17 Mei 2019

Puasa dan Kuasa


Friedrich Wilhelm Nietzsche  
Filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kunopenyair dan komposer.  
Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme.
Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra).

PUASA adalah wahana manusia menjadi adimanusia. Cara manusia menyerupai sifat Tuhan: tidak makan dan tidak minum.

Itulah sebabnya puasa adalah ibadah yang tinggi derajatnya. Ia cara Tuhan mengajak manusia “merasakan” langsung dimensi ketuhanan. Caranya dengan memutus hubungan dari aktivitas yang mengikutkan hasrat libidinal manusia: makan, minum, seks, dengki, marah, dll. Ibarat Tuhan yang suci, melalui puasa, manusia diajak mensucikan dirinya dari godaan yang membuatnya ”kotor” dan hina.

Puasa juga merupakan ibadah personal. Berbeda dari salat misalnya, ibadah puasa tidak menampakkan langsung bentuk praktiknya. Salat ketika dilaksanakan memungkinkan banyak orang melihatnya. Sementara puasa, saking personalnya, selama ia dikerjakan dengan penuh komitmen, adalah rahasia  pelaku puasa dengan Tuhannya belaka.

Agama mengandung dua dimensi: eksoteris dan esoteris. Dimensi eksoteris agama adalah ”praktik” syariat yang dikerjakan manusia. Ia adalah aspek ”luaran” agama; tampakan lahiriah yang mewakili nilai agama melalui cara, model, bentuk, atau metode tertentu. Perbedaan tata cara menyembah tiap agama adalah contoh aspek ”luaran” yang  berpangkal dari pemahaman syariat yang berbeda-beda.

Kadang di suatu masjid ditemukan seseorang menangis ketika salat. Air matanya berlinang saat menundukkan kepalanya. Sehabis salat ia melanjutkan ibadahnya dengan berdoa. Sesekali ia sesenggukan masih menangis. Sementara tidak jauh dari tempatnya, jamaah yang lain nampak biasa-biasa saja melakukan salat. Jangankan bersedih, air mata yang mengalir di pipinya pun tak ada.

Dua orang di atas sama-sama melakukan rukun salat secara tertib. Dari takbir hingga mengucapkan salam. Namun hanya seseorang yang menangis dalam salatnya. Si abid yang menangis ini sedang “menghayati” pengalaman beribadahnya. Ia sedang merasakan dimensi “dalaman” salat. Tidak sekadar bergerak melaksanakan rukun salat, ia terhanyut di dalam spiritualitas salat. Jiwanya tergetar saking khusuknya. Orang yang menangis ini sesungguhnya sedang menyerap dimensi esoteris ibadah. Sementara jamaah yang sama sekali tidak menangis hanya bergerak di tataran eksoteris belaka.

Puasa karena tidak nampak pelaksanaannya—selain waktu menahan dan berbuka, bisa dilakukan dalam berbagai aktifitas. Puasa bisa dijalankan sambil bekerja di kantor, menarik becak, berjualan di pasar, atau sambil tidur-tiduran di rumah sekalipun. Bahkan puasa adalah ibadah yang unik karena bisa sekaligus dilaksanakan dalam ibadah lain. Sambil puasa seseorang masih dapat melaksanakan salat secara bersamaan. Berbeda misalnya, salat. Tidak mungkin pelaksanaan salat dirangkaikan sekaligus dengan ibadah haji.

Karena puasa adalah ibadah di dalam ibadah, ia sesungguhnya berkaitan erat dengan dimensi esoteris manusia. Tujuan puasa adalah penajaman dimensi kejiwaan manusia dari hasrat rendah ego. Selain menahan lapar dan dahaga, puasa melibatkan pengelolaan jiwa agar tidak terjebak ke dalam niat buruk dan jahat kebinatangan.

Tahun kedua Hijriah, di bulan Ramadan sepulang dari perang badar, Rasulullah mengingatkan para sahabat bahwa sesungguhnya mereka baru pulang dari perang kecil dan akan segera menghadapi perang besar. Sahabat yang heran bertanya: ”Perang besar apalagi yang akan kita hadapi, ya Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “jihaadun nafsi (perang melawan hawa nafsu).”

Melalui narasi filosofis Nietzsche, filolog asal Jerman, manusia didakukan sebagai mahluk yang memendam hasrat berkuasa. Kata Nietzsche, niat beragama, berbudaya, berekenomi, dan berpolitik adalah wujud dari kehendak manusia untuk berkuasa. Jika ada representasi moral dari tindak tanduk perilaku manusia, kata Nietzsche, itu hanyalah topeng dalam rangka menguasai.

Dalam arena keseharian, kekuasaan gamblang dipraktikkan sehari-hari. Terkadang hawa nafsu menjadi sumber produksi kekuasaan. Di medsos orang bebas berkuasa mengatakan apa saja. Hasratnya untuk menguasai pikiran netizen ditampakkan dari kerajinannya bersilat lidah. Tidak jarang lidahnya menyakiti lebih tajam dari sebilah pedang.

Di mal-mal, uang menjadi alat kekuasaan paling destruktif menciptakan hasrat berbelanja tingkat tinggi. Era sekarang era masyarakat konsumsi. Begitu pendakuan ahli ilmu-ilmu sosial. Berbelanja menjadi trend dan praktik sehari-hari. Banyak orang berkuasa demi membeli sebanyak mungkin barang-barang. Aku berbelanja maka aku ada. Demikian keyakinan masyarakat berbelanja.

Di ruang publik, banyak bermunculan kelompok-kelompok sosial melaksanakan aksi protes. Tidak jarang demi kekuasaan mereka menguasai jalan raya hingga menimbulkan kemacetan. Akhirnya di jalan raya kekuasaan kelompok massa mau tidak mau berhadapan dengan kekuasaan pihak kepolisian demi menciptakan ketertiban umum.

Di tingkatan elit politik, kekuasaan adalah magnet. Kekuasaan dibicarakan dan tidak jarang malah diperebutkan. Tidak segan-segan, bahkan banyak elit politik memanfaatkan kekuasaan demi mempertahankan posisi dan kepentingannya. Kekuasaan di tingkatan elit adalah jenis kekuasaan yang melibatkan banyak pihak. Itulah sebabnya, kekuasaan di tingkatan elit paling banyak menyedot perhatian.

Singkatnya kekuasaan ada di mana-mana. Ia tampil dalam berbagai bentuk dan motivasi. Namun seperti perkataan Rasulullah di atas, tiada kekuasaan yang paling besar untuk ditundukkan selain hawa nafsu. Hawa nafsu-lah cikal bakal seseorang diikat ambisi kekuasaan. Oleh sebab itu ramadan adalah momen yang tepat untuk mendidik hasrat manusia dari hawa nafsu berkuasa. Memutus mata rantai kepentingan dan kepongahan. Mendudukkannya kembali di bawah terang cahaya ilahi.

---

Telah terbit sebelumnya di Tribun Timur edisi 15 Mei 2019

12 Mei 2019

Ziarah


Ziarah adalah tanda etik manusia. Tanpa ziarah, manusia menjadi pribadi yang kehilangan hormat dengan dunia metafisikal tempatnya berasal.

