20 Mei 2013

Togel, Urbanisasi dan Kemiskinan


Di suatu pagi, seperti di harihari biasa; kota yang rapat mapat, aktivitas penduduk yang lalu lalang, jalan raya padat kendaraan, seperti kotakota besar dengan gerak mobilitas yang tinggi, handphone saya berbunyi. Sebuah pesan singkat, kurang lebih begini yang tertulis;

”Dari Udin berhasil sukses menang Togel. Bagi saudara2 kami yang sering kalah dalam permainan angka Togel,, hub Mbah Sugem. 082333854*** dijamin 100% tembus.”

Jika mengandalkan ingatan, hampir di tiap hari, sms serupa masuk melalui handphone saya. Dan barangkali pesan yang serupa pun dialami oleh banyak orang. Togel atau kupon putih, atau apapun namanya, telah menjadi massif. Dengan pola random, nomor diacak, bagi pengirimnya di sana ada keuntungan. Dan ini, pada perhelatan dinamika kehidupan kolektiv, pada tingkat yang paling elementer adalah sebuah masalah sosial.

Kehidupan yang serba cepat, mobilitas yang tinggi, urbanisasi yang menyulap kota, punya ampasnya; kemiskinan. Kemiskinan adalah situasi yang memedihkan. Dari matra ekonomi, barangkali kita miris melihat perkembangan kenaikan kuota orangorang yang tak mampu menghidupi diri maupun keluarganya. Jika kita mengacu pada standar badan pusat statistik, diantara empat belas kriteria, kemiskinan adalah pendapatan ekonomi seseorang yang tak lebih dari enam ratus ribu perhari atau Rp166.697 per kapita per bulan.

Namun kemiskinan, pada analisis yang lebih kompleks, bukan lagi urusan statistik hukum ekonomi. Barangkali pemerintah bisa yakin betul dengan sihir statistik ekonomi makronya, bahwa di tiap kebijakan ekonominya berhasil menyulap si miskn menjadi masyarakat yang merangkak naik 11,66 persen per tahunnya. Namun togel ataupun sejenisnya adalah ilustrasi mental masyarakat yang punya unsur kebudayaannya sendiri.

Togel bukan saja sekedar aktivitas masyarakat arus bawah. Togel adalah sebuah peristiwa. Dahulu, di tahun 80an, togel adalah aktivitas legal yang diumumkan di akhir pekan oleh RRI. Dengan maksud untuk memberikan sumbangan terhadap kegiatan olahraga dengan nama sumbangan dana sosial berhadiah (SDSB). Namun mengalami banyak pertentangan dari banyak pihak termasuk oleh MUI yang mengharamkannya sebagi aktivitas perjudian.

Di tengah-tengah masyarakat miskin, SDSB bermetamorfosis seiring perkembangan kebutuhan yang semakin mendesak. Togel menjadi aktivitas kolektiv yang menyertakan banyak orang. Media loncatan yang diharapkan mendongkrak stratifikasi. Di titik ini, togel melibatkan hitunghitungan, harapan, keluh kesah, emosi mengenai tujuan untuk menggapai hidup makmur. Togel atau aktivitas perjudian semacamnya adalah etalase masyarakat bawah untuk mensejajarkan diri dengan kelas masyarakat  atas. Maka dengan sejumlah taruhan, ada harapan untuk keluar dari lingkaran limbah kemiskinan yang akut.

Urbanisasi dan developmentalisme adalah palu godam yang dahsyat. Pukulannya telah menggiring kehidupan sosio-ekonomi masyarakat menjadi peta yang rinci mendeskripsikan posisi kelaskelas masyarakat.  Betapa gampangya ditemukan kolonikoloni perkotaan yang termarginalkan pada aksesakses perkotaan. Di mana akses kebutuhan sandang, pangan maupun papan, menjadi minim untuk dinikmati oleh masyarakat bawah. Nampak kasat kesenjangan yang mensubordinatkan keberadaan masyarakat miskin hanya sebagai penyuplai kebutuhan pokok kelas atas.

Tumbuh berkembangnya bisnis perumahan yang massif di kotakota besar sebagai syarat urbanisasi juga memiliki dampak yang serius terhadap eksistensi kaum miskin perkotaan. Penghidupan yang menuntut aktivitas yang tinggi dan efisiensi kerja, semakin mempersempit lahan kota untuk dibanguni komplekskompleks elit. Keberadaan bisnis perumahan secara pelanpelan semakin menggusur keberadaan tempat tinggal yang dimiliki oleh kaum miskin kota kewilayahwilayah pinggiran.

