07 Juni 2015

perempuanperempuan bergincu merah

Apa yang paling mencolok dari cara berpenampilan perempuanperempuan generasi dulu dengan perempuan masa sekarang? Tentu banyak hal, tapi yang paling mencolok adalah bibir dengan gincu merah.

Itu adalah mode, tapi barangkali mode juga bisa berarti suatu yang politis.

Seperti yang dibilangkan teoriteori kebudayaan, tubuh selalu menjadi arena kekuasaan. Tubuh yang semula bagian pribadi yang intim, akhirnya harus direnggut dari kekuasaan sang aku. Tubuh menjadi iconik, tubuh menjadi pasar, di mana di situ yang ideologis bekerja untuk mengontrol dan mendominasi. Di saat itulah sesuatu yang politis bekerja.

Foucault misalnya, mengurai selaput tipis yang implisit antara dominasi pengetahuan dan kekuasaan, bahwa di mana setiap wacana yang menjadi diskursus selalu terselubung kekuasaan di dalamnya. Maksudnya, tubuh yang didominasi tak dapat bermula dari pewacanaan tentang tubuh. Artinya, tubuh yang menjadi dominasi kekuasaan selalu sebelumnya ditopang perangkat pengetahuan yang menjadi acuan bagi suatu kepentingan. Di sini, mengapa tubuh menjadi ihwal yang penting, sebab hampir di sepanjang waktu, tubuh senantiasa dinarasikan dalam konteksnya yang ideal.

Dan, tubuh ideal juga menjadi iconik adalah tubuhtubuh yang diperagakan dalam media massa. Di media massa, kita bisa takjub bagaimana tubuh dibentuk untuk mencapai bentuk yang ideal, namun sudah merupakan hal yang patut dicurigai bahwa yang ideal di masa sekarang sesungguhnya adalah sesuatu yang sarat kepentingan.

Mary Douglas adalah orang yang membagi tubuh menjadi dua anasir. Pertama tubuh sebagai individual body, dan yang kedua adalah the body politic. Dari pendakuannya, tubuh adalah lantai kaca yang mendasari sebuah kebudayaan tampak di atasnya, yakni pada anasir yang ke dua, tubuh sebagai the body politic adalah tubuh yang dibentuk oleh kebudayaannya. Artinya, tubuh dalam konstelasi media massa, adalah tubuh yang disesuaikan dengan kategorikategori kebudayaan massa itu sendiri.

Tubuh sebagai The body politic itulah yang mengandung visualisasi tentang tubuh yang ideal. Dan tubuh dalam konteks ini adalah tubuh yang harus mengcover tigal kategori sosial; kemudaan, kecantikan, dan kebugaran.

Itulah mengapa tubuh  mesti dirawat, dijaga dan dipercantik. Perempuanperempuan muda punya semacam keharusan moral untuk bisa memperagakan ketiga kategori itu, di mana tubuh harus dikemas dalam citra visual yang menarik. Di mana salah satunya adalah bibir dengan gincu merah itu, yang menjadi penanda kemudaan dan kecantikan yang sebenarnya bisa jadi adalah sesuatu yang politis.

Warna merah secara simbolik memang bisa menandai suatu perlawanan terhadap kekuasaan tertentu, namun bibir dengan gincu merah justru adalah tanda yang lain.

Dewasa sekarang, bibir dengan gincu merah adalah social code untuk mendefenisikan ideal type tentang kecantikan. Perempuanperempuan muda, selain dengan tatanan pikirannya yang telah terlucuti oleh media massa, juga mengalami “pendisiplinan” tanpa sadar melalui wacana kecantikan yang dipolitisir. Di sini kecantikan adalah sesuatu yang bermakna konvensi, sehingga karena itulah ia politis, sesuatu yang diimajinasikan menurut kepentingan tertentu.

Lewat imajinasi kecantikan itulah, perempuanperempuan muda mengambil bentuk tubuh sosialnya, yakni tubuh yang dipresentasikan secara simbolik untuk tampil ideal. Di mana, dari itu kita barangkali menyadari bahwa gincu tebal yang berwarna merah adalah salah satu syarat dari ideal type itu sendiri. Jadi bila di dalam dunia politik merah secara sinonim ditandai dengan perlawanan dan keberanian, maka bibir dengan gincu merah adalah bentuk perempuanperempuan yang memiliki kesan modis dan sensual.

Imajinasi yang modis dan sensual, seperti yang dibilangkan Yasraf sebenarnya adalah bagian dari pop culture yang dipraktikkan di dalam budaya konsumen. Melalui imajinasi yang telah dilokalisir menjadi populer, akan disusul dengan sendirinya kepada aktivitas konsumsi. Itulah mengapa perlu iklan, karena di sanalah dibangun imajinasi untuk mendorong tindak konsumtif.

