01 Juni 2016

Marxisme dan Sekilas Islam Transformatif

Pertama, untuk melihat hubungan Islam dan Marxisme, perlu kehatihatian dalam konteks bagaimana melihat dua variabel ini melalui bentuknya yang transparan. Islam biar bagaimanapun dalam medan teoritik sudah mengalami pembauran dengan berbagai macam perspektif tertentu sehingga sulit menyebut pemikiranpemikiran yang mengidentikan sebagai islam  adalah Islam itu sendiri. Dengan kata lain, perlu dibedakan islam sebagai pemikiran dan Islam sebagai wahyu. Dalam esai ini, yang dimaksud Islam adalah islam yang pertama, yakni islam yang sudah mengalami intrepetasi berdasarkan pemikiran tertentu.

Begitu pula Marxisme, sebagai suatu paham pemikiran yang ditilik dari Karl Marx juga mengalami berbagai macam pergesekan dan bongkar pasang penafsiran. Ibarat agama, Marxisme juga tidak terlepas dari berbagai macam sudut padang. Oleh karena itu, jika tulisan ini mau menyebut Marxisme, maka itu adalah usaha yang mendekatkan pemahaman kepada apa yang sering dikatakan sebagai “Marxisme murni”. Tentu usaha ini juga dilakukan kepada islam itu sendiri sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

***

Umumnya orangorang membangun prasangka bahwa Marxisme menolak seluruh bentuk pemahaman religius. Prasangka ini maklum terjadi akibat banyak teksteks di seputar Marxisme yang secara terbuka menyebut konsepsi yang idealistik-religius tak memiliki sumbangsih apaapa. Di tingkatan filosofis penolakan Marx terhadap pemahaman idealistik ditemukan dari dua cabang. Yang pertama adalah penolakan Marx terhadap agama yang merupakan pelampauan dari filsafat Ludwig Feurbach soal konsep keterasingan manusia. Antitesa ini sekaligus merupakan jalan masuk Marx ketika menolak pemikiran Wilhelm F. Hegel yang menyebut dunia terbentuk dari saripati ruh yang bergerak menuju titik absolutnya. Sementara yang kedua adalah perkataan Marx itu sendiri mengenai sifat candu agama yang membawa kesadaran manusia kepada sikapsikap fatalistik.

Implikasi cabang yang pertama merupakan konsekuensi dari pemikiran Marx yang menaruh minat terhadap paham materialisme yang disempurnakannya dari pemahaman sebelumnya melalui Feurbach yang lebih dikenal sebagai materialisme dialektis. Sementara di sisi lain pemikiran ini juga adalah jalan memutar yang dilakukan Marx terhadap pemikiran Hegel  yang mengandaikan ruh sebagai inti hakikat segala yang ada. Kepada dua pemikiran sebelumnya inilah Marx mengembangkan cakrawala filsafatnya yang khas dari apa yang dinisbahkan dunia sebagai meterialisme dialektika historis.

Perlu dipahami penolakan bentuk ideide religius-idealistik Marx dari perspektif cabang pertama adalah suatu mode pemikiran yang disandarkan melalui kritiknya terhadap gagasan Feurbach dan juga sekaligus Hegel, sehingga kosakata pemikiran yang dipakainya merupakan pantulan perspektif yang menolak agama di luar dari tradisi pemikiran agama itu sendiri. Dengan kata lain, perspektif negatif terhadap agama oleh Marx adalah tradisi pemikiran yang lahir dari suatu alur pemikiran filosif sebelumnya yang bersifat spekulatif. Artinya penolakan Marx terhadap agama bukanlah suatu jawaban defenitif seperti yang dipersangkakan orangorang di luar dari tradisi pemikiran Marxisme.

Sementara dari cabang yang kedua, penolakan Marx kepada gagasan idealistik-religius bertolak dari pembacaan yang bersifat empirik. Dari sudut pandang ini mesti pertamatama mendudukkan perkataan Marx yang menyebut agama adalah candu masyarakat  di dalam suatu latar sosiologis tertentu. Dengan maksud bahwa perkataan Marx lahir dari pengamatan yang bersifat kontekstual. Artinya, berbeda dari penolakan pertama yang bersifat filosofis, dari cabang yang kedua ini Marx lebih digolongkan sebagai seorang sosiolog yang menghadapi suatu fase kehidupan tertentu.  Dengan kata lain perkataan Marx bukanlah fatwa yang sudah benar dari sananya, melainkan suatu perkataan yang bisa benar sekaligus diwaktu yang hampir bersamaan mampu untuk disangkal.


Pemahaman yang dibangun di atas perlu diajukan dari awal untuk memberikan suatu cara pandang lain bahwa hubungan Marx dan gagasan idealistik-religius, terutama agama, merupakan hubungan yang terbuka untuk dinilai daripada menerima pernyataanpernyataan aksiomatik yang melihat Marxisme dan agama merupakan dua pemahaman yang ambivalen. Artinya, dari kacamata ini, ada kemungkinan memberikan telaah diseputar relasi agama dan Marxisme dengan suatu cara pandang yang lebih elastis dan dialektis. Ini penting mengingat dari tingkatan tertentu agama dan Marxisme memiliki muatan yang hampir sama terutama pandanganpandangannya soal perbaikan harkat dan martabat masyarakat tertindas.

***

Marxisme bisa dibilang sebagai filsafat orangorang tertindas. Dari kesadaran Marxisme yang diandaikan sebagai orang tertindas adalah kumpulan kelas pekerja yang bekerja di bawah tatanan yang kapitalistik. Di dalam tatanan kapitalistik kaum pekerja bukanlah apaapa. Kaum pekerja disebut kaum pekerja karena mereka rela menjual tenaganya kepada kelas borjuis untuk mendapatkan upah rendah demi memberlangsungkan kehidupannya. Dari relasi antara kaum pekerja dan kaum borjuis, dinyatakan Marx mengandung nilai lebih dari logika yang bersifat eksploitatif. 

Akibatnya, upah yang diterima kaum pekerja tidak berbanding lurus dengan tenaga produksi yang dikeluarkan. Maka dari itu Marx menyeru bahwa hubungan macam demikian adalah penghisapan yang tidak adil. Berangkat dari situasi itulah Marx mengabarkan suatu jalan perubahan yang dia sebut revolusi proletariat. Perubahan ini tak mungkin tejadi sebelum terbangun apa yang disebut dalam tradisi Marxisme sebagai kesadaran kelas. Dengan kesadaran kelas, Marxisme meyakini kaum pekerja dapat keluar dari hubungan idelogis yang didasarkan kepada kepentingan kaum borjuis semata.

Bila dijabarkan menjadi pokok pikiran, pernyataan di atas akan menerangkan beberapa saripati teoritik yang bisa ditemui di dalam gagasangasan Marxisme. Tentu inti pemikiran ini hanyalah merupakan sebagian dari luasnya perhatian Marxisme terhadap beragam tema keilmuan yang dibahasnya.

Pertama, teori tentang kelas sosial.   Berdasarkan uraian Franz Magnis Suseno dalam literasi “Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme”, di dalam pemikiran Marx konsep kelas tidak dinyatakan secara eksplisit. Ini mengimplikasikan kekaburan soal batas defenitif kelas sebagai konsep walaupun Marx banyak menggunakannya dalam studi literatifnya.  Asumsi ini akibat hilangnya kategori atau berdasarakan kritea apa yang  tidak  diajukan Frans Magnis Suseno mengenai bagaimana kelas itu dinyatakan. Nampaknya Frans Magnis Suseno kurang memberikan perhatian kepada logika Marx yang menempatkan kelas di antara posisinya dalam hubunganhubungan produksi diseputar penguasaan alatalat produksi. 

Berdasarkan pemahaman Marxisme yang dinyatakan Lenin, kelas sosial merupakan golongan masyarakat dalam suatu tatanan yang ditentukan oleh posisinya dalam proses produksi. Artinya di dalam tatanan yang ditentukan oleh suatu proses produksi, posisi kelompok sosial mengandaikan hubungan yang relatif ditentukan oleh seberapa dekat dengan alatalat produksi. Semakin dekat suatu golongan dengan penguasaan proses produksi maka semakin kuat dia membangun suatu hirarki kekuasaan, sebaliknya semakin jauh suatu kelompok dari suatu proses produksi maka akan semakin tak bernilai ia di dalam suatu tatanan. Dalam matriks kelas Marxisme, golongan yang memiliki akses terhadap suatu proses produksi disebut kelas borjuasi, sementara kelompok yang tidak memiliki akses kepemilikan terhadap sarana produksi disebut sebagai kelas proletar.




Berdasarkan gambar 1, peluang akses kelas borjuasi terhadap sarana produksi mengakibatkan semakin besarnya penguasaan yang dipunyai kelas borjuasi terhadap penggunaan sarana poduksi guna menyatakan posisinya dalam relasi hubungan produksi. Akses ini dengan sendirinya akan menyebabkan kekuasaan yang besar dalam memperagakan kepentingan kelas berjuasi atas kepemilikan sarana produksi. Hal yang berkebalikan terjadi terhadap kelas  proletar yang jauh dari penguasaan terhadap sarana produksi sehingga dalam hubungannya mengakibatkan kelas proletar tidak mempunyai kekuasaan sama sekali atas sarana produksi yang tidak dimilikinya. 


