahirkan, dirawat dan dibesarkan melalui tubuh anak biologis. Di saat ini, dengan kata lain, sang anak biologis dilihat dari anak dalam benak sang ayah. Dengan kata lain lagi,  si anak biologis tumbuh berkembang dibesarkan dalam terang semangat, cita-cita dan harapan sang anak ideal, anak dalam benak sang ayah.

Syahdan, seperti anak-anak lainnya, Banu adalah suatu proses panjang menyangkut dialog, tarik ulur, negoisasi, tawar-menawar, dan bahkan kompromi antara saya (tentu juga ibunya) dan dirinya sendiri dalam hal perkembangan dirinya. Proses ini akan banyak melibatkan energi dan pemahaman, dan seiring waktu akan tiba saatnya semua itu menunjukkan hasil. Suatu perjudian besar memang. 

09 Desember 2018

Robinson Crusoe dan Kehidupan Liar di Pulau Harapan


Judul : Kehidupan Liar
Penulis: Michel Tournier
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  November 2016
Tebal: VII+ 135 halaman
ISBN: 978-602-424-142-1

KEHIDUPAN LIAR. Semalam, dengan terengah-engah, saya baru saja menyelesaikan novel klasik karangan Michael Tournier: Kehidupan Liar. Pasca itu saya berusaha menuliskan apa saja yang bisa saya ungkap dari novel yang mengasyikkan ini. Walaupun begitu, tulisan yang saya bikin belum rampung juga. Karena diserang kantuk, draf yang baru dua halaman itu saya simpan belaka untuk nanti dilanjutkan kembali.

Kehidupan Liar becerita tentang Robinson Crusoe, seorang pria yang terdampar di pulau tak berpenghuni akibat kapal yang ditumpanginya karam dihantam gugusan batu karang di sekitar perairan Chili.

Selama tiga puluh tahun --sesuatu yang tidak diketahuinya-- ia bersama Vendredi, pria keturunan suku Indian yang diselamatkan Robinson dari upacara pengorbanan kematian, menjalani cara hidup yang demikian asing dari peradaban manusia ---saat itu abad 18.

Robinson awal mula menghadapi banyak masalah di hari-hari pertama di pulau itu. Hal paling pertama dipikirkannya adalah bagaimana cara meninggalkan pulau yang tak dikenalinya itu.

Setelah gagal menurunkan perahu di perairan yang dibuatnya (ia membuatnya jauh dari bibir pantai --sesuatu yang tidak pernah dilakukan pelaut mana pun), ia mengalami depresi berat lantaran berpikir akan terkurung sendirian tanpa bekal apa-apa dalam waktu yang lama.

Di titik ini Tournier dengan piawainya menggambarkan keadaan jiwa Robinson yang kalah dengan nasibnya itu (bayangkan jika Anda adalah Robinson terjebak dan mengetahui tidak akan mampu keluar lagi dari pulau asing itu).

Pertama-tama Robinson cukup yakin dengan keputusannya dapat membuatnya keluar dari pulau itu dengan membuat perahu. Berhari-hari dengan keyakinan yang sama, dengan peralatan sederhana, ia menghabiskan seluruh energi dan upayanya agar perahu itu dapat rampung.

Namun, setelah perahu itu jadi, betapa kagetnya ia ketika menyadari perahu yang dibuatnya dibikin jauh dari bibir pantai (ini semua karena Robinson mengikuti kisah Nabi Nuh yang ia baca di dalam injil yang ditemukannya di dalam bangkai kapal La Virginie kapal yang ditumpanginya sebelumnya --Nabi Nuh tidak perlu membawa perahunya sampai ke pantai. Cukup ia menunggu banjir bandang seperti dijanjikan Tuhan kepadanya).

Dengan mengandalkan sisa-sisa semangat yang masih ada, Robinson mengganjal kayu gelondongan di bawah perut perahu dan berusaha mendorongnya sampai ke pinggir pantai. Walaupun begitu apa daya, perahu yang beratnya 500 kg itu tidak bergeser sama sekali.

Tak habis akal Robinson membuat parit dari bibir pantai hingga ke lokasi perahu itu berada. Ia menggali dan menggali. Setelah mengkalkulasi lamanya waktu untuk pekerjaan itu, ia akan menghabiskan waktu puluhan tahun hanya untuk sebuah parit. Suatu pekerjaan yang sia-sia belaka.

Setelah semua usaha itu hancur total Robinson diserang keputusasaan. Robinson yang semula bersemangat pada akhirnya mengalami gangguan jiwa --gangguan jiwa dalam arti kehilangan pegangan, kekecewaan yang sangat sehingga menerima hidup dengan apa adanya tanpa ada usaha sedikit pun untuk memperjuangkannya (mati enggan hidup pun segan).

Sampai akhirnya di suatu waktu setelah lama bermalas-malasan berendam di dalam kubangan lumpur seperti babi-babi yang dilihatnya dan terserang halusinasi, Robinson mengalami kesadaran baru: ia enggan mati di pulau itu, tapi tidak mungkin juga dapat pergi dari pulau itu. Dengan kata lain ia mesti bekerja, bangkit dan menentukan nasibnya sendiri.

Perkembangan jiwa yang merekah ibarat kuncup bunga di pagi hari membuat Robinson berusaha berdamai dengan pulau itu. Kehidupan liar nan asing yang awalnya ingin ditinggalkannya ia terima apa adanya. Seolah-olah ia diciptakan untuk pulau ini dan Robinson-lah yang diamanahkan untuk merawatnya.

Maka mulai lah Robinson membangun benteng pertahanan, menetapkan lokasi-lokasi sumber makanan, bercocok tanam dan beternak kambing-kambing hutan yang banyak ditemukan di pulau itu.

Dengan cara itu semua Robinson mengangkat dirinya sebagai gubernur pulau itu dan menjadikan setiap tumbuhan adalah penduduknya yang setiap hari diajaknya berbicara. Ia kemudian menetapkan aturan semacam undang-undang bagi seluruh pulau itu. Dan, membuat seragam khusus gubernur untuk dikenakan saat ia berkeliling mengecek pulau itu.

Dengan aktivitasnya itu pulau itu ia beri nama Speranza, yang berarti harapan.

Lumayan lama Robinson hidup seorang diri di Pulau Speranza. Sampai ketika ia menyelamatkan Vendredi, pria suku Indian yang kabur dari upaya upacara pengorbanan.

