06 Desember 2018

Imajinasi dan Nasionalisme


Benedict Anderson. Indonesianis. 
Penulis buku Di Bawah Tiga Bendera

IMAJINASI. "Tetapi dalam kenyataan, semua komunitas, asalkan lebih besar dari dusun-dusun primordial di mana para anggotanya bisa saling bertatap muka langsung setiap hari (bahkan mungkin komunitas semacam ini pun), adalah komunitas terbayang."

Petikan di atas adalah ungkapan Benedict Anderson, Indonesianis terkemuka ketika memperkenalkan konsep imagined communities. Konsep ini begitu fundamental menerangkan masih rentannya konsep nasionalisme sebagai gagasan kebangsaan yang lahir bukan sebagai komunitas politik belaka.

Imagined communities sering kali disalahartikan karena betapa barunya gagasan ini ketika pertama kali diungkapkan Benedict Anderson.

Hal ini dinyatakan dalam kata pengantar melalui buku yang sama yang ditulis Daniel Dhakidae bahwa nasionalisme sebagai gagasan kebangsaan walaupun sifatnya yang masih baru ---muncul di abad 19--- juga karena dipahami sebagai konsep yang sudah ajeg dan fix dari awalnya.

Salah satu alasannya yakni nasionalisme sebagai paham kebangsaan sudah dari awal dimengerti dengan "N" besar yang menutup ruang diskursif untuk dipersoalkan.

Nasionalisme ketika dipahami dengan cara itu dinyatakan Anderson hanya akan didudukkan ibarat "impian" yang kebal terhadap perubahan dan kritik. Bukannya dengan cara itu, Anderson malah memberikan perspektif baru bahwa sebenarnya nasionalisme adalah "bangunan" gagasan yang menimbulkan "bayang-bayang" yang segera menerbitkan aksi.

Dengan kata lain, nasionalisme tidaklah merupakan gagasan yang sudah sempurna sehingga tidak perlu lagi dijangkau pemikiran anggota-anggotanya. Melainkan gagasan berupa nasionalisme dengan "n" kecil yang berarti betapa pun ia masih baru, tapi sebenarnya di situlah ia mesti didudukkan sebagai gagasan yang mudah kendor atau sebaliknya ketat.

Dalam arti inilah, nasionalisme sebenarnya adalah proyek bersama sejauh bagi orang-orang masih mau hidup dengan mempertahankan dan memperjuangkannya terus-menerus.

"Maka dengan gaya pikir antropologis, saya usulkan defenisi berikut ini tentang bangsa atau nasion: ia adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan.

Di sini "terbayang" adalah kata kunci yang menerangkan betapa sebenarnya bangsa pada awalnya dimulai dan timbul dari aktifitas yang mendahului praktik-praktik interaksi sesama anak bangsa.

Kata Anderson, "terbayang" karena secara geografis tidak ada hubungan material-sosiologis apa pun yang mempertemukan kelompok-kelompok yang saling berjauhan bahkan tidak saling bertatap muka dan mendengarkan.

Lalu dari mana datangnya ikatan imajiner yang timbul di antara orang-orang yang tidak saling bertatap muka? Kata Anderson, itu lahir dari bayangan kebersamaan di tiap-tiap benak setiap orang yang menjadi bagian dari bangsa yang dimaksud.

Tidak ada bangsa yang universal. Sebagai realitas politik atau komunitas politik, ia sangatlah terbatas. Betapa pun ketika setiap anggotanya berjuta hingga bermiliar-miliar, tetap saja konsep kebangsaan itu sendiri mengandung keterbatasan di dalamnya.


Seperti yang dijelaskan Anderson, tak satu bangsa pun membayangkan dirinya meliputi seluruh umat manusia di bumi. Walaupun jumlahnya kian besar atau sebaliknya, tetap saja memiliki garis batas yang disebut Anderson meski sifatnya elastis.

Dalam pengertian dua yang terakhir ini, maka dapat dipahami bahwa kebangsaan dapat saja kian berubah seiring lemah-kuatnya "bayangan" untuk mau hidup bersama. Dia dapat meluas atau menyempit secara jumlah dari anggota-anggotanya atau pun secara letak geografis yang ditentukan oleh rasa kedaulatan yang lahir dari keinginan untuk membebaskan diri dari tekanan jajahan.

Berdaulat dalam pengertian ini dinyatakan Anderson lahir dari suatu proses pencerahan yang panjang ketika masyarakat berkeinginan membebaskan dirinya dari belenggu yang mengikatnya. Anderson menyebutnya ketika suatu revolusi memporak-porandakan keabsahan hirarki kekuasaan yang berasal dari Tuhan sekalipun.

Melalui proses ini kedaulatan hanya berarti ketika masing-masing klaim kekuasaan menyadari dirinya memiliki keterbatasan secara pengklaiman ontologisnya. Sederhananya, setiap kekuasaan sadar diri bahwa berkat pencerahan, semakin terbuka kemungkinan bagi setiap individu menyadari kedaulatannya masing-masing.

•••

Bagaimana jadinya jika manusia tidak mempunyai kemampuan imajinatif? Apa yang akan terjadi kelak jika manusia tidak mampu berimajinasi tentang dirinya dan kehidupannya? Lalu apa pula jika kebudayaan manusia tidak meninggikan imajinasi sebagai alas pijak sejarahnya? Lantas apakah imajinasi masih relevan didudukkan di dalam peradaban yang serba teknis sekarang ini?

Imajinasi menurut KBBI disebut sebagai daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Dalam arti yang lain KBBI juga menyebut imajinasi sebagai khayalan.

Terlepas dari benar salahnya, imajinasi berkedudukan penting dalam kebudayaan manusia. Bahkan, imajinasi adalah sumber pengetahuan bagi kebudayaan manusia untuk menguji kemungkinan-kemungkinan, peluang-peluang, kesempatan, dan kemampuan ketika merumuskan kehidupannya di samping mengelola sumber daya yang dimilikinya.

Dalam tradisi kesusastraan, imajinasi menjadi daya dorong bagi sastrawan untuk menimbulkan suatu pengertian baru mengenai dunia.

