11 November 2018

Change you Words Change you World


Karl Wernicke
  Dokter, ahli anatomi, ahli kejiwaan, 
dan ahli patologi saraf berkebangsaan Jerman.

Kata dan pikiran ialah elemen yang saling mengandaikan. Kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Melalui elemen kata, pikiran dapat diakses sedemikian rupa: melacaknya, menelusurinya, menggeledahnya, menunjuknya… kepada sesuatu titik, entah konsep, ide, atau gagasan.

Tapi juga kata sebaliknya cangkang yang demikian purna menyembunyikan pikiran: membungkusnya, menutupinya, melindunginya… ke dalam suatu maksud, entah berupa niat, kemauan, atau kehendak.

Demikian kuatnya hubungan keduanya, kata dan pikiran bisa saling mewakili. Bahkan sekaligus identik. Kata adalah pikiran, demikian juga pikiran adalah kata.

Itulah sebabnya antara keduanya bisa saling memengaruhi: kata bisa mengubah pikiran, dan juga pikiran bisa mengubah kata.

Alkisah di tengah keramaian, melalui papan kardus seorang pengemis buta menulis sebuah permintaan: “Saya buta, tolonglah saya”. Dengan kata-kata itu sang pengemis berharap bantuan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ada yang memberi, tapi banyak juga yang acuh.

Seorang perempuan kemudian datang dan mengubah kata-kata itu menjadi: “Betapa indahnya hari ini, tapi sayang saya tidak bisa melihat”. Sungguh ajaib. Dengan kata-kata itu hati orang-orang tersentuh dan tergerak membantu sang pengemis. Tidak lama dia mendapatkan banyak pemberian uang.

Syahdan, perempuan itu tidak mengubah apa pun kecuali kata-kata sang pengemis. Tidak ada yang berubah kecuali pikiran orang-orang yang membacanya. Hati mereka bergerak dari semula acuh menjadi lebih pemurah. Di kisah ini, di balik kata-kata tersimpan kekuatan dahsyat yang menggerakkan.

Kiwari, berkat kemajuan teknologi informasi, komunikasi begitu intens melalui dunia maya. Banyak grup-grup virtual menjadi persinggahan informasi. Bahkan tidak jarang semua itu menjadi sumber pengetahuan. Di grup yang bertumpuk itu banyak pertukaran informasi dan banyak kata-kata menjadi elemennya.

Hanya terkadang, banyak orang berubah lantaran sering terpapar fake news. Dia menjadi mudah agresif, cepat marah, dan suka membenci perbedaan. Setelah ditelusuri, ternyata ia banyak mengonsumsi kata-kata kebencian, kemarahan, dan rasial.

Itulah sebabnya, pikirannya mudah tersulut lantaran kata-kata negatif yang sering dikonsumsinya.

Kisah kata-kata yang mengubah persepsi orang-orang kepada sang pengemis di atas adalah cerita video yang dibuat Purple Feather sebuah lembaga layanan iklan di Eropa. Di Youtube, kisah yang sama banyak beredar. Semuanya memiliki keyakinan yang sama, change you words change you world. Ubahlah kata-katamu, dunia akan berubah.

Di ranah akademis ada buku How God Changes Your Brain, ditulis duo ahli neurolog terkemuka Amerika Serikat bernama Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman. Di buku ini melalui beragam penelitian keduanya menemukan hubungan yang kuat antara kata-kata baik dan otak. Menariknya, kedua hubungan itu ditemukan dalam ritual meditasi dan peribadatan.

Dalam salah satu penelitiannya, Andrew Newberg mencoba meneliti seorang biksu yang melakukan meditasi demi melihat respon otak ketika memfokuskan diri kepada kata-kata baik selama meditasi. Hasilnya mencengangkan, otak sang biksu mengalami pemudaan atau perbaikan sel-sel saraf yang telah rusak. Setelah penemuan ini, di Amerika, Andrew lantas membuka layanan penyembuhan orang-orang sakit jiwa dengan melalui praktik meditasi.

Karl Wernicke, seorang ahli saraf dan kejiwaan kebangsaan Jerman, pada 1874 menemukan suatu area dalam korteks otak besar yang ternyata berhubungan dengan elemen bahasa. Sesuai nama penemunya, area ini disebut para ahli saraf sebagai Wernicke area atau area bahasa. Area ini rentan mengalami kerusakan jika otak sering diasupi kata-kata buruk, jahat, dan mengandung kemarahan. Dampaknya serius berupa terjadinya degenerasi sel saraf sehingga otak mengalami kerusakan fungsi.

Kasus fulan bin fulan yang sering marah akibat banyak mengonsumsi kata-kata kebencian di atas, menurut ilmu neurosains bakal mengalami kerusakan saraf otak permanen. Otaknya dengan kata lain tidak akan berfungsi normal lantaran gangguan saraf internal yang dialaminya.

Jika Anda menemukan orang seperti fulan bin fulan dan mengalami gangguan kebingungan, mudah emosional, agresif, perilaku abnormal, atau gangguan kesadaran lainnya, berarti ia sedang mengalami kerusakan otak permanen. Besar kemungkinan hari-harinya banyak mengonsumsi berita-berita yang mengandung kata-kata negatif dan kebencian.

