Tidak ada pengetahuan yang bebas nilai. Demikianlah yang didakukan aliran
sosiologi mazhab Frankfurt. Setiap pengetahuan mencerminkan kebutuhan
sosialnya. Kebutuhan praktisnya. Dalil ini sekaligus kritik mendasar terhadap
positivisme logis, suatu aliran pemikiran yang berkeyakinan bahwa pengetahuan
itu mesti bebas nilai. Harus objektif. Seperti apa yang ditampakkan di dalam
kenyataan. Tapi, adakah kenyataan yang sebenarnya-benarnya bebas dari
infiltrasi pengetahuan manusia. Dengan kata lain kenyataan yang murni tanpa
bias pandangan manusia. Kenyataan objektif yang didamba-dambakan dalam sains
modern? Tepat melalui pertanyaan inilah, eike kira pemahaman kita terhadap
suatu segala adalah medan yang sarat kepentingan. Ketika kita mempersepsi
sesuatu, menilai sesuatu, pengetahuan bukanlah kapas putih tanpa muatan noda.
Setiap fakta yang kita terima, sudah dari awal dibentuk oleh keyakinan kita.
Kitalah yang menghendaki fakta itu berdasarkan apa yang ingin kita terima.
Manusialah yang menarasikan kenyataannya. Dengan kata lain tidak ada kenyataan
yang benar-benar das ding an sich. Yang nyata tanpa persentuhannya dengan pikiran
manusia. Di titik itulah eike berkeyakinan, setiap aktifitas berpikir sudah
selalu mengandung motif bawaan manusia. Ibarat teori kesadaran Sigmun Freud, di
belakang kesadaran, bersembunyi kepentingan hasrat libidinal. Suatu hasrat
untuk memuaskan dirinya. Itulah sebabnya, menurut eike setiap pengetahuan
dengan sendirinya adalah sesuatu yang bersifat ideologis. Kolonialisme eike
kira adalah contoh bagaimana pengetahuan malah justru menjadi kedok untuk
menjajah suatu negeri. Kita pernah mendengar dikotomi Barat yang superior dan
Timur yang inferior. Masyarakat Barat yang tercerahkan dan kehidupan
orang-orang Timur yang tidak berkebudayaan. Atas dasar kebudayaan, pengetahuan
berkepentingan untuk menyesuaikan yang Timur mesti menjadi Barat. Yang pribumi
harus menjadi masyarakat sebagaimana idealitas nilai-nilai Barat. Nampaknya
kolonialisme lebih pas kedengarannya dengan apa yang diistilahkan sebagai westernisasi.
Suatu terma yang pernah banyak disebut-sebut dalam ilmu-ilmu sosial untuk
menandai berubahnya apa-apa yang berbau pribumi menjadi Barat. Apa-apa yang
masih asing menjadi modern. Belakangan kata pribumi menjadi kesohor. Pribumi
menjadi salah satu kata teknis sekaligus magis dalam pidato politik Anies
Baswedan pasca dilantik sebagai gubernur baru Jakarta. Setelah itu publik
gempar, pribumi menjadi gonjang-ganjing. Eike kira, kata pribumi di situ bisa
ditafsirkan dengan bebas. Segala kemungkinan tindakan hermeneutika dari itu
sah-sah saja diterima. Kita bisa memulainya dari keseluruhan konteks pidato
Anies dan melihat apa pesan keseluruhan dari pidatonya. Atau memperlebar
konteks kata itu kepada setting situasi yang jauh lebih besar, sejarah
kolonialisme di bangsa ini misalnya. Atau bisa juga dilihat dari sisi konteks
pertarungan politik sebelum pidato itu dibacakan. Dan, mungkin saja maknanya
juga akan berbeda jika kata itu ditafsirkan seperti Anies memaknai kata itu.
Dengan cara demikian, eike kira semua motif yang digunakan untuk menafsirkan
diksi itu mau tidak mau dipengaruhi oleh beragam sudut penafsiran. Dan, dari
tindakan itu sudah barang tentu secara moral etik berlaku kepentingan sang
penafsir. Dengan kata lain, di balik kegiatan berpikir, atau usaha untuk
mengartikan suatu teks, sang penafsir akan membawa kepentingan teoritik dan
kebutuhan praktisnya itu sendiri. Orang-orang eike kira banyak lupa. Sekarang
Anies diterima atau tidak diterima adalah juga seorang politikus. Kata-katanya
serba licin. Mudah rubuh oleh bahkan kata-katanya sendiri. Artinya tidak ada
yang bisa dipegang dari itu. Kata-kata dari mulut politikus ibarat gerakan
akrobat: bergerak dan berubah terus menerus. Tidak stabil. Itulah mengapa
jangan mudah percaya apa-apa yang diutarakan seorang politikus. Di balik setiap
kata politikus senantiasa digerakkan arus pemikiran tertentu. Dan, tiada
pemikiran yang tidak berpihak. Tidak berkepentingan. Hatta, seluruh pengetahuan
mewakili kecenderungan dunia di mana dia lahir, dibentuk, dan dikemukakan.
