13 Desember 2015

waktu kolektif

Modernisme memang mengubah banyak hal. Salah satunya adalah waktu kolektif. Dewasa ini, betapa langkanya waktu bersama yang dipunyai. Hilangnya waktu bersama adalah penanda bagaimana kejamnya modernisme mencuri yang “intim” dari ikatan sosial. Akibatnya, manusia jadi orangorang yang antisosial dan pelit kasih sayang. Selanjutnya, kita lupa bahwa ada yang disebut teman, sahabat, karib, dan sanak keluarga, tempat kita berbagi perhatian dan kasih sayang.

Waktu kolektif menjadi langka terutama karena makin beragamnya kesibukan dan kepentingan, sementara itu waktu begitu terbatas. Anthony Giddens mendaku modernitas telah membelah ruang dan waktu, sehingga orangorang sangat sulit berada pada satu momen yang sama. Sementara itu, semakin canggihnya alat informasi membuat orangorang semakin terpecah satu sama lain.

Di kehidupan rumah tangga, misalnya, tak menjamin kedekatan fisik berarti juga terjalin keintiman emosional di dalamnya . Berkumpulnya sanak keluarga dalam satu ruang, akibat kemajuan dunia teknologi dan informasi, membuat garis pemisah yang ditimbulkan melalui layar gadget. Melalui layar mesin canggih, ruang terbelah berdasarkan dunia yang berbeda atas kepentingan masingmasing.


Waktu bersama, akhirnya kehilangan intensitas walaupun dalam pengalaman yang sama. Ketiadaan agenda kolektif adalah sebab suatu komunitas mengalami desakralisasi atas waktu bersama. Hilangnya agenda bersama, juga mengakibatkan tidak adanya makna bersama untuk memaknai waktu yang dialami. Absennya pengalaman bersama atas waktu, juga dengan sendirinya akan merusak hubunganhubungan yang pada dasarnya menjadi tujuan waktu bersama itu sendiri.

Waktu di alam berpikir modern berdasarkan semangat progresif yang dikandungnya, selalu diartikan sebagai medan rasional yang memiliki kriterium tersendiri. Waktu akhirnya dipandang sebagaimana atom yang dapat dipilahpilah, dibagibagi, dan diklasifikasi berdasarkan efisiensi yang paralel dengan keberadaan kapital. Semakin banyak kapital yang dipunyai dengan waktu yang efektif, akan jauh lebih baik dibanding minimnya modal atas pemanfaatan waktu yang lama.

Waktu yang sudah dibagibagi itu akhirnya disusun berdasarkan muatan kapital yang terkandung di dalamnya. Maka ada yang disebut waktu kerja, waktu produktif, waktu libur, waktu senggang, waktu lembur dan pembagian lain sebagainya, berdasarkan seberapa jauh unsur kapital di dalamnya dapat dioperasikan.

Waktu dengan model pembagiannya itu juga paralel dengan ruang yang menjadi medan bertemunya kepentingan atas penggunaan waktu dan ruang itu sendiri. Waktu kerja akan disinonimkan berdasarkan tempat kerja ketika waktu itu digunakan. Waktu libur akan dihabiskan di lokasilokasi semisal mall, tempat bermain, rumah bernyanyi atau restoran, waktu belajar akan di manfaatkan di sekolah ataupun diperpustakaan, begitu seterusnya dengan mengikuti proses produksi kapital di dalamnya. Semakin banyak kapital diberlangsungkan di dalamnya, maka akan semakin tinggi nilai waktu itu sendiri.

Pemilahan waktu yang demikian akhirnya berdampak terhadap penggunaan waktu yang sebisa mungkin efisien. Adagium waktu adalah uang, adalah bahasa sosial yang terbangun dari etika kultural yang selama ini bersandar terhadap waktu yang bernilai kapital. Sehingga pendasaran atas waktu yang dipunyai, menjadi barang yang bernilai tinggi ketika dikaitkan dengan kapital yang dapat diproduksi di setiap momennya.

Di kotakota besar, pertimbangan atas dasar efesiensi waktu akhirnya juga turut mempengaruhi tata ruang kota untuk membangun fasilitasfasilitas publik. Sedapat mungkin infrastruktur perkotaan mampu melipat ruang dengan meminimalisir penggunaan waktu. Berubahnya infrastruktur perkotaan yang mengalami kepadatan dan kerapatan, selain berdampak hilangnya ruang, juga membuat waktu yang dikonsumsi kehilangan dimensi penghayantannya akibat keinginan untuk mengunakan waktu secepat mungkin.

Tak bisa juga ditolak, walupun kota mengalami kepadatan atas ruang, dengan sendirinya tercipta ruang baru yang memfasilitasi masyarakat yang terdorong dengan pemetaan ruang yang baru. Kehadiran ruang baru mau tak mau mengubah penghayatan masyarakat terhadap ruang yang sebelumnya dihancurkan untuk menghadirkan ruang yang lebih modern. Hanya saja, ruang baru yang tercipta di atas puingpuing kehancuran ruang sebelumnya, harus disesuaikan dengan logika waktu modern yang mengikutkan kekuatan kapital di dalamnya.

