Langsung ke konten utama

Of Mice and Men, John Steinbeck

Data buku:
Judul Buku: Of Mice and Men
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2017
Tebal halaman: 144 halaman 

BUKU lawas Of Mice and Men karya John Steinbeck adalah buku pertama yang eike baca di awal tahun 2018. Tidak butuh waktu lama menghabiskannya, mengingat membaca karangan Steinbeck di hari pertama tahun baru adalah peristiwa yang lumayan menggembirakan. Aktivitas yang menghibur sekaligus bisa menjadi permulaan yang bagus untuk hari-hari yang akan datang. Ya, setidaknya di tahun 2018 eike dapat membaca jauh lebih banyak buku dari tahun sebelumnya. Kembali ke buku ini. Buku ini sebenarnya sudah eike miliki dari bulan Oktober tahun lalu, tapi apa daya, saking malasnya eike membaca akhirnya baru kesampaian di tahun 2018. Seperti karangan Steinbeck yang lain, Cannery Row misalnya, di buku ini Steinbeck memulai kisahnya dari sosok minor, katakanlah orang-orang yang tersisihkan dari kelas masyarakat dominan. Orang-orang yang kalah dari nasib mujur. Kisahnya dimulai dari dua orang pengembara pencari kerja yang membutuhkan uang demi sebidang tanah tempat mereka akan menghabiskan waktunya dengan bekerja tanpa harus diperintah oleh siapa pun. Dua orang dengan mimpi yang sederhana. Hidup dengan bebas tanpa beban pekerjaan yang ditentukan orang lain. Mereka bercita-cita menjadi tuan bagi hidupnya sendiri. Dua orang yang ingin memiliki sebidang tanah dan sebuah rumah sederhana yang bisa mereka tinggali dengan kemauan sendiri. George dan Lennie adalah dua sosok yang membuat eike berpikir betapa persahabatan dua tokoh ini adalah jenis pertemanan yang saling mengisi. Bahkan dua sosok ini mewakili gagasan mengenai kesepian yang di alami orang-orang yang termarginalisasi. Dengan kata lain, interaksi mereka adalah persahabatan yang dipupuk dari kesepian masing-masing dari mereka. Di sini Soledad, tempat yang bakal mereka tuju, sebuah kota di California, menjadi nama sekaligus arti yang mewakili kesepian itu sendiri. George bertubuh kecil, dan Lennie adalah sosok raksasa yang berotak seperti anak-anak, tapi kekuatannya jauh lebih besar dari siapa pun yang tak pernah membayangkannya. George-lah yang menjadi sahabat Lennie setelah Lennie ditinggal mati Bibi Clara, sekaligus orang yang melindungi Lennie dari keluguan sekaligus kebodohannya. Lennie memang berbadan besar tapi jangan menyangka dia secemerlang tubuh dan tenaganya. Pikirannya hanya bisa ditemukan di kepala anak-anak berusia sekira lima sampai tujuh tahun. Secara emosional Lennie bukanlah orang yang mampu mengontrol dirinya sendiri. Sangat lugu bahkan. Di sini eike merasa kadang memang keluguan anak-anak sering kali dipandang kebodohan bagi orang-orang dewasa. Dari cara berpikir orang dewasa, anak-anak sering didudukkan sebagai orang yang mesti mengikuti perintah yang lahir dari otak orang-orang yang jauh lebih tua. Tapi Lennie sebenarnya adalah bukan anak-anak. Itulah sebabnya eike merasa kebesaran hati George yang dengan kesabaran yang dimilikinya menjadi kekuatan yang mengikat persahabatan mereka. Dengan kata lain persahabatan mereka persahabatan yang juga sekaligus ikatan yang tidak lazim. Apalagi di keadaan saat itu –diceritakan keadaan ekonomi mengalami Depresi Besar—  para pekerja musiman seperti mereka sangat jarang berpergian berdua-duaan. Bukankah berpergian dengan dua orang akan membuat jatah makanan akan lebih banyak atau sebaliknya, malah berkurang. Dengan  kata lain, itu masalah mengingat kehidupan yang semakin sulit serta pendapatan yang tak kunjung membaik. Tapi di situlah kekuatan persahabatan, sekaligus cita-cita, setidaknya seperti yang dimimpikan George di dalam kepalanya. Sebidang tanah yang ia idam-idamkan dengan cara mengumpulkan uang sen demi sen. Suatu kehidupan, lebih tepatnya kebebasan yang bakal diraihnya. Sampai akhirnya mereka mendapatkan masalah akibat kebodohan, lebih tepatnya keluguan Lennie yang mengakibatkan mereka harus bersembunyi dari kejaran orang-orang di suatu malam. Saat itu, Lennie yang memiliki kesukaan aneh dengan menyentuh apa saja yang halus –ya, Lennie memiliki kesukaan menyentuh permukaan yang lembut nan halus— terperangah kepada baju seorang wanita yang dilihatnya menarik. Tanpa pikir panjang, dengan keluguannya dia berusaha meraba permukaan baju sang wanita yang membuat dirinya seperti seorang maniak seks yang mengancam (bayangkan dengan kepolosan seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba datang kepada Anda dengan memegang-megang busana yang Anda kenakan!). Masih mengelus-ngelus permukaan halus baju sang wanita, tak disadarinya Lennie membuat takut sang perempuan yang menuduhnya ingin memperkosanya. Saat itulah tindakan polos Lennie memancing kegaduhan lantaran kepanikan sang perempuan. Mereka akhirnya melarikan diri dari amuk orang-orang. Bersembunyi selama semalaman dan melalui perjalanan jauh tibalah mereka di sebuah barak tempat mereka akan bekerja mengangkut biji jelai (sejenis padi-padian yang biasa dipakai untuk makanan ternak). Tapi, tak bakal ada yang akan menduga, di situlah Lennie akan membuat masalah di luar ekspektasi siapa pun. Di tempat ini George dan Lennie diterima bekerja sekaligus sudah merasai dari awal bahaya yang akan dihadapi oleh mereka berdua, setidaknya bagi George yang mengkhawatirkan ulah lugu Lennie yang tak mampu dikontrolnya. Kedunguan Lennie di mata George bukanlah suatu soal jika mampu dikontrolnya melalui perintah yang diberikannya. Namun, sebaliknya akan menjadi masalah jika Lennie ditinggal pergi tanpa kehadiran George di sampingnya. Sampai di sini eike merasakan ketegangan-ketegangan yang dihadapi George beserta kenalan-kenalan barunya; Slim, Candy, Carlson, Crooks, seperti di saat si istri Curley (istri yang dinilai genit dan murahan) atau Curley (sosok anak pemilik peternakan yang sok jago) itu sendiri datang secara tiba-tiba menemui mereka di tengah percakapan para pekerja. Curley dan istrinya, bagi George adalah dua sosok yang mesti dihindarkan dari Lennie. Biar bagaimana pun Lennie akan menjadi masalah jika dia dibiarkan berbicara semaunya. Hingga kedunguan Lennie-lah yang membunuh istri Curley di suatu sore dengan cara mati kehabisan napas dicekik tangan Lennie yang besar dan kuat. Bukan dicekik! Melainkan itu hanya upaya Lennie akibat ketakutan yang lahir dari kepanikan berlebihan lantaran istri Curley yang juga panik dengan cara mendekap mulutnya –sampai leher istri Curley patah. Kepanikan dengan kepanikan yang  bertemu akhirnya melahirkan tindakan bodoh yang menyebabkan matinya istri Curley. Endingnya-lah yang membuat eike merasa kemalangan yang dihadapi Lennie. Lennie mati ditembak dari belakang oleh sahabatnya sendiri setelah di dongengkan cerita berkaitan dengan impian mereka berdua untuk memiliki tanah dan rumah sendiri. Dengan polos Lennie mendengarkan cerita yang terus menerus didongengkan selama ini kepadanya dan George yang tangannya gemetar menarik pelatuk pistol yang ditempelkannya tepat di belakang batok kepala Lennie. Kematian yang tak mesti dilakukan oleh Slim atau bahkan Curley, tapi tangan George sendiri: orang yang menjadi pelindung bagi Lennie.

