05 April 2016

catatan kelas menulis, pekan 11

Lisan

Sebuah getaran keluar dari mulut
Dari leher turut decak yang ingin meluap
Menggemakan wicara bak pesulap

Tadinya dia hanya gesekan paruh dan rongga,
Kemudian terluah dalam bahasa
Kini gelombang punya rona
Sama ketika frekuensi mencipta bahasa pesona
Aku ringkih mendengar sebuah suara
Pagut memagut, mesti takut
Memaksa ikut

Itulah lisan yang nista
Mencuri hati lalu mematahkannya

Kirakira tak ada yang salah dalam puisi. Yang diperjuangkan dalam puisi bukan dunia faktafakta. Penyair bukan mau mengambil peran seorang wartawan, yang harus menulis sesuai realita yang ditemukannya. Atau seperti ilmuwan yang melihat relasi asumsi antara satu proposisi sesuai kaidah logika sebagai kebenaran. Akibatnya yang esensil dalam puisi bukan kebenaran, tapi kebermaknaan. Puisi berjuang dari "dunia dalam", makanya dia begitu subjetif. Namun, tidakkah dia bisa menjadi objektif? Entahlah, bukankah yang objektif itu kerap hanya terma sesat atas ilmu pengetahuan? Lalu, bagaimanakah puisi harus diapresiasi?

Puisi di mana pun pasti punya makna kedua. Ini biasa disebut makna simbolis. Mengacu dari konsep alegori, puisi menyimpan suatu dunia yang nirkatakata. Suatu dunia maknawi, dunia simbolsimbol. Artinya, bahasa puisi bahasa polisemi. Bahasa puisi bahasa yang mendua. Puisi, syair bahasa yang menyiratkan banyak arti. Itulah sebabnya, puisi bukan bahasa ekposisi, dia bahasa simbol.

Barangkali, karena itulah suatu soal timbul. Bagaimana cara menilai puisi. Haruskah dia ditempatkan di dalam suatu penyelidikan ilmiah; mengecek korelasi katakata dengan makna semantiknya, atau memang ada prosedur yang tepat guna menilai puisi.

Problem ini jadi panjang di kelas menulis PI. Pemicunya puisi di atas milik Sandra Ramli. Kawankawan, bukan penyair apalagi sastrawan, dibuat bingung. Puisi, di kelas, salah satu jenis karya yang masih gelap. Akibatnya sering kali puisi dianggap tulisan sampiran. Padahal, di kelas, setiap tulisan harus dianggap penting. Itulah mengapa perlu ada porsi yang sama ketika ada kawankawan menulis puisi. Puisi, seperti genre tulisan lain juga karya tulis. Makanya, di kelas dia harus diapresiasi.

Bentuk apresiasi juga jadi soal kedua. Mestikah ada bentuk kritik buat puisi? Kalau ada, kepada apa kritik diajukan? Kepada bentuk atau pilihan diksinyakah? Proses kreatif atau motif kepenulisannyakah? Ataukah yang lain dari itu semua, kepada apa model sastra suatu puisi disematkan? Dengan kata lain, di kelas, belum ada perangkat penilaian yang memadai soal apresiasi puisi.

Akibatnya, puisi, atau sejenisnya kurang mendapatkan tempat di kelas. Kondisi ini tidak mesti dibiarkan. Sebab, kadang puisi hanya dibaca sekali setelah itu dilewatkan. Tak ada ruang sama seperti jika esai dinilai. Makanya, ini harus diubah. Biar bagaimanapun puisi juga mesti diapresiasi. Entah bagaimana modelnya.

Di konteks itu justru dibutuhkan kawankawan yang punya basic ilmu sastra. Sebelumnya ada Muchniart, yang bisa menilai seluk beluk suatu karya. Atau setidaknya memberikan gambaran kepada kelas soal kesusastraan. Tapi, belakangan ini Niart, begitu sering dipanggil, jarang bertandang di kelas. Selain Niart, entah siapa yang punya bacaan kesusastraan yang memadai.

Tapi, pasca disoal, akhirnya puisi memang berbeda dengan genre sastra lain. Bahkan, setiap genre sastra punya karakter dan bentuk berlainan. Itulah sebabnya, cara menyikapinya juga berbeda. Makanya, puisi harus diperlakukan berbeda. Dia punya cara tersendiri dan sikap tersendiri.

***

Maret berakhir dengan hari yang lapang. April datang bersamaan hujan yang ritmik. Mendung bagai selimut di atas langit pekan pertama April. Hujan tetiba jatuh tanpa bisa ditampung. Jauh di Pabbentengang tempat kelas sering dibuka, barangkali masih kosong. Hujan, menunda langkah, setiap mata hanya sampai di daun pintu. Melihat langit yang tetiba kelabu, berharap hujan segera berhenti.

Kala sudah siap pasca dicetak. Selebaran yang kali ini dicetak hanya sebelas eksemplar itu dimasukkan dalam tas. Hujan, yang beberapa saat lalu mereda jadi pantangannya. Kala, sedikit saja tersentuh air, dia luntur. Maklum tinta print, bukan jenis tinta yang sering dipakai media cetak. Makanya satu kelemahan Kala, dia tidak kedap air. Karena itu, Kala mesti diperlakukan spesial. Hatihati.

01 April 2016

Kematian

Kematian memang peristiwa yang dahsyat. Dia membelah habis "yang ada" menjadi "tiada". Kedatangannya memutus ujung "yang ada" tanpa sisa. Kadang kematian datang menghentak pada situasi yang paling senyap, mengiris "yang ada" diamdiam. Bahkan, di sudut penuh suara, kematian bisa memukul habis "yang ada" dengan sekali tebas.

Berkat caranya itu, juga kematian akhirnya menjadi peristiwa misterius. Dia, sebuah peristiwa yang tak didugaduga. Peristiwa tak disangkasangka. Akhirnya, orangorang yang ditinggal pergi harus mafhum, kematian pada akhirnya adalah cara manusia melintas ke alam "seberang".

Kiwari, betapa banyak orangorang mati sepanjang titimangsa. Kadang akibat derita penyakit yang menggerogoti tubuh, membuatnya melapuk dan ditinggal membusuk. Kadang juga akibat jiwa tua yang tak mampu ditampung tubuh yang renta. Terlebih lagi akibat perang yang mengoyak dan membakar tubuh jadi amis. Akibatnya, banyak mata yang sembab karena tangis, juga tidak sedikit duka dibuat berkepanjangan.

Kematian dengan begitu adalah kejadian yang mendaur ulang kehidupan. Merotasi yang pergi dan yang datang, sebab di ujung kematian merupakan suatu awal bagi yang lain. Begitulah, kematian dan kelahiran adalah dua mata alam yang terus bekerja sebagai hukum abadi.

Heidegger, filsuf eksistensialis Jerman menyatakan, kematian bahkan sudah "diemban" semenjak manusia masih bayi. Bahkan kehidupan disebutnya sebagai sein-zum-tode, ada-menuju-kematian. Suatu keadaan yang tak terhindarkan dan telah tertanam di dalam kehidupan itu sendiri. Karenanya, kehidupan menjadi berarti akibat kematian yang menganga di ujung suatu titik. Kematian akibatnya adalah peristiwa alami yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi asasi.

