17 Januari 2018

Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang


Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur 
Tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001
Populer dengan humornya: "Gitu Aja Kok Repot"

KONON orang Rusia pelit tersenyum apalagi tertawa. Tertawa bagi orang-orang Rusia tidak diperuntukkan bagi sembarangan orang, apalagi bagi orang tidak dikenal. Bahkan ada penelitian dari seorang professor di Universitas Voronesh, orang-orang Eropa umumnya mengenal orang Rusia sebagai orang-orang pemurung, suka cemberut, dan mudah marah.

Berbeda dari masyarakat kita gampang tersenyum. Bahkan kita mudah menggumbar senyuman kepada orang yang masih asing. Ingatan bangsa kita mengenal orang paling mudah memberikan senyuman di saat kapan pun sudah tentu adalah Soeharto. Tidak tanggung-tanggung di saat memerintah dan menindas  pun ia masih bisa melakukannya

Itu tanda bahwa secara umum orang-orang Indonesia ramah-ramah, baik hati. Piye kabare, gimana wuenak zamanku, to?

Melalui pendekatan psikologi, seorang scholar ilmu jiwa Pavel Ponomaryof mengemukakan sulitnya orang Rusia mengumbar senyum atau tertawa akibat latar belakang  sejarah mereka yang lama menghadapi agresi bangsa lain. Akibatnya, masyarakat Rusia memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap orang-orang asing. Itulah sebabnya, tertawa atau tersenyum bagi bangsa Rusia mahal harganya. Dia tidak diperuntukkan bagi banyak orang.

Yang menarik, agak berbeda dari bangsa Rusia, bangsa Indonesia biarpun sudah mengalami banyak peristiwa sejarah kelam, masih suka melempar senyum dan tertawa sebagai tanda keakraban. Kurang afdol bagi masyarakat kita ketika pertama kali bertemu orang lain tanpa memberikan senyuman. Bahkan bagi pelaku kejahatan tingkat tinggi, koruptor misalnya, masih bisa tersenyum manis ketika di meja hijau.

Di Jepang, sulit menemukan seorang koruptor mengumbar senyuman setelah kedapatan melakukan kejahatan konstitusional. Di sini, saking ramahnya kita, sulit menemukan wajah menyesal bagi kasus yang sama seperti pejabat-pejabat publik di Jepang.

Memang sudah budaya kita ramah kepada orang lain. Kadang sikap itu diwujudkan melalui senyuman atau bahkan tertawa sebagai tanda saling menghormati.

Tapi walaupun tertawa merupakan hak seluruh manusia, bahkan disebutkan oleh seorang ahli jiwa merupakan bagian dari enam emosi dasar manusia, secara kultural setiap kebiasaan masyarakat nyatanya memiliki ekspresi yang berbeda-beda saat melakukannya. Bahkan ada bangsa-bangsa yang dikenal humoris akibat seringnya masyarakat mereka tertawa.

Kaum perempuan di masyarakar Barat misalnya, cenderung tertawa lepas tanpa segan menjadi sorotan banyak orang. Di ruang publik perempuan-perempuan Barat tertawa riang tanpa terbebani tabu-tabu masyarakat. Ini tentu berkaitan dengan  kemajuan bangsa Barat di dalam mengakomodir kebebasan individu di ruang publik.

Sedangkan di masyarakat Timur, perempuan masih kesusahan menyalurkan kebahagiaannya di depan umum. Tertawa riang bagi perempuan di keramaian sulit dilakukan akibat tradisi masyarakat yang masih kuat. Dikaitkan dengan budaya patriarki, tertawa lepas bagi perempuan masih dianggap tidak layak dilakukan.

Itulah sebabnya, bagi perempuan hanya untuk tertawa saja membutuhkan ruang khusus seperti di belakang dapur, di dalam kamar, atau perkumpulan di antara mereka agar dapat tertawa lepas. Bisa jadi, tindakan membicarakan orang melalui gosip yang umumnya dilakukan perempuan akibat dari domestifikasi yang mereka alami. Dengan kata lain, gosip yang seringkali diselingi tertawa lepas, bisa jadi imbas dari sempitnya ruang gerak mereka di masyarakat.

Dalam dunia seni peran, bahkan perempuan juga mengalami hal yang sama. Film-fim horor misalnya, adalah ilustrasi yang bisa mewakili bagaimana perempuan hanya bisa tertawa apabila ia telah mangkir dari kehidupannya. Dia hanya bisa tertawa pasca kehidupannya. Itulah sebabnya, hantu-hantu perempuan selalu identik dengan tertawanya yang khas melengking. Cara tertawa yang mengekspresikan kurang leluasanya ia di masa hidup, mungkin.

Terlepas dari rumitnya perempuan mengakses ruang publik untuk tertawa, dalam dunia humor tanah air, kita sering mendengar frasa “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Warkop DKI adalah ikon yang mempopulerkan frasa ini melalui film-film yang mereka bintangi. Dilihat dari konteks frasa ini, Warkop DKI menjadikan humornya sebagai jangkar ingatan atas rezim otoriter yang memasung kebebasan berekspresi dan kebebasan  berpendapat. Tertawa sekalipun.

Hubungan tertawa dan kekuasaan kadang tidak seimbang, dan sering kali malah bertentangan. Literasi sufistik mengenal Nasruddin Khoja sebagai sosok bahlul yang pernah hidup dengan tingkah laku gilanya. Nasruddin Khoja sering ditempatkan sebagai antitesa dari rezim yang sering menjadi sasaran kritik leluconnya. Melalui kecerdikannya yang kerap mengundang tawa tersemat daya dorong yang memberikan suatu pengertian kritis mengenai situasi yang dialami .

Sosok yang kadang diasosiasikan dengan Abu Nawas ini juga muncul dalam kisah sastra klasik Seribu Satu Malam. Dikisahkan Abu Nawas cum penyair menggunakan lelucon menjadi orang gila untuk menolak wasiat ayahnya bekerja sebagai hakim di bawah pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid yang otoriter.

Di tanah air, melalui kisah pewayangan kita mengenal sosok Semar. Semar diriwayatkan adalah jelmaan dewa yang menyamar sebagai rakyat jelata dengan rupa jelek sekaligus bertubuh pendek dan gemuk. Sebagai orang biasa Semar memiliki perkataan dan tingkah laku di luar dari kebiasaan umum. Walaupun dia adalah rakyat jelata, di kisah Mahabrata maupun Ramayana, Semar sebenarnya adalah pengasuh dan penasehat para ksatria. Yang unik, ketika ia memberikan petuah kepada para ksatria, seluruh nasehat dikemasnya melalui bahasa humor.

