22 Januari 2016

Ibu Jum dan Ibu Mince

Ketika masih duduk di sekolah dasar, saya sangat menyukai pelajaran olah raga. Kesenangan terhadap pelajaran olah raga sebenarnya adalah hal yang lumrah untuk anak kecil seusia saya. Maklum bisa lari kesana kemari. Karena itu perlu diingat, kata olah raga sebenarnya tidak tepat, karena di kepala saya waktu itu olah raga hanyalah jenis bermain yang dijadikan mata pelajaran. Paling pas kalau menyebut hal itu sebagai bermainmain belaka.

Bedanya saat bermain olah raga, saya mengenakan seragam berwarna merah muda dengan bis garisgaris di pundak. Di bagian lengan dan celana berwarna merah hati. Jadi tidak femininfeminin amat. Buktinya masih ada warna merah yang mendominasi seragam saya.

Namun saya tidak bisa berkelit kalau mengatakan baju olahraga saya kepunyaan lakilaki. Soalnya kerah lehernya berbentuk V. Itu loh kerah khusus perempuan. Ceritanya karena saya anak kedua, sering kali saya harus rela menerima bekas baju kepunyaan Ima, kakak saya. Sebenarnya ini hanya berlaku bagi kaos oblong dan seragam sekolah. Jadi sabar dulu, tidak semuanya saya pakai. Masak saya harus pakai rok atau baju dress perempuan!? Gila apa!

Akhirnya setiap pelajaran olahraga, saya harus menahan malu berjamjam lantaran pakaian yang saya kenakan. Untung saja setelan celana trainingnya tidak berbeda antara lakilaki dan perempuan. Bisa dobel rasa malu saya. Untuk mengurangi rasa malu saya ini, saya menggunakan baju lapis berupa kaos oblong untuk menutupi celah kerah yang sudah melar itu. Dengan begitu, jadilah saya murid yang paling seringkali berkeringat pertama kali. Panas, Bung!

Selain kerah model V yang bikin malu, warna baju yang sudah lumayan pudar juga bikin masalah tersendiri. Bayangkan kalau di antara gerombolan teman sekelas, hanya saya yang memiliki baju berwarna lusuh. Saya seperti anak tahun lalu yang dipaksa mengulang kelas akibat nilainya anjlok, lantaran baju yang saya kenakan berwarna berbeda. Yang lain bajunya berwarna kinclong, sementara hanya saya seorang seperti siswa tua.

Ibu Mince, dialah pengampu pelajaran olahraga. Kalau tidak salah ingat itulah nama guru yang memiliki gaya rambut lakilaki. Yang saya ingat pasti adalah karakternya yang keras dan lumayan galak. Bayangkan dia seorang guru dengan gaya tomboy plus memiliki gaya mengajar dengan suara lantang. Saya pikir itu adalah karakter yang dipilihnya lantaran olahraga memang pelajaran yang membutuhkan gaya belajar outdoor. Selain digerakkan oleh abaaba, suara lantang adalah faktor dominan tersampaikannya ilmu keolahragaan. Makanya, dengan cara begitu Ibu Mince nampak seperti marahmarah kalau mengajar kami.

Di bawah tatapan matanya yang lumayan membuat takut, Ibu Mince selalu menjadi motivator bagi kami. Saya saja, dengan gaya kerasnya yang khas tomboy, akhirnya menjadi murid yang tibatiba memiliki semangat berolahraga. Kalau ada pelajaran lari atau sepakbola, jangan dikira, saya bisa berubah tibatiba bak pemain profesional. Bagaimana tidak, jika loyo sedikit, siapsiap saja dapat teriakan lantang dari Ibu Mince.

Di sekolah, bisa dibilang Ibu Mince-lah yang paling jarang berpakaian formal layaknya guru. Itu hampir setiap hari saya lihat. Ibu Mince mudah dikenali sebagai guru olahraga dari pakaian trainingnya. Dia dengan setelan bak pelatih olahraga, dengan cepat jadi guru yang gampang dikenali. Dari jauh kalau kita menengok di kantor guru, maka Ibu Mince-lah yang paling pertama dikenali. Barangkali hanya hari Senin saja Ibu Mince berpakaian khas seorang guru, itu karena hanya untuk mengikuti upacara bendera.

Kalau diingatingat, baru Ibu Mince saja yang saya ketahui perempuan yang mengampu pelajaran olahraga. Selama di SMP dan SMA, semua guru olahraga saya lakilaki. Makanya Ibu Mince gampang saya ingat dari sekian guruguru sewaktu saya SD. Selain ibu Mince saya masih mengingat Ibu Jum dan Ibu Bene. Ibu Jum adalah guru agama saya. Dan Ibu Bene adalah wali kelas saya ketika duduk di kelas enam. Selain mereka, saya hanya mampu mengingat sebagian wajahwajah guru yang pernah mengajari saya di waktu SD. Ibu Bene nanti akan saya tulis di waktu yang lain. Dia punya kesan tersendiri bagi saya.

Sementara Ibu Jum, yang saya ingat adalah guru yang murah senyum. Dia perempuan yang tidak terlalu tinggi. Badannya bisa dibilang pendek. Ibu Jum bagi saya guru yang luar biasa. Sebagai guru agama Islam, dia mampu menempatkan diri dengan baik diantara mayoritas guru yang berkeyakinan Nasrani. Saya tidak tahu bagaimana ia mengelola perbedaan, namun dari caranya bergaul, saya menilai dia guru yang memang tahu apa arti keyakinan yang berbeda.

Di kelas enam, pejaran agama Islam digabung menjadi satu kelas dari kelas 6A dan 6B. Karena saya kelas 6B maka saya harus pindah ke ruangan kelas 6A. Di situlah saya bersama muridmurid beragama Islam dikumpulkan untuk mengikuti pelajaran yang diampu Ibu Jum. Sementara di kelas 6B dipakai untuk pelajaran agama Kristen.

Di kelas 6A, Ibu Jum dengan tenaga terlatihnya, harus berhadapan dengan puluhan murid yang dikumpulkan jadi satu. Betapa sabarnya Ibu Jum berhadapan dengan kami muridmuridnya yang kebanyakan badung. Tapi Ibu Jum selalu tersenyum, disitulah kekuatannya. Sedangkan kami melalui senyumnya akhirnya luluh setelah diceritakan kisahkisah Nabi.

Kalau yang membuat senang dari pelajaran olahraga karena bisa bebas bergerak kemana saja, pelajaran agama justru kami harus berdesakdesakkan mencari tempat duduk. Bayangkan kalau kapasitas bangku hanya untuk murid sekelas harus menampung dua kelas sekaligus. Tapi, untung tidak semuanya pindah, sebab tidak semua beragama Islam. Hanya saja, tetap kami merasa harus berdesakdesakkan karena menginginkan duduk di tempattempat strategis. Kalau saya menyebut tempat strategis, berarti itu bangku yang berada di posisi belakang. Atau duduk di belakang siswa yang memiliki tubuh besar.