Developmentalisme yang pernah diterjemahkan oleh masa orde baru dengan konsep repelita, menghendaki situasi perekonomian yang mapan sebagai penopang gerak laju pertumbuhan kota. Akses yang mendorong akan hal itu adalah investasi yang masuk untuk merangsang pendapatan perkapita di tiap tahunnya. Tumbuh berkembangya pusatpusat hiburan dan perbenlanjaan, secara ekonomi mempengaruhi sebuah kawasan menjadi kota urban yang maju. Keberadaan pusatpusat hiburan dan perbelanjaan, hanya semakin memperparah posisi kelas bawah sebagai bagian yang pasif dalam perannya sebagai masyarakat kota.

Semakin padatnya pembangunan di tempattempat penting, menjadikan pusat sebuah perkotaan tidak lagi terpusat pada satu titik konsenstrasi. Pusat sebagai titik pertemuan tak lagi bisa ditentukan secara defenitif pada kotakota urban. Dengan hadirnya pusat perbelanjaan, pusat administrasi, pusat kebugaran, pusat pendidikan, pusat kesehatan, pusat perumahan yang menyebar dengan perencanaan pembangunan kota, akhirnya semakin memperluas kawasan padat penduduk yang menyingkirkan keberadaan masyarakat marginal.

Di tengah situasi demikianlah, masyarakat kota selalu mereposisi keberadaannya. Ditengarai himpitan ekonomi, tertutupnya akses kesehatan, pendidikan, kebudayaan maupun politik, menyituasikan kalangan kaum miskin kota menjadi orangorang yang bergerak berdasarkan insting hidup dibawah garis kelayakan. Pada akhirnya mentalitas kebudayaan yang dikorup oleh kondisi kota, menempatkan kaum marginal kota menjadi kalangan yang terbelakang.

Kemiskinan seandainya sebagai mahluk biologis, barangkali sudah ditebas. Setidaknya itu yang pernah diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib di suatu waktu, menantu Rasulullah. Ilustrasi ini, bisa kita bayangkan betapa berbahayanya kemiskinan. Kemiskinan bisa menjadi lumbung kejahatan. Kekerasan tak jarang selalu berawal dari daerahdaerah kumuh. Namun bukan berarti kemiskinan adalah identik dengan kekerasan. Hanya saja gugatan kemiskinan selalu mendorong kenekatan untuk berbuat sesuatu keluar dari tipologi rasionalitas.

Dahulu Marx punya citacita, sebuah jalan bagi masyarakat kelas bawah untuk keluar dari keterpurukannya. Ia mentaklik revolusi kelas bawah sebagai suluk yang pasti di tengah sejarah masyarakat kapitalis. Namun, ramalannya hanya menjadi rapalan kosong. Kapital semakin massif, industri tumbuh menjamur, kota digerakkan urbanisasi yang pesat, sehingga tinggalah, harapan yang mengendap bersama kemiskinan, dan togel dengan keterlibatan masyarakat bawah adalah bentuk kontra hegemoni bagi mesin besar kapital. Dari togel, uang berputar di tengah pusaran kehidupan kelas tak berpunya. Membangun mekanisme kerjanya sendiri dengan hitungan rumusrumus dengan mimpi yang dikalkulasi.

19 Mei 2013

Waktu Senggang dan Percepatan Globalisasi

(Tulisan ini masih berbentuk draf dan hanya berupa analisis sederhana sehingga tidak layak untuk dicopy)

Kita pernah dibesarkan dengan cerita; kurakura dan kancil. Kurang lebih seperti ini ceritanya; suatu waktu, di tengah hutan belantara, hiduplah seekor kancil. Hidupnya riang. Ia senang berlari. Hampir setengah hutan telah ia kelilingi. Si Kancil adalah hewan yang gesit, dengan tungkai kaki yang ramping. Dengan kakinya yang cepat membuatnya menjadi hewan yang tiada tara gesitnya. Lebih dari itu, si Kancil adalah hewan yang cerdas. Di hutan, kancil tak sendirian, ada si Kurakura; hewan yang lambat, gemuk dan bercangkang keras. Dengan demikian kurakura menjadi hewan yang paling lambat bergerak. Jangankan mengelilingi hutan, setengah dari belantara saja tak pernah ia jelajahi.

Singkat cerita, di suatu waktu, terbilang kancil dan kurakura hendak mengunjuk kebolehannya. Mereka ingin beradu cepat. Dipilihlah suatu tempat di sudut hutan. Disaksikan oleh seluruh penghuni hutan untuk dijadikan arena berlari. Dilihat dari fisik tentu si Kurakura akan kalah, tetapi tidak, pemenangnya meleset dari prakiraan seluruh penghuni hutan, termasuk sang raja, singa hutan. Si Kurakura keluar sebagai juaranya.