Yang lebih dekat dari ingatan, kita mengenal juga Gus Dur sebagai sosok yang sering menggunakan guyonan untuk menyampaikan buah pikirannya. Seperti sosok Semar atau Abu Nawas dalam dunia tasawuf, Gus Dur menggunakan strategi bahasa melalui humor untuk memobilasi daya kritis masyarakat Indonesia. Walaupun sering kali bernada sarkastik, guyonan Gus Dur kadang membuat panas telinga orang-orang yang tidak mampu menangkapi inti pesannya.

Jika dalam kekuasaan tertawa malah dianggap perilaku yang menyebalkan, seperti yang diharapkan dari kisah-kisah Nasruddin Khoja atau Abu Nawas, tertawa justru adalah tanda sehatnya jiwa. Tentu tertawa di sini adalah jenis tertawa yang lahir dari lapang dan terbukanya jiwa. Dengan kata lain selain menangis, tertawa dalam hal ini menjadi mekanisme jiwa untuk merestart ulang keadaannya agar kembali ke keadaannya yang semula.

Di titik ini sebenarnya kita perlu memahami pentingnya tertawa. Menurut penelitian selain mampu menurunkan kalori, tertawa juga dapat menjaga sistem pikiran agar tidak mudah stres dan meningkatkan kekebalan tubuh dari penyakit. Apalagi, di masa sekarang, begitu banyak masalah yang bisa membuat orang mengalami stres berkepanjangan.


Syahdan, konon dalam dunia tasawuf, orang-orang yang sering kali banyak guyon, atau mudah tertawa adalah tanda-tanda dari tingginya makam spriritualnya. Di sini kita bisa mengerti kenapa para sufi sering dikatakan gila akibat guyonannya yang mengundang tertawaan.

---

Telah dimuat sebelumnya di Kalaliterasi.com

04 Januari 2018

Membendakan Gagasan


Bagus Takwin
Psikolog, penulis dan akademikus berkebangsaan Indonesia 
Namanya dikenal sebagai pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Penulis buku ”Akar-Akar Ideologi”

PARA seniman memiliki kemampuan mengkonkritkan gagasan menjadi benda-benda. Seorang pematung misalnya, melalui keahlian khusus dapat membuat patung-patung berdasarkan gagasan dalam benaknya. Melalui  benaknya sudah ada ide-ide siap direalisasikan dengan mengolah bahan mentah berupa batu atau kayu menjadi benda yang bernilai tertentu.

Dalam hal ini patung adalah benda kultural. Dan kayu atau batu sebagai bahannya adalah benda natural. Dengan kata lain, kemampuan membendakan gagasan sang pematung adalah kerja transformatif mengubah “yang natural” menjadi “yang kultural”.

Tidak sekadar mengubah ide menjadi benda belaka, atau mengubah yang natural menjadi kultural. Para seniman juga mampu mengubah benda yang semula tidak bernilai apa-apa menjadi barang yang bernilai estetik. Dalam hal ini, sang seniman memiliki kemampuan serta kepekaan membendakan ide-ide estetis ke dalam karya tangannya.

Dengan kata lain, tidak sekedar mengubah gagasan menjadi benda-benda, tapi para seniman mampu menyulap sesuatu menjadi indah melalui kerja kreatifnya.

Di sini yang kultural bernilai setingkat dari sebelumnya; dia menjadi benda-benda estetik.

Di medan bahasa, para sastrawan juga memiliki kemampuan yang hampir mirip para pematung. Hanya saja seorang sastrawan menggunakan medium bahasa untuk membendakan gagasannya. Ide-idenya adalah bahannya itu sendiri. Seperti sang pematung, sang sastrawan juga memiliki akses kepada alam natural untuk diolahnya. Artinya dengan kata lain, melalui bahasa, sang sastrawan juga menciptakan benda kultural menjadi karya sastra yang dapat dinikmati banyak orang.

Nampaknya, dua contoh di atas adalah “pekerjaan” abadi yang secara kebudayaan ditanggung manusia semenjak pertama kali ia ada. Perjumpaan awal sang manusia terhadap alam adalah perjumpaan bagaimana dia “membudayakan” kehidupannya. Dalam hal ini, seperti yang ditemukan dari peninggalan kehidupan manusia awal di dalam gua-gua berupa gambar dan simbol-simbol, adalah “pekerjaan pertama” manusia menarasikan kisahnya untuk membangun kebudayaannya. Dari sisi ini dapat dikatakan kebudayaan adalah cara manusia mengisahkan hidupnya.

Manusia adalah mahluk pembuat kisah. Begitulah yang dinyatakan Bagus Takwin, seorang psikolog UI. Yang unik dari pendakuan Bagus Takwin, manusia sang pembuat kisah selalu berpusat kepada “diri” (self) sebagai peran utamanya. “Diri” dalam hal ini adalah pusat kesadaran, tidak saja menjadi fondasi identitas manusia, melainkan juga menjadi “jaringan” yang bertautan dengan “diri” yang lain untuk melengkapi kisah yang berpangkal darinya.

Melalui pertautan inilah “diri” sebagai kisah dikembangkan manusia dengan cara mendialogkan dirinya dengan daya-daya yang ditemukan di luar darinya. Selain dari pada itu, melalui cara ini, “diri” akhirnya menjadi jauh lebih berkembang bergantung dari di mana dan dengan apa ia bertaut.

Dalam konteks komunikasi, “diri” adalah medan terbuka dari praktik-praktik pemaknaan. Sang “diri” melalui proses pemahaman senantiasa menangkap makna melalui simbol-simbol yang dihadapinya. Melalui cara ini manusia sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai mahluk simbolik; mahluk yang berinterakis dengan perantara makna-makna yang ditangkapnya.

Paul Ricoeur seorang filsuf abad 20 dalam hal ini memiliki pendapat, identitas diri manusia dapat dikenalinya seperti dia mengenali kisah-kisah yang tertuang dalam cerita-cerita kebudayaan. Melalui kedudukan semacam ini, kebudayaan adalah kisah berupa teks-teks yang dibendakan dari kebiasaan-kebiasaan, tradisi, norma-norma, dan atau pandangan dunia. Dengan kata lain, bagaimana sang manusia membaca “dirinya” sama halnya berarti dia membaca kebudayaannya.