Postingan populer dari blog ini

Empat Penjara Ali Syariati

Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indonesia ALI Syariati membilangkan, manusia dalam masyarakat selalu dirundung soal. Terutama bagi yang disebutnya empat penjara manusia. Bagai katak dalam tempurung, bagi yang tidak mampu mengenali empat penjara, dan berusaha untuk keluar membebaskan diri, maka secara eksistensial manusia hanya menjadi benda-benda yang tergeletak begitu saja di hamparan realitas. Itulah sebabnya, manusia mesti “menjadi”. Human is becoming . Begitu pendakuan Ali Syariati. Kemampuan “menjadi” ini sekaligus menjadi dasar penjelasan filsafat gerak Ali Syariati. Manusia, bukan benda-benda yang kehabisan ruang, berhenti dalam satu akhir. Dengan kata lain, manusia mesti melampaui perbatasan materialnya, menjangkau ruang di balik “ruang”; alam potensial yang mengandung beragam kemungkinan. Alam material manusia dalam peradaban manusia senantiasa membentuk konfigu...

Mengapa Aku Begitu Pandai: Solilokui Seorang Nietzsche

Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama,  Januari 2019 Tebal: xiv+124 halaman ISBN: 978-602-52645-3-5 Belum lama ini aku berdiri di jembatan itu di malam berwarna cokelat. Dari kejauhan terdengar sebuah lagu: Setetes emas, ia mengembang Memenuhi permukaan yang bergetar. Gondola, cahaya, musik— mabuk ia berenang ke kemurungan … jiwaku, instrumen berdawai, dijamah tangan tak kasatmata menyanyi untuk dirinya sendiri menjawab lagu gondola, dan bergetar karena kebahagiaan berkelap-kelip. —Adakah yang mendengarkan?   :dalam Ecce Homo Kepandaian Nietzsche dikatakan Setyo Wibowo, seorang pakar Nitzsche, bukanlah hal mudah. Ia menyebut kepandaian Nietzsche berkorelasi dengan rasa kasihannya kepada orang-orang. Nietzsche khawatir jika ada orang mengetahui kepandaiannya berarti betapa sengsaranya orang itu. Orang yang memaham...

Memahami Seni Memahami (catatan ringkas Seni Memahami F. Budi Hardiman)

Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman   SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat yang mendesak di kehidupan saat ini.  Pertimbanganya tentu buku ini memberikan peluang bagi pembaca untuk mendapatkan pemahaman bagaimana  “memahami”  bukan sekadar urusan sederhana belaka. Apalagi, ketika beragam perbedaan kerap muncul,  “seni memahami”  dirasa perlu dibaca siapa saja terutama yang kritis melihat situasi sosial sebagai medan yang mudah retak .  Seni memahami , walaupun itu buku filsafat, bisa diterapkan di dalam cara pandang kita terhadap interaksi antar umat manusia sehari-hari.   Hal ini juga seperti yang disampaikan Budiman, buku ini berusaha memberikan suatu pengertian baru tentang relasi antara manusia yang mengalami disorientasi komunikasi di alam demokrasi abad 21.  Begitu pula fenomena fundamentalisme dan kasus-kasus kekerasan atas agama dan ras, yang ...