Tapi yang membuat senang di pelajaran agama adalah saya bisa bertemu dengan temanteman di kelas 6A. Kalau sudah begini, kami bisa kembali membicarakan pertandingan bola antara kelas 6A dan 6B. Biasanya yang mewakili kelas 6A adalah Gani, siswa yang memiliki kepala yang sedikit besar. Atau Zainuddin, siswa keturunan Bugis yang pintar mengocek bola. Kalau Ibu Jum melihat tingkah kami yang berkerumun pada satu meja di sudut ruangan, pasti dia kira kami sedang mendiskusikan pelajaran yang dibawanya. Padahal kami sedang merancang kapan pertandingan dilaksanakan. Dan, ujungujungnya kalau bukan pulang sekolah, pasti di saat pelajaran olahraga nanti.

Di kelas 6B ada Nur Oktavia. Dia tetangga saya ketika tinggal di jalan Lalamentik. Nur murid yang cerdas di kelas kami. Saya bersama Taufik, teman yang juga tinggal tak jauh dari rumah, sering berjalan kaki ke rumahnya untuk belajar bersama. Padahal yang saya maksud adalah menyalin tugastugas PR. Tapi kalau urusan sepakbola, bukan Nur andalannya. Randi-lah jagoan kami, teman yang memiliki warna rambut hampir menyerupai warna rambut jagung. Atau Ake, sapaan Imran, yang memiliki kecepatan berlari. Dan sesekali dilengkapi Amir, yang sering asal menendang saja. Sedangkan saya, yang penting bisa mencetak gol itu sudah luar biasa.

Nah, setelah menyepakati di kelas saat pelajaran agama, maka pelaksanaannya kami sepakati saat pelajaran olahraga tiba. Di saat itulah kami bertaruh kelas siapa yang paling hebat. Di bangsal, sebuah lapangan semen yang beratap seng, tempat yang kami pilih. Kebetulan di situlah Ibu Mince sering mengumpulkan kami. Berhubung sepakbola adalah ujian yang diberikan, maka pertandingan adalah ajang untuk mengumpulkan nilai sebanyakbanyaknya. Maka jadilah pertandingan sengit lantaran ingin mendapatkan nilai bagus, siapa kelas terhebat, dan suara lantang Ibu Mince yang berteriakteriak.

Di saat itulah saya akan menjadi olahragawan profesional. Dengan baju yang sudah lusuh, tak ada alasan takut kotor. Malah baju yang sudah kusam itu memberikan aura positif kepada saya, bahwa karena lamanya dipakai, dia seperti jimat yang dituruntemurunkan. Ditambah suara lantang Ibu Mince, apa daya seluruh kemampuan harus dikerahkan. Sepakbola jadi ajang pembuktian diri. Biarpun baju sudah terlanjur kepunyaan perempuan, tetap saya seorang lakilaki. Tepatnya pesepakbola lakilaki.

Saya lupa kelas siapa yang memenangkan pertandingan saat itu. Kalau dihitunghitung, kelas 6A yang sering kali keluar sebagai pemenangnya. Tapi yang terpenting kalau kalah masih ada pertandingan lainnya. Kami bisa kembali bertemu di permainan kasti. Juga bisa kembali dibicarakan di kelas Ibu Jum. Kapan waktu yang tepat melakukan pertandingan lainnya. Selama pelajaran agama masih tetap digabung, kami selalu membuat kesepakatan tentang pertandinganpertandingan lainnya. Ibu Jum pasti juga senang, kami akan terlihat semakin alot berdiskusi. Pasti nilai kami bakalan bagus. Insyaallah.

Dari kabar yang saya dapat dari Nur, Ibu Jum sudah pensiun mengajar. Alhamdulillah dia sehat. Yang saya tahu, rumah Ibu Jum tidak jauh dari sekolah. Rumahnya terletak pas di depan pagar sekolah. Sedangkan Ibu Mince masih aktif mengajar walaupun pasti sudah tidak semuda dulu. Oh iya, Nur ternyata masih tinggal di Kupang, dan dia sudah berkeluarga. Dari dialah saya memastikan kalau namanama Ibu Jum dan Ibu Mince tidak salah ingat. Ternyata saya benar. Ingatan saya kadang buruk. Tapi tidak dengan Ibu Mince dan Ibu Jum. Semoga mereka sehat selalu.


Sementara baju olahraga yang menyerupai warna pink itu, sudah lama tak saya temukan. Bisa jadi dia berakhir jadi kain lap semaktu saya tamat SD. Fajar, adik saya sudah pasti tak mau memakainya. Warnanya sudah pasti lebih kusam. Apalagi karet di bagian kerahnya sudah pasti rombeng. Namun, saya ingat betul nama sekolah yang disablon di belakang baju kaos olahraga yang hampir empat tahun saya pakai. Kali ini saya tak perlu memastikannya kepad Nur, yang punya ingatan bagus. Kalau kamu sempat melihat tulisan SD N 1 BONIPOI KUPANG tertera di baju sekolah anakanak di NTT, maka dipastikan saya orang yang pertama bilang kalau itu nama sekolah tempat Ibu Jum dan Ibu Mince mengajari saya, dua guru yang susah saya lupakan.

20 Januari 2016

Agora a la Cafe Dialektika

Singkat saja. Malam ini saya menyambangi Cafe Dialektika. Lumayan jauh saya ke sini, kirakira hampir sepuluh kilo lebih dari tempat saya mangkal. Aktifitas saya belakangan ini hanya berputarputar di sekitar kampus UNM, tapi lantaran ada bedah film, maka saya kemari.

Cafe Dialektika sepengetahuan saya digagas oleh anakanak muda yang senang menghabiskan waktu dengan berdiskusi. Mereka kalau saya tidak salah duga adalah mahasiswamahasiswa Stimik Dipa dan Unhas yang berkomitmen untuk menghadirkan wadah diskusi yang nyaman. Makanya sudah sering saya melihat kegiatankegiatan mereka yang diupload di dunia maya. Bagi saya, merekamereka ini memiliki kepekaan untuk menjemput kebutuhan intelektualisme anakanak muda dengan menyediakan tempat yang mereka sediakan.

Beberapa waktu silam, ketika pertama kali saya kemari, salah satu orang menyebut bahwa tempat ini dirancang tidak sebagaimana cafe umumnya. Perlu diingat kata kafe hanya mengacu kepada beberapa meja kursi yang mereka sediakan bagi pengunjung yang datang untuk menikmati kopinya. Kopi yang umumnya disediakan di cafe, tidak disediakan di tempat ini. Nyatanya kopi dan beberapa menu yang disediakan hanya berupa suguhan ala kadarnya tanpa barista khusus.


Walaupun seduhan kopi yang disediakan masih mengandalkan eksperimen, branding yang ditonjolkan tempat ini terletak pada setting suasananya. Dengan memanfaatkan pojok rumah dan garasi, anakanak muda ini menyulap ruang apa adanya jadi tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Selain itu mereka juga menyulap bagian dalam rumah seperti perpustakaan mini. Banyak buku yang bisa kalian temukan di sini, walaupun tidak mencapai ribuan buku di dalamnya.

Konsep intelektualismelah yang jadi jualan kafe ini. Dari namanya saja, kita bakalan menyimpulkan bahwa penggagas tempat ini adalah orangorang yang bergelut dengan ilmupengetahuan. Makanya, mereka tidak menjual selera atas kopi, melainkan menciptakan ruang belajar yang nyaman bagi mahasiswamahasiswa. Didukung dengan akses wifì, tempat ini saya pikir lumayan asik untuk dijadikan tempat bercengkrama membincang apa saja.

