10 Maret 2020

Esai Pengantar Kebebasan Berpendapat



Judul buku: Kebebasan Berpendapat 
dan Berorganisasi (Persepsi Mahasiswa UNM)
Penulis: Muhammad Ridhoh
Cetakan: Pertama, Januari, 2020
Penerbit: Sampan Insitute
ISBN: 978-623-92109-2-2


BUKU di tangan Anda ini demikian menarik karena didorong oleh suatu  kebutuhan mendesak. Ari—demikian saya memanggilnya—menyebutnya sebagai ”situasi objektif tentang kebebasan sipil” yang ia temukan dan sadari selama menempuh aktivisme kampus.

Memang terkesan simplistis mengurai penerapan kebebasan sipil dari ruang lingkup kampus dibanding kehidupan demokrasi berbangsa dan bernegara. Tapi, selain karena ini awalnya merupakan hasil riset Ari untuk menulis skripsinya, mesti dimaklumi kampus sejauh ini adalah satu-satunya ruang publik yang menjadi wahana uji coba demokrasi sebelum sampai di gelanggang sebenarnya. Oleh karena itu, frasa kampus adalah miniatur negara, dapat kita kontekskan ke dalam buku ini.

Kebebasan sipil, kebebasan berorganisasi, dan demokrasi adalah tiga kata kunci yang dieksperimenkan Ari ke dalam kampus. Akan sangat menarik mengikuti alur kajian buku ini jika dilihat dari dua ekstrem yang sulit bertemu ketika berbicara mengenai tiga konsep kunci di atas.

Ekstrem pertama adalah tatanan birokrasi perguruan tinggi yang memiliki kecenderungan statis karena diatur seperangkat sistem kerja dan aturan. Sedangkan ekstrem kedua adalah ekosistem kemahasiswaan yang dinamis oleh sebab didorong idealisme kemanusiaan yang diterangi seperangkat kesadaran dan keyakinan mengenai kehidupan ideal.

Dua ekstrem di atas akan bertolak belakang bukan di dalam irisannya menyangkut ilmu pengetahuan. Untuk urusan ini, baik perguruan tinggi (dosen) dan mahasiswa, sama-sama dituntut untuk memajukan kehidupan seperti yang termaktub dalam tri dharma perguruan tinggi. Kesan berbeda jika dua ektrem ini diperhadapkan kepada panggilan kemanusiaan yang kerap  menuntut perhatian lebih. Dengan kata lain, ada pengertian lebih mendalam dari perbandingan antara intelektualisme dan aktivisme.

Seluruh peran dosen di perguruan tinggi berkiprah demi menumbuhkan intelektualisme mahasiswa. Walaupun demikian, ia tidak bisa bergerak jauh atas panggilan tanggung jawab moralnya karena hanya bertanggung jawab dari sisi akademik belaka. Dengan kata lain, ia hanya menuntun mahasiswa berilmu demi ilmu, tidak lebih.

Dari sini sudah kelihatan, apa yang dimaksud dengan aktivisme itu sebenarnya, yakni suatu panggilan kemanusiaan yang dikonkretkan ke dalam kerja-kerja keilmuan dan advokasi. Aktivisme dengan kata lain, adalah suatu kemampuan mengubah ilmu ke dalam kerja praksis kemanusiaan.

Di dalam konteks aktivisme itulah kebebasan berpendapat, berorganisasi, dan berdemokrasi menemukan wahana sekaligus momentumnya. Mahasiswa, dalam hal sebagai kelas masyarakat terididik, dengan kata lain menjadi satu kelas yang mampu menggunakan ketiga modal asasi itu jauh lebih terarah dan terukur karena ditunjang dengan modal pendidikannya.

Itu sebab, ditinjau dari konteks ini, kebebasan di tangan mahasiswa tidak berhenti sekadar menjadi kebebasan psikis apalagi fisik. Seperti diutarakan nanti melalui buku ini, selain kebebasan fisik dan psikis, ada namanya kebebasan moral, yakni kebebasan yang mengandaikan keberadaan consciousness (kesadaran) dan voluntary (kerelaan).

Dua unsur kebebasan moral ini selaras dengan teori politik Aristoteles mengenai dasar hakiki manusia dengan binatang. Perbedaan di antara manusia dan binatang menurut Aritoteles terletak di dalam logos (akal budi), bukan phone (bunyi). Binatang memiliki kemampuan phone jika ia merasakan sakit, tapi hanya manusia-lah yang mampu membahasakan rasa sakitnya melalui logos. Kambing akan mengembik (berbunyi) jika ia disakiti, tapi manusia lebih dari itu, rasa sakitnya diperlakukan tidak adil akan ia salurkan ke dalam sistem bahasa berkat terang akal budinya (logos).

Berdasarkan kategori Aristotelian di atas, mahasiswa menjadi bagian masyarakat yang paling berpeluang mengedepankan maksim kebebasannya atas lambaran kesadaran moralnya. Mahasiswa tidak sekadar berbunyi, tapi mampu mengargumentasikan bunyi ketidakadilan ke dalam tuntutan-tuntutan wacana.

Hal ini bukan mengenyampingkan peran masyarakat sendiri yang menjadi mayoritas ketika merasakan ketidakadilan, melainkan hanya mahasiswalah kelas masyarakat yang tidak memiliki banyak tuntutan hidup selain dari pada menyuarakan keresahan masyarakat luas.

Kebebasan belakangan ini semakin sulit didudukkan di dalam wacana politik yang mengandaikan eksistensi logos. Pasca Reformasi, kebebasan berpendapat dipakai berbagai pihak untuk melegalkan kebebasannya. Meski dilindungi undang-undang, bukan berarti kebebasan berpendapat dapat dinyatakan bebas sebebasnya. Di tambah semakin massifnya media sosial, kesadaran berdemokrasi kian tumbuh seiring semakin pudarnya peran logos di dalamnya.