Artinya, semenjak tubuh manusia keluar dari alam rahim, suatu fase di mana tubuh manusia masih begitu muda, di situ sang maut, mahluk yang bersemayam di alam duka, sudah bersamanya semenjak asal. Sang kematian dengan begitu, sedari awal turut ikut menggerayangi tubuh yang tumbuh, langsung dari dasar keberadaan manusia . Di saatsaat itulah, kapan saja kematian, yang identik dengan maut itu, bisa datang memisah tubuh dari jiwa dari dalam. Merampasnya dari segala macam ikatan.

Itulah sebabnya, hidup akhirnya jadi sesuatu yang berharga. Suatu keadaan di mana manusia harus menaruh mawas terhadap kematian. Heidegger bilang, hanya manusialah yang mengalami kematian. Karenanya, kematian satusatunya penanda otentik, keaslian, seseorang. Sebab, yang lain -entah hewan juga tetumbuhan, atau seluruh keberadaan selain manusia hanya bisa mengalami kepunahan. Kematian, yang khas manusiawi hanya kepunyaan manusia itu sendiri. Dan, karena keberadaan manusia sejak asal sudah dibayangbayangi kematian, maka tiada lain suatu cara harus ditempuh untuk menyambutnya; kecemasan.

Kecemasanlah suatu sikap yang membuat manusia akhirnya mesti bertindak memasuki genangan paling dasar dalam keberadaannya. Di situ dia akan bercengkrama dengan suatu pemikiran bahwa titik akhir adalah suatu fenomena yang samarsamar di ujung sana, sesuatu yang tak didugaduga keberadaannya. Kematian, karena sudah dimulai semenjak kelahiran itu sendiri, akhirnya bukan suatu titik akhir, melainkan rentang panjang manusia dalam waktu untuk menyambanginya. Di saat menyambut kematian itulah, yang tidak disangkasangka kapan terjadi, kecemasan membuat manusia menjadi sadar, bahwa berpikir tentang kematian pada akhirnya memikirkan kehidupan itu sendiri.

Akibatnya, kematian dengan begitu adalah peristiwa kehidupan manusia dalam kecemasan masingmasing. Itulah mengapa, kematian menjadi tanda keontentikan manusia. Peristiwa kematian, bukan peristiswa yang bisa disematkan kepada orang lain. Kematian, kejadian yang membelah tubuh dan jiwa itu, adalah peristiwa paling sunyi di dalam kecemasan seorang belaka, suatu peristiwa pribadi. Dia adalah satusatunya tindakan manusia di tengah alam kesendirian. Suatu laku keontentikan.

Maka siapa yang bisa menolak kematian jika itu tanda keaslian manusia. Seperti saat manusia datang dengan tubuh yang mungil dari alam kesendirian, kematian adalah cara hidup manusia menuju kesendirian yang asli, saat dia mencapai batas antara yang ada dengan yang tiada.

Tapi malang, kadang kematian dibuat jadi tidak khidmat. Kematian dengan cara begitu adalah kematian yang dipaksakan. Kematian yang terpaksa dan dipaksa, akibat seringkali dibuat antikemanusiaan dengan beragam pseudo ismeisme. Atas nama negara, ideologi, juga agama, kematian yang kerap ditampakkan dengan cara bom bunuh diri, perang, penyerangan, juga pengrusakan, jadi peristiwa yang bengis juga sadis. Khidmat yang menjadi esensi kematian itu sendiri, akhirnya berubah jadi peristiwa teror yang menyulut horor.

Kematian yang tidak dilalui dengan suatu sikap mawas tapi justru dengan cara destruktif pada akhirnya hanyalah cara manusia yang tidak otentik. Walaupun di situ, di balik kematian ada suatu dunia yang begitu kuat menarik seluruh totalitas kesadaran manusia, dan karenanya mendorong manusia untuk melakukan peristiwa mati, itu bukanlah sikap manusia otentik menurut Heidegger. Manusia otentik, berdasarkan horison pemikiran filsuf kekasih gelap Hannah Arendt ini adalah manusia yang selalu mawas menjalani keseharian sembari berharap atas suatu arti di dalam kehidupan itu sendiri, sebagai cara dia merawat kehidupan.

Barangkali, karena kematian begitu dahsyat, tak ada bahasa yang bisa mengucapkannya dengan baik. Kematian yang sunyi sekaligus khidmat, barangkali adalah kematian yang tak disertai bahasa. Dia terjadi saat percakapan begitu musykil, saat tatapan manusia berhenti saling silang, saat jiwajiwa dalam keadaan paling tenang, di suatu malam ketika tubuh mulai rebah tanpa digubah tangisan. Saat dia terjadi pada suatu momen tanpa orangorang tahu. Ketika dia datang bersamaan dengan jemari yang mulai dingin, dan tengkuk leher yang berubah sejuk. Saat di atas bubungan hanya putih berkilatkilat, di saat kepala tegak, juga ubunubun yang melunak. Ketika itu, kematian jadi peristiwa paling manusiawi, jadi kejadian paling sepi dalam senyap.

Syahdan, kematian akhirnya pasti datangnya. Dia memisah "yang pergi" dengan "yang tertinggaĺ". Membelah "yang ada" dengan "yang tiada". Karenanya, "yang tertinggal" pasti merasa sedih juga sakit. Membuat luka lebar akibat disayat perpisahan. Namun, "yang pergi" bersama kematian selalu menjadi pengingat, bersama kecemasan dan "yang tertinggal", hidup harus dibuat berarti. Hidup harus dibuat lebih mawas. Hidup karena itu adalah suatu bulatan sekali melingkar tanpa bisa bergerak pulang. Dengan kata lain, seperti kata syair yang diulangulang itu; "sekali berarti setelah itu mati."

30 Maret 2016

pembatas buku

Pembatas buku memang tanda suatu batas. Dia membelah satu pagina dari pagina yang lain. Membaginya jadi dua. Membuat suatu teritori antara yang "yang telah diketahui" dan "yang belum diketahui". Juga, karena itu dia sekaligus tanda keterbatasan. Dia membelah dua dimensi, dua dunia jadi tegas; rasa ingin tahu dan pengetahuan.

Tepat di antara titik itulah, pembatas buku yang seringkali punya ukuran mini itu, akhirnya jadi pengingat, bahwa manusia pada dasarnya makhluk yang harus sadar batas. Yakni, dengan kata lain, pembatas buku, entah dengan tampilan yang sering kali lucu, malah bisa berarti hal yang serius.

Itulah sebabnya, pembatas buku barangkali penting. Dia bukan sekedar penyambung ingatan terakhir ketika manusia punya ikhtiar terus menerus mengeja aksara. Tapi, secara pelanpelan dia menanamkan suatu sikap sabar, suatu nilai yang mengintrodusir manusia agar tahu apa arti suatu waktu. Yakni, di situ suatu proses kadang perlu, bahwa suatu rasa tabah atas waktu adalah jalan kecil yang mesti dilewati.