 

Dalam pemahaman struktural seperti yang dinyatakan berdasarkan dari gambar 2, relasi hubungan produksi antara kelas borjuasi dan kelas proletar dibangun atas dasar penguasaan. Ini dinyatakan dari hubungan yang dipunyai atas akses terhadap sarana produksi. Hubungan ini tidak saja berbicara soal dekatnya akses yang dimiliki kelas borjuasi, melainkan juga seberapa besarnya hubungan hirarki golongan ini terhadap sarana produksi itu sendiri. Artinya dalam hubungan hirarki seperti ini, penguasaan terhadap sarana produksi dengan sendirinya paralel dengan status kelas yang disandang berdasarkan kepemilikan alatalat produksi.

Berdasarkan dua pemahaman ini, kelas sosial dinyatakan atas kepemilikan sarana produksi. Hubungannya dengan keadaan objektif masyarakat, kelas sosial adalah kategori yang bisa disematkan kepada hubunganhubungan masyarakat atas ikatan ras, agama, suku, gender ataupun budaya. Maksudnya, kelas sebagai kategori sosial bukan penggolongan atas ikatanikatan masyarakat  yang selama ini dipahami sebagai sesuatu yang inheren dalam masyarakat, melainkan relasi yang tercipta atas dasar hubungan produksi. Dengan kata lain, berdasarkan kategori kelas sosial entah ikatan kultural, keagamaan maupun kebangsaan yang acapkali dipisahkan secara berbeda dari hubungan sosialnya, tetapi di bawah relasi atas sarana produksi maka golongan yang dinyatakan berbeda sebelumnya akan bersatu dalam dua kategori tunggal yakni kelas borjuis atau kelas proletar.

Kedua teori nilai lebih. Teori nilai lebih didasarkan Marx atas perhatiannya terhadap lamanya waktu yang dikeluarkan kaum pekerja untuk menghasilkan barangbarang. Bagi Marx upah yang diterima kaum buruh harus sebanding dengan waktu ratarata yang dimiliki kelas pekerja selama menghasilkan barang. Berdasarkan logika ini nilai barang akan ditentukan berdasarkan lamanya barang itu dikerjakan. Semakin banyak waktu yang digunakan dalam menghasilkan barang maka akan semakin tinggi nilai barang itu sendiri. Yang menjadi masalah bagi Marx adalah ketika adanya pencurian nilai lebih dari waktu ratarata yang tersisa dari kaum buruh. Semisal untuk menghasilkan sepatu yang senilai 5000 rupiah hanya dibutuhkan waktu sebanyak empat jam, tetapi akibat ketika kaum pekerja menjual tenaganya maka kepemilikan atas dirinya dipekerjakan kaum pemodal selama delapan jam, maka akan ada tersisa waktu empat jam seharga 5000 rupiah yang diambil tanpa terbayarkan kepada seorang pekerja. 5000 dari waktu empat jam yang tersisa inilah dalam pemahaman Marx disebut sebagai nilai lebih.

Ketiga konsep keterasingan.  Pemikiran ini dinyatakan Marx dari kerja sebagai ikhtiar manusia yang bebas dan universal. Berbeda dari binatang, manusia merupakan mahluk yang harus mengubah alam agar dapat sesuai dengan kebutuhannya. Agar sesuai dengan kebutuhan maka manusia dituntut untuk bekerja. Bekerja juga disebut Marx sebagai cara manusia mengobjektivasi dirinya. Maksudnya seperti seorang pembuat patung, kayu yang semula nyaris tanpa bentuk akhirnya  berubah menjadi ornamen yang indah lewat kerja. Kayu yang berubah bentuk menjadi patung indah inilah yang dimaksud Marx sebagai objektivasi manusia. Di patung itulah seluruh endapan ide, tenaga, dan rencana si tukang yang awalnya masih berupa potensial akhirnya menjadi objek kongkrit lewat usaha kerja.

Pekerjaan di mata Marx juga bersifat sosial. Artinya tiada pekerjaan yang tanpa melibatkan kehadiran orang lain. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pekerjaan bukanlah aktifitas tertutup yang mengandaikan subjektifitas belaka, melainkan dengan sendirinya adalah usaha kolektif selain karena manusia merupakan mahluk sosial tetapi jug kehadirannya dikatakan bernilai jika melibatkan kehadiran orang lain.

Pengandaian pekerjaan sebagai usaha kolektif juga bermakna historis. Maksudnya kita hidup di atas dunia yang merupakan hasil kerja orangorang sebelumnya. Dunia yang diwarisi manusia sejatinya dalam pemahaman ini merupakan hasil jejak pekerjaan ribuan generasi sebelumnya. Persepektif ini diajukan Marx kepada Feurbach yang tidak melihat dunia sebagai semesta yang disalurkan antara satu generasi ke generasi lainnya. Berbeda dengan Feurbach, Marx meyakini bahwa dunia tidak lahir sebagaimana adanya tanpa perlibatan organis tangan manusia, melainkan selain ada usaha kolektif kerja juga berdimensi historis.

Lantas di manakah sisi keterasingan manusia dari aktivitas pekerjaannya? Untuk menemukan persinggungan keterasingan manusia dalam pemahaman Marxisme, maka pertamatama konteks kerja manusia mesti dipahami dalam skema kerja kapitalisme yang menjadi asalusul keterasingan manusia.

Pekerjaan dalam skema kapitalisme adalah pekerjaan yang tidak didasarkan kepada jiwa merdeka dan universal.  Dua ciri ini dalam tatanan kapitalistik menjadi hilang akibat kerja merupakan dorongan eksternal dan hanya didasarkan kepada tujuantujuan akumulasi modal. Kaum pekerja di bawah situasi ini akhirnya dinyatakan Marx mengalami setidaknya dua lapis keterasingan.  Pertama kaum pekerja terasing dari dirinya sendiri. Melalui aktivitas kerja yang didasarkan tuntutan kepentingan industrialisasi, realisasi pekerjaan manusia bukanlah ikhtiar yang dikembangkan atas dasar objektivasi kehendaknya, melainkan sematamata untuk menutupi tujuantujuan yang sebelumnya ditetapkan pasar kerja. Hasil kerja yang diproduksi dari tenaga yang dikeluarkan dalam logika ini bukanlah ekspresi yang dinikmati oleh kaum pekerja itu sendiri, melainkan dinikmati oleh sistem yang mendapatkan hasil dari tenaga yang dikeluarkan oleh kaum pekerja. Di sini keterasingan lapis pertama itu muncul: hasil produksi bukanlah kenyataan yang mencerminkan hakikat diri manusia itu sendiri. “Semakin si pekerja menghasilkan pekerjaan, semakin ia, dunia batinnya menjadi miskin”, ucap Marx.

Kedua, akibat sistem kerja yang tidak alami, manusia yang dipaksa bekerja karena logika akumulasi modal dengan sendirinya mengalami perpecahan dengan kelompok sosial lainnya. Selain kaum pekerja tidak memiliki ikatan apaapa selain hubungan pekerjaan dengan kaum pemodal, juga kaum pekerja tidak memiliki ruang yang cukup membangun relasi yang alamiah kepada sesamanya karena tuntutan pekerjaan yang eksploitatif. Di dalam waktu yang sematamata dihabiskan hanya untuk bekerja, kaum pekerja tidak memiliki waktu luang untuk mengekspresikan kecenderungan sosialnya antara sesamanya. Di titik inilah, Marx menyebut eksistensi manusia tercerabut selain sebagai mahluk yang mampu merealisasikan kebutuhan individualnya, tetapi juga sebagai mahluk yang berdimensi sosial.

Keempat kesadaran kelas. Perubahan yang diandaikan Marxisme adalah jenis perubahan yang revolusioner. Perubahan ini bersifat universal dan radikal dalam makna berlaku di setiap sendisendi kehidupan. Dalam tinjauanya terhadap pertentangan kelas, Marx mengatakan kepentingan kelas proletariat bukanlah sematamata akibat rasa iri ataupun dengki yang digerakkan oleh semacam sentimentalisme dan tuntunan moral tertentu, melainkan merupakan keharusan objektif yang digerakkan sejarah selama ini. Marx mengatakan: “Masalahnya bukan apa yang dibayangkan sebagai tujuan oleh seorang proletar atau pun seluruh proletariat. Masalahnya ialah proletriat itu apa dan apa yang akan, secara historis, terpaksa dilakukannya berdasarkan hakikatnya itu. Tujuan dan aksi historisnya telah digariskan secara jelas, tak terbantahkan, dalam situasi hidupnya sendiri maupun dalam seluruh organisasi masyarakat borjuis sekarang.” Menurut Marx, setiap kelas sosial bertindak sesuai dengan kepentingannya dan kepentinggannya ditentukan oleh situasinya yang objektif.