06 Juni 2015

Orangorang Dengan Dosa Kecil

Hikayat menceritakan, manusia terlahir dari dosa. Tanpa dosa manusia hanyalah keberadaan tanpa bentuk. Akibat dosa, bumi terisi. Sebab dari dosa, manusia beranak pinak.

Dari perspektif demikian, dosa bisa menjadi awal mula. Bila tuhan memulai dirinya dengan sabda, maka manusia memulai dirinya dari dosa.

Dalam sejarah Ibrahimik misalnya, dosa adalah suatu permulaan untuk membangun kehidupan yang baru. Yesus dengan keutamaan pribadinya adalah sejarah di mana dirinya menjadi nampan seluruh dosa bagi umat manusia. Melalui penebusannya, tragedi yang menghentak kesadaran itu membuat manusia harus membangun kehidupannya lewat narasi yang telah di mulai Yesus.

Tapi jauh di masa itu, ketika sejarah belum bermula, justru penciptaan di mulai dari dialog tentang dosa.

Di islam, peristiwa itu direkam dalam teks suci. Bahkan salah satu malaikat memulainya dengan kesangsian terhadap perbuatan tuhan tentang Adam. Keraguan yang ditunjukan oleh malaikat di dalam peristiwa itu  seharusnya adalah ungkapan yang tak layak di ajukan, sebab itu penanda awal mula penolakan. Dari dialog malaikat dengan tuhan dalam peristiwa itu, apa yang di alami malaikat adalah dosa yang terselubung, sebab keraguan adalah asal muasal penolakan. Di peristiwa itu malaikat bisa saja meragukan, tapi ia tak mengambil suatu sikap untuk mengingkari.

Namun, dosa paling purba dan dikenal dari sejarah penciptaan adalah seperti yang diperankan sang Iblis. Kesangsian yang diperlihatkannya tidak sama seperti yang ditunjukkan malaikat. Kesangsian sang iblis adalah kesangsian pasca penciptaan. Dari peristiwa itu, seperti yang ditulis teks, sang Iblis menyangsikan dua hal; penciptaan manusia dan keunggulan Adam. Pertama sang iblis mengingkari peristiwa penciptaan yang telah terjadi, dan kedua adalah prosesi penghormatan kepada mahluk yang bernama Adam.

Ditingkatan pertama, yang menyebabkan dosa Iblis menjadi berbeda dari malaikat, adalah kesangsian dari peristiwa yang telah terjadi. Dosa Iblis berarti dosa terhadap kemampuan tuhan yang telah fixed. Suatu dosa dari apa yang telah betulbetul tampak. Barangkali karena inilah mengapa kesombongan adalah dosa yang paling besar, sebab kesombongan kerap dialami tepat ketika penolakan terhadap suatu ihwal benarbenar tampak benderang dihadapan kesadaran manusia.

Yang ke dua adalah penghormatan kepada keunggulan Adam. Di peristiwa ini sang Iblis punya kesan yang dilematis. Dilema yang pertama dari ukuran waktu, Iblis sebelumnya adalah mahluk yang beriburibu tahun menyembah tuhan tanpa pernah sekalipun mangkir. Dilema yang kedua yakni, perintah tuhan untuk tunduk kepada Adam adalah suatu tindakan yang merendahkan, atas dasar Adam adalah mahluk yang tidak ada apaapanya dari ukuran penyembahan Iblis terhadap tuhan selama beriburibu tahun. Atas dilema ini, sang Iblis memilih menolak perintah tunduk kepada Adam. Baginya hanya satu yang layak mendapat penghormatan, yakni tuhan itu sendiri.

Akhirnya dari  dilema itulah lahir dosa pertama pasca penciptaan. Dan bermula dari dialog Iblis dan tuhan yang di rekam dalam teks, manusia diciptakan.

Selain sejarah manusia yang memulai dari dosa, barangkali dosa selalu bermula dari dilema. Melalui dilema, manusia memasuki ruang kesadaran yang samarsamar terhadap suatu keputusan. Tanpa dilema suatu keputusan kehilangan suatu  bobot. Artinya pasca dilema, suatu keputusan adalah suatu tindakan yang telah jernih ditimbang. Suatu pilihan yang telah melewati berbagai macam perhitungan. Tapi suatu timbangan yang tak matanglah asal mula dari suatu dosa.

Tapi memang manusia adalah mahluk dengan dilema. Atau berarti manusia adalah mahluk yang dekat dari dosa. Sebagaimana betapa dekatnya narasi tentang dosa di awal penciptaan manusia. Itu berarti betapa akrabnya manusia dengan dosa, sampai akhirnya dosa merupakan takdir yang sedari awal dipunyai manusia.