Maka dari itu siapa menyangka, pembatas buku memang semacam jangkar bagi kapal yang sedang berlabuh panjang. Dia jadi besi tua yang sering kali dilempar ke dasar samudera dalam, menjadi tungkai penghubung antara lelautan yang dalam dengan perut kapal yang terapungapung di atasnya. Siapa sangka, pembatas buku akhirnya begitu penting, kapal rasa ingin tahu dan samudera ilmu pengetahuan, akhirnya menjadi tegas batasnya.

Dulu, ikhtiar pencarian ilmu pengetahuan ditulis di atas perkamenperkamen; kulitkulit domba atau sapi yang dijadikan kertas. Atau di atas papirus yang diambil dari alangalang air yang banyak tumbuh di Eropa Selatan atau Afrika Utara. Di atasnya seluruh penemuan atas ilmu pengetahuan dicatat, disimpan, dan dirawat. Batas di situ berarti batas perkamen itu sendiri. Kala suatu tulisan habis dicatat akibat perkamen yang juga terbatas ruangnya, maka dengan sendirinya batas juga berlaku di situ.

Barangkali lewat itu muncul batasan ilmu pengetahuan, bahwa ilmu (yang ditulis) seluas apa yang ada (ukuran ruang perkamen). Jadi, ilmu hanya mungkin ketika dirinya diungkapkan di atas medan yang tersedia. Ilmu, hanya tersampaikan sejauh dia menempati ruang sebagai wadahnya. Akibatnya, ilmu paralel dengan apa yang ada. Belakangan yang "ada" ini berkembang menjadi dari "dunia yang teramati", "dunia yang dipikirkan", sampai "dunia yang terimajinalkan", suatu "alam" yang maha luas. Suatu dunia yang tak kenal batas.

Tapi akibatnya, manusia sering kali salah, ilmu bukan apa yang ada di  suatu "alam" tak terpemanai, ilmu hanyalah hasil tangkapan dari "ada" yang maha tak mengenal batas itu. Ilmu, kata orangorang Yunani adalah hasil dari "legein"; suatu aktifitas mengikat sesuatu, mengumpulkan sesuatu. Belakangan, dari kata itulah logos diambil.

29 Maret 2016

gambar

Suatu gambar, saya kira, bisa menjadi semacam lorong waktu. Dari situ tercipta jembatan ingatan yang tibatiba berakhir pada sebuah daratan peristiwa. Makanya, ketika sampai, daratan yang telah lama jadi silam, juga sekaligus berubah asing. Berbeda.

Itulah sebabnya, mengapa kenangan menjadi peristiwa yang menghentak. Dari suatu gambar, kembali bergerak adegan demi adegan, kejadian demi kejadian, barangkali juga perasaan demi perasaan, yang membuat suatu jarak nampak tegas membelah masa lalu dan masa kini.

Kadang karena itu suatu tujuan bisa jadi tegang; sudah sampai di manakah sekarang? Biasanya, jika suatu tujuan jadi genting akibat masa kini yang melenceng, "aku" sebagai pusat, yang selama ini jadi sandaran segala hal, harus disoal kembali.

Soal itu pada akhirnya barangkali berbunyi; siapakah aku ini, di antara kerumunan orangorang? Siapakah aku sekarang, yang bergerak dari pengalaman dan kenangan? Siapakah aku ini, yang kadang lupa bahwa hidup berarti bukan sekedar apa tapi mengapa? Siapakah aku ini, yang berdiri di atas debu dan di bawah semesta galaksi?

Saya rasa memang hidup harus membuka segala jeda. Di situ, seringkali yang esensil bukan sekedar titik yang dikepung keramaian. Yang esensil, kadang karenanya adalah seinci celah untuk diintip dengan kesunyian. Yang esensil, kerap memang jadi inti yang asing dari hiruk pikuk, maka karenanya butuh sepengalaman tersendiri. Butuh aku yang polos, tanpa apaapa.

"Aku" yang polos itulah barangkali sering muncul saat suatu gambar dilihat bukan sekedar jutaan warna. Melainkan dari aku yang polos, gambar bisa berubah lain. Dia jadi ujud yang bicara. Mungkin, karena memang demikian, orangorang sering dibuat sedih jika melihat sebuah peristiwa direkam.

Suatu gambar barangkali hanya merekam yang tampak di depan. Toh jika suatu dimensi di ruang belakang berhasil ditangkap, gambar selalu menaruh fokus apa yang tampak paling di depan. Artinya, gambar hanyalah gambar. Dia tidak mewakili berbagai macam dimensi yang direkamnya. Dia hanya replika.

28 Maret 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 10

Harus saya akui, kali ini redaksi Kala teledor soal cetakan edisi 10. Di terbitan tertanggal 27 Maret itu, judul kolom khusus kepunyaan Sulhan Yusuf salah cetak. Tulisan yang seharusnya berjudul Arsene, Arsenal, dan Arsenik, malah jadi Arsene, Arsenal, dan Arsenal. Ini gawat, malah justru fatal.

Saya kira, di sini harus diakui, redaksi Kala belum punya prinsip kerja yang matang. Jika Kala mau dibilang media, redaksi Kala malah belum punya sistem. Media manapun, seharusnya punya mekanisme kerja yang jelas, semacam standar operasional kerja. Kala, jika disebut media, harus punya redaksi yang mapan. Atau, setidaknya, untuk ukuran buletin sederhana, bahkan selebaran, harus punya orangorang yang berpengalaman.

Kenyataannya, Kala bukan media mulukmuluk. Kala, hanya kertas dua tulisan yang terbit di akhir pekan bagi kalangan terbatas. Bahkan, sekali lagi, Kala hanya selebaran sederhana dan nyaris dengan tampilan yang monoton. Kala, dengan kata lain hanya selembar kertas berisikan tulisan hasil kelas literasi yang sudah berjalan hampir setengah tahun. Kala, dengan begitu hanya media yang sedang mencari pengalaman. Dari pengalaman minim itulah redaksi Kala bekerja. Juga, dari situ teledor itu datang.

Akibatnya, perlu ada kritik, terutama kepada mekanisme kerja redaksi Kala. Di sini, kalau mau diperjelas, redaksi Kala, secara teknis hanya saya seorang. Sehingga, kalau mau menyebut siapa yang teledor, bukan sistem atau semacam dewan, melainkan saya belaka.

Kesalahan atas sesuatu adalah hal yang lumrah, tapi jika itu datang dari suatu kerja yang lumayan sering, saya kira, itulah yang disebut teledor. Makanya, melihat hal yang tak diduga dari suatu usaha yang berulangulang, dan pada akhirnya tidak sesuai standar, di situ suatu prinsip kerja harus segera dievaluasi.

Konon, mediamedia besar, hanya soal editing bahasa dan tulisan harus melewati banyak meja -ada yang menyebut lima sampai enam meja. Di ruang kerja media, meja sama artinya dengan sepasang mata cekatan yang sudah akrab dengan berjuatjuta huruf. Artinya, jika ada lima meja, di situ berarti ada sepuluh mata mawas. Bahkan, sebuah meja berarti suatu sistem kerja. Di ruang kerja mediamedia, sebuah meja malah jadi suatu tekhnik evaluasi dan editing itu sendiri.