Malam ini Cafe Dialektika membedah film Agora. Pembedahnya teman ngopi saya, Muhajir. Film ini sudah dua kali saya tonton. Yang saya ingat, film ini berusaha menarasikan tiga keyakinan (Pagan, Yahudi, dan Kristen) yang hidup dalam satu masa dan tempat yang sama. Kalau tidak salah setting film ini sekitar tiga abad pasca kelahiran Yesus di Alexandria. Hypatia seorang perempuan filsuf yang menjadi tokoh sentral dalam film garapan Alejandro Amenábar ini, diceritakan mendapatkan rintanganrintangan akibat semakin kuatnya pengaruh kristiani. Di tengahtengah kecamuk tiga keyakinan, Hypatia teguh berpendirian tetap mengikuti filsafat sebagai jalan hidupnya. Sampai akhirnya dia harus mati akibat keyakinan yang dipegangnya.

Kirakira begitulah jalan cerita Agora. Film ini saya fikir masih layak disaksikan bersamaan dengan menguatnya fundamentalisme keyakinan yang banyak membahayakan kehidupan bermasyarakat akhirakhir ini. Konflik yang dikandung dalam film ini, tidak jauhjauh dari situasi belakangan yang juga menguatkan segregasi akibat keyakinankeyakinan sempit beragama. Singkatnya, Agora bisa menjadi film untuk meninjau kembali polapola hubungan antar keyakinan di masyarakat.

Saya pikir komunitas semacam Cafe Dialektika ini, patut diapresiasi sebagai wadah baru bagi ruang bersama berbagi informasi. Kuat dugaan saya, asumsi inilah yang juga mendasari sebab berdirinya tempat ini. Visi yang mereka bangun inilah yang menjadikan Cafe Dialektika berbeda dengan tempat lain. Sejauh pengamatan saya, selain tempat ini, juga sudah berdiri Be Smart Cafe yang beroperasi di sekitar jalan Talasalapang. Sedikit berbeda dengan Cafe Dialektika,  Be Smart Cafe juga membuka kelas bahasa inggris bagi anakanak usia sekolah. Yang menyamakan kedua tempat ini adalah kemasan suasana yang diset dengan interior intelektual, juga menawarkan programprogram kelas menarik yang bisa kita ikuti.

Baiklah tulisan ini harus segera berakhir, film Agora juga baru saja berakhir. Saatnya Muhajir akan membedah Agora dari macammacam pendekatan dan perspektif. Saya datang jauhjauh ke sini hanya untuk melihat Muhajir membedah film ini. Apalagi saya sudah diingatkan oleh salah satu pengelolah Cafe Dialektika untuk datang kemari. Banyak yang datang kemari. Hitungan saya hampir tigapuluh orang. Saya pikir ini suatu yang membahagiakan. Muhajir sudah memulai persentase. Saya sudahi dulu.


Literasi Berbasis Kelas

Masihkah marxisme dibutuhkan? Entahlah. Pertanyaan ini saya pikir sudah pernah diajukan intelektual kiri manapun. Tapi, saya merasa duduk bersama adikadik mahasiswa ini, membuat gairah baru tentang marxisme.

Sore ini jelang magrib yang datang, kami mengakhiri perbincangan tentang marxisme. Kami tak tahu betul apa gunanya membincang marxisme dari apatisme mahasiswa. Namun, kami belajar berkomitmen, mereka datang menyediakan segelas kopi dan forum, dan saya datang membawa serpihserpih ingatan tentang Marx dan pikirannya.

Hari ini pertemuan kedua. Kami menghabiskan waktu hampir dua jam di kantin yang ditinggal libur mahasiswa. Seperti biasa saya membawa paper untuk melengkapi diskusi. Kali ini untuk menjaga agar tidak kesanakemari, persentase saya niatkan berdasarkan tulisan yang saya sediakan.

Mustahil meringkas kebesaran pemikiran Marx dalam dua jam. Tapi, dialog tetap berlanjut. Dua jam membahas pengantar, dan tiga hari pertemuan lanjutan yang masih tersisa. Kedepan kami bersepakat, masih bertemu di tempat yang sama, tentu dengan beberapa gelas kopi yang disuguh.

Pertemuan ini tak mungkin terlaksana tanpa Aam Ahmad, mahasiswa antropologi yang seringkali datang lebih awal. Dia juga yang kerap mengorbankan pulsanya untuk menghubungi kawankawannya yang lain. Yunasri Ridho yang kerap menghubungi saya untuk mengingatkan jadwal diskusi. Dia mahasiswa pendidikan kewarganegaraan yang memiliki bakat menentang pancasila. Kali ini dia tak datang, padahal dia sering menginisiasi pertemuan macam begini. Info yang saya dapat dia pergi mengikuti kuliah umum di daerah jauh dari kota.

Kemudian ada Herman dan Adiyat, dua mahasiswa yang setia nongkrong berlamalama di dalam kampus. Akhirakhir ini saya sangat jarang bertemu mahasiswa macam mereka. Yang mau hidup a la proletar tanpa makanan berjamjam. Mereka tipe mahasiwa yang bisa lama berbicara kalau sudah menghidu asap rokok. Juga mereka selalu punya pertanyaanpertanyaan canggih kalau diskusi.

Sebelumnya sudah ada Heri Sitakka dan Hirdjayadi. Heri ini adalah komando salah satu organisasi intra di kampus orange. Semangatnya membuat programprogram kajian seringkali mempertemukan saya sebagai pembicaranya. Hirdjayadi adalah senior Adiyat, dia mahasiswa angkatan tua entah semester berapa. Saya curiga dia berlamalama dikampus karena masih betah dengan suasana kebebasan kampus. Makanya dia begitu bebas menetukan nasibnya di kampus.

Yang terakhir Muh. Asrul. Sekarang dia diamanahi organisasi hijau hitam. Barubaru ia secara demokratis ditunjuk menjadi ketua umum. Itulah mengapa belakangan ini Asrul sibuk pulangpergi mengkonsolidasikan orangorang sebagai pengurusnya. Sibuk sanasini menyambangi mukim senior mengharap masukan. Di rumah kosnyalah saya sering menginap.

Saya sudah cukup lama tidak bergelut dengan wacana marxisme. Dulu di masa mahasiswa, marxisme menjadi salah satu arus utama wacana kampus. Bahkan saya bernah bergabung di salah satu organisasi yang begitu memuja marxisme-leninisme sebagai panduannya. Ada anekdot ketika saya menjadi mahasiswa, kalau belum akrab dengan marxisme, maka belum afdol disebut aktivis mahasiswa. Ini jadi semacam kebanggaan kalau MDH dapat dikunyah tiap hari di dalam kampus.

Saya belum yakin apakah mereka sudah sempat membaca Das Capital. Atau paham betul MDH sebagai basis filsafat marxisme. Atau memahami konsep perjuangn kelas yang dianjurkan Marx. Juga pentingnya membangun organisasi revolusioner seperti yang diwajibkan Lenin. Tapi, dari duduk bercengkrama bersama mahasiswamahasiswa macam mereka, saya kira suatu awal yang baik mengenal kembali marxisme.