Dan keakraban dosa dengan manusia biasa ditunjukkan salah satunya, di tempattempat dilema besar berada. Misalnya, di kantor tuantuan pejabat mengambil keputusan; di sana banyak dilema dan keputusan menyangkut orang banyak diputuskan, dan seringkali berubah jadi dosa atau seringkali aib. Dan dosa yang lahir dari dilema yang tak matang seringkali adalah korupsi; mencuri, mengkhianati dan melencengi amanah. Sebab itulah barangkali korupsi adalah dosa yang besar, sebab pertama menyangkut pencurian hak orang banyak dan kedua adalah dampaknya yang sistemik.

Namun di luar dari tempattempat semacam itu, dilema tak saja berpusat di tempat kekuasaan berada. Dilema juga banyak bersarang  pada orangorang dengan dosa kecil, yakni orangorang di luar kekuasaan itu sendiri; mereka yang tak pernah mengambil keputusan tentang banyak orang, tapi kebanyakan dari orangorang semacam ini adalah mereka yang sombong membiarkan suatu keputusan berlangsung tanpa diintrupsi. Barangkali!


20 Mei 2015

Membaca Eka Kurniawan



Perempuan Patah Hati yang Kembali
Menemukan Cinta Melalui Mimp
i


NAMA Eka Kurniawan kali pertama saya temukan melalui salah satu blog di dunia maya. Bisa dibilang, dari blog itu pertama kali saya mengenal sastrawan yang berkacamata ini. Dari blog itu juga saya bisa tahu ternyata Eka Kurniawan seorang satrawan yang sedang naik daun.  

Saya melihat dari blog yang sama, salah satu bukunya; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Saat itu, disertai tulisan yang mengulas karyanya ini, blog itu berhasil membuat saya penasaran untuk membaca karya-karyanya.

Sebenarnya, nama Eka Kurniawan tak begitu saya ketahui. Selain saya bukan pembaca karangan sastra yang baik, saya juga tidak banyak bersentuhan dengan perkembangan diskursus sastra. Tapi melalui blog yang saya baca, akhirnya saya bisa mengetahui bahwa Eka ternyata punya situs pribadi. Dari website itulah saya berusaha berkenalan dengan Eka melalui tulisan-tulisannya.

Perkenalan saya yang berkesan terhadap Eka sejatinya melalui buku kumcernya. Tentu buku yang diposting di dalam blog yang saya katakan tadi; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Melalui buku itulah saya bersentuhan langsung dengan kepengarangan Eka. Dan dari kumpulan ceritanya di buku itu, saya merasa harus memiliki buku-bukunya yang lain.

Maka mulailah saya mencari tahu buku-buku karangan Eka. Ternyata sebelum Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, sudah ada beberapa buku diterbitkan Eka. Dari situ mulailah saya mengoleksi karangan-karangannya, dimulai dari Cantik Itu Luka hingga novel terakhirnya; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan juga buku kumcernya yang lain; Corat-Coret di Toilet

Akhirnya mulai saat itu, ada dua sumber saya untuk membaca tulisan-tulisan Eka; Journalnya dan karangan-karangan kumcer dan novelnya.

Bisa dibilang saya terlambat mengetahui sastrawan ini, tapi dengan membaca hampir semua terbitannya; dimulai dari Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi dst., saya seperti kecanduan terhadap tulisan-tulisannya, terutama cerpen dan novelnya, sebab cerita-cerita yang disuguhkannya adalah suatu teks yang menolak sempurna, dalam arti suatu cerita yang dibangunnya tak selamanya ingin mengafirmasi suatu dunia yang bersih dari cacat. Melalui kesan inilah saya selalu senang membaca karangan sastranya.

Kesan semacam itu saya rasakan di saat pertama kali membaca novel pertamanya; Cantik Itu Luka. Novel yang hampir 500 halaman itu tak sekalipun menampilkan suatu figur yang sempurna. Begitu juga dari penceritaan latar belakang tokoh-tokoh utamanya, dari orang semisal Ayu Dewi, Sudancho maupun lainnya, merupakan simbol bagaimana suatu nasib manusia begitu jauh dari kesan lengkap dan ideal. Nampaknya penggambaran figur-figur dalam Cantik Itu Luka memang dikesankan Eka bermain antara dua ekstrim baik dan buruk, di mana suatu saat ada tokoh yang begitu dipuja tetapi di lain waktu dengan masa yang berganti, suatu tokoh bisa menjadi figur yang berkarakter cacat.

Dan novel terakhir Eka yang saya baca adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Di novel itu ada Ajo Kawir, yang bisa dibilang tokoh utama yang melaluinya Eka berbicara bagaimana suatu  tatanan moral (perhatikan dua polisi dalam cerita itu) didekati melalui penyakit impoten. Dari penyakit impoten, Eka ingin membuka selubung kesadaran kita bahwa suatu penyakit tak selamanya “penyakit.” Dengan cara lain, melalui penyakit yang di derita Ajo Kawir, manusia dengan segala persoalannya dan kekurangannya merupakan mahluk yang punya dua bibir; bibir yang selalu berbicara kebaikan dan bibir yang mengambil kebaikan melalui cacat yang dialami. Dengan ungkapan lain, Eka ingin berbicara dengan tanpa menghimbau dan berkhotbah, melainkan dari aspek yang paling manusiawi, ia ingin berangkat dari cacat untuk memahami apa yang bisa diambil dari peristiwa itu.

