31 Desember 2014

Michel Foucault dan Kelahiran Klinik

Biografi dan Konteks Intelektual

Foucault lahir di Poitiers, Prancis pada 15 Oktober 1926. Ia berasal dari keluarga yang berlatar pendidikan medis, hingga bagi orang tuanya, Foucault diharapkan untuk memilih profesi yang sama. Tetapi studi filsafat, sejarah, dan psikologi menjadi pilihan utamanya, walaupun kelak pemikiran-pemikirannya banyak berkaitan dengan bidang medis, khususnya psikopatologi.

Dalam mendalami Studi filsafat dan psikologi di Ecole Normale Superiure, ia bertemu dengan Louis Althusser yang sekaligus memperkenalkannya kepada pemikiran marxisme strukturalis; kemudian mendalami filsafat Hegel di bawah bimbingan Jean Hyppolite; dari Georges Canguilhem tentang sejarah ide; dan Georges Dumezil membuat Foucault tertarik dengan sejarah mitos-mitos, seni dan agama. Pada 1946 ia menyelesaikan pendidikannya dan menerima lisensi filsafat pada 1948 dari Sorbone dan dua tahun kemudian memperoleh lisensi dalam bidang psikologi. Ia juga mendapat diploma dalam psikopatologi.

Karir akademisnya diawali dengan menjadi staf pengajar di Universitas Uppsala, Swedia untuk bidang sastra dan kebudayaan Prancis (1955-1958), juga menjadi dosen di berbagai universitas di Prancis. Sempat juga terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Parai Komunis Prancis hingga 1951. Selama periode ini, Ia kemudian menerbitkan karya monumentalnya “Historie de la Folie al’age Classique” yang lebih dikenal dengan “Madness and Civilization” (Peradaban dan Kegilaan).

Melalui konteks karyanya kelak, alam pemikiran Foucault menunjukkan bermacam-macam minat pengetahuan yang menjadikan dirinya sebagai salah satu pemikir yang provokativ dan sulit dipahami (Ritzer, 2008). Tetapi selain dari Ide-ide Marxian melalui alur pemikirannya, ia banyak bersentuhan dengan teori rasionalisasi Weber yang ia sebutkan hanya ditemukan pada “tempat-tempat kunci (key sites); pendekatan hermeneutika dalam melihat fenomena sosial yang menurutnya problematis; pengaruh fenomenologi dengan cara penolakannya terhadap ide-ide otonomi subjek; dan yang paling penting adalah pemikirannya yang kuat terhadap beberapa minat Nietzsche terhadap kekuasaan dan pengetahuan. Input teoritis yang beragam ini akhirnya menempatkan ia sebagai seorang poststrukturalis (Ritzer, 2008).

Melalui Madness and Civilization, Foucault persis seperti menara yang menjulang akibat ketenaran dari tulisannya. Sejak penerbitan buku itu, perhatian terhadap gejala penyimpangan, yang juga sejarah psikiatri, ilmu kedokteran, psikopatologi, kriminologi dan seksualitas telah menjadi kajian yang kompleks saat diperhadapkan kepada tahap masyarakat dan tahap pemikiran. Begitu juga sebagaimana deskripsinya tentang perilaku aneh dengan kaitannya terhadap siksaan sadis melalui cara-cara yang ekstrem, dimulailah sebuah tahap ilmiah yang menghubungkan gejala inhumanitas dan humanitas sebagai bagian dari pengamatan sosial (Kurzweil, 2010)

Cara Kerja Foucault

Tindak baca Foucault atas sejarah peradaban barat terutama pada tema-tema perilaku menyimpang dan sejarah klinik, dilakukan berdasarkan metodelogi genealogidan arkheologi pengetahuan yang terungkap melalui kategori yang ia cetuskan. Dalam Madness and Civilization, Foucault mengujicobakan pendekatannya melalui pembacaan kondisi sejarah yang memungkinkan terjadinya kelompok-kelompok masyarakat terpusat melalui kategori kekuasaan selama masa abad pertengahan hingga pencerahan.

Dari tindak pembacaannya, Ia menemukan bagaimana kekuasaan menormalisasi kelompok marginal; orang berpenyakit lepra, orang gila, kaum miskin dan pengangguran melalui modus yang memperantai bagaimana cara kerja kekuasaan diberlakukan dalam skema pengetahuan dan kedokteran melalui diskursus.

Unit analisis diskursif sekitar kekuasaan dan pegetahuan dinyatakannya melalui bentuk-bentuk pengetahuan yang menyertakan kualitas moral dari kekuasaan itu sendiri. Melalui cara ini, kekuasaan mengkondisikan fungsi otoritasnya dalam mengatur praktik-praktik, aturan-aturan, pernyataan-pernyataan yang berhak beroperasi di dalam lingkungan dominasi kekuasaan.  Dari tema ini diskursus dapat diartikan sebagai “kelompok pernyataan yang memililiki sistem formasi tunggal” (Ritzer, 2008).

Diskursus dalam beberapa pengertiannya dipadankan dengan arti ideology. Penggunaan ini seperti ungkapan Eagleton adalah usaha Foucault untuk menghindari pemakanaan ideologi yang bias dari sebelumnya. Tetapi dari yang diberikan Eagleton, diskursus yang diperantai antara relasi kekuasaan sebenarnya selalu dimediasi melalui bahasa dan dibentuk oleh bahasa. Sehingga penggunaan diskursus lebih tepat digunakan dalam menjelaskan relasi struktural bahasa dalam mediasi kekuasaan (Bagus Takwin, 1999)

Ada empat artikulasi Foucault yang prinsipal dari arkeologi pengetahuan dengan membedakannya dengan sejarah ide untuk memahami diskursus;

Pertama. Arkeologi tidak mengupas “pemikiran, representasi, pencitraan yang terimplisit dalam diskursus, melainkan melihat kembali diskursus dibentuk dari kekuasaan yang menyertainya. Dengan kata lain arkeologi pengetahuan membantu kita untuk melihat diskursus itu sendiri.