Zaman Maya

Zaman sekarang adalah zaman yang sedang terengahengah. Kemajuan teknik berkomunikasi membuat konsep jarak dan waktu gagal memberikan pengertian yang humanis. Media informasi dengan sokongan teknologi yang super canggih, menyituasikan kenyataan kian sempit. Dunia dengan segala isinya telah diredusir berdasarkan kecepatan bitebite. Dunia sekarang barangkali mendapati ilustrasinya pada pepatah kuno; dunia memanglah tak selebar daun kelor.

Dengan sokongan isu globalisasi dan universalisasi, kita mengenal konsep desa global. Batasbatas geografis telah bergeser tidak saja pada pengertian yang konotatif, melainkan telah menyempitkan makna sejatinya. Batasbatas geografis yang semula diukur berdasarkan ukuran kenyataan, telah diambil alih oleh  medio dunia maya yang mengaburkan makna batasbatas kultural sebuah kawasan. Dampak dari ilustrasi demikian, secara kenyataan dapat kita ukur berdasarkan hilangnya ukuranukuran kultural yang menjadi kulminasi dari sebuah peradaban.

Globalisasi memanglah kenyataan sejarah yang tak bias ditampik. Namun, kemajuan sarana yang begitu pesat, secara kultural memberikan hamparan kenyataan yang begitu pelik. Perjumpaan teknologi yang canggih pada masamasa masyarakat yang digerakan berdasarkan nalar kultural, masih membayangi situasi yang mengisyarakatkan betapa bangunan mentalitas masyarakat dunia ketiga menjadi terbelakang. Perhelatan yang paling sering kita temukan adalah kesenjangan antara kemajuan pengetahuan dengan derasnya alatalat komunikasi yang berbau tekhnologi tinggi. Situasi ini kita sebut saja sebagai cultural leg.

Dalam konsep waktu, kesenjangan kebudayaan bisa kita temukan pada pemaknaan masyarakat berkembang dalam mengartikulasikan dunia kenyataannya berdasarkan ukuran yang termuati pada konsep modernitas. Situasi waktu yang dijalani memungkinkan pemaknaan yang ditempatkan pada mobilisasi waktu yang secara global haruslah bermakna modern. Globalisasi barangkali adalah temuan kasus yang bisa kita angkat sebagai ilustrasi yang dimaksud. Menjadi modern, berarti intrepetasi terhadap kenyataan harus termuati makna waktu yang harus terukur betul. Dimana moda hidup harus tepat dan cepat pada schedule modernitas.  Kenyataan ini dalam persinggungannya dengan kapitalisme, dibilangkan oleh Martin J Lee  sebagai masyarakat pelahap waktu senggang.

Percepatan  Waku dan Filosofi Kura-kura

Keterburuburan adalah terma yang barangkali tepat untuk mengilustrasikan zaman sekarang. Dimana kerja adalah media yang menengahi manusia dalam persentuhannya dengan kenyataan. Kerja menjadi adab kolektiv masyarakat kontemporer dalam menerjemahkan tujuan, harapan, dan citacita dalam menjalani rutinitas yang dilalui. Dimana ketepatan dan kecepatan waktu adalah ukuran efektifitas dan efesiensi dalam menilai keunggulan suatu pekerjaan.

Percepatan yang sama pun tidak saja menjadi moda hidup, melainkan sudah menjadi kebudayaan yang tak terhindarkan. Dimana seluruh level hidup, menjadikan waktu sebagai media pembebasan yang berharga sangat sulit untuk dimaknai. Dampak secara kultural adalah hilangnya esensialitas waktu senggang. Lebih jauh lagi, dari segi pemaknaan, diwaktu sekarang, kepemilikan waktu senggang menjadi hal yang rapatmapat terkait dengan gerak laju kapitalisme.

Keberadaan waktu senggang dalam alam globalisasi selalu dimaknai dengan pemaknaan yang eksterior.  Waktu yang dimiliki diartikulasikan berdasarkan kebutuhan yang konsumtif dan berbau gempita. Hiruk pikuk kota dengan deret ritus ritual kerjanya, paling tidak menggambarkan bagaimana konsumsi waktu senggang menjadi ritual yang berbau capital. Mall, pubpub, rumah bernyanyi dan sederet tempat hiburan adalah ruang eksterior yang mendangkalkan esensialitas waktu senggang yang dimiliki. Fransiskus Simon, paling tidak memberikan penekanan betapa di kotakota besar waktu senggang habis dilahap oleh tampilan eksterioritas urban yang gempita.

Sementara itu, makna waktu senggang yang sudah termuati makna capital, dengan sendirinya menyituasikan keadaan kebudayaan yang kosong. Di dalam situasi kekosongan inilah, masyarakat gampang untuk digerakan oleh prasangkaprasangka kebudayaan luar. Setidaknya alam kehidupan kota, menjadi batu sandaran bagi kita untuk menyimpulkan.