Kesan yang sama adalah juga unsur yang tak hilang dari dua novelnya yang lain; Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Di sana selalu ada penggambaran watak dan sifat manusia yang tak utuh. Bahkan manusia adalah mahluk yang  selalu berada pada dua peririsan baik dan buruk. Yakni mahluk yang mengalami beragam peristiwa yang ideal dan sial. Dengan gagasan semacam itulah, saya melihat karakter tokoh-tokohnya selalu digambarkan sebagai manusia yang tak utuh, yang tak ideal. 

Dengan cara inilah saya kira, Eka ingin merepresentasikan dunia manusia yang sebenar-benarnya. Dan itu sangat terasa dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, seperti misalnya Eka berbicara tentang seks sekaligus laku sufi dari Ajo Kawir. Dua kontras yang diramunya dalam ironi dan parodi.

Di luar dari itu, Eka adalah penulis yang taat. Persentuhan saya dengan Journalnya, ketaatan itu dipertahankannya dengan menulis peristiwa-peristiwa yang dialaminya setiap hari. Dari perspektif ini saya bisa mengatakan bahwa Eka punya dua medan menulis; Journal yang berisikan refleksi dan pandangan-pandangannya seputar sastra serta karya ceritannya, baik kumcer maupun novelnya.

Untuk hal ini, bisa saya katakan, ada dua Eka sebenarnya; Eka sebagai penulis Journal di websitenya dan Eka sebagai sastrawan yang melahirkan karya-karyanya yang monumental.  Dan dikatakan di Journalnya, Eka akan berpuasa untuk melakukan aktivitas yang kedua. Dari Journalnya ia juga berkata akan menjadi pembaca yang baik, dibandingkan penulis, seperti yang ia kutip dari Borges; membaca lebih intelek dari menulis.

Dari Journalnya, saya terkesan dengan daya jelajah Eka terhadap sastra. Eka seperti sudah berkeliling dunia dengan berkunjung pada  sudut-sudut terpencil, bisa dibilang melalui Journalnya, peta sastra dunia dibentangkan seluas-luasnya. Banyak sastrawan yang ia sebut di sana adalah bukti bagaimana dunia sastra begitu digelutinya. Dan ini yang membuat ia bisa dibilang sebagai tempat referensi dunia sastra.  

Melalui Journalnya, saya bisa banyak menimba wawasan seputar sastra di sana. Maka, seperti yang diharapkann Seno Gumira, perkembangan sastra Tanah Air salah satunya sangat bergantung dari pria ini. Maka saya kira Eka Kurniawan punya kutukan; membangun takdir sastra Tanah Air.

09 Mei 2015

Mengapa Sastra

Akhirakhir ini saya senang membaca karangankarangan sastra, terutama ceritacerita pendek. Membaca cerpen merupakan kesenangan baru saya untuk memahami sastra. Sebab itulah akhirnya saya mencari bukubuku cerita pendek karangan sastrawan yang saya ketahui. Tujuan saya membaca ceritacerita pendek sebenarnya didasari oleh pertimbangan untuk mengelak dari bukubuku yang mengandung unsur ilmiah. Bukubuku semacam itu, belakangan ini memang saya hindari, selain karena secara konseptual bukubuku semacam itu membuat saya jenuh, tetapi juga bukubuku yang mengandung konstruksi teoritis seringkali tak banyak menggamit unsurunsur yang lebih humanis; ironi.

Ironi, suatu keadaan yang kerap muncul dalam karya sastra, misalnya ceritacerita pendek, adalah suatu anasir yang membuat saya bisa mengerti bahwa di dalam suatu bulatan nasib umat manusia, hidup tak selalu bisa dimengerti. Melalui ironi, ada halhal yang tak bisa serta merta bersih dan jernih tanpa cacat, sehingga ada suatu yang mesti kita maklumi dan terima. Dengan ironi, manusia bisa tahu bahwa di dalam dirinya selalu ada sisi yang tak penuh lengkap.

Sebab itulah saya senang membaca karangan sastra, sebab di dalamnya  suatu pengertian bukanlah berbicara untuk dapat dominan agar bisa mengampu suatu totalitas dunia, melainkan mengajarkan saya untuk dapat menerima berbagai macam sisi kehidupan yang justru memiliki banyak cacat.  Barangkali karena itulah dunia yang penuh bopeng, kerap di jadikan core dalam sastra sebagai semacam penyambung untuk mengingatkan manusia yang terkadang lupa bahwa suatu titik pusat yang selalu jadi puncak adalah jalan terjal yang sungguh landai. Berbeda dari agamaagama maupun filsafat, suatu titik pusat yang jadi arah dalam sastra dapat didekati dengan berbagai arah. Di dalam sastra seluruh kemungkinan dapat dimungkinkan. Dunia, di dalam sastra memang suatu kemungkinan yang tak mungkin dapat diramalkan.