Apakah marxisme masih penting? Saya kira iya. Kalau tidak, mana mungkin saya mau duduk bersama mereka. Menghabiskan suatu sore di pojok kantin kampus yang ditinggal libur. Saya kira dari sini, literasi berbasis kelas bisa mulai dirumuskan.


18 Januari 2016

es krim idaman


Di waktu kecil saya sering berjalan kaki hampir setengah kilo ketika turun dari bemo menuju ke sekolah. Jadi setelah naik bemo dari rumah sesekira tujuh sampai delapan kilo, saya harus turun untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Maklum karena saat itu jalur bemo tidak lewat pas di depan sekolah. Tidak apaapalah, hitunghitung olahraga. Oh iya, saat itu saya masih duduk manis di sekolah dasar.

Jadi mudah ditebak, selain menjadi murid yang taat akibat pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) di sekolah, saya merangkap jadi olahragawan cilik yang kuat. Bagaimana tidak, bayangkan jarak rumah yang jauh dari sekolah, pasti akan banyak memakan waktu selama di perjalanan. Apalagi kalau sebagai murid teladan mamak, masuk tepat waktu adalah idaman mamakmamak seluruh Indonesia. Nah karena inilah, Bahrul kecil sekaligus imutimut harus melangkahkan kakinya dengan gaya berjalan jalan cepat. Bung, setiap pagi saya seperti olahragawan Olimpiade.

Sering kali saya merasa kasihan dan jengkel di setiap pagi lantaran sering diacuhkan sopir bemo. Tentu saja saya jengkel dengan sopir bemo yang enggan mengangkut anak kecil seperti saya. Dipikiran mereka apa untungnya mengangkut anak kecil seperti saya, mengetahui nama menterimenteri saja tidak. Sudah pasti akan membuat sesak berdiri di belakang sopir, dan ketika turun, cepatcepat mengambil langkah seribu tanpa membayar. Dasar anakanak tak tahu diuntung. Puki mak!!

Dan kamu tahu kan kepada siapa saya kasihan? Benar, ya diri saya sendiri ini, ketika berdiri sendirian di pinggir jalan menunggu bemo sialan. Sampai seragam basah akibat keringat sementara banyak bemo yang lewat begitu saja di hadapan Bahrul kecil yang lugu anak kesayangan mamak. Betulbetul miris nasib anak ini. Pasti akan telat setiba di sekolah.

Saat itu di ibu kota Kupang, bemonya tidak seperti bemobemo di tempat lain. Berbeda dari Makassar, di Kupang bemobemonya dipermak jadi bemo yang gaul. Cat bemonya warnawarni mulus mengkilap. Setiap bemo punya namanama khusus yang tertera di samping badan bemo. Di depannya tidak lengkap kalau tidak memasang semacam bamper khusus. Belum dengan macammacam lampu hiasan yang disematkan. Stikerstiker aksesoris yang membuat indah bagianbagian tertentu bemo. Dan ini yang paling khas, setiap bemo berlombalomba memiliki soundsystem paling canggih seantero semesta untuk menghibur penumpangnya dengan lagulagu super kencang. Kalau sudah begitu, jika kalian ingin melihat diskotik berjalan, tengoklah bemobemo di kota Kupang. Dahsyat benar.

Bemobemo seperti itu sangat tidak disukai ibuibu yang sudah beranak pinak berjutajuta anak hingga menambah kepadatan penduduk, tapi sangat disenangi anakanak muda sekolah dan kuliahan. Perlu dicatat, Bahrul kecil juga (ingin) suka naik bemo yang gaulnya bukan main itu, tapi bagi sopirsopir bemo yang ratarata masih muda lebih tertarik mengangkut cewekcewek sekolahan yang sudah mulai bermekaran buah dadanya. Jadi hanya dua warna yang disukai sopirsopir bemo bangsat itu; biru dan abuabu. Merah jangan ditanya, seperti pemerintah orba, itu sudah jelas tidak diangkut.

Tapi keadilan tuhan tidak akan kemanamana. Masih ada yang ingin mengangkut Bahrul kecil beserta anakanak SD yang terlanjur dimusuhi pemerintahan bemobemo gaul. Mereka adalaha sopirsopir dengan kumis tebal di atas mulutnya yang hitam akibat banyak menghisap rokok Bentoel biru. Mereka inilah dewa penyelamat kami yang masih kuat memegang perintah agama, bahwa angkutlah anakanak kecil itu, sesungguhnya rejeki bersama mereka. Maka dengan iman yang mengendap bersama asap rokok di dalam dada, diangkutlah kami anakanak Adam yang malang ditinggal bemobemo yang dikutuk oleh seluruh ibuibu tua bangka.

Bemobemo kesayangan neneknenek yang sering pergi ke gereja di hari minggu ini, merupakan antitesa dari bemobemo gaul pengangkut cewekcewek biru abuabu. Kalian tahu kan apa itu antitesa? Tidak tahu!? Masak harus saya jelaskan berjamberjam tentang antitesa yang banyak ditemukan di filsafat itu? Persetan!! Kalian cari saja sendiri di kamus Ilmi yah? Sorry maksud saya bukan kamus kepunyaan Ilmi, tapi ilmiah.

Oke. Yang saya mau bilang bemobemo semacam ini selain keberadaannya sudah hampir punah, di masa itu mereka kalah telak dengan bemobemo yang sungguh mengkilat catnya itu. Mereka kalah pada dua hal; tampilan fisik mobil, dan banyak tidaknya penumpang. Kekalahan ini implikasi dari bemo mereka yang memang lebih mirip besi tua belaka. Tapi mereka masih punya kekuatan yang menjadikan mereka pemenang. Bemobemo tua ini masih punya kesetiaan mengangkut ibuibu tua atau anakanak kecil yang terlantar di tengah jalan. Nah, bemo macam inilah yang sering menyelamatkan saya ketika berangkat ke sekolah.

Hari ini saya mendugaduga apakah dulu bemo karatan itu memang ikhlas mengangkut penumpang seperti saya. Barangkali mereka sedang berjudi dengan diri sendiri. Jadi hitunghitungannya mirip pembuktian tuhan Blaise Pascal (Pascal’s Wager), kalau diangkut kemudian penumpang turun dengan membayar maka sopir itu beruntung. Toh kalau pada akhirnya penumpang sialan tak tahu berterimakasih tibatiba langsung kabur tanpa membayar, maka sang sopir tetap mendapatkan keuntungan berupa amal kebaikan. Sehingga tak ada ruginya mengangkut anakanak ingusan yang belum mengerti apa itu pancasila. Oh iya, mesti diingat situasi ini hanya berlaku ketika sopirsopir berkumis itu memang sudah tak punya banyak pilihan hanya karena kekurangan angkutan.

Sampai sekarang jika melihat pete’pete’, yang saya kenang adalah bemobemo gaul nan aduhai itu. Mereka sudah jadi angkutan umum yang super memikat. Kalian harus tahu kata memikat di sini hanya berlaku bagi anakanak muda sekolahan. Bagi orangorang tua, mereka punya idola sendiri; bemobemo yang reyot dimakan karatan. Makanya ketika SMP, sering kali saya melampiaskan balas dendam kepada bemobemo yang dulu mengacuhkan saya di pinggir jalan. Caranya ketika turun, saya langsung berlari begitu saja tanpa membayar. Orang Makassar punya istilah untuk menyebut peristiwa semacam ini: Masih Mauko!!