Melalui imajinasi, dunia faktual dibongkar dan dirumuskan ulang di luar dari ukuran-ukurannya yang sudah ada. Dengan begitu lahirlah dunia baru yang lebih segar dan fresh yang mampu menghasilkan suatu pengertian dan pengalaman baru yang tak biasa.

Berkat imajinasi dunia akhirnya jauh lebih terbuka untuk dimaknai ulang.

Novel Eka Kurniawan misalnya, melalui rumusan "bagaimana jika" berhasil menciptakan suatu cerita imajinatif yang lahir dari sejarah Indonesia dalam Cantik Itu Luka.

Novel ini tidak saja terletak pada alur dan penokohannya yang kuat, namun mampu mengaduk sejarah faktual ke tingkat imajinatif untuk menghasilkan suatu dunia yang sama sekali baru. Dari itu lahirlah suatu tempat yang bernama Halimunda lengkap dengan sejarahnya, kebudayaannha, dan kehidupan orang-orangnya.

Dalam konteks puisi, imajinasi membantu penyair dapat merumuskan suatu bentuk bahasa baru. Lantas dengan bahasa itu sang penyair berpeluang menampilkan susunan kalimat yang tidak ditemukan di dalam kaidah kalimat sehari-hari.

Bahkan bukan saja bahasa, sang penyair dengan kemampuan imajinatif yang matang dapat menciptakan bunyi-bunyian baru yang bernilai estetis dan puitik dalam rangka menyusun syair-syairnya.

Dalam khazanah sains, adalah C. Wrigh Mills seorang sosiolog Amerika yang menggunakan imajinasi dalam disiplin ilmu sosiologi yang disebutnya imajinasi sosiologis.

Imajinasi sosiologis menurut Mills adalah suatu pendekatan atau perspektif yang melibatkan unsur-unsur biografis dan sejarah dalam melihat hubungan-hubungan yang terjadi dalam suatu komunitas. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat sejauh apa isu-isu yang bersifat personal dan publik saling memengaruhi di antara keduanya.

Singkatnya imajinasi sosiologis tidak saja berusaha membaca gejala-gejala besar di tingkat institusi dan sistem, tapi juga sampai ke level individu dengan membaca gejala-gejala psikologis dan melihatnya dalam konteks perubahan sejarah dari waku ke waktu.

Dengan kata lain, imajinasi sosiologis dapat digunakan bagi seseorang untuk mengembangkan pemahamannya secara dinamis yang bertolak dari subjek dirinya sendiri dengan memanfaatkan perubahan-perubahan besar secara historik demi memahami dirinya dan komunitasnya.

Berdasarkan uraian sederhana ini, nampaknya imajinasi tidak dapat dinilai sepele. Ia ---yag sering dituduh khalayan dan tidak faktual--- mampu mengarahkan benak masyarakat untuk membayangkan hal-hal yang semula dianggap tidak biasa. Kalau bukan lantaran imajinasi, lalu apa yang menjadi pemantik awal bagi kebudayaan ketika menyusun kisah, legenda, dan mitos yang terjadi hanya di dalam dunia imajinatif.

Bahkan melalui itu semua, ilmu pengetahuan mendapatkan dorongannya. Tanpa imajinasi dan kemampuan imajinatif, mana mungkin akan mampu memberikan dasar pemaknaan bagi manusia untuk merawat jiwanya.

Belakangan, di tingkatan publik nyaris percakapan yang datang silih berganti didasarkan kepada jenis logika biner. Jika bukan A pasti B, atau kalau bukan B sudah tentu A. Pola pikir seperti ini banyak ditemukan ketika kita berbicara tentang agama, budaya, politik, dan yang paling genit penentuan capras-capres.

Justifikasi dan prasangka karena hanya mengenal cara berpikir biner pada akhirnya kehilangan kemampuan berpikir kreatifnya. Kehilangan kemampuan imajinatifnya.

02 Desember 2018

Fundamentalisme Pasar dan Agama


Jean Baudrillard. 
Filsuf, Sosiolog dan Fotografer asal Prancis. 
Baudrillard dikenal karena teori-teori kebudayaan dan Posmodern

DUA REZIM FUNDAMENTALIS. Kiwari, nyaris semua yang dibayangkan, dipikirkan, dibicarakan, diedarkan dan dilakukan diringsek dua rezim fundamentalis: pasar dan agama.


Rezim pasar, seperti sudah diketahui menjelma menjadi arah bagi apa pun: ideologi, kebudayaan, dan bahkan politik. Di bawah bayang-bayang kapitalisme ---puncak dari rezim pasar--- ketiga-tiganya ibarat sekrup yang menopang kapitalisme dari bawah.

Teori marxian paling jelas mengutarakan ini. Bahwa kapitalisme adalah satu-satunya tonggak segalanya dinyatakan. Melalui analisis supra struktur-basic struktur, analisis marxian menerangkan bahwa pola-pola eksistensi dari hukum, politik, budaya, dan juga agama hanyalah variabel yang disenyawai spirit ekonomi.

Dalam hal ini kapitalisme, satu-satunya ideologi yang tanpa tanding itu menjadi dasar bagi seluruh aktivitas peradaban manusia.

Ekonomi dengan kata lain dalam analisis marxian adalah motif dasar dari masyarakat meneguhkan keberadaannya.

Melalui analisis marxian, nampak jelas misalnya, konflik-konflik kebudayaan, perang atas nama nasionalisme, perebutan kekuasaan politik, dan perampasan hak-hak dasar manusia hanyalah anasir dari kepentingan ekonomi. Bahkan, dalam sejarah kolonialisme Indonesia, nampak jelas pula agenda pasar bercokol dibalik digdayanya VOC kala itu.

Abad 21 dunia yang banyak berubah. Segalanya dinamis dan terus bergerak. Kehidupan juga ibarat angin, bergerak, melayang, dan berhembus sesuai cela-cela yang dilaluinya.

Kapitalisme, anak kandung modernisasi masyarakat Eropa abad 16-19, hari ini juga telah banyak berubah.

Belakangan, wacana kapitalisme abad 21 masih terus dibicarakan. Ini menandai betapa kukuhnya ia hingga sekarang masih dapat bertahan di era yang terus berkembang.

