“I have always imagined that paradise
will be a kind of Library”
-Jorge Luis Borges-
Jorge Luis Borges pada akhirnya buta.
Sastrawan berkebangsaan Argentina itu kehilangan penglihatan di tahun 30an di
usia menjelang 60. Konon, ketika buta, Borges tak sekalipun berhenti membaca. Dari toko buku di suatu sudut Buenos Aires, seorang pemuda
senantiasa menemani membacakannya buku-buku. Dengan mata pemuda itu, Borges
bisa tahu banyak hal.
Alberto Manguel datang tiga kali
seminggu di rumah Borges. Sering kali dengan suara
lantang, pemuda yang kelak menjadi sastrawan ini membacakan segala hal
kepada Borges. Pemuda ini sangat beruntung menjadi bagian sejarah dengan
menjadi “mata” bagi penulis besar yang menjadi tonggak fiksi realisme
magis.
Borges sudah buta, tapi dari
kegelapan matanya ia telah banyak membangun cerita. Menyusun dan
mengeditnya selekas mungkin tanpa menuliskannya di atas secarik kertas. Borges
barangkali tengah membangun kertas imajinatif di dalam benaknya ketika
mengisahkan cerita-ceritanya. Itu juga sebabnya, magis adalah sebilah kata yang
sudah dia susun sedari awal di dalam imajinasi kreatif benaknya.
Alberto Manguel boleh saja menyusupkan
cerita melalui suaranya ketika membacakan buku-buku untuk Borges. Tapi, tetap
saja Borges-lah yang memiliki kekuatan membangun kembali imajinasi di balik matanya yang buta. Saat itulah, imajinasinya mengambil alih kebutaan yang dialaminya. Membentuknya sesuka hati seperti yang tak bisa dilakukan mata
penglihatan manusia pada umumnya.
Itu sebabnya mata hanyalah jembatan
warna-warni, namun di dalam benaklah tempat peristiwa imajinatif sesungguhnya terjadi. Mata
hanyalah jangkar bentuk-bentuk, tapi di dalam imajinasilah simbolisme
berkembang.
Karena itu sesungguhnya Borges tidak
benar-benar buta. Ia memang kehilangan penglihatannya, tapi ia –sekali lagi,
tidak buta. Bahkan ia sendiri pernah menulis esai berjudul “Blindes” yang
berbicara tentang kebutaan yang dialaminya. “Saya tak memperkenankan kebutaan
mengintimidasi saya,” ungkap Borges sebagai ikhtiar agar terus dapat menulis.
Kebutaan, bahkan, bagi Borges
disebutnya sebagai anugerah, sebagaimana ia juga menyebut bahwa Homer, penyair
Yunani purba juga buta. Tapi dari kebutaan itu, justru ia memiliki sensibilitas
melihat sesuatu dengan cara berbeda. Dengan kebutaan, suatu instrumen lain
tercipta, dan kesempatan membangun dunia yang lain dari yang tidak banyak dipahami khalayak.
Dari
sensibilitas yang peka, Borges punya visi, perspektif tempat “matanya”
memandang dan membangun cerita. Dan, dengan buku-buku jemarinya yang tangkas mengalir aliran sungai cerita yang membuat banyak orang terhanyut. Sampai akhirnya siapa bisa menolak dari dua hal inilah
Borges menjadi penulis dengan nama yang fenomenal.
***
Kebutaan boleh saja mencuri dan
menghilangkan satu wilayah sensibilitas yang dimiliki manusia. Tapi, kebutaan
juga sebaliknya mendorong indera lainnya menjadi lebih maksimal.
Konon, otak manusia akan mengkondisikan
pekerjaannya jika ada satu alat inderanya yang mengalami hambatan atau gagal
berfungsi. Otak akan mendukung dan memaksimalkan indera yang lain agar dapat
lebih bekerja. Itu sebabnya, orang-orang yang buta, sebenarnya tidak
benar-benar buta. Dia hanya berganti dan memaksimalkan alat indera yang lain.
Borges memang pada akhirnya buta, tapi
seluruh indera sensibilitasnya memiliki cara yang lain dalam mencandra
realitas. Juga, tentu dengan imajinasinya, realitas menjadi lebih kaya dan kompleks untuk dipahami dan dimaknai. Bagi Borges, barangkali cerita tanpa imajinasi
yang kuat hanyalah istana khayangan di atas pasir.
Yang ajaib dari Borges, dia menjadi
direktur perpustakaan nasional di Argentina saat mulai mengalami kebutaan.
Bagaimana mungkin ini didamaikan? Ketika kegelapan menghingapi di balik sepasang
matanya, sementara Borges berada di tengah-tengah buku-buku sebagai jendela
persada. “Aku berbicara tentang ironi yang mempesona dari Tuhan yang memberikan
aku sekaligus 800.000 buku beserta kegelapan.”
Bukankah ini suatu ironi yang
mencengangkan? Dari sepasang mata yang buta, asal dari segala kegelapan
bersarang, justru menjadi pangkal cerita imajinasi yang berlapis-lapis? Sungguh
dari sepasang mata yang buta, Borges tak benar-benar buta.
Sungguh itu adalah berkah.