Menurut ilmu neurosains, otak memiliki jaringan saraf yang saling berhubungan. Satu ujung saraf memiliki ribuan bahkan jutaan cabang saraf. Jutaan cabang saraf tadi memiliki lagi jutaan ujung saraf. Begitu seterusnya ibarat jaringan laba-laba, setiap saraf saling terhubung satu sama lain melalui impuls listrik dan kimiawi. Dari semua jaringan itu, disimpulkan otak memiliki 100 miliar sel saraf.

Kasus sang biksu menjalani meditasi sebenarnya sedang meregenarasi 100 miliar sel saraf dalam otaknya. Melalui fokus kepada satu kata kebaikan (bandingkan dengan zikir, misalnya), jaringan sarafnya saling terhubung mengalami regenerasi dan perbaikan ulang sel saraf yang mengalami kematian. Melalui kata-kata positif, bahkan muncul satu sel saraf yang mencari ujung pasangannya agar berkembang. Semakin banyak mendengar kata-kata kebaikan semakin banyak sel saraf saling terhubung membentuk jaringan baru.

Sementara dengan cara kerja sebaliknya, dalam kasus fulan bin fulan yang banyak mengonsumsi kata-kata negatif bakal mengalami kematian satu jaringan sel saraf dalam otaknya. Semakin banyak ia mengonsumsi kata-kata kebencian, semakin banyak ia kehilangan jutaan jaringan sel saraf dalam otaknya.

Peradaban sekarang adalah peradaban informasi. Revolusi informasi juga berarti revolusi kata-kata. Di sana sini banyak ledakan kata-kata; di ranah kebudayaan, ekonomi, agama, dan juga politik. Hampir di semua ranah, membentuk jaringan informasi melalui kata-kata. Ada yang dengan dasar kemanusiaan, ada yang dengan dasar ekonomi, tapi ada juga dengan dasar politik. Malangnya, di dua yang terakhir banyak kata-kata negatif sering digunakan. Tidak jarang saling mengejek, mencela, menyudutkan, membully… semuanya dengan kata-kata yang mengandung kekerasan dan juga kebencian…

Sekali lagi, kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Kata-kata dan juga pikiran akan membentuk dunia. Ahli jiwa mengatakan manusia adalah apa yang Anda pikirkan. Jika kita memikirkan kata-kata kebaikan maka kita adalah orang yang senantiasa baik. Sebaliknya, jika pikiran kita dipenuhi prasangka dan kebencian maka kita adalah orang yang sedang dalam keadaan bermasalah.

Change you words change you world. Begitu kata terakhir dalam video singkat sang pengemis buta di atas. Duniamu berubah atau tidak dimulai dari jenis kata-katamu.

---

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

10 November 2018

Kata dan Tindakan


Terry Eagleton. 
Kritikus sastra asal Inggris. 
Seorang pemikir Marxis. 
Menulis buku 
Menuju Teologi Kiri Baru 
(Towards a New Left Theology)

KATA-KATA. Kata adalah tonggak pikiran. Kata-kata ialah tiang pemikiran. Keduanya adalah corong pengertian, entah berpangkal kepada suatu titik konsep, ide, atau gagasan.

Tanpa gagasan ataupun ide, kata-kata hanya bungkus tanpa isi. Dia kosong tanpa arti apa-apa.

Secara semantik, kata kadang licin membawa suatu maksud. Makna gampang tergelincir. Antara kata dan arti kata, tidak selamanya terhubung oleh suatu tiang yang kokoh. Sering kali, ia hanya terhubung selembar tali tipis yang mudah putus.

Bahkan, kata bersama artinya, hanya dihubungkan seutas karet yang mudah melar, mudah memanjang, dan gampang memendek.

Ia dalam arti tertentu ibarat air, bergerak sesuai wadahnya.

Itulah sebabnya, dalam politik, kata-kata licin mengutarakan maksud. Ia bisa ditarik ke mana-mana. Di bawa ke mana-mana. Sesuai kepentingan.

Politik adalah war of words. Perang kata-kata. Kata-kata menjadi senjata. Ia sering dipakai untuk menembak sesuatu; kelompok, agama, etnis, atau sering kali negara...

Dengan begitu, kata-kata adalah alat politik yang murah sekaligus mengerikan. Ia membelah, menyingkirkan, mengkerdilkan...

Kata-kata adalah alat ideologi. Dia dengan kata lain tidak netral. Dalam kekuasaan, setiap kata adalah cermin pemikiran. Wadah suatu kepentingan.

Para scholar ideologi bahkan mengingatkan, kata-kata yang banyak tercecer di pelataran kekuasaan sering kali membuat orang tersesat. Ia menipu kesadaran. Ia memutarbalikkan fakta.

Itulah sebabnya, para ahli bahasa mengingatkan hati-hati-lah menangkap maksud di balik kata-kata ketika ia diucapkan di atas panggung kekuasaan. Kadang ia hanya berdalih, dan juga sekaligus menjadi dalil.