Itulah sebabnya, berziarah juga sekaligus menjadi tanda "kenangan" bagi jiwa yang rindu kepulangan di kampung abadi. Ia tanda sehanif-hanifnya jiwa. Bahwa dunia hanyalah terminal persinggahan yang tidak perlu direspon berlebihan. Hiduplah seolah-olah kau akan mati esok. Begitu perkataan Rasulullah.

Sebelum dan sesudah ramadan, ziarah banyak dilakukan orang-orang untuk menandai dua bentuk kunjungannya: bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan mengunjungi makam orang-orang yang telah mendahului ke alam kepulangan.

Ziarah yang pertama adalah wahana manusia mempererat hubungannya dengan sesama, sekaligus cara mempertebal ikatan intim dengan pribadi-pribadi yang hanya sesekali bertemu.

Zaman kiwari, saling menziarahi hanyalah pertemuan tanpa bekal kasih sayang. Kata Erich Fromm, di hati manusia modern memendam keinginan untuk "dicintai" tinimbang "mencintai". Mereka enggan "mencintai" lantaran enggan berbagi. Di jiwanya hanya diliputi keinginan untuk mendapatkan perhatian.

"Mencintai" sama halnya memberikan perhatian kasih sayang; sesuatu yang tak dimiliki manusia modern lantaran disedot ke-aku-an yang akut.

Lalu, bagaimanakah ziarah yang sepatutnya? Ziarah yang diperkuat asas cinta. Ziarah yang disebut silaturahmi.

Sebagaimana etimologinya, ziarah ini merupakan interaksi yang diperantai motif kasih sayang. Ibarat ikatan tali yang renggang, kasih sayang-lah yang mempererat ikatan yang aus karena jarang berjumpa dan jarang berkabar. Saling memberikan perhatian, dengan begitu merupakan obat bagi sakitnya suatu hubungan.

Silaturahmi karena itu disebutkan Nabi dapat memperpanjang umur. Jika kelak manusia mati, banyak orang-orang bakal mendoakannya. Doa-doa yang "naik" ke alam penantian menjadi bekal bagi ia yang telah berpulang. Semakin banyak ia bersilaturahmi, semakin banyak pula kemungkinan orang mendoakannya. Semakin panjang-lah umurnya.

Berziarah ke makam-makam adalah tanda orang beriman. Sering-seringlah mengunjungi makam orang yang telah wafat, itu akan mengingatkan jiwa kepada asalnya. Demikian pendakuan Rasulullah. Dengan begitu, manusia dapat sadar bahwa ia adalah mahluk yang dibekali batas di antara dua dunia.

Orang dengan iman, disebutkan dalam al-Qur'an ditandai dari kepercayaannya terhadap hari akhir. Hari yang dibatasi hanya melalui keberadaan makam-makam. Di baliknya, terdapat "dunia" nirbatas; dunia kekal nan abadi.

Dari sini, maka teranglah siapa itu manusia sebenarnya. Ia adalah mahluk kerdil yang sebenarnya mendamba kekekalan. Dan, ziarah adalah "memo" bagi kehidupan masa kini, bahwa yang disebut pertemuan sudah dengan pasti ada perpisahan.

Sesudah kehidupan, ada gerbang kematian menuju alam asali.

10 Mei 2019

Tubuh dan Puasa

Ali Syariati
Sosiolog dan Ideolog Revolusi Islam Iran 1979

TUBUH adalah kuburan jiwa. Begitu pendakuan filsuf Yunani purba, Platon, berabad-abad silam. Jiwa sebenarnya asali namun terperangkap tubuh. Itulah sebabnya jiwa mengalami tarik ulur antara kemauannya untuk ”terbang” dengan hasrat rendah badaniah. Tubuh membuat jiwa lupa asal usulnya. Begitu pula jiwa akhirnya kehilangan kebebasannya.

Tubuh seringkali dijadikan tersangka peradaban. Dia dipandang tidak mewakili ”diri” yang ingin merdeka. Tubuh sering dimejahijaukan karena selalu bertolak belakang dengan jiwa. Hanya jiwa-lah yang patut diapresiasi lantaran paling mengenal seluk beluk  sang ”diri”.

Saking rendahnya tubuh, sosiolog Islam Iran Ali Syariati, mengidentikannya dengan tanah lempung. Ia bukan sekadar tanah belaka, tapi tanah yang menyerupai lumpur. Manusia, kata Ali Syariati bisa melampaui tubuhnya jika mengedepankan sisi ruhaniyah yang ”ditiupkan” Tuhan kepadanya. Sebaliknya, tubuh akan sulit diatur seperti sulitnya lumpur menyerupai bentuk-bentuk tertentu, selama ia menjatuhkan dirinya di genangan tanah jelantah.

Kiwari tubuh dipaksa laiknya mesin. Ia dipajang bak komoditi. Tubuh bukan sekadar serat daging dan batang tulang sebagai kerangkanya. Melalui kapitalisme tubuh menjadi medium hasrat. Di atas catwalk, tubuh dikomodifikasi berdasarkan kriteria masa kini yang lebih langsing dan ramping. Di ujung pisau operasi tubuh dipotong, dibelah dan dipermak habis-habisan menghilangkan bentuk alami demi gengsi kecantikan. Di gym-gym, tubuh didaur ulang mengejar body goal hanya untuk merepresentasikan otot maskulin. Di atas layar TV, tubuh dikapitalisasi menjadi papan iklan membrending merek-merek dunia.

Selain menjadi arena produksi dan promosi, di alam keseharian, masyarakat memperagakan praktik tubuh sebagai medan konsumsi. Sehari-hari tubuh diseret memenuhi insting biologisnya melalui praktik konsumsi tingkat tinggi. Praktik demikian dapat dikembalikkan kepada tindakan paling remeh tapi serius bagi masyarakat: berbelanja dan makan.

Berbelanja dan makan adalah ciri masyarakat modern. Demi menunjang dua aktifitas ini, tubuh dimanjakan melalui kehadiran ruang eksterior megah berupa pusat-pusat perbelanjaan. Di etalase dan restoran siap saji, tubuh diringsek untuk mengakomodir hasrat konsumtif masyarakat modern. Tubuh kemudian dipaksa menjelajahi eksterioritas  semesta komoditas demi melampiaskan hasrat konsumtifnya. Di waktu-waktu kemudian, berlahan-lahan tubuh kehilangan fungsi geraknya.  Ia mengalami obesitas dan lamban.

Makan dan berbelanja, dengan demikian, bukan lagi didorong hanya  sekadar pemenuhan kebutuhan biologis belaka, melainkan telah menjadi penanda status sosial seseorang. Semakin giat seseorang berbelanja dan makan di tempat-tempat siap saji, semakin tinggi seseorang mengisi kekosongan slot kelas sosial tertentu. Sebaliknya, semakin jarang seseorang berbelanja dan mengonsumsi makanan siap saji, semakin ia dipandang remeh dan receh oleh masyarakat.

Al-Qur'an memiliki narasi khas tentang tubuh. Tubuh dilihat dari lapisan terdalamnya berupa insan, nas, dan basyar sebagai kulit terluarnya. Tubuh, melalui tiga lapis narasi Quranik ini berbeda-beda dari segi makna dan tujuannya.