Di sisi lain, berdasarkan pengalaman pribadi dan penulis, kampus secara teknis bergeser tidak sekadar menjadi institusi pendidikan dan kebudayaan, tapi juga sebagai institusi perdagangan. Sudah dari setidaknya dua dekade, semenjak lahirnya undang-undang perguruan tinggi, kampus berangsur-angsur mengonsolidasikan kekuatan ekonominya tanpa mengikutkan elemen-elemen perubahan terutama, mahasiswa. Semenjak tanggung jawab pemerintah dicabut atas dorongan undang-undang, kampus menjadi otonom dalam menyelenggarakan pendidikan dan keuangannya.

Dalam konteks ini, dapat dimengerti mengapa di sebagian besar kampus di Tanah Air muncul perlawanan atas kebijakan kampus yang tidak populer. Salah satu kebijakan kampus yang paling tidak populer adalah semakin tingginya biaya kuliah di samping tidak ada perubahan penyelenggaraan pendidikan. Biaya kuliah boleh naik, tapi tidak dengan pelayanannya, begitu kira-kira intinya.

Di UNM sendiri, perlawanan atas kebijakan tidak populer kampus sering mendapatkan rintangan internal dari dua unsur. Rintangan pertama datang dari unsur birokrasi selaku pengambil kebijakan, dan rintangan kedua adalah mahasiswa apatis yang mayoritas mudah ditemui di dalam kampus. Kedua unsur rintangan ini sama-sama dapat dijelaskan melalui kacamata tiga konsep kunci yang sudah disebutkan di atas.

Maksudnya, melalui tiga konsep sudah disebutkan sebelumnya, dapat ditelisik di mana posisi keberpihakan birokrasi dan mahasiswa di dalam kehidupan demokrasi kampus. Apakah demokrasi telah menjadi sistem diskursif dan praksis menyediakan ruang gerak kebebasan berpendapat dan beroganisasi bagi seluruh elemen perubahan, atau justru sebaliknya, ia hanya menjadi  wacana di dalam kelas belaka!

Tidak perlu menunggu lama lagi, silakan Anda telusuri jawaban pertanyaan di atas dalam buku ini. Satu hal yang mesti secepatnya dilakukan adalah mengapresiasi usaha Ari ini. Tidak banyak mahasiwa mampu mengubah riset studinya menjadi buku seperti di tangan Anda ini. Bravo perjuangan.

04 Maret 2020

Tiga Pertanyaan dari Sapiens


Penampakan Homo Sapiens
di museum Prancis


”Akhirnya, dan mungkin paling mengganggu, internet membuat kita lebih kejam, bersumbu pendek, dan tidak mampu melakukan diskusi yang berfaedah.” Tom Nichols dalam The Death of Expertise.


SEJAK internet menjadi wahana belajar, dan kian hari semakin canggih, rasa-rasanya otak manusia di saat itu mulai berkeinginan berhenti berpikir. Kalimat ini bisa saya tulis dalam bentuk yang lain semisal, ketika internet menjadi sahabat para pelajar, rasa-rasanya para guru akan segera berhenti bekerja dan memilih masuk ke hutan dan kembali bertani saja. Sekolah hanya akan menjadi sia-sia jika lalu lintas pengetahuan dan arus informasi, kian hari membuat internet dikukuhkan sebagai guru pertama.

Kali pertama para ahli purbakala menemukan tulang belulang manusia purba, saat itu juga Homo Sapiens ditasbihkan sebagai makhluk paling efisien. Homo Sapiens disebut-sebut sebagai generasi penjelajah dan mampu bermigrasi berjarak ribuan mil  menggunakan kedua kakinya.

Volume otaknya yang lebih kecil dari saudara dekatnya adalah sebab utama mengapa ini bisa terjadi. Otaknya yang kecil membuat kepalanya jauh lebih ringan dan membuat Homo Sapiens jauh lebih mudah berjalan dengan menggunakan dua tungkai kakinya.

Saya bisa membuat daftar 1001 fungsi kedua tangan, dan setengah dari jumlah itu apa manfaat dari dua kaki yang dimiliki manusia, sama seperti bagaimana para nenek moyang ini mulai belajar menggunakan kedua tangannya untuk meneguk air, mencari kutu, dan membuat api.

Para sejarawan meyakini, Homo Sapiens adalah makhluk berteknologi pertama dengan kemampuan elementer berupa keahlian menggesek dua batu panas dan menghasilkan api dari peristiwa itu. Api, sebelum bahasa tercipta, temuan paling canggih bagi kehidupan lawas mereka. Seperti kedua tangan kita, saya memiliki 10 jawaban ketika Anda bertanya apa fungsi api bagi kehidupan purba saat itu.

Saat ini api bukan benda yang mencengangkan sebab ia dapat ditemukan berkali-kali dalam kehidupan seseorang. Jika Anda perokok, api sangatlah penting, tapi itu tidak membuat Anda merasa takjub sama sekali. Otak Anda sudah terbiasa dengan fenomena api yang setiap hari Anda ciptakan menggunakan korek api, kecuali Anda ingin menciptakannya menggunakan dua batu, dan berhasil memercikkan bara api pada gesekkan ke 714.

Seorang sosiolog bernama Max Weber bahkan mengatakan dunia modern bukan dunia seperti di mata masyarakat lawas melihatnya, yang takut dan terpesona dengan kebesaran alam. Semenjak manusia mengerahkan secara maksimal kemampuan berpikirnya, dunia fenomenal seperti hujan atau keluarnya magma dari gunung berapi dipandang sebagai peristiwa biasa belaka. Oleh sebab Anda sudah mampu menarasikannya ke dalam kalkulasi-kalkulasi sains.