Saat itu Vendredi datang bersama beberapa anggota sukunya beserta seorang dukun. Pulau itu ternyata disinggahi untuk melakukan ritual pembunuhan bagi tersangka yang dianggap sebagai sumber masalah di sukunya. Dipimpin oleh dukun Vendredi ditunjuk tiba-tiba sebagai salah satu tersangka yang baru diketahui setelah sang dukun membaca mantra. Mengetahui hal itu Vendredi berusaha kabur masuk di hutan.

Ternyata kejadian itu diintai Robinson di balik semak-semak. Ia bersembunyi agar mereka tak tahu bahwa pulau yang mereka singgahi ditinggali Robinson. Tak dinyana Vendredi berlari menuju tempat Robinson bersembunyi. Agar tidak sampai ketahuan Robinson menembak dua Indian yang mengejar Vendredi. Vendredi selamat, dan orang Indian yang tersisa memilih kabur lantaran takut.

Sejak itu karena hutang budi --ini benar-benar berhutang karena "budi" kemanusiaan-- Robinson yang telah menyelamatkan nyawanya membuat Vendredi menjadi pembantu Robinson di pulau itu.

Yang menarik bagi saya adalah --selain karakter Vendredi yang menonjol-- semenjak Vendredi diajarkan bahasa Inggris oleh Robinson untuk berkomunikasi, banyak terjadi perubahan bukan saja di dalam diri Vendredi, tapi juga Robinson sendiri.
Cukup unik melihat tarik-menarik antara Robinson dan Vendredi ketika ditinjau dari kebudayaan. Awalnya Vendredi diajarkan banyak hal mengenai aturan hidup yang dibuat Robinson selama tinggal di Speranza. Vendredi menjadi pribadi penurut lantaran nyawanya pernah diselamatkan Robinson.

Sehari-hari Vendredi berkomunikasi dengan bahasa tuannya, yakni Robinson itu sendiri. Bekerja atas inisiatif Robinson. Dan diupah Robinson dengan emas-emas yang sebelumnya berhasil diselamatkan Robinson dari La Virginie. Singkatnya apa pun yang dilakukan Vendredi tidak otentik menunjukkan kemauannya sendiri. Semuanya atas perintah Robinson.

Dengan kata lain, di pulau itu seperti apa pun terasingnya mereka berdua dari peradaban di luarnya, tetap saja ada hubungan kuasa di antaranya. Dalam hal ini Robinson dengan sisa-sisa kebudayaan kulit putihnya, yang menentukan cara hidup Vendredi, dengan Vendredi itu sendiri sebagai bagian dari penduduk kulit berwarna.

Yang tak jauh kala menarik adalah pembalikan relasi di antara keduanya. Momen ini ditandai saat Vendredi tanpa sengaja meluluhlantakkan pulau Speranza berkat pipa rokok yang menyulut nyala mesiu hingga meledak. Ledakan itu menghancurkan seluruh kehidupan yang sudah dibangun Robinson. Seluruhnya rata dengan tanah, termasuk harta simpanan yang Robinson simpan di ceruk gua-gua.

Peristiwa itu ibarat revolusi sosial --saya beranggapan ini sisipan Tournier tentang konsep revolusi yang memformat ulang seluruh sendi-sendi kehidupan-- yang memperbaharui hubungan Robinson dan Vendredi termasuk konsekuensi-konsekuensinya dari itu semua.

Semenjak itu keadaan berubah total. Tidak ada lagi siapa tuan siap pelayan. Ledakan itu merelatifkan dominasi Robinson sehingga hubungannya terhadap Vendredi jauh lebih setara. Ledakan itu juga mengubah cara mereka berdua mengelola pulau itu. Tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan yang perlu dikerjakan Vendredi karena disuruh Robinson.

Dengan kata lain, keadaan pasca ledakan itu membuat keduanya hidup bebas menentukan apa pun yang mereka sukai.

Vendredi, setelah ledakan menjadi orang bebas. Bahkan dalam keadaan itu identitas kesukuannya banyak memberikan pemahaman baru kepada Robinson. Dalam keadaan ini justru sebaliknya, banyak hal-hal baru diajarkan Vendredi kepada Robinson dari pengalaman hidupnya selama menjadi bagian dari suku Indian.

Misalkan saja, Vendredi mengajarkan pengetahuan kuliner kepada Robinson, sesuatu yang tidak ia temukan dalam hidup orang-orang Eropa. Bagaimana membuat burung bakar tanpa repot-repot mencabuti bulunya dengan membakarnya setelah digulung menggunakan lumpur basah. Bagaimana memanfaatkan getah tanaman manis untuk membuat gula cair dan karamel. Bagaimana membuat makanan kaya rasa dengan mencampur buah-buahan yang berlainan rasa...

Robinson juga ditunjukkan cara membuat panah unik dari batang pohon yang menjadi mainan bagi Vendredi. Cara membuat busurnya, dengan apa ekornya dibuat, dan menggunakan bahan apa untuk membuat mata anak panah agar memiliki laju yang baik ketika di udara...

Di lain waktu dengan memanfaatkan tulang-tulang kambing, Vendredi berhasil membuat takjub Robinson ketika menciptakan alat musik menyerupai harpa. Dan yang tak kalah uniknya berkat kulit kambing yang dikeringkan, Vendredi membuat layang-layang yang dapat diterbangkan untuk memancing ikan.

Singkatnya, Vendredi yang hidup bebas banyak memberikan pengaruh balikan kepada Robinson. Awalnya, Vendredi banyak melakukan hal-hal tetek bengek dari kacamata Robinson, seorang Eropa kulit putih. Namun setelah sederajat, Vendredi-lah yang banyak memberikan hal-hal baru kepada Robinson.

Di titik itu, seolah-olah Tournier sedang mengemukakan suatu keadaan sejati manusia ketika sama-sama menjunjung kesetaraan. Sama-sama hidup bebas tanpa kekangan yang memberikan peluang satu sama lain dapat belajar dan bertukar pemahaman demi mengangakat kehidupan masing-masing.

Tournier dengan kata lain, menurut saya sedang berbicara tentang dialog kebudayaan. Sesuatu yang harus banyak dilakukan di kiwari ini.

Sesungguhnya Kehidupan Liar adalah versi lain dari karangan yang pernah ditulis Daniel Defoe dengan tokoh yang sama (kisah Robinson Crusoe juga pernah diangkat menjadi film). Hanya saja versi Tournier tidak seperti karangan Defoe yang menitikberatkan kisahnya kepada penemuan-penemuan unik Robinson Crusoe selama hidup terasing di dalam pulau.