Dalil kata lebih rumit lagi. Ibarat sastra, politik kekuasaan memiliki fungsi yang hampir sama. Sebait kata bisa menunjukkan sekaligus menyembunyikan apa yang dirujuknya. Ia persis seperti kerja metafora. Bersayap-sayap.

Itulah mengapa para ahli bahasa kembali mewanti-wanti saat berkata-kata. Dalam kekuasaan kata-kata bisa kehilangan kehormatan. Ia terkadang mudah lepas dari kontrol, cair, dan bahkan menjadi liar.

Di tanah air, banyak sudah korban akibat kata-kata. Belakangan seorang calon presiden alami masalah berkat kata-kata. Tapi, tidak sampai panjang. Kata-katanya tidak sampai menelan korban, tidak sampai memunculkan barisan panjang orang-orang.

Kata-kata juga adalah akses untuk pikiran. Dia lensa transparan mengetahui isi pemahaman seseorang. Melalui kata-kata yang diucapkan, isi pengetahuan seseorang gamblang tercermin.

Begitu juga sebaliknya, pemahaman, gagasan adalah jalur lurus bagi kata-kata diucapkan

Ahli psikologi mengatakan, kata-katamu adalah dunia pikiranmu. Semakin berwarna kata-katamu, semakin luas pikiranmu. Semakin kecil wawasanmu, semakin sedikit kata-katamu.

Dunia abad 21 adalah dunia kata-kata. Berkat ledakan informasi, kata-kata menjadi rezim. Ia menguasai, mengontrol, mengendalikan...

Tapi seringkali kata-kata, terlepas dari semua itu, adalah bom waktu. Atau ibarat stempel pertanggung jawaban. Kata-kata bisa menyinggung kembali tuannya, bahkan berbalik menagih tindakan tuannya.

Petitih atau buah kebajikan Bugis-Makassar menyebutnya sebagai "taro ada' taro gau'", se-iya se-kata dalam perkataan dan perbuatan. Apa yang diucapkan itu pula yang dilakukan.

Sekarang, barang siapa mengumbar kata-kata, besar kemungkinan itu adalah jalan lapang meja hijaunya. Lihat perbuatannya. Ukur tindakannya.

Kehidupan sesungguhnya sederhana; kata dan perbuatan adalah seikat paket tanpa garis pemisah. Persis seperti sebilah badik dalam warangka-nya.

07 November 2018

Kenangan dan Ingatan


Sigmund Freud. 
Asal Austria.
Pendiri Psikoanalisa. 
Lupa menurutnya adalah cara manusia merepresi ingatannya

KENANGAN. Pikiran menurut eike ibarat paras muka. Ia bakal menua seiring waktu. Tapi, sekaligus juga makin berisi. Kualitasnya kian bertambah, berkembang, bertumpuk, bercabang, berlipat ganda, berlapis....

Mungkin ia karena itu kelak akan menjadi padat. Mungkin juga abadi.

Itulah sebabnya ia memiliki cara kerja yang unik. Dia bisa memperpendek waktu sekaligus melipat ruang. Namun juga yang ajaib ia bisa memperpanjang waktu ibarat karet yang melar kian melebar.

Pikiran dengan cara itu adalah mesin waktu alami yang dimiliki manusia.

Kadang, eike dibikin heran, dalam suatu momen, masa lalu tiba-tiba datang menyeruak. Ia datang dari semak-semak gelap, menyelinap dan naik ke permukaan. Di saat itu, masa lalu jadi aktual. Dia menjadi kenangan.

Masa kecil misalnya, merupakan momen yang nostalgis. Kadang ia seperti anak kecil yang berdiri di ujung lorong, samar-samar diterpa cahaya dengan bayangan yang tak begitu jelas, memanggil-manggil, dengan tangan yang ia lambaikan...

Di saat itu kita yang kian dimakan waktu dipersilahkan memilih. Apakah ia akan kita jemput dengan seluruh sisa kenangan atau malah memilih meninggalkannya.

Sering kali kenangan menjadi momok, namun tidak sedikit dia menjadi pokok. Banyak orang sulit menerima masa lalu akibat momok menakutkan, mengecewakan, dan mungkin menyakitkan.

Itulah mengapa kadang anak kecil itu, yang di ujung lorong melambai-lambai hendak dijemput, tak sudi kita akui, dan sudah pasti dilupakan.

Tapi, yang pokok adalah hikmah. Yang mengecewakan, menakutkan sekaligus yang menyakitkan, memang sulit terhapus. Kenangan akan selalu tergenang bebas di dalam memori. Ia mengambang dan bergerak bebas begitu saja.

Kenangan dengan demikian hanya bisa diajak berdamai. Dengan kata lain, anak yang ditinggal di ujung lorong itu mesti dijemput, diajak berbicara. Diajak berdamai.

Yang sulit dari kenangan sebenarnya bukan apa yang sudah terjadi, melainkan ketika kita kehilangan akses terhadapnya.