Akal sehat Anda sudah lama dididik sehingga tanpa ragu Anda akan mengatakan ada hukum sebab akibat di balik dari setiap peristiwa, apa pun itu. Keheranan Anda akan segera sirna jika Anda meluangkan waktu demi mencari tahu apa hukum sebab akibat dari fenomena meledaknya gunung berapi, atau mengapa hujan di kota-kota dapat menjadi indikator untuk mengukur kualitas pekerjaan suatu pemerintahan.

Bagi seorang nelayan, pekerjaannya akan jauh lebih berhasil jika hukum sebab akibat itu ia praktikkan saat membaca gelagat alam berupa bentuk rasi bintang, posisi bulan, kekuatan ombak, dan arah angin. Dia bisa menjadi seorang ilmuwan hanya karena membuat jenis pertanyaan semisal apakah ada hubungan sejumlah ikan di lautan akan berkurang ketika musim kemarau datang, atau mengapa tiap hari udara kian panas seolah-olah hutan-hutan sudah kehilangan fungsinya.

Cara berpikir di atas bisa anda kembangkan di berbagai peristiwa kehidupan saat ini, kecuali Anda telah kembali kepada kehidupan purba masa lalu dan takjub kali pertama api bisa menakut-nakuti seekor hewan buas.

Saya membuka tulisan ini dengan mengatakan internet sebagai biang kerok orang-orang mulai malas memanfaatkan otaknya daripada kedua jempolnya. Seolah-olah saat ini orang-orang memiliki cara berpikir dengan memaksimalkan kemampuan menjelajah internet yang dimulai dari kekuatan otot jemarinya. Memikirkan ini ada benarnya, dan bukan dalam arti metaforis bahwa dunia saat ini memang sudah ada dalam genggaman tangan.

Sekarang, seperti seorang nelayan membaca gelagat alam, coba Anda ajukan tiga macam pertanyaan dari hasil Anda membaca gerak-gerik masyarakat informasi, dan coba kita lihat apakah tulisan ini punya manfaat untuk Anda.

Saya berhasil membuat tiga pertanyaan seperti juga Anda berupa, pertama, mengapa orang-orang senang menghabiskan waktunya berselancar di dalam dunia maya? Kedua, apa keuntungan dan siapa bakal dirugikan jika internet merebut perhatian orang-orang terdekat Anda? Ketiga, siapa yang harus bertanggung jawab jika internet berhasil membuat orang-orang kehilangan kemampuan berpikirnya?

Pertanyaan nomor satu adalah pertanyaan paling gampang yang bisa saya jawab oleh karena hampir setengah jumlah penduduk di dunia senang menggunakan internet. Statista, lembaga riset statistik Jerman, mencatat terdapat 3,49 miliar pengguna internet di seluruh dunia dari total 7,7 miliar penduduk per 2019.

Dari setengah jumlah penduduk ini, bisa kita bagi bahwa sebagian dari mereka ada yang menggunakan internet untuk mendukung pekerjaan mereka, sebagian lagi hanya dipakai untuk perdagangan jarak jauh, dan sisanya dari itu adalah penduduk yang memang suka menghabiskan separuh waktu hidupnya berselancar di dunia maya.

Saya satu dari pembagian kelompok terakhir, yang artinya bagian dari orang yang menggunakan internet demi hiburan semata. Tidak ada gunanya saya membela diri di sini karena saya bukanlah pekerja profesional atau pelaku bisnis yang membutuhkan jaringan internet di mana pun saya berada.

Memang seringkali saya berusaha mencari sumber-sumber pemahaman melalui internet ketika menghadapi soal-soal yang menantang pikiran, dan saat itu buku kadang tidak bisa menjadi pilihan utamanya. Tapi tetap saja, aktivitas ini menjadi mubazir karena tidak lama lagi aktivitas itu akan berubah dengan memilih dunia media sosial yang jauh lebih menggelitik secara imajinatif untuk ditengok.

Ada saat-saat ketika media sosial menjadi dunia penuh tanda tanya yang membuat Anda penasaran, kini apa yang sedang terjadi di sana? Siapa yang kini tengah menjadi trending topik? Isu apa yang sedang panas-panasnya? Dan, apa yang mesti saya lakukan ketika menceburkan diri di dalamnya? Coba Anda perhatikan, dengan pertanyaan ini saja, Anda gampang diyakinkan bahwa tidak ada seinci pun kehidupan saat ini yang lekang dari dunia maya, apalagi jika dering notifikasi menjadi jenis bunyi-bunyian paling sering dan selalu Anda ingin dengarkan.

Bunyi-bunyian yang selalu Anda harapkan itu datang dari perjalanan panjang tapi singkat. Ia berasal dari tumpukan arus informasi yang bergerak di antara sirkuit-sirkuit data dalam satu jaringan raksasa internet. Sebelum sampai ke Anda, bunyi notifikasi itu bergerak di antara lalu lintas miliaran informasi yang melintasi batas-batas benua, kota, negara, dan penyedia layanan sebelum akhirnya sampai ke benda mungil dalam genggaman Anda.

Metafora Tom Nichols dalam The Death of Expertise-nya menyebut hubungan fenomena pengguna internet dengan arus tumpukan miliaran informasi itu sebagai ”orang yang tersesat di mesin pencari”. Bilah pencari yang diset di setiap gawai  merupakan gerbang tanpa arah panah yang jelas. Tom Nichols mengandaikannya semacam hutan belantara tanpa aturan, tanpa batas, tanpa peringkat, dan tanpa filter. Anda jika berusaha mencari kebenaran di dalam dunia maya, Tom Nichols katakan Anda bakal tesesat di belantara miliaran informasi.

Nah, sekarang sudah mulai terjawab mengapa orang senang berselancar di dunia maya  selain bahwa dunia maya merupakan dunia yang betul-betul lain dari kehidupan sehari-hari. Dunia maya, karena ia mirip hutan, membauat orang terlambat sadar bahwa semakin lama ia semakin sulit menemukan jalan keluar dan paradoksnya, Anda akan semakin menikmati keliaran yang ditawarkan rimba kebebasan informasi. Jika Anda bukan seorang ahli dengan kemampuan mengenal peta lokasi, maka sekali Anda masuk ke dalamnya, Anda bakal sulit melihat kembali di mana kali pertama Anda masuk.