Walaupun perjuangan kelas merupakan situasi yang disebut keharusan sejarah, dalam pemahaman Marxisme, kapitalisme hanya dapat ditumbangkan di dalam dua keadaan yang secara simultan terjadi secara bersamaan. Pertama adalah seperti yang dinyatakan Marx bahwa kapitalisme adalah sistem perekonomian yang mengandung kontradiksi secara imanen sehingga akan mendasari kejatuhannya. Dalam kasus ini kapitalisme adalah pertarungan yang melibatkan tuan pemodal dengan tuan pemodal lain untuk saling mempertahankan dirinya. Bagi Marx, pertentangan di antara tuan pemodal ini akan dengan sendirinya menghancurkan sistem yang menopang masyarakat borjuis itu sendiri. Kedua, di dalam sistem kerja upahan, kaum pekerja akan menyadari situasi objektifnya yang dieksploitasi oleh kaum pemodal dengan membangun kesadaran atas situasi kelasnya demi merebut sarana produksi. Di situasi yang kedua ini maka kaum pekerja akan membangun konsolidasi atas dasar persamaan dengan maksud penggulingan kelas pemodal dari sarana produksinya.

***

Marx menyatakan sejarah perubahan masyarakat ditentukan oleh sejauh mana hubungan produksi berlangsung di dalamnya. Hubungan produksi ini sangat signifikan pengaruhnya sehingga mempengaruhi corak nilai yang menjadi bangunan suprastrukturnya. Bagi Marx produksi ekonomilah yang mendasari seluruh tatanan nilai berupa politik, hukum, budaya, agama, moral maupun seni. Asumsi ini dinyatakannya lebih jauh bersifat historis dalam makna menjadi hukum perkembangan masyarakat. 




Berdasarkan gambar 3, sejarah perkembangan masyarakat dikatakan Marx akan membentuk konfigurasi bentuk masyarakat yang ditentukan oleh perkembangan hubungan produksi sebagai kekuatan determinannya. Dimulai dari masyarakat komunal primitif, sejarah masyarakat berturutturut akan berkembang menjadi masyarakat feodal, industri, dan kemudian akan bergerak menjadi tatatanan tanpa kelas yang disebutnya sebagai masyarakat sosialisme komunisme. 






Apa yang mau dijelaskan dari gambar 4 adalah penggambaran yang dinyatakan Marx sebagai hukum masyarakat atas dasar prinsip filsafat materialisme historis dialektis. Hukum ini bekerja atas dasar prinsip dialektis di antara hubungan produksi yang bersifat material yakni tenaga produksi, alat produksi, dan bahanbahan produksi. Ketiga elemen inilah yang berproses membentuk konfigurasi paras masyarakat dalam perjalanan sejarahnya. Hukum ini disebut objektif lantaran merupakan kenyataan yang tampak berlaku di dalam masyarakat sebagai peristiwa yang aktual.

***

Sekilas Islam Transformatif

Islam dalam beberapa intrepetasi yang dilakukan oleh semisal Hassan Hanafi, Hassan Al Banna, Asghar Ali Engineer, dan Ali Syariati –untuk menyebut beberapa nama, merupakan suatu cara pandang baru yang memberikan penekanan “aksi” terhadap pemahaman Islam yang cenderung normatif-konservatif. Dari beragamnya intrepetasi ini maka memunculkan beragam istilah teknis yang mau menyebut Islam yang menaruh minat terhadap isuisu perubahan. “Kiri Islam”, “Islam Progresif”, “Teologi Pembebasan”, dan “Sosialisme Islam”, adalah beberapa model pembaharuan yang memiliki konsep perubahan atas ajaran Islam agar memiliki manfaat konkrit terhadap kehidupan umat manusia yang terbelakang. Pembacaan ini umumnya didasarkan atas situasi umat Islam itu sendiri yang bergerak lamban dalam menyesuaikan pemahamannya terhadap perkembangan zaman. Hal yang lain juga dinyatakan sebagai akibat situasi umat Islam yang mengalami penindasan dari berbagai sektor kehidupan. Selain daripada itu, dari dimensi internal umat Islam itu sendiri, ada pemahaman yang disebut “konservatif” terhadap halhal teknis sehingga melupakan hal paling subtansial berupa nasib umat Islam yang mengalami degradasi dan dekadensi.

Untuk mengambil contoh sebagaimana yang dicetuskan Asghar Ali Engineer berupa pemahamannya tentang Teologi Pembebasan,  bahwa sejatinya Islam datang dengan semangat pembebasan. Dalam sejarah awalnya Teologi Islam dekat dengan isuisu keadilan dan persamaan derajat. Misi kenabian dijabarkan dalam usaha melepaskan belenggu masyarakat dari perbudakan, perampasan hak, diskriminasi gender, dan perbedaan hubungan antara penganut keyakinan. Namun hal ini justru mengalami pergeseran ketika umat Islam memasuki suatu masa yang dipimpin oleh khalifahkhalifah pasca wafatnya rasul. Teologi akhirnya menjadi soalsoal yang hanya sibuk membahas kalam dan takdir manusia. Terutama paham Jabariah, menurut Asghar Ali Engineer, membuat umat Islam diposisikan menjadi umat yang statis akibat konsep teologi yang diintrodusir berdasarkan kepentingan khalifah saat itu.

Asghar juga menilai, Islam yang fatalistik ini  kemudian kehilangan aspek pembebasan. Para khalifahsaat itu  lebih sering bersama para penguasa yang tiran, sekaligus menindas siapa yang menentang. Jumlah budak berlipat ganda. Harem menjadi budaya istana khalifah. Sedangkan orang non-Arab diperlakukan secara diskriminatif.

Dari konteks inilah, maka Teologi Islam, menurut Asghar semakin jauh dari perhatian kepada masyarakat lemah. Teologi Islam hanya berbicara tentang keesaan Tuhan, Sifat-sifat Tuhan, ketidakmungkinan adanya Tuhan selain Allah, tentang polemik kehendak bebas dan takdir, dan masalah-masalah eskatologis. Teologi Islam tidak lagi berbicara tentang bagaimana membantu fakir miskin, memelihara anak yatim, bersikap kritis terhadap kekuasaan, membebaskan budak dan orang tertindas, mempromosikan kesetaraan jender, dan tema-tema pembebasan lainnya. Selain itu, keberpihakannya juga cenderung kepada penguasa. Maka, dalam kondisi demikian, Asghar bisa memahami kritik Marx bahwa agama adalah candu masyarakat.

Dari latar situasi itulah maka Engineer merumuskan Teologi Pembebasan berdasarkan dua cara. Pertama melalui aspek kesejarahan dengan melihat aspekaspek misi kenabian yang melibatkan diri terhadap misi pembebasan umat. Dari cara ini Engineer menemukan suatu pengertian yang egaliter bahwa Rasulullah datang bersamaan dengan penghapusan terhadap seluruh bentuk penghisapan atas umat manusia. kedua Kedua, dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit mendorong proses pembebasan seperti ayat tentang pemerdekaan budak, kesetaraan umat manusia, kesetaraan jender, kecaman atas eksploitasi dan ketidakadilan ekonomi, dan lain sebagainya.

Dalam pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an ini Asghar menggunakan pendekatan sosio-historis untuk mencoba kembali ke masa lalu di mana ayat-ayat itu turun, mengambil esensi dasar dari maksud ayat itu, kemudian dikontekstualisasikan pada problem-problem kontemporer. Dari dua hal inilah Asghar ingin menggali Teologi Pembebasan dari nilai-nilai Islam.

Ali Syariati yang juga memiliki intrepretasi Islam berdasarkan semangat pembebasannya, menemukan suatu prinsip esensial yang menjadi misi kenabian berupa pembelaannya terhadap kaum mustadaifain. Dari perspektif Tauhid, Ali Syariati menyatakan bahwa Islam secara esensil menggambarkan seluruh manusia sama di hadapan Tuhan. Tidak ada perbedaan secara kelas ataupun perlakuan khusus yang diberikan Tuhan terhadap kaum tertentu, sehingga apa pun pembedaan yang terjadi di dalam masyarakat harus dinyatakan sebagai bentuk kejahiliaan yang bersumber dari kesyirikan. 

Lebih jauh Syarati menjelaskan bahwa; “Adalah perlu menjelaskan tentang apa yang kita maksud dengan Islam. dengannya kita maksud Islam Abu Dzar; bukan Islamnya khalifah. Islam keadilan dan kepemimpinan yang pantas; bukan Islam-nya penguasa, aristokrasi dan kelas atas. Islam kebebasan, kemajuan (progress) dan kesadaran; bukan Islam perbudakan, penawanan, dan passivitas. Islam kaum mujahid; bukan Islam-nya kaum “ulama”. Islam kebajikan dan tanggung jawab pribadi dalam protes; bukan Islam yang menekankan dissimulasi (taqiyeh) keagamaan, wasilah “ulama” dan campur tangan Tuhan. Islam perjuangan untuk keimanan dan pengetahuan ilmiah, bukan Islam yang menyerah, dogmatis, dan imitasi tidak kritis (taqlid) kepada “ulama”.