Melalui sosok Vendredi, Tournier mengambil sisi kejiwaan Robinson selama menghadapi kehidupan asing yang terputus dari dunia luar. Tournier juga menonjolkan sosok Vendredi sendiri sebagai tokoh yang demikian menonjol berkat pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah diketahui Robinson.

Kehidupan Liar versi Tournier juga memiliki ending berbeda dari kisah yang sama. Dikisahkan Robinson bukannya malah memilih keluar meninggalkan Speranza setelah tanpa sengaja sebuah kapal Inggris singgah di pulau itu ---setelah tiga puluh tahun.

Setelah untuk pertama kalinya berinteraksi dengan orang-orang yang diwakili awak-awak kapal yang berperingai buruk selama singgah di Speranza, Robinson meyakini peradaban masyarakatnya bukanlah tipe kehidupan yang diidealkannya. Ia lebih memilih hidup dengan jiwa yang bebas di pulau itu.

Bagaimana dengan Vendredi? Vendredi berkebalikan dengan Robinson. Ia memilih ikut pulang ke dalam kapal meninggalkan Robinson dengan cara melarikan diri di malam hari ketika Robinson sedang tertidur pulas.

06 Desember 2018

Imajinasi dan Nasionalisme


Benedict Anderson. Indonesianis. 
Penulis buku Di Bawah Tiga Bendera

IMAJINASI. "Tetapi dalam kenyataan, semua komunitas, asalkan lebih besar dari dusun-dusun primordial di mana para anggotanya bisa saling bertatap muka langsung setiap hari (bahkan mungkin komunitas semacam ini pun), adalah komunitas terbayang."

Petikan di atas adalah ungkapan Benedict Anderson, Indonesianis terkemuka ketika memperkenalkan konsep imagined communities. Konsep ini begitu fundamental menerangkan masih rentannya konsep nasionalisme sebagai gagasan kebangsaan yang lahir bukan sebagai komunitas politik belaka.

Imagined communities sering kali disalahartikan karena betapa barunya gagasan ini ketika pertama kali diungkapkan Benedict Anderson.

Hal ini dinyatakan dalam kata pengantar melalui buku yang sama yang ditulis Daniel Dhakidae bahwa nasionalisme sebagai gagasan kebangsaan walaupun sifatnya yang masih baru ---muncul di abad 19--- juga karena dipahami sebagai konsep yang sudah ajeg dan fix dari awalnya.

Salah satu alasannya yakni nasionalisme sebagai paham kebangsaan sudah dari awal dimengerti dengan "N" besar yang menutup ruang diskursif untuk dipersoalkan.

Nasionalisme ketika dipahami dengan cara itu dinyatakan Anderson hanya akan didudukkan ibarat "impian" yang kebal terhadap perubahan dan kritik. Bukannya dengan cara itu, Anderson malah memberikan perspektif baru bahwa sebenarnya nasionalisme adalah "bangunan" gagasan yang menimbulkan "bayang-bayang" yang segera menerbitkan aksi.

Dengan kata lain, nasionalisme tidaklah merupakan gagasan yang sudah sempurna sehingga tidak perlu lagi dijangkau pemikiran anggota-anggotanya. Melainkan gagasan berupa nasionalisme dengan "n" kecil yang berarti betapa pun ia masih baru, tapi sebenarnya di situlah ia mesti didudukkan sebagai gagasan yang mudah kendor atau sebaliknya ketat.

Dalam arti inilah, nasionalisme sebenarnya adalah proyek bersama sejauh bagi orang-orang masih mau hidup dengan mempertahankan dan memperjuangkannya terus-menerus.

"Maka dengan gaya pikir antropologis, saya usulkan defenisi berikut ini tentang bangsa atau nasion: ia adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan.

Di sini "terbayang" adalah kata kunci yang menerangkan betapa sebenarnya bangsa pada awalnya dimulai dan timbul dari aktifitas yang mendahului praktik-praktik interaksi sesama anak bangsa.

Kata Anderson, "terbayang" karena secara geografis tidak ada hubungan material-sosiologis apa pun yang mempertemukan kelompok-kelompok yang saling berjauhan bahkan tidak saling bertatap muka dan mendengarkan.

Lalu dari mana datangnya ikatan imajiner yang timbul di antara orang-orang yang tidak saling bertatap muka? Kata Anderson, itu lahir dari bayangan kebersamaan di tiap-tiap benak setiap orang yang menjadi bagian dari bangsa yang dimaksud.

Tidak ada bangsa yang universal. Sebagai realitas politik atau komunitas politik, ia sangatlah terbatas. Betapa pun ketika setiap anggotanya berjuta hingga bermiliar-miliar, tetap saja konsep kebangsaan itu sendiri mengandung keterbatasan di dalamnya.


Seperti yang dijelaskan Anderson, tak satu bangsa pun membayangkan dirinya meliputi seluruh umat manusia di bumi. Walaupun jumlahnya kian besar atau sebaliknya, tetap saja memiliki garis batas yang disebut Anderson meski sifatnya elastis.

Dalam pengertian dua yang terakhir ini, maka dapat dipahami bahwa kebangsaan dapat saja kian berubah seiring lemah-kuatnya "bayangan" untuk mau hidup bersama. Dia dapat meluas atau menyempit secara jumlah dari anggota-anggotanya atau pun secara letak geografis yang ditentukan oleh rasa kedaulatan yang lahir dari keinginan untuk membebaskan diri dari tekanan jajahan.

Berdaulat dalam pengertian ini dinyatakan Anderson lahir dari suatu proses pencerahan yang panjang ketika masyarakat berkeinginan membebaskan dirinya dari belenggu yang mengikatnya. Anderson menyebutnya ketika suatu revolusi memporak-porandakan keabsahan hirarki kekuasaan yang berasal dari Tuhan sekalipun.

Melalui proses ini kedaulatan hanya berarti ketika masing-masing klaim kekuasaan menyadari dirinya memiliki keterbatasan secara pengklaiman ontologisnya. Sederhananya, setiap kekuasaan sadar diri bahwa berkat pencerahan, semakin terbuka kemungkinan bagi setiap individu menyadari kedaulatannya masing-masing.