Salah satu perbedaan mendasar manusia purba dan manusia modern, adalah kecakapan linguistiknya. Manusia purba masih sulit mengerahkan kemampuan otaknya untuk melakukan percakapan panjang dibanding manusia modern yang sudah dilengkapi kemampuan berbahasa.

Manusia purba mengenal bahasa sebatas bunyi-bunyian yang mereka artikan secara komunal, partikular, dan terbatas. Berbeda dengan makhluk masa kini yang menset kemampuan linguistiknya lebih luas, universal, dan tak terbatas. Bahkan hari ini, setiap orang dituntut mengenal bahasa dari benua-benua lain sekalipun tempat-tempat itu belum pernah ia kunjungi sama sekali.

Saya tidak ingin katakan ketika seseorang hanya mengenal satu bahasa itu berarti cara ia hidup masih tergolong purba, sekalipun ia seorang pemimpin gerombolan jamaah agama . Tapi, itulah kelebihan bahasa masa kini dari bahasa dikembangkan manusia purba, yang hanya terbatas dalam lingkungan kelompoknya saja. Bahasa masa kini tidak akan membuat Anda seperti manusia purba jika Anda hanya tinggal di kawasan terpencil. Anda masih memungkinkan dapat mengetahui berbagai hal dari negeri  jauh ketika Anda memiliki rahasianya: internet.

Masih ada dua jawaban jika Anda masih mengingat dua pertanyaan di atas, walaupun saya menduga jawaban atas pertanyaan pertama tidak sama sekali tepat dan memuaskan Anda. Sekalipun jika Anda masih ragu, saya tidak menyarankan Anda untuk memercayai seluruh jawaban yang sudah saya upayakan di atas. Andaikan Anda masih takjub dengan dua pertanyaan lainnya, saya tidak menyarankan Anda agar secepat mungkin mencarinya di bilah mesin pencari.

Tugas  Anda adalah mengerahkan sejauh mana otak Anda mampu mengantisipasi kemalasan dan rayuan dunia maya, sama seperti bagaimana betapa seriusnya seorang manusia purba menciptakan api melalui dua batu digenggamannya.




Telah tayang di Kalaliterasi.com

Kehendak Manusia dan Artificial Intellegence




Aristoteles
Filsuf dan sekaligus murid Plato
Aristoteles membedakan manusia dengan binatang berkat
keberadaan akal budi



MANUSIA di masa sekarang selain ”terancam” dari teknologi robotik ciptaannya sendiri, juga terancam dari cara berpikirnya sendiri, yang semakin ke sini kian menjadi robot.

Banyak ahli telah memperkirakan betapa manusia sering mengalami alineasi dari diri sendiri, lingkungannya, dan ciptaannya sendiri. Hegel dan Karl Marx dari dua abad lalu, sudah melihat gejala demikian dialami ketika masyarakat menghadapi ke-liyan-an dan realitas kapitalisme dan lingkungan sosialnya. Erich Fromm, lebih sublim lagi bahwa alienasi manusia dialami justru saat manusia kehilangan pemaknaan atas dirinya sendiri.

Tanpa kesadaran reflektif—suatu fakultas pemikiran yang belum mampu dijangkau teknologi robotik—manusia mengalami proses dehumanisasi yang tak terelakkan. Bersamaan dengan itu, kesadaran manusia kian teralienasi dari hubungan-hubungan kebermaknaan selama ia hidup sebagai manusia.

Sekali tempo di suatu diskusi lepas bersama kawan-kawan, muncul pertanyaan sejauh apa peran teknologi robotik mengambil pekerjaan manusia? Sebagai contoh di dalam industri manufaktur, di televisi yang menayangkan kesuksesan-kesuksesan pabrikan mobil dalam memproduksi kendaraan serba guna ini, kerap saya saksikan betapa canggihnya sebuah robot menyusun partisi mobil. Robot-robot yang bergerak seragam dan kontinyu ini dikontrol oleh satu panel inti yang diprogram berdasarkan kecerdasan tertentu. Umumnya jika ada manusia dia hanya berperan secara subordinat saja.

Manusia atau dalam skema global disebut kelas pekerja ini tidak bisa lagi dibayangkan seperti film-film pantomim ala Carles Chaplin yang memerankan seorang kelas pekerja berdiri sambil memegang kunci baut memutar-mutar skrup partisi yang bergantian datang di hadapannya. Sekarang adegan itu malah lebih ganas lagi, hanya segelintir saja manusia ikut terlibat dari proses produksi itu.

Di negara-negara dunia ketiga, teknologi robotik belum merambah jauh sampai menjadi pilihan utama dalam kegiatan produksi benda-benda tertentu. Di pabrik-pabrik yang berlokasi di negara dunia ke tiga, kelas pekerja masih menjadi pilihan utama perusahaan-perusahaan pabrikan. Selain upahnya murah, memang sumber daya teknologi rata-rata negara dunia ke tiga masih tertinggal jauh dari negara-negara maju.

Kehendak. Itu yang saya pikirkan ketika pertanyaan di atas muncul. Secanggih apa pun teknologi robotik diciptakan, tetap saja ada unsur-unsur manusiawi yang tidak bisa ia tiru. Kecerdasan buatan (AI-artificial inteligence) boleh saja diciptakan dan dipakai dalam perangkat canggih teknologi, tapi kehendak mana bisa?

Menurut saya itulah (kehendak) garis tipis perbedaan antara manusia dengan teknologi.

03 Maret 2020

Perbedaan Manusia dan Binatang


Perbedaan antara manusia dengan binatang, saya kira dapat dilihat dari cara makan.