Dengan itu saya akhinya bisa tahu, dari bacaan saya, bahwa sastra bisa bicara banyak hal. Bisa membuka beragam pintu untuk memasuki dunia. Dengan sastra terutama ceritacerita pendek, saya dipertemukan beragam narasi bahwa suatu perjalanan hidup manusia bisa saja dapat berubah sepersekian detiknya. Dengan itulah melalui ceritacerita pendek yang saya baca, memberikan saya suatu ruang untuk berjarak terhadap sesuatu agar semuanya tak harus begitu saja diterima. Setidaknya, melalui ceritacerita dan ironi yang saya baca, dapat berbagi pengalaman dengan saya.

08 Mei 2015

madah limapuluhtiga

Namun aku tak bisa menghakimi situasiku sendiri; aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menantang keabadian dan karena itu aku tak mengerti apaapa. Aku tak kehilangan apaapa: meski banyak hal seharusnya kurindukan, seperti rasa manzanilla atau waktu yang kuhabiskan berenang di sungai kecil di dekat Cadis saat musim panas tiba- sayangnya kematian telah mengeruhkan segalanya.

Seperti itulah Sartre menulis bait dalam cerita pendeknya, The Wall. Cerita pendek yang diterbitkan di 1933. Ungkapan itu  adalah ungkapan Ibbieta, salah satu tokoh yang genting menghadapi waktu ekseskusi kematiannya. Ibbieta tak sendiri, ia bersama dua tokoh lainnya yang mengalami hal yang sama untuk ditembak mati; Juan dan Tom. Diceritakan di sana, baik Ibietta, Juan dan Tom adalah tahanan yang tanpa melalui peradilan harus menerima keputusan eksekusi mati. Kesalahannya masingmasing adalah menyembunyikan tokoh pemberontak, terlibat gerakan subversif  dan merupakan bagian keluarga dari seorang pengagum anarki.

Melalui tiga tokoh ini, nampaknya Sartre berusaha menyampir pandangan eksistensialisnya dalam kaitannya dengan kematian. Di cerpen yang lumayan panjang itu, dari sikap tokohtokohnya, saya bisa menangkap suatu sikap eksistensial bagaimana manusia tengah menghadapi batasanbatasan keberadaannya. Suatu sikap yang menyadari bahwa kebebasan secara eksistensial berhadapan langsung dengan keadaan yang tak dapat dilampauinya. Pertama, Sartre mengangkat metafora tahanan sebagai keadaan yang melingkupi eksistensi, dengan tembok sebagai perbatasan antara kebebasan dan keterpenjaraan. Dan yang ke dua adalah kematian itu sendiri.

Kematian, biar bagaimanapun adalah kepastian yang tak bisa disisihkan dalam belantara nasib manusia. Ia bisa saja terselip dalam suatu momen hidup yang tak disangkasangka. Datang diantara beragam pengalaman yang rupamacam dan dengan suatu kekuatan purba memutus semua mata rantai tepat di tengahtengah ketidaktahuan kita. Kemudian pergi membawa keberadaan kita dan hanya menyisakan tubuh yang tertinggal waktu. Sebab itulah kematian adalah ihwal yang misterium. Fenomena yang tak memiliki riwayat identitas. Datang dan kemudian tetiba pergi. Kematian memanglah kematian.
   
Tapi bagaimanakah jika ujung dari keberadaan kita sudah merupakan terang yang benderang. Di mana suatu pagi yang belum biru seluruh adalah akhir dengan harus melalui cara letusan pelor panas. Begitulah nasib tiga tokoh yang diungkap Sartre dalam ceritanya; ditembak mati. Takdir yang harus diputuskan tanpa pengadilan. Kematian yang harus di lalui di suatu pagi.  Sementara sebelumnya tersisa satu malam sebagai waktu yang tersisa jelang eksekusi.

Dan di dalam masa penantian itu, waktu adalah medium eksistensi untuk dihayati tiap momennya. Di sanalah kesadaran terhadap waktu nampak di dalam penghayatan, menjadikannya bagian yang dikontruksi kembali untuk diselami. Di situasi itu, barangkali manusia menjadi mahluk yang berbeda, menjadi mahluk yang mewaktu.