•••

Bagaimana jadinya jika manusia tidak mempunyai kemampuan imajinatif? Apa yang akan terjadi kelak jika manusia tidak mampu berimajinasi tentang dirinya dan kehidupannya? Lalu apa pula jika kebudayaan manusia tidak meninggikan imajinasi sebagai alas pijak sejarahnya? Lantas apakah imajinasi masih relevan didudukkan di dalam peradaban yang serba teknis sekarang ini?

Imajinasi menurut KBBI disebut sebagai daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Dalam arti yang lain KBBI juga menyebut imajinasi sebagai khayalan.

Terlepas dari benar salahnya, imajinasi berkedudukan penting dalam kebudayaan manusia. Bahkan, imajinasi adalah sumber pengetahuan bagi kebudayaan manusia untuk menguji kemungkinan-kemungkinan, peluang-peluang, kesempatan, dan kemampuan ketika merumuskan kehidupannya di samping mengelola sumber daya yang dimilikinya.

Dalam tradisi kesusastraan, imajinasi menjadi daya dorong bagi sastrawan untuk menimbulkan suatu pengertian baru mengenai dunia.

Melalui imajinasi, dunia faktual dibongkar dan dirumuskan ulang di luar dari ukuran-ukurannya yang sudah ada. Dengan begitu lahirlah dunia baru yang lebih segar dan fresh yang mampu menghasilkan suatu pengertian dan pengalaman baru yang tak biasa.

Berkat imajinasi dunia akhirnya jauh lebih terbuka untuk dimaknai ulang.

Novel Eka Kurniawan misalnya, melalui rumusan "bagaimana jika" berhasil menciptakan suatu cerita imajinatif yang lahir dari sejarah Indonesia dalam Cantik Itu Luka.

Novel ini tidak saja terletak pada alur dan penokohannya yang kuat, namun mampu mengaduk sejarah faktual ke tingkat imajinatif untuk menghasilkan suatu dunia yang sama sekali baru. Dari itu lahirlah suatu tempat yang bernama Halimunda lengkap dengan sejarahnya, kebudayaannha, dan kehidupan orang-orangnya.

Dalam konteks puisi, imajinasi membantu penyair dapat merumuskan suatu bentuk bahasa baru. Lantas dengan bahasa itu sang penyair berpeluang menampilkan susunan kalimat yang tidak ditemukan di dalam kaidah kalimat sehari-hari.

Bahkan bukan saja bahasa, sang penyair dengan kemampuan imajinatif yang matang dapat menciptakan bunyi-bunyian baru yang bernilai estetis dan puitik dalam rangka menyusun syair-syairnya.

Dalam khazanah sains, adalah C. Wrigh Mills seorang sosiolog Amerika yang menggunakan imajinasi dalam disiplin ilmu sosiologi yang disebutnya imajinasi sosiologis.

Imajinasi sosiologis menurut Mills adalah suatu pendekatan atau perspektif yang melibatkan unsur-unsur biografis dan sejarah dalam melihat hubungan-hubungan yang terjadi dalam suatu komunitas. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat sejauh apa isu-isu yang bersifat personal dan publik saling memengaruhi di antara keduanya.

Singkatnya imajinasi sosiologis tidak saja berusaha membaca gejala-gejala besar di tingkat institusi dan sistem, tapi juga sampai ke level individu dengan membaca gejala-gejala psikologis dan melihatnya dalam konteks perubahan sejarah dari waku ke waktu.

Dengan kata lain, imajinasi sosiologis dapat digunakan bagi seseorang untuk mengembangkan pemahamannya secara dinamis yang bertolak dari subjek dirinya sendiri dengan memanfaatkan perubahan-perubahan besar secara historik demi memahami dirinya dan komunitasnya.

Berdasarkan uraian sederhana ini, nampaknya imajinasi tidak dapat dinilai sepele. Ia ---yag sering dituduh khalayan dan tidak faktual--- mampu mengarahkan benak masyarakat untuk membayangkan hal-hal yang semula dianggap tidak biasa. Kalau bukan lantaran imajinasi, lalu apa yang menjadi pemantik awal bagi kebudayaan ketika menyusun kisah, legenda, dan mitos yang terjadi hanya di dalam dunia imajinatif.

Bahkan melalui itu semua, ilmu pengetahuan mendapatkan dorongannya. Tanpa imajinasi dan kemampuan imajinatif, mana mungkin akan mampu memberikan dasar pemaknaan bagi manusia untuk merawat jiwanya.

Belakangan, di tingkatan publik nyaris percakapan yang datang silih berganti didasarkan kepada jenis logika biner. Jika bukan A pasti B, atau kalau bukan B sudah tentu A. Pola pikir seperti ini banyak ditemukan ketika kita berbicara tentang agama, budaya, politik, dan yang paling genit penentuan capras-capres.

Justifikasi dan prasangka karena hanya mengenal cara berpikir biner pada akhirnya kehilangan kemampuan berpikir kreatifnya. Kehilangan kemampuan imajinatifnya.

02 Desember 2018

Fundamentalisme Pasar dan Agama


Jean Baudrillard. 
Filsuf, Sosiolog dan Fotografer asal Prancis. 
Baudrillard dikenal karena teori-teori kebudayaan dan Posmodern

DUA REZIM FUNDAMENTALIS. Kiwari, nyaris semua yang dibayangkan, dipikirkan, dibicarakan, diedarkan dan dilakukan diringsek dua rezim fundamentalis: pasar dan agama.


Rezim pasar, seperti sudah diketahui menjelma menjadi arah bagi apa pun: ideologi, kebudayaan, dan bahkan politik. Di bawah bayang-bayang kapitalisme ---puncak dari rezim pasar--- ketiga-tiganya ibarat sekrup yang menopang kapitalisme dari bawah.

Teori marxian paling jelas mengutarakan ini. Bahwa kapitalisme adalah satu-satunya tonggak segalanya dinyatakan. Melalui analisis supra struktur-basic struktur, analisis marxian menerangkan bahwa pola-pola eksistensi dari hukum, politik, budaya, dan juga agama hanyalah variabel yang disenyawai spirit ekonomi.

Dalam hal ini kapitalisme, satu-satunya ideologi yang tanpa tanding itu menjadi dasar bagi seluruh aktivitas peradaban manusia.

Ekonomi dengan kata lain dalam analisis marxian adalah motif dasar dari masyarakat meneguhkan keberadaannya.

