08 April 2016

Agama Puitik Bukan Politik

Siapa sangka, agama tidak datang dari hati raja-raja bermahkota, atau orang-orang berkuasa. 

Siapa mengira agama, atau dengan kata lain wahyu, datang bukan di kalbu orang-orang yang mudah gusar.

Agama, begitu di dalam sejarah, mulai di hati orang-orang yang suka tercenung. Orang-orang yang suka tercenung mudah menerima di atas langit masih ada langit. Di atas kekuasaan masih ada kekuasaan. Kala siang menghampar diri di sabana luas dan saat malam memandang gemintang nun jauh di atas membuat orang tercenung punya hati yang mudah basah, juga air mata yang mudah jatuh.

Cuman, agama kiwari bukan agama yang kerap basah. Sekarang, agama malah bermunculan dari raut muka yang mudah gusar.

Agama, di situasi yang serba akumulatif; modal, citra, gengsi, kekuasaan— turut andil jadi kekuatan pendorong paling ampuh menyediakan dasar teologis penunjang semua bentuk akumulasi bekerja.

Max Weber, seorang sosiolog Jerman menyatakan, kapitalisme satu-satunya kiblat sejarah kemajuan saat ini, ditopang oleh iman eskatologis sebagai basis etikanya. Dengan kata lain, orang-orang boleh mengakumulasi modal sebanyak-banyaknya sebab itu terhubung langsung dengan kebahagiaan agama itu sendiri. Bahkan sampai di akhirat kelak.

Itulah sebabnya tak ada hati yang sering mudah tangis jika orang-orang berlebihan barang-barang. Agama di tengah membludaknya segala macam barang-barang, bertambahnya kendi-kendi harta, mengerasnya kekuasaan di satu pusat, juga mudahnya orang-orang ditekuk di dalam suatu simbol, datang bersamaan dengan makna agama yang lain, agama yang keras.

Agama yang keras barangkali agama yang kerap dibingkai di dalam suatu layar kaca. Di situ, Agama jadi suatu drama mencekam, suatu kekuatan dengan bahasa yang provokatif. Agama dengan nuansa provokatif malah jadi seperti suatu massa aktif yang diistilahkan sebagai crowd.

Crowd, atau lebih dikenal sebagai gerombolan, merupakan elemen abu-abu dalam suatu lapis masyarakat. Crowd bukan komunitas, bukan kelompok masyarakat, atau perhimpunan kesamaan dari tradisi dan nilai-nilai bersama, melainkan orang-orang yang tercerabut dari suatu pemahaman etis tentang kehidupan bersama. Kumpulan orang-orang yang mengalami disorientasi makna hidup.

Gerombolan karena bersifat abu-abu, adalah “kelompok” sosial yang mudah diarak berdasarkan kekuatan dominan masyarakat. Dan, agama yang provokatif, gampang saja menemukan suatu kekuatan berbasis kerumunan sebagai kekuatan penggeraknya. Akibat tiada pegangan nilai yang diacu di dalam kerumunan, crowd menjadi kekuatan destruktif berbahaya jika diarahkan kepada beragam kepentingan tertentu.

Barangkali karena agama sudah jadi crowd, dengan sendirinya melupakan agama yang puitik. Agama puitik agama yang melintasi suatu batas-batas yang tampak. Agama puitik agama yang melihat suatu yang subtil di balik permukaan bersamaan dengan cara pandang yang tidak terjebak di dalam kotak-kotak kelompok.

Agama puitik mungkin saja sama halnya dengan agama yang turun di kalbu nabi-nabi.  Prinsip yang ditemukan di kala air mata pecah di atas tanah lapang dan di bawah pikiran yang bersih. Saat itulah barangkali agama jadi pencapaian yang mencerahkan, kala agama jadi rahmat.

Alfred North Whitehead bilang bahwa agama kerap bermula dari kesunyian.  Bahkan tanpa kesunyian agama mustahil ada. Whitehead, filsuf sekaligus matematikawan ini menyebut Sidharta Gautama, misalnya, bermenung di bawah pohon bodhi dan mendapatkan pencerahan sekaligus menjadi peristiwa besar di mana karena itu lahir seorang budhis. 

Sejarah agama Ibrahimik juga diakhiri dengan permenungan di Gua Hira, bergelut dengan inti segala subtansi di dalam kesunyian paling sublim, di mana di situ bermula suatu keyakinan yang kelak di sebut Islam rahmatan lil alamin.

Agama puitik bukanlah agama layar kaca yang disertai gemuruh dan jargonjargon penuh ambisi. Agama yang dibingkai layar kaca, karena punya kekuatan berbasis kerumunan, akhirnya menjadi agama politik. Agama politik begitu mudah ditandai akibat selalu menyasar kekuasaan melalui cara massif dan massal. Di dalam imajinasi agama politik, kekuasaan dipandang sebagai medan dakwah yang paling strategis dilakukan. Akibatnya, jika dia berbicara dakwah, maka yang dimaksud dakwah tak lebih dari suatu cara untuk menggulingkan sistem kekuasaan.