Bisa ditebak, dari setiap meja dengan mata yang cekatan, dan lima sampai sepuluh kali dibaca per mejanya, setiap tulisan yang masuk siap jadi objek tanpa cela. Dari mekanisme editing semacam itu, ada space yang lebar bagi setiap tulisan melewati proses yang begitu selektif. Akibatnya, tulisan dengan cara demikian menjelma karya siap baca.

Dulu saya pernah kerja beberapa lama di salah satu media di Makassar. Setiap malam, sebelum naik cetak setiap berita disorot, dilihat kesalahan ketik atau semacamnya. Kala itu setiap berita yang diperiksa dibaca setidaknya tiga orang. Jika menemukan typo, kesalahan pengejaan, istilah asing, atau ketidaklaziman sesuai standar ejaan, maka itu dibulati, diberikan tanda dengan tinta merah. Bahkan beberapa di antaranya diberikan semacam catatan kecil sebagai keterangan perbaikan. Kalau sudah, hasil print out beritaberita itu diserahkan ke bagian layout, dari situ tugas langsung layouter sekaligus memperbaiki kembali. Alhasil, cara seperti itu efektif jadi mekanisme editing sebelum berita betubetul naik cetak.

Kala, akibat tidak punya mekanisme macam itu, membuat setiap tulisan nyaris tak berubah. Kala, juga tidak punya banyak meja sebagai space editoringnya. Meja di Kala bahkan nyaris bukan sebagai sistem kerja. Dengan kata lain, redaksi Kala hanya memanfaatkan sepasang mata jika mau mengedit suatu naskah. Akibatnya, dari mata yang minim pengalaman itu, suatu tulisan akhirnya nyaris tetap sama sekali pra dan pasca editing. Bahkan, untuk kasus kali ini, justru itu berubah jadi kesalahan.

Tapi, keteledoran dengan sendirinya tak bisa dimaafkan. Kala, biar bagaimana pun harus berkembang dari waktu ke waktu. Soal judul yang akhirnya berubah redaksi bukan perkembangan, itu kemunduran. Makanya ini gawat, sekaligus juga fatal.

***

Menulis barangkali ibarat jalan pulang ke dunia yang pernah disinggahi namun asing. Di sana, suatu keadaan samarsamar digenggam buat ditulis kembali. Menulis berarti kembali dari dunia samar untuk suatu kabar kepada khalayak, juga sebagai tanda bahwa kita belum lupa.

Azan magrib bergelantung di langit jatuh merembesi setiap bilik. Menggema di bawah atap di saat lampulampu mulai dinyalakan. Bersamaan dengan itu kelas dipending. Orangorang bergegas, mengambil jedah. Sebagian lain memilih dudukduduk membaca, sebagian yang lain memilih meninggalkan kelas menuju asal suara.

Kala sekira pukul 20.00, piringpiring dikeluarkan dari bilik belakang. Gelasgelas berdenting. Kertaskertas yang berserakan disingkirkan. Waktunya makan malam. Seperti biasa makan berjamaah. Semua lahap. Semua kenyang.

Tak lama forum dilanjutkan kembali. Kali ini giliran Nain membacakan tulisannya. Dari bacaanya, dia mengisahkan hasil pertemuannya dengan seorang mantan PSK. Dia bilang, tulisan ini lahir dari ingatan yang sudah lama tersimpan. Di pertemuan yang sudah silam itu, Nain menuliskan kembali sepenggal kisah Ibu dua orang anak itu. Katanya, mantan PSK ini sudah berkeluarga, sudah punya suami. Dia juga bilang, mantan PSK itu, hari ini sudah berumur, makanya dia tinggal di panti rehabilitasi. Nain bercerita di akhir tulisannya, Ibu yang seharihari menjahit dan melakukan aktifitas kreatif lainnya itu ingin bertobat. Mizari, begitu nama PSK itu dulu bilang, "mauka berubah Nak". Begitulah akhir tulisan yang dibuat Nain.

Tapi, sebelumnya ada soal yang memicu perbincangan. Perkara itu dipicu oleh tulisan Sandra yang dinilai di luar kelaziman. Tidak sedikit kawankawan harus pelanpelan mengeja jika mau tahu pesan apa yang ditulis Sandra. Juga sering kali, pasca Sandra membacanya, beberapa pertanyaan diajukan untuk mengetahui maksud kalimatkalimat yang mengandung banyak peristilahan. Sandra bilang, dia memang agak kesulitan menulis tulisannya yang sudah ditinggalnya beberapa lama. Juga, agak susah ketika menyambung tulisan yang memang sudah dipisah oleh dua situasi yang berbeda. Itulah sebabnya, tulisannya itu membuat kawankawan sulit menangkap pesan apa yang mau disampaikan.

Di satu sisi, setiap tulisan mewakili satu gaya. Bahkan setiap tulisan mengandung satu cara penulisnya menyatakan identitasnya. Soal ini saya kira dialami oleh kawankawan kelas menulis PI. Sandra, kali ini menyetor tulisan yang memang agak berbeda. Penggunaan bahasanya banyak menggunakan istilahistilah asing. Bahkan hubungan semantik dan sintakmatik dalam kalimatkalimatnya terkesan di luar ukuran standar. Tulisan Sandra, kalau mau dipahami, termasuk jenis tulisan yang membutuhkan penulis sebagai penafsirnya sendiri. Artinya, tulisan Sandra hanya bisa diketahui maknanya sejauh penulisnya turut hadir di belakangnya.

Saya kira, setiap tulisan harus mampu menyeimbangkan dua hal; isi dan bentuk. Kadang, dua poin ini tidak jalan secara proporsional sehingga kabur mengabarkan pesan. Kadang tulisan yang mengedepankan isi, tidak terlalu ambil pusing seperti apa gaya tulisan harus dijabarkan. Tulisan sejauh isi ingin disampaikan sudah cukup menggunakan bahasa dengan gaya sederhana. Isi, dari cara ini jauh lebih penting dibandingkan gaya bahasa yang bisa mengacaukan tatanan makna sebagai inti pesan buat khalayak.

Namun, gaya sebagai kemasan di saat tertentu juga menjadi penentu. Pengandaian kemasan sebagai kulit luar dari isi, adalah penampakan pertama yang memberikan kesan estetis bagi pembaca. Melalui kulit luarlah, dengan kesan yang estetis, isi tidak sekedar informasi yang memberikan pengetahuan, melainkan menjadi pesan yang menggugah rasa. Dengan cara itu, suatu tatanan bahasa akhirnya tidak sekedar alat penyampai pesan, tapi juga jadi unsur penting ketika pesan disampaikan. Di bagian inilah, orangorang sering mengambil bentuk sastra ketika mengemas tulisannya. Pertimbangannya bukan sekedar hanya soal gaya belaka, melainkan bagaimana suatu tulisan dilengkapi dengan unsurunsur retoris.

***

Semenjak kelas dibuka, kelas literasi mengedepankan tujuan agar setiap kawankawan mahir menulis. Berbeda dari kelas angkatan pertama, kelas angkatan kali ini menggunakan sistem yang mendorong agar setiap tulisan menjadi jejak rekam perkembangan kemampuan menulis. Sistem ini sengaja diajukan sebagai tolak ukur sekaligus bahan evaluasi sejauh mana perbaikanperbaikan dilakukan demi pencapaian tujuan.