Untuk itu penting mendasarkan penghayatan atas waktu dengan mengikutkan semangat kolektif. Asumsi ini penting akibat pembelahan ruang dan waktu yang juga mencabik habis ikatan kolektif. Individualisme sebagai akibat dari tekanan terhadap waktu yang harus dikonsumsi dengan ringkas, dapat diminimalisir dengan menghadirkan kembali waktu kolektif sebagai daya pendorong untuk memugar waktu yang terbebani semangat kapital.

Betapa pentingnya waktu kolektif sehingga perlu ada ekstensifikasi untuk membangun keintiman di dalamnya. Tidak mudah untuk menggandakan waktu kolektif dari banyaknya spesialisai atas waktu. Diharapkan dari semakin banyaknya  waktu kolektif bagi masyarakat, dapat menunjang semakin banyaknya dimensi kebersamaan yang dimanfaatkan.

Pemanfaatan waktu kolektif adalah usaha untuk kembali merekatkan waktu dan ruang yang tercabikcabik oleh modernitas. Jika selama ini di dalam suatu komunitas anggotanya mengalami penjarakan akibat ruang,  maka dengan maksimalisasi waktu kolektif dapat menyembuhkan kembali ikatan kultural yang selama ini hilang.

Waktu kolektif juga akan merevitalisasi ikatan pertemanan, persahabatan, kolega, ataupun sanak keluarga yang direduksi maknanya atas ikatan yang rasional menjadi emosional. Di harihari perayaan misalnya, di situ waktu kolektif juga bisa menjadi waktu publik yang diartikan sebagai waktu bersama dengan mengedepankan asasasas kebersamaan. Hari tahun baru, misalnya, yang selama ini diformat dengan kegiatan seremonial, dengan waktu publik yang tersedia bisa memaksimalkan intensi kebersamaan dengan kegiatankegiatan yang positif.

Akhirnya, waktu kolektif juga bisa digandakan dengan menciptakan momenmomen bersama yang di dalamnya ada kemerdekaan atas waktu yang murni. Bukan waktu yang telah terspesialisai atas agenda kerja yang memenjarakan. Sebab, waktu kolektif sesungguhnya waktu ketika orangorang berkumpul bersama untuk menemukan ikatan yang hilang akibat kemapatan waktu yang terkapitalkan. Waktu kolektif memang juga perlu agenda, tapi disitu lebih kepada perayaan atas kebersamaan yang memanusiakan, karena waktu kolektif memang ingin mengingatkan kembali bahwa manusia sebenarnya adalah orangorang yang butuh empati, orangorang yang butuh kebersamaan.


10 Desember 2015

Pemilukada

Hari ini 9 Desember, di beberapa tempat, orangorang sedang pesta demokrasi. Umumnya pesta demokrasi, mereka datang dengan riang, dan kemudian akhirnya masuk ke bilik suara. Di situ, di tengah bilik berbentuk kotak, merupakan tempat yang paling rahasia. Di dalam kotak itu, dengan hati yang mantap, sepasang calon akan dipilih. Di ujung paku mereka, akhirnya sepasang muka dicoblos. Kenal atau tidak, telah tunai hak sebagai warga negara yang baik.

Proses yang tak sampai lima menit itu, kita sebut demokrasi. Walaupun kita tahu bahwa demokrasi tak bisa diartikan sebagai momentum lima menit belaka. Pasca lima menit itu, suatu pemerintahan bakal lama duduk sebagai yang mulia. Lima tahun lamanya. Justru selama lima tahun itulah demokrasi yang sebenarnya berlangsung.

Proses panjang lima tahun nanti, agaknya suatu masa yang riskan. Orangorang boleh memasang pilihan selama lima menit di bilik suara, tapi bertanggung jawab selama lima tahun dari suatu pilihan agaknya tak bakal banyak yang punya perhatian.

Pasca lima menit kemudian, orangorang akan kembali ke kehidupannya seperti sedia kala; masuk kantor dengan berkasberkas yang menumpuk, ke pasar berdagang hingga sore, bertani sembari menunggu datang hujan, dan yang lain duduk nyaman menyeruput kopi di warkopwarkop sudut kota. Serentak, memori kolektif lekas dari hingarbingar suasana pemilukada.

Tapi tentu tidak secepat itu. Orangorang pasti masih akan berkumpul omongomong pasca memilih. Ketika tinta biru masih basah di jari tangan, orangorang bakal menerkanerka siapa yang akan memenangkan pertarungan. Hingga pukul empat nanti, semuanya masih tekateki. Omongomong masih terus berlanjut, gosip sana gosip sini, menunggu si calon yang bakal keluar sebagai jawaranya.

Di saat itulah, sering kali kita mendengar bagaimana orangorang memberikan pandangannya. Di waktu omongomong itu, si A ngomong tentang si anu lebih baik dari si fulan karena si anu punya program ini, tapi bakal disanggah oleh si B bahwa si fulanlah yang terbaik, sebab si fulan punya pendukung yang lebih banyak dari si anu. Itu kalau calonnya hanya dua pasangan. Bayangkan kalau calonnya sampai lima pasangan, pasti omongomong politik bakal ramai.

Bincangbincang a la warung kopi itu, juga kita sebut demokrasi. Lewat itu orangorang belajar untuk mempertanggung jawabkan pilihannya. Mencari kualitas ideal terbaik, seperti filsuffilsuf dalam menentukan manusia paripurna. Membincang konsep pemerintahan yang canggih untuk daerahnya. Dan, tentu bagaimana mereka menyatakan pendapatnya.