Sementara agama puitik seperti sudah dibilang dari awal, adalah agama yang datang di hati orangorang yang mudah tercenung. Di situ agama bukan suarasuara sesak di sekitar kekuasaan yang dihardik, melainkan suara titimangsa yang tergenang di sanubari paling dalam, suatu suara yang mirip semacam wahyu, suatu syair. 

Agama yang bersyair barangakali adalah agama yang tidak menempatkan kebenaran sebagai sentral dan ukuran, melainkan kebermaknaan atas suatu pengalaman dan pengamalan.

Agama puitik atau agama syair, mungkin saja mirip puisi, dia tidak bersuara lantang karena yang lantang kadang jadi banal, apalagi dangkal. Karena dia mirip puisi, dia datang dan mengendap di hati orangorang yang hanif. Seperti seorang pengembala, kala siang dan malam bertabur bintang, di hatihati orangorang yang tahu di atas langit masih ada langit.

07 April 2016

pojok bunker 2

Pojok Bunker sudah bisa dibilang jadi. Kalau tidak salah kira, akhir Maret kemarin sudah ada aktivitas diskusi di situ. Sebelumnya, bukan pertemuan semacam diskusi, tapi di tempat tidak lebih dari empat meter itu hanya tempat parkiran motor. Sekarang di situ malah sudah ada agenda diskusi tiap pekan di gelar.

Pojok Bunker hanya sebuah nama tanpa maksud apaapa. Tak ada konotasi seperti sebuah visi tersemat di situ. Pojok Bunker hanya nama asal comot. Nama yang disepakati mewakili sepojok ruang. Itu saja.

Sedangkan lambang seperti rambu jalan itu juga tidak direncanakan. Ujhe membuatnya begitu saja. Kenapa mengambil lambang seperti mirip festival belok kiri, kegiatan yang dicekal itu, hanya sematamata kebetulan belaka. Jika mau lambang itu punya arti, barangkali memang karena ruangan pojok tempat mangkal itu berada di sebelah kiri ketika masuk. Dan mengapa ada bintang di situ, mungkin hanya mau mewakili suatu cita yang tak tahu apa artinya.

Merah dan kuning juga tanpa disengaja. Tak ada maksud berlebihan ketika itu dipakai sebagai warna dasar. Saat membuatnya Ujhe barangkali mengimajinasikan makna keberanian dengan warna merah, dan kuning tentu bukan karena pernah dipakai sebagai warna dominan di masa orba. Merah kuning bisa jadi dipilih karena mencolok. Bisa langsung mencuri perhatian orangorang.

Kalau ada yang sering melihat Pojok Bunker via facebook, jangan mau ditipu. Ada beberapa orang yang mengatakan keren melihatnya dari hanya fotofoto. Padahal itu cuma teknik memainkan sudut pandang belaka. Itu terpaksa dilakukan kala mau menutup keadaan yang sebenarnya. Kenyataannya, PB begitu kawankawan sering menyebutnya, lebih mirip pos ronda. Lantainya hanya beralaskan tanah. Atapnya, jangan dibilang, hanya pakai spanduk bekas. Satusatunya yang membuatnya tampak indah karena hiasanhiasan di dinding yang memakai barangbarang bekas.

Barangkali dibilang keren bukan karena tempatnya, tapi dibuat untuk apa PB itu sendiri. Mulai minggu lalu sudah dibuka kelas perdana diskusi tematik berdasar buku karangan F.Budi Hardiman, "Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern". Buku yang sudah lama cetak itu dijadikan pemantik dan salah satu sumber diskusi. Jadi, sudah digilir siapasiapa yang bakal mengisi diskusi tiap pekannya. Dan, diskusinya mengikuti alur bab di dalam buku yang dimaksud. Sehingga kalau tidak demor, tiap Kamisnya kawankawan bakal bertemu diskusi kembali.

Tadi Arhi yang memulai. Dia dapat tugas bahas bab khusus Machiavelli. Saya tak perlu menyoal siapa itu Machiavelli. Yang pasti bisa dibilang diskusi tadi lumayan ramai untuk ukuran PB. Memang saya sering bilang tidak usah mengundang banyak orang datang ke PB, selain tempatnya tidak muat, mahasiswa mana yang mau kumpul diskusi di tempat yang mirip gubuk derita. Makanya, kalau sudah ada lima sampai sepuluh orang, itu sudah lumayan.

Kala Arhi bawakan materinya, saya malah di ruang tengah Bunker sedang tidur. Awalnya saya hanya rebahan sambil menunggu diskusi dimulai. Kala itu masih jam tiga. Kawankawan belum ada yang datang. Tapi, apa boleh buat walaupun sedikit panas, kipas angin yang berputarputar bikin mata jadi berat. Tak lama akhirnya saya terlelap.

Ketika bangun sudah pukul lima. Di luar suara diskusi masih berlangsung. Saya terbangun akibat Pabe yang sebelumnya membangunkan sembari memperlihatkan sekop baru yang berkilatkilat. Dia sumringah, sekop baru di tangannya berarti ada tugas yang mau dilakukan; menyekop tanah. Tanpa lama pikir, timbunan tanah setengah truk di depan PB akhirnya diratakan.