Di kelas, kawankawan juga diharapkan saling memotivasi. Menjadi teman cerita, bahkan menjadi teman curhat. Kelas literasi, walaupun diformat sebagai kelas menulis, di beberapa kesempatan kadang sering kali dibuat jadi ajang diskusi. Di momenmomen itu, kadang diskusi bisa menyentuh banya soal, bisa melibatkan banyak perspektif. Akibatnya, dari situ sering bikin penasaran kawankawan jika ada satu tema tidak tuntas dibahas. Namun, harus dimaklumi, kelas literasi bukan forum kajian. Konsepnya berbeda.

Minggu depan, tentu banyak tulisan juga pasti banyak cerita. Tulisan, yang ditulis kawankawan, mungkin saja bukan sekadar tulisan belaka, barangkali di situ ada bathin yang bergulat penuh keresahan, ada kecamuk pikiran atas gagasangagasan, atau bahkan ada kisah yang mau dibilang. Kalau sudah begitu, siapa sangka itu berarti akan banyak cerita, akan banyak telinga, juga akan perlu banyak mata yang lebih peka.


24 Maret 2016

Satu Dua Tiga Soal Freedom Writers

Freedom Writers
Film bertema pendidikan dibintangi Hillary Swank


Pendidikan jika dibilang cara orangorang bersuara, barangkali juga adalah cara orangorang menyatakan sikap. Itulah yang dibuat Erin Gruwell (Hillary Swank), dia menemukan suatu cara agar pendidikan bukan sekadar demi tujuan normatif belaka. Pendidikan barangkali, bagi Gruwell adalah celah bagi orangorang memperbaiki suatu soal.

Semua itu bermula ketika Gruwell mendaftarkan diri mengajar di Woodrow Wilson High School di suatu sudut New Port Beach, Amerika Serikat. Suatu kawasan yang mengalami pembelahan kelompok rasial. Daerah rentan akibat konflik laten yang bertahan sejak nlama dalam ikatanikatan sosial kebudayaan warga kotanya. Bahkan suatu hirarki terbangun di dalamnya, memotong secara vertikal kelas masyarakat secara bertingkat.  Di New Port Beach, akibat kebijakan integrasi antar ras, tidak sendirinya menghapus  konflik rasial yang semenjak lama tak terselesaikan.

Sebab itulah, pesimisme ditunjukkan Kepala Departemen Woodrow Wilson High School, Margareth Campbell (Imelda Staunton) saat Erin Gruwell menyatakan idealisme seorang guru kala memperlihatkan program mengajarnya. Pesimisme itu datang dari pengalaman suatu daerah ketika melihat muridmurid sekolah yang terlibat konflik antara kelompok tak patut diharapkan. “Sebagian baru keluar dari penjara anakanak. Satu dua orang mungkin pakai alat di mata kaki untuk awasi keberadaannya. Kita harus merevisi rencana pelajaranmu, jika kau lihat nilai mereka dalam pembendaharaan kata, sebagian buku ini “Homer’s the Odyssey” akan terlalu sulit untuk mereka..” bilang Kepala Departemen. Tapi, Gruwell punya semangat, punya niat,  dia bilang, “aku ingat saat menonton kerusuhan LA di tv, saat itu aku sedang ingin ambil sekolah hukum dan berpikir saat kau sedang membela seorang anak dipengadilan, perang sudah kalah. Kurasa pertempuran sebenarnya harus terjadi di sini, dalam kelas.”

Kisah Erin Gruwell adalah kisah orang yang punya visi. Kisah perjuangan seorang guru yang melihat soal pendidikan tak sekadar perkara ilmu pengetahuan.  Suatu maksud bahwa peran guru harus ditempatkan secara nyata ke dalam ikatan sosial lebih dari hubungan di dalam kelas. Kisah Erin Gruwell adalah kisah seorang yang punya perhatian. Barangkali karena itulah kisah seorang Gruwell, perempuan guru itu di angkat ke layar film.

Freedom Writers, begitu judul film yang saya saksikan itu menyinggung banyak perkara. Melalui “penuturan mata”  Eva (Aprill Lee Hernandez) –salah satu murid Gruwell keturunan Hispanik, film itu dibuka melihat suatu setting sosial kultural kehidupan perkotaan yang guyah akibat kriminalitas khas Amerika selama bertahuntahun: konflik antar ras. Bahkan semenjak awal, film ini sudah mengambil sudut pandang korban rasialis yakni Eva itu sendiri sebagai “mata khalayak” untuk memahami persoalan.

Eva –seperti juga temanteman seangkatannya, adalah perwakilan generasi yang masuk ke dalam warisan konflik turuntemurun akibat struktur sosial yang timpang. Eva berusaha memperlihatkan bahwa di dalam ikatanikatan yang guyah itu, perebutan identitas adalah hal yang musykil ditampik. Identitas adalah ihwal yang harus diperjuangkan. Dalam “mata kultural” Eva, identitas bukan sekadar penanda suatu kelompok belaka, melainkan suatu cara orangorang menyatakan sikapnya di antara struktur sosial yang tidak adil. Di baliknya, ada pandangan suatu kelompok yang mau diangkat kepermukaan, ada suatu cara ras melihat dunia, juga ada suatu nasib yang mau diperbaiki.

Akibatnya, konflik berdimensi rasialis itu tidak saja bertahan di dalam kehidupan antara kelompok, tapi juga masuk merembesi sampai di dalam kelas tempat Eva bersekolah.

Rembesan konflik itulah yang akhirnya menjadi imanen di dalam kelas tempat Gruwell mengabdi. Di saat hari pertamanya mengajar, Gruwell tak menyangka bahwa anakanak didiknya merupakan bagian dari konflik yang jauh lebih besar terjadi di balik temboktembok sekolah. Kelas, begitu juga anak didiknya, bukanlah seperti yang dibayangkan Gruwell. Ekspektasinya adalah imajinasi yang terbangun dari struktur masyarakat yang normatif normal. Cakrawala kulturalnya adalah horison pemikiran yang repetitif dari kelas masyarakat menengah atas, yang tak pernah menemukan secara “padat” situasi masyarakat marginal perkotaan yang tersekatsekat oleh warna kulit. Akibatnya, Gruwell seperti tipology masyarakat menengah perkotaan, kaget dengan situasi kelas yang dihadapinya.

Namun, Gruwell bertindak lebih dari tindakan kultural rekanrekan kerjanya. Saat dia menyadari bahwa situasi kelas yang diampunya adalah cerminan pembelahan yang terjadi dari kehidupan masyarakat, dia mengambil sikap. Melalui pendekatan belajar yang diterapkannya sendiri, dia berhasil masuk memahami keadaan kelas yang terfragmentasi secara kultural. Saya kira, di sinilah ketokohan ditunjukkan Gruwell sebagai bukan sekedar guru normatif belaka, melainkan mau membuka diri memahami persoalan yang dihadapi muridmuridnya.