Namun, itu lagilagi bakal sebentar. Angin kesibukan sudah tentu datang. Omongomong politik jadi sedu sedan. Lima tahun bakal sepi dari kritisisme warga. Ketika itu terjadi, maka demokrasi kita hanya seperti yang sering disebutsebut bapakbapak di atas, hanya administratif belaka.

Tentu ada harapan bahwa lima tahun yang panjang itu, setiap orang menaruh ingatan atas pilihannya. Waktu adalah rejim yang sulit didugaduga, di dalamnya seseorang yang mulia bisa berubah hina. Ketika itu terjadi, ingatanlah yang jadi hakim, bagaimanapun suatu jalan lurus harus ditegakkan. Ketika suatu visi jadi lancung dan misi mandek di tengah jalan, orangorang harus bersuara untuk mengambil bagian, bahwa demokrasi masih bekerja.

Demokrasi memang pekerjaan untuk membangun kritisisme. Itulah mengapa demokrasi disebut pekerjaan orangorang rasional. Akibatnya, jika kita berdemokrasi, maka suatu pernyataan politik adalah kalimat yang sudah beres dari kepala. Bukan pernyataan yang meluapluap dari dada yang panas. Bukan pilihan yang dijatuhkan atas sentimentalisme ras, agama, dan suku tertentu.

Maka itu mari berharap, orangorang yang berpesta datang dengan kepala yang dingin; mempertimbangkan pilihannya atas gagasangagasan, ideide perubahan yang cemerlang, serta pengetahuan yang lengkap tentang budi pekerti bagi seorang pemimpin yang baik. Bukan menusuk paku ketika wajah yang di lihat adalah sanak keluarga yang belum tentu punya gagasan yang maju. Sebab, yang disebut pesta, terkadang orangorang hilang akal sehat.

03 Desember 2015

Filsafat itu Dialog


Santo Thomas Aquinas
 Frater Dominikan Italia. Imam Katolik, dan Doktor Gereja (Pujangga Gereja). Ia juga adalah teolog, dan filsuf yang sangat berpengaruh dalam tradisi skolastisisme. 
Thomas Aquinas juga dikenal karena memadukan ajaran kristiani dengan filsafat Aristotelian. 
Karya-karyanya yang paling dikenal adalah Summa Theologiae dan Summa contra Gentiles

FILSAFAT sebetulnya adalah dialog. Jadi bukan sekadar aktifitas monologis untuk merenungkan suatu segala, tapi peristiwa dua arah untuk mempercakapkan segala ihwal. 

Filsafat sebagai dialog bekerja di dua lapisan sekaligus; intrapersonal dan interpersonal. Di tingkatan pertama, filsafat bergelut dengan "aku yang berkesadaran" di dalam kesadaran itu sendiri, sementara di tingkatan kedua, "aku yang berkesadaran" dengan aku yang lain di luar dirinya.

Tingkatan pertama, filsafat dimulai dari permenungan mendalam, sedangkan di lapisan kedua, filsafat bekerja dengan percakapan antara dua subjek.

Itulah mengapa, philia yang berarti cinta, membutuhkan dua subjek yang hadir bersamasama. Karena cinta hanya bekerja apabila diandaikan pada dua orang yang saling berdialog. Di saat dialog, dua subjek memiliki posisi yang setara tanpa yang satu memonopoli percakapan. Hanya dengan itulah percakapan bisa berlangsung tanpa menjadi khotbah, seimbang tanpa diskriminasi. Melalui dialog cinta menjadi penyetara antar dua subjek.

Cinta yang tanpa dua subjek untuk saling mempercakapkan, adalah narsisme, tindakan menyenangi diri sendiri. Sementara cinta antara dua subjek adalah persahabatan (philia). Fisafat sebagai dialog, dengan begitu berwatak sosial. Tiada filsafat yang berwatak antisosial. Jika semenjak mula, filsafat tidak dibangun dengan cara dialog, maka filsafat tidak mungkin berkembang dalam sejarah.

Socrates memulai filsafatnya dengan cara bercakapcakap. Dia berdialog dengan banyak orang. Membangun gugus percakapan dengan cara mempertemukan pendapatnya dengan pendapat khalayak tentang hal ihwal. Kelak, cara ini disebut dengan dialektika, yakni memperhadapkan dua asumsi untuk mengambil titik temu (sintesa) antara keduanya. Model seperti ini akan berkembang sebagai  salah satu mekanisme filsafat untuk menemukan kebenaran.

Platon, murid Socrates, juga menempuh cara dialog untuk memulai aktifitas filsafatnya. Bahkan, salah satu karyanya berjudul Dialogue. Melalui buku itu, Platon pelanpelan memperkenalkan filsafat melalui hasil percakapannya dengan gurunya. Bahkan pada titik tertentu, kitab yang merekam dialog Socrates dengan muridmuridnya itu, adalah reportase pertama di dalam sejarah manusia yang memperlihatkan bagaimana suatu peristiwa dapat direkam untuk dikabarkan kepada khalayak.