Tiada pengetahuan yang tidak berimplikasi secara politis. Dengan kata lain,
untuk apa dan siapa pengetahuan itu diwakili?
20 Oktober 2017
19 Oktober 2017
5 Lagu Mahasiswa-Perjuangan yang Tidak Lagi Akrab di Telinga Generasi Mahasiswa Zaman Now
Tidak bisa dimungkiri, karakter,
kecenderungan, dan cara pandang mahasiswa era kiwari jauh berbeda dari dua
generasi sebelumnya. Perbedaan ini sangat terasa dari perubahan kehidupan
kultural yang mereka lakonkan.
Terutama generasi Z, cara mereka
menjalani hidup jauh lebih variatif dan unik. Seperti hasil riset dari
Tirto.id, jika ditilik, dari segi fesyen, mahasiswa-generasi Z lebih menyukai
membeli produk di mal-mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang dirasa lebih
mewakili selera berbusana mereka. Sehari generasi ini bisa menghabiskan tiga
sampai lima jam mengakses internet melalui gawai canggih mereka. Jika hendak
memenuhi hajat perut, generasi Z gampag ditemui di tempat makan siap saji
semisal KFC, Pizza Hut, atau pun McD.
Pilihan liburan dan hiburan
generasi Z juga mengalami perubahan. Generasi Z banyak menghabiskan uangnya di
tempat-tempat wisata alam semisal gunung atau pun pantai. Mengenai hiburan di
bidang musik, generasi Z senang mendengarkan musik-musik pop dari mancanegara
atau dari tanah air sendiri. Bahkan, untuk urusan film, streaming adalah salah
satu cara mereka menikmati film-film yang sedang naik daun. Dan yang paling
mencolok, generasi Z senang menghabiskan waktu mereka dengan game online atau berbasis aplikasi melalui gawai
kece mereka.
Eike punya pengalaman subjektif
berkaitan dengan tradisi intelektualisme yang generasi Z perankan di dalam
kampus. Terkhusus pengalaman atas lagu-lagu mahasiswa-perjuangan yang di zaman
eike masih saban hari terdengar di sekretariat-sekretariat kemahasiswaan, kini
sudah sangat jarang eike temu-dengarkan.
Memang jika diperhatikan, 5 lima
daftar lagu mahasiswa perjuangan di bawah ini sudah tidak lagi menjadi bagian
dari idealisme, pengalaman, dan kebudayaan intelektualisme mahasiswa zaman now.
1. Apa Guna- Wiji Thukul/Sanggar
Satu Bumi/Jaker
Lagu ini diambil dari puisi Wiji
Thukul yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu. Di masa-masa eike
menjadi mahasiswa, lagu ini kerap dipakai untuk menyindir-nyindir golongan
mahasiswa yang masuk kategori “pembelajar tanpa aksi”. Yang menarik dan
sekaligus asyik dari lagu ini ketika dinyanyikan adalah pesannya yang lugas
tanpa bersembunyi dibalik kata-kata yang bersayap. Kemungkinan ini karena sifat
puisi Wiji Thukul yang memang lugas membahasakan pesan puisinya itu sendiri.
Belakangan lagu ini diaransemen
ulang oleh anak Wiji Thukul yang tergabung dalam band indi Merah Bercerita.
2. Darah Juang- Aktivis Partai
Rakyat Demokratik (PRD)
Saat Pramoedya Ananta Toer
dikebumikan, sejumlah mahasiswa mengiringi jazad sastrawan yang dimusuhi Orba
dengan lagu ini. Ada juga versi yang mengatakan di saat dikebumikan malah lagu
Internasionale-lah yang mengiringinya.
Di tahun 1991, John Tobing, Dadang
Juliantara, dan Boediman Sudjatmiko adalah nama-nama yang melahirkan lagu ini
yang saat itu adalah anggota dari Partai Rakyat Demokratik, organisasi
mahasiswa kiri yang bercita-cita melawan rezim represif Orde Baru.