Insan adalah lapisan paling dalam menarasikan tubuh. Ia adalah sisi subtantif yang mengakomodasi dinamika transendental manusia berupa kemampuan intelektual dan merasanya. Insan adalah pribadi yang unik. Tubuh dari sisi insan, tidak bisa disamakan walaupun diperhadapkan kepada dua anak kembar sekalipun.

Nas sering dipakai al-Qur'an untuk menunjuk tubuh sosial manusia. Nas adalah kualifikasi interaktif tubuh ketika berhubungan dengan sejarah dan kebudayaannya. Ia bakal langgeng ketika tubuh mengalami ”perbauran” dan ”persatuan” bersama tubuh lain di masyarakat. Tubuh sosial dengan kata lain adalah pribadi yang tak dapat berdiri sendiri tanpa berhubungan dengan tubuh lainnya.

Sementara basyar adalah unsur fisikalitas manusia. Tanpa unsur ini, tubuh tidak mungkin tersusun berdasarkan urutan dan fungsi biologisnya. Basyar merupakan kulit paling terdepan manusia yang membentuk anatomi khusus dari organ-organ pembentuknya. Basyar sering dirujuk al-Qur'an ketika menarasikan tubuh yang berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhan biologisnya.

Kiwari eksploitasi tubuh menemukan momentum pembebasan melalui ritual puasa. Selama tiga puluh hari lamanya, tubuh akan ditempatkan kepada kedudukannya yang lebih agung melalui latihan spiritual yang mendidik dirinya. Tubuh akan dibawa kepada proses sakralisasi dengan menahan hasrat yang dikandung dalam dirinya. Di bawah madrasah puasa, tubuh insan, nas, dan basyar dididik kembali untuk ”mengingat” fungsi dan tujuannya.

Jika selama ini tubuh-basyar mengalami obesitas akibat terlalu banyak mengonsumsi barang-barang, tubuh-nas terlalu ringkih akibat keegoisan memutus kekerabatan, dan tubuh-insan yang ”kering” karena terpenjara tujuan rendah duniawi, maka puasa-lah arena pembebasannya. Dengan puasa tubuh diidealisasi melalui sejumlah aturan menahan dahaga lapar dan kerakusan agar ia kembali bersih.

Tubuh selama puasa, dengan begitu akan mengalami transformasi secara fisik maupun spiritual. Karena gemuk, ringkih, dan kering, tubuh akan digembleng habis-habisan demi mencapai kemerdekaannya di hari raya nanti. Di waktu itu tiba, tidak ada lagi tubuh yang bakal memenuhi obsesi pasar, kecantikan, dan body goal versi mesin hasrat ekonomi dan life style. Tidak ada lagi tubuh kuburan bagi jiwa. Tubuh seperti juga jiwa akan sama-sama menyambut kemenangan yang fitri.


09 Mei 2019

Menadaburi Perjalanan Cinta


Identitas buku:
Judul: Perjalanan Cinta
Penulis: Abdul Rasyid Idris
Penerbit: Liblitera
Tahun: Januari 2019
Tebal halaman: 302 Halaman
Nomor ISBN: 978-602-6646-19-4

BUKU Perjalanan Cinta dibuka dengan secuplik figur Maemunah. Seorang ibu penjaja warung makanan kecil-kecilan di sebuah kota kecil Sulawesi Utara. Esai ini tidak berbicara banyak selain dari kebajikan Ibu Maemunah yang berhasil “dipungut” dari sekian banyak kisah-kisah inspiratif nan menggugah tentang kebaikan yang dilakoni “orang-orang kecil”.

Di esai ini kesimpulannya cukup sederhana, tapi mahal harganya: apa pun lakon Anda, bekerjalah dengan jujur, ikhlas, dan senantiasa berpikir positif. “Insya Allah, hidup kita akan mabarakka‘ (berkah)” ungkap Maemunah di esai berjudul Bunda Maemunah itu.

Itu kisah Ibu Maemunah, yang “dicuplik” Abdul Rasyid Idris, penulis buku ini. Di esai ke-42 penulis menulis kisah lain: kisah hari Paskah.

Paskah, judul esai ini, menangkap fenomena toleransi di sebuah kota yang tidak jauh dari Gorontalo. Di Festival Paskah itu, penulis menyatakan diri kaget, fenomena yang disaksikannya itu beranggotakan panitia inti yang berkeyakinan muslim. Bagaimana mungkin perayaan Hari Paskah, berpanitiakan perempuan-perempuan muslim? Bukankah semestinya setiap hari besar agama-agama umumnya hanya digelar oleh pemeluknya sendiri? Itukah yang disebut toleransi?

Di halaman 54 Abdul Rasyid, menulis kisah seorang office boy –yang sebenarnya seorang perempuan– yang bekerja sambil menjual penganan melalui lapakan yang ia gelar begitu saja. Bagi pegawai-pegawai tempat office boy itu bekerja, untuk membeli jajalan penganan tinggal ambil kemudian pergi tanpa berinteraksi dengan si penjualnya. Bagaimana cara mereka membayar? Disebutkan, sepulang bekerja baru para pembeli membayar satu-satu penganan yang sudah sebelumnya diambil. Ketika ditanya apakah tidak tekor cara bayar seperti itu? “Tidak bahkan selalu lebih karena di antara pencicip itu ada yang sengaja melebihkan pembayarannya”. Di esai ini, penulis menangkap suatu hal yang istimewa: “Ibu Office Boy itu memulai suatu usaha kecil-kecilan dengan prasangka baik dan ketulusan…”

Tiga kisah di atas adalah kisah orang-orang di “pedalaman” keseharian. Kisah tentang fenomena dalam arti sesungguhnya, yang sering kali jarang ditangkap sebagai suatu pengertian, atau pembelajaran bagi kita. Kisah-kisah kecil yang memiliki daya gugat demikian besar bagi pengalaman hidup bersama yang seringkali diabaikan.

Di buku ini, kisah-kisah demikian ditulis dengan sederhana, langsung, dan lugas oleh penulis tanpa bermaksud membesar-besarkan peristiwa yang dialaminya.

Peristiwa di atas hanyalah contoh bagaimana penulis merasa peka dengan gejala keseharian, yang dengan sendirinya membuat tulisan-tulisannya cukup dekat dengan imajinasi pembaca. Bukannya memilih peristiwa-peristiwa yang sedang trend dan banyak dibicarakan orang, sebagian besar esai-esai buku ini lebih menekankan kepada sejumlah kejadian yang lebih sosiologis ketimbang politis–tema tulisan yang paling banyak mengemuka belakangan ini.

Proses kreatif Perjalanan Cinta dikembangkan penulis dari persentuhannya dengan berbagai tempat yang dikunjunginya. Sembari bekerja sebagai konsultan CSR di penjuru pulau Sulawesi dan beberapa kali ke luar Sulawesi, tidak lupa penulis mengisahkan pengalamannya melalui narasi-narasi deskriptif, dan tidak jarang merefleksikan pengalamannya ke dalam suatu tilikan yang semi ilmiah.