Belum pernah kita temukan hari ini seekor kera yang memasak untuk satu keluarga kecilnya. Di kebun-kebun binatang, sering terlihat justru mereka lebih suka memakan hasil pemberian pengunjung kebun binatang. Ada yang bilang, para monyet karena perlakuan demikian menjadi tidak seperti binatang lagi. Ia lama-lama menjad manja. Insting mencari makannya seiring waktu akan pupus.

Jika ke hutan, kera yang masih “liar” juga tidak menunjukkan cara makan yang neko-neko. Cara makan mereka lumayan simpel. Tidak ada aktifitas masak-memasak seperti manusia menyajikan makanannya. Jika mendapatkan pisang, buah ini dimakan seadanya. 

Jika mendapatkan nangka, jari tangan dan giginya lah dua alat yang mereka gunakan untuk mengambil isinya. Saya belum pernah melihat reaksi seekor kera ketika diberikan durian. Apakah ia bakal berpikir dua kali menggunakan kekuatan bibirnya sama seperti ia membuka kulit nangka?

Pisang dan nangka di mata kera adalah buah yang sama ketika pertama kali ditemukan dan ketika akan dimakan. Jangankan ada keinginan menggorengnya—seperti yang akan dilakukan manusia jika bosan memakan pisang secara langsung—membuka kulitnya saja dulu kadang tidak dilakukan.

Pisang ataupun nangka, bisa menjadi macam-macam di tangan yang mahir mengelolanya. Tentu bukan kera yang mahir, tapi seorang manusia. Kemahiran tentu datang dari pengalaman dan pengetahuan mengenai pengelolaan makan-makanan. Ini merupakan wilayah tata cara, tradisi, dan akhirnya berkembang menjadi budaya.

Budaya inilah yang akhirnya membedakan cara makan seekor kera dengan manusia.
Pisang dan nangka, jika dibawa ke dalam tradisi masyarakat Bugis dan Makassar, akan muncul beberapa jenis pengeloaan. Saat perkawinan, kue Barongko pasti menjadi paganan khas bagi tuan rumah yang melangsungkan hajatan pernikahan. 

Ada juga namanya kue “roko-roko utti” yang disukai bapak-bapak ketika menikmati secangkir kopi. Bagaimana dengan nangka? Anda cukup tengok di meja depan. Ia akan Anda temukan bersama campuran buah lain yang disebut es buah.

Singkatnya, karena tafsir kebudayaanlah cara makan manusia berbeda dengan binatang. Bahkan bagi kelas elit tertentu, makanan yang dikelola dengan pendekatan ilmu tata boga akan menjadi bukan lagi sekadar hasil kelola yang mengenyangakan perut belaka, tapi mesti juga mempertimbangkan unsur gizi dan keindahan agar mengundang selera.

Contoh yang terakhir ini tengoklah perlombaan para master makanan dalam menampilkan suatu menu makanan. Indah tapi kadang juga lucu. Memukau tapi juga mengagetkan.

Tapi, bagi masyarakat kelas grassroot seperti saya ini boro-boro menampilkan cara makan elegan seperti kelas atas. Bisa makan kenyang tanpa terserang penyakit saja sudah lebih dari cukup. Apalagi mesti beringas seperti seekor gorila kelaparan.

Begitu.

22 Februari 2020

Kitab Hammurabi



Code of Hammurabi atau Kitab Hammurabi
Sekujur sisinya diukir 282 peraturan
menggunakan bahasa Akkadia.
Prasasti ini sekarang menjadi koleksi Museum Louvre Prancis