Melalui analisis marxian, nampak jelas misalnya, konflik-konflik kebudayaan, perang atas nama nasionalisme, perebutan kekuasaan politik, dan perampasan hak-hak dasar manusia hanyalah anasir dari kepentingan ekonomi. Bahkan, dalam sejarah kolonialisme Indonesia, nampak jelas pula agenda pasar bercokol dibalik digdayanya VOC kala itu.

Abad 21 dunia yang banyak berubah. Segalanya dinamis dan terus bergerak. Kehidupan juga ibarat angin, bergerak, melayang, dan berhembus sesuai cela-cela yang dilaluinya.

Kapitalisme, anak kandung modernisasi masyarakat Eropa abad 16-19, hari ini juga telah banyak berubah.

Belakangan, wacana kapitalisme abad 21 masih terus dibicarakan. Ini menandai betapa kukuhnya ia hingga sekarang masih dapat bertahan di era yang terus berkembang.

Dulu, ada yang sering katakan ---di tempat-tempat diskusi--- kapitalisme sangat pandai bermetamorfosis. Ia kerap kebal dari kritikan yang ditujukan kepadanya. Sosialisme yang menjadi lawan abadinya dibuat kalang kabut mengikuti ritme pertumbuhannya.

Adalah Jean Baudrillard salah satu pemikir marxis yang berhasil mengemukakan metamorfosis kapitalisme. Mulanya kapitalisme dibaca dengan rumus produksi kapital, namun seiring berkembang kapitalisme juga memproduksi hasrat (dari mode of production berubah menjadi mode of consumption).

Perubahan mode of production dari kapitalisme ini-lah yang dapat menjelaskan mengapa kapitalisme terus bertahan. Ia terus menciptakan dan melipatgandakan hasrat pembeli di samping produk dan modalnya (para pemikir marxis yang lain bahkan juga berhasil menunjukkan bahwa ruang adalah salah satu elemen penting bagi kapitalisme untuk meluaskan pangsa pasarnya).

Hasrat dalam hal ini tidak lagi sebatas keadaan psikologis semata. Melalui kapitalisme ia malah menjadi mesin yang mendorong masyarakat lebih konsumtif dan gilaan-gilaan untuk berbelanja (itulah mengapa iklan menjadi penting di dalam skema mode of consumption kapitalisme).

Dalam tataran kenegaraan, kapitalisme selalu dipuja sebagai paham pembangunan. Ide-ide neoliberalisme dalam hal ini adalah derivasi dari kapitalisme menjadi satu-satunya kiblat maju tidaknya suatu negara.

Sementara rezim fundamentalis agama sering mengambil wajah berupa paham ektremisme keagamaan yang sempit dan dangkal. Bagi rezim agama, seluruh tafsir kehidupan tidak layak disandarkan kepada sumber-sumber di luar dirinya.

Agama adalah satu-satunya alat epistem untuk menerangkan dunia. Malangnya, seluruh tafsir yang dibangun adalah cara pandang yang bersifat monolitik dan literlek- harfiah.

Kemunculan jaringan Al Qaeda, ISIS, Boko Haram, Al Nusra Front dan sejenisnya merupakan salah satu contoh berupa konsekuensi dari pandangan keagamaan yang literlek dan sempit.

Dengan kata lain, kemunculan kelompok ekstremis keagamaan tidak muncul begitu saja, melainkan ada prasyarat-prasyarat yang mendasarinya, dan salah satunya adalah kecacatan epistemologis dalam memahami agama.

Akan jauh lebih menarik jika prasyarat-prasyarat itu ditelusuri. Apakah ada hubungan rendahnya taraf hidup, tingkat pendidikan yang rendah, buta peta politik, paham gender, tradisi, dan harapan-harapan yang tidak sempat terealisasi akibat tertutupnya akses masyarakat ke dalam sumber-sumber daya yang mampu mengangkat harkat dan martabat hidupnya oleh suatu tatanan sebelumnya dengan betapa cepatnya kelompok ekstremis mendapat tempat di ruang sosial yang begitu besar.

Tapi, satu hal yang mesti diwaspadai, kecacatan dalam memahami agama dan terbuka lebarnya determinasi politik di dalam kehidupan masyarakat akan membuka peluang bagi kelompok yang dimaksud dapat tumbuh subur.

Di tanah air kasus-kasus belakangan berupa demo berjilid dan sebagainya, adalah ekses buruk ketika kepincangan memahami agama dan politik dipertemukan. Agama yang semestinya menjadi rahmat bagi kehidupan lantaran kekuasaan politik malah menjadi kekuatan disintegritas yang melukai jiwa kolektif bangsa ini.

Rezim agama dalam hal ini juga menandakan tafsir agama kadang disesuaikan melalui tafsir politik. Bahkan lebih parah lagi, tafsir politik dilegitimasi oleh tafsir agama. Yang belakangan, ketika tafsir politik dilegitimasi tafsir agama, maka menimbulkan kisruh berkepanjangan. Agama justru menjadi sumbu kecurigaan akibat dinilai terlalu politis.

Bagaimana dengan hasrat dalam kaitannya dengan agama? Sebagaimana hasrat dalam kapitalisme mutakhir, hasrat dalam beragama juga menunjukkan kedudukan yang hampir sama ketika disandingkan dengan kepentingan ekonomi. Melalui hubungan yang telanjang, agama yang tidak dibekali ilmu yang memadai akan memberikan hasrat lebih berpeluang ketika mengalami agama.

Dengan kata lain, agama yang dibekali hasrat hanya membuat orang terjebak kepada agama artifisial. Di tangan orang-orang yang berhasrat beragama, agama hanyalah tubuh tanpa jiwa, hanya menjadi pakaian semata.

Fenomena agama macam demikian mirip-mirip produk-produk dalam semesta kapitalisme. Ia tergeletak persis komoditas yang sibuk memperlihatkan kualitas dari penampilan fisik semata. Kualitas agama dengan kata lain menjadi terabaikan hanya karena agama dilihat dari segi popularitas semata. Semakin massif ia, semakin tinggilah agama itu.

Entah apakah ada analisis mengenai ini: bahwa hasrat agama yang demikian menggebu memiliki dua modus belakangan ini, yakni modus paling soft-nya adalah fenomena hijrahnya generasi anak muda kepada pemuka agama populis. Seperti misalnya di kalangan artis-artis, hasrat beragama sering muncul bersamaan dengan berubahnya penampilan lahiriah busana daripada pemahaman mendalam terhadap agamanya.