Walaupun nampak sederhana, dan ditulis a la travel writing, langsung maupun tidak, tidak sedikit tulisan di buku ini menyuguhkan ulasan-ulasan yang bersifat etnografik, historis, dan bahkan religius.

Perjalanan Cinta, dengan kata lain, karena ditulis menyerupai travel writing, membuka peluang dirinya dapat berbicara banyak hal. Satu hal yang dapat dikatakan kekuatan sekaligus kelemahan buku ini.

Sebagai seorang yang melakukan perjalanan, interaksi adalah ihwal penting untuk menemukan informasi berkaitan suatu tempat, entah sejarahnya, budayanya, ekonominya, dan sebagainya, yang sayangnya tidak menjadi perangkat investigasi dalam sebagian besar esai buku ini.

Hal di atas cukup elementer mengingat nuansa esai ini menyandarkan dirinya pada “perjalanan” sebagai kekuatannya, yang notabene ibarat pelancong yang ingin banyak tahu setiap tempat yang dikunjunginya. Walaupun demikian, kekurangan ini cukup tertutupi melalui bagian-bagian reflektif-kritis yang dihasilkan melalui penjarakan penulis dengan peristiwa yang melingkupinya.

Apabila melihat isi buku ini melalui temanya, nampak jelas “aliran” buku ini sesuai dengan di mana sang penulis berada. Kadang suatu waktu di warung kopi, di pedalaman desa, surau masjid, di kamar tidur, kampus, coffee shop, gedung kesenian, mall, toko buku, dll, yang semuanya sengaja ataupun tidak memberikan insight bagi penulis untuk menggerakkan penanya.

Namun, jika dikembalikan kepada simpul apa yang dapat mengikat beragam tema di buku ini, rasanya sulit untuk dilakukan. Perjalanan Cinta jika disebut tema utama, rupanya hanya dua judul di antara esai-esai di buku ini.

Ketimbang mengambil tema umum yang mampu mengcover keseluruhan esai di buku ini, Perjalanan Cinta lebih tepat diartikan sebagai catatan yang merefleksikan pekerjaan penulis dari pada bagian proses kreatif untuk melahirkan tulisan-tulisan buku ini.

Di sisi ini, muncul pertanyaan mendasar atas buku ini? Yang mana paling menentukan, apakah ide/obsesi tulisan-tulisan yang lahir dari “perjalanan” pekerjaan penulis, ataukah profesi penulis itu sendiri yang kebetulan memberikan akses yang luas untuk mengenyam banyak perjumpaan di keberbagaian fenomena yang ditemuinya.

Dengan kata lain, jika sang penulis tidak melakukan tanggung jawab pekerjaannya di daerah-daerah, apakah akan melahirkan buku ini?

Sejumlah polemik ini, dengan sendirinya akan menggugat beberapa hal semisal seberapa lapang-kah “intuisi” kepenulisan penulis jika sebelumnya tidak mengikuti rutinitas tanggung jawab profesinya? Bukankah intuisi kepenulisan tidak mesti terkondisikan dengan faktor-faktor yang telah menjadi rutin seperti misalnya pekerjaan? Lalu, seberapa reflektifkah tulisan-tulisan yang dilahirkan dari kejar-kejaran rutinitas tanggung jawab pekerjaan. Pertanyaan ini akan lebih mudah dijawab jika tidak ada dualisme dari sisi diri penulis itu sendiri, apakah penulis adalah konsultan yang “nyambi” sebagai penulis, atau penulis adalah penulis yang kerja satu-satunya hanyalah menulis?

Terlepas dari itu, buku ini justru menjadi bukti kekuatan kreatif penulis. Di sela-sela tanggung jawab pekerjaannya, dapat menarasikan sejumlah pengalamannya ke dalam kertas putih. Di sinilah unsur subjektivitas penulis mengambil peran lebih jauh “membunyikan” sejumlah peristiwa yang sama-sama banyak dialami orang-orang. Setiap orang dapat menjalani satu peristiwa yang sama, tapi tidak semua dapat “mengabadikannya” melalui proses kreatif kerja-kerja kepenulisan.

Syahdan, buku ini alih-alih bukan berupa esai-esai yang membuat pembaca menemukan kebaruan sudut pandang dan sejumlah proposisi yang memantik sejumlah pertanyaan di benak pembaca, melainkan lebih menjadi tulisan yang bisa membuat pembaca merasakan pengalaman penulis ketika mengunjungi suatu tempat. Dari aspek ini, tulisan demikian cukup berhasil menghidupkan indera (dan juga imajinasi) pembaca walaupun tidak sedang mempersepsi langsung objek di hadapannya.

Terakhir, melalui bahasanya yang mudah dan tidak bertele-tele, buku ini cocok dibaca siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

---

Telah terbit di kalaliterasi.com

23 April 2019

Waktu untuk Tidak Menikah: Perempuan-Perempuan Pelupa dan Suara Aktivisme Perempuan



Judul: Waktu untuk Tidak Menikah
Penulis: Amanatia Junda
Penerbit: Mojok
Edisi: Pertama, Januari 2019
Tebal: viii+178 hal
ISBN: 978-602-131-8768

SEJAK awal, dari Denyut Merah, Kuning Kelabu, kumcer Amanatia Junda sudah memuat daya pikat yang nyaris sempurna. Ia dibuka dengan lenyapnya Noni, tetangga si Aku yang menjadi penutur dalam cerita pertama di buku yang baru saja diterbitkan kembali awal tahun ini. 

Dengan cara ini, pembaca langsung dipukul rasa penasaran. Ibarat lubang hitam, ia menyedot daya imajinasi pembaca untuk menjawab rasa ingin tahu yang ditiupkan dari kalimat pembuka cerpen ini.

Noni diceritakan perempuan tomboy seketika hilang entah kemana. Tokoh si Aku, tetangga kamarnya paling dekat bahkan tidak tahu kemana perginya Noni. Noni dikisahkan raib tanpa petunjuk sedikit pun. Ia hilang meninggalkan kamar kosnya dengan TV dibiarkan menyala.

Tidak seperti cerpen umumnya menaruh ending di bagian akhir, kisah ini bisa dibilang buntung. Tidak ada ending sama sekali. Pembaca kecele mengira di akhir cerita akan dikuak kemana dan di mana Noni berada. Sampai berakhirnya kisah, Amanatia lempeng tidak membeberkan di mana dan kemana Noni pergi.

Berakhir tanpa twist di bagian akhir cerita menjadikan cerpen pembuka ini laiknya strategi untuk memancing pembaca dapat terus bertahan hingga halaman terakhir buku ini.

Bagi saya, cerpen pembuka ini perjudian Amanatia dengan para pembaca. Jika dari awal kisah pembukanya datar-datar saja, Amanatia gagal. Ia tidak menarik intensi pembaca menghabiskan 14 cerpen tersisa yang dibabarkannya.

Namun, kenyataannya berbeda. Cerpen pertama ini berhasil menjalankan daulat dan malah menjadi kunci pembuka yang apik.

Perempuan-perempuan pelupa

Waktu untuk Tidak Menikah, selain ditulis seorang perempuan juga kisah tentang perempuan. Keseluruhan kumcer ini bertolak dari perempuan. Boleh dikata buku ini menawarkan sisi belakang perempuan yang kerap sepele tapi penting untuk diperhatikan –terkhusus untuk kaum pria.