Tapi sayang, aksi balas dendam itu pernah jadi boomerang. Untuk bemobemo yang pernah saya kerjai, akhirnya kapok mengangkut saya. Malangnya karena itu, saya jarang bisa naik bemo yang gaul, malah saya harus kembali turun kasta menaiki bemobemo kelas dua. Mensiasati agar hal ini tidak lagi terjadi, saya akhirnya ikut dalam gerombolan anakanak cewek ketika naik ke atas bemo. Dengan cara ini saya seperti ikan remora di mulut ikan hiu. Berdempetdempetan di sekitar cewekcewek penggila Spice Girl’s.

Kalian juga mesti tahu, bemobemo di Kupang juga memiliki asisten pembantu. Di Kupang mereka disebut Konjak. Konjak sering kali menggelantung begitu saja di bibir pintu bemo. Tugas mereka selain berteriak mencari penumpang, juga bertugas sebagai mesin kasir. Sumpah, dulu ketika melihat konjak, saya seperti melihat orang yang hebat luar biasa. Bayangkan kalau bemo sudah berlari kencang di jalanan, mereka dengan santainya bergelantungan dengan rambut terurai gondrong diterpa angin. Apalagi dengan kaus junkies seadanya dengan setelan celana jeans yang sobeksobek karena keseringan disikat. Pikiran saya langsug terbang kepada artisartis rock n roll tahun 90an.

Di saat saya bergerombol bersama cewekcewek jerawatan dengan baju seragam bercampur bau keringat dan parfum, konjakkonjak macam inilah yang seringkali menyortir penumpang macam saya ini. Dasar mata keranjang!! Konjakkonjak ini lebih senang mengangkut perempuanperempuan yang belum mengenal apa arti memakai kawat gigi di abad 20. Kalau angkutannya sudah penuh, baru konjak dan sopirnya menyungging senyum kemenangan. Tak lama setelah itu, baru musik Aqua diputar keraskeras…Come on Barbie, let's go party! Ah ah ah yeah, Come on Barbie, let's go party!Ooh wow, ooh wow…

Sebenarnya saya ingin bercerita tentang keinginan tersembunyi saya ketika lewat di depan toko milik seorang Cina. Satu toko yang terletak tepat di depan pintu masuk gereja tempat saya berjalan kaki. Ketika berjalan menuju sekolah, mata saya pasti tidak lepas dari kotak besar yang disebut slinding flat glass freezer. Itu loh kotak penyimpan es krim. Ke dalam kotak itulah pikiran saya tertuju. Bersemayam bersama es krim es krim yang saya tak tahu rasanya. Semenjak saya tahu ada yang disebut es krim, ingin rasanya saya membelinya. Satu saja. Itu sudah cukup. Lidah kecil Bahrul sangat ingin mencicipinya. Tapi sayang, saat itu hanya jadi anganangan belaka. Apa daya uang jajan tidak mencukupi. Itupun kalau ada. Kasihan.

Coba kamu bayangkan ketika berjalan di siang bolong dengan terik matahari yang seakanakan tinggal sejengkal. Panasnya bukan main. Dugaan saya sebelas duabelas gurun pasir di Afrika sana. Apalagi kalau itu terjadi di musim kemarau. Masya allah, panasnya minta ampun. Ingin rasanya masuk ke dalam gereja mencari air minum. Air ledeng juga tak masalah, yang penting kerongkongan tidak seperti di tusuk jarum. Ingin membeli es lilin apa daya, uang yang ada akan digunakan hanya untuk membayar konjak mata keranjang sialan. Saya kapok diteriaki makimakian khas ibu kota Kupang kalau langsung lari tanpa membayar. Maka membayangkan es krim yang tergeletak adem di dalam kotak penyimpann itu adalah fatamorgana yang memberikan semangat untuk hidup. Cukup membayangkan saja. Membelinya adalah mimpi di siang bolong saja. Malang betul nasib.

Makanya melalui tulisan ini, saya ingin meminta, kepada kamu, iya kamu. Jangan purapura tidak tahu. Kamu yang saya maksud, bukan orang di belakangmu itu!! Saya hanya ingin meminta, maaf, tepatnya memohon, itu pun kalau kamu berniat membantu saya. Tentang keinginan masa kecil yang tak kesampaian. Saya mohon yaa…Bisa tidak kamu membelikan saya satu es krim saja. Iya satu saja es krim. Hanya es krim belaka. Bisa kan? Pliss..


13 Januari 2016

pliss..jangan menggonggong anjing!!


Kawan, mari dengarkan cerita saya. Tolong diperhatikan ya. Jangan gawai terus yang diurus. Barangkali kalian punya masalah yang sama. Baiklah. Jujur saya sangat khawatir dengan gonggongan anjing. Bisa dibilang sebenarnya saya takut terhadap anjing. Jadi bukan saja suara gonggongannya, tapi anjingnya kawan. Kalau dibandingkan, saya lebih takut anjing daripada gonggongannya. Apalagi kalau anjingnya yang menggonggong. Bukan main dua kali lipat takutnya saya. Biarpun kafilah sudah berlalu, ketakutan saya masih saja saya rasakan sampai sekarang.

Ceritanya begini. Dahulu kala, pada suatu waktu hiduplah seekor anjing dari negeri antah berantah. Dia hidup di perkampungan penduduk yang gemar memelihara anjing. Kebiasaan perkampungan itu memelihara anjing tiada lain untuk menjaga pekarangan rumah penduduk tetap steril dari para penyamun. Alhasil untuk membuat tetap bugar sehat wal afiat, anjinganjing yang tumbuh dibiarkan berkeliaran untuk menjaga agar peka terhadap setiap sudut kampung. anjinganjing yang dibiarkan tumbuh dengan alami, akhirnya menjadi anjing yang super cepat dan tangkas. Mereka tumbuh dengan luar biasa sempurna.

Celakanya, di sebelahnya, hiduplah kakak beradik yang selalu melewati perkampungan penuh anjing hanya untuk menunaikan sebagian dari agamanya; belajar mengaji. Malangnya, selain mesjid tempat mengaji jauh, kakak beradik ini harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Ini bukan karena pertimbangan setiap langkah kaki menuju mesjid akan dihitung sebagai pahala, melainkan hanya memang lewat kampung itulah jalan pintas yang paling dekat menuju mesjid.

Nah, perlu dijelaskan di sini, kakak beradik yang belum akil balik itu harus ke mesjid tiga kali selama seminggu. Jadi bayangkan selama tiga hari mereka harus menjaga kesucian badaniahnya dari gerayangan anjinganjing. Bagi anakanak seumuran mereka, menjaga kesucian badaniah adalah prinsip utama beragama. Masak kalau mendirikan sholat,  baju harus penuh dengan bulubulu kucing. Kan kata ustadz itu najis. Apalagi kalau itu bulubulu anjing. Wah bisa runyam di akhirat nanti.

Juga kakak beradik itu sering menghabiskan waktu bermain tanah. Masak ketika pergi mengaji tubuh masih penuh dengan tanah. Nanti di saat pergi mengaji, nanti dikiranya belum mandi. Seharusnya tubuh harus bersih kan? Biarpun manusia berasal dari tanah, bukan berarti badan harus penuh tanah saat menghadap Tuhan maha pencipta tanah bukan? Makanya itu tubuh harus dijaga sesucisucinya.