Kembali ke PB. Selama ada Pojok Bunker, aktivitas anakanak PB lebih banyak di situ. Baca buku, dengar musik, mengetik, bahkan makan berjamaah sering dilakukan di PB. Nilai positif keberadaan PB, anakanak penghuni Bunker jadi lebih giat berdiskusi, walaupun kadang sampai baku gea'. Kalau yang terakhir diskusi bukan mau cari titik temu, atau nilai kebenaran di tiap argumen, melainkan yang ada justru hanya mau membuat lawan diskusi kesal. Dan, kalau akhirnya kesal sudah pasti lawannya cekikikan ketawa mengejek.


05 April 2016

catatan kelas menulis, pekan 11

Lisan

Sebuah getaran keluar dari mulut
Dari leher turut decak yang ingin meluap
Menggemakan wicara bak pesulap

Tadinya dia hanya gesekan paruh dan rongga,
Kemudian terluah dalam bahasa
Kini gelombang punya rona
Sama ketika frekuensi mencipta bahasa pesona
Aku ringkih mendengar sebuah suara
Pagut memagut, mesti takut
Memaksa ikut

Itulah lisan yang nista
Mencuri hati lalu mematahkannya

Kirakira tak ada yang salah dalam puisi. Yang diperjuangkan dalam puisi bukan dunia faktafakta. Penyair bukan mau mengambil peran seorang wartawan, yang harus menulis sesuai realita yang ditemukannya. Atau seperti ilmuwan yang melihat relasi asumsi antara satu proposisi sesuai kaidah logika sebagai kebenaran. Akibatnya yang esensil dalam puisi bukan kebenaran, tapi kebermaknaan. Puisi berjuang dari "dunia dalam", makanya dia begitu subjetif. Namun, tidakkah dia bisa menjadi objektif? Entahlah, bukankah yang objektif itu kerap hanya terma sesat atas ilmu pengetahuan? Lalu, bagaimanakah puisi harus diapresiasi?

Puisi di mana pun pasti punya makna kedua. Ini biasa disebut makna simbolis. Mengacu dari konsep alegori, puisi menyimpan suatu dunia yang nirkatakata. Suatu dunia maknawi, dunia simbolsimbol. Artinya, bahasa puisi bahasa polisemi. Bahasa puisi bahasa yang mendua. Puisi, syair bahasa yang menyiratkan banyak arti. Itulah sebabnya, puisi bukan bahasa ekposisi, dia bahasa simbol.

Barangkali, karena itulah suatu soal timbul. Bagaimana cara menilai puisi. Haruskah dia ditempatkan di dalam suatu penyelidikan ilmiah; mengecek korelasi katakata dengan makna semantiknya, atau memang ada prosedur yang tepat guna menilai puisi.

Problem ini jadi panjang di kelas menulis PI. Pemicunya puisi di atas milik Sandra Ramli. Kawankawan, bukan penyair apalagi sastrawan, dibuat bingung. Puisi, di kelas, salah satu jenis karya yang masih gelap. Akibatnya sering kali puisi dianggap tulisan sampiran. Padahal, di kelas, setiap tulisan harus dianggap penting. Itulah mengapa perlu ada porsi yang sama ketika ada kawankawan menulis puisi. Puisi, seperti genre tulisan lain juga karya tulis. Makanya, di kelas dia harus diapresiasi.

Bentuk apresiasi juga jadi soal kedua. Mestikah ada bentuk kritik buat puisi? Kalau ada, kepada apa kritik diajukan? Kepada bentuk atau pilihan diksinyakah? Proses kreatif atau motif kepenulisannyakah? Ataukah yang lain dari itu semua, kepada apa model sastra suatu puisi disematkan? Dengan kata lain, di kelas, belum ada perangkat penilaian yang memadai soal apresiasi puisi.

Akibatnya, puisi, atau sejenisnya kurang mendapatkan tempat di kelas. Kondisi ini tidak mesti dibiarkan. Sebab, kadang puisi hanya dibaca sekali setelah itu dilewatkan. Tak ada ruang sama seperti jika esai dinilai. Makanya, ini harus diubah. Biar bagaimanapun puisi juga mesti diapresiasi. Entah bagaimana modelnya.

Di konteks itu justru dibutuhkan kawankawan yang punya basic ilmu sastra. Sebelumnya ada Muchniart, yang bisa menilai seluk beluk suatu karya. Atau setidaknya memberikan gambaran kepada kelas soal kesusastraan. Tapi, belakangan ini Niart, begitu sering dipanggil, jarang bertandang di kelas. Selain Niart, entah siapa yang punya bacaan kesusastraan yang memadai.

Tapi, pasca disoal, akhirnya puisi memang berbeda dengan genre sastra lain. Bahkan, setiap genre sastra punya karakter dan bentuk berlainan. Itulah sebabnya, cara menyikapinya juga berbeda. Makanya, puisi harus diperlakukan berbeda. Dia punya cara tersendiri dan sikap tersendiri.