Itulah sebabnya, kebudayaan adalah salah satu tatanan epistemik yang memungkinkan “diri” manusia dapat berkembang. Melalui kisah-kisah dalam budaya (Tu manurung dalam masyarakat Sul-sel, kisah Mahabrata bagi masyarakat Jawa, misalnya) manusia mempertautkan kisahnya untuk menggenapi “dirinya.”  

Tapi, nampaknya era kiwari manusia seolah-olah berhenti menciptakan kisah. Atau dengan kata lain –meminjam ungkapan Radhar Panca Dahana—manusia berhenti memproduksi kebudayaannya.

Zaman mutakhir adalah zaman tanpa kisah. Hal ini ditandai dari guncangnya identitas masyarakat jika mengalami pergesekan dengan simbol atau “diri” yang lain. Gejala ini juga menandai terjadinya disorientasi dan dislokasi atas apa yang sedang dihadapi. Kesalahan membaca kisah kebudayaannya, berarti juga dengan sendirinya kesalahan ketika membaca “dirinya.”

Zaman tanpa kisah juga adalah zaman ketika manusia kehilangan kemampuan membendakan gagasan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini akhirnya hanya menjadi situasi tanpa arti apa-apa selain menjadi ajang untuk mengkonsumsi gagasan tinimbang membudayakannya. Wahana komunikasi melalui pelbagai media canggih juga hanyalah menjadi artefak yang tidak memiliki signifikansi apa-apa tanpa mampu memproduksi gagasan dan membendakannya.

Di titik ini, praktik-praktik pemaknaan terhadap budaya yang hanya sebatas level konsumsi, mesti didorong seperti kerja-kerja seorang seniman di atas. Suatu kemampuan untuk mengolah segala sumber daya yang dimiliki untuk menunjang kehidupannya sendiri. Secara komunikatif, “sang diri” manusia harus terbuka kepada pertautan-pertautan simbol, tradisi dan nilai yang mengepungnya. Manusia harus mulai membaca “kisah.”     

Dengan kata lain, praktik membendakan gagasan adalah dimulai dari praktik membaca kisah untuk kemudian membendakannya kembali. Suatu praktik dialektis yang terwujud dari tindakan membaca dan memproduksi kebudayaan.

Itu artinya hal yang paling pertama untuk membendakan gagasan adalah membaca “diri” sebagai pangkal kebudayaan itu sendiri. Tanpa itu mustahil ada yang bisa dikisahkan, mustahil ada yang bisa diliterasikan.


01 Januari 2018

Of Mice and Men, John Steinbeck

Data buku:
Judul Buku: Of Mice and Men
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2017
Tebal halaman: 144 halaman 