Saat itulah, Gruwell mengalami semacam pembalikan cara pandang. Terutama saat dia diperhadapkan kepada suatu momen krusial di halaman sekolahnya (menit 39, detik 20), di situ barangkali Gruwell membatin,  pendidikan harus mampu mengambil peran lebih dari sekedar tuntutan kurikulum. Tindakannya pasca kejadian ini merupakan ambivalensi dari sikap kolektif rekanrekan kerjanya yang memandang secara sinis keberadaan muridmurid masyarakat kelas dua. Sikap antipati akibat perbedaan warna kulit, seperti dinyatakan rekan kerjanya, juga mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan di sekolah itu.

Kurikulum atau pendekatan pendidikan yang diterapkan Woodrow Wilson High School, seperti yang dirasakan Gruwell sendiri adalah jenis pendekatan liberal-konservatif yang mengandaikan perbedaan anak didik berdasarkan latar belakang sosialnya. Bahkan, semenjak awal, kelas yang diamanahkan kepada Gruwell adalah kelas “buangan” yang diperuntukkan bagi anakanak masyarakat nomor dua. Pemilahan secara sengaja ini, bukan saja membelah lingkungan muridnya berdasarkan warna kulit, juga menerapkan perlakuan diskriminatif melalui anggaran dan fasilitas yang diberikan sekolah. Akibat kebijakan yang diskriminatif itu, Gruwell harus bertindak mandiri menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Akhirnya di sinilah nampak persoalan usang itu: sistem vs tindakan aktor. Yang menyaksikan Freedom Writers pasti menyadari selain isu rasialisme, problem pendidikan juga benderang ditampakkan adegan demi adegan dalam film ini. Bahkan kalau mau dibilang, isu utama film ini adalah masalah pendidikan. Film ini         mengetengahkan situasi sistem pendidikan dalam menemukan soal hingga mengambil tindakan solutif atasnya . Sistem pendidikan yang kaku dan kurang tanggap situasi akibatnya tidak mampu menaksir persoalanpersoalan krusial yang dihadapi muridmuridnya. Sistem penyelenggaraan dan struktur birokrasi yang gemuk, akhirnya harus mengakui tindakan cekatan dan terbuka terhadap situasi yang dilakukan Gruwell merupakan kritik internal bagaimana pendidikan itu seharusnya diselenggarakan.

Alternatifalternatif yang diajukan Gruwell sebagai pendekatan belajar mengajarnya berjalan bersamaan dengan pelajaran yang diampunya; Bahasa Inggris. Melalui pendekatan literasi yang dipakainya, Gruwell yang awalnya dipandang sebelah mata muridmuridnya mulai menyadari perannya. Cara pertama yang dipakai Gruwell adalah dengan memberikan sejumlah buku jurnal agar muridmuridnya dapat bercerita segala macam masalah yang dituliskan di dalamnya. Melalui buku jurnal muridnya, Gruwell jauh lebih terang memahami situasi batin dari masalah yang dialami muridnya selama bertahuntahun. Selain itu, dia juga menghadiahkan sejumlah buku bacaan berlatarbelakang peristiwa Holocaust kepada muridmuridnya dengan harapan mereka tahu bahwa soal yang dihadapi adalah bukan sekedar masalah rasial antar geng, melainkan suatu masalah kemanusiaan. Dan yang tak pernah dilakukan guru sebelumnya, dia mengajak muridmuridnya pergi mengunjungi museum korbankorban Holocaust di suatu akhir pekan. Bahkan mereka diajak makan malam bersama beberapa korban pembantaian Yahudi yang diundang di suatu restoran. Dan, puncaknya adalah mereka bersedia didatangi oleh orang yang pernah menampung Anne Frank –korban kekerasan Nazi, yang sebelumnya mereka undang dengan cara mengirim surat langsung kepadanya.

Sistem penyelenggaraan pendidikan yang kaku memang sering jadi masalah pendidikan itu sendiri. Tapi, suatu metode yang berbasiskan situasi kongkrit dan dari situ diputuskan model apa yang layak dipakai, adalah cara efektif yang bisa mengubah suatu problem. Melalui konteks inilah pendekatan “baca-tulis” yang dipakai Gruwell bisa disebut terobosan. Pendekatan literasi yang dipakainya, tak disangka menjadi alternatif yang ampuh  memotong jarak persoalan antara murid dan guru. Melalui jalan literasi, Gruwell menemukan cara bersuara muridmuridnya dari tekanan “suara mayoritas” yang mengaburkan “suarasuara minoritas” masyarakat nomor dua. Lewat kisahkisah yang ditulis muridnya, “suarasuara” masyarakat marginal perkotaan dapat terekspose ke permukaan. Melalui tulisan muridmuridnyalah, penampakan cakrawala bathin anakanak kelas masyarakat bawah begitu gamblang diketahui.

Berbasiskan permasalahan itulah semenjak awal tokoh yang diperankan pemenang dua piala Academy Award ini merumuskan tujuan pendekatannya. Pendekatan yang diterapkannya akhirnya mampu memutuskan batasbatas kebudayaan yang selama ini dialami muridmuridnya. Bahkan konsep kelas yang dipersepsikan sebagai ruang belajar turut berubah seiring hadirnya kedekataan kekeluargaan di antara muridmuridnya. Dari pengakuan salah satu muridnya, kelas bukan lagi sebagai sekatsekat yang membuatnya tersingkirkan dari ruang publik, melainkan berubah menjadi rumah tempat dia menemukan keluarga. Dari pendekatan yang dipakainya, Gruwell akhirnya mampu meretas problem kultural yang laten terjadi di sekolahnya.

Di film ini juga memberikan sisi lain sosok Gruwell. Gruwell bukan tanpa halangan ketika ia menjalankan programprogram pendidikannya, selain sikap antagonis yang ditunjukkan pimpinan dan rekanrekan kerjanya, Gruwell juga mendapat penolakkan dari suaminya sendiri, Scot Casey (Patrick Demsey). Di sinilah saya kira, tesistesis soal keluarga demokratis masyarakat maju dipertanyakan. Suami Gruwell, yang dinyatakan sebagai calon arsitek, merupakan suami masyarakat perkotaan yang memposisikan diri sebagai pemimpin keluarga. Sebagai pemimpin keluarga, suami Gruwell digerakkan oleh nalar patriarkat yang turut bertahan di dalam bentuk masyarakat demokratis. Walaupun situasi kebudayaan Amerika yang telah maju, tetapi itu tidak dengan sendirinya menghilangkan sisasisa tradisi patriarki di masyarakat modern.

Relasi gender inilah yang tampak ketika adeganadegan Gruwell pulang dari sekolah. Awalnya, ia tak menyadari bahwa keseriusannya mengurusi muridmuridnya membuat suaminya merasa “tak dilayani”. Apalagi ketika Gruwell bergerak jauh dengan mengambil tambahan pekerjaan untuk mendukung programprogram belajar mengajarnya. Akibat minimnya waktu bersama yang dialami keduanya, suami Gruwell mulai merasakan dampak serius dari kekurangan perhatian dari isterinya. Relasi gender yang mempertautkan kemerdekaan perempuan dalam mengambil peran dan antara kebutuhan psikis maupun biologis dengan seorang suami, akhirnya mengharuskan hububungan rumah tangga mereka putus di tengah jalan.