Petitih selalu mengingatkan pengalaman adalah guru yang paling berharga. Hanya saja, di petitih itu kita tidak diingatkan bahwa pengalaman juga memiliki umur. Ia juga akan menua dan dengan sendirinya akan menjadi masa lalu.

Karena itu, kita kadang lupa bagaimana memperlakukan pengalaman yang bakal menjadi kenangan. Bagaimana cara merawatnya, dan seperti apa cara agar di hari esok kita bisa menengoknya. Salah dalam merawatnya, akan sulit juga mengaksesnya.

Eike karena itu kadang memilih menulisnya. Banyak orang merekamnya. Lebih banyak lagi keduanya. Dengan cara merawat kapan, di mana, siapa, bagaimana, apa dan mengapa, masa lalu menjadi mungkin dipertahankan. Sehingga sewaktu-waktu dapat dikunjungi.

Kiwari, hidup kita jauh lebih mudah. Teknologi informasi dirancang sedemikian rupa persis cara kerja memori. Dia bisa menyimpan, menyembunyikan, memperbanyak, menyebarkan, dan mengirim berjuta-juta informasi kepada siapa pun. Bahkan bukan kepada siapa tapi juga kapan.

Teknologi informasi macam demikian, sekaligus juga bakal menjadi menakutkan jika pengalaman yang diisi di dalamnya adalah polah yang tidak-tidak. Polah yang membuat di masa depan akan membuat kita menyesal, mengapa itu dapat terjadi. Dan sialnya ia tersimpan rapi dalam linimasa teknologi.

Menulis ini ibarat menanam suatu bibit. Entah bibit apa. Mungkin besok dia tumbuh seiring pengalaman sang penanam. Atau dia tidak memberi kesan apa-apa.

Tapi yang pasti, harapan dan kenangan hanya dibatasi selaput tipis. Ia bisa terhubung langsung, dapat diakses langsung, ketika hari ini menjadi hari esok, esok menjadi hari ini, dan begitu seterusnya, dan seterusnya... Sehingga yang ada kenangan pada dasarnya ialah harapan yang sudah ditanam jauh hari sebelum dua paras dipertemukan.

05 November 2018

Literasi Parenting dan Metamorfosis Seorang Ibu


Data buku:
Judul Buku: Metamorfosis Ibu, Sehimpunan Literasi Parenting
Penulis: Mauliah Mulkin
Penyunting: Sulhan Yusuf
Ilustrasi isi: Nabila Azzahra
Desain sampul: Ambena Akkin
Penerbit: Liblitera
Tahun terbii: Agustus 2018
Tebal halaman: 270 halaman

---Apresiasi atas buku Metamorfosis Ibu

Seorang ibu sedang menggendong-peluk anaknya. Dalam balutan kain, hanya wajah anak itu yang kelihatan. Dilihat dari lekuk matanya, anak itu berkelamin perempuan. Di belakang mereka nampak bunga-bunga berwarna warni perpaduan hijau, kuning dan cokelat. Di sebelah kanan mereka, ikan-ikan sedang meloncat seolah-olah sedang terbang menuju langit.

Begitulah penampakan sampul buku Metamorfosis Ibu karangan Mauliah Mulkin. Seorang penulis cum pegiat isu parenting. Buku yang mengangkat tema parenting sebagai isu utamanya. Kiprahnya sebagai aktivis parenting dan pengalaman pribadinya sebagai seorang ibu, membuat  buku ini memiliki nilai lebih karena lahir digali dari ruang hidup di sekitar penulis.

Tulisan yang disebut literasi parenting ini berusaha berangkat dari ranah yang sering dinomorduakan: ruang domestik. Ruang hidup yang diklaim sebagai ranah pasif bagi kaum perempuan dan tidak produktif bagi dunia pekerjaan. Meski demikian, justru di sinilah kekuatan buku ini. Penulis berusaha membalik cara pandang dominan, yang melihat miring urusan domestik.

Itulah sebabnya mengapa buku ini hampir semuanya mengasalkan temanya dalam cakupan dunia keluarga dan kepengasuhan anak. Dari keseluruhan esainya, malah buku ini banyak memotret urusan-urusan di dalam rumah, dunia anak-anak, pergaulan anak, cara mengasuh anak, pembagian kerja keluarga, dan lingkungan rumah sebagai hal-hal yang patut diberikan perhatian serius.

Berbau Kritik Feminis

Para scholar linguistik mengatakan bahasa adalah perangkat utama kebudayaan. Tanpa bahasa mustahil lahir kebudayaan. Jika dibandikan dengan laki-laki, kaum perempuan pemodal utama penyokong kebudayaan. Perempuan lebih produktif berkata-kata dibanding laki-laki. Perhari perempuan mampu berkata-kata 20 ribu lebih banyak kata dari kaum laki-laki yang hanya bisa sampai 7 ribu kata.

Literasi parenting dalam hal ini adalah materialisasi dari semangat berkata-kata kaum perempuan. Sekaligus ini jenis suara yang mendekonstruksi makna perempuan sebagai mahluk nomor dua menjadi agen kebudayaan yang bergerak dari ranah domestiknya.