Kedua. Dari dimungkinkannya diskursus yang disertai dari kekuasaan maka ia dilihat sebagai perkembangan yang memiliki kekhasannya sendiri. Ini sejalan dengan maksud Foucault untuk memahmi diskursus secara tidak langsung akan memposisikan kebenaran bukan hal yang prinsipal, melainkan adanya kecenderungan berbeda dari the other.

26 Desember 2014

Di Akhir Desember

Bagaimana kita harus memahami perbedaan? Utamanya jika diperhadapkan dengan akhir Desember. Seperti biasa, menjelang 25 Desember, hanya soal ucapan bisa mengundang perdebatan soal iman. Dengan itu kita perlu kembali mengartikan apa maksud kehidupan beragama. Dan ini tak begitu mudah, sebab agama bagi kita, bagi sebagian orang, adalah urusan yang menyertakan “prasangka”

Prasangka dalam praktik bermasyarakat akhirakhir ini memang tumbuh subur. Persis jamur yang tumbuh di musim penghujan; bermekaran, menelusup masuk tanpa tedeng alingaling. Malangnya, prasangka dengan artinya kecurigaan justru akrab dalam kehidupan kita. Kecurigaan, juga dalam sak wasangka adalah kerukunan yang tanpa moral.

Jauh di ibu kota, Jakarta, sebagai contoh, agama menjadi komoditi pengangkut prasangka. Politik direduksi sampai hanya bermakna “suka tidak suka” dan ini artinya kemunduran; kita kehilangan tatanan yang generatif mengikat atas dasar “pengetahuan normatif” Politik dengan maksud demikian menjadi medan pertautan selera. Ini persis bagaimana konsumen diasosiasikan dengan iklan dari komoditi tertentu. Politik selera, dengan caranya yang memobilisasi, memiliki iklannya yang paling jitu; agama.

Tepat dengan cara demikianlah agama bisa menyulut sekam. Tak bisa dibayangkan, di saat tatanan demokrasi dirajut di sanasini, tepat di pusat demokrasi sana, agama justru murka dengan prasangka yang dikembangbiakkan. Sehingga idaman masyarakat terbuka yang mengedepankan semangat toleran, pikiran terbuka, masyarakat dialogis dan juga modern justru hanya wacana pinggiran.

Yang menjadi paradoks dari keadaan semua itu adalah “kecuriagaan” yang hidup persis di tengahtengah masyarakat informasi yang berbasiskan kemajuan informasi dan teknologi. Di saat gerak peradaban hendak mendaku cara berpikir terbuka, justru agama nampaknya sebaliknya mempertahankan “wawasan padang pasir” yang berbasis kesukuan. Dengan cara demikianlah agama dengan sisi sentimentalismenya menjadi komoditi yang kental dengan kedok fetisisme.

Dan “wawasan padang pasir” juga yang kerap tibatiba menilap toleransi kita. Akhir desember barangkali adalah situasi bagaimana agama kehilangan semangat kasihnya. Saya tidak mengerti jika “ucapan” yang sebenarnya adalah bahasa sosiologis selalu disandingkan persis seperti bahasa teologis. Bukan saja melalui “ucapan” kita menakar bagaimana toleransi diantara kita, justru barangkali agama kita, apa yang kita anut malah masih menyisakan jawaban yang belum tuntas kita pertanyakan.

Saya juga tidak mengerti, hanya karena bertoleransi, iman kita dipersangkakan. Dari agama, pengetahauan kita dibentuk hingga menjadi wawasan tentang ruang sosial dan segalanya. Dari cara ini, pengetahuan kita bersumber dari apa yang kita anut, apa yang kita yakini. Juga mereka, dengan pengetahuan yang berbeda, berasal dari keyakinan yang dianut. Maka wajarlah jika apa yang memotivasi kita dan seperti apa tindakan kita itu bisa berbeda, justru karena sumber kita yang berbeda. Lantas atas dasar apa keyakinan kita dianggap benar, dan selain dari kita dianggap menyelisih?

Maka ini sebenarnya perkara moral, bukan sesiapa benar sesiapa salah. Malah lebih berarti kenapa kita enggan salah. Atau lebih tepatnya kenapa kita tidak ingin menerima perbedaan? Janganjangan, apa yang selama ini dianggap benar adalah keyakinan yang tak kita gugat sebelumnya? Atau barangkali kita adalah orangorang yang kehilangan pegangan, tepat setelah kita mengatakan mereka salah?

Bagaimana kita harus memahami perbedaan, jika kosakata dalam praktik bermasyarakat selalu ditafsirkan melalui monolog agama? Sesungguhnya dalam yang semacam itu adalah pertunjukan yang sunyi tepuk tangan. Kenyataan masyarakat justru membutuhkan banyak riuh, gegap warna yang persis sebuah sirkus; keceriaan. Bukan sejenis aksi teatrikal yang minim suara. Minim dialog.

Justru saya ingin merasakan akhir Desember, persis saat saya tumbuh di tengah keanekaragaman keceriaan. Saat 15 tahun lampau ketika saya memahami ada tuhan yang lain. Ada pemeluk keyakinan yang lain, tetanggatetangga saya, sahabat dan temanteman saya juga orangorang kebanyakan. Saat demikianlah saya bisa memahami betapa di akhir Desember bukan tanpa dialog, justru pasca sebuah ucapan selamat, kita menjadi beriman.[]

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...