Dulu, ada yang sering katakan ---di tempat-tempat diskusi--- kapitalisme sangat pandai bermetamorfosis. Ia kerap kebal dari kritikan yang ditujukan kepadanya. Sosialisme yang menjadi lawan abadinya dibuat kalang kabut mengikuti ritme pertumbuhannya.

Adalah Jean Baudrillard salah satu pemikir marxis yang berhasil mengemukakan metamorfosis kapitalisme. Mulanya kapitalisme dibaca dengan rumus produksi kapital, namun seiring berkembang kapitalisme juga memproduksi hasrat (dari mode of production berubah menjadi mode of consumption).

Perubahan mode of production dari kapitalisme ini-lah yang dapat menjelaskan mengapa kapitalisme terus bertahan. Ia terus menciptakan dan melipatgandakan hasrat pembeli di samping produk dan modalnya (para pemikir marxis yang lain bahkan juga berhasil menunjukkan bahwa ruang adalah salah satu elemen penting bagi kapitalisme untuk meluaskan pangsa pasarnya).

Hasrat dalam hal ini tidak lagi sebatas keadaan psikologis semata. Melalui kapitalisme ia malah menjadi mesin yang mendorong masyarakat lebih konsumtif dan gilaan-gilaan untuk berbelanja (itulah mengapa iklan menjadi penting di dalam skema mode of consumption kapitalisme).

Dalam tataran kenegaraan, kapitalisme selalu dipuja sebagai paham pembangunan. Ide-ide neoliberalisme dalam hal ini adalah derivasi dari kapitalisme menjadi satu-satunya kiblat maju tidaknya suatu negara.

Sementara rezim fundamentalis agama sering mengambil wajah berupa paham ektremisme keagamaan yang sempit dan dangkal. Bagi rezim agama, seluruh tafsir kehidupan tidak layak disandarkan kepada sumber-sumber di luar dirinya.

Agama adalah satu-satunya alat epistem untuk menerangkan dunia. Malangnya, seluruh tafsir yang dibangun adalah cara pandang yang bersifat monolitik dan literlek- harfiah.

Kemunculan jaringan Al Qaeda, ISIS, Boko Haram, Al Nusra Front dan sejenisnya merupakan salah satu contoh berupa konsekuensi dari pandangan keagamaan yang literlek dan sempit.

Dengan kata lain, kemunculan kelompok ekstremis keagamaan tidak muncul begitu saja, melainkan ada prasyarat-prasyarat yang mendasarinya, dan salah satunya adalah kecacatan epistemologis dalam memahami agama.

Akan jauh lebih menarik jika prasyarat-prasyarat itu ditelusuri. Apakah ada hubungan rendahnya taraf hidup, tingkat pendidikan yang rendah, buta peta politik, paham gender, tradisi, dan harapan-harapan yang tidak sempat terealisasi akibat tertutupnya akses masyarakat ke dalam sumber-sumber daya yang mampu mengangkat harkat dan martabat hidupnya oleh suatu tatanan sebelumnya dengan betapa cepatnya kelompok ekstremis mendapat tempat di ruang sosial yang begitu besar.

Tapi, satu hal yang mesti diwaspadai, kecacatan dalam memahami agama dan terbuka lebarnya determinasi politik di dalam kehidupan masyarakat akan membuka peluang bagi kelompok yang dimaksud dapat tumbuh subur.

Di tanah air kasus-kasus belakangan berupa demo berjilid dan sebagainya, adalah ekses buruk ketika kepincangan memahami agama dan politik dipertemukan. Agama yang semestinya menjadi rahmat bagi kehidupan lantaran kekuasaan politik malah menjadi kekuatan disintegritas yang melukai jiwa kolektif bangsa ini.

Rezim agama dalam hal ini juga menandakan tafsir agama kadang disesuaikan melalui tafsir politik. Bahkan lebih parah lagi, tafsir politik dilegitimasi oleh tafsir agama. Yang belakangan, ketika tafsir politik dilegitimasi tafsir agama, maka menimbulkan kisruh berkepanjangan. Agama justru menjadi sumbu kecurigaan akibat dinilai terlalu politis.

Bagaimana dengan hasrat dalam kaitannya dengan agama? Sebagaimana hasrat dalam kapitalisme mutakhir, hasrat dalam beragama juga menunjukkan kedudukan yang hampir sama ketika disandingkan dengan kepentingan ekonomi. Melalui hubungan yang telanjang, agama yang tidak dibekali ilmu yang memadai akan memberikan hasrat lebih berpeluang ketika mengalami agama.

Dengan kata lain, agama yang dibekali hasrat hanya membuat orang terjebak kepada agama artifisial. Di tangan orang-orang yang berhasrat beragama, agama hanyalah tubuh tanpa jiwa, hanya menjadi pakaian semata.

Fenomena agama macam demikian mirip-mirip produk-produk dalam semesta kapitalisme. Ia tergeletak persis komoditas yang sibuk memperlihatkan kualitas dari penampilan fisik semata. Kualitas agama dengan kata lain menjadi terabaikan hanya karena agama dilihat dari segi popularitas semata. Semakin massif ia, semakin tinggilah agama itu.

Entah apakah ada analisis mengenai ini: bahwa hasrat agama yang demikian menggebu memiliki dua modus belakangan ini, yakni modus paling soft-nya adalah fenomena hijrahnya generasi anak muda kepada pemuka agama populis. Seperti misalnya di kalangan artis-artis, hasrat beragama sering muncul bersamaan dengan berubahnya penampilan lahiriah busana daripada pemahaman mendalam terhadap agamanya.

Contoh lainnya adalah merebaknya majelis-majelis agama yang berkumpul atas nama tabligh, dakwah, pengajian, atau pertemuan hijabers seperti nampak massif disiarkan melalui layar kaca.

Fenomena modus seperti ini sadar tidak sadar berhasil menstimulasi hasrat orang-orang agar lebih mendalami agama dengan tujuan bukan sekadar atas asas pencarian ilmu, namun juga sudah menyertakan unsur-unsur gaya hidup yang lebih agamamis (seperti misalnya berbusana muslim dinilai telah kaffah beragama dan yang berbusana apa adanya dipandang masih rendah imannya).