Dengan kata lain, berbeda dari paradigma kebudayaan Barat yang melihat perempuan mesti bergerak keluar rumah untuk menemukan identitas sosialnya, buku ini malah menghimbau domain utama pergerakan perempuan justru kembali ke keluarga sebagai basis perubahan masyarakat. Keluarga dalam hal ini adalah perangkat utama penopang kebudayaan. Dari keluargalah, perempuan mesti mengasalkan sumber dayanya untuk ikut membangun masyarakatnya.

Melalui caranya ini, nafas utama buku ini adalah sejenis kritik feminis a la Mauliah Mulkin. Dengan menulis, mengumpulkan, menyusun, dan meramu kata-kata sebagai bahan bakunya, dari rumah serta keluarga berusaha menghidupkan kembali peran perempuan tanpa meninggalkan ruang domestiknya.
Di sini, dalam hal ruang domestik yang sering kali diabaikan, malah menjadi “medan  juang” yang setiap orang juga mesti bertanggung jawab kepadanya. Dan yang paling dekat yang pertama-tama harus bertanggung jawab dari semua elemen masyarakat adalah keluarga itu sendiri.

Metamorfosis Ibu

“Dicari orang dewasa yang berkepribadian matang, bisa bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sabar, teguh, dan dapat memotivasi diri sendiri. Harus mengurusi orang-orang yang kadang-kadang sangat manja, sulit, dan rewel. Tugas termasuk berbelanja, mengatur keuangan, bersih-bersih rumah, memberi konseling, memasak, dan memberikan pertolongan pertama. Diprioritaskan yang memiliki kendaraan. Memiliki komitmen seumur hidup dan tidak perlu pendidikan formal. Tidak ada pelatihan. Tidak ada kompensasi uang, tetapi tunjangan tambahan besar.” (hal. 202)

Kutipan ini diambil dari buku Dr.C. Drew Edwards, Ph.D seorang ahli di bidang parenting How to Handle A Hard-to-Handle Kid: A Parent Guide to Understanding and Changing Problem Behaviors. Inti dari pernyataannya itu adalah pekerjaan serorang ibu ibarat seorang wise (ahli kebijaksanaan). Ia mesti rela, ikhlas dan berbesar hati menempuh hampir semua peran. Memimpin, mengajar, menjaga, mengatur, mengayomi, mengasihi dan semua kebijaksanaan yang membutuhkan hati yang lapang. Di belakang laki-laki yang hebat, ada perempuan yang hebat. Begitu petitih sering kita dengarkan.

Menjadi perempuan adalah takdir, tapi menjadi ibu adalah pilihan. Yang dinyatakan Dr. C. Drew Edwards di atas adalah pilihan menjadi ibu. Banyak perempuan modern menolak menjadi ibu. Ia perempuan namun ketika mengasuh dan mendidik anak ia serahkan kepada babysitter dan guru privat.

Buku ini mengingatkan perempuan-perempuan masa kini agar tidak perlu takut ketika menjadi ibu.  Perlu cara dan perlu upaya agar peran seorang ibu tidak sebatas insting kepengasuhan seorang perempuan belaka.

Itulah mengapa perlu perubahan dibutuhkan metamorfosis perempuan menjadi seorang ibu. Dalam hal ini tidak sekadar perubahan status dari perempuan gadis menjadi perempuan ibu, melainkan perubahan peran sosial dan kulturalnya.

Dengan kata lain metamorfosis ibu adalah penanda peralihan peran sosial perempuan dari yang sifatnya individual achievement menjadi collective achievement.  Dari gadis yang masih berpikir keinginan paras individualnya menjadi ibu yang ikut membangun kebutuhan paras masyarakatnya.

Lalu yang bagaimanakah peran ibu yang ikut membangun paras masyarakatnya? Dengan mendidik generasi penerus dari dalam keluarganya. Membangun paradigma dan adab generasi penerus bangsa dengan asah, asih dan asuh. Mengasah pikiran, mengasihi perasaannya, dan mengasuh sikapnya. Dari keluarga untuk peradaban, begitu singkatnya.

*Terbit sebelumnya di UPEKS tertanggal 31 Oktober 2018

03 November 2018

Aristoteles dan Perempuan


Patung kepala Aristoteles
(Salinan Romawi dari patung perunggu 
yang pernah hilang oleh Lysippos)

ZOON POLITICON
. Aristoteles merendahkan perempuan dengan mengatakan perempuan tidak memiiki logos. Logos, atau dikenal juga sebagai akal budi dipandang guru Aleksander Agung ini hanya dimiliki secara eksklusif oleh kaum laki-laki. Itulah sebabnya, dalam urusan kepublikan, perempuan di mata Aristoteles hanya ditempatkan kepada urusan domestik.

Saking rendahnya perempuan di mata Aristoteles, ia dikelompokkan bersama budak dan bahkan binatang dalam satu kategori. Jadi, jika manusia dibelah, maka perempuan hanyalah mahluk setengah jadi tanpa kualifikasi rasional yang menjadi ciri pembeda manusia dengan binatang.