***

Maret berakhir dengan hari yang lapang. April datang bersamaan hujan yang ritmik. Mendung bagai selimut di atas langit pekan pertama April. Hujan tetiba jatuh tanpa bisa ditampung. Jauh di Pabbentengang tempat kelas sering dibuka, barangkali masih kosong. Hujan, menunda langkah, setiap mata hanya sampai di daun pintu. Melihat langit yang tetiba kelabu, berharap hujan segera berhenti.

Kala sudah siap pasca dicetak. Selebaran yang kali ini dicetak hanya sebelas eksemplar itu dimasukkan dalam tas. Hujan, yang beberapa saat lalu mereda jadi pantangannya. Kala, sedikit saja tersentuh air, dia luntur. Maklum tinta print, bukan jenis tinta yang sering dipakai media cetak. Makanya satu kelemahan Kala, dia tidak kedap air. Karena itu, Kala mesti diperlakukan spesial. Hatihati.

01 April 2016

Kematian

Kematian memang peristiwa yang dahsyat. Dia membelah habis "yang ada" menjadi "tiada". Kedatangannya memutus ujung "yang ada" tanpa sisa. Kadang kematian datang menghentak pada situasi yang paling senyap, mengiris "yang ada" diamdiam. Bahkan, di sudut penuh suara, kematian bisa memukul habis "yang ada" dengan sekali tebas.

Berkat caranya itu, juga kematian akhirnya menjadi peristiwa misterius. Dia, sebuah peristiwa yang tak didugaduga. Peristiwa tak disangkasangka. Akhirnya, orangorang yang ditinggal pergi harus mafhum, kematian pada akhirnya adalah cara manusia melintas ke alam "seberang".

Kiwari, betapa banyak orangorang mati sepanjang titimangsa. Kadang akibat derita penyakit yang menggerogoti tubuh, membuatnya melapuk dan ditinggal membusuk. Kadang juga akibat jiwa tua yang tak mampu ditampung tubuh yang renta. Terlebih lagi akibat perang yang mengoyak dan membakar tubuh jadi amis. Akibatnya, banyak mata yang sembab karena tangis, juga tidak sedikit duka dibuat berkepanjangan.

Kematian dengan begitu adalah kejadian yang mendaur ulang kehidupan. Merotasi yang pergi dan yang datang, sebab di ujung kematian merupakan suatu awal bagi yang lain. Begitulah, kematian dan kelahiran adalah dua mata alam yang terus bekerja sebagai hukum abadi.

Heidegger, filsuf eksistensialis Jerman menyatakan, kematian bahkan sudah "diemban" semenjak manusia masih bayi. Bahkan kehidupan disebutnya sebagai sein-zum-tode, ada-menuju-kematian. Suatu keadaan yang tak terhindarkan dan telah tertanam di dalam kehidupan itu sendiri. Karenanya, kehidupan menjadi berarti akibat kematian yang menganga di ujung suatu titik. Kematian akibatnya adalah peristiwa alami yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi asasi.

Artinya, semenjak tubuh manusia keluar dari alam rahim, suatu fase di mana tubuh manusia masih begitu muda, di situ sang maut, mahluk yang bersemayam di alam duka, sudah bersamanya semenjak asal. Sang kematian dengan begitu, sedari awal turut ikut menggerayangi tubuh yang tumbuh, langsung dari dasar keberadaan manusia . Di saatsaat itulah, kapan saja kematian, yang identik dengan maut itu, bisa datang memisah tubuh dari jiwa dari dalam. Merampasnya dari segala macam ikatan.

Itulah sebabnya, hidup akhirnya jadi sesuatu yang berharga. Suatu keadaan di mana manusia harus menaruh mawas terhadap kematian. Heidegger bilang, hanya manusialah yang mengalami kematian. Karenanya, kematian satusatunya penanda otentik, keaslian, seseorang. Sebab, yang lain -entah hewan juga tetumbuhan, atau seluruh keberadaan selain manusia hanya bisa mengalami kepunahan. Kematian, yang khas manusiawi hanya kepunyaan manusia itu sendiri. Dan, karena keberadaan manusia sejak asal sudah dibayangbayangi kematian, maka tiada lain suatu cara harus ditempuh untuk menyambutnya; kecemasan.

Kecemasanlah suatu sikap yang membuat manusia akhirnya mesti bertindak memasuki genangan paling dasar dalam keberadaannya. Di situ dia akan bercengkrama dengan suatu pemikiran bahwa titik akhir adalah suatu fenomena yang samarsamar di ujung sana, sesuatu yang tak didugaduga keberadaannya. Kematian, karena sudah dimulai semenjak kelahiran itu sendiri, akhirnya bukan suatu titik akhir, melainkan rentang panjang manusia dalam waktu untuk menyambanginya. Di saat menyambut kematian itulah, yang tidak disangkasangka kapan terjadi, kecemasan membuat manusia menjadi sadar, bahwa berpikir tentang kematian pada akhirnya memikirkan kehidupan itu sendiri.

Akibatnya, kematian dengan begitu adalah peristiwa kehidupan manusia dalam kecemasan masingmasing. Itulah mengapa, kematian menjadi tanda keontentikan manusia. Peristiwa kematian, bukan peristiswa yang bisa disematkan kepada orang lain. Kematian, kejadian yang membelah tubuh dan jiwa itu, adalah peristiwa paling sunyi di dalam kecemasan seorang belaka, suatu peristiwa pribadi. Dia adalah satusatunya tindakan manusia di tengah alam kesendirian. Suatu laku keontentikan.