Dari sudut problematis ini, persoalan relasi gender nampaknya juga ditampakkan walaupun hanya menjadi cerita sekunder dari kisah yang sebenarnya terjadi.  Urusan rumah tangga Gruwell bersama suaminya, Scot Casey, menjadi problem turunan akibat persoalan pendidikan yang dihadapi Gruwell di sekolahnya. Di sini secara implisit hubungan secara kausasi antara situasi makro (pendidikan) diperlihatkan secara diamdiam mampu merasuk mempengaruhi relasirelasi privat ditingkatan mikro (keluarga). Artinya, situasi yang dihadapi Gruwell menjadi lebih berat karena tidak ditopang dengan hubungan keluarga (suami-istri) yang bisa menjadi modal bersama dalam memecahkan permasalahan yang terjadi.

Akhirnya, film ini ditutup dengan suasana happy ending setelah Gruwell melakukan sejumlah usaha ke beberapa pimpinan sekolah hingga distriknya. Tujuannya untuk mengajukan langkahlangkah lanjutan agar kelas yang dibinanya masih diampunya di tahun mendatang. Walaupun semenjak di tengah jalan usahanya sering gagal akibat aturanaturan baku birokrasi, jalan berliku yang dialaminya tak dinyana mendatangkan sinyalemen positif. Di akhir cerita, sembari menunggu kedatangan guru inspiratifnya, muridmurid Gruwell berkumpul di suatu tempat hanya untuk mendengarkan kabar terakhir perjuangan kelas mereka. Akhirnya, setelah dirundingkan bersama pihak pimpinan, maka diputuskan Gruwell bakal melanjutkan kelasnya sampai ketingkat senior. Informasi itu datang menghapus kerisauan muridmuridnya yang harapharap cemas menunggu informasi yang bakal menentukan masa depan mereka beberapa tahun ke depan.

***

Kalau mau diajukan kritik, ada beberapa poin yang bisa ditunjukkan dari film berdurasi dua jam ini. Pertama, inisiatif Gruwell mencerminkan semangat individualisme masyarakat modern yang ditampakkan dari usaha Gruwell menghadapi persoalannya. Inisiatifinisiatif perempuan guru ini tidak mampu membentuk kolektifisme kerja demi menanggulangi persoalan pendidikan di sekolahnya. Bahkan tidak ada usaha bersama ditunjukkan kepada pihak sekolah dengan membangun “keresahan” yang mengakar di antara sesama profesinya. Guru, jabatan profesional yang diembannya, belum mampu ditransformasi menjadi semacam kritik lebih jauh kepada rekan sesamanya. Usaha ini seharusnya mampu dibuatnya dengan memanfaat sejumlah media yang banyak meliput aksiaksi sosial saat melakukan sejumlah usaha pencarian dana. Melalui pendekatan ini, Gruwell bisa mendorong kesadaran rekanrekan kerjannya untuk mengubah cara pandang rasialis yang masih kuat mengakar di sekolahnya.

Kedua, apabila kita melihat representasi kekuasaan dalam jejaring institusi pendidikan yang ditunjukkan Freedom Writers, maka akan ganjil jika melihat seorang kulit hitam yang menjadi salah satu pemimpin di dalamnya. Film jika disebut sebagai citra kebudayaan, maka Freedom Writers memperlihatkan “kebungkaman” pimpinan distrik yang masih terbatasi dengan sejarah rasial kulit hitam.  Ada dua lapis soal yang membuat pimpinan distrik sekolah Gruwell sulit memberikan semacam bantuan. Pertama adalah kewenangan yang bakal melanggar otonomisasi manajemen sekolah yang dimiliki  jika dia berindak jauh menggunakan jabatannya. Di sini nampak jelas persoalan birokrasi yang berbelit tak mampu responsif mengambil sikap. Kedua, sang pimpinan distrik belum bebas sepenuhnya dari tatanan kultural masyarakat Amerika yang berpandangan rasialis.  Akibatnya, dia sebagai orang kulit hitam hanya menjadi “juru dengar” tanpa bisa berbuat apaapa karena menanggung beban sejarah yang dibuat orang kulit putih.

Dua hal inilah yangmenghambat kenapa Gruwell sulit mendapat dukungan dari pihak pengambil kebijakan. Padahal, melalui mediasi yang ada, Gruwell dapat bertindak jauh jika semenjak awal dia bisa meyakinkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekedar masalah di dalam kelas semata, melainkan menyangkut kebijakankebijakan distrik setempat dalam dunia pendidikan.

Ketiga, pendekatan literasi di dalam film ini hanyalah sampiran atas problem yang dialami. Walaupun di akhir film, mereka mampu membuat satu buku kumpulan kisahkisah berbau diskriminatif, tetap saja gerakan literasi ini hanya sebatas media penyaluran perasaan subjektif tanpa mengubah keadaan objektif di masyarakat. Seharusnya, gerakan literasi harus menjadi pilihan utama dalam pendekatan kurikulum yang dipakai di setiap jenjang pendidikan. Sehingga bisa jadi model yang diajukan Gruwell bukan sekedar pendekatan yang hanya diterapkan di dalam kelas, melainkan menjadi gerakan kultural yang dilakukan di setiap lapisan masyarakat.

Walaupun begitu, melalui pendekatan literasi, pendidikan diharapkanbukan sekedar upaya yang memajukan tatanan kognitif anak didik belaka, melainkan melibatkan seluruh totalitas kesadaran ketika berhadapan dengan suatu tindak baca tulis, melebihi upaya verbal yang selama ini dipakai dalam pendekatan pendidikan.


22 Maret 2016

Sinisme Sang Filsuf

Akhirnya cara menjawabnya harus dimulai dari seorang nama tua: Platon. Platon, yang filsuf itu punya pandangan tentang Philosopher-King. Tatanan masyarakat baginya harus diatur oleh seorang filsuf. Manusia yang punya kualitas kontemplatif. Seorang filsuf diandaikan sebagai kepala masyarakat. Sang filsuf dengan begitu, dengan kualitas kebaikannya jadi kelas ideal bagi Platon.

Boleh jadi,  jika mau sedikit kritis, semesta pemikiran Platon, terutama pemosisian sang filsuf sebagai puncak teratas hirarki sosial, berangkat dari semacam sinisme. Bagaimana pun idealnya sang filsuf, profesi yang lainnya selalu secara hirarkis di bawah posisi sang filsuf. Pertama, konsekuensinya, semesta pandangan Platon masih melihat tatanan terdiri dari kelaskelas. Akibatnya, hanya sang filsuflah sebagai manusia yang mampu menjamin kebenaran, kebebasan, keindahan, dan kejujuran, sedang yang lain hanya bagian yang subordinat.

Dari konteks negara kota (Polis), yang mengikuti tatanan tiga tingkatan, kaki-badan-kepala, sang filsuflah yang ideal sebagai kepala negara. Akibatnya, politik dianggap sebagai pekerjaan yang derivatif. Bahkan kalau mau bincang politik, seseorang harus mengambil optik filsafat. Artinya dengan terang optik akal budi, sang filsuflah yang punya tugas mengurusi kehidupan politik. Bagi Platon seorang negarawan haruslah seorang filsuf. Begitu kirakira maunya.