Pernyataan Islam menurut Ali Syariati di atas diinspirasikan dari semangat kejuangan Imam Husain yang secara revolusioner menentang rezim Yazid sebagai simbol dekadensi ajaran Islam. Melalui ketokohan Imam Husain-lah Ali Syariati membangun horison Sosialisme Islam-nya dengan memberikan cara intrepetasi yang lebih kontekstual.

Salah satu contoh kontekstualisasi yang dilakukan Ali Syariati dengan membangun kategorikategori karakter semisal Habil dan Qabil, Musa dan Fir’aun, Muhammad dan Abu Jahal,serta Husain dan Yazid, sebagai medium pemaknaan umat untuk melihat ciriciri kebenaran dan kezaliman yang menurutnya merupakan dua antinomi yang berlaku di tiap keadaan masyarakat manapun. Melalui figurisasi inilah Ali Syariati membuat skema pemahaman untuk mengintrepetasikan keadaan umat yang terbelakang akibat perbuatanperbuatan ketidakadilan penguasa.

Islam transformatif sebagai kategori Islam yang menghendaki perubahan, sebenarnya adalah eksperimen yang dilakukan guna menemukan Islam yang ideal bukan saja menyentuh soalsoal kalam semata, melainkan turut andil dalam menyuarakan semangat kemanusiaan yang adil dan makmur. Makna transformatif berarti bermaksud melakukan pembaharuan dan perubahan dari aspekaspek pranata hingga struktural yang meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Tentu niatan ini tidak keluar dari misi awal yang disuarakan nabinabi pembawa risalah perubahan.

Islam transformatif juga harus dipahami sebagai upaya dialogis ajaran Islam yang berhadapan langsung dengan masalahmasalah kontemprer umat. Apapun semangat yang ditekankan di dalamnya, baik berupa intrepetasi yang telah ada sebelumnya maupun perkawinan dengan pahampaham yang berasal dari luar tradisi Islam, harus ditempatkan kepada makna transformatif itu sendiri, yakni sebagai upaya untuk membawa masyarakat kepada suatu model masyaraakat yang lebih maju.

Pembicaraan tentang teologi transformatif ini di kalangan teolog Indonesia, banyak diadvokasi oleh tokoh-tokoh seperti M. Sastraprateja, A. Suryawisata, dan Dr. Banawiratma (dari kalangan Katolik). Sedangkan dari kalangan Islam biasanya orang merujuk pada tokoh-tokoh seperti M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Moeslim Abdurrahman, M. Habib Chirzin, Mansour Fakih, dan juga Masdar F. Mas’udi. Pada umumnya, mereka ini adalah para ahli-ahli ilmu sosial yang meminati teologi, dan atau sebaliknya, para teolog yang hendak memakai analisis ilmu sosial radikal.(1)

Adapun kritik teologi transformatif adalah bahwa keterbelakangan bukan disebabkan faktor-faktor teologis, budaya, atau mentalitas, tetapi lebih disebabkan oleh akibat “ketidakadilan hubungan antara dunia maju dan Dunia Ketiga, yang berwatak imperialisme pada tingkat global, dan bentuk-bentuk eksploitasi serta hubungan-hubungan yang tidak adil pada tingkat lokal, yang dijalankan melalui hubungan dan cara produksi yang menghisap. (2)

Singkatnya, Teologi Transformatif tidaklah memisahkan antara teologi dan analisis sosial, bahkan menyatukannya dalam daur dialektis: dari kritik dialogis, ke kritik tafsir, kemudian mencari tafsir alternatif dan mewujudkannya dalam tindakan praksis sosial sebagai praksis teologis. Dengan demikian, kalangan teologi transformatif berusaha memanfaatkan, sekaligus mensintesakan berbagai analisis sosial dan tafsir Kitab Suci atas realitas sosial-keagamaan dewasa ini.


------
  1. http://www.anekamakalah.com/2012/03/islam-transformatifdinamisteologi.html
  2. http://makalahlaporanterbaru1.blogspot.co.id/2012/03/islam-transformatif-dinamis-dan-     teologi.html
Bacaan penunjang: 
(1) Manifesto Komunis, Karl Marx dan F. Engels. (2) Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Franz Magnis Suseno. (2) Teologi Pembebasan, Asghar Ali Engineer. (3) Agama dan Marxisme, O. Hashem. (4) Mencari Marxisme, Martin Suryajaya. (5) Kiri Islam, Antara Modernisme dan Posmodernisme. Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi. (6) Ali Syariati, Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat Pikir Barat Lainnya (7) Setelah Marxisme, Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer, Donny Gahral Adiaan (8) Menuju Masyarakat Egalitarian:Transformasi. Moeslim Abdurrahman (9) Kuntowijoyo Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi.

21 Mei 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 17

Menulis tanpa melibatkan pengalaman langsung adalah pekerjaan yang mengandung resiko. Bisa jadi apa yang ditulis akan mengadangada. Tapi apa boleh dibilang, pekerjaan rutin tiap akhir pekan yang mau merekam kejadian seputar KLPI harus tetap dilakukan. Makanya, dengan mengambil resiko yang bisa saja tidak sesuai fakta, tulisan ini dibuat.

Kelas menulis PI pekan 17 hanya dihadiri segelintir orang. Ini gejala yang sudah terjadi di hampir dua bulan belakangan. Soal ini, laporanlaporan di tulisan sebelumnya sudah sering mengulasnya, terutama catatan pekan kemarin. Soal ini semua yang terlibat di kelas menulis PI tahu situasinya. Juga bagaimana harus menyelesaikannya.

Tulisan ini hanya dipusatkan dari laporan kawankawan, terutama soal Vivi yang sudah menulis esai, yang sebelumnya lebih sering membawa cerpen. Mauliah Mulkin yang menulis memoar kepada ayahanda atas wafatnya 16 tahun silam. Muhajir yang mengangkat fenomena tetangganya yang sering membakar lilin merah di belakang rumah dengan maksud menolak bala. Dan beberapa kejadian soal obrolan kawankawan yang lain (sampai catatan ini ditulis, belum ada informasi valid soal tulisan yang dibawa kawankawan yang lain).

Pertama tentang pilihan Vivi yang membawa satu esai soal orangorang berkebutuhan khusus. Sampai sejauh ini, orangorang difabel adalah tema utama yang jadi pilihan Vivi. Kemungkinan ini dinyatakan dari background keilmuan yang kiwari digelutinya. Dari sudut pandang tertentu, tema yang sering diangkatnya adalah hal yang baru di kelas menulis PI. 

Yang unik dari pilihan Vivi adalah caranya dalam mengungkapkan dunia anakanak difabel melalui cerita pendek. Sejauh ini, dari perbendaharaan wacana kawankawan, obrolan soal orangorang berkebutuhan khusus jarang menjadi pilihan perbincangan. Setidaknya, tema yang sering diajukan Vivi adalah dunia baru yang bisa digarap kawankawan jika mau membuat suatu ulasan. Terutama Vivi, ini adalah khas yang dari situ dia bisa membangun karakter tulisannya.

Soal karakter itu penting. Apalagi kiwari banyak perbendaharaan tema yang sudah sering diangkat penulis pemula maupun profesional. Akibatnya agak sulit untuk mau menemukan satu wacana khas yang identik dengan gaya menulis seseorang. Namun, seperti sidik jari, tema tulisan seseorang sudah ditakdirkan berbeda dengan tema tulisan lain. Apalagi soal gaya menulis, jika tema bisa saja sama, adalah pintu masuk seorang penulis yang mau membangun ciri personalnya.

Kasus semisal Vivi dengan tema orang berkebutuhan khusus bisa jadi sudah banyak yang mengangkatnya, tapi tema difabel dengan genre cerpen mungkin hanya segelintir penulis yang melakukannya.

Yang dilakukan Vivi sejauh ini istikomah menggarap satu tema difabel juga dilakukan beberapa kawankawan. Sebut saja Jusnawati yang hampir semua tulisannya berpusat kepada hal ikhwal perempuan. Jika mau dipecah, maka akan banyak beragam tema turunan yang ditemukan dari tulisan Jusna selama ini tapi tetap konsisten dengan tema semula. Juga Mauliah Mulkin yang menaruh passion kepada tematema parenting, juga beragam cabang tema yang tetap berporos kepada parenting sebagai pusatnya. Artinya, selain karakter, konsistensi terhadap tema tertentu seperti yang dicontohkan beberapa kawankawan adalah suatu cara membangun karakter personal.

Sebagaimana Mauliah Mulkin dengan Bapak in My Memory merupakan judul tulisan yang masih berpusat kepada Parenting sebagai dasarnya. Relasi orang tua dan anak inilah yang gamblang sebagaimana di dalam wacana parenting terlihat di dalam tulisan yang membangun isinya dari kenangankenangan terhadap ayah di masa hidupnya. Jika dicocokkan dengan apa yang disebut Muhidin M. Dahlan sebagai esai mengantar arwah, bisa dibilang esai yang di tulis K Uly, begitu sering ia disapa, adalah esai yang ditujukan kepada orangorang yang telah pergi mendahului mereka yang masih hidup. Sebagaimana Ben Anderson yang menulis esai di kala Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru, Rosihan Anwar kepada temanteman seangkatannya, juga Daniel Dhakidae di Kompas yang menulis untuk Rosihan Anwar sendiri di kala wafat, esai arwah adalah tulisan yang galibnya dibuat untuk mengingat yang luput dari pemilik arwah bagi kehidupan yang ditinggalkannya. [1]

Namun, tema yang sering diulas bukan berarti tanpa resiko. Seperti hasil obrolan di kelas menulis pekan 16, menulis dengan tema yang seringkali sama bisa membawa penulis kepada pengulanganpengulangan informasi yang sudah sering diulas. Masalah ini besar kemungkinan terjadi jika tidak disertai riset terhadap tema yang sudah sering jadi garapan sebelumnya. 