Ambil contoh pada cerita Perkara di Kedai Serba-Serbi. Dina, tokoh kisah ini merasa jengkel atas ulah seorang perempuan yang serampangan membuang pembalut sehabis diganti di kamar mandi. Sering lupa mengguyur bekas kencing di closet, dan bahkan lupa mengambil celana dalam yang tergantung di kamar mandi kos-kosannya.

Karena kesal, ia menceritakan ulah perempuan tidak dikenalinya itu kepada pacarnya. Malangnya, justru karena cerita itu Dina diminta putus oleh pacarnya. Tanpa disadarinya, perempuan yang ia ceritakan itu adalah dirinya sendiri. Ternyata Dina perempuan pelupa. Ia bahkan lupa mengambil celana dalam yang merupakan pemberian pacarnya. Celana yang ia ceritakan itu.

Melalui kisah ini, perempuan yang dikenal memiliki titik fokus lebih dibanding laki-laki, ternyata punya kelemahan: sering melupakan hal-hal remeh temeh. Amanatia Junda dengan jenaka membalik stigma yang kerap dilekatkan kepada kaum pria. Seringkali ditemukan si lelaki-lah yang punya "penyakit" lupa –lupa tanggal jadian, misalnya. Tapi, di kisah ini sebaliknya, perempuanlah yang didera "penyakit" lupa. Dan itu berakhir masalah.

Dalam Baru Menjadi Ibu, juga ditemukan masalah lupa. Bahkan ini bukan sepele, penting malah. Diceritakan si Aku  adalah perempuan bernasib malang.  Ia diperkosa di atas angkot saat “melarikan diri” dari rumah mertuanya. Sialnya, dari peristiwa itu ia lupa ciri-ciri fisik pelaku. Sebaliknya, ia justru lebih mengingat detail-detail yang kalah penting dari pemerkosanya: warna bangku, busa jok, keadaan lantai angkot, lapisan kaca mobil, dsb.

“Aku sama sekali tidak ingat mukanya, sama seperti perjumpaanku dengan lusinan wajah asing di angkutan umum. Aku sama sekali tidak ingat ciri fisiknya, sama seperti aku mendapati tikus tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarku. Namun, aku ingat, caranya merangsek, merobek, me—“ (hal.59)

Berkat lupa ini, si Aku tidak bisa melakukan apa-apa walaupun sudah melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Alih-alih berusaha menyelesaikan masalahnya, ia malah sampai melahirkan anak hasil pemerkosaan itu. Sesuatu yang menambah pelik persoalan si Aku lantaran sebelumnya ia pergi dari rumah mertuanya karena “dituduh” mandul.

Dapat dipahami, bagaimana rumitnya situasi yang dihadapi si Aku melalui kisah di atas.  Apalagi “kesadaran” yang kerap diunggulkan sebagai kualitas esensial lelaki, tidak sekali pun membantu si Aku dalam mengidentifikasi pelaku pemerkosaan. Si Aku malah lebih banyak merekam cara si korban melakukan aksi bejatnya.

Itulah sebabnya, betapa tidak diduganya kejadian itu dan terjadi dengan seketika, membuat si Aku kehilangan fokus untuk mengingat pelakunya. Ini menandai bagaimana si Aku menyimbolkan ketidakberdayaan kaum perempuan ketika menghadapi kasus kekerasan yang memilih melupakannya akibat posisi yang tidak menguntungkan.  

Di akhir cerita, penderitaan si Aku tambah perih. Karena disulut api lilin, bayi yang baru dilahirkannya meninggal disebabkan ruang persalinan dilalap jago merah. Si suster yang menjaga bayinya ternyata juga lupa telah memasang lilin penerang ketika terjadi mati lampu.

Melalui nuansa yang hampir sama, si suster menghadapi juga situasi tak terduga dan seketika seperti pada kasus si Aku. Karena itu, saat terjadi kebakaran, ia malah lari menyelamatkan diri melupakan seonggok bayi yang dijaganya, yang akhirnya mati hangus terbakar.

Di cerita yang lain, ditemukan lupa yang berbuah romantis. Pisah Ranjang singkatnya adalah kisah sepasang suami istri yang terpaksa menyewa rumah sederhana karena bangkrut. Keadaan ekonomi yang terpuruk membuat hubungan yang berpuluh tahun telah mereka bina jadi menegang. Hingga mereka memutuskan pisah ranjang dengan cara sang suami membelah dipan satu-satunya yang mereka miliki menjadi dua bagian terpisah.

Lantaran tidur saling terpisah ini lah menerbitkan suatu pengertian subtil yang hilang di antara hubungan mereka. Mereka baru menyadari berupa keadaan saling menatap satu sama lain ketika beranjak tidur terpisah. Kebiasaan sederhana ini ternyata begitu berharga karena selama ini mereka lupa bagaimana caranya menyatakan kasih sayang tanpa mesti menggunakan kata-kata.

““Kamu menyadari sesuatu?” tanya sang Suami sambi menatap sudut-sudut keriput kelopak mata istrinya.

“Aku—kita terlalu lama menjadi satu bagian,” jawab sang Istri lirih sembari menunduk.

“Hingga kita pun lupa untuk saling menatap saat kita hendak tidur. Aku  baru menyadari hal itu saat kamu memutuskan kita pisah ranjang…””

Sama tidak diduganya seperti dalam cerita Baru Menjadi Ibu, kejadian pisah ranjang nyatanya tidak benar-benar dapat disebut pisah ranjang. Di akhir cerita, kualitas hubungan mereka mengalami lonjakan berkat pengertian yang tiba-tiba baru diinsafi mereka berdua. Mereka tidur bersama di atas dipan yang telah menjadi setengah.

Menikah untuk tidak menikah

Walaupun kisah di atas perempuan dicitrakan sebagai perempuan pelupa –hal yang kontradiksi dari sifat umum perempuan— nyatanya, ada citraan-citraan perempuan yang memperlihatkan keunggulan perempuan yang bisa diberitakan sebagai aktivisme perempuan.

Ini menjadi menarik lantaran tema cinta –dengan kerumitannya—begitu mencolok di setiap cerita dalam buku ini. Dengan kata lain, pembaca akan menemukan tegangan-tegangan perasaan cinta yang dilakonkan tokoh-tokoh perempuan dalam kumcer ini. Untuk menyebut dua contoh di antaranya adalah dalam Waktu Untuk Tidak Menikah dan Sepasang Bulu Mata Merah.

Pertama, dalam Waktu Untuk Tidak Menikah ditemukan kerumitan perasaan perempuan yang identik ketika menghadapi momen sakral berupa hari pernikahan. Umumnya perempuan akan merespon hari pernikahan dengan kebahagiaan tiada tara walaupun diselingi rasa ganjil dan was-was menghadapi peralihan status menjadi istri orang. Sebagian di antaranya malah melakukannya sambil menangis sebagai ungkapan kesedihan bercampur kebahagiaan.