Namun setidaknya filosofi dari  kisah kurakura dan kancil memiliki semangat perbedaan dengan arus mainstream.  Menyelami waktu senggang seperti yang di imani oleh Simon adalah perayaan emansipatoris dan membebasakan. Yang mana gejolak untuk menjadi kekinian bukan berarti berhenti menyelami esensialitas waktu yang dimiliki. Dimana waktu senggang tidak selalu rapat pada dimensi eksterioritas melainkan memasuki dimensi inferioritas yang dimiliki.[]


16 Mei 2013

Wiji Thukul, Mei 98

Hanya satu kata, lawan. Begitu sajak yang pernah kumandang dengan ritmik, semacam do’a bagi kalangan aktivis-intelektual Indonesia. Sajak yang bukan hasil dari karya ilmiah dengan klasifikasi yang ketat tentang standar mutu menurut logika sains. Sebuah kredo layaknya kitab yang berisikan wahyu langit untuk meneguhkan iman yang dianggap menyimpang bagi sebahagian besar penganut keyakinan mayoritas.

Namun Hanya satu kata, lawan, adalah kalimah yang lahir dari langitlangit yang jauh, langit yang selalu mendung dari seorang Wiji Thukul. Jauh dari kemapanan masyarakat banyak, di mana dalam otoritas tunggal menjadi hal yang dianggap menyimpang dan terlampau meragukan. Pada sajak ini, Wiji Thukul hendak menampik sesuatu yang terlampau mapan, kehidupan yang secara alamiah merupakan produk dari kuasa. Bagaikan godam, Wiji memukulnya dengan sebilah kata. Hanya satu kata, lawan adalah iman bagi seorang Wijhi tukul, iman yang bukan hidup bersemayam dalam ruang dada seseorang melainkan keyakinan yang harus mencari sepetak tanah untuk disemaikan.

Tetapi selayaknya layangan, jika telah diterbangkan maka tak ada batas yang mampu untuk menghalanginya untuk disaksikan. Hanya saja, layangan yang diterbangkan oleh Wiji Thukul, tak mampu menampik batas yang terlampau kokoh dididirikan oleh kuasa, Batas yang menghalangi angin untuk melambungkan layangan yang diterbangkan Thukul.  Batas yang berujung pada kenihilan identitas, Thukul Dihilangkan. Lebih malangnya lagi, hanya sedikit orang yang mau untuk memegang kembali tali kendali layangan Thukul yang sudah lama melayang di angkasa tanpa nahkoda. 

03 Mei 2013

Huru Hara Kampus; Refleksi Pasca 2 Mei

Kampus tengah tunggang langgang. Kampus mendapati dirinya sedang dalam keadaan terburu-buru. Kebijakan diambil tanpa pikir panjang, tanpa dialog, yang penting bagaimana bisa menang. Gedung dipertinggi otak dijepit diketiak. Didalamnya, formasi budaya pencerahan berlahan-lahan sedang jumpalitan; terguling-guling. Tenaga pengajarnya malas mengembangkan seni kemanusiaan lewat diskursus-diskursus. Mahasiswanya terlebih sedang  dalam demam tinggi; biasanya jika orang sedang terkena demam akut, maka jadinya senang meracau, ngomong sembarangan. Kawan! seisi kampus tengah dalam kondisi bahaya.

Bahaya pertama, mari kita lihat situasinya; ruang budaya kampus atau lingkungan yang paling dekat dari kita; teman-teman kita. Adakah dari mereka yang resah? Jika tidak, maka itu sebuah kesalahan. Sebab seorang mahasiswa harus memiliki ide besar, ide tentang perubahan. Ide besar ini bagi seorang mahasiswa dalam aktivitasnya, selalu dijadikan teropong untuk memandang situasi yang dihadapinya. Jika situasi tidak selaras dengan harapan yang datang dari ide besarnya, maka dari sana datang keresahan. Dari keresahan inilah mahasiswa mengambil jarak dengan situasi untuk merekayasa situasi lingkungannya.

Ide besar dalam pengertian ilmiah sering disinonimkan dengan ideology. ideology ada tiga susun elemen pembentuknya. Salah satu elemen didalamnya adalah unsur yang memberikan pedoman bagaimana cara memberlakukan manusia. Cara pemberlakuan kita terhadap sesama pasti bergantung dari pengetahuan yang kita miliki tentang apa itu manusia. Jika manusia kita pahami dalam batasan seperi benda mati, maka cara kita memberikan pemberlakuan terhadapnya sudah tentu sebagaimana benda mati diperlakukan; seenaknya saja,

12 April 2013

Filsafat dan Agama; Dua Persisian

Marilah kita ziarah pada sebuah masa yang telah lampau; alaf waktu medan hidup manusia belum tersentuh dengan label dalam makna modern. Di mana disana formasi sosial belum terdefenisikan lewat jejaring struktur yang terlalmpau kompleks. Di sana, dimensi ruang belum tersekat oleh defenisi kelas social yang ajeg. Hidup masih berjalan pada usaha mencari sesuatu yang hakiki dan ilahiat. Ruang ini; tercipta alam kebebasan untuk mengaktualkan seluruh potensi manusia. Dengan tujuan pencapaian sebuah tata hidup yang harmonis dan kekal. Tempat inilah yang kita kenal dengan tanah Yunani.