Seperti itulah yang dialami oleh Ibbieta dalam menunggu kematiannya. Di malam menjelang kematiannya, dengan segenap kesadarannya, waktu dikonstruksinya menjadi totalitas yang menegasi liniearitas spasial. Waktu dimasukinya dengan aliran kesadaran penuh yang dibentangnya dengan seluruh totalitasnya. Dalam keadaan ini ada dua hal yang menjadi ciri eksistensi manusia; kecemasan dan ketakutan. Tetapi hanya kecemasanlah yang mengindikasikan esensialitas manusia sebagai penanda kebebasannya.

Mengacu dalam pemikiran Heidegger tentang kecemasan, adalah keadaan paling dasar dari perasaan yang tak memiliki kejelasan atas objeknya. “Objek rasa cemas bukanlah mengada di dunia ini. Karena itu rasa cemas pada hakikatnya tidak memiliki isi persoalan”  ungkapnya. Melalui ciri ini, kecemasan merupakan perasaan yang berbeda dari ketakutan yang menjadi bagian dari keseharian. Ketakutan selalu mengandaikan kepastian yang tampak benderang sebagai konsekusensi atas tindakan, sementara kecemasan adalah peristiwa yang tak mampu memproyeksi keadaan apa yang dihadapi; suatu keadaan di hadapan ketidakpastian yang tak terjelaskan; suatu misterium tanpa dasar. Sebab itulah kematian yang di hadapi, walaupun sudah merupakan suatu peristiwa yang akan di hadapi, tetap merupakan ihwal yang tak memiliki isi. Dan “sesuatu yang tak memiliki isi” itulah yang dihadapi Ibbieta.

Begitu juga yang dialami oleh Tom; suatu kesadaran yang dimunculkan semenjak ia merenungi waktu sebagai selaput tipis yang akan membawanya pada kematian. Nampaknya di dalam cerpen ini, watak yang paling menunjukan bagaimana kesadaran eksitensial di narasikan Sartre adalah pada tokoh ini; seorang aktivis yang terlibat dengan gerakan pemberontakan. Di masa penantian di dalam penjara, pasca perbincangannya dengan Ibieta menyangkut kematian, melalui kecemasannya ia mengajukan pertanyaan; benarkah bahwa semua hal dalam hidup ini akan berakhir?

Di cerita itu tak ada jawaban untuk pertanyaan yang diajukan Tom. Sepertinya hal itu dibiarkan menganga tanpa dialog dari Ibbietta yang bisa saja dijawabnya. Dialog itu mengibaratkan suatu perbincangan yang siasia, tanpa arti, sebab barangkali “akhir” bukanlah pokok yang menjadi soal utamanya.  Dari filsafat Sartre kita bisa tahu, “akhir” sama saja sebagai suatu batas yang secara paradoksal menganggap “permulaan” sebagai titik muasal manusia.

Karena itulah dalam cerita itu, Sartre mengawali setting cerita dengan ketiga tokoh yang begitu saja dilempar ke dalam ruangan besar sebagai penjara bagi mereka. Melalui narasi semacam itu, manusia ingin digambarkan oleh sahabat Albert Camus   ini sebagai mahluk yang “terlempar” begitu saja ke dunia tanpa niat sebagai dasarnya.  Ada dengan “terlempar” begitu saja, tanpa asalusul, tanpa riwayat. Semacam kehadiran yang tidak didasari oleh basis metafisika seperti agamaagama dengan menyebutkan asal muasal dari suatu peristiwa dua manusia asal yakni Adam maupun Hawa.

Tidak seperti agamaagama yang menyertakan asalasul sebagai riwayat kehadiran dalam sejarah, Sartre mengandaikan dengan demikian tak ada alasan untuk mengkhawatirkan  suatu akhir, termasuk kematian. Sebab “kematian menyingkirkan semua makna dari kehidupan” sebutnya. Maka itulah eksistensilah yang harus menjadi pusat mengada manusia,  bukan kematian itu sendiri.

28 April 2015

madah limapuluhdua


Tak saya duga sebelumnya, di Soho, pusat perbelanjaan di tengah London yang terkenal itu, ada dua tempat yang secara historis mengingatkan kita pada komunisme. Di pusat perbelanjaan itu, yang banyak menjual produk merekmerek terkenal dunia, terdapat sebuah gedung yang pernah ditinggali Marx semasa di Inggris. Juga sebuah restoran Cina yang menggantung perkataan pimpinan revolusi negeri Tiongkok, Mao, di depan pintu masuknya sebagai semboyan barangkali, "barang siapa tak kuat memakan cabe, maka dia bukanlah seorang yang revolusioner". Ini suatu yang unik, juga sesuatu yang sesungguhnya kontras.

Soho di kota London, dari masa lalu adalah tempat dengan sejarah yang panjang. Tapi ringkasnya, di sana dulunya adalah tempat tinggal kaum pekerja. Di Inggris ketika revolusi industri pecah dan bergaung besar, saya kira tempat itu adalah tempat yang tak berpenanda kemakmuran. Seperti tempat kumuh umumnya, Soho pastinya adalah tempat yang tak terawat, tempat yang kotor dan tak terurus.