Syahdan, Socrates dan Platon mengajarkan dua hal, yakni filsafat harus dikerjakan secara bersamasama antara dua sahabat yang bercakapcakap, dan dengan cara reportase Platon, filsafat diperkenalkan sebagai informasi yang bisa dikonsumsi banyak orang. Dengan alasan ini, tidak bisa tidak, filsafat harus disebut sebagai pekerjaan sosial.

Dunia sosial adalah dunia yang jamak. Begitu banyak ragam manusia memberlangsungkan kehidupannya. Dimulai dari lahir, manusia sudah membawa sidik jari yang berbeda, hingga model bahasa, agama, dan kebudayaan yang juga berbeda. Melalui perbedaan itu, manusia bertukartangkap saling memahami. Dengan purnaragam perbedaan, manusia dituntut saling menghargai perbedaan.

Filsafat yang berarti pekerjaan sosial, dengan sendirinya memungkinkan filsafat sebagai medium untuk menjadi bijaksana. Sophia, yang berarti kebijaksanaan, tidak dengan sendirinya hanya berhubungan dengan aspek semantik bahasa belaka, melainkan bagaimana kebijaksanaan hanya berarti apabila itu diberlakukan kepada dua orang atau bahkan lebih.  Sama seperti predikat ayah hanya berlaku bagi seorang suami ketika memiliki anak, bijaksana hanya bernilai apabila ia diterapkan di dalam hubungan perbedaan antara dua ragam obyek atau bahkan lebih.

Artinya tiada kebijaksanaan yang lahir dari keseragaman. Dengan cara itu pula, kebenaran di dalam filsafat diberlangsungkan melalui beragam perbedaan perspektif. Sebagaimana hukum dialektika, kebenaran hanya lahir ketika perbedaanperbedaan diperhadapkan untuk dipercakapkan.

Percakapan sebagai metode menemukan kebenaran, nampaknya juga adalah sifat sejarah filsafat. Yunani pra sokratik menuju pasca sokratik, ditengahi oleh dialog tematema kosmologi antara Thales hingga Aristoteles. Dari masa Hellenis hingga Abad pertengahan, dihubungkan dengan percakapan antara filsuffilsuf Stoa sampai Thomas Aquinas. Dan dari masa modern hingga postmodern, filsafat selalu diucapkan dengan cara dialogis melalui Machiavelli hingga Slavoj Zizek. Dengan begitu kebenaran dari masa ke masa senantiasa berkembang melalui percakapan dengan zaman sebelumnya, membentuk pola kebudayaan seiring perkembangan masyarakat.

Berdasarkan perkembangan masyarakat, maka filsafat dengan cara dialog dan sifat sejarahnya, adalah suatu pekerjaan terbuka. Berbeda dengan agama misalnya, kebenaran yang diberlakukan secara terbuka, harus menanggung resiko untuk selalu mengalami perubahan, karena dengan cara itulah kebenaran filsafat memurnikan dirinya. Berbeda dengan agama, filsafat harus selalu membuka diri untuk senantiasa memperbaharui kebenaran yang dikandungnya.

Bisa jadi, karena itulah nampak perbedaan mencolok antara seorang agamawan dengan seorang filsuf memberlakukan kebenaran. Seorang agamawan dalam memberlakukan kebenaran selalu dengan fixed minded, sementara seorang filsuf mengakrabi kebenaran dengan cara open minded. Itulah mengapa kebenaran seorang filsuf, dipandang tidak sebagaimana wahyu di dalam agama, karena kebenaran adalah ihwal yang manusiawi; bisa berubah kapankapan saja.

Kebenaran yang bersifat manusiawi dengan sendirinya berdimensi sosiologis lebih ketimbang teologis. Kebenaran yang berwatak sosiologis berarti kebenaran yang muncul dari ragam orang yang berbedabeda, lahir dari orang banyak dan dipercakapkan melalui banyak mulut. Berbeda dengan agama yang bermula dari satu persona tertentu, walaupun akhirnya diperuntukan untuk banyak orang. Perbedaan paling mendasarnya adalah, filsafat bisa datang dari bibir banyak orang, sementara agama hanya bermula dari bibir satu nabi.

Filsafat juga memungkinkan lahirnya lingkungan percakapan yang lebih demokratis, disebabkan karena kebenarannya dapat dipercakapkan oleh banyak orang. Berbeda dari agama yang memiliki kecenderungan suatu hierarki  ketika menyelengarakan suatu kebenaran. Dari sudut pandang ini maka, kebenaran di dalam filsafat membangun pola yang melingkar ke luar, sementara agama justru masuk bergerak ke dalam pada suatu poros yang menjadi pusat. Kecenderungan ini dapat disaksikan jika suatu wacana berkembang di dalam suatu tindak verbal, maka agama akan berpulang kepada suatu titik legitimated, sementara filsafat justru berkembang dengan mendelegitimade suatu keputusan yang telah tetap sebelumnya.

By the way
, filsafat adalah cara manusia menjaga agar pikiran tetap bekerja, dengan cara dialog, melalui omongomong sederhana dengan cara yang hikmat. Dengan begitu filsafat bukan ilmu yang penuh dengan perbincangan yang berat. Apalagi sangkaan yang angker.


24 November 2015

madah limapuluhempat

Kejadian itu tidak lebih dari sepuluh menit. Tapi luka yang belum sembuh betul, dipaksa dikenang untuk waktu yang tak tentu ujung.