Contoh lainnya adalah merebaknya majelis-majelis agama yang berkumpul atas nama tabligh, dakwah, pengajian, atau pertemuan hijabers seperti nampak massif disiarkan melalui layar kaca.

Fenomena modus seperti ini sadar tidak sadar berhasil menstimulasi hasrat orang-orang agar lebih mendalami agama dengan tujuan bukan sekadar atas asas pencarian ilmu, namun juga sudah menyertakan unsur-unsur gaya hidup yang lebih agamamis (seperti misalnya berbusana muslim dinilai telah kaffah beragama dan yang berbusana apa adanya dipandang masih rendah imannya).

Sementara modus hard-nya, adalah tampilnya kelompok agama yang memanfaatkan jalur-jalur politik untuk merebut kekuasaan (kasus HTI, barangkali tepat menunjukkan hal ini).

Hasrat dalam fenomena ini ikut dimodifikasi seiring naik turunnya eskalasi konflik atas nama politik identitas yang berhasil membelah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok kepentingan.

Hasrat yang muncul dengan modus hard-nya inilah yang berpeluang melahirkan kelompok-kelompok ekstrem agama di atas tadi. Inti dari ini adalah bahwa agama yang didasari hasrat buta justru hanya membuat masyarakat semakin dekaden dan terbelakang daripada memajukan masyarakat.

28 November 2018

Kota dan Kemanusiaan


Joseph Campbell
Mitolog dan Sejarawan asal Amerika Serikat. 
Salah satu karyanya berjudul The Power of Myth

KOTA. Di kota-kota, tiap-tiap orang adalah individu. Tiap-tiap orang adalah person.

Di kota, kawasan yang semakin hari kian menggeliat perkembangan ekonominya, budayanya, politiknya, pendidikannya, membuat orang-orang hidup dalam kesakitan prahara; berdekatan tapi sekaligus berjarak, welas asih tapi beringas, banyak yang hidup sejahtera tapi tidak sedikit pemukiman kumuh bermunculan, orang-orang dari hari ke hari semakin asing satu sama lain.

Mereka kian maju, namun tanpa disadari ada yang susut dari itu semua: solidaritas.

Mungkin karena itu, di alam modern tidak ada terma khusus yang khas menunjuk kepada titik pusat yang menjadi sumber fenomena di atas selain dari pada individu. Suatu kemampuan otonom yang meneguhkan kemandirian dalam diri masyarakat. Individu dalam hal ini ibarat inti atom yang bebas bergerak, dinamis dan tanpa tekanan. Sesuatu yang "tidak bisa lagi dibagi", yang bebas dalam dirinya sendiri.

Itulah sebabnya di kota, orang jarang terikat secara sentimentil. Setiap orang memiliki kehidupan yang kian dinamis dan berubah. Ia adalah suatu modus kehidupan garis lurus dan serentak. Rasa cemas dan optimisme menjadi satu kesatuan paket. Tiap individu berhak mencari petualangan, tapi dengan risiko kehilangan titik pulang.

Dengan kata lain, di alaf modernisme, tidak ada ruang-waktu yang stagnan. Segalanya drastis bergerak...

Di titik kehidupan yang luruh dalam waktu itulah individu jadi susut, tangkas, dan juga cepat. Ia menjadi mahluk kerdil namun sekaligus menjadi mekanik dan juga teknis.

Ada pepatah Yunani berbunyi: Matia pu de vleponde, grigora lismoniunde. Barang siapa jarang bertemu, niscaya saling melupakan satu sama lain.

Di kota, yang semakin susut, yang tangkas, dan yang cepat membuat ikatan makin minim dan mungil. Interaksi, ikatan yang membuat seseorang menjadi "bermasyarakat", hanyalah pertemuan yang dililit waktu yang semakin teknis. Membuat orang-orang jadi jarang bertemu. Dan pada akhirnya satu sama lainnya saling melupakan.

Toh jika ada silang pertemuan; saling berbicara; saling memperhatikan; tapi tetap saja tidak ada simpul yang terjalin. Tidak ada apa-apa di sana. Seolah-olah di balik itu setiap orang berinteraksi dikejar-kejar sesuatu agar segera mesti dituntaskan.

Bagi masyarakat perkotaan, setiap pertemuan hanyalah peluang untuk saling salib. Dengan rumus yang hampir sama setiap tindakan mesti efisien dan efektif.

Tapi, di situlah masalahnya. Di bawah bayang-bayang kehidupan modern selalu ada sisi gelap yang gagal diperhitungkan. Bagi masyarakat modern, kehidupan dengan perhitungan yang efektif dan efisien membuatnya miskin makna. Yang serba tangkas, cepat dan dinamis pada akhirnya menjadi krisis.

Manusia modern dengan kata lain adalah orang-orang yang tercerabut dari akar-akar kebersamaannya ---indikator yang mendasari suatu masyarakat dapat eksis. Dalam pepatah Yunani tadi manusia modern saling melupakan akibat hilangnya keintiman melalui pertemuan. Barang siapa jarang berinteraksi, ia lenyap begitu saja.

Belakangan, di tengah kekosongan atas yang intim, masyarakat kota dipertemukan kembali ke dalam hubungan-hubungan yang kian formal. Masyarakat kota, seperti pendakuan Durkheim, tidak sepenuhnya menghilangkan semangat soliditasnya, hanya saja semua itu diganti ulang dengan apa yang disebut asas profesionalitas. Orang-orang terhubung dalam ikatan pekerjaan, profesi, kepentingan ekonomi, dan yang paling kekinian: politik.

Tapi, bukan berarti itu menutupi soal-soal di atas. Jaringan dengan dasar formalitas anehnya malah ikut memformat ulang hubungan-hubungan sosial di dalamnya. Ketika sebelumnya sudah kosong dari keintiman interaksi, hubungan dengan asas profesi itu memiliki konsekuensi yang lumayan mahal; kebersamaan kian tinggi harganya, solidaritas kian sulit dijangkau. Semua itu terjadi oleh sebab setiap relasi hanya mungkin jika membuat gemuk lingkaran kekerabatan individu.

Potret masyarakat perkotaan seperti gambar yang dicetak digital. Paduan warnanya, letak gambarnya, tajam halus gradasinya dibikin dari unsur sistem yang berbau mesin dan teknis. Dari cara semacam itu, gambar digital memang berhasil menjadi gambar yang presisi dan tepat, namun sekaligus sebenarnya hanyalah gambar yang hampa tanpa unsur estetik.