BUKU lawas Of Mice and Men karya John Steinbeck adalah buku pertama yang eike baca di awal tahun 2018. Tidak butuh waktu lama menghabiskannya, mengingat membaca karangan Steinbeck di hari pertama tahun baru adalah peristiwa yang lumayan menggembirakan. Aktivitas yang menghibur sekaligus bisa menjadi permulaan yang bagus untuk hari-hari yang akan datang. Ya, setidaknya di tahun 2018 eike dapat membaca jauh lebih banyak buku dari tahun sebelumnya. Kembali ke buku ini. Buku ini sebenarnya sudah eike miliki dari bulan Oktober tahun lalu, tapi apa daya, saking malasnya eike membaca akhirnya baru kesampaian di tahun 2018. Seperti karangan Steinbeck yang lain, Cannery Row misalnya, di buku ini Steinbeck memulai kisahnya dari sosok minor, katakanlah orang-orang yang tersisihkan dari kelas masyarakat dominan. Orang-orang yang kalah dari nasib mujur. Kisahnya dimulai dari dua orang pengembara pencari kerja yang membutuhkan uang demi sebidang tanah tempat mereka akan menghabiskan waktunya dengan bekerja tanpa harus diperintah oleh siapa pun. Dua orang dengan mimpi yang sederhana. Hidup dengan bebas tanpa beban pekerjaan yang ditentukan orang lain. Mereka bercita-cita menjadi tuan bagi hidupnya sendiri. Dua orang yang ingin memiliki sebidang tanah dan sebuah rumah sederhana yang bisa mereka tinggali dengan kemauan sendiri. George dan Lennie adalah dua sosok yang membuat eike berpikir betapa persahabatan dua tokoh ini adalah jenis pertemanan yang saling mengisi. Bahkan dua sosok ini mewakili gagasan mengenai kesepian yang di alami orang-orang yang termarginalisasi. Dengan kata lain, interaksi mereka adalah persahabatan yang dipupuk dari kesepian masing-masing dari mereka. Di sini Soledad, tempat yang bakal mereka tuju, sebuah kota di California, menjadi nama sekaligus arti yang mewakili kesepian itu sendiri. George bertubuh kecil, dan Lennie adalah sosok raksasa yang berotak seperti anak-anak, tapi kekuatannya jauh lebih besar dari siapa pun yang tak pernah membayangkannya. George-lah yang menjadi sahabat Lennie setelah Lennie ditinggal mati Bibi Clara, sekaligus orang yang melindungi Lennie dari keluguan sekaligus kebodohannya. Lennie memang berbadan besar tapi jangan menyangka dia secemerlang tubuh dan tenaganya. Pikirannya hanya bisa ditemukan di kepala anak-anak berusia sekira lima sampai tujuh tahun. Secara emosional Lennie bukanlah orang yang mampu mengontrol dirinya sendiri. Sangat lugu bahkan. Di sini eike merasa kadang memang keluguan anak-anak sering kali dipandang kebodohan bagi orang-orang dewasa. Dari cara berpikir orang dewasa, anak-anak sering didudukkan sebagai orang yang mesti mengikuti perintah yang lahir dari otak orang-orang yang jauh lebih tua. Tapi Lennie sebenarnya adalah bukan anak-anak. Itulah sebabnya eike merasa kebesaran hati George yang dengan kesabaran yang dimilikinya menjadi kekuatan yang mengikat persahabatan mereka. Dengan kata lain persahabatan mereka persahabatan yang juga sekaligus ikatan yang tidak lazim. Apalagi di keadaan saat itu –diceritakan keadaan ekonomi mengalami Depresi Besar—  para pekerja musiman seperti mereka sangat jarang berpergian berdua-duaan. Bukankah berpergian dengan dua orang akan membuat jatah makanan akan lebih banyak atau sebaliknya, malah berkurang. Dengan  kata lain, itu masalah mengingat kehidupan yang semakin sulit serta pendapatan yang tak kunjung membaik. Tapi di situlah kekuatan persahabatan, sekaligus cita-cita, setidaknya seperti yang dimimpikan George di dalam kepalanya. Sebidang tanah yang ia idam-idamkan dengan cara mengumpulkan uang sen demi sen. Suatu kehidupan, lebih tepatnya kebebasan yang bakal diraihnya. Sampai akhirnya mereka mendapatkan masalah akibat kebodohan, lebih tepatnya keluguan Lennie yang mengakibatkan mereka harus bersembunyi dari kejaran orang-orang di suatu malam. Saat itu, Lennie yang memiliki kesukaan aneh dengan menyentuh apa saja yang halus –ya, Lennie memiliki kesukaan menyentuh permukaan yang lembut nan halus— terperangah kepada baju seorang wanita yang dilihatnya menarik. Tanpa pikir panjang, dengan keluguannya dia berusaha meraba permukaan baju sang wanita yang membuat dirinya seperti seorang maniak seks yang mengancam (bayangkan dengan kepolosan seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba datang kepada Anda dengan memegang-megang busana yang Anda kenakan!). Masih mengelus-ngelus permukaan halus baju sang wanita, tak disadarinya Lennie membuat takut sang perempuan yang menuduhnya ingin memperkosanya. Saat itulah tindakan polos Lennie memancing kegaduhan lantaran kepanikan sang perempuan. Mereka akhirnya melarikan diri dari amuk orang-orang. Bersembunyi selama semalaman dan melalui perjalanan jauh tibalah mereka di sebuah barak tempat mereka akan bekerja mengangkut biji jelai (sejenis padi-padian yang biasa dipakai untuk makanan ternak). Tapi, tak bakal ada yang akan menduga, di situlah Lennie akan membuat masalah di luar ekspektasi siapa pun. Di tempat ini George dan Lennie diterima bekerja sekaligus sudah merasai dari awal bahaya yang akan dihadapi oleh mereka berdua, setidaknya bagi George yang mengkhawatirkan ulah lugu Lennie yang tak mampu dikontrolnya. Kedunguan Lennie di mata George bukanlah suatu soal jika mampu dikontrolnya melalui perintah yang diberikannya. Namun, sebaliknya akan menjadi masalah jika Lennie ditinggal pergi tanpa kehadiran George di sampingnya. Sampai di sini eike merasakan ketegangan-ketegangan yang dihadapi George beserta kenalan-kenalan barunya; Slim, Candy, Carlson, Crooks, seperti di saat si istri Curley (istri yang dinilai genit dan murahan) atau Curley (sosok anak pemilik peternakan yang sok jago) itu sendiri datang secara tiba-tiba menemui mereka di tengah percakapan para pekerja. Curley dan istrinya, bagi George adalah dua sosok yang mesti dihindarkan dari Lennie. Biar bagaimana pun Lennie akan menjadi masalah jika dia dibiarkan berbicara semaunya. Hingga kedunguan Lennie-lah yang membunuh istri Curley di suatu sore dengan cara mati kehabisan napas dicekik tangan Lennie yang besar dan kuat. Bukan dicekik! Melainkan itu hanya upaya Lennie akibat ketakutan yang lahir dari kepanikan berlebihan lantaran istri Curley yang juga panik dengan cara mendekap mulutnya –sampai leher istri Curley patah. Kepanikan dengan kepanikan yang  bertemu akhirnya melahirkan tindakan bodoh yang menyebabkan matinya istri Curley. Endingnya-lah yang membuat eike merasa kemalangan yang dihadapi Lennie. Lennie mati ditembak dari belakang oleh sahabatnya sendiri setelah di dongengkan cerita berkaitan dengan impian mereka berdua untuk memiliki tanah dan rumah sendiri. Dengan polos Lennie mendengarkan cerita yang terus menerus didongengkan selama ini kepadanya dan George yang tangannya gemetar menarik pelatuk pistol yang ditempelkannya tepat di belakang batok kepala Lennie. Kematian yang tak mesti dilakukan oleh Slim atau bahkan Curley, tapi tangan George sendiri: orang yang menjadi pelindung bagi Lennie.

26 Desember 2017

Tragedi dan Kelahiran Juru Selamat


Eka Kurniawan. 
Tahun  1999  ia menerbitkan buku pertamanya yang berasal dari tugas akhir kuliah, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis
Ia menulis cerita pendek, novel, maupun esai di berbagai media.

JURUSELAMAT. Seperti dituliskan Eka Kurniawan melalui esai-blognya, dalam sejarah, manusia mengenal dua sosok tragis: Socrates dan Yesus Kristus. 

Socrates dikekalkan Platon sebagai orang yang rela memanggul kematian demi mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Dan Yesus dalam sejarah Kekristenan adalah juru selamat yang mengorbankan dirinya demi menjamin keselamatan umatnya.

Dua sosok tragis ini, baik melalui fiktif atau juga dalam sejarah, adalah dua narasi yang mengidealisasi suatu model kehidupan yang kontradiktif.

Socrates pertama-tama mati demi kehidupan yang tak ia temukan di tengah kiprah masyarakatnya. Sedangkan Yesus, seperti diketahui, sosok yang mati memanggul salib sebagai protes terhadap dekadensi masyarakat yang ia temui.

Kelak nampaknya seorang Socrates berkebalikan dari Yesus yang lahir dalam keadaan yatim tanpa seorang bapak. Socrates bisa dibilang adalah figur bapak yang mati melahirkan kebenaran tanpa kehadiran figur seorang ibu, bersedia meminum racun. Sementara Yesus, di kisah tragedinya, menampilkan seorang figur ibu yang mengikutinya dari belakang melihat sang anak berjalan ditawan pasukan romawi memanggul beban seluruh umat manusia.

Betapa pedihnya hati seorang perempuan, betapa sakitnya tragedi.

Tapi, apakah hanya itu, atau juga kematian yang tragis? Kematian, dalam hal ini tidak saja meninggalkan luka, namun juga sejarah.

Dengan kata lain, sejarah adalah apa yang kita dudukkan sebagai kisah: suatu yang disebut Clarissa Pinkola Estes –seorang scholar psikologi— sebagai cerita bagi jiwa.

Itulah sebabnya, setiap cerita di sekitar sosok-sosok yang memainkan peran tragedi dalam sejarah, juga sebenarnya simbol yang sangat manusiawi.

Bagiamana itu mungkin? Bukankah dalam sejarah, yang manusiawi justru kadang kalah. Bahkan nyaris tidak memiliki harapan. Hidup digilas kekuatan tiranik dan despotik.