Maka siapa yang bisa menolak kematian jika itu tanda keaslian manusia. Seperti saat manusia datang dengan tubuh yang mungil dari alam kesendirian, kematian adalah cara hidup manusia menuju kesendirian yang asli, saat dia mencapai batas antara yang ada dengan yang tiada.

Tapi malang, kadang kematian dibuat jadi tidak khidmat. Kematian dengan cara begitu adalah kematian yang dipaksakan. Kematian yang terpaksa dan dipaksa, akibat seringkali dibuat antikemanusiaan dengan beragam pseudo ismeisme. Atas nama negara, ideologi, juga agama, kematian yang kerap ditampakkan dengan cara bom bunuh diri, perang, penyerangan, juga pengrusakan, jadi peristiwa yang bengis juga sadis. Khidmat yang menjadi esensi kematian itu sendiri, akhirnya berubah jadi peristiwa teror yang menyulut horor.

Kematian yang tidak dilalui dengan suatu sikap mawas tapi justru dengan cara destruktif pada akhirnya hanyalah cara manusia yang tidak otentik. Walaupun di situ, di balik kematian ada suatu dunia yang begitu kuat menarik seluruh totalitas kesadaran manusia, dan karenanya mendorong manusia untuk melakukan peristiwa mati, itu bukanlah sikap manusia otentik menurut Heidegger. Manusia otentik, berdasarkan horison pemikiran filsuf kekasih gelap Hannah Arendt ini adalah manusia yang selalu mawas menjalani keseharian sembari berharap atas suatu arti di dalam kehidupan itu sendiri, sebagai cara dia merawat kehidupan.

Barangkali, karena kematian begitu dahsyat, tak ada bahasa yang bisa mengucapkannya dengan baik. Kematian yang sunyi sekaligus khidmat, barangkali adalah kematian yang tak disertai bahasa. Dia terjadi saat percakapan begitu musykil, saat tatapan manusia berhenti saling silang, saat jiwajiwa dalam keadaan paling tenang, di suatu malam ketika tubuh mulai rebah tanpa digubah tangisan. Saat dia terjadi pada suatu momen tanpa orangorang tahu. Ketika dia datang bersamaan dengan jemari yang mulai dingin, dan tengkuk leher yang berubah sejuk. Saat di atas bubungan hanya putih berkilatkilat, di saat kepala tegak, juga ubunubun yang melunak. Ketika itu, kematian jadi peristiwa paling manusiawi, jadi kejadian paling sepi dalam senyap.

Syahdan, kematian akhirnya pasti datangnya. Dia memisah "yang pergi" dengan "yang tertinggaĺ". Membelah "yang ada" dengan "yang tiada". Karenanya, "yang tertinggal" pasti merasa sedih juga sakit. Membuat luka lebar akibat disayat perpisahan. Namun, "yang pergi" bersama kematian selalu menjadi pengingat, bersama kecemasan dan "yang tertinggal", hidup harus dibuat berarti. Hidup harus dibuat lebih mawas. Hidup karena itu adalah suatu bulatan sekali melingkar tanpa bisa bergerak pulang. Dengan kata lain, seperti kata syair yang diulangulang itu; "sekali berarti setelah itu mati."

30 Maret 2016

pembatas buku

Pembatas buku memang tanda suatu batas. Dia membelah satu pagina dari pagina yang lain. Membaginya jadi dua. Membuat suatu teritori antara yang "yang telah diketahui" dan "yang belum diketahui". Juga, karena itu dia sekaligus tanda keterbatasan. Dia membelah dua dimensi, dua dunia jadi tegas; rasa ingin tahu dan pengetahuan.

Tepat di antara titik itulah, pembatas buku yang seringkali punya ukuran mini itu, akhirnya jadi pengingat, bahwa manusia pada dasarnya makhluk yang harus sadar batas. Yakni, dengan kata lain, pembatas buku, entah dengan tampilan yang sering kali lucu, malah bisa berarti hal yang serius.

Itulah sebabnya, pembatas buku barangkali penting. Dia bukan sekedar penyambung ingatan terakhir ketika manusia punya ikhtiar terus menerus mengeja aksara. Tapi, secara pelanpelan dia menanamkan suatu sikap sabar, suatu nilai yang mengintrodusir manusia agar tahu apa arti suatu waktu. Yakni, di situ suatu proses kadang perlu, bahwa suatu rasa tabah atas waktu adalah jalan kecil yang mesti dilewati.

Maka dari itu siapa menyangka, pembatas buku memang semacam jangkar bagi kapal yang sedang berlabuh panjang. Dia jadi besi tua yang sering kali dilempar ke dasar samudera dalam, menjadi tungkai penghubung antara lelautan yang dalam dengan perut kapal yang terapungapung di atasnya. Siapa sangka, pembatas buku akhirnya begitu penting, kapal rasa ingin tahu dan samudera ilmu pengetahuan, akhirnya menjadi tegas batasnya.