Maka godaan apalagi yang paling berat selain melewati perkampungan penuh anjing tanpa mengalami hadas. Bayangkan betapa beratnya ujian yang harus dilewati kakak beradik ini. Mereka harus berjalan dengan cara pelan sepelanpelannya. Seperti sudah terbiasa melewati pekarangan rumah yang memiliki anjing. Bersabar mengayunkan kaki mereka tanpa mengundang kecurigaan anjinganjing yang tidur bermalasmalasan.

Begitulah yang dialami kakak beradik ini sampai akhirnya tiba waktu suatu kejadian yang banyak mengubah segala hal. Termasuk trauma mendalam yang di alami oleh salah satu di antaranya.

Singkat cerita, ketika hobi berlari menjadi semacam kesenangan baru bagi kakak adik ini, di saat pulang mengaji ada inisiatif aneh untuk menguji kecepatan berlari  di antara mereka. Caranya sederhana, mengganggu anjinganjing yang sedang tidur bermalasmalasan.  Mekanisme kerjanya setelah beberapa meter  jauhnya dari anjing yang ditarget, kakak beradik ini memulai aksi nekadnya; membangunkan anjing yang pulas tertidur.  Caranya sederhana, hanya menirukan suara nyalak anjing dan sedikit memperlihatkan ancangancang berlari. Tak butuh berapa lama, umpan akhirnya di makan target.

Kawan, ini bukan mancing mania, yang ketika umpan telah dimakan maka tugas pemancing hanya diam ditempat sambil menarik ikan tangkapannya. Ini anjing kawan. Yang harus kamu lakukan setelah membuat gusar anjing yang sedang asikasiknya tidur siang adalah berlari sekencangkencangnya. Apalagi ini sebenarnya adalah uji kecepatan berlari. Karena itulah siapa yang paling cepat sampai di seberang jalan maka dialah juaranya. Jadi tak ada yang disebut, mancing mania, mantap!!!

Sial, tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh. Bukankah kalau hanya untuk menguji siapa yang paling cepat berlari tidak harus mengikutkan anjing sebagai ujiannya bukan? Kalian hanya cukup menyepakati suatu titik sebagai tujuan akhir  yang mana siapa yang paling cepat sampai maka dialah juaranya kan? Bangsat. Ide siapa sebenarnya ini. Terlanjutr nasi sudah jadi bubur. Anjing itu sudah terlanjur berlari. Sudah tidak ada waktu lagi. Maka kakak beradik itu hanya bisa berlari sekuatkuatnya agar selamat dari rahang anjing kampung dewasa.

Dasar anakanak, dikepalanya belum bisa membandingkan kecepatan berlari anjing dewasa dengan kecepatan berlari anak kecil berusia dua belas tahun. Tamat SMP saja belum. Paling banter baru saja menuntaskan hapalan kalikalian sembilan sambil terseokseok dikalikalian delapan. Itupun setelah dipaksa oleh kepala sekolah yang senang mengagetkan muridnya dengan todongan pertanyaan kalikalian secara tibatiba. Jadi kalau tidak bisa menjawab akibat kaget mendapat pertanyaan ketika kepala sekolah masuk tibatiba, maka tunggu saja sampai terlambat pulang.

Sehingga modal utama kakak beradik itu hanya kesombongan dari keyakinan bahwa mereka  mampu mengalahkan kecepatan anjing berlari. Tapi ternyata itu hanyalah keyakinan di dalam kepala anak ingusan yang tak tahu diuntung.  Kejadian sebenarnya tidak sampai lima menit, posisi anjing yang semula masih terlihat jauh sudah berada beberapa meter dibelakang pantat tepos kakak beradik itu. Siapa sangka tuhan menciptakan mahluknya dengan kelebihan masingmasing. Ternyata anjing itu punya kecepatan berlari yang super cepat. Dan pantat dua anak ingusan yang jadi sasaran empuk anjing yang sedang gusar.

Entah dari mana anjing itu mendapatkan kekuatannya. Caranya berlari bukan seperti anjing panuan yang pincang akibat dihajar warga kampung. Yang ini sungguh anjing yang sehat. Entah vitamin apa yang diberikan pemiliknya. Hanya dengan perbandingan lima langkah berbanding satu, suara gonggongan anjing ini mirip sirine yang meraungraung di jalan raya yang padat. Dari caranya menyalak, jelas sekali anjing ini begitu bergairah melompati dua tubuh ceking anak ingusan yang menjadi targetnya. Ehm..keadaan nampaknya menjadi terbalik. Semula anjing ini yang dijadikan umpan berlari, tapi sekarang justru..akh kau tahulah siapa kawan.

Maka tak lama, ketika jarak bukan lagi penghalang antara dua mahluk tuhan yang berjauhan, dengan ijin yang di ataslah dua mahluk tuhan akhirnya dipersatukan. Kun faya kun, terjadi maka terjadilah, salah satu pantat dari dua anak manusia itu mau tak mau harus ikhlas disantap moncong anjing sialan tak tahu belas kasihan. Entah pantat siapa. Yang jelas bukan sang kakak yang menemukan takdirnya. Justru di sore itu, erangan sang adik membuat perlombaan itu menjadi nasib yang sial.

Ya, perlombaan itu nyatanya berubah menjadi bencana. Pantat sang adik akhirnya harus jadi ajang amukan moncong anjing. Celananya langsung sobek dicium mulut anjing. Sementara di pantatnya ada bekas gigitan anjing. Sampai di sini, kita tak tahu apakah saat itu sang anjing sudah menggosok giginya. Yang pasti, namanya anjing, giginya bukan main tajam kawan. Beruntung saat itu belum ada anjing stres akibat virus rabies. Kalau saja saat itu yang menggigit adalah anjing rabies, bisa jadi sudah banyak bekas suntikan di perutnya.

Setelah peristiwa itu terjadi, sang adik harus lama berdiam di atas tempat tidur menjaga pantatnya tetap steril. Dan kemudian, mereka berdua akhirnya kapok melewati perkampungan horor itu. Tidak lama dari kejadian itu, aktivitas mengaji jadi terhenti. Sementara sang kakak tibabtiba langsung kehilangan nyali saat melihat anjing. Apalagi mendengar suara anjing yang menyalak. Diamdiam sang kakak mengalami trauma berat pasca bencana. Ya, itu bencana kawan. Siapa yang mau pantatnya jadi santapan gratis anjing kudisan. Jadi ini bukan luka sederhana. Ini trauma yang super berat.

Kamu sudah paham kan siapa yang mengalami gangguan psikologis berat karena anjing. Sayalah orang yang kehilangan nyali kalau berhadapan langsung dengan hewan paling menakutkan sedunia itu. Bahkan saya pernah terjatuh dari motor akibat suara gonggongan anjing. Apa lacur maksud hati ingin menambah gas, justru berakhir mencium aspal jalanan. Karena itulah sampai sekarang saya trauma kalau mendengar orang menyalak, maka akan saya kira anjing. Apalagi kalau memang yang menyalak adalah anjing yang sebenarnya.