Namun di situlah letak perhatiannya. Yang manusiawi berarti hidup dalam keadaan yang sebenarnya. Merasakan getirnya dilecehkan, juga direndahkan. Merasai bahwa kenyataan bukanlah fantasi dunia tanpa cacat. Di situlah juga berarti yang manusiawi adalah makhluk yang mampu membumbungkan harapan, melalui kematian sekalipun.

Di titik itulah saya kira, sosok tragis melampaui idealisasi tindakan heroisme. Dia bukanlah sosok-sosok yang mewakili manusia tanpa harapan. Melainkan manusia yang mewakili bagaimana Tuhan memerhatikan kepedihan manusia.

Di kehidupan kini yang tragis tidak lebih dari pada orang-orang kalah tanpa kekuatan kisah di belakangnya. Bahkan sosok yang tragis nyaris hilang dalam imajinasi masyarakat hari ini.

Tentu yang tragis di sini bukan arti selain daripada kisah yang menyentuh. Kisah yang menyayat sekaligus menggetarkan jiwa. Menggugat tapi juga menggugah.

Kehidupan kiwari, nampaknya harus banyak belajar dari sosok yang dibesarkan tragedi dalam sejarah. Di situ tidak sekedar bagaimana sosok semisal Yesus, harus berjalan panjang memanggul kayu salib, melainkan rela berkorban demi menanggung penderitaan umat manusia.

Kayu salib dalam ungkapan lain tidak sekadar simbol penderitaan, melainkan tanggung jawab rela mengambil alih peran bagi orang-orang yang tersisihkan. Suatu suara mewakili umat yang mengalami pahitnya dikucilkan.

Juga sosok tragis Socrates, dikekalkan tidak saja menjadi sosok sentral dalam arti figur seorang guru. Tapi, siapa pun harus tahu, di balik kebenaran yang dinyatakan ada risiko yang mesti ditanggung.

Kisah orang-orang modern adalah kisah tanpa kayu salib. Kisah tanpa mau mengambil risiko pencarian. Dua ciri yang alih-alih mesti dipahami sebagai kisah universal jiwa yang bersetia dalam kebenaran dan rela berkorban. Tapi, malah orang-orang yang kehilangan pesona terhadap kekuatan persona.

Kuatnya individualisme naif merupakan anomali sejarah yang jauh dari sosok-sosok seperti Yesus juru selamat. Dengan kata lain, nyaris di masa sekarang masyarakat adalah satuan atomik tanpa sosial relationship. Masyarakat malah hilang dan nyaris tidak bisa menjadi peristiwa interaktif: suatu pengertian yang mencerminkan karakter masyarakat yang saling mengandaikan.

Di sisi lain, tidak seperti Yesus atau bahkan Socrates, pemahaman hari ini justru adalah pengertian yang sulit dikatakan sebagai pengetahuan yang memiliki dasar. Kemampuan epistemologi masyarakat kiwari justru adalah model pengetahuan yang khawatir mau mengambil risiko pencarian.

Itulah mengapa, fenomena- fenomena seperti yang ditunjukkan oleh radikalisme dan fundamentalisme orang-orang beragama, adalah jenis pengetahuan tanpa dasar pencarian yang mendalam. Nyaris tanpa mau melatih kesabaran, dan juga tanpa tradisi panjang melalui dialog ilmu pengetahuan.

Itulah juga mengapa, iman akhir-akhir ini adalah jenis keyakinan yang mudah menghardik akibat rapuhnya suatu dasar, iman yang takut mendapatkan ujian-ujian sebagaimana persona sejarah dalam tragedi yang mereka alami.

Kemampuan berinteraksi manusia tanpa kekuatan persona pada akhirnya akan berakhir menjadi nihilisme. Hilangnya pegangan. Mustahilnya suatu pencarian.

Malam ini, seperti juga perayaan Maulid Nabi, seorang sosok lahir ke dunia dengan tanggung jawab besar di pundaknya. Tanggung jawab yang kelak akan dipanggulnya dengan menukarnya melalui kematian.

Seperti Muhammad, kelahirannya bukan sebatas peristiwa biologis belaka. Namun adalah peristiwa ideologis pula. Dengan kata lain, kelahirannya mesti didudukkan sebagai lahirnya tanggung jawab di setiap hati umatnya, untuk mengambil alih dan melanjutkan kayu salib yang dipikulnya: suatu risiko yang mesti diemban dengan semangat kasihnya.

Kini, dia datang melalui perut seorang ibu perawan dan tanpa bapak, lagi-lagi dengan kisah di seputar tragedi yang bakal menyertainya kelak. Seperti Muhammad sang nabi terakhir, kelahiran sang anak yatim sesungguhnya adalah peristiwa yang revolusioner.

Selamat Natal.


22 Desember 2017

Rendra dan Kota


W.S. Rendra
Sastrawan berkebangsaan Indonesia
Penyair yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak"ini, tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta yang melahirkan seniman semisal Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain.



Orang-orang miskin di jalan,
Yang tinggal di dalam selokan,
Yang kalah dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan

(W.S. Rendra)