Berdasarkan pengalaman eike, Darah
Juang adalah lagu yang paling sering menjadi pilihan utama ketika musim ospek
dilakukan. Lagu ini juga kerap dikumandangkan jika mahasiswa “turun aksi” di
jalanan. Bagi sebagaian mahasiswa lagu ini bahkan punya arti tersendiri, tapi
bukan untuk dipakai memikat mahasiswi baru yang “unyu-unyu” itu, loh…
3. Kesaksian- Kantata Takwa
Lagu yang liriknya ditulis oleh W.S Rendra ini
menurut eike adalah lagu perjuangan yang besar pengaruhnya terhadap emosi
pendengarnya. Walaupun bukan sepenuhnya bercerita tetang kematian, jika lagu
ini dinyanyikan dalam momen-momen mengenang mahasiswa, aktivis, maupun orang-orang
semisal pejuang kemanusiaan yang mati secara tidak adil di bawah kekuasaan yang
tiranik, mampu membuat pendengarnya
berlinang air mata. Melalui suara Iwan Fals, walaupun bukan diciptakan oleh
kelompok mahasiswa tertentu, lagu ini kudu wajib dihapal bagi Je yang mendaku
sebagai agen perubahan.
4. Pembebasan a.k.a “Buruh Tani” –
Syafi’I Kemamang aktivis PRD
Inilah salah satu lagu
mahasiswa-perjuangan yang lahir dan ikut dinyanyikan sebelum dan sesudah
reformasi. Lagu ini diciptakan Safi’i Kemamang, seorang aktivis dari Partai
Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur.
Seperti dinyatakan penulisnya, lagu
ini memiliki semangat untuk menyatukan elemen pergerakan dari pihak mahasiswa,
buruh, kaum tani, dan golongan miskin kota, yang menjadi pihak paling tertindas
dari kebijakan rezim Orba saat itu.
Seperti halnya lagu Darah Juang,
lagu ini diciptakan dalam rangka untuk menyemangati perjuangan rakyat dan
mahasiswa.
5. Internasionale- Eugene Pottier
Jika ada lagu yang mewakili kelas
tertindas nan papa, Internasionale-lah lagunya. Bagi kawan-kawan berhaluan
pemikiran kiri, lagu ini bukan sekadar lagu, melainkan suatu paradigma kelas
yang dinotasikan melalui musik. Lagu ini diciptakan Eugene Pottier, seorang
penyair proletariat, tukang kayu dan sekaligus anggota Komune Perancis di tahun
1871. Eugene menciptakan sajaknya untuk
menyemangati perjuangan kelas pekerja di masa-masa Eropa, terkhusus Perancis
mengalami pergolakan sosial. Uni Soviet pernah menjadikan lagu ini sebagai lagu
kebangsaannya dari tahun 1922-1940.
Yang menarik dari lagu ini adalah
beragamnya versi setelah diterjemahkan melalui bermacam-macam bahasa. Di
Indonesia lagu ini diterjemahkan Ki Hajar Dewantara melalui bahasa Belanda.
Walaupun demikian, terjemahan Ki Hajar Dewantara banyak menuai kritik dari kaum
komunis internasional lantaran menghilangkan semangat proletariat yang sangat
kental dari bahasa aslinya.
Itulah lima lagu
mahasiswa-perjuangan yang secara organik menjadi penyemangat dan ikut mewarnai
perjuangan mahasiswa dan golongan masyarakat yang selama ini terpinggirkan.
Sekarang apa boleh buat, PDI perjuangan memang sudah berubah!
18 Oktober 2017
Sosiologi Marx
Sampai sekarang, setidak-tidaknya masih
ada empat alasan yang menyebabkan pemikiran Marx masih sering dibenci oleh
penganut teori sosiologi konservatif. Empat alasan ini pula yang secara
teoritik akademik membuat pokok-pokok sosiologi Marx sulit berkembang sebagai
teori dominan selain dari teori-teori lainnya. Pertama karena pemikiran Marx
masih dikait-kaitkan dengan komunisme sebagai ideologi. Bahkan bagi penganut
teori sosiologi konservatif, pemikiran Marx adalah ideologi komunisme itu
sendiri. Akibat dinilai sebagai ideologi, pemikiran Marx tidak jauh berbeda
dilihat sebagaimana agama yang secara karaktarestik tidak mampu dipertanggungjawabkan
secara ilmiah. Sebagaimana agama, pemikiran Marx yang dinyatakan sebagai
ideologi bukanlah proposisi-proposisi ilmu pengetahuan yang dititikberatkan
kepada penelitian empirik masyarakat. Walaupun demikian yang ditolak oleh
sosiolog konservatif bukanlah eksistensi ideologi dari pemikiran Marx itu
sendiri, tapi ciri-ciri ideologis yang ada dalam cara radikal Marx melihat
kenyataan masyarakat. Dimensi inilah yang disinyalir menjadi penolakan dari
pemikiran sosiologi Marx, karena secara kritis implikasi dari radikalisasi Marx
ketika merumuskan teorinya tiada lain memiliki dampak epistemik yang mampu
membuka kedok kepentingan yang bersembunyi di balik mantel teori-teori