Belum silam kejadian Charlie Hebdo, Jumat, 13 November, Paris jadi gempar. Dua orang mengacung senjata ke manamana. Masyarakat dibuat kalut. Dan akhirnya korban berjatuhan.

Yang unik, peristiwa yang terjadi dua ratus meter dari bekas kantor Charlie Hebdo itu, adalah agama jadi motor. Dua orang yang berpakaian hitamhitam itu menyosor tanpa ampun. Mereka berteriak, mereka menyatakan sikap: “apa yang kalian lakukan kepada rakyat Suriah, sekarang kalian akan membayarnya.” Sebuah balas dendamkah ini? Yang pasti, di peristiwa itu, banyak pihak yang dibuat bertanyatanya.

Di hari itu, nampaknya Paris jadi horor. Enam lokasi jadi titik yang menyulut luka. Akhir pekan yang dilalui dengan pesta harus berakhir kecam. Pertanyaan semakin mendesak. Politikkah ini?

Akhirakhir ini teroris jadi kata yang politis. Sebab terma yang mulai akrab di tahun 2000an itu, selalu dibaca dengan cara yang tidak adil. Atau kata itu jadi kata yang didominasi oleh tindak baca yang terlanjur timpang. Sebab nun jauh dari Paris ada negeri yang bertahuntahun digedorgedor bom tiada henti. Dari sana, negeri yang poranda, tak pernah lahir kata teror untuk merujuk kepada perilaku bangsabangsa yang jadi momok. Politikkah ini?

Di Palestine, atau negerinegeri yang berkecamuk perang, kata teror adalah kata yang sudah sedari awal dibentuk. Media nampaknya banyak bertanggung jawab tentang ini. Terorisme sebagai suatu kata predikat, secara timpang hanya dilekatkan kepada embelembel agama. Ketika agama menjadi motivasi melakukan kekerasan, maka itu disebut teror. Tapi ketika zionis israel menyobek tubuhtubuh orangorang palestine, misalnya, itu disebut perjuangan hak asasi.

Kejadiann di Paris bisa menjadi satu penanda penting bagaiman politik lua negeri negaranegara Eropa bekerja. Apalagi berkenaan dengan dunia Islam. Dengan kejadian di Paris, Islam menjadi kedok untuk pemerintah Perancis  mengambil sikap terhadap terorisme yang terjadi di Timur Tengah. Dengan dalih penyerangan yang konon dilakukan oleh militan agama, Perancis punya klaim untuk menyerang organisasi ISIS yang berada di Suriah.

Yang aneh adalah bagaimana simpati yang terbangun pasca kejadian. Banyak orangorang yang menaruh simpati kepada korban Paris, tapi hal yang sama tidak dilakukan kepada masyarakat yang seharihari rasa amannya dilucuti dengan mercunmercun peluru. Di Palestin, atau bahkan di Suriah, justru hanya dipandang sebelah mata tanpa terkecuali.

Rasarasanya, dari cara merasai yang berbeda inilah, kita dituntut untuk bisa menyikapi dua konteks dengan cara yang lebih adil.

Dan rasa adillah, yang barangkali hilang dari kita selama ini, apalagi pemberitaanpemberitaan yang lalulalang tidak jelas ujugujugnya. Keadilan menilai harus kita miliki ketika kita berada di antara perang antar bangsabangsa seperti saat ini.

Di Paris, beberapa titik jadi luluh lantah. Sedang di negerinegeri yang juga hal yang sama terjadi, seluruh titik bukan lagi manikmanik yang indah untuk dipercakapkan. Mereka seringkali jadi titik hitam yang tak terpindai oleh penilaian kita.

21 November 2015

Sejarah Kesengsaraan


Tuhan, ultimate being yang diagungkan manusia, dalam sejarah, barangkali adalah pusat kesengsaraan.  Minggatnya Adam dan Hawa dari surga menuju kefanaan di bumi, adalah peristiwa pertama tuhan membangun sengsara di kalbu manusia. Diturunkannya pasangan pertama manusia ke alam yang ad dunya, menandai asal muasal kesengsaraan pertama bagi manusia. 

Dengan begitu, sejak semula, tuhan telah menulis sejarah manusia dengan suatu keadaan asal berupa kesengsaraan. Melalui itu, Adam dan Hawa memulai kehidupan pertama manusia.

Itulah barangkali, mengapa agamaagama identik dengan peristiwa kesengsaraan. Bahkan, tradisi agamaagama Ibrahimik menempatkan kesengsaraan sebagai pemantik kesadaran. 

Ayub, nabi yang menderita tubuh bopeng, Ibrahim penderitaan berpisah dengan sanak keluarga, Yesus, putra Bethlehem yang tabah menderita di atas kayu salib, dan Muhammad yang dihujat dan diasingkan dari keluarga dan masyarakatnya, merupakan penanda historik bagaimana kesengsaraan adalah bagian inheren dari suatu iman.

Mungkin demikianlah sehingga tujuan manusia mengenal penderitaan atas tuhannya adalah untuk menemukan kebahagiaan. Agama sebagai role model  yang menjadi institusi merupakan media tuhan dalam memberikan peta untuk menemukenali kebahagiaan. Melalui itu, kesengsaraan yang dimulai dari awal kehidupan, dicobakan untuk dihindari oleh manusia. Semenjak manusia memulai kehidupannya yang sengsara, ia senantiasa harus menggunakan agama untuk keluar dari penderitaannya yang telah ditanggung sejarah.