KALI pertama saya mendengar Hukum Hammurabi yakni dari pelajaran sosiologi. Saat itu saya sudah duduk di kelas tiga sekolah menengah atas, dan seperti umumnya teman-teman saat itu, saya mulai berpikir masa SMA adalah masa ketika anak-anak seperti kami harus berhenti bersekolah. Setelah itu jika dinyatakan lulus, kami beranggapan bisa kemana saja termasuk pergi  ke terminal pasar menghabiskan waktu dan melakukan apa saja tanpa harus dibebani ini itu karena masih dianggap sebagai pelajar sekolah. Hukum Hammurabi diceritakan berasal dari masyarakat Mesir kuno Babilonia, begitu diceritakan guru sosiologi kami saat itu. Masyarakat Mesir kuno adalah masyarakat yang suka hidup di sekitar Sungai Nil karena tanahnya subur dan lebih lembab daripada tanah di pedalaman Afrika saat itu. Keadaan tanah di sekitar sungai ini sangat cocok untuk kehidupan binatang sejenis sapi atau domba karena ditumbuhi rumput-rumput hijau. Keadaan ini memungkinkan masyarakat untuk hidup menetap dengan mengandalkan peternakan dan bercocok tanam setelah hidup berpindah-pindah seperti generasi kehidupan masyarakat sebelum mereka. Guru kami mengatakan Hukum Hammurabi dibuat oleh seorang raja bernama Hammurabi untuk mengatur kehidupan manusia yang sudah mulai hidup secara bermasyarakat. Bagi para ahli, hukum ini adalah produk hukum tertua di dunia, yang pernah diciptakan manusia yang dipahat di prasasti setinggi delapan kaki di tengah keramaian yang disebut kota untuk mengimbau masyarakat agar selalu bertindak sesuai norma-norma kebaikan. Kalau tidak salah ingat, demikian pernah dikatakan saat itu, yang membuat saya membayangkan suatu kehidupan manusia yang suka berjalan-jalan melewati batu raksasa di pusat keramaian sambil bertelanjang dada seperti orang-orang Mesir kuno yang selalu menggunakan tudung kepala berkepala ular. Pelajaran ini bukan pelajaran sejarah, dan benar-benar dikatakan guru sosiologi kami, Ibu Suraedah, walaupun saya sendiri meragukannya, oleh sebab produk ”orang-orang terdahulu” saya pikir lebih pantas menjadi objek pembicaraan ilmu Sejarah. Saat itu Hukum Hammurabi muncul di lembaran kerja siswa, yang suka kami sebut LKS, yang membuat Ibu Suraedah senang membicarakannya dengan seringkali membuat pertanyaan-pertanyaan untuk kami jawab. Sosiologi adalah pelajaran yang mudah, begitu saya pikir saat itu, karena saya hanya tinggal menghapal dua atau tiga kalimat yang tertera di LKS jika Ibu Suraedah mengajukan pertanyaan, dan saya bisa menyampaikannya persis seperti apa yang ditulis dalam buku. Kadang-kadang memang tidak mesti harus sama seperti dalam buku, Anda hanya cukup mengetahui kata-kata kuncinya dan mampu melihat hubungan kata-kata itu dengan bunyi pertanyaan yang diberikan. Trik itu lumayan ampuh untuk pelajaran sosiologi dan itu membuat saya menjadi murid yang gampang diingat karena sering terpilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Ibu Suraedah. Saat naik kelas tiga, dan mesti berpisah dari teman-teman selama kelas 1 dan 2, merupakan masa-masa yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Saya sedih karena itu berarti kami akan saling berpisah dari teman sebangku sekaligus geng pergaulan di kelas selama ini. Teman yang paling saya ingat saat ini adalah  Asdar, kawan sebangku, dan kami memutuskan untuk tidak saling berpisah jika kami naik ke kelas dua nanti. Kesetiaan kami atas pilihan ini sama seperti kisah kesetiaan Lennie dan George  dalam Of Mice and Men karya John Steinbeck, walaupun mesti saya katakan di sini, kami sama-sama bersikukuh bahwa saat itu tidak ada di antara kami yang ingin seperti Lennie yang bodoh dan lugu. Sekarang Asdar telah berprofesi sebagai polisi, cita-citanya yang selalu ia gadang-gadang sebagai profesi terbaik semenjak dari kelas satu. Asdar salah satu orang yang memiliki kepercayaan diri secara berlebihan bahwa masa depannya akan bisa bekerja di institusi kepolisian negara, dan ”mulut besarnya” itu sudah ia buktikan setelah berpisah cukup lama sejak kami lulus. Asdar sekarang tampak memiliki badan yang lebih berisi setelah saya melihat dan berteman dengannya melalui facebook. Ia sering saya lihat memasang foto-foto kala bertugas di jalan raya, atau sedang berpose di depan mobil sedan PATWAL nya. Naik ke kelas tiga IPS sama artinya kami tidak akan lagi menemukan pelajaran berisi angka-angka yang harus kami jumlahkan menggunakan rumus-rumus, atau simbol-simbol dalam ilmu fisika dan kimia, yang tidak kami pahami mengapa pelajaran seperti itu sangat disukai beberapa teman kami, seperti juga Nurlaela. Nurlaela adalah murid yang tanpa ragu selalu mengisi slot kursi di paling depan tepat di depan papan tulis berada. Nurlaela murid tercerdas di kelas kami. Ia bersama kecerdasannya seakan-akan diciptakan ke dunia seperti suatu amanah khusus demi menjawab setiap soal yang ditulis setiap guru di atas papan, dan selalu saja membuatnya mampu menjawab dengan benar. Ketika ini terjadi, hampir semua isi buku catatan kami, terutama pelajaran hitung-menghitung, adalah hasil kerja Nurlaela di atas papan. Saat itu terjadi, sebagian dari kami  dibuat seperti kerbau dungu yang hanya bertugas mencatat ulang hasil pekerjaannya di atas papan ke dalam buku catatan. Suatu waktu, Nurlaela mengeluh merasakan sakit di kepalanya saat mengikuti pelajaran matematika. Saat itu kami sedang mengerjakan soal yang sulitnya bukan main, yang diberikan Ibu Ros di atas papan. ”Jangan terlalu banyak berpikir, Laela,” kami mengingatkannya seperti koor lagu dari bangku paling belakang sambil terkekeh-kekeh bahwa otaknya sepertinya sudah aus. Kami mengira siang itu juga akan membuat Nurlaela tidak lama lagi menjadi gila karena terlalu keras menggunakan pikirannya. Peristiwa itu diam-diam membuat kami membatin ”ilmu matematika ternyata bisa menjadi penyebab sakit kepala dan pusing-pusing.” Kecerdasan Nurlaela tidak ada duanya di kelas saat itu, tetapi tetap saja setelah peristiwa sakit kepala itu membuat kami mulai khawatir otak yang dipaksa bekerja terlalu keras untuk bidang-bidang pelajaran tertentu, bukan saja membuat kepala kami akan sakit seperti Laela, tapi bisa membuat kami sinting. Kami takut mengalami kejadian yang lebih parah dari Nurlaela, yakni tanpa bisa kami kendalikan kepala kami tiba-tiba meledak membuat kaget seisi kelas karena bersikeras ingin memecahkan soal yang tidak satupun orang bisa menjawabnya. Kata orang Jerman hasil pendidikan adalah ”apa yang kita ingat setelah yang lain dilupakan.” Saya sekarang masih mengingat Hukum Hammurabi dan melupakan tabel zat dalam ilmu kimia, seperti saya mengalami kesulitan jika mengingat-ingat rumus-rumus matematika yang pernah saya dapatkan selama bersekolah.  Banyak yang saya pelajari hingga saat ini, terutama di masa sekolah, tapi tidak semuanya dapat saya simpan dengan baik. Ternyata ingatan bekerja secara politis oleh sebab Anda dapat memilih mengingat sesuatu jika selama sesuatu itu melibatkan emosi dan berkesan bagi Anda. Saya bisa mengingat Hukum Hammurabi karena otak saya begitu emosional menanggapinya sampai mampu membayangkan bagaimana keadaan pasar, kuil-kuil, padang pasir, rumah-rumah tanah, jalan raya, tenda-tenda, dan bagaimana cara orang berpakaian saat itu. Saya yakin, inilah sebab yang membuat Nurlaela merasakan sakit di bagian kepalanya. Ia berpikir sampai-sampai menggunakan emosi dan bersikeras ingin memecahkan soal yang sulitnya bukan main itu. Sebagaimana saya yang masih mengingat Hukum Hammurabi, sekarang ia pasti bakal mengalami kesulitan melupakan bunyi soal matematika yang ingin ia pecahkan saat 16 tahun silam.