Sementara modus hard-nya, adalah tampilnya kelompok agama yang memanfaatkan jalur-jalur politik untuk merebut kekuasaan (kasus HTI, barangkali tepat menunjukkan hal ini).

Hasrat dalam fenomena ini ikut dimodifikasi seiring naik turunnya eskalasi konflik atas nama politik identitas yang berhasil membelah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok kepentingan.

Hasrat yang muncul dengan modus hard-nya inilah yang berpeluang melahirkan kelompok-kelompok ekstrem agama di atas tadi. Inti dari ini adalah bahwa agama yang didasari hasrat buta justru hanya membuat masyarakat semakin dekaden dan terbelakang daripada memajukan masyarakat.

28 November 2018

Kota dan Kemanusiaan


Joseph Campbell
Mitolog dan Sejarawan asal Amerika Serikat. 
Salah satu karyanya berjudul The Power of Myth

KOTA. Di kota-kota, tiap-tiap orang adalah individu. Tiap-tiap orang adalah person.

Di kota, kawasan yang semakin hari kian menggeliat perkembangan ekonominya, budayanya, politiknya, pendidikannya, membuat orang-orang hidup dalam kesakitan prahara; berdekatan tapi sekaligus berjarak, welas asih tapi beringas, banyak yang hidup sejahtera tapi tidak sedikit pemukiman kumuh bermunculan, orang-orang dari hari ke hari semakin asing satu sama lain.

Mereka kian maju, namun tanpa disadari ada yang susut dari itu semua: solidaritas.

Mungkin karena itu, di alam modern tidak ada terma khusus yang khas menunjuk kepada titik pusat yang menjadi sumber fenomena di atas selain dari pada individu. Suatu kemampuan otonom yang meneguhkan kemandirian dalam diri masyarakat. Individu dalam hal ini ibarat inti atom yang bebas bergerak, dinamis dan tanpa tekanan. Sesuatu yang "tidak bisa lagi dibagi", yang bebas dalam dirinya sendiri.

Itulah sebabnya di kota, orang jarang terikat secara sentimentil. Setiap orang memiliki kehidupan yang kian dinamis dan berubah. Ia adalah suatu modus kehidupan garis lurus dan serentak. Rasa cemas dan optimisme menjadi satu kesatuan paket. Tiap individu berhak mencari petualangan, tapi dengan risiko kehilangan titik pulang.

Dengan kata lain, di alaf modernisme, tidak ada ruang-waktu yang stagnan. Segalanya drastis bergerak...

Di titik kehidupan yang luruh dalam waktu itulah individu jadi susut, tangkas, dan juga cepat. Ia menjadi mahluk kerdil namun sekaligus menjadi mekanik dan juga teknis.

Ada pepatah Yunani berbunyi: Matia pu de vleponde, grigora lismoniunde. Barang siapa jarang bertemu, niscaya saling melupakan satu sama lain.

Di kota, yang semakin susut, yang tangkas, dan yang cepat membuat ikatan makin minim dan mungil. Interaksi, ikatan yang membuat seseorang menjadi "bermasyarakat", hanyalah pertemuan yang dililit waktu yang semakin teknis. Membuat orang-orang jadi jarang bertemu. Dan pada akhirnya satu sama lainnya saling melupakan.

Toh jika ada silang pertemuan; saling berbicara; saling memperhatikan; tapi tetap saja tidak ada simpul yang terjalin. Tidak ada apa-apa di sana. Seolah-olah di balik itu setiap orang berinteraksi dikejar-kejar sesuatu agar segera mesti dituntaskan.

Bagi masyarakat perkotaan, setiap pertemuan hanyalah peluang untuk saling salib. Dengan rumus yang hampir sama setiap tindakan mesti efisien dan efektif.

Tapi, di situlah masalahnya. Di bawah bayang-bayang kehidupan modern selalu ada sisi gelap yang gagal diperhitungkan. Bagi masyarakat modern, kehidupan dengan perhitungan yang efektif dan efisien membuatnya miskin makna. Yang serba tangkas, cepat dan dinamis pada akhirnya menjadi krisis.

Manusia modern dengan kata lain adalah orang-orang yang tercerabut dari akar-akar kebersamaannya ---indikator yang mendasari suatu masyarakat dapat eksis. Dalam pepatah Yunani tadi manusia modern saling melupakan akibat hilangnya keintiman melalui pertemuan. Barang siapa jarang berinteraksi, ia lenyap begitu saja.

Belakangan, di tengah kekosongan atas yang intim, masyarakat kota dipertemukan kembali ke dalam hubungan-hubungan yang kian formal. Masyarakat kota, seperti pendakuan Durkheim, tidak sepenuhnya menghilangkan semangat soliditasnya, hanya saja semua itu diganti ulang dengan apa yang disebut asas profesionalitas. Orang-orang terhubung dalam ikatan pekerjaan, profesi, kepentingan ekonomi, dan yang paling kekinian: politik.

Tapi, bukan berarti itu menutupi soal-soal di atas. Jaringan dengan dasar formalitas anehnya malah ikut memformat ulang hubungan-hubungan sosial di dalamnya. Ketika sebelumnya sudah kosong dari keintiman interaksi, hubungan dengan asas profesi itu memiliki konsekuensi yang lumayan mahal; kebersamaan kian tinggi harganya, solidaritas kian sulit dijangkau. Semua itu terjadi oleh sebab setiap relasi hanya mungkin jika membuat gemuk lingkaran kekerabatan individu.

Potret masyarakat perkotaan seperti gambar yang dicetak digital. Paduan warnanya, letak gambarnya, tajam halus gradasinya dibikin dari unsur sistem yang berbau mesin dan teknis. Dari cara semacam itu, gambar digital memang berhasil menjadi gambar yang presisi dan tepat, namun sekaligus sebenarnya hanyalah gambar yang hampa tanpa unsur estetik.

Hilangnya unsur estetis dalam gambar digital dengan kata lain hanya menjadi gambar kaku tanpa jiwa, apalagi bakal tidak mampu menerbitan perasaan haru biru. Sesuatu yang sangat sentimentil, emotif, dan menggerakkan. Singkatnya, gambar digital hanyalah gambar tanpa dimensi kemanusiaan.