Makanya riset itu hal elementer dan penting untuk membuka kemungkinan baru agar tulisan tidak jatuh kepada repetisi yang berkepanjangan. Kedua, seperti di catatan sebelumnya, eksperimen adalah hal yang juga akan membantu tulisan memperoleh sudut pandang yang jauh lebih fresh. Eksperimen ini bisa macammacam modelnya, di suatu waktu bisa berbentuk tukar pikiran melalui dialog, atau uji coba yang diterapkan langsung di dalam kehidupan nyata.

Eksperimen yang melibatkan ide ataupun gagasan, bisa dibilang hal yang harus sering dilakukan. Apalagi jika suatu karya ingin dibuat menjadi fiksi. Hampir semua penulis besar jika ditelisik mengandalkan eksperimen di dalam tulisannya. Pramoedya Ananta Toer misalnya, disebut sering melibatkan orangorang terdekatnya untuk dijadikan kawan dialog semasa di Pulau Buru. Bahkan dalam kasus ini, eksperimen Pram adalah kerja kolektif yang membuat tulisannya jadi bernas. Atau, Andrea Hirata misalnya, yang disebut pernah mengujicobakan secara langsung bagaimana merasakan naik motor yang kehabisan bensin di tengan jalan hanya untuk mau menggambarkan perasaan Ayahnya di kala mendorong sepeda bermilmil jauhnya di salah satu bagian ceritanya. Juga Eka Kurniawan yang seringkali bermainmain mengubah jalan cerita suatu kisah yang tak pernah dipikirkan orangorang dengan rumus “bagaimana jika seperti ini kejadiannya-bagaimana setelahnya”. 

Muhajir yang belakangan bereksperimen soal pengalaman langsungnya terhadap peristiwa di sekitarnya adalah salah satu contoh bagaimana kisahkisah kecil digubah dalam suatu karya tulis. Tulisannya soal lilin merah di belakang rumah tetangganya, jika dibaca setidaknya mulai bisa menyoroti halhal serius di balik kehidupan seharihari. Hal ini barangkali karena ditunjang dengan alam berpikirnya yang getol mengkonsumsi wacana filsafat. 

16 Mei 2016

takhayul dan komunisme

Comte menandai masa teologik-metafisik sebagai rentang sejarah manusia yang bergerak oleh kekuatan mitos dan takhayul. Dua kekuatan ini adalah cara manusia bertahan hidup dari semesta alam yang asing. Di masa ini, keyakinan jika manusia menghadapi hambatanhambatan dalam kehidupan, mampu diselesaikan dewadewi seperti yang diyakini dalam mitos. Bagi masyarakat prarasional, mitos dan takhayul dipakai sebagai perangkat pengetahuan untuk menjadi pegangan hidupnya.

Tapi, kesadaran berkembang. Mitos dan takhayul akhirnya digantikan dengan ilmu pengetahuan. August Comte menyebut masa ini zaman keemasan. Ilmu pengetahuan menjadi ratu peradaban. Berbeda dari dua masa sebelumnya, hal ihwal yang belum terjelaskan selama manusia hidup ternyata bisa dipecahkan oleh sains. Akibatnya, kata Comte, di zaman ini segala hal berbau teologis dan metafisis akan dihapus ilmu pengetahuan. Sainslah keyakinan baru masyarakat positivis.

Prediksi Bapak Sosiologi Barat itu bisa benar bisa tidak. Masyarakat memang telah maju oleh kesadaran rasional. Namun, keyakinan terhadap takhayul tidak sepenuhnya bisa hilang begitu saja. Terutama apa yang terjadi akhirakhir ini, soal ketakutan kepada entah apa. Walaupun begitu, siapapun yang mengikuti perkembangan berita akhirakhir ini tahu, beberapa elemen pemerintah khawatir terhadap satu mitos; komunisme.

Komunisme memang dibilangkan Marx dan Engels sebagai hantu yang bergentayangan di langitlangit Eropa kala itu. Di Manifesto Komunis secara eksplisit tujuan Marx dan Engels memakai metafora hantu sebagai penanda terhadap keyakinan baru yang bakal merinsek keyakinan dogmatis masyarakat Eropa. Sebagaimana mahluk halus, keberadaan komunisme akan membuat gentar pendirian masyarakat yang digerakkan filsafat kelas borjuis saat itu. Dan, filsafat kelas borjuis saat itu tiada lain adalah filsafat idealisme Hegel.

Sulit memprediksi apa dasar utama beberapa perangkat negara dan ormas akhirakhir ini getol mengkampanyekan anti komunisme dengan tindakan mutakhir sweeping karya intelektual berbau komunisme. Cuman satu hal yang pasti, mereka khawatiir hantu yang diistilahkan Marx dan Engels bakal seperti kejadian sejarah 65 silam. Padahal alasan ini tidak cukup kuat jika mau melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat.

Artinya bisa dibilang ketakutan negara dan beberapa ormas hanyalah ketakutan kepada hantu yang sebenarnya, yakni suatu keberadaan yang tidak memiliki wujud; pikirannya sendiri. Dengan kata lain, marxisme dan komunisme adalah hantu yang diciptakan sendiri di dalam imajinasi pemerintah. Suatu takhayul yang tidak terbukti kebenarannya.

Lantas bagaimana dengan kegandrungan kelompok mahasiswa atupun komunitas yang getol mengunyah pemikiran marxisme dan seluruh yang berbau kiri? Di sinilah letak soal suatu kebudayaan ditakar. Apakah untuk memecahkan soal itu harus menggunakan cara primitif atau cara yang lebih intelektuil. Cara fisik atau cara pikir.

Cara yang pertama, seperti marak di pemberitaan, menyita bukubuku kiri, adalah cara yang digolongkan seperti masa yang disebut Comte sebagai masa teologik-metafisik, yakni tindakan yang digerakkan ketakutan akibat takhayul. Akibat kesadaran takhayul macam demikian, tindakannya tergolong primitif, tidak ada tanda kebudayaan sama sekali. Ini mirip Nazi yang membumihanguskan seluruh karya intelektuil yang berbau Yahudi. Betulbetul fasis.

Seharusnya pemerintah menempuh cara yang lebih akademis, yakni pemikiran dilawan dengan pemikiran. Cara ini adalah caranya kaum intelek, lewat diskursus.

Nampaknya, takhayul belum juga hilang dari ruang kebudayaan masyarakat modern. Parahnya lagi itu terjadi di antara orangorang yang secara sosial hidup di tengahtengah zaman yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Ini ambivalensi yang tentu konyol. Tapi apa boleh dikata, itulah yang terjadi belakangan ini.

15 Mei 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 16

“Saya merasa kemampuan menulisku tidak berkembang,” ucap Jusna sambil memperlihatkan mukanya yang memelas. Di kelas, Jusna membawa tulisan tentang perempuan. Tema yang selama ini dia lakoni. Dari tulisannya itu, dia menemukan suatu pemahaman bahwa dia sulit membuat tulisannya menukik kepada soalsoal konkrit. Keluhnya, selama ini dia merasa tulisannya hanya mampu menyasar kepada soalsoal yang umum tentang perempuan. Dia merasa yang umum terlampau sering ia tuliskan. Jusna bilang, dia perlu sudut pandang baru. Dia ingin tulisannya tidak seperti biasanya, tulisannya yang generalis.

Problem Jusna hakikatnya adalah masalah kolektif. Yang ia alami sesungguhnya, kalau tidak salah terka adalah pasal yang sering kali bikin kawankawan kelimpungan. Bagaimana menulis dengan tema yang sama tapi punya kebaruan di dalamnya? Bagaimana mendeskripsikan suatu soal yang sering kali umum tapi ingin menunjukkan sudut pandang yang berlainan? Atau bagaimana mengolah tematema general menjadi tematema khusus? Di forum saat itu, jawabannya (walaupun ini tidak defenitif) adalah perbanyak sumber informasi.

Informasi yang variatif dengan sendirinya akan membuat tulisan kaya alur. Ibarat aliran sungai, informasi yang banyak akan mempermudah penulis membuat cabangcabang baru dalam tulisannya. Dengan begitu, tulisan akhirnya akan menukik masuk meninggalkan aliran sungai besar yang umum orang lewati. Hanya informasi yang banyak sekaligus detaillah yang akan membuat penulis bisa membuat percabangan aliran baru yang tak banyak diketahui orang. Aliran sungai baru, yang kecilkecil inilah yang dengan sendirinya bakal memberikan kekuatan pada tulisan dengan peristiwa-peristiwa yang detail sekaligus spesifik.