sosiologi konservatif. Kedua, secara biografis Marx tidak seperti dua
pendahulunya, yakni Auguste Comte dan Emile Durkheim yang dilihat sebagai
ekonom tinimbang sosiolog. Meski sosiolog awal mengakui nilai penting dimensi
ekonomi dari sisi kehidupan manusia, namun mereka melihat ekonomi hanya
merupakan satu bagian dari keseluruhan kehidupan sosial masyarakat. Perhatian
yang berbeda dari Marx nampak mencolok dari perhatian para sosiolog awal yang
menekankan aspek-aspek harmonisasi dari kekacauan dua gejolak revolusi Perancis
dan Inggris. Sementara Marx justru tidak terlalu mementingkan kekacauan
masyarakat pasca dua revolusi yang dimaksud, melainkan jauh lebih kritis dengan
mempertanyakan nilai keadilan yang terselenggara secara timpang akibat sistem
kapitalisme pasca revolusi industri di Inggris. Dengan kata lain, Marx ingin
mengembangkan suatu dalil penjelas yang menerangkan suatu fenomena khas
kemunculan masyarakat pasca industri berupa ekses buruk dari sistem kapitalisme
dan bagaimana cara mengubahnya secara radikal. Ketiga, ini salah satu yang
paling mencolok karena para sosiolog awal melandasi dasar-dasar teori
sosiologinya melalui filsafat Kantian. Sementara Marx membangun sistem
pemikirannya melalui cara berpikir yang dikenal dengan nama dialektika. Berbeda
dari cara berpikir filsafat Kant yang digerakkan dengan pola linear matematis,
hukum sebab-akibat dalam dialektika Hegel, filsuf di mana Marx mengambil
dialektika-nya, dipikirkan secara timbal balik dan atau bahkan saling
memengaruhi. Artinya secara sederhana, melalui konsep dialektika, hukum
sebab-akibat tidak dipahami secara hipotetik, melainkan melingkar dan saling
berperan antara sebab bisa menjadi akibat, dan sebaliknya akibat bisa berubah
posisi menjadi sebab. Keempat, akibat pemikiran Marx disebut-sebut sebagai
biang keladi dari pelbagai kekacauan sosial di belahan dunia ketiga. Di hadapan
teori sosiologi konservatif, terutama yang berpandangan struktural fungsional,
pokok-pokok sosiologi Marx memiliki dampak yang melebihi kapasitasnya sebagai
suatu teori yang secara akademik-etis hanya bertugas memberi pendasaran deskripsional
bagi fenomena yang menjadi objek pengamatannya. Sementara teori-teori Marx
tidak sebatas akademik-etis menggambarkan dan merumuskan pelbagai gejala sosial
yang dinyatakannya melalui kerja ilmiahnya, melainkan secara politik-moral-etik
mendorong hadirnya sikap terlibat bagi dan di dalam untuk mengubah fenomena
sosial yang dihadapinya. Tepat dititik inilah makna radikal dari ucapan Marx
ketika menyindir bentuk idealistik dari pemahaman sosiologi Hegel, filsuf (sosiolog)
memiliki tugas bukan sekadar mengintrepetasi kehidupan sosial, melainkan
mengubahnya.
16 Oktober 2017
Sosiologi Waktu: Suatu Tilikan Sederhana
Waktu dalam pendakuan Emile
Durkheim adalah cermin dari pengalaman kolektif masyarakat. Sebagaimana fakta
sosial, waktu bukan semata-mata dimensi subjektif manusia belaka, melainkan dia
dibentuk secara bersama-sama seiring pengalaman masyarakat yang ikut
menyertainya. Bahkan, waktu tidak saja dapat mengungkapkan irama aktivitas
kolektif masyarakat, melainkan juga sebaliknya mengatur aktivitas kolektif
masyarakat di dalamnya.
Waktu yang berasal dari kehidupan
sosial secara historis-sosiologis memiliki ragam bentuk, terutama yang
berkaitan dengan hal ihwal yang prinsipil. Pandangan dunia, sistem religi,
sistem ekonomi, sistem pendidikan, serta beragam faktor lainnya adalah hal-hal
yang ikut membentuk paras waktu dari masa ke masa, dari satu masyarakat dengan
masyarakat lainnya.
Waktu reflektif Yunani Kuno
Waktu di Yunani kuno identik dengan
skolae. Skolae adalah waktu yang dimaksimalkan demi pencerahan akal budi dan
jiwa. Bagi masyarakat Yunani kelas atas --selain budak-- waktu adalah dimensi
kemanusiaan yang ikut membentuk paras kebudayaan melalui kerja-kerja diskursif.
Fransiscus Simon, melalui literasi
Kebudayaan dan Waktu Senggang-nya, menandai aktivitas diskursif masyarakat
Yunani sebagai penopang terbentuknya kebudayaan. Pendakuannya ini diidentikkan
sebagai wahana yang dimanfaatkan masyarakat Yunani kuno melalui tindakan
reflektif-filosofis dalam kaitannya dengan persoalan urat nadi kehidupan
masyarakat.