Kisah Ayub dan Yesus merupakan simbolisme bagaimana tubuh manusia begitu rentan dengan penderitaan. Tubuh menjadi arena kesakitan melalui hukum biologis dan ideologis. Penderitaan melalui marka biologis bisa datang dengan luka yang menganga, sayatan yang menggores kejam, penyakit yang berkepanjangan, kelaparan tiada ujung, dan bisa juga adalah robekan tubuh atas perang antar manusia. Melalui itu semua, tubuh tidak merdeka di tengahtengah ancaman kesengsaraan.

Kesengsaraan melalui marka ideologis, seperti yang dialami Yesus di bawah rezim tiran, ditandai dengan inferioritas tubuh atas kekuasaan yang memaksakan kehendaknya.  Salib yang diperuntukkan oleh Yesus adalah instrumen kesengsaraan yang digunakan kekuasaan untuk menciptakan rasa sakit. Kayu, paku pasak, cambuk, dan palu, merupakan perwakilan superioritas kekuasaan untuk menciptakan kesengsaraan bagi tubuh yang inferior. Di peristiwa itu,  ada penegasan bagaimana ideologi kekuasaan menjadi sumbu dari kesengsaraan tubuh.

Rasa sakit, luka, kecewa, gelisah, dan pedih tidak saja datang dari penyakit dan kekuasaan, tapi juga bisa muncul dari diri manusia sendiri. Bahkan penderitaan, tidak saja berasal dari genetika sejarah Adam dan Hawa, melainkan juga merupakan genetika yang sudah bekerja dalam  struktur perasaan manusia. Begitu juga kebahagiaan yang diyakini sebagai tujuan paripurna manusia, tidak bisa berarti tanpa adanya kesengsaraan. Dengan kata lain, manusia baru bisa menemukan dirinya yang bernilai dari dua sumbu dialektis antara kesengsaraan dan kebahagiaan.

Cinta diyakini manusia sebagai instrumen kebahagiaan. Melalui cinta manusia mencari kebahagiaan.  Bahkan dengan cintalah manusia merasa bahagia. Agamaagama juga menabalkannya demikian. Tapi, sesungguhnya  tidaklah demikian, justru cintalah yang sesungguhnya merupakan kekuatan inheren manusia yang menyebabkan penderitaan. Cintalah gen aktif dalam manusia itu sebagai biang kesengsaraan.

Cinta sebagai akar emosi dari penderitaan didaku Frederich Nietzsche sebagai peristiwa yang memulai kesengsaraan manusia. Cinta yang selalu memuat harapanharapan ideal, dipercakapkannya hanyalah merupakan tujuan yang membuat jarak yang panjang antara kenyataan dan harapan. Nietzsche menabalkan tiada suatu harapan mutlak yang dapat diraih manusia, melainkan sebenarnya tak ada suatu cita yang menjadi telos bagi manusia. Justru, telos itulah yang menciptkan kesengsaraan di dalam diri manusia. Ini berarti kebahagiaan sebagai tujuan akhir manusia hanya ilusi yang menciptakan kesengsaraan itu sendiri.

Agama yang mengandung doktrin  eskatologi, dengan begitu, malah menciptakan dengan sendirinya kesengsaraan abadi dari tujuan yang ditetapkan semenjak awal. Kebahagiaan sebagai tujuan akhirnya, secara paradoksal malah menciptakan kesengsaraan bagi manusia. Dengan begitu, kesengsaraan adalah kenyataan yang harus ditanggung jika manusia telah beragama. Bahkan dalam agama, keabadian kesengsaraan menegaskan bahwa manusia memang harus bersedia akrab dengan penderitaan.

Tapi memang tiada iman tanpa kesengsaraan. Nietzsce boleh  saja percaya bahwa telos dalam doktrin apapun adalah sumbu dari kesengsaraan. Hanya saja, justru ketabahan terhadap kesengsaraan adalah suatu kualitas iman yang menjadi ukuran seberapa setia manusia pada keyakinannya. Kesengsaraan manusia dengan begitu bukan harus dienyahkan, justru dianjurkan untuk bersetia dengannya. Maka kesengsaraan yang kerap membawa penderitaan berkepanjangan, merupakan sahabat sejati manusia.

Setia terhadap kesengsaraan barangkali dengan sendirinya adalah esensi dari iman. Kisah Ayub, Ibrahim, Yesus, dan Muhammad merupakan suatu peristiwa bagaimana kesengsaraan menjadi bagian dari iman. Kesengsaraan dalam konteks penderitaan adalah jembatan “sang aku” untuk memberikan bukti terhadap keyakinannya. Sebab iman yang tak melewati penderitaan dan cobaan adalah iman yang rapuh. Rasa sakit, kecewa, dan sedih adalah stasiunstasiun untuk membangun iman yang kokoh. Tanpa itu, suatu iman sulit teruji dalam suatu agama.