KOTA. Penggalan puisi Rendra di atas mungkin adalah ungkapan yang satire sekaligus sebuah sinisme. Yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, adalah perantara untuk memahami kemiskinan, biar bagaimanapun adalah bagian sebelah dari tubuh masyarakat. Orang-orang kaya, tubuh sebelah lainnya, dalam puisi itu diingatkan Rendra: “janganlah mereka ditinggalkan.” Sampai di sini, kita mesti mengandaikan masyarakat adalah peristiwa interaktif tinimbang sebagai substansi satuan atomik. Itu artinya, masyarakat sebagai peristiwa interaktif mesti melibatkan “yang lain” sebagai bagian yang setara dan mesti ada. Bukan dibayangkan sebagai entitas atomik: satuan yang mampu berdiri sendiri. “Janganlah mereka ditinggalkan”, juga barangkali di situ adalah ungkapan yang menyitir masyarakat yang atomistik; suatu entitas tanpa relasi. Hilangnya social relationship. Cara berpengalaman hidup yang kukuh dengan semangat individualistik. Di titik ini-lah, yang satire dan yang sinis dari syair Rendra itu. Belakangan, jaringan interaksi masyarakat tumbuh dan berpusat kepada satu centrum: kota. Masyarakat berkembang, sekaligus membuat kota ikut berkembang. Tapi, ditilik dari sejarah perkotaan, seperti pendakuan Max Weber, kota tidak selamanya berarti jalinan interaksi semata. Kota dikatakan kota karena di dalamnya terjadi interaksi ekonomi. Dengan kata lain, dasar rasionalitas masyarakat kota hanya bisa dimengerti ketika dia dilihat sebagai relasi yang bergerak di bidang ekonomi. Itulah sebabnya, mengapa kota, kata Weber, disebut sebagai kawasan yang mendukung perdagangan ketimbang pertanian. Di kota, birokratisasi yang didorong oleh rasionalitas intrumental, mendudukkan kota sebagai tempat yang modern dibanding kawasan lainnya. Suatu pusat yang mewadahi interaksi sosial berdasarkan relasi ekonominya. Itulah sebabnya pula kota memiliki daya tarik tersendiri. Apa yang modern bagi kota dengan sendirinya menarik imajinasi masyarakat untuk dapat ikut berpartisipasi di dalamnya. Terutama jika kota dalam hal ini dilihat sebagai pasar ketimbang lainnya. Dengan kata lain, kota tidak sekadar menjadi pusat perekonomian yang didukung infrastruktur perindustrian, namun juga membentuk suatu pengalaman baru yang berbeda dari pengalaman masyarakat pedesaan. Nampaknya dari sisi itu, pengalaman baru yang hanya ditemukan di kawasan perkotaan sekaligus juga membentuk kebiasaan-kebiasaan kultural yang menandai berubahnya cara hidup masyarakat. Kota dengan kata lain adalah produk kebudayaan yang lahir dari heterogenitas masyarakatnya berdasarkan hukum transaksional. Kata Emile Durkheim, di kota, yang identik dengan modernisasi adalah entitas kehidupan sosial yang terspesialisasi dan terdiferensiasi. Pengalaman atas kerja di kota, adalah jenis pengalaman baru dan khas yang membagi-bagi masyarakat berdasarkan profesinya, umurnya, pendapatannya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, pandangan hidupnya, dlsb., yang semua itu –seperti umumnya— didudukkan dalam konteks perdagangan. Kota juga adalah tubuh raksasa yang sedang berkembang. Pengalaman atas ruang kota ketika diterjemahkan oleh pengambil kebijakan bukan semata-mata melihat melalui kaca mata ekonomi, tapi juga mengubah ruang materialnya dengan pembangunan-pembangunan berskala besar. Fenomena berubahnya ruang kultural yang bernilai sejarah, misalnya, tidak memiliki dasar ekonomis yang kuat jika sebelumnya tidak diwujudkan ke dalam “hitung-hitungan perdagangan.” Artinya, fenomena industrialisasi yang menjadi karakteristik kota di abad milenial, berubah fungsinya menjadi kawasan yang bernilai jual beli ketika ruang itu “dikapitalisasi” dengan membangun gedung-gedung berdaya tarik investasi. Dengan kata lain, kota tidak saja menyandarkan dirinya kepada sektor industri, tapi juga di era kiwari mengubah setiap ruang yang dimilikinya menjadi sektor perdagangan dan pariwisata. Dengan cara itu, kota akhirnya tidak saja mengubah karakternya yang semula menjadi pusat religiusitas seperti kota-kota yang lahir di abad-abad sebelumnya, atau pusat-pusat industri seperti di awal abad 20, dan atau sebagai produk kebudayaan yang mengafirmasi nilai-nilai ideal kebudayaan, namun mengubah seluruh basis material dan nonmaterial yang dicakupnya. Saat itu kelak, kota adalah ruang geografis yang dekat tapi juga sekaligus asing. Menjadi ruang yang berkebudayaan namun juga dekaden, dan sekaligus menjadi kawasan maju tapi di saat bersamaan meninggalkan jejak-jejak anomali di belakangnya. Singkatnya, kota menjadi momok berparas ganda. Dia realitas yang kontradiktif. Nampaknya, siapa pun harus kembali menafsirkan pengalaman hidupnya ketika bermukim di dalam kota. Ketika kota hanya dipandang sebagai daerah yang menampung hasrat ekonomi tanpa melihat dan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan nonmaterial masyarakatnya. Ketika ruang sosial menjadi jauh lebih berjarak akibat pengalaman atas kerja, pengalaman atas ilmu pengetahuan, pengalaman atas ekonomi, pengalaman atas agama, pengalaman atas politik, dan pengalaman atas budaya, dibelah dan dipecah-pecah atas pembagian waktu dan ruang yang justru terbagi-bagi. Di saat itu-lah seperti kata W.S Rendra di atas: yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, menjadi realitas yang dekat sekaligus diacuhkan. Mereka akhirnya dipandang sebagai sisa-sisa interaksi yang dianggap manusiawi. Masyarakat kota akhirnya berubah menjadi satuan-satuan yang atomistik, satuan yang individualistik sekaligus anehnya, disebut berperadaban. Malangnya, di tengah keadaan demikian, kota-kota dalam pengalaman benak kita tidak berbeda jauh ketika pengalaman di atas dilihat sebagai realitas yang terpisah. Bahkan kota dalam imajinasi masyarakat perkotaan adalah realitas subjektif yang tak memberikan peluang atas hadirnya kelompok lain; suatu dunia yang dilihat atas dasar kepentingan kelompoknya. Karena itulah –sekali lagi— yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, atau yang hancur remuk hidupnya digilas kemiskinan, menjadi orang-orang yang tersisih dan disisihkan. Sekarang mari kita lihat, di balik gedung-gedung megah itu, di tengah-tengah  hutan beton di kota kita, adakah yang sekarang sedang berujar seperti penggalan sajak Rendra di atas: Janganlah mereka ditinggalkan!

21 Desember 2017

Setelah Muhammad


Asghar Ali Engineer
Seorang reformis-penulis dan aktivis sosial India 
Dikenal secara internasional karena 
karyanya tentang teologi pembebasan dalam Islam

Barangkali dua hal ini agak jauh korelasinya: Rasulullah dan kapitalisme. Tapi, siapa pun yang menghayati sepak terjang kehidupan Nabi Muhammad  Saw., akan berkesimpulan: kelahiran dan keberadaannya adalah suatu momen revolusioner, dan kelak, memiliki dampak serius bagi sistem ekonomi masyarakat jahiliah tempat ia hidup.

Bahkan, bukan saja bagi sistem sosial ekonomi, tapi seluruh sistem kehidupan manusia. Hingga kini.