Kegiatan reflektif-filososfis ini
juga yang secara kategoris membedakan pengalaman atas waktu masyarakat Yunani
Kuno dengan waktu-waktu yang lainnya. Secara sosiologis penandaan atas waktu reflektif-filososfis
ini ditemukan melalui waktu senggang.
Pengalaman atas waktu senggang
secara karikatural juga dapat dilihat melalui kehidupan para pemikir Yunani
Kuno. Secara ilustratif, orang-orang semisal Socrates, adalah prototype secara
sosiologis bagaimana dalam kehidupan sehari-harinya waktu secara senggang
dimanfaatkan demi pemenuhan perkembangan akal budi dan jiwanya.
Dilihat dari pengalaman atas waktu,
waktu dinyatakan bernilai ketika itu menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang
dimiliki manusia dalam mengupayakan suatu agenda yang membebaskannya dari
kegiatan-kegiatan selain berpikir dan berefleksi.
Apabila waktu senggang dimaknai
seperti dinyatakan Josep Pieper dalam Kebudayaan dan Waktu Senggang-nya
Fransiskus Simon, maka poros dari pengalaman atas waktu itu senantiasa dimotori
oleh peran logos yang menjadi
kemampuan ekslusif manusia. Aristoteles adalah salah satu pemikir yang
menempatkan logos bukan semata-mata
sekadar pembeda dari hewan, melainkan dari situ pendasaran kehidupan politik
mendapatkan dasar kerjanya.
Artinya, selain wahana penghayatan
atas urat nadi kehidupan manusia, waktu senggang dapat memungkinkan dan
memaksimalisasi peran logos yang dimiliki manusia untuk membentuk kehidupannya
menjadi suatu peradaban dalam kerangka politik.
Dengan kata lain, ditilik melalui kerangka Aristotelian, polis (politik)
adalah wahana sekaligus waktu senggang itu sendiri yang memberikan peluang
ekspresi kebebasan manusia seperti ditemukan melalui konsep agora dalam konteks
masyarakat Yunani kuno.
Waktu suci agama
Di abad pertengahan, pergeseran
semangat dan idealisme antroposentrik Yunani kuno diserap dan bahkan nyaris
hilang melalui idealisme institusi gereja. Abad pertengahan adalah abad
Theosentrik, yang semua keputusan secara sosio-kultural, hukum-epistemologis,
dan ekonomi-politik didudukkan dan diputuskan melalui kewenangan agama. Agama
sebagai kekuatan totaliter akhirnya mendasari juga pemaknaan atas waktu bagi
masyarakat abad pertengahan.
Masyarakat abad pertengahan dapat
diilustrasikan sebagai masyarakat yang mengalami sakralisasi kehidupan melalui
nilai-nilai agama. Perbedaan ini menjadi
dominan akibat institusi kekristenan yang secara politik memiliki kewenangan
untuk mengatur hajat hidup orang banyak. Melalui agama waktu dikategorisasi
berdasarkan waktu suci dan waktu profan yang ditandai dengan keterlibatan “yang
ilahi” di dalamnya.
Bukan saja dalam keimanan Kristen,
dalam Islam pun ditemukan pola yang sama
berkaitan dengan sakralitas waktu. Melalui pemaknaan waktu suci dan waktu
profan, segala aktivitas individual maupun sosial ditentukan. Dalam Fenomenlogi
Agama-nya Dhavamony, dinyatakan disitu bahwa puncak pemaknaan atas waktu suci
dalam agama dijabarkan melalui ritual-ritual, peribadatan, dan perayaan untuk
kembali mengakrabkan diri atau membangun pertalian kebermaknaan dengan “yang
suci”.
Kategorisasi waktu suci dan waktu
profan dalam agama, berbeda dengan penilaian atas waktu senggang yang ditemukan
di masyarakat Yunani kuno. Dalam agama, nilai atas waktu ditentukan berdasarkan
kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki oleh waktu itu sendiri untuk memberikan
keutuhan atas “yang suci” bagi manusia. Dengan kata lain, waktu dalam semangat
dan idealisme agama hanya dianggap bernilai kepada relasinya dengan Tuhan itu
sendiri.
Secara kultural, waktu-waktu suci
dalam agama dirayakan secara sosial dari hari, bulan, tahun, musim, periode
yang sudah ditentukan nilai sakralitasnya dari agama itu sendiri. Inilah yang
dibilangkan Durkheim sebagai bagian dari fakta sosial, yakni melalui
waktu-waktu tertentu masyarakat diatur berdasarkan makna atas waktu itu
sendiri. Hal ini terjadi akibat pentingnya kategori waktu-waktu suci yang
mendasarai segala aktivitas masyarakat agar bernilai dan memberikan rasa
keutuhan sebagai manusia.