Yunani dengan situasinya; model dan ciri karakteristik kehidupan masyarakat yang harmonis, terdapat alam kebudayaan subur untuk tumbuh berkembangnya produk khas dari potensi akliah manusia; filsafat. Potensi yang jauh melampaui dari kepemilikan seluruh mahluk hidup alam semesta. Dengan kemampuan inilah, manusia menerbangkan kepak imajinya untuk menyusuri kelokan labirin yang paling elok, sampai pada yang paling misterius sekalipun. Untuk pertama kalinya, manusia harus mengakui bahwa ada keberadaan yang terhampar luas terbentang di depannya. Sebuah dunia siap untuk dijelajahi. Inilah saat filsafat bermula menjadi jalan manusia untuk mencari makna kebijaksanaan yang hakiki.

Filsafat adalah tradisi pemikiran. Serangkaian “narasi” dimana di sana  bertutur sapa dipertemukan. Terbentang dalam perlintasan sejarah umat manusia. Hendak mencari keterhubungan antara manusia disatu titik dengan “panorama kebajikan” dititik seberangnya; sebuah kebajikan primordial. Bentang relasi yang terdapat usaha sadar antara manusia dengan realitas hakiki. Dengan tujuan mencari kebermaknaan hidup. Filsafat adalah bagaimana hidup bisa selaras dengan tata kosmik.

Filsafat juga bisa menjadi medan lapangan perebutan. Di dalamnya filsafat menjadi daerah pertarungan antara dua wajah antagonistik. Setidaknya ini yang dikatakan Betrand Russell, seorang filsuf Inggris.  Agama dan Sains, persilangan kontrari yang senantiasa menampilkan sebuah epos pertarungan untuk menarik seluruh perhatian manusia. 

Demi memberikan pemecahan dalam membawa manusia untuk mencapai ketinggian harkat dan akal budinya. Maka filsafat adalah ruang netral dimana memasukinya, siapa pun harus bersiap menanggalkan seluruh identitas yang dimiliki. Sekalipun pada ruang-ruang privativ. Melepaskan seluruh nilai subjektiv kemudian bergegas datang dengan kevulgaran. Filsafat adalah daerah yang tak  bertuan; petak ruang yang seringkali dijadikan otoritas dalam menentukan segala sesuatunya pada tafsir yang tunggal.

Dengan demikian, filsafat akan memberikan dan membentuk sebuah sense yang ada dalam manusia, untuk mau menerima seluruh kekurangan dari apa yang kita pahami sebagai hal yang benar. Oleh sebab dalam  filsafat akan kita temukan keanekaragaman yang jamak, sebuah panorama yang saling memberikan warna dari keseluruhan apa yang ada di dalamnya. Sebuah tempat dimana ruang bathin mau tak mau harus menerima wajah-wajah kebenaran yang tak pernah tampil dalam bingkai yang ajeg.

Jika filsafat adalah lapangan yang netral, area yang tak memiliki otoritas kebenaran, maka dengan apakah kita harus memberikan penilaian terhadap  persentuhan kita dengan realitas? Filsafat terkadang menyesakkan. Selalu menyebabkan ketegangan, darinya selalu mengundang dilema-dilema kemanusiaan. Mungkin saja sampai masuk meronrong dimensi bathin; kemapanan iman dan keyakinan

Awal dari tragedi 

Semesta kehidupan manusia bukan petak bujur sangkar tempat  dimainkan dramaturgi. Sehingga laku dan peran sejak azali dilekatkan pada identitas-identitas yang ajeg.  Dengan tokoh yang masuk dalam panggung,  menyuguhkan narasi dengan skenario teater. Bertujuan dengan untuk menyenangkan hati sang sutradara tunggal dibalik layar kendali. Sekali pun tak mampu menjangjangkaunya dengan cerapan indera dan imaji, seperti apa rupa dan kehendak yang di inginkannya.