Hilangnya unsur estetis dalam gambar digital dengan kata lain hanya menjadi gambar kaku tanpa jiwa, apalagi bakal tidak mampu menerbitan perasaan haru biru. Sesuatu yang sangat sentimentil, emotif, dan menggerakkan. Singkatnya, gambar digital hanyalah gambar tanpa dimensi kemanusiaan.

Masyarakat kota yang sekaligus juga terbitnya masyarakat modern membutuhkan dimensi yang lebih manusiawi alih-alih hanya mendudukkan rasionalitas sebagai satu-satunya ukuran progresifitas.

Masyarakat kota harus dilihat sebagai suatu lukisan. Pencitraan yang lahir dari dimensi intrinstik manusia yang disebut jiwa. Setiap goresan dan warnanya lahir atas dasar kedalaman intuitif yang jujur sehingga menghasilkan pemandangan yang hidup dan dinamis. Suatu yang menyedot pengalaman dalam aktivitas intim satu sama lain, yang bakal menghasilkan pengalaman kolektif dan empatik.

Gambar digital karena itu tidak mampu berkisah apa-apa. Ia gambar yang mati. Berbeda dari lukisan yang hidup dan mampu berkisah tentang sesuatu yang diwakilkan melalui gambarnya, warnannya, dimensinya, gradasinya...

Joseph Campbell, seorang scholar mitologi, dalam Ruang Sadar tak Berpagar tulisan Alwy Rachman, mengkritik masyarakat modern yang semakin ke sini semakin kehilangan kisah. Menurut Campbell, kisah adalah elemen fundamental bagi manusia. Dia menggerakkan sekaligus memberikan dasar maknawi bagi perilaku manusia.

Sebagaimana terangkum dalam mitos, legenda, atau tradisi kerakyatan, kisah adalah urat nadi yang memelihara jiwa manusia tetap memiliki dasar manusiawinya. Kisah dalam arti demikian adalah jangkar solidaritas masyarakat untuk mengartikulasikan kebersamaannya, kepekaannya, dan keintimannya ke dalam satu komunitas yang saling menopang dan mendukung. Manusia ada karena terhubung dengan keberadaan yang lain, begitu singkatnya.

Lalu, saat masyarakat kota kehilangan kisah---yang masih banyak ditemukan di pelosok desa-desa-- yang dengan itu tiap-tiap individu menemukan kedalaman eksistensinya dalam kebersamaan, dengan apa lagi mengisi lubang jiwa yang semakin hari semakin teriris?

19 November 2018

Toilet dan Kebudayaan


Zlavoj Žižek. 
Filsuf asal Slovenia. 
Dikenal melalui kritik tajamnya terhadap kapitalisme

TOILET. Toilet di titik tertentu adalah ruang ekspresi manusia. Dia menjadi ruang yang diam-diam menyalurkan hasrat tersembunyi manusia. Di salah satu cerpen Eka Kurniawan berjudul Corat-Coret di Toilet, toilet bahkan menjadi arena keluh kesah sekaligus aspirasi terhadap pemerintahan korup.

Di dinding toilet sering kita menemukan tulisan nyeleneh saling membalas, tapi juga sekaligus jujur. Di cerpen Eka, dinding toilet menjadi wadah penyampaian aspirasi, keinginan, harapan dan kritik terhadap pemerintahan. Pendek kata dalam cerpen Eka itu, toilet adalah ruang paling demokratis dibanding ruang publik lainnya.

Sebagai ruang sepele, fungsi toilet bahkan mencerminkan paradigma apa yang menjadi ideologi masyarakat. Adalah Slavoj Zizek, sang filsuf berkebangsaan Slovenia mendakukan bentuk kloset dan orang yang sedang buang hajat dapat menentukan ideologi apa yang sedang bekerja di balik perilaku sehari-hari masyarakat.

Zizek mencontohkan bagaimana sikap kontemplatif orang-orang Jerman tercermin saat mereka memperlakukan fesesnya dengan memandangnya berlama-lama. Ibarat sedang berfilsafat, orang Jerman senang dengan waktu yang panjang saat di hadapan fesesnya seperti sedang menyusun suatu permenungan mendalam.

Berbeda lagi dengan orang Amerika ataupun Inggris, yang lebih senang menenggelamkan lebih cepat fesesnya karena sikap pragmatis. Hal ini membuat orang Amerika cenderung lebih praktis di saat buang hajat. Waktu adalah segalanya, termasuk urusan buang air besar.

Bagaimana dengan Indonesia?

Orang-orang Indonesia mungkin lebih pragmatis dari orang Amerika atau Inggris. Bahkan memandang feses jauh lebih jijik dari apa pun. Alih-alih menjadi cermin kedalaman kebudayaannya, feses dipandang bukan untuk apa-apa.

Di indonesia sendiri, kita masih menemukan toilet yang dipisahkan dari bangunan utama pemukiman. Toilet kadang ditempatkan jauh di belakang rumah, bahkan ada yang dibangun di atas sungai. Berbeda dengan pemukiman perkotaan, toilet di pelosok-pelosok mencerminkan betapa urusan buang hajat masih jauh dari pertimbangan sanitasi dan estetika arsitektural.

Tapi, uniknya aktifitas buang hajat di pelosok-pelosok sekaligus menunjukkan betapa dekatnya masyarakat dengan alam. Alam dan fesesnya tidak dibuat berjarak. Antara keduanya seolah-olah memiliki hubungan langsung yang saling menetralisir. Persis seperti dunia hewan, di dalam kesadaran terdalam masyarakat pelosok tidak ada ruang antara "ketelanjangan" saat buang hajat, mandi, bersih-bersih, dengan alam yang masih "perawan".

Di kota-kota besar, terutama di tempat umum, toilet sudah dirancang menggunakan pendekatan tertentu. Ada yang membuat toilet seperti sedang mengunjungi suatu negara dengan mengidentikan interiornya seperti negara yang dimaksud. Ada yang membuatnya mirip gerbong kereta api agar pengguna toilet merasakan sensasi sedang dalam perjalanan.

Mal Grand Indonesia Jakarta, misalnya, yang mendekorasi toilet seperti sebuah ruangan berdesain Maroko agar pengunjungnya merasakan juga seperti sedang berbelanja di luar negeri. Bahkan, pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal mendesain toiletnya berdasarkan konsep keluarga. Sehingga, jika Anda berbelanja dan menyempatkan buang hajat di sana, Anda tidak mesti repot akibat anak-anak yang tidak memiliki toilet khusus.