Dulu, ikhtiar pencarian ilmu pengetahuan ditulis di atas perkamenperkamen; kulitkulit domba atau sapi yang dijadikan kertas. Atau di atas papirus yang diambil dari alangalang air yang banyak tumbuh di Eropa Selatan atau Afrika Utara. Di atasnya seluruh penemuan atas ilmu pengetahuan dicatat, disimpan, dan dirawat. Batas di situ berarti batas perkamen itu sendiri. Kala suatu tulisan habis dicatat akibat perkamen yang juga terbatas ruangnya, maka dengan sendirinya batas juga berlaku di situ.

Barangkali lewat itu muncul batasan ilmu pengetahuan, bahwa ilmu (yang ditulis) seluas apa yang ada (ukuran ruang perkamen). Jadi, ilmu hanya mungkin ketika dirinya diungkapkan di atas medan yang tersedia. Ilmu, hanya tersampaikan sejauh dia menempati ruang sebagai wadahnya. Akibatnya, ilmu paralel dengan apa yang ada. Belakangan yang "ada" ini berkembang menjadi dari "dunia yang teramati", "dunia yang dipikirkan", sampai "dunia yang terimajinalkan", suatu "alam" yang maha luas. Suatu dunia yang tak kenal batas.

Tapi akibatnya, manusia sering kali salah, ilmu bukan apa yang ada di  suatu "alam" tak terpemanai, ilmu hanyalah hasil tangkapan dari "ada" yang maha tak mengenal batas itu. Ilmu, kata orangorang Yunani adalah hasil dari "legein"; suatu aktifitas mengikat sesuatu, mengumpulkan sesuatu. Belakangan, dari kata itulah logos diambil.

29 Maret 2016

gambar

Suatu gambar, saya kira, bisa menjadi semacam lorong waktu. Dari situ tercipta jembatan ingatan yang tibatiba berakhir pada sebuah daratan peristiwa. Makanya, ketika sampai, daratan yang telah lama jadi silam, juga sekaligus berubah asing. Berbeda.

Itulah sebabnya, mengapa kenangan menjadi peristiwa yang menghentak. Dari suatu gambar, kembali bergerak adegan demi adegan, kejadian demi kejadian, barangkali juga perasaan demi perasaan, yang membuat suatu jarak nampak tegas membelah masa lalu dan masa kini.

Kadang karena itu suatu tujuan bisa jadi tegang; sudah sampai di manakah sekarang? Biasanya, jika suatu tujuan jadi genting akibat masa kini yang melenceng, "aku" sebagai pusat, yang selama ini jadi sandaran segala hal, harus disoal kembali.

Soal itu pada akhirnya barangkali berbunyi; siapakah aku ini, di antara kerumunan orangorang? Siapakah aku sekarang, yang bergerak dari pengalaman dan kenangan? Siapakah aku ini, yang kadang lupa bahwa hidup berarti bukan sekedar apa tapi mengapa? Siapakah aku ini, yang berdiri di atas debu dan di bawah semesta galaksi?

Saya rasa memang hidup harus membuka segala jeda. Di situ, seringkali yang esensil bukan sekedar titik yang dikepung keramaian. Yang esensil, kadang karenanya adalah seinci celah untuk diintip dengan kesunyian. Yang esensil, kerap memang jadi inti yang asing dari hiruk pikuk, maka karenanya butuh sepengalaman tersendiri. Butuh aku yang polos, tanpa apaapa.

"Aku" yang polos itulah barangkali sering muncul saat suatu gambar dilihat bukan sekedar jutaan warna. Melainkan dari aku yang polos, gambar bisa berubah lain. Dia jadi ujud yang bicara. Mungkin, karena memang demikian, orangorang sering dibuat sedih jika melihat sebuah peristiwa direkam.

Suatu gambar barangkali hanya merekam yang tampak di depan. Toh jika suatu dimensi di ruang belakang berhasil ditangkap, gambar selalu menaruh fokus apa yang tampak paling di depan. Artinya, gambar hanyalah gambar. Dia tidak mewakili berbagai macam dimensi yang direkamnya. Dia hanya replika.

28 Maret 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 10

Harus saya akui, kali ini redaksi Kala teledor soal cetakan edisi 10. Di terbitan tertanggal 27 Maret itu, judul kolom khusus kepunyaan Sulhan Yusuf salah cetak. Tulisan yang seharusnya berjudul Arsene, Arsenal, dan Arsenik, malah jadi Arsene, Arsenal, dan Arsenal. Ini gawat, malah justru fatal.

Saya kira, di sini harus diakui, redaksi Kala belum punya prinsip kerja yang matang. Jika Kala mau dibilang media, redaksi Kala malah belum punya sistem. Media manapun, seharusnya punya mekanisme kerja yang jelas, semacam standar operasional kerja. Kala, jika disebut media, harus punya redaksi yang mapan. Atau, setidaknya, untuk ukuran buletin sederhana, bahkan selebaran, harus punya orangorang yang berpengalaman.