Masyarakat kota yang sekaligus juga terbitnya masyarakat modern membutuhkan dimensi yang lebih manusiawi alih-alih hanya mendudukkan rasionalitas sebagai satu-satunya ukuran progresifitas.

Masyarakat kota harus dilihat sebagai suatu lukisan. Pencitraan yang lahir dari dimensi intrinstik manusia yang disebut jiwa. Setiap goresan dan warnanya lahir atas dasar kedalaman intuitif yang jujur sehingga menghasilkan pemandangan yang hidup dan dinamis. Suatu yang menyedot pengalaman dalam aktivitas intim satu sama lain, yang bakal menghasilkan pengalaman kolektif dan empatik.

Gambar digital karena itu tidak mampu berkisah apa-apa. Ia gambar yang mati. Berbeda dari lukisan yang hidup dan mampu berkisah tentang sesuatu yang diwakilkan melalui gambarnya, warnannya, dimensinya, gradasinya...

Joseph Campbell, seorang scholar mitologi, dalam Ruang Sadar tak Berpagar tulisan Alwy Rachman, mengkritik masyarakat modern yang semakin ke sini semakin kehilangan kisah. Menurut Campbell, kisah adalah elemen fundamental bagi manusia. Dia menggerakkan sekaligus memberikan dasar maknawi bagi perilaku manusia.

Sebagaimana terangkum dalam mitos, legenda, atau tradisi kerakyatan, kisah adalah urat nadi yang memelihara jiwa manusia tetap memiliki dasar manusiawinya. Kisah dalam arti demikian adalah jangkar solidaritas masyarakat untuk mengartikulasikan kebersamaannya, kepekaannya, dan keintimannya ke dalam satu komunitas yang saling menopang dan mendukung. Manusia ada karena terhubung dengan keberadaan yang lain, begitu singkatnya.

Lalu, saat masyarakat kota kehilangan kisah---yang masih banyak ditemukan di pelosok desa-desa-- yang dengan itu tiap-tiap individu menemukan kedalaman eksistensinya dalam kebersamaan, dengan apa lagi mengisi lubang jiwa yang semakin hari semakin teriris?

19 November 2018

Toilet dan Kebudayaan


Zlavoj Žižek. 
Filsuf asal Slovenia. 
Dikenal melalui kritik tajamnya terhadap kapitalisme

TOILET. Toilet di titik tertentu adalah ruang ekspresi manusia. Dia menjadi ruang yang diam-diam menyalurkan hasrat tersembunyi manusia. Di salah satu cerpen Eka Kurniawan berjudul Corat-Coret di Toilet, toilet bahkan menjadi arena keluh kesah sekaligus aspirasi terhadap pemerintahan korup.

Di dinding toilet sering kita menemukan tulisan nyeleneh saling membalas, tapi juga sekaligus jujur. Di cerpen Eka, dinding toilet menjadi wadah penyampaian aspirasi, keinginan, harapan dan kritik terhadap pemerintahan. Pendek kata dalam cerpen Eka itu, toilet adalah ruang paling demokratis dibanding ruang publik lainnya.

Sebagai ruang sepele, fungsi toilet bahkan mencerminkan paradigma apa yang menjadi ideologi masyarakat. Adalah Slavoj Zizek, sang filsuf berkebangsaan Slovenia mendakukan bentuk kloset dan orang yang sedang buang hajat dapat menentukan ideologi apa yang sedang bekerja di balik perilaku sehari-hari masyarakat.

Zizek mencontohkan bagaimana sikap kontemplatif orang-orang Jerman tercermin saat mereka memperlakukan fesesnya dengan memandangnya berlama-lama. Ibarat sedang berfilsafat, orang Jerman senang dengan waktu yang panjang saat di hadapan fesesnya seperti sedang menyusun suatu permenungan mendalam.

Berbeda lagi dengan orang Amerika ataupun Inggris, yang lebih senang menenggelamkan lebih cepat fesesnya karena sikap pragmatis. Hal ini membuat orang Amerika cenderung lebih praktis di saat buang hajat. Waktu adalah segalanya, termasuk urusan buang air besar.

Bagaimana dengan Indonesia?

Orang-orang Indonesia mungkin lebih pragmatis dari orang Amerika atau Inggris. Bahkan memandang feses jauh lebih jijik dari apa pun. Alih-alih menjadi cermin kedalaman kebudayaannya, feses dipandang bukan untuk apa-apa.

Di indonesia sendiri, kita masih menemukan toilet yang dipisahkan dari bangunan utama pemukiman. Toilet kadang ditempatkan jauh di belakang rumah, bahkan ada yang dibangun di atas sungai. Berbeda dengan pemukiman perkotaan, toilet di pelosok-pelosok mencerminkan betapa urusan buang hajat masih jauh dari pertimbangan sanitasi dan estetika arsitektural.

Tapi, uniknya aktifitas buang hajat di pelosok-pelosok sekaligus menunjukkan betapa dekatnya masyarakat dengan alam. Alam dan fesesnya tidak dibuat berjarak. Antara keduanya seolah-olah memiliki hubungan langsung yang saling menetralisir. Persis seperti dunia hewan, di dalam kesadaran terdalam masyarakat pelosok tidak ada ruang antara "ketelanjangan" saat buang hajat, mandi, bersih-bersih, dengan alam yang masih "perawan".

Di kota-kota besar, terutama di tempat umum, toilet sudah dirancang menggunakan pendekatan tertentu. Ada yang membuat toilet seperti sedang mengunjungi suatu negara dengan mengidentikan interiornya seperti negara yang dimaksud. Ada yang membuatnya mirip gerbong kereta api agar pengguna toilet merasakan sensasi sedang dalam perjalanan.

Mal Grand Indonesia Jakarta, misalnya, yang mendekorasi toilet seperti sebuah ruangan berdesain Maroko agar pengunjungnya merasakan juga seperti sedang berbelanja di luar negeri. Bahkan, pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal mendesain toiletnya berdasarkan konsep keluarga. Sehingga, jika Anda berbelanja dan menyempatkan buang hajat di sana, Anda tidak mesti repot akibat anak-anak yang tidak memiliki toilet khusus.