Ya, hidup Rasulullah adalah antitesa dari kapitalisme. Ide yang belakangan mensegregasi dan memarginalisasi umat manusia ke dalam kelas-kelas subordinat.

Narasi hidup Rasulullah bukan sekadar kisah. Kisah hidup Rasulullah adalah narasi pertentangan. Sejak kecil ia sudah mendapat gelar As Siddiq, suatu kualitas kemanusiaan yang sulit didudukkan di dalam ide kapitalisme. Kejujuran, anak kandung keadilan, mustahil menemukan momentumnya ketika kapitalisme menganut sistem yang bertentangan dengannya.

Kisahnya tentang batu Hajar Aswad menceritakan kepercayaan (al Amin) adalah modal utama bagi keberlangsungan interaktif masyarakat. Integrasi masyarakat hanya mungkin jika pertama-tama setiap kelompok saling percaya.

Di kisah itu, Muhammad muda menjadi penengah bagi suku-suku Quraisy yang saling bertentangan. Dengan mediasi selembar kain, dia dipercaya dan mengajukan cara agar semua pemuka suku punya kesempatan yang sama untuk bertindak sama ketika memindahkan batu Hajar Aswad. Cara yang langka, sekaligus cerdas.

Bukan saja kepercayaan, tapi juga egaliter. Di peristiwa itu, Rasulullah menempatkan semua suku memiliki kesempatan dan kedudukan yang sederajat. Di hadapan Ka’bah, semua orang sama. Tiada kelas lebih dominan atas kelas lainnya.

Kapitalisme  merupakan fenomena khas masyarakat Eropa, fenomena yang datang belakangan jauh setelah masa hidup Rasullullah, tapi model sosial yang sama juga dialami masyarakat Arab saat itu. Selalu ada relasi kuasa  antara seorang bangsawan dan budak, hamba sahaya dan seorang tuan tanah, juga laki-laki dan perempuan.

Tanah Arab di masa Rasulullah hidup adalah tanah yang terbuka, namun juga asing. Makkah adalah pusat sekaligus tempat yang jauh dari horizon orang-orang. Berbeda dari jazirah kawasan “bulan sabit subur”: Mesopotamia, Syiria dan Palestina, Makkah dipenuhi sahara tandus dan gersang. Makkah hanyalah koordinat yang menjadi kawasan singgah saling silang, pertemuan dan kepergian masyarakat Arab.

Bertani adalah pekerjaan yang musykil tinimbang berdagang. Makkah dengan karakter tanah berupa sahara  membentuk struktur kehidupan sosial yang adaptatif dengan perdagangan. Pertemuan antara kabilah-kabilah, singkatnya, mengubah Makkah menjadi kota dagang. 

Otomatis Makkah di dalam tradisi sejarah masayarakat Arab tidak saja didudukkan sebagai kota keagamaan, tapi juga menjadi kawasan yang lambat laun menjadi pasar. Aktivitas yang seketika memformat lahirnya rulling class berupa pedagang-pedagang Arab.

Dengan kata lain, kota yang di dalamnya berdiri Ka’bah, tidak saja ramai sebagai pusat ziarah, orang-orang datang ke sana juga punya satu tujuan: melipatgandakan keuntungan.

Sementara itu, kabilah-kabilah, suku-suku, diikat dengan ikatan yang dalam istilah sosiolog bernama Ibn Khaldun sebagai asyabiah: suatu perasaan intim antara anggota suku melalui ikatan darah. Di bawah kepemimpinan yang disebut “syekh-syekh”, ikatan asyabiah menjelma menjadi dua tipe: masyarakat nomadik (badawah) dan masyarakat menetap (hadarah). Dua tipologi yang ditandai Khaldun sebagai masyarakat gurun dan masyarakat perkotaan.

Makkah dengan begitu juga kota yang mendudukkan bangsawan sebagai kelas elit masyarakat menetap. Pelan-pelan dengan siklus yang panjang, itu diawali ketika masyarakat nomadik sudah memulai hidup menetap dan memiliki kebiasaan baru dengan mempertahankan otoritas kepemimpinannya kepada tokoh-tokoh tertentu sebagai pimpinannya di sekitar Makkah. Kota yang kelak dituliskan Ibn Khaldun dipenuhi  orang-orang yang mencari kesenangan, dan kemewahan hidup lantaran meninggalkan laku hidup pengembaranya.

Itu artinya, Makkah, secara ekonomi adalah kota yang hidup. Perniagaan adalah cara kota Makkah bertahan dari minimnya sumber daya yang bisa dikelolanya.

Secara politik, otoritas dan wewenang ada di tangan para pemuka-pemuka kabilah yang mampu mengintergrasikan suku-suku sebelumnya, dan tentu para pesohor yang lahir dari sistem ekonominya sendiri: para pedagang.

Di tengah-tengah itulah Rasulullah tumbuh sehari-hari. Situasi yang identik dengan dekadensi moral, carut marut budaya dan saling rebut kuasa politik. Tapi secara kontradiktif, di tengah masyarakat dekaden itu, seorang nabi bakal diutus.

Sampai akhirnya wahyu kenabian yang datang kepadanya adalah tanda yang khas. Tiada nabi sebelumnya yang diutus dari bangsa di luar bangsa Arab. Kenabiannya dengan sendirinya adalah pemutusan mata rantai tradisi. Suatu momen yang disebut Asgar Ali Engginer, seorang ilmuwan sosial India, sebagai momen yang revolusioner.

Itulah sebabnya, kedatangannya bukanlah diperuntukkan bagi kawasan yang terbatas. Wahyu yang diembannya bukan untuk bangsa tertentu seperti nabi-nabi sebelumnya, dia datang bukan untuk kelas tertentu, atau golongan tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia.

Tapi, dia dikucilkan. Agama baru yang diperkenalkannya mengalami banyak hambatan. Terutama dari pemuka suku Quraisy, secara sosial politik, Rasulullah mengajarkan nilai yang sulit diterima tradisi. Dia mengajarkan persamaan hak manusia di hadapan Tuhan.

Dengan kata lain, struktur feodal masyarakat Arab-Makkah saat itu terancam karena ide egalitarianisme yang diperkenalkan Rasulullah.

Tiada tuhan selain Allah. Kalimat ini meruyak tatanan, menimbang ulang kebiasaan-kebiasaan. Mengganti alam berpikir masyarakat Arab-Makkah dengan paradigma yang jauh lebih canggih. “Tiada tuhan” memiliki dampak serius dengan mengubah interaksi masyarakat di bidang ekonomi: tiada lagi patung-patung yang harus disembah, yang berarti tidak ada lagi patung-patung yang diperjualbelikan oleh pedagang-pedagang untuk disembah di rumah-rumah.