Peristiwa inilah yang mengundang perdebatan dikalangan filsuf dan ahli kalam dalam mendedah kemuskilan-kemuskilan yang dihadapi. Disana ada dua model corak berfikir yang bertentangan. Dua system berpikir yang masing-masing berbeda pada pem-posisian otoritas kebenaran. Di ufuk yang paling timur, memiliki corak yang ditimpali dengan teks-teks ke-wahyu-an sebagai the one truth dan daya rasio sebagai sekumpulan kubangan doxa-doxa. Sementara pada sebuah era yang telah melepaskan eksistensi manusia pada pemagaran para padri agama dan otoritas sabda kudus gereja, mempertontonkan satu jejaring pemikiran yang bebas menjejalkan kakinya pada penemuan-penemuan baru. Tentu berdasarkan pada kebebasan rasio sebagai pemandu ziarahnya. Salah satu dari dua system berpikir inilah yang diserap dan digunakan pada alam berpikir sebahagian cendikia Islam pada perjumpaannya dengan kultur hellenisme. Datang menggelayungi semesta kehidupan masyarakat Islam pada masanya.

Maka sebutlah epik yang telah tergariskan sejarah manusia, dari masa seorang Socrates harus memilih jalan untuk meneguk racun cemara sebagai keteguhan sebuah pilihan. Iman pada jalan yang senyap dan terjal ditengah-tengah sahabat dan murid-muridnya. Dalam ruang penjara, ia mati. Tangisan pun melepaskannya. Baginya yang paling memiris hati adalah tunduk patuh pada keyakinan yang buta; pada sabda-sabda padri agamawan tanpa kemerdekaan berpikir. Apalagi gagasan yang didasari oleh argumentasi yang tidak kokoh. Nalar yang menelikungi kebenaran. Pada kisah ini, Socrates mencintai kebenaran dengan cara kematian, dibandingkan masuk terpenjat dan dijejali keterasingan yang paling nyata, yakni terpenjara pada iman yang tak jelas.

Pada alaf yang lain, pada waktu yang berselang, kediktatoran agamawan abad pertengahan menjadi marak. Saat dimana penjatuhan hukuman bagi orang-orang yang melakukan bid’ah. Ditenggarai oleh karena melakukan satu kesalahan fatal pada masa itu, kesalahan yang membuat sang terdakwa harus digantung pada tiang pancungan. Sampai terkadang dibakar dalam keadaan hidup adalah hal yang lumrah. Menentang gereja adalah iman yang melenceng. Hanya dikarenakan orang-orang seperti Galileo Galilei dan Copernicus mempertanyakan keabsahan kebenaran yang dianut oleh pihak gereja, tentu mengenai keyakinan pada bumi yang diimani sebagai poros sentral alam semesta.

Pada belahan dunia yang berbeda, Islam telah berjaya. Sebutlah seorang failusuf yang meregang nyawa diusianya yang masih muda, tiga puluh delapan tahun umurnya. Konon ia mati ditangan eksekutor seorang algojo dimasa dimana Islam menjadi agama yang sedang menikmati masa-masa emasnya. Ia syahid sebagaimana apa yang dialami orang-orang sepertinya di zaman sebelumnya. Ihwal yang sama hanya dikarenakan melakukan aktifitas yang dianggap berbahaya; berfilsafat. Yakni melakukan upaya kritis kontemplatif, usaha untuk menemukan realitas yang paling sublim dalam  tatanan wujud alam semesta. Dimana buah dari aktifitas yang dimaksud terkadang membuat gerah orang-orang yang memiliki keyakinan yang mapan. Suhrawardi harus membayar dengan nyawanya demi menegakkan pekerjaan yang paling luhur dari seluruh aktifitas manusia; berkontempasi dalam membangun keimanan yang utuh. 


Tatal; entah kesekekian kalinya, tentang Iman.


Siang ini langit begitu terik. Suara itu datang dengan timbul tenggelam, hampir mendekati jelas penuh. Tapi siapa pun yang kerap  beberapa kali mendengarnya pasti tahu betul siapa milik suara yang hampir mendekati bunyi sengau itu. Suara itu terkadang, di beberapa waktu tertentu berasal dari atas mimbar, tapi kali ini berbeda; suara itu datang dari hanphone atau bisa jadi radio yang diputar pada frekuensi tertentu. Tapi yang jelas suara itu, suara seorang penceramah, saya yakin betul, suara yang saya dengar itu, diseberang rumah yang lapuk itu, suara milik Alm. KH. Zainuddin MZ.

Zainuddin MZ telah wafat, namun bila gajah mati meninggalkan gadingnya, maka Zainuddin MZ mati meninggalkan sepercik iman pada para pendengarnya. Dan hari ini, iman itu datang pada siang yang benderang, yang mana ceramahnya lebih abadi dibanding si empunya. Iman itu datang dan diperdengarkan ditengah keluarga kecil dengan rumah yang mendekati defenisi gubuk itu. Siang ini, di keluarga itu- yang di bawah atapnya terputar rekam suara da’i sejuta ummat itu, yang dibawah atapnya tak ada penandaan akan kesan seperti sebuah rumah selayaknya; TV, Refrigerator, ac, mesin cuci, seterusnya dan seterusnya, yang hampir seluruh bangunannya tersusun atas susun seng-seng bekas- mengisyaratkan bahwa iman bukan soal untuk di perdebatkan, yang mana iman dengan legowo mesti di terima tanpa  harus mengikutsertakan keraguan.