Tapi, Nusri berbeda nasib. Cerita ini dari awal sudah memberikan suatu pengertian berkaitan dengan posisi perempuan yang sering distigmakan buruk berkaitan dengan pernikahan. Nusri, seperti banyak perempuan yang mempertahankan keperawanan walaupun menjelang usia 30-an, mesti menghadapi kebiasaan masyarakat agar perempuan dapat secepatnya melepas masa lajang sebelum terlambat.

Pandangan demikian mau tidak mau menempatkan Nusri kepada situasi terpojok. Stigma perawan tua menjadi hukum besi yang tidak memberikannya ruang gerak yang bebas. Sampai ibu Nusri memilih menjodohkannya dengan seorang lelaki bernama Laksmo.

Di sinilah letak soal yang pelik: pernikahan tanpa cinta menjadi momok bagi Nusri. Masalah semakin runyam bagi Nusri ketika menerima kabar anak angkatnya jatuh sakit. Betapa pun ia sudah rela dijodohkan oleh ibunya, tapi tetap saja cintanya kepada anaknya Si Darun jauh lebih besar dari apa pun.  Waktu yang tidak mengenakan memang dan itu waktu terbaik untuk tidak menikah.

Pernikahan yang tidak menyertakan cinta juga menjadi motivasi yang hampir sama dialami tokoh Widuri dalam Sepasang Bulu Mata Merah. Widuri adalah perempuan pekerja yang menyimpan duka mendalam setelah kematian adiknya dalam suatu peristiwa kebakaran pabrik. Menarik melihat dimensi psikologis Widuri yang mengkonversi kedukaannya menjadi motivasi memobilisasi gerakan terencana menentang perlakuan tidak adil yang dialami dirinya dan adiknya sebagai buruh perempuan. Apalagi ini didasarkan kepada keinginan Widuri agar adiknya bisa mengubah kebiasaan keluarga yang semuanya adalah pekerja buruh pabrik. Ia ingin adiknya dapat melanjutkan pendidikan, suatu cara untuk mengubah nasib keluarga mereka.

Walaupun sama-sama bercerita tentang pernikahan, berbeda dari Waktu untuk Tidak Menikah, tokoh Widuri dalam Sepasang Bulu Bata Merah bukan memilih untuk membatalkan pernikahannya. Ia malah menggunakan pernikahannya sebagai momen balas dendam untuk menyuarakan ketidakadilan. Bahkan paska itu ia melanjutkan dengan cara menggelar pertemuan-pertemuan demi menyusun skenario perlawanan terhadap korporasi yang tidak adil kepada para pekerjanya. 

Aktivisme perempuan dan Dunia Kerja

Lalu di manakah anasir-anasir yang menunjukkan adanya aktivisme perempuan di dalamnya? Setidak-tidaknya itu tercium dari Sepasang Bulu Mata Merah. Di beberapa bagian cerita dan menjelang akhir, Widuri dapat dikatakan sebagai sosok aktivis perempuan yang kerap diidentikkan dengan gerakan feminisme. Dia diceritakan demi menuntut keadilan akhirnya memustuskan untuk mengkonsolidasikan suatu gerakan terencana yang hampir semuanya adalah perempuan.

Denyut Merah, Kuning Kelabu juga merupakan cerpen yang di dalamnya menyiratkan sosok aktivis perempuan. Tokoh utama cerita ini dikisahkan perempuan muda yang terlibat ke dalam pengadvokasian petani Madura. Dengan latar sebagai seorang mahasiswa, kehidupan tokoh dalam cerpen ini menunjukkan kedekatan idealismenya dengan dunia aktivisme yang identik dengan dunia kemahasiswaan.

Pada Jarak yang Memisahkan Kami,dan Abha,  adalah dua contoh lain dengan perempuan  yang kuat. Semua latar belakang ceritanya berkisah tentang perempuan pekerja mandiri. Suatu tipikal yang sering dijadikan sebagai prototype dari simbol kemerdekaan perempuan.

Terlepas dari itu semua, di sana-sini Amanatia cukup konsisten mengolah seluruh tokoh perempuannya yang beririsan langsung dengan dunia kerja, yang banyak digambarkannya sering mengalami tindakan pelecehan dan diskriminatif. Dengan kata lain, seluruh cerita dalam kumcer ini diam-diam sedang menyuarakan suara perempuan yang sering diberlakukan tidak adil baik dalam lingkungan domestik maupun dunia kerja.


--

Telah tayang di Kalaliterasi.com

13 April 2019

Si Prajurit Schweik yang Lebih Prajurit dari Prajurit


Judul: Prajurit Schweik (The Good Soldier Svejk)
Penulis: Jaroslav Hasek
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit: Pustaka Jaya
Edisi: Ketiga, 2008
Tebal: 279 hal
ISBN: 978-079-419-106-4

”ORANG itu sambil melambai-lambaikan tongkatnya berkali-kali berseru di sepanjang jalan kota Praha: “Ke Belgrado! Ke Belgrado!”

Ia sering dibekap encok. Jalannya seringkali sempoyongan. Tapi ia adalah satu-satunya prajurit yang memiliki semangat patriotisme yang tulus. Namanya adalah Schweik, Josef Schweik, lengkapnya.

Walaupun seorang tentara, Schweik nyaris tidak pernah terjun di medan perang. Ia memang mengakui pernah ikut berperang membela tanah pertiwinya, Austria, tapi entah kapan, dan berapa lama hanya ia seorang yang tahu.

Kisah dimulai dari kedai minuman favorit Schweik yang bernama ”Botol”. Di situ ia berbincang-bincang dengan Palivek si pemilik kedai minuman. Tapi dasar Schweik yang dikenal sebagai orang yang terlampau lugu dan berterus terang: ia akhirnya banyak berkomentar tentang kematian Ferdinand anak kaisar Austria—yang mati ditembak entah oleh siapa saat hendak masuk ke mobilnya.

Tidak diduga omongannya yang ceplas ceplos ini menariknya ke dalam masalah serius. Ia dituduh merendahkan kekaisaran Austria. Bretschneider, seorang agen intel yang sehari-hari menyamar mendengar ucapannya, membawanya masuk ke kantor polisi. Bersama Palivek, Schweik dijebloskan ke dalam sel dengan tuduhan sebagai makar.

Prajurit Schweik adalah karangan Jaroslav Hasek—penulis Ceko— yang penuh gaya humor dan satir. Walaupun berlatar perang dunia, tidak ada satupun adegan Schweik mengangkat senjata di medan pertempuran. Sebaliknya, cerita karangan Hasek diisi dengan profil Schweik yang konyol, eksentrik, lugu, tapi juga baik hati.

Scwheik barangkali adalah antitesa tipikal prajurit perang dunia I yang seringkali digambarkan bertubuh proporsional, berani, dan dispilin. Sebaliknya, Schweik adalah prajurit yang bertubuh tambun, pendek, berusia uzur, dan seringkali tidak disiplin. Bahkan Schweik diceritakan ”lemah akal”. Ia mantan pasien rumah sakit jiwa yang diusir lantaran dinilai aneh dan tak biasa.