Fajar sudah besar, dan saya juga sudah besar. Yang saya sesali adalah trauma dan ketakutan saya yang semakin akut. Musababnya akhirakhir ini kalau malam, semakin banyak anjing berkeliaran di rute jalan yang sering saya lalui. Jadi pliss.. kalau kamu bertemu saya di jalan jangan sampai berteriak, apalagi menyalak, seperti yang saya bilang, kamu akan saya kira anjing. Cukuplah gerombolan berjubah saja yang sering menyalak. Mereka sebelas duabelas seperti anjing. Omongomong apakah kamu tahu cara menyembuhkan penyakit saya?


Kunci Motor Sialan!

Saya itu orangnya sering kali banyak lupa. Termasuk halhal sepele. Saya seharihari  untuk ke manamana selalu menggunakan sepeda motor. Ke kampus naik motor, berkeliling mencari warkop naik motor, apalagi jalan memutarmutari kota pasti naik motor. Nah, di saat memarkir motor inilah saya sering lupa mencabut kunci dari katub motor. Entah kenapa itu sering terjadi, tapi itulah kenyataannya.

Untuk kelalaian ini saya harus banyak berterima kasih kepada orangorang yang sering menemukan kunci saya yang tergantung begitu saja. Biasanya mereka adalah tukang parkir. Coba bayangkan kalau itu ditemukan oleh orang lain. Misalnya pemuda pengangguran yang sedang lewat, sementara di kepalanya punya niat jahat lantaran hidup terluntalunta akibat krisis ekonomi. Urusannya bisa tambah runyam. Atau misalnya tukang parkirnya adalah orang yang ternyata mantan residivis kelas kakap.

Tapi ternyata masih ada orang baik. Termasuk tukang parkir yang rela berpanaspanasan itu. Bagaimana kalau motor kita tibatiba raib entah ke mana, sementara tukang parkirnya hanya bisa bengong dengan simpritan yang masih menempel di mulut ketika ditanya. Kan bisa bikin jantung copot tibatiba. Apalagi kalau saat itu ada urusan penting misal harus bayar rekening listrik yang jatuh tempo. Gawat.

Pernah suatu kali tak ada tukang parkir yang menemukan kunci saya yang hilang. Saat itu saya pikir memang tak ada tukang parkir. Apalagi tempat yang disinggahi memang bukan tempat yang memiliki lahan parkiran. Sehingga motor ditaruh begitu saja setelah distandar. Tanpa pikir panjang saya langsung bergegas pergi. Lama saya bertandang. Dan ketika pulang, astaga kunci motor tidak berada di saku celana. Pasti masih berada di motor. Benar saja.Untung masih menggelantung seperti semula. Juga motor tidak raib begitu saja. Hampir saja.

Kalau saya kemanamana, biasanya selalu tersedia tas kecil yang saya bawa. Maklum saya ingin kalau kemanamana tidak lagi ribet dengan tas ransel yang super besar. Tidak seperti dulu yang mana tas ransel merangkap jadi lemari. Jadi kalau kemanamana mirip orang yang mau mengungsi dengan tas terisi penuh bajubaju. Itu dulu waktu masih hidup nomaden. Sekarang sudah tidak. Alhamdulillah.

Sekarang justru hanya berupa tas kecil yang simpel dibawa pergi. Isinya juga semakin sedikit, hanya beberapa buku dan satu lembar baju. Serta kabelkabel cas untuk persiapan charger. Flash disk. Gunting kuku. Headset. Dan tidak lupa bulpen dan kertaskertas tidak jelas. Nah di tas inilah biasanya saya menyisipkan kunci motor.

Jadi biasanya kalau kunci motor lupa dicabut dari induknya, maka di dalam tas kecil itulah saya sering mencarinya. Setelah merogokrogoki di dalam saku celana, maka di dalam tas itulah terkadang saya menemukannya. Hanya saja beberapa kali saya tidak menemukannya di dalam kantung tas kecil hitam itu. Kalau sudah begini rasarasanya kepanikan mulai melanda. Aduh ditaruh di mana kunci kecil itu. Sialan.

Yang bikin menjengkelkan jika itu terjadi di saatsaat penting. Misalnya di saat terburuburu janjian bertemu bapak presiden. Rasanya ingin berteriak saja. Puki mak! Jangan di saat sekarang, ketika ada agenda penting. Asu! Di mana lagi besi kecil itu di letakkan. Setelah keringat habis disapu udara kering, astaga, ternyata masih setia tergantung di atas motor. Dasar tak tahu diuntung. Menjengkelkan.

Kejadian macam itu akhirnya jadi pengalaman yang sungguh tidak mengenakkan. Saking seringnya terjadi, temanteman sering bercanda coba kuncinya di miss call. Taik! memangnya handphone apa. Tapi seandainya kunci motor punya teknologi mirip handphone, sehingga bisa di hubungi via jaringan, maka saya orang pertama di dunia yang akan membelinya. Sudah pasti itu. Sungguh.

Pernah ada teknologi semacam itu, yang bisa dijadikan alat jika kunci atau barangbarang kecil lainnya lalai ketika disimpan. Alat itu dijual oleh spgspg bersamaan barangbarang semisal pencukur kumis, kanebo, baterai, bahan pencuci motor, atau bendabenda lain yang dibawanya dalam tas hitam besar. Alat itu semacam gantungan kunci yang bisa berbunyi jika menangkap suara. Jadi cara kerjanya, alat itu akan mengeluarkan bunyibunyian ketika kita mengeluarkan suara lewat siulan atau bertepuk tangan. Nah, lewat suara alat itulah kita bisa tahu di mana letak kunci yang sempat hilang akibat digantung alat unik ini.

Namun sayang, alat itu hanya dibekali baterai yang gampang soak. Juga kemasannya lebih mirip hadiah makanan ringan yang sering diselipkan untuk membuat anakanak ingusan sumringah ketika menemukannya sebagai hadiah di siang bolong. Makanya saya urung membelinya. Begitu pula saya sanksi, kok bisabisanya ada alat seperti itu. Aneh bin ajaib. Sudahlah, tanpa alat itu saya juga masih sering beruntung kalau kehilangan kunci motor.

At last, saya akhiri dulu tulisan ini bung. Persetan dengan alat macammacam itu. Emosi saya sudah setinggi gunung kilimanjaro. Semoga kamu juga tidak bakalan naik pitam. Kalau naik haji bolehlah. Itu sebaikbaiknya usaha. Semoga haji kalian mabrur. Semabrurmabrurnya. Dan...waduh sepertinya saya sudah gagal fokus. Bangsat! Ini karena besi kecil itu hilang lagi. Oke bung. Emosi saya bakalan meledak. Saya harus bergegas mencari kunci sialan itu. Taik.


11 Januari 2016

awas, kamar mandimu!!


Kau tahu kawan, tempat yang paling mengerikan itu ternyata kamar mandi. Ya, kamar mandi. Sudut kecil yang jarang terurus. Karena sering diabaikan, makanya jadi tempat paling membahayakan. Itu saya tahu ketika baru saja menurunkan jangkar di kamar mandi teman saya. Sorry, bukan punya teman saya, tepatnya kamar mandi sejuta umat; rumah kos.