Di tempat itulah Marx tinggal selama di Inggris. Melarat dan kemudian mati. Dan di situlah kontrasnya, di mana Soho yang dulunya adalah tempat kumuh kelas pekerja, kelas yang dibela komunisme, kini adalah tempat pusat perbelanjaan yang glamour,  tempat di mana kiblat suatu gaya hidup kelas atas.

Di tempat yang glamour itu, nampaknya kehidupan tak pernah berhenti. Seperti tempat hiburan lainnya, di Soho, orangorang datang dan berkumpul untuk menghimpun sekaligus melepas hasrat untuk mengkonsumsi. Mengisi bangunanbangunan tinggi dan pulang dengan hati yang tak sungsang.

Saya tak pernah ke Soho, tapi dari fotofoto yang saya lihat melalui jejaring internet, saya bisa tahu bagaimana suatu ruang yang muram dapat dengan cepat berubah total menjadi tempat yang tak pernah berhenti menyedot kapital.

Mungkin penjelasan tentang ihwal itu adalah bagaimana betapa kuatnya pertukaran modal dapat menjadi sumbu suatu perubahan. Ruang biar bagaimanapun, seperti yang dibilangkan Levebre adalah keberadaan yang termuati kepentingan di dalamnya. Ruang biar bagaimanapun, di saat kapital begitu gesit berputar, adalah media yang sungguhsungguh dahsyat menggerakkan urbanisasi.

Ruang, di dalam pandangan Levebre sebenarnya adalah realitas yang sesungguhnya tak suci dari perbuatan manusia. Ini artinya ruang adalah realitas yang diproduksi manusia secara sosial. Di dalam pengertian ini, ruang berarti realitas yang secara kontinyu terbentuk atas dasar modalitas yang terus menerus dipertukarkan.Di saat itulah ruang akhirnya menjadi entitas yang sarat kepentingan. Di saat itulah ruang terus diproduksi berdasarkan imajinasi yang menyertainya.

Sebab itulah Levebre menyebutnya ruang yang telah dipolitisasi. Dalam istilah sosiolog Prancis itu, ruang yang telah diberlakukan demikian disebutnya sebagai ruang abstrak. Sebagaimana di dalam konteks masyarakat kapitalisme lanjutan, ruang abstrak disituasikan menjadi pengetahuan yang berciri ideologis sehingga mengaburkan kondisi alienatif yang terjadi pada level praktik. Di sanalah ruang akhirnya disituasikan dalam alam imaji sebelum menjadi peta kognisi bagi ruang kongkrit.

Barangkali itulah yang terjadi di sana. Di soho ruang yang berwajah muram, tempat kumuh kelas pekerja tinggal, berubah menjadi ruang pusat kapital berputar. Juga, di Soho, urbanisasi begitu gencar mengubah pusat menjadi betulbetul "pusat". Dan di Soho, pusat itu adalah kiblat suatu gaya glamour ditegakkan.

Syahdan, apa yang terjadi di Soho juga menjadi tren pembangunan di manamana. Terutama di dunia berkembang yang pesat membangun sentralsentral perubahan dengan menyulap daerahdaerah menjadi ramai. Di mana dengan satu rumus yakni keramaian yang bisa menjalankan roda pertukaran sehingga kapital terus diakumulasi. Melalui cara itu maka infrastruktur dibangun, jalanjalan diperbaiki, gedunggedung ditambah dan simsalabim suatu tempat menjadi ruang yang dikapitalkan.

20 April 2015

Malaikat Buku-Buku


Lukisan Jibril (Arab)/Gabriel (Inggris) dari Abad 12

FILSUF muslim menyebutkan segala yang ada memiliki malaikatnya masingmasing. Misalnya, untuk urusan wahyu ada malaikat Jibril, urusan rezeki ada malaikat Mikail, untuk soal nasib ada Mungkar dan Nakir. Di Islam, sepuluh malaikat dan tugastugasnya wajib diketahui, walaupun disebutkan oleh beberapa literatur bahwa jumlah malaikat sebanyak bintangbintang di langit.

Jika demikian, saya berandaiandai ada juga malaikat buku. Namanya adalah malaikat Al Alim. Tugas utamanya adalah menjaga bukubuku agar dapat terawat dengan baik. Tujuannya agar bukubuku tak punah hingga akhir zaman. Selain itu, tugasnya adalah mencatat seluruh nama dan jenis buku yang ada di muka bumi. Seharihari, tugas lainnya adalah mengatur peredaran bukubuku di dunia. 

Tugas malaikat buku tak kalah berat dari malaikat Mikail yang mengatur setiap rezeki seluruh mahluk di setiap sudut mayapada. Berbeda dari itu, malaikat Al Alim mengatur dan mencatat siapasiapa yang menggunakan buku setiap detiknya. Di saat demikianlah ia harus terus mengawasi peredaran dan penggunaan buku di tiap tangan manusia.