Lantas bagaimanakah cara memperbanyak sumber informasi? Tidak ada cara lain dengan tanpa melakukan riset. Setiap penulis pasti punya cara risetnya masingmasing sebagai modal utama menulis. Tanpa riset tulisan bakal mentok dari informasi yang tak bisa dikelola lagi. Hanya dengan risetlah penulis mampu menemukan halhal baru yang selama ini tersembunyi entah di sudut mana. Akibatnya, dengan cara itu, informasi yang selama ini tak sempat diketahui akhirnya dimungkinkan dapat diketahui. Artinya, risetlah yang menjadi jembatan antara kertas kosong dan beragam informasi yang berada di balik mata seorang penulis.

Riset bisa dilakukan dengan banyak cara. Mulai dari memperkaya bacaan, studi lapangan, wawancara, atau berdiskusi. Bahkan duduk diam mengamati suatu peristiwa dengan pengamatan ganjil juga merupakan riset. Atau ketika anda mimpi tentang suatu peristiwa, itupun juga merupakan riset yang bisa jadi informasi berharga kala Anda ingin membuat dongeng atau cerpen. Singkatnya, riset bisa apa saja. Bisa terjadi di mana saja Anda berada.

Tulisan disebut tulisan karena dia ditulis. Ini yang membedakannya dengan karya intelektual lain. Karya intelektual lain boleh saja hanya merupakan rekaman atau penampakan suatu peristiwa, tapi kekuatan tulisan terletak ketika gagasan sudah teraktuil di atas kertas kosong. Akan nampak suatu karya tulis jika ucapan verbal dan pikiran imajinatif sudah nyata tertera melalui aksara. Itulah mengapa satusatunya jalan untuk menulis ya harus menulis. Kata laporan di suatu media massa, menulis itu bukan teori melainkan perilaku. Bukan ucapan melainkan tindakan.

Setidaknya prinsip inilah yang dipegang kawankawan di KLPI. Jalan literasi hanya satu, yakni menulis. Jadi di sini tidak berlaku bunyi pepatah itu: “banyak jalan menuju Roma.”

***

Andi hanya duduk mengamati tiap kejadian di dalam kelas. Seakanakan setiap kejadian adalah data berharga baginya. Biar bagaimanapun ini adalah hari pertamanya terlibat. Itulah sebabnya dia butuh banyak input informasi soal lingkungan baru yang dihadapinya. Ini penting untuk membandingkan ucapan yang didengar dari seniornya dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Keakuratan informasi itu penting, begitu barangkali batinnya. Seiring dengan itu ekor matanya diarahkan di setiap sudut ruangan yang penuh buku itu. Sepertinya ada yang ingin ditangkap dari bulatan matanya, tapi entah apa. Bukubuku yang banyak itu membuatnya bingung.

Tak jauh dari Andi duduk dua perempuan sembari membungkukbungkuk. Akibatnya hanya bayangan hitam saja yang tertangkap dari sudut tempat Andi duduk. Tak jelas bagaimana rupa dua perempuan itu. Nampak mereka berdua sedang menekuri bacaan entah apa. Andi memicingkan matanya, dari sudut jauh di tangan dua perempuan itu dia berhasil membaca satu kalimat tunggal: Kala.

“Tabe Andi, ini selebaran Kala. Buletinnya anakanak di sini.” Sodor pemuda yang menemaninya sejak pertama tiba.

“Iye.”

“Sambil menunggu, sambil dibaca.” Timpal pemuda berkaos hitam itu.

Andi membolakbalik selebaran Kala di tangannya. Di bacanya dari halaman belakang. Di situ dia berhenti; “Pembebasan dan Isra’ Mi’raj.” Lama dia berdiam. Waktu terus berjalan. Kala, selebaran yang diarsir warna biru itu dibacanya.

Tak lama selang waktu, seorang pemuda tetiba menyosor masuk ke dalam kelas. Dia, seperti mencarisesuatu di antara bukubuku yang dipajang di sepanjang rak yang menjadi dinding kelas. Tangannya melayanglayang di sekitar pagina seperti sedang ingin menggenggam sesuatu. Tak ada yang kenal pemuda itu.

06 Mei 2016

Pramoedya Ananta Toer dan Kaum Pelajar

Ada perkataan Pramoedya Ananta Toer yang masyhur jadi kutipan: “seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”.  Perkataan ini kalau tidak salah muncul di Bumi Manusia, sekuel pertama dari empat novel yang akbar disebut Tetralogi Buru. Sulit menduga apa motif Pram mengucapkan demikian, tapi memang tanpa pikiran yang adil, suatu kehidupan justru bisa berubah semenamena.

Hampir seluruh hidup Pram sesungguhnya "tumbal" dari tatanan yang tidak adil. Indonesia yang disebutnya suatu bangsa yang telah ia sumbangkan segalanya, tak seperti yang dia harapkan dari kaum yang ia sebut “seorang terpelajar”. Pengalamannya selama hidup di bawah kolong Indonesia, yang bertindak semenaena terhadap dirinya –juga orangorang sepertinya, menganggap bahwa negara bisa menjadi medium jahat kalau keadilan tidak bekerja sebaikbaiknya. Dan memang negara seperti yang ia alami adalah suatu simpul yang  memangkas habis keadilan. Lantas siapakah yang harus memulai keadilan , jika negara hanya jadi alat yang semenamena? Pram sudah bilang: “seorang terpelajar.”

Seorang terpelajar memiliki dua hal: pikiran dan perbuatan. Pikiran dan perbuatan bagi seorang terpelajar adalah modal utama. Berbeda dari pengusaha, seorang terpelajar tak memiliki modal. Berbeda dari seorang raja, seorang terpelajar tak memiliki trah kekuasaan, berbeda dari tentara, seorang pelajar hanya memiliki pikiran dan perbuatannya sebagai senjatanya. Itulah sebabnya, keadilan harus ada di dalam pikiran dan perbuatan terpelajar. Hanya di dalam pikiran dan perbuatan adil seorang terpelajarlah senjatanya satusatunya.

Lantas apakah itu keadilan? Keadilan dalam kenyataan sosial-historis adalah keseimbangan tatanan pemerintahan. Pemerintah harus menyeimbangkan kekuasaannya tanpa memilihmilah kelompok. Dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik , dan agama, pemerintah harus menyeimbangkan distribusi kekuasaannya. Keseimbangan sosial-historis mensyaratkan perlunya perhatian terhadap neraca kebutuhan.  Pemerintah, di hadapan masyarakat yang menjalani kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan agama,  harus menyeimbangkan sumber dayanya secara proporsional. Keadilan dalam tatanan sosial-historis hanya berbicara satu hal: kemaslahatan. Dengan kata lain, keadilan dalam makna ini harus terus mendorong kemaslahatan berdasarkan tujuantujuan umum yang harus dicapai.

Namun, keadilan yang esensil merupakan suatu pikiran yang menempatkan hak kepada pihak yang berhak. Keadilan macam inilah yang barangkali Pram kehendaki.  Yang artinya tempatkanlah sesuatu pada tempatnya yang layak. Prinsip keadilan macam ini mengandaikan prioritas sebagai ukurannya. Misalnya, apabila ada warga negara yang berlaku melenceng, maka tempatkanlah ia sebagai orang yang harus mendapatkan kepastian hukum. Di sini, seorang yang salah punya prioritas sebagai orang yang harus mendapatkan pembelaan, dan pengawalan perlindungan hukum. Dalam kacamata prioritas, tidak soal dia seorang pencuri ataupun bupati, keduaduanya berhak mendapatkan pembelaan dan perlakuan yang seharusnya sama di mata hukum.

Keadilan dengan sendirinya mengandaikan kebenaran. Ini lapisan kedua dari perkataan Pram soal keadilan. Dengan kata lain, jika pikiran adil maka keadilan di situ secara esensil mengandung kebenaran. Sulit rasanya jika mengucapkan keadilan tanpa mengikutkan kebenaran sekaligus, karena jika menempatkan sesuatu pada pasaknya maka itulah yang disebut kebenaran.  Dengan kata lain, keadilan adalah wajah pertama kebenaran. Atau sebaliknya, paras kebenaran yang pertama adalah keadilan. Artinya mengandaikan keadilan tanpa kebenaran sebenarnya adalah ihwal yang musykil.

Itulah akibatnya, hanya seorang terpelajarlah yang ditamsilkan Pram.  Sebab di sepanjang kenyataan sejarah, atau bahkan memang merupakan tugasnya, kaum terpelajar adalah kaum yang identik dengan keadilan dan kebenaran. Hanya dipikiran kaum terpelajarlah keadilan itu mampu diimajinasikan, dan hanya di tangan seorang terpelajarlah kebenaran itu diperbuatkan.

Makanya, di pikiran pejabat kekuasaan, perbuatan kaum hartawan, keadilan dan kebenaran adalah tamsil yang sulit ditemukan.  Di dua profesi ini, keadilan dan kebenaran bukan “raison d’etre”, yang ditemukan di dalamnya. Akibatnya keadilan hanya jadi terma yang asing di seputar kekuasaan. Itulah kenapa keadilan dan kebenaran adalah dua prinsip yang terus harus dipaksakan di dalam tatatanan kekuasaan melalui segala kekuatan yang bisa diberikan. Dan kaum yang sering menyodorkan itu tiada lain tiada bukan hanyalah kaum terpelajar.