Syahdan, barangkali itulah yang akhirakhir ini sering terjadi, di bangsabangsa yang sedang berkecamuk perang, suatu iman tengah diuji atas penderitaan bertubutubi.  Lantas bagaimanakah negerinegeri yang tentram tanpa perang? Apakah iman di sana adalah suatu wujud yang rapuh? Barangkali, iman juga bisa diuji di saat manusia bebas dari sengsara. Barangkali.

19 November 2015

Antropologi Toilet*

Toilet, tempat yang sering kali tersisihkan dari imajinasi ruang,  sebenarnya adalah optik antropologi manusia. Maksudnya, toilet, sepetak ruang yang selalu "disudutkan" itu, bisa menjadi parameter kebudayaan manusia.

Di pemukiman kumuh, toilet adalah tempat yang miskin dari arsitektur canggih. Toilet sering kali jadi ruang tersembunyi yang luput dari perhatian. Ini sebenarnya, disebabkan oleh situasi masyarakat bawah yang tak diperantarai basis pengetahuan tentang ruang yang layak. Sebab itulah, toilet hanya dilihat sebagai tempat tanpa embelembel, tetapi malah gembel.

Ketika toilet tampak gembel, dengan sendirinya akan berimplikasi terhadap durasi waktu di saat berada di dalamnya. Di dalamnya, aktivitas membersihkan tubuh, misalnya, akan dilakukan dengan cara terburuburu. Sebab di dalam toilet yang kotor, aktivitas apapun akan dilakukan dengan tidak nyaman. Dengan demikian, di dalam toilet, manusia akan tampak sebagai mahluk yang tidak estetis. Kebersihan dan tubuh yang sehat adalah dua hal yang tak dapat dipenuhi dari toilet yang buruk.

Artinya, bagi masyarakat pemukiman kumuh, toilet adalah tempat yang bisa jadi sumber penyakit. Bagaimana tidak, toilet sebagai tempat untuk memuliakan tubuh yang bersih, alihalih menjadi tempat kesehatan bermula, malah jadi tempat yang tidak manusiawi. Dengan kata lain, toilet dipemukiman kumuh, adalah satu bagian dari sumbersumber penyakit bersarang.

Lain halnya masyarakat kelas atas, toilet sudah menjadi bagian dari ruang yang manusiawi. Karena bersifat manusiawi, toilet dianggap menjadi tempat yang mesti nyaman, sehat, dan indah. Artinya, dari imajinasi ruang hunian, orangorang kelas atas melihat toilet sejajar dengan ruang intim. Itulah mengapa hampir di rumahrumah mewah, toilet dipadupadankan di dalam kamar tidur, misalnya.

Sementara di terminal, pasar ataupun tempat umum lainnya, toilet malah menjadi ruang yang anarkis. Banyak kita dapati, di tempattempat semacam itu, toilet jadi tempat yang anti kemanusiaan. Di sana toilet diperlakukan semenamena hingga nampak tak ada perlakuan yang layak. Walaupun awalnya toilet dibangun dengan baik, tapi pada akhirnya ia jadi ruang yang tak laik.

Dengan begitu di tempat umum, toilet jadi ruang bersama yang absen dari nalar publik. Sebab, sebagai ruang bersama, toilet ada demi memfasilitasi kebutuhan masyarakat untuk membuang hajat. Namun sayang, toilet di ruang publik, sering kali diacuhkan dibandingkan dengan tempattempat lain, sehingga minim perawatan dan penjagaan.

Namun berbeda halnya sebagaimana di mallmall misalnya, toilet juga dapat dilihat dalam hubungannya dengan aktivitas konsumsi. Bagi masyarakat konsumer, toilet harus dibuat nyaman untuk aktifitasaktifitas sekunder manusia. Alasannya adalah kenyamanan berkonsumsi, harus dibarengi dengan kenyamanan saat di dalam toilet. Artinya, toilet yang baik adalah toilet yang bisa menunjang aktifitas masyarakat hight consumption.

Itulah mengapa, sebagai ruang publik, toilet bisa jadi ukuran kelas masyarakat. Di pasar, terminal, atau di tempattempat masyarakat lapis bawah beraktifitas, toilet hanya diberlakukan seadanya. Di sana, toilet jadi gambar betapa masyarakat bawah masih diperlakukan semenamena. Bukan saja biasanya tak difasilitasi pengelola, tetapi juga penggunaan toilet tak disertai pengetahuan sanitasi yang baik dari masyarakat.

Sementara di mallmall yang mewah, di mana kelas bawah disisihkan, toilet diperagakan sebagai bagian dari perputaran modal. Untuk itulah toilet dikelola dengan baik, dibersihkan tiap saat, dan dijaga tiap waktu. Jadi, tak seperti toilet kelas bawah, di situ tak ditemukan air yang mapet, atau closet yang busuk. Semuanya jadi bagian untuk melayani publik.

Psikoanalisis sekaligus kritikus budaya abad dua puluh asal Slovenia, Slavoj Zizek, punya pandangan yang nyentrik tentang toilet. Dari yang dipercakapkannya, perilaku manusia di dalam toilet sesungguhnya mencerminkan alam bawah sadar suatu komunitas. Dia mau bilang bahwa, perilaku orangorang di toilet adalah refleksi dari ideologi yang tersembunyi. Dia mempercakapkan orangorang Jerman, misalnya, senang berlamalama di hadapan fesesnya sebagai sikap kontemplatif kebudayaannya. Berbeda dari orangorang Amerika ataupun Inggris, yang lebih senang menegelamkan fesesnya karena sikapnya yang pragmatis.