Pembagian macam demikian, berdampak pula kepada pembagian peran antara perempuan dan laki-laki.

Secara kategoris, Aristoteles membagi dua ranah interaksi: res publika (polis) dan res privata (oikos). Hubungannya dengan teori negaranya, res publika adalah wahana bagi kaum laki-laki untuk bermasyarakat, mengedepankan dan memfungsikan peran akal budinya ke dalam satu sistem kehidupan politik tertentu. Di dalam ranah res publika inilah politik dimungkinkan dengan syarat kehadiran akal budi sebagai titik tolaknya.

Dalam res publika ini juga, hanya laki-laki saja yang berhak mengatur urusan publik. Hanya laki-laki saja yang berkewajiban menjalankan hak-hak politiknya. Dengan kata lain hanya laki-laki-lah yang patut hidup dalam polis/bernegara.

Sementara perempuan, dikarenakan tidak memiliki "logos", tapi malah hanya memiliki "phone" maka wilayah kerjanya hanya diperuntukkan ke dalam wilayah res privata, ranah yang dalam istilah Aristoteles disebut oikos tadi itu.

Phone berbeda dari logos yang memiliki karakter rasional. Phone dalam Aristoteles adalah kemampuan nonrasional yang diekspresikan hanya dalam bentuk bunyi. Dengan kata lain, phone hanya menunjang perempuan dapat "berbunyi" semata tanpa dapat mengekspresikannya lebih jauh ke dalam kemampuan linguistik berupa bahasa yang bermakna.

Kata Aristoteles phone dapat ditemukan kepada banyak binatang. Binatang tidak memiiki kemampuan logos, tapi hanya phone. Ia hanya mampu "berbunyi" tanpa tahu apa arti di balik suara yang dikeluarkannya.

Jika binatang disakiti ia hanya mampu berbunyi karena tidak memiliki kemampuan linguistik untuk mengatakan rasa sakitnya. Sama halnya dengan binatang, menurut Aristoteles, perempuan jika disakiti juga akan sama dengan binatang, ia hanya bisa "berbunyi" tanpa mampu membahasakan dengan rasional rasa sakitnya.

Singkatnya, karena sifatnya yang demikian, perempuan hanya layak ditempatkan ke dalam oikos. Ranah non politik. Ranah rumah tangga yang tidak bermakna kepublikkan.

Berdasarkan distingsi seperti ini, kehidupan bernegara akhirnya diberlakukan. Republik yang artinya ada pemisahan urusan "yang publik" dan "yang privat" dengan kata lain ikut membagi dua peran setiap warga negaranya: laki-laki mengambil urusan "yang publik" dalam arti hanya ia yang patut berpolitik/bernegara dan perempuan hanya ditempatkan ke dalam "yang privat" dengan maksud hanya sekadar mengurusi hal-hal tetek bengek urusan rumah tangga.

Jadi, siapa yang dimaksud zoon politikon itu sebenarnya? Dalam pemikiran Aristoteles, ya laki-laki. Hanya laki-laki-lah yang berhak hidup di dalam polis. Hanya ia-lah yang berhak berpolitik.

01 November 2018

Perempuan dan Kebudayaan



Peter Ludwig Berger.
Sosiolog yang dikenal karena pekerjaannya di bidang sosiologi pengetahuan, 
sosiologi agama, penelitian tentang modernisasi 
dan kontribusi teoretis pada teori kemasyarakatan.

KEBUDAYAAN jika ditapis-halus ke dalam, kata-kata adalah elemen dasarnya. Para ahli budaya mendudukkan kata (bahasa) sebagai unsur kunci yang membentuk kebudayaan. Tanpa kata (bahasa) rasanya sulit membangun dan mengenali suatu kebudayaan.

Meminjam pendekatan Peter Berger, melalui proses eksternalisasi-objektifikasi-internalisasi, seorang agen kebudayaan berdialektika saling menangkap dan ditangkap pengaruh kebudayaannya.

Dalam kata-kata sosiolog, individu dan masyarakat adalah dua pangkal yang saling timbal balik membentuk keadaan sosialnya.

Dari proses itu bahasa berperan penting memediasi interaksi individu, kelompok di antara masyarakat. Bahasa menjadi medium dan menampung nilai, sistem pengetahuan, sistem perilaku, adat kebiasaan, dlsb., yang secara keberlanjutan merekonstruksi dan memperbaharui kenyataan sosial.

Dengan kata lain, kebudayaan bukan fenomena tanpa sebab. Dia bukan lahir dari ruang hampa. Kenyataan sehari-hari menunjukkan, kebudayaan itu dibentuk, digali, direkayasa, dicopy, diciptakan...

Lalu siapa yang paling banyak berperan di antara semua itu? Perempuan. Ya, seorang perempuan, atau lebih tepatnya seorang ibu.

Perharinya perempuan dapat menghasilkan rata-rata 20 ribu kata jauh lebih banyak dari kaum laki-laki yang hanya mampu mengucapkan 7 ribu kata perhari. Dibandingkan laki-laki, perempuan paling berpeluang dan paling bertenaga di dalam proses rekonstruksi kebudayaan.