Kenyataannya, Kala bukan media mulukmuluk. Kala, hanya kertas dua tulisan yang terbit di akhir pekan bagi kalangan terbatas. Bahkan, sekali lagi, Kala hanya selebaran sederhana dan nyaris dengan tampilan yang monoton. Kala, dengan kata lain hanya selembar kertas berisikan tulisan hasil kelas literasi yang sudah berjalan hampir setengah tahun. Kala, dengan begitu hanya media yang sedang mencari pengalaman. Dari pengalaman minim itulah redaksi Kala bekerja. Juga, dari situ teledor itu datang.

Akibatnya, perlu ada kritik, terutama kepada mekanisme kerja redaksi Kala. Di sini, kalau mau diperjelas, redaksi Kala, secara teknis hanya saya seorang. Sehingga, kalau mau menyebut siapa yang teledor, bukan sistem atau semacam dewan, melainkan saya belaka.

Kesalahan atas sesuatu adalah hal yang lumrah, tapi jika itu datang dari suatu kerja yang lumayan sering, saya kira, itulah yang disebut teledor. Makanya, melihat hal yang tak diduga dari suatu usaha yang berulangulang, dan pada akhirnya tidak sesuai standar, di situ suatu prinsip kerja harus segera dievaluasi.

Konon, mediamedia besar, hanya soal editing bahasa dan tulisan harus melewati banyak meja -ada yang menyebut lima sampai enam meja. Di ruang kerja media, meja sama artinya dengan sepasang mata cekatan yang sudah akrab dengan berjuatjuta huruf. Artinya, jika ada lima meja, di situ berarti ada sepuluh mata mawas. Bahkan, sebuah meja berarti suatu sistem kerja. Di ruang kerja mediamedia, sebuah meja malah jadi suatu tekhnik evaluasi dan editing itu sendiri.

Bisa ditebak, dari setiap meja dengan mata yang cekatan, dan lima sampai sepuluh kali dibaca per mejanya, setiap tulisan yang masuk siap jadi objek tanpa cela. Dari mekanisme editing semacam itu, ada space yang lebar bagi setiap tulisan melewati proses yang begitu selektif. Akibatnya, tulisan dengan cara demikian menjelma karya siap baca.

Dulu saya pernah kerja beberapa lama di salah satu media di Makassar. Setiap malam, sebelum naik cetak setiap berita disorot, dilihat kesalahan ketik atau semacamnya. Kala itu setiap berita yang diperiksa dibaca setidaknya tiga orang. Jika menemukan typo, kesalahan pengejaan, istilah asing, atau ketidaklaziman sesuai standar ejaan, maka itu dibulati, diberikan tanda dengan tinta merah. Bahkan beberapa di antaranya diberikan semacam catatan kecil sebagai keterangan perbaikan. Kalau sudah, hasil print out beritaberita itu diserahkan ke bagian layout, dari situ tugas langsung layouter sekaligus memperbaiki kembali. Alhasil, cara seperti itu efektif jadi mekanisme editing sebelum berita betubetul naik cetak.

Kala, akibat tidak punya mekanisme macam itu, membuat setiap tulisan nyaris tak berubah. Kala, juga tidak punya banyak meja sebagai space editoringnya. Meja di Kala bahkan nyaris bukan sebagai sistem kerja. Dengan kata lain, redaksi Kala hanya memanfaatkan sepasang mata jika mau mengedit suatu naskah. Akibatnya, dari mata yang minim pengalaman itu, suatu tulisan akhirnya nyaris tetap sama sekali pra dan pasca editing. Bahkan, untuk kasus kali ini, justru itu berubah jadi kesalahan.

Tapi, keteledoran dengan sendirinya tak bisa dimaafkan. Kala, biar bagaimana pun harus berkembang dari waktu ke waktu. Soal judul yang akhirnya berubah redaksi bukan perkembangan, itu kemunduran. Makanya ini gawat, sekaligus juga fatal.

***

Menulis barangkali ibarat jalan pulang ke dunia yang pernah disinggahi namun asing. Di sana, suatu keadaan samarsamar digenggam buat ditulis kembali. Menulis berarti kembali dari dunia samar untuk suatu kabar kepada khalayak, juga sebagai tanda bahwa kita belum lupa.

Azan magrib bergelantung di langit jatuh merembesi setiap bilik. Menggema di bawah atap di saat lampulampu mulai dinyalakan. Bersamaan dengan itu kelas dipending. Orangorang bergegas, mengambil jedah. Sebagian lain memilih dudukduduk membaca, sebagian yang lain memilih meninggalkan kelas menuju asal suara.

Kala sekira pukul 20.00, piringpiring dikeluarkan dari bilik belakang. Gelasgelas berdenting. Kertaskertas yang berserakan disingkirkan. Waktunya makan malam. Seperti biasa makan berjamaah. Semua lahap. Semua kenyang.