Lalu, bagaimana dengan orangorang Indonesia? Orangorang Indonesia barangkali adalah tipe manusia yang paling sulit ditebak. Jika di muka umum kesannya menjadi pribadi yang toleran, murah senyum, dan bertutur kata baik, tapi tidak di dalam toilet. Di dalam toilet, orangorang Indonesia jadi pribadi yang permisif; sulit bertindak bersih, atau bahkan cenderung merusak. Di dalam toilet, orangorang Indonesia jadi pribadi yang begitu berbeda.

Jika sudah begitu, orangorang Indonesia jadi manusia yang hipokrit. Melalui toilet, ruang yang sering kali jadi sudut rumah itu, orangorang Indonesia menampakkan citra aslinya. Di dalam sana, tak ada yang disembunyikan, sebab dari perlakuan orang Indonesia, toilet jadi kanvas kebudayaannya. Bisa benar, juga salah, apabila Zizek bilang perilaku kebudayaan bisa ditelusuri dari jendela toilet. Namun jika ingin membuktikan ucapan Zizek, maka saya sarankan, berlamalamalah di dalam toilet.

---

*Di muat di harian Tempo Makassar, Rabu, 18 November 15

14 November 2015

Apa dan Mengapa Menulis?*

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

Menulis itu dua hal; berpikir dan bekerja. Berpikir berarti mengelola ideide, dan bekerja berarti membumikan ideide.

Mengelola ideide adalah usaha asali manusia. Semenjak manusia memiliki kesadaran, ideide selalu menjadi bahan baku dari aktifitas yang disebut berfikir. Ideide diramu dengan cara dihubunghubungkan, disambungsambungkan atau bahkan dipecahpecah atas sesuatu. Ideide selalu berarti gambaran atas sesuatu di dalam kesadaran kita. Ide tentang manusia, tentang hewan, tentang alam, tentang langit, tentang galaksi, tentang alam semesta, tentang tuhan, dan seluruh yang dapat dijangkau alam pikir adalah asalmuasal dari mana datangnya ide. Dari itu semualah ide kita datang. Dari semua itulah manusia berpikir.

Dengan begitu manusia mengelola hidup dan kehidupannya. Hidup di sini berarti individunya, dan kehidupan adalah berarti komunitas masyarakatnya.

Mengolah ideide merupakan aktivitas dialektis antara membaca dan berpikir itu sendiri. Bahkan secara teknis, tiada ideide tanpa membaca. Membaca sebagaimana berpikir adalah aktivitas terbuka terhadap sesuatu. Ketika manusia berpikir tentang sesuatu, sesungguhnya itu didahului sebelumnya dengan aktifitas membaca sesuatu. Di saat manusia berpikir tentang hidupnya, di situ berarti di saat sebelumnya ia telah membaca tentang hidupnya itu sendiri. Di saat manusia berpikir atas peradabannya, berarti sebelumnya ia tengah membaca peradabannya. Dua aktifitas antara membaca dan berfikir inilah yang saya sebut dialektis. Ini berarti satu tidak mungkin tercapai sebelum yang satunya terlaksana. Begitu seterusnya.

Membaca sebagai aktifitas terbuka berbeda dengan membaca dengan maksud kepentingan tertentu. Terkadang pada tingkatan tertentu, justru yang kedua inilah yang banyak terjadi. Banyak orang membaca sesuatu karena lebih diarahkan oleh kepentingan pengetahuannya sendiri. Terkadang juga kepentingannya digerakkan atas dasar kesenangan dan kebencian terhadap sesuatu. Kepentingannya akan bertindak sebagai penyortir apa yang layak dan yang tidak layak untuk dibaca. Dari kasus semacam ini, pengetahuannya akan menjadi penjara bagi dirinya sendiri. Orangorang seperti ini boleh saja membaca dari yang telah difatwakan pengetahuannya, tapi yakin dan percaya, pengetahuan dari aktivitas membacanya tidak akan majumaju.

Membaca sebagai aktifitas terbuka sebenarnya punya arti sederhana. Membacalah dari seluruh yang mampu dibaca, begitu kirakira artinya. Mulai dari sebait kalimat sampai berjilidjilid pagina. Mulai dari diri pribadi sampai ke kehidupan banyak orang. Mulai dari bumi sampai langit bertingkattingkat. Mulai dari Adam hingga tuhan yang tak terbatas. Singkatnya, membaca adalah aktifitas tanpa pretensi. Toh jika ada pretensi, maka hanya satu saja kepentingannya, yakni untuk pengetahuan itu sendiri.

Membaca dengan cara terbuka pada hakikatnya adalah bawaan dasar manusia. Agama menyebutnya fitrah, sedangkan filsafat seringkali menyebutnya dengan istilah human nature, yakni manusia sudah dengan sendirinya mencintai suatu segala hal. Kecenderungan ini diaplikasikannya dengan cara mencari dan menemukan informasi sebanyakbanyak mungkin, sebab manusia selalu dihantui rasa ingin tahu. Itulah sebabnya manusia selalu bertanya suatu segala. Melalui itu manusia mengembangkan rasa ingin tahunya menjadi ilmu pengetahuan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...