Dilihat dari idealisme yang
dikandung dalam agama, kegiatan yang dilakukan secara individual dan maupun sosial
melalui waktu suci, adalah suatu tindak religius dalam kerangka ibadah. Berbeda
dari pergumulan atas waktu masyarakat Yunani, masyarakat yang diikat melalui
sakralitas agama merelatifkan dirinya di hadapan Tuhan melalui peribadatan
dalam waktu-waktu suci.
Dengan kata lain, waktu-waktu suci
mendiferensiasi waktu senggang yang secara epistemologis-ontologis mengerahkan
kerja logos melalui kegiatan reflektif-filosofis, maka melalui waktu suci,
secara epistem-ontologis waktu dan segala aktivitas di dalamnya didudukkan di
bawah peran wahyu melalui kerangka peribadatan dan perayaan.
Waktu produktif, waktu senggang era
modern
Masyarakat modern setidak-tidaknya dapat
dikenali dari dua fenomena spesifik, pertama, kemunculan kapitalisme Eropa yang
ditandai dari lahirnya kelas menengah baru yang menguasai sektor jasa dan
perekonomian menggantikan tatanan masyarakat feodalistik, dan kedua, terjadi desakralisasi
agama dari kehidupan masyarakat yang menciptakan suatu bentuk masyarakat
sekuler dengan kemunculan paradigma saintifik sebagai dasarnya.
Kemunculan kapitalisme di
Eropa menandai era masyarakat yang
terkonfigurasi berdasarkan sistem pembagian kerja atas kepemilikan alat-alat
produksi. Munculnya gilda-gilda, bengkel kerja, dan pabrik-pabrik adalah asal
muasal perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial yang
menjadi prasyarat-prasyarat materialnya. Sementara perubahan politik yang
mendelegitimiasi tatanan keagamaan dan kebangsawanan adalah awal baru dari model
masyarakat yang mendasarkan pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan dalam
melakoni kehidupannya.
Perubahan dari bentuk kehidupan
masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial, juga ikut mengubah pengalaman
atas waktu itu sendiri. Secara sederhana, dalam masyarakat agraris pemaknaan
atas waktu disandarkan kepada musim-musim, periode, atau masa tertentu yang
berkaitan dengan pengelolahan tanah, namun semenjak berlakunya tatanan
masyarakat industrial yang bertolak dari aktivitas kerja dalam pabrik mengubah
siklus waktu berdasarkan jam kerja industrial.
Analisis Jean Baudrillard, mengenai
perubahan mode produksi kapitalisme industrial menjadi kapitalisme konsumsi
adalah salah satu penanda yang cukup memberikan pemahaman betapa progresifnya
kapitalisme berkembang. Progresifitas kapitalisme secara gradual juga mengubah
konsep waktu bukan saja sekadar waktu produktif yang ditandai dengan kerja
sebagai satu-satunya aktivitas yang bernilai kapital, melainkan tindakan konsumsi
yang secara massal menjadi pekerjaan dari ekses melimpahnya barang-barang.
Konsumsi sebagai aktivitas primer
dari kapitalisme tingkat lanjut juga disituasikan melalui waktu-waktu tertentu
yang dihubungkan dengan perilaku konsumsi sebagai inti aktivitasnya. Dengan
cara inilah, waktu senggang dalam setting masyarakat kapitalisme menjadi modus
baru dari akumulasi kapital berupa bukan saja modal itu sendiri, melainkan
simbol dan konsumsi itu sendiri.
Itulah sebabnya, waktu luang yang
dimiliki di luar dari waktu kerja, dalam setting masyarakat kiwari secara
massal berkaitan langsung dengan aktivitas konsumsi dengan menghabiskan
waktunya di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat plesiran. Itulah juga mengapa
banyak tempat-tempat perkotaan memanfaatkan ruang lapang demi membangun pusat
perbelanjaan, menjadikan ruang publik sebagai ruang konsumtif bagi warga
kotanya.
Singkat cerita, waktu luang dalam
benak masyarakat kapitalistik bukan lagi berusaha mengunjungi ruang interior
dirinya seperti yang ditunjukkan masyarakat Yunani Kuno demi pengembangan diri,
atau melihat waktu melalui dimensi ilahiah dengan ibadah sebagai bentuk
perayaannya, melainkan lebih bermakna eksterior mengunjungi tempat-tempat konsumtif sebagai
ibadah kolektif masyarakat konsumer.