12 Februari 2020

Bagaimana Cara Menikah dan Membuat Orang Lain Terkesan


CEMILAN cokelat belum habis separuh dan itu membuat saya asik membaca komentar diskusi di grup whatsapp alamamater yang sedang ramai oleh tingkah mantan rektor mereka.

”Sesuai prosedurji. Mereka punya surat izin untuk penggunaan jalan.”

”Mantappp.”

”Piko protes kalo bisako!” Segera seseorang menimpali.  

”Keren memang rektornya kita, karena seluruh rektor se Indonesia dia undang.”

Diskusi ini masih terus berlanjut dan membuat saya seperti orang yang kehilangan informasi penting sehingga saya terdorong men-scrool informasi naik turun agar tidak di ping-pong komentar-komentar mereka.  

Seperti dikebanyakan grup maya, keinginan ikut nimbrung berkomentar meramaikan perbincangan tidak sama seperti saat saya bersemangat membalas komentar-komentar kali pertama aplikasi-aplikasi chatingan diciptakan.

Kadang saya berpikir saat dunia makin riuh dan kehilangan moment-moment reflektif, pepatah diam adalah emas merupakan himbauan yang patut dicoba siapa saja. Saya mencurigai pepatah ini dicetuskan saat si bijaksana menemukan suatu kondisi saat semua orang menggunakan mulut lebih sering daripada otaknya.  

Tapi, saya juga percaya kebanyakan orang membuat grup bukan demi membela mulut mereka, melainkan bagaimana keyakinan-keyakinan seseorang dapat diuji di ranah yang lebih luas.   

Tadi malam, di atas moda penyebrangan perahu yang melintas di atas sungai Jeneberang, informasi tentang rektor UNM menutup jalan karena hajatan perkawinan anaknya jadi makanan empuk media-media lokal. Saya membacanya sekilas dan menutupnya sambil mengumpat. Seorang kawan memberi tagline tautan tentang polah rektor ini agak keras juga: “Beginilah karakter penguasa, bukan pemimpin.” 

Pagi hari seorang teman sehari-hari bekerja sebagai wartawan memasang status WA hasil jepretan layar sebuah media nasional yang menempati urutan pertama di mesin pencari google, bahwa berita ini telah naik statusnya menjadi berita nasional.  

”Sudah lihat berita di facebook, rektor UNM jadi pembicaraan.”  

”Oo, tadi sedang ramai di grup.” 

Saat malam sebelumnya Istri saya hanya menanggapinya sambil lalu tanpa melepas pandangannya dari layar laptop seakan-akan berita itu tidak sama sekali membuatnya bergairah untuk dibicarakan. Ia menjelaskan pernikahan itu merupakan seseorang yang ia katakan yunior di bekas jurusannya. 

”Itu loh, yang calon bupati Barru.” 

Saya tiba-tiba mengingat spanduk seorang anak muda dengan muka memajang senyum seperti elit politik di negeri ini, yang pernah saya pandangi dipaku di pohon-pohon sepanjang jalan poros Pangkep-Barru melalui kaca mobil tumpangan saya tempo lalu. Itu gambar yang sederhana saja pikir saya.  

Kebanyakan orang di kampung saya seringkali menggunakan halaman rumahnya sebagai tempat hajatan. Tanah di kampung-kampung masih lebih mudah ditemukan dibanding di perkotaan, yang banyak dialihfungsikan menjadi area perumahan atau pertokoan.  

Itu juga saya kira sebabnya, seiring semakin mahalnya harga rumah dengan halaman yang minim membuat bisnis properti makin menjamur. Di Makassar sendiri, Anda akan mudah menemukan lokasi-lokasi khusus yang diciptakan untuk menggelar hajatan pernikahan. Jika Anda sedikit gengsi, hotel-hotel besar sudah mengetahui keinginan Anda dengan menyediakan promo khusus jika hotel dipakai tempat menikah daripada menginap.

Waktu menikah, keluarga dekat masih sulit percaya keadaan geografis kampung istri saya, yang membutuhkan perjalanan panjang dengan jalanan  berlumpur tanpa aspal. Sisa dari perjalanan itu masih harus melewati jalan yang tidak semua mobil mampu menembusnya. Di kanan-kirinya jurang demikian menganga dengan dasar sungai yang hanya bisa didengarkan bunyi gemerciknya. 

”Cukup sudah, tobat ma!” celetuk adik mamak ketika melewati bukit-bukit pegunungan yang beralas lumpur berpasir. ”Pantat saya sakit”.  

Sepulang dari hajatan, tidak ada yang paling sering diingat dari saya dan istri kecuali perjalanan panjang saat saya pergi menikahi seorang gadis di pelosok Sulawesi Barat.  

Di Youtube banyak hal membuat saya tak mampu menahan tawa semisal gelaran pernikahan yang tiba-tiba panggung biduannya ambruk, si suami yang duduk di pelaminan sambil bermain game, bahkan baru tempo hari saya melihat pernikahan yang terancam gagal lantaran si mantan datang mencak-mencak dan mengamuk seperti kuda liar.

Tentu saat ini Anda mengingat acara pernikahan dari tanah Sulawesi Selatan yang membuat decak kaget hanya karena ongkos perjamuan yang mencapai miliaran rupiah, atau si kakek-kakek tua yang berhasil mempersunting gadis belia ketika ia di saat bersamaan telah banyak melahirkan cucu-cucu dari anak keturunannya.