Walaupun demikian, fenomena di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah. Di pemukiman perkotaan, seperti ditemukan di pusat perbelanjaan, toilet bahkan mulai diintegrasikan dengan pengalaman berbelanja masyarakat perkotaan. Pengalaman di dalam toilet mesti sama sensasionalnya dengan pengalaman berbelanja.

Sementara di masyarakat kelas bawah, toilet ya toilet. Dia kadang dibikin sederhana, ala kadarnya dan hanya berfungsi sederhana. Bahkan ada yang melihatnya dengan sebelah mata sehingga keberadaannya masih dipandang sebagai ruang nonestetis.

Dengan kata lain, seperti ruang lainnya, toilet mewakili suatu pandangan, kebiasaan, dan ideologi suatu masyarakat. Bahkan ia menjadi representasi kelas masyarakat tertentu.

13 November 2018

Pahlawan: Sosok dan Pokok


Francis Bacon. 
Filsuf empiris asal Inggris. 
Dikenal dengan semboyannya The Power of Knowlegde

PAHLAWAN. Pepatah mengatakan "mati satu tumbuh seribu." Sekarang, entah dengan semangat apa kata ini sering diucapkan.

Dulu bertahun-tahun lalu, pepatah ini sering kali melambung membuat saya terharu. Saat pulang sekolah melewati sebidang tanah dengan beratus helm silver di atasnya. Berjejeran rapi dengan gundukan-gundukan seperti pulau-pulau. Di tengah-tengah itu berdiri kokoh tiang tugu, tinggi ke angkasa, mengingatkan betapa luhurnya perjuangan orang-orang yang ditanam di bawahnya.

Ketika melewati itu tiap hari, di atas bemo, pepatah itu seolah-olah hidup. Betapa heroiknya mereka, mengacung senjata, berlari, berteriak, berkeringat, berdarah, demi nusa bangsa. Di hati mereka, kelak jika mati, ibarat kuncup bunga, mereka menjadi tunas: mati satu tumbuh seribu.

Sekarang, dari mulut siapa kata ini sering diucapkan? Pahlawan, mungkin hanya menjadi museum. Sosok mati dengan ruang lapang yang lenggang. Kosong tanpa isi. Pahlawan hanya masa lalu, belum menjadi sejarah.

Belakangan pahlawan bisa menjadi siapa saja. Atau siapa saja bisa menjadi pahlawan. Figur yang mati itu dihidupkan kembali, oleh kelompok, organisasi, massa, atau individu. Ruang yang kosong itu diisi dengan seorang sosok, yang disanjung-sanjung, sekaligus juga sambil mengacung-acung.

Dengan kata lain, pahlawan hanya soal tafsiran. Dari mana ia berasal, dengan bagaimana ia berjuang, melalui cara apa ia berkeringat, apa cita-cita kemerdekaannya.

Lantas semua itu menjadi jamak. Semua punya versinya masing-masing.

Pahlawan dengan sendirinya menjadi produk. Dia dibikin, dibentuk, diperkenalkan...

Di dunia yang semuanya serba diperantai layar, ia dimunculkan. Bahkan, diglorifikasi.

Itulah mengapa, kadang pahlawan tidak semuanya mendapatkan pengakuan. Ada pahlawan yang diterima, ada juga pahlawan yang ditolak.

Lantas, seberapa pentingkah pengakuan? Siapakah yang berhak memberikan pengakuan?

Negara, kiwari kadang kalah langkah dari dirinya. Ia seolah-olah sedang melawan dirinya sendiri. Di dalamnya, muncul pahlawan-pahlawan lain, sosok-sosok yang jauh dari penciuman negara. Ia muncul dari bawah, berjuang dari bawah, menelan perhatian, membentuk kelompok.

Kelompok atau apa pun jenisnya adalah bola salju dengan impian masing-masing. Menggelinding menarik simpul-simpul, membesar, dan muncul di permukaan. Dan tentu dengan sosok pahlawannya masing-masing.

Akan tetapi, tidak semua sosok punya pokok. Tidak semua yang diacung-acungkan pantas disanjung. Artinya tidak semua patut disebut pahlawan.

Dulu setiap sosok adalah gagasan. Setiap sosok adalah pemikiran. Dan tak jarang pemikiran itu digalakkan menjadi tindakan. Semuanya serba bergerak. Dalam sejarah, gagasan itu bernama Indonesia.

Sosok dan pokok itulah yang disebut pahlawan. Sesuai namanya, ia membuahkan hasil; suatu bangsa berdaulat. Suatu hal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Dalam hal ini, semua itu tidak pernah dibayangkan, direnung-renungkan, apalagi dialami.

Tapi, kiwari, banyak sosok minus hasil. Ia bersuara tapi banal: padat tapi hambar. Dan juga berkata-kata tanpa tindakan.

Dengan kata lain, ia hanya berupa sosok tanpa pokok. Dia jadi pujian akan tetapi minus acuan.

Sosok yang bukan acuan adalah sosok tanpa ujian. Tidak ada tantangan. Tidak ada perjuangan.

Sosok demikian berarti orang yang lahir tanpa tempaan. Tanpa godaan. Dan juga tanpa medan.

Pahlawan tanpa medan, tanpa ujian karena itu bukan acuan. Apalagi tujuan. Dia hanya sosok yang tirus, kurus tanpa pengalaman. Mungkin bahkan sebaliknya, gemuk oleh pujaan tapi sebenarnya bukan apa-apa.

Itulah sebabnya, seringkali yang jadi pahlawan lebih mirip idol. Sesuatu yang mengisi imajinasi dengan kekosongan. Palsu dan menipu. Menyesatkan.

Bahkan, sekarang jika ada yang disebut pahlawan malah ia sosok tanpa pengorbanan. Sosok tanpa nilai yang justru menelan korban.

Karena itu, pahlawan dengan tanpa kualifikasi apa-apa hanya mampu menjadi berhala. Dia memang diletakkan di depan, ditempatkan di ketinggian tertentu, namun sesungghnya merendahkan.

Yang malang di dalam arena politik seperti sekarang, banyak berhala-berhala diciptakan hingga diglorifikasi. Di puja-buja bak pahlawan, tapi kelak ia mati, tak ada yang tumbuh-tumbuh. Berhenti begitu saja. Di situ saja.