Seperti Descartes, di tempat kutu kumpret itu, saya menemukan terang kesadaran yang jelassejelasnya, yakni nyawa bisa hilang tibatiba di dalam kamar mandi. Kenapa bisa? Kawan, sini saya beri tahu. Di kamar mandi, terutama kamar mandi sejuta umat, bekas sabun bisa menjadi sebab dominan kematian seseorang. Efeknya hampir sama dengan racun yang dimasukkan ke dalam tubuh Munir oleh Pollycarpus. Musababnya sederhana, yakni karena dia licin. Maksudnya?

Oke. Baiklah sepertinya saya harus menjelaskan secara kronologis. Perhatikan baikbaik kawan. Siap. Mari mulai. Kapan kalian sering mengunjungi lubang abadi di closet itu? Di waktu pagi? Saat kalian bangun setelah bermimpi bertemu bidadari? Atau saat menghabiskan satu aliran air sungai gangga? Atau saat menjelang tidur malam? Ketika mata sudah beratberatnya? Atau.. Akh saya pikir hampir di tiap saat kita masuk berziarah ke dalam kamar mandi. Nah kalian tahu kawan, di saat itulah nyawa kalian jadi taruhannya. Sudah mulai paham?

Begini. Kita pelanpelan membahasnya. Nah ketika kamu masuk di dalam kamar mandi, entah karena ingin berak atau mandi besar, sabun adalah benda paling penting di dalam kamar mandi. Sabun, kamu tahu, benda yang hampir semuanya berbahan lilin itu sangat peka dengan air. Bahkan penggunaannya diwajibkan menggunakan air. Jadi bukan sunnah. Artinya kamu tidak bisa memilih untuk tidak menggunakan air di saat memakai sabun. Orang gila namanya itu, menggosokan sabun tanpa air. Nah, karena air inilah sabun menjadi berbahaya. Sudah paham?

Sepertinya saya harus bersabar. Tidak apaapa saya masih punya banyak waktu. Jadi sabun yang habis terpakai sudah takdirnya meninggalkan bekas yang mendalam di lantai kamar mandi. Ini terjadi karena sabun memang memiliki zat kimia yang tidak mudah hilang begitu saja. Zat kimia inilah unsurunsur yang setiap saat menjadi ancaman bagi kamu pengguna kamar mandi. Apalagi kalau kamar mandi yang digunakan sangat jarang dibersihkan. Sudah berapa banyak timbunan lilin yang melekat begitu saja di atas lantai.

Bagaimana sudah mulai jelas kan? Ya, betul sekali. Kamu bisa terpeleset jika tak kokoh menginjakkan kaki di atas lantai. Parahnya kalau itu tidak dibarengi dengan daya cengkram yang kuat kepada sesuatu. Maksud saya tangan anda yang tidak memiliki pegangan hidup. Perlu dipahami, ini pegangan hidup yang berarti sebenarbenarnya pegangan hidup. Arti harfiahnya kawan. Kalau sudah begitu banyak kemungkinan yang akan terjadi. Kamu bisa terpeleset dan langsung jatuh, atau jatuh terpeleset langsung mati. Kalian tahu kan bedanya. Yang kedua itu nyawa langsung terbang melalui atap bocor di atas kamar mandi anda.

Itu baru sabun kawan. Kamu tahu kan kalau di kamar mandi sabun bukanlah satusatunya benda penting. Maksud saya sabun itu mirip konsep nilai tukar dalam ekopol marxisme. Dia memiliki hubungan dalam satu proses jejaring. Sabun memiliki hubungan bendabenda yang terkait di dalam kamar mandi. Di situ ada shampo, pasta gigi, pencuci muka, deodorant, bahkan sabun cuci juga ada. Dengan bendabenda lainnya, terjadi kontadiksi internal secara dialektis yang menyebabkan lantai menjadi licin.

Kalau sudah begitu, lantai tempat semua dialektika itu terjadi akan menjadi super licin. Lantai akan semakin beresiko menyabung nyawa kamu kawan. Karena itu hatihatilah melangkah di dalam kamar mandi. Paling banter akan nginap tiga hari di rumah sakit akibat kepala yang bocor. Kan lucu kalau ada dua hal yang bocor. Cukup atap seng kamu saja kawan. Tapi kalau teledor, justru bukan rumah sakit, malah kamu akan berhenti di dalam peti mati. Sial kan.

Banyak orangorang menyelamatkan nyawanya di kamar mandi dengan menggunakan sendal jepit. Bagi mereka selain menghindarkan dari terpeleset, juga dipandang bersih. Saya tidak tahu peradaban mana yang memulai menggunakan sendal di kamar mandi. Hanya saja sepertinya itu efektif menyelamatkan populasi penduduk akibat kematian siasia di dalam kamar mandi.

Tapi harus diingat. Sendal justru juga bisa menjadi benda yang mematikan setelah pelbagai bendabenda seperti sabun dan keluarganya. Sederhana belaka musababnya, yakni bagian bawah sendal yang sudah aus. Kamu tahu kan yang saya maksud? Itu loh bagian bawah sendal yang bergerigi. Kalau bagian itu sudah semulus pipi Dian Sastro, saran saya gantilah dengan yang baru. Jangan sampai karena Dian Sastro kamu jadi mati kejedot sudut bak mandi. Mengerikan.

Makanya rajinrajinlah membersihkan kamar mandimu bung! Kalau perlu sikat sampai kerakkeraknya terangkat. Jangan sampai mirip kamar mandi teman kos saya itu. Masya allah, lantainya itu, bahkan sudah berlumut. Licinnya bukan main. Saya selalu diingatkan kematian kalau masuk di dalamnya. Salah sedikit bisa gawat, nyawa tebusannya. Makanya di situ perjuangan saya kalau masuk hanya untuk berdiri dengan sigap susahnya bukan main. Betulbetul perjuangan.

Itulah mengapa kalau di rumah, mamak panglima besar tak bosanbosan memberikan instruksi kenegaraan; jangan lupa kamar mandi seringsering dibersihkan. Kalau tidak, kamu tahu kan kawan, bagaimana seorang panglima besar marah. Ahok saja yang mukanya oriental begitu bukan main kejam kalau marah, apalagi muka mamak yang asli orang bugis itu. Jangan sampai deh.

Kemudian yang terakhir, orang bisa saja mati begitu saja di kamar mandi karena memang sudah suratan takdir. Kalau yang ini biar bagaimana pun cara untuk menghindarinya tetap saja akan terjadi. Yang namanya takdir ya begitu. Yang penting jangan sampai itu terjadi di saat kamu lagi jongkok buang air besar, kan tidak lucu? Makanya berdoalah jika masuk ke dalam kamar mandi. Mudahmudahan takdirnya berubah. Begitu.

Bagaimana kawan, kamu masih disitu? Kamu tidak sedang di dalam kamar mandi kan? Sudah paham? Alhamdulillah. Saya kira belum pahampaham juga. Baiklah kalau begitu. Oh iya, tadi kan saya bilang kalau barusan dari kamar mandi sejuta umat, melihatnya saya teringat nasib kamar mandi di rumah saya sekarang. Apalagi panglima besar mamak, tidak mungkin dia yang jongkok membersihkan kamar mandi di rumah sekarang. Bisa kualat saya. Makanya sayangi mamakmu kawan. Minimal kamar mandimu Bung! I love you mom.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...