Mungkin iman seperti inilah yang di kehendaki oleh kalangan sufis, iman yang datang dengan tanpa keraguan, sekalipun itu menghendaki penjelasan, sebab iman yang disertai penjelasan adalah iman yang belum penuh seluruh, yang mana kejelasan masih dalam rangkai yang terpotong. Iman dalam  bentuk seperti ini adalah iman yang menerima kehadiran yang ilahiat, dengan tuhan sebagai yang berada pada segala kehadiran yang temporal. Dengan begitu, maka hidup hanyalah bagaimana menjalankan apa yang telah diyakini betul untuk menjalani lakon yang telah diberikan.

Entah apakah keluarga kecil itu tahu, bahwa apa yang mungkin saja mereka yakini pernah menjadi diskursus yang hidup sampai saat ini. Perbincangan tentang hal yang absolut; ihwal yang akhirnya membentuk gugus yang diyakini sebagai pegangan hidup. Iman sebagai pegangan hidup, agaknya bukanlah sebuah kongklusi yang final, yang sebelumnya lahir dari bentuk pikir yang rigoris. Iman seperti ini, nampaknya dimulai dan diakhiri dengan kepastian yang bisa berujung pada konsep yang tunggal, dan sejarah punya kisah tentang itu, bahwa demi yang tunggal itu, manusia membangun tiang pancang dan tembok kokoh untuk melindungi keyakinan yang absolut.

Maka pada keluarga kecil itu, saya teringat tentang sebuah pengertian iman yang lain, bukan iman yang padu kemudian berhenti pada titik yang pasti, melainkan iman yang seringkali harus patah ditengah jalan dan ditata pada langkah yang selanjutnya, dan begitu seterusnya, sebuah jalan yang tak punya ujung, iman yang bukan sekedar komitmen untuk benar, melainkan iman yang sedianya bisa bangkit untuk di susun kembali, dimana merupakan suatu penerjunan diri ke dalam suatu proses yang sepenuhnya berlangsung dalam hidup, dengan segala gejolaknya.

Iman seperti ini, mungkin bukanlah iman yang dipahami sebagai sebentuk pegangangan pasti bagi orang-orang yang menghendaki defenisi. Dimana terkadang dan barangkali sudah jadi sifat defenisi; membatasi. Sebab kita tahu, pekerjaan defenisi menghendaki penyingkiran akan adanya pengertian yang berbeda untuk di universalkan. Dan disinilah sebabnya, sesuatu yang universal menghendaki hilangnya semangat partikularitas. Seperti keluarga kecil itu; iman bukan soal yang rapat dan mapat pada defenisi teologis yang tak menerima perbedaan pengertian iman. Sebab barangkali bagi mereka iman itu sederhana. Seuatu yang tinggal dijalani.[]

Karunrung, 26 Maret 2012.

Pengantar; Jejak Dunia yang Retak

… Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tetapi tidak gampang untuk diam… kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu pada saat seperti ini, hanya ada mendung atau hujan., atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki…
(Goenawan Mohammad)

Apa yang paling indah dari merangkai pengalaman yang dengannya kita mampu menyublim pelajaran. Suatu perjalanan hidup yang temporal, yang lekang oleh waktu, ruang adalah dimensi yang harus dilewati. Manusia berusaha keluar dari sifat temporalnya menuju ihwal yang mengisyaratkan akan sesuatu hal yang transenden. Dikatakan demikian karena terkadang pada pengalaman; hiruk-pikuk keramaian, sunyi-sepi kesendirian, di mana manusia bisa bermetamorfosa menjadi makhluk “yang lain” dengan aktivitasnya yang hendak mengalami hal-hal yang transenden.

Dahulu, orang Yunani menyebut aktivitas  semacam itu dengan Theoria. Theoria bagi orang-orang Yunani erat kaitannya dengan tema-tema kosmologis. Melakukan theoria, merupakan kegiatan tertinggi manusia, karena berarti mengaktifkan logos, suatu percikan Ilahi yang ada dalam diri manusia. Orang-orang yang melakukan aktivitas theoria kerap dinamakan sebagai filosof.  Sebab, biasanya filosof punya hal yang lain yang tak dimiliki oleh orang kebanyakan, yakni pengalaman akan hal yang sublime.