11 November 2018

Change you Words Change you World


Karl Wernicke
  Dokter, ahli anatomi, ahli kejiwaan, 
dan ahli patologi saraf berkebangsaan Jerman.

Kata dan pikiran ialah elemen yang saling mengandaikan. Kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Melalui elemen kata, pikiran dapat diakses sedemikian rupa: melacaknya, menelusurinya, menggeledahnya, menunjuknya… kepada sesuatu titik, entah konsep, ide, atau gagasan.

Tapi juga kata sebaliknya cangkang yang demikian purna menyembunyikan pikiran: membungkusnya, menutupinya, melindunginya… ke dalam suatu maksud, entah berupa niat, kemauan, atau kehendak.

Demikian kuatnya hubungan keduanya, kata dan pikiran bisa saling mewakili. Bahkan sekaligus identik. Kata adalah pikiran, demikian juga pikiran adalah kata.

Itulah sebabnya antara keduanya bisa saling memengaruhi: kata bisa mengubah pikiran, dan juga pikiran bisa mengubah kata.

Alkisah di tengah keramaian, melalui papan kardus seorang pengemis buta menulis sebuah permintaan: “Saya buta, tolonglah saya”. Dengan kata-kata itu sang pengemis berharap bantuan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ada yang memberi, tapi banyak juga yang acuh.

Seorang perempuan kemudian datang dan mengubah kata-kata itu menjadi: “Betapa indahnya hari ini, tapi sayang saya tidak bisa melihat”. Sungguh ajaib. Dengan kata-kata itu hati orang-orang tersentuh dan tergerak membantu sang pengemis. Tidak lama dia mendapatkan banyak pemberian uang.

Syahdan, perempuan itu tidak mengubah apa pun kecuali kata-kata sang pengemis. Tidak ada yang berubah kecuali pikiran orang-orang yang membacanya. Hati mereka bergerak dari semula acuh menjadi lebih pemurah. Di kisah ini, di balik kata-kata tersimpan kekuatan dahsyat yang menggerakkan.

Kiwari, berkat kemajuan teknologi informasi, komunikasi begitu intens melalui dunia maya. Banyak grup-grup virtual menjadi persinggahan informasi. Bahkan tidak jarang semua itu menjadi sumber pengetahuan. Di grup yang bertumpuk itu banyak pertukaran informasi dan banyak kata-kata menjadi elemennya.

Hanya terkadang, banyak orang berubah lantaran sering terpapar fake news. Dia menjadi mudah agresif, cepat marah, dan suka membenci perbedaan. Setelah ditelusuri, ternyata ia banyak mengonsumsi kata-kata kebencian, kemarahan, dan rasial.

Itulah sebabnya, pikirannya mudah tersulut lantaran kata-kata negatif yang sering dikonsumsinya.

Kisah kata-kata yang mengubah persepsi orang-orang kepada sang pengemis di atas adalah cerita video yang dibuat Purple Feather sebuah lembaga layanan iklan di Eropa. Di Youtube, kisah yang sama banyak beredar. Semuanya memiliki keyakinan yang sama, change you words change you world. Ubahlah kata-katamu, dunia akan berubah.

Di ranah akademis ada buku How God Changes Your Brain, ditulis duo ahli neurolog terkemuka Amerika Serikat bernama Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman. Di buku ini melalui beragam penelitian keduanya menemukan hubungan yang kuat antara kata-kata baik dan otak. Menariknya, kedua hubungan itu ditemukan dalam ritual meditasi dan peribadatan.

Dalam salah satu penelitiannya, Andrew Newberg mencoba meneliti seorang biksu yang melakukan meditasi demi melihat respon otak ketika memfokuskan diri kepada kata-kata baik selama meditasi. Hasilnya mencengangkan, otak sang biksu mengalami pemudaan atau perbaikan sel-sel saraf yang telah rusak. Setelah penemuan ini, di Amerika, Andrew lantas membuka layanan penyembuhan orang-orang sakit jiwa dengan melalui praktik meditasi.

Karl Wernicke, seorang ahli saraf dan kejiwaan kebangsaan Jerman, pada 1874 menemukan suatu area dalam korteks otak besar yang ternyata berhubungan dengan elemen bahasa. Sesuai nama penemunya, area ini disebut para ahli saraf sebagai Wernicke area atau area bahasa. Area ini rentan mengalami kerusakan jika otak sering diasupi kata-kata buruk, jahat, dan mengandung kemarahan. Dampaknya serius berupa terjadinya degenerasi sel saraf sehingga otak mengalami kerusakan fungsi.

Kasus fulan bin fulan yang sering marah akibat banyak mengonsumsi kata-kata kebencian di atas, menurut ilmu neurosains bakal mengalami kerusakan saraf otak permanen. Otaknya dengan kata lain tidak akan berfungsi normal lantaran gangguan saraf internal yang dialaminya.

Jika Anda menemukan orang seperti fulan bin fulan dan mengalami gangguan kebingungan, mudah emosional, agresif, perilaku abnormal, atau gangguan kesadaran lainnya, berarti ia sedang mengalami kerusakan otak permanen. Besar kemungkinan hari-harinya banyak mengonsumsi berita-berita yang mengandung kata-kata negatif dan kebencian.

Menurut ilmu neurosains, otak memiliki jaringan saraf yang saling berhubungan. Satu ujung saraf memiliki ribuan bahkan jutaan cabang saraf. Jutaan cabang saraf tadi memiliki lagi jutaan ujung saraf. Begitu seterusnya ibarat jaringan laba-laba, setiap saraf saling terhubung satu sama lain melalui impuls listrik dan kimiawi. Dari semua jaringan itu, disimpulkan otak memiliki 100 miliar sel saraf.

Kasus sang biksu menjalani meditasi sebenarnya sedang meregenarasi 100 miliar sel saraf dalam otaknya. Melalui fokus kepada satu kata kebaikan (bandingkan dengan zikir, misalnya), jaringan sarafnya saling terhubung mengalami regenerasi dan perbaikan ulang sel saraf yang mengalami kematian. Melalui kata-kata positif, bahkan muncul satu sel saraf yang mencari ujung pasangannya agar berkembang. Semakin banyak mendengar kata-kata kebaikan semakin banyak sel saraf saling terhubung membentuk jaringan baru.