Karena ia malaikat buku, ia sering kali mengunjungi tempat bukubuku disimpan. Dan tempat yang paling pertama ia kunj
ungi sejak ayam berkokok di awal pagi adalah rakrak buku. Di situ, dijelaskan dari tutur lisan ahliahli makrifat, ia akan mencatat bukubuku apa saja yang sudah dibaca, yang akan, dan yang belum dibaca. Untuk buku yang sudah dibaca, konon akan dicantumkannya satu bintang di buku catatannya yang bernama Al Kitabul Al Akbar. Bila belum, maka akan dibiarkannya kosong. Begitu  seterusnya dari amanah yang menjadi tugasnya.

Tempat yang paling disenangi malaikat Al Alim selain tokotoko buku adalah perpustakaan. Di sanalah waktu terbanyak ia habiskan. Sebab, di tempat inilah banyak bukubuku tersimpan dan beredar sehingga ia harus segera mencatatnya. Dari kitabkitab kuna malaikat Al Alim punya kolom khusus untuk bukubuku perpustakaan. Terutama untuk kolom bukubuku yang tak pernah sehari pun keluar beredar. Untuk bukubuku ini ia berikan tanda khusus. Dalam kitab itu disebutkan tanda itu berupa tanda seru. Konon tanda seru ini akan ia perlihatkan kepada Tuhan pemilik bukubuku, bahwa betapa malasnya umat manusia membacanya.

Di perpustakaan, selain mencatat peredaran buku, ia juga mencatat orangorang yang berada di dalam perpustakaan berdasarkan aktivitasnya terhadap buku. Secara umum aktivitas orang di perpustakaan ia bagi menjadi tiga golongan. Pertama, orangorang yang duduk tenang membaca buku. Kedua adalah golongan yang menggunakan perpustakaan hanya untuk dudukduduk bersenda gurau, dan yang ketiga adalah mereka yang meminjam dan datang untuk mengembalikan buku. Dari tiga kelompok ini, golongan ke dua adalah  jenis manusia yang dibenci malaikat  Al Alim.

Selain di perpustakaan, ada tempat lain yang sering dikunjungi malaikat buku. Tempat itu adalah rumahrumah yang memiliki perpustakaan pribadi. Di rumah yang memiliki rakrak buku itu, disebutkan dalam hadishadis agama terdahulu bahwa di tempat itulah Al Alim senang berlamalama, sebab ia sangat suka dengan bebauan rumahrumah yang menyimpan bukubuku. 

Bahkan dari salah satu kitab yang mengulas malaikat Al Alim beserta kemuliaannya, diselasela kunjungannya di rumahrumah demikian, ia sering kali membuka bukubuku yang ia senangi untuk dibaca. Dalam suatu riwayat, jika sang pemilik buku tibatiba tidak sengaja akan memergokinya, malaikat buku dengan sekejap cahaya akan segera mengubah wujudnya menjadi capung atau kupukupu.

Dari seluruh tugas Al Alim dengan bukubuku, tugas terberatnya adalah menjaga agar ilmu dapat terus abadi di muka bumi. Sebab itulah malaikat buku sangat mencintai orangorang yang berilmu, apalagi orangorang yang sangat menghargai buku. Pasalnya, malaikat yang sangat disenangi Jibril ini, melihat korelasi ilmu ditentukan dari sikap perlakuan orang terhadap buku. 

Menurut sahibul riwayat, dari seluruh manusia yang dikutuk Al Alim adalah orangorang yang tak menghargai ilmu. Dan orangorang seperti itu, dari pertama diciptakannya manusia, malaikat buku sudah tahu bahwa orang yang demikian adalah orang yang tak mencintai buku. Itulah mengapa di akhir dunia nanti, Al Alim akan banyak melaporkan orangorang dengan jenis ini.

Tetapi ada suatu riwayat lain yang mengulas tentang orangorang yang dihinakan oleh Malaikat Al Alim. Disebutkan di sana adalah orangorang munafikun yang berilmu dan memiliki buku berjubel tapi tak pernah dirawatnya dan dibacanya. Juga orangorang yang senang membuang bukubuku apalagi membakarnya. Apalagi jika ada pemerintahan tertentu yang menggunakan kekuasaannya untuk melarang peredaran bukubuku bagi masyarakat. Kepada merekalah malaikat Al Alim akan langsung mencatatnya di kitab al akbarnya dengan label: terhina.

Syahdan, disebutkan oleh riwayat itu pula, malaikat buku seringkali dapat ditemui bagi orangorang yang membawa buku ke manamanapun ia pergi. Di situ ditulis, syarat utamanya hanyalah satu: cintailah buku. Dengan begitu, kita dapat menjumpainya jika beruntung. Sudahkah anda bertemu dengannya?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...