Kami tidak ingin menyebut diri sebagai filosof dengan pengalaman keseharian, tapi penulis meyakini bahwa setiap pengalaman yang mempunyai kedalaman memiliki sisi filosofis. Pengalaman yang berserakan dihadirkan menjadi sesuatu yang utuh dalam rentetan kata-kata. Kami pula meyakini bahwa tutur perlu untuk dituliskan agar ia tidak terlupakan dan berlalu begitu, agar ia “abadi”, sehingga besar harapan kami bahwa kehadiran buku sederhana ini dapat berkontribusi di setiap ruang dimana ia hadir.

Penulis menyadari bahwa rekam jejak dalam buku ini, mungkin “ada yang retak”. Karena bermula dari ide-ide yang tidak utuh dan sederhana serta berserakan, yang diperoleh dari pertautan penulis dengan habitusnya. Ide dalam buku ini jauh dari kesempurnaan karena ide memang tidak pernah utuh sebab ide yang utuh petanda stagnasi. 
Sebagaimana  judul buku ini: Jejak Dunia yang Retak.
Mengapa dunia Retak ?

Dunia adalah tempat kita hidup, namun dunia tak mesti dipahami sebagai entitas yang taken for granted hasil kreasi Tuhan, tapi dunia juga dapat dipahami sebagai perwujudan pengalaman manusia terhadap apa yang sedang dihadapi. Realisasi daya kreasi manusia terhadap alam yang didiami, dengan membentuk realitas baru yang belum tercipta sebelumnya. Maka dunia di sini bukanlah dunia yang diterima begitu saja, melainkan hasil karsa dari keterlibatan manusia sebagai subjek dengan dunia.

Pada momentum inilah kehendak manusia sebagai subjek memiliki peran, berusaha mengartikulasikan harapan dan cita-citanya untuk dibumikan menjadi hal yang kongkret. Namun pada zaman sekarang, kata Henri Levebre, tak ada ruang yang absen dari politik, dan kita pun tahu kapitalisme dengan peran politisnya banyak mendominasi kehendak umum manusia. Membentuk kesadaran massal berdasarkan agenda-agenda politis dalam rangka memonopoli dunia, yang pada akhirnya manusia kehilangan kehendak dasarnya, tergantikan dengan nalar kapital yang diinternalisasi berdasarkan permainan sistem yang berkelindan melalui hegemonisasi. Maka dari itu, dunia tak lagi milik Tuhan semata, melainkan harus berbagi jatah dengan kapitalisme, “tuhan” era modern.

 Dunia yang retak adalah dunia yang terkonstruk oleh subjek, di mana nilai kemanusiaan telah terkikis. Dunia yang memposisikan manusia layaknya mesin, dengan kata lain manusia tidak lebih dari struktur materi semata. Keretakan dunia dinikmati begitu saja tanpa sebuah jeda untuk interupsi dan melihat kembali, lalu bertanya. Apakah dunia ini sudah berjalan sebagaimana semestinya?. Dunia yang retak mungkin seperti yang disinyalir oleh Anthony Giddens sebagai dunia yang tunggang-langgang; lepas kendali.

Kumpulan tulisan ini, hendak merekam jejak retakan yang dianggap lumrah yang sebenarnya bukan hal yang biasa. Kehadiran buku ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah menemani, memberi serta berbagi pengalaman kepada kami. Kepada kedua Orang tua dan Keluarga. Kepada para mentor; Ahmad Syauwq, Sulhan Yusuf, Hamzah Fansury, Ipal, ustad Zainal (Alm), yang banyak mengajari kami untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kepada Sahabat; Sabara Nuruddin, Alto Makmuralto, Waliyul Hamdi, Muhammad Nur, Syamsuriadi Tambur, Safaruddin, Arman Syarif, Joe Fals, Rahmat Zainal, Idham, Sasli, Andi lambau, Ilman Derajat, Juned, fery Fefrika, Rido, Zainal As’ad, Bahrawi Zakaria, Adhy Manyipi, Ashari Burhan, Sukaina Nainawa, Asranuddin Pattopoi serta teman-teman yang tidak sempat disebutkan satu persatu, pastinya bahwa kehadiran kalian menemani kami berdiskusi, bercanda, menertawakan hidup itu sangat berarti.

Kepada anak-anak LDSI Al-Muntazhar yang sedang menanti, Komunitas Maya Tanah Merah, Komik, Muqaddimah, Madipala FIP UNM, LKIMB UNM, HMI (MPO), Paradigma Group, BEM dan MAPERWA UNM, SMART EM. Terima kasih khusus untuk mas Eko Prasetyo dan Daeng Dul Abdul Rahman atas kesediaanya memberi prolog dan epilog pada buku ini.   

Wassalam,
Makassar, 30 April 2012

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...