Setelah Schweik dibawa ke penjara dan diintrogasi, saat itulah namanya mulai tenar seantero dunia kepolisian dan militer. Ketulusan dan keterusterangan Schweik ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan introgator intel kepolisian, malah membuatnya dipandang mempemainkan akal sehat. Bagaimana mungkin ada tersangka makar yang begitu terbuka dan jujur menjawab setiap pertanyaan yang diberikan kepadanya.

Saking jujurnya Schweik—karena itu juga ia lebih pas dikatakan tolol dan lugu—ia rela menandatangani surat pernyataan berkaitan dengan kesalahannya.

”Ada lagi yang harus kutandatangani? Atau mungkin aku akan dipanggil ke mari besok pagi?”

”Besok pagi kau akan dibawa ke pengadilan kriminal”

”Jam berapa, tuan? Begini. Aku tak ingin bangun kesiangan. Apa pun yang akan terjadi sehingga terlambat pergi ke pengadilan itu”

Begitulah Schweik, ketulusannya lebih mirip orang yang tak memiliki rasa was-was, curiga, bahkan prasangka. Caranya berpikir lempeng tanpa kekhawatiran sama sekali. Ia alih-alih menjadi prajurit yang sering diliputi rasa dongkol ketika diberikan perintah. Melainkan tanpa sedikit pun menolak melakukan permintaan dengan hati yang ringan.

Ia, dengan kata lain, tipikal prajurit yang lebih prajurit dari prajurit itu sendiri.

Judul asli Prajurit Schweik adalah The Good Soldier Svejk. Akan jelas dipahami, kebaikan prajurit Schweik di sini lebih menyerupai guyonan ala satir yang menyindir kemiliteran dan polah prajurit saat menghadapi laga peperangan. Kebaikan prajurit Schweik malah sebenarnya bukan sekadar kebaikan, tapi ya itu tadi, keluguan yang nyaris tanpa batas.

Bisa dibilang Prajurit Schweik bercerita tentang petualangan Schweik dar satu pos militer ke pos militer lainnya—yang sebenarnya bernasib sial walaupun ia sendiri tak menyadarinya. Ada kalanya ia ditempatkan di kamp militer tanpa kepastian perang, mendekam di dalam tahanan, menjadi bawahan pendeta Lukash, tukang bantu-bantu kompi, sampai harus menyusuri desa-desa dengan berjalan kaki tanpa mengenal arah tujuannya.

Ia juga mulai petualangannya menuju selatan bernama Budejovice, suatu daerah yang disebutkan sebagai ”garis depan” pertempuran. Tapi dasar Schweik yang tak tahu arah walaupun ia yakin arah yang ditujunya adalah tempat yang ia maksud, dalam perjalannya membuatnya banyak mengalami ”masalah”.

Petualangan Schweik mengingatkan saya kepada petualangan Don Quixote walaupun kisah keduanya berbeda. Satu hal yang mencolok dari keduanya adalah cara berpikir dua tokohnya; penuh humor, ketololan, dan gila.

Konon buku ini tidak tuntas ditulis Hasek karena ia lebih dulu mangkat. Walaupun begitu hal ini tidak menunjukkan kekurangan yang berarti. Sebaliknya, penceritaan Hasek benyak membalik aturan normatif yang selama ini dikenal di masyarakat.

Salah satu contoh adalah penggambaran Hasek berkaitan dengan moralitas prajurit yang seringkali menabrak idealitas kemiliteran. Beberapa atasan Schweik digambarkan sebagai atasan yang tukang mabuk, pendeta yang tidak paham agama, pejabat yang tak becus administrasi, sampai pasukan-pasukan yang lalai dalam tugas.

Menariknya, semua hal itu dituduhkan kepada diri Schweik sendiri. Di sinilah justru ketulusan patriotisme Schweik tidak mendapatkan tempat apalagi diapresiasi. Ia justru dituduh pembangkang dan menghindari tugas kemiliterannya.

Walaupun digambarkan penuh humor—Scwheik bahkan tentara yang banyak omong—cerita ini adalah bentuk kritisisme penulisnya demi membangkitkan semangat kebangsaan Ceko yang kala itu terlibat perang dunia.

Syahdan, setiap prajurit harus banyak belajar dari Schweik. Si tentara baik hati yang tulus mencintai negaranya. 

08 April 2019

Kota dan Kenangan


Pramoedya Ananta Toer
Sastrawan kenamaan Indonesia
Terkenal dengan Tetralogi Buru-nya
(Novel empat bagian yang menceritakan
sepak terjang Nasionalisme Indonesia)


KOTA mengikat waktu dan peristiwa, membentang sekaligus  menghubungkan interaksi; budaya, ekonomi, politik, kesehatan, dan pendidikan.

Sekali tempo, kota  tidak sekadar menjadi dunia objektif berdirinya megastruktur: gedung-gedung pencakar langit, jembatan megah, jalan raya, tugu-tugu raksasa, lapangan dan gedung pertunjukkan ramai.

Di waktu lain ia menjadi ruang subjektif warganya untuk menyaksikan, mengalami, dan merekam momen-momen interaktif dengan semua peristiwa dalam pengalaman berkotanya.

Dari sisi waktu, ruang subjektif tempat dunia ingatan manusia kota berpusat, sadar tidak sadar membentuk kenangan tertentu atas suatu pengalaman tertentu sejauh ia hidup dalam suatu wilayah tertentu di perkotaan.

Sudah mafhum bagi seseorang lama mengikat waktu di kota tertentu akan ikut membangun kenangan yang sulit dilupakan. Apalagi jika pengalaman itu berkaitan dengan pertumbuhan batin pribadi yang sedang tumbuh.

Pengalaman itu saya alami hampir satu dekade di kota Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Selama hampir sepuluh tahun hidup di negeri nusa tenggara, saya demikian akrab dengan gedung-gedungnya, gerejanya, rumah sakitnya, masjidnya, angkutan umumnya, jalan rayanya, pasarnya, dan....

Kenangan kian sentimentil jika semua pengalaman berkota itu berhubungan dengan kegiatan pribadi: ruang kelas sekolah, halte mobil, perpustakaan, masjid, kolam berenang, pantai….

Di titik ini, kota mengalami eksternalisasi yang mengarah kepada pribadi penduduknya. Kota menjadi wadah,sumber, sekaligus referensi pengalaman dan nilai yang mempengaruhi warganya.

Sebaliknya bagi pribadi di dalamnya, kota menjadi medan yang menyediakan ruang internalisasi kebudayaannya, tradisinya, bahasanya, dialeknya, cara berpikirnya, pergaulannya.

Singkatnya kota menjadi entitas yang mengindividuasi pribadi penduduknya. Tidak ada penduduk kota yang keluar dari ciri-ciri perkotaannya.

Satu dekade bukan waktu singkat. Selama mengalami kota Kupang, sampai sekarang, kenangan atasnya masih melekat kuat dalam benak. Kenangan terhadapnya bukanlah peristiwa biasa oleh sebab berkaitan dengan unsur-unsur yang ikut membentuk kepribadian. Dia ikut sepanjang pertumbungan pribadi yang berkembang.

Apalagi kenangan atasnya terdiri dari penggalan peristiwa kerusuhan 98 yang saat itu merembes sampai ke kota Kupang.

Itulah sebabnya, kenangan demikian menjadi kesan mendalam yang bakal hidup terus menerus.