Walaupun demikian, fenomena di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah. Di pemukiman perkotaan, seperti ditemukan di pusat perbelanjaan, toilet bahkan mulai diintegrasikan dengan pengalaman berbelanja masyarakat perkotaan. Pengalaman di dalam toilet mesti sama sensasionalnya dengan pengalaman berbelanja.

Sementara di masyarakat kelas bawah, toilet ya toilet. Dia kadang dibikin sederhana, ala kadarnya dan hanya berfungsi sederhana. Bahkan ada yang melihatnya dengan sebelah mata sehingga keberadaannya masih dipandang sebagai ruang nonestetis.

Dengan kata lain, seperti ruang lainnya, toilet mewakili suatu pandangan, kebiasaan, dan ideologi suatu masyarakat. Bahkan ia menjadi representasi kelas masyarakat tertentu.

13 November 2018

Pahlawan: Sosok dan Pokok


Francis Bacon. 
Filsuf empiris asal Inggris. 
Dikenal dengan semboyannya The Power of Knowlegde

PAHLAWAN. Pepatah mengatakan "mati satu tumbuh seribu." Sekarang, entah dengan semangat apa kata ini sering diucapkan.

Dulu bertahun-tahun lalu, pepatah ini sering kali melambung membuat saya terharu. Saat pulang sekolah melewati sebidang tanah dengan beratus helm silver di atasnya. Berjejeran rapi dengan gundukan-gundukan seperti pulau-pulau. Di tengah-tengah itu berdiri kokoh tiang tugu, tinggi ke angkasa, mengingatkan betapa luhurnya perjuangan orang-orang yang ditanam di bawahnya.

Ketika melewati itu tiap hari, di atas bemo, pepatah itu seolah-olah hidup. Betapa heroiknya mereka, mengacung senjata, berlari, berteriak, berkeringat, berdarah, demi nusa bangsa. Di hati mereka, kelak jika mati, ibarat kuncup bunga, mereka menjadi tunas: mati satu tumbuh seribu.

Sekarang, dari mulut siapa kata ini sering diucapkan? Pahlawan, mungkin hanya menjadi museum. Sosok mati dengan ruang lapang yang lenggang. Kosong tanpa isi. Pahlawan hanya masa lalu, belum menjadi sejarah.

Belakangan pahlawan bisa menjadi siapa saja. Atau siapa saja bisa menjadi pahlawan. Figur yang mati itu dihidupkan kembali, oleh kelompok, organisasi, massa, atau individu. Ruang yang kosong itu diisi dengan seorang sosok, yang disanjung-sanjung, sekaligus juga sambil mengacung-acung.

Dengan kata lain, pahlawan hanya soal tafsiran. Dari mana ia berasal, dengan bagaimana ia berjuang, melalui cara apa ia berkeringat, apa cita-cita kemerdekaannya.

Lantas semua itu menjadi jamak. Semua punya versinya masing-masing.

Pahlawan dengan sendirinya menjadi produk. Dia dibikin, dibentuk, diperkenalkan...

Di dunia yang semuanya serba diperantai layar, ia dimunculkan. Bahkan, diglorifikasi.

Itulah mengapa, kadang pahlawan tidak semuanya mendapatkan pengakuan. Ada pahlawan yang diterima, ada juga pahlawan yang ditolak.

Lantas, seberapa pentingkah pengakuan? Siapakah yang berhak memberikan pengakuan?

Negara, kiwari kadang kalah langkah dari dirinya. Ia seolah-olah sedang melawan dirinya sendiri. Di dalamnya, muncul pahlawan-pahlawan lain, sosok-sosok yang jauh dari penciuman negara. Ia muncul dari bawah, berjuang dari bawah, menelan perhatian, membentuk kelompok.

Kelompok atau apa pun jenisnya adalah bola salju dengan impian masing-masing. Menggelinding menarik simpul-simpul, membesar, dan muncul di permukaan. Dan tentu dengan sosok pahlawannya masing-masing.

Akan tetapi, tidak semua sosok punya pokok. Tidak semua yang diacung-acungkan pantas disanjung. Artinya tidak semua patut disebut pahlawan.

Dulu setiap sosok adalah gagasan. Setiap sosok adalah pemikiran. Dan tak jarang pemikiran itu digalakkan menjadi tindakan. Semuanya serba bergerak. Dalam sejarah, gagasan itu bernama Indonesia.

Sosok dan pokok itulah yang disebut pahlawan. Sesuai namanya, ia membuahkan hasil; suatu bangsa berdaulat. Suatu hal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Dalam hal ini, semua itu tidak pernah dibayangkan, direnung-renungkan, apalagi dialami.

Tapi, kiwari, banyak sosok minus hasil. Ia bersuara tapi banal: padat tapi hambar. Dan juga berkata-kata tanpa tindakan.

Dengan kata lain, ia hanya berupa sosok tanpa pokok. Dia jadi pujian akan tetapi minus acuan.

Sosok yang bukan acuan adalah sosok tanpa ujian. Tidak ada tantangan. Tidak ada perjuangan.

Sosok demikian berarti orang yang lahir tanpa tempaan. Tanpa godaan. Dan juga tanpa medan.

Pahlawan tanpa medan, tanpa ujian karena itu bukan acuan. Apalagi tujuan. Dia hanya sosok yang tirus, kurus tanpa pengalaman. Mungkin bahkan sebaliknya, gemuk oleh pujaan tapi sebenarnya bukan apa-apa.

Itulah sebabnya, seringkali yang jadi pahlawan lebih mirip idol. Sesuatu yang mengisi imajinasi dengan kekosongan. Palsu dan menipu. Menyesatkan.

Bahkan, sekarang jika ada yang disebut pahlawan malah ia sosok tanpa pengorbanan. Sosok tanpa nilai yang justru menelan korban.

Karena itu, pahlawan dengan tanpa kualifikasi apa-apa hanya mampu menjadi berhala. Dia memang diletakkan di depan, ditempatkan di ketinggian tertentu, namun sesungghnya merendahkan.

Yang malang di dalam arena politik seperti sekarang, banyak berhala-berhala diciptakan hingga diglorifikasi. Di puja-buja bak pahlawan, tapi kelak ia mati, tak ada yang tumbuh-tumbuh. Berhenti begitu saja. Di situ saja.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...