Jika kata-kata, atau bahasa adalah representasi akal budi, perempuan jauh lebih banyak memanfaatkan akal budi bagi kehidupan dibanding laki-laki. Setiap harinya, melalui kata-kata setiap perempuan mengaktifkan fungsi akal budinya, jauh lebih aktif dan transformatif dari laki-laki malah.

Hal ini menjadi makin terang dikarenakan dalam sebuah penelitian, dalam otak perempuan banyak mengandung yang oleh ahli sebut sebagai "protein bahasa" (dalam penelitian itu juga ditemukan tikus betina juga banyak memiliki kandungan protein dalam jaringan otaknya dari pada tikus jantan. Ini yang menjadi sebab tikus betina jauh lebih ribut dari tikus jantan). Protein bahasa inilah yang menyebabkan perempuan mampu menghasilkan kata-kata jauh lebih banyak dari siapa pun.

Dari sisi emosi, perempuan satu-satunya mahluk yang paling mampu bertahan dari keadaan yang menekan. Ketika perempuan mengalami suatu krisis, dia jauh lebih tangguh dan sabar dari kaum laki-laki. Dia jauh lebih tahan banting dari laki-laki.

Itulah sebabnya, pendidikan dan kesehatan adalah ranah utama masyarakat yang paling banyak membutuhkan perempuan. Di dua ranah itu, sisi emosi paling banyak dibutuhkan ketika menghadapi situasi yang paling kritis.

Dari semua itu kebudayaan tanpa kehadiran seorang perempuan, rasanya tidak akan bertahan lama. Dibutuhkan kebijaksanaan seorang perempuan untuk mengawal gerak laju kebudayaan, pasang surutnya, dan maju mundurnya kebudayaan.

Menulis ini membuat eike menjadi ingat mamak dan istri eike di rumah. Mamak beberapa hari ke depan sedang pergi ke Bandung mengunjungi sepupu yang bersekolah dan akan dikukuhkan di tanggal 2 nanti di sana. Mamak berangkat sekalian menjenguk keluarga kakaknya yang sudah beristri dan dikebumikan di tanah Jawa.

Kekosongan mamak di rumah, langsung terasa (apalagi di rumah mamak orang yang paling sering eike ajak "cek-cok" mulut tentang agama dan politik menjelang selepas magrib). Beberapa pekerjaan rutin yang sering dilakukannya tidak serta merta bisa digantikan. Kecuali beberapa hal semisal menyapu, membuat teh, dan bersih-bersih rumah saja yang bisa dikerjakan. Memasak dan pergi ke pasar di pagi-pagi masih sepi orang sampai sekarang belum bisa dilakukan.

Sementara, Lola, istri eike dari pagi sudah harus menyusui Banu. Setelah itu ia turun dari lantai dua untuk menanak nasi, memasak, dan seringkali mencuci piring kalau ada. Setelah semua itu rampung, kembali ia mengecek Banu. Singkatnya , ia berperan seperti mamak di pagi hari. Menyiapkan meja makan tetap terisi sampai malam tiba.

Dari dua perempuan ini saja sudah terasa bagaimana perempuan berperan suatu kehidupan dipertahankan. Di mulai dari rumah menopang satu keluarga agar terus hidup. Pekerjaan domestik macam ini, memang bagi sebagian feminis dianggap remeh dan temeh.

Tapi, bagi eike yang mengalami langsung, melihat secara terang bagaimana perempuan membentuk kebudayaan rumah bukan saja melalui produksi kata-kata, tapi juga tindakan.

Rumah dalam hal ini memang bukan sekadar bangunan material belaka, ia sekaligus menjadi medium budaya, nilai, tradisi dan pengetahuan dipertahankan dan direproduksi ulang. Dan, perempuan adalah faktor paling utama yang menopangnya dari dalam.

31 Oktober 2018

Tauhid dan Tuhan-Tuhan Jauh


Ibnu Arabi dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. 
Dikenal dengan konsep Wihdatul Wujud



TAUHID. Alkisah, di bukit Sinai, di semak-semak yang menyala, Tuhan menghadirkan dirinya di hadapan Musa. Tuhan yang ia saksikan kemudian memerintahkan Musa menghadapi Firaun untuk membebaskan bangsa Israel dari raja yang zalim itu.

 

Lalu, Musa bertanya, ”dengan nama apakah Engkau disebut?”

 

Dalam Bibel Tuhan berucap: ”Ehyeh asyer Ehyeh.”

 

”Aku adalah Aku.”

 

Kemudian Musa diingatkan agar jangan sekali-kali bertanya tentang diri Tuhan. Dia adalah Dia. Zat yang hanya diketahui diri-Nya sendiri.

 

Disebutkan ketika Musa ingin melihat wajah Tuhan, sekali lagi ia diperingatkan: ”Engkau tidak bisa memandang wajah-Ku, karena tidak ada yang bisa memandang wajah-Ku dan bisa hidup.”

 

Di kisah itu, ketika Musa dipaksa umatnya agar Tuhan menampakkan diri-Nya, gunung tempat Tuhan menunjukkan dirinya hancur lebur. Musa terperanjat, gemetar ia dan seketika pingsan.