Artinya sudah wajar  perkataan Pram bukan menyebut kaum lain selain kaum terpelajar, sebab di sepanjang hidupnya, kekuasaan yang mewujud dalam negara hanya selalu menjadi momok yang membelah keadilan. Dan, seperti yang sering disebutkan, negara kadang memang jadi alat kekuasaan untuk menilap hakhak warganya yang seharusnya mendapatkan haknya sebagai warga negara. Negara memang suatu sumber yang jarang dan bahkan susah berbicara soal keadilan. Negara di konteks ini memang hanya menjadi alat yang seperti Marx nyatakan: alat penguasa. Lantas siapakah yang harus berbicara keadilan. Pram sudah bilang, dan kita tahu siapa itu.

02 Mei 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 15

Kelas dimulai dengan suara abaaba Hajir, itu tanda forum dibuka. Setelah mengucap beberapa kata, orang pertama yang membacakan tulisannya adalah Asran Salam. “Cinta Seorang Kierkegaard,” begitu Asran Salam mengucapkan judul tulisannya. Agak lama ia mengeja tulisannya. Sekira hampir sepuluh menit. Setelah itu, satu persatu mata mempelototi naskah yang dibagikannya. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah jadi mekanisme menggeledah tulisan. Siapa pun punya tulisan akan tetap dilucuti satusatu , entah itu soal EYD, kelogisan gagasan, keterhubungan kalimat, atau bahkan sampai soal gaya tulisan.

Tulisan Asran Salam kalau dibaca adalah esai yang menyorot sisi manusiawi filsuf eksistensialis asal Denmark: cinta. Di moment kritikal ini, ada pertanyaan yang sempat diajukan Sulhan Yusuf. Kalau tidak silap ingat adalah apakah Kierkegaard juga mengadaptasikan pandangan filsafat eksistensialisnya di saat lagi kasmaran.

Dalam tulisan Asran Salam, kasmaran filsuf ini melibatkan seorang perempuan bernama Regina. Asran Salam bilang, cinta adalah pengalaman eksistensial yang melibatkan keyakinan agar manusia dapat bertindak dan bersikap. Cinta adalah pengalaman yang ditulisnya harus menanggung konsekuensi: penantian. Sampai di sini sempat Asran Salam memapar pemikirannya lingkait filsafat eksistensialisme terutama apakah Kierkegaard mengimplementasikan filsafatnya dalam kehidupan asmaranya.

Di akhir tulisannya, Soren Abaye Kierkegaard terpaksa harus meninggalkan Regina hanya karena problem belas kasih. Ternyata, dari yang ditulis Asran Salam, cinta Kierkegaard disambut hanya dengan perlibatan belas kasih dari Regina. Cinta yang demikian bukan cinta yang sejati. Asran tulis, jalan cinta Kierkegaard adalah pilihan yang dibentang atas dasar pertimbangan filosofis. Pilihan yang disebutnya sudah jadi pilihan hidupnya.

Karena tulisan ini, juga sempat ada perbedaan konseptual soal apa yang dinyatakan cinta sebagai pengalaman eksistensial. Cinta bagaimanakah yang disebut pengalaman eksistensial? Kalau pengalaman cinta Kierkegaard dan Regina adalah fenomena eksistensial, lantas apa yang membuat dia begitu khas dari pengalaman yang semua orang rasakan? Bukankah cinta adala gejala universal? Kalau begitu, cinta khas yang bagaimanakah jika mau disebut pengalaman eksistensial? Cinta yang khas dialami seorang diri, bukan cinta yang dipersepsi oleh “kita” atau banyak orang?

***

Sekarang hari Jumat, belum ada email yang masuk. Maklum, tiap hari Jumat saya jadi orang pertama yang akan membaca tulisannya. Akibatnya, jika Jumat jelang saya bakal menunggu tulisannya via surat elektronik. Kebiasaan ini sudah dimulai dari beberapa pekan silam. Biasanya, jika matahari sudah meninggi di waktu itu pula tulisannya masuk. Kalau sudah begitu saya bakal lega.

Tapi kala sore tulisannya pun belum jua datang. Saya pikir barangkali lepas magrib tulisannya bakal masuk. Barangkali beliau masih kurang enak badan hingga memperlambat mengirim tulisan. Info ini saya dapat kala berkunjung di mukimnya di sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan hari Kamis kemarin.

Dari anaknya yang paling gede, saya dapat kabar kalau beliau kecapean paska dari Bantaeng, kampung halamannya yang sering dikunjunginya akhirakhir ini. “Sakitki Abi kodong, kecapeanki dari Bantaeng,” begitu ucap Aqila kala saya datang bertandang.

Aqila hanya sendiri bersetia dengan tumpukan bukubuku yang dijagainya. Di waktu saya datang nampak wajahnya kelelahan, atau mungkin boring. Tak lama berselang saya menerka wajahnya yang agak kusut itu kalau tidak salah akibat memikirkan tugas akhirnya. Saya tahu itu selang setelah beberapa lama bercerita, Qila telah mengubah perencanaan penulisan penelitiannya. Dulu dia bilang bakal meneliti kecenderungan aktifitas kawula mudamudi yang disebutnya masuk kategori gerakan sosial baru. Kiwari, indikator yang dibilangnya itu adalah tipe aktifivis kampus yang senang mengikuti kegiatankegiatan programatik yang tak mengikat secara total. Aktifitas ini hanya diikat oleh kontrak secara temporal. Contoh kongkritnya dibilangnya adalah anakanak muda yang suka jadi volunteer.

Sekarang malah dia berencana bakal mengorek gerakan literasi di kampung ayahnya, Bantaeng. Penelitiannya diarahkan kepada soal –kalau tidak salah mengapa ada perbedaan minat baca anakanak muda di kota dan desa. Apa kondisi yang menyituasikannya demikian? Apa asbabnya, dan bagaimana hubungannya dengan Boetta Ilmu, komunitas yang digerakkan Ayahnya selama ini? Apakah ada signifikansinya atau tidak?

Pertanyaan pertama saat saya mendengarnya: “mengapa di Bantaeng?” Qila hanya bilang, santai, “ada Abiku bisa jadi informannya nanti.” Mendengarnya saya hanya tertawa.

Saya juga mendengar bahwa ia sedang mengumpukan bahanbahan yang berkaitan dengan perencanaan penelitiaanya. Persiapan ini sering dibilang dengan istilah reading course. Singkatnya, Qila harus banyakbanyak membaca seluruh literatur yang bisa ditemukannya yang berbicara soal seluk beluk dunia literasi.

Selang limabelas menit saya bergegas pulang, membelah punggung aspal panas yang diterpa kuning matahari. Berpacu dengan kuda besi yang meraungraung. Kota adalah kota, terutama di jalan raya waktu adalah waktu. Yang cepat pastilah yang ideal.

Namun, jelang malam tulisan yang ditunggu tak jua datang. Akhirnya, kesimpulan diambil. Masih ada hari Sabtu besok. Yakin dan percaya tulisannya bakal datang. Seperti biasanya, dia bakal menelpon atau sms bertukar kabar kalau tulisannya baru saja dikirim.

***

Menulis di kelas literasi sudah jadi program paten. Jadi bagi kawankawan yang mau terlibat maka harus mengikuti rumus ini. Setiap pekan harus membawa tulisan. Dan, di dalam KLPI setiap tulisan langsung ditakwilkan sebagai karya yang lahir dari seorang tersangka.

Karena ditulis oleh seorang tersangka, tulisannya akhirnya jadi sorotan. Logikanya, setiap omongan tersangka patut dicurigai sebagai cara untuk menutupi kesalahannya. Apalagi kalau seorang tersangka menulis, maka tulisannya pasti adalah pledoi yang dipakainya untuk menutupi dosadosa yang telah diperbuatnya. Karena itulah, di KLPI setiap tulisan mengandung dosa, tak ada tulisan yang bersih dari kesalahan.

Untuk sampai kepada tulisan yang licin, maka di kelas selama ini menggunakan dua tahapan introgatif. Pertama, karya yang dibawa bakal dibacakan (sekaligus dinarasikan), dan kedua adalah momen ktitikal dari setiap mata yang mempelototi tulisan yang disangkakan bersih oleh penulisnya.

Jadi kalau ada kawankawan yang mau ikut KLPI, maka salah berkeyakinan bahwa orangorang yang terlibat di dalamnya adalah orangorang bersih secara literatif. Justru, yang berkecimpung di dalamnya adalah tersangkatersangka yang ikut di mahkamah literasi dalam rangka membersihkan jarijarinya dari kesalahan di saat menulis. Dengan kata lain, orangorang di KLPI adalah orangorang yang banyak dosa literasinya, mulai dari EYD sampai pola gagasannya.