12 Oktober 2017
Keberanian Sipil
Sepertinya tidak
cukup hanya keberanian teologis, atau keberanian filosofis yang dibutuhkan saat
ini. Melainkan suatu keberanian yang disebut keberanian sipil. Je boleh saja
memiliki keberanian teologis menyatakan iman religius dalam masyarakat
pasca-kebenaran, atau memiliki kebebasan menyatakan keberanian berpikir melalui
pernyataan-pernyataan cerkas di media sosial, tapi sejauh je belum melihat
keberanian secara sipil, itu berarti tidak cukup untuk mengawal agenda-agenda
penting dalam konteks masyarakat demokrasi modern. Belakangan banyak keberanian
literasi yang meng-cover dua keberanian di atas, namun belum banyak yang mau
mengawalnya dalam kerangka sipil. Keberanian sipil eike kira mesti dipahami
dalam konteks politik secara legal formal. Itu artinya bukan saja secara
teologi dan pengetahuan kebebasan itu dijamin hak dan kewajibannya, namun juga
secara politik dan legal formal setiap kebebasan yang dimiliki individu dijamin
dan dilindungi kedaulatannya. Keberanian sipil menurut eike berbeda dari
keberanian teologis yang melibatkan sistem teologi-metafisika tertentu di
belakangnya, melainkan keberanian sebagai warga negara yang mendasarkan dirinya
terhadap aturan main kenegaraan. Secara praksis, keberanian teologis dan
keberanian sipil tidak terlalu memiliki perbedaan, namun dari sisi epistem dan
pendasaran politiknya sangatlah berbeda. Keberanian sipil adalah jenis
keberanian yang spesifik didasarkan kepada etika kewarganegaraan dan
kepublikan. Itu artinya, keberanian ini hanya dapat eksis jika seseorang mampu
menuntut hak-haknya sebagai warga sipil di hadapan negara karena memiliki
kedaulatan secara politik dan legal etis. Keberanian sipil dengan begitu setara
dengan tindakan itu sendiri. Tiada kebebasan selain dari pada tindakan. Ini
adalah karakter dasar dari konsep yang membedakannya dengan kebebasan
teologi-filosofis yang diandaikan bersifat metafisis-abstrak. Kebebasan hanya
bisa merekah melalui tindakan. Itulah prinsip dari keberanian sipil. Bahkan,
keberanian sipil adalah tindakan itu sendiri. Menurut eike, dalam konteks
melemahnya masyarakat sipil akibat dua kekuatan konservatif: fundamentalisme
agama dan militerisme, keberanian sipil sangatlah diperlukan di dalam
menyuarakan aspirasi dan kerangka nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat. Itu
artinya, keberanian sipil adalah prasyarat dari masyarakat sipil. Dengan kata
lain, keberanian sipil-lah yang menjadi dasar moral dari masyarakat sipil itu
sendiri. Karena itulah penting kiranya masyarakat memiliki keberanian sipil
dalam rangka mengkritik tindak tanduk person, golongan, kelompok, atau bahkan
negara jika ada yang melenceng dari etika publik dan kewarganegaraan. Hanya
melalui tindakan yang diacu ke dalam kedaulatannya kritik itu dibangun. Itu
artinya, secara politik legal formal, tindakan itu sendiri dijamin
kedaulatannya melalui wahana politik kewarganegaraan. Malangnya, di sisi lain,
eike kira contoh poligami oleh ustad Arifin Ilham bisa dijadikan contoh
bagaimana melemahnya keberanian sipil dalam mengkritik polah ulama yang
menyalahi etika publik. Akan sangat tidak elok jika urusan privat dinyatakan ke
dalam urusan publik, atau sebaliknya. Dalam urusan kenegaraan, pencampuran
antara "yang privat" dan "yang publik" adalah biang keladi
dari munculnya penyakit korup yang merongrong sendi-sendi kehidupan publik. Dalam
kasus ini keberanian publik untuk mengambil sikap kritis terhadap polah
seseorang atau kelompok yang mencampuri urusan publik dengan urusan privatnya
sangat diperlukan demi menjaga agar "yang publik" dapat terhindar
dari urusan privat. Keberanian sipil juga diperlukan dalam konteks ketika
mengerasnya polah pemimpin yang korup dan secara bersamaan mendapatkan
legitimasi secara kultural dari nilai-nilai agama tertentu. Tidak bisa
dipungkiri kasus Habib Rizieq misalnya adalah tidak adanya keberanian sipil
untuk melihat kasus ini dalam kerangka konstitusi negara akibat masih kuatnya
paham agama yang menetralisir "kesalahan" secara kepublikan akibat nilai
agama itu sendiri. Itulah sebabnya, barang siapa melibatkan agama, maka dia
akan kebal secara publik, walaupun secara legal formal seseorang dinyatakan