 

Tuhan, yang maha perkasa di peristiwa itu membuktikan: ”Tak ada yang bisa memandang diri-Ku.”

 

Ibn Arabi, ahli gnostik dan tasawuf mengecam orang-orang yang melanggar suatu kaidah pikiran yang disebut al-khawdl (pikiran spekulatif dan serampangan) tentang Tuhan. Tuhan biar bagaimana pun usaha agar mengetahuinya adalah sesuatu yang mustahil. Usaha yang sia-sia belaka.

 

Dengan kata lain, Tuhan bukanlah konsep yang sanggup dibatasi pikiran.

 

Tuhan dalam pemikiran Ibn Arabi disebut ”al illah al haq”, Tuhan yang Sebenarnya. Tuhan yang misterium. “Al illah al Majhul”, Tuhan yang Tak Dapat Diketahui.

 

Melalui Al-Qur'an surat Al-Syurah ayat 11, Dia dikatakan ”Tidak sesuatu pun serupa dengan-Nya”.

 

”Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya, tapi Dia mempersepsi semua penglihatan”. Begitu dalam Al-An'am ayat 103.

 

Lalu, yang bagaimanakah tauhid itu? Suatu tonggak pikiran yang mempersepsi Tuhan?

 

Bagaimanakah Tuhan dalam kalimat yang seringkali dilafaskan: la ilaha ilallah...

 

Jangan-jangan, tuhan yang selama ini diketahui adalah jenis tuhan dalam "la ilaha". Jenis tuhan yang dilarang dan kalau perlu dienyahkan. Jenis tuhan yang dikatakan ”tidak ada tuhan” seperti persepsi kita, tangkapan kita, kemauan kita. Bahkan mungkin kepentingan kita.

 

Tuhan yang dilarang, kata Ibn Arabi adalah tuhan dalam pikiran. Tuhan yang dibatasi berdasarkan pemahaman manusia. Tuhan yang diciptakan makhluknya.

 

Dalam teori atheis, Ludwig Feuerbach, seorang filsuf cum antropolog Jerman menyebut tuhan pikiran sebagai realisasi harapan tertekan dari manusia.

 

Tuhan dengan kata lain, hanyalah proses rekayasa imajinatif manusia untuk menutupi keterbatasan dirinya. Suatu proyeksi pikirannya sendiri.

 

Kalau demikian siapakah yang dibela selama ini? Bisa jadi Dia yang maha besar, Dia yang maha tak bisa diwakili dalam defenisi apapun, pada akhirnya berubah menjadi tuhan-tuhan pikiran. Tuhan-tuhan konsep. Sesuatu yang belakangan dibela mati-matian.

 

Barangkali karena itulah, tuhan yang dibela selama ini sering menimbulkan suara gaduh dari pada suluh. Tuhan yang diringsek kepentingan pikiran. Tuhan yang ditunggangi ego kelompok, bahkan politik.

 

Maka, alih-alih menjadi suluh, tuhan-pikiran yang dibela tidak mampu membuat teduh dan justru rusuh.

 

La ilaha ilallah, justru adalah tuhan yang ”hudur”. Kata ahli suluk tuhan yang hadir dalam batin sang makhluk. Tuhan yang begitu dekat dari pada jarak tuhan-konsep.

 

Tuhan yang hadir dengan begitu adalah tuhan hasil perjalanan dari tuhan-konsep menuju kedalaman penghayatan sang makhluk. Tuhan yang berjarak menjadi tuhan yang hadir bersama sang makhluk. Tuhan yang telah membunuh tuhan-tuhan dalam ”la ilaha” menuju dan menjadi ”ilallah”. Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan.

 

Tuhan lebih dekat dari urat lehermu. Begitu kata agama.

 

Bagi tubuh, urat leher begitu saja ”ada” tanpa pernah dipikirkan. Ia ada tapi sangat jarang disadari. Ia, saking dekatnya, tidak pernah dipikirkan.

 

Tapi justru, karena itu ia malah menunjang hidup matinya seseorang. Tanpa urat leher, barangkali tak ada manusia yang dapat hidup.

 

Sebaliknya dikatakan, Tuhan, bahkan saking dekatnya dengan manusia, lebih dekat lagi dari dekatnya urat leher manusia.

 

Namun apa boleh buat, urat leher yang dekat seringkali dirasakan jauh. Malah ia sering kali tidak dihiraukan. Lebih malang lagi, Tuhan sebenarnya yang dinyatakan lebih dekat dari urat leher, justru dirasakan lebih jauh lagi dari pada urat leher. Lebih-lebih kehadirannya, nyaris tidak pernah terasa.

 

Walaupun demikian, di masa sekarang, justru yang dipahami, yang diperjuangkan bukan saja tuhan-tuhan konsep, melainkan juga tuhan-tuhan jauh: tuhan-tuhan yang menjelma kekuasaan, jabatan, kata-kata, tuhan-tuhan ormas, juga mungkin sekaligus secarik bendera.

 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...