Sementara dengan cara kerja sebaliknya, dalam kasus fulan bin fulan yang banyak mengonsumsi kata-kata negatif bakal mengalami kematian satu jaringan sel saraf dalam otaknya. Semakin banyak ia mengonsumsi kata-kata kebencian, semakin banyak ia kehilangan jutaan jaringan sel saraf dalam otaknya.

Peradaban sekarang adalah peradaban informasi. Revolusi informasi juga berarti revolusi kata-kata. Di sana sini banyak ledakan kata-kata; di ranah kebudayaan, ekonomi, agama, dan juga politik. Hampir di semua ranah, membentuk jaringan informasi melalui kata-kata. Ada yang dengan dasar kemanusiaan, ada yang dengan dasar ekonomi, tapi ada juga dengan dasar politik. Malangnya, di dua yang terakhir banyak kata-kata negatif sering digunakan. Tidak jarang saling mengejek, mencela, menyudutkan, membully… semuanya dengan kata-kata yang mengandung kekerasan dan juga kebencian…

Sekali lagi, kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Kata-kata dan juga pikiran akan membentuk dunia. Ahli jiwa mengatakan manusia adalah apa yang Anda pikirkan. Jika kita memikirkan kata-kata kebaikan maka kita adalah orang yang senantiasa baik. Sebaliknya, jika pikiran kita dipenuhi prasangka dan kebencian maka kita adalah orang yang sedang dalam keadaan bermasalah.

Change you words change you world. Begitu kata terakhir dalam video singkat sang pengemis buta di atas. Duniamu berubah atau tidak dimulai dari jenis kata-katamu.

---

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

10 November 2018

Kata dan Tindakan


Terry Eagleton. 
Kritikus sastra asal Inggris. 
Seorang pemikir Marxis. 
Menulis buku 
Menuju Teologi Kiri Baru 
(Towards a New Left Theology)

KATA-KATA. Kata adalah tonggak pikiran. Kata-kata ialah tiang pemikiran. Keduanya adalah corong pengertian, entah berpangkal kepada suatu titik konsep, ide, atau gagasan.

Tanpa gagasan ataupun ide, kata-kata hanya bungkus tanpa isi. Dia kosong tanpa arti apa-apa.

Secara semantik, kata kadang licin membawa suatu maksud. Makna gampang tergelincir. Antara kata dan arti kata, tidak selamanya terhubung oleh suatu tiang yang kokoh. Sering kali, ia hanya terhubung selembar tali tipis yang mudah putus.

Bahkan, kata bersama artinya, hanya dihubungkan seutas karet yang mudah melar, mudah memanjang, dan gampang memendek.

Ia dalam arti tertentu ibarat air, bergerak sesuai wadahnya.

Itulah sebabnya, dalam politik, kata-kata licin mengutarakan maksud. Ia bisa ditarik ke mana-mana. Di bawa ke mana-mana. Sesuai kepentingan.

Politik adalah war of words. Perang kata-kata. Kata-kata menjadi senjata. Ia sering dipakai untuk menembak sesuatu; kelompok, agama, etnis, atau sering kali negara...

Dengan begitu, kata-kata adalah alat politik yang murah sekaligus mengerikan. Ia membelah, menyingkirkan, mengkerdilkan...

Kata-kata adalah alat ideologi. Dia dengan kata lain tidak netral. Dalam kekuasaan, setiap kata adalah cermin pemikiran. Wadah suatu kepentingan.

Para scholar ideologi bahkan mengingatkan, kata-kata yang banyak tercecer di pelataran kekuasaan sering kali membuat orang tersesat. Ia menipu kesadaran. Ia memutarbalikkan fakta.

Itulah sebabnya, para ahli bahasa mengingatkan hati-hati-lah menangkap maksud di balik kata-kata ketika ia diucapkan di atas panggung kekuasaan. Kadang ia hanya berdalih, dan juga sekaligus menjadi dalil.

Dalil kata lebih rumit lagi. Ibarat sastra, politik kekuasaan memiliki fungsi yang hampir sama. Sebait kata bisa menunjukkan sekaligus menyembunyikan apa yang dirujuknya. Ia persis seperti kerja metafora. Bersayap-sayap.

Itulah mengapa para ahli bahasa kembali mewanti-wanti saat berkata-kata. Dalam kekuasaan kata-kata bisa kehilangan kehormatan. Ia terkadang mudah lepas dari kontrol, cair, dan bahkan menjadi liar.

Di tanah air, banyak sudah korban akibat kata-kata. Belakangan seorang calon presiden alami masalah berkat kata-kata. Tapi, tidak sampai panjang. Kata-katanya tidak sampai menelan korban, tidak sampai memunculkan barisan panjang orang-orang.

Kata-kata juga adalah akses untuk pikiran. Dia lensa transparan mengetahui isi pemahaman seseorang. Melalui kata-kata yang diucapkan, isi pengetahuan seseorang gamblang tercermin.

Begitu juga sebaliknya, pemahaman, gagasan adalah jalur lurus bagi kata-kata diucapkan

Ahli psikologi mengatakan, kata-katamu adalah dunia pikiranmu. Semakin berwarna kata-katamu, semakin luas pikiranmu. Semakin kecil wawasanmu, semakin sedikit kata-katamu.

Dunia abad 21 adalah dunia kata-kata. Berkat ledakan informasi, kata-kata menjadi rezim. Ia menguasai, mengontrol, mengendalikan...

Tapi seringkali kata-kata, terlepas dari semua itu, adalah bom waktu. Atau ibarat stempel pertanggung jawaban. Kata-kata bisa menyinggung kembali tuannya, bahkan berbalik menagih tindakan tuannya.

Petitih atau buah kebajikan Bugis-Makassar menyebutnya sebagai "taro ada' taro gau'", se-iya se-kata dalam perkataan dan perbuatan. Apa yang diucapkan itu pula yang dilakukan.

Sekarang, barang siapa mengumbar kata-kata, besar kemungkinan itu adalah jalan lapang meja hijaunya. Lihat perbuatannya. Ukur tindakannya.

Kehidupan sesungguhnya sederhana; kata dan perbuatan adalah seikat paket tanpa garis pemisah. Persis seperti sebilah badik dalam warangka-nya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...