Di peristiwa itu bersama sepupunya, Ali As, Nabi Muhammad Saw. sering terlihat menyisir Ka’bah dengan membersihkan patung-patung yang dipajang di atasnya. Tuhan bukanlah apa yang mampu direpresentasikan dari patung-patung tanah yang dipajang dan disembah. Dia tidak menyerupai mahluk dan bukan mahluk. Tuhan bukan eksistensi yang ada akibat transaksi jual beli. Itulah sebabnya, makna “la ilah” adalah hal paling pertama yang diwartakan Rasulullah.

Dengan kata lain, kalimat tauhid itu tidak sekadar mengubah alam berpikir masyarakat Arab-Makkah tentang Tuhan, melainkan juga jauh merembesi dan mengubah total alam tradisi masyarakat Arab-Makkah di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Secara sosial dia memutus tradisi perbudakan, secara ekonomi dia menghentikan tuhan-tuhan transaksional, dan secara politik dia mengubah hubungan tuan dan budak.

Beberapa waktu lalu umat Islam baru saja memperingati kelahirannya. Itu sekaligus cara kita mengindentifikasi diri sebagai umat yang mengakui bahwa kelahirannya tidak sekadar peristiwa biologis semata, melainkan juga sebagai peristiwa ideologis.

Lahirnya Rasulullah sebagai manusia menandai bahwa kelak ia akan menjadi sosok hidup yang menyejarah dan memiliki konsekuensi sejarah. Kelahirannya, menjadi momen pertama suatu risalah bakal menjadi rahmat, hikmah, gagasan, dan semangat, betapa kehidupannya diperuntukkan untuk masyarakat yang berperadaban.

Sejarah Nabi Muhammad Saw. tidak seperti sejarah manusia lainnya. Sejarahnya sejarah revolusioner. Begitu juga kelahirannya bukan peristiwa biasa. Itulah sebabnya, mengapa kelahirannya mesti disambut seperti kelahiran anak-anak bayi manusia. Ia membawa kabar gembira.

Tapi, kabar yang ia bawa kelak mesti didudukkan sebagai gagasan dan semangat ketimbang sekadar tradisi. Suatu kisah hidup berupa antitesis terhadap seluruh tradisi global yang hari ini menjerat umat manusia.

Salam sejahtera atasmu ya Rasulullah.

15 Desember 2017

Buku dan Mawas Diri


Rene Descartes 
Matematikawan dan Filosof Prancis 
Ditangannyalah Filsafat Modern lahir
Dikenal dengan adagiumnya: 
Cogito Ergu Sum “Aku Berpikir Maka Aku Ada


BUKU. Ada petitih yang justru terlanjur sering diabaikan: book is a window of the world. Buku ibarat jendela dunia. Dikatakan di situ buku bukan sebagai ”pintu”, mengingat ”jendela” lebih mewakili kegiatan memandang daripada pintu yang menyiratkan suatu jalan kepada suatu ruang. Pintu di situ bermakna jalan atas sesuatu keputusan. Tapi, sebelum sebuah keputusan diambil, seseorang mesti memandang dengan cara menengok, melihat dengan teliti suatu keputusan. Dengan kata lain, seseorang mesti mengambil suatu titik mula melalui ”jendela” atau cara pandang tertentu. Di situ, kata jendela lebih mewakili sikap semacam kehati-hatian, kewaspadaan, dan kecermatan. Seperti sikap ”mencurigai” sebelum berhadapan dengan sesuatu. Ibarat sang pemilik rumah yang mencermati pendatang baru melalui jendela sebelum membuka pintu. Kehati-hatian, dengan kata lain, sikap yang perlu ketika kedatangan sesuatu hal baru yang dianggap tidak familiar. Artinya tidak sekadar kegiatan memandang, tapi ikut pula di situ kewaspadaan, kecermatan, dan ketelitian terhadap segala ihwal yang baru. Dengan kata lain, pepatah itu menganjurkan suatu dunia mesti dilihat pertama kali dengan menggunakan sikap yang mawas diri. Bahkan, setiap dunia mesti dibingkai melalui sekotak pigura jendela: ilmu. Itulah sebabnya, buku lebih identik dengan sebuah jendela: suatu kotak bingkai yangmemberi fokus pemandangan. Dunia, biar bagaimanapun adalah realitas tak terpemanai, di mana di mata manusia, dia tetaplah entitas yang mesti diberikan batas agar mudah dimengerti, dan tak sulit untuk didefenisikan. Barangkali ada kesamaan makna ”jendela” dalam petitih itu dengan arti ”theoria” sebagai asal kata ”teori”, yang berarti ”memandang”, ”melihat”, dan juga bermakna “visi”. Selain bingkai jendela dengan sendirinya memancang batas penglihatan, dia juga --seperti arti teori-- memberikan ”penglihatan ke depan”: sifat prediktif sebagaimana yang dimiliki ilmu-ilmu. Dengan kata lain, dari titik suatu ”jendela”, pertama kali seseorang harus melihat sesuatu melalui gagasan atas, bukan yang lain. Atau dengn semacam sikap yang diperkenalkan filsuf bernama Rene Descartes dengan nama ”kesangsian metodelogis”, suatu cara yang sudah jauh hari diperagakan oleh seorang filsuf Islam. Kini, orang-orang nampaknya mulai kembali menghargai buku-buku seperti mereka mengharapkan lahirnya kehidupan yang baru. Itu berarti tiada dunia sebelumnya selain dipandang melalui sikap yang hati-hati, tidak tergesa-gesa ketika menghadapi suatu soal. Tapi, yang ironi dari itu masih banyak pula orang-orang seperti menolak pandangan dunia dari sebuah ”jendela” dengan tergesa-gesa memasuki sebuah ”pintu” kepastian tanpa pertimbangan: suatu keputusan yang tidak disertai kecermatan dan hati-hati. Di situ sebuah ”pintu” jauh lebih penting dibanding ”jendela”, akibat kehendak buta yang sulit dibendung untuk mencari jawaban. Artinya suatu soal tidak mesti dilihat dengan cara cermat, tidak mesti lagi ditimbang-timbang, dan tidak perlu lagi perlu sikap sabar. Hari ini bagi mereka suatu ”kepastian” jauh lebih penting di balik sebuah “pintu” dari pada sebuah buku yang menawarkan pelbagai macam panorama dunia.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...