Akibat dari itu muncul pembelahan. Sang filsuf berbeda dengan orang biasa adalah orang yang punya tugastugas penting kenegaraan (das sein). Sebaliknya, orang biasa hanya mengurusi soalsoal cetek kehidupan seharihari (das sollen). Sang filsuf tugasnya lebih utama bersentuhan dengan akal budi, tatanan abstrak yang menuntut konsentrasi tingkat tinggi. Melalui itu negara diatur dan diberlangsungkan. Sedangkan orangorang biasa hanya mengikuti hasil refleksi sang filsuf.

Sinisme kedua, Platon punya kelompok elit intelektual. Yang ini dikenal sebagai Hekademia (akademia), kelompok intelektual yang hidup terpisah dengan polis, masyarakat umum.  Ini yang dibilang Hanna Arendt, perempuan pemikir politik abad 20,  sebagai sikap elitis. Sikap ini dinyatakannya sebagai cara kaum terdidik untuk mengungkapkan kebebasan elitis yang hanya dipunyai khusus selain dari masyarakat umum.

Kebebasan ini paralel dengan waktu luang yang tidak dimiliki masyarakat umum terutama kaum budak. Waktu luang yang dipunyai ini, secara epistemik memberikan syarat material dan pemikiran kepada kaum terdidik untuk asyik tenggelam dalam percobaanpercobaan pemikiran kontemplatif. Implikasinya, secara politik, kaum terdidik jauh dari kecenderungan banyak orang yang hidup secara berbeda. Itulah sebabnya, kecenderungan politik kaum terdidik lebih mengutamakan kebebasan sebagai sarana akal budi untuk berpikir, dibandingkan tuntutan material lainnya yang memang bukan bagian dari kehidupannya seharihari.

Karena itu kaum terdidik selalu memuja kebebasan sebagai tujuan sikap politiknya. Pun kalau mereka terlibat dengan suatu perjuangan politik, itu hanyalah anasir dari tuntutan kebebasan yang dikehendaki. Akibatnya, sikap politik kaum terdidik seperti ini adalah sekaligus sikap elitis atas hirarki yang menempatkan kaum terdidik sebagai kelas tertentu. Mengacu sejarah perubahan dunia, hampir semua perjuangan politik dengan nama demokrasi adalah hasil dari tuntutan kebebasan kaum terididik.

Sang filsuf atau kaum terdidik dengan previlage tertentu dengan begitu adalah kelas yang lahir dari pemisahan sejak awal yang ditunjukkan Platon dengan Hekademianya. Posisi akademia yang berjarak dengan tatanan Polis, bukan sekedar kesenjangan secara demografis, melainkan juga menggambarkan betapa jauhnya “hal ihwal kaum terdidik” dengan “tetek bengek masyarakat umum”.  Pemilahan ini akhirnya menjadi skema tatanan sejarah masyarakat yang membagi masyarakat atas “kepemilikan ilmu”,  yang sudah dimulai Platon.

Imbas dari berjaraknya dunia intelektual dengan aktifitas seharihari masyarakat, juga mengakibatkan perubahan objekobjek ilmu yang bergerak dari “partikularitas” peristiwa seharihari menjadi “universalitas” hal ihwal keilmuan. Ilmu akhirnya tidak tertuju pada ikatanikatan sosial masyarakat dengan kebutuhankebutuhan mendasarnya, melainkan sibuk menyoal hububunganhubungan proposisi demi tuntutan ilmu itu sendiri.

Sinisme sang filsuf juga tampak dari antagonisme filsafat atas sastra. Sikap ini dimulai Platon dengan memandang sastra sebagai bidang ilmu yang hanya menjiplak kenyataan. Sastra dibilangnya tak mampu menjadi perangkat manusia menangkap kenyataan “yang ideal”.  Sastra dengan model yang lebih banyak dibentuk lewat gaya bahasa, dianggap hanya “bermainmain” tanpa bisa memberikan kebenaran yang bersifat ideal. Anggapan ini didaku Platon karena melihat sastra hanya sibuk berkutat pada soal bentuk, bukan “isi” seperti yang disebut Platon hanya bisa ditemukan dalam filsafat.

Universalisme filosofis yang jadi horison pikiran Platon, dengan sendirinya menolak bentukbentuk partikularitas yang diajukan dari gaya berfilsafat Aristoteles. Bahasa akhirnya, melalui gaya Platon, harus memikul beban makna yang universal untuk menyebut “ideal type” yang dibilangnya hanya dimungkinkan melalui filsafat. Sastra yang sering kali menangkap halhal partikular, bukanlah objek filsafat itu sendiri. Akibatnya, universalisme yang diharapkan Platon, sebenarnya adalah pelecehan terhadap kenyataan yang bisa saja terjadi dengan beragam kemungkinan dari kejadiankejadian seharihari yang partikular.

Yang terakhir adalah soal konsep form yang terkenal itu. Platon, membagi dua dunia. Dalam imajinasi pemikirannya dia meyakini suatu dunia baqa yang tak tersentuh sejarah. Suatu tatananan yang tak berubah dan bergerak.  Di sana jiwa bebas mengenali bentukbentuk ideal. Platon menyebutnya archetype, yakni bentukbentuk ideal dari sesuatu yang tampak di dunia. Dunia archetype adalah dunia yang sebenarnya, karena di sanalah “sesuatu yang ideal” bersemayam. Di sanalah yang esensil. Platon menyebut dunia itu Alam Idea, dunia sebelum tubuh tercipta.

Melalui konteks itulah Platon menyebut dunia tubuh adalah bayangbayang. Bukan yang esensil akibat mudah berubah, kumpulan yang mudah hancur. Tubuh dia bilang adalah kuburan Jiwa. Tubuh, adalah sebab jiwa tak mampu mengenal kembali yang ideal pasca dia turun kedalam kubangan serat daging. Akibatnya, tubuh harus ditinggalkan, jiwa harus lurus mengacu ke dalam yang universal esensil, dunia asali nun jauh “di atas” sana.

Monisme Platonian ini diamdiam akhirnya menyimpan sikap sinis terhadap dunia tubuh. Dunia seharihari, akhirnya menjadi tatanan yang tak layak dirundung soal. Sebab yang terkandung di dalamnya hanyalah sementara belaka, hanya bayangbayang semata. Hirarki dua dunia ini berimplikasi hanya menempatkan alam archetype  sebagai satusatunya realitas yang layak diperjuangkan.

Syahdan, sinisme sang filsuf ibarat sikap keras Platon atas filsafat sebagai satusatunya jalan mendedah dunia. Dan, saya kira, sikap semacam itu adalah bentuk lain dari totalitarianisme epistem yang mengklaim bahwa filsafatlah satusatunya ibu pengetahuan. Filsafat karena menjadi satusatunya rahim ilmu bermula, maka dialah yang punya semacam wewenang menentukan jalan sejarah pengetahuan. Sampai kiwari,  hanya filsafatlah yang disebut jalan kebahagiaan, jalan kebijaksanaan, atau bahkan jalan keselamatan. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menolak filsafat?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...