Zen RS dalam bukunya Jalan Lain ke Tulehu menggambarkan kenangan atas suatu peristiwa begitu lekat membentuk identitas seseorang. Melalui tokoh Gentur, novel ini mengetengahkan bagaimana konflik atas dasar identitas dapat kuat terpatri menjadi kenangan yang sewaktu-waktu muncul tak diduga-duga.

Kenangan dalam hal ini juga merupakan entitas yang sulit dikucilkan dari ruang bersama. Ia kuat hubungannya dengan hasrat, cita-cita, kekecewaan, trauma, penderitaan, kegelisahan dan rasa bersalah yang ikut dari orang lain.

Dengan kata lain, kenangan yang demikian subjektif pada dasarnya mengikutkan unsur keterlibatan banyak orang di dalamnya.

Kisah hidupku ditulis dan disusun juga oleh kisah hidup orang lain yang bertemu, mengenal, dan berhubungan denganku. Kisah-kisah yang saling bersilangan dan beririsan.” (Hal. 50).

Satu hal yang dapat ditarik dari karangan Zen RS ini adalah betapa kontrukstifnya kenangan dapat membangkitkan suatu pengalaman terdahulu. Secara kolektif, kenangan dapat dilihat kembali sebagai simpul yang berinteraksi sekaligus mengikat warganya kepada suatu pengalaman bersama.

Dengan kata lain, kenangan memiliki daya insulin untuk memperbaharui pengalaman baru yang semula dikoyak oleh konflik identitas, misalnya. Tidak bisa dimungkiri, kenangan kolektif adalah salah satu modal sosial yang penting jika ingin membangun kembali simpul sosial yang saling bertikai lantaran hilangnya kepercayaan di antaranya.

Hubungan kota dan warganya di sisi lain sangat bergantung jenis kekuasaan apa yang menghubungkannya. Kadang di waktu tak terduga, keduanya menjadi regang lantaran kekuasaan menjadi faktor pemisahnya.

Dalam kehidupan perkotaan modern, ketika kota kian eskalatif dan destruktif menampung cita-cita pembangunan, pertumbuhan, maupun perluasan, kenangan menjadi ikut rentan dan goyah. Hal itu dipengaruhi setidaknya juga oleh faktor bencana alam, penggusuran, ataupun pengusiran paksa.

Warga penyintas, yang tergusur, terusir, dan yang disingkirkan demikian genting bakal mengalami gangguan yang traumatis ketika mereka dialihkan dari mukim bertahun-tahun mereka. Sudah menjadi hukumnya, ketika ruang mukim lenyap maka akan ikut mempengaruhi pengalaman berkotanya yang lain pula.

Warga yang tersingkir dan terjauhkan sudah pasti dipaksa mengalami pengalaman baru dan asing pada lingkungan baru yang dihadapinya. Di kehidupan kedua inilah, kenangan menjadi semakin bernilai karena ia bukan sekadar ingatan yang mengandalkan dimensi ”rasional” manusia, melainkan jauh melibatkan unsur ”perasaan” warganya.

Kenangan karena itu sudah menjadi bagian organik dari kehidupan warganya. Ia tumbuh bersama aktivitas warga. Dibentuk melalui kegiatan-kegiatan sehari-hari yang menimbulkan kesan mendalam. Mulai dari aktifitas kumpul bersama, kerja bakti, rapat antar warga, jual beli, sampai beribadah bersama, kenangan bakal tercipta di dalamnya selama semua itu terjadi pada lingkungan yang spesifik dan permanen.

Hubungan kota dan kenangan dalam karya sastra ditemukan melalui narasi Pramoedya Ananta Toer melalui tulisannya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Karya yang menapaktilasi kota-kota yang dilalui jalan raya Deandels ini apik menceritakan aspek-aspek historis, sosial ekonomi, dan sosial budaya yang terancam setelah dibangun jalan raya yang bersejarah ini.

Menariknya buku yang sebetulnya tidak juga disebut catatan perjalanan  itu, sedikit banyak mengangkat kekejaman Deandels berupa pembunuhan massal, termasuk bupati-bupati yang menolak memberikan sebagian lahan bagi penyediaan ruas jalan raya Pos. Bukan saja itu, tidak sedikit warga yang mati diserang kelelahan, kelaparan, dan terserang malaria.

Di bagian lain nampak Pram ikut menguarkan kenangan masa kecilnya di kota Blora-Rembang. Di sisi ini Pram mengekalkan kekuatan kenangannya bersamaan dengan aspek-aspek politis  yang ikut mengiringi pembangunan jalan ini.

Betapa pun kenangan bukanlah persoalan sederhana, hal ini menunjukkan bahwa kenangan dapat menjadi semacam kerinduan yang dekat dengan penderitaan—kenangan sering disebut nostalgia: kata yang asal usulnya dapat ditelusuri dari kata Yunani ”Nostos” yang berarti ”kembali pulang” dan ”Algos” yang berarti ”penderitaan”.

Mungkin ada benarnya, karya Pram ini suatu bentuk kerinduan terhadap kenangan masa kecilnya; itulah juga buku ini disebutkan sebagai catatan perjalanan (suatu pengalaman perjalanan).

Hubungan kota dan kenangan nampak menjadi semakin kuat seperti misal dalam lagu ”Hallo Bandung”. Kota Bandung, dalam lagu ini menjadi begitu sentimentil bagi penciptanya sehingga diabadikan di dalam lagu. Diketahui setelah kembali ke Batavia pasca menikah, Ismail Marzuki tergiang-giang dengan Bandung, tempatnya banyak menghabiskan waktu.

Bukan saja itu, dipengaruhi peristiwa bulan Maret 1949, ketika Inggris berupaya merebut kota Bandung, syair lagu ini digubah kembali menjadi patriotik dengan kemunculan lirik ”Sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali”.  Maksud lirik ini untuk membakar semangat pejuang yang saat itu melawan dengan cara sengaja membakar gedung-gedung di penjuru wilayah selatan kota Bandung sebelum mereka meninggalkan kota periangan itu.

Dalam lagu ini, kota dan kenangan identik dengan ”penderitaan” untuk merebut kembali apa yang pernah menjadi bagian hidup warganya.

Kenangan, dalam lagu ini, dengan kata lain menjadi elemen pengorbanan dan perlawanan yang mampu menggerakkan orang-orang ke dalam satu cita-cita bersama.

Kiwari semakin banyak kota tumbuh. Urbanisasi menjadi trend sehari-hari. Desa-desa hilang berganti kota-kota baru yang semakin hari semakin padat.

Demikian pula kenangan, semakin hari tumbuh bergantian dan mengisi ruang baru dalam benak manusia. Kota berganti, juga tumbuh, menyulap ruangnya menjadi semakin sempit. Itu berarti semakin banyak sudut kota yang berubah, bahkan hilang.

Tapi tidak dengan kenangan. Ia bertahan dan liat. Manusia hanya mampu mengingat. Mengenang sisa-sisa pengalamannya yang semakin lama diganti kenyaataan baru.

Ia hanya bisa bernostalgia: berjalan pulang sekaligus menderita mendekam rindu kembali.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...