Tak lama forum dilanjutkan kembali. Kali ini giliran Nain membacakan tulisannya. Dari bacaanya, dia mengisahkan hasil pertemuannya dengan seorang mantan PSK. Dia bilang, tulisan ini lahir dari ingatan yang sudah lama tersimpan. Di pertemuan yang sudah silam itu, Nain menuliskan kembali sepenggal kisah Ibu dua orang anak itu. Katanya, mantan PSK ini sudah berkeluarga, sudah punya suami. Dia juga bilang, mantan PSK itu, hari ini sudah berumur, makanya dia tinggal di panti rehabilitasi. Nain bercerita di akhir tulisannya, Ibu yang seharihari menjahit dan melakukan aktifitas kreatif lainnya itu ingin bertobat. Mizari, begitu nama PSK itu dulu bilang, "mauka berubah Nak". Begitulah akhir tulisan yang dibuat Nain.

Tapi, sebelumnya ada soal yang memicu perbincangan. Perkara itu dipicu oleh tulisan Sandra yang dinilai di luar kelaziman. Tidak sedikit kawankawan harus pelanpelan mengeja jika mau tahu pesan apa yang ditulis Sandra. Juga sering kali, pasca Sandra membacanya, beberapa pertanyaan diajukan untuk mengetahui maksud kalimatkalimat yang mengandung banyak peristilahan. Sandra bilang, dia memang agak kesulitan menulis tulisannya yang sudah ditinggalnya beberapa lama. Juga, agak susah ketika menyambung tulisan yang memang sudah dipisah oleh dua situasi yang berbeda. Itulah sebabnya, tulisannya itu membuat kawankawan sulit menangkap pesan apa yang mau disampaikan.

Di satu sisi, setiap tulisan mewakili satu gaya. Bahkan setiap tulisan mengandung satu cara penulisnya menyatakan identitasnya. Soal ini saya kira dialami oleh kawankawan kelas menulis PI. Sandra, kali ini menyetor tulisan yang memang agak berbeda. Penggunaan bahasanya banyak menggunakan istilahistilah asing. Bahkan hubungan semantik dan sintakmatik dalam kalimatkalimatnya terkesan di luar ukuran standar. Tulisan Sandra, kalau mau dipahami, termasuk jenis tulisan yang membutuhkan penulis sebagai penafsirnya sendiri. Artinya, tulisan Sandra hanya bisa diketahui maknanya sejauh penulisnya turut hadir di belakangnya.

Saya kira, setiap tulisan harus mampu menyeimbangkan dua hal; isi dan bentuk. Kadang, dua poin ini tidak jalan secara proporsional sehingga kabur mengabarkan pesan. Kadang tulisan yang mengedepankan isi, tidak terlalu ambil pusing seperti apa gaya tulisan harus dijabarkan. Tulisan sejauh isi ingin disampaikan sudah cukup menggunakan bahasa dengan gaya sederhana. Isi, dari cara ini jauh lebih penting dibandingkan gaya bahasa yang bisa mengacaukan tatanan makna sebagai inti pesan buat khalayak.

Namun, gaya sebagai kemasan di saat tertentu juga menjadi penentu. Pengandaian kemasan sebagai kulit luar dari isi, adalah penampakan pertama yang memberikan kesan estetis bagi pembaca. Melalui kulit luarlah, dengan kesan yang estetis, isi tidak sekedar informasi yang memberikan pengetahuan, melainkan menjadi pesan yang menggugah rasa. Dengan cara itu, suatu tatanan bahasa akhirnya tidak sekedar alat penyampai pesan, tapi juga jadi unsur penting ketika pesan disampaikan. Di bagian inilah, orangorang sering mengambil bentuk sastra ketika mengemas tulisannya. Pertimbangannya bukan sekedar hanya soal gaya belaka, melainkan bagaimana suatu tulisan dilengkapi dengan unsurunsur retoris.

***

Semenjak kelas dibuka, kelas literasi mengedepankan tujuan agar setiap kawankawan mahir menulis. Berbeda dari kelas angkatan pertama, kelas angkatan kali ini menggunakan sistem yang mendorong agar setiap tulisan menjadi jejak rekam perkembangan kemampuan menulis. Sistem ini sengaja diajukan sebagai tolak ukur sekaligus bahan evaluasi sejauh mana perbaikanperbaikan dilakukan demi pencapaian tujuan.

Di kelas, kawankawan juga diharapkan saling memotivasi. Menjadi teman cerita, bahkan menjadi teman curhat. Kelas literasi, walaupun diformat sebagai kelas menulis, di beberapa kesempatan kadang sering kali dibuat jadi ajang diskusi. Di momenmomen itu, kadang diskusi bisa menyentuh banya soal, bisa melibatkan banyak perspektif. Akibatnya, dari situ sering bikin penasaran kawankawan jika ada satu tema tidak tuntas dibahas. Namun, harus dimaklumi, kelas literasi bukan forum kajian. Konsepnya berbeda.

Minggu depan, tentu banyak tulisan juga pasti banyak cerita. Tulisan, yang ditulis kawankawan, mungkin saja bukan sekadar tulisan belaka, barangkali di situ ada bathin yang bergulat penuh keresahan, ada kecamuk pikiran atas gagasangagasan, atau bahkan ada kisah yang mau dibilang. Kalau sudah begitu, siapa sangka itu berarti akan banyak cerita, akan banyak telinga, juga akan perlu banyak mata yang lebih peka.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...