Kalau sudah begitu, penolakan kawankawan yang kadung menampik ikut terlibat di KLPI bisa dibilang orangorang yang mendaku telah bersih jarinya dari dosa literasi. Atau orangorang yang tak mau dihakimi tulisannya di hadapan majelis hukum literasi KLPI. Kalau begitu, sudah sampai di mana kemaksuman literatif orangorang yang menampik terlibat?

***

Ari membawa tulisan yang lumayan unik. Karya tulisnya mau dia tujukan kepada Rektor terpilih UNM. Agak tepat tulisan ini kalau disebut surat terbuka, walaupun dia memberi judul dengan mengikutkan kata catatan di dalamnya. Seperti biasa, tulisannya penuh nuansa kritik soal pendidikan.

Isu pendidikan adalah tema yang konsisten dibetot Ari. Di tulisannya kali ini dia banyak menyampir mulai dari tukang sapu kampus sampai penyelenggaraan pendidikan di UNM. Walaupun itu ditulisnya di bawah bayangbayang sebagai seorang mahasiswa UNM, tulisannya itu sekaligus bisa jadi cermin buat keadaan kampuskampus lain saat ini. Artinya esai Ari itu bergerak dari subjetivitasnya sebagai mahasiswa UNM menjadi refleksi atas keadaan objektif kampuskampus masa kiwari.

Ari bilang tulisannya ini bakal ia lombakan. Profesi, UKM Pers UNM memang saya dengar sedang membuat lomba membikin surat buat rektor barunya. Walaupun niatannya dimulai dengan pragmatisme literatif, tulisannya itu memang berangkat dari keresahannya yang hidup total di dalam lingkungan kampus.

Tulisan Ari memang mirip surat, maka pasca ia membacanya ada saran kalau lebih tepat judul tulisannya diubah jadi “Surat Terbuka Buat Rektor.” Pertimbangan ini diambil untuk mengikuti trend esai yang berkembang saat ini.Apalagi Muhiddin M. Dahlan bilang dalam bukunya Inilah Esai, esai itu seperti surat. Karena itulah tulisan yang memang mirip surat itu diberi judul eksplisit saja: Surat Terbuka Buat Rektor.

Tak tahu apakah judul karya literatifnya sudah dibuat judul baru. Soalnya Ari bilang bakal dia kirim malam harinya, batas waktu pengiriman kalau mau ikut lomba. Mudahmudahan tulisannya dapat satu posisi di situ. Ini sebagai tanda bahwa KLPI punya dampak serius dengan karyakarya yang teruji di mata publik.

***

Saya datang bersamaan hujan yang pecah pasca mendung menggelantung. Kala, buletin yang sedari Sabtu kemarin dikerjakan sudah diambil alih Hajir untuk digandakan. Makanya, saya berani menembus pecahan hujan. Tak ada Kala yang dirisaukan karena basah hujan.

Sekira lima menit menembus tirai hujan bukan soal buat KLPI. Keyakinan ini sama di mata kawankawan, akhir pekan adalah hari khusus buat kelas menulis PI.

Setiba di lokasi sudah ada beberapa yang lebih awal datang. Sulhan Yusuf, pimpinan Paradigma Institute dengan kaos oblong putih khasnya duduk diapit Asran Salam dan Muhajir tepat di sampingnya. Nampaknya mereka sedang mengobrolkan sesuatu. Saya yang baru saja tiba hanya duduk di atas jok motor mengeringkan baju yang kadung basah.

Nampaknya di hari yang sama sudah digelar sebelumnya Kelas Parenting. Itulah sebabnya ada Muchniart datang bersama dua orang lainnya, Nasrah dan Retno Sari. Mereka sibuk membolak balik buku dari pajangan yang ada di rakrak panjang TB Paradigma. Sedang di belakang mereka, Muchniart sedang mengobrolkan sesuatu dengan Mauliah Mulkin, orang yang menginisiasikan kelas parenting selama ini.

Tak lama berselang entah siapa yang menggiring kawankawan masuk di ruangan belakang tempat kelas sering dilaksanakan. Nampaknya, di dalam sudah ada Hajrah yang duduk memegang Kala. Raut mukanya agak lesu. Ternyata dia masih sakit dan baru saja datang dari Bulukumba. Tidak seperti biasa, Hajrah yang kerap bikin forum jadi ramai kali ini hanya lebih banyak diam. Barangkali akibat sakit yang dideritanya. Dia lebih banyak memerhatikan yang lain bercerita.

Seperti janjinya minggu lalu, Hajrah datang dengan membawa langsat. Sekantung plastik penuh dibawanya beserta beberapa biji rambutan. Saya yang baru saja datang tak banyak pikir langsung mengambil beberapa biji. Satu biji, dua biji, tiga biji dan seterusnya…

Tak lama saya memanggil Andang dan Sakman masuk ke dalam kelas. Dua orang ini datang berboncengan bersama saya dari awal. Andang, yang beberapa hari lalu datang dari Majene akan saya antar pulang kembali ke tempat penyewaan mobil sebelum jam tujuh nanti.

Berselang beberapa menit forum bersiap dimulai. Jam sudah hampir pukul empat sore. Hajir didaulat jadi pimpinan forum. Dia mengucap beberapa kata, tanda kelas di mulai. Sementara di luar kelas dikepung hujan. Tik tik tik, begitu bunyinya. 

waktu dan pram

Sudah semenjak terakhir kali membaca Cantik Itu Luka, saya agak ragu mau membaca novel yang bejibun pagina. Agaknya, kekhawatiran ini ditenggarai ketidaksanggupan melumat habis bacaan. Ini makin krusial, karena di situ soalnya ada yang genting: waktu akhirnya jadi medan yang tak lagi bulat. Waktu jadi semacam garis putusputus, tak lengkap.

Saya selalu meyakini, membaca bukan saja peristiwa kesadaran yang mau masuk terlibat dalam dunia teks dengan segala kemungkinannya, melainkan di situ ada medan waktu yang jadi ukuran panjang pendeknya kesadaran yang ikut di dalamnya. Membaca dengan arti ini sederhana, suatu keadaan yang mau membangun pemahaman dengan teks sekaligus juga ingin bersetia di dalam bulatan waktu.

Karena itulah kalau melihat buku yang tebaltebal, suatu kesadaran bakal menjadi ciut. Kiwari, di dalam kesadaran saya, waktu bukan lagi pengalaman semacam garis lengkung lingkaran, suatu horison yang tanpa pangkal dan ujung. Waktu yang bulat adalah waktu yang tidak ditandai titik permulaan dan akhiran. Yang ada hanya suatu peristiwa totalitas. Suatu keutuhan.

Sementara jika mau membaca suatu novel,  itu berarti mau sabar mengakrabi lintasan waktu kehidupan tokohtokohnya.. Mau ikut di dalam keseluruhan kehidupan yang dikisahkan cerita di dalamnya. Novel dalam pengertian saya ini adalah rangkaian cerita yang terjalin atas ikatan totalitas. Hanya dalam novel-lah kita menemukan tokohtokohnya tampil lengkap seperti manusia nyata: ia lahir dengan tangisan, hidup dengan beragam pengalaman, dan akhirnya mati meninggalkan banyak orang. Membaca novel akhirnya sama dengan membaca kehidupan itu sendiri.

Itulah sebabnya, membaca novel perlu waktu yang bulat. Waktu yang tak putus. Namun, apa boleh buat, kehidupan sekarang adalah suatu aktifitas yang ditentukan waktu yang terbelahbelah, putusputus tanpa meninggalkan ikatan dengan totalitas. Sekarang, karena seluruh pengalaman manusia adalah pengalaman yang tak lagi disertai kesadaran yang padu, aktivitas yang berbeda di tiap waktunya, akhirnya membikin manusia tidak akrab dengan kesetiaan. Sehingga bagi pegiat bacaan, waktu harus kembali dinetralisir. Jadi kalau mau membaca buku, maka waktu harus betulbetul bebas dari perbudakan. Setiap pembaca harus setia dengan dan di dalam waktu.

Omongomong setia dalam waktu, saya mau sebut Pram. Orang yang pernah dikirimi mesin tik oleh Jean Paul Sartre kala menjalanai masa tahanan di Pulau Buru. Di masa tahanannya, waktu bagi Pram adalah media tukar untuk bertahan lama. Masa tahanan sepuluh tahun dipertukarkannya dengan wujud yang bakal sulit di hapus: berjilidjilid kisah Minke dan Indonesia.

Sulit rasanya mau bilang bahwa tanpa kesetiaan terhadap waktu, karyakarya Pram bakal lahir. Pram sebagai seorang pengarang cerita tentu bakal menggunakan waktunya bukan dalam pengertian yang terputus, sebab jika membangun suatu cerita mirip Tetralogi Buru misalnya, mustahil tanpa ingatan yang mencakup keseluruhan bulatan peristiwa yang sudah ditulisnya.

Kesadaran Pram adalah kesadaran yang bulat, sekaligus bukan dibangun di atas waktu yang putusputus. Dalam seluruh kehidupan Pram, waktu akhirnya suatu bulatan yang diniatkan hanya untuk menulis. Sebab itulah dia bilang, menulis adalah keabadian. Tak ada ujung tak ada permulaan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...