bersalah. Hal ini setidaknya akibat masyarakat yang belum mampu menelaah
soal-soal kepublikan dari perbedaannya dengan aturan main agama. Kuatnya
maindset terhadap agama dan tidak diakuinya aturan legal formal sebagai aturan
main kepublikan, juga menyebabkan masih sulitnya menciptakan keberanian publik
dalam kehidupan masyarakat sipil saat ini. Keberanian sipil juga dirasa sangat
diperlukan dalam menyuarakan hak-hak kewarganegaraan dari golongan minoritas
yang didiskriminasi oleh kelompok mayoritas atau negara itu sendiri. Tanpa itu,
kasus-kasus yang menimpa semisal kelompok Ahmadiyah, Syiah, korban G30SPKI,
LGBTQ, yang selama ini diperlakukan semena-mena tanpa melihat hak-hak dasar dan
hak-hak politik dan kewarganegaraannya hanya akan menjadi masalah bulan-bulanan
tanpa ada proses penyelesaiannya. Terakhir, eike malah mengingat Machiavelli
sebagai sosok yang merintis jalannya suatu pendasaran politik untuk merumuskan
suatu tatanan masyarakat sipil berbasis kedaulatan negara. Dari pemikirannyalah
secara kedaulatan masyarakat menemukan dasar moral-politiknya untuk menyatakan
kebebasan secara sipil. Dengan kata lain, kebebasan sipil dinyatakan secara
khas oleh Machiavelli sebagai kebebasan non dominasi. Itu artinya kebebasan
sipil juga berarti tak ada dominasi atas dari golongan apa pun. Dan dengan cara
seperti itulah keberanian sipil dinyatakan. Baiklah, awalnya eike tidak
berkeinginan tulisan ini menjadi panjang seperti ini. Khawatir malah akan
berbelit-belit. Dan, malah je menjadi bosan sendiri. Eike akhiri saja.
09 Oktober 2017
PB Syndicate
![]() |
| PB Syndicate |
06 Oktober 2017
Individualisme-metodologis
Max
Weber-lah yang pertama mengembalikan posisi individu menjadi inti teori
sosiologi. Pembalikan ini bagi eike adalah cara Weber meninggalkan secara
radikal karakter teori-teori sosiologi yang bertumpu pada sistem. Sejarah, sistem ekonomi, kebudayaan, dan kesatuan holistik yang
mengandaikan totalitasi atas individu dirombak Weber menjadi hanya sebatas
implikasi dari keberadaan individu. Individulah pusatnya, begitu kira-kira
pendakuan Weber. Artinya, peralihan perspektif historisisme, atau misalnya
developmentalisme menuju orientasi individual adalah upaya Weber mengembalikan
individu sebagai agen aktif yang memiliki motif-motif ketika membentuk
kehidupannya. Pendakuan Weber ini menurut eike memberikan model pemahaman yang bersandar
pada pelacakan tindakan individu, makna di balik gagasan-gagasannya, motif
psikisnya, maupun nilai dan norma apa yang dikandung dalam batin individu
sehingga memberikannya peluang keluar dari kerangkeng totalitasi masyarakat. Belakangan cara pandang yang ditempuh Weber ini dikenal sebagai pendekatan
individualisme-metodologis. Yakni, seperti yang sudah dijelaskan di atas,
adalah model pemahaman yang menilai masyarakat berdasarkan orientasi
individualnya. Jika dalam perspektif evolusionisme, historisisme, maupun
developmentalisme, ide adalah sampingan, sebaliknya berdasarkan pendekatan
individualisme-metodologis, ide adalah faktor yang paling menentukan dalam
perubahan masyarakat. Ide melalui pendekatan ini adalah kekuatan yang mengatasi
dan mendorong bergeraknya sejarah. Ide dengan begitu, bagi pandangan ini
didudukkan sebagai kekuatan sentral. Itulah sebabnya, Weber sendiri menyebut teorinya adalah "kritik
positif" bagi materialisme-historis Marx yang telah dahulu melihat
masyarakat dari segi-segi ekonominya. Kritik Weber sendiri dapat dinyatakan
dari pembalikkan atas piramida supra-dan-basis struktur-nya Marx. Bagi Weber
bukan basis struktur (faktor ekonomi) yang menjadi elemen dasar perubahan,
melainkan supra-struktur-lah (gagasan) yang lebih menentukan daripada
perubahan. Melalui mode pemikiran demikian, belakangan banyak bermunculan komentator
kontemporer menyatakan tema utama dari seluruh pemikiran atau pun karya Weber
adalah pengakuan atas fungsi ideologi sebagai faktor independen dalam perkembangan
sosial. Jadi eike berkesimpulan, akibat pendekatan individualisme-metodologis yang
diajukan Weber-lah, yang mendorongnya kenapa lahir karyanya yang masyhur dan
banyak dipakai untuk menilik asal usul kelahiran kapitalisme dari segi moral
individualnya: The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...