Setiap orang memiliki peristiwa berkesan yang membuat semua orang mengingatnya. Saya bagi beberapa orang, bakal sulit melupakan prosesi pernikahan ketika arak-arakan beberapa mobil bertolak dari Bulukumba menuju suatu kampung pelosok demi mengikat sehidup semati gadis pilihan saya.

04 Februari 2020

Ketika Saya Mengutarakan Keinginan untuk Memelihara Burung



A.S Laksana
Sastrawan dan esais asal Semarang
Mantan wartawan Detik sebelum dibredel Orba

SETIAP benda dapat menyampaikan sesuatu. Laptop, meja, tisu, apel, kolam renang, teleskop, dll., dapat berbicara banyak dan beberapa di antaranya mampu membangkitkan kenangan. Tidak semua benda-benda di sekitar kita mengingatkan sekelumit pengalaman, walaupun tidak sedikit juga ada benda-benda yang terkait dengan masa lalu kita dan itu menarik untuk dituliskan karena mengingatkan kita kepada seseorang, ide, atau pengalaman-pengalaman unik. Jika Anda kehilangan ide menulis, seperti dikatakan AS. Laksana, benda-benda di sekitar Anda dapat menyampaikan sesuatu untuk mengilhami Anda agar dapat segera menulis. Setelah membaca esai Mas Sulak, saya segera teringat dan membuka file tulisan ini: Banu selalu antusias melihat ayam semenjak kali pertama ia diperlihatkan oleh Bapak. Kali pertama ia melihat ayam dengan jarak tertentu membuatnya seolah-olah menyadari ia bukanlah satu-satunya mahluk hidup di dunia ini yang mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Di rumah, kakek Banu memelihara Ayam sebagaimana ia pernah menjadikan burung perkutut sebagai peliharaannya. Dua puluh dua tahun lalu, setelah pulang sekolah seringkali saya duduk berjongkok menatap lama-lama perkutut-perkutut di dalam kandang demi melihat gerak-gerik mereka ketika saya lempari jagung. Saya agak lupa apakah di waktu ini saya sudah mengetahui bahwa perkutut dan merpati adalah dua jenis burung yang berbeda walaupun seringkali sulit saya bedakan. Di saat itu belum sekalipun saya melihat burung merpati dan hanya mengetahui perkutut memiliki bunyi yang khas dan hanya diam ketika saya mengamatinya. Saya pernah dibuat takjub ketika suatu siang sepulang dari kantor Bapak membawa seekor burung kakatua berjambul kuning dengan paruh berwarna hitam. Seketika burung perkutut yang dipelihara lebih dulu di dalam kandang di dekat pohon pisang menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan burung ini. Tingkah pendiam burung perkutut membuat saya bosan dan mau tidak mau membuat saya tidak mampu menolak mendengarkan suara khasnya ketika berbunyi. Tubuh burung kakatua dibawa Bapak lebih besar dari burung perkutut. Selain suka bergerak dan pandai bergantungan, bulunya putihnya demikian bersih dengan kaki hitam bersisik seperti sisik ikan. Saya belum pernah melihat burung kakatua sedekat itu kecuali seekor burung elang yang dipelihara oleh entah siapa di rumah sakit W. Z Johannes, Kupang, sekitar dua dekade lalu. ”Matamu mesti  diperiksa di rumah sakit,” kata Bapak saat saya diduga mempunyai kelainan mata. Saat itu saya masih duduk di sekolah dasar dan tidak ingin hidup selamanya menggunakan kaca mata seperti Ibu Bene, guru kelas 6 yang terkenal galak. Saat itu saya kira setiap orang menggunakan kacamata adalah orang yang galak.  Mamak kerap marah-marah menggunakan kacamata di rumah dengan menggunakan bahasa daerah yang sulit saya mengerti di usia sekecil itu. Setelah sepulang dari rumah sakit, mata saya dinyatakan sehat. Kesimpulan itu diambil  setelah saya diuji dan disuruh melihat beragam bentuk huruf dari jarak tertentu menggunakan kacamata khusus yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Sejak itu dan ketika mesti mendatangi rumah sakit W. Z Johannes, burung pemakan daging itu benar-benar nyata yang membuat saya seolah-olah akan segera sembuh pasca melihatnya. Setelah melewati gerbang dari atas tangki motor Suzuki saya melihat burung itu begitu tenang seolah-olah ia diinstruksikan untuk berdiri diam bagai patung. Warna bulunya yang kecokelatan dan ujung cakarnya yang melengkung membuat burung itu bagai penjaga yang siap menerkam jika ada seseorang yang berbuat usil. Dulu saya mengira lambang negara Indonesia diambil dari burung elang ini, dan bukannya burung garuda yang ternyata hanya sebagai burung legenda. Burung kakatua Bapak tidak lama dipelihara. Suatu hari ia seketika dapat lolos dari ikatannya dan membuat kami merelakannya hilang di balik pepohonan setelah kelimpungan mengejarnya sampai ke hutan di belakang rumah. Saat dipelihara saya sering memberikan apa saja kepadanya untuk menguji seberapa kuat kekuatan paruhnya, dan percaya kekuatan menggigitnya mampu memutuskan jari kelingking orang dewasa jika ia mau. Semenjak tinggal terpisah dari orangtua, ada masa saya ingin menjadi seperti Bapak dengan memelihara beberapa ekor burung perkutut. Sekarang saya sedang mempertimbangkan memelihara ayam setelah istri saya sama sekali tidak menggubris ketika saya mengutarakan keinginan untuk memelihara burung. Saya meyakini memelihara burung dapat menjadi alternatif membuat jiwa ini agak sedikit plong. Setelah Banu menyukai ayam, saya kira keinginan saya bisa sedikit terobati dengan menggantinya menjadi ayam saja, dengan catatan menganggapnya seakan-akan itu merupakan burung elang yang sedang malas